Tao kembali bangun dengan keadaan yang sama. Mata sembab, hidung merah kepala pening dan segala hal yang dapat menyiksanya.

Tidak, ia tidak terkena demam atau suatu penyakit mematikan.

Ia hanya sedang Rindu.

Saya tekankan Rindu.

Lebih tepatnya rasa rindu yang tak dapat di salurkan. Belum lagi perasaan menyesal serta rasa bersalah yang senantiasa menggerogoti seluruh organ vitalnya.

Ini berawal dari rasa ragunya, rasa ragu yang membuatnya kehilangan kesempatan untuk bersama cinta sejatinya.

K*T

2 bulan sebelumnya

Tao menghela napas untuk kesekian kalinya.

Ia lelah sangat lelah.

Pagi pagi buta Zi Tao telah keluar dari dalam istana dengan masih mengenakan piyama yang di lapisi cardigan untuk menghalau angin pagi yang ia akui lebih dingin dari pada malam hari.

Tao berjalan terus tanpa tau kakinya melangkah ke mana. Tangannya membawa sebuah flowercorn yang ia dapat dari seoang yang ia akui mampu membuatnya jungkir balik karena desiran menyenangkan kala keduanya berhadapan.

Sesekali ia berpapasan dengan para penduduk yang hendak menjalani aktivitas mereka masing masing.

Dan tanpa sadar tapak kakinya membawa ia ke sebuah padang rumput luas. Ia barjalan menyusuri jalan setapak yang menuju ke arah sebuah pohon besar.

Saat kakinya menginjak ke rerumputan yang mengelilingi pohon tersebut, kakinya masih bisa merasakan dinginnya embun pagi dari ujung tumbuhan hijau tersebut.

Tak memperdulikan basah di kakinya, Zi Tao menundukan dirinya di akar pohon yang menonjol ke permukaan tanah.

Matahari semakin tinggi, tidak terasa sudah setengah jam ia duduk termenung di sana.

Ia bukan melamun, ia termenung. Termenung memikirkan seseorang yang sukses membuatnya tak bisa memejamkan matanya tadi malam. Kris.

Kemarin ia belum sempat menjawab pernyataan pria dengan usia 6 tahun di atasnya itu. Ia bahkan terlalu malu untuk sekedar menatap wajahnya katika kecupan demi kecupan berhenti Kris berikan padanya.

Maka dengan muka memerah sempurna ia buru buru pergi menunggalkan Kris, tanpa tau sorot mata pria tersebut amat kental dengan kekecewaan.

Zi Tao akui, ketika bersama Kris ia merasa nyaman dan seolah terlindungi. Dan ia juga tak mungkin tak terpesona pada sosok Kris.

Pria dewasa, berwajah rupawan dan penuh perhatian. Gadis mana yang tak terpikat pada tipe tipe di atas.

Tao pun demikian.

Walau pikirannya selalu menepis prasangkanya, hatinya selalu berkata lain.

Ada perasaan lain selain menganggap Kris sebagai kakaknya. Lebih dari itu, Kris seolah menariknya pada suatu perasaan yang orang awam sebut dengan cinta.

Tapi sayangnya Tao sangat terlalu awam, hingga membuatnya sangat hati hati dalam menentukan langkah. Ia tak mau kalau kalau hanya ia saja yang terlalu jauh menafsirkan parasaannya.

Tapi setelah kemarin Kris menyatakan perasaan, tiba tiba sesuatu seolah menamparnya.

Ia ingat, ketika terbangun dari tidurnya, saat ia bersedih, bahagia, bahkan ketakutan pun sosok Kris lah yang selalu ia ingat untuk pertama kali.

"Apa aku benar benar jatuh cinta?" gumamnya.

Pasti hatimu tau jawabannya, dan kau harus yakin kalau jawabanmu itu benar.

Perkataan Kyungsoo tempo hari terngiang ngiang diingatannya. Dan tanpa sadar ia menyentuh dadanya sendiri. Dimana ia bisa merasakan jantungnya yang berdetak tak karuan.

Lantas senyum lebar itupun terbit di paras cantiknya.

Iya yakin, dan harus yakin pada hatinya.

"Yah ini pasti cinta"

Namun ada yang membuat senyum itu pudar.

Bagaimana cara berbicara pada Kris kalau ia pun juga punya perasaan yang sama paa Kris, setelah ia meninggalkan begitu saja pria tersebut. Akan terlihat sangat jahat jika ia datang begitu saja lalu bilang ia juga menyukai Kris.

Harus ada sesuatu yang spesial.

Dan ketika ia mendapatkan sesuatu, secepat kilat gadis itu bangkit dan berlari. Berlari menuju orang yang ia yakini sebagai takdirnya, cintanya.

K*T

"Kau yakin tidak akan menunggunya?" ucap Junmyeon sambil memperhatikan para bulternya mengangkat barang barang milik Kris dan yang lainnya.

"Ya, mungkin ia tak mau bertemu denganku lagi. Biarkan saja. Tapi tolong sampaikan salamku padanya myoen, katakan padanya kalau ucapanku tak main main. Juga aku minta maaf kalau parkataanku itu membebankannya." Tukas Kris dengan wajah yang sendu.

Junmyeon tau semuanya, bahkan sebelum Kris menyatakan perasaannya pada Tao, pemuda itu terlebih dahulu meminta izin padanya. Awalnya Junmyeon sempat menolak, takut kalau Kris hanya memainkan perasaan adiknya. Namun kala melihat kilat kesungguhan dari mata Kris, Junmyeon pun luluh.

Hingga pada pagi tadi ia dikejutkan oleh ketukan brutal dari Sehun yang mengabarkan bahwa Exo akan segera kembali ke seoul pagi itu. Ketika itu juga tungkai kakinya melangkah ke kamar sang adik, tapi sayang ia tak menemukan gadis tersebut di manapun.

Itu membuat Kris kecewa tentu saja. Ia merasa kalau Zi Tao benar benar menolaknya secara halus.

Padahal, walau ia benar di tolak, setidaknya Zi Tao bertemu dan bicara langsung padanya.

Kris melirik beberapa anggotanya, chanbaek dan Luhan sudah ada di dalam mobil. Nampaknya Sehun tak terlalu ambil pusing dengan pulangnya mereka, walau tadi Kris sempat menangkap Sehun yang tengah mengecupi beberapa kali punggung tangan Luhan.

Disisi lain Chen dan Xiumin terlihat sedang mengucapan salam perpisahan serta Kai yang tengah meraung raung tak mau di pisahkan dari Kyungsoo yang menatap diam tingkah laku Kai.

Jujur Kris juga ingin seperti itu, walau agak sedikit jijik juga melihat tingkah Kai. Tapi bukankan itu wujud perasaannya.

Setelah memastikan semuanya sudah masuk ke dalam mobil, Kris pun kembali berpamitan paa Junmyeon dan Yixing. Lalu menyusul anggotanya.

Mobil van warna silper itu mulai menjauh bahkan sudah tak terlihat, ketika Zi Tao sampai ke gerbang utama.

"Kenapa semuanya ada di luar?" tanya Zi Tao keheranan.

"Dari mana saja kau?" bukan menjawab, Junmyeon malah balik bertanya pada Tao.

"Aku..." Tao merasa tak enak. Tangannya meremat flowercorn yang ia genggam.

Melihat perubahan adik iparnya, Yixing berinisiatif menghampiri Zi Tao.

"Exo pulang zi.." ucapnya lembut. Tapi tak membuat raut trkejut dari Zi Tao berkurang.

"Bohong..." desisnya

Matanya mulai berkaca kaca. Kepalanya menggeleng geleng tak percaya. Ia yakin ia belum terlambat.

"Zi..." lirih Yixing. Ia tak tahan melihat aliran air mata yang mulai merambat di pipi Zi Tao.

"mereka belum pergikan jie " air matanya kan deras, membuat Junmyeon mau tak mau memeluk adik kecilnya. Sedikit banyak ia juga bersalah, kenapa ia tak bisa menahan kepergian Kris sedikit saja.

"aku... Aku belum sempat menjawab pernyataan nya ge.. Bagaimana ini."

"ssstt dia bilang dia sangat menyayangimu. Dia minta maaf kalau perkataanya hanya membuatmu tak nyaman." Ucap Junmyeon masih memeluk erat tubuh adiknya yang bergetar menahan tangis.

Tapi mendengar hal tersebut malah membuat tangis Zi Tao makin kencang.

Ia benar benar cengeng. Tapi kali ini ia bukan karena kecengengannya, ia menangis karena ia merasa di bodohi oleh perasaannya sendiri. Ketika ia sudah yakin akan persasaanya tiba tiba Kris pergi. Dan ia tak tau apakah ia akan kembali atau tidak.

K*T

Mulai sat itu Tao seolah menghindar daru segala macam hal yang berkaitan dengan Kris.

Bukan bermaksud ingin melupakan, tapi ia hanya tidak mau kalau perasaannya makin besar sedangkan orang yang ia sukai ternyata entah berada di mana. Ia hanya ingin perasaannya kembali normal, sama sebelum ia bertemu dengan orang itu.

Tapi hari hari yang ia jalani seolah berdurasi lebih pajang saat tak ada pemuda itu di sekitarnya.

Hingga ia pun melakukan semua kegiatan yang membuatnya tak mengingat sosok itu. Mulai dari belajar tanpa kenal waktu, bahkan ia juga aktif kembali dalam kejuaraan whusu.

Junmyeon dan Yixing ikut mendukung kegiatan Tao, walau dalam hati keduanya ketar ketir melihat raut kelelahan yang melekat diwajah gadis tersebut.

Tapi setidaknya itu lebih baik dari pada melihat gadis itu menangis sesegukan seperti tempo hari.

dan merekapun membiarkan Tao unruk melakukan apapun asalkan ia cukup bisa membagi waktunya, terutama untuk istirahat. dan Tao akan selalu patuh pada aturan tertersebut

Namun beda dengan malam ini. Tao lebih memilih untuk duduk di bawah pohon depan istana yang biasanya ia panjat.

Entah ada angin apa hingga ia mau melakukannya. Karena biasanya ia sangat menghindari sesuatu yang berhubungan dengan Kris.

Seharusnya ia sudah tidur mengingat malam telah larut. Setelah melewati hari yang panjang, akhirnya Tao bisa beristirahat. Karena bagaimana pun ia butuh tenaga yang cukup besar untuk menjalani hari harinya yang entak kenapa menjadi sangat menguras energi akhir akhir ini.

Dan hanya satu alasannya ada di sini.

Perasaan yang jauh dari kata nyaman, perasaan tak enak yang seolah memberi tahu kannya kalau akan terjadi sesuatu yang tidak baik malam ini. Dan ada pula terselip sebuah perasaan lain di antara perasaan tak nyaman itu.

Rindu.

Tao menyandarkan kepalanya ke batang pohon di sampingnya, membiarkan air matanya menetes setitik demi setitik.

Tao rindu, rindu Kris. Selalu seperti ini. Diselalsela keinginan kuatnya untuk melupakan Kris, selalu ada rasa tak sanggup yang menghinggapi relung hati paling dalamnya. Walau selalu ia tepis jauh jauh tapi tetap sangat terasa.

Dan di sini dulunya untuk pertama kali ada orang asing yang menemaninya berbincang. Menyisipkan kehangatan di antara rasa sepinya. Membisikkan kekuatan di setiap canda hangatnya. Bahkan ia berani bersumpah, tidurnya malam itu menjadi tidur paling nyenyak yang pernaha ia alami.

Tapi sekali lagi, keadaan seolah menkhianati semua rasa yang ia punya. Seperti takdir memang tak pernah berpihak pada hatinya. Membuat seolah olah perasaannya hanya sebuah perasaan semu yang tak punya arti apa apa.

Padahal Tao yakin ini benar benar cinta dan memang harus cinta.

Tao mengangkat tangannya ke arah matapandanya, menghalau agar tangisnya tak pecah lagi.

Tapi percuma, ia terlalu rindu. Bahkan serasa rindu yang ia alami hendak membununya. Yang ia perlubsekarang hanya Kris.

Kris.

K*T

Tangis pecah di tempat lain. Gadis gadis berbagai usia meraung raung histeris kala sbuah ambulance meninggalkan pelataran sebuah gedung megah sambil membawa seseorang tak sadarkan diri di dalamnya.

Itu Kris Wu, leader Exo. Idola mereka.

Exo yang saat itu baru selesai menyelenggarakan tur asianya tengah menyelesaikan beberapa urusan di gedung agensi mereka. Namun baru saja mereka menginjakkan kaki di depan gedung, Kris tiba tiba tumbang. Hingga membuat fans fans mereka yang berkumpul di depan gedung agensi panik di buatnya.

Setelah di bawa ke rumah sakit. Kris di kabarkan resmi rehat dari panggung hiburan untuk waktu yang tak bisa di tentukan. Dengan alasan kesehatannya tak bisa menerima sesuatu yang terlalu menguras tenaga.

Itu yang Chanyeol dan manager mereka dapatkan. Singkatnya, kris mengalami anemia parah kekurangan asupan gizi dan cidera di kakinya yang ia dapat di jepang memperburuk keadaanya.

Sepeninggalan Dokter, Chanyeol memutuskan untuk menemani Kris di ruang inapnya, sedangkan managernya pergi untuk mengurus administrasi.

Chanyeol menatap miris ke arah Kris yang terbaring lemah tak berdaya.

Akhir akhir ini Kris memang sedikit menyebalkan. Emosinya tak pernah stabil. Meledak ledak. Tak sedikit orang yang menjadi korban mulut pedasnya.

Selain itu Kris jadi tak bisa mengontrol kesehatannya. Makan seenaknya, istirahat seperlunya. Bahkan sering kali ia tak tidur karena terus menyibukkan diri dengan pekerjaan yang bahkan Chanyeol sendiri tak paham apa itu.

Cintanya pada Tao telah merubah Kris, eemm bukan cinta, lebih tepanya rindu.

Kris terlalu rindu pada Zi Tao. Dan yang ia butuhkan hanya Zi Tao.

K*T

Matahari bersinar terang, cahayanya perlahan masuk kedalam ruangan serba putih tersebut. Menerpa wajah rupawan yang senantiasa damai tertidur.

Lambat laun si wajah rupawan itu terbangun.

"kau bangun Kris? "

Suara bass Chanyeol menyadarkannya dari sindrom bangun tidurnya.

Kris tersenyum tipis mendapati keadaan Chanyeol yang acak acakkan. Haruskah Kris berterima kasih pada tuhan karena telah mendapatkan sahabat sesetia Chanyeol?

Ruangan itu hening kembali setelah Chanyeol menjelaskan keadaan kesehatan Kris. Keduanya kini sibuk dengan urusan masing masing .

BRAK

"Kris Gege!"

Suara bantingan pintu diiringi nada melengking memutus keheningan yang tercipta.

" Lu, demi tuhan ini rumah sakit." Chanyeol berucap, tangannya mengelus elus dadanya. Berusaha menenangkan jantungnya yang trasa melompat lompat.

"Aku membuat Gege terkejut yaa?" kata Luhan dengan nada_sok_polosnya.

Lagi lagi Kris hanya trsenyum lembut. Tangannya merambat naik menuju rambut coklat madu milik anggota wanita paling mudanya.

"Kemana Xiumin dan Kai?" tanya Kris dengan suara paraunya.

"mereka menonton pertandingan eeemm gulat mungkin" jawab Luhan ragu.

Baekhyun yang kemudian datang langsung menata bunga yang sebelumnya ia beli bersama Luhan.

Tak lama seorang Dokter datang utuk memeriksa keadaan Kris. Setelahnya Kris diminta untuk segera memakan obatnya dan lekas beristirahat kembali.

Walau sedikit dipaksa oleh Baekhyun, akhirnya semua kapsul dan sirup obat tersebut habis di makan sang leader yang sangat menyusahkan jika sedang sakit begini. Kris bisa berubah 180 derajat. Jadi manja, rewel persis seperti ibu ibu hamil.

"Harusnya aku tidak di sini sekarang" gumam Kris dengan pandangan mata yang menerawang ke langit langit ruang inapnya.

"Kau kira ini salah siapa? Coba kau lebih rajin mengurus dirimu sendiri. Aku tau mungkin kita semua adalah tanggung jawabmu, tapi itu tidak akan berarti apa apa jika kau malah terbaring seperti ini Kris" Chanyeol nampaknya tengah menyampaikan segala uneg unegnya pada sang pemimpin, hingga Baekhyun dan Luhan pun hanya diam melihat mode serius pemuda dengan senyum jenaka tersebut.

"kau tau, betapa banyaknya orang orang yang menangisimu kemarin malam. Mereka begitu khawatir pada mu. Walau segala sesuatu terasa menghilang dari hidupmu, percayalah kau masih punya ribuan orang yang siap menggantikan kehilanganmu it_"

Ucapan Chanyeol terpotong oleh senggolan siku Baekhyun di perutnya.

Si pemuda melirik pada sang wanita. Dan dari raut wajah Baekhyun Chanyeol bisa tau kalau ia telah salah memilih kata kata. Hingga Chanyeol pun memilih diam tak melanjutkan ucapannya tadi.

Lama hening menyeruak di antara ke empatnya. Chanyeol yang berusaha menekan rasa bersalahnya memilih untuk tidur dengan alas paha kekasihnya.

Sungguh ia tak bermaksud menyinggung masalah Tao atau yang berhubungan dengan gadis itu, tapi entah kenapa mulut sialannya itu begitu lancang hingga mengatakan ucapan yang seolah olah menyuruh Kris untuk segera mencari pangganti Tao secepatnya.

Ia sadar betapa Kris telah jatuh sepenuhnya pada gadis kerajaan itu. Ini pertama kalinya Chanyeol melihat Kris begitu terpuruk ketika berusaha melupakan seseorang, karena biasanya Kris lah yang membuat orang orang yang memujanya terpuruk.

"OMOOO?!"lagi lagi teriakan Luhan membuat Chanyeol mengusap dadanya.

"Luhan!" Chanyeol sontak memelototkan mata besarnya pada Luhan, namun Luhan samasekali tak mengindahkanya. Malah gadis itu membuat gesture seolah hendak mencolok mata Chanyeol.

"Baekhyun eonni, aku harus pergi" ucap Luhan buru buru.

Ia segera meraih tas kecilnya lalumenuju ke arah Baekhyun dan membisikkan sesuatu.

"Jinjja?!" Luhan mengangguk antusias."kalau begitu pergilah"

"Oke eonni"

Dan wuuussh Luhan pergi.

"ada apandengan kalian?" Chanyeol bertanya dengan tatapan menyelidik.

"nanti kau juga tau sayang~" ucap Baekhyun seraya neraih tenguk Chanyeol dan memberi sebuah kecupan lembut di bibir kekasihnya.

"yak! Kalian tak sadar kalau aku masih disini?" seru Kris yang menatap kedua sahabatnya dengan tatapan laser nya.

"hehehe maaf..."

Kris berdecak sebal menanggapi Baekhyun yang cengengesan.

K*T

Siar matahari teraa begitu menusuk pandangan Kris, padahal seingatnya ia tadi menutup tirai jendelannya sebelum pergi tidur.

Dan entah kenapa kepalanya terasa pusing. Ia berusaha menggerakkan tubuhnya, namun tak bisa. Ia terasa begitu lemah, efek obat sepertinya.

Matanya berusaha ia buka, walau terasa begitu berat. Perlahan ia mengerjap, berusaha membiasakan matanya dengan cahaya yang terasa menyilaukan.

Samar samar ia melihat seorang gadis.

Gadis itu memakai skiny jeans warna biru terang . t shirt warna putih itu bergambar panda di lapisi dengan kemeja kotak kotak. Rambutnya yang terlihat begitu brkilau dengan warna hitamnya di ikat ponytail.

Wajahnya Kris tak yakin. Tapi ia bisa lihat bibir kucingnya tengah tersenyum canggung. Hudungnya mancung, dia manis. Walau mata panda itu terlihat meancarkan kekhawatiran.

Tunggu

Mata panda.

Kris bangkit dari ranjangnya, mengabaikkan rasa sakit di kepalanya.

"Zi Tao?"

Gadis yang Kris yakini sebagai Zi Tao itu mendekat ke arahnya. Lalu duduk di sisi ranjang yang Kris tempati.

Ia menggigit bibir bawahnya, masih dengan tatapan khawatirnya. Dan tak lama tangannya bergerak untuk mengelus surai keemasan Kris.

Hening

Kris sangat yakin kalau gadis yang sudah ada di hadapan Kris ini adalah Zi Tao. Namun ia masih sangat ragu, takut kalau itu hanya halusinasunya ketika ia sedang sakit begini.

"Maaf ge..." ujar sang gadis lirih. Matanya sudah hampir menangis.

Kris dengan cepat menangkap tangan yang masih setia mengusap rambutnya. Pemuda berusia 24 tahun itu menggenggam tangan Zi Tao seakan tak mau gadis itu kembali pergi.

"kau kah itu zi?"

Zi Tao mengangguk, membuat air mata yang sdari ia tahan ketika melihat keadaan Kris yang begitu mengkhawatirkan jatuh begitu saja.

Tao terbelalak ketika Kris menariknya ke dalam pelukannya yang be gitu erat.

Walau awalnya terasa mengejutkan, lama kelamaan Tao pun ikut terhanyut dalam pelukan hangat pemuda yang sangat ia rindukan ini.

"Kenapa kau lakukan ini, aku sedang berusaha melupakan mu. Kenapa kau malah muncul begitu saja di hadapanku seperti ini?"

Pertanyaan Kris makin membuat Tao bersedih. Ia terisak makin keras di bahu Kris. Tubuhnya bergetar hebat berusaha menahan tangis yang sudah pecah, dan Kris tengah mengusap punggung Zi Tao, berusaha menyalurkan kerinduannya.

"Maaf ge hiks.. Aku hiks..."

"sssttt seperti ini dulu. Kau tau betapa aku sangat merindukan mu."

Merekapun tetap seperti ini, hingga Tao mulai angkat bicara.

"Gege..."

"hhhmm" Kris sedikit melonggarkan pelukannya walau tak sepenuhnya terlepas untuk melihat sosok cantik di depannya yanga benar benar nyata, bukan halusinasinya.

Jari jari oanjang Kris sedikit mengusap jejak air mata di pipi Zi Tao.

Cup~

Kris diam terpaku. Berusaha mencerna kejadian tadi. Zi Tao menciumnya, tapat di bibir. Walau sekilas, tapi Kris bisa merasakannya dengan jelas.

Tangan yang awalnya Kris genggam itu kini berbalik menangkuo wajah pucat kris.

" maaf telah membuatmu seperti ini. Maaf karena aku datang terlambat. Maaf karena tidak mengucapkan salam perpisahan saat kau pulang. Maaf karena amu belum sempat menjawab pernyataan mu waktu itu." Ucap Tao panjang lebar.

Kris yang melihat airmata Tao kembali menetes, manarik sang gadis ke dalam pelukannya lagi.

"Tidak ada yang perlu di maafkan. Bagiku dengan kau yang datang kesini sudah membuat ku kembali seperti semula." Kata Kris. Sesekali lelaki tersebut mengecupi puncak kepala Zi Tao.

"Gege" kini giliran Tao yang melepaskan pelukan hangat pemuda tersebut.

"hhmm"

"aku juga mencintaimu. Aku ingin gege jadi pangeran khusus hanya untukku."

Lalu ia meraih flowercorn yang berada di nakas. Memakaikannya padanya dan pada Kris.

"kau, tidak bercanda? Kau yakin?" Kris berbicara dengan nada tak percaya.

"tentu. Karena disini." Tao menyentuh dadanya yang sebenarnya berdetak sangat kencang. " mengatakan bahwa aku telah jatuh cinta padaamu. Dan hatiku tak pernah salah." Lanjutnya sambil menunduk malu.

Tapi Tak lama. Karena Kris mengangkat pelan dagu Zi Tao. Mengisyaratkan supaya sang gadis menatapnya.

"Hatiku juga berkata demikian"

Matanya menatap Tao dalam dalam. Hingga parlahan mata itu terpejam seiring semakin terkikisnya jarak diantara mereka berdua.

Dan berakhir dengan sebuah ciuman hangat, ciuman di ujung senja, di landasi cinta dan kerinduan yang mendalam.

K*T

Malam makin larut, namun seolah Kris dan Tao tak peduli dengan keadaan sekitar. Keduanya masih asik mengobrol.

Posisi keduanya untuk saat ini tengah berbaring berhadapan diatas kasur rumah sakit yang tak begitu luas.

Namun hal itu justru menguntungkan bagi Kris. Karena dengan begitu ia bisa memeluk Zi Tao dengan erat. Untung lah tak ada Junmyeon tidak ada di sini.

"Jadi saat itu kau pergi bukan karena benci padaku?"

"tentu saja bukan. Saat Itu aku masih terlalu bingung dengan perasaan ku "

"tapi sekarang tidakkan?" tanya Kris sedikit menggoda.

"tentu saja tidak. Kalau begitu untuk apa aku kesini." Tao yang mengucapkan nya dengan malu malu membuat Kris semakin mengeratkan pelukannya pada Zi Tao.

"lalu bagaimana kau bisa di sini?" tanya Kris penasaran.

"Tadi aku ada kejuaraan wushu dan saat selesai aku beretemu dengan Kai ge dan xiumin jie. Tak lama Luhan jiejie datang dan membawaku kesini" jelas Tao.

Kris mengangguk angguk paham.

"Junmyeon, apa ia tau kalau kau mencintaiku?"

" gegeku tau semuanya"

"lalu apa reaksinya, setahuku kan dia itu sedikit berlebihan"

Bluussh

Entah kenapa pertanyaan Kris membuat seluruh wajah Tao merona hebat.

"i itu. Junmyeon gege bilang..."

"apa?"

"kalau gege.,..."

"aku apa?"

"gege. Harus menikahi ku saat aku lulus nanti"

Aduuuuh betapa malunya Zi Tao.

Wajahnya yang merah ia sembunyikan didada bidang kekasihnya. Dan Kris terkekeh melihatnya.

"Baiklah aku tidak sabar menunggu hari kelulusanmu"

Oh lihatkah wajah Tao , merah semerah merahnya.

K*T

Sebenarnya bagi Zi Tao cinta bukanlah tentang mempercayai seseorang sebagai belahan hatinya.

Tapi bagaimana ia mempercayai hatinya sendiri.

Percaya kalau yang hatinya pilih adalah orang terbaik.

Karena yang merasakan adalah hatinya

Yah Tao tau yang hatinya rasakan

Pastinya cinta.

Its Must Be Love

End

Akhirnya bisa juga nulis end.

Udah setahun lebih yaaa. Ini ff emang penuh drama.

Mulai dari pertama masuk kelas 12, ff ini udah jadi planing. Masuk kelas 12 tengah tengah udah mulai rilis. ngelewatin tryout, ujian sekolah, sampe UN dan akhirnya lulus terus dapet kerja aku usahain buat ff ini lanjut terus.

Dan akhirnya selesai. Ini udah End

Yatuhaaaaaan lega banget

Makasih banyak semua yang udah reviews, fav, dan follow. Walau ngga bisa sebutin satu satu tapi percayalah kalo kalian udah ikut berperan dalam kelanjutan ff ini. Terutama dalam hal naekin ff ugi. Juga buat sider yang mau ngeluangin waktu buat baca ff abal ini. Cepet tobat yaa ngomong ngomong. hehehehe ()v

Sekali lagi terimakasih banyak DeepBow

Tunggu ff ugi yang lain yaaaah

Bye

moga kita bisa ketemu di ff ff KT selanjutnya...