Semua yang ada dalam hidupmu adalah ujian.
Semakin banyak ujian yang kau ambil, kau akan menjadi orang yang lebih baik.
Anak-anak mencoba menyembunyikannya, dan orang dewasa tak tahu tentang hal itu.
Tempat ini adalah…. Sekolah (School 2013)
:: ::
:: ::
2nd JANUS
Namikaze Naruto || Uchiha Sasuke || Sabaku Gaara || Haruno Sakura || and another
Romance || Angst || Friendship
T
Warning :
AU, OOC, Gender Switch, FemNaru!
:: ::
:: ::
You're not bad girl, You're not bad girl
The tears shed for me, put those tears away
She will be hurt, hurt because of me, so I need to hold it
(Boyfriend_Janus)
:: :: Janus :: ::
Hari ini dia pulang seperti biasanya. Jam Sembilan malan tepat, namun ada yang beda dari kebisaannya jika biasanya dia akan menghabiskan waktu empat jam full setelah sekolah dengan berbagai jadwal les kini mungkin dia akan beristirahat sebentar. Delapan jam dan ditambah empat jam yang berkutat dengan berbagai rumus limit, integral serta rumus lain sudah cukup membuatnya ingin muntah.
Rumah terlihat gelap, tak seperti biasanya. Meski pulang larut ibunya akan selalu duduk di sofa panjang yang berada didepan sambil menyesap kopi dengan tumpukan kertas yang sungguh tak ingin dia lihat berada di sana. Menunggunya dengan serentetan pertanyaan tentang nilai akademisnya disekolah. Meski terlihat aneh dia besyukur hari ini ibunya mungkin terlelap lebih cepat dari biasanya.
"Namikaze Naruto!"
Atau mungkin tidak. Dan kini setelah seluruh lampu dan disetiap sudut rumah mewah dengan luasnya tak pernah dia hitung menyala secara bersamaan. Seakan memperlihatkan padanya jika sang ibu menunggunya dengan secarik kertas hasil ujian beberapa hari yang lalu. Naruto mengusap pelan keningnya yang tertutup oleh poni pirangnya. Sungguh dia ingin menghindari ini.
"Jelaskan padaku kenapa bisa-bisanya kau membolos les hari ini?!"
Naruto menghela nafas pelan saat wanita berambut merah terang yang sering dia panggil ibu berdiri tepat dihadapannya. Bahkan blush yang dia kenakan hari ini belum terlepas. Naruto benar-benar memuji ibunya yang tidak mengganti pakaian kerjanya terlebih dahulu dan lebih memilih untuk menunggunya. "Hari ini aku sedang tak enak badan Kaa-san?"
"Dan kau pulang larut?" Naruto tahu tidak mungkin dia bisa meluluhkan ibunya disaat seperti ini. ibunya marah dan dia tahu apa konsekuensinya. Kushina memperlihatkan hasil nilai yang dia dapat dari Tsunade selaku kepala sekolah tempat Naruto. Tak sulit baginya untuk melihat semua hasil evaluasi setiap murid disekolahnya. "Seharusnya kau tak membuang-buang waktumu untuk hal-hal yang tidak berguna! Kau tak lihat nilaimu lebih rendah dari gadis Haruno itu?! apa yang kau lakukan akhir-akhir ini Naruto?!"
Mata birunya melihat sederet nama dari tigapuluh enam siswa dikelasnya dan dia berada diperingkat tiga. Hanya selisih dua angka dari Sakura yang berada diperingkat kedua. Naruto tak perlu tahu siapa peringkat pertama dia sudah hafal akan hal itu. Sasuke Uchiha, dan dia selalu naik turun dengan manusia Uchiha itu. jika tidak dia berarti Sasuke yang berada diperingkat pertama, dan kali ini nilainya merosot diperingkat ketiga di ujian Matematika, setelah ini dia akan menghabiskan liburan musim panasnya dengan sederet huruf x atau y.
Bagus, hari ini pikirannya sedang kalut dan ditambah harus mendengarkan ocehan ibunya sepanjang malam. "Okaa-san itu hanya selisih dua point dari Sakura…. Tak bisakah aku istirahat hari ini?"
"Dalam permainan bulu tangkis seseorang bisa kalah hanya karena selisih dua point bahkan seorang presiden bisa kalah jika selisih dua suara! Ku harap kau tak meremehkan hal ini Naruto! Ibu tak mau tahu kau harus mendapatkan nilai sempurna pada ujian kenaikan kelas nanti! Sekarang cepat mandi lalu belajar, setelah itu kau bisa istirahat!" perintah mutlak Kushina tak mungkin dia bantah lagi. Naruto mengangguk pelan lalu berjalan menuju kamarnya. Tak bisa menolak atau membantah karena mau bagaimanapun dia tetap tidak bisa dan hanya menahannya dalam diri. Entah kapan akan meledak.
:: :: Janus :: ::
Apa yang lebih menyakitkan dari sebuah pukulan? Diabaikan. Dia benci saat tak ada seorangpun melihat kearahnya, dia benci saat semua orang selalu menutup mata dan telinga saat dia menjerit ketakutan. Dan dia benci saat sendirian sebab kesepian akan selalu datang tanpa permisi. Dia takut dan ketakutan itu tanpa sadar membanya ketempat menyengat berbau obat saat lagi-lagi dia akan ditinggal pergi. tak apa dia sendiri asal jangan dia.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" mereka memang sering bertengkar dengan berbagai hal yang sebenarnya sepele namun melihat temannya terbaring dengan perban yang membalut pergelangan tangan kirinya membuatnya tak bisa menahan getaran suaranya.
Mata setajam elangnya bergulir kearah pintu saat mendengar seruan yang dia hafal. Iris kelamnya yang sejak tadi menatap sendu si pemilik surai merah muda itu kini berganti menatap Ino yang entah sejak kapan sudah berdiri disampingnya. Sebagai jawaban dia menggeleng, dia benar-benar tak tahu apa yang terjadi dia hanya ingat seseorang menelponnya lalu menjeritkan nama gadis ini.
"Bagaimana kau tidak tahu?! Kalian bahkan pergi bersama tadi?!" Ino mendesak. Tak mungkin pria disampingnya ini tak tahu apa-apa. Sepulang sekolah tadi dia melihat mereka pergi bersama dan tak mungkin tak terjadi apa-apa. "Sasuke!"
"Memangnya apa yang kutahu! Aku benar-benar tak tahu apa-apa! kami hanya pergi ke toko buku dan semuanya baik-baik saja!" Sasuke menggeram frustasi, memang semuanya baik-baik saja saat mereka pergi ke toko buku dan memang tak ada yang aneh. Mana dia tahu jika Sakura sedang depresi dan ingin bunuh diri saat itu.
Sasuke mengacak rambutnya yang mencuat keatas, dia ingat sekarang. Memang semuanya baik-baik saja saat mereka berada di toko buku dan setelah itu semuanya tidak baik-baik saja saat Sakura mengatakan tiga patah kata laknat saat dia ingin pergi dan menemui Naruto yang saat itu dia kira sedang kalut. Sasuke akui dia bukan pria baik tapi dia bukan pria brengsek yang mengkhianati pacarnya sendiri. Akhir-akhri ini dia peduli pada Sakura karena tuan Haruno yang memintanya pria paruh baya itu hanya mengatakan jika Sakura sakit. Dan demi Tuhan dia sama sekali tak ada niatan untuk melakukan berbagai hal bodoh atau mendaftar menjadi playboy sekolah.
"Sasuke tidak salah Ino…."
Keduanya sama-sama menoleh saat seorang wanita yang mereka kenal Ibu Sakura berdiri diambang pintu tersenyum lembut, sebuah senyuman yang mengisyaratkan mereka untuk tidak cemas. "Lebih baik kita keluar dan cari tempat lain untuk menceritakan hal ini... Bibi akan jelaskan semuanya"
:: :: Janus :: ::
Semua orang pernah melakukan kesalahan, bahkan dalam sebuah tulisan berpena sekaligus. Sejauh apapun mereka berhati-hati entah itu sebuah garis kecil atau penulisan kata setidaknya mereka pernah salah dan disitulah gunanya sebuah penghapus. Namun tak selamanya penghapus itu selalu berada disana. Sebuah penghapus akan semakin kecil dan habis saat kesalahan itu semakin banyak. Dan disinilah dia berada, mencari sebuah penghapus baru meski suatu saat nanti dia kembali membuat kesalahan.
"Jadi kau yakin dengan apa yang kau katakan?" pertanyaan skeptis keluar dari mulut Shion saat mata biru itu menatapnya seperti semula. Jika dia benar-benar orang jahat maka dengan senang hati dia akan tertawa keras sekarang, namun yang ada dihanya tersenyum kecut melihat bagaimana tatapan yang lama tak pernah dia lihat itu kembali. Angkuh, kasar, dan tak terkalahkan.
Naruto mengangkat dagunya. Seolah mengatakan ia tak takut apapun. Dan melipat kedua tangannya, dia tidak peduli dengan semua resiko jika dia melangkah kembali ke jalan yang sudah lama dia tinggalkan semenjak satu tahun yang lalu. Siapa peduli lagi pula ini adalah hidupnya. "Kau tahu aku. Aku bukan tipe orang yang suka menarik kata-kataku"
"Tapi semuanya tak seperti dulu Naru! Kita bukan lagi anak SMP! Kita tumbuh dewasa dengan cara kita masing-masing dan kau sendiri yang memutuskannya" Karin menginterupsi. Jika dia memiliki otak secerdas Einstein maka dia tidak perlu susah payah untuk mengerti pikiran gadis yang berdiri didepannya. Dia memang bukan gadis yang baik dimana selalu bersikap anggun seperti wanita kebanyakan dia bahkan tidak punya sopan-santun untuk bersikap baik pada orang. Dia tidak memiliki ucapan yang bagus layaknya gadis kebanyakan jadi dia tidak bisa menasehati orang lain. Tapi melihat gadis yang memiliki jalan hidupnya sendiri dan kembali kearah yang tak seharusnya dia tempuh membuatnya tak bisa mengatakan 'iya' secepat mungkin seperti dulu.
"Dan semua orang berhak memilih jalan masing-masing untuk hidup. Dan inilah jalan yang kupilih"
:: :: Janus :: ::
Seperti dalam sebuah kotak Pandora, sebuah kotak penuh misteri dan teka-teki yang ada didalamnya. Tak ada yang tahu kejutan apa yang berada dalam kotak persegi empat tersebut, sama dengan kehidupan, seseorang tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi saat mengambil sebuah keputusan ketika membuka kotak tersebut dan seseorang tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi saat harus memilih keputusan. Keduanya sama-sama beresiko yang sialnya tak ada yang tahu seperti apa resiko yang harus dihadapi.
Dan satu diantara banyaknya orang tersebut saat ini adalah Sasuke, pria dengan beribu hal tak terduga dalam hidupnya. Beribu pilihan dalam hidupnya, dan juga beribu pertanyaan dalam hidupnya. Sasuke menyandarkan kepalanya pada pagar pembatas beton yang ada diatap sekolah. Berharap masalahnya akan ikut ringan. Tapi yang ada adalah masalah yang tak pernah ingin dia dengar justru mengusik pikirannya yang menurut orang jenius. Sialnya kejeniusannya tak memberikan solusi sama sekali justru menariknya dalam lubang pilihan. Lubang pilihan yang tak ingin dia pilih.
"Sasuke?" suara deritan pintu yang dibuka kemudian disusul seorang gadis yang menyembulkan dari balik pintu menyadarkannya dari lamunan panjang tak menentu. Ditegakkan tubuh miliknya yang menjulang tinggi. Tatapannya menyendu saat melihat sepasang safir yang mendekat kearahnya. Naruto tak tahu kenapa dan ada apa dengan cara Sasuke menatapnya hingga membuatnya mengernyit bingung tak paham.
"Kenapa kau memanggilku ke-" Naruto harus menelan kembali kata-katanya saat Sasuke menariknya mendekat hingga kepalanya membentur dada bidang milik Sasuke, saat itu juga Naru bisa merasakan sebuah tangan yang melingkupi tubuhnya membuatnya terkukung dalam sebuah pelukan erat milik Sasuke. Dia tak tahu dan ingin mendapatkan penjelasan, saat tangannya mencoba mendorong Sasuke menjauh yang ada dia semakin mendekat. Membuatnya bisa merasakan harum mint yang mengeluar dari Sasuke. "Kenapa?"
Sasuke tidak menjawab menyamankan dirinya. Menyembunyikan kepalanya semakin dalam ke lekukan leher milik Naruto. Menghirup dalam-dalam aroma yang begitu khas di hidungnya. Seperti sebuah morfin membuatnya nyaman dan ingin terus serta terus. "Sebentar saja…. ku mohon"
Naruto tertegun, dua baris kata dari ucapan Sasuke yang sangat jarang diucapkan membuatnya mengerti jika pria tersebut tidak dalam keadaan baik-baik saja. Tangan Naruto terangkat secara perlahan, menepuk pelan punggung tegap milik Sasuke seakan memberikan sebuah semangat untu tidak menyerah. Memberitahunya bahwa ada tempat untuk pria itu menyandarkan kepalanya. Ada bahu yang bisa menopang masalahnya, dan Naruto berharap dia bisa melakukan itu.
"Ada yang ingin ku katakan padamu" cukup lama terdiam akhirnya Sasuke buka suara merubah posisinya berada dipuncak kepala mirik Naruto menghirup dalam dalam aroma rambut yang menjadi favoritnya. Mencoba menghilangkan rasa resah yang hinggap hingga saat ini. "Naru ayo-"
"Ayo kita akhiri ini Sasuke" Sasuke menegang tubuhnya mendadak kaku. Dia tak pernah membayangkan jika Naru yang akan mengucapkannya. Memang dia akan mengucapkan kalimat sialan itu tapi seakan tercekat dalam tenggorokannya dia tak bisa mengatakan apapun. Membiarkan Naruto lepas dari pelukannya.
Suaranya tertahan ditenggorokkan, ada masalah yang ingin dia luruskan namun melihat bagaimana Naruto tersenyum manis seperti mengatakan bahwa tidak apa-apa dan dia baik-baik saja membuatnya ingin melompat dari atas gedung ini sekarang. Yang bisa Sasuke lakukan adalah menatap Naru yang sudah berjalan menjauh. Ingin rasanya dia mengejar Naruto namun yang ada dia malah membiarkan gadis yang menempati tempat terdalam dihatinya tersebut semakin melangkah menjauh.
"Ne, Sasuke… jangan membuat kesalahan lagi ya? Jaa ne" dan ucapan terakhir Naru sebelum meraih pintu dan menghilang di baliknya membuat Sasuke benar-benar ingin menjatuhkan diri dari atap sekolah. Entah sejak akapan dia memiliki pemikiran bodoh hanya karena seorang wanita. Dan Naruto benar-benar mempengaruhinya hingga dia tak mengenal siapa dirinya lagi.
"Gomen"
:: :: Janus :: ::
Kata siapa dia baik-baik saja? tak ada yang baik-baik saja setelah melepaskan sesuatu yang berarti. Membuangnya terlebih dahulu untuk menutupi kepedihan dalam dirinya. Langkahnya benar-benar teratur dan tenang bibirnya menyunggingkan senyum tipis saat ada yang menyapanya. Dia seorang aktris yang baik, bahkan Naruto masih tak menyangka akan dirinya yang sekarang. Benar-benar menyedihkan.
Dan Naru sadar dia memiliki ego serta harga diri yang tinggi. Dia tak ingin menangis meraung-raung dan mencari perhatian disekitarnya agar dipedulikan. Ada perasaan yang harus dia jaga. Sebuah komitmen yang sudah dia buat dari jauh-jauh hari sebelum mengambil keputusan. Dia sudah menyiapkan segala macam resiko yang akan diterima. Dan Naruto yakin dia sudah siap, siap dengan segala rasa sakit yang siap menyerang.
Tapi, kenapa rasanya sangat sesak. Sakit, dan menghujam. Tidak. Dia tak akan menumpahkan semuanya disini. Dan dia yakin semuanya akan baik-baik saja, dia akan kembali seperti dirinya dulu. Dimana semuanya terasa bebas, tak ada pilihan yang membuatnya terjerat dalam permainan takdir.
Langkahnya terhenti tepat dibelakang sekolah. Dan dia sendiri tak yakin bagaimana caranya bisa sampai kesini. Naruto bisa melihat Shion yang tengah berdiri didepannya berjarak sekitar lima langkah darinya. Tersenyum dan melambaikan tangan kearahnya. "Hai…"
Naruto berjalan kemudian berlari secepat mungkin dan menubruk Shion, memeluk Shion. Memeluknya seperti meminta perlindungan gadis pirang tersebut, sesuatu yang sudah sangat jarang lagi dia lakukan semenjak SMA. Dan kini dia melakukannya kembali. Melepaskan pertahannya pada Shion. Menangis dengan bahu yang bergetar hebat.
Shion terdiam dan tak lama tersenyuk kecil. Naruto telah kembali dan menjadikannya sandaran kembali juga. Tangannya menepuk pelan bahu Naruto membuatnya kembali melakukan hal yang sering mereka lakukan dulu. Dan itu membuatnya sedikit tenang. Tak ada yang lebih melegakan saat teman-temannya kembali.
:: :: Janus :: ::
There's an empty world deep in my heart, save me
I wanna reset , I wanna reset , I wanna reset
Lonely eyes trapped in darkness
Is there anyone to hold my hand?
I wanna reset , I wanna reset , I wanna reset
(Tiger JK (feat. Jinshil of Mad Soul Child) – Reset)
:: :: Janus :: ::
TO BE CONTINUED
Sebelumnya arigatou buat yang udah review, follow, dan fav fic ini. arigatou gozaimas..
Karena ini pengalaman pertamaku di fandom Naruto agak bingung buat kasih alur cerita jadi maaf kalo masih terasa aneh. Buat yang udah review tenang aja Naru gak bakalan menderita kok yang ada setelah chap ini dia bakalan jadi strong *bocoran*
Sasuke ada fair ama sakura? Enggak ini cuman tuntutan peran, kok. Udah di jelasin disini dan apa yang terjadi sama Sakura bakal aku jelasin di next chapnya.
Tenang ini nggak bakalan sama persis yang ada di School 2015 aku cuman pinjem karakter Go Eun Byul doang, jadi udah bisa nebak kan. Dan buat scene yang sama itu cuman aku ambil beberapa doang di chap yang lain.
See you next chap
Jaa ne
Crysantimum Bluesky
