bangtan fic; in the mood for love.

they all spell love differently.


(throwback epilogue concert in osaka)

ii.

Malam itu dingin. Jimin berguling di kasur empuk, menikmati kamar hotel miliknya sendiri. Jarang sekali mereka dapat kamar hotel per orang, biasanya Jimin harus siap mendengar bunyi lagu setengah jadi Yoongi atau celotehan Taehyung dari ranjang sebelah.

Ah, Taehyung.

Mengingat anak itu membuat Jimin jadi kesal lagi. Bisa-bisanya dia tiba-tiba bilang ingin berhenti melakukan program Mandaggo di Vapp. Lewat kakao pula. Seperti kamarnya tidak bersandingan dengan kamar Jimin saja. ("Mungkin Taehyungie tidak ingin melihat muka kecewamu secara langsung, Jimin-ah…," Seokjin berujar saat Jimin menumpahkan uneg-unegnya tapi yang lebih muda hanya mendengus. Masa bodoh.)

Apa sih sulitnya datang ke kamar Jimin dan bicara baik-baik? Kenapa harus lewat fitur pesan di ponsel? Kenapa harus tiba-tiba? Mentang-mentang sudah jadi aktor, teman sejawatnya itu langsung bergaya. Apa katanya? Mau menghilangkan logat Daegu?

Lucu sekali.

Pasti bagi Taehyung karir aktingnya lebih penting dibandingkan Vapp-nya bersama Jimin.

Argh, Taehyung! Anak itu terkadang bisa jadi imut sekali pada saatnya, tapi sering kali juga ceroboh dan menjengkelkan.

Dia bilang mau berhenti siaran dengan Jimin, tapi tadi sore Jimin malah mendapatkan notifikasi di ponselnya, bilang kalau Taehyung sedang online bersama Jungkook di kamar si maknae. Apa-apaan, sih. Mengumumkan pensiunnya dari acara mereka berdua pun Taehyung lakukan sendiri, memangnya tidak bisa ya, dia mengajak Jimin sekalian?

Jimin jadi merasa seperti remaja galau karena putus cinta. Berguling-guling gelisah di atas kasur empuk yang seharusnya nyaman hanya karena sahabat baiknya memutuskan 'kontrak' siaran. Ck, Kim Taehyung bajingan.

Eh. Jimin menutup mulutnya sendiri dalam kaget. Walaupun dia tahu tidak ada yang bisa mendengar isi kepalanya, tetap saja ia sedikit menyesal mengatai Taehyung bajingan. Taehyung pasti tidak akan pernah menjulukinya dengan panggilan sekasar itu.

Oh, hebat.

Bahkan dalam kepala Jimin pun Taehyung sanggup membuat Jimin merasa bersalah. Kenapa harus Jimin yang merasa bersalah. Yang mengkhianati komitmen Vapp mereka 'kan Taehyung.

Ini sudah jam satu pagi dan Jimin masih memikirkan masa depan siarannya. Tanpa Taehyung, apa yang akan dia lakukan? Namjoon dan Jungkook punya sendiri, Hoseok dan Yoongi punya sendiri, mungkin Jimin harus gerak solo seperti Seokjin saja. Ah, tapi tidak akan seru tanpa Taehyung.

Omong-omong, apa Taehyung akan buat acara baru, ya? Kira-kira dia bakal mengajak Jimin atau tidak, ya? Awas saja kalau dia mengajak anggota lain.

Ponsel Jimin bergetar di atas nakas. Separuh malas, pemuda 22 tahun itu meraih i-Phone-nya.

Awas saja Taehyung mengajak member lain, Jimin sempat membatin sebelum membuka kakao dari… ung? Taehyung? Mau apa lagi anak itu di jam segini?

Taetae

Jimin, menurutmu jika kita masukkan kecoa ke dalam air sabun, apa kecoanya akan jadi bersih atau air sabunnya yang jadi kotor?

Jimin memutar mata. Memilih menghiraukan kicauan Taehyung. Anak itu memang suka kumat kalau lewat jam 12 malam. Fans saja yang mengira Taehyung itu keren seperti tokoh utama kartun Jepang. Aslinya sih dia sama saja seperti kakak laki-laki temanmu atau tetanggamu yang baru masuk kuliah.

Tidak sampai lima menit berselang, bel pintu kamar Jimin berbunyi terus-terusan.

Taehyunggg, Jimin menggeram dalam hati, tahu pasti siapa tersangka di balik pintu.

Dengan langkah berat dan niat pas-pasan, Jimin beranjak menyilakan temannya itu masuk. Tahu lebih baik dibandingkan membiarkan Taehyung berkeliaran di selasar hotel dan membunyikan belnya ratusan kali sampai Yoongi terbangun (dan mengulanginya lagi saat Yoongi kembali ke kamar).

"Jimin!" Pemuda yang lebih tinggi berseru, wajahnya terlalu sumringah untuk jam satu pagi. Jimin hampir merasa kesilauan.

"Apa."

"Orang-orang bilang buah dan sayur itu bagus untuk diet," Taehyung menyelonong masuk ke kamar kawan karibnya, melewati Jimin yang berdiri dengan muka sebal, "tapi kenapa gajah yang notabene vegetarian, badannya tidak tambah kecil?"

Jimin berusaha sekuat tenaga untuk tidak menggendong Taehyung bridal style dan membuangnya keluar jendela.

Tapi lagi, ini Taehyung. Apa lagi yang Jimin harapkan, 'kan?

Jadi yang lebih pendek dari mereka berdua hanya menggumam lirih, membiarkan Taehyung dalam jubah mandinya bergulingan di kasur Jimin.

"Jimin?"

"Kau tidak akan tambah kecil kalau kau makannya seperti gajah, Tae."

"Wow. Itu dia. Sudah kuduga. Sobatku ini memang cerdas."

Jimin memanyunkan bibir, masih tidak mengerti mengapa Taehyung bisa seenaknya saja mencuri bantal dan bed covernya di saat mereka seharusnya sedang perang dingin. Kenapa Taehyung tidak menganggap mereka perang dingin? Padahal Jimin sudah punya rencana mengabaikan Taehyung seharian besok.

Mengerti ia tidak punya pilihan lain, Jimin ikut berebah di samping Taehyung yang otomatis menaruh kepalanya di lengan Jimin. Yang lebih tua ingin protes sebenarnya, Taehyung sudah jauh lebih berat sekarang. Tapi tidur di posisi ini membuat Jimin jadi teringat masa lalu. Saat mereka belum debut, saat masih tidur di ranjang sempit yang dibagi bertujuh, saat Jimin pikir ia tidak akan punya sahabat seperti Taehyung lagi selamanya.

"Padahal aku menganggap serius acara kita…," Jimin bergumam. "Fans menyukainya, dan aku suka bagaimana mereka memandang kita 'tidak terpisahkan' karena acara itu."

Taehyung tidak langsung menjawab. Jimin sempat berpikir adik dua bulannya itu sudah tidur, sampai Taehyung menyahuti.

"Tidak melakukan Vapp bersama bukan berarti kita bisa dipisahkan."

"Hmmm…," Jimin komat-kamit lirih, "tetap saja aku merasa kehilangan."

"Maaf."

Oke. Ini terasa tidak benar.

Mendengar Taehyung mengaku salah adalah hal yang paling diinginkan Jimin seharian ini. Tapi ketika Taehyung benar-benar mengucapkannya, entah mengapa rasanya tidak pas. Mungkin karena jauh di dalam sana, Jimin tahu sebenarnya ini bukan salah Taehyung, bukan salah siapa-siapa. Mungkin Jimin sebenarnya juga tahu kalau ia agak sedikit melebih-lebihkan masalah di antara mereka, kalau Jimin sebenarnya hanya takut kehilangan titel 'friendship-goal'-nya mereka. Tapi, tentu saja, Taehyung tidak boleh tahu itu.

"Dimaafkan." Jimin menjawab sekenanya.

Taehyung menggesekkan kepalanya di lengan atas Jimin, membenarkan posisi, membuat yang lebih tua mengumpat pelan dalam hati. Taehyung benar-benar tambah berat.

"Katakan lagi." Taehyung bilang.

Jimin menjitak kepala pirang Taehyung dengan tangannya yang bebas. "Tidur sana."

Paginya Jimin bangun dengan lengan yang terasa kebas.


in the mood for love (ii)

END.


a/n:

pertama, terima kasih untuk sesama author dan atau reader yang bersedia jadi teman chat saya di line. hohoho. lopyu.

kedua, wow. saya gak menyangka menulis fic dengan genre dan karakter berbeda bisa membuat saya bertemu dengan nama-nama baru di kotak review. this is exciting. tiba-tiba saya jadi merasa serakah untuk membuat banyak fic dengan pair bermacam-macam. hehe.

anyway, those short movies are killing me. tae's acting, tho.

special thanks to:

choirkim7 | clutcha | Gummysmiled | AllSoo | Elixir Edlar | bulatbulatmanis | darkamome | JH-Daughter | anon