.

.

Out of the Blue

==.==

DISCLAIMER chara NARUTO : Masashi Kishimoto

DISCLAIMER STORY : Spica Zoe

Cover Art : CharaKauffmann

Warning : Affair, OOC, NTR, Sakura Centric,

.

.Cerita mengandung unsur antagonis moral.

.Sebab itu tolong jangan benci chara di dalamnya.


Out of the Blue

"Uchiha hanya memiliki Sasuke untuk meneruskan darah-nya, Sakura. Dan Sarada sudah tak lagi ada. Menikahlah dengannya. Itu keinginanku, memiliki darah seorang Uchiha dari rahimmu."

.

Pria itu Sasuke. Yang sedang termenung di beranda kamarnya itu, Sasuke. Sambil ditelisiknya sebuah kartu ucapan yang beberapa pekan lalu ditemukannya dari mobil Sakura. Sebenarnya sudah berkali-kali ia membaca isi di dalamnya. Tulisan mungil sang buah hati yang tak lagi bisa ia miliki. Tulisan yang penuh dengan kejujuran dan permintaan hati. Yang Sarada tulis tepat dihari ulangtahunnya. Dan diserahkannya pada Sakura.

.

"Sasuke."

Sasuke langsung menoleh, mengarahkan pandangnya ke arah pintu kamarnya yang terbuka. Yang menampilkan sosok Uchiha lain selain dirinya. Sosok Uchiha lain yang berhasil memperistri calon istri dan kekasihnya. Dulu, saat Sakura masih mengakuinya.

Sasuke tak menjawab.

"Ada yang ingin kubicarakan padamu."

Ini tidak seperti Itachi yang ia kenal. Tatapan Itachi yang seperti ini membuatnya merasa jika ada yang sedang tidak ia mengerti.

"Tentang?" tanya Sasuke, sambil melangkah ke arah nakas dan meletakkan apa yang sedari tadi ia genggam di sana. Tanpa memandang Itachi.

"Sakura."

Dan satu nama itu, berhasil mempertemukan pandangan mereka.


Kenapa harus begini jadinya. Sakura tak habis pikir kenapa hidupnya harus ia jalani dengan cara seperti ini. Pernikahan yang sama sekali tak ia inginkan, kehidupan yang akhirnya mau tak mau ia usahakan untuk ia perjuangkan. Sampai akhirnya semuanya hancur berantakan.

Bagaimana harusnya ia menghadapi Itachi yang berkeinginan menceraikannya. Pernyataan yang membuatnya hancur bagi puing-puing. Seharusnya, bukankah ia merasa bahagia? Jika harus jujur untuk dirinya sendiri, Itachi jelas bukan orang yang ia cintai sejak dulu. Tapi, kegagalan ini bukan berarti hal yang bisa membuatnya bahagia ataupun bernapas lega. Bukan begitu. Ia sudah menguras seluruh kemampuannya untuk memperjuangkan pernikahannya. Selama bertahun-tahun mengorbankan keegoisan hatinya untuk tetap menjadi satu bersama sang suami. Tapi keteguhan itu mungkin belum cukup mampu untuk mempertahankan semuanya. Hingga akhirnya semua mencapai titik kehancuran yang mungkin tak lagi bisa ia pertahankan.

Sakura menangis pun tak akan membuat semuanya baik-baik saja seperti sedia kala. Di hadapannya kini, sebuah lembar pernyataan perceraian telah Itachi sediakan untuknya. Ternyata, sebelum kejadian itu tadi terjadi pun, Itachi telah benar-benar telah berniat menceraikannya.


"Jelas, jika aku tidak akan bisa memberikanmu keturunan Sakura."

Sakura mengigit bibirnya menahan getir. Mendengar itu membuatnya ingin menyayat tubuhnya. Hal yang selalu ingin ia hindari. Kebenaran yang mungkin tak ingin ia anggap dalam hidupnya.

"Hidup bersamaku sampai tua pun, tak akan ada artinya. Maaf telah memaksamu untuk mengorbankan kebahagiaanmu dengan Sasuke, mungkin ini adalah balasan pantas yang telah kuterima. Dosa paling besar bukan? Merusak kebahagiaan kalian berdua."

Sakura memutar kembali memori tentang Sasuke yang masih tersisa di dalam pikirannya. Tidak ada yang tersisa, karena jelas semuanya masih ia ingat dalam kepalanya. Tak ada satupun memori yang berhasil ia hapus. Semuanya masih ada.

"Sakura..."

Itachi menyerahkan sesuatu pada Sakura. Sampai membacanya pun rasanya dada Sakura merasa sesak. Tangisnya tak lagi mampu ia tahan. Ditutupnya wajahnya dengan kedua tangannya. Sungguh, ini terlalu berat untuknya. Itachi menggugat cerai dirinya.

"Kita selesaikan saja semuanya. Perceraian adalah jalan terbaik. Kau dan aku mungkin jauh lebih bahagia dengan keputusan ini."


Dulu, siapa yang bersumpah akan saling membahagiakan. Hidup bersama dalam suka maupun duka. Sedih dan bahagia, sakit maupun sehat, sampai hidup dan mati. Masih sanggupkah Sakura mengulang janji suci seperti itu dalam hidupnya kelak jika ia memiliki kesempatan kedua? Tapi, adapun itu kelak, Sakura telah memutuskan untuk tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

.

Sakura duduk di kemudi mobilnya. Dengan hati-hati ia mengemudi, sambil semua pikiran tentang masalalu dan perceraian bersarang dalam otaknya. Rumah sakit adalah tempat tujuannya.

"Sakura!"

Sambutan paling ia kenal, dari suara yang paling ia kenal juga. Baru saja menginjakkan kakinya turun dari mobil. Sakura sudah disambut antusias oleh Tenten yang saat itupun memang baru saja tiba sama seperti dirinya. Sakura tak menggubris. Jiwanya masih belum pulih untuk memedulikan orang lain di sekitarnya. Meskipun itu terlalu terlihat, tapi Tenten tak mempermasalahkannya.

"Aku dengar-"

"Maaf Tenko, aku sedang buru-buru." Sakura memotong kalimat yang keluar dari mulut Tenten. Meski rasanya tidak tega juga memperlakukan hal seperti itu pada sahabatnya. Sambil berjalan, Sakura masih melihat Tenten terdiam dari sudut matanya. Dengan posisi yang memandanginya tidak percaya. "Temui aku nanti jika kau ada waktu." Pesannya sebelum ia benar-benar menjauhi Tenten dengan langkah beratnya.

Tidak adil rasanya, membuat orang lain merasa tersakiti karena kekesalan hati yang menumpuk dalam otaknya. Tapi Sakura benar-benar tak lagi mampu membendung rasa kesalnya. Ia hanya berharap Tenten baik-baik saja dengan itu.

Menapaki jejak berkala dalam runtun waktu yang cukup lama. Setiap orang pasti ingin memiliki akhir yang bahagia. Tentu saja. Sakura juga. Semua orang juga. Siapa yang mau, kerja kerasnya dikhianati dengan kegagalan. Tapi, inilah kenyataan.

Sakura duduk di kursi kekuasaannya. Bermodalkan kekesalan hati yang tak bisa ia ungkapkan. Mungkin hanya tinggal menghitung hari saja, ia akan menjadi seorang janda dari Itachi Uchiha. Dan orang-orang akan menitipkan segala jenis rasa melalui pandangannya. Sebenarnya bukan itu yang sedang ia pikirkan. Menjadi janda bukanlah hal yang menguras kekhawatiran dirinya. Hanya saja, kenapa ia harus mengalami kepahitan ini. Dosa apa yang dulu ia lakukan sampai semua hal seperti ini terjadi dalam hidupnya. Apakah ini balasan dari sikap jalangnya? Jika itu jawabannya, Sakura bisa terima. Tapi, ini bukanlah hal yang harus Itachi terima.

Hanya Sakura yang tahu seberapa besar Itachi mencintainya. Selalu berusaha untuk membahagikannya. Hanya dirinya lah yang tahu seberapa besar Itachi memedulikannya. Jika Itachi memilih untuk berpisah darinya, sanggupkah ia melihat kekecewaan juga kepedihan itu menyelimuti hidup suaminya jika mereka berpisah. Setidaknya, biarkan Itachi bahagia, meskipun tidak begitu untuk dirinya sendiri-Sakura.

Sakura masih tetap mengobrak-abrik perasaannya. Hidup ini menjijikan kalau itu yang harus ia simpulkan. Kenapa kebahagiaan menjadi hal yang paling susah untuk diraih. Sedangkan orang-orang lain bisa tertawa bahagia, sedang ia sendiri tidak.

Sakura menundukkan kepalanya. Jenuh membatin dalam jiwanya. Ini percuma, itu percuma. Alasan kenapa ia menjadi jalang sebenarnya bukan karena ia haus akan belaian. Bukan karena ia tak pernah disentuh oleh suaminya. Hanya saja, ia terlalu jenuh pada hidupnya. Selalu melangkah dalam aturan moral membuatnya jengah. Hidup seperti telah ia jalani selama beradab-abad, namun begitu-begitu saja. Maka dari itu, ia ingin lari. Setidaknya ia ingin mencaci dirinya sendiri. Dengan caranya sendiri. Entahlah, hidupnya sudah terlalu sulit untuk dimengerti.

Sakura meraih lembaran laporan yang sudah harus ditanganinya. Data pasien, hasil pemeriksaan dan kegiatan yang harus ia jalani untuk satu hari ini. Membuatnya kembali teringat pada hasil pemeriksaan suaminya. Sakura masih ingat dengan jelas. Beberapa hipotesis di sana sebenarnya adalah hasil dari pemeriksaannya. Untuk itu, ia merasa terganggu akan nama yang menjadi penanggungjawab yang tertulis jelas di sana, Kurenai.

"Sakura-sensei," Sakura menoleh sejenak saat ia telah mendapati Ino, perawat yang telah berdiri dengan boardlist dalam dekapannya. Menatapnya dengan ragu, karena terkadang Sakura memang bisa menjadi orang yang cukup menakutkan bagi orang-orang di sekitarnya. Sakura tak menjawab, itu artinya ia menunggu gadis ini untuk melanjutkan ucapannya.

"Yukari-san. Pasien yang harusnya dijadwalkan untuk melakukan pemeriksaan dengan anda, membatalkan janjinya." Ucapnya diakhiri pandangan yang teralih dari Sakura. Sepertinya, Sakura tak terlalu memikirkannya. Mungkin ada baiknya juga jika beberapa pasien membatalkan pemeriksaannya hari ini. Sebab ia pun sedang tidak fokus untuk berkerja.

"Ino-san. Hipotesis yang pernah kukerjakan dengan status rahasia itu apa benar dari Kurenai-sensei?" langsung pada inti permasalahan. Setidaknya, ia ingin seseorang membantunya mengingat ketidakpastian dalam pikirannya. Seingatnya itulah yang pernah terjadi. Ino berusaha mengingat. Dan ia mengingatnya.

"Ya, sensei. Kurenai-sensei tak menyertakan identitas atau hal lain selain hasil penelitiannya di sana. Dan, bukankah sebelumnya saja juga sudah mengingatkan?" Ino memandang sosok Sakura yang kini sudah mimijit pangkal hidungnya dengan kedua jarinya. Rasanya begitu sakit diisekitar sana.

"Aku hanya ingin memastikan bahwa aku telah memberikan hipotesis dengan benar." Sakura, tanpa Ino tahu sudah ingin membunuh dirinya sendiri saat itu. "Hasilnya sudah dikirimkan ke Kurenai-sensei dan telah ditelisiknya kembali. Dan lagi pula, mana mungkin anda melakukan kesalahan kan, sensei?" Ino pun tahu seberapa hebat dokter yang kini tengah menjerit dalam batinnya di hadapannya kini.

"Justru itu maksudku Ino-san. Jika saja saat itu aku memberikan hipotesis yang salah, mungkin aku tidak akan semenyesal ini." bisiknya pelan namun terdengar begitu berat. Tidak peduli Ino mendengar atau tidak. Kalimat itu hanya ingin keluar begitu saja dari bibirnya yang bergetar.

Sekarang, Sakura menyesalpun tiada guna. Setidaknya, ia pun turut andil dalam melengkapi data pemeriksaan suaminya sendiri. Dan ikut menyatakan kemandulan untuk suami yang memperistrinya.

Sebelum beranjak dari ruangannya, Ino menyampaikan jika Kurenai datang berkunjung. Kurenai adalah dokter spesialis Andrologi, seorang dokter yang juga berada dalam satu naungan rumah sakit yang sama tempat Sakura bekerja. Tapi, karena Kurenai telah memiliki ruang prakteknya sendiri. Dia menjadi teramat jarang berkunjung ke rumah sakit, jika tidak ada hal yang harus ia kerjakan di sana. Tidak berapa lama Ino pergi dari hadapannya, Sakura memutuskan untuk bangkit dari duduknya. Setidaknya, bertemu dengan Kurenai adalah satu-satunya jalan untuk mengurangi kesakitan hatinya, atau malah semakin menambah. Tidak ada yang tahu.

Sakura melangkah pelan di sepanjang koridor rumah sakit. Ruangan pribadi Kurenai, ada di ujung sana. Beberapa meter dari tempatnya menginjak, semakin ia melangkah, semakin berkurang pula jarak di antara ia dan tujuannya. Sampai pada langkah terakhirnya di ujung langkahnya, ia telah berdiri di depan pintu dengan nama Kurenai di hadapannya. Ragu menyentuh, ragu melangkah bukan lagi hal yang harus ia pikirkan.

Digesernya pintu itu perlahan, sehingga menampilkan pemandangan yang cukup asing padanya dari dalam sana. Kurenai juga Kakashi sudah mengikat pandangan mereka dengan penuh sambutan yang tak lepas dari senyuman.

"Sakura, baru saja aku ingin menemuimu." Ucap Kurenai sambil bangkit. Mengabaikan Kakashi, sang suami yang duduk di atas mejanya.

Hal yang menjadi keraguan Sakura, masih tak bisa ia cerna dalam otaknya. Sebenarnya tak ingin memikirkan, namun semakin lama ia berusaha untuk tak memikirkan, saat itu juga ia semakin tersiksa dengan pikirannya.

"Kakashi bilang, ia merindukanmu." Bisik Kurenai saat ingin mendekap penuh kasih adik kesayangannya. Namun dengan cepat, Sakura menahannya. Melangkah lebih dulu melewati Kurenai yang kini menurunkan kedua tangannya sia-sia. "Ada yang ingin kubicarakan padamu, Kurenai-sensei." Ucap Sakura berat hati.

Kakashi memandang Kurenai penuh pengertian. Mungkin mereka butuh waktu untuk bicara, setidaknya itulah yang Kurenai sampaikan padanya beberapa saat lalu sebelum mereka melangkah masuk ke rumah sakit ini. Sakura duduk di sofa tamu khusus pasien di ruangan itu. Tak ingin memandang kedua orang itu, jika ia tidak ingin tersiksa lebih banyak. Sedang di ujung matanya ia telah melihat Kakashi mengambil tindakan. "Kau tidak perlu pergi Kakashi-san. Kau juga harusnya ada mendampingi istrimu. Karena kau juga harus tahu." Sakura menahan langkah Kakashi yang kini hanya memandangnya bergantian antara istri dan adik iparnya kini. Membuat Kurenai mengelah napasnya ringan. Dengan sebuah senyuman, ia melangkah duduk di hadapan Sakura. Sedang Kakasih lebih memilih tetap berdiri di posisinya.

"Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan. Adik kecil." Seru Kurenai santai. Meski pandangannya terlihat santai, tapi batinnya mengantisipasi.

"Tentang Itachi." Sakura mengangkat kepalanya.

"Kemandulannya?" tanya Kurenai cepat, tanpa memedulikan kesiapan hati Sakura. Kesiapan hati seorang istri yang tahu ternyata suaminya memilih kakaknya untuk memutuskan segalanya.

"Kemandulan Itachi, bukankah kau juga turut peran. Sakura?" tanyanya terlalu santai. Sampai rasanya Sakura muak menahan kesabarannya. Membayangkan bagaimana pemeriksaan yang Kurenai lakukan untuk suaminya. Membayangkan bagaimana teganya sang kakak memperlakukan ini untuknya. Membuat emosi Sakura meluap.

"Dan kenapa kau melakukan semua ini padaku. Nee-san?!" teriaknya keras, mengangkat tangannya ingin melempar apa saja yang berada di sana pada Kurenai. Sebelum akhirnya Kakashi sendiri yang menahannya. Sedang Kurenai sedikitpun tak merasa takut.

"Memang apa yang kulakukan padamu, Sakura. Aku hanya seorang dokter yang berniat membantu pasienku kan?" ucapnya.

Sakura terisak dalam dekapan Kakashi. Berteriak keras dalam dekapan suami kakaknya itu. Meluapkan segalanya. Meluapkan kekesalan yang tak pernah ada habisnya dalam hidupnya.

"Seharusnya kau bersyukur padaku. Setidaknya aku memperlakukan suamimu lebih istimewa dari pasienku yang lainnya." Kurenai bangkit berdiri. Diraihnya tas miliknya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas itu pada Sakura. Sakura mengabaikannya. Lantas Kurenai hanya meletakkannya di atas meja.

"Pemicuh kemandulannya adalah, kecelakaan tujuh tahun lalu yang kau sendiri menjadi penyebabnya." Kurenai tak mau tahu dengan perasaan hati Sakura. Kejujuran itu memang pahit, tapi bagaimanapun itulah kenyataannya. Luka parah yang Itachi alami tujuh tahun lalu adalah mula dari segalanya. Sakura, meskipun dulu ia pernah menyimpulkannya sendiri, tapi ia takut untuk menerima kenyataannya. Dan Kurenai hanya berperan untuk memberanikannya menerima kenyataan itu.

"Aku tak mau mendengar semuanya darimu!" lelah rasanya nurani Sakura jika harus menahan semuanya. Dilepasnya keras kedua tangan Kakashi yang menahan tubuhnya. Melangkah meraih lembaran-lembaran itu dan melemparnya tepat ke wajah Kurenai, kakaknya. Menyebabkan seluruh lembaran berserakan di mana-mana. Hingga dalam sekejap mata, Kakashi membentaknya, "Sakura. Hentikan!" membuat Kurenai hanya mengangkatnya menyentuh lengan suaminya. "Biarkan saja," ucapnya lembut, berlakon sabar memandangi Sakura yang kini sudah terduduk di atas lantai.

"Jika itu aku, aku juga akan bersikap sama sepertinya. Marah, kesal, kecewa, menyesal, tangis, luka, menyerah dan tak berdaya adalah hal yang akan aku rasakan. Biarkan saja. Lebih baik ia menyalahkanku, melampiaskan semuanya padaku, karena itulah gunanya seorang kakak." Serunya pada Kakashi yang kini telah melemah.

"Sakura," Kurenai menyamai posisi Sakura, duduk memandangi adiknya yang terlihat begitu lemah. Terlalu sering ia melihat yang seperti ini dari Sakura. Karena hanya padanya lah Sakura akan memperlihatkannya. "Apapun yang Itachi katakan padamu, turutilah." Ucapnya lembut, sambil meraih puncak kepala adiknya yang masih terseduh penuh dengan ketidakberdayaan. "Kau tidak akan bahagia jika memaksakannya. Dia pun sudah memikirkan segalanya matang-matang. Dan meminta pendapatku." Lanjutnya prihatin.

"Maaf jika aku melakukan semuanya pada suamimu. Tapi aku hanya menjalankan tugasku sebagai dokter, tidak lebih. Dia pria yang baik, aku akui. Tapi kebaikannya hanya akan membuat kalian berdua tetap dalam keadaan yang tak berujung dan tertahan." Kurenai bangkit memunguti satu persatu lembaran kertas yang berserakan di sekitarnya, dibantu oleh Kakashi suaminya. Lalu menyusunnya kembali dan meletakkannya di atas meja.

"Selami hatimu Sakura. Turuti kata hatimu seperti apa yang Itachi lakukan pada kata hatinya. Tanya pada dirimu sendiri, siapa yang kau cintai. Jika bukan Itachi orangnya, menyerahlah saja. Meskipun aku juga tak memaksa kau bersama dengan orang yang kau cinta. Tapi, jangan tanam harapan palsu pada orang yang mencintaimu. Jika kau masih peduli akan hidup Itachi kelak."

Ya, Sakura mau bilang apa. Meruntuhkan gunungpun, hingga membuat bumi terbelah dua tak akan bisa memperbaiki semuanya yang telah terjadi. Semua hal yang menyebabkan Itachi menderita adalah ulahnya. Bersikap pahlawan untuk menjamin kebahagiaan Itachi hingga ia menerima pernikahaan pun adalah kesalahannya. Sampai ia sekarang sadar, hidup tak semudah itu. pengorbanan pun tak seromantis seperti apa yang ia bayangkan. Karena jelas saja hidup yang baik pun kadang masih penuh dengan ketidakpastian, apalagi hidup seperti jalan hidupnya. Fatal lah sudah.


Kakashi memandang wajah istrinya perlahan. Wajah yang menyimpan sejuta luka yang sanggup ia sembunyikan. Membuat Kakashi selalu berhasil untuk mengerti isi hati istrinya, Kurenai.

"Kau sudah menjalankan tugasmu dengan baik, Kurenai." Ucapnya, sambil tetap memperhatikan jalanan di depannya.

Kurenai mengelah napas berat. Ucapan Kakashi terlalu singkat, namun begitu berat untuk dimaknainya.

"Lama-lama aku muak denganmu yang selalu bisa mengerti tentangku dengan tepat." Ucapnya penuh dengan ketidaksukaan. Membuat Kakashi tersenyum ringan.

"Aku terima pujianmu."

Kurenai mendengus kesal, diraihnya tangan Kakashi dari atas kemudi dan mengecupnya ringan.

"Kenapa kau tidak pernah khawatir jika mungkin pekerjaanku bisa memicuhku untuk melakukan hal yang sama seperti yang Sakura lakukan dengan pria-pria lain di luar sana?" tanyanya seadanya. Mengingat bagaimana ia melakukan pemeriksaan dengan pria-pria yang menjadi pasiennya.

"Pikirku, cinta yang kuberikan sudah cukup untuk menahanmu untuk tetap memilihku. Dan sepertinya itu membuatmu tak lagi butuh cinta-cinta tambahan dari pria lain. Bukan begitu, Kurenai-sama?" bisiknya mesra.

"Kau terlalu percaya diri. Tuan muda." Balas wanita itu menepis tangan suaminya.

.

Sakura mengamati setiap lekuk wajah Sasuke dalam tidurnya. Wajahnya yang memesona. Ukiran wajah yang begitu rupawan, rahang yang begitu keras. Tulang hidung yang sangat menawan. Segalanya ada pada Sasuke. Tapi, bukan itu yang membuatnya mencintai Sasuke lebih dari apapun di dunia ini. Sasuke, meskipun mampu menarik ribuan gadis untuk duduk di sampingnya, ia tidak pernah melakukannya. Meskipun dengan satu senyuman ia bisa membuat seluruh gadis bercinta dengannya, ia tidak melakukannya. Sebab Sasuke lebih memilih untuk menunjukkan jati dirinya pada satu gadis yang ia percaya. Satu-satunya gadis yang membuatnya merasa nyaman dan menjadi dirinya sendiri. Satu-satunya gadis yang ia pilih untuk menjadi tempatnya menumpahkan tawa, tangis, kesal, amarah, kasih sayang, perhatian, kekhawatiran, ketidaksukaan, cemburu, dan tujuan hidupnya. Dan itu hanyalah Sakura. Itulah yang membuat Sakura merasa terpilih, dan membalas Sasuke dengan cintanya.

Hingga mereka saling terikat dan mencintai terlalu dalam. Sampai, kepada siapapun mereka berlari, mereka akan tetap saling mencari.

Selama apapun mereka terpisah, mereka akan tetap saling menunggu.

.

.

.

.

.


NB : Terimakasih untuk yang review. Chapter depan saya akan mendekap kalian satu persatu.