Dance With Me
.
.
.
Aku tidak tahu jika menyukai sesama adalah hal yang sangat biasa di sekolah khusus pria seperti ini. Bahkan aku tidak pernah berfikir tentang itu. Yang kulakukan pada Sehun kemarin itu jujur di luar kendali ku. Tapi ku rasa bukan rasa suka. Hanya terbawa suasana dan spontanitas saja.
Dan sudah berhari-hari ia mengabaikan ku. Padahal ia membalas ciumanku. Ia juga menikmatinya. Dan fakta yang tak ku tahu tentang Sehun adalah ada banyak sekali pria yang menyukainya. Mengejarnya layaknya seorang primadona. Pantas saja ia sangat sombong. Setidaknya ia berhenti memintaku ikut klub dance nya.
"Kulihat hubunganmu dengan Sehun bertambah buruk." Taemin menyela di tengah-tengah penjelasan guru.
Aku mengangguk malas. Untuk apa membahasnya. Sudah untung tempat duduk kami jauh di kelas. Aku jadi tidak harus melihat wajah sok nya itu.
"Apa yang terjadi?"
"Kami hanya, sedikit canggung."
"Wae?" Mata Taemin mendelik.
"Sedikit lumatan, aku tidak sengaja sebenarnya. Terjadi begitu saja."
"Omo.. Daebakk! Kalian make out?"
Aku mengangguk pelan.
Dan Taemin tampak tersenyum sendiri sambil sibuk entah dengan apa di dalam otaknya.
.
.
.
"Ikutlah!"
"Ige Mwoya? Ku kira kau sudah menyerah."
"Jangan menyusahkanku."
"Sudah kubilang, buat aku terkesan."
Sehun mengacak rambutnya frustasi.
"Tarian seperti apa sebenarnya yang kau mau?"
Aku memutar otakku mencoba mencari sesuatu. Aku yakin yang satu ini ia tidak akan mau. Harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukannya.
"Striptease..."
"Mwo?" Sehun membelalakkan matanya." Dasar otak mesum gila!"
Aku mengangkat bahuku. Lalu menjatuhkan tubuhku di ranjang. Merasakan mataku terasa sangat berat. Aku tidak mau menari. Tidak lagi.
Dan sesuatu yang berat menimpa perutku sontak membuat mataku terbuka. Dan kudapati Sehun duduk di atas perutku dengan kancing kemeja terbuka memperlihatkan otot perutnya. Heol! Dia sudah gila.
Aku mendorong tubuhnya menjauh.
"Mwoya?"
"Strip.. tease..?" Ia berkata polos dengan wajah tanpa ekspresi.
"Hentikan. Cukup!"
"Kau ikut?"
"Ani."
"Arraseo, aku belum pernah melakukannya..."
"Hentikan..."
Aku keluar dari kamar dengan bulu kuduk berdiri. Tadi itu dia kenapa? Kenapa tidak menyerah saja sih? Sial! Adik ku jadi berdiri. Sesak sekali rasanya.
Apa aku tidur di luar saja?
Aku belum pernah menyerang seorang laki-laki. Dan mungkin akan jadi yang pertama jika aku tidur di kamar dengan kondisi Sehun yang sedang menggila seperti itu. Sebenarnya apa yang membuat Sehun bersikeras mengajaknya bergabung dengan klub dance sampai seperti itu?
"Kau tidak tidur?" Taemin muncul dari balik kamar sebelahku.
Aku menggeleng.
"Apa terjadi sesuatu? Kau dan Sehun?"
"Aniya," kataku berbohong sambil melangkah menjauhi Taemin. Dia itu semacam punya magnet untuk menarik kejujuran dari diriku.
Aku menghela nafas panjang. Penat sekali rasanya, sudah hampir tengah malam. Bagaimana jika nanti justru ditegur penjaga asrama? Aku tidak suka hal-hal yang merepotkan begitu.
Aku melangkahkan kaki ku kembali menuju kamar. Mungkin saja Oh Sehun sudah tidur bukan?
Tapi ketika pintu terbuka, yang kudapati adalah Sehun yang setengah telanjang sedang menari erotis di depan cermin dengan keringat membasahi rambut blonde nya. Dia benar-benar kurang waras.
Aku memejamkan mata melewatinya. Pura-pura tidak melihat makhluk menyebalkan yang satu itu. Tapi ku rasa ia memperhatikan apa yang ku lakukan. Alu bisa merasakannya.
"Kau benar-benar tidak ingin melihatnya? Aku sudah berlatih. Kau pasti akan terkesan." Sehun mulai buka suara.
"Lupakan, aku tidak akan bergabung dengan club dance meskipun kau menari sambil telanjang bulat di halaman sekolah saat apel pagi."
"Dasar! Kau membuatku susah saja! Apa kau tau apa yang akan di lakukan ketuaku jika gagal membawa mu?" Sehun terlihat frustasi.
"Aku tidak mau tahu." Kataku pelan sambil merebahkan diri di tempat tidur. Memasang punggungku menghadap Oh Sehun.
"Aku akan membawamu meskipun harus menyeretmu dengan paksa!"
"Kau akan mati sebelum bisa melakukannya. Aku. Tidak mau menari lagi. Jangan ganggu aku!"
ada respon dari Sehun. Aku juga tidak mengharapkan respon apa-apa. Tapi rasanya menyebalkan sekali di abaikan seperti ini. Seharusnya kan dia tanya alasanya. Meskipun aku tidak akan mau memberitahunya.
.
.
.
Matahari masih belum terlihat dan Oh Sehun sudah tidak ada di tempatnya. Bagus juga tidak harus mendengar ocehanya di pagi hari. Rasanya jadi lebih bersemangat tanpa melihat sosoknya.
Tapi satu detik kemudian pintu terbuka, dan Si Oh berjalan masuk dengan pakaian olahraga. Memandangku sinis sambil merutuk pelan.
"Berhenti menatapku seperti itu, aku bukan kuman."
"Memang bukan kuman tapi kau nenek moyang kuman yang sudah terkontaminasi dengan bakteri keturunan amoeba." Aku tersenyum mendengarnya. Lucu sekali.
"Aku heran kenapa 'dia' sangat menginginkan mu di klub, menari saja kau tidak mau. Mungkin hanya karena kau sedikit tampan."
"Kau mengakuinya?"
"Aku memang tidak menyukaimu, tapi aku tidak munafik."
"Jadi menurut standarmu, aku ini tampan?"
"Apa kau tuli? Apa telingamu itu tersumbat atau apa? Aku bilang sedikit. Kenapa kau melebih-lebihkannya."
Aku tersenyum lagi di buatnya. Ia sangat lucu. Tapi tetap saja menyebalkan. Menyebalkan dengan cara yang menggemaskan. Oh Sehun ini sangat aneh. Apa aku yang aneh karena menganggapnya seperti itu?
"Aku mau tanya sesuatu."
"Mwo?"
"Kau, suka namja atau yeoja?" Dan Sehun terbatuk mendengar pertanyaan ku.
"Bukan urusanmu."
Apa aku harus mencari tahunya sendiri? Orientasi seksual Oh Sehun itu? Tapi kurasa dia suka batang.
.
.
.
Siang ini cuaca sangat panas, membuatku enggan cepat-cepat keasrama. Di sana sangat berisik. Aku memilih melihat-lihat sekeliling sekolah. Sangat menarik sekali. Bangunannya benar-benar seperti kastil Harry Potter.
Dan aku tiba di ruangan ber label Klub dance di atas pintunya. Aku tidak peduli. Tidak ingin peduli. Tapi aku sangat penasaran dibuatnya. Aku mbuka kenopnya dan hanya ada Oh Sehun di sana. Ia menatapku dengan sedikit terkejut. Tubuhnya basah dengan keringat.
"Kau mau join?"
Aku menggeleng pelan.
"Kenapa hanya ada kau sendirian."
"Yang lain sudah pulang."
"Kenapa kau tidak pulang?"
Sehun diam sesat. Menatapku tajam sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
"Karena aku malas melihat wajahmu. Dan kau justru mendatangiku kesini. Benar-benar tidak tahu diri." Sial! Aku ingin membuat bibir itu tunduk kepadaku.
Aku jadi ingin lihat bagaimana tanggapan bocah ini jika melihat ku menari. Bukan bermaksud sombong, tapi aku sangat bagus dalam menari. Mereka bilang gerakanku memiliki jiwa tersendiri yang memikat hati para penonton. Dengan kata lain, aku punya bakat alami.
"Apa yang kau sukai? Waltz? Modern dance? Popping? Yang mana?" Sehun menatapku dengan pandangan meremehkan. Dia menyalakan api.
"Balet,"ujarku singkat dan Sehun terlihat tak menduganya.
"Tapi aku menguasai semuanya, bahkan break dance."
"Omong kosong," Sehun memutar matanya.
"Bagaimana ya? Aku takut kau jatuh cinta padaku jika aku menari di depanmu."
"Maka aku akan memberimu blowjob jika kau bisa membuatku bertepuk tangan." Sehun tersenyum sinis.
"Mwoya? Apa kau begitu ingin melakukannya?" Kenapa harus itu yang ia tawarkan. Dasar mesum.
"Aku mengatakannya karena mustahil aku terkesan padamu Tuan Kim," Sehun berujar dengan percaya diri.
Aku berjalan santai ke arahnya. Menekan tombol power pemutar musik di belakangnya. Musik mulai terdengar. Dan beatnya mulai menggelitik kepalaku. Menyalurkan energi positif di seluruh nadiku. Sudah sangat lama tapi perasaan ini tak juga berubah.
Aku akan menari bukan karena ingin di akui Sehun. Tapi ingin mendapatkan blowjob darinya. Mulutnya yang kurang ajar itu, pasti punya kelebihan lain bukan?
.
.
.
TBC
.
.
.
Maaf jika ada typo.
