Out of the Blue
==.==
DISCLAIMER chara NARUTO milik Masashi Kishimoto
DISCLAIMER STORY : SATU - SATUNYA MILIK SAYA.
Spica Zoe
Cover Art : CharaKauffmann
Warning : Affair, OOC, NTR, Sakura Centric,
Kehilangan.
Apakah ada kata lain yang jauh lebih menyakitkan dari pada ini? Setiap orang tentu pernah mengalaminya. Dari kehilangan hal yang tak bernilai sekalipun hingga yang paling berharga dalam hidupnya.
Kehilangan.
Bagi Sasuke, ini adalah hal yang paling menyakitkan saat ini. tidak, ini yang kedua kalinya. Tujuh tahun yang lalu dia pernah mengalaminya, dan tujuh tahun setelahnya, kini dialaminya kembali. Kehilangan dua perempuan yang begitu sangat ingin dimilikinya. Tapi apa daya, dunia bukan berputar sesuai dengan keinginannya. Dan takdir bukanlah hal yang bisa dimanipulasinya.
Sakura mendesah berat dalam tangisannya. Di atas kursi di pinggir taman yang tidak jauh dari ruangan yang tadi baru saja menjadi tempatnya bertarung, kini dia terduduk. Masih bisa didengarnya suara kerepotan disana, bahkan raungan Sasuke pun masih begitu mampu menusuk jantungnya. Dan dia memilih untuk menjadi tuli seketika itu juga. Di tutupnya wajahnya dengan kedua tangannya, bahkan bercak-bercak darah itupun tak lagi ingin dihiraukannya. Dia gagal. Sebagai seorang dokter, sebagai seorang ibu, sebagai seorang istri bahkan sebagai seorang manusia. Dia gagal.
"Aku ikut menyesal, Sakura-san."
Suara milik Gaara, Sakura kenal suara itu. Tanpa memandang pun dia bisa mengenalnya. Suara seorang pria yang beberapa tahun ini selalu ada mendengarkan semua keluh kesahnya, tak terkecuali.
"Ada takdir yang mengatur segalanya, kita tak akan bisa menang melawannya, sekuat apapun berusaha." ucap pria itu mengarahkan pandangnya jauh keujung sana. Menerawang, berusaha mencari jawaban, siapa tahu disana bisa dia temukan. Tanpa dia sadar, sebenarnya pun jawaban itu sudah ada dan tersimpan dalam dirinya, juga dalam diri Sakura sendiri. Pernyataan itu tak lagi asing. Semua orang pun tahu.
"Apa jika aku pun mati, kau akan sesedih ini?"
Persetan dengan perasaan Sakura yang saat ini sedang teraniaya. Dia pun sama, pemuda itu pun sedang teraniaya. Mencintai wanita milik orang lain, itu sangat menyakitkan. Ada dorongan batin yang tak mampu dibendungnya. Kematian Sarada juga sama membuatnya merasa kehilangan. Gadis kecil itu, selalu saja membuat orang lain bisa memendam rindu padanya. Sarada yang malang. Tanpa sengaja ada airmata yang mengintip di penglihatannya. Gaara mencoba tersenyum lirih, meski perih kembali membumbui hatinya. Mengingat seberapa dalam cinta wanita yang kini sedang merengkuh duka di sampingnya ini pada sang anak tuannya. Tak mampu dia bayangkan
Anggap saja Gaara memang seorang antagonis dalam sebuah drama atau opera. Anggap saja dia memang tak punya hati saat ini. Sebab tanpa pemikiran lebih panjang lagi dalam otaknya, dia merengkuh tubuh wanita itu jatuh dalam dekapannya.
Juga, anggap saja Sakura memang jalang yang merana, dia rapuh. Setiap orang, selama mereka hidup, tanpa memandang status dan kelayakan, semuanya pasti pernah merasa rapuh. Dengan begitu, tanpa alasan lain pun, Sakura balik membalas dekapan itu dalam tubuhnya. Dalam dekapan Gaara, tersembunyi dalam dada bidangnya, Sakura menjerit melepaskan kepedihannya. Diremuknya permukaan pakaian yang Gaara kenakan menutupi punggungnya. Jika itu terbuat dari kaca, mungkin remukannya sudah mampu mengoyak genggamannya.
"Relakan saja, dia. Jangan membuat dirimu sendiri seperti ini, Sakura-san." ucap Gaara lirih. Airmatanya lolos begitu saja. Bukan karena bayangan Sarada yang menari-nari dalam angannya. Tapi karena jeritan Sakura yang memusnahkan egonya. Dunia pun tahu seberapa angkuh dan dinginnya sikap Sakura. Tapi, kenapa rasanya kini dia terlihat seperti anak-anak yang meraung, tertinggal dan tersesat. Seperti seorang bocah yang tak lagi tahu kemana dia harus melangkah. Sakura melepaskan semuanya kini. Semuanya, di dekapan Gaara tanpa terkecuali.
Bisakah Sakura rela melepaskan Sarada? Sejak dulu, gadis kecil itu lah penyelamatnya. Tanpa sadar, dalam desahan nafasnya, Sakura mengakui keberadaan Sarada adalah sebagai penyelamatnya. Jika tak ada Sarada, apa mungkin dia bisa menghadapi Sasuke dalam hidupnya? Tinggal serumah dengan mantan kekasih yang paling dicintainya, sekaligus paling ingin dibunuhnya, apa Sakura bisa menahannya? Hanya karena keberadaan Sarada ditengah-tengah mereka, Sakura merasa tertolong. Semua fokus hanya akan tertuju pada sarada. Hingga tanpa sadar, keganjilan lain yang sebenarnya tersirat cukup nyata di dalam kediamannya, menyingkir perlahan. Karena Sarada juga, Sakura menjadi jauh lebih dekat dengan Itachi. Sarada menyelamatkan hubungannya dengan Itachi. Sarada memberi kehidupan baru bagi suaminya. Membuatnya menjadi lebih bahagia dan mudah tertawa. Meskipun Sakura sadar, sebenarnya lebih banyak tangisan yang tersimpan dalam senyum palsu sang suami. Tapi, paling tidak., Sarada membawa kegembiraan, Sarada alasan Sakura untuk tetap pulang meskipun belenggu ikatan antara dia dan mantan kekasihnya-sasuke terlalu erat mengikatnya. Meskipun terkadang, Sarada juga alasan dia untuk menjauh dari semua kehidupannya yang ada. Sarada, anak Sasuke dari wanita lain. Sarada, kebanggaan Itachi dari apapun yang ada di dunia ini. Sarada, yang mencintainya lebih besar dari pada mencintai ayahnya sendiri. Dan Sarada, kini telah tiada dengan segala kerapuhan yang kembali menghantui Sakura.
Jika tak ada Sarada, bagaimana caranya dia berdiam diri di dalam rumah, dengan kedua pria yang pernah menjadi momok menakutkan dalam hidupnya. Bagaimana?
"Bagaimana?!" teriak sakura, dengan genggaman semakin kuat di punggung Gaara. Tidak peduli seberapa sakit perlakuannya. Dia tidak peduli. Adakah di dunia ini yang peduli juga pada kesakitannya? Tidak!
"B-bagaimana aku menjalani hidupku mulai sekarang, Gaara?! Bagaimana? Jawab aku, ja-jawab aku." Ucapnya lirih, penuh getaran dan itu menyakitkan di perasaan.
"Kau menyesal?" kutuklah Gaara karena hanya itu yang bisa diucapkannya.
Sakura mengangguk tak berdaya, anggukan yang masih tersimpan dalam dekapan sang pria. Ya, Sakura menyesal. Sangat menyesal. Paling menyesal. Ingin mati karena menyesal. Yang bisa Gaara lakukan hanya menggapai surai merah muda itu dan membelainya lembut. Menikmati sensasi paling berharga dalam hidupnya. Namun, tanpa dia sadar, sudah ada bayangan yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua. Dari tempat dimana mereka meraung dalam kesedihan. Itachi disana.
"Apa dia sedang menangis?" hanya itu. Hanya itu yang bisa keluar dari mulut sang suami yang mendapati istrinya meraung dalam pelukan pria lain. Hanya itu yang bisa bibir Itachi ucapkan saat dia mendengar isakan-isakan itu masih tak bisa berhenti dari Sakura. Gaara memandang wajah tuannya ragu.
"I-itachi-sama." gugup. Melihat itachi seperti melihat dewa kematian yang ingin mengambil nyawanya. Mengakhiri masa hidupnya. Dia tahu pandangan Itachi memang selalu sedatar itu, tapi kini matanya tak lagi berkilau seperti biasa, redup. Mendengar pembicaraan mereka, Sakura semakin mempererat dekapan tangannya pada tubuh Gaara, membuat Gaara merasa kikuk tak berdaya. Tak diangkatnya wajahnya memandang suaminya. Dia tidak peduli. Tak lagi ingin merasa peduli.
"Bantu aku membawanya pulang, dia butuh istirahat. Aku tak mungkin bisa membiarkan istriku menyetir dalam keadaan seperti ini." Itachi berucap tegas. Sebelum didapatinya Gaara mengangguk setuju, langkah kakinya sudah pergi menjauh.
Out of the Blue
Sasuke, pria malang itu masih menunduk memandangi indahnya nama Sarada terukir diatas batu di hadapannya. Sedangkan Itachi hanya memandang dengan perasaan tak kuasa. Meski tak terlihat begitu malang, tapi Itachi pun berduka. Seluruh pelayat diam dan menunduk dalam hening saat seorang pendeta memimpin upacara pemakaman. Hanya suara isak tangis yang lebih banyak mereka tangkap, dari pada suara pendeta itu sendiri.
"Aku tak sanggup melihat kesedihan ini, Naruto-kun."
Hinata mengusap lelehan airmata yang sudah membasahi pipinya. Siapa yang menduga, kematian bisa merenggut nyawa seseorang secepat ini. Naruto mengangkat tangannya, meraih tubuh sang istri dan membiarkan isakan itu teredam dalam pelukannya.
Upacara pemakaman sudah berakhir dengan tangisan, satu persatu pelayat meninggalkan suasana duka itu dengan perasaan sedih. Namun, Sasuke hanya diam dan menunduk masih pada tempatnya sedari tadi. Berusaha mengingat secantik apa senyum Sarada yang masih begitu melekat dalam pikirannya. Sarada adalah putri kesayangannya, putri satu-satunya yang dia miliki di dunia. Terlalu kejam membiarkan dunia menertawainya karena dia sudah cukup lelah kehilangan semua hal yang berharga dalam hidupnya. Semuanya. Segalanya.
Itachi memandangi punggung Sasuke yang kini terasa begitu rapuh. Adik kesayangannya. Merasa kehilangan, lagi dan lagi. Merasa berdosa baginya membiarkan Sasuke semalang ini. Tapi, dia pun tahu, takdir terkadang berlaku kejam pada seseorang.
"Ayo pulang, Sasuke." ucapnya lemah, suaranya bergetar, tak bisa disembunyikan. Beberapa kolega mereka masih terlihat hadir disana, tapi hanya mereka yang terlihat sedang berduka. Sedangkan Sakura. Wanita itu hanya diam tanpa kata.
"Kesedihanmu juga kesedihanku, jangan menyiksa dirimu seperti ini." lanjutnya menahan kesesakan dalam hati. Mudah sekali dia berucap seperti itu pada orang lain, sedangkan dia sendiripun sama rapuhnya.
Sasuke menghapus airmata terakhir yang membasahi pipinya. Mencoba tersenyum pada kenyataan yang tengah menertawainya. Itachi benar. Paling tidak, dia masih punya seorang kakak yang masih begitu mencintainya. Diangkatnya tubuhnya bangkit perlahan.
Sarada yang malang, lihat Ayahmu yang kini sedang tersenyum perih memandang ukiran namamu di tempat yang begitu jauh, adakah kau sedang tersenyum, atau sedang menangis untuknya?
.
.
"Ayah..."
Sasuke mengangkat kepalanya memandang wajah anaknya. Sarada menguasai pandangannya. Dia tersenyum. Setiap melihat Sarada, dia merasa bahagia.
"Hari ini adalah hari ibu, sensei tadi bilang, 'setelah pulang ke rumah, peluk Ibumu dan cium dia, lalu ucapkan betapa besar rasa cintamu padanya', begitu." ucapnya sambil menggerakkan tangannya membuat lingkaran besar untuk menunjukkan seberapa besar cintanya. Sasuke tersenyum, tapi menyimpan lirih.
"Jadi, apa Sarada sudah bilang?" tanyanya sedikit ragu. Ragu sebab dia juga tak tahu harus menjawab bagaimana.
"Ibu belum pulang." balasnya sambil beringsut manja di pelukan sang ayah.
"Nanti, sampaikan padanya," Sasuke membelai surai hitam milik anaknya.
"Sampaikan seberapa besar cintamu padanya, seperti seberapa besar cinta Ayah padamu, dan rasa cintamu pada Ayah." lanjutnya.
"Tapi, cintaku pada Ibu jauh lebiiiiiiih besar dari pada cintaku pada Ayah, loh." Sarada mengangkat kepalanya memandang wajah Sasuke yang kini memasang tampang bingungnya, hanya berpura-pura begitu takjub menanggapi kecerewetan anaknya.
"Kenapa begitu?" tanyanya.
"Habisnya, Ayah payah membaca dongeng. Sarada lebih suka dongeng yang dibacakan Ibu." ucapnya antusias. Sasuke hanya tersenyum. Meski hanya tersenyum, tapi kebahagiaan dalam hatinya jauh lebih meluap.
"Baiklah, nanti ayah akan belajar bagaimana membaca dongeng yang baik dari Ibu." sasuke kembali mendekap tubuh mungil anaknya. Dia sangat mencintai Sarada. Sangat.
Dan tanpa mereka sadar, ada seseorang yang sedang memandang kebahagiaan itu jauh dengan perasaan lebih berbahagia, lebih dari mereka. Sakura tersenyum, bahkan ada setitik air mata yang menemaninya ketika memandang cinta kasih yang terurai antara Ayah dan anak di depannya kini, melirik dari lantai dua depan kamarnya, sedang Sasuke dan Sarada saling mendekap di ruang tamu di lantai satu. Butuh alasan lain yang menjelaskan kenapa Sakura sampai mengorbankan setitik airmatanya untuk pemandangan ini? Kenapa bocah enam tahun itu begitu mencintainya, meski dia tahu, jika yang dicintainya bukanlah Ibu kandungnya. Meski dia tahu, tak banyak yang bisa Sakura berikan untuknya. Tapi, Sarada tetap mencintainya.
.
.
"Sakura-san,"
Sakura tersadar dari sepetak memori tentang Sarada yang berputar dalam otaknya. Tatapannya berganti menjadi sesosok pria yang sangat dikenalnya dengan senyuman ringan di wajahnya. Kiba. Salah satu pria yang bisa disebut kekasihnya. Masih kekasihnya.
"Ki- Inuzuka-san." ucapnya meralat cepat. Dia sadar diantara mereka, Gaara pun sedang berada di sampingnya. Bahkan tak berapa jauh dari pandangannya, Itachi dan Sasuke pun sudah melangkah mendekat ke arah mereka.
"Siapa dia, Kekasihmu?" Kiba mengulurkan tangannya ingin berama-tamah, dilirknya Gaara yang memandangnya dengan sengit. Sekilas, ada kecanggungan yang menguap di antara mereka. Cepat, namun pasti. Gaara meraih tangan Sakura dan menggenggamnya, sontak Kiba memandangnya gerah, sedangkan tangan satunya diulurkannya untuk meraih jabatan Kiba yang masih ada untuknya.
"Gaara," ucapnya angkuh dan dingin. "Kekasihnya." sambungnya mantap. Sakura hanya diam. Kiba menarik jabatan tangannya dari sang rival. Meskipun matanya masih memandang genggaman tangan mereka berdua, Kiba tidak peduli. Didekatinya tubuh Sakura yang masih diam pada posisinya, lalu didekapnya lembut tubuh itu. Meskipun Sakura tahu suaminya sedang melangkah lebih dekat lagi padanya. Dia tak peduli.
"Aku merindukanmu," bisik Kiba lembut sambil melepas dekapannya. Gaara mengerang.
"Lama tak bertemu." ucapnya lagi sambil mengecup pipi Sakura lembut, dan lepas sebelum suara Itachi mengisi kecanggungan mereka, datang dari belakang tubuh Kiba.
"Sakura, ayo pulang-"
"Uchiha-san!" tiba-tiba Kiba membalik tubuhnya memandang si empunya suara yang kini memandangnya. Karena sejak tadi dia sibuk dengan beberapa lembar kertas yang harus ditanganinya sebelum meninggalkan Pemakaman. Sambil membaca, sambil berjalan, apakah tadi dia tidak melihat istrinya sedang dikecup pria lain?
"Inuzuka-san?" Itachi merasa begitu akrab dengan wajah ini. Wajah rekan bisnisnya dulu, meskipun sekarang tidak lagi.
"Syukurlah kau masih mengingatku, aku turut berduka atas segalanya." ucap Kiba sambil mendekap Itachi singkat. Senyum itu terlihat tulus. Memang tulus, tapi bagi Sasuke, itu memuakkan. Dialihkannya pandangannya ke arah Sakura tanpa ada yang tahu. Melihat ke bawah, tangan itu masih tergenggam oleh pria lain di sebelahnya. Tidak tahu malu. Tapi meskipun begitu, kesakitan dalam hatinya kian menumpuk entah karena apa. Mengangkat pandangannya kearah wajah Sakura, tanpa sengaja pandangan mereka bertemu. Ragu, Sakura mepelas genggaman Gaara padanya dan menunduk bersalah. Membuat Gaara merasa kehilangan dan memandang Sasuke yang ternyata menatap mereka dengan ekspresi mematikannya.
"Terimakasih atas keluangan waktumu, Inuzuka-san. Kami sangat menghargainya." Itachi mencoba ramah, meski hatinya masih terlalu sakit untuk tersenyum. "Ini istriku, Sakura. Dan Sakura, ini Inuzuka Kiba, dia pernah menjadi rekan kita beberapa bulan lalu." ucapnya.
Tertawa, Kiba mengulurkan tangannya pada Sakura. Seperti tak pernah ada sesuatu yang terjadi pada mereka. Seperti seorang yang baru pertama kali bertemu. dan Sakura pun sama.
"Inuzuka Kiba."
"Uchiha Sakura."
Dan dalam kepalsuan itu, ada dua orang yang merasa muak akan segalanya.
.
.
.
.
"Kau mau kemana Sakura?"
Sudah lebih dari seminggu keluarga itu melewatkan masa kesedihannya. Kini tinggallah Sakura, Itachi dan Sasuke di dalamnya. Tak ada lagi Sarada. Tak ada lagi penghubung di antara ketiganya. Canggung. Entah kenapa Sakura merasa semakin tak nyaman berada di dalam rumah itu. Sangat tidak nyaman. Berkali-kali dia merasa tak lagi ada masa depan di dalamnya. Itachi semakin jauh padanya, bahkan Sasuke seakan ingin sekali membunuhnya dengan tatapannya. Setiap kali mereka bertatapan, pandangan Sasuke seakan ingin membunuhnya.
Bagaimana mungkin Sakura bisa berada di dalam dapur yang sama, ruang tamu yang sama dengan orang yang seakan ingin membunuhnya. Itachi pun sama, seakan kematian Sarada memang benar-benar kesalahannya sepenuhnya. Menggigil. Rasanya Sakura ingin menangis dalam lautan takdir yang serasa ingin menenggelamkannya.
"Aku tidak pulang malam ini." ucap Sakura lirih, tanpa memandang sang suami. Entah mengapa dia begitu benci dirinya sendiri.
"Hati-hatilah. Jangan terlalu sibuk memikirkan pekerjaanmu. Jaga juga kesehatanmu." hanya itu. Hanya itu yang Itachi ucapkan, tapi seakan mampu membuat Sakura ingin menjatuhkan tubuhnya ke dalam jurang.
"Itachi ..." suaranya sedikit tetahan, tubuhnya bergetar. Sakura merana. "Apa kau tidak bisa menyuruh Sasuke keluar dari rumah ini?" tanyanya menahan perih. Mengambil resiko jika mungkin Itachi akan memakinya saat itu juga. Tapi, setidaknya, Sakura merasa ini tidak masalah, sebab tak ada lagi Sarada yang menjadi alasan kenapa Sasuke harus berada disini. Membayangkan kemungkinan kemarahan Itachi, Sakura hanya menunundukkan wajahnya.
"Dia akan tetap disini, Sakura. Meskipun aku tahu kau tidak akan menginginkannya."
Dan kalimat itu mampu membuat Sakura menyakini dirinya, jika ada banyak tawa yang kini menertawai hidupnya.
"Kalau begitu, jangan salahkan aku, jika aku yang akhirnya memilih untuk meninggalkanmu."
"Kau tidak akan meninggalkanku."
Sakura tertegun sejenak. Memandang wajah Itachi yang sepertinya tak begitu berhasrat memandangnya. Itachi seakan tahu kelemahan terbesarnya. Biar bagaimanapun Sakura tak akan sanggup meninggalkannya. Tak akan sanggup.
"Itachi ..." Sakura berujar lirih. Ingin rasanya menangis. Dan dalam tangisnya, Itachi lah yang memberikannya dekapan. Tapi kenapa rasanya Itachi tak lagi begitu ingin memandangnya.
"Pergilah, tugasmu tak akan bisa menunggumu lebih lama." Itachi melangkah meninggalkan Sakura. Istri yang begitu dicintainya.
"Akhirnya aku bisa menemuimu lagi, Sakura."
Malam ini berkabut, mungkin hujan akan datang. Sakura tak pernah menyangka dalam heningnya malam di dalam ruangannya kini hadir seseorang yang sudah tak pernah lagi tampak beberapa lama dalam hidupnya. Rindu, salahkah Sakura jika dia merindukan pria ini. Dan pria ini kini ada untuknya.
"Susah sekali menemuimu. Aku sibuk, dan kau juga. Takdir seakan ingin kau dan aku tak akan pernah berjumpa lagi selamanya." dia tersenyum. Matanya tertutup saat dia melakukan itu, selalu menjadi bagian paling manis di pandangan. Sakura pun tersenyum.
"Kau tugas malam lagi?" tanyanya sambil melangkah mendekati sang wanita yang dari tadi hanya memandanginya saja. Duduk disatu-satunya kursi di depan meja kerja Sakura. Pemuda itu masih tersenyum.
"Kenapa menemuiku malam-malam begini Sai?" tanya Sakura yang kini memilih fokus pada pemuda di hadapannya.
"Menemuimu disiang hari terlalu sulit, beberapa suster memandangiku dengan tatapan mengerikan. Bahkan setelah aku mengirimkan beberapa paket, mereka masih saja memandangku dengan perasaan aneh. Lalu, aku bertemu dengan seorang wanita cantik berambut hitam. Sepertinya dia langusng tahu aku ingin menemui siapa. Dan karena aku juga sedang tidak bisa sering menungguimu disini, maka aku bertanya padanya. Saat aku punya waktu kembali ke Konoha, aku pun diberi kabar jika beberapa hari ini kau menerima tugas malam di rumah sakit. Untuk itu, selagi aku senggang esok hari, aku memilih mengunjungimu disini." tuturnya panjang lebar. Yang Sakura lakukan hanya diam dan menimbang-nimbang. Wanita cantik berambut hitam. Tentu saja dia tahu siapa itu. Tapi, rasanya tidak baik membiarkan Sai terlalu sering berada di dalam rumah sakit.
"Jadi, hari ini ada urusan apa menemuiku?" tanya Sakura tak berniat menjauhkan pandangannya dari Sai. Dia sedikit rindu dengan pemuda ini. Sebenarnya bukan hanya Sai seorang, bahkan Kiba dan Gaara pun sama-sama punya tempat di hati Sakura. Anggap saja Sakura perempuan jahat. Sangat jahat. Tapi kenapa pria-pria itu masih saja mau mendekat padanya?
"Aku merindukanmu, jangan pura-pura tidak tahu." serunya sambil bangkit dari tempat duduknya. Mendekati Sakura yang kini hanya mendongakkan kepala mengikuti langkahnya. Ya, dia rindu setengah mati dengan dokter muda ini.
Sebelum meninggalkan ruangan, Sakura sudah meminta izin pada beberapa suster jaga untuk pulang lebih awal. Meski larut malam seperti ini tidak bisa dibilang awal. Sakura meninggalkan mobilnya, memillih untuk menumpang di mobil Sai, menuju suatu tempat yang mungkin sudah menjadi rencana mereka malam ini.
Sai membuka pintu Apartemennya. Apartemen yang dihuninya jika dia kembali ke Konoha. Sebagai seorang arsitek, Sai lebih sering berpergian dari pada menetap di suatu tempat. Tapi tetap saja, Konoha adalah tempatnya pulang, tempatnya kembali dan tempatnya menetap. Apalagi ada Sakura yang selalu ingin ditujunya.
Ruangan yang masih sama seperti terakhir kali Sakura berkunjung. Selalu rapi dan harum. Sakura selalu suka tempat ini. Memilih langsung melangkah ke dalam kamar, Sakura mengikuti langkah pemuda itu dalam angannya. Kamar dengan nuansa yang sangat berkesan. Didominasi dengan warna biru laut yang menyenangkan. Luas, bersih dan begitu...
"Cantik." tanpa aba-aba, Sakura langsung merasakan dekapan Sai dalam tubuhnya, menghangatkan punggungnya.
-cantik.
"Kita perlu makanan Sai, bukankah itu niat kita sebelum aku meminta izin dari rumah sakit untuk pulang?" Sakura melepas dekapan pemuda itu padanya. Dia tidak suka terburu-buru. Meski dia tahu mungkin pada akhirnya nasibnya akan sama dan berakhir di atas ranjang yang kini seakan menjadi tempat menyenangkan bagi Sai.
"Sebenarnya aku lebih ingin memakanmu dari pada apapun saat ini." Sai tak ingin melepaskan dekapannya. Dikecupnya leher jenjang Sakura perlahan. Wangi, manis, sensasional dan mendebarkan. Sakura hanya mendesah lemah.
"Kau kurusan, Sakura." seru Sai di tengah pejaman matanya. Sakura menyadarkan dirinya sejenak dan kini beralih memutar pandangannya dan memandang Sai penuh, dalam matanya. Dia tersenyum, lirih dan menyakitkan.
"Ada banyak hal yang terjadi dalam diriku, Sai." ucapnya bimbang. Membiarkan tangan Sai menari-nari di kulit wajahnya. Sakura terpejam, bibirnya terbuka erotis dan itu membuat Sai ingin menggigitnya.
"Ceritakanlah padaku, apa yang membuat wanitaku ini menjadi sesedih ini." tanya pemuda itu. Mengecup bibir Sakura ringan, dan Sakura membalasnya. Mengigit bibir bawah wanita itu dan melepaskannya jauh. Bekas gigitannya timbul perlahan.
Apa yang ada dalam ingatan Sakura saat ini, kematian Sarada kah? Insiden tatapan mematikan Sasuke atau ketidakpekaan Itachi pada keadaannya? Dari semua yang ada, justru Itachi lah yang membuatnya paling terluka dan kehilangan. Sarada pergi, Itachi menjauh, dan Sasuke membungkam. Lalu Sakura bisa apa? Apakah ada lagi seorang penghubung antara mereka bertiga. Sarada tak lagi bisa diharapkan, lalu siapa? Seorang... anak?
Sakura membuka matanya sontak. Memikirkan kemungkinan itu, membuatnya kembali mengingat pertengkarannya dengan Tenten saat itu. Beberapa hari yang lalu.
"Saranku, mungkin Itachi pun butuh hipotesismu Sakura."
Sai menuntun langkah mereka lebih dekat dengan ranjang. Dikecupnya lebih banyak lagi permukaan leher Sakura, berpindah ke dada hingga meninggalkan bekas-bekas gigitan disana. Sakura tak lagi mau peduli jika saja Itachi melihat tanda pria lain dalam dirinya. Tak peduli.
Perlahan, melihat respon Sakura yang hanya menerima tindakannya. Sai pun bertindak jauh lebih dulu. Dilucutinya pakaiannya sendiri, sedangkan Sakura hanya diam pada posisinya. Ada yang sedang dipikirkan wanita itu. Ada yang kini sedang merasuk secara tiba-tiba dalam otaknya. Dan entah kenapa Sai pun menyadarinya. Hanya bajunya yang masih tertanggal. Sai sudah berangsur duduk di tepi ranjang tepat di samping Sakura, memandangnya teduh, penuh perhatian. Dia cinta wanita ini, sangat cinta. Ditariknya tangan Sakura dan mendekapnya di dadanya. Hangat.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyanya ragu. Tapi penuh dengan penekanan bahwa dia ingin tahu. Dia tidak pernah ingin memaksa Sakura bercinta jika Sakura tidak siap, dia tak ingin memaksa. Tidak pernah ingin. Jika memang Sakura tidak bersedia hari ini, dia siap menunggu kapanpun hingga siap. Semua keputusan berada di tangan Sakura.
"Lihat aku, Sakura. Apa yang sedang kau pikirkan?" tanyanya menarik pandangan Sakura hanya tertuju padanya. Sakura masih meringis perih dalam hati kala ucapan Tenten itu menghantui pikirannya.
"Dia cacat Sakura, kau harus tahu itu. Tujuh tahun menikah, dan kalian belum memiliki anak, apa kau pikir semuanya masih berjalan dengan normal-"
Wajah Sai dan ucapan itu kini mendominasi pikirannya secara bergantian. Diusahakannya fokus pada inti di depannya. Lalu diulurkannya tangan untuk membelai wajah lembut Sai. Ini indah. Sangat indah. Mata Sai, rambut Sai. Mungkin ini terlihat bodoh, tapi ini mirip dengan milik Itachi. Sangat mirip. Mata sama hitam, rambut pun juga. Mereka mirip.
"Sai ..." akhirnya setelah menunggu cukup lama, suara Sakura kini memenuhi pendengarannya. Sai tersenyum. Apalagi setelah mendapati Sakura kini mengelus lembut dada bidangnya. Sai kembali berhasrat.
"Malam ini, tolong buat aku mendesah dalam dekapanmu."
Dan setelah kalimat itu meluncur cukup parau dari mulutnya. Sai pun menyambutnya gembira.
Bibir mereka saling melumat, lidah saling melilit. Sai memang fokus pada kecupan panas antara bibirnya dan bibir sakura, tapi tangannya tak tinggal diam untuk medominasi seluruh kulit wanitanya. Menjalar keatas, Sai menekan lembut payudara Sakura yang masih terbungkus disana. Menekan lembut, memutar berirama membuat Sakura mendesah tanpa batas. Sai membuka mulutnya, diulurkannya lidahnya menyatu dengan lidah sang wanita. Dan sang wanita menyambutnya sama menjulurkan lidahnya, ujung saling menyentuh, lidah saling membelit namun mulut masih saling terbuka.
Sakura sedang memikirkan sesuatu dalam hatinya. Sai pemuda yang baik. Tak pernah sekalipun membuatnya merasa tersakiti. Jika memang Sai adalah pemuda yang baik, mungkin permintaan konyol yang akan diutarakannya pun akan dikabulkannya. Sakura bertaruh. Ini pertamakali dalam hidupnya dia bertaruh.
Perlahan, Sai melepas pakaian Sakura, menanggalkan semuanya yang melekat sambil bibir mereka masih saling bertaut penuh hasrat. Sakura nyaris telanjang, dan saat Sai melepaskan kain terakhir yang menutupi bagian paling sensitif wanitanya, kini Sakura sudah sepenuhnya polos tanpa alas.
Sai menindih wanitanya penuh perlindungan, tersenyum karena kali ini rindunya bisa dia utarakan. Sakura menutup matanya pelan, ada wajah Sarada yang membungkus pikirannya. Takut rasa bersalah semakin mendesaknya, dibukanya pejaman matanya dan tampak Sai yang masih setia tersenyum memandanginya. Menyentuhkan kedua ujung hidung mereka lembut dan hangat.
"Kau cantik sakura." ucapnya pelan. Mendekap erat. Dan sakura membalas dekapan itu lebih erat.
"Sai.." ucapan Sakura setenang langit, namun penuh dengan teriakan suara ombak. Tak pasti bermakna apa. Tapi Sai masih setia tersenyum mendengarkannya.
"Hamili aku."
Sai kehilangan senyumnya. Tangannya berhenti membelai surai sang wanita. Dan waktu membiarkan hening di antara mereka merangkak menjadi lambat.
Meskipun, seumur hidupnya bercinta dengan Sakura, sekalipun Sai tidak pernah mendapat izin Sakura untuk memenuhinya dengan cairan miliknya. Mereka memang bercinta, mereka memang menyatu, mereka memang saling berteriak diambang batas pintu nafsu. Tapi setiap Sai merasa dia sudah sepenuhnya akan menjadi pria sejati saat telah menapaki klimaks tertinggi dalam masalah seks, Sakura tak pernah mengizinkannya untuk menuang semua hasrat itu dalam rahimnya. Tak pernah. Sama halnya dengan Kiba maupun Gaara.
Tak cukup berarti memang, tapi bagi Sakura, milik Itachi adalah satu-satunya yang berkuasa disana. Namun sayangnya hingga sekarang pun dia tak lagi bisa merasakan keringnya rahimnya dibasahi oleh milik suaminya. Tidak pernah.
Meski kini Sakura mengizinkannya. Rasanya ada yang tak bisa Sai terima begitu saja dari permintaan konyol Sakura. Ingin ditariknya tubuhnya bangkit berdiri dari atas tubuh wanitanya. Tapi Sakura menahan dengan memeluk Sai cukup erat dan mengecup bahunya. Sakura menangis. Dia tidak lagi mau merasa sendirian kali ini. Sarada telah pergi, hanya Sai satu-satunya harapan dan yang bisa membantunya. Tidak dengan Kiba, tidak juga dengan Gaara. Hanya Sai.
Jika saja Itachi tidak mau bicara tentang dirinya, Sakura tak perlu mempertanyakannya, meskipun dia ingin, tapi itu tidak mungkin. Sebab bagi seorang pria hal seperti itu adalah nilai dari hidupnya. Dan bagi seorang wanita, suami adalah segalanya.
"Aku mohon, Sai ... buat aku hamil. Aku mohon."
Demi masa depan hubungan antara dia, suaminya dan Sasuke atau demi kehancuran segala hal yang telah dimilikinya. Sakura hanya ingin bertaruh. Mungkin dengan begini, Sakura bisa mengembalikan kepercayaan diri Itachi. Itachi tidak mungkin cacat, dia bisa memiliki anak. Itu pasti. Dan dengan ini juga, dia berharap hubungannya dengan sang suami kembali kekeadaan normal. Bukankah Itachi ingin penerus keluarga? Sasuke tidak mungkin bisa mengabulkannya saat ini, tak mungkin bisa jika tanpa seorang istri. Sarada pun tak ada lagi sekarang. Hanya Sakura yang bisa, hanya Sakura yang memiliki kesempatan untuk melakukannya. Meskipun ini adalah kebohongan. Ini adalah pertaruhan, tak akan ada yang bisa menyelamatkan semuanya. Tapi setidaknya, Sakura bisa melangkah untuk mencoba segala kemungkinan yang ada dipikirannya.
.
.
.
.
Tbc
AN-nya bakalan banyak ni. siap-siap aja.
Untuk chapter ini. Saya mohon maaf. saya kurang feel me-remake nya.
Sudah saya usahakan semaksimal mungkin tapi kayaknya enggak bisa. tapi karena saya mikir mungkin saya gak akan bisa nulis sampe akhir tahun nanti, jadi saya terpaksa publis chapter ini tanpa kebmbangan lagi.
Review.
Sebelumnya maaf, saya menghargai segala jenis kehidupan, memang. Meskipun akun tanpa login juga salah satu bentuk dari kehidupan, tapi khusus masalah ini, maaf saya gak bisa begitu menghargai. Tapi terimakasihlah bagi yang sudah review tanpa login.
Review saya mulai dari chapter 4 saja ya, meski enggak banyak.
.
Aulya'aina731 : Maaf, saya enggak jualan tissu :v . Kalau kamu bacanya sampai menangis, maafkan saya. Sebenarnya enggak maksud gitu kok. Tapi makasih untuk kamu.
Aegyo Yeodongsaeng : Sarada memang meninggal. Gak akan ada kehidupan lagi dengan dia setelah chapter ini. Sakura gak akan bisa nghidupin dia, bahkan saya sendiri. Yuph, ibunya Sarada bukan Sakura. Sakura enggak pernah mengandung, sekalipun. Tentang penjelasan akan ibunya Sarada, sebenarnya di OS saya gak pernah singgung sedikitpun. Tapi kalau emang entar tiba-tiba nyinggung dan munculin ibunya Sarada, mungkin karena saya ingin aja memperpanjang storynya. Tapi gak pasti, masih dipertimbangkan.
Tentang adegan penyelamatan, kamu benar. Agak sedikit lebay. Sebenarnya alasannya sudah saya pertimbangkan. Saya sengaja. Inti dari Out of the Blue sendiri sebenarnya bukan cerita dalam bidang rumah sakit dan sejenisnya. Murni masalah keluarga, perasaan dan sejenisnya. Jadi tentang adegan penyelamatan di rumah sakit itu memang sudah saya rencanakan seperti itu, biar kesannya sembarangan, dalam keadaan seperti ini biar pembaca berpendapat semua yang terjadi karena kesembarangan. Agar fokus pembaca terpecah kesegala arah, sudah saya pertimbangkan. Jadi tentang keadaan yang terkesan ramai, sumpek, ruwet dan tak tenang serta tangis-tangisan memang saya sengaja, karena ada alasannya. Salah satunya, kenapa harus Sakura yang menangani Sarada? Karena harus Sakura lah yang menangani Sarada (point disini saja sudah terkesan gak hati-hati) maka suasananya saya buat seperti itu.
Tentang masalah koneksi PMJ/Palang Merah Jepang (anggap aja gitu). Yuph, alasannya juga sudah kamu sebutkan kenapa (biar misteri tentang ibunya Sarada ketahuan), harusnya saya gak perlu jelaskan lagi kenapa begitu. Memang ya, kalau yang namanya sudah jiwa penulis, susah dikelabui masalah plot yang tak tersirat. Bukan maksud saya untuk mengabaikan masalah koneksi ke bank darah. Tapi sebenarnya dari kalimat Tenten sudah sengaja saya tekankan, disitu kan Tenten bilang akan lebih cepat menanyakan langsung sama Sakura tentang kecocokan darah Sarada. Biar bagaimanapun Sakura itu yang mengasuh Sarada dari kecil, juga Sakura seorang dokter, paling enggak mereka enggak harus buang-buang waktu cek tipe darah Sarada. Biar bagaimanapun kan tetap akan dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Jadi lebih baik tanya Sakura langsung. Siapa tahu Sakura langsung tahu tipe darah Sarada dan mereka bisa langsung tanya ke bank darah tanpa buang waktu untuk melakukan kamu benar lagi. Adegan disini memang sudah saya rancang untuk bagian dimana misteri tentang hubungan ibu dan anak itu terbongkar! Dengan spontan Sakura pasti akan mikir ibu kandung Sarada jika masalah tentang darah dipertanyakan padanya saat itu juga. Dan akhirnya kalimat tentang harus kemana dia mencari ibu kandungnya Sarada keluar begitu saja. Sengaja dibagian ini tidak saya dramatisir. Karena begitulah saya.
SaSaSarada-chan : WOW kamu ESPer ya? *bercanda* Sebelumnya maaf ya buat kamu mewek, bukan maksud saya begitu. Tapi emang ceritanya harus kayak gitu. Berbahagialah, nak. Jangan sedih, Sarada juga tak ingin melihat kamu bersedih. Dan terimakasih ya, kamu selalu ada di tiap chapter Out of the Blue.
Naomi Cho : Salam kenal juga, saya suka kamu penasaran, tandanya kamu mengerti dengan cerita saya, makasih. Karena menurut saya kalau malah ada yang bilang enggak penasaran sama cerita ini, saya mulai curiga dia sebenarnya baca atau enggak, haha. Saya memang sengaja bingungin pembaca. Makasih untuk segalanya.
Andromeda no Rei : Makasih untuk review kamu. Dan maaf karena buat kamu sedih. Berbahagialah demi Sarada disana.
Untuk yang review tanpa login, maaf ya, saya gak bisa balas review kalian. Bukan karena saya gak baca review kalian. Hanya saja, karena saya kurang menghargai keberadaan review tanpa login. Sekali lagi maaf karena bersikap seperti itu.
untuk tambahan :
Sebelumnya saya memang sudah bilang saya bukan ahli dalam urusan nyawa seseorang, juga pada bidang rumah sakit, jadi ya, maafkan saya sekali lagi. Dan dalam cerita ini, sebenarnya saya mau bilang, kalau saya hanya ingin buat sebuah kejadian yang menjabarkan kalau Sarada meninggal dunia. Hanya sebuah adegan yang menggambarkan kematian saja sebenarnya. Pemilihan peran Sakura sebagai dokter tak terlepas dari pemikiran Sarada bakalan meninggal dunianya gimana. Sebenarnya konsep saya buat cerita ini terlebih dahulu mikirin Sarada nya meninggal bagaimana, baru memilih pekerjaan untuk Sakura. Dan konsep itu jadilah seperti ini. Satu alasan lagi kenapa saya fix bikin Sakura jadi dokter, akan kalian pahami di chapter selanjutnya (meskipun sebagian sudah nyadar karena alasan apa).
Intinya, cerita saya sebenarnya klasik banget, hohoho kisah keluarga yang kurang harmonis. Kejenuhan dalam berumahtangga, kesalahpahaman yang susah sekali diatasi, perasaan terpendam, rasa bersalah, perselingkuhan dll. WOW biasa banget, tapi ya terima ajalah.
Saya sudah duga dari awal, pasti banyak yang mikir kalau Sakura pernah ng-seks sama Sasuke, dan terjadilah Sarada. Dan disinilah letak kenikmatan saya saat membuat cerita ini. Saya bahagia bisa ngajak kalian mikir.
