Out of the Blue

==.==

DISCLAIMER chara NARUTO milik Masashi Kishimoto

DISCLAIMER STORY SATU - SATUNYA MILIK SAYA

Spica Zoe

Cover Art : CharaKauffmann

Warning : Affair, OOC, NTR, Sakura Centric,


a/n : FIC INI ADALAH ORIGINAL STORY YANG PERNAH SAYA

PUBLISH di FACEBOOK TERTANGGAL 22 JUNI 2012

(penjelasan ada di Biography SAYA)

/

\

/

\

"dia bayi yang cantik.." seorang suster memandang penuh damba pada sesuatu yang tengah berada dalam dekapan Sakura. Bayi yang masih merah, masih penuh dengan lumuran darah. Dia menangis, bahkan tangannya sesekali menarik tepian baju Sakura, dan tanpa Sakura sadar, di dalam hatinya, dia begitu bahagia karena kehadiran bocah kecil ini. Terlihat begitu bahagia.

.

.

.

Out of the Blue

Salah satu kenangan masalalu dari empat tahun yang lalu membuat Sakura tersenyum lirih. Kelahiran Sarada, seorang bocah perempuan yang kini sudah berumur empat tahun. Sakura masih tetap berdiri angkuh di sisi mobilnya, berdiri tegak dan menyandarkan tubuhnya disalah satu pintu mobil sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya. Matanya memandang dikejauhan tempat dimana pintu gerbang sekolah Sarada berada, Konoha Child School. Sudah empat belas menit dia berdiri menunggu disana, menunggu Sarada. Namun, Sakura masih tidak juga mendapati keberadaan bocah kecil itu dari antara ratusan anak yang beramburan keluar melewati gerbang.

Tak apa, toh pertemuan Sakura dengan beberapa dokter ahli di Rumah Sakit tempat dia bekerja sudah dia selesaikan dengan baik. Tak ada tugas lain yang mungkin menjadi bahan pikirannya untuk satu hari ini. Kehadirannya disini, jika bukan karena permintaan Itachi, mungkin dia akan pergi ketempat lain mencari pelampiasan. Biar bagaimanapun, baginya menghadapi Sarada bukanlah pilihan yang mudah.

"nyonya Uchiha ?"

Belum lagi Sakura sempat memikirkan lebih banyak hal-hal lain tentang dirinya, dokter mudah itu langsung menoleh cepat kearah suara yang menyerukan namanya. Seorang wanita dengan seorang balita di sampingnya. Melangkah penuh senyuman mendekatinya. Memandangnya penuh keanggunan. Sakura memaksa untuk tersenyum, sekedar ingin berama-tamah. Diperbaiki posisi berdirinya yang terkesan cukup angkuh hanya untuk menyambut wanita itu.

"Uzumaki-san" ucapnya pada wanita yang dia kenal sebagai istri Uzumaki Naruto, seorang pria yang dikenalnya sebagai salah satu teman adik iparnya, Sasuke.

"menjemput Sarada-chan? Tumben sekali, biasanya Sasuke-san, Itachi-san atau Gaara-san lah yang datang. Sarada masih berada di dalam kelasnya. Beberapa teman dan guru sedang merayakan ulang tahunnya" Hinata, nama kecil wanita itu. Dia tersenyum kepada Sakura, dan Sakura memandangnya dengan ekpresi oh, sambil memperhatikan kehadiran balita kecil disisi kiri Hinata. Seorang anak perempuan, Sakura bisa tebak itu pasti anak kedua wanita ini.

"namanya Himawari" Hinata memandang anaknya lembut, "Himawari-chan, beri salam pada bibi Uchiha" serunya sambil menggendong tubuh mungil anaknya. Seakan tahu rasa penasaran Sakura pada anaknya. Himawari sendiri hanya diam, bukannya senang seperti mana sifat ibunya menyambut Sakura, dia malah bersikap malu dan menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Hinata. Sakura tersenyum.

"sifatnya mewakilimu" Sakura menggerakkan tangan mengusap puncak kepala Himawari. Tersenyum. Refleks. Sebenarnya Sakura sangat suka anak-anak. Tapi kenapa..

"ya, banyak yang mengatakan hal yang sama seperti yang baru saja anda katakan, nyonya" Hinata membalas senyum Sakura. Merusak lamunan wanita itu dalam otaknya.

Sakura dan Hinata tidak pernah memiliki hubungan pertemanan ataupun kekerabatan yang dekat. Meskipun Sakura cukup kenal Naruto sejak pria itu bahkan belum menikahi wanita ini. Naruto teman baik Sasuke sejak dulu, Sakura sangat mengenal pria berambut kuning itu. Konyol, berisik, ambisius dan begitu hidup. Itu adalah kesan Sakura pada Naruto.

"baiklah, saya tidak bisa berlama – lama. Sebenarnya putraku tidak masuk sekolah. Saya datang kesini hanya untuk memberi selamat pada Sarada-chan, Naruto yang menelponku tadi" ucapnya pamit. Dengan kalimat-kalimat yang terlalu formal. Tapi Sakura tak terlalu memperhitungkannya.

"ah, terimakasih. Uzumaki-san" Sakura tersenyum simpul sambil mengantarkan kepergian Hinata dengan pandangannya. Naruto beruntung, Hinata adalah wanita yang terlalu sempurna untuk menjadi istrinya. Setelah kepergian Hinata, Sakura kembali melanjutkan kegiatan tak berartinya. Menunggu. Meski dia sudah tahu jika mungkin Sarada akan pulang lebih lama dari biasanya karena pemberitahuan Hinata, tapi dia tetap menunggu. Sedikit niat untuk menemui Sarada dikelas pun sama sekali tak terpikirkan olehnya. "merayakan ulang tahun kah?" Sakura berbisik untuk dirinya sendiri.

"pemandangan yang sangat langka melihatmu berada disini" lagi, Sakura harus rela merasa kesal karena lagi-lagi begitu banyak suara yang mengganggu ketenangannya saat itu. Kali ini suara pria, suara yang tentu saja Sakura kenal. Tapi tak seperti cara merespon asal suara Hinata tadi, kali ini Sakura sama sekali tak tertarik untuk mendapati dimana keberadaan pria yang baru saja mengganggunya itu.

"ibu yang baik" kini Sakura tak perlu membuang tenaga mencari tahu keberadaannya, sebab pria itu sendiri yang datang menampakkan dirinya. Pria berambut merah lebih gelap dari rambut miliknya. Kazeya Gaara. Salah satu orang kepercayaan Itachi, keluarga Kazeya sudah turun temurun mengabdi pada keluarga Uchiha. Hingga Gaara yang diketahui sebagai keturunan terakhir pun tak bisa lari dari takdir yang mengikat nama besar keluarganya.

"sebagai penjemput, kau terlalu lalai dalam melaksanakan tugasmu, Kazeya-san" Sakura tak memandang lawan bicaranya. Namun Gaara menyeringai. Ditatapnya wanita itu lekat-lekat.

"maaf, tadi ada kemacetan. Tapi, Sarada-sama belum pulang kan?" serunya terkesan menekankan, bukan menanyakan.

"hari ini aku akan mengajaknya membeli beberapa hadiah. Lebih baik kau pulang" Sakura bangkit dari posisi nyamannya. Diabaikannya perhatian Gaara yang masih setia memandangnya lekat, dibukanya pintu mobil, sebab Sakura kini lebih memilih untuk duduk didalam sana sambil menunggu dari pada harus bersama dengan Gaara. Tapi Saat Sakura akan masuk, Gaara menahan gerakannya dan menarik lengannya. Sakura menoleh cepat.

"kau tidak merindukanku?" Gaara bergerak meniadakan jarak diantara mereka. Didorongnya lembut tubuh Sakura hingga masuk kedalam mobil dan dia mengikutinya. Pintu tertutup dan mereka berdua ada disana.

"aku sedang tidak punya waktu untuk merindukan seseorang" Sakura menyandarkan tubuhnya nyaman. Digerakannya tangannya meraba kotal rokok.

"kau tetap tak berubah" Gaara menarik cepat sebatang rokok yang entah sejak kapan sudah terselip dibibir Sakura. Meremuknya dan memasukkannya kembali kedalam kotaknya. Sakura hanya diam.

"kau seorang dokter, seorang ibu dan juga seorang istri. Bertindaklah sesuai peranmu" Gaara menatap tajam wajah Sakura yang sama sekali tak memperhatikannya.

Beberapa saat, keheninganlah yang merayap diantara mereka. Sakura memandang semua hal yang terjadi diluar sana melalui kaca mobilnya, sedang Gaara tak pernah berniat melepaskan tatapannya dari wanita yang dia tahu istri dari atasannya.

"apa Itachi sedang sibuk beberapa hari terakhir ini?" Gaara tertegun sejenak. Suara Sakura terdengar lebih lemah dari pertama mereka berdialog. Tentang Itachi, apa dia merindukan Itachi?

"kau merindukannya?" Gaara berusaha menyamankan dirinya. Dialihkannya pandangannya dari Sakura dan menatap lurus kehidupan didepannya. Beberapa orang berlalu lalang disisi – sisi mobil mereka seperti tidak sadar ada orang yang memperhatikan mereka dari dalam sini. Sesekali Gaara terbayang bahwa mungkin seperti inilah keadaan Sakura saat ini. Orang akan memandangnya seperti apa yang terlihat, padahal didalamnya, tidak ada yang bisa memahaminya.

"aku istrinya"

Gara berusaha menarik satu senyum diwajahnya. Tak usah Sakura bilang, dia juga tahu. Seorang istri? Bisa kah Gaara jujur saat ini jika wanita yang mengaku seorang istri ini sudah berapa kali mendesah dalam dekapannya.

"sudah berapa lama dia mengabaikanmu hingga kau terlihat seperti mayat hidup seperti ini?" Gaara menegakkan posisinya. Sebelum dia mendengar jawaban Sakura atas pertanyaannya. Dia sudah menarik Sakura untuk memandang wajahnya. Sakura terdiam.

"malam ini, bagaimana kalau kita bertemu?" Gaara mengecup singkat pipi Sakura dan wanita itu menepisnya dengan cepat.

"kau terlalu berharap" Sakura membalas seringaian Gaara dengan tatapan tajam. Sejak kapan Sakura menjadi lemah dengan seringaian ini. Sejak dia menyadari jika Gaara memang memiliki wajah yang rupawan. Dan Gaara tersenyum. Semakin sulit wanita di taklukkan, semakin tinggi niatnya untuk memperjuangkan.

"beberapa saat lalu aku bertemu dengan seorang pemuda bernama Sai, selingkuhanmu?" Gaara tak mau menyerah, ditariknya tubuh Sakura merapat dalam dekapannya. Lalu tangannya bergerak menyusuri punggung Sakura dan merabanya, sengaja memberikan sensasi agar Sakura bisa sepenuhnya pasrah akan perlakuannya.

Sakura memang memiliki peringai yang dingin dan ketus. Itu yang Gaara tahu saat ini. Perkenalannya dengan Sakura bukanlah dua atau tiga tahun saja. Perubahan sikap Sakura pun Gaara mengerti. Pernah suatu waktu di masa lampau, Gaara terjebak dalam tangisan Sakura. Sebelum mereka terlibat dalam jalinan bedebah seperti ini. Sakura menyuarakan semua isi hatinya. Dan saat itulah Gaara menyadari ada dinding besar yang Sakura berusaha bentuk dalam hatinya. Dinding yang sampai saat ini berdiri terlalu kokoh dan membentuk kepribadian berbeda dari Sakura yang dulu.

"kau terlalu banyak tahu, kepala merah" Sakura sempat menyeringai sebelum dalam hitungan detik yang terduga, Gaara sudah memutuskan untuk melumat mesra bibirnya. Sakura tak mau terlihat munafik dengan mengabaikan sentuhan intim itu pada bibirnya. Dibiarkannya tangan Gaara menuntun tubuhnya bergerak, Sakura paham apa mau pria ini. Masih sambil melumat, lidah mereka pun saling membelit. Gaara menarik tubuh Sakura untuk bangkit dari tempat duduknya, merayap mendekatinya, melewati bagian – bagian mobil yang sebenarnya sudah membuat gerakan mereka terbatas. Ingin Sakura menempel padanya, Gaara menyelipkan tangannya, untuk menurunkan sandaran duduknya. Dilepaskannya lumatannya sejenak, dan menarik Sakura cepat berpindah diatasnya. Menindihnya.

"ini akan jadi pengalaman pertama kita, bercinta dalam mobil" ucap Gaara memandang wajah Sakura yang mulai basah karena peluhnya. Sakura tersenyum. Lupakan Sarada, lupakan dimana mereka kini berada. Pesona Gaara membuatnya gila. Kali ini Sakura yang memegang kekuasaan, dilumatnya bibir Gaara, membelit lidahnya. Gaara bahkan sampai mendesah karena sensasinya. Tangan Sakura menyusup lincah di tubuh Gaara, membelai kulitnya, merusak penampilan rapi Gaara dengan meremas semua permukaan jas dan kemeja dalamnya. Dasi yang dikenakan Gaara bahkan kini sudah terasa lebih longgar dilehernya. Tangan Sakura bergerak melepas kaitan kancing itu satu – persatu, dan tangan satunya sudah menguasai dan memijat pelan kejantanan pria yang sudah mendesak dibawah sana. Sakura tersenyum.

"Itachi-sama beruntung Sakura-san. Aku selalu iri dengan semua hal yang dia miliki didunia ini. Terutama tentangmu" Gaara juga tak ingin membuang waktu, dibukanya kaitan kancing yang menutup tubuh atas Sakura, dan saat satu atau dua kancing itu terbuka, di masukkannya tangannya untuk menggapai apa yang sangat dia inginkan disana. Sakura tak kuasa menahan desahaannya saat Gara sudah mendaratkan bibirnya mengulum puncak payudaranya. Sakura mencekram bahu Gaara dikedua sisinya. Dia mendesis, wajahnya menunjukkan kalau dia begitu menikmatinya.

Sakura masih ingin mendesah lebih banyak lagi jika saja dia tidak mendengar suara Sarada yang kini tengah berteriak memanggil teman – temannya. Sakura langsung bangkit, dari dekapan Gaara, diangkatnya kepalanya memandang keluar, dan sosok Sarada sudah berjalan menuju kearah mobilnya. Sakura panik.

"Sarada datang, cepat bereskan pakaianmu!" perintahnya sambil tangannya pun bergerak cepat membereskan penampilannya. Wajah Gaara merah padam, nafasnya terdengar lebih memburu saat ini dari pada saat bergelut dengan Sakura tadi. Sial, dia harus cepat mengembalikan kesadarannya sebelum Sarada memergoki mereka. Sakura kembali ke tempat duduk kemudi, setelah memastikan dirinya dalam keadaan layak untuk dipandang seorang bocah, baru dia keluar dan menyambut Sarada diluar, sebelum gadis itu melihat penampilan Gaara yang masih jauh dari bayangannya.

"Sa..sarada," Sakura memunculkan dirinya keluar dari mobil sambil melambai sebelum Sarada nyaris menarik pintu disisi tempat Gaara duduk. Gaara mendesah lega.

"ibuuu..." seru Sarada sambil memutar langkah dan mendekap Sakura cepat. Tahu kah gadis ini jika ibunya baru saja akan melakukan sesuatu yang tak layak beberapa saat tadi?

"paman Gaara, mana?" Sarada memandang kedalam mobil. Dia yakin tadi, beberapa menit lalu dia melihat Gaara saat dia melewati ruang guru untuk pamit pada guru yang lain. Sakura tercekat sebentar. Lalu, tanpa mereka duga, Gaara akhirnya keluar dengan penampilan biasanya. Tenang, berkharisma dan dingin. Sarada memandangnya heran. seperti tak pernah terjadi apa-apa.

"paman, kenapa berada di dalam mobil ibu?" tanyanya, sedang Gaara mati – matian menahan gelisahnya. Sesuatu yang berada dibawah sana, diantara selangkangannya sebenarnya masih membuatnya tidak nyaman, dan melihat ke penyebab ketidaknyamanannya disana, Sakura hanya memalingkan wajah seakan tidak peduli.

"ah, tadi paman.., se..sebenarnya tadi pa..paman.." Gaara bingung mau menjawab apa.

"paman Gaara hanya ingin memberi kejutan, menjadikan dirinya sendiri sebagai hadiah ulangtahunmu" Sakura membantu Gaara bicara. Dan Sarada langsung menoleh menatap wajah ibunya.

"sungguh?" tanyanya antusias. Dan Sakura mengangguk. "minta padanya apapun yang kau mau Sarada. Tentang hadiah dari ku, nanti malam kuberikan padamu. Pergilah dengan paman Gaara hari ini" Sakura langsung menatap wajah Gaara setelah kalimat itu selesai diucapkannya. Paling tidak dengan begini bisa menjadi alasannya untuk tak menemani Sarada hari ini.

"tapi bu.." mendengar ucapan Sakura, Sarada merasa kecewa.

"aku ada urusan" Sakura memaksa senyumnya.

Melihat ketidaksenangan Sarada, membuat Gaara menjadi tidak tega. Merasa dirinyalah penyebab kenapa Sakura jadi membatalkan keinginannya untuk bersama Sarada.

"jangan turuti kemauan ibumu, Sarada-chan" Gaara melangkah mendekati mereka.

"paksa ibumu menemanimu hari ini sampai kau puas. Biar hadiah dari paman akan yang akan menyusul"

Gaara tersenyum tulus pada Sarada. Disesuaikannya tingginya agar sejajar dengan tubuh gadis kecil itu dan menatapnya lurus.

"paman gak akan mengganggu kalian" lanjutnya penuh senyum hingga membuat Sarada mengembangkan senyuman terindahnya.

"baik" ucap gadis kecil itu mantap sambil mengangguk. Menatap kedua orang itu, Sakura hanya mendesah kecewa. Padahal jika dia batal menemani Sarada hari ini, dia ingin menemui Itachi di kantornya. Tapi, melihat raut antusias dari Sarada, rasanya dia tidak tega juga.

====.====

Sasuke merebahkan tubuh lelahnya diatas sofa. Keadaan rumah masih terlalu sepi meski jam makan malam harusnya sedang berlangsung saat ini. Sasuke melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Pukul tujuh malam, dan dia pikir mungkin Sarada sedang berada didalam kamarnya. Dia rindu gadis kecilnya. Menepis rasa lelah, Sasuke pun bangkit dari tempat duduknya dan melangkah naik menuju lantai dua. Sambil berjalan, dia melonggarkan ikatan dasinya. Menatap lurus kedepan, dan semua yang dia dapat hanya kesunyian.

"Sarada, kau didalam?" tanya Sasuke saat beberapa ketukan pun tak mendapat respon dari sang anak. Penasaran, Sasuke mendorong pintu ruang kamar anaknya. Tak ada siapapun di dalam sana. Sasuke melangkah masuk perlahan. Hari ini adalah hari ulang tahun Sarada. Pada hari ini, empat tahun yang lalu, dia diberikan hadiah yang begitu indah oleh sang pencipta. Sasuke tersenyum memandang beberapa bingkai yang membungkus figur anaknya. Bocah kecil yang manis, dan seorang wanita yang sedang mendekapnya. Sakura, dengan senyum yang begitu tulus, mendekap Sarada saat enam bulan anak itu telah menikmati dunia. Sasuke rindu saat itu. Tapi, kenyataan yang dia dapat saat ini berbeda dengan kenyataan yang dulu. Sakura berubah, Sakura seakan menjaga jarak dengan Sarada entah karena apa.

Keheningan yang baru dirasakan Sasuke seakan berubah total saat dia mendapati seseorang tengah masuk ke dalam ruangan itu. Mata mereka bertemu beberapa saat. Dan Sasuke tertegun.

"kau baru pulang?"

Sakura mengabaikan pandangan Sasuke padanya. Wanita itu melangkah sambil mendekap Sarada yang kini tengah tertidur dipelukannya. Sasuke tersadar. Jarang dia bisa melihat Sakura memperlakukan Sarada seperti ini, dalam beberapa saat terakhir. Sangat jarang, hingga Sasuke hanya tak bisa menepis ketidakpercayaannya. Bukankah hal itu yang tadi baru saja dipikirkannya?

Sakura meletakkan tubuh gadis kecil itu perlahan dengan teramat lembut, tak ingin membuat Sarada terbangun. Dan Sasuke hanya menatapi mereka.

"lebih baik segera kau ganti pakaiannya, biar dia tidur lebih nyaman-" ucapan Sakura langsung terhenti secara mendadak. Dia lupa dengan siapa dia bicara. Dia lupa siapa yang kini menatapnya dalam diam disana. Pria yang mungkin sejak dulu telah menempati urutan pertama dari kategori hal yang paling di bencinya di dunia.

"maaf, aku akan keluar-"

"Sakura" seru Sasuke menghentikan.

"aku kakak iparmu, Sasuke" Sakura menepis cepat tangan Sasuke yang hendak menyentuh tangannya. Terkesan begitu takut jika Sasuke menularinya penyakit mematikan hanya karena sebuah sentuhan. Dipandangnya Sasuke dengan tatapan marah, benci dan segala macam perasaan negatif, dia benci pria ini. "jangan memanggilku seakan kau lupa dengan siapa kau bicara!" ucapnya dengan nada penuh penekanan, dan itu berhasil membuat Sasuke terdiam.

.

.

.

Tbc

.

.

.

.

.

"kenapa kau melakukannya?"

"aku tidak punya pilihan, aku harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kulakukan"

Ada airmata dan isakan dari setiap kata yang keluar dari bibirnya.

"bertanggungjawab atas kehidupan orang lain dan kau meninggalkanku sendirian? Itu kah yang yang kau sebut dengan pertanggungjawaban?"

Ada penyesalan yang menguap diantara mereka.

"lalu apa mau mu? Ini kesalahanku. Aku hanya ingin bertanggungjawab atas semua dosa yang telah kulakukan. Carilah orang lain yang lebih bisa memahamimu"

"dan apa kau sudah yakin jika orang yang akan kau nikahi adalah orang yang sudah lebih memahamimu dari pada aku?"


a/n : ini kedua kalinya saya peringatkan. Ini OS (Original Story) milik saya. Pernah saya upload di facebook sekitar tahun 2012, tentu saja dengan menggunakan cast Original milik saya.

Q : Kenapa saya update ff ini begitu cepat?

A : Karena ada sesuatu yang ingin saya jelaskan. Hanya untuk memastikan jika ultimatum DISCLAIMER story ini benar-benar di BACA! Jadi saya update cepat sambil mau mengatakannya. Jadi maaf jika terlalu pendek atau terkesan terburu-buru.

Balasan Review :

rata-rata isi review nya sich terkesan sama, sama-sama mempertanyakan kebingungan identitas dari setiap jalinan hubungan antara beberapa chara utama. Jadi jawabannya saya disamakan aja ya. Bagi yang bingung, saya mohonkan sich harap bersabar.

Plot ceritanya emang harus digituin biar nyampe pada inti cerita. Kalau di OS nya, ini cerita emang sudah ending. Jadi hanya saya saja yang ngantongi jalan ceritanya. Tapi karena ini saya remake, dan karena ini saya masukin chara Naruto, kemungkinan plot sampingan akan saya tambahkan atau akan saya tiadakan.

Sejauh ini, dari dua chapter, chara tambahan dari OS nya adalah keberadaan Tenten dan Neji. Di OS, keberadaan Tenten dan Neji enggak pernah ada. Sifat Sakura di OS itu jauh lebih dingin dari pada Sakura yang ada disini. Dan sifat Sasuke di OS jauh lebih kacau dari pada Sasuke disini. Plus, Sifat Itachi di OS jauh lebih "hidup" dari pada Itachi yang ada disini. Dan Sarada... disini SARADA lah yang menjadi kunci UTAMA. Sarada yang menentukan plot, Sarada yang punya andil paling besar. Dan Sarada lah Sarada.

Di chapter dua ini, sebenarnya tak ada 'adegan' percintaan antara Sakura dan Gaara di OS. Mereka memang punya hubungan, sebatas saling mencintai, bukan saling memiliki. Gaara cinta sama Sakura karena Sakura pernah bercerita padanya tentang beberapa hal yang menyesakkan dadanya. Dan Gaara adalah pria yang paling tepat untuk mendengarkan semua keluh kesahnya. Jadi di OS hubungan mereka hanya hubungan saling pandang, saling mengaggumi dan saling memendam rasa. Tak pernah berhubungan intim. Tapi, karena saya ingin sesuatu yang WOW disini, jadi saya tambahin.

Jika ada perubahan cerita antara OS dan FF disetiap chapter, maka saya akan mengulasnya dengan sabar agar anda tahu perbedaan ff ini dari cerita aslinya.

Maafkan saya jika kemungkinan besar cerita ini akan jauh dari harapan anda, tapi saya harap anda bisa terima kenyataan. Di OS, jumlah word dari fanfic ini sebenarnya hanya sekitar 16k words. Tapi karena saya akan merombak hampir 20% dari cerita aslinya. mungkin akan nambah, atau malah akan kurang, entahlah.

untuk penname Andromeda no Rei : Yuph, saya tertarik sama Sakura di Naruto the Last setelah scene 'Sakura megang dagu sambil natap Hinata dengan seringaian' gitu. Saya tertarik untuk bikin dia jadi chara di OS saya.

Untuk seseorang yang sekiranya sudah pernah baca OS saya di fb, coba saya mohon, jangan kasih sepoler. Saya harap anda mengerti. Atau PM saya jika anda ingin tahu siapa saya. Saya yakin anda pasti penasaran dengan saya.

terimakasih atas partisipasinya. Maaf jika terlalu banyak ocehan di AN, soalnya saya ingin semuanya benar - benar jelas. Berhubung saya orang baru, jadi saya enggak ingin cari masalah. makasih yaaa..