Dance With Me
.
.
.
Aku akan menari bukan karena ingin di akui Sehun. Tapi ingin mendapatkan blowjob darinya. Mulutnya yang kurang ajar itu, pasti punya kelebihan lain bukan?
Aku memulainya. Mengikuti ritme yang sedikit pelan. Melakukan Blood-elf dance yang memang sudah sangat merasuk di dalam gerakanku(*tarian lentur). Menari mengikuti lagu dengan kombinasi antara popping dan body wave tanpa sedikitpun mengalihkan tatapan mata dari sosok Sehun yang terlihat sedikit gugup.
Aku mendekati Sehun yang melangkah mundur ketika ku dekati. Menghimpitnya hingga tak bisa membuat jarak lagi. Menatap manik matanya dan melakukan body wave tepat di depannya. Dia tergagap dengan wajah memerah. Lucu sekali.
Tangan Sehun menjangkau tape di sampingnya, menekan tombol power dan suasana canggung langsung terasa menyesakkan dada. Aku terdiam sambil mengatur nafas. Masih memojokkan tubuh Sehun di dinding.
"Otte?" Bisiku pelan.
Sehun menelan ludahnya sendiri. Nafasnya jadi ikut tersengal.
"Buruk sekali, mataku jadi.. jadi sakit melihat tarianmu," ujarnya tergagap.
"Bukankah kau bilang, kau bukan orang yang munafik? Aku tau kau terkesan padaku." Sehun salah tingkah mendengarnya.
Kami saling bertatapan cukup lama hingga dorongan tangan Sehun memecahkan kesunyian. Mendorong tubuhku ke kursi tak jauh dari tempat kami berdiri. Lalu berjongkok di antara kakiku. Memandang wajahku dari sudut bawah dan itu terlihat sangat sexy. Dia akan melakukannya. Tangannya membuka gesperku dengan bergetar. Melepaskan pengait celanaku lalu menurunkan zippernya. Menatap gugup ke arah kejantananku yang masih tidur di dalam boxer.
Sehun menurunkan celanaku hingga sebatas lutut lalu menarik keluar juniorku. Ia menarik nafas dalam lalu mulai mengelus pelan dengan jemarinya. Menggengamnya dengan sedikit ragu. Mulai membuka mulutnya, dan aku bisa merasakan nafas hangatnya menggelitik ujung juniorku.
CEKLEK!
Pintu terbuka dan sosok Taemin berdiri di baliknya. Menatapku dan Sehun yang membeku dengan mulut ternganga.
"Ah, mian!" Ia tersenyum kikuk lalu menutup kembali pintunya.
Sehun langsung berdiri mengejarnya tanpa bicara apapun kepadaku. Aku bingung harus merasakan apa saat ini. Mungkin harusnya aku merasa malu, terkejut ataupun takut jika Taemin menyebarkan apa yang kami lakukan di sini. Tapi itu tidak ada. Perasaan semacam itu sama sekali tidak muncul dalam diriku. Yang kurasakan saat ini seperti rasa kecewa dan ehm,.. sedikit marah. Marah untuk apa? Lagian tak apa tidak dapat itu. Aku hanya iseng saja.
.
.
.
"Tidak masuk?" Kata Taemin yang melihatku berdiam diri di depan pintu kamar.
"Yang tadi itu,... "
"Tidak apa-apa, aku pernah melihat yang jauh lebih parah," Taemin berujar sambil menyeringai padaku.
"Tadi, Sehun..."
"Aku mengganggu kalian ya? Maaf sekali. Harusnya aku foto dulu."
"Mwo?"
"Masuklah, Sehun sedang menunggumu. Ada yang ingin dia bicarakan," titah Taemin alih-alih menjawab kebingunganku.
Dia berbalik menuju kamarnya begitu pula aku yang mencoba untuk membuka pintu tanpa suara. Berharap semoga Sehun sudah tidur. Hal bodoh apa yang sebenarnya tadi akan kami lakukan? Aku malu sendiri dibuatnya. Mengingat Sehun sudah melihat bahkan memegang punyaku membuatku benar-benar terlihat memalukan.
"Baru datang?" Sapa Sehun dengan wajah datar.
Heol! Bagaimana bisa di berwajah seperti itu sedangkan aku saja berfikir hingga dua setengah jam untuk masuk ke kamar ini? Memikirkan bagaimana harus bersikap, bagaimana harus memasang wajah ataupun memulai percakapan.
"Eoh." Aku malas menanggapinya.
Kulepas sepatuku lalu menggantungkan blazerku di dekat pintu. Melewati ranjang Sehun dengan perasaan yang entah sulit untuk kujelaskan bahkan pada diriku sendiri.
"Bagaimana dengan klub dance?" Tanyanya dengan wajah muram.
Klub dance? Dia masih memikirkan hal itu?
Aku mengunci mulutku. Berpura-pura tidak mendengarnya. Entah kenapa rasanya aku sebal sekali. Aku ingin marah.
"Katakan sesuatu. Apa kau bisu? Apa telingamu tuli? "
"Berhentilah memaki! Apa itu cara yang baik untuk meminta seseorang bergabung dalam klub mu?" Aku berteriak. Entah kenapa aku muak.
"Apa ini soal blowjob? Cih, dasar otak jorok!"
"Mwo?"
Sehun beranjak dari ranjangnya dan bepindah di tempatku. Menatapku dengan tatapan angkuhnya.
"Kau harus bergabung sekarang juga, akan kulakukan apapun."
"Kenapa aku harus bergabung? Aku tidak peduli apa yang akan ketua mu lakukan jika aku tidak bergabung."
Sehun menarik kerahku hingga tubuhku terangkat. Membawa wajahku ke depan wajahnya.
"Kau tahu?! Lee Taemin itu akan mengatakan kalau kita berciuman! Kalau aku pernah mengulum penismu! Dia akan mengatakannya jika kau tidak ikut klub dance! Arraseo?!" Wajahnya tampak memerah menahan amarah. Ia melepas cengkramanya dengan sedikit hempasan. Beruntunglah aku sedang berada di atas kasur.
"Taemin,.. dia...?"
"Ne, Taemin yang itu."
"Bukan urusanku."
Sehun mendengus kesal.
"Dia akan mengatakannya pada Hyungku. Kau akan mendapatkan masalah jika sampai ia mendengar namamu."
Apa lagi ini? Apa Hyungnya semacam makhluk homipobic yang anti LGBT?
"Apa yang akan dia lakukan padaku?"
"Yang pasti bukan hal yang baik."
Aku menimbang-nimbang sejenak. Memutuskan apakah Sehun tadi berkata jujur atau hanya sedang menipuku.
"Kau Bohong."
"Ku mohon, aku bisa mati jika Taemin bilang yang tidak-tidak pada Hyung-ku," ia menatap lemah ke arahku. Seperti sudah kehilangan harapan. Seperti sudah akan mati.
"Maaf, aku tidak bisa." Aku memejamkan mataku.
"Mati saja klau begitu, brengsek!"
Aku mendengus mendengar perkataan Sehun itu.
.
.
.
Sudah lebih dari tiga hari aku tidak melihat Sehun.
Jika aku masuk kamar, dia sudah bergelung di atas kasur. Dan ketika pagi hari, ia sudah berangkat sekolah. Dia marah. Dia mendiamkanku padahal aku tidak salah sama sekali. Dan bodohnya aku merasa bersalah akan hal ini.
Tapi pagi ini dia belum berangkat sekolah. Sama sekali tidak beranjak meskipun waktunya sudah sangat mepet. Kenapa sampai segitunya menghindariku. Mau menungguku berangkat duluan? Aku tidak serajin dirimu Oh Sehun.
Aku muak, kutarik selimut Sehun dan kudapati wajah pucatnya yang sedang berkeringat sambil mengigil kedinginan.
Sial!
Ku periksa suhu tubuhnya untuk memastikan meskipun sudah sangat jelas dia sedang demam. Enatah kenapa, entah kenapa dadaku berdebar-debar karena semua ini. Aku takut. Aku takut bocah ini sakit parah.
"Sehun-ah..." kucoba untuk membangunkannya.
Ia membuka matanya lemah. Melihat ke arahku dengan tatapan hampa. Aku meraih tubuhnya. Menggendongnya di punggungku dan berlari sekuat tenaga menuju klinik asrama.
Tangan Sehun terkulai lemas di ujung pandanganku. Aku mulai panik dan hampir terjungkal di buatnya. Lebih cepat. Aku harus lebih cepat lagi.
Dan tak lama kemudian kakiku melangkah di koridor klinik. Membuat suara gemuruh yang langsung di sambut tatapan terkejut para perawat dan pengunjung di sana. Lalu seorang petugas membawa troli ke arahku. Membaringkan Sehun di atasnya dan membawanya ke ruang periksa.
Aku terperosot ke lantai. Kaki ku lemas. Sendi-sendinya seakan mau lepas. Nafasku tak beraturan. Dadaku sesak seakan tak ada lagi udara di dalamnya. Tadi itu benar-benar di luar kemampuanku. Berlari sejauh itu dengan beban di punggungku. Ku rasa aku telah melampaui batas ku sendiri. Aku butuh oksigen.
.
.
.
Matanya masih terpejam. Mungkin pengaruh obat. Syukurlah dia hanya demam biasa. Dia bisa pindah ke kamar setelah dia sadar.
Sebenarnya aku ingin pergi, toh dia juga sudah baikan. Tapi tidak bisa. Aku tidak bisa meninggalkannya. Bahkan memalingkan pandangan darinya saja aku tidak bisa. Ada apa denganku?
Matanya terbuka dan ia menatapku sangat lama dengan tatapan lemah. Bibirnya terbuka tapi tak terdengar suara. Hanya sebuah bisikan pelan yang membuatku hampir saja meledak karenanya.
Aku hampir saja mati kehabisan nafas karena membawanya ke sini. Dan setelah sadar ia justru, ia justru menanyakan tentang klub.
"Araseo, aku akan masuk klub dance. Tapi lakukan sesuatu untuk ku."
Dia menatapku dengan serius.
Aku mendekatkan kepaluku ketelinga Sehun.
"Jangan membuatku khawatir lagi. Jangan pernah."
Ia menatapku lama tanpa suara. Dan tanpa perhitungan sama sekali, aku menciumnya sekilas.
Ia tidak mengumpat kali ini. Tidak juga menolak. Aku hanya mendapati pipinya yang bersemu merah. Mungkin saja karena demam. Tapi kuharap bukan.
"Kau, kau bisa tertular."
Aku mengabaikannya lalu menciumnya lebih dalam. Lebih intens. Kali ini bukan untuk membungkam kata-kata kasarnya. Sama sekali bukan. Aku melakukannya karena memang menginginkannya. Aku menginginkan Oh Sehun. Anggap saja aku gila jika memang orang dengan otak waras tidak akan melakukanya. Aku tidak menolak.
.
.
.
TBC.
Lama ya? Maaf. Pendek bgt lagi. Tunda dulu NC nya ya.
