Mendorong bahu dengan satu tangan. Menyisir rambut dan menjambaknya secara paksa agar mendongak menatap orang di depannya. Tersenyum manis tanpa peduli seseorang meringis kesakitan karena helaian rambut yang dia tarik kasar bahkan mungkin akan tertinggal di dalam jemari.
"Kau tahu apa yang paling ku benci?" tanpa jawaban, dan menantang setiap tatapan yang di lontarkan meski rasa sakit tetap menjalar. Melepaskan tangan dan menepuk sebelah pipi dengan pelan. "Orang-orang bermulut besar sepertimu"
Mendekat, mengintimidasi orang yang tepat berada di depannya, masih menatapnya meski tubuh bergetar ketakutan. "Seseorang yang lemah dan berpura-pura menjadi penguasa. Menyedihkan"
Berbalik dan pergi meninggalkannya yang masih bersandar pada dinding beton berlumut, dengan rambutnya yang rusak, dan dengan beberapa luka serta kotoran di tubuh. Berjalan perlahan dengan dagu terangkat. Sebelum sebuah suara menghentikan langkah.
"Aku bersumpah akan membalas setiap perbuatan yang kau lakukan"
Tertawa pelan dengan bahu yang bergerak naik turun, menunggu kelanjutan setiap kata.
"Namikaze Naruto"
Menghela nafas pelan menolehkan sedikit kepala tanpa menggerakkan badan, "Hm… aku tunggu"
:: ::
:: ::
6th JANUS
Namikaze Naruto || Uchiha Sasuke || Sabaku Gaara || Haruno Sakura || and another
Romance || Angst || Friendship
Naruto©
Janus©ChrysantimumBluesky
T
Warning :
AU, OOC, Gender Switch, FemNaru!
:: ::
:: ::
You're not bad girl, You're not bad girl
The tears shed for me, put those tears away
She will be hurt, hurt because of me, so I need to hold it
(Boyfriend_Janus)
:: :: Janus :: ::
Menangkup dagu dengan sebelah tangan, memainkan ujung sedotan dengan jari dan menyeruputnya perlahan, menatap orang-orang yang ada di depannya. Yang begitu berisik dan begitu menyedot perhatian orang-orang disekitar mereka karena begitu berisik hingga mengganggu telinga. Ini bukan pertama kalinya dia pergi ke café sepulang sekolah atau di tempat lain seperti karaoke. Tapi tetap saja dia sedikit merasa asing meski Karin dan Shion ada disana dan mengajaknya untuk bersosialisasi. Satu tahun lalu hanya dia isi dengan belajar, sekolah, les tanpa bersenang-senang jika ada itupun hanya beberapa kali tidak sesering ini.
Setidaknya ada 6 orang yang ada disana hari ini. jika itu kemarin mungkin akan ada sepuluh orang bahkan lebih dengan mulut – mulut yang tidak akan pernah berhenti bicara entah itu apa. yang Naruto tahu selain Karin dan Shion adalah Hotaru karena gadis itu selalu bersama dengan Konan dan bagaimana Naruto tahu Konan jawabannya hanya satu dia dan Pein sudah resmi dan mereka adalah pasangan paling berisik untuk tidak diacuhkan.
Satu lagi Hyuuga Hinata, dan Naruto selalu menatap gadis itu karena siapun yang mengajaknya bergabung gadis itu selalu ada, selalu pasif dan cenderung diam saat melakukan apapun entah di café atau tempat karaoke dan berakhir menawarkan diri untuk membayari semua yang mereka habiskan. Seperti kali ini saat semuanya pergi hanya tinggal Hinata di counter kasir untuk membayar semua pesanan dengan kartu kredit yang Naruto tahu selalu berganti-ganti. Sekaya apapun dia ibunya hanya memberinya satu dengan jumlah terbatas.
"Oh Hinata kami tunggu diluar ya?"
"Iya.."
Seperti biasa juga Hinata selalu menjawabnya dengan pelan dan berbisik. Naruto mengernyitkan dahi dan menolak Karin yang mengajaknya untuk pergi terlebih dahulu menyuruh mereka menunggunya di depan sementara dia sedang berjalan menuju Hinata. Dan Naruto bisa melihatnya bagaimana wajah gadis itu sedikit mengkerut ketika mengambil kartu kredit di dalam dompet. "Untuk enam murid tolong"
"Pakai punyaku saja" mengulurkan tangan mendahului Hinata. Tanpa melihat reaksi gadis itu yang menatapnya. Dan pergi begitu saja ketika kartu kreditnya kembali ditangan dengan Hinata mengikuti di belakang.
"Sebenarnya pakai punya saja tidak apa-apa. kau tidak perlu mengeluarkan uangmu" intonasi Hinata masih sama begitu pelan tapi kali ini dengan begitu lancar.
Menghentikan langkahnya dan kemudian memposisikan tubuh menghadap Hinata. "Aku tidak suka jadi biarkan aku yang bayar. Tapi… apa yang kau beli dengan uang?" memberikan jeda melihat Hinata yang menatapnya dengan kening berkerut. "Makanan? Minuman? Voucher karaoke? Teman? Atau… waktu?"
Mengalihkan pandangan dengan melirik sekitarnya, Hinata mencoba untuk berpaling. "Apa maksudmu?"
"Benar… kau menghabiskan uang dan orang akan menghabiskan waktu denganmu. Maaf jika aku menyakitimu tapi… aku tidak mau menjual waktu 10 menitku denganmu."
Meninggalkan Hinata sendirian berlari kearah Shion dan Karin, dia tidak salah dan dia tidak menghina atau menyakiti Hinata. Naruto hanya ingin mengatakan apa yang dia katakana dan dia tidak menyukai orang-orang yang menipu diri mereka sendiri.
Bagi Naruto mungkin akan terlihat mudah untuk mendapatkan seorang teman tanpa berusuah payah gadis itu cantik dan pintar serta mungkin dia terlalu bersinar, hal hal yang Hinata tidak punya. Meski gadis itu memiliki orang – orang yang membencinya tapi Naruto selalu mempunyai orang yang perduli padanya tanpa sebuah imbalan, hal yang begitu sulit untuk Hinata. Karena pada dasarnya dia tidak tahu harus bagaimana dalam berteman keculai memposisikan diri agar terlihat di mata orang lain.
:: :: Janus :: ::
Bersiul pelan, menikmati udara pagi. Berjalan santai dengan tas yang disampirkan di pundak. Gaara berjalan dengan tangan berada di saku celana. Menyipitkan mata saat melihat Sasuke berada di depan gerbang sekolah dengan tas yang masih menggantung di bahu. Itu berarti dia belum masuk kelas.
Mengernyitkan dahi dan berjalan kearah laki-laki itu. sesekali Sasuke melihat kearah kanan dimana bis berhenti dan menurunkan penumpang. Anak sekolahan seperti mereka. Dan Gaara memberikan menarik bibirnya keatas begitu tahu apa yang membuat Sasuke harus tertahan di depan sekolah.
"Good morning Uchiha-san" menyapa dengan nada di naik turunkan. Tersenyum lebar dengan mata yang menyipit, hampir tertawa lebar. Dan Sasuke cukup tahu jika panda –julukan Sasuke untuk Gaara- sedang mengejeknya. "Ada dengan Lord Uchiha yang harus menunggu disini?"
Tidak menjawab dan hanya melirik melalui ekor mata. Menunjukkan gesture tubuh secara terang-terangan bahwa Gaara tidak ada hanya sebuah halusinasi meski laki-laki itu secara terang-terangan juga kembali mengejeknya dengan kata 'Lord'. Sasuke tidak ingin paginya harus bertambah buruk dengan meladeni Gaara yang pada akhirnya hanya berakhir dengan saling adu mulut tidak berguna.
Gaara tidak berhenti meski Sasuke terlihat sangat jelas tidak mau berbicara dengannya. Mengambil tempat di sisi kanan Sasuke di gerbang sekolah. Mungkin mereka terlihat seperti penjaga sekolah di sisi kanan dan kiri. "Menunggu Naruto eh?"
Kali ini Sasuke merespon, lalu Gaara memberikan seringai terbaiknya saat bagaimana pria Uchiha itu menoleh dan menatapnya dengan alis yang menukik tajam. Tatapan tajam dan sayangnya sama sekali tidak berpengaruh. "Woaah…. Aku bisa menjadi peramal yang hebat bukan?"
"Kenapa kau tidak pergi dari sini pergi ke kelas dan tinggalkan aku?" Sasuke tidak pernah tahu kenapa Gaara selalu ada disekitarnya dan mengacaukan semuanya. Dia tidak mengenal Gaara sebelumnya dan tidak pernah mengharapkan untuk mengenal Gaara. Tapi berada di dekat Naru maupun tidak pria Sabaku tersebut selalu menguras emosi miliknya. Dan Uchiha tidak akan menunjukkan kelemahan.
Gaara terkekeh kecil dan menunduk. Kembali menatap Sasuke dengan senyuman skeptis. "Kenapa kau tidak menunggu kekasihmu saja dari pada menunggu gadis lain?"
"Bukan urusanmu!" berdiri tegak mendekat kearah Gaara dengan membusungkan dada. Memberikan tanda menantang pada laki-laki di depannya. "Urus urusanmu sendiri"
"Kenapa tidak? Apapun tentang Naru itu adalah urusanku" melakukan hal sama yang dilakukan oleh Sasuke. Menatap secara terang-terangan pada mata hitam kelam yang menyala di depannya.
Tangannya terkepal di kedua sisi tubuh. Siap menghantam wajah menyebalkan milik Gaara. Memukul telak bibir tersebut, ucapan Gaara yang tidak pernah ingin dia dengar. Bersiap dengan kepalan tangannya.
"Hei! Apa yang kalian lakukan?"
Suara itu. datang di tengah-tengah mereka. Sasuke merilekskan tangannya dan Gaara memundurkan tubuhnya. Secara bersamaan baik Gaara dan Sasuke menoleh. Menatap Naruto yang sudah berada di sana. Dengan kedua tangan terlipat di depan dada, kebiasaan baru gadis itu. menatap mereka dengan kening mengernyit. Naruto tidak mau ikut campur masalah mereka, hanya saja untuk apa mereka berkelahi pagi-pagi seperti ini. tapi dibandingkan itu Naruto juga tidak perduli tentang mereka yang ingin berkelahi hanya saja asal jangan menghalangi jalannya, itu saja.
"Ohayo"
"Hai Naru-chan?"
Keningnya berkerut semakin dalam. Sejak kapan Sasuke suka mengucapkan selamat pagi? Sejak kapan Gaara memanggilnya –Chan? Dia ingat ini bukan bulan April dan bukan hari ulang tahunnya. Menghela nafas dengan kelakuan aneh dua pria itu. "Kalian kenapa? Salah makan? Dasar aneh"
Berlalu pergi begitu saja. meninggalkan Gaara yang melongo di tempatnya dan Sasuke yang mendengus kasar. Kesempatannya untuk berbicara dengan Naruto pagi ini harus hilang, menyalahkan Gaara karena hal ini. kedua pergi dengan tubuh saling dorong menyalahkan. Meninggalkan seseorang yang berdiri tak jauh dari tempat mereka.
Sakura melihatnya. Sejak pertama Gaara datang dan mendengar sejak pertama Gaara memulai pembicaraan. Dia hanya tidak sengaja dan tidak ada niat untuk menguping. Melihat Sasuke berdiri di sana berharap jika pria itu datang lebih awal dan menunggunya. Tapi ucapan Gaara harus membuatnya terhempas. Seharusnya dia tahu jika akan begini. Meski status mereka adalah pacaran, namun Sasuke tidak pernah menganggapnya begitu. Seharusnya dia tahu rasa sakitnya tapi entah kenapa masih terasa bahkan lebih. Dia tidak ingin membenci Naruto hanya saja dia merasa ini tidak adil untuknya.
Kenapa Naruto?
Kenapa bukan dia?
Dan Sakura benci harus menjadi nomor dua.
:: :: Janus :: ::
Mengerjapkan mata dan mengusap tengkuk, situasi yang benar-benar canggung untuk seorang Namikaze Naruto sekarang. Duduk berhdapan dengan sebuah buku dan meja menjadi pembatas. Sakura ada di depannya masih sama, menatapnya dengan senyum kikuk. Mungkin juga canggung, ini pertama kalinya setelah semua insiden yang terjadi bagi mereka untuk bertatap muka secara langsung tanpa perantara Ino atau yang lain. bukan anggukan atau sapaan saat mereka berpapasan. Ini secara langsung.
Berawal dari ide cemerlang Kurenai Sensei untuk memasangkan muridnya menjadi dua orang untuk sebuah kelompok kecil, membahas tentang hukum fisika selama pelajaran kosong sementara dia sedang berada di ruang rapat dan satu pertanyaannya kenapa harus mereka yang ada di dalam daftar kelompok milik Kurenai Sensei.
"Ehm" berdehem, mencoba untuk memulai pembicaraan jika tidak seperti ini maka tugas mereka tidak akan selesai dan Naruto tidak ingin menetap di perpustakaan terlalu lama. "Lebih baik kita bagi tugas saja kau mengerjakan hal 157 sampai 160 dan sisanya 161-163 aku"
Sakura mengangguk kecil dan mulai membuka buku dengan bolpoint yang sudah siap di tangan kanan. "Mm.."
Setidaknya dengan begini suasana canggung mereka bisa tertupi, Naruto dengan pekerjaannya begitu juga Sakura. Mencoba konsentrasi pada pekerjaan masing-masing. tapi Sakura tidak bisa. Meski sudah hampir setengah jam mereka berkutat dengan pekerjaannya Sakura tidak bisa focus dengan Naruto di dekatnya.
Sakura masing mengingat dengan jelas bagaimana pertemuan pertama mereka dan bagaimana dulu mereka bisa berteman. Hal yang tidak pernah Sakura duga. Dia tidak berencana untuk dekat dengan Naruto, dulu gadis itu begitu pendiam dan jarang berbicara dengan teman sekelas mereka hanya bicara jika perlu, selalu berkutat pada diktat, buku tebal, dan rumus serta kamus. Sakura tidak terlalu perduli awalnya. Hingga Sasuke mulai mendekat.
Uchiha Sasuke, pria yang menarik perhatiannya sejak pertama kali memutuskan untuk sekolah disini, selalu mencari cara untuk berdekatan dengan pria itu, menjadi pintar dan terkenal. Tapi Sasuke selalu enggan bicara dengan siapapun. Dan saat mereka berdua menjadi teman satu kelompok entah kenapa mereka terlihat dekat hanya dengan beberapa hari, Sasuke tersenyum, Sasuke bicara, dan cara Sasuke menatap. Semuanya terasa menyakitkan. Ketika dia bodoh untuk memutuskan sesuatu dia mencoba untuk mendekati Naruto tapi sialnya setelah satu bulan mereka berteman dia mendengar Uchiha Sasuke dan Namikaze Naruto menjalin hubungan.
Sakura menghentikan gerakan tangan. Menatap Naruto yang masih focus mengerjakan. Apa yang salah? Naruto cantik dan dia juga cantik. Naruto cerdas dan dia juga cerdas. Naruto memiliki teman dia juga memiliki teman bahkan lebih banyak. Tapi mengapa? Posisinya terasa masih di bawah Naruto. Dia bisa menjadi yang nomor pertama tapi kenapa begitu sulit jika itu bersaing dengan Namikaze Naruto. Meski gadis itu reputasinya burukpun masih ada yang membelanya seperti beberapa waktu lalu saat dia tidak sengaja melempar bola pada gadis itu dan Karin serta Shion terus menyumpahinya.
Awalnya Sakura tidak ingin membenci Naruto. Awalnya Sakura benar-benar ingin berteman dengan Naruto tapi tetap saja ada rasa tidak suka menyelip. Dan Sakura semakin tidak suka saat bagaimana dengan mudahnya Naruto bisa meraih Sasuke. Menggenggam erat bolpointnya menatap Naruto. "Kau beruntung ya?"
"Huh?" mengangkat wajah menatap Sakura dengan kening berkerut bingung. "Kau bilang apa?"
"Aku bilang kau beruntung"
"Maksudmu?"
Sakura menopang dagu dengan sebelah tangan masih tetap menatap Naruto yang semakin bingung dengan ucapannya. "Kau pintar dan cantik kau tidak perlu bersusah payah dalam menggapai sesuatu. Aku iri padamu"
"Kau bicara apa sih?" menegakkan tubuh karena sempat membungkuk untuk menulis, menghentikan pekerjaan dan berbicara dengan Sakura. "Lebih baik kau melanjutkan perkerjaanmu saja dari pada membicarakan hal yang tidak pen-"
"Sasuke!" Sakura memotong pembicaraan dengan nada naik satu tingkat, menatap Naruto dengan pandangan lain. marah, kesal, iri, tidak suka. "Sasuke! Sekeras apapun aku mencoba dia tidak pernah melihatku! Dia tidak pernah melihatku seperti dia melihatmu! Bagaimana rasanya?"
Naruto tidak menjawab, membiarkan Sakura terus meracau di depannya. Tidak ada kelompok lain disini hanya dia dan Sakura dan yang lain entah berada dimana.
"Bagaimana rasanya Naruto? Dikejar dan di perjuangkan pria seperti Sasuke? Dan kau dengan bodohnya malah melewati dia? kau tahu aku perlu berjuang dengan keras untuk berada di posisiku saat ini. dan kau? Padahal Sasuke sudah bersamaku kenapa kau masih saja tidak melepasnya?! Setidaknya biarkan dia bersamaku!"
Sakura tahu dia terlihat egois sekarang begitu tamak dan meminta lebih tapi sungguh ini semua terlalu menyakitkan untuknya apalagi Naruto dengan mudahnya menolak Sasuke setiap waktu. Belum lagi insiden bola waktu itu, melihat bagaimana Sasuke begitu khawatir bahkan bertengkar dengan Gaara hanya untuk bisa membawa Naruto menuju UKS. Dan semuanya benar-benar menyakitkan hingga tidak bisa tertampung. Apalagi sekarang Naruto hanya diam menatapnya.
"Kau…." Setelah sekian lama Naruto mulai membuka mulut, menjawab semua hal yang dikatakan oleh Sakura. "Kau begitu menyedihkan hingga membuatku merasa kasihan padamu"
Menghentikan ucapannya sejenak dan menatap Sakura yang membuka lebar kedua matanya dan Naruto cukup tahu jika gadis itu tidak suka untuk dikasihani. "Jika dipikir-pikir bukankah kau yang menjadi alasan putusnya kami. harusnya aku yang mengatakan itu padamu. Dan sekarang kau menyalahkanku? Jika Sasuke tidak melihatmu bukan karenaku tapi karena kau yang hanya mengandalkan kelemahanmu sendiri"
Kembali mengerjakan soal-soal di depannya tidak lagi pada Sakura yang menggeser tempat duduk secara kasar hingga menyebabkan bangku yang dia duduki hampir terjatuh karena terlalu keras, meninggalkan Naruto yang masih berada di tempat dengan tangan yang terkepal erat dan wajah memerah. Mulai sekarang, hanya ada persaingan.
Menghela nafas dan berhenti menulis melirik sekilas kearah Sakura dan bergulir pada pekerjaan gadis itu yang tidak sampai setengah dia kerjakan. "Jadi aku harus menyelesaikan ini sendiri?"
:: :: Janus :: ::
Hari ini diakhiri dengan hal yang biasa untuknya. Bel pulang sekolah. Naruto membersihkan meja dan memasukkan semua buku ke dalam tas sekolah miliknya, dan pergi menuju pintu keluar meninggalkan Karin dan Shion yang masih berbincang di tempat.
"Oy Naruto! Hari ini hari yang special untuk Konan-ku kau mau bergabung bersama kami?"
Hampir saja Naruto tersedak ludahnya sendiri saat Pein mengatakan kata –ku diakhir kalimat. Pasangan itu benar-benar menakutkan. Menatap laki-laki yang menghadang jalan bersama Konan yang setia dengan memeluk lengan Pein. "Aku juga mengundang yang lain"
"Yang lain?"
"Iya yang lain.. Hotaru, Shion dan Karin.. ah Gaara juga ikut.. masih ada yang lain juga"
"Gaara?" Naruto mengernyit, menoleh menatap Gaara yang berada di belakang bersandar pada meja miliknya. Biasanya laki-laki itu tidak pernah bergabung tapi sepertinya dia mulai beradaptasi dengan siswa-siswa di kelas meski treadmark trouble makernya tidak bisa lepas. "Kenapa kau ikut? Biasanya langsung pulang ketika bangun"
Menggosok kepala dengan tangan dan menatap Naruto yang bertanya padanya memberikan senyum lebar. "Ku dengar mereka mengajakmu jadi aku ikut"
Ucapan Gaara ditimpali suitan dari beberapa penjuru kelas yang kebanyakan adalah anak laki-laki yang menggoda mereka sedangkan yang lain hanya cekikikan pelan. Dan mustahil bagi Sasuke untuk tidak mendengarnya, menoleh dengan cepat kearah Gaara dan Naruto yang memunggungi dirinya karena sedang berbicara dengan Gaara, Sasuke juga tahu jika Gaara tengah melemparkan senyum mengejek padanya.
Naruto menggulirkan kedua bola mata, tidak berniat menanggapi ucapan Gaara lalu beralih pada Pein dan Konan yang masih menghadang jalan. "Jadi bagaimana kau ikut tidak?"
"Ak-"
"Naruto bukankah kita memiliki jadwal les?!"
"Hah?"
Menatap Sasuke dengan mulut sedikit menganga, tidak mengerti ucapan laki-laki yang memotong ucapannya itu sebuah pertanyaan atau perintah. Mengerjapkan mata beberapa kali saat Sasuke berdiri dan menatapnya. "Bukankah kita ada jadwal les hari ini? ku dengar Asuma sensei akan mengadakan pre test besok, kau tidak ingin nilai mu turunkan?"
"Tapi aku-"
"Maka dari itu karena besok ada pre test kita bermain dulu merilekskan pikiran sebelum ujian" kali ini Gaara yang memotong ucapannya kembali menoleh kearah Gaara.
"Bagaimana jika nilaimu turun? Jika ibumu tahu kau membolos les lagi kau akan berakhir di rumah sakit"
Kembali menoleh kearah Sasuke. "Kenapa membawa-bawa ibuku?"
"Kau justru akan masuk rumah sakit jiwa jika kebanyakan belajar"
Lagi dan lagi menoleh kearah Gaara. "Kau menyumpahiku?"
Kepala Karin menoleh ke kanan dan ke kiri tidak hanya dirinya tapi beberapa orang yang ada disana juga melakukan hal yang sama. Shion mencibir pelan di bangku. "Apa ini drama remaja?"
Sakura menghela nafasnya lalu sedikit menarik ujung lengan baju milik Sasuke yang masih setia menatap Naruto. "Sasuke kita akan terlambat jika tidak segera pergi"
Mendengus keras Konan menghentakkan kakinya keras-keras dan menatap Naruto dengan alis yang menukik dan mata yang mendelik kesal. "Jadi kau ikut les atau kami?!"
Mengusap dahi yang tertupi poni Naruto menatap Pein dan Konan, melebarkan senyuman yang terkesan terpaksa. "Sebenarnya aku ada urusan dengan Kakashi Sensei jadi kalian bisa pergi tanpaku"
Dan kejadian seperti tadi pagi terulang kembali, Naruto yang pergi begitu saja tanpa menanggapi salah satu dari mereka.
:: :: Janus :: ::
"Aku pulang" Naruto berseru pelan saat membuka pintu besar rumahnya, mengganti sepatu sekolah dengan sandal rumah, ingin segera mandi dan berganti baju bimbingannya dengan Kakashi sensei cukup mengeluarkan banyak waktu hingga dia harus kembali di rumah pada malam hari.
Melongok ke dalam dengan kepala menoleh ke kanan dan ke kiri, ruang tamu dan ruang keluarga begitu sepi, biasanya ada ibunya yang bekerja disana atau menemani ayahnya dengan menonton TV. Naruto menghela nafasnya perlahan, setidaknya tidak ada ibu atau ayahnya yang akan mencerca dengan berbagai pertanyaan tentang bimbingannya dengan Kakashi Sensei yang dia tahu itu karena ibunya.
"Oh kau sudah pulang? Ganti baju dan kita akan segera makan malam. Ayahmu sudah menunggu"
Mendesah pelan saat suara ibunya terdengar dari arah belakang, hilang sudah harapannya untuk beristirahat. Naruto mengangguk dan dengan lesu berjalan menuju kamarnya merendam diri dengan air hangat, merilekskan diri sebelum menghadapi perang batin.
Disinilah pada akhirnya meja sidang Naruto berada, di meja makan dengan ayah berada di kiri dan ibu tepat berada di depannya. Naruto merasa kenyang seketika saat melihat ayahnya membolak balikkan lembar spesifikasi yang dia terima dari Kakashi sensei tadi. Dan ibunya sibuk memperhatikan daftar nilainya selama memasuki kelas dua disemester awal ini. dan tindakan mereka tidak bisa membuatnya menelan makanan dengan mudah.
"Jadi bagaimana kata Kakashi sensei mengenai hasil spesifikasimu?" Minato bertanya setelah selesai melihat laporan spesifikasi milik Naruto.
Mendongak menatap ibunya. Naruto menurunkan sendok dan garpu yang dia pegang menurunkan tangan hingga berada di pangkuan. "Kakashi sensei bilang mungkin aku bisa masuk di Universitas Tokyo"
"Nilaimu naik turun di semester ini. ku dengar kau juga membolos les beberapa kali. Bagaimana kata 'mungkin' bisa berubah 'pasti' jika kau bermalas-malasan seperti ini?" kini giliran Kushina yang berbicara dengan melempar daftar nilai tersebut diatas meja.
"Maaf aku akan berusaha lebih keras lagi" menunduk dengan mencengkram rok yang dia pakai saat ini, tidak mengangkat wajah menatap kedua orang dewasa di sekitarnya.
Minato meneguk air putih di depannya dan beranjak pergi meninggalkan Kushina dan Naruto yang masih berada di meja makan. Berhenti, dan berbicara tanpa menoleh. "Kau tahu jika ayahmu ini adalah seorang jaksa dan ibu mu adalah pengacara terkenal di kota ini.. aku ingin kau menjadi penerus kami dan tidak membuat kami kecewa padamu Naruto. Setelah ini pastikan kau mendapatkan nilai sempurna di semua mata pelajaran, selesaikan makanmu dan pergi belajar"
Mengangguk pelan dan kembali melanjutkan makannya dengan Kushina yang menyusul Minato pergi, setelah tidak ada seorangpun disana Naruto melepaskan sendok dan garpunya, menghela nafas perlahan. menatap langit-langit rumah. "Apa ini? kau mau menangis?" berbicara pada dirinya sendiri, Naruto menghapus ujung matanya yang bahkan belum sempat menetes. "Bukankah kau tahu kau hanya menjadi boneka"
:: :: Janus :: ::
"Hei hei hei! Apa kalian mendengar berita terbaru tentang Naruto?"
"Naruto? Namikaze Naruto?"
"Ternyata itu bukan hanya rumor! Itu benar! Dia ratu ijime!"
"Tidak mungkin!"
"Aku berani bersumpah! Kemarin ada anak yang mengatakan bertemu dengan Sakura, dia menangis setelah berbicara dengan Naruto, ku dengar bahkan Naruto mengatakan hal-hal yang buruk pada Sakura"
"Oh…. Ku pikir itu hanya rumor saja"
Langkahnya terhenti, meskipun Gaara tipikal orang yang tidak mau tahu urusan orang lain, tapi saat nama Naruto disebut sebut berulang kali rasa penasaran akan mengalahkan semuanya. Dan setiap koridor atau setiap ada anak yang berkumpul pasti akan mengatakan hal yang sama setiap katanya.
Gaara tahu Naruto tipe anak yang rajin dia selalu datang ke sekolah tepat waktu setiap paginya jadi tidak mungkin Naruto tidak mendengar semua yang mereka katakan, tidak seperti dulu yang tepat waktu, dan saat itu berhubungan dengan Naruto maka emosi lebih cepat dari pikiran rasional. Gaara mulai berlari di seluruh koridor mencari Naruto saat dia tidak mendapati gadis itu di dalam kelas seperti biasa. Terus berlari saat semua sudut sekolah tidak ada yang dia tangkap akan kehadiran Naruto.
Hanya ada satu yang belum dia kunjungi, atap sekolah. Lagi Gaara berlari tidak peduli dengan Yamato sensei yang berteriak untuk tidak berlarian di koridor sekolah. Gaara menaiki tangga dengan cepat dan mendobrak pintu dengan keras.
Ada. Gadis itu ada disana, berdiri di tepi pembatas mengamati hal-hal yang ada disana. Dan menoleh saat pintu dia buka dengan kasar. Tersenyum tipis kearahnya. "Kau akan di denda jika merusak pintu"
Tidak ada respon dari Gaara kecuali helaan nafas lega, berjalan dengan mengatur nafas yang memburu aPeint berlari terus menerus. berjalan kearah Naruto yang kembali pada focus pandangan di bawahnya. Mendekat hingga berdiri di samping gadis itu. tidak ada percakapan yang ingin Gaara mulai, yang dia lakukan hanyalah berdiri disamping gadis itu dan melihatnya secara langsung. Membuat Naruto mendengus jengah sendiri di tatap seperti itu.
"katakan saja jika ada yang ingin dikatakan"
Meski Naruto mengatakannya secara gambling tapi Gaara masih tidak memberikan tanggapan atau respon sama sekali. Laki-laki itu masih melakukan hal yang sama. Berdiri di tempatnya dengan arah pandang yang sama. Membuat Naruto harus mendengus untuk kedua kalinya, menatap Gaara dengan kesal. "Hei-"
"Kau tidak apa-apa?"
"Apanya?"
Gaara mendesis pelan melihat bagaimana Naruto menjawab dengan muka polos tidak bersalah miliknya. Bohong jika gadis yang sering di sebut pintar itu tidak mengerti apa ucapannya. Gaara mengarahkan jari telunjuknya ke kepala Naruto dan mendorongnya dengan keras hingga gadis itu mundur ke belakang.
"Hei! Kau gila!" mengusap keningnya Naruto berteriak kearah Gaara saatu laki-laki itu mendorong kepalanya, bagaimanapun tenaga Gaara berkali-kali lipat lebih besar darinya, mustahil jika itu tidak sakit.
Mengabaikan teriakan Naruto Gaara meraih kedua bahu gadis itu mengarahkan untuk melihatnya. "Kau bodoh?! Atau idiot?! Kau tahu apa yang ku maksud?! Orang-orang di luar sana mereka-"
"Mengataiku sebagai ratu ijime?" Naruto menggumam kecil tapi mampu memotong ucapan Gaara yang berapi-api. Naruto mendongak menatap ekspresi sendu Gaara yang menatapnya. Tersenyum lebar pada laki-laki itu. "Hei kenapa kau memasang ekspresi seperti itu? aku tidak apa-apa lagi pula aku sudah terlalu sering mendengarnya sejak SMP jadi itu bukan apa-apa bagiku"
Berjalan mundur melepaskan tangan Gaara dari kedua bahunya, Naruto kembali menatap orang-orang yang berada di bawah bermain bersama teman-temannya. Benar yang diucapkannya tadi dia tidak apa-apa. dia baik-baik saja. hanya saja entah kenapa dia ingin menangis. Entah dirumah ataupun sekolah semuanya seakan-akan pergi dari sisinya padahal mereka selalu ada dalam jangkuan matanya.
Dulu hanya ada belajar belajar dan belajar, dia terlalu kesepian sehingga tidak tahu jika ada namanya teman di dunia ini. saat masuk SMP dia melakukan semua cara untuk berteman. Tahun pertamanya di SMP dia habiskan dengan menjadi kunci jawaban, dan dompet untuk teman-temannya. Sebelum dia bertemu Shion dan Karin. Entah kenapa sejak saat itu dia tidak pernah merasa kesepian hingga dia kehilangan kontrol akan dirinya sendiri. di tahun ketiga ibu dan ayahnya mulai tidak percaya padanya, mereka marah dan kecewa. Dengan alasan mempermalukan nama keluarga apalagi ayahnya yang seorang jaksa. dan di tahun pertamanya di masa SMA dia harus kembali menjadi sebuah boneka.
Jika sekarang banyak orang menggunjing di belakang Naruto tidak akan pernah mau mendengar, ini hidupnya. Hanya dia yang mengerti akan hidupnya. Maka dari itu dia akan baik-baik saja. meski sendiri, dia akan baik-baik saja. bukankah seharusnya begitu?
Tangan Gaara terulur meraih lengan gadis itu, menariknya dengan begitu cepat. Membawa salah satu tangan di belakang kepala Naruto dan salah satu tangan di punggungnya. Mendekap erat hingga Naruto membentur dada bidangnya. Tidak perduli jika Naruto berteriak menyumpah meminta untuk di lepaskan.
"Hei?! Kau mau mati?!"
"Pembohong" Naruto terdiam, tidak lagi berteriak ataupun memukul Gaara berkali-kali. Tubuhnya kaku. "Kau pikir aku percaya? Kau tidak hidup sendirian di dunia ini. ada jutaan manusia di luar sana. Ada ratusan bahkan ribuan orang mengelilingimu, setidaknya ada beberapa orang yang kau panggil teman. Jika kau hanya diam semuanya hanya akan tertampung dalam otak kecilmu. Dan sayangnya semua ada batasnya. Tidak semuanya bisa kau tampung di dalam otakmu"
Terdiam dan mengambil nafas. "Kau baik, aku tahu itu. tapi sayangnya orang-orang disana tidak memandangmu seperti itu. kau bersembunyi di dalam duniamu sendiri. kau terlalu takut untuk menunjukkan diri. Jangan perdulikan mereka yang menghinamu. Memangnya siapa mereka? Apa mereka yang memberimu makan? Ini hidupmu. Dan hanya kau yang bisa menentukan hidupmu sendiri seperti apa"
"…Kenapa kau perduli?"
Gaara melepaskan Naruto, mendorong gadis itu sedikit menjauh. Memukul pelan kepala Naruto hingga dia menatap kearahnya. "Kau selalu marah-marah padaku dan melihat wajahmu yang seperti ini membuatku seperti orang gila. Maka dari itu berhenti membuatku khawatir dan hajar mereka"
Berbalik, memunggungi Naruto yang masih menatap kearahnya. Menatapnya tanpa berkedip, tubuhnya bergetar. Gaara yang dia kenal jauh berbeda dengan Gaara yang sekarang. Setiap kata yang pria itu ucapkan membuat tubuhnya merinding. Tidak bisa berkata apa-apa. mulutnya terbuka. Ingin mengucapkan sesuatu namun masih sedikit ragu untuk mengungkapkannya.
"Ga-Gaara! Sabaku Gaara!"
Ini pertama kalinya Naruto memanggil namanya. Gaara terdiam tanpa berbalik. Naruto menunduk perlahan sebelum kembali menegakkan tubuhnya dengan cepat. Kembali menatap punggung Gaara.
"Aku tidak suka bergantung dengan orang lain. aku juga tidak suka dianggap lemah. Maka dari itu kau tidak perlu khawatir mulai sekarang. Aku... aku pasti akan bisa melalui mereka!"
:: :: Janus :: ::
Membiarkan air mengaliri tangannya dan menangkup sebagian air dengan tangan. Naruto mencuci muka sebelum pulang. Dia tidak ingin terlihat kusut setelah di gempur dengan bimbingan tambahan pelajaran dari Kakashi Sensei belum lagi setelah ini dia akan mengikuti les. Kata istirahat masih jauh dari jadwalnya.
Menatap pantulan dirinya sendiri di kaca sebelum menghela nafas lelah dan melihat jam di tangan yang sudah menunjukkan pukul enam sore. Mengusap tengkuknya agar sedikit menghilangkan penat dan matanya yang mulai lelah. setelah dirasa cukup Naruto memtikan keran air dan berjalan keluar dari toilet sekolah yang sudah sepi.
"Ibu! Bukankah ibu bilang akan mengisi rekeningku lagi?! Ibu bisa mengatakannya pada ayah!"
Gerakan tubuhnya berhenti, suara di balik bilik toilet yang sudah tertutup dari tadi membuat Naruto berhenti hanya untuk mendengar, dia ingat suara milik siapa itu meski dengan intonasi yang berbeda. Hinata. Suara itu milik Hinata yang selalu bicara dengan pelan bahkan terkesan berbisik. Dan sekarang Hinata memiliki jenis suara yang baru didengarnya.
"Apa?! ayah memblokir kartuku?! Ibu! Kau ingin melihatku mati? Cukup bilang pada ayah untuk mengaktifkannya lagi! Bagaimana aku bisa menghadapi orang-orang?! Sudahlah lupakan saja"
'Cklek'
Terdiam kaku. Hinata berhenti di tempatnya. Naruto masih disana. Menatapnya dengan kedua tangan yang terlipat. Menatapnya dengan kening berkerut sebelum kembali membilas tangannya yang sebenarnya sudah bersih. Lalu kembali menatap Hinata yang masih terdiam ditempatnya. Hinata yakin Naruto mendengar semua yang dia ucapkan. Beberapa hali dia dipermalukan gadis itu dan mungkin harga dirinya akan kembali terinjak.
Berbalik. Naruto menatapnya lagi dan mengambil tisu untuk membersihkan tangan. Benar-benar pergi tanpa mengatakan apapun pada Hinata. Dan perlakuan Naruto kali ini justru lebih menyakitkan dari pada perkataannya tempo hari.
Tidak ada niatan untuk menguping yang Hinata bicarakan dan Naruto tidak ingin lagi mencampuri urusan gadis itu maka dari itu dia pergi meninggalkan Hinata begitu saja. dia tidak mau tahu apapun itu. itu hidup Hinata dan cukup Hinata yang tahu, dia tidak perlu terlibat di dalamnya. Dengan tas yang sudah berada di lengannya Naruto berjalan menuju lokernya. Mengganti uwabaki dengan sepatu.
Berhenti sebentar melihat loker milik Shion yang terbuka. Gadis itu kehilangan kuncinya sejak beberapa hari yang lalu. Naruto menggelengkan kepala melihat tingkah sembrono gadis itu. untuk tidak ada apa-apa di dalam loker itu keculai sepasang uwabaki miliknya. Setelah menggantinya Naruto menutup pintu loker.
"Oh!" berjengit kaget saat Sasuke berdiri disamping loker yang tadinya kosong. Laki-laki itu menyenderkan tubuh di sana. Terkekeh geli saat melihat wajah shock miliknya. "Kau mengagetkanku bodoh!"
Sasuke tidak menjawab lagi lagi tertawa kecil dan mengacak poni Naruto dengan tangan, "Hei! Kau bisa merusaknya!"
"Idiot" hanya satu kata yang Sasuke keluarkan namun cukup membuat Naruto ingin menendang laki-laki tersebut. Namun sayang dia harus menahannya karena setelah mengatakannya Sasuke pergi begitu saja meninggalkan Naruto di belakangnya yang tengah bersungut-sungut kesal.
"Dasar brengsek!"
Sasuke bisa mendengarnya bagaimana Naruto yang mamaki-maki dirinya dibelakang. Tidak berniat menoleh gadis itu sama sekali. Memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Mengepal di dalamnya. Rasanya terasa sesak.
Dia melihatnya. Siang tadi Sasuke melihatnya. Di atap sekolah. Naruto dan Gaara. Mereka berada disana. Hingga memutuskan pergi ketika Gaara bisa meraih Naruto ke dalam dekapannya. Hal yang begitu sulit untuk dia lakukan hingga sekarang. dan yang membuatnya paling kesal adalah. Gaara selalu datang terlebih dahulu.
:: :: Janus :: ::
There's an empty world deep in my heart, save me
I wanna reset , I wanna reset , I wanna reset
Lonely eyes trapped in darkness
Is there anyone to hold my hand?
I wanna reset , I wanna reset , I wanna reset
(Tiger JK (feat. Jinshil of Mad Soul Child) – Reset)
:: :: Janus :: ::
TO BE CONTINUED
Hai….. maaf baru bisa balik lagi…
Maaf udah ninggalin fic ini terlalu lama. Aku lagi sibuk sekolah sama tugas soalnya… ini aku juga selesai UAS.. mungkin aku bisa post beberapa minggu sekali atau bahkan mungkin 1 sampe 2 bulan sekali..
Kemarin banyak yang bilang kalo terlalu panjang.. sebenarnya aku buat lanjutan kok setiap chapternya akan semakin panjang. Dan makasiiiiiiiih banyak yang udah reviews fic ini maaf nggak bisa bales satu-satu,, dan ada beberapa pertanyaan yang sempat aku tampung.
Q: ini ntar kayak School 2015 nggak? Endingnya Naru milih Sasu daripada Gaara yang rela berkorban?
A: Ini emang mirip tapi soal ending akan lebih baik kalo kalian yang baca sendiri hahahaha karena pada aslinya ending masih berubah ubah dalam otak aku :V
Q: Kok Narutonya lembek banget sama Sakura?
A: Haha bukannya lembek tapi aku mau bikin perubahan dalam diri Naruto nggak secara langsung. Aku mau buat bertahap, karena ntar kalo tiba-tiba Naruto jadi cewek dingin, sarkam, kasar, srong girl secara tiba-tiba aku pikir itu bakalan gampang ditebak alurnya. Makanya aku buat bertahap sampe Naruto benar-benar bisa nunjukkin jati dirinya.
Q: hukum Sasuke lebih sadis lagi, buat dia semakin merasa bersalah karena mutusin Naru
A: aku lebih suka nyiksa secara perlahan hahaha *just kid* tanpa disiksa pun dia udah merasa bersalah.. hohoho
Q: Kenapa Sasu terkesan nggak peduli ya sama Naru?
A: Kenapa ya? Karena mungkin dia serba salah .. ato ada jawaban lain? -_-"
Q: Buat Sakura nyesel
A: it's will be happen baby… just wait for that *evil smirk*
Oke sekian balesan review dari saya moga kalian masih mau meriview fic ini lagi..
See you next chap
Jaa ne
Crysantimum Bluesky
