Pada kenyataannya Sasuke tidak pernah mengira akan terjebak dalam kisah romansa seperti ini. Tidak pernah terbayangkan atau merencanakan akan memiliki sebuah kisah roman picisan remaja. Selama ini yang Sasuke lakukan hanya bersikap seadanya dan berbicara seperlunya, tidak perlu di pusingkan atau direpotkan oleh hal lain. berkutat pada dunianya sendiri.
Tapi tidak selamanya Sasuke bersikap introvert, dia punya mata untuk melihat sekelilingnya. Dan itu dimulai saat semester pertama memasuki sekolah ini. awalnya dia tidak perduli dan hanya curi dengar dari sekelilingnya saja. Namanya Namikaze Naruto gadis peringkat kedua setelahnya dalam test masuk sekolah ini, berambut pirang mencolok dengan warna mata yang jarang dimiliki orang asia seperti mereka. Yang dia tahu adalah Naruto seorang gadis yang tidak pernah berulah dia gadis pendiam dan hanya focus pada diktat, ujian, dan nilai. Seseorang yang jarang bersosialisasi tiba-tiba menjelma menjadi gadis yang begitu dicari seisi kelas.
Sasuke tahu itu kenapa. Mungkin Naruto terlalu kesepian hingga dia mau menjadi kunci jawaban untuk siswa-siswa lain yang sering dia bilang teman. Ada beberapa waktu Sasuke melihat Naruto melamun di dalam kerumunan. Merasa sepi ditengah keramaian, Sasuke hanya mengerutkan dahi. Bukankah gadis itu sudah memiliki teman? Dan tugas dari Darui Sensei lah yang menjadi awal dari segalanya. Entah kenapa dan bagaimana mereka bisa dipasangkan padahal jelas-jelas nomor absen mereka begitu jauh, mereka sama-sama pintar bukankah terlihat aneh jika dipasangkan. Meski sangat canggung dan hanya diisi dengan mengisi kertas folio lalu mengetik di laptop masing-masing setiap membahas tugas tapi pada akhirnya Sasuke sendiri juga tidak tahu bagaimana persis alurnya mereka akan saling memanggil dengan nama depan atau saling memekik dan mengejek. Dan saat itu juga Sasuke benar-benar bisa merasakan kesepian milik Naruto.
:: ::
:: ::
7th JANUS
Namikaze Naruto || Uchiha Sasuke || Sabaku Gaara || Haruno Sakura || and another
Romance || Angst || Friendship
Naruto© M. Kishimoto
Janus©ChrysantimumBluesky
T
Warning :
AU, OOC, Gender Switch, FemNaru!
:: ::
:: ::
You're not bad girl, You're not bad girl
The tears shed for me, put those tears away
She will be hurt, hurt because of me, so I need to hold it
(Boyfriend_Janus)
:: :: Janus :: ::
Naruto mengernyitkan dahi ketika melihat Shion yang berjingkrak di depan lokernya sendiri seperti orang fans yang baru mendapatkan foto idolanya dengan Karin yang sibuk membenahi rambutnya akibat Shion yang mengguncang bahunya dengan keras hingga berakibat pada rambutnya juga. Berjalan kearah dua orang tersebut karena memang pada dasarnya lokernya berada di samping milik Shion.
"Dia kenapa?" berbisik pada Karin seranya mengeluarkan uwabaki pada loker dan mengganti dengan sepatu yang dia kenakan.
Karin mencibir pelan, berbalik dan menatap Naruto yang sudah selesai mengganti sepatu. "Dia menemukan kembali kunci lokernya. Si bodoh itu menghilangkannya di kamar"
"Ssh! Siapa yang kau bilang bodoh?!" memukul pelan kepala Karin hingga membuat gadis itu meringis sakit. Shion meraih pundak Naruto dan merangkulnya, membawanya pergi meninggalkan Karin yang masih meringis kesakitan di tempatnya. "Aku hanya lupa menaruhnya! Jangan dengarkan si idiot itu!"
Sebenarnya Naruto benar-benar tidak mengerti permasalah utama dari kedua orang yang masih saling teriak memaki di samping kanan dan kirinya. Yang bisa dia lakukan hanyalah menggeleng pelan seraya berjalan menuju kelas lebih dahulu meninggalkan dua orang yang masih sibuk berteriak di belakang.
Menggeser pintu kelas, seperti biasanya sudah ada beberapa murid yang datang mungkin lebih banyak dari biasa, Naruto datang sedikit siang hari ini. sedikit bingung saat melihat beberapa anak menatapnya kemudian berbisik bahkan Kiba langsung menutup mulut begitu dia datang. Kiba bahkan juga membantu Lee menutup mulut dengan salah satu tangan. Dan beberapa lagi sibuk dengan buku-buku mereka. Naruto tidak ingin mengambil pusing dan segera berjalan menuju bangkunya.
Berhenti, tepat di samping bangkunya sendiri. bukan karena dia sudah menemukan bangku yang biasanya ingin dia duduki tapi ada hal lain yang merusak matanya. Kini dia mulai mengerti kenapa beberapa anak memandangnya aneh, risih, dan kasihan. Naruto baru tahu jika salah satu siswa di kelasnya memiliki bakat seni yang tinggi. Naruto sungguh tidak tahu harus berkata atau berbuat apa, ini masih terlalu pagi untuk memberinya sebuah kejutan. Matanya bahkan masih melebar melihat sederet tulisan tercoret di meja. Lebih dari satu dengan tambahan gambar ekspresi. Kata-kata seperti Jalang! Wanita bermuka dua! Iblis! Ratu ijime! Pergilah! Tidak tahu malu!
"Hei! Kenapa tidak duduk?" Karin merangkulnya tanpa melihat tulisan –coretan dengan spidol berwarna- di meja miliknya. Mengerutkan dahi dan melihat kearah mana Naruto melihat, sama seperti reaksi Naruto matanya melebar terkejut. Shion bahkan harus mendorong Naruto ke belakang untuk bisa melihat dengan jelas tulisan berwarna warni yang mencolok mata.
"Siapa yang melakukannya?!" Shion bertanya getas, tidak berteriak tapi terdengar begitu marah. Tidak ada yang menjawab meski beberapa anak jelas-jelas mendengar apa yang dia ucapkan. Mereka lebih memilih berpura-pura sibuk atau mungkin tidak ingin terlalu untuk ikut campur urusan. Berbalik, menetapkan pandangan pada Shikamaru, si ketua kelas yang Shion tahu selalu datang lebih pagi. "Hei ketua! Siapa yang datang lebih dulu?"
"Entahlah, aku tidak terlalu memperhatikan" Shikamaru menjawab dengan tangan menopang kepala menjawab tidak tertarik, tidak mengalihkan pandangan dari buku dan tulisan tangan yang dia kerjakan saat ini.
Menghembuskan nafas kasar, Shion mengulangi pertanyaan yang sama pada mereka. "Siapa yang melakukannya?!" dan lagi-lagi ditanggapi sama. Tidak ada jawaban tidak ada respon. Shion memandang Naruto yang masih berekspresi sama dengan wajah yang kaku dan kedua tangan yang mengepal di sisi tubuh. Gadis itu bahkan menahan emosinya hingga wajahnya memerah seperti menahan tangis. Menggebrak meja Naruto dengan kasar. Dengan ucapan yang lebih keras dari sebelumnya. "Ku tanya sekali lagi! Siapa yang melakukannya?!"
"Kenapa kau kekanak-kanakan sekali? Hal seperti ini saja kau besar-besarkan?" Ajisai menjawab dari bangku urutan depan dengan nada geli beserta kesal. Ada beberapa soal yang harus dia pecahkan untuk mengejar nilainya yang buruk disemester lalu. Dan Shion harus menganggunya dengan teriakan tidak berguna pagi ini.
Tertawa kecil dengan menghembuskan nafas tidak percaya. "Kekanakan kau bilang?! Lalu ini apa?! Ini bahkan hal yang tidak akan dilakukan oleh anak TK!" Shion berdiri tegap menatap sekelilingnya yang benar-benar telah menjadikan dirinya beserta Naruto pusat perhatian pagi ini. "Hei dengar! Apa kami pernah meminta perhatian dan belas kasih kalian?! Apa aku pernah berkata untuk perduli pada Naruto?! Tidak! Tapi setidaknya tunjukkan rasa kemanusiaan kalian?! Bahkan binatangpun menyerang dari depan! Bukan seperti pecundang seperti ini!"
Setelah itu yang terjadi hanya sebuah keheningan. Ini bahkan lebih hening dari pelajaran matematika dari Kakashi Sensei, bahkan saat ujianpun masih ada yang berbisik saling memanggil tapi kali ini lebih hening dari ujian listening sekalipun. Shion dengan emosinya dan Karin yang sibuk menenangkan Naruto dalam rangkulannya.
"Ada apa ini? Kenapa aku mendengar suara ribut-ribut?" Gaara datang berdiri di belakang, membuat semua yang ada disana menoleh kearahnya kecuali Naruto yang masih berdiri menatap tepat di bangkunya. Dan jika tentang Naruto maka Gaara tahu ada yang tidak beres di suasana pagi ini yang menyangkut tentang Naruto. Berjalan tergesa dengan kearah gadis itu hingga bisa melihat coretan-coretan yang ada disana. Menggeram pelan dengan tangan terkepal melebihi Shion, mendesis hingga membuat Kiba dan Lee bersembunyi di balik punggung Pein yang masih duduk ditempat menyaksikan bersama Konan disamping. "Si brengsek mana yang berani melakukan ini?!"
Sama seperti Shion tidak ada yang menjawab kali ini mereka lebih mencari aman, tidak ingin berurusan dengan Gaara yang entah kenapa semakin berpihak kepada Naruto –menurut opini mereka- Gaara kembali mendesis pelan bersiap untuk bertanya yang kedua kalinya, Naruto menahan dengan sebelah tangan menarik lengan Gaara untuk mundur. "Sudahlah.. aku akan menukarnya di gudang"
Mundur satu langkah membiarkan Naruto melewatinya, gadis itu bersiap untuk mengangkat bangku beserta meja yang dia jadikan satu, mendorongnya untuk menuju gudang yang berada di belakang sekolah. Gaara mendengus kasar, berdiri menghadang Naruto yang bersiap untuk pergi dengan kedua tangan masing-masing di sisi meja. "Kau! Ini yang kau maksud melawan?"
"Jika kau sudah tahu memangnya apa yang akan kau lakukan? Meskipun kau memaki atau memukulnya sekalipun apa semuanya akan membaik?" saat itu Gaara berani bersumpah jika ada yang berbeda dari suara Naruto, sedikit bergetar meski gadis itu berbicara seperti orang berbisik, tapi indera pendengarnya masih bagus meski Naruto hanya menunduk tanpa menatapnya. "Jadi minggirlah"
Gaara tidak pernah tahu apa yang berada di dalam pikiran Naruto, gadis itu terlalu sulit untuk dimengerti atau mungkin gadis itu sendiri yang tidak ingin dimengerti orang lain. Gaara melempar tas yang dia pakai pada meja Naruto hingga membuat gadis di depannya benar-benar menoleh terkejut, berjalan kearah Naruto dan menggeser tubuh itu hingga mundur ke belakang dengan kasar. Mengangkat meja beserta kursi, membawanya ke belakang kearah bangkunya. Dengan keras Gaara menjatuhkan kursi dan bangku hingga membuat orang-orang di dalam kelas memekik dan juga terkejut.
"Kau pakai meja dan bangkuku dulu saja. tidak ada waktu untuk mengganti"
Selanjutnya Naruto hanya diam seperti patung batu, tidak berbuat apa-apa dan hanya membiarkan Gaara memindah bangku. Saat itu juga Sasuke datang dengan Sakura di belakangnya. Hari ini dia sedikit terlambat karena Sakura memintanya untuk datang menjemput, meski dengan keras hati Sasuke mengatakan iya. Berdiri diambang pintu dengan Sakura yang sudah berdiri di sisinya. Melihat bagaimana Gaara yang mengangkut bangku dan meja untuk Naruto, Sasuke tidak mengerti apa yang terjadi tapi satu yang ada dipikirannya ada hal aneh yang terjadi melihat kelas yang tiba-tiba hening, jika ini hari-hari biasa setidaknya dia masih bisa mendengar suara Kiba yang berbicara keras-keras di timpali Lee. Atau Konan dan Pein yang sibuk sendiri.
"Apa yang terjadi?" Sasuke bertanya pada Pein yang paling dengan jarak dia berdiri, menuju bangkunya di deret belakang.
Pein buru-buru menoleh kearah Sasuke yang berdiri disampingnya. "Oh! Kau bertanya padaku?" setidaknya Pein harus memastikan, ini pertama kalinya Sasuke bertanya ataupun mengajaknya berbicara meski bangku mereka bersebelahan.
"Seseorang mencoret-coret meja Naruto dengan umpatan. Kami tidak tahu menahu lalu Gaara dan Shion marah pada kami. maksudku itu bukan meja mereka! Untuk apa mereka harus dipusingkan dengan hal-hal seperti ini" Konan yang menjawab, dia mendengarkan pertanyaan Sasuke dengan jelas daripada pria itu menunggu jawaban dan Pein yang tidak tahu kapan akan dijawab.
"Lalu siapa yang melakukannya?" Sakura bertanya, ada rasa penasaran juga dalam dirinya. Naruto tidak pernah mendapat masalah-masalah besar seperti ini. Sakura sering mendengarnya dari gossip-gosip yang berkembang seperti di beri pupuk setiap hari.
"Entahlah.. tidak ada yang mengaku" Konan menjawab dengan membenahi eye liner miliknya.
Sasuke diam. Menatap Gaara yang sudah selesai memindahkan bangkunya, dan Naruto yang masih enggan untuk duduk. Gaara bahkan sudah bersiap untuk terlelap di bangku dengan salah satu tangan yang di lipat dan sebelahnya lagi tetap lurus untuk di jadikan bantal. Sasuke hampir saja berjalan menuju Naruto jika saja Terumi Sensei tidak datang. Sasuke harus menahan niatnya untuk ke sana. Duduk di bangkunya tetap melihat Naruto yang mulai duduk perlahan. Sasuke tahu gadis itu tidak baik-baik saja. tangannya terkepal, lagi lagi dan lagi dia kembali menjadi yang terlambat.
:: :: Janus :: ::
Hari ini benar-benar berbeda, dengan kejutan baru. Seperti kotak Pandora yang baru tahu isinya setelah kita buka. Naruto tahu tidak selamanya kehidupan akan berjalan dengan baik, setidaknya ada beberapa hari dimana dia benar-benar terjatuh seperti keledai. Dia tidak melarikan diri hanya saja di sana terasa begitu sesak dan hanya butuh udara segar, dia hanya ingin menghirup udara sebanyak-banyak untuk menghilangkan rasa sesak di dada semenjak pagi tadi.
Entah sejak kapan atap sekolah menjadi tempat favoritnya untuk berdiam diri. Mungkin tempat ini begitu sepia tau mungkin tidak akan ada orang lain yang bisa melihatnya. Melihat di bawah sana ada Shion dan Karin yang bermain bola bersama beberapa anak laki-laki. bukan sepak bola mereka hanya menendang atau melempar sesuka hati. Bukan mereka tidak memperhatikannya meski kejadian pagi tadi jelas-jelas mereka lihat hanya saja dia sendiri yang menyuruh mereka untuk diam tidak berbuat apa-apa dan kembali normal seperti biasa.
Terdengar munafik, bahkan dia tidak sanggup menanggulanginya sendiri. seperti badai yang tidak tahu kapan akan datang dan berhenti. Naruto juga manusia setidaknya ada satu orang yang ingin dia ceritakan, menemaninya hanya satu itu yang dia butuhkan. Karin dan Shion mereka terlalu baik, Naruto tahu ayah atau mungkin ibunya akan kembali marah ketika tahu dia kembali berteman dengan Karin dan Shion mengingat dulu orang tuanya hanya tahu mereka penyebab kenakalan yang pernah dia lakukan dulu. Mungkin mereka akan memindahkannya itu terdengar seratus kali lebih baik dari pada Shion dan Karin harus keluar karenanya.
Naruto mengusap kantung mata miliknya. Tidak, dia merasakan basah disana. Bukankah dia berjanji untuk tidak terlihat lemah. Kembali mengusap sebelah matanya saat ikut basah. Kenapa dia menangis? Bukankah hal seperti tadi hanya hal kecil? Naruto merosot dari duduknya dengan kedua tangan masih berada di beton pembatas. Menangis dengan keras disana. Berjongkok dengan tubuh menghadap tembok beton. Berharap tidak ada yang melihat wajahnya. Meruntuhkan niatnya untuk tidak menangis, tapi bagaimanapun dia tetap manusia. Dia memiliki emosi dan Naruto tidak bisa hanya menyimpannya. Ada saatnya dia ingin sendiri dan menumpahkan semuanya bersama angin. Itu lebih baik, setidaknya dia bisa melepaskan semuanya dan dengan begitu dia juga tidak akan terlihat lemah diantara semua orang yang menganggapnya lemah.
Sasuke berada disana. Berdiri di balik pintu yang tertutup. Mendengarkan suara tangisan kencang milik Naruto dari balik pintu. Tidak berniat untuk membukanya seperti Gaara tempo hari yang mendobrak pintu hanya untuk menemukan Naruto. Dia tidak bisa, dia terlalu jahat untuk itu. Jadi yang bisa Sasuke lakukan hanyalah bersandar di depan pintu memastikan tidak ada seorangpun siswa yang akan pergi menuju atap sekolah. Berdiri sebagai penjaga. Suara tangisan Naruto masih terdengar di telinganya, Sasuke bisa mengerti itu. dia melihatnya. Melihat semua tulisan yang berada di meja milik Naruto yang kini berpindah di tempat Gaara. Sasuke menggantinya dengan meja dan kursi yang layak dia ambil dari gudang belakang saat semua siswa pergi ketika jam istirahat. Gadis itu tidak bisa terus-terusan bergantung pada Gaara, bahkan laki-laki itu membolos di jam ketiga hingga sekarang.
Menghela nafas panjang. Sasuke berdiri dengan tegak saat bisa dirasa jika tangisan Naruto mulai mereda, menoleh kearah pintu yang tertutup. Dibaliknya mungkin ada Naruto yang berusaha menenangkan dirinya setelah menangis begitu panjang. Sasuke beranjak dari tempatnya. Menuruni tangga satu per satu. Setidaknya dia tahu jika Naruto adalah gadis yang pintar dia juga kuat jadi Sasuke percaya jika Naruto bisa melalui semuanya dengan baik.
:: :: Janus :: ::
"Hei hei kau sudah mendengarnya?"
"Apa?"
"Ku dengar Naruto dia di bully teman sekelasnya?"
"Kau yakin?"
"Oh! Aku yakin seratus persen. Tapi… meskipun begitu entah kenapa aku tidak merasa kasihan sama sekali"
"Kau benar! Ku pikir itu hal yang pantas untuknya. Ku dengar dia juga membully Sakura beberapa hari yang lau.. waaah gadis itu hanya baik di wajah saja"
Naruto bisa mendengarnya dengan baik. Dua orang gadis yang sedang makan siang di kantin. Berada tepat di belakangnya, berbicara dengan jelas meski mereka tahu jika Naruto ada disana. Mereka bahkan bicara dengan volume keras berupaya agar Naruto bisa mendengarnya dengan baik. Shion dan Karin ada disana, berhenti mengunyah makanan saat dua orang itu terus saja membicarakan Naruto. Menyindir dengan begitu terang-terangan.
Tidak seperti Shion yang menggenggam erat sumpit yang dia gunakan untuk makan, tidak juga seperti Karin yang melototi kedua orang itu seperti bola matanya yang akan keluar. Yang Naruto lakukan adalah hanya melanjutkan acara makan siangnya ada hal yang lebih berharga untuk dia lakukan dari pada memperdulika orang-orang seperti mereka.
"Aku tidak pernah tahu bagaimana orang sepertinya bertahan hidup. Kau tahu maksudku dia seperti orang yang tidak memiliki muka"
"Benar! Dia seperti orang bermuka dua!"
"YA!"
Tidak tahan Shion menggebrak meja hingga minuman bergetar karena terlalu keras. Berdiri berbalik kearah kedua orang yang sedang ikut menoleh kearahnya. Karin bersiap ikut berdiri bersama Shion, bersiap menarik gadis itu untuk mundur. Shion yang marah adalah orang yang benar-benar harus di hindari.
"Hei! Memangnya kalian siapa? Ibunya?! Untuk apa kalian mencampuri urusan yang bukan hak kalian?!" berjalan mendekat kearah orang yang Shion tahu jelas bukan temannya, mengenalnya saja tidak. Mungkin mereka adalah orang yang pernah sekelas dengan Naruto. Dagu terangkat dengan gesture menantang, Shion berjalan mendekat. "Apa masalahnya dengan kalian?"
Siswi itu berambut coklat. Berdiri tegak ikut menantang Shion. Meski dia sedikit takut diawal, dan akan sangat memalukan jika dia berlari menjauh mengingat dialah yang memulai bersama temannya. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Apa yang salah?"
"YA!" Shion maju lebih cepat meraih kerah seragam yang dia gunakan, Karin bersiap untuk berlari keseberang mencegah Shion untuk melakukan hal-hal gila yang sudah tersusun rapi dalam otaknya. Setidaknya Shion tidak berurusan dengan konseling lagi kali ini. "Tarik ucapanmu dan minta maaf padanya!"
Meneguk ludah dengan sulit. Tetap menatap Shion seakan-akan tidak takut, mempertahankan harga diri. "Tidak! Apa salahku! Aku melakukan hal yang benar!"
"Hei hentikan! Kau bisa dalam masalah!" Karin mencoba menarik Shion berbisik tepat disamping telinga kanan. Berharap Shion benar-benar mendengarnya, kini mereka menjadi bahan tontonan di kantin, dan menjadi pusat perhatian seperti ini benar-benar hal yang buruk. Karin menatap gadis yang masih berada di cengkraman Shion dengan melotot tajam. "Menyingkir saja dari sini bodoh!"
Tidak memperdulikan Karin yang susah payah menariknya mundur Shion mendorong Karin agar menjauhi tubuhnya, bersiap untuk bertempur dengan siswi didepannya. "Kau! Apa kau mau mati?!"
"HENTIKAN!" kini Naruto tidak bisa diam lagi, menggebrak meja sama seperti Shion berdiri menatap langsung Shion dengan matanya yang memerah entah karena sedih atau marah. "Lepaskan tanganmu darinya Shion!"
"Tidak! Aku tidak akan melepaskannya sebelum dia minta maaf!" bahkan Shion tidak menoleh sedikitpun pada Naruto.
"Berhentilah bersikap kekanakan!" ucapan Naruto kali ini cukup membuat Shion menolehkan kepalanya dengan cepat menatap Naruto dengan mata yang melebar.
"Kekanakan kau bilang?! Kau tidak lihat aku sedang membelamu?!"
"Kau pikir ini akan menyelesaikan masalah?! Justru yang ada kau malah membuat masalah baru lagi! Tidak bisakah kau diam?! Lagi pula aku tidak masalah dengan itu semua! Yang ada kau semakin membuatnya bertambah rumit! Jadi jelaskan padaku dimana tindakan yang kau sebut membelaku itu?!"
Mendengus kasar lalu tersenyum geli. Mendorong gadis dalam cengkramannya untuk mundur. Melepaskannya dan berbalik benar-benar menghadap Naruto setelah semenjak tadi memunggunginya. "Kau tahu apa masalahmu? Kau terlalu pengecut Naruto! Ku pikir kau benar-benar temanku yang dulu"
Itu adalah nada terdingin yang pernah Naruto dengar dari Shion, semarah apapu gadis itu selama ini Naruto tidak pernah mendengar nada itu keluar dari Shion. Menggigit ujung bawah bibirnya setelah melihat Shion berlalu dari hadapannya. Karin bahkan hari memilih siapa yang harus dia tuju, tapi dia tidak bisa meninggalkan Shion sendiri gadis itu terlalu labih untuk sekarang tidak seperti Naruto yang bisa menjaga emosinya dengan baik. Setelah mengangguk pada Naruto untuk pergi menemui Shion, Karin berlalu dari tempatnya meninggalkan Naruto yang masih berdiam diri dengan kedua tangan yang mengepal erat.
"Kau tahu tidak selamanya kau bisa melakukan semuanya sendiri"
Menoleh dengan cepat, menatap Gaara yang sudah berdiri di belakangnya dengan senyuman lebar menyebalkan miliknya. Tapi entah mengapa Naruto tidak menolak keberadaan Gaara kali ini. bahkan kalimat kecil yang keluar dari laki-laki itu membuatnya kembali ingin menangis dengan keras.
"Kau butuh teman Naruto"
:: :: Janus :: ::
Sepulang sekolah biasanya Sakura akan menghabiskan waktu di tempat les atau menghabiskan sisa waktu dengan Sasuke atau bermain ke tempat Ino. Tapi kali ini dia memilih untuk menghabiskan waktu dengan mengunjungi kafe memesan minuman dingin dengan beberapa makan. Dia tidak sendiri atau berdua dengan Ino, sebenarnya ini adalah ajakan dari teman sekelasnya Ajisai, Tenten, Saya, dan Ino tentunya.
Ini bukan pertama kalinya untuk bergabung atau bermain bersama teman-teman sekelas. Dulu waktu kelas satupun pernah juga untuk pergi seusai sekolah. Tapi kali ini berbeda entah kenapa dia merasa begitu sangat nyaman, tidak terpaksa dan begitu menikmati semuanya dengan santai. Mungkin karena orang-orangnya yang berbeda atau mungkin juga karena mereka menjadikannya sebagai poros diantara kumpulan tersebut.
"Kau tidak bersama Sasuke?" Ajisai bertanya pada Sakura setelah mengambil satu kentang goreng yang dia pesan. Di sampingnya ada Saya yang menatapnya penuh minat.
Menyeruput minuman dingin yang dia pesan. "Oh dia pergi membeli buku sebentar, katanya nanti dia juga akan kemari"
"Waah kau beruntung ya sudah baik, pintar, cantik lalu punya pacar seperti Sasuke" Saya menimpali dengan tangan kirinya yang menumpu dagu dan tangan kanannya dia gunakan untuk mengambil sedotan untuk menyeruput minuman. Menatap Sakura dengan iri.
"Ah tidak juga" mengibaskan tangannya kearah Saya tersenyum kecil dengan tangan kanan dia gunakan untuk menyibak rambut di belakang telinga. "Aku tidak seberuntung itu"
"Ah benar juga!" menjentikkan jari Ajiasi kembali menatap Sakura setelah tadi mendengar percakapan Sakura dan Saya, mengingat sesuatu untuk ditanyakan. "Bukankah dulu Naruto dan Sasuke pernah pacaran lalu yang ku dengar mereka putus dan kemudian menjalin hubungan denganmu. Maksudku bagaimana bisa secepat itu?"
"Untuk apa di bahas lagi pula itu masa lalu" Tenten menjawab setelah tadi hanya diam bersama Ino, mendengarkan bagaimana ketiga orang itu saling berbincang.
"Aku hanya penasaran siapa yang memutuskan lebih dahulu"
"Tentu saja Sasuke! Siapa lagi?!" Saya menjawab dengan cepat, rambutnya ikut bergoyang ketika menoleh dengan cepat juga kearah Ajisai. "Kau pikir orang seperti Sasuke mau bertahan lama dengan Naruto?! Ku pikir setelah mengetahui Naruto yang sebenarnya dia langsung memutuskan gadis itu"
"Hei… kenapa kalian suka sekali membicarakan orang lain?" Ino menyahut dengan suara malas jika sudah menyangkut masalah satu ini. memang semenjak mereka di kelas dua dia dan Naruto sudah sangat jarang berkomunikasi tapi setidaknya dia pernah berteman dengan gadis itu jadi rasanya sangat sulit bagi Ino untuk menerima semua gossip yang beredar.
"Kenapa? Lagi pula yang ku katakan itu benar, semua orang juga" Saya menjawab dengan bibir mencibir kearah Ino.
"Hei lihat itu!" Ajisai berseru ketika matanya melihat pengunjung lain masuk ke café, disana Naruto berjalan kearah tempat order memasan minuman hangan untuk di bawa pulang. Gadis itu sudah menanggalkan seragamnya tapi masih memakai sepatu dan tas yang dia pakai di sekolah dengan sebelah tangan membawa bungkusan dari tas kertas. Mungkin itu seragamnya, tidak sempat berganti untuk pulang.
"Kalian mau menebak dia akan pergi kemana?" Ajisai bertanya pada orang-orang yang masih memperhatikan Naruto. Mencondong ke depan dengan suara berbisik. "Mungkin saja dia pergi club"
"Hei! Tidak mungkin!" Tenten menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Naruto akan pergi ketempat seperti itu meski dia tidak terlalu mengenal baik Naruto seperti Ino dulu.
"Kenapa tidak? Lihatlah dia bahkan tidak pulang dan membawa baju ganti. Memangnya kenapa tidak?" tetap pada pendiriannya Ajisai menjawab Tenten.
"Kenapa tidak bertanya langsung saja" ucapan Saya membuat semuanya menoleh kearahnya yang sudah berdiri menunggu Naruto yang akan melewatinya saat pesanan yang dia pesan sudah diambil. Berdiri menghadang Naruto yang akan lewat. "Hei Namikaze"
Ino melotot dengan bibir yang sedikit berbeda, Saya sudah gila. Ajisai menopang kepala dengan tangan yang berada di dagu menyaksikannya seperti sebuah opera sabun di televise. Tenten bahkan ingin menyingkir dari sana. Sakura hanya diam tapi ada perasaan lain yang terasa terpuaskan dari dirinya.
Menghentikan langkahnya menuju pintu keluar berbalik hingga membelakangi pintu menatap Saya dengan sebelah alis terangkat. "Apa kita saling mengenal?" meski Naruto sendiri tahu jika mereka satu kelas. Dia hanya lelah untuk kembali berhadapan dengan mereka. Matanya melirik Sakura dan Ino yang ada disana. Ikut menatapnya. Menghakimi dirinya.
"Kau tidak mengenalku? Kita teman sekelas" mendengus geli menatap Naruto dengan seringai pelan. "Ku beritahu namaku jika kau tidak tahu. Aku Saya-"
"Apa aku bertanya?" karena pada dasarnya Naruto tidak benar-benar ingin menanggapi mereka bersiap melengos pergi jika saja Saya tidak menahannya.
"Apa kau selalu bersikap kasar seperti ini?! pantas saja teman-temanmu pergi?!" Ajisai menyela di belakang dengan senyum meremehkan pada Naruto. Bahkan gadis itu hanya memandangnya sebelah mata.
"Apa kau akan pergi ke club? Kau bahkan tidak pulang untuk berganti pakaian" Saya mulai mencerca tidak mempersilahkan Naruto untuk membela diri. "Tapi meskipun begitu baguslah kau tidak memakai seragam sekolah. Jika kau melakukannya yang ada sekolah kita akan semakin memiliki reputasi yang buruk. Gara-gara orang sepertimu dan teman-temanku sekolah kita memiliki nama buruk di kalangan pelajar"
Menghela nafas panjang, Naruto tidak pernah ingin berurusan dengan hal yang seperti ini. dia hanya ingin segera pulang setelah melalui les panjang dari bimbingan belajar pilihan ibunya, dia bahkan juga tidak sempat untuk pulang karena baru saja mendapat pelajaran tambahan dari Kakashi Sensei yang ditunjuk langsung oleh ibunya. Naruto mengangkat dagunya setelah dirasa siap. Benar-benar menatap Saya lalu beralih pada Ajisai kemudian kembali pada Saya.
"Aku tidak pernah peduli dengan ucapan kalian apa yang kalian pikirkan tentangku. Karena pada dasarnya aku lebih baik dari kalian"
"Apa? hei kau sudah gila ya?" mendorong pelan bahu Naruto, Saya tidak suka untuk diremehkan dan direndahkan. Dan apa lagi itu adalah Naruto, orang yang notabennya adalah saingannya dalam hal peringkat.
"Kau tidak bisa membaca? Aku selalu diatas kalian, peringkat kalian bahkan berada di bawahku. Aku masih tetap menjadi siswa yang lebih baik diantara kalian"
Mengeratkan kepalan tangan di sisi tubuh Saya menahan emosi. Jika dia keluarkan sekarang yang ada dialah yang dianggap kekanakan. Diam dengan mulut sedikit terbuka, tertawa kecil tidak percaya. Dengan kedua mata miliknya tetap memasang tatapan tak bersahabat kesal, marah, dan malu. Meskipun dia yang memulainya, tetap saja yang diucapkan Naruto benar. Dia masih berada di bawah Naruto dalam hal peringkat ataupun nilai.
Naruto masih bergeming di tempatnya, menunggu apa lagi yang akan mereka ucapkan untuk dirinya. Saya dan Ajisai menggertakkan gigi dengan kesal dengan ketiga penonton setia Tenten, Ino dan Sakura mereka terdiam entah karena merasa bersalah atau karena mereka tidak ingin ikut campur dan mau tahu. Mendengus kecil dengan senyuman tipis, setidaknya dulu dia pernah mengenalkan mereka pada ibunya sebagai teman. Membuktikan bahwa dia sudah tidak berteman lagi dengan Karin ataupun Shion. Naruto berbalik, tidak ada yang perlu dia tunggu atau menunggu sebuah percakapan. Memutuskan untuk pergi terlebih dahulu, berjalan kearah pintu keluar. Meninggalkan Saya dan Ajisai yang menahan kesal.
Berdiri dengan cepat hingga kursinya bergeser. Sakura tidak tahu jika Sasuke sudah berdiri disana, di depan pintu berdiri dengan tegap menatap kearah kumpulan mereka. Mustahil jika Sasuke tidak mendengar semua yang mereka ucapkan. Jarak mereka tidak terlalu jauh. Tangannya mengepal saat bagaimana Naruto berhenti sejenak untuk menatap Sasuke yang menghadang jalannya lalu pergi melewati pria itu. Menundukkan kepala saat Sasuke memandangnya sekilas sebelum kembali keluar dari café.
Mungkin Sakura bisa menebak kemana arah perginya Sasuke.
:: :: Janus :: ::
Berjalan pelan dengan sebuah bungkusan seragam di tangan kiri dan tangan kanan memegang cup minuman hangat yang sempat dia beli. Berjalan pelan dengan langkah setapak di tempat pejalan kaki. Menghirup udara hingga paru-parunya terasa begitu penuh lalu membuangnya perlahan. Naruto tidak pernah tahu berapa banyak oksigen yang dia hirup setiap harinya tapi kenapa semua perasaan sesak itu masih ada.
Dia sendiri sejak dulu, sejak dia berada di taman kanak hingga bertemu dengan Shion dan Karin. Belajar adalah prioritas utama dari segala hal, tapi sekarang entah kenapa terasa aneh baginya untuk sendiri. semua orang menilainya dengan begitu mudah, mereka bahkan belum mengenalnya dengan baik. Yang selama ini mereka pikirkan hanyalah diri mereka sendiri, bagaimana mereka mendapat keuntungan dan bagaimana mereka membuang sesuatu setelah mendapatkan. Mereka terlalu serakah dan mementingkan diri sendiri sehingga tidak pernah mau melihat sekeliling, mereka terlalu takut untuk kesepian sehingga mereka membuat orang lain kehilangan yang mereka miliki.
Naruto bahkan tidak tahu apa itu teman dan apa itu sekolah. Apakah orang-orang yang selalu disekelilingnya atau orang yang mengenalnya? Mereka bahkan akan berubah jika sudah bosan. Apakah tentang nilai? Atau pelajaran lain? bahkan Naruto tidak pernah tahu untuk apa dia selalu belajar dengan rajin disaat murid lain lebih memilih untuk bermain ponsel atau bermain-main dengan lingkungannya. Sekolah adalah rumah kedua tapi Naruto tidak pernah merasa memiliki rumah untuk pulang. Benarkah guru adalah orang tua selain dirumah? Jika benar kenapa mereka mendikte murid untuk menjadi rangking pertama. Bukankah mereka selalu bilang kejujuran adalah yang utama. Tapi pada kenyataannya nilailah yang dilihat oleh masyarakat pertama kali.
Berhenti berjalan. Mengeratkan genggaman pada tas kecil yang dia gunakan untuk menjadi tempat seragamnya. Naruto memutar tubuhnya ke samping. Di sana di bawah jembatan yang dia lalui sebuah sungai besar dengan air yang mengalir. Berjalan maju untuk berada di samping besi pembatas jalan. Naruto melongok ke bawah. Terlihat begitu dalam dan gelap di malam hari. Tersenyum kecil, mengangkat tas berisi seragam sekolahnya mundur satu langkah mengambil ancang-ancangnya. Melemparnya dengan jauh dan sekuat tenaga.
"Hei! Apa yang kau lakukan?!" seseorang menarik bahunya untuk mundur. Sasuke berada disana melongokkan kepala ke bawah setelah berteriak pada Naruto. Semenjak tadi, semenjak mereka keluar dari café Sasuke mengikutinya. Mengikuti Naruto dari belakang berjalan dengan irama yang sama seperti Naruto dan berhenti di tempat ini. Sempat berfikir jika gadis itu akan melompat dari jembatan ini Sasuke bahkan akan berlari pontang panting untuk menarik Naruto menjauh. Namun yang dilihatnya berbeda, gadis itu membuang seragamnya. Menolehkan kepala menatap Naruto yang kini sudah berdiri disampingnya. "Apa yang kau lakukan?! Bagaimana kau bisa masuk ke sekolah?!"
Menoleh kearah Sasuke yang berteriak marah padanya. Naruto sudah tahu jika ada orang lain berada di belakangnya mengikutinya seperti anak ayam. Naruto juga tahu jika itu adalah Sasuke, saat pria itu ikut pergi dari café tanpa sempat untuk memesan apapun. "Menyebalkan! Semua menyebalkan! Dan itu juga menyebalkan!"
"Hei!" Kembali berteriak pada Naruto, tapi Sasuke kembali menatap arah kemana seragam tersebut di buang. Lalu menolehkan kembali pandangan pada Naruto, ini pertama kali bagi Sasuke mendengarnya. Bagaimana Naruto terlihat begitu marah. Gadis itu bahkan tidak memandangnya saat ini. "Kau gila?"
"Eoh! Aku gila!" menjawab dengan cepat, dengan nafas menderu. Namun kembali pelan berbisik dengan suara bergetar, menahan emosi yang akan tumpah ruah menjadi satu. "Karena merasa malu.
Menghela nafasnya dengan keras bahkan Naruto bisa mendengar, kedua tangan dia tempatkan dia atas jembatan. Sasuke kembali berbicara meski Naruto tidak melihatnya saat ini. "Apa kau akan berhenti sekolah? Untuk apa merasa malu?"
"Ini bukan tentang bagaimana mereka mengolokku bukan juga tentang bagaimana mereka menyebutku atau mencaciku. Tapi ini tentang sekolah.. semuanya terasa memalukan" ikut menempatkan tangan diatas jembatan. Naruto mendengus kecil begitu ingat siapa yang ada disampingnya ini. "Lagi pula apa yang kau tahu?"
"Kau yakin kau bukan orang yang aneh? Kau sendiri yang mengatakan bahwa kau siswa yang lebih baik dari gadis tadi. Jadi apa yang membuatmu malu?"
Naruto menoleh menatap Sasuke benar-benar menatap kearah pria itu yang sedari tadi mengajaknya berbicara. Ada hal yang sangat ingin dia tanyakan. Pada orang seperti Sasuke orang yang selalu hidup dengan mudah. Memiliki hal yang dia sulit untuk di miliki seperti teman ataupun hal-hal lain. "Apakah tidak ada hal yang ingin kau buang?"
Menjawab dengan diam, Naruto bertanya hal yang terlihat mudah tapi dia tidak tahu harus menjawab apa. memikirkannya dengan lamat, ada banyak hal yang terjadi dalam hidupnya yang orang lain tidak pernah tahu. Ada satu kesalahan yang sangat dia sesali sampai saat ini, ada hal yang tidak pernah ingin dia lakukan. Ada hal yang begitu dia benci mengenai dirinya sendiri. Sasuke diam untuk jangka waktu yang cukup lama.
"Buang saja semuanya!" Naruto berseru pelan, berfikir jika Sasuke berpikir untuk hal sederhana yang terlalu lama. Dan lagi Sasuke kembali diam meski tadi sempat marah-marah padanya. Mengangguk pelan, untuk apa dia bertanya hal seperti itu pada orang seperti Sasuke. "Baik… Kau pasti tidak ingin membuang apa-apa karena kau tidak perduli tentang apapun"
Setidaknya mereka pernah tahu satu sama lain, jadi itulah persepsi Naruto tentang Sasuke. Laki-laki itu terlalu malas untuk terlibat masalah, tidak pernah perduli dengan sekitar baginya dunia hanyalah berisi tentang perdamaian. Tidak perduli omongan orang lain yang memujinya setinggi langit atau menjatuhkannya hingga ke dasar bumi.
Sasuk menarik nafas perlahan. "Diriku"
"Apa?"
"Aku ingin membuang diriku sendiri" kali ini Naruto yang terdiam, benarkah jika selama ini dia mengenal Sasuke dengan baik? Naruto menatap Sasuke yang mulai beranjak pergi setelah tersenyum sekilas padanya. ada rasa bersalah bertanya tentang hal tersebut tapi ada juga rasa penasaran yang hingga. Masih menatap punggung Sasuke yang mulai menjauhi pandangan.
Terkadang ada beberapa hal yang tidak pernah kita ketahui dengan baik dalam berteman.
:: :: Janus :: ::
There's an empty world deep in my heart, save me
I wanna reset , I wanna reset , I wanna reset
Lonely eyes trapped in darkness
Is there anyone to hold my hand?
I wanna reset , I wanna reset , I wanna reset
(Tiger JK (feat. Jinshil of Mad Soul Child) – Reset)
:: :: Janus :: ::
TO BE CONTINUED
Haii… maaf baru bisa post sekarang huhuhuhu..
Ada banyak banget hal yang aku urus, karena aku udah kelas 3 jadinya aku sibuk sama persiapan UNBK sama SMPTN jadi mungkin ke depannya aku nggak bisa post langsung cepet ataupun update cepet.. jadi mohon pengertiannya..
Di chap ini sebenarnya focus nya di Sasuke's side sih.. setelah kemaren-kemaren fokusnya ke GaaNaru disini SasuNaru. Dan buat kemarin yang tanya atau nggak tahu apa itu ratu ijime, aku jelasin di sini soalnya aku sempat lupa buat kasih keterangan
Ratu Ijime itu sama dengan tukang bully atau ratu bully kalo di Korea namanya iljin dan di Jepang namanya ijime tapi maknanya sama tukang bully dan kalo udah dicap seperti itu biasanya mereka akan sulit dapat tanggepan positif di kalangan luas kayak masyarakat contoh diatas.
Oke meskipun ada beberapa pertanyaan yang udah aku jawab lewat PM tapi aku bahas disini lagi sama pertanyaan pertanyaan lain.
Q: Aoi Sora
A: buat itu masih abu-abu hohoho
Q: Satansoo
A: iya itu Naru waktu SMP, ratu ijime sendiri bisa dibilang tukang bully istilah Jepangnya. Kalo di Korea biasanya disebut iljin. Yap scene diawal itu adalah Naru dimasa lalu.
Q: Kenapa nggak nulis YAOI aja?
A: Aku masih belum kepikiran kesituuu.. T.T lebih nyaman yang straight tapi bukan berarti nggak suka Yaoi cuman suka nulis yang straight, imajinasi aku nyampek aja gitu.
Oke sekian buat Q and A nya dan buat para readers baru selamat datang dan selamat bergabung. Thanks buat yang udah review fav follow dan baca fic ini
See you next chap
Jaa ne
Crysantimum Bluesky
