Out of the Blue

==.==

DISCLAIMER chara NARUTO milik Masashi Kishimoto

DISCLAIMER STORY : SATU - SATUNYA MILIK SAYA.

Spica Zoe

Cover Art : CharaKauffmann

Warning : Affair, OOC, NTR, Sakura Centric,

.

Cerita mengandung unsur antagonis moral.

Sebab itu tolong jangan benci chara di dalamnya.


"Kenapa kau ada di sini, Sakura?"

Sakura tak menjawab. Wajahnya masih tersimpan dalam pelukannya sendiri. Di atas meja, di ruang tamu kediaman kakaknya.

"Apa kau sudah makan?"

Sakura hanya menggeleng pelan. Merasakan sudah ada sentuhan di bahu kanannya dan kehadiran seseorang di sisi yang sama. Ikut duduk.

"Mau kubuatkan makan, atau kita makan di tempat lain?"

Surainya diusap lembut.

"Nee-san, diamlah. Aku hanya ingin menumpang sesaat saja."

Wanita lain di ruangan itu tersenyum penuh pengertian. Akhir-akhir ini, adiknya terlihat jauh lebih sering mampir ke tempatnya. Meski tak banyak yang bisa dia lakukan di sana. Hubungan mereka memang tidak begitu baik sejak dulu. Tapi, dari pada memilih untuk pulang ke rumah, rumah orangtua mereka, Sakura lebih memilih datang ke tempat kakaknya untuk mengaduh.

"Apa ini tentang Sasuke lagi?"

Sakura membuka matanya. Kepedihannya juga ikut terbuka, hingga tak butuh waktu lama isakan tangis miliknya terdengar memenuhi seisi ruangan.

.

.

Out of the Blue

.

.

Sakura memilih pulang lebih siang hari ini. Harusnya tugas malamnya sudah selesai bersamaan dengan mengintipnya mentari pagi di ujung langit. Tapi, ini sedikit berbeda sebab malam tadi pun dia tidak berada di rumah sakit. Sakura menghembuskan kepulan asap putih dari mulutnya, membiarkannya mengambang memenuhi ruang kemudi dalam mobilnya. Sedikit jengah, sedikit sesak, sedikit menyakitkan. Berharap saat tiba di rumah nanti, dia tak menjumpai sang suami di sana. Penyesalannya terus menguap bersamaan dengan ingatannya akan wajah sang suami. Dan setitik airmata pun muncul bersamaan dengan hembusan asap terakhir yang keluar dari bibir merahnya.

Ditapakinya lelah lantai-lantai kilat di bawah kakinya. Memeriksa waktu yang sedang berjalan, harusnya Itachi memang tak akan lagi bisa dijumpainya di sana diwaktu seperti ini. Namun, harapannya tak bersambut. Tuhan sedang menertawainya, mungkin.

Duduk dalam diam, tanpa surat kabar, tanpa secangkir kopi, tanpa lembaran-lembaran bedebah. Itachi menunduk tak bergerak. Memaksa Sakura menghentikan langkah kaki lelahnya. Memandangi sang suami yang terlihat begitu rapuh seakan nyaris hancur berkeping-keping. Tak pernah Sakura melihat Itachi seperti ini dalam hidupnya. Tujuh tahun bersama, tak pernah ada Itachi yang seperti ini dalam pandangan dan ingatannya.

Duduk menunduk bertumpu pada kedua tangannya yang menutupi wajahnya. Rambut kecil di sekitar keningnya pun jatuh terurai. Menampilkan kesan paling menakutkan bagi Sakura. Pakaiannya yang telah terbalut rapi, tanpa jas hitam yang biasa menyempurnakan penampilannya. Apa yang terjadi, Sakura tak mampu bertanya.

"Nyonya, Anda telah kembali?"

Sakura langsung menoleh pada si pemilik suara. Wanita paruh baya yang memang sudah sejak dulu ada di dalam rumah ini. Itachi bilang wanita ini adalah orang yang membesarkannya dulu. Bisa jadi salah satu orang yang paling penting dalam hidupnya.

"Apa yang terjadi, Sarutobi-san?" ucapnya lemah, mengembalikan pandangannya pada sosok pria yang masih tertunduk di sana. Cemas, sebab ini pertama kalinya Itachi telihat begitu merana.

"Tuan Sasuke menolak untuk makan sejak kemarin dan mengurung diri di dalam kamar." balasnya ragu. Sakura mengelah napasnya sesak. Dilangkahkannya kakinya mendekati Itachi yang masih enggan mengangkat kepalanya. Sejak kematian Sarada, Sasuke memang lebih suka mengurung dirinya. Makanannya jarang tersentuh, dan itu membuat Itachi takut setengah mati. Tapi, tak Sakura sangka hal seperti ini bisa mematikan mental suaminya. Lembut disentuhnya bahu Itachi, getaran tubuhnya terasa sangat jelas. Pria ini takut mengalaminya lagi.

"Sakura ..." Itachi berucap lemah, nadanya bergetar parau, seperti ingin meraung. Napasnya melemah. Mendengar itu, seperti ada gemuruh ombak dalam dadanya. Sakura berusaha untuk peduli, lagi. Dikesampingkannya jauh rasa kesal pada sang suami sejak malam tadi, juga rasa muak akan dirinya sendiri. Didekapnya pria itu dalam tubuhnya. Dia rindu suaminya. Banyak hal yang berlalu percuma antara mereka. Begitu banyak, hingga semua kenangan bahagia pun terkikis tak berbekas, terbawah angin badai yang tak tahu berasal dari mana.

"Aku menyerah, Itachi ..." bisikkan nada suara Sakura membuat ruangan itu menjadi penuh dengan haru. "Aku memang tak pernah bisa menang darimu." Dan setetes bening itu lolos jatuh begitu saja menodai pipinya.

Rasa bersalah, tentu jelas ada. Tapi, Sakura pun sudah menyerah pada semuanya. Biarlah dunia menghukumnya kejam. Bahkan dia tak lagi peduli dengan caci makian. Dia sudah terlanjur jatuh ke dalam jurang. Membisu dalam kebodohan, dan tuli akan hinaan. Dunianya sudah tak lagi bermasa depan. Putarannya sudah tak lagi sejalan. Sejak Sasuke kembali, dunianya seakan berputar kembali menyambut masa lalu. Masa lalu menyakitkan.

.

.

"Dia akan tinggal bersama kita, Sakura. Sarada perlu seorang ibu, dan aku pikir kau paling cocok untuk itu." itu awal mula kekelaman yang Sakura dapatkan dalam hidupnya. Awal mula segalanya. Mula dari segala perkaranya. Perkara hidupnya.

"Tapi, Itachi ..., ini terlalu mendadak, aku pikir-"

Sejak empat tahun yang lalu.

"Maaf. Tapi, Sasuke tidak mungkin bisa mengurus Sarada seorang dirikan? Dia adikku, dan aku bertanggung jawab penuh atas dirinya."

'Dan, aku istrimu. Pedulilah tentang perasaanku. Adikmu adalah orang yang sama dengan pria yang pernah menjadi pria yang paling kucintai di dunia ini. Pedulilah, Itachi.'

Sakura menahan langkah di posisinya. Berdiri di depan pintu kamar Sasuke dengan segala perasaan aneh yang bertumpuk menyesakkan dadanya. Masalalu. Masalalu. Masalalu.

Tak ada balasan setelah puluhan ketukan diciptakannya. Memberanikan diri, Sakura mendorong pintu itu pelan. Terbuka. Dilangkahkannya kakinya memasuki ruangan. Benar-benar kelam, sekelam batin dalam dirinya. Sejauh matanya memandang. Ditemukannya sesosok manusia yang terbaring di atas ranjang. Di luar sana panas membara, tapi di dalam ruangan ini, dingin mencekam. Suhu ruangan seakan bisa membekukan jiwanya. Didekatinya langkahnya semakin dekat pada sosok yang sedang terbaring itu. Wajah yang tak pernah bisa dia lupakan dalam hidupnya. Seorang yang dulu pernah dia cinta, namun kini paling dia benci.

"Kau curang, Sasuke!"

Merah mudanya terurai indah membelai jiwa, memesona segala hasrat. Sang pemuda tersenyum dingin, wajah dan tatapannya memang datar tak berjiwa. Tapi hasratnya hangat menggenggam asa.

"Itu tidak masuk hitungan, Sakura." Senyumnya masih ada. Meski tak selebar yang tak pernah ada.

Di dalam angan, sepasang insan saling merangkul dalam impian. Serpihan-serpihan harapan memenuhi keinginan. Sakura tahu, mencintai seorang Uchiha Sasuke bukanlah pilihan yang tepat. Keluarganya melarangnya. Tapi dia tetap pada pendiriannya.

Akhir-akhir ini, Sakura sering memutar kembali memori masa lalunya. Tak disengaja, terputar begitu saja. Tentang Sarada, tentang Sasuke, tentang semua yang pernah dia alami. Sasuke bukan pria baik. Itu yang dulu sering Sakura dengar dari rentetan rumor yang pernah ada. Tenten bilang, 'percayalah pada keyakinanmu' dan Sakura mencobanya. Dan dia berhasil. Dua tahun mereka menjalin hubungan. Meski tak semuanya semulus perkiraan. Sisi tidak baik yang Sasuke miliki bukan karena dia pria jahat dengan temprament yang kasar, hanya saja dia memang terlalu kekanak-kanakan.

Sakura bahkan memutuskan pergi dari rumah. Membentak ucapan Ibunya hanya karena ada latar belakang keluarga yang tidak baik di antara dia dan Uchiha. Memutuskan pergi jauh, Sakura datang pada Sasuke dan memutuskan bersama. Tapi sayang, lagi-lagi takdir tak pernah sejalan dengan keinginan. Pertengkaran kecil diantara mereka bisa menjadi bumbu paling sedap dalam menghitung jejak-jejak kesalahan dan pengorbanan. Sasuke benci jika Sakura selalu mengungkit kenapa dia lebih memilih Sasuke dari pada keluarganya. Dan Sakura paling benci sikap Sasuke yang selalu saja lari mengabaikannya jika mereka sedang tak sepikiran.

"Sasuke ..." Sakura mengulurkan tangannya menyentuh tubuh Sasuke yang masih terbungkus selimut di dalam pembaringan. Ujung jarinya menguncup sesaat kulit mereka saling bersentuhan. Dia benci pria ini, sangat membencinya.

"Itachi khawatir padamu, tolong pikirkan perasaannya." ucap Sakura mengiba. Tak peduli sosok itu membuka telinga atau tidak untuknya. Diletakkannya nampan berisi makanan di atas nakas di sebelah ranjang Sasuke. Dia berharap, kali ini tidak ada penolakan.

Sasuke masih bergeming, matanya belum juga terbuka. Sakura mendesah kembali. Hangat, itu yang dia rasakan saat seluruh telapak tangannya sudah menyentuh lengan Sasuke di sana. Tapi saat dia ingin berucap ...

"Sasuke-"

... ada hempasan cukup keras yang tangannya terima. Sasuke menyingkirkan tangannya dengan kasar. Menepis, dengan kasar.

"Pelacur sepertimu jangan pernah menyentuhku!" Dan nada itu memenuhi kepalanya.

Untuk saat ini, Sakura berharap dia memiliki hati seluas lautan, tak perlu sedalam lautan. Sebab, dalamnya lautan hanya akan mengendapkan rasa sakitnya sampai ke dasar dan tak bisa lagi dia keluarkan, jika dia memiliki hati seluas lautan, mungkin saja satu noda sakit yang jatuh akan cepat tersamar dan tak berbekas disana.

"Keluar dari kamarku!"

Sakura menggigit bibirnya kecewa. Kecamuk di hatinya membara. Seperti ada sesuatu yang sangat keras menghantam-hantam dadanya. Mungkin memang seperti inilah rasanya.

.

Out of the Blue

.

"Bagaimana?" Sakura langsung mendongak memenuhi pertanyaan itu dari suaminya. Dia tersenyum lirih tak berdaya. Dia menyebutku pelacur, Itachi. Apa harus dia mengaduhkan itu pada suaminya? Tapi memang benarkan? Harusnya dia terima saja jika Sasuke menyebutnya seperti itu. Tak usah Sasuke perjelas, dia sudah cukup tahu apa yang telah dia perbuat.

"Aku tak bisa meninggalkannya dalam keadaan seperti ini, Sakura. Kita harus berbuat sesuatu agar dia bisa kembali kekondisi semula."

Sakura menjadi lemah. Memilih duduk di atas sofa di kamar tidurnya. Dia memandangi sang suami yang kini sudah tampak lebih hidup dari sebelumnya. Hanya karena dia mengumbarkan janji akan membujuk Sasuke padanya.

"Aku sudah mengantarkan makanan padanya, dan ..." Sakura menunduk resah harus beralasan apa. "Bicara beberapa kata untuknya. Aku harap dia mau mendengarkannya." Tidak akan. Sudah jelas dia tidak akan mendengarkannya. Itachi tersenyum. Prnuh Harap. Dan Sakura merasa bersalah akan itu.

"Senang mendengarnya. Hari ini mungkin aku akan pulang agak larut. Ada petemuan yang akhirnya kutunda karena kejadian ini, dan hari ini harus segera dituntaskan." Itachi meraih jas hitam yang terletak di atas pembaringan. Dan melangkah keluar dari kamar mereka. Meninggalkan Sakura yang masih terdiam dalam kesesakkannya.


Mereka baru saja bertengkar. Sakura tak percaya jika Sasuke memiliki ketidakpekaan seperti ini dalam menghadapinya. Ada seminar penting yang harus Sakura hadiri, dan Sasuke menahannya hanya karena dia sedang ingin ditemani, terlalu kekanakan.

"Aku sudah minta maaf kan, Sasuke. Kau harusnya tahu, ini adalah seminar yang cukup penting bagiku." Sasuke membuang muka. Mengabaikan tak peduli. Dia tetap berjalan tegas membiarkan Sakura lah yang mengikuti, merengek minta dimaafkan. Terlalu egois.

"Sasuke, jangan seperti ini. Aku kan sudah di sini menemanimu, jangan marah ya." Iba Sakura mengalah. Tapi Sasuke terlalu gengsi akan dirinya.

"Sebenarnya, kau lebih memilih kuliahmu atau aku, Sakura?"

Langkah mereka terhenti, dan kini dalam langkah ratusan orang yang terlewati, mereka hanya diam saling pandang. Berusah kuat menyembunyikan ego yang mungkin akan meledak suatu waktu.

"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Sakura mulai tak sabar. Kecemburuan Sasuke terlalu bodoh untuk dipahami.

"Seakan aku tak pernah penting dalam hidupmu." Sasuke menatapnya dingin.

"Pembicaraanmu tak masuk akal. Aku hanya menghabiskan waktu dua jam untuk seminar, harusnya kau paham. Jangan seperti ini Sasuke. Pendidikanku pun adalah bagian terpenting untukku." Sakura juga tak paham kenapa dia begitu kesal.

"Jadi aku tidak penting?"

Sakura ingin tertawa.

"Maumu apa?"

"Kau terlalu egois Sakura." Tatapan Sasuke seakan ingin menghakiminya.

"Sasuke, hentikan! Jangan mulai lagi pertengkaran kita. Aku sudah minta maaf. Ibuku ada di sana, dan aku sebagai anak tidak hadir dalam seminarnya? Ini bukan kesalahan yang kecil untuknya."

"Jadi, selain kuliahmu, Ibumu juga jauh lebih penting dari pada aku?"

Sakura mendesah kecewa. Kenapa arah pembicaraan mereka jadi seperti ini. Kesabarannya benar-benar habis. Hanya karena masalah seremeh ini, semuanya bisa membuat apapun terlihat buruk bagi Sasuke.

"Kau menyebalkan." umpatan paling menyakitkan yang pernah Sasuke dengar dari Sakura. Nada suara yang lemah, tapi entah mengapa begitu menusuk hatinya. Sakura melunak untuk mengalah. Menghadapi Sasuke memang bukan ahlinya. Mungkin sampai kapanpun dia tidak bisa.

"Apa kau bilang?" Sasuke terpancing amarah.

"Kau menyebalkan!" Sakura memandangnya sengit. Cukup sudah, kekeraskepalaan Sakura pun tak lagi bisa dibendungnya. Kenapa hanya karena ini mereka bisa menjadi seperti ini.

"Kau-"

"Apa salahnya jika aku lebih memilih kuliahku dan Ibuku dari pada memilihmu?! Aku sudah minta maaf, apa itu tidak cukup? Jangan bertingkah seperti anak-anak Sasuke. Belajarlah lebih dewasa. Kau disekolahkan untuk itu-"

Jangan jadikan cinta sebagai alasan kau butuh dirinya. Tapi, jadikan dia menjadi alasan kau menginginkan cinta.

Sakura menegang menahan perih. Ucapannya terhenti karena ada rasa pedas yang dia rasakan bersarang di pipinya. Entah sejak kapan. Tiba-tiba saja sudah terasa begitu pedas dan panas. Nyerih dan sesak. Sasuke menamparnya. Di depan umum, Sasuke menamparnya. Pertama kali dalam hidupnya. Sasuke menamparnya. Sakura memang tidak punya ayah sejak dia berumur enam tahun. Anggap saja Sakura memang tidak begitu pandai menghadapi seorang pria. Tapi, apa harus seperti ini yang dia dapatkan? Bahkan Ibunya, kakaknya sendiri tak pernah sekejam ini padanya.

"Kau sudah puas?"

Tak ada airmata. Sakura menahan airmatanya untuk kesakitan yang baru saja didapatnya. Inikah karma karena telah menentang ucapan ibunya? Sasuke bukan pria baik. Inikah maksudnya.

"Cobalah sekali saja untuk lebih mengerti aku Sakura, aku membutuhkanmu. Dan aku ..." Sasuke tak tahu harus berbuat apa. Rasa cintanya pada gadis ini sudah membutakannya. Terlalu menginginkannya. Takut dia pergi dan meninggalkannya sendiri. Dia takut.

"Sasuke!"

Jika saja tidak ada kemarahan yang merekah diantara mereka. Mungkin tak akan ada takdir yang tak diinginkan datang menghancurkan mimpi yang sudah terbinah cerah. Jika saja Sasuke jauh lebih dewasa, mungkin Sakura tak akan meluapkan rasa kesalnya. Mereka masih perlu belajar. Belajar untuk berjalan beriringan dalam diam dan pengertian. Saling mendengar, saling bicara dan menatap untuk paham jalan pikiran.

Kini, diantara mereka berdua, di tengah kemarahan yang mengambang. Disitulah Itachi datang. Membawa jalan hidup yang lain bagi keduanya. Sakura tak pernah bertemu pria itu seumur hidupnya. Tidak pernah, sebab Sasuke bilang dia benci keluarganya. Tapi disini, di keadaan yang salah, mereka akhirnya bisa berjumpa.

"Sasuke, kebetulan bertemu. Aku baru saja pulang dari ..." Itachi sedikit menyadari ada sesuatu yang sedang tak nyaman terjadi di sana. Tapi perhatiannya sudah langsung terkunci pada satu sosok yang diam di sampingnya. Sakura.

"Kalian sedang bertengkar? Kekasihmu, Sasuke?" tanyanya canggung, memandangi Sakura dan Sasuke yang masih menunduk kecewa. Bergantian dengan tatapan penuh penasaran. Beberapa mata pun menyempatkan diri untuk sekedar mencari tahu, kenapa mereka terdiam dan saling pandang.

"Tidak. Dia bukan kekasihku. Aku tidak pernah mengenalnya."

Dan kalimat itulah yang menghantam Sakura semakin keras. Membawanya berlabuh kemasa depan yang dia jalani saat ini. Sasuke yang menyerahkannya pada Itachi. Dan Sakura tak berdaya karenanya.

"Aku tak mengenalnya."

Sasuke melangkah jauh meninggalkan mereka. Meninggalkan Sakura yang masih memegang perih di pipinya.

"Dia bukan siapa-siapa."

Dan Hatinya meledak melepas sesak yang memanas. Bagai kaca yang remuk juga pecah, berkeping-keping. Dan tangisan menjadi akhir dari segalanya. Tangisan Sakura, di depan seorang pria yang terikat takdir menjadi suaminya.

.

Out of the Blue

.

"Melamun lagi, Sakura."

Suara petir di luar sana, sejak tadi mengganggu lamunannya. Namun, Sakura tak bereaksi apa-apa. Dan sekarang, hanya karena suara pemuda ini saja, semuanya berhasil sirna. Sakura mengangkat kepalanya memandang Sai yang sudah berdiri di ambang pintu ruangannya. Tersenyum. Ramah. Seperti biasa.

"Sai ..." serunya dengan suara tertahan.

"Sesuai janjiku kemarin, aku datang lagi."

Sudah larut malam. Hujan deras. Petir menyambar. Sakura tidak suka keadaan ini. Sangat tidak suka. Kedatangan Sai pun seakan tak tepat waktu, padahal kemarin pun dia sudah tahu pemuda itu akan datang lagi.

"Memikirkan suamimu lagi?"

Sai menarik kursinya. Memilih duduk di samping Sakura. Sai mengenal Itachi. Sakura yang bercerita. Sebab Sakura tidak pernah ingin menyembunyikan statusnya.

"Tidak," nada suara Sakura bergetar. Dialihkanya tatapannya kearah Sai yang memandangnya lembut. Memang pemuda yang baik.

"Lantas apa? Kau masih marah padaku karena menolak permohonanmu kemarin?"

Sakura tersenyum.

==.==

"Aku tidak bisa Sakura."

"Aku mohon Sai. Hanya kau yang bisa membantuku."

"Tidak. Pikirkan berapa banyak yang akan kaukorbankan karena ini nanti. Membohongi suamimu dengan anak yang kau kandung? Lantas jika sang anak telah tumbuh dewasa, kau mau mengaku bagaimana?"

"Itu bukan lagi urusanmu jika sudah terjadi, kan?"

"Itu urusanku Sakura, karena itu anakku."

==.==

"Jangan bahas lagi Sai." Sakura menarik napas dan menghembuskannya pelan. Dia ingin pulang. Rasa dingin menghempaskannya. Menusuk tulangnya. Dulu, sebelum Sasuke kembali. Saat-saat begini adalah hal yang paling dinantinya. Membiarkan hujan membasahi bumi, maka dia dan Itachi akan memilih duduk di ruang tamu. Membiarkan redupnya cahaya lampu menyelimuti mereka. Mereka akan bicara banyak hal tentang dunia. Tentang impian dan harapan. Masa depan dan masa silam. Tentang hujan, pelangi, mentari, awan, lautan, semuanya. Semuanya. Namun sekarang.

"Tapi semalaman kita tak jadi melakukan apapun, Sakura."

Senyum lirih di wajah Sakura tercetak jelas. Iya, karena penolakan Sai akan permintaannya, mereka jadi tak melakukan apapun malam itu. Sakura merasa hina. Terkadang terpikir olehnya untuk berhenti melakukan kebodohan ini. Semua hal yang terlanjur dilakukannya, apa bisa dia perbaiki.

"Mungkin kita tidak akan bisa melakukannya lagi, Sai. Aku lelah. Ingin rasanya mengakhiri hidup, tapi tak bisa. Aku punya tanggung jawab. Dan ..." Sakura menahan napas sesaknya. Mengakhiri semuanya. Apa dia bisa?

"Perasaan bersalah yang tak berkesudahan?" Sai melanjutkan isi hatinya.

"Ya."

Meski perasaannya ada, Sai tidak pernah merasa harus memaksa Sakura untuk memenuhi seluruh kemauannya. Dia tahu posisinya. Dan dia tahu siapa Sakura. Sebelum mendekat, Sakura selalu jujur dengan apapun yang terjadi pada dunianya. Merasa dapat memenangkan hatinya, Sai datang dengan kepercayaan diri. Mendekati Sakura, mengatakan dia bisa berbagi beban dengan sang wanita. Dan hingga saat ini pun dia merasa harus selalu ada di dekat wanita itu. Membantunya berpikir, memberikannya pendapat, meski dia tahu ini terlalu sakit untuknya.

Kejujuran Sakura lah yang membuatnya berpikir jika wanita ini memang sedang malang. Suaminya mencintainya, harusnya sebuah kebahagiaan. Tapi, kenapa menjadi begitu menyakitkan. Hingga tanpa sadar, ingin rasanya dia mendekap kembali tubuh wanita ini, memberikannya perlindungan dan mengatakan jika semua akan baik-baik saja. Tapi, kenapa begitu sulit. Apa karena dia tahu, sejak dulu pun dia sudah menjadi orang asing.

Di dalam keheningan perasaan masing-masing. Ada sebuah suara yang berhasil mengusik mereka. Bukan suara hujan, juga petir. Sakura meraih ponselnya yang bergetar yang terletak di sudut meja. Mengabaikan kehadiran Sai sesaat. Memandang layar ponselnya, membuat Sakura langsung tahu itu panggilan dari siapa. Sudah berapa lama Sakura tak mengalami kejadian seperti ini. Tidak ada di rumah sampai larut malam, hingga membuat suaminya menelpon penuh dengan kekhawatiran. Dilirknya Sai sejenak sebelum menjawab panggilan, dan pemuda itu mengangguk seakan mengerti, itu bukan hak nya memberi izin pada Sakura. Dan wanita itu tersenyum.

"Sakura. Kau ada di mana?"

Untuk sekian lama, Sakura yakin, Itachi kini sedang membutuhkannya. Salahkah jika dia membiarkan rasa rindu itupun menguap? Meski hanya ...

"Aku, di rumah sakit-"

-imajinasinya saja.

"Cepat pulang." Jelas ini bukan panggilan rindu. Panggilan rindu rasanya tidak harus setakut ini. Sakura sedikit penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Sebab nada suara Itachi sudah membuatnya frustasi.

"Ada apa? Aku tidak-"

"Cepat pulang! Aku ingin bicara padamu."

Sakura memandangi layar ponselnya yang sudah padam. Hampir dua tahun, Itachi tak pernah memaksanya pulang seperti ini. Bahkan ketidakpulangannya pun tak pernah menjadi pertanyaan bagi sang suami. Lalu mengapa hari ini, sedikit berbeda?

"Ada apa?" Sai membuyarkan lamunannya.

"Aku harus pulang. Sepertinya ada sesuatu yang harus kuselesaikan."

Sakura bangkit dari tempat duduknya. Dibenahinya meja kerjanya dalam sekejap. Ini bahkan sudah lewat larut malam. Dan hanya yang memikirkannya.

"Kau ingin kuantar?" tanya Sai sebelum Sakura pergi meninggalkan ruangannya. Sai sudah berdiri sejajar memandangnya. Dengan tatapan penuh rasa iba padanya. Pemuda ini adalah pemuda baik. Hanya itu yang sejak dulu Sakura pikirkan untuknya. Dan sudah seharusnya baginya untuk tidak menjerumuskan Sai terlalu jauh dalam kehidupan tak bermoralnya.

Tidak, Sai masih punya masa depan yang akan jauh lebih baik darinya. Sakura merasa dia harus memutuskan segalanya.

Sakura menahan langkah kakinya. Pintu ruangannya sudah terkunci, dan dia beserta Sai sudah berjalan beriringan disepanjang koridor lantai dua. Sakura menggenggam tangan Sai sejenak hingga membuat pemuda itu berusaha menebak tentang apa yang akan dia terima dari pernyataan Sakura nanti. Dia takut kehilangan, tapi entah mengapa untuk saat ini dia sudah bisa merasakan kehilangan itu telah siap menjemputnya nanti.

"Terimakasih atas segalanya Sai."

Sai menurut saat Sakura kembali melanjutkan langkah mereka. Tangan mereka masih saling menggenggam, meski ada kesesakkan yang juga terhubung di sana.

"Kau pemuda yang baik. Aku tahu itu sejak dulu. Karena kau baik, tolong, menjauhlah dariku. Mulai sekarang." Tebakan Sai benar. Sakura mungkin sedang ingin mempermainkannya saat ini.

"Ini untuk yang terakhir kalinya. Perjumpaan kita. Ah, tidak. Maksudku hubungan kita. Aku ingin di masa depan, saat bertemu denganmu dan kita masih berada dalam hubungan yang baik. Apa kau bisa melakukannya untukku?" Sai tidak menjawab, lidahnya terlalu kaku untuk berucap. "Maaf. bukan untukku. Tapi untuk dirimu sendiri."

Meski dia tahu, hatinya pun tersakiti, tapi Sakura tetap mengatakannya. Ditatapnya wajah pemuda itu lembut. Hujan di luar sanapun seakan ingin menangis untuk dirinya. Ini tidak pantas, dia tidak layak untuk itu. Sai hanya diam dalam ketidakpercayaannya. Masih membeku dalam pandangannya. Wanita ini adalah seseorang yang dibutuhkannya. Namun, Sakura memutuskan untuk mengakhiri semua, itu harusnya bukanlah sebuah penyesalan baginya. Sejak dulu, dia harus sadar jika semuanya akan berakhir seperti ini.

"Ini bukan karena aku menolak permintaanmu, kan. Sakura?" dia takut, Sai takut kehilangan. Jika semua karena kejadian malam itu, sejenak dia ingin kembali untuk merubah segalanya. Sakura mendekap erat tubuh Sai yang lebih tinggi darinya. Dia menggeleng, dan ada isakan yang nyaris terdengar.

Sai membalas dekapan itu begitu lembut. Dia tahu, mungkin inilah saatnya berpisah. Biarkanlah sejenak dia belajar untuk merelakan kekasihnya, istri seseorang yang dicintainya.

"Ayolah. Seseorang yang mirip Itachi bukan kau saja kan?"

Sakura tertawa. Meski tawa itu hanya untuk menertawai kebodohannya. Setelah dekapannya terlepas, ada senyum yang dia lihat dari wajah pemuda di depannya.

"Jika hubungan kita berakhir, kau juga harus mengakhiri hubunganmu dengan pria lain, Sakura. Untukku." Sai mengusap lembut pipi Sakura yang basah. Dia harus merelakannya. "Ah, maaf. maksudku bukan untukku. Tapi untukmu." Dan mereka tertawa.

"Ya, demi diriku, akan kulakukan."

Meski tawa itu terlihat begitu menyakitkan.

"Terimakasih Sakura."

Meski perpisahan itu pun jua menyakitkan.

"Terimakasih Sai."

Tapi ada sesuatu yang lebih layak untuk mereka perjuangkan.

Masa depan.

.

Out of the Blue

.

Pertama kali Sakura menginjakkan kakinya di dalam rumah. Selalu saja kelam dan kesuraman yang menyambut asa nya. Hingga perlahan asa itu tenggelam tergantikan oleh penyesalan. Sakura langsung pulang saat mendapat perintah langsung dari suaminya. Pulang, sebab dia tidak pernah mendapat perintah itu sejak beberapa tahun terakhir meskipun dia tak pernah pulang.

Dan saat kakinya menginjak ruang tamu. Kegelapan menyambutnya dengan tawa. Sekilas dia ingat, hujan seperti ini adalah hal yang paling diinginkannya. Dengan ruangan gelap seperti ini, dia sering tertawa bersama Itachi disana. Tapi sekarang semuanya jelas jauh berbeda.

"Kau sudah pulang?" Dan itu adalah kalimat yang paling dia rindukan.

Sakura menyalakan lampu yang tepat berada di sampingnya. Setelah cahaya memenuhi pengelihatannya. Tak dapat dielakkanya bayangan sang suami yang sudah berdiri memandanginya. Wajahnya terlihat begitu menyakitkan dari sebelumnya. Pandangan yang menusuk batinnya. Sakura ragu, dia takut.

"Ada apa?" tanya wanita itu ragu.

"Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk membujuk Sasuke agar dia mau makan?!" Itachi berteriak. Padanya.

"Aku sudah memberi-"

"Jangan menyela jika aku sedang berbicara. Sakura!" bentaknya lagi.

Membiarkan kebekuan menguasai panggung mereka. Sakura menahan napasnya kecewa. Kemarahan Itachi. Itu kah yang sedang dia hadapi kini?

Sungguh, Sakura ingin menangis karena teriakan itu. Tiba-tiba saja dia menggigil, meski hujan tak lagi mengguyur sederas tadi di luar sana. Tatapan Itachi menakutinya.

"Dia adikku Sakura. Dia adikku satu-satunya. Apa yang harus kulakukan jika terjadi sesuatu padanya? Kau hanya kuperintahkan untuk memberinya makan. Bujuk dia untuk makan. Hanya itu, kenapa kau tega membiarkannya menderita seperti ini? Kenapa Sakura! Jawab aku!"

Sakura hanya diam. Meskipun dia tahu dia salah. Tapi sepenuhnya dia merasa berhak membela dirinya. Sasuke lagi, Sasuke lagi. Kenapa semuanya jadi seperti ini?

Mengabaikan Itachi, Sakura memilih untuk berjalan menuju dapur. Memandang Itachi berlama-lama hanya akan membuat kekesalannya menumpuk. Dia sudah berusaha melakukan apa yang diperintahkan suaminya. Membujuk Sasuke untuk makan. Dibukanya lemari es, meraih sebotol minuman dingin dan menuangnya ke dalam gelas. Jelas saja hatinya terasa panas. Sangat panas. Hingga dia sadar Itachi sudah berdiri di hadapannya. Mata yang masih menyiratkan sejuta kemarahan. Kemarahan yang terpendam, yang mungkin akan Sakura saksikan sesaat lagi.

"Apa kau mendengarku Sakura?" suara yang meyiratkan perasaan yang terabaikan. Tapi yang ditanya hanya diam.

"Sakura?!"

"Iya! Aku mendengarmu Itachi. Aku mendengarmu. Bukankah tadi kau bilang untuk jangan menyelamu? Aku hanya ingin menuruti kemauanmu." Kini Sakura tak lagi bisa memendam semuanya. Dia sudah lelah. Semua kekesalannya seakan menunggu giliran untuk dia ungkapkan, satu persatu. Dia lelah. Dia sudah berada diambang batas sabarnya.

"Dan saat aku memintamu untuk menjawab, kenapa tidak segera kau jawab?" suaminya berteriak sekali lagi.

"Apa yang harus aku jawab? Kau bertanya apa aku sudah memberikannya makan? Aku sudah melakukannya." Sakura memandang suaminya dengan emosi yang meluap. "Lalu jika dia tidak mau makan, apa menurutmu itu kesalahanku?" matanya memerah, dan dia tidak suka jika harus meluapkan semuanya pada Itachi. Tidak suka. Tapi apa dia punya pilihan lain?

"Kesalahanmulah yang membuat dia seperti ini." Itachi juga tak suka menghakimi istrinya. Tapi ada sesuatu yang tak lagi bisa tersimpan cukup baik dan lebih lama lagi dalam benaknya.

"Kau ingin menyalahkanku karena kematian Sarada?" perasaan Sakura terhempas jauh tak terkira. "Bunuh aku jika itu maumu Itachi. Bunuh aku jika itu bisa membuatmu kembali seperti dulu. Aku istrimu, tujuh tahun telah menjadi istrimu. Maafkan salahku jika aku tak bisa melayani suamiku cukup baik. Tapi ..." Sakura mengepalkan seluruh jari-jemarinya. Badannya bergetar, bibirnya pun juga. "Apa kau juga pikir aku harus bisa melayani adikmu dengan baik?".

"Jaga bicaramu, Sakura."

"Tujuh tahun aku menjaga tingkah lakuku di depanmu Itachi. Kau membawa Sasuke kembali kerumah ini. Aku terima. Kau membiarkan Sarada memanggilku dengan sebutan Ibu. Aku terima. Apa yang kau inginkan, aku terima. Apa yang tidak pernah kuterima darimu? Semua yang kau inginkan akan menjadi keinginanmu. Tak pernah sekalipun kau pikirkan bagaimana perasaanku." Itachi terdiam.

"Sudahkah kau tersenyum saat mendengar Sarada memanggilku sebagai Ibu, sedangkan kau hanya dipanggilnya sebagai Paman? Jika kau tersenyum untuk itu. Hatiku yang malah menangis Itachi. Kau suamiku, aku istrimu. Harusnya saat seseorang memanggilku sebagai Ibu, kau pun sama dipanggil sebagai Ayah Itachi. Jika kau ingin istrimu mengerti juga tentang adikmu, cari istrimu yang lain dan-"

Kedua kalinya dalam hidup Sakura. Dulu Sasuke yang menamparnya. Sekarang Itachi. Dengan tamparan yang seharusnya tidak terlalu keras, tapi mampu membuat perasaan Sakura hancur berkeping-keping. Itachi menarik tangannya yang bergetar. Dia sudah kalah pada dirinya sendiri. Dia kalah menahan amarahnya. Dia kalah karena emosi yang membuncah di dadanya. Bukan karena Sakura menuduhnya melakukan kesalahan. Tapi karena semua yang dikatakan istrinya benar apa adanya. Semuanya benar. Dan dia benci mendengarkannya.

"Hnetikan Sakura. Atau aku akan memukulmu lagi."

Sakura tak menjawab. Sama seperti yang lalu. Memilih hanya diam. Tapi jika pun dia bisa menangis saat ini, kepada siapa dia akan mengaduh?

Sakura meletakkan gelas yang sedari tadi masih digenggamnya dalam amarahnya. Tujuh tahun berumah tangga. Ini pertama kali baginya. Hingga tanpa dia sadar, kelemahan langsung menyelimutinya.

"Kau menang Itachi. Kau menang."

Suara pecahan gelas. Sakura menghempaskan gelas di atas meja dan membiarkan pecahannya berserak di mana-mana. Itu mewakili ketidakberdayaannya. Mewakili semua yang telah tersirat dalam hidupnya. Sesuatu yang keras akhirnya pecah juga, hingga berkeping-keping, tak mungkin lagi bisa disatukan secara sempurna. Tak akan mungkin bisa. Sama seperti dinding batu yang menjulang tinggi yang dia bangun dalam dirinya. Hancur tak bersisa.

Sakura menghempaskan tubuhnya ke atas pembaringan. Dia ingin menangis. Tapi dia tahu, tak akan ada lagi seseorang yang akan memeluknya di sana. Jika tujuh tahun lalu Itachi lah yang menatapnya lembut. Sekarang. Tak ada. Tak akan ada. Tamparan pada pipinya masih terasa begitu perih. Itachi marah padanya. Dan dia pun membalasnya sama. Tak ada yang bisa mereka selesaikan lagi sekarang. Keadaan diantara mereka semakin tak terselamatkan.

Keadaan sekitar menjadi hening dan senyap. Hanya ada suara sambaran-sambaran petir yang masih saling bersahutan meski hujan tak lagi jatuh menyerang bumi. Hanya tetesan-tetesan kecil tak berarti. Sakura sadar, dia yang salah. Hingga dalam keadaan seperti ini dia tak juga bisa memahami kesakitan hati suaminya. Sasuke adalah adik kesayangannya. Seharusnya Sakura paham akan itu.

Itachi masih terduduk diam di ruang tamu, sedang Sakura menahan tangis yang tak akan pernah bisa dia tuang di atas pembaringan. Mereka merana. Jiwa mereka sedang berkelana kedalam amarah. Hingga membiarkan waktu berjalan begitu saja, terlalu sia-sia.

Sakura masih tersadar saat dia mendengar bunyi ketukan di pintu kamarnya. Siapa lagi yang mengetuk pintu jika bukan Sarada. Tapi itu dulu, sebab sekarang Sarada telah tiada. Sakura mengabaikannya dalam diam. Sampai saat suara Itachi lah yang mengisi kesunyiannya.

"Sasuke sedang sakit, Sakura." Suara yang tadinya begitu keras membentaknya, kini terdengar melembut dan mengiba. Itachi tidak masuk. Dia hanya berdiri di balik pintu, berharap Sakura masih terjaga dan mendengarkan permintaan konyolnya. Permintaan terkonyol setelah kesakitan yang diciptakannya.

"Tubuhnya hangat dan aku mohon kau mau memeriksa keadaannya. Aku mohon."

Hanya itu yang dia ucapkan sampai dia menunggu cukup lama agar Sakura bersedia mengabulkan permintaannya. Hanya itu yang ingin dia ucapkan hingga dia memerintahkan Sakura pulang segera. Tapi mungkin pertengkaran di antara mereka tak mungkin bisa terelakkan.

Itachi sudah menunggu hingga beberapa menit. Tetap menatap pintu kamarnya sendiri dan berharap Sakura keluar dari sana, tapi tak juga. Mungkin sakura memang sudah tidur. Berusaha melupakan semua kekesalahn hatinya dan menjemput mimpi yang bisa mengosongkan pikirannya. Tapi saat Itachi sudah ingin melangkah meninggalkan pintu kamar, langkahnya terhenti ketika dia mendengar pintu kamarnya terbuka. Ada kelegaan dalam hatinya saat melihat Sakura keluar dengan kotak perlengkapan miliknya.

Meski mata mereka tak saling memandang. Itachi tahu, Sakura memang selalu memedulikannya. Sakura melewati posisi di mana Itachi berdiri, mengabaikannya, tak peduli. Meninggalkan suaminya dan berjalan menuju suatu tempat di ujung sana.

Kamar Sasuke.

.

.

Tbc


An : Sebelumnya-disetiap chap, saya sudah memperingatkan ini NTR. Kalau kalian tak paham apa itu NTR. Tanya baik-baik.

Dan sebelumnya saya juga sudah memperingatkan jika saya tidak akan bisa menyelesaikan ini hingga awal tahun depan. Tapi minggu ini saya usahakan untuk membuat status complete, meski saya sedang tak dalam situasi yang baik untuk menulis. Sebelum saya pergi. Tidak, maksud saya, untuk sedikit urusan ke luar kota. Hingga akhir tahun.