.

.

Out of the Blue

==.==

DISCLAIMER chara NARUTO : Masashi Kishimoto

DISCLAIMER STORY : Spica Zoe

Cover Art : CharaKauffmann

Warning : Affair, OOC, NTR, Sakura Centric,

.

.Cerita mengandung unsur antagonis moral.

.Sebab itu tolong jangan benci chara di dalamnya.


.

Waktu tidak akan pernah memberikan kesempatan, meski kesalahan menampilkan kebenaran.

Sakura jatuh terbaring. Tidak di atas ranjang kamarnya; beserta pria yang mungkin tidak akan lagi menjadi suaminya. Ia memilih terbaring di atas ranjang kamar Sarada.

Dilarutnya malam. Terbelenggu dalam kesepian dan kerinduan. Serta penyesalan dan keperihan.

Tak ada lagi airmata. Tak ada lagi isakan. Tak ada lagi caci makian. Tak ada lagi penolakan. Ia telah menyerah.

Telah ditandatanganinya lembaran yang Itachi berikan. Hanya tinggal menunggu keputusan pengadilan untuk memisahkan mereka secara resmi.

Dan semuanya akan berakhir.

.

.

Sasuke duduk di sofa ruang tamu. Tidak sedang melakukan kegiatan yang berarti. Hanya berpikir hal-hal yang mungkin telah lama ia lupakan. Pembicaraan tentang perceraian telah Itachi sampaikan. Tidak ada keterkejutan, karena Sasuke tak menampik jika hubungan Itachi dan Sakura memang tak pernah terlihat baik-baik saja. Sampul mereka telah usang. Dan tak lagi dapat diperbaiki.

Yang Sasuke pikirkan hanyalah, kenapa Itachi menyampaikan "Aku tidak ingin seorang penerus Uchiha dari wanita lain selain Sakura."

Sasuke mengeluarkan kembali, benda yang beberapa waktu terakhir ini masih begitu sering ia baca. Berulang-ulang dengan perasaan yang tak terartikan. Sebuah kartu ucapan yang Sarada tulis untuk Sakura.

"Ibu Sakura, selamat ulang tahun untukku. Terimakasih untuk Ibu Sakura yang telah menjagaku. Sarada sayang sama Ibu Sakura. Ibu Sakura sayang tidak sama Sarada? Sama Ayah? Tadi pagi setelah bangun tidur, Sarada berdoa. Kata Ibu guru, berdoa di hari ulang tahun akan dikabulkan. Jadi Sarada berdoa, supaya Ibu Sakura dan Ayah jangan marahan terus. Lalu, Sarada juga ingin tidur bersama Ibu Sakura dan Ayah bersamaan. Saat Ibu Sakura membacakan dongeng, Ayah yang tertidur, dan kita tertawa melihatnya. Tuhan gak marah 'kan, kalau Sarada lebih sayang Ibu Sakura dari pada Ayah?

Sudah berkali-kali ia membaca tulisan dari tangan mungil itu. Berkali-kali juga membuat dadanya sesak akan kesedihan. Impian seorang bocah yang begitu mencintai Sakura. Begitu mencintainya tak terkira. Yang hanya bisa ia tuang dalam tulisan polos yang membuat Sasuke tak sanggup membayangkannya.

Sasuke tak sanggup menikmati kesedihan dan kerinduan ini seorang diri. Memikirkannya membuat bayang-bayang Sarada semakin kuat mengikat. Bangkitlah ia, melangkah meninggalkan ruang tamu dan menuju tempat di mana ia bisa merindukan sang buah hati lebih banyak.

.

.

Malam menjadi semakin dingin dengan tetesan air hujan yang membasahi tanah. Sakura masih terdiam dalam dekapannya di atas ranjang Sarada. Itachi belum pulang, atau mungkin tidak pulang, tidak lagi menjadi hal yang bisa ia permasalahkan meskipun ingin. Ia sudah tidak berhak. Ia sudah memiliki batasan untuk merasa tidak berhak. Rumah ini akan menjadi semakin terlelap dalam kesunyian. Sejak awal, kemaatian Sarada memang sudah membuat rumah ini mati rasa. Hampa.

"Kau di sini Sakura?"

Sakura mengangkat kepalanya sesaat ia mendengar suara Sasuke menariknya dari ketenggalaman kesunyian. Dengan ekspresi sama datarnya. Mereka saling memandang.

"Maaf." ucap Sakura seraya berbisik. Bangkit dengan gerakan lembut, dan mencoba untuk menarik diri. "Aku salah kamar." Lanjutnya lagi dan mencoba untuk meraih tas jinjingnya yang sebelumnya ia letakan di atas nakas. Melangkah kecil melewati Sasuke yang masih berdiri pada posisinya. Maaf? Untuk apa? Kau tidak melakukan kesalahan Sakura.

"Kau terlihat begitu lelah?"

Sakura terhenti. Bukan hanya lelah. Ia bahkan sudah hampir mati tersiksa. Kemampuannya berdiri untuk saat ini hanya karena rasa penyesalan yang begitu besar. Mengangkuhkan dirinya dengan keterpurukan tak berperasaan. Nista.

"Ya," Sakura mencoba untuk tersenyum. Mengangkat tangan untuk mengumpulkan beberapa helai rambutnya yang terjatuh, dan menyimpannya dibalik telinga. Senyum getir.

"Sangat lelah, Sasuke-kun." Tak memandang, namun mereka berdiri saling berdampingan. Membisu sekejap karena sambaran petir mulai mengisi kegelapan. Sunyi yang begitu menyedihkan.

Remuk rasanya, mendengar Sakura menyebut namanya dengan nada seperti itu. Nada suara yang begitu rapuh dan terasa begitu lemah dan meminta pertolongan.

Sasuke tak lagi diam saat ia mengingat apa yang sedang ia genggam. Memberanikan diri menatap Sakura. Meski Sakura tak punya niat membalas tatapannya. Ia mengulurkan tangan menyerahkan benda itu pada Sakura.

"Kutemukan dari mobilmu waktu itu." ucap Sasuke telah menarik tatapannya. Sakura memandangnya bingung. Tapi, tak butuh waktu lama baginya untuk membuka dan membacanya.

.

.

"Aku tidak bisa, Itachi." Sakura mengigit bibir bawahnya getir. Itachi menatapnya dengan perasaan yang bergejolak. "Aku punya beberapa urusan, dan aku tidak bisa." Sakura menghindari tatapan Itachi yang lebih banyak padanya. Mengajaknya menemui Sasuke dan kekasihnya yang sedang hamil, hanya direspon Sakura dengan penolakan. Saat itu pikiran Itachi sangat kalut, takut jika Sakura mungkin masih menyimpan rasa untuk Sasuke yang kini telah menghamili gadis lain dan akan segera menjadi seorang ayah.

Tapi, bagi Sakura bukan itu. Ia memang sedang ada urusan. Dan ia tak bisa meninggalkan. Kegetiran Sakura hanya karena ia takut penolakannya diartikan Itachi berbeda.

Dan itu terjadi.

Sejak saat itu, Itachi menyimpan perasaan itu seorang diri.

Sakura masih mencintai Sasuke.

Sakura masih mencintai Sasuke.

Hanya itu yang berputar dikepalanya. Hingga ia melupakan apa yang sebenarnya harus ia pikirkan.

Sasuke memilih menginap di rumah Itachi dengan Karin saat itu. Alasan tersembunyinya hanya karena ia ingin melihat wajah Sakura, sekali saja setelah ia menikah. Untuk memastikan siapa yang lebih menderita dari mereka berdua, bukan siapa yang paling bahagia. Tapi, saat Itachi mengabari, Sakura pun memberi alasan ia tidak bisa pulang saat itu.

Dan perasaan Itachi tentang 'Sakura masih mencintai Sasuke' semakin mendalam.

Sakura tak pernah mau memberi penjelasan kenapa ia tidak pulang. Hingga Itachi mulai merubah sikapnya, dan menetapkan secara sepihak bahWa Sakura masih tidak bisa melupakan Sasuke.

.

"Malam itu, kenapa kau tidak memberitahukan pada Itachi alasan ketidakpulanganmu sebenarnya hanya karena Kurenai-san mengalami keguguran," Sasuke mulai bersuara. Meski Sakura masih memberi fokusnya pada benda di tangannya. "Bukan karena kau takut bertemu denganku." Lanjutnya getir. Banyak penyesalan yang menguap di antara mereka. Tak terkatakan dan tak lagi bisa tertahankan.

Sakura mengabaikan kalimat Sasuke, airmatanya tak bisa ia tahan untuk saat itu setelah semua kata yang ada di sana ia terjemahkan dalam satu perasaan yang menyedihkan. Ucapan Sarada untuknya. Kenapa baru ini ia membaca kartu ucapan itu, sedang ia sudah menerimanya lama. Kenapa setelah Sarada meninggal.

"Sa-sarada." Isaknya dalam tangis. "Aku ... tidak sempat membalas kasih sayangnya, Sasuke. Kenapa aku begitu kejam?" Sakura tak lagi tahan menumpu dirinya sendiri. Ia terjatuh lemah, mengadu pada lantai untuk menampung semua tetesan air matanya. Menunduk pedih, malang tak berdaya. Sasuke tak melakukan apa-apa untuk Sakura. Ia juga sama sakitnya. Bertahan dalam kepedihan yang sama, Sasuke hanya memilih untuk mengangkat kepalanya agar tak ada tetesan yang menjejaki pipinya.

Semoga.

.

Gaara meremas dadanya. Kesakitan itu juga mencederai perasaannya. Ia bersembunyi di balik pintu, sedang Sakura dan Sasuke masih diam di dalam ruang kamar Sarada. Hanya isakan-isakan kecil Sakura yang ia tangkap sebagai bumbu kepedihannya.

"Jangan pernah mengabulkan gugatan perceraian Itachi, Sakura." Sasuke memandang Sakura yang masih menunduk. "Karena jika kau melakukannya, kau akan berakhir denganku." Lanjutnya sesak.

Bukannya Sasuke tidak ingin Sakura kembali padanya. Tapi, dari pada memikirkan dirinya sendiri, kini Sasuke sudah jauh lebih dewasa untuk memikirkan apa yang Sakura inginkan. Pesan Itachi untuk memiliki keturunan Uchiha dari rahim Sakura bukanlah ucapan semata. Itachi rela menceraikan Sakura hanya untuk kembali kepada Sasuke, bukan pada pria lain.

"Aku akan menceraikannya, memilih menceraikannya karena aku ingin kau memilikinya kembali, Sasuke."

Sasuke tahu itu bukan omong kosong. Itu keinginan. Itu adalah sebuah impian dan ambisi. Sakura tidak boleh mengandung benih dari pria lain selain keturunan Uchiha.

"Bukankah itu keinginanmu?"

Sakura bangkit. "Agar aku kembali padamu." ucapnya terdengar berat. Sasuke melirik wajah wanita itu sebentar, dan mendapati satu ekspresi yang tak ia kenal dari Sakura.

"Apa kau masih mencintaiku Sasuke?" tanyanya. Memandang Sasuke yang nyaris bungkam. Sampai akhirnya Sakura mendekatkan diri memandang pria itu intim.

"Iya." Tahannya dengan nada sesak. Sakura menyeringai pedih.

"Kalau begitu, ayo menikah, dan buat Itachi menderita." Bisiknya mulai kehilangan kendali. Ditariknya tubuh Sasuke dalam satu dekapan, namun Sasuke menolak keras. Ini bukan Sakura, ini bukan Sakura yang ia kenal.

Apa rasa frustasi dan kepedihan bisa membuat orang menjadi segila ini?

"Kau gila Sakura! Kembalilah pada dirimu yang dulu." Kecam Sasuke menepis keras tangan Sakura dan mengatur langkahnya mundur. Lebih dari apapun, Sasuke paling sakit jika melihat Sakura menjadi seperti ini. Kehilangan kendali dan baru ini pertama kali ia melihatnya.

"Kau benar! Aku sudah gila!" Sakura kesal. " Untuk itu, aku mohon. Beri aku kesempatan untuk memulihkan diri, Sasuke." lanjutnya dengan amarah yang kini telah melemah.

Sasuke terdiam sejenak. Sakuranya telah kembali.

Kenapa nasib mereka jadi seperti ini. Dosa apa yang dulu Sasuke lakukan hingga ia kehilangan Sakura.

"Ini salahku." Sasuke melangkahkan kakinya meraih wajah Sakura dengan sentuhan tangannya lembut. "Jika saja saat itu aku tidak melakukan kesalahan karena tidak mengakuimu sebagai kekasihku di hadapan Itachi, mungkin kita sudah bersama saat ini." bisiknya perih. Membuat Sakura kembali teringat masa-masa yang lalu di antara mereka. Kenapa ini begitu menyiksa. Kenapa ini begitu ingin membunuhnya. Perasaan dari masa lalu yang terungkap, membuat Sakura hilang kendali. Ditariknya Sasuke dan mendekapnya dalam tangis. Menyembunyikan dirinya di dada bidang sang mantan kekasih agar suara jeritannya teredam dan tersamarkan.

Sasuke mengikatnya begitu erat. Merasakan getaran dari tubuh Sakura yang meraung dalam dadanya.

"Ini salahku, jika saja aku mau sabar menunggu. Jika saja aku sedikit lebih dewasa untuk mengerti tentangmu. Mungkin kita sudah bersama saat ini."

Sasuke merasakan punggungnya tercengkeram begitu kuat oleh genggaman Sakura. Luapkan saja Sakura. Mungkin inilah saatnya.

"Ini salahku. Jika saja aku tidak melakukan semua kesalahan. Mungkin kita sudah bersama."

.

"Sakura,"

Gadis itu menoleh ringan.

"Aku mencintaimu."

.

Gaara meninggalkan tempatnya saat teriakan Sakura mengisi seluruh pendengarannya. Kau pantas untuk merasakan kebahagiaan Sakura, batinnya menghitung langkah. Sedang di ujung sana sudah ia dapati, si tua Sarutobi menatapnya dengan penuh keprihatinan. Wanita tua itu juga mendengar jeritan Sakura. Jeritan pengakuan, atas apa yang ia tahan selama ini.

"Dia telah melakukan sesuatu yang benar." Gaara berucap penuh getaran dari nada suaranya yang terdengar. Menahan rasa sedih karena telah kehilangan cinta dari wang wanita yang ia harapkan. "Hanya Sasuke lah yang bisa membuatnya sejujur itu pada perasaannya." Lanjutnya terdengar iba. Sarutobi tersenyum, setidaknya ia juga merasa harus jujur jika yang seperti inilah yang ia inginkan. Sakura jujur pada dirinya sendiri. Dan Gaara mulai memahami kekalahannya. Ia tahu, tak seharusnya ia bersyukur atas semua yang terjadi, karena semua yang terjadi telah menimbulkan kepedihan bagi semua orang. Tapi, mungkin inilah yang sudah ditakdirkan.

"Sejak dulu, mereka memang sudah ditakdirkan bersama. Mereka yang bertaruh nasib, memilih berpisah dan berakhir dengan kepedihan."

"Mereka masih saling mencintai." Bisik Gaara.

"Terlalu sangat mencintai."


Sakura membuka matanya perlahan. Suara kicauan burung yang saling menyahut dari kebun belakang yang tidak terlalu jauh dari jendela kamar Sarada menyambut kesadarannya. Matanya sembab, terasa berat. Ia belum bisa mencerna apa yang telah terjadi padanya malam tadi, sampai ia merasakan ada sesuatu yang terasa berat di genggaman tangannya.

Sasuke duduk dan tertidur di sisi kanannya, dengan tangan yang masih saling menggenggam. Dan entah Kenapa, Sakura memilih untuk tidak membangunkan Sasuke. Ditariknya tangannya yang lain, dan mengusap puncak kepala Sasuke dengan lembut. Sejenak ia lupa masalah batin yang tertimbun dalam hatinya. Ia merasa hangat hanya dengan terjebak dalam keadaan seperti ini dengan Sasuke entah karena apa.

Dan untuk pertama kali, Itachi melihat senyuman tercipta di wajah Sakura setelah sekian lama.

Sakura menoleh ke sisi lain, dan tanpa ia sadar. Itachi sedang duduk bersila menatap kepadanya.

"I-Itachi-" serunya ingin bangkit. Namun Itachi lebih dulu mendahuluinya.

"Tidak apa, tidurlah lagi. Aku senang, melihatmu tersenyum seperti tadi." Bisiknya lembut. Menarik selimut untuk lebih hangat membungkus tubuh Sakura. "Kau sudah begitu lelah, tujuh tahun bukanlah waktu yang percuma untuk menahan semua kesakitan hanya karena takdirmu terikat padaku. Kau orang yang kusayangi, begitupun Sasuke. Melihat kalian seperti ini, membuatku jauh lebih bahagia dari apapun. Istirahatlah Sakura, kepedihanmu telah berakhir. Tidak ada pria jahat yang rela menunggui wanita yang ia cintai terbangun dari tidurnya dengan cara seperti ini." Itachi tersenyum begitu hidup saat itu, membuat Sakura yang memandangnya tak percaya. Pria jahat, itu menunjuk pada Sasuke 'kan? Jelas saja, sejak dulu, Sasuke memang bukan pria jahat.

"Itachi."

"Ya."

"Maafkan aku."

Itachi menyulap satu senyum di wajahnya. Bukan, ini bukan salah Sakura. Tentu saja. Dikecupnya kening Sakura lembut dan mengusap pipinya.

"Begitupun aku."

.

.


NB : Saya ingin membuat pengakuan sedikit, bahwa saya merasa begitu kecil di fandom ini. Jadi mohon maaf telah membuat semua orang dari fandom ini merasa tidak nyaman dengan keberadaan saya. Saya tahu saya salah. Jadi saya mohon maaf karena telah lancang mengotori fandom ini. Sekali lagi, maaf.