Sejujurnya… Aku tak suka pergi ke sekolah.

Aku tak tahu kenapa aku pergi ke sekolah… dan ketika aku pergi ke sekolah, aku selalu di permalukan. Dan juga terjadi banyak hal yang menggangguku.

Aku bukan murid yang baik…. Dan aku tidak punya impian. Dan aku benci dipukuli. Tapi anehnya.. aku selalu pergi ke sekolah dengan otomatis saat membuka mata dipagi hari.

Jadi jika kau tanya kenapa aku datang ke sekolah… aku hanya punya satu jawaban.

'Mau bagaimana lagi' (School 2013)

:: ::

:: ::

3rd JANUS

Namikaze Naruto || Uchiha Sasuke || Sabaku Gaara || Haruno Sakura || and another

Romance || Angst || Friendship

T

Warning :

AU, OOC, Gender Switch, FemNaru!

:: ::

:: ::

You're not bad girl, You're not bad girl

The tears shed for me, put those tears away

She will be hurt, hurt because of me, so I need to hold it

(Boyfriend_Janus)

:: :: Janus :: ::

Satu hari menjelang ujian kenaikan kelas. Harusnya dia sudah melalui gerbang tinggi dengan ukiran nama sekolahnya dengan huruf kanji sebesar kepala manusia. Sudah pasti dia tidak tersesat atau lupa sekolahnya. Hanya saja biasanya ada seseorang yang selalu menunggunya didepan gerbang sekolah untuk masuk bersama. Sebuah hal biasa yang lambat laun menjadi kebiasaan untuknya.

Dia sama sekali tidak ada niat untuk masuk kelas hari ini. semangatnya untuk sekolah seolah olah menguap bersamaan angin. Bukan berarti setiap hari dia suka sekolah tapi kali ini rasanya beda. Malas yang menyerangnya terasa lebih banyak dan lebih berat dari hari biasanya. Jika besok tidak ujian dan ada pelajaran yang harus dia ikuti untuk mendapatkan nilai sempurna sesuai keinginan ibunya maka dengan senang hati dia akan berbalik dan pergi ke kedai ramen langganannya.

"Hei tak masuk?" sebuah beban berat yang tiba-tiba bersarang dipundaknya membuat Naruto mau tak mau menoleh ke sumber suara. Bisa ditebak jika itu adalah Karin dengan cengirannya lalu disusul Shion berada disisi kanannya. "Hei ku dengar kau putus dengan Sasuke? Benarkah? Siapa yang memutuskan duluan kau? Ah tidak mungkin kau kan sudah cinta mati padanya"

Naruto memutar iris birunya. Moodnya terasa kembali jatuh kedasar lautan saat tiba-tiba Karin –yang entah dengan sengaja atau tidak- mengangkat topic yang ingin dia lenyapkan dari otaknya. Naruto melepas tangan Karin dari pundaknya kasar disertai dengusan kasar pula. "Bisa tidak kau membahas topic lain? something like how to use your brain?"

"Kenapa? Kau malu jika ketahuan dicampakkan?" Karin mencibir kesal saat menerima jawaban sarkam dari temannya itu.

Naruto tersenyum kecil lalu berganti merangkul sebelah tangannya pada Karin. Bertingkah seakan-akan Karin adalah anak kecil yang perlu pengawasan. "Kau tahu dicampakkan bukan style ku!"

Shion hanya tertawa geli sebelum mengalungkan tangannya pada lengan Naruto menyeret gadis itu masuk ke dalam sekolah. Bukannya dia tak pernah bolos malah bisa dikatakan jika dia lebih sering bolos dari pada masuk. Dan untuk anak serajin Naruto sangat tidak memungkinkan untuk membolos dan dia masih punya nyawa untuk dilindungi dari ibu Naruto saat ketahuan mengajak anak tercintanya membolos. "Eiy.. dasar anak-anak bodoh! Kalian berniat untuk membolos hah?!"

Mungkin dengan seperti ini dia lupa akan hal apa yang membuatnya tak ingin masuk ke sekolah. Berjalan bersama saling berteriak memaki dan tertawa bersama. Rasanya sudah sangat lama dia tidak melakukannya. Bahkan mungkin Naruto sudah lupa kapan terakhir kali mereka melakukannya. Tak peduli dengan pandangan, tatapan, dan penilaian orang lain. siapa yang peduli jika orang lain menjelekkannya disaat ada orang lain yang tertawa bersamanya.

"Hei ku dengar Sasuke-kun dan Naruto sudah putus?!"

"Benarkah?! Hei kau bisa gawat jika ini bohong?!"

"Aku berani bersumpah! Bahkan ku dengar jika sekarang Sasuke-kun bersama Sakura-chan"

"Ah benar! Aku melihat mereka diparkiran tadi!"

"Hah… jika dipikir-pikir mungkin Sasuke-kun lebih cocok dengan Sakura-chan… dia manis dan baik… dia juga bisa menjaga sopan santun dengan baik.. daripada Naruto"

"Benar juga… ku kira Sakura-chan juga lebih cantik dari pada Naruto.. Oh! Satu lagi bukankah dulu gosipnya Naruto si penindas nomor satu di SMP nya?!"

"Ah! Yang itu?! iya! Ku dengar dia dulu juga berteman dengan Shion dan Karin.. si duo trouble maker itu!"

"Jadi intinya dia dicampakkan Sasuke-kun dan lebih memilih Sakura-chan"

"Mungkin.. bukankah dia juga terlihat sedikit kasar? Kenapa tidak dari dulu saja"

Mungkin ini alasannya malas masuk sekolah hari ini. dia bahkan belum sampai kelas dan telinganya harus mendengarkan serentetan dialog dari gadis-gadis yang tengah berkumpul didepan kelas mereka. Kelasnya bahkan tinggal beberapa meter dan dia harus berhenti bertahan untuk tidak berbalik pergi. dia bukan pengecut jadi tak akan mungkin dia menghindar.

"Aish! Apa mereka tak ada acara lain selain membicarakan orang lain?!" dengan cepat Naruto menahan lengan Karin. Menggeleng pelan, mengisyaratkan agar gadis itu tidak menanggapi atau paling parah justru terlibat di dalamnya. Lagi pula tak ada untungnya juga. Karin tak suka diremehkan. Dia juga terlebih tidak suka lagi jika temannya diremehkan dan sekarang dengan seenaknya Naruto menyuruhnya untuk berdiam disaat ingin tangannya sudah tak bisa diam ingin memenggal kepala gadis-gadis penggosip itu. "Tapi Naru-"

"Tak ada gunanya menanggapi mereka. Buang-buang tenaga. Lebih baik kalian segera ke kelas kalian. Kelasku sudah dekat. Jaa ne" tanpa memberi kesempatan Karin menyela Naruto segera berjalan menuju kelasnya yang memang berbeda, meninggalkan Shion dan Karin yang masih berdiri ditempat mereka.

Shion tersenyum kecil sebelum meraih tangan Karin dan menyeret gadis itu menuju kelas mereka. "Berhenti mengkhawatirkannya! Kau lupa jika dulu dia lebih kuat darimu! Dasar bodoh!"

"Berhenti mengataiku bodoh!"

:: :: Janus :: ::

Terkadang sebuah kebetulan bisa menjadi takdir. Dan Naruto benar-benar menyesali kebetulannya kali ini. seharunya dia berfikir dua kali untuk mengambil keputusan atau setidaknya jika dia tidak ingin membolos seharusnya dia datangan lima menit tidak kalau perlu satu menit sebelum bel jika begitu dia tidak perlu menatap hal yang sangat tidak ingin dilihatnya saat ini.

Disana. Di bangku deretan paling depan. Gadis berambut merah muda mencolok yang tengah tertawa padahal yang dia ketahui kemarin gadis itu tidak masuk karena sakit dan sekarang bersama orang yang sangat dikenalnya tengah duduk bersama dengan tangan yang saling bertautan. Naruto hanya berdoa dalam hati agar Tuhan memnambah stok kesabaran yang dia miliki. Dia seorang gadis dan sangat mustahil jika tidak merasakan sakit sama sekali. Dia bukan Hercules!

Yang Naruto bisa lakukan sekarang adalah berjalan seperti biasanya seolah semua hal yang ada dihidupnya hanyalah sebuah angin lalu. Tak terlalu penting dan akan menghilang dengan sendirinya. Namun sayangnya angin juga dibutuhkan oleh manusia. Naruto berjalan menuju bangkunya dan saat itu juga ingin rasanya dia tertawa sekeras mungkin. Bahkan teman sebangkunyapun telah berganti. Jadi adakah yang bisa menjelaskan kepadanya kebutulan yang seperti apa?

Naruto segera menggeser kursinya dan menghempaskan tubuhnya kasar kearah kursi. Siapa peduli semuanya terganggu bahkan seisi kelaspun terlalu sibuk menanyakan bagaimana kedua 'pasangan' serasi itu bisa bersatu. Tak ingin seperti orang bodoh Naruto mengambil buku yang berisi penuh soal matematika yang belum selesai dia kerjakan semalam. Mungkin dengan ini konsentrasinya bisa teralihkan.

Dia hanya perlu menyelesaikan tiga soal dari lima puluh soal yang ada. Dan entah kenapa suara kekehan, pekikan, tawa, justru benar-benar menganggu konsentrasinya kali ini? bukankah dulu juga dia sering seperti itu. dan dia benar-benar benci saat saat dimana tak ada satupun orang yang menganggap keberadaaannya.

"Oh! Bukankah lebih seru jika mengajak Naru-chan?"

"Tapi…. Apakah dia mau? Maksudku kalian tahu sendiri kan? Tak mungkin dia mau.."

"Hei kau seperti tak tahu Naru-chan saja! mana mungkin dia marah karena masalah seperti ini! benarkan Ino?"

Naruto tahu ini tak akan baik saat namanya disebut-sebut. Buru-buru Naruto mengobrak-abrik isi ranselnya mengambil headset yang selalu dia bawa kemana-mana. Menghubungkannya dengan ponsel miliknya memilih lagu secara asal dan menaikkan volume tinggi-tinggi. Dia sama sekali tak ingin terlibat dengan apapun itu. yang Naruto bisa lakukan sekarang adalah memasang wajah seolah-olah dia tak mendengar apapun. Bertingkah seperti orang tuli saat mereka menjeritkan namanya.

"Ah.. dia sedang belajar" Tenten menghela kecewa saat teriakannya maupun Ino sama sekali tak ditanggapi oleh Naruto. Sedang gadis itu lebih memilih dunianya sendiri. Bukannya Ino tak menyadari itu, dia bahkan sangat tahu. Naruto bukan tipe teman yang akan mengabaikan orang lain saat sedang sibuk sekalipun. Ino tersenyum kearah Sakura saat gadis itu menunduk. Sedih dan juga menyesal.

"Hei seperti kalian tak tahu dia saja! lihat dia sedang berkencan dengan buku matematikanya! Kalian tahu sendirikan jika dia tak akan membiarkan peringkatnya turun?! Lebih baik kita bicarakan ini nanti padanya" Ino mencoba untuk memberi semangat pada Sakura. Ino sungguh tak tahu harus bagaimana mana. Berada dipihak siapa, Ino tak ingin melukai temannya dan Ino juga tak ingin menyakiti Sakura. Jika bisa ingin rasanya Ino berada dipihak netral.

Bohong jika dia tidak tahu. Sungguh Sasuke sangat tahu malah. Saat Naruto memasuki kelas, saat gadis itu duduk dibangkunya. Berusaha konsentrasi pada soal-soal miliknya. Dia bahkan tak pernah melepaskan pengamatannya meski atensinya seratus persen hanya pada Sakura. Karena bagaimanapun dia tak akan pernah bisa mengabaikan si pirang sampai kapanpun. Bahkan dengan senang hati dia akan sukarela dan menerimanya dengan senang hati jika Naruto membencinya, mengatainya. Tapi dia tak akan pernah bisa diam jika Naruto hanya diam. Jika diam maka Sasuke tak akan pernah tahu apa yang akan Naruto rasakan.

:: :: Janus :: ::

Ino harus menghela nafasnya lebih berat kali ini. Naruto terus menghindarinya. Tak hanya dirinya. Tapi semua bahkan semua penghuni kelas. Membuat rasa bersalah yang dia tanggung bertambah berat. Saat pergantian pelajaran Naruto lebih memilih memasang headset di kedua telinganya menegaskan dia tak ingin di ganggu. Dan sekarang saat istirahat Naruto harus menghilang entah kemana tepat ketika bel tanda istirahat berbunyi. Ino yakin itu pasti bukan hanya kebetulan semata.

"Hei! Ini akan jadi berita hebat! Kalian tahu Naruto?! Ku dengar dulu dia penindas nomor satu saat SMP!"

Ino menoleh kearah belakang dimana sekumpulan siswa dikelasnya entah kenapa sudah membentuk satu kerumunan besar. Bukan kebiasaan menggosip yang membuat Ino tertarik tapi saat bagaimana nama temannya disebut-sebut disana.

"Kau yakin?!"

"Aku berani bersumpah! Temanku sendiri yang mengatakannya saat mengunjungi Tokyo kemarin. Dia dulu teman sekelas Naruto! Dan kau tahu? Dia, Shion, dan Karin mereka bertiga itu dulunya berteman! Ku dengar lagi mereka bertiga juga yang sering menindas anak-anak lainnya!"

"Kau bercanda! Tidak mungkin Naru-chan seperti itu! meski terkadang dia kasar tapi dia anak yang baik! Buktinya dia selalu membantuku!"

"Tidak! Mana mungkin temanku bohong! Mungkin itu hanya kedoknya saja! bahkan yang lebih parah lagi temanku bilang ada siswi disana yang pindah sekolah karena tidak tahan ditindas oleh mereka!"

"Kalau Shion dan Karin mungkin aku percaya? Tapi jika itu Naru-chan… entah kenapa aku merasa jika itu tidak benar"

"Awalnya begitu tapi tadi pagi aku melihat dia bersama Shion dan Karin. Mereka bahkan terlihat sangat dekat. Bukankah itu aneh?"

"Jadi maksudmu Naru-chan yang sebenarnya itu jahat? Wah…. Jadi kemungkinan besar alasan Sasuke memutuskan Naruto dan beralih ke Sakura karena ini? sugoiii!"

Ino hanya bisa berdiri ditempatnya, mendengarkan argument argument dari setiap siswa. Kepala kecilnya rasanya tak sanggup menerima setiap informasi yang ada. Ada hal yang sangat dia yakini. Naruto bukankah gadis yang jahat, dan dia sangat tahu itu. dia akui itu jika terkadang Naruto sangat tertutup tentang masa lalunya entah saat dia SMP atau saat dia kecil. terkadang begitu dekat namun juga sangat jauh dan begitu sulit untuk dijangkau.

Sasuke memang selalu diam. Namun bukan berarti diamnya tak ada artinya. Meski dia berada didekat Sakura, Sasuke tak tahu apa artinya ini dimana bayangan gadis pirang dengan mata bulatnya yang selalu bersinar cerah selalu berputar dikepalanya. Dan kini fakta yang tak pernah dia ketahui atau mungkin juga rumor yang tak pernah dia pikirkan berkelibat disekelilingnya. Dia ingin menyangkal tapi ada setitik tempat dihatinya membetulkan. Satu tahun menjalin hubungan tak berarti membuatnya begitu mengenal sosok itu.

"wah…. Jadi selamana ini kita berteman dengan gadis rubah? Hah aku benar-benar.."

"Hei diam!"

Hotaru buru-buru menepuk teman-temannya untuk diam saat matanya tak sengaja menatap Naruto yang dia tak tahu sejak kapan sudah berdiri didepan pintu. Naruto tersenyum kecil sebelum berbalik pergi meski jam pelajaran akan dimulai lima menit lagi. Malu? Dia bahkan tak tahu kenapa tak ingin masuk kelas saat ini. dia sudah berdiri dan mendengar semua yang mereka bicarakan. Bukankah bagus, teman-teman yang selalu dia bantu justru membicarakannya secara diam-diam. Sebuah kejutan untuknya. Kejutan yang sudah dia ketahui sebelumnya.

"Naruto!" Ino yang pertama kali sadar dari semua orang. Dengan cepat dia menyusul Naruto, berteriak memanggil namanya agar gadis itu berhenti. Sedikit rasa lega saat Naruto berhenti dan berbalik kearahnya yang masih berada didepan pintu kelas. "Naru-"

"Biarkan aku sendiri. Kali ini saja biarkan aku sendiri. Aku ingin sendiri untuk sekarang. Banyak hal yang ingin kupikirkan" Ino hanya diam saja saat Naruto tersenyum tipis kearahnya. Senyuman yang bahkan tak pernah dia lihat sebelumnya. Ino juga diam saat Naruto terang-terangan menjauh darinya. Dan mungkin suatu saat nanti Ino juga akan mengerti ketika mereka tak mungkin akan sedekat dulu.

:: :: Janus :: ::

Jam pulang masih sangat jauh, sekita lima jam lagi. Naruto sungguh tak tahu harus kemana lagi, ini pertama kali baginya untuk membolos. Naruto juga tak tahu ini sudah memasuki halte keberapa saat bis lagi-lagi berhenti. Selama setengah jam setelah dia pergi dari sekolah memasuki bus Naruto tahu dia tidak punya tempat tujuan lagi. Jadi yang hanya bisa dia lakukan adalah duduk diam didalam bus, mengikuti kemanapun bus yang dia tumpangi pergi.

Tokyo terlihat sedikit lengah dari biasanya. Mungkin karena ini jam kerja dan jam sekolah maka jalanan terlihat lenggang. Naruto sama sekali tidak tertarik dengan hal-hal yang ada diluar sana namun entah kenapa dia hanya memandang luar lewat jendela bus selama setengah jam ini. mungkin karena pikirannya sudah melenggang jauh pergi.

Matanya menyipit pelan saat tak sengaja safirnya bertemu pandang dengan sepasang mata jade yang entah sejak kapan menarik perhatiannya. Bukan karena pria berambut merah itu tampan, bukan juga tato unik yang ada dikeningnya. Hanya saja jas berwarna abu-abu dan lambang sekolah miliknya yang tersemat disana cukup memberitahunya bahwa pria tersebut bersekolah ditempat yang sama dengannya. Luka lebam diwajah putih tersebut cukup menarik perhatiannya. Sedikit penasaran, tapi Naruto tak peduli dia kembali menekuni dunianya lagi. Dia bukan orang baik yang harus mengkhawatirkan orang yang tak dikenalnya.

Gaara melompat masuk kedalam bisa saat pintu otomatis terbuka. Mendecih pelan saat luka diujung bibirnya terasa perih kembali. Pelipisnya juga sedikit berdenyut sakit, dan dia tak ambil pusing. Jika bukan karena berandalan-berandalan kecil tadi mungkin dia sudah tertidur nyaman dibangkunya. Mata jadenya menyisiri bangku-bangku kosong disetiap bis hanya sedikit yang terisi. Gaara menyeringai kecil saat mendapati gadis pirang yang berseragam sama tengah duduk didekat jendela dengan sepasang headset ditelinganya. "Bolos heh?"

Gaara tahu masih banyak bangku kosong yang bisa dia duduki. Hanya ada lima orang didalam bis termasuk dirinya dan supir bus. Tapi langkahnya justru menuju sepasang safir yang tengah menatap jalanan diluar sana. Menjatuhkan tubuhnya secara nyaman disamping gadis tersebut tanpa peduli apa dia terganggu atau tidak. Dan Naruto hanya mendengus pelan, tak perlu ditanya siapa dia sudah cukup tahu siapa yang masuk, siapa lagi kalau bukan pria tadi. Naruto benar-benar ingin sendiri dan dia dengan masa bodohnya duduk disana tanpa permisi. Naruto sudah cukup kesal hari ini. dilepasnya headset yang ada kedua telinganya. Menyimpan dikantong jasnya. Menoleh kearah pria yang entah sudah sejak kapan jatuh tertidur disana. "Bisakah kau mencari bangku lain? Aku sedang ingin sendiri"

"Bisakah kau diam? Aku ingin tidur" jawaban tanpa peduli Gaara membuat Naruto ingin sekali memukul kepala pria tersebut. Sudah cukup kesabarannya disekolah tadi, dan keinganannya benar-benar terealisasikan saat tangannya mendarat dengan kasar ke kepala Gaara hingga membuat pria tersebut melonjak dan melotot kearahnya. "Hei! Sakit bodoh!"

"Bukankah sudah kubilang untuk pergi?" dan Naruto meniru gaya bicara Gaara tadi. Bersikap acuh tak acuh dengan kedua tangan yang bersiap untuk kembali memasang headset ditelinganya. Gerakannya terhenti saat Gaara menahan salah satu lengannya tersenyum aneh.

Meski mereka satu sekolah Gaara tak pernah mengenal gadis ini. mungkin masuk kategori wajar karena dia hanya masuk tiga kali dalam seminggu dan sisanya dia gunakan untuk membolos. Jika guru beruntung mungkin dia masuk lima kali dalam seminggu. Sebenarnya Gaara akui gadis ini termasuk dalam kategori manis jika saja tidak sekasar tadi. Rambutnya pirang dan kulit tannya sangat berbeda dengan orang Jepang kebanyakan. Matanya yang berwarna biru safir sangat kontras dengan kulitnya. Serta tiga garis horizontal tanda lahir dikedua pipinya entah kenapa justru menambah nilai manis dalam diri gadis tersebut. Dari 1 sampai 10 Gaara memberikan nila 9,5 pada gadis ini. nilai sempurna hanya untuk ibunya. "Kau itu manis tapi kasar sekali"

"Baka!" Naruto kembali menyembur Gaara denga memukul telak pelipis Gaara yang masih terlihat membiru kontan saja itu membuat Gaara meringis kesakitan. Dan sungguh Gaara berani bersumpah yang tadi itu cukup sakit. Lukanya belum mongering dan dihadiahi sebuah pukulan super milik Naruto, jadi sangat tidak mungkin jika dia tidak meringis kesakitan.

"Hei! Kau memukul lukaku!"

"Itu salahmu! Kau pikir aku mau mengobatimu hah?!"

:: :: Janus :: ::

Kini Naruto tahu apa yang dimaksud dengan menjilat ludah sendiri. Naruto tak pernah mengerti sebenarnya apa yang ada didalam otaknya. Lima belas menit yang lalu dia sedang marah-marah pada pemuda tak dikenalnya bahkan memukul kepalanya dan sekarang dia justru berada ditaman kotak dengan sekotak obat-obatan yang ada dipangkuannya. Membersihkan luka bahkan mengobati pria tersebut.

Ingin rasanya Gaara tertawa puas sekarang, setelah gadis itu memakinya yang ada sekarang justru mengobati luka-lukanya. Gadis aneh, jika dia gadis normal harusnya dia meninggalkannya dan menelpon pihak sekolah yang ada malah menemaninya hingga sore menjelang seperti ini. Gaara tak pernah memiliki teman jadi dia tak tahu seperti apa rasanya diperhatikan itu, tapi sekarang dia paham arti nyaman yang sebenarnya.

"Aku tak tahu apa alasanmu berkelahi, tapi jika membolos hanya untuk berkelahi lebih baik kau tak usah sekolah sekalian!" Naruto menutup luka Gaara dengan kapas dan plester luka yang dia beli tadi ditambah dengan ucapan saran menyentuh hati miliknya. Seharusnya dia bisa bersantai hari ini tanpa mengurusi pria tersebut.

"Lalu aku sepertimu? Membolos hanya untuk berkeliling kota? Seperti itu?" Gaara tertawa geli sebelum menyangga tubuhnya dengan kedua tangan sambil menatap langit. Salah satu kegiatan rutin miliknya selain tidur.

Naruto mendelik kesal sebelum melakukan apa yang Gaara lakukan memandang langit diatasnya. "Behenti menjawab pertanyaan dengan pertanyaan! Kebiasaan!"

Setelah itu hanya diam. Naruto memang tidak menyukai sepi tapi diam seperti ini setidaknya membuatnya bisa menghirup udara bebas sebanyak-banyaknya sebelum menekuni hal-hal yang membuatnya pusing hingga ingin muntah. Tak apa dia tak kenal Gaara asal dia tak jika mereka satu sekolah tak perlu mengkhawatirkan itu.

Ini pertama kali bagi Gaara menghabiskan waktu dengan orang lain. dia terbiasa sendiri dan jika seperti ini dia tak tahu harus memulainya dari mana. Namun satu hal yang diyakini Gaara sekarang. Kini dia tidak sendirian, ada seseorang disampingnya. Dan itu sudah lebih dari cukup.

"Disaat seperti ini aku berfikir jika hanya satu yang kubutuhkan. Tak perlu teman banyak jika hanya menyakiti. Hanya satu yang benar-benar peduli. Itu yang kubutuhkan"

:: :: Janus :: ::

Terkadang tak selamanya pilihan harus disesali. Dan Naruto tak menyesali menghabiskan sepanjang waktu hingga menjelang malam bersama Gaara –meski dia belum tahu namanya- satu keuntungan Naruto, mereka akan bertemu lagi dan itu entah kapan. Dia bisa yakin karena mereka satu sekolah. Tak sulit mencari Gaara, satu-satunya murid yang berani mentato wajahnya hanya dia.

Naruto lupa jika tasnya masih disekolah saat dia meninggalkan sekolah tadi pagi. Sekarang sekolah benar-benar sepi. Tentu saja ini sudah pukul tujuh malam, hanya kelas-kelas yang memiliki jam tambahan malam yang masih bertahan. Naruto segera mengambil tasnya dan pulang. Dia tak ingin kena marah ibunya lagi mengingat besok sudah ujian dan dia membolos hari ini. tak mungkin ibunya tak tahu, dia selalu tahu absen Naruto entah dari siapa.

Sepertinya Naruto harus mengubur angan-angannya untuk pulang cepat saat melihat Ino berdiri dipintu kelas ketika dia mau keluar. Naruto hanya diam menatap gadis yang tengah menatapnya. Dia tak ingin berurusan dengan mereka dan kini satu diantara mereka berdiri tepat dihadapannya. Tak ada alasan untuknya menghindar hingga ia mendengar ucapan Ino. "Ada yang ingin ku katakan… bisa kita bicara?"

:: :: Janus :: ::

There's an empty world deep in my heart, save me
I wanna reset , I wanna reset , I wanna reset
Lonely eyes trapped in darkness
Is there anyone to hold my hand?
I wanna reset , I wanna reset , I wanna reset

(Tiger JK (feat. Jinshil of Mad Soul Child) – Reset)

:: :: Janus :: ::

TO BE CONTINUED

Sebelumnya aku mau ngucapin banyak-banyak makasih buat para readers yang udah follows , favs, dan reviews di FF ini, nggak bakalan bosen bilang makasih.

Maaf kalo masih ada typo berserakan, entah paling susah buat ngilangin typonya.. dan buat kalian yang tanya apa aku punya jadwal update, nggak. Aku nggak punya jadwal update, soalnya aku nulis di dua blog jadi sulit buat ngatur jadwal update. Pokoknya update sesuai dengan hasil ajah.

Buat yang minta dipanjangin nih udah mulai panjang kok ceritanya,, aku bikin pendek kemaren juga karena masih awal chap aja.. ntar kalo udah bener-bener konflik pasti panjang kok.

Karena disini Gaara udah mulai muncul jadi konflik SakuNaru bakal muncul di part selanjutnya. Aku buat Gaara jadi agak OOC jadi cowok-cowok Bengal susah diatur gitu pokoknya. Tipe bad boy banget lah,

Oke kayaknya sekian dulu cuap-cuapnya.. RnR please..

See you next chap

Jaa ne

Crysantimum Bluesky