.
Out of the Blue
==.==
DISCLAIMER chara NARUTO : Masashi Kishimoto
DISCLAIMER STORY : Spica Zoe
Cover Art : CharaKauffmann
Warning : Affair, OOC, NTR, Sakura Centric,
.
.Cerita mengandung unsur antagonis moral.
.Sebab itu tolong jangan benci chara di dalamnya.
Segala jenis argument, tidak akan pernah bisa menang dalam menghadapinya. Pria yang kini berdiri di hadapannya. Menatapnya. Sehingga tatapan itu seakan terlalu dalam menusuk hatinya. Menyakitinya lagi dan lagi, membuatnya meraung dan menangis, menjerit dalam piluh dan kebungkaman. Tegaknya tubuh berdiri bukan karena kuat otot yang yang mendukung, namun karena kerapuhan demi kerapuhan telah membeku dalam dagingnya.
Sakura, bergeming.
Sasuke, bergeming.
Dan waktu membuat langkah berlari-lari di sekeliling mereka.
Menertawai mereka.
Out of the Blue
"Akhir-akhir ini kau terlihat begitu depresi, Itachi. Ada apa?"
Itachi mengangkat kepalanya, memandang satu bayangan yang sudah berhasil mendarat duduk di sampingnya. Meraih segelas soda dingin yang sepertinya sedang tersia-siakan di atas meja tempat di mana mereka duduk saat ini. Sebuah ruang kerja, penuh dengan aroma obat-obatan yang megiluhkan tulang. Putih mendominasi pandangan, dan sunyi merayap ke pikiran.
Setelah meneguk habis soda dingin itu, sang pemilik suara bergerak bebas tanpa batas melepas jubah putih seragam miliknya. Menyampirkan ke sisi bantalan sofa dan menyandarkan tubuhnya santai di sandaran sofa. Membiarkan Itachi terus menerjemah pertanyaannya. Sampai Itachi berbicara, maka ia lebih memilih untuk tetap diam .
"Apa kau sedang kosong hari ini?" tanya Itachi intens, dengan suara lemah dan berbisik basah. Sang wanita menoleh seketika. Asing, ini tidak seperti Itachi yang ia kenal. Tidak seperti teman yang dulu sangat ia pahami.
"Ajakan kencan?" tanya wanita itu tanpa menurunkan sedikitpun air mukanya. Dan ketika pertanyaan itu ia ujarkan, Itachi langsung menatapnya lekat.
Sebenarnya tidak apa jika seorang teman lama bertemu kembali. Bertemu saling sapa, tebar senyum dengan cerita-cerita rindu penuh nostalgia. Harusnya tidak apa. Sebab selain pertemanan, tidak ada lagi hubungan lain melebihi hubungan itu dulu saat mereka bersama.
Tapi, seakan menahan rasa sadarnya untuk tetap terkumpul dalam tubuhnya, kini apa yang ia rasa 'tak apa' itu akhirnya terasa begitu jauh dari logikanya.
Itachi menutup pintu kamar hotel yang kini tengah mereka singgahi. Air muka pria ini benar-benar berbeda dari kepribadiannya. Ada kesan yang begitu tertekan, terlihat dari berapa kali ia mengelah napas berat. Termenung dalam sesat. Kurenai memahaminya. Itachi sedang memikirkan sesuatu kali ini.
"Aku tidak menyangka, ternyata seorang Uchiha Itachi yang sekarang berdiri di hadapanku ini adalah tipe pria yang suka membawa seorang wanita untuk menyewa kamar hotel bersama." Ucap wanita bersurai hitam itu, sambil memilih mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Sambil memandangi sang pria yang kini sudah melepas satu persatu pakaiannya.
"Santai saja Itachi. Aku masih tidak begitu paham kenapa kau memutuskan untuk melakukan ini. Meskipun aku bilang aku siap membantumu, tapi aku rasa kau terlalu terburu-buru." Sang wanita memperbaiki sikap duduknya, yang kini melipat tangannya di dada dan tatapannya masih lekat pada gerakan tubuh Itachi yang kini hanya mengenakan pakaian dalamnya saja. Tubuh yang bagus, Kurenai mengakui fisik Itachi luar biasa bagus, tapi jika harus membandingkan dengan tubuh milik suaminya. Rasanya ia ingin tertawa. Kakashi? Masih tidak ada bandingannya. Tentunya.
"Kau sudah janji untuk membantuku sebelum kita melangkahkan kaki ke sini kan? Lakukan saja tugasmu. Aku akan membayarmu berapa saja. Tolong, Kurenai-san."
Mendengar itu, Kurenai tersenyum singkat. Jika saja sebelum melakukan perjalanan, Itachi sudah mengatakan keinginannya, maka Kurenai bisa pastikan ia tidak akan berakhir dengan takdir memasuki kamar hotel dengan seorang pria lain yang sudah beristri. Tapi, karena Itachi sudah terlanjur jujur dalam perjalanan, maka Kurenai pun tidak lagi bisa melakukan apa-apa.
"Berapa kali kau melakukan hubungan seks dengan istrimu dalam seminggu?"
Sakura berjalan dengan langkah yang terseok-seok. Kedua telapak kakinya berdarah, bahkan sesaat ia memijakkan kaki, ia merasa ada rasa perih dari luka-luka yang masih ditancapi pecahan kaca halus tak kasat mata di kakinya. Yang kelihatan, sudah dicabutinya, yang tak terlihat, ia biarkan begitu saja. Sakitnya bukan main. Tapi, jiwanya tak lagi mampu menerjemah rasanya. Semua derita telah serupa rasa.
Ia tak lagi peduli, bagaimana ia pada akhirnya meninggalkan jejak-jejak darah dari setiap lantai yang dipijakinya. Tangannya terus merayap merabai dinding, untuk sekedar membantu agar langkahnya tetap stabil sampai menuju dapur. Setiba di sana dengan susah payah, Sakura tidak menemukan apa yang dicarinya, apa yang sangat dibutuhkannya kini. Keringat dingin telah memenuhi seluruh pori-porinya. Rasa sakit di kaki kini terasa jauh lebih perih dari sebelumnya. Ingin rasanya dia menjerit, tapi ini masih terlalu pagi untuk memulai hari dalam luka, 'kan?
Semua obat yang dibutuhkannya telah berantakan oleh amukan Sasuke. Mungkin menahan rasa sakit ini lebih lama lagi akan membuatnya terbiasa. Sama seperti rasa sakit bertahun-tahun yang masih disimpannya.
"Gunakan ini."
Dalam keheningan. Sakura langsung menoleh pada si pemilik suara. Dengan sebuah kotak yang tidak ia tahu apa isinya. Tapi dari raut wajahnya, pemuda itu mungkin tahu apa yang paling ia butuhkan saat ini.
"Untuk luka mu."
Sakura, mencoba untuk tersenyum menanggapi belas kasihan Gaara padanya.
Sakura memilih untuk duduk dimana saja saat apa yang ia butuhkan untuk lukanya kini sudah ada padanya. Diangkatnya kakinya dan membersihkan sendiri semua luka pada telapak kakinya. Perih. Tapi ditahannya, meski wajah sakit itu tak bisa membohongi Gaara yang masih berdiri diam sambil memperhatikan kegiatan Sakura untuk dirinya sendiri.
"Kau belum tidur?" bisik Sakura, tanpa memandang Gaara di depannya. Pertanyaannya memiliki rasa ingin tahu, apakah mungkin Gaara mendengar pertengkaran yang sejak tadi terjadi di rumah ini.
"Jika kau ingin aku tidur, aku akan tidur sekarang." Gaara merespon datar. Tak ingin berbelaskasihan. Sakura bergeming sejenak, lalu melanjutkan kegiatannya. Membungkus kedua telapak kakinya dengan perban.
"Terimakasih." Sakura selesai. Ditatapnya wajah Gaara dengan senyum menyakitkan. Seakan tatapannya ingin memohon pada pemuda itu untuk pergi meninggalkannya. Ia tidak mau terlihat lemah. Sudah lama ia berdiri dalam angkuh dan ketegaran, tapi kali ini, dengan tatapan Gaara yang begitu dingin padanya, Sakura sadar, ia sudah dipandang lemah oleh tatapan itu. Kedoknya terbuka, kerapuhan dan kelemahannya telah menguar, seakan meminta belaskasihan pada setiap orang yang memandangnya kini. Sakura tidak mau itu terjadi.
"Kau masih sanggup untuk menyakiti dirimu lebih dari ini?"
Sakura terdiam. Nada suara Gaara terdengar begitu kuat menghantam dadanya, membuat jiwanya sesak dan terjepit.
"Masalahku masih belum selesai, Gaara." Balas Sakura lemah. Sambil melangkah dengan keadaan yang sangat malang. "Mungkin inilah saatnya bagiku untuk menyelesaikannya." Dan kalimat terakhir itu membuat Gaara membungkam mulutnya. Menyertai pandangan matanya akan kepergian langkah Sakura dari sisinya. Kembali melangkah menuju tempat yang paling menyakitinya. Kamar Sasuke.
Di sisi lain. Itachi hanya diam dari tempat persembunyiannya. Diam hanya untuk memahami suara-suara apa yang ingin didengarkannya. Percakapan antara istrinya dengan orang kepercayaanya membuatnya merasa kalah dengan posisinya sebagai seorang suami. Meski ia tidak pernah menutup mata dari semua kenyataan yang ada pada kehidupan rumah tangganya. Sakura dan Gaara pun mungkin adalah dua orang yang tak pernah bisa ia tengahi.
.
.
Tujuh tahun lalu, ia pikir semua keindahan dunia akan berkumpul dalam genggamannya karena ia telah menikahi seorang gadis yang amat sangat dicintainya. Itachi bersumpah, kebahagiaan adalah hal yang akan ia persembahkan pada istrinya, Sakura. Dengan sumpah janji dari dasar hati yang paling dalam saat mereka berada dalam upacara pemberkatan. Di depan saksi, di depan hamba Tuhan yang menyatukan mereka. Meski ia hanya duduk di atas kursi roda.
"Kenapa kau tiba-tiba menyetujui pernikahan ini, Sakura?"
Sakura tersenyum menatap Itachi yang sudah duduk bersandar di atas ranjang malam pertama mereka. Ia sedikit penasaran, kenapa dalam keadaan malang seperti ini, akhirnya Sakura menerima ajakan pernikahannya.
"Kau sudah mengajakku menikah lebih dari dua kali, Itachi-san." Gadis itu tersenyum tulus di hadapan suaminya. "Dan, mungkin aku juga sudah lelah menolaknya." Lanjutnya mendekati Itachi. Mendengar itu, Itachi mau tak mau menampilkan senyumnya untuk menghargai ucapan sang istri. Diraihnya tangan Sakura dan digenggamnya penuh hati-hati. Dia bahagia. Sakura akhirnya mau menjadi istrinya.
"Tapi sayang sekali, malam ini mungkin tidak akan ada malam pengantin, Sakura." Ucapnya sambil memandangi wajah teduh sang istri. Sakura tertawa.
"Tak apa, kita bisa lakukan lain kali. Aku akan merawatmu sampai kesehatanmu pulih seperti sedia kala, Itachi-san." –ya, sampai luka hatiku pun juga sembuh.
Malam pertama. Malam pengantin.
Di satu sisi kebahagiaan menjadi miliknya, di sisi lain, Sakura menjerit dalam hatinya. Meski malam ini tubuhnya tidur dalam dekapan Itachi, suaminya, tapi jiwanya menerawang jauh, akan apa yang sedang Sasuke lakukan saat ini di luar sana.
Sasuke, maafkan aku. Maafkan, aku.
.
.
"Bukankah aku sudah bilang, jangan pernah menampakkan wajahmu di hadapanku, Sakura."
Sakura tak merespon. Ia lelah menatap wajah pesakitan itu, wajah yang akan membuat amarahnya mendidih terus menerus. Dilangkahkannya kakinya menapaki jejak antara jarak dirinya dan lemari pakaian di ruangan itu. Mengambil baju ganti untuk sang pasien yang penuh dengan bangkangan padanya.
Sedang Sasuke, beralih dari pandangan wajah, kini menjalar menatap bungkusan luka pada kedua telapak kaki Sakura. Membuat hatinya sesak seketika.
"Aku tahu, semua kesalahan yang telah terjadi dalam hidupmu adalah kesalahanku, Sasuke. Lukai aku sesukamu. Tapi, jangan pernah sakiti perasaan Itachi lebih dari ini." Sakura meraih lipatan pakaian dalam lemari dan menariknya dalam genggamannya. Seketika itu, mereka bergeming. "Jangan pernah. Kumohon." Bisik Sakura, tanpa ia sadar genggaman tangannya pada pakaian itu begitu berbekas akibat piluh yang ia derita.
"Ini bukan salahmu, Sakura."
Mendengar itu, Sakura mengangkat kepalanya. Menatap sosok Sasuke yang sudah diam, menatap kekosongan dalam pandangannya. Mungkin inilah waktunya bagi mereka bicara lebih banyak dari sebelumnya. Empat tahun mereka tidru dalam satu atap, tapi tidak pernah ada sesuatu yang bisa mereka bicarakan. Sasuke mencari, Sakura berlari. Begitu seterusnya.
"Ini salahnya. Ini salahnya karena telah merebut kekasihku untuk dinikahinya." Ucapan Sasuke membuat jiwa Sakura teremas sekali lagi. Tidak, bukan Itachi, ini salah nya 'kan? Salah dirinya sendiri-Sakura.
"Ini bukan salahnya, Sasuke. Ini-"
"Ini salahnya!" Sasuke berteriak, memutus kalimat yang akan Sakura ucapkan di ujung lidahnya. Sasuke menghempas selimut yang membungkus tubuhnya seketika, menatap wajah Sakura dengan ekspresi tajam tak terkira.
"Ini salahnya. Ini salah suami berengsekmu itu, Sakura!" teriaknya. Ditinggalkannya posisi nyamannya. Bangkit dari sana dan melangkah keras di tiap langkah kakinya menuju di mana tempat Sakura berada. Sakura terperanjat ngeri tak terkira. Tak lagi ada daya, tulangnya terasa begitu ngiluh saat matanya menangkap aura yang begitu menakutkan datang dari tubuh pria yang kini melangkah mendekatinya. Hingga pakaian yang tersimpan di tangannya, terjatuh tanpa sadarnya.
"Jangan pernah membelanya di hadapanku, Sakura. Apa kau mengerti!?"
Menahan rindu itu, bukanlah pekerjaan gampang. Menahan dendampun bukanlah perkara mudah. Dan jika rindu beserta dendam ditahan bersamaan, apa jadinya?
Sasuke, mendorong kuat tubuh kakak iparnya hingga punggungnya bertabrakan dengan sisi lemari pakaian di sampingnya. Wanita itu terpekik, namun sekuat tenaga ia menahan teriakannya agar tak memperburuk suasana. Membiarkan Sasuke menatapinya dengan kemarahan yang meluap-luap seperti apa yang sedang di hadapinya.
"Lihat aku. Apa yang kau dapati pada diriku saat ini Sakura."
Sasuke, menarik tangan Sakura agar perhatian wanita itu hanya tertuju padanya. Tapi Sakura menolak untuk menurut. Semakin Sasuke ingin dilihat, semakin dalam juga ia menundukkan dalam masa kesabaran yang terbatas, Sasuke mengangkat tangannya dan mencengkram dagu Sakura, mengangkat wajahnya hingga pandangan wajah mereka bertemu sempurna. Sakura memberontak, namun apa daya. Sasuke menekan ujung kepala Sakura ke sisi lemari dan membiarkan wajah itu mendongak tak berdaya memandangnya.
"Aku bicara padamu. Lihat aku!" ucapnya, menahan suaranya. Terkesan berbisik, namun tersirat amarah yang tak bisa terabaikan di sana. Sakura menyerah untuk memberontak. Diraihnya pergelangan tangan Sasuke, dan mencengkeramnya kuat. Ia tidak butuh kekerasan. Tapi, Sasuke tak berdaya untuk menahan emosinya.
.
.
"Pulanglah. Aku ingin kau kembali Sakura. Aku ingin kau kembali."
Sakura tak mampu menghentikan tetesan air mata yang mengalir membasahi wajahnya. Suara pemuda itu membuatnya tak berdaya. Permohonannya yang begitu menyakiti hatinya. Digenggamnya ponsel itu semakin keras untuk membagikan rasa piluhnya. Ia merindukan pria ini. Sangat.
"Apa kau akan menjemputku, jika aku memilih untuk pulang?"
Mendengar itu, kedua pipi Sasuke terasa hangat penuh suka cita. Apa ini artinya, Sakura telah memberikan kesempatan untuknya?
"A-aku akan menjemputmu, sebagai menantu keluarga Uchiha. Haruno Sakura." Ucapnya bahagia. Dan di seberang sana, Sakura tersenyum sambil menghapus sisa-sisa airmatanya.
"Aku menunggumu melakukannya, Uchiha Sasuke."
Dan dalam detik berikutnya, tawa mengakhiri tangisan mereka.
.
.
"Aku mencintai Itachi." Sakura mendorong tubuh Sasuke dari hadapannya. Peduli apa ia jika saat ini juga, Sasuke bahkan lebih berhasrat membunuhnya. Kematian bukanlah hal yang harus ditakutinya.
"Aku mencintainya." Ucapnya lagi, berteman lirih, dengan respon tak terduga dari Sasuke yang kini melepaskan kedua cengkraman tangannya dari tubuh Sakura. Melangkah mundur, ia membiarkan jarak memisahkan dirinya dari wanita yang paling dicintainya.
Rasanya, mendengar kalimat itu membuat jiwanya terbakar dan mati seketika. Tak berdaya.
"Aku-"
"Jangan berbohong Sakura."
Kini Sasuke memilih untuk bersikap lebih tenang. Percuma memecah emosinya di depan Sakura. Percuma menyakiti wanita itu dengan sikap kerasnya. Sebab Sasuke pun tahu, Sakura tak lagi mampu menuruti kemauannya. Wanita itu sudah berubah dari gadis merah mudanya yang dulu. Sudah sangat jauh berubah. Masih dalam keadaan hening dan sunyi. Sasuke menarik tangan Sakura perlahan. Membiarkan langkah wanita itu menjauhi sisi lemari. Hingga Sasuke bisa mengambil sesuatu dari dalam sana. Sesuatu berupa kotak kecil yang mungkin bagi Sakura tidak lah lagi menjadi asing. Dan sebelum Sasuke menunjukkan bentuk kotak itu sepenuhnya pada Sakura, wanita itu mendesah penuh dengan kemalangan.
Jangan lagi. Sakura tidak suka situasi ini. Kenyataan ini hanya akan menyakitinya lebih dalam lagi.
"Aku masih menyimpannya." Ucap Sasuke sambil membuka kotak itu di depan mata Sakura. Dan dengan begitu, perlahan dada Sakura menjadi sesak tak tertahan. Bahkan setitik air sudah menggenangi pelupuk matanya.
"Aku tidak bisa membuangnya." Sasuke tersenyum lirih.
Sasuke bisa melihat kepedihan hati Sakura hanya karena ia menunjukkan kotak itu padanya. Kepedihan hati yang paling menyakitinya. Dan Sasuke pun sadar, inilah alasan mengapa Sakura berubah. Sejak beberapa bulan setelah Sarada lahir ke dunia. Sejak ia jujur tentang alasan mengapa Karin memilih untuk tidak melahirkan anaknya.
"Selamatkan anakku, Sakura." Kini Sasuke mulai bersuara. "Selamatkan anakku, lebih dulu. Dan aku akan mengatakan alasan sebenarnya padamu lain waktu." Ucapnya memohon. Untuk pertama kalinya Sakura melihat wajah ini mengiba.
Kotak yang berisi puluhan foto miliknya dan Sakura. Kotak yang berisi semua kenangan antara ia dan sang kekasih tercinta. Tidak hanya itu. Kotak itu juga berisi semua hal tentang Sakura, meskipun mereka telah berpisah. Obsesi Sasuke, tak mengijinkannya untuk tak memperhatikan Sakura yang selalu menjadi tujuan hidupnya. Hingga pada saat itu, Karin menemukannya. Kecemburuannya memuncak. Dan Sasuke lebih memilih menyelamatkan kotak isi kenangannya dari pada rumah tangganya sendiri. Hingga Karin memutuskan untuk berpisah dengannya.
"Aku sudah menyuruhmu untuk membuangnya Sasuke." Sakura tak berhasil menahan satu air mata yang sudah jatuh membasahi pipinya. Suaranya basah.
"Bagaimana bisa aku membuang kehidupanku begitu saja, Sakura." Sasuke pun sama.
"Cari kehidupanmu yang lain. Jangan aku." Kesalnya memuncak.
"Dan apakah kau sudah menemukan kehidupanmu yang lain, selain aku?"
Sasuke, mencoba untuk menyelami isi hati Sakura. Tapi, Sakura menolak untuk ditebak olehnya.
"Kau tidak pernah bisa bersikap dewasa."
Sakura lelah jika harus memilih untuk menyelami sesuatu tentang hidupnya. Berurusan dengan Sasuke hanya akan membuka luka lamanya. Hingga pada akhirnya ia lebih memilih untuk melangkahkan kaki meninggalkan kamar itu. Lama-lama berada di sana, ia bisa menggila karena rasa sakit dan kenangan membanjiri dadanya.
"Itu karena aku masih mencintaimu. Sakura." Dengan sekali sentakan, Sasuke sudah berhasil meraih pergelangan tangan Sakura, dan menariknya dalam pelukannya. Sakura terpekik. Apalagi saat ia sadar, jika Sasuke sudah mendekapnya terlalu erat. Membiarkan pandangan mata mereka terpaku tajam satu sama lain. Ada getaran di sana, getaran ketidakberdayaan yang membuat Sakura berhenti berpikir untuk berontak.
"Kau sakit. Sasuke. Hentikan ini."
Sasuke tersenyum. Tanpa berniat melepaskan semua dekapannya pada Sakura.
"Kau benar. Untuk itu 'kan, kau datang mengunjungiku. Untuk menyembuhkanku." Sakura terdiam. Sasuke tersenyum dengan seringaian.
"Aku masih mencintaimu, Sakura." Lanjut Sasuke, sambil menarik tengkuk Sakura untuk tetap memandang ke dalam matanya. Sedang Sakura, hanya mencoba menahan himpitan tubuh Sasuke dengan kedua tangan yang menahan dada pria itu darinya.
"Semua tentang kita sudah berlalu, Sasuke." Sakura menyadari satu hal yang tak bisa dia sembunyikan saat ini. Tatapan Sasuke telah jauh lebih memikat dari tatapannya yang dulu.
"Semua tentang kita. Tapi tidak untuk perasaanmu, kan? Haruno Sakura." Sasuke menyadari, tatapan Sakura kini jauh lebih menggairahan dari pada tatapannya yang dulu.
"Kau tahu apa tentang perasaanku." Sakura menantang. Sasuke tertawa sinis. Hingga Sakura bisa menicum aroma napas Sasuke yang juga tidak pernah berubah sejak dulu.
"Aku tahu semua tentangmu. Bahkan tentang semua pria yang sudah kau tiduri hanya untuk menghindari perasaanmu padaku. Benar begitu 'kan? Sakura." Sakura tak begitu kaget mendengar pengakuan ini dari mulut adik iparnya. Karena selama ini pun ia tidak berniat untuk menyembunyikannya.
"Aku tidak menyimpan perasaan apapun padamu Sasuke. Jangan memaksaku untuk bersikap kasar padamu." Sakura muak dihakimi. Dorongan tangannya pada tubuh Sasuke tak menghasilkan pergerakan apapun antara dekapan dalam tubuhnya.
"Jangan berbohong Sakura. Matamu tak bisa membohongiku. Katakan, kau masih mencintaiku 'kan?" Sasuke mengangkat tangannya, menyentuhkan ujung jarinya pada bibir bawah Sakura, tapi itu tak begitu membuat Sakura takut karenanya.
"Sekarang jawab pertanyaanku Sakura. Kenapa kau memilih untuk menikahi Itachi." Mendengar itu, pupil mata Sakura melebar. Apalagi ketika ia melihat tatapan Sasuke jauh lebih serius memandangnya. Tujuh tahun telah berlalu, ia tidak ingin mengungkit masa silam itu saat ini.
"Jangan bahas ini Sasuke." Sakura melemah jika harus mengulang kenangan itu dalam otaknya.
"Tidak. Ini adalah waktu yang tepat untuk menjelaskan apa yang telah terjadi di antara kita berdua. Padahal, saat itu aku sudah menjemputmu dengan rencana pernikahan. Lalu kenapa kau memilih untuk menikahi Itachi?" Sasuke mengeratkan dekapannya pada pinggul Sakura hingga wanita itu memekik dalam bisu. Melihat Sakura hanya diam, Sasuke melanjutkan ucapannya.
"Apa karena dia yang menyelamatkan nyawamu tujuh tahun lalu?"
Tubuh Sakura bergetar, bibirnya ingin berteriak agar Sasuke segera melepaskannya saat itu juga, agar ia tak lagi mengingat kenangan itu.
"Apa karena dia hampir mati, dan kau berjanji pada Tuhanmu. Jika dia selamat, kau akan memenuhi keinginannya. Dan menikahinya?" nada suara Sasuke mulai keras, hingga Sakura menggunakan seluruh tenaganya untuk mendorong tubuh pria itu dan berhasil.
"Kau tidak tahu apa-apa, Sasuke. Hentikan omong kosongmu ini!" kesal Sakura dan mencoba melangkah meninggalkan pria itu. Meninggalkan semua kenangan buruk itu dari pendengarannya. Sasuke tahu apa? Tujuh tahun bedebah yang ia sangat sesali. Kenapa Sasuke mengungkitnya lagi.
"Jadi benar. Jika pernikahanmu dengan Itachi hanyalah sebuah pertaruhan antara kau dan Tuhanmu?" Sasuke mencoba untuk menahan dirinya agar tak lagi menarik Sakura dalam dekapannya. Sakura menghentikan langkahnya. Kenapa Sasuke bisa mengetahui semua hal yang hanya ia saja yang harusnya tahu semuanya.
"Aku hanya mengorbankan perasaanku untuk menyelamatkan nyawa seorang pria yang telah mengorbankan nyawanya untukku. Jika kau jadi aku, apa yang akan kau lakukan, Sasuke?"
Sakura lelah menarik ulur emosinya saat menghadapi Sasuke. Jika pria itu memang sudah tahu semuanya. Ada baiknya ia pun menjelaskan apa yang masih membekas dalam ingatannya.
"Kau salah Sakura. Jangan berpikir hanya perasaanmu saja yang kau korbankan dalam kehidupan ini. Kau mengorbankan perasaanku yang mencintaimu, kau mengorbankan perasaan Itachi yang juga mencintaimu. Kau mengorbankan perasaan Karin yang mencintaiku, kau mengorbankan perasaan Sarada yang menyayangimu, kau juga mengorbankan perasan pria-pria di luar sana yang ingin bersamamu. Kau mengorbankan berapa perasaan di dunia ini? Semuanya hanya karena sikap egoismu. Sikap kepahlawanan yang ingin kaulakukan. Menikahi Itachi bukanlah keputusan yang baik. Karena kau bersamanya, maka aku memilih bersama yang lain untuk menyembuhkan lukaku. Tapi yang ada semua hati harus rela dikorbankan. Karena sikap kepahlawananmu, Sarada pun terlahir, bertambah satu perasaan lagi yang harus tersakiti. Menurutmu itu karena siapa?"
"Kau menyalahkan semuanya padaku?" Sakura sudah muak mendengar semuanya.
"Tidak. Aku tahu itu semua karena salahku. Tapi, kenapa kau sampai berkorban sejauh ini hanya karena rasa marahmu padaku?" Sasuke melangkah mendekati posisi di mana Sakura berdiri.
"Aku sudah melupakan kemarahanku padamu Sasuke. Jauh sebelum semuanya terjadi." Sakura melemahkan nada suaranya. Jika Sasuke memilih untuk tidak bertindak keras padanya, ia pun akan melakukan hal yang sama.
"Jadi benar, pernikahamu dengan Itachi hanya karena kau merasa berhutang nyawa padanya?"
Kini Sasuke sudah berdiri di hadapan Sakura, memandangi wajah wanita yang paling dicintainya dengan pandangan yang tak begitu sulit diartikan, tatapan rindu.
"Jika kau berada di posisiku, apa yang akan kau lakukan?" Sakura menatap mata itu sekali lagi. Sasuke mendengus lirih.
"Aku lebih memilih mendoakan Itachi mati dari pada aku harus melukai perasaannya selama bertahun-tahun." Jelas, jawaban Sasuke berasal dari dasar hatinya.
"Kau kejam." Dan itu membuat Sakura menggeleng tak percaya.
"Kau yang lebih kejam Sakura." Sasuke menarik tangan Sakura dan mencoba menggenggamnya agar dia diberi kekuatan untuk memandang wajah wanitanya.
"Bagaimana mungkin aku bisa melakukan itu. Jika bukan karena dia, aku mungkin sudah mati saat ini. Dia menyelamatku. Di depan mataku. Bahkan di depan matamu. Berengsek." Sakura tak menepis genggaman tangan itu. Tapi jelas saja, amarahnya sudah berada di ujung tanduk, sangat berbahaya.
"Jika aku bisa memilih. Aku lebih memilih kau yang mati Sakura. Agar kau tidak melukai perasaanku, perasaan Itachi, perasaan Sarada, perasaan Karin dan juga pria-pria yang kau tiduri itu." Sasuke tidak berdusta, ini adalah hal yang paling sering dipikirkannya. Dari pada melihat kekasihmu berada di pelukan orang lain, kemungkinan ini menjadi pilihan yang paling ingin dipilihnya. Tapi, tetap saja perasaannya tak berdaya.
"Jangan mengulang pembicaraan Sasuke." Ucap Sakura bernada tidak suka, sekaligus tak percaya akan apa yang pria ini pikirkan.
"Aku tidak mengulangnya. Aku hanya memperjelas di mana posisimu. Sekarang kau jawab pertanyaanku. Apa kau sudah bahagia dengan Itachi?" Sakura terdiam, menundukkan kepala sebab tatapan Sasuke begitu ingin menelanjanginya.
"Jika kau tidak kembali, mungkin aku akan bahagia." Sakura menggigit bibirnya perih. Ya benar, jika Sasuke tidak kembali, mungkin ia akan hidup berbahagia bersama Itachi. Tapi, pemikirannya tentu berbeda dengan Sasuke.
"Salah." Sasuke merespon cepat. "Yang benar adalah, Jika kau tidak menikah dengannya. Kau akan bahagia. Karena bagaimanapun aku akan tetap kembali padanya, dia kakakku. Kau yang salah memutuskan pilihanmu, Itachi bukan orang yang bisa membuatmu bahagia, meski dia orang yang tepat untukmu. Tak selamanya mereka yang menjadi orang yang tepat, bisa membahagiakan kita, Sakura." Sakura diam tak berdaya, membuat Sasuke terus mengeluarkan kalimatnya.
"Aku masih mencintaimu Sakura. Aku merasa bersalah, saat kau tidak pulang ke rumah. Kuyakini diriku, itu salahku. Rumah bukan tempatmu untuk pulang, aku pun sadar akan itu. Tapi bukan berarti kau bebas melakukan perselingkuhan di luar sana kan?" tanpa sadar, Sakura melihat ada setetes airmata yang menghiasi wajah malang pria itu saat ini.
"Aku sudah terlanjur jatuh Sasuke. Aku tak bisa bangkit lagi. Kakiku sudah patah, dan tak punya kekuatan bahkan untuk berdiri sekalipun. Lebih baik bagiku untuk tetap berada di dasar lubang. Aku ingin bersembunyi. Menahan sakit. Dan-"
"Dan mati membusuk?" Sasuke berusaha keras menyembunyikan kemanlangan hatinya, meski dia pun sebenarnya tahu jika Sakura sudah melihat semua kelemahannya.
"Kau benar. Itupun tak masalah."
Sasuke mempererat genggaman tangannya di tangan Sakura, membuat keduanya mampu mengerti sejauh mana kekesalan hati mereka telah menumpuk dan terucapkan.
"Jika kakimu telah patah. Masih ada orang yang akan menggendongmu Sakura. Biarkan aku yang melakukannya. Dan itachi yang mengulurkan tali untuk membantu mengangkat kita berdua. Jangan siksa kami seperti ini. Katakan apa yang sedang kau rasakan. Apa jika kau mati membusuk, dunia akan lupa tentang keberadaanmu? Semuanya akan semakin pelik. Sebab tak ada yang tahu alasan kenapa kau memilih diam membusuk di sana."
Sakura malu untuk mendesah kesal saat ini. Sasuke sukses menelanjanginya. Tapi dia masih tidak ingin mengakui ketelanjangannya.
"Kau ingin mengguruiku Sasuke?" Sakura mengangkat wajahnya memandang Sasuke dengan senyuman sinis tak berdaya. Sasuke memang benar, tapi kehidupannya tidak lagi berjalan sesuai apa yang diinginkannya.
"Kau yang mengajariku."
"Aku rasa kau sudah sehat kembali. Sebaiknya aku segera pergi." Sakura berniat melangkah pergi, tapi lagi-lagi ucapan Sasuke menghentikannya. Memanggil namanya dengan begitu lembut dan terasa begitu merindukannya.
"Sakura..." keduanya bergeming sesaat.
"Aku mencintaimu. Entah kapan bisa kusingkirkan perasaanku ini padamu," ucap Sasuke penuh rasa iba. "Aku tidak ingin memaksa kau kembali padaku. Tapi aku pun tak ingin kau melarangku untuk tetap mencintaimu. Aku sudah kehilangan Sarada, tidak ingin kehilanganmu."
Sakura diam, namun ada rasa perih yang dia rasakan berasal dari genggaman tangannya. Dia mencengkeram jari-jemarinya.
"Dan untuk semua kesalahan yang dulu pernah kulakukan padamu. Aku minta maaf. Mungkin inilah kenapa aku menjadi seperti ini. Merana dalam kepedihan cinta tak kesampaian. Mungkin karena aku pernah menyakiti siapa dia yang pernah kucintai. Dan rasa sakitmu itu yang mengutukku untuk tidak bahagia."
Sakura tahu, bagaimana kalutnya perasaan Sasuke kini. Ia paling tahu, karena meski ia memilih menolak untuk peduli, ia tetap bisa merasakan rasa sakit itu menusuk jauh ke dasar hatinya. Berhasil menelanjangi kejujurannya.
"Sakura.." lagi, suara Sasuke terasa seperti candu di telinganya.
"Kau masih mencintaiku 'kan?" Sakura menahan gumpalan sesak yang memenuhi dadanya. Pertanyaan itu lagi. Jangan ulangi Sasuke!
"Aku tahu itu. Caramu menghindariku selama empat tahun ini pun sudah menjadi jawaban paling nyata untukku."
"Aku menghindarimu karena aku tahu kau masih mencintaiku. Bukan karena aku masih mencintaimu."
"Dan kau takut, perasaan tidak mencintai mu itu berkembang, karena kau tahu aku masih ada untukmu."
"Diam sasuke!"
Sakura muak mendengarkannya. Muak jika Sasuke terus-menerus mengulang kata-kata cinta menjijikan yang menyakiti telinganya. Untuk kali ini, jelas saja ia tak lagi butuh cinta. Semuanya hanya omong kosong.
"Dengar sakura!" Sasuke pun tampak tak ingin menyerah. "Itachi pun tahu apa yang kau lakukan di luar sana. Dia diam. dia membisu, karena dia tahu. Dia tidak akan bisa membahagiakanmu. Dia tahu di mana letak kesalahannya. Dan dengan menghukum dirinya sendiri seperti ini, adalah pilihannya. Dia tahu, kehadiranku lah yang membuatmu bertindak liar seperti ini. Tapi dia tidak bisa menghentikanmu. Dia tidak berdaya. Tidak punya pilihan. Menghentikanmu berarti memaksamu berada di dalam rumah, memaksamu berada di dalam rumah berarti membuatmu menderita karena keberadaanku hingga kau akan memilih untuk lari. Dia pun salah tingkah atas apa yang telah terjadi. Dan akupun yakin kau tahu jika itachi pun tahu semuanya tentangmu."
"Jangan asal bicara, Sasuke."
"Aku tidak asal bicara. Dia tahu hubunganmu dengan Gaara. Dia tahu kau sering bertemu dengan Kiba, dan dia juga sadar kau memiliki rasa pada Sai." Sasuke menahan luapan emosi yang seakan ingin memaki wanita ini sekali lagi. Tapi ia tidak bisa, ia lemah di hadapan Sakura.
"Tapi kenapa dia tak pernah menanyakannya padaku langsung. Istrimu selingkuh, apa kau akan diam? kau sudah tahu, apa kau masih ingin tetap diam?"
"Karena dia sudah merasa tidak lagi punya hak untukmu, Sakura. Karena dia tahu kau tidak pernah mencintainya."
"Aku mencintainya, Sasuke. Aku mencintainya." Sakura mulai gelisah dengan kebenaran dalam hatinya. Dia tidak ingin mendengar ucapan Sasuke lebih banyak dari ini. Ditutupinya kedua telinganya kuat, hingga Sasuke tidak lagi mau peduli.
"Karena Itachi memilikiku ..."
"... mencintainya, Aku ..."
"Adik yang juga mencintai istrinya, itulah alasan kenapa dia tidak ingin melepaskanmu Sakura."
"Kau terlalu banyak bicara. Diamlah!" Sakura tak mengerti kenapa amarahnya meluap tanpa batas. Ucapan Sasuke menyakitinya, terlalu membebaninya.
"Sudah bertahun-tahun kita tak pernah bicara sebanyak ini Sakura."
"Kalau begitu diamlah!"
"Tidak."
Ketegangan kembali memenuhi sekeliling mereka.
"Kenapa?"
Menembus batas kesabaran dalam berucap.
"Karena aku mencintaimu."
Dan menembus batas kewajaran hubungan antara cinta seorang kakak dan adik ipar.
"Diamlah Sasuke!"
Meremas penyesalan.
"Tidak akan sebelum kau jujur padaku." Sasuke meraih pundak Sakura dan mendekapnya.
"Kau... " Sasuke memaksa Sakura memandang kedalam matanya untuk yang kesekian kalinya.
"... mencintaiku, 'kan?"
.
.
Sakura pernah memiliki sebuah mimpi, dimana wajah Sasuke menghampiri tubuhnya yang lemah. Mengangkatnya dan memberi senyum padanya. Tapi di mimpi itu, tidak hanya Sasuke, Itachi pun ada, menyambut langkahnya dan Sasuke dengan senyum dan tawa. Untuk itu, Sakura tak ingin siapapun dari mereka datang menghampirinya.
.
.
Tbc.
AN: Sebenarnya saya sudah terlanjur hilang mood untuk mengerjakan ini. Tapi apa daya, Saya sudah berjanji akan menyelesaikannya. Plot ini secara keseluruhan gak jauh berbeda dari plot original-nya. Hanya keberadaan Gaara dan Kurenai yang saya tambahkan. Selebihnya masih plot utama.
Saya sadar saya kekurangan deskripsi untuk menjabarkan situasi dan keadaan dalam fanfic ini. Mulai sekarang itulah kelemahan saya. Terlalu banyak dialog hingga deskripsinya mati total. Tapi saya cinta dialog ini, jadi saya gak bisa hilangkan.
Kalau ada yang bertanya apakah Sasuke tipe pria labil, saya jawab iya. Di plot utama Sakura dan Sasuke itu memiliki perbedaan umur 4 tahun, Sakura lebih tua. Tapi, di sini saya bikin mereka sebaya. Sedangkan Sakura dengan Itachi memiliki perbedaan umur delapan tahun (OS). Tapi di sini saya buat Sakura dan Itachi hanya berbeda enam tahun.. Jika Sasuke terkesan labil, bukankah pria lebih lambat dewasa dari pada wanita seumurannya?
Sekali lagi saya minta maaf atas kematian deskripsi saya.
Dan untuk balasan review. MAAF. Saya belum bisa balas sekarang. Tapi terimakasih untuk mereka yang rela PM saya, BBM-an atau nge-LINE saya demi fanfic ini. Saya senang kalian ada.
Dan untuk yang mau tahu Original Storynya gimana. Saya minta maaf kalau fb itu sudah gak saya gunakan lagi. Dan sejujurnya fanfic ini jauh lebih bagus dari Original Story-nya, meski OS nya jauh lebih kelam dan mature.
Terimakasih untuk segalanya.
