Out of the Blue

==.==

DISCLAIMER chara NARUTO milik Masashi Kishimoto

DISCLAIMER STORY : SATU - SATUNYA MILIK SAYA.

Spica Zoe

Cover Art : CharaKauffmann

Warning : Affair, OOC, NTR, Sakura Centric,

.

.Cerita mengandung unsur antagonis moral.

.Sebab itu tolong jangan benci chara di dalamnya.


Out of the Blue

.

.

Meski tadi telah tampak sunyi, namun kali ini tidak lagi. Terulang lagi petir yang menyambar semakin keras di sekeliling mereka, berbunyi memaki sunyi.

Terulang lagi guyuran air hujan yang menghantam di atas bumi. Dan bagi Sakura, itu seperti suara gemuruh penonton, yang bersorak dan bertepuk tangan menertawai peran jalangnya. Di dalam kehidupan ini.

Napasnya terasa masih begitu sesak. Tangisan yang tertahan dalam jiwanya masih ada. Jika ingatannya berlari menghampiri kepedihan, mungkin dia akan kembali menangis meraung dalam sekejap. Tapi, Sakura berusaha untuk tidak menghampiri kepedihan itu. Berpura-pura lumpuh, agar dia tidak melangkah ke mana-mana. Agar dia tetap seperti ini, dengan kepedihan seperti ini. Meski dia tahu, di ujung sana mungkin akan ada dua kemungkinan yang sedang menunggunya. Antara kebahagiaan dan tangisan. Ia tahu, tapi dia sudah lelah untuk itu.

Sakura berdiri tegak di depan pintu kamar Sasuke. Menimbang-nimbang tindakan apa yang akan dilakukannya nanti. Sebenarnya ia tidak lagi membenci Sasuke, semenjak ia sudah belajar menerima kenyataan bahwa ia sudah menjadi seorang istri.

Menjadi istri Itachi adalah sebuah kebahagiaan, setidaknya itu yang selalu ia inginkan dalam hidupnya. Agar kelak tidak akan ada penyesalan sebab ia lah yang telah memutuskannya.

"Bukankah, saat itu kau bilang, kau akan menerima permintaan maaf dari Sasuke, Sakura?"

Sakura menundukkan wajahnya gelisah. Pertanyaan Tenten terlalu sulit untuk dibiarkannya percuma. Gaun pengantin telah terbalut anggun membungkus tubuhnya yang indah. Menutupi kepalsuan yang selama ini dibuatnya. Seketika kesesakan di dadanya menumpuk sedemikian banyak, hingga mendorong satu isakan yang tertahan di ujung lidahnya. Baginya, Tenten adalah seseorang yang jauh lebih mengenal dirinya dari pada diri sendiri. Dan Sakura yakin Tenten pun tak akan bisa ia bohongi.

Saat itu, saat di mana Sakura memilih untuk kembali ke Konoha. Malam berdarah yang paling sulit ia lupakan hingga saat ini. Bahkan terlalu mengingat hingga sakitnya melekat dalam setiap hembusan napasnya. Ia bingung ingin menyalahkan siapa, mungkin diri sendiri pun memang telah salah sejak ia dilahirkan.

"Mungkin inilah yang terbaik, Tenko," tangannya menggigil dalam panas deritanya. Apa boleh buat. Tak akan ada yang bisa ia lakukan lagi saat ini. Sakura meraih tangan Tenten yang masih berdiri memandangnya jengah. Ia ingin menangis, sekali saja. Hingga dalam tarikan singkat, keduanya saling mendekap. Sakura menangis, namun diusahakannya isakannya tidak pecah membahana ke segala tempat. Digigitnya bibirnya kuat menahan gemuruh yang sedang mendidih di dadanya. Ia kalah. Ia pasrah.

"Sakura ..." Tenten tak tahu harus mengatakan apa. Kepedihan hati sahabatnya, ia pun ikut merasakannya.

"Dan a-aku, aku mohon, jangan pernah salahkan aku lagi."

Tenten mengangguk iba, entah sejak kapan dia merasa Sakura menjadi semalang ini. Membalas dekapan Sakura dalam tubuhnya. Keduanya terhanyut dalam airmata.

.

Out of the Blue

.

Menatap Sasuke yang terbaring lemah, membuat kemarahannya hilang sirna seketika. Padahal beberapa menit lalu, panas membara membakar dadanya. Tapi saat ini, kebekuan mengalahkan segalanya. Sakura masih sama rapuhnya seperti dulu. Sama malangnya.

Dirayapkannya pandangannya menyusuri seisi ruangan. Selain sosok Sasuke yang masih terbaring lemah, matanya pun menangkap sesuatu yang mungkin menjadi pemicuh kemarahan sang suami beberapa menit tadi padanya. Masih ada di sana, di atas nakas di sisi ranjang Sasuke. Makanan yang siang tadi Sakura antarkan padanya. Tak terjamah sama sekali.

Melangkah pelan mendekati pembaringan, Sakura berusaha bersikap profesional dengan mengenyampingkan urusan pribadi dan perasaannya. Meskipun sakit di pipi nya masih terasa. Tapi ia berusaha bersikap dewasa.

Melihatnya saja Sakura sudah tahu seberapa lemah sosok di depannya kini. Wajah yang pucat dan basah, rambutnya yang kusut tak lagi bergaya, bahkan kulit wajahnya tak lagi diurus hingga membiarkan bulu-bulu di sekitar rahangnya berkuasa di sana. Sasuke masih lebih rapuh darinya. Sasuke masih lebih malang dari dirinya. Apakah Sakura masih memiliki hak untuk merasa bahwa malangnya lah yang paling sempurna di dunia?

Sasuke kehilangan putrinya. Sakura selalu menyesal mengingat itu. Meski ia sudah berusaha keras untuk mengabaikan ingatan itu, tapi tetap saja percuma. Setiap kenangan akan Sarada muncul di kepalanya, selalu bisa membuat airmatanya tertumpah.

Disingkirkannya lelehan itu dari pipinya cepat. Menyadari ini bukanlah saatnya untuk terlena dalam kenangan. Ditariknya selimut yang menutupi tubuh lemah sang adik ipar. Menyingkirkan ke sisi yang tak berpenghuni masih dalam satu ranjang. Memilih untuk duduk di tepi ranjang yang masih tersisa untuk di tempati, Sakura meletakkan kotak peralatannya di atas nakas.

Stetoskop telah siap dibenahi di kedua sisi telinga. Meski Sasuke masih terpejam, ia tidak punya pilihan. Diraihnya salah satu tangan Sasuke lembut, jika bisa memilih, Sakura berharap pria itu akan terus terpejam hingga pemeriksaannya selesai. Napasnya telah lelah memburu karena menahan amarah, dan Sakura masih butuh energi lebih banyak lagi untuk menghadapi suaminya. Hari ini, esok dan seterusnya. Itupun jika Sasuke tak lagi berniat memakinya saat matanya terbuka nanti.

Pemeriksaan nadi di pergelangan tangan selesai. Gejala yang umum untuk mereka yang terkena demam. Sakura melirik wajah Sasuke sekilas. Itu membuatnya selalu menyadari jika wajah itu masih sama. Tapi sekarang status mereka lah yang telah berbeda.

Dingin. Datar. Tak berekspresi.

Diangsurkannya tangannya untuk menyentuh kening sang pasien, basah. Hangat tubuh Sasuke meningkat cukup tinggi sejak siang tadi. Napasnya pun terasa begitu pendek dan berat. Sakura meraih pakaian yang dikenakan Sasuke, menyingkapnya ke atas untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya. Namun, saat harapannya tentang Sasuke yang terpejam lebih lama masih dia panjatkan, kini yang ia dapati Sasuke sedang menepis tangannya cukup keras dari tubuhnya. Sakura mendesasah menahan sakit. Sasuke sudah membuka matanya.

"Apa yang kaulakukan di sini?" tanyanya sinis. Sakura membalas tatapan sinis itu dengan ribuan rasa kecewa yang secara bersamaan menguap sempurna memenuhi kepalanya.

"Jika aku bisa membunuhmu. Maka aku datang ke sini untuk membunuhmu." Katanya menahan gelora laknat dalam dadanya. Kesesakan itu kembali lagi, emosinya terkumpul lagi. Padahal ia sudah berharap tak akan ada kemarahan kali ini. Tapi Sakura pun telah berusaha keras untuk itu.

Sasuke bangkit dari posisi tidurnya, disandarkannya punggungnya di atas ranjang, dan menatap Sakura sejajar di depannya. Wanita ini, telah jauh berubah.

"Pergilah, sebelum aku mengusirmu." Ucapnya seakan memerintah pada keheningan untuk segera mengambil ahli kuasa di antara mereka berdua. Sakura terdiam, Sasuke pun sama. Mereka sudah lama tak duduk sedekat ini. Jika bukan karena kehendak Itachi, mungkin tidak akan pernah ada kesempatan seperti ini. Tapi, kesempatan ini bukanlah kesempatan menyenangkan.

"Biarkan aku memeriksamu, maka aku akan pergi."

Sakura mencoba mengabaikan keheningan yang melanda mereka, berlama-lama berada di sana pun tak akan bisa membuahkan hasil apapun. Yang ia pikirkan hanyalah, memeriksa keadaan Sasuke dan merawatnya hingga pria ini sembuh dan kembali ke kondisi semula, meski dia tahu itu sulit. Tapi, dari pada dia harus bertengkar lagi dengan suaminya, ia rasa ia sudah tidak punya pilihan lain lagi.

"Bawa makanan itu pergi dari ruangan ini." Sasuke melarikan pandangannya dari wajah Sakura ke tempat di mana makanan dingin itu berada. Memasang tampang dinginnya, dan Sakura tahu jika pria ini sedang serius ingin mengusirnya.

"Itachi mencemaskanmu, Sasuke-"

"Aku sudah bilang kan? Bawa pergi sampah ini dari ku!"

Sakura terpekik kaget seraya menutup mulutnya tak percaya. Suara pecahan kaca yang menghantam lantai memenuhi seisi ruangan. Tak hanya itu, kotak peralatan medis Sakura pun ikut terjatuh menumpahkan segala isinya di sana. Sasuke menepis semua benda yang berada di atas nakas tanpa terkecuali.

'Apa yang terjadi?' Itachi membatin dalam renungnya. Suara itu terlalu nyaring untuk sekedar diabaikan. Merangkak menaiki tangga, Itachi berjalan cepat kearah di mana kamar Sasuke berada. Teriakan sang adikpun begitu jelas merasuk ke pendengarannya.

"Apa yang terjadi, Sarutobi-san?" ucapnya menahan panik saat dia sudah melihat wanita tua itu pun ikut melangkah melihat situasi. Dengan tergopoh-gopoh dia berjalan menuju kamar sang tuan.

"Sepertinya tuan Sasuke sedang marah, Itachi-sama." Ucapnya ragu. Dia belum tahu kejadian sebenarnya hingga hanya itulah yang mampu diucapkannya. Mendengar itu, Itachi menghentikan langkahnya. Tak ada respon yang ia lakukan saat Sarutobi pun kini lebih memililh meninggalkannya terdiam dan masuk ke dalam ruangan. Keributan seperti itu, bagaimanapun akan mengundang kepanikan.

"Dan sudah berapa kali aku melarangmu masuk ke dalam kamarku? Wanita jalang!"

Jantung Sakura seakan berhenti berdetak saat itu juga. Ucapan Sasuke terlalu menyakitkan untuknya. Dia tahu dia memang jalang, tak usah dipertegas, karena itu hanya akan menyakiti hatinya. Sakura bangkit dari duduknya. Dilepasnya Stetoskop dengan kasar dari dirinya. Dan melangkah mundur menjauhi Sasuke, ia tidak punya tenaga untuk bertengkar lagi. Hingga dia memilih menyerah dengan apapun keadaan yang sedang berputar di depan matanya.

Bahkan kaca yang menancap di telapak kakinya pun tak lagi bisa ia rasakan. Kakinya berdarah.

"Aku tahu aku jalang, Sasuke." Sakura meremas angin dalam tangannya. Jiwanya bagai tersayat dan terkikis oleh api amarah. Tapi sekuat tenaga ditahannya.

"Tuan, Nyonya. Apa yang terjadi di sini?" Sarutobi datang disela hening yang menyelimuti mereka. "Ya Tuhan, Nyonya. Kaki anda berdarah. Menyingkirlah dari sana, terlalu banyak pecahan kaca. Biar saya bersihkan terlebih dahulu." Sarutobi tak peduli jika kehadirannya itu tak tepat waktu saat ini. Tapi noda-noda darah itu sudah terlalu banyak menghiasi pandangannya. Sambil menunduk, dia meraih satu persatu pecahan kaca itu dan mengumpulkannya. Tetapi...

"Biarkan dia yang membersihkannya, Sarutobi-san."

-Ucapan Sasuke membuat tangannya berhenti bergerak. Sarutobi mengangkat kepalanya memandang Sakura yang menunduk, dan Sasuke yang menatapnya; secara bergantian.

"Ini pekerjaan saya tuan, biar saya yang-"

"Ini perintah. Biar wanita ini yang membersihkannya. Keluarlah, ini bukan lagi pekerjaanmu."

Sasuke ingin mempermalukannya, membuat dia menderita, membuat dia tak berdaya. Sakura tahu itu. Yang harus ia lakukan hanya mengalah. Ia tidak ingin bertengkar, iia sudah sangat lelah. Belum lagi luka pada kakinya sudah mulai perih terasa. Masih dilangkahkannya kakinya tidak peduli pada pecahan-pecahan itu, menginjaknya seakan tak akan ada sesuatu apapun di dunia ini yang bisa menyakitinya lagi. Dia telah kebal. Menyentuh pundak sang wanita tua dan mencoba tersenyum memandangnya. Padahal, sebagaimana dia mencoba tersenyum, seperti itu juga dia mencoba untuk tidak menangis.

"Biar aku saja yang membersihkannya, Sarutobi-san. Ini sudah pagi, tidurlah."

Tidak punya pilihan. Sarutobi mundur dalam langkahnya. Wanita yang malang, itulah yang ada dalam benaknya. Sejak dulu ia tidak pernah buta untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dalam rumah ini. Sejak dulu, ia pun hanya mencoba untuk berlakon sebagai penonton, selalu mengamati mereka. Tapi sebagaimana layaknya penonton, ia hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apa-apa. Ditutupnya pintu kamar Sasuke perlahan, dan terdiam sejenak di sana. Berharap tidak akan ada yang terluka di antara mereka lebih dari ini. Hingga tanpa sadar ia tak menyangka jika Itachi telah berdiri di sana, di sisi pintu. Mendongakkan kepala memandang langit-langit rumahnya. Bersandar pada dinding dengan raut wajah yang menahan duka. Tidak menghiraukan keberadaannya.

Mungkin Itachi ingin tahu apa yang sedang terjadi di balik dinding ini. Tapi ia merasa tidak punya kesempatan untuk menunjukkan dirinya. Atau ia memang merasa tak pantas untuk ada. Untuk itu Sarutobi tak berminat untuk mengajaknya bicara, dan memilih meninggalkannya di sana.


.

.

Out of the Blue

.

.

"Aku mohon ..."

Cengkraman di tangannya terasa begitu menyakitkan. Sakura masih tidak bisa berkata apapun hingga beberapa saat, meski wanita itu menangis memohon padanya.

"Aku tidak ingin melahirkan anak ini. Tolong biarkan aku pergi. Sakura. Biarkan aku pergi."

Ini bukanlah hal yang ingin Sakura dengar dari seorang pasiennya. Seorang wanita yang sedang mengandung, bahkan saat ini akan segera melahirkan, mengatakan permohonan sekonyol itu padanya?

"Jangan bodoh! Kau ingin membunuh anakmu dan dirimu sendiri?!"

Tenten menjadi berang karena permintaan konyol itu. Sedangkan Sakura hanya diam tak tahu harus berbuat apa. Suara langkah para perawat di dalam ruangan tak lagi bisa mengusik pikirannya.

"Jika kau tidak ingin melahirkan. Biarkan kami memotong perutmu dan menyelamatkan anak itu dengan segera. Kau menyebalkan-"

"Tenko, diamlah."

Tenten mendesah panas.

Sakura sadar keadaan mereka sedang sangat genting saat ini. Persiapan persalinan telah disediakan. Emosi Tenten pun sudah pecah sejak tadi. Sejak wanita ini merengek untuk tidak ingin melahirkan anaknya. Mencoba untuk berkepala dingin, solusi terbaik adalah membuat sang pasien berucap alasan, kenapa dia tidak menginginkan sang bayi.

Sakura menatap Tenten lembut, memberikan instruksi untuk membawa beberapa perawat segera meninggalkan ruang persalinan. Ada sesuatu yang ingin Sakura lakukan dengan wanita ini. Tenten mendesah kecil seraya mengerti akan tatapan itu, dilepasnya sarung tangannya dan meletakkan di meja peralatan, sambil mengajak dua orang perawat yang juga sudah bersiap di sana. Ke luar ruangan.

"Apa yang kauinginkan, Karin?"

Sakura membuka suara menatap istri dari adik iparnya. Resah merambat merasuki jiwanya. Seakan sadar ada ketegangan yang merayap di antara mereka. Karin semakin menangis terisak, ditariknya tangan Sakura dan menggenggamnya begitu erat. Dia memohon, dia mengiba. Berharap Sakura bersimpati padanya. Mengabulkan permohonan konyolnya.

"Aku tidak menginginkan bayi ini, Sakura."

"Tapi kenapa? Jika kau mengulur waktu lebih banyak lagi. Nyawa kalian berdua akan berada dalam bahaya."

Karin tak peduli. Rasa sakit hatinya jauh lebih membahayakan jiwanya. Ia sudah hampir gila beberapa saat terakhir ini. Kepercayaannya pada sang suami lenyap tak bersisa. Dan sebab itulah ia memutuskan untuk tak ingin melahirkan anaknya. Ia terlanjur kecewa, kecewa yang teramat dalam.

Dirasakannya kontraksi otot perutnya semakin kuat menyiksa. Tapi dia masih sanggup mengabaikannya.

"Aku tidak pe-peduli, arghh ..." Sakit di perutnya semakin menderah. "B-bahkan jika aku dan anakku mati, aku t-tidak peduli." Lanjutnya menahan sakit. Napasnya terengah dan memburu, Sakura tahu sakitnya pasti sangat luar biasa.

"Apa kematian bisa membuatmu bahagia?"

Karin mengangkat wajahnya yang masih menahan kesakitan itu untuk memandang Sakura. Wajahnya sama dinginnya dengan wajah sang suami. Bahkan kini ucapannya pun terasa begitu menyakitkan baginya. Kematian akan menjadi akhir segalanya, Karin tahu itu. Tidak ada yang membahagiakan dari sebuah kematian. Tapi, paling tidak, rasa sakitnya pun akan sirna bukan?

"Aku membencinya, Sakura."

Sakura masih merasakan genggaman tangan Karin pada tangannya. Bahkan semakin mengerat seakan ingin meninggalkan bekas disana.

"Karin, pikirkan nyawa anakmu." Ucap Sakura melembut. Tetesan peluh dan airmata bercampur menjadi satu, tak lagi bisa ia bedakan pada wajah Karin.

"Percuma Sakura. J-jika aku pun melahirkannya. A-aku tak akan mau merawatnya. Jadi, lebih baik tak usah kulahirkan sekalian." katanya menahan nyerih itu semakin membara membakar tubuhnya.

Sakura tak berdaya, apa yang harus dilakukannya, ia tak lagi tahu apapun. Apa yang terjadi antara Sasuke dan istrinya hingga Karin tak berniat melahirkan. Menahan rasa sakit itu hingga nyawa menjadi taruhannya. Tidak punya pilihan lain, Sakura melepaskan genggaman tangan Karin kuat, membuat Karin tercengang memandangnya. Meninggalkannya di dalam ruangan, dengan teriakan kesakitan yang mulai menari dalam kepalanya. Karin menjerit keras memanggil Sakura, namun wanita itu mengabaikannya.

Pandangan Tenten tak bisa berpaling dari sosok pria yang berada di depannya. Pria yang mencoba untuk menahan rasa cemasnya, menyamarkannya dengan tatapannya yang sama sekali tak memiliki gairah. Meski suara teriakan Karin yang entah kenapa terasa begitu keras kali ini, tetap saja pria itu tak menunjukkan kegelisahannya. Hingga dalam hitungan detik kemudian, Sakura muncul dari dalam ruangan. Tenten langsung mengamburkan diri menghampirinya panik. Suara teriakan itu membuatnya curiga.

"Sakura, dia berteriak sangat keras. Dia tidak apa kan?" tanyanya cemas. Sakura tak menjawab, dipalingkannya wajahnya menatap Sasuke yang kini telah membalas menatapnya. Semua dalang dibalik kejadian ini pasti karena pria ini.

"Bisa aku bicara padamu sebentar?" Sakura memberi penawaran yang paling mutlak hingga Sasuke tak lagi punya pilihan. "Biarkan saja dia berteriak Tenko, dia berpesan padaku jika dia ingin mencoba untuk menikmati kematian." Kalimat yang diucapkan sebelum ia pergi bersama Sasuke membuat Tenten dan dua perawat di sana sempat tercengang.

Sakura tidak punya banyak waktu. Menyelamatkan nyawa pasien adalah prioritas utamanya mengabdi menjadi seorang dokter. Ditatapnya wajah Sasuke yang sama sekali tak pernah menunjukkan rasa takutnya. Padahal istrinya sedang berada antara hidup dan mati saat ini.

"Dia tidak ingin melahirkan, Sasuke." Ucapnya tegas.

Sasuke mengalihkan pandangannya dari tatapan Sakura yang menurutnya terlalu tajam menusuk batinnya. Seakan ingin menyembunyikan alasan sebenarnya. Tapi, ia tahu, pertanyaan Sakura mungkin sesuatu yang paling penting kali ini.

"Jika kau mengijinkan. Aku bisa mengabulkan permintaannya. Bagaimana denganmu?" Sakura melipat kedua tangannya di dada. Menunggu bukanlah hal yang ia suka. Tapi Sasuke masih memilih untuk diam di sana.

"Aku butuh jawaban Sasuke. Jika tidak, nyawa mereka berdua benar-benar tak bisa kuselamatkan." Desaknya menahan kesal.

"Selamatkan anakku, Sakura." Kini Sasuke mulai bersuara. "Selamatkan anakku, lebih dulu. Dan aku akan mengatakan alasan sebenarnya padamu lain waktu." Ucapnya memohon. Untuk pertama kalinya Sakura melihat wajah ini mengiba.

Tanpa butuh waktu lebih lama lagi, Sakura sudah melangkahkan kakinya meninggalkan Sasuke. Dilihatnya di ujung sana Tenten sudah panik setengah mati, teriakan Karin sepertinya sudah membuatnya frustasi.

"Bersiaplah untuk kemungkinan melakukan operasi. Tenko, kau ikut denganku ke dalam." Serunya tegas mengabaikan kepanikan di wajah rekan-rekannya.

"Si-siap!" seru mereka bersamaan.

"Karin, aku akan menyelamatkan anakmu. Jika kau ingin mati, aku anggap ini sebagai pilihanmu. Pertimbangkan dalam waktu lima detik, setelah itu aku akan melakukan cara apapun untuk memenuhi permohonanmu." Sakura mengenakan sarung tangannya, sambil memandangi wajah Karin yang kini tak lagi sanggup berbicara padanya.

"A-aku, tidak a- arrrgghhh... akan me-melahirkannya, Sa-sakura." Ucapnya lagi.

"Waktu lima detikmu habis, Karin." Sakura tak punya pilihan lain. Memposisikan diri diantara kaki Karin yang masih enggan mempertimbangkan keselamatan anaknya. Ia menekan kedua kaki itu agar segera terbuka dengan paksa. Karin menjerit kesakitan saat tanpa segan Sakura telah mengoyak celana dalamnya.

"A-aku tidak akan, t-tidak akan bertanggung j-jawab jika kelak dia lahir ke dunia ini, Sa-sakura. Aku tidak akan merawatnya." Sakura berpura-pura tuli atas ancaman Karin, ditekannya lebih lebar lagi kedua kaki Karin hingga menganggkang di hadapannya, sang pasien hanya menjerit di sana. Sakura tak bisa mengulur waktu lebih lama lagi, nyawa kedua orang ini adalah tanggung jawabnya. Meski mulutnya berucap tak peduli, tapi ia tidak ingin melakukan kesalahan. Tenten hanya memandang Sakura dengan tatapan tak percaya. Sakura memang dingin, tapi tak ia sangka sahabatnya itu sekejam ini dalam menghadapi pasien seperti Karin.

"Sakura, lebih baik kita lakukan operasi saja. Jika dia tidak mau melahirkan. Nyawa bayi akan dalam bahaya. Tubuhnya juga sudah lemah." Tenten berucap khawatir. Jika niat sang pasien tidak mau melahirkan, resiko paling nyata yang akan mereka hadapi adalah, sang pasien tak akan mau mengeluarkan tenaga untuk mendorong anaknya keluar dari perutnya. Ini sia-sia, malah akan semakin berbahaya.

"Aku yang akan bertanggung jawab." Sakura masih tak ingin menyerah. Diabaikannya tatapan semua orang yang memandangnya semakin takjub di sana. bahkan Karin pun terpaku pada ucapannya.

"Aku yang akan bertanggung jawab jika kau tidak mau merawatnya, Karin. Sekarang cepat, lahirkanlah anakmu sekarang!" teriaknya mulai panik. Kondisi Karin semakin melemah, ia-Sakura juga tak tahu apa melahirkan secara normal masih bisa ia lakukan dalam keadaan saat ini.

Darah pun semakin banyak memenuhi pandangan matanya. Karin menggeleng-gelengkan kepalanya kesana-kemari menandakan jika ia tidak lagi punya banyak tenaga untuk mendorong.

"Ayo Karin-san, anda pasti bisa. Selama Sakura-sensei yang menangani anda, semua akan baik-baik saja." Ucap salah satu perawat yang ikut membantu di sana. Tenten tidak punya pilihan lain, diraihnya kedua lutut Karin dan menekannya lebih lebar lagi, Sakura harus butuh ruang cukup banyak untuk melakukan ini.

"Pinggulnya terlalu sempit," bisik Sakura kecil sambil memasukkan kepalan tangannya ke dalam mulut vagina Karin, dan sang pasien berteriak merespon kesakitannya.

"arrrrrggghhh... A-aku tidak bis-bisa. Ahhh... ahh... Sakura ini ..." Karin menutup matanya rapat-rapat. Napasnya memburu penuh kesesakan.

"Kau pasti bisa. Tenangkan pikiranmu selama lima detik. Tarik napas yang dalam, ikuti intruksiku dan kau pasti bisa. Jangan banyak berteriak. Fokuskan tenagamu untuk mendorong bayimu. Itu saja, apa kau siap? Kita akan ulangi sekali lagi."

Karin menatap wajah Sakura dengan pandangan yang basah, seluruh tubuhnya telah basah oleh peluh pesakitan yang membuatnya hampir mati kehabisan tenaga. Tenten pun seakan ingin memberikan dorongan moral untuknya. Melahirkan memang tidaklah mudah, tapi entah kenapa Sakura yakin ia bisa melakukan ini dengan segera. Karin menganggukkan kepalanya menyanggupi kemauan Sakura. Membiarkan dirinya tenang terlebih dahulu, dan mengatur napasnya normal. Tenten bersiap pada posisi kakinya, dan salah seorang perawat membiarkan kedua tangannya digenggam oleh Karin, sedang perawat satu lagi mengambil ahli membantu Sakura. Dan Sakura bersiap sebagai komando pada posisinya.

"Kau siap?" tanyanya meyakinkan, dan Karin mengangguk yakin.

"Baiklah, tarik napasmu Karin ..." Karin menarik napasnya. "dan buang." Karin mengikuti komando Sakura. "Tarik lagi ..." serunya, dan Karin melakukannya. "dan buang." Serunya lagi.

"Lakukan lagi, sebelum aku memberimu perintah untuk membuang, jangan kau buang. Kau bisa?" Karin mengangguk paham. Bagaimana pun ia sering melihat drama di televisi yang di dalamnya berkisah tentang seorang wanita yang akan melahirkan.

"Tarik ..." seakan diperintah, semua orang di sana menarik napasnya bersamaan. "... dorong!" dan dalam satu sentakan penuh kekuatan yang terkumpul. Karin menekan perutnya dengan kekuatan otot miliknya. Ia menyimpan kesakitan itu dalam perutnya, mengubahnya menjadi dorongan cukup keras untuk membantu sang bayi lolos dari sana. Diikutinya intruksi Sakura yang melarangnya berteriak. Tenten merasa tak percaya. Kepala sang baik mulai terlihat.

"Dorong lagi, Karin! Kali ini kau tidak punya waktu lima detik untuk mengatur napas. Dorong sebisamu." Sakura berteriak keras, membuat Karin merasa termotivasi karenanya.

Tenten menekan kaki itu sekali lagi, dan perawat yang tangannya tergenggam merasa sakit menyeluruh di kedua tangannya. Karin menggenggamnya terlalu keras.

"Dorongan terakhir, Karin. Berteriaklah jika kau ingin. Teriakan semua kesakitanmu. Dan ... Dorong!" seru Sakura keras, diikuti suara teriakan Karin yang membahana. "Arrrggghhhhh!" serta suara tangis bayi yang sekaligus memekakan telinga mereka.

Tenten tertawa dalam raut wajah khawatirnya. Entah kenapa dia jadi ikut terengah-engah di sana. Perjuangan mereka telah berakhir sampai disini. Semua perawat tersenyum lega. Karin pun sama, hingga ia memilih untuk memejamkan matanya, menenangkan diri atas apa yang baru terjadi padanya.

Sakura mendekap bayi merah itu dalam dadanya. Noda darah yang masih membungkusnya tak lagi ia hiraukan saat ini. Ia merasa lega. Diraihnya kain putih yang diberikan perawat itu padanya. Membungkus sang bayi seraya membersihkan tubuhnya. Bayi itu masih menangis girang di sana, membuat Sakura mempererat pelukannya.

"Biarkan saya membersihkannya terlebih dahulu, Sensei." Seorang perawat dari mereka menawarkan diri. Sakura menggeleng lembut masih sambil menatap sang bayi yang mulai tenang dalam dekapannya. Dia tersenyum, wajahnya melembut. Membuat perhatian Tenten dan seorang perawat lainnya yang sedang membenahi luka sobekan pada mulut vagina Karin, tertarik melihat ekspresi keibuannya yang seakan menguap kepermukaan.

"Serahkan padaku." bisiknya-Sakura pelan dengan pandangan yang masih terkunci pada sang bayi.

"Kau bisa membuatnya satu jika kau mau Sakura." Ucap Tenten masih terus membenahi pekerjaannya. Kedua perawat lain tertawa karena ucapannya. Tapi Sakura mengabaikannya, atau memang ia tidak begitu mendengarnya sebab ia masih terbuai dalam kecantikkan sang bayi.

"Dia bayi yang cantik." Seorang perawat mendekati Sakura lembut dengan senyum mekar.

Dan itu menjadi kalimat samar terakhir yang Karin sempat dengar dari bibir seorang perawat sebelum ia menutup matanya beristirahat. Ia lelah, tenaganya habis tak tersisa. Membiarkan Sakura mendekap buah hatinya. Buah hati yang tak diinginkannya.

Malang mungkin saat memikirkan jika ibunya tak menginginkan kelahirannya. Tapi Sakura sudah terlanjur bersimpati padanya, bahkan sebelum Sarada berada dalam dekapannya. Sebelum Sarada dilahirkan oleh kedua tangannya.

Rambut hitam yang pekat, hidungnya sudah terlihat begitu rupawan, tanpa sadar kalimat yang keluar dari bibir Sakura membuat Tenten kembali melihat wajahnya.

"Dia mirip Ayahnya."

Wanita bersurai merah muda itu tersenyum di sana.

.

Tbc


AN: Hanya ini yang bisa saya sumbangkan sampai tahun depan. Saya sudah paksa untuk nulis lebih baik, tapi saya rasa chap 6 dan chap 7 ini sungguh berantakan, saya kurang menghayati karena alasan tertentu,. kalau ada waktu saya akan re-edit di dua chap ini (kalau ada waktu).

sebenarnya gak niat publish chap 7 ini karena saya nulisnya terdesak. tapi saya sudah terlanjur janji untuk complete minggu ini walau gak kesampaian, dan sebagai gantinya saya publish aja chap 7 skrang.

Untuk yang mereview, saya ucapkan terimakasih. Simpati anda akan saya tampung sampai tahun depan. jika saat itu tiba, saya akan bahas.

Sesuai yang saya katakan sebelumnya. Saya gak mau bahas tentang ibu nya Sarada, tapi konsep flashback lahiran seperti ini memang udah ada di OS nya. hanya saja saya pernah baca review dri seseorang yang menduga Karin adalah ibu nya Sarada. Ya, karena saya juga butuh nama untuk dialog lahiran, kayaknya lebih pas emang pakai nama atau chara Karin aja deh. Maaf ya! hanya untuk kelengkapan cerita aja.

yang terakhir, Saya gak pernah melahirkan.

Tapi ini cuplikan lahiran tetangga saya. Karena suaminya sedang tak ada, saya beserta yang lainnya-ibu saya dan temen2 satu kamarnya- sedikit punya tanggung jawab mengantarkannya ke klinik. Di klinik dia ditangani oleh seorang dokter yang lebih banyak bertindak sebagai komando saja saya rasa. bahkan tangannya tak bernoda sama sekali dan dua orang perawat yang membantu. lahiran ini persis dengan lahiran tetangga saya. bedanya, tetangga saya emang punya niat melahirkan, sedangkan karin tidak.

Saya melihatnya-lahirannya sendiri dengan mata saya, gimana lubang vagina seorang wanita bakalan koyak nantinya, terus proses kepala bayi yang nongol dari sana. Sakitnya luar biasa. dan setelah melahirkan pun lubang vagina akan dijahit, saya lihat langsung proses penjahitan. sangat menyakitkan. cew yang mau melahirkan ini pun saat melahirkan terlihat tak ingin menjerit sedikitpun. soalnya kata dokternya jangan berteriak, itu akan buang2 tenaga. ibu saya juga bilang, kalau melahirkan itu jangan cengeng, jangan teriak2, jangan panik, kalau cengeng dan panik, dokter dan suster ikutan panik dan akan lebih memilih operasi dari pada membantu melahirkan normal, karena mereka juga tak mau ambil resiko. kalau kalian-cew panik dan cengeng, paramedis memilih untuk menyerah. dan operasi cara satu-satunya. ini pengalaman yang sudah sering saya dapatkan.

Pesan penting yang saya dapat adalah dari pengalaman saya melihat orang melahirkan secara langsung adalah, untuk cewek yang belum pernah melahirkan, jangan pernah melihat proses lahiran secara langsung. Itu gak baik untuk mental kalian, bayangannya akan menakuti kalian dan mengakibatkan kalian takut untuk melahirkan normal. kalau yang mau operasi, menurutku gak ada efeknya.

Kalau ada yang salah dri cerita pngalaman saya dan gak sesuai aturan kesehatan yg sebenarnya, saya mohon maaf. tapi di pengalaman hidup yang saya temui, saya memang mendapati seperti ini apa adanya.

Saya bukan manusia yang berpropesi di bidang kesehatan. maaf kalau tulisan saya agak lancang.