Apa hal yang paling sulit dikatakan padahal sangat mudah diucapkan? Dan Sasuke punya jawabannya. Hanya satu yaitu maaf. Hanya karena kata itu juga dia harus kelimpungan dengan ponsel dalam genggamannya. Ini gila, sepanjang dia hidup ini pertama kalinya dirinya merasa frustasi berkepanjangan. Dia Sasuke Uchiha dengan berbagai macam kelebihan dalam hidupnya memiliki tingkat ego dan harga diri tinggi membuatnya ingin terjun bebas dari balkon kamarnya karena tidak bisa mengungkapkan kata 'maaf'

Dia jenius dan Sasuke tahu itu. bisa saja dia mengirim pesan dengan empat huruf tersebut, atau mungkin juga menelpon'nya' dan mengatakan maaf secara cepat. Tapi Sasuke tahu masalahnya tidak semudah itu. kesalahannya tak semudah biasanya, dan kini seorang Sasuke harus terjebak dalam lingkaran penyesalan tiada ujung. Bagaimana bisa dia tidak menyesal jika pada dasarnya dia melihat sendiri bagaimana gadis yang mengatakan dia baik-baik saja justru menangis dipelukan orang lain yang tak pernah Sasuke duga.

Iya, dia melihatnya. Sasuke melihat bagaimana Naruto berlari dan menangis di pelukan Shion siang itu. Sasuke mengikuti saat dia sadar dari keterpakuannya. Membuatnya kembali merasa bersalah, tak seharusnya mata cerah tersebut menangis karena dirinya, tak seharusnya dia bersedih untuknya. Seharusnya dia baik-baik saja, seharusnya dia begitu. Karena jika dia menangis keras seperti kemarin membuat Sasuke ingin rasanya menenggelamkan dirinya ke dasar lautan. Jika bisa dia tak ingin terjebak dalam pusara takdir konyol seperti ini. kenapa harus dia? kenapa dia harus tahu masalah Sakura? Kenapa bukan orang lain?

"Bibi tidak tahu harus memulai dari mana. Tapi dulu saat masih SMP Sakura putus sekolah selama satu tahun dan melakukan akselerasi hingga bisa masuk SMA seperti kalian. Dulu Sakura tidak seperti ini… dia anak yang baik, dia selalu berangkat sekolah dengan senyum dan pulang dengan ceria. Namun saat dia memasuki kelas dua entah kenapa dia mulai sedikit berubah. Hingga saat itu… saat dimana dia ingin mengakhiri hidupnya bibi baru tahu jika Sakura sering ditindas oleh teman sekelasnya. Dia sering menerima penyerangan secara fisik dan dikucilkan oleh anak-anak yang lain. Sejak saat itu Sakura mengalami depresi berat karena trauma dia berkali kali ingin bunuh diri. Tapi semuanya berubah saat Sakura masuk SMA saat dia mengenal kalian. Dan bibi tak tahu apa penyebabkan dia ingin bunuh diri lagi mungkin sesuatu memicu kembali trauma. Saat dia merasa dikucilkan, diabaikan, atau penolakan dia akan melukai dirinya sendiri. Maka dari itu bibi mohon kali ini saja… tolong lindungi Sakura dan teruslah berada disisinya."

"Sial!" Sasuke mengumpat kecil saat lagi-lagi ucapan ibu Sakura kembali menghantarkannya ke dunia nyata. Jika saja dia tidak mendengar dan tidak tahu apa-apa mungkin saja selama seminggu ini dia bisa mengobrol dan bicara santai tanpa ada rasa canggung bersama Naruto. Cukup sudah, cukup selama seminggu ini Naruto melihatnya seperti angin. Dia tak ingin diabaikan lagi, Naruto harus mendengar semuanya dari mulutnya sendiri. Di carinya nomor ponsel Naruto dan menunggu hingga orang diseberang sana mengangkat telfonnya.

Sasuke menghembuskan nafas pelan saat suara Naruto mulai masuk kedalam pendengarannya. "Aku ingin bertemu"

:: ::

:: ::

4th JANUS

Namikaze Naruto || Uchiha Sasuke || Sabaku Gaara || Haruno Sakura || and another

Romance || Angst || Friendship

T

Warning :

AU, OOC, Gender Switch, FemNaru!

:: ::

:: ::

You're not bad girl, You're not bad girl

The tears shed for me, put those tears away

She will be hurt, hurt because of me, so I need to hold it

(Boyfriend_Janus)

:: :: Janus :: ::

Semua hal yang terjadi dalam setiap kehidupan pasti ada alasan dibelakangnya. Dengan sebuah penjelasan untuk meluruskan kesalahpahaman. Naruto menghentikan langkah kecilnya saat teringat sesuatu. Saat dimana dia mulai meragukan setiap kepercayaan yang diberikan untuknya. Diambilnya ponsel yang dia simpan dalam saku cardigan yang dia kenakan saat ini. menuju folder galeri dimana semua data gambar miliknya tersimpan.

Bibirnya mengulum senyum kecil saat menemukan sebuah foto yang dikirimkan Shion beberapa waktu lalu. Foto dimana dua orang yang sangat dikenalnya sedang berjalan beriringan dengan saling melempar senyum. Tadinya dia ingin menyimpan foto itu untuk dia lemparkan pada Shion karena seenaknya membuat dirinya harus dilingkupi masalah lagi. Tapi dia urungkan. Naruto menghapusnya, menghapus data yang membuatnya terlihat seperti orang idiot yang selalu menerka-nerka setiap kejadian yang terjadi. Hingga kini dia paham, bahkan terlalu sangat paham.

Naruto kembali berjalan, ada seseorang yang harus dia temui saat ini. ada sebuah hal yang ingin dia katakan, tak ada lagi sebuah rahasia tak ada lagi hal-hal yang membuatnya harus menghindar. Dia tak ingin lagi terus berlari seperti orang bodoh selama seminggu ini. besok dan selama beberapa minggu kedepan adalah liburan musim panas sebelum kembali menempuh waktu-waktu berat dengan berbagai teori yang diajarkan. Naruto ingin meluruskan semuanya.

Bibirnya kembali mengulum senyum tipis saat matanya menangkap punggung tegap yang bersandar di pinggir jembatan kecil. membelakanginya, gaya rambut unik tersebut cukup memberitahunya bahwa dia sudah berada disana. Naruto menyingkap rambut pirangnya saat angin berhembus kencang hingga menghalangi penglihatannya. Kakinya melangkah pelan namun pasti mendekat kearah pria yang sudah menunggunya. "Ada apa?"

Sasuke membalikkan tubuhnya secepat mungkin saat sebuah suara pelan tertangkap masuk ke dalam telinganya. Sasuke menghembuskan nafas lega, dia datang. Naruto datang dan tidak menghindarinya lagi itu sudah membuat sedikit dari bebannya terangkat. Merasakan sedikit ringan. Naruto kembali menyingkap rambutnya saat angin terus memainkan setiap helaian miliknya. Menatap Sasuke dengan kening yang menyatu sempurna, dia tahu Sasuke bukan tipe pria yang suka banyak bicara namun berdiam diri seperti ini justru membuatnya kembali canggung. Tidak mungkin pria itu mengajaknya bertemu tanpa membicarakan suatu hal dengannya. "Kau tak memanggilku hanya untuk diam seperti ini kan?"

Sasuke lagi-lagi diam. Ini pertama kalinya dia bicara dengan Naruto setelah selama seminggu penuh gadis itu mendiamkannya hingga membuat dirinya seperti orang gila. Setelah mereka bertemu seperti ini dan dengan ajaibnya semua hal yang ingin dia katakan, yang ingin dia ungkapkan menghilang begitu saja. menguap tak tersisa. "Jika tak ada yang ingin kau katakan, lebih baik aku-"

"Ini tentang Sakura" dalam satu tarikan nafas Sasuke mengatakan tujuannya mencoba menyembunyikan kegugupan yang tanpa Sasuke sadari justru ucapannya terdengar getas untuk Naruto. Membuat gadis tersebut tanpa sadar mundur satu langkah, cukup terkejut.

Naruto mencoba membuat suaranya terlihat senormal mungkin. Ucapan Sasuke tadi seperti memberikan peringatan tersendiri untuknya. Naruto mengangkat wajahnya dengan kedua tangan yang bersidekap didepan. Mencoba bertatapan dengan mata kelam milik Sasuke, tersenyum kecil. "Aku sudah tahu. Ino yang mengatakan semuanya padaku"

Sasuke berjengit mendengarnya. Jadi Naruto sudah tahu tapi kenapa gadis tersebut malah menghindarinya? Tak tahukah dia bahwa tindakannya tersebut cukup membuat seorang Uchiha seperti dirinya terlihat seperti orang sinting karena berfikir tanpa henti. Tanpa sadar kedua tangan Sasuke sudah berada di kedua bahu Naruto, mencengkramnya erat. "Sejak kapan?"

Naruto mencoba mundur berusaha melepaskan tangan Sasuke yang begitu keras sangat terasa hingga ketulang-tulangnya. Tapi yang ada semakin dia berusaha menjauh semakin Sasuke menariknya mendekat, seperti magnet. "Sejak satu minggu yang lalu"

Satu minggu tepat saat Naruto selalu mengabaikannya satu minggu tergila dalam hidupnya. Tanpa sadar tangannya membuat Naruto meringis menahan sakit. Mengencang dengan sendirinya menyalurkan emosi yang dia tahan. Dan tanpa sadar juga Sasuke berdesis mencoba untuk tidak berteriak didepan Naruto saat ini juga. "Dan selama satu minggu itu juga kau mengacuhkanku!"

Naruto menyerah saat semua usaha yang dia lakukan untuk lepas dari Sasuke menjadi percuma. Ditariknya udara disekitarnya lalu menghembuskannya pelan. Kembali menatap tepat mata kelam milik Sasuke. "Lalu apa yang harus aku lakukan? Datang pada kalian tersenyum dang mengatakan. 'Hai! Selamat ya kalian pasangan yang serasi!' haruskah aku mengatakan itu? ah ataukah aku harus membawa hadiah untuk kalian?" Sasuke terdiam, Naruto tak pernah menggunakan nada sarkastik seperti ini sebelumnya. Tersenyum sarkam sambil terus menatap kearahnya. "Kau tahu Sasuke ini seperti sebuah bom waktu untukku. Aku tak tahu harus bagaimana lagi, setiap detik, menit terus berputar membuatku ketakutan jika bom meledak dan menghancurkan semuanya. Kau tak tahu betapa takutnya aku! Betapa aku ingin berteriak kau tak tahu! Kau tak tahu apa-apa!"

Naruto menghela nafasnya kembali saat dia sadar jika notasinya naik satu oktaf, mengabaikan Sasuke membatu di depannya. Naruto melepaskan tangan Sasuke dari bahunya perlahan sebelum kembali menatap Sasuke dengan senyumanya. Bukan senyuman sarkam, atau meremehkan melainkan sebuah senyuman tulus yang mampu membuat Sasuke ingin menembak kepalanya sendiri dengan senapan laras panjang milik pamannya. "Aku hanya tak tahu apa yang harus ku lakukan. Aku terus berpikir selama satu minggu ini, apakah aku baik-baik saja jika seperti ini. saat Ino mengatakan semuanya aku menekankan pada diriku sendiri jika kau tak bersalah, Sakura juga tidak bersalah hanya saja entah kenapa rasa kecewa ini tak bisa hilang. Aku berfikir mungkin semuanya akan baik-baik saja jika dari awal hubungan kita tak pernah ada. Jadi aku ingin memulainya dari awal"

Naruto mundur satu langkah dari Sasuke, membuat ruang untuk keduanya seperti jarak pemisah. Mengangkat salah satu tangannya. Mengajak Sasuke yang sama sekali tidak bergeming di depannya untuk berjabat tangan. "Ayo kita berteman" dan cukup lama bagi Naruto untuk mendapatkan respon dari sang Uchiha.

"Aku pikir aku lebih suka hubungan yang seperti ini. bukan seperti sepasang kekasih aku lebih nyaman jika kita berteman saja. jadi ku harap kau bisa mengerti" Naruto mengusap tengkuk bagian belakang tubuhnya. Sudah cukup lama namun tak ada jawaban dari Sasuke. "baiklah jika kau tidak-"

"Kau tahu awalnya aku ingin mengatakan agar kita kembali seperti dulu saat semuanya kembali normal. Tapi sepertinya sulit untuk membuatmu kembali." Naruto terkesiap, Sasuke membalasnya. Dia membalas tangannya yang hendak turun disertai tarikan keras dari Sasuke hingga membuatnya berakhir dipelukan pemuda tersebut. Naruto mencoba mengambil jarak dengan mendorong Sasuke namun sepertinya itu sia-sia saat Sasuke kembali menariknya mendekat. Ini benar-benar gawat jika pertahanannya kembali runtuh. "Aku menerima tawaranmu Naruto. Kita berteman"

:: :: Janus :: ::

Apa yang paling dibenci Naruto? Sebuah kebetulan. Kebetulan yang sangat merugikan dirinya. Liburan musim panas memang sudah berakhir. Benar-benar berakhir dan memasuki tahun ajaran baru. Dia tidak kaget saat namanya mendapati peringkat pertama di daftar yang terpampang di depan papan pengumuman. Ibunya sudah berkoar-koar tadi pagi. Yang membuatnya terlihat idiot dengan mulut yang sedikit terbuka adalah daftar nama orang-orang yang akan menjadi teman sekelasnya nanti.

Naruto sudah berjanji pada dirinya sendiri jika akan mengulangi semuanya dari awal saat tahun ajaran baru dimulai bersama Karin dan Shion. Naruto benar-benar merutuki siapa saja orang yang berada dibalik daftar nama ini. dia tahu jika ini tidak sengaja tapi tetap saja kenapa dia harus sekelas dengan orang-orang itu lagi. Yah meski banyak orang asing juga di daftar nama tersebut.

"Uchiha Sasuke, Haruno Sakura, Yamanaka Ino, Tenten Liu. Bukankah mereka teman-temanmu dulu? Wah… itu berarti Sasuke akan sekelas dengan kekasih dan mantan kekasihnya. wow" Naruto mendesis kearah Karin saat gadis itu dengan terang-terangan membaca setiap deret nama yang berada diperingkat atas. Orang-orang yang akan memasuki kelas yang sama dengannya.

"Haruskah kau mengabsennya?! Lebih baik kau mengurusi dirimu sendiri bisa-bisa dengan otakmu itu masuk peringkat ke 36?" Naruto berdecak kesal berbalik meninggalkan Karin dan Shion yang mulai menyusulnya.

"Memangnya kenapa? Shion saja peringkat 28 tidak masalah" Karin mencibir Shion yang berdiri disampingnya.

"Justru itu masalahnya. Kau tidak bisa membedakan antara 36 dan 28?" Shion memukul pelan kepala Karin lalu berjalan lebih cepat menyusul Naruto yang sudah berjalan lebih dahulu.

Naruto mendelik lalu berhenti dan berbalik menatap Shion dan Karin secara bergantian. "Justru yang jadi masalah adalah bisa-bisanya kalian sekelas denganku!" Naruto menghembuskan nafasnya perlahan bersidekap didepan dada. "Apa kalian mencontek? Siapa yang jadi sasaran kalian saat ini?"

Karin terkiki geli dengan tangan yang merangkul Naruto lalu mengajaknya berjalan beriringan menuju kelas diringi Shion yang menggamit lengan kanan Naruto tanpa menurunkan kedua tangan yang terlipat tersebut. "Kami tidak mencontek siapapun. Kami melakukannya seperti biasa"

"Mungkin sebuah keberuntungan berada dipihak kami"

"Dan kesialan dipihakku"

Great! Sekarang selain bertahan dengan orang orang lain dia juga harus bertahan dengan dua gadis idiot yang sedang menariknya seperti kambing. Sekarang juga Naruto harus mulai melatih kesabarannya. Tapi jika dipikir ini juga tak ada ruginya. Mungkin dengan kedua orang yang menurutnya idiot itu bisa sedikit menemaninya dari kerumunan orang-orang tersebut.

Karin maupun Shion juga tahu, meski Naruto memiliki mulut pedas tapi gadis tersebut tak sungguh-sungguh memaki mereka, berteman selama tiga tahun dengan gadis pirang tersebut membuat mereka bisa memahami satu sama lain. dan sekarang meski sempat bersungut-sungut kesal. Pada akhirnya mereka saling memaki dan tertawa bersama.

"Ya dan kalian tak lebih bodoh dari siput dijalanan"

"Tapi sayangnya tak ada siput secantikku"

"Iya siput aneh berambut kuning!"

"Hei ini blonde bukan kuning? Kau tak pernah membaca majalah fashion? Dan rambutmu juga kuning!"

"Haah… lalu bagaimana dengan rambut merahku! Dan Shion ku beritahu jika otak udangmu itu lupa jika dia lebih memilih membaca kamus tebal bahasa inggris atau rumus matematika dibanding majalah paham?"

"Kau sedikit lebih pintar Karin. Dan aku setuju dengan isitilah otak udangmu itu. tapi jika kau lupa otakmu juga sama"

"Hei-"

"Woo… woo jadi gadis-gadis ada yang bisa ku bantu?" ketiganya terdiam dari tawa mereka saat seorang pria dengan tato aneh –menurut Naruto lebih aneh dari Gaara- di kedua pipinya menghadang jalan mereka saat ingin mencari bangku kosong yang mungkin bisa mereka duduki nantinya.

Naruto tersenyum tipis lalu mengangkat tangannya didepan wajah kiba menggerakkan ke akan dan ke kiri. Mengatakan tidak dengan bahasa nonverbal. "Tidak terima kasih"

"Yo! Kiba kau disini?" Naruto mulai mengerutkan keningnya saat melihat Karin dan Shion melakukan high five dengan pria yang baru dia ketahui bernama Kiba. Baiklah satu orang dengan kebisingan yang setara dengan Karin berada disekitarnya.

"Tentu saja! kau tak akan pernah bisa meragukan otakku!" Kiba tersenyum senang memperlihatkan sederet gigi putihnya sambil menepuk dadanya bangga. Salah satu alis Naruto naik, jadi seberapa pintar orang didepannya ini.

"Diperingkat 35 hanya berbeda 0,1 point darimu Karin" Naruto menghela nafasnya perlahan saat Shion menjawab pertanyaan miliknya sendiri. Menghela nafas pelan sebelum berjalan menjauhi Kiba menuju bangku ketiga di deretan paling pinggir –yang menurutnya kosong tersebut- menghadapi orang bodoh hanya akan menambah kebodohannya. Setidaknya itu tindakan pencegahan Naruto.

"Tunggu sepertinya aku lupa sesuatu. Kau siapa?" Kiba mengajuka pertanyaan yang seharusnya lebih awal saat Naruto sudah duduk manis di bangku yang kini dia klaim menjadi miliknya. Memutar matanya bosan, mereka bertatap muka lebih dari lima menit dan Kiba baru menanyakan namanya. Bagus, hidupnya akan menjadi lebih 'indah' di kelas ini.

" Namikaze Naruto" Shion yang menjawab dengan mengambil bangku di samping kanan Naruto. "Dari kelas 1-1 si peringkat pertama" Kali ini giliran Karin yang menjawab sambil menduduki bangku di belakang Naruto. Mengabaikan Kiba yang membuka mulutnya selebar mungkin.

"Tidak mungkin! Gadis cantik dan pintar seperti dia berteman dengan kalian?! Dunia pasti kiamat!" Kiba memekik histeris mengabaikan sekitarnya yang menatapnya kesal. Ini masih pagi dan suara Kiba menggema di ruangan kelas tersebut. Kiba melangkah mendekat kearah Naruto menggenggam tangan gadis itu secara tiba-tiba. Tak peduli jika Karin dan Shion ingin mengulitinya hidup-hidup. "Jika mereka mengganggumu katakan padaku. Aku dengan senang hati akan melindungimu!"

Naruto mengangguk dengan tersenyum manis yang sangat amat dipaksakan dan terlihat jelas tidak berusaha menutupinya didepan Kiba, melepas tangannya dan menepuk pelan pundak Kiba. "Tidak terima kasih. Aku masih bisa menjaga diriku sendiri"

Karin dan Shion tak bisa menahan tawa mereka saat melihat Kiba yang berbalik menuju bangkunya di deret belakang dengan kepala menunduk 90 derajat. Mereka bahkan harus menunduk dan memukul meja saat tawa mereka malah semakin menjadi-jadi.

"Seriously nothing funny in here" Naruto menggeleng pelan berusaha tidak memperdulikan dua orang yang kini sibuk dengan dunia mereka sendiri. Mengambil earphone putih yang selalu dia bawa kemana-mana menempatkan di kedua telinganya melakukan hal yang biasa dia lakukan membaca sebuah buku yang disodorkan ibunya beberapa hari ini. ada banyak yang harus dia baca dan dia tak ingin melihat ibunya kembali marah-marah karena tidak selesai membaca buku-buku tebal tersebut.

Disana, tepat di depan pintu seorang Uchiha Sasuke berdiri dengan Sakura yang sibuk berceloteh tentang liburan musim panasnya. Dia tidak pernah peduli dengan hal-hal yang disebut takdir. Terkadang dia juga tak pernah peduli dengan kebetulan. Tapi kini seseorang berambut kuning menyala yang mungkin dipangkas menjadi lebih pendek tepat berada disana. Membaca sebuah buku dengan earphone yang terpasang di telinganya. Sasuke tahu kebiasaan itu, dan kejutan ini membuatnya tanpa sadar mengabaikan Sakura dan menutup jalan. Disana Namikaze Naruto satu kelas lagi dengannya.

Sasuke menggeram kesal saat seseorang dengan seenaknya menerobos masuk hingga membuatnya limbung ke depan. Dia mendengus kesal sebelum melemparkan tatapan iblis miliknya kepada si pelaku. Kembali mengabaikan Sakura yang bertanya padanya apakah dia baik-baik saja atau tidak. Tidak ada permintaan maaf yang ada hanyalah sebuah senyum bukan seringaian kecil seorang pria didepannya sambil mengangkat tangannya mungkin jika diartikan mengatakan 'Ups Sorry'

Sasuke kembali mendengus kecil dengan tangan yang mengusap pundaknya bekas tubrukannya dengan pria menyebalkan yang kini sudah masuk kedalam list orang-orang yang harus dihindarinya. Sasuke kembali melangkah dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celananya mengabaikan bisik-bisik gadis-gadis disekitarnya. Siapa peduli. Namun langkahnya kembali tertahan saat matanya tak sengaja menangkap seringaian menyebalkan pria tersebut dan melangkah mendekat kearah titik fokusnya tadi. Tangannya mengepal di dalam saku celana.

Naruto mengangkat kepalanya saat seseorang berdiri didepannya. Tak mungkin dia hiraukan saat jelas-jelas menatap pinggang orang tersebut. Naruto melepas earphonenya mendongak pelan hingga akhirnya safirnya melebar sempurna. Hell! Ingin sekali Naruto mengumpat keras tepat diwajah menyebalkan tersebut. Sempurna! Satu kelas bersama Sasuke dengan Sakura mengikut di belakangnya dan ditambah pria gila berambut merah yang dia temui beberapa minggu yang lalu. Naruto benar-benar meragukan ini kelas untuknya ataukah neraka untuknya.

Ini untuk pertama kalinya dalam hidup Gaara benar-benar ingin masuk sekolah. Awalnya dia hanya ingin meletakkan tasnya di kelas dan seperti mendapatkan sebuah jackpot dia kembali bertemu dengan gadis manis berambut pirang tersebut. Tetap mempertahankan seringaian miliknya Gaara mengangkat tangannya lalu menunduk mendekat ke wajah Naruto yang masih terlihat shock. "Hai"

Dan Naruto benar-benar ingin teriak sekarang.

:: :: Janus :: ::

"AAHHH! SIAL! SIAL! SIAL!" satu keuntungan yang didapat dari Naruto saat ini. UKS sedang sepi dan sekarang waktu baginya untuk melampiaskan semuanya. Ini mimpi buruk. Masalahnya dengan Sasuke belum selesai sepenuhnya dan sekarang dia berhadapan dengan pria menyebalkan yang baru dia ketahui namannya adalah Sabaku Gaara. Naruto menendang-nendang selimut UKS dengan brutal. "AH! TAK BERGUNA! SIALAN! BODOH! MENYEBALKAN!"

"Bisa tidak kau berhenti berteriak? Menganggu bodoh!" semuanya tehenti. Seperti menekan tombol pause semua gerakan Naruto terhenti dengan wajah bodohnya. Naruto tidak tuli dan dia –sepertinya- dia tahu suara siapa itu. Naruto hanya berharap jika telinganya sedang bermasalah dan salah memperkirakan seseorang.

Naruto segera bangun dari posisi bodohnya. Menyisir rambut yang sadar menjadi berantakan karena ulahnya sendiri. Berdehem beberapa kali mencoba menormalkan suaranya, dengan tubuh yang masih terduduk diatas kasur Naruto menyibak kasar tirai pembatas tersebut. "Hai…. Naru-chan?"

Naruto mengedipkan matanya beberapa kali memastikan jika penglihatannya benar dan matanya masih normal tidak minus dan tidak plus. Naruto benar-benar seperti anak kecil dengan mata bulatnya yang berkedip beberapa kali dan Gaar benar-benar tak bisa untuk tidak tersenyum geli melihatnya. Jika Naruto benar-benar anak kucing maka dia bersedia menjadi anak anjing. Naruto menghela nafas panjang setelahnya. Masa damainya benar-benar berakhir mulai sekarang.

"Kau…. Mengikutiku?" Naruto memulai kebiasaannya dengan melipat tangan didepan dada, mengangkat dagunya. Dan Gaara akan mencatat dibuku notenya jika Naruto tipe gadis keras kepala dan mungkin juga angkuh?

Gaara mengubah posisi tidurnya yang semulai terlentang menjadi miring dengan salah satu tangan yang menyangga kepalanya. Menatap Naruto yang mendengus kesal mungkin karena ulahnya. "Berikan aku satu alasan kenapa aku harus mengikutimu?"

Naruto mengusap tengkuknya kemudian kembali menghela nafas, dia lupa jika pria bernama Gaara tidak memiliki jawaban melainkan pertanyaan, tak ingin tekanan darah naik Naruto mencoba mengabaikan Gaara atau lebih tepatnya tak memiliki jawaban yang tepat karena jika dipikir-pikir semua orang boleh memasuki UKS atau mungkin Gaara berada ditempat di waktu yang salah.

"Kau…. Baik-baik saja?" Naruto mengerutkan dahi, benarkah yang dia dengar ini. yah mereka memang sudah saling kenal tapi bukan seorang teman dekat yang bisa menanyakan kabar kapan saja. saat ini pertama kali Gaara mengucapkan sesuatu sebelum dirinya.

"Memangnya kenapa? Kenapa kau harus tahu?" Naruto mencoba tak terlalu peduli. Menggunakan prinsip Gaara 'menjawab pertanyaan dengan pertanyaan' hingga dia tersenyum geli saat melihat Gaara yang mendengus sebal dan berbalik memunggunginya.

"Kenapa? Marah? Itu yang kurasakan saat kau malah balik bertanya" Naruto kembali tersenyum mengganti posisinya dengan bersandar pada badan ranjang. Matanya kembali bergilir menatap Gaara yang tak memberi respon. Lagi-lagi dia tersenyum geli melihatnya. "Jujur kau sangat mengganggu. Kau tahu aku sangat ingin menendang bokongmu agar kau segera pergi saat ini juga."

"Ya sudah! Tendang saja bokongku!" Naruto tertawa kecil saat melihat Gaara yang membuka kasar selimut yang sempat membungkus tubuhnya dan duduk mengahadapnya disertai dengusan kesal dari bibirnya.

Naruto menoleh memberikan senyuma tulus yang pertama kali dia tujukan untuk Gaara membuat laki-laki Sabaku tersebut mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi. Bukan sebuah respon yang biasa dia terima. "Tapi… setidaknya saat bersamamu aku tidak perlu untuk berpura-pura menjadi orang lain. kenapa? Karena kau tak mengenalku dan aku juga tak mengenalmu"

"Dan kau suka?"

"Mm" Naruto mengangguk keras. Tanpa sadar senyumnya masih terpasang. "Aku tak perlu berbohong lagi… aku benar-benar suka"

Untuk pertama kalinya saat beberapa waktu terakhir Naruto bisa tertawa keras begitu dia melihat wajah bingung milik Gaara dan untuk pertama kalinya juga mereka melempar senyum saat Gaara tersenyum kecil melihat bagaimana kedua mata yang menyipit sempurna saat tertawa. Untuk pertama kalinya juga mereka bicara panjang lebar tanpa saling memaki, untuk pertama kali bagi Gaara untuk mendapatkan seorang teman. Dan untuk pertama kali juga bagi mereka mengatahui satu sama lain.

:: :: Janus :: ::

There's an empty world deep in my heart, save me
I wanna reset , I wanna reset , I wanna reset
Lonely eyes trapped in darkness
Is there anyone to hold my hand?
I wanna reset , I wanna reset , I wanna reset

(Tiger JK (feat. Jinshil of Mad Soul Child) – Reset)

:: :: Janus :: ::

TO BE CONTINUED

Aku benar-benar bingung buat ngegambarin chara Gaara disini jadi harap maklum kalo pendiskripsiannya masih kurang jelas. Disini aku mau fokusin hubungan SasuNaru dan GaaNaru ke depannya kayak gimana. Entah kenapa aku suka gaya romance yang nggak terlalu eksplisit jadi aku bikin mereka kayak Ino-Shika-Cho gitu..

Waah pada salah paham sama Sakura, emang disini Sakura penyebab putusnya SasuNaru tapi bukan semua salahnya dia cuman masih kebayang masa lalu kok kayak aku bilang trauma gitu.

Untuk ending pada dukung GaaNaru ternyata, hihihi… karena pada dasarnya ini terinspirasi dari School 2015 aku bikin karakter Gaara kayak Taekwang tapi nggak mirip cuman bengalnya aja dimiripin. Tapi bener susah tiap kali bayangin Gaara jadi Taekwang malah yang ada Sungjae terus yang muncul jadi yah cuman sedikit OOC aja Gaaranya.

Dan makasih banyak buat saran dan kritikannya kemarin maaf nggak bisa bales satu-satu tapi aku selalu baca coment kalian kok. Untuk masalah typo kayaknya bakal sulit soalnya udah mendarah daging sih, oke aku tunggu saran dan kritikan para senpai lagi..

Oke kayaknya sekian dulu cuap-cuapnya.. RnR please..

See you next chap

Jaa ne

Crysantimum Bluesky