Dance With Me

.

.

.

Aku tahu, aku tahu aku menyukainya. Bahkan terkadang aku rasa ia juga menyukaiku. Tapi sekarang aku sadar bahwa itu hanya delusi belaka. Sifatnya itu, kebaikanya itu Cuma karena klub dance. Dan aku sudah jatuh atas kepura-puraan nya itu.

Meskipun belakangan ini aku mencoba untuk menghindarinya, tapi kenapa aku tetap tidak bisa mengurangi perasaanku pada Oh Sehun. Aku justru merindukan nya. Sangat-sangat rindu seperti mau gila. Bukankah aku sudah gila?

"Dia menempel terus dengan Chanyeol -sunbaenim, apa tidak apa-apa seperti itu? " Taemin mengoceh di sela-sela latihan.

Aku lebih memilih untuk tidak menanggapi perkataan Taemin. Mungkin hanya perasaanku saja. Tapi kurasa Taemin itu terkadang kekanakan sekali.

"Kau tidak cemburu? "

"Berhenti bicara Leader-nim. Aku pusing, aku pergi duluan. " aku melangkah keluar mengabaikan seruan Taemin yang menyuruhku kembali.

.

.

.

"Kau baik-baik saja? "

Aku membuka mata dan mendapati Sehun tengah menatapku dengan wajah kikuk.

"Hanya sedikit pusing. " pusing karena dirimu, lanjutku dalam hati.

"Kau sudah minum obat? "

Aku mengangguk pelan.

"Jika butuh sesuatu, katakan padaku ."

"Kau akan meberikanya? "

"Eoh. "

"Bagaimana jika aku bilang aku membutuhkanmu? "

Sehun membeku. Ia menatapku bingung dengan bibir terbuka.

"Jangan konyol. "

"Yah, itu memang konyol. Lupakan! " aku kembali memejamkan mata.

"Apa kau marah padaku? Kau menghindariku? " Aku membuka lagi mataku dan kulihat Sehun menundukan wajahnya.

"Hanya perasaanmu. "

"Tidak mungkin. Bahkan kau tidak melakukan apa-apa saat aku memakimu. "

"Memangnya aku harus melakukan apa? " aku bangkit dari tidurku dan berdiri tepat di hadapan Sehun.

"Itu bukan apa-apa. Lupakan saja."

Aku menarik pinggangnya hingga tubuh Sehun menempel denganku. Wajahnya bersemu merah, tapi ia tidak terlihat keberatan dengan posisi kami. Dadanya naik turun seakan ia kesulitan bernafas. Apa ini nyata? Atau hanya delusiku saja?

"Katakan! "

"Hen, hentikan... "

Aku mendekatkan wajahku hingga hidung kami bertemu dan wajah Oh Sehun semakin memerah. Ia menatap mataku seperti ketakutan.

Aku mendekatkan wajahku dan entah bagaimana terasa sangat jauh. Jarak kami yang tak lebih dari sepuluh sentimeter ini terasa sangat panjang. Dadaku bergemuruh hebat dan sesuatu di dalam otakku berputar tak karuan. Membuat tubuhku bergetar tak jelas.

Untuk pertama kalinya aku merasa kacau di depan Sehun.

Aku berhenti tepat diujung bibirnya. Entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal dihatiku. Yang membuatku tak seleluasa biasanya. Sesuatu yang membuat keberanianku melayang hingga tak tersisa.

Chu~

Sehun mengecup bibirku sekilas.

"Kenapa? Kenapa kau menciumku?" aku berbisik pelan cukup untuk Sehun dengar.

"Nan molla... "

Aku melepaskan tubuh Sehun. Menarik nafas dalam-dalam lalu melangkah keluar. Sesak, sangat sesak.

.

.

.

Aku menatap selebaran yang baru saja Taemin berikan padaku. Dance competition yang hadiahnya bisa dibilang lumayan besar.

"Kau harus ikut. "

"Apa kau gila? "

"Kau tidak mampu? " Chanyeol menimpaliku.

"Bukan aku yang kumaksud, tapi kalian. " ujarku geram.

"Aish, bocah ini. "

"Jenny Kim? Jurinya Jenny Kim? " Sehun berkata antusias dan aku langsung mencari nama itu di kolom keterangan.

"Siapa Jenny Kim? "Jongdae bertanya pelan.

"Dia dancer Korea Selatan yang sudah mendunia. " kata Taemin.

Aku melihat lagi selebaran itu, dan benar-benar ada nama Jenny Kim di sana. Tanganku bergerak sendiri meremas kertas itu. Aku meremasnya hinga menjadi gumpalan kecil lalu membuangnya jauh.

"Aku tidak ikut. "

"Karena Jenny Kim? " Taemin berujar padaku.

Aku tertawa sakartis.

"Kau sudah tahu dari awal bukan? "

"Bisa di bilang sperti itu. "

Aku melangkah pergi tanpa berkata apapun. Entah kenapa sekarang semuanya terasa sangat memuakan.

Aku yang bodoh tidak menyadarinya dari awal. Harusnya aku tahu. Harusnya aku sadar dari awal. Bagaimana bisa orang yang tidak tahu apa-apa sangat bersikeras untuk mengajakku masuk klub tari.

.

.

.

Aku keluar dari kamar mandi dan mendapati Sehun memandangku dengan wajah memerah.

"Dia ibumu? " Kata Sehun sambil memalingkan wajahnya.

Aku membungkam mulut ku. Aku yakin dia sudah tahu.

"Bukankah menyenangkan punya ibu seorang Jenny Kim? "

"Kau harusnya... "

"Bisakah kau diam? " aku berkata dingin.

"Kenapa kau membencinya? "

"Kau tahu kenapa aku tidak mau menari? Karena orang itu lebih memilih menjadi seorang penari daripada menjadi seorang ibu. Ia meninggalkan ku untuk menari. "

Sehun terdiam lalu mendekatiku. Ia meraih kepalaku kemudian menarikku ke dalam pelukannya. Apa sekarang ia kasihan kepadaku? Menyedihkan. Tapi aku menyukainya.

Aku melingkarkan lenganku ke pinggangnya. Ia tergagap, tapi terlihat sungkan untuk menginterupsi. Memandangku seakan aku gelas kaca yang sangat tipis. Ia mengelus bahuku pelan dalam diam.

Aku menyandarkan dagu ku ke pundak Sehun. Menyesap aroma tubuhnya. Anggap saja aku mencari kesempatan dalam kesempitan.

"Kim Jongin, pakai bajumu dulu. " ia berujar pelan sambil menarik diri dari pelukanku.

Aku tertawa tipis dibuatnya. Dan ingatan tentang orang itu tidak lagi membuatku terluka.

.

.

.

Sehun tergesa-gesa mengepack barang-barangnya. Sudah mendekati natal dan sudah mulai liburan. Bis terakhir berangkat hari ini. Mungkin beberapa menit lagi. Aku mendesah panjang sambil merebahkan tubuh ku di ranjang. Lalau perhatian Sehun beralih ke arahku.

"Kau tidak mengepak barang mu? "

Aku menggeleng lemah.

"Wae? "

"Aku tidak pulang."

"Wae? "

"Bukan apa-apa. "

"Ini kan Natal. "

"Aku tahu. "

"Setidaknya habiskan luburanmu dengan orang yang kau kenal. "

Aku menatapnya dan ia jadi salah tingkah. Entah apa yang saat ini ada di dalam pikiranya.

"Mau ikut? " tanya Sehun dengan suara pelan.

"Ikut denganmu? "

Ia mengangguk dan itu sangat manis sekali.

"Aku belum packing. "

Sehun meraih ranselnya lalu melihat ke arah jam tangannya sambil berfikir sejenak. Menatapku lalu melihat ke arah jamnya lagi. Kemudian beranjak mendekatiku sambil menarik tanganku untuk bangkit.

"Kau boleh memakai bajuku. " ujarnya malu-malu.

.

.

.

Aku menatap langit-langit kamar Sehun sambil mencoba menenangkan diri. Bermimpi untuk kesini saja aku tidak pernah, dan sekarang justru langsung berada dari sini dengan ajakan si pemilik sendiri. Sepertinya aku sedang beruntung.

"Kau, hanya sendiri? " Aku bertanya sambil mengamati Sehun yang sedang merapikan barang-barang nya.

"Ibuku belum pulang, " jawab Sehun tanpa menyudahi aktivitas nya.

"Hyung-mu? " tanyaku pelan.

Sehun terdiam. Seakan-akan tubuhnya tersiram jutaan ton liter air es. Ia membeku tanpa suara. Aku menggaruk kepalaku canggung. Apa aku melakukan kesalahan?

"Aku lupa ada dia. Otokhe? Kenapa aku malah mengajakmu kesini? Aku sudah gila! " ia berujar cepat sambil memijit pelipis kepalanya.

"Mian, apa aku harus pergi? " tanyaku, dan ia langsung menatap ke arahku seakan merasa bersalah.

"Tidak, bukan bagitu. Jangan pergi! " ia menutup bibirnya seakan sudah berkata hal yang tabu.

Aku beranjak dari dudukku lalu mendekati Oh Sehun. Ingin sekali menggodanya kali ini.

Ia terdiam dengan pandangan lurus ke arah mataku, sedangkan aku terus melangkah maju ke arah Sehun. Tidak ada orang disini. Dan isi kepalaku mulai tidak normal saat berdua denganya.

Aku mendorong tubuhnya kebelakang hingga ia terduduk di atas meja. Dan tatapanya masih fokus pada mataku.

"Joah..., " ia berkata pelan sambil tergagap.

.

.

.

TBC