Manusia hidup dimasa depan bukan di masa lalu. Masa lalu hanyalah masa yang sudah berlalu dan hanya menyisakan sebuah kenangan. Namun dikehidupan masa lalu juga manusia lain melihat sebuah sisi yang berbeda dari kehidupan masa lalu. Mereka menggunjing dan berbicara hanya dari masa lalu seseorang yang mereka ketahui tanpa tahu kehidupan mereka yang saat ini. seperti sebuah dongeng yang diceritakan terus menerus tanpa henti seperti sebuah sambungan parallel.
Pada dasarnya semua gunjingan dan cemoohan itu hanyalah ungkapan rasa iri yang tidak dapat terungkap. Atau mungkin mereka yang terlalu merasa sempurna hingga merendahkan orang lain. sebenarnya mudah bagi Naru untuk menghadapi ini. dia hany perlu diam dan tidak meladeni mereka yang bermulut besar. Untuk apa jika pada akhirnya dia hanya akan membuang tenaga.
Tapi sungguh tetap saja, mulut mereka terbuka tanpa pelengkap sebuah filter. Tetap menyakitkan dan membuatnya risih, setiap dia berjalan di lorong kelas ataupun melewati sekumpulan siswa – siswi yang tahu tentang namanya mereka akan meliriknya dilanjutkan dengan desas desus yang sangat pelan hingga dia bisa mendengarnya.
"Dia orangnya? Kau yakin? Bukankah dia dulu kekasih Sasuke?"
"Husst…. Jangan keras-keras nanti dia dengar baka!"
"Dia cantik tapi tapi sayang berhati iblis"
"Pantas saja jika Sasuke-kun meninggalkannya"
"Ku dengar dia juga sombong dan sangat kasar. Benar-benar menjijikkan jika harus sekelas dengan orang seperti dia"
"Apalagi ditambah Karin dan Shion mungkin mereka akan membunuh siswa lainnya. Untung aku tidak sekelas dengan mereka"
"Aku tidak tahu bagaimana orang tua mereka mendidik mereka tapi mereka bertingkah seperti berandalan jalanan saja. benar-benar memalukan"
Naruto berhenti. Langkahnya benar-benar berhenti tangannya terkepal erat. Meski sudah beratus-ratus kali otaknya memerintah untuk mengabaikan namun tetap saja hujatan itu membuat telinganya gerah. Dia tak ingin mencari masalah dia hanya ingin tenang hingga lulus dan mendapatkan ijazah dari sekolah ini dengan begitu dia bebas dari tuntuatan ibunya. Apa salahnya jika dia ingin hidup tenang.
"Jangan didengarkan jika tidak penting."
Naruto mengerjap. Terkesiap saat dua telapak tangan besar menutup telinganya. Sebuah tangan besar yang datang saat dia ingin berlari. Dia tidak ingin terlihat seperti pengecut dengan melarikan diri tapi dia benar-benar muak. Hingga sebuah tangan hangat membantunya untuk menatap lurus ke depan.
Naruto melepas tangan yang menekan telinga sekaligus rambut pirangnya sekeras mungkin. Berbalik ingin memaki orang tersebut hingga suara-suara benar-benar tertahan ditenggorokan, bertemu dengan pria tersebut beberapa kali minggu ini membuatnya hafal dengan rambut merahnya. Apa lagi tatonya yang mencolok mata.
Naru ingin memaki tapi suaranya tertahan yang ada tubuhnya kembali didorong untuk berbalik dan sebuah tangan mendorongnya ke belakang. Sebelum sebuah suara perintah masuk ke dalam telinganya yang untungnya masih berfungsi dengan baik. "Lanjukan jalanmu! Dasar lelet!"
Mungkin jika Naru sadar mungkin dia sudah memukul telak kepala merah tersebut. Dia bahkan tidak sadar jika pria dibelakangnya masih menempatkan kedua tangan di kedua pundak miliknya. Mendorong untuk maju ke depan. Mungkin ini hanya firasatnya saja tapi entah kenapa dia selalu ada disekitarnya saat lelah atau membutuhkan pertolongan. Naru melirik sekilas, mereka kini berteman –itu menurutnya- meski Gaara hanya menjadikannya objek kejahilan tapi sungguh kini dia merasa nyaman berada di dalam kelas dengan laki-laki itu yang terus datang hanya untuk mengerjainya ketika dia sedang dalam mood yang buruk. Seperti saat Sasuke yang selalu tersenyum untuknya meski tipis. Hangat dan menyenangkan.
:: ::
:: ::
5th JANUS
Namikaze Naruto || Uchiha Sasuke || Sabaku Gaara || Haruno Sakura || and another
Romance || Angst || Friendship
Naruto©
Janus©ChrysantimumBluesky
T
Warning :
AU, OOC, Gender Switch, FemNaru!
:: ::
:: ::
You're not bad girl, You're not bad girl
The tears shed for me, put those tears away
She will be hurt, hurt because of me, so I need to hold it
(Boyfriend_Janus)
:: :: Janus :: ::
"Dengar aku tidak akan mengulangi ini untuk kedua kalinya. Ingat ini adalah pelajaran SMP dan kalian sudah SMA. Dan aku hanya akan mengatakan ini sekali saat ini saja. hey! Kalian pikir aku mendongeng?! Hey! Bangunkan teman-teman kalian"
Naru mengangkat wajah menghela nafas halus. Kelas unggulan atau tidak sepertinya sama saja untuknya. Matanya menyapu seluruh isi kelas sesuai arah yang ditunjuk oleh guru bahasa Inggris di depan kelas. Diarah pojok paling belakang di deretan paling kanan Gaara mungkin sudah menjelajah ke berbagai Negara. Tetap di belakang di samping Gaara ada Kiba yang bahkan sudah meneteskan air liur. Di sampingnya Karin yang sibuk menatap kaca, demi apapun yang di depan adalah Terumi Sensei seorang wanita asli. Siapa yang ingin dia goda.
Sebelum kembali pada papan tulis dan catatan di dalam buku. Naru menoleh sesaat di pojok paling belakang di deretan paling kiri. Sasuke and he's almighty. Seperti biasa, diam dan focus pada bukunya menarik perhatian itu hal yang lumrah untuknya sebelum kembali melirik Gaara dan focus untuk pelajaran. Lucu juga melihat interaksi dua manusia yang mungkin bisa saling menghunuskan pedang malah duduk di dua pojok sudut ruangan, dan dengan senang hati Naruto tak ingin memikirkan apapun tentang itu.
Tak lama hanya selang sepuluh menit bahkan Terumi sensei belum selesai menerangkan kembali rumus past, present, atau pun perfect tense. Pelajaran berakhir dan berganti ke jam olahraga. Mata pelajaran yang sangat malas untuk di laluinya. Olah raga tidak terlalu begitu penting untuk spesifikasinya masuk Universitas –setidaknya ibunya selalu berkata seperti itu saat dia mulai pusing dengan tugas olah raga yang melelahkan- Naru membungkuk bersama teman-temannya berterima kasih pada Terumi sensei sebelum meninggalkan kelas dengan raut wajah kesal seperti biasa.
Membereskan buku kemudian bersiap menuju lapangan olah raga. Seperti biasa bersama dengan Shion dan Karin yang selalu setia menggandeng kedua lengan miliknya. Meski terkadang dia sering menerima tatapan enggan dari Ino dan teman-temannya –sebutannya dulu- yang lain. berbaris rapi dan seperti biasa Guy sensei sudah berada disana.
"Yosh kerahkan semangat masa muda kalian!" teriakan penuh semangat dengan jompol terangkat diatas. Naruto berani bertaruh jika Guy sensei tidak akan mengalami masa lansia dengan penyakit punggung. Dia terlalu semangat dan juga hyper diusianya. "Hari ini kita akan melakukan olah raga kecil. mengingat ini hari pertama kalian di semester ini"
Entah kenapa dia mulai merasakan firasat yang tidak enak saat selesai pemanasan dan ucapan penuh semangat dari Guy sensei. Terakhir yang dia ingat olah raga ringan yang dikatakan Guy sensei melakukan lari keliling lapangan selama 7 kali hingga membuat kakinya kesemutan beberapa hari. "Kita akan melakukan permainan bola. Lempar bola tangan. Ku yakin kalian pasti tahu aturannya. Kalian akan berpasang-pasangan dan yang di depan harus melindungi pasangan yang dibelakangnya agar terhindar dari bola. Untuk pasangan aku sudah menentukannya. Jadi silahkan menemui pasangan masing-masing. Mengerti?"
"Mengerti!"
Dan detik berikutnya ke tiga puluh enam berpencar mencari pasangan masing-masing. ada yang berteriak dan mengeluh mengetahui pasangan masing-masing. seperti halnya Karin dan Shion yang saling memekik dan bertepuk tangan heboh lalu Ino dan Sakura yang saling menggandeng tangan. Mungkin dari sudut pandang Naru pasangan paling lucu disini adalah Gaara dan Sasuke, keduanya sama-sama membuang muka. Dia berani bersumpah jika mereka tak akan saling melindungi dan malah membiarkan pasangan masing-masing terkena bola.
"ha-hai" suara kecil dan tergagap membuat Naru mengalihkan pandangan geli dari pasangan Gaara dan Sasuke. Dia hampir melupakan pasangannya sendiri. Sedikit merutuki diri karena hampir tidak mengenali teman sekelasnya. Mungkin dengan ide Guy sensei –yang baru dia akui- cemerlang kali ini.
"Oh hai… aku Namikaze Naruto. Salam kenal" Naruto mengulurkan tangan dengan sambutan sebuah tangan seputih kapas. Wajahnya benar-benar asia satu hal yang Naruto tangkap dari Hinata –Guy Sensei yang mengatakannya- tipe gadis pasif mungkin akan sulit tapi Naruto akan berusaha untuk dekat.
"Hinata desu" Suaranya pelan nyaris tidak terdengar jika Naruto tidak menyiapkan telinganya dengan baik, membuatnya tersenyum geli melihat Hinata yang benar-benar canggung untuk menatapnya dan lebih memilih menunduk membiarkannya hanya menatap rambut ungunya.
Guy sensei berteriak pada mereka untuk bersiap dan Naruto memilih sebagai benteng di depan untuk melindungi Hinata. Mungkin diantara semuanya hanya Sasuke dan Gaara yang masih bertahan dengan perdebatan tidak penting mereka. Sungguh dibandingkan dengan Gaara maka dengan senang hati Sasuke akan memilih bersama dengan Chouji ataupun Lee, demi alis tebal Guy sensei dia tidak akan pernah mau menjadi benteng untuk Gaara. Tidak pernah! "Kau yang di depan"
Gaara mendelik mendengar perintah absolute milik Sasuke. Siapa Sasuke siapa dia? dibanding menjadi benteng untuk Sasuke dia lebih memilih menjadikan Sasuke sebagai sasaran lemparan bola miliknya. Itu seratus kali lipat lebih baik dari pada memberikan tubuhnya sebagai lemparan bola untuk Sasuke. "Dengar! kau tahu tubuhku memiliki pertahanan yang tidak bagus bagaimana jika aku masuk rumah sakit jika terkena bola?"
Sasuke memutar matanya malas, alasan konyol milik Gaara benar-benar. "Setidaknya kau tidak mati kan?"
"Hei!" Gaara memekik. Bukan karena ucapan Sasuke yang memang dilahirkan bermulut pedas. Tapi karena Sasuke yang tiba-tiba sudah menarik tubuhnya untuk menahan haluan bola yang entah sejak kapan sudah terarah pada mereka membuat lengannya terkena hempasan keras bola, Uchiha sialan! "Apa yang kau lakukan brengsek!"
"Hn" Gaara bersumpah jika bola kembali terarah pada mereka maka dengan senang hati dia akan menyodorkan Sasuke sebagai umpan. Masa bodoh dengan permainan tidak penting ini. yang terpenting adalah bagaimana Sasuke juga mendapatkan hempasan bola yang dia rasakan.
Naruto menahan senyum geli ditempatnya. Bukan niatnya untuk menahan, dia bisa saja tertawa lepas melihat dua pasangan serasi tersebut namun tatapan protes yang di layangkan Gaara membuatnya berhenti hanya tersenyum geli. Dia tidak ingin berurusan dengan laki-laki aneh itu lagi. Berurusan dengan Gaara hanya akan menambah tekanan darahnya naik.
Dan bagaimanapun Sasuke bisa melihat bagaimana kontak matak keduanya. Dia punya mata yang tajam melihat bagaimana keduanya seolah-olah bisa berkomunikasi hanya dengan saling tatap. Bohong jika dia tidak kesal, dari sekian banyak laki-laki yang pernah dan mencoba mendekati Naruto ini pertama kalinya dia merasa kesal. Dia tidak tahu sejak kapan keduanya saling mengenal namun dari yang dia lihat Naruto nyaman dan itu yang membuatnya kesal mungkin juga takut.
"Naru Awas!"
Semuanya baik-baik saja dia bahkan masih bisa berlari dan memekik senang saat bola terarah pada mereka dan melindungi mereka dengan baik. Namun saat perhatiannya teralih untuk melihat Karin dan Shion yang saling memaki sebuah benda keras menghantam wajahnya telak. Naru tidak tahu sejak kapan yang terakhir di pegang oleh Sakura melayang kearahnya.
Dengan sangat jelas dia bisa mencium bau anyir darah. Hidungnya terasa perih sebelum kepalanya berkunang dan pandangannya mengabur. Hal terakhir yang dia lihat sebelum kehilangan kesabaran adalah Karin yang mendorong keras bahu Sakura dan Gaara serta Sasuke yang berlari kearahnya hingga semuanya menjadi gelap.
:: :: Janus :: ::
Mengerjap pelan dan menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina mata, bau obat-obatan menusuk hidung. Kepalanya benar-benar terasa pening. Dia tidak bisa merasakan apapun selain pusing selama beberapa detik sebelum pandangannya benar-benar focus pada sekeliling. Sudah bisa ditebak dimana dia sekarang dengan keadaannya yang sekarang. UKS.
"Dasar bodoh"
Satu ungkapan selamat datang. dengan mudah dia tahu siapa yang mengatakan ucapan pedas tersebut.
"Jika kau tidak punya kosa kata lain lebih baik pergi sana" dengan suaranya yang masih terlihat lemah Naru mencoba mengusir. Sungguh orang itu sama sekali tidak membantunya yang ada malah menambah sakit kepala yang menyerang.
"Jika kau tidak bodoh lalu apa? idiot? Hanya orang-orang idiot yang menangkap bola dengan wajahnya" Satu ucapan terkesan santai menghantam kesabarannya. Naru memfokuskan pandangan pada pria yang duduk bersedekap disamping ranjang, mencoba duduk setelah rasa pusingnya hilang dan melempar bantal tepat kearah pemilih rambut kelam tersebut. Awalnya dia berniat untuk melempar kearah wajah angkuh itu namun sayangnya malah meleset. Mungkin dia masih pusing.
Naru mengusap keningnya pelan mengurangi rasa pusingnya sebelum menatap bengis pria yang malah mendekap bantal tersebut. Menghela nafas pelan. Dia tidak ingin terkena hipertensi dini. Setelah Gaara dan sekarang Sasuke. "Jika kau hanya menambah tekanan darahku saja lebih baik kau pergi saja dari sini brengsek"
"Setelah aku menggendongmu dari lapangan olah raga sampai sini kau hanya mengatakan brengsek? Kau membuatku terharu" Sasuke mendengus geli. Kembali melempar bantal tersebut kearah Naru yang dengan sigap menangkapnya. Berdiri sebelum merapikan seragamnya yang telah terganti. Mengusap pelan rambut pirang gadis tersebut sebelum meninggalkan ruangan UKS untuk mengikuti pelajaran selanjutnya. Setidaknya harapannya terkabul. Menjadi orang pertama yang dia lihat saat membuka mata. "Tidurlah kau masih butuh istirahat"
Dengan mata yang memincing Naru menatap punggung Sasuke yang sudah menghilang saat saat gorden penyekat ditutup oleh Sasuke. Menghela nafas pelan sebelum kembali menjatuhkan diri kembali diatas ranjang UKS. "Thanks"
"Aku tahu kau akan mengatakannya"
Dan Naruto juga tahu jika Sasuke masih berdiri disana. Sebelum menghilang diikuti dengan derap langkah kaki yang secara konstan ikut menjauh. It's like the past.
:: :: Janus :: ::
"Dan ini dia si kepala batu kita!"
Sebutan baru setelah dia tidak masuk dua mata pelajaran, terima kasih untuk Kiba dan teman idiotnya Lee untuk julukan baru yang diberikan khusus untuk dirinya. Naru akan menyertakan karangan bunga ucapan terima kasih untuk mereka. Iya karangan bunga berduka atas kematian mereka tentunya.
"Jangan lupakan pitcher terbaik kita tentunya"
Kini giliran Sakura saat gadis itu secara bersamaan masuk kelas bersama dengan Naruto. Mungkin dia habis dari kamar mandi terlihat dari tangannya yang basah, Naru mencoba menulikan telinganya dengan cara biasa yang terbukti sangat ampuh. Menjejalkan earphone dikedua telinganya. Naru melihat sakura yang sekilas menundukkan kepala kearahnya saat mata mereka tak sengaja bertemu mungkin sebagai ganti ucapan maaf. Tersenyum tipis mengatakan tidak apa-apa sebelum meraih diktat tebal miliknya.
Dia kehilangan dua jam untuk matematika dan dua jam untuk ekonomi rumah tangga. Pelajaran yang cukup membuatnya menua dini, maka dari itu sebelum dia mendapatkan ceramah panjang dari ibunya karena nilainya merosot dia mencoba untuk belajar di pergantian jam sebelum guru datang.
"Sa-" Ucapannya menggantung saat dengan pelan tubuhnya berbalik kebelakang. Naru lupa akan sesuatu menutup mulutnya secepat mungkin sebelum si penerima sadar akan panggilannya tadi. Berbalik dan kembali focus pada bukunya. Dia merutuki kebiasaannya yang dulu. Mengandalkan Sasuke di segala bidang. Dan sekarang dia menyesal karenanya.
Mungkin dulu saat dia tertinggal pelajaran dia pasti akan memaksa Sasuke untuk menjelaskan ulang teori yang disampaikan tidak lupa makian pria itu padanya saat otak yang biasanya bekerja secara lancar tiba-tiba menjadi bebal. Naru lupa jika kini adalah sekarang bukan dulu dimana semuanya telah berubah. Naru mencoba untuk tetap focus pada materi-materi beruntun di diktatnya. Ini gila dia tidak terlalu paham untuk hal ini. disana Sasuke tengah berbincang dengan Sakura meski pria itu lebih banyak diam dan dia tidak tahu harus bertanya pada siapa. Shion dan Karin mereka tidak akan bisa membantu mereka lebih sering meminjam buku catatan dari pada dipinjam.
"Ini. cepat tulis dan kembalikan" satu buku tulis terlempar di mejanya. Naru mendongak dengan mata membulat. "Apa?! meragukan catatanku?!" Gaara menggeram kecil saat Naru membolak-balikkan buku tulisnya. Memang seingatnya dia menulis mungkin sebelum Masehi jadi jangan salahkan jika catatannya sangat absurd nyaris tidak terbaca. Dan ini pertama kalinya selama dia masuk SMA menulis pelajaran yang sungguh membuatnya ingin membuat pulau di mejanya sendiri.
Naru mengerjapkan mata berkali-kali sebelum tertawa dengan lepas dibangkunya. Tidak peduli jika beberapa diantara mereka terganggu dan menganggap kepalanya masih sakit. Tapi sungguh dia tidak menyangka jika buku catatan tadi milik Gaara. Kapan pria itu belajar menulis? Naru berdehem sebentar menormalkan suaranya setelah melihat Gaara yang menyalak kesal kearahnya. "Oke… ehm.. jadi sejak kapan kau mencatat? Yang ku tahu kau hanya tidur selama jam pelajaran"
"Siapa yang mencatat? Dia? kau yakin?!"
"Aku berani bertaruh lima puluh ribu yen pasti bukan dia!"
Gaara belum sempat melancarkan protes untuk Naru tapi dua suara yang sungguh benar-benar tidak ingin dia dengar untuk memalukannya kini datang sendirinya bersamaan dengan salah satu tangan dari mereka memegang tas plastic penuh makanan. Kenapa mereka tidak menghabiskan dikantin saja. Gaara hanya berharap namanya tidak morosot saat ketahuan dua perempuan gila itu.
"Kalian dari mana?" Naru mengalihkan pembicaraan tidak tahan juga melihat wajah milik Gaara yang minta di kasihani. Gaara pergi meninggalkan tempat menuju bangkunya tidak peduli ledekan terus terarah padanya dari Karin. Gaara tidak ingin ambil pusing dengan gadis itu. meladeni Karin bukan kegiatan favoritnya.
"Dari kantin" Shion menjawab dengan mengangkat tas plastic berisi beberapa roti melon dan susu kotak didalamnya. "Hinata yang membelikan. Dia juga yang mentraktir kita tadi" Lanjutnya dengan melirik Hinata yang sudah duduk dibangku dengan sebuah buku dan bolpoin ditangan.
Menatap Hinata di balik punggung Shion dan Karin. "Hinata? Untuk apa dia mentraktir kalian?"
Mengangkat bahu dan menghempaskan diri di bangku samping Naru yang menerima makanan tersebut dari Shion. "Tidak ada acara apa-apa. dia selalu mentraktir kami atau mungkin anak-anak sekelas yang lain. mungkin dia anak orang kaya sehingga tidak terlalu memperdulikan isi kantongnya"
"Saat pergi makan atau karaoke dengannya aku yakin kau tidak akan pernah mengeluarkan uang sedikitpun. Dia selalu membayar semua tagihan kami" Karin menyambung dengan kalimat setengah berbisik, menjaga dari pendengaran Hinata yang tak jauh dari jangkauan jarak. Karin buru-buru menggerakkan kedua telapak tangan ketika mendapati Naru mendelik memberikan pandangan menuduh padanya. "Ooo….. itu bukan kemauan kami seperti kami meminta uang padamu dulu. Dia sendiri yang selalu menawarkan diri. Mungkin karena itu anak-anak dulu yang kenal atau pernah sekelas dengannya selalu menganggapnya seperti dompet"
Naru mengalihkan pandangan pada Hinata yang sibuk dengan buku tulis. Dilihat dari manapun Hinata hanyalah gadis pasif, hanya itu yang dia tahu. Menggidikkan bahu pelan dan mencoba untuk tidak perduli pada Karin yang tengah mengeluh tentang nail art yang baru di pakainya. Tidak juga Shion dengan segala makian untuk Karin. Naru memilih untuk menyalin catatan milik Gaara meski berkali-kali mengernyit tidak paham dengan tulisan 'indah' milik Gaara.
Demi apapun dia tidak sengaja. Naruto hanya menolehkan kepala saat dirasa pegal dengan kepala yang menyangga leher. Hingga mata miliknya harus bertubrukan dengan kelamnya mata milik Sasuke yang entah sudah menjadikan dirinya sebagai obyek tetap. Naru mengusap tengkuknya sebelum mengalihkan perhatian pada arah lain. bukannya tidak suka hanya saja dia tidak terlalu suka dengan tatapan Sasuke yang terasa mengintimidasi.
:: :: Janus :: ::
"BRENGSEK! APA MAUMU HAH?!"
"APA MAUKU?! APA YANG KU MAU DARI PRIA BRENGSEK SEPERTI MU?!"
"JAGA MULUTMU!"
"KAU YANG JAGA KELAKUANMU! KAU PIKIR AKU TIDAK TAHU KAU PERGI DENGAN PELACUR-PELACUR ITU HAH?!"
"BUKANKAH SUDAH KU BILANG MEREKA REKAN KERJAKU!"
"OH YA?! ADAKAH YANG RAPAT DI DALAM MOTEL?!"
Suara benda pecah atau suara makian saling sahut menyahut. Dan Gaara benar-benar tidak menyukai ini meski berulang kali di dengar. Tidak seperti music pop, hip hop atau heavy metal yang sering dia dengar berulang kali namun masih tetap menyukai mereka. Di bandingkan music ini seperti makanan, terlalu sering dia makan hingga perutnya tak mampu menahan lagi.
Mungkin ini yang sekarang dirasakan rasa. Dia ingin mengeluarkan semuanya. Membuka dengan asal pintu kamarnya hingga mungkin akan melepaskan engsel pintu yang terpasang, menuruni tangga dengan lari paling cepat yang dia miliki. Menuju sumber 'makanan' yang semakin lama semakin jelas.
"LALU APA MAU MU HAH?!"
"KAU INGIN KITA BERCERAI?!"
"KALAU KALIAN INGIN BERCERAI CEPAT BERCERAI?!"
Dia tidak ingin mengatakan jika tindakannya ini nekat atau untuk mengeluarkan emosinya Gaara hanya ingin menyalurkan sarannya. Jika dia bicara pelan tidak bisa di dengar mungkin dengan berteriak lantang di depan, mereka akan mendengarnya. Gaara tetap diam saat mata tajam ayahnya menyorot padanya. dan tidak peduli dengan ibunya yang menutup mulut terkejut
"Apa kau bilang?" ayahnya mendesis dan Gaara mencoba untuk tidak takut atau bahkan mungkin sekarang dia tidak takut sama sekali. Tidak seperti saat dia kecil yang selalu menangis berlari ke dalam pelukan ibunya saat mendapat delikan atau desisisan tajam. Seperti yang dia rasakan sebelumnya. Sudah terbiasa.
Mengangkat dagu dan tersenyum manis dengan kedua tangan berada dalam saku celana. "Apa ayah tidak dengar? Aku hanya mengatakan jika kalian ingin bercerai maka cepatlah bercerai. Aku hanya memberi saran dari pada kalian terus berteriak seperti ini. bukankah membuang-buang tenaga?"
Hal yang sangat dirasakan Gaara adalah hantaman keras yang menuju rahang tegas miliknya. Bibirnya mungkin robek setelah dia bisa mengecap rasa asin berbau anyir dimulut. Mungkin terlalu gila untuknya hingga dia hanya bisa memberikan sebuah seringai pada ayahnya yang menatap murka dengan serangkaian serapah yang bisa dia keluarkan. Bangkit dan pergi berlalu begitu saja, tidak peduli dengan ayahnya yang meneriaki namanya dan bertanya sopan santun yang dia miliki.
Gaara berhenti di depan pintu dan berdecih. Jika mereka menyakan sopan santun yang pernah dia ingat di memorinya mereka hanya memberikannya sebuah uang untuk menyewa guru tata krama daripada mengajarinya sendiri. Jadi untuk apa sopan santun jika mereka saja tidak peduli.
:: :: Janus :: ::
Naruto mengeratkan sweater yang dia pakai namun tidak terlalu berfungsi dengan udara dingin yang kian menipis. Jika bukan karena kebutuhannya habis mungkin dia tidak akan pergi malam-malam hanya untuk pergi ke supermarket. Dia lebih suka meringkuk di selimut hangat di kamar atau mungkin menuruti ibunya untuk mengerjakan beberapa soal.
"Yo Naruto!"
"Oh Ya Tuhan!" Naru berjengit kaget saat sebuah namanya menyapa, membalikkan badan menatap seseorang dengan tudung hoodie yang menutupi seluruh kepala hingg warna merah menyapa. Dan Naru sudah siap untuk berteriak marah karenanya. "HEI! Kau mengangetkanku bodoh!"
Gaara menyembul dibalik hoodie hijau yang dia pakai sebelum tertawa lepas menatap ekspresi wajah perempuan di depan. Melotot sempurna seperti ingin memakannya hidup-hidup. Dia bahkan harus memegangi perutnya karena sakit. "Hahhaha Naru sungguh aku bersumpah seperti melihat ikan koi diwajahmu! Hahahaha kau benar-benar lucu"
Naru mendesis sebelum memukul kepala Gaara dengan keras menggunakan tangan kirinya yang kosong. Naru sangat yakin dia menggunakan seluruh kekuatannya. Terbukti dengan Gaara yang mengaduh kesakitan. "Ouch! Sakit bodoh!"
"Apanya yang lucu!" Naru kembali melotot marah sebelum pandangannya teralih benar-benar menatap Gaara dengan luka lebam di ujung bibir. Mengernyit pelan sebelum mengehela nafas. "Kenapa kau selalu terlibat masalah?"
"Huh?" Gaara mengernyit tak mengerti saat Naru menarik kerah hoodie yang dia pakai mendekat hingga tubuh tegap miliknya membungkuk. Benar-benar menatap gadis pirang tepat pada kedua mata biru cerah yang entah kenapa seperti magnet yang menariknya mendekat.
"Kenapa selalu aku yang mengobati lukamu?!" gerutu Naru dengan sebuah plester bergambar yang sudah berada ditangan untuk ditempelkan pada luka Gaara, mendengus kesal karena mengingat pertemuan pertamanya dengan laki-laki ini dengan hal yang sama dia lakukan sekarang. Naru berpikir jika Gaara terlibat perkelahian antar pelajar atau tergabung dalam gangster.
Awalnya dia hanya ingin berjalan-jalan sebentar karena Itachi yang terus mengusiknya di dalam kamar. Bertanya ini itu yang membuatnya terkesan seperti anak kecil. berjalan-jalan sebentar dan mungkin pergi sebentar ke rumah Naru yang hanya berjarak tiga blok dari rumahnya. Dan kini Sasuke berhenti di sini. Berada diseberang tempat Naru berada, menyaksikan dengan begitu jelas bagaimana Naru dengan telaten mengobati luka milik pria yang baru saja dia ketahui bernama Gaara.
Tangannya terkepal erat, dia tidak pernah tahu tentang hal ini. Naru yang begitu dekat dengan Gaara yang tidak pernah dia kenal. Naru bukan gadis yang mudah berteman itu yang dia tahu meski gadis itu terlihat fleksible, tapi sekarang seperti ada dinding beton pembatas diantara mereka. Dan mungkin benar Sasuke menyesal tapi dia tidak mudah menyerah, bukan untuk mendapatkan Naru sebagai kekasihnya kembali tapi untuk mendapatkan perhatian Namikaze Naruto kembali.
:: :: Janus :: ::
There's an empty world deep in my heart, save me
I wanna reset , I wanna reset , I wanna reset
Lonely eyes trapped in darkness
Is there anyone to hold my hand?
I wanna reset , I wanna reset , I wanna reset
(Tiger JK (feat. Jinshil of Mad Soul Child) – Reset)
:: :: Janus :: ::
TO BE CONTINUED
Ah…. Gomen.. aku bener-bener minta maaf baru bisa lanjut chap ini sekarang. Maaf yang udah nunggu lama, aku nggak bisa update kilat soalnya. Selain karena ada tugas sekolah yang menumpuk aku juga nulis di fansite lain jadi aku harus bener-bener bagi-bagi waktunya.
Makasiiih banget yang udah reviews fic ini baik lewat PM maupun kolom review, maaf nggak bisa sebutin satu-satu dan nggak sempet bales review kalian tapi sebagian udah aku bales kok… apapun review kalian selalu aku terima kok, meski aku telat update tapi aku selalu baca komen kalian kok..
Dan mungkin kebanyakan pada kesel sama Sasuke dan Sakura ya? Mungkin ada yang bingung dengan masalah Sakura disini, jadi aku jabarin disini. Sebenarnya dulu waktu SMP sakura pernah jadi korban bully disekolahnya sampe-sampe dia mau bunuh diri saking putus asanya. Sejak saat itu Sakura paling takut kalo ditinggalin atau dicuekkin orang yang dia sayang. Soalnya dia udah ngerasain gimana sakitnya dicuekkin *aku juga kok T.T* dan karena dia suka sama sasuke nembak sasuke (chap 1/2) tapi Sasuke nolak dan penolakan itu yang bikin Sakura drop dan jadi bunuh diri karena Sasuke kasihan sama nasib sakura jadinya dia berkorban perasaannya. Dan maksudnya Sasuke di chap 4 itu kalo misalnya Sakura udah bener-bener bisa move on dari dia, Sasuke pengen balik lagi sama Naru soalnya dia masih sayang sama Naru..
Jadi ada yang masih kesel sama Sakura atau Sasuke?
See you next chap
Jaa ne
Crysantimum Bluesky
