Title : Rules to Love You (Chapter 2)

Author : Byunkachu

Cast : Byun Baekhyun, Park Chanyeol and other

Disclaimer : Pure my imagination, all the cast belongs to God

Because I need some rules to love you

byunkachu©RulestoLoveYoucopyright2016


Bagaimana jika Baekhyun ingin pergi? Bagaimana jika Baekhyun ingin pergi mendekati pemuda itu? Apa yang akan pemuda itu pikirkan? Sayangnya, Baekhyun tidak mempunyai keberanian.

Bagaimana jika pemuda itu ingin pergi? Bagaimana jika pemuda itu ingin pergi meninggalkan Baekhyun? Gadis itu tidak tau bagaimana cara melepaskan Chanyeol dan hal itu terus berputar memenuhi kepalanya.

1 langkah...

Karena Baekhyun hanyalah seorang yang bodoh yang tidak bisa mengatakan bahwa dia menyukai pemuda itu.

2 langkah...

Karena Baekhyun adalah seorang pengecut yang hanya bisa menatap pemuda itu menggunakan topeng persahabatan mereka.

3 langkah...

Karena Baekhyun hanyalah seorang yang terjerat akan cinta sepihaknya pada pemuda itu.

"Kau akan terjatuh kalau begini caranya, Baek"

Baekhyun terdiam memandangi Chanyeol yang tengah mengikat tali sepatu nya yang belum terikat sempurna. Dia datang seperti saat itu. Saat pertama kali mereka bertemu, di musim dingin.

Musim dingin mungkin sama seperti cinta yang tak berbalas. Dingin, sendiri, dan menyedihkan. Berbeda dengan Chanyeol yang hangat, menemani, dan menyenangkan. Setidaknya, Baekhyun berpikir demikian, bahwa Chanyeol tidak akan sama seperti musim dingin untuk hatinya. Tapi itu hanya kemungkinan.

"Selesai, sekarang tegakan kepala mu" titah Chanyeol kemudian mengambil syal berwarna merah muda di dalam tasnya dan melilitkan benda lembut itu di leher Baekhyun. Chanyeol tersenyum melihat hasil kerjanya itu.

Rule no 3 : Trapped in his smile just once a day

Karena Baekhyun hanya perlu satu senyuman untuk memikul semua perasaan yang ia tahan ini. Jika lebih, maka dia tidak bisa bangkit.

4 langkah...

"Baek, terimakasih atas mantra mu itu"

5 langkah...

"Itu sangat ampuh, dan kau perlu menggunakan nya untuk diri mu sendiri"

6 langkah...

"Tapi ketika mantra itu tidak bekerja, kau bisa datang kepada ku dulu, dan aku akan memberikan tempat persinggahan sementara untukmu"

Baekhyun tersenyum lalu mengalungkan lengan kanan nya pada lengan Chanyeol dan bergelayut manja pada tubuh tinggi pemuda itu. Gadis itu kemudian menyenderkan kepalanya pada lengan sang pemuda, dan Chanyeol sama sekali tidak keberatan.

"Aku akan mencobanya" sahut Baekhyun sendu.

Karena Chanyeol hanya menawarkan persinggahan sementara untuknya.

.

.


.

.

Baekhyun tidak yakin kapan dia jatuh cinta pada sahabatnya itu. Mungkin ketika mereka berumur 6 tahun saat Chanyeol mengikat tali sepatunya dengan sabar. Mungkin ketika mereka berumur 7 tahun saat Chanyeol merelakan sandwich sosis kesukaan nya untuk Baekhyun karena makanan gadis itu terjatuh. Mungkin ketika mereka berumur 12 tahun saat Chanyeol memeluk Baekhyun dan meredam tangisan sang gadis. Mungkin ketika mereka berumur 15 tahun, saat Chanyeol demam dan mengecup bibir Baekhyun singkat untuk pertama kalinya.

Mungkin, Baekhyun memang jatuh cinta pada pemuda itu setiap hari. Dan Baekhyun tau bahwa Chanyeol adalah dunia nya. Dunia seorang Byun Baekhyun.

Baekhyun juga tidak yakin kapan dia merasakan sakit hati pertama kali karena pemuda itu. Mungkin ketika mereka berumur 6 tahun saat Chanyeol dengan jahilnya melepas ikatan awal tali sepatu Baekhyun yang hampir membuatnya terjatuh. Mungkin ketika mereka berumur 7 tahun saat Chanyeol dan teman-temannya menumpahkan bekal makanan Baekhyun dan menertawainya. Mungkin ketika mereka berumur 12 tahun saat Chanyeol menakuti Baekhyun menggunakan topeng tengkorak di malam hari. Mungkin ketika mereka berumur 15 tahun saat Chanyeol mengigau nama seseorang yang disukainya sesudah ciuman mereka berlangsung.

Mungkin, Chanyeol memang menyakiti hati Baekhyun setiap harinya. Dan Baekhyun tau bahwa dia bukanlah dunia dari Park Chanyeol.

.

.


.

.

"Terimakasih" ujar Chanyeol senang.

Baekhyun memberikan pemuda itu segelas coklat panas yang baru saja dia buat. Gadis itu menyesap perlahan dan memperhatikan langit malam yang memancarkan cahaya bintang yang redup. Sangat disayangkan.

"Sayang sekali bintang di langit hanya sedikit. Aku jadi tidak bisa menikmatinya" sahut Baekhyun membuat Chanyeol mendongkakan kepalanya dan melihat ke arah langit.

"Itu mudah Baek, kau hanya perlu jatuh cinta. Kau harus jatuh cinta dan bintang-bintang akan selalu ada pikiran mu"

Baekhyun memutar matanya malas, menepuk pundak Chanyeol yang menyombongkan diri mengenai saran nya itu. Andai saja Chanyeol tau bahwa dia sudah jatuh cinta. Ya, andai saja.

"Kau tidak bisa dipercaya" sungut Baekhyun.

"Sungguh Baek, kau harus jatuh cinta, mengucapkan mantra lalu berjuang. Kita harus berlari untuk mengejar langkah orang yang kita cintai, seberapun jauh jaraknya"

Sayangnya Baekhyun sudah tertinggal jauh di belakang, dan Chanyeol sudah memiliki seseorang di sampingnya sekarang.

"Kau sangat beruntung Yeol, mencintai orang yang juga mencintai mu. Aku iri" kata Baekhyun dengan raut wajah sedih. Chanyeol yang menangkap air muka sahabatnya itu terheran. Kalau Baekhyun berkata dirinya iri, apakah gadis itu sedang jatuh cinta?

"Jangan bilang kau sedang menyukai seseorang dan tidak menceritakan nya pada ku" Baekhyun terdiam, Chanyeol memegang pundak sang gadis dan mengarahkan tubuh Baekhyun menghadapnya.

"Byun Baekhyun, apakah kau sedang jatuh cinta? Jawab aku" Gadis itu mendesah lalu menganggukan kepalanya. Chanyeol menggertakan gigi tanda tidak suka.

"Itu tidak sportif Byun, kau bahkan tidak menceritakan nya pada ku." Baekhyun hanya menggendikan bahunya, menatap Chanyeol dengan lurus.

"Jadi siapa dia? Pemuda yang beruntung itu?"

"Bukan pemuda yang beruntung, dia itu sangat bodoh, kau harus percaya pada ku"

"Kenapa kau mengejek pujaan hati mu, Baek? Kau ditolak?"

"Aku bahkan belum mengungkapkan nya" jawab Baekhyun.

Chanyeol mengelus pelan surai Baekhyun lalu memandangnya serius. Pemuda itu tampak berpikir apa yang akan ia katakan. Ini pertama kalinya Baekhyun jatuh cinta, dan dia merasa gagal sebagai seorang sahabat karena tidak mengetahui apapun. Tapi bukankah ini salah Baekhyun yang tidak mau memberitahukannya perihal ini? Ah, seandainya Chanyeol bisa lebih peka.

"Kau harus mengungkapkan nya Baekhyun. Harus. Secepatnya, sebelum semua terlambat"

"Sudah terlambat, Yeol. Dia bahkan sudah mempunyai kekasih. Aku...aku.. tidak..mungkin mengakuinya"

"Itu tidak masalah, kau hanya harus lebih berani untuk mengungkapkan nya. Setidaknya kau bisa lega, Baek. Lagipula, kita tidak tau bagaimana masa depan bekerja bukan?" tanya Chanyeol berusaha menyemangati sahabatnya itu.

"Tapi..." ragu Baekhyun.

"Akui saja padanya, lalu setelah itu kau bisa memutuskan apakah dia layak untuk diperjuangkan atau tidak"

"Dan jika dia tidak ingin diperjuangkan?"

"Maka ucapkan selamat tinggal padanya dan rasa itu. Aku sudah mengalaminya beberapa kali, kau tau. Dan lihat, aku masih ada disini, disampingmu. Aku akan baik-baik saja, tanpa ataupun ada dia. Karena kebahagiaan datang dari dirimu sendiri, Baek, bukan orang lain"

Baekhyun tersenyum melihat Chanyeol tersenyum. Itu sudah lebih dari cukup. Hari ini, Baekhyun memilih senyuman Chanyeol yang baru saja ia perlihatkan sebagai objek peraturan nomor 3 nya. Gadis itu yakin, dia bisa menghadapi semuanya.

"Bagaimana kalau kau mendapatkan pengakuan dari seseorang bahwa dia menyukai mu? Kau kan sudah memiliki kekasih" tanya Baekhyun membuat Chanyeol berpikir sebentar lalu memegang jemari gadis itu lembut.

"Sayangnya, aku mencintai Hyemi, dan dia harus mengucapkan salam perpisahan pada ku dan pada perasaan nya. Tapi, aku tentu akan mengucapkan terimakasih padanya."

"Dan jikalau ini benar-benar terjadi?"

"Berarti aku ini populer" ujar Chanyeol menggelak tawa Baekhyun, walaupun dia tidak benar-benar tertawa.

Rule no 4 : Practice to say goodbye to him once a day

Karena Baekhyun tau dia akan mengucapkan nya suatu saat nanti pada pemuda itu.

.

.


.

.

Apakah ini yang disebut cinta? Semakin didalami maka sakit yang didapatkan. Baekhyun juga tidak tau akan hal itu.

Semakin dia mencoba mendekati Chanyeol sebagai seorang wanita, maka perasaan itu semakin membeludak. Dan itu membuatnya takut.

Chanyeol adalah seseorang yang sangat berharga baginya. Seseorang yang tak kan pernah datang menghampirinya. Tapi itu cukup untuk Baekhyun, karena dia menerima fakta bahwa dia jatuh cinta pada Chanyeol.

Baekhyun tampak memandangi Chanyeol dan Hyemi yang tengah berjalan berdampingan. Dia mengikuti mereka dengan bodohnya. Dan satu fakta lagi yang harus ia terima dengan lapang dada, bahwa Chanyeol sudah memiliki Hyemi.

Hati Baekhyun terkenyut melihat senyuman yang ditorehkan pemuda itu pada Hyemi. Ada sesuatu yang berbeda disana. Senyuman yang belum pernah Chanyeol berikan padanya. Suatu pancaran yang bersinar saat mata itu menangkap sosok Hyemi. Mungkin Chanyeol sangat bahagia, dan itu membuat Baekhyun menahan perih. Dia adalah sahabat baik Chanyeol dan diatas segalanya, demi langit dan bumi, dia mendambakan kebahagiaan Chanyeol. Walaupun itu membuatnya hampir terbunuh dengan sukarela.

Kalau saja dia adalah Tuhan, maka dia akan melarang seseorang mencintai orang lain yang tidak mencintai nya juga. Kalau saja dia adalah Tuhan, maka dia akan membuat semua orang jatuh cinta pada orang yang mencintainya kembali. Kalau saja dia adalah Tuhan, maka dia akan memusnahkan perasaan sakit yang tengah menggerogotinya sekarang ini. Tapi dia bukan Tuhan.

Melihat orang yang kau sukai bersama orang lain adalah kepedihan. Senyuman nya, sentuhan nya, perhatian nya, semua tentang dia terasa amat berbeda ketika melihat orang tersebut bersama dengan kekasihnya. Baekhyun seperti melihat sisi Chanyeol yang lain. Sisi Chanyeol yang sangat ingin dia miliki, yang selalu ada dalam mimpinya.

Untuk dapat bermimpi suatu mimpi yang ia sebut Chanyeol. Untuk dapat memiliki Chanyeol dalam hatinya. Baekhyun berterimakasih.

.

.


.

.

"Tolong angkat, cepatlah angkat, cepatlah, ku mohon"

Suara telepon yang tersambung membuat Baekhyun tersenyum kecil. Syukurlah. Baekhyun merasa dia akan baik-baik saja.

"Halo"

Ketika suara Chanyeol mengalun di telinganya, Baekhyun merasa aman.

"Yeol..." lirihnya.

Chanyeol tak langsung menjawab, terdapat banyak detik yang terbuang hanya untuk mendengar deru nafas satu sama lain.

Ketika alunan nafas Chanyeol terdengar, Baekhyun merasa sedikit lega.

"Aku membutuh..."

"Tidak sekarang, Baek. Tidak sekarang" Nada Chanyeol terdengar marah, penuh kefrustasian dan dingin.

Tubuh Baekhyun melemas. Dia membutuhkan Chanyeol. Disini. Disampingnya. Disisinya. Tapi Chanyeol tampaknya tidak memikirkan hal yang sama.

Ketika Chanyeol menolak langsung permintaan Baekhyun yang bahkan belum terlontarkan, gadis itu merasa semuanya runtuh.

"Ku mohon Yeol, aku membutuhkan mu, aku..."

"Baek, ku mohon, kali ini saja. Aku tidak bisa" potong Chanyeol membuat tangisan Baekhyun hampir pecah. Tidak tidak, bukan seperti ini. Baekhyun tidak ingin seperti ini.

"Apa yang terjadi dengan mu, Yeol?" Baekhyun berusaha menahan tangisan nya, mencoba bertanya sepelan dan senormal mungkin.

"Kami bertengkar dan itu semua karena mu, Baek. " Chanyeol tampak menekankan anak kalimat terakhir itu membuat hati Baekhyun semakin teriris.

"Aku tidak menyalahkan mu...hanya saja...aku butuh waktu sendiri"

"Ku mohon Yeol, aku benar-benar..." Baekhyun memelas.

"Maaf Baek, aku harus pergi. Kita akan bicarakan nanti" Chanyeol memutus sambungan telepon mereka dengan cepat. Baekhyun tersenyum sedih.

Chanyeol tidak pernah menolak permintaan Baekhyun. Chanyeol tidak pernah memotong perkataan Baekhyun. Chanyeol tidak pernah menjauhkan dirinya dari Baekhyun. Tapi dalam satu malam, dia melakukan semuanya.

Mungkin dia bukan lagi yang menjadi nomor satu bagi Chanyeol. Mungkin dia bukanlah prioritas lagi bagi Chanyeol. Mungkin dia sudah tidak begitu berharga bagi Chanyeol. Dan mungkin, beribu mungkin, Baekhyun harus menyudahi ini semua.

.

.


.

.

Baekhyun membutuhkan kepastian, dan dia akan menagihnya hari ini. Baekhyun percaya apapun yang dikatakan Chanyeol adalah benar, maka dia akan menurutinya, dan disinilah dia. Menunggu pemuda itu untuk datang ke atap sekolah mereka, salah satu tempat persembunyian favorit kedua insan itu.

Hari semakin sore dan hawa dingin terus menyapa sang gadis, tapi tidak ada yang lebih dingin dibanding hatinya saat ini.

Derap langkah kaki milik Chanyeol mengalun di telinganya. Dia merindukan sosok itu dari kemarin malam, saat dia benar-benar membutuhkan pemuda itu, tapi sayangnya, mereka bertemu dalam keadaan yang tak pernah terpikirkan oleh Baekhyun sebelumnya.

"Baek soal kemarin...maafkan ak.."

Baekhyun langsung memeluk Chanyeol, menelusupkan wajahnya ke dada bidang pemuda itu. Melepaskan rindu yang selalu melanda batinnya. Sudah hampir sebulan, semenjak Chanyeol dan Hyemi menjalin hubungan, dia tidak pernah merasakan kehangatan itu lagi. Chanyeol tampak tidak mengerti tapi dia tetap membalas dekapan gadis mungil itu dan menepuk punggung Baekhyun.

"Maafkan aku Baek.."

"Aku akan pergi, Yeol"

"Apa?!" Chanyeol melepaskan pelukan nya dan mendapati mata Baekhyun sudah memerah. Pemuda itu meraih pipi Baekhyun untuk menghapus air mata yang ada, sementara tangisan Baekhyun semakin menjadi.

"Kenapa Baek? Kau akan pergi kemana? Kenapa harus pergi? Maafkan aku Baek, sungguh aku minta maaf soal kemarin" Chanyeol menarik gadis itu dalam pelukan nya lagi, tapi Baekhyun menolak. Dia harus mendapatkan kepastian sekarang agar dia bisa menentukan langkah selanjutnya.

"Apa yang terjadi sebenarnya, Baek?" tanya Chanyeol.

"Orangtua ku bertengkar hebat kemarin, mereka akan bercerai. Aku akan ikut ibu ke Daegu, Yeol."

"Kau bisa tinggal disini bersama ku, Baek. Dirumah ku. Ibu pasti tidak akan keberatan." usul Chanyeol.

"Aku juga ingin, tapi sepertinya aku tidak bisa" ujar Baekhyun frustasi.

"Ayolah Baek, kau tidak mau meninggalkan ku sendirian kan? Aku..aku..tidak..bisa.. "

"Kau sudah mempunyai Hyemi"

"Tapi dia bukan kau Baekhyun. Dia bukan Byun Baekhyun, sahabat baik ku yang sudah aku kenal sejak berumur 6 tahun. Dia bukan Baekhyun, gadis mungil ku yang keras kepala dan selalu saja bersikap kasar. Dia bukan Baekhyun, seseorang yang bahkan memahami ku lebih dari diriku sendiri. Dia bukan Baekhyun..."

"Yang mencintai Chanyeol sejak kecil dulu. Dia bukan Baekhyun yang mengorbankan kebahagiaan nya demi melihat senyuman manis di wajah Chanyeol. Dia bukan Baekhyun yang mempunyai peraturan agar bisa mengendalikan perasaan cinta nya pada Chanyeol. Dan dia bukan..dia bukan..."

Kalimat Baekhyun menggantung di udara, dia tidak dapat melanjutkan nya lagi. Baekhyun berharap Chanyeol akan memeluknya saat ini, menenangkan nya dan mengatakan bahwa tidak apa begini, semua akan baik-baik saja. Karena Baekhyun percaya apapun yang dikatakan Chanyeol adalah benar.

Tapi tidak, Chanyeol hanya diam mematung, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.

"Baek...kau...menyukai ku?" Baekhyun mengangguk.

"Jadi yang kau ceritakan waktu itu adalah aku?" Baekhyun mengangguk lagi.

"Kenapa harus aku, Baek? Kau bahkan tau bahwa aku menyukai Hyemi. Aku bahkan menceritakan dia pada mu sebelum kami menjalin hubungan. Aku bahkan menangis pada mu karena dia. Aku bahkan.. "

"Aku bahkan menyukai mu dari dulu Chanyeol dan rasa itu terus bertumbuh, aku hanya tidak bisa menghilangkan nya" ujar Baekhyun membuat Chanyeol kembali kehilangan kata-katanya. Gadis itu mengambil nafas panjang, dan menghembuskan nya pelan.

"Jadi apa pendapat mu?"

"Maaf Baek..."

Baekhyun hanya tersenyum, dia sudah memprediksi akan begini jadinya, dan dia sama sekali tidak menyesal.

"Aku akan pergi besok pagi, Yeol. Melihat respon dari mu, ku rasa semua sudah jelas. Mungkin, mungkin ketika aku jauh dari mu, aku bisa melupakan mu. Ini nilai positifnya. Dan tolong jangan datang ke bandara besok."

"Tapi Baek..."

"Demi aku, Yeol. Ku mohon...Aku...aku takut kalau aku tidak bisa pergi karena melihat mu disana. Kau ingin aku bahagia kan?" tanya Baekhyun, Chanyeol mengangguk.

"Maafkan aku Baek" sesal Chanyeol, air mata mulai mengalir di pipinya.

Baekhyun mendekatkan tubuhnya pada Chanyeol dan menghapus air mata itu. Sakit dan perih menjalari tubuh nya. Tapi dia tidak akan menyesal.

"Justru aku yang minta maaf karena membuat persahabatan kita menjadi canggung. Tapi hei, tersenyumlah, hal itu benar-benar bisa menjadi penyemangat ku, kau tau?" Chanyeol masih menangis, dan itu membuat Baekhyun merasa tercabik.

"Tersenyumlah, Chanyeol. Ku mohon, hmm?"

Pemuda itu mau tak mau menuruti Baekhyun. Walaupun masih sibuk dengan isakan yang terdengar amat jelas, dia menyunggingkan bulan sabit di wajah nya itu.

"Aku punya satu permintaan, maukah kau mengabulkan nya? Anggap saja hadiah perpisahan untuk sahabat baik mu ini"

"Apapun Baek, aku akan mengabulkan apapun" sahut Chanyeol mantap.

"Kalau begitu, tutup matamu, dan jangan bergerak ketika aku melakukan sesuatu. Hanya diam dan tutup matamu, oke?" Chanyeol mengangguk.

Baekhyun berjinjit dan menutup mata Chanyeol menggunakan telapak tangan nya. Dia mendekatkan bibir mungil nya dan mengecup milik Chanyeol dalam. Air mata mengalir deras dari kedua matanya, sehingga Chanyeol pun bisa merasakan buliran asin itu. Baekhyun melepaskan tautan mereka dan masih tidak memindahkan tangan nya.

"Terimakasih untuk semuanya, Yeol. Terimakasih" bisik Baekhyun bergetar. Chanyeol masih diam dalam tempatnya.

Perlahan, Baekhyun memundurkan tubuhnya menjauhi Chanyeol. Pemuda itu membuka matanya dan melihat Bakehyun sendu.

1 langkah...

Karena Baekhyun hanyalah seorang yang pintar yang sudah berhasil mengatakan bahwa dia menyukai pemuda itu.

2 langkah...

Karena Baekhyun adalah seorang pemberani yang telah membuka topeng persahabatan mereka dan menawarkan cinta sebagai seorang wanita.

3 langkah...

Karena Baekhyun hanyalah seorang yang terjerat akan cinta sepihaknya pada pemuda itu dan ingin terbang menyambangi kebebasan yang di idamkan nya.

Baekhyun pikir bagian tersulit dari suatu perpisahan bukanlah saat dia memundurkan langkah nya menjauhi Chanyeol, tapi saat dia sadar bahwa kenangan tentang mereka akan selalu menghantui dirinya.

4 langkah

Baekhyun melambaikan tangannya dan tersenyum senang, kali ini dia benar-benar senang.

5 langkah

Baekhyun membalikan tubuhnya perlahan, berusaha memunggungi pemuda yang selama ini selalu berada di depan nya.

6 langkah

Baekhyun membisik salju pertama yang turun saat perpisahan mereka.

"Selamat tinggal, Yeol"

-TBC-

Halooohaaa, hehe. Bikin ini mau ngakak sumpah, keliatan alaynya kan? Hehehe. Makasih banyak buat respon yang baik dari pembaca, hehe. Aku harap chapter ini juga berasa angst nya ya. Amin, kekeke.

Oh iya buat review yang masuk, aku bakal bales yaaa, mohon ditunggu yaa, pasti aku bales kok. Aku lg ngejar publish terkhusus buat para jomblo di malming ini #ganyadardiri, hehe. Dan semoga selalu bisa menghibur dan mohon berkenan meninggalkan jejak oke oke?

Salam Chanbaek! Untuk review yang guest aku bales dibawah ini yaaa ;)


yousee : Iya nih bebek nelangsa banget disini huhuhu. Yay Chanyeol nya udah tau tapi yah begitulah, huhuhu. Makasih banyak udh mau baca dan review, semoga menghibur ;)

tutux : Makasih banyak ya, hehe. Ini udah dilanjut tapi maaafinnn mereka engga bersatuuu, huhuhu T.T T.T T.T Waduh aku ga bisa menyelamatkan hati kamu, krn hati ku aja udh kebawa baper zone, huhuhu. Anyway, makasih banyak udh mau baca dan review, semoga menghibur yaaa :)

Kai's : Makasih banyak yaa, hehe. Iya emang kan si Chanyeol alay, huhuhu. Wah endingnya ga bisa dibocorin euy, hehe Makasih sekali lagi udh mau baca dan review, semoga menghibur ;)

baekkie : Sudah diupdate yaaaa, semoga menghibur :)

Vallenninda Park : Chanyeol Chanyeol mengapa kamu begitu? :( Huhuhu. Syukur deh kalo angst nya kerasa, hehe. Siaapp, udh dilanjut yaaa, semoga menghibur ;)