Kushina melangkah pelan, sepatu berhak tinggi menggema di setiap langkah. Dia wanita yang percaya diri dan angkuh semua orang sudah tahu itu tanpa perlu dijelaskan bagaimana dia mendongak begitu keras. Mengangkat dagunya dengan berani. Sebuah tas tangan berwarna merah berada di tangan kanannya yang sudah berpoles nail art merah juga. Warna merah menggambarkan membara dan juga berani. Hal yang sama berlaku pada Kushina.
Melangkah masuk ke dalam restouran yang menjadi tujuan awalnya kali ini menemui beberapa orang yang dia sebut teman atau bahkan rekan. Kushina tidak terlalu memperdulikan hal-hal remeh seperti hubungan pertemanan atau apapun yang berhubungan mengikat tali persaudaraan. Ini adalah hidupnya dan dia yang menentukan bukan orang lain. Hal yang selalu dia jaga dengan baik adalah nama baik dan pandangan masyarakat. Semakin baik semakin dia berani untuk mengangkat dagu.
Mengubah raut wajahnya dari tanpa ekspresi yang begitu keras menjadi tersenyum manis melambaikan tangan melihat orang-orang yang sudah membuat perjanjian untuk bertemu disini sudah berkumpul hanya tinggal dirinya. Orang-orang yang memiliki sebutan yang sama dengannya yaitu ibu. Berjalan mendekat duduk di kursi yang kosong. Kursi yang sudah disiapkan untuknya dari awal.
"Maaf aku terlambat ada beberapa urusan tadi. Jadi apa aku ketinggalan sesuatu?" Kushina tersenyum ramah, berbasi-basi mencoba akrab meski dia tahu orang-orang disana mengutuk di belakangnya.
"Ah tidak ada hanya membahas hasil belajar anak-anak" perempuan berambut hitam yang Kushina kenal sebagai ibu Sasuke mewakili menjawab pertanyaan. Seperti biasa perempuan itu tersenyum lembut meski Uchiha adalah kumpulan orang-orang dingin.
"Oh iya ku dengar kali ini Naru-chan di peringkat satu lagi ya? Wah bahkan Sasuke-kun hanya berada di peringkat dua padahal kemarin dia diperingkat pertama. Naru-chan hebat selalu bisa bersaing dengan Sasuke-kun"
Kushina menyeduh minuman hangatnya dari cangkir tersenyum senang mendengar perkataan Ibu Shikamaru. Tentu dia tidak akan membiarkan orang lain memandang rendah keluarganya. Dan menjadi nomor satu adalah ambisinya. "Ah mungkin Sasuke hanya kurang belajar saja. Naru-chan hanya sedikit beruntung. Shikamaru juga anak yang pintar kok"
"Haaah… anak itu terlalu pemalas seperti ayahnya. Dia hanya belajar jika besoknya ada ujian saja. sisanya dia akan memilih untuk tidur"
Beberapa orang dalam meja tertawa kecil meski dalam hati begitu khawatir. Shikamaru bukan hanya pintar melainkan jenius. Jika saja anak itu bisa serius dalam belajar mungkin bisa melebihi anak Namikaze ataupun Uchiha. Terkadang ingin rasanya melihat bagaimana ekpresi seorang Namikaze jika anaknya kalah telak. Mungkin mereka terlihat akrab namun pada kenyatannya mereka saling menjatuhkan sama lain. Kushina beralih dari satu orang kepada orang lain.
"Oh iya Haruno-san apakah Sakura baik-baik saja? Ku dengar dia mendapat peringkat empat kali ini di bawah Shikamaru. Bukankah itu terlalu jauh?"
Ibu Sakura menghela nafas. Dia tahu ada yang tidak baik tentang hubungan anaknya dengan Namikaze dan dia tahu Kushina adalah orang yang sangat tidak suka jika ada yang menganggu anaknya hingga berhubungan dengan nilai akedemis."Ah… hanya ada beberapa masalah akhir-akhir ini. meskipun begitu Sakura melakukan dengan baik. Dan aku cukup bangga dengan itu, meski dia sakit dia masih bisa focus pada pelajarannya"
Kushina mencibir dalam hati. Untuk apa bangga dengan anak yang tidak bisa menjaga nilai akademisnya sendiri. Bagaimana bisa masuk universitas terbaik di negeri ini jika tidak belajar keras.
"Oh ya Namikaze-san. Akhir-akhir ini aku mendengar kabar yang kurang enak" Ibu Ajisai buka suara setelah tadi hanya diam. Malas untuk berurusan dengan Namikaze berkat orang itu anaknya bahkan tidak mendapatkan tempat dengan baik meski sudah berusaha dengan keras. Grup belajar yang mereka buat di bimbingan belajar pun membuat anaknya terlihat seperti orang bodoh. Dan dia sangat tidak suka jika Namikaze selalu membanggakan anaknya.
Kushina tidak tertarik. Berurusan dengan Ibu Ajisai yang selalu membuatnya tarik urat tetapi dia tetap tersenyum di mulutnya. "Kabar tentang apa memangnya?"
"Aku tidak tahu ini benar atau tidak tapi yang ku dengar dari Ajisai Naru-chan pernah terlibat pembullyan. Dan juga sekarang ku dengar Naru-chan berteman dengan berandalan sekolah, kalau tidak salah namanya Shion dan Karin. Bukankah itu sangat buruk untuk reputasinya kelak?"
Karena dia tahu satu-satunya yang bisa membakar emosi keluarga Namikaze adalah masalah reputasi.
:: ::
:: ::
9th JANUS
Namikaze Naruto || Uchiha Sasuke || Sabaku Gaara || Haruno Sakura || and another
Romance || Angst || Friendship
Naruto © M. Kishimoto
Janus©ChrysantimumBluesky
T
Warning :
AU, OOC, Gender Switch, FemNaru!
:: ::
:: ::
You're not bad girl, You're not bad girl
The tears shed for me, put those tears away
She will be hurt, hurt because of me, so I need to hold it
(Boyfriend_Janus)
:: :: Janus :: ::
"Hadiah yang ku minta adalah dimana besok aku benar-benar memanggil namamu. Namikaze Naruto"
Tangannya berhenti menulis mengerjakan beberapa soal dengan rumus-rumus lengkap di buku tulis. Ucapan Gaara tempo hari kembali terngiang di kepala memutar seperti kaset rusak hingga dia baru bisa tidur ketika jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Untuk pertama kali ibunya terus mencerca tentang dirinya yang bangun kesiangan selama 17 tahun dia hidup. Dia orang yang disiplin ayah dan ibunya yang selalu mengajarkan disetiap langkah dan begitu dia bangun kesiangan untuk pertama kalinya ibunya akan marah-marah disertai nada bingung. Lucu juga jika mendengarnya.
Naruto tidak pernah mengerti atau tidak mau mengerti maksud ucapan Gaara meski secara garis besarnya dia mulai paham. Memangnya selama ini dia memanggilnya apa? Naruto tidak pernah mengubah namanya atau mungkin juga Naruto tidak pernah melepas topengnya. Sekali dia lepas maka dalam hitungan detik dia akan memakainya lagi. Sulit untuk berubah jika sudah menjadi kebiasaan. Tapi entah kenapa rasa hampa dalam dirinya perlahan mulai bergejolak meminta untuk diisi. Seluruh rasa marah dan kesal berseru mendobrak untuk keluar secara bersamaan. Meski dia bisa apakah semuanya akan baik-baik saja. Atau apakah hidupnya akan menjadi lebih baik?
Menggelengkan kepala menepis semua pikiran aneh. Biarkan semua berjalan sesuai alurnya. Ya Naruto tidak akan protes kali ini. Biarkan semuanya berjalan dengan tenang tanpa paksaan. Selama tidak ada hal yang buruk dia akan tetap baik-baik saja. Naruto berfikir terlalu naïf. Kembali pada soal-soal di depannya, jam istirahat yang selalu dia habiskan di dalam kelas. Hanya beberapa yang ada disana melakukan hal yang sama seperti dirinya ataupun bergosip sambil berkumpul dalam satu meja. Dan Gaara yang selalu tidur nyenyak di mejanya.
"Wooaaaahh ini hebat!" Kiba berteriak dari arah pintu sambil berlari. Naruto berdecak kesal ketika konsentrasinya terganggu. Mengabaikan Kiba yang mulai heboh dengan ceritanya pada gerombolan orang-orang di bangku belakang. "Ku dengar Ibu Hinata membawa Shion ke komite kedisiplinan. Dia di sidang sekarang!"
"Waaahh.. Kereeen"
"Ibu Hinata? Ku dengar dia adalah iblis jika menyangkut anaknya"
"Ku pikir Shion akan benar-benar mati sekarang"
Menggeser tempat duduknya dengan kasar dengan langkah besar pula Naruto berjalan dimana Kiba dan yang lainnya mulai bicara tanpa henti mengatakan ini dan itu mengenai Shion yang tengah berada di ruang sidang, itu yang dia dengar dari mulut Kiba tadi.
"Katakan padaku apa yang terjadi dengan Shion"
Kiba, Lee, dan Konan berhenti bergosip saat sebuah suara datang tanpa diduga. Naruto berdiri di belakang mereka dengan wajah gusar. Kiba menelan ludahnya perlahan bersiap diri untuk bercerita. Dia hanya mendengarnya tentang bagaimana Naruto yang katanya tidak jauh beda dari Shion dan kali ini Kiba hanya mencoba untuk berhati-hati.
"Ku dengar jika Hi-Hinata melaporkan Shion ke komite tentang kekerasan di sekolah. Jika itu terbukti benar besar kemungkinanya Shion akan dikeluarkan dari sekolah"
Yang Naruto dengar selanjutnya hanya suara dengungan aneh di telinganya.
:: :: Janus :: ::
Shion berada disana. Duduk seperti seorang pesakitan. Semua mata tertuju padanya, memandangnya penuh tuntutan, dan Shion tidak masalah dengan semua itu. Semenjak masa SMP dia sudah sering berada di tempat terkutuk seperti ini atau berjam-jam di ruang konseling hingga paling parah adalah berpindah-pindah sekolah. Saat seperti ini hanya ada dua keputusan yang akan dia dengar. Di skors atau juga mungkin paling sering dia dengar juga adalah di keluarkan.
"Oh lihatlah anak ini! Bagaimana bisa dia menyakiti putriku?! Apakah sekolah ini begitu buruk sehingga mentolelir tindak kekerasan?!"
Seorang wanita paruh baya terus berbicara mencerca semenjak dia datang didampingi oleh Kakashi-sensei yang dia baru ketahui adalah wali kelasnya yang sekarang. sementara Hinata duduk disana di pojok ruangan dengan sofa empuk dan nyaman. Menyaksikannya mungkin dia perlu tambahan popcorn dan pepsi untuk menyempurnakan film indah yang dia ciptakan sendiri.
"Hyuga-san kami mohon anda tenanglah. Kita dengarkan dulu penjelasan Shion" dan semenjak tadi pula Kakashi-sensei selalu menenangkan Ibu Hinata dengan kalimat-kalimat yang intinya sama. Mengulur waktu agar mereka mendengar penjelasannya.
"Maaf Hatake-sensei tapi murid kesayanganmu ini tidak mengatakan apapun! Bukankah seharusnya ini segera diselesaikan?! Jika tidak mungkin anak-anak seperti mereka anak terus menindas anak lain! Aku bersyukur anakku bisa bertahan sampai detik ini!"
"Kami mengerti kami benar-benar meminta maaf atas hal ini. kami dan Hatake-sensei selaku wali kelas berharapan akan selesai dengan jalan kekeluargaan. Jadi kami berharap Hyuga-san bisa bersabar" Kurenai mencoba membantu menenangkan Ibu Hinata yang berkobar seperti api.
"Bagamana saya bisa bersabar jika anak saya menjadi korban disini?! Apa anda tidak tahu banyak anak muda diluar sana yang memutuskan bunuh diri karena kasus pembullyan tidak diselesaikan dengan baik! Jadi bagaimana saya bisa tenang?! Saya ingin anak ini dikeluarkan segera dari sekolah ini!"
"Saya mengerti Hyuga-san saya mengerti bagaimana perasaan anda sekarang. Tapi kita tidak bisa menghancurkan masa depan murid tanpa disertai bukti yang jelas!" Asuma mencoba menolong untuk menenangkan tapi tidak ada kalimat lain yang bisa dia gunakan kecuali menyuruh wanita itu untuk tenang. Meski pada akhirnya dia kembali menyulut emosi/
"Bukti katamu?! Sudah jelas-jelas anak saya buktinya!"
Shion menghela nafas ini tidak akan selesai dengan cepat. Orang-orang disana terus beradu argumen tanpa henti. Mengatakan ini itu dengar urat yang mulai muncul disekitar leher. Bukannya dia tidak mau mengatakan apapun karena faktanya dia sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi tiba-tiba Kakashi-sensei memanggilnya mengintograsinya lalu berakhir disini. Sedikit menebak atau memang benar ini berhubungan dengan yang kemarin. Berhubungan dengan apa yang diucapkan oleh Hinata.
"Shion, bisakah kau mengatakan sesuatu? Jika terus diam seperti ini kami tidak mengerti apa yang terjadi?" Anko-sensei selaku guru konseling terus bertanya padanya tentang kejadian sebenarnya. "Apakah benar yang dikatakan Hinata jika kau membully anak-anak lain?"
"Apakah tidak ada yang ingin kau katakan? Benar kau yang melakukannya atau kau diancam oleh orang lain?"
"Katakan saja Shion-chan kami akan membantumu"
Dari Anko, Kakashi, Asuma, hingga Kurenai terus menekannya membuatnya bingung untuk mengatakan apa. Jika dia bicara yang sebenarnya maka akan menyeret nama Naruto dan dia tidak ingin jika Naruto harus kembali bermasalah karenanya bahkan gadis itu tidak mengerti masalah yang terjadi. Alasan yang paling besar adalah dia tidak ingin Ibu Naruto tahu tentang masalah ini. Shion tidak takut dengan apa yang akan terjadi padanya yang dia takutkan adalah apa yang akan terjadi pada Naruto nantinya.
"Dengar masalah ini tidak akan selesai sebelum anak ini bicara! Mungkin saja dia sedang bohong! Dimana Senju-san? Bukankah dia kepala sekolah di sini? Kenapa tidak dia saja yang menemuiku langsung? Bagaimana bisa dia diam saja melihat kekerasan di sekolah ini?!" Ibu Hinata terus bicara dengan berapi-api. Membuat Shion juga jengah sedari tadi.
Menarik nafas dalam-dalam Shion berkata pelan namun cukup menarik semua atensi pada dirinya. "Sebenarnya…"
"Maaf mengganggu kalian tapi Anko-sensei aku yang menyuruh Shion untuk melakukannya"
:: :: Janus :: ::
"Ah… hari ini benar-benar melelahkan.. ku harap bisa tidur cepat"
"Oh bagaimana pulang nanti kita mampir di café seberang sebentar?"
"Entahlah hari ini kita ada pelajaran tambahan"
"Benar juga.. rasanya ingin sekali membolos"
"Membolos bukan gayamu Ino! Ku dengar ada tuan pelukis lo hari ini"
"Diam kau jidat lebar!"
"Dasar babi!"
"Woo jangan bertengkar sekarang oke?"
Sudah begitu lama Ino tak merasakan bagaimana rasanya bercanda dan bertengkar bersama Sakura dan Naruto. Entah dia yang tidak tahu dari awal atau memang mereka mempunyai dunia masing-masing yang tidak bisa Ino salami. Mimilih dua kubu diantara teman-teman terbaik adalah hal yang paling ingin Ino hindari jika dia bisa. Menjadi sahabat Sakura dan teman untuk Naruto dia ingin perannya menjadi satu sekaligus tanpa harus memilih salah satu kubu.
Istirahat hari ini dan sebelum-belumnya begitu berbeda tidak ada lagi suara Sakura yang mengajaknya berkelahi sekarang dia terlalu sibuk dengan Sasuke dan teman-teman barunya. Tidak ada lagi Naruto yang akan tertawa begitu lebar untuk perkelahiannya dengan Sakura, sekarang dia terlalu mendirikan tembok kokoh yang begitu tinggi untuk Ino tembus. Ino menghela nafasnya perlahan menyandarkan kepalanya pada pinggiran beton pembatas di atap sekolah. Rasanya begitu sepi, dan sesuatu yang Ino tidak mengerti begitu sesak ingin menangis saat mereka perlahan mulai menjauh darinya. Terasa begitu kesepian. Terasa dia menjadi orang yang paling bodoh yang tidak mengerti apa-apa diantara semua masalah yang terjadi. Akan mendengarkan Sakura bercerita panjang lebar dan hanya menyaksikan Naruto dari kejauhan saat bersama teman-temannya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Ino berbalik begitu suara deritan pintu menyapa telinganya dan suara seorang perempuan menyusul di belakangnya. Di sana Karin berdiri dengan menatapnya lurus. Siapa yang tak tahu si biang masalah semenjak dia menginjakkan kaki di sekolah ini. dan semenjak itu pula mereka selalu mengganggu Naruto. Ino berpikir bahwa mereka – Karin dan Shion – adalah orang jahat. Dia pernah melihatnya beberapa kali dengan mata telanjangnya jika mereka berdua akan memalak anak-anak yang lemah dan mengganggu Naruto disetiap saat. Tapi anehnya Naruto begitu dekat dengan mereka, seolah semua pertengkaran itu hanyalah sebuah omong kosong.
Menatap tajam Karin menunjukkan sikap tidak suka secara terang-terangan. Karena kenyataannya Ino tidak pernah menyukai mereka karena menurutnya mereka penyebab kenapa Naruto menjauh kenapa sahabatnya berubah dan Ino akan menyelahkan itu semua pada Karin dan Shion meski pada kenyataannya dia tahu Naruto menjauh sejak dia mengetahui kenyataan tentang Sakura. Betapa menyedihkannya gadis itu hingga membuatnya melupakan Naruto untuk beberapa waktu hingga Naruto kesepian.
"Bukan urusanmu"
Karin berkedip beberapa kali setelah Ino menjawabnya dengan begitu ketus lalu berlalu begitu saja. Tidak mengerti apa yang terjadi dia sama sekali tidak berniat untuk menganggu. Karin pergi keatap hanya untuk mencari Naruto. Gadis itu menghilang tadi setelah dia pergi ke toilet sebentar biasanya Naruto lebih suka menghabiskan waktunya diatap dan bukannya menemukan kepala kuning yang ada hanyalah Ino yang menatapnya begitu menyebalkan.
"Ada apa dengan gadis itu?" Menggerutu pelan dan pergi setelahnya mencari Naruto ketempat lain atau mungkin bertanya pada Gaara. Pria itu terlalu sering untuk menguntit Naruto.
:: :: Janus :: ::
"Apa yang kau katakan Naruto? Kenapa kau ada di sini?" Anko yang bertanya pertama kali disaat semua orang masih sibuk menatap murid berambut pirang yang sudah berdiri di ambang pintu entah kapan.
"Aku mengatakan jika aku yang menyuruh Shion untuk membully Hinata" kembali mengatakan, mempertegas pernyataan asal yang keluar dari mulutnya begitu saja. berdiri tegak menatap mereka satu per satu penuh keyakinan. Resiko atau apapun itu akan dia ambil nanti.
Shion berdiri dengan cepat, hingga suara kursi yang bergeser dengan lantai berdecit keras. Menatap nyalang Naruto. "Apa kau gila?"
"Tidak. Apa kau lupa jika aku yang menyuruhmu waktu itu? kau benar-benar bodoh ya? ku pikir kau tidak akan melakukannya saat ku bilang untuk tidak mengatakan pada siapapun jika aku yang menyuruhmu" kembali Naruto bersuara dengan tenang membuat Shion mengernyitkan dahi dengan alis yang menukik tajam. Dapat darimana gadis itu alasan bodoh itu.
"Jangan percaya apapun yang Naruto katakan Sensei. Mungkin dia sedang sakit sehingga kepalanya tidak beres. Aku! Akulah yang melakukannya pada Hinata!" Shion berkata meyakinkan pada orang-orang disana yang masih setia mengikuti alur bodoh buatan Naruto.
"Kau kenapa? Bukankah sudah ku bilang jika-"
"Sudah cukup! Jadi siapa pelakunya?!" Ibu Hinata memotong dengan cepat. Jengah dengan drama yang dimainkan oleh dua bocah ingusan seperti Shion dan Naruto. Dia punya harga diri yang cukup tinggi untuk dipermainkan dua bocah seperti ini. Beralih pada Hinata yang terbengong ditempatnya.
"Naruto-san bisa kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" Asuma berbicara mencoba untuk menjadi penengah masalah yang benar-benar tidak dia mengerti jalan ceritanya. Mencari jawaban dari salah satu pihak lebih baik daripada mendengarkan berbagai pihak yang selalu beradu argument tanpa ujung.
Naruto menghela nafasnya, menatap Hinata yang sebentar lalu beralih pada Asume-sensei yang menunggu jawabannya. "Beberapa hari yang lalu aku melihat bangkuku penuh coretan yang memakiku dan setelahnya aku tahu itu Hinata. Lalu aku menyuruh Shion untuk membalasnya"
Bahu Shion menegang untuk beberapa saat. Naruto tahu dan gadis itu hanya diam saja. apakah Naruto tahu lebih dahulu lalu diam atau dia baru tahu dan menuju kemari. Shion terdiam tidak tahu harus bicara atau menjawab apa. Melihat ibu Hinata yang menahan nafasnya. wajahnya memerah mungkin karena marah.
"Kenapa kau menyuruh Shion? Apa dia punya masalah denganmu?"
Menatap Kurenai yang giliran menginterogasinya. Naruto menunduk sebentar lalu mengambil nafas panjang. Shion bisa melihatnya bagaimana tangan itu terkepal diantara dua sisi tubuhnya.
"Mm.. aku hanya ingin melakukannya saja"
"Apa maksudmu?! Apa kau tahu perbuatanmu bisa saja mencelakai anakku?!" Ibu Hinata menggeram marah melihat bagaimana Naruto begitu tenang menjawabnya seakan itu bukanlah kesalahn yang besar. Dia adalah seorang Ibu dan melihat anaknya menangis meraung-meraung sepulang sekolah dan mengatakan dia sedang di bully itu sangat menyakiti hatinya yang terlalu dalam.
"Aku hanya ingin saja. Shion berkata ingin menjadi temanku, dan kukatakan saja jika dia ingin menjadi temanku maka dia harus menurutiku" Naruto berhenti bercerita, tersenyum kecil mengingat bagaimana dulu Shion yang memberi syarat bukan dirinya. Ada rasa sesak didadanya. "Aku selalu sendirian selama ini. ku pikir akan menyenangkan jika aku memiliki teman yang bisa ku suruh-suruh. Lalu aku tahu jika Hinata mengerjaiku dengan mencoret-coret mejaku aku ingin membalasnya. Tapi aku tidak bisa, aku tidak ingin merusak reputasiku jadi ku putuskan untuk menyuruh Shion melakukannya"
"Jadi apa setelahnya kalian berteman?"
"Hmm.." Naruto mengangguk menjawab pertanyaan dari Kakashi, mengerjapkan mata beberapa kali saat terasa begitu panas. Dia melihat Shion lalu tersenyum lembut setelahnya. Melihat bagaimana gadis kasar dan menyebalkan berubah menjadi perempuan cengeng yang melihatnya dengan air mata yang sudah turun entah kapan. "Kami berteman setelahnya. Dan tentu saja aku masih menyuruhnya ini dan itu. Tak masalah bagiku bagaimana dia memandangku. Asalkan aku punya teman saja itu sudah cukup. Hanya satu tidak apa-apa itu cukup bagiku"
:: :: Janus :: ::
"Kau mau bicara apa?"
Gaara mengeluh pelan menatap pria yang sedari tadi hanya diam. Memukul mejanya pelan saat dia tengah terlelap dalam tidur siang dan seenaknya dia Sasuke Uchiha kalau Gaara perlu mengingatkan menyuruhnya dengan begitu bossy untuk mengikutinya dari belakang. Dan berakhirlah mereka di gedung olah raga yang sepi.
"Oy! Jangan diam saja!" berdecak kesal. Beberapa menit setelahnya Sasuke kembali diam seperti patung dan hal itu yang membuat Gaara benar-benar jengah. Ada hanyak hal yang harus dia lakukan, menguntit Naruto misalnya. "Hei.. jika dalam hitungan ketiga kau tidak bicara aku benar-benar pergi. Satu dua tig-"
"Kau menyukai Naruto?"
"Hah?"
Untuk sesaat Gaara berfikir dia kehilangan fungsi telinganya. Memandang Sasuke dengan mulut lebarnya terbuka penuh. Dan Sasuke kembali diam setelah pertanyaan konyol yang telah dia susun begitu lama untuk berani membuka mulut, bertanya secara langsung dengan si pembuat kenapa dia gelisah sepanjang waktu.
Sasuke mendesah pelan melihat Gaara dengan wajah bodohnya. Kembali bertanya dengan nada datar terlihat untuk tenang "Aku bertanya apa kau menyukai Naruto atau tidak?"
"Memangnya kenapa?" Gaara bertanya setengah sadar.
"Hanya ingin tahu saja" menjawab tenang dengan kepala menunduk lalu kembali menatap Gaara dengan raut wajah tenang tak terbaca miliknya. Mencoba terlihat biasa saja di balik hatinya yang bergemuruh. Ada banyak pertimbangan dan pertimbangan mengenai hatinya yang akan sakit adalah resiko awal yang akan dia tanggung untuk pertama kali. Alasan terbesarnya adalah dia ingin mencoba. Mencoba untuk melepaskan cinta pertamanya. Dan jika itu sulit maka dia akan memilih opsi ke dua. Kembali pada cinta pertamanya.
Kini Gaara yang terdiam, mencoba mencerna dengan baik dan teliti di balik pertanyaan Sasuke. Apakah hanya lelucon atau genderang perang. Gaara tidak pernah mengerti tentang Sasuke, dia baru mengenalnya di tahun kedua ini. yang dia tahu hanyalah siswa jenius yang sering dia dengar di ruang guru ketika ada masalah yang mengharuskannya mendengar ratusan petuah dari wali kelasnya dulu. Lalu selang beberapa waktu setelahnya ketika dia mengenal Naruto untuk pertama kalinya disanalah dia tahu hal lain tentang Sasuke. Si mantan kekasih Naruto yang entah kenapa kini mulai merangkap perlahan menjadi orang yang special untuknya.
Gaara menyeringai setelah terdiam untuk beberapa waktu. Ada hal yang dia pastikan, Gaara mencoba memancing dengan mengatakan kalimat. "Ya. Aku menyukainya. Aku menyukai Naruto, mantan kekasihmu"
Sasuke mengangkat kepalanya menatap Gaara yang tersenyum menyebalkan seperti biasanya. Menghela nafas, menghadap Gaara dan menatap tepat pada matanya seperti seorang pria. "Oh.." beonya pelan lalu pergi begitu saja. Meninggalkan Gaara yang kembali melongo ditempatnya.
:: :: Janus :: ::
Menghela nafasnya perlahan, menatap pantulan dirinya sendiri di depan cermin. Naruto tidak pernah berfikir jika dia berani menerobos masuk ke dalam ruangan mengerikan itu lagi. Setelah terakhir kali dia masuk ruang kedisiplinan ibunya waktu itu sangat marah bahkan mengunci dirinya di kamar selama berminggu-minggu dan hanya keluar untuk sekolah tidak lebih. Kini dengan sukarela dia malah pergi masuk ke sana meski resikonya dia sudah tahu apa yang akan terjadi. Tapi sayangnya otaknya tidak bisa bekerja dengan baik saat terdesak. Seperti pemikiran gila jika Shion akan di tendang keluar dari sekolah ini. Dia begitu kalut hingga lupa permasalahannya sendiri.
"Apa kau gila?" Ucapan Shion datang setelah dari pintu masuk toilet. Dia melipat tangannya menatap Naruto dengan kesal. Berpikir betapa bodohnya temannya ini.
"kau… bisa mengataknnya begitu"
"Namikaze Naruto!" Shion memekik kesal mendengar bagaimana Naruto malah tak acuh padanya. tidak perduli pada bencana yang akan terjadi setelahnya. "Apa kau benar-benar gila?! Kau pikir apa yang akan kau lakukan jika ibumu mengetahuinya? Kau mau ibumu datang dan menyeretmu pergi hah?!"
"Oh aku gila sekarang" beo Naruto tanpa menatap Shion. Menghembuskan nafas hingga meniup poninya yang rata Naruto berbalik benar-benar menatap Shion dengan pandangan lelah. "Maka dari itu jangan menyeramahi aku lagi oke?"
"Oy! Kau mau bunuh diri?"
"Hmm anggap saja begitu"
"Namikaze Naruto!"
"Menjijikkan…" Suara itu pelan namun sanggup mengubah amarah Shion ke lain sasaran. Seorang gadis berambut panjang yang berdiri di depan salah satu bilik toilet. Dia baru saja keluar dari sana. Dan mungkin juga mendengar semua yang mereka katakan meski sebagian besar hanyalah soal perdebatan siapa yang paling gila.
Naruto berkedip pelan menatap Hinata yang berdiri menatapnya tajam dengan kedua tangan mengepal disamping tubuh. Gadis itu marah atau malah mungkin begitu membencinya hingga menatapnya seperti itu. Tapi Naruto tidak perduli dengan hal itu, tidak ada yang harus dia pusingkan lagi kecuali masalah ibunya di rumah nanti. Mungkin lebih baik dia menginap di rumah Shion atau Karin nanti.
"Kalian benar-benar menjijikkan" Hinata kembali bersuara disertai emosi disetiap kalimat yang dia sampaikan. Menatap nyalang kedua orang yang menurutnya begitu idiot. "Jangan bertingkah seakan-akan kalian adalah sahabat paling baik di dunia! Aku tahu kalian hanya akan saling menghancurkan satu sama lain! kalian akan meninggalkan satu sama lain saat tidak dibutuhkan! Kalian tidak akan menoleh ke belakang saat salah satu dari kalian kesulitan! Kalian akan pergi begitu saja! kalian akan sama-sama berubah! JADI BERHENTILAH BERPURA-PURA JADI TEMAN YANG BAIK!"
Hinata kehilangan nafasnya perlahan. Berteriak memang bukan dirinya selama ini. Dan emosi yang dia keluarkan cukup melelahkan untuk ditanggung sendiri. Dia tidak mengerti kenapa begitu marah mendengar bagaimana mereka mengkhawatirkan satu sama lain. Bagaimana mereka mencoba untuk saling melindungi satu sama lain. Itu memuakkan dan lebih menjijikkan saat bagaimana mereka akan bertengkar nantinya tidak sebanding dengan pengorbanannya. Hinata marah dengan mata memerah dan wajahnya juga memerah kepalan ditangannya semakin mengerat kuku – kuku itu seperti akan menancap di tangannya.
"Itu kau?" Naruto bertanya santai. Tidak perduli dengan mata Hinata yang melebar menatapnya kesal. Melipat tangannya di depan perut, melupakan Shion untuk sejenak.
"Apa?!"
"Aku tanya apa itu kau? Jika itu kau aku… aku hanya kasihan padamu!"
"NAMIKAZE NARUTO!" Teriakan Hinata cukup untuk menghentikan bagaimana mulut Naruto berhenti bekerja. Mata Hinata memerah lebih cepat dengan nafas memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Menatap lurus bagaimana Naruto masih terlihat santai dengan tidak mengubah posisinya sama sekali.
"Apa kau benar-benar kesepian?" Naruto bertanya dan Hinata hanya diam tidak menjawabnya ataupun berteriak seperti yang dia lakukan tadi. "Kau menghamburkan uangmu sendiri untuk berteman, jika mereka benar-benar temanmu mereka akan selalu ada untukmu. Yang kau lakukan selama ini hanya bersikap baik agar mereka bersikap baik padamu. Lalu kau benar-benar menyebut itu teman?"
Tangannya masih terkepal dengan erat Hinata menutup bibirnya rapat-rapat. Menatap berang kearah Naruto, menutup telinga dan otaknya mencoba untuk menolak semua yang Naruto katakan meski pada kenyataannya semua yang Naruto katakan itu benar. Sekeras apapun usaha membuat mereka melihatnya, menjadi gadis lugu dan penurut rasa kesepian itu masih ada. Begitu melekat bahkan dalam keramaian sekalipun.
"Menurutmu haruskah teman itu banyak? Untuk mengobati rasa kesepianmu kau membuat semua orang untuk menatapmu. Lalu saat kau mempunyai banyak teman apa mereka akan memperlakukanmu seperti kau memperlakukan mereka? Apa mereka akan berkorban untukmu? Dibandingkan mencari perhatian semua orang kenapa kau tidak mencari satu saja yang benar-benar perduli padamu? Bukankah itu cukup asal ada yang mengerti dirimu meski hanya satu?"
Naruto kembali berbicara seperti mendongeng pada anak usia tujuh tahun begitu panjang tanpa respon. Hinata hanya diam tapi tidak dengan mata merahnya bukan karena marah lagi tapi ingin menangis keras. Ucapan Naruto benar-benar mengenai segala hal dalam tubuhnya dan hati terutama paling menyesakkan. Naruto menarik nafas perlahan, kembali berujar. "Kau yang kau takutkan bukannya kesepian, tapi yang kau takutkan adalah saat kau sendiri. Aku benarkan?"
Hinata merespon dengan air matanya yang turun. Semua yang dikatakan Naruto benar dibandingkan kesepian saat dimana dia sendiri adalah yang paling dia takutkan. Tidak ada yang melihatnya tidak ada orang-orang disekitarnya dan itu membuatnya takut. Merasakan dimana seolah-olah dunia mengucilkannya, seolah mereka semua membencinya. Menyingkirkan perlahan untuk pergi dan Hinata membencinya ketika dimana tidak ada seorangpun yang memanggil namanya seolah dia hidup di dimensi yang berbeda.
"Daripada kau selalu mengulurkan tanganmu kenapa kau tak menerima uluran tangan orang lain?"
Ucapan terakhir Naruto yang dia dengar sebelum gadis itu pergi bersama Shion yang hanya mematung ditempatnya sedari tadi.
:: :: Janus :: ::
"Mereka benar-benar gila! Mereka pikir ini permainan?!" Kurenai melempar kertas-kertas mengenai data personal Hinata dan Naruto keatas meja kerjanya dengan keras hingga beberapa berhamburan jatuh. Menghela nafas keras-keras.
Kakashi memijat kening mencoba mengurangi rasa pusing yang melanda. Belum ada dua puluh empat jam dia menjadi wali kelas bahkan belum memperkenalkan secara resmi pada murid-murid jika dia sebagai wali kelas pengganti masalah baru sudah datang. Kakashi merasa dirinya berada di tengah-tengah pegulat pro. Sesuatu bergelenyar hingga rasanya kepalanya ingin pecah begitu pusing. Dia akan membutuhkan painkiller suatu saat nanti.
"Haruskah kita memanggil wali Namikaze-san?" Asuma memberikan saran setelah satu batang rokoknya telah habis lalu mulai menyalakan lagi rokok baru, dia bahkan sudah menghabiskan tiga batang rokok hanya untuk menenangkan diri.
"Sarutobi-san tidakkah kau paham jika dilarang merokok diarena sekolah" sindir Kurenai begitu jengah dengan asap rokok yang mengepul dan mulai masuk ke dalam saluran pernafasannya. Kurenai sudah bersabar sejak tadi, bahkan belum 2 jam kepergian Ibu Hinata yang membuatnya kesulitan karena wanita itu terus marah-marah dan Asuma menyalakan rokok ketika wanita cerewet itu pergi. Asuma mematikan rokoknya yang masih panjang setelah bergumam maaf dengan pelan.
Menghela nafasnya Kakashi berdiri dari kursinya menatap Asuma sebelum pergi untuk mengajar. "Kurasa jangan dulu, jangan beritahukan wali Namikaze-san. Kurasa akan semakin memburuk jika beliau kita beritahu. Biarkan Hinata memutuskan apakah kasus ini tetap berlanjut atau dihentikan. Lagi pula keterlibatan Namikaze-san masih belum jelas"
Tidak ada pilihan selain menurut, Kurenai mengangguk pelan. Berurusan dengan Namikaze Kushina akan semakin rumit nantinya. Untuk kali ini jika masalah tidak membesar maka dia akan memilih diam untuk sementara.
:: :: Janus :: ::
"Kau tidak pernah menjaga mulutmu ya?" Shion menggurutu sepanjang perjalanan menuju kelas sebelum menaiki tangga perlahan bersama Naruto yang tertawa kecil mendengar kalimatnya yang mungkin hanya dianggap sebuah lelucon kecil.
"Kau juga tidak pernah menjaga mulutmu" balas Naruto tanpa berhenti berjalan terlebih dahulu dengan senyuman kecil tersungging di bibirnya. Ada beberapa alasan kenapa dia merasa lebih hidup meski melakukan hal-hal bodoh, dan menentang ibunya seperti tadi. Tanpa membuat masalah. Tapi sepertinya masalah tidak ingin jauh-jauh darinya. Naruto bergerak mencoba untuk menggeser pintu kelas.
"Terima kasih" suara Shion menghentikannya untuk menggeser pintu. Berbalik hanya untuk Shion yang membuang wajahnya kearah lain. Tidak ingin menatapnya secara langsung dan hal yang seperti itu membuat Naruto kembali tertawa geli karenanya. Shion mengulang kembali ucapannya lebih panjang. "Terima kasih sudah menolongku"
Naruto menarik nafasnya dan melipat tangan seperti biasanya. "Butuh waktu 30 menit untuk mengatakan terima kasih?" sedikit mengeluarkan sarkamnya hanya untuk mengerjai Shion sebelum tersenyum lebar dan menarik gadis itu masuk. "Sama-sama"
Untuk sekian waktu lama yang terbuang bagi Shion kini dia benar-benar melihat seorang Namikaze Naruto sebagaimana mestinya. Seorang gadis remaja 16 tahun yang akan mencapai angka 17 dengan semua polah tingkahnya.
:: :: Janus :: ::
Dua hari setelahnya Naruto masih melakukan hal-hal seperti biasanya belajar lalu pulang. Ada beberapa hal baru yang mulai dia lakukan mulai sekarang. Mencoba untuk tidak menahan diri, mengatakan apa yang dia inginkan. Hubungannya dengan Shion sudah jadi sedikit lebih baik meski terkadang gadis itu masih terlihat sedikit canggung. Karin masih sama terus bertanya mengenai kejadian menghilangnya dua hari yang lalu dan juga kasus Shion yang sepertinya masih berlanjut hingga sekarang. Serta Gaara yang menjadi lebih sering mengganggunya setiap hari.
Satu hal yang Naruto alami mulai sekarang. Semua orang-orang semakin memandangnya gadis yang jahat. Hinata tidak masuk selama dua hari berturut-turut serta gossip mengenai dirinya semakin bertambah dimana mereka mulai menambahkan jika dia yang ada di balik kasus Hinata bukannya Shion. Setidaknya itu lebih baik di bandingkan Shion kembali terkena masalah karenanya. Seperti pagi biasanya dia akan datang bersama Shion dan Karin berjalan bersama menuju kelas. Seperti biasanya juga maka beberapa anak akan mengumpul dan bergosip tentangnya berbisik lalu menatapnya. Untuk beberapa waktu dia mulai terbiasa untuk itu.
Karin akan begitu berisik sampai bel masuk jam pelajaran berbunyi, dia akan diam untuk beberapa menit setelahnya akan kembali berisik meski hanya sekedar berbisik. Tapi pengecualian untuk hari ini. Begitu pintu tergeser, terbuka secara sempurna yang ada hanya pandangan beberapa anak yang menatap mereka begitu kesal. Karin terdiam beberapa saat melangkah pelan disusul Naruto di belakang lalu Shion paling belakang. Menatap setiap penjuru kelas yang menatapnya begitu menuntut.
"Ada apa?" Karin bertanya pada Konan yang paling dekat di bangku belakang. Hanya di jawab dengan gelengan pelan dan senyuman canggung antara ingin atau tidak. Pein segera mengalihkan pandangannya dengan buru-buru mengobrol dengan Kiba secara tiba-tiba tidak ingin menjadi sasaran pertanyaan Karin setelahnya.
Naruto menatap Ajisai dan teman-temannya di bangku depan yang tengah menatapnya sinis seperti biasa. Tidak perlu di hiraukan Naruto berjalan menuju bangkunya bersama Shion di sana sudah ada Gaara yang duduk manis di bangku miliknya tidur seperti biasa. Karena memang tidak ada hal berguna yang laki-laki itu lakukan di sekolah kecuali tidur dan mengganggunya. Anehnya setiap Gaara tertidur begitu dia datang maka laki-laki itu sudah bersiap untuk menganggu seperti biasa. Dan kali ini begitu melihatnya Gaara tersenyum manis begitu lebar lalu melambaikan tangannya seperti seorang teman akrab. Yang di lakukan Naruto kemudian hanyalah mendengus, menghiraukan Gaara yang bersiap untuk berceloteh. Sedikit keajaiban melihat Gaara di pagi hari. Biasanya dia akan datang begitu menunjukkan pukul sembilan siang setelah mendapat hukuman atau melarikan diri dari guru kedisiplinan.
"Shion-chan… bukankah harimu indah? Bagaimana bisa kau masih masuk sekolah setelah menendang keluar teman sekelasmu?" Ajisai berkata dengan lembut namun tidak mengurangi sindiran di dalam setiap kata-katanya.
Shion menatap Ajisai bahkan dia belum duduk untuk meletakkan tasnya. "Apa maksudmu?" bertanya pelan tanpa minat untuk membuat masalah.
"Tidakkah kau merasa bersalah pada Hinata-chan? Dua hari yang lalu kau disidang karena membully Hinata-chan lalu sekarang kenapa Hinata-chan yang keluar bukan kau?" Saya menyindir Shion secara langsung. Kabar yang diterimanya pagi tadi benar-benar membuat sesisi kelas begitu heboh. Beberapa bahkan menyebarkannya di kelas lain, dan hal yang seperti itu membuatnya benar-benar muak. Dia berada di kelas unggulan bukan di kelas sampah, begitu nama kelas ini menjadi buruk Saya tidak akan pernah mau menerima getahnya. Dia belajar mati-matian untuk bisa masuk ke kelas ini. dan dengan gampangnya murid semacam Shion dan Karin bisa begitu mudahnya masuk ke kelas ini. Hal inilah yang membuatnya benar-benar marah kepada mereka. "Bagaimana bisa orang sepertimu bisa begitu mudahnya masuk ke kelas kami dan menendang Hinata keluar begitu saja meskipun kau lah yang seharusnya keluar dari sekolah ini"
"Permisi… adakah yang bisa memberitahuku apa yang terjadi?" Karin memotong berjalan satu langkah di depan Shion. Menatap Shion dan Ajisai mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Setidaknya dia tidak seperti orang bodoh yang terlihat linglung.
"Hinata dia keluar dari sekolah" Fuu menjawab
"Lalu apa hubungannya dengan Shion? Oy dengar jika Hinata keluar ya sudah keluar itu keputusannya kenapa kalian menghakimi Shion seperti ini?"
"Apa kau tidak tahu jika teman yang paling kau jaga ini yang menjadi alasan Hinata keluar!" Saya menjelaskan mendorong Karin mundur pelan melalui telunjuknya. "Ku dengar kemarin dia dan Hinata sedang di sidang oleh dewan kedisiplinan, yang ku tahu Hinata adalah korban. Lalu kenapa dia yang harus keluar?"
Karin mendengus lalu maju selangkah balas mendorong pundak Saya dengan telunjuk juga "Permisi nona jika memang Hinata keluar karena Shion lalu apa permasalahannya?"
"Hei apa temanmu itu tidak punya malu? Jelas-jelas masalah ini karenanya. Shion melakukan kekerasan pada Hinata, semua orang tahu itu atau jangan-jangan kau juga terlibat?" Menyeringai pelan Saya kembali melanjutkan ucapannya memojokkan Karin dan menghina Shion secara bersamaan. "Aku heran bagaimana temanmu itu bisa lolos dari hukuman? Apa dia menyuap kepala sekolah?"
"Jika memang karenaku apa masalahmu?" Shion menarik Karin mundur, kini dia yang berhadapan dengan Saya dan Ajisai secara langsung. Dan kelas kemudian berubah menjadi sepi hening, begitu menakutkan. Mereka hanya melihat tanpa berniat untuk melerai atau membela salah satu kubu. Beberapa tidak perduli dan melakukan aktivitasnya seperti biasa membaca buku atau mengerjakan soal. Gaara mulai terbangun dari tidurnya, menatap Naruto yang hanya berdiri disis kiri mejanya. Tidak bicara dan hanya diam.
"Lalu apa masalahnya dengan kalian? Apa itu begitu menganggumu? Apakah kalian sangat ingin aku keluar dari sekolah ini?" Shion kembali melanjutnya melangkah maju membuat Saya berjalan mundur masih menatapnya kesal. Inilah saat dimana dia benar-benar kesal, dia tidak bisa mengontrol amarahnya dengan baik. Dan saat dia meledak dia tak ingin menyesalinya nanti jika kedua temannya harus ikut terlibat.
"Eoh! Rasanya menjijikkan harus sekelas dengan orang sepertimu! Hinata bukankah dia juga temanmu?! Lalu apa yang kau lakukan hah?! dia baik padamu! Membelikanmu makanan! Sedangkan kau hanya memanfaatkannya kau pikir kau pantas menjadi temannya hah?! aku benar-benar kasihan pada Hinata" Saya menggeram marah di setiap katanya. Menahan emosi yang bergumul menjadi satu untuk dipaksa keluar. Menatap marah pada Shion yang masih berdiri tenang di depannya.
"Ah kalian ini benar-benar berisik ya?" Naruto bersuara setelah lelah hanya menjadi penonton. Shion tidak menjawab cacian Saya dan hanya diam atau mungkin dia sedang berpikir untuk membalas seperti apa. Ucapan Naruto mengubah poros dari mereka kini semua pandangan mata beralih padanya. Gaara menegakkan tubuhnya bersandar pada kursi di belakang melipat kedua tangan menatap Naruto penuh minat. "Kalian benar-benar menganggu" Naruto melanjutkan.
"Apa?" Ajisai hanya bisa mengucapkan satu kata dari rasa terkejutnya dari Naruto yang dia pikir hanya akan diam. "Apa kau bilang tadi?"
"Ini adalah masalah Shion dan Hinata kenapa kalian ikut campur?"
"Permisi Nona Namikaze-san jika kau belum mengerti juga" Ajisai menekan kata nona dan Namikze memperjelas di setiap pertambahan oktaf suaranya menahan geram untuk tidak meledak-ledak. "Teman yang kau banggakan ini telah membuat temannya sendiri keluar dari sekolah. Bukankah Hinata sering menghabiskan waktu dengan kalian dan dia dengan mudah menendang temannya sendiri keluar. Apakah dia tidak punya malu? Benar-benar memalukan ada orang seperti itu di kelas ini. Apa kau tidak tahu tanggapan kelas lain mengenai ini? Aku heran mungkin orang tuanya melakukan suap hingga dia bisa masuk kelas ini"
Naruto tidak lagi menjawab dan Shion hanya diam. Mereka yang tadinya ricuh kini diam, menatap objek pembicaraan sebagaian meng-iya-kan ucapan Ajisai sebagaian tidak dan sebagiannya lagi tidak perduli. Masa bodoh dan itu bukan urusan mereka. Sasuke, Sakura, dan Ino datang sedikit siang hingga menyebabkan mereka mengkerutkan kening memandang sekeliling dengan bingung. Aneh rasanya jika kelas terasa begitu sepi. Ino mencoba bertanya pada Tenten di bangku depan, dimana dia tidak mendapat jawaban sama sekali. Sakura masih disana berdiri tepat di samping Sasuke tidak berniat menuju bangkunya di barisan depan, mencoba mencari tahu apa yang terjadi melalui pengamatan di sekitarnya, begitupun juga Sasuke berdiri masih dengan tas yang dia pegang. Menatap anak-anak satu per satu hingga jatuh titik dimana Ajisai memandang geram, kearah Naruto. Sedikit terkejut saat gadis itu menyeringai pelan mulai untuk melipat tangannya yang dia sadari kini menjadi kebiasaan baru gadis itu.
"Bukankah kalian juga?" Naruto membuka suara setelah terdiam. Menatap Ajisai yang melotot kearahnya. "Bukankah kalian semua melakukannya. Menjadikan Hinata sebagai dompet kelas. Aneh rasanya jika melihat kau bertingkah jika kalian sangat akrab"
"Apa maksudmu?"
Tidak perduli dengan Ajisai yang mulai terpancing emosi Naruto tersenyum tipis. "Apa kau selalu bersamanya? Ah tidak. Apa kalian selalu bersamanya? Kalian hanya akan mengajaknya keluar untuk menonton atau ke café setelahnya kalian akan pulang duluan dan menyisakan bon untuk Hinata. Dia memang tidak pernah bilang iya ataupun menolak maka dari itu kalian memperlakukan sesuka hati. Kalian hanya bicara seperlunya, datang disaat butuh dan menghilang begitu saja. Kalian bahkan jarang mengajaknya mengobrol meski berkumpul bersama menjadikannya hanya sebagai orang asing. Lalu tiba-tiba kalian menyalahkan Shion karena hal ini?" Berhenti sejenak lalu tersenyum mengejek. "woaaah itu yang kau sebut teman? Apa kau pernah bertanya kapan ulang tahunnya? Apa yang dia butuhkan? Jika dia memang temanmu kenapa tidak kau saja yang melindunginya di bandingkan menyalahkan orang lain karena emosi konyolmu itu. Atau kau melakukan ini hanya untuk menjatuhkan Shion ah bukan tapi aku benar? Aku kasihan padamu. Sungguh"
Mengakhiri ucapannya Naruto berbalik dan duduk di bangkunya mengabaikan Ajisai yang ingin meledak marah. Di belakang Gaara menyeringai senang, tersenyum tipis menatap Naruto sebelum kembali meletakkan kepalanya pada bangku kembali tertidur dengan bibir yang tidak berhenti mengulum senyum tipis. Gadis itu entah kenapa begitu menakutkan tapi anehnya dia suka dengan itu. Semuanya terhenti setelah Kakashi-Sensi memasuki kelas bahkan bunyi bel terasa jauh untuk situasi saat ini. Sebelum Sasuke duduk di bangkunya dia kembali menatap Naruto rasa terkejut paling mendominasi sebelum bibirnya menyunggingkan senyum tipis anehnya dia tidak masalah dengan Naruto yang sekarang. Hal baik yang dia dapat hari ini tentang gadis itu adalah dia tidak menahan dirinya lagi.
:: :: Janus :: ::
Menghela nafas perlahan. Ada begitu banyak masalah yang muncul akhir-akhir ini. Masalah Shion Naruto yakin cepat atau lambat akan sampai di telinganya ibunya dan jika hal yang seperti itu terjadi maka akan menjadi masalah yang besar. Dia cukup tenang beberapa hari ini ibunya sedang di pusingkan dengan kasus kasus yang harus dia tangani bersama ayahnya jadi dia akan sangat jarang bertemu ibunya. Naruto hanya berharap Kurenai Sensei tidak akan memanggil ibunya untuk masalah ini.
Menunduk memainkan kakinya dengan menggesek trotoar jalan di halte menunggu bus kearah rumahnya, Naruto kembali memikirkan kejadian tadi pagi dimana Kakashi-sensei ditunjuk sebagai wali kelas pengganti mereka. Dan dia mengerti kenapa bisa-bisanya guru matematika muda itu yang harus ditunjuk mengingat ada guru senior lainnya. Sedikit banyak ibunya pasti ikut campur untuk ini dengan suka rela turun tangan untuk menentukan wali kelas untuk anaknya mengingat ibunya juga lah yang menunjuk Kakashi sebagai guru pembimbingnya di pelajaran tambahan. Naruto tahu guru muda itu pemilik salah satu tempat bimbingan belajar terkemuka di Tokyo dimana tempatnya untuk les setiap pulang sekolah seminggu 4 kali dan. Melihat jam tangan menunjukkan pukul 4 sore dia beruntung setidaknya hari ini tidak ada pelajaran tambahan. Tubuhnya terlalu lelah untuk itu, dia baru saja menyelesaikan tugas piketnya.
"Belum pulang?" suara berat mengampirinya, Naruto menoleh menatap Sasuke yang berdiri menjulang di depannya. Laki-laki itu mungkin baru saja selesai dengan ektrakurikulernya mengikuti klub sepak bola bahkan sepatunya saja belum di ganti.
Naruto tersenyum tipis lalu menggeleng pelan. "Baru selesai dengan klub? Kau tidak bersama Sakura? Kalian seperti perangko akhir-akhir ini" tambahnya.
Sasuke tersenyum masam melihat tidak ada reaksi berarti pada wajah Naruto begitu menyebut nama Sakura. Gadis itu terlihat biasa-biasa saja padahal ada hal lain yang ingin Sasuke lihat dimana Naruto terlihat tidak nyaman dengan kedekatannya dengan Sakura. Sama seperti Naruto Sasuke menggeleng pelan. "Aku tidak tahu dia pulang duluan katanya bersama Ino dan Tenten"
Setelah itu hanya keheningan yang menyapa. Naruto kembali menunduk dan memainkan kaki-kakinya seperti semula. Dia menjadi berfikir bagaimana dia bicara dengan Sasuke selama ini. rasanya sekarang menjadi begitu canggung dia tidak tahu harus bicara bagaimana mengatakan A atau B terlebih dahulu. Disampingnya Sasuke hanya diam melihat bagaimana surai kuning alami itu menunduk melihat tanah di bawahnya. Sasuke tersenyum tipis mengingat kejadian hari ini. Tangannya terulur mengusap puncak kepala Naruto pelan, rambut itu begitu lembut ditangannya.
Dengan cepat Naruto mendongak saat merasakan bagaimana tangan besar Sasuke masih di kepalanya. Dilihatnya senyum tipi situ menjadi senyuman lebar milik Sasuke. Tidak tahu harus bagaimana Naruto membuka ditempatnya dengan kedua matanya yang membola entah kenapa dia tiba-tiba merasa begitu malu dengan semburat merah tipis sebagai tanda di wajah. Bola matanya bergerak ke kenan kiri mencoba untuk mengerti situasi saat ini. Dia ingin bicara tapi begitu tergagap. "Ka- kkk kau ke-kenapa?"
Sasuke tidak menjawab dia hanya diam dengan senyuman yang masih melekat dibibir. Memandang Naruto yang mengerjapkan matanya pelan. Sebelum berbalik dan pergi dengan menyampirkan tas di bahunya. Meninggalkan Naruto yang masih kebingungan di tempatnya. Berjalan pelan lalu berlari dengan cepat. Rasanya sesuatu akan meledak begitu keras di dadanya.
Naruto berdiri memandang kemana pria Uchiha itu pergi mengangkat tangannya menyentuh tempat dimana Sasuke baru saja menyentuhnya. Dia masih tidak mengerti kenapa ada hal yang ingin dia tanyakan dan kini pria itu sudah pergi jauh. Getaran pelan ponselnya membuat Naruto sedikit terkejut meraih ponsel yang dia simpan di saku jaket olah raga biru miliknya dengan nama Gaara tertera disana.
From : Gaara
Kerja Bagus ^^
"Hah?"
:: :: Janus :: ::
Seperti biasa Naruto akan mengerjakan beberapa tugas dan belajar beberapa buku tebal beberapa lembar post it berwarna kuning terpempel di sekitar meja belajar dari rumus matematika hingga sains. Naruto merenggangkan ototnya sejenak sebelum berganti ke diktat yang lain. buku sekolah dan juga buku tambahan dari tempat bimbingan belajar ditambah beberapa buku catatan dan tugas yang diberikan Kakashi-sensei padanya. Naruto mengusap matanya mencoba mengusir lelah yang melanda.
"Kau masih belajar?" Menoleh ke sumber suara disana Kushina berdiri dengan segelas susu hangat dan juga cookies di nampan. Berjalan mendekat kearah Naruto sebelah tangannya memegang amplop coklat besar. Naruto mengangguk pelan membiarkan ibunya menaruh minuman dan makanan di meja nakas disamping tempat tidurnya. Kushina tersenyum lembut lalu mengusap pelan kepala Naruto yang kembali pada buku-buku di depannya. "Ini untukmu"
Dengan kening berkerut Naruto menerimanya. Menatap Kushina untuk beberapa detik sebelum menggerakkan tangannya untuk membuka amplop tersebut. "Apa ini?"
"Jadwal belajarmu yang baru" Kushina menjawab pelan dengan duduk di ranjang milik Naruto menatap anaknya yang menganga pelan melihat isi kertas putih yang baru dicetaknya beberapa menit yang lalu.
"O-okasan kenapa?" Matanya bergerak gerak menulusuri setiap cetakan huruf disana deretan jam mata pelajaran yang harus dia ikuti dan beberapa tempat bimbingan belajar yang harus dia masuki. Naruto mengerjap pelan menatap ibunya. "I-ini apa?"
"Seperti yang ku bilang jadwal belajarmu yang baru. Hari Senin sampai Rabu kau akan belajar di tempat biasa sepulang sekolah. Malamnya kau akan mengikuti grup belajar bersama Sasuke dan yang lainnya. Kamis sampai sabtu kau akan mendapat pelajaran tambahan dari Kakashi-sensei dan malamnya kau akan mengikuti bimbingan belajar secara privat dari Tobirama-san lalu hari minggu kau akan belajar secara intensif dirumah Ibu akan menamanimu seharian penuh" Kushina menjelaskan tanpa melihat bagaimana Naruto menatapnya tak percaya.
"Tapi Kaa-san bukankah ini terlalu berlebihan? Aku juga butuh istirahat" Naruto mencoba untuk membujuk ibunya agara sedikit mengurangi porsi belajarnya mencoba mencari cara untuk meluluhkan ibunya meski sulit.
"Lalu apa yang akan kau lakukan bermain dengan teman-temanmu? Kau bisa istirahat minggu malam kau bisa tidur semalam penuh"
"Aku benar-benar bisa mati" berbicara lirih menatap ibunya yang masih menyunggingkan senyuman manis untuknya. Dia tidak tahu ini hukuman atau memang ambisi ibunya untuk membatasi pergaulan demi mimpi ibunya sendiri.
"Kau tidak akan mati karena belajar" Kushina berdiri membenarkan pakaian belakangnya yang mungkin kusut. Menatap Naruto kemudian dengan tatapan yang berubah menjadi serius "Tidak ada waktu untuk bermain ataupun berteman tahun depan kau sudah menjalani ujian kelulusan dan masuk universitas. Saat kau bisa menjadi pengacara yang sukses seperti ibumu atau jaksa seperti ayahmu kau baru boleh bersenang-senang"
Menatap Ibunya yang pergi keluar Naruto menggigit bibir bawahnya melihat bagaimana ibunya menutup pintu kamarnya secara perlahan. ini seperti dimana dia tidak memiliki pilihan dalam hidup tidak ada perlawanan bahkan pertolongan terjebak dalam mimpi orang tua dimana harus mengubur mimpinya dalam-dalam. Ada hal lain yang Naruto inginkan dibanding menjadi seorang pengacara atau jaksa. Bahkan dulu dia sudah bersiap untuk memasuki kedokteran dan saat dia mengutarakan maka mimpinya hilang.
Meremas kertas ditangannya sebagai bentuk penolakan sebagai ekspresi kemarahannya. Naruto baru saja memiliki teman lalu berbicara dan tertawa bersama. Bertemu dengan orang-orang baru seperti Gaara misalnya. Dan dia juga baru saja menemukan dirinya setelah sekian lama sembunyi dalam ruangan gelap. Sekarang bahkan belum genap dua puluh empat jam dia harus kembali mengubur dirinya sendiri. dalam gelap dan dalam kungkungan keluarganya sendiri. Dia bisa apa umurnya bahkan belum genap 17 tahun.
Seperti biasa pula Naruto akan menangis sendirian di dalam kamar pengap miliknya tanpa suara.
:: :: Janus :: ::
Untuk: Namikaze Naruto
Aneh rasanya jika harus menulis surat untukmu seperti seorang pengecut. Tapi itulah aku. Jadi aku hanya bisa menulisnya.
Ada banyak yang ingin ku sampaikan padamu. Aku berpikir terus menerus semenjak kejadian di toilet lalu. Aku harus memutuskan banyak hal beberapa hari ini. Aku terus memikirkan ucapanmu waktu itu. Jadi aku hanya bisa mengatakan maaf karenanya. Aku akan membuat pengakuan jadi ku harap kau tidak marah padaku nantinya.
Saat tahun ajaran pertama pelajaran olah raga aku masih mengingatnya dengan jelas. Saat kau mengulurkan tanganmu dan mengajakku berkenalan itulah pertama kali bagiku menerima uluran tangan orang lain. Terima kasih karenanya. Ku pikir kita akan bisa berteman lalu aku mencoba bergaul denganmu ah dengan Shion dan Karin juga. Aku ingin berteman denganmu dan aku melakukannya, ku pikir jika aku membelikan mereka makan dan mentraktir mereka setiap waktu aku akan mendapatkan teman, dan seperti katamu seberapa banyak uang yang ku buang aku tetap saja kesepian.
"Benar… kau menghabiskan uang dan orang akan menghabiskan waktu denganmu. Maaf jika aku menyakitimu tapi… aku tidak mau menjual waktu 10 menitku denganmu."
Aku masih mengingat yang kau katakana padaku. mungkin itu yang menyebabkan aku marah padamu, dan saat di toilet waktu itu kau mengerti semua dan kau hanya diam. Aku merasa kesal dan tanpa sadar aku iri padamu. Aku melakukannya mencoret-coret mejamu seperti anak kecil aku sangat marah waktu itu. Aku membuang banyak uang dan bersikap baik bahkan seperti pesuruh tidak ada satupun yang datang saat aku sendirian sedangkan kau meski reputasimu kini sedang buruk kau tidak sendirian. Aku marah dan aku melampiaskannya padamu. Maaf aku benar-benar minta maaf karenanya. Lalu setelahnya Shion dan Karin datang padaku mereka membelamu begitu keras. Aku benar-benar iri sampai melaporkannya pada dewan kedisiplinan, saat melihat kalian begitu dekat satu sama lain membuatku marah aku selalu sendiri dan kau punya mereka. Aku meminta maaf lagi karena telah membuat kekacauan waktu itu. ku harap kau mau memaafkanku.
Jadi Naruto seperti katamu aku akan mencoba menerima uluran tangan orang lain. aku akan mengubah diriku dengan begitu ku pikir aku bisa mendapatkan teman dan tidak sendirian lagi. Aku terlalu pasif dan lemah jadi ku pikir jika aku pindah dan menemukan orang lain mungkin hidupku akan lebih baik. Aku sudah bicara pada Ibu ku dia terkejut tentu saja tapi aku mencoba meyakinkannya jika itu bukan karenamu ataupun Shion. Aku akan memulainya dari awal aku akan berjuang dengan keras sekarang. Terima kasih banyak.
Ku pikir hanya sampai disini. Aku tidak tahu bagaimana caranya menutup surat dengan baik, ini pertama kalinya bagiku. Jadi sampai jumpa ku harap aku bisa benar-benar menjadi temanmu. Oh ya satu lagi kau juga harus minta maaf padaku. ucapanmu tempo hari benar-benar menyakitkan kau tahu.
Salam
Hyuga Hinata
Naruto menurunkan kertas cream di tangan menjatuhkannya untuk tetap berada di pangkuan. Menghela nafas perlahan. Surat Hinata yang diterimanya hari ini setelah dia datang ke sekolah dan menemukan di loker sepatu miliknya. Menghilang sebelum jam pertama di belakang sekolah untuk membacanya. Naruto tidak tahu harus bereaksi seperti apa senang atau sedih. Wajahnya menyendu perlahan. awan mendung kembali menutup. Menjadikannya kembali begitu kelam dan dingin.
Menunduk untuk memikirkan banyak hal tentang sekolah, orang tua, dan impiannya. Menatap kosong entah kemana. Ingin rasanya dia menangis sekarang. rasanya begitu sesak dan berat untuk dipikul. Dia menasehati panjang lebar seperti orang tua mengolok-olok Hinata agar gadis itu sadar. Membela Shion dan berdiri tegak sepanjang waktu. Dan juga dia sudah berjanji pada Gaara, untuk menjadi dirinya sendiri untuk berdiri tegak dengan dirinya sendiri. Tapi semua tak semudah yang diucapkan.
Ini begitu melelahkan terkadang Naruto berpikir untuk jangan dilahirkan di dunia ini di bandingkan kembali harus memasang topeng.
Ckrek
"Lagi. Kau memasang wajah itu lagi"
Naruto mendongak ke sumber dimana jepretan kamera berasal dan dia melihat Gaara yang sudah berdiri di depannya dengan tangan kanan menggoyangkan ponsel di genggaman menunjukkan wajah sedihnya tadi.
Lagi Naruto mendongak karena Gaara. Berani menatap lurus karena pria itu.
:: :: Janus :: ::
There's an empty world deep in my heart, save me
I wanna reset , I wanna reset , I wanna reset
Lonely eyes trapped in darkness
Is there anyone to hold my hand?
I wanna reset , I wanna reset , I wanna reset
(Tiger JK (feat. Jinshil of Mad Soul Child) – Reset)
:: :: Janus :: ::
TO BE CONTINUED
Maaf baru sempat update maaf bener bener minta maaf hontoni gomenasai *bow* maaf yang udah nagih lewat pm dan review yang nanya kapan lanjut baru di lanjut sekarang dan baru sempet sempetnya nongol habis ilang berbulan bulan. kemaren kemaren saya punya banyak banget hal yang harus diurus masalah ini itu bikin mood nulis langsung ilang, gak tau mau nulis apa jadi nunggu ide yang berbulan bulan kemudian baru datang. Maaf lagi kalau chapter ini mengecewakan gaya nulis aku juga berubah mungkin karena udah lama nggak nulis sama sekali bener bener minta maaf,
untuk yang nunggu pairing harap sabar ya soalnya fic ini aku buat bukan 100% tentang romance melainkan friendship dan kehidupan sekolah, sebenarnya selain dari film referensi nya juga dari pengalaman pribadi juga sih jadi ya agak agak gitu. di chapter ini aku fokusin ke emosi Naruto permasalahan Naruto gimana dan di chap depan konflik sesungguhnya benar-benar dimulai maaf kalau alurnya terkesan lamban tapi aku emang udah kebiasaan untuk alur yang lamban aku cuman pengen mendetail tentang kehidupan Naruto disini.
Maaf juga belum sempat bales review dari kalian tapi aku selalu baca kok aku emang belum sempat bales aja dan aku ucapin terima kasih banyak buat dukungan kalian dan mau bersedia menunggu update an fic ini yang tidak menentu aku bener bener mau ngucapain terima kasih. Thanks a lot guys. untuk fic ku satunya aku juga bakal lanjutin kok , dan maaf lagi kalau masih banyak typo ini itu.
oke sekian dulu terima kasih banyak atas dukungannya
see ya next fic
Chrysanthemum Bluesky
