.

.

Out of the Blue

==.==

DISCLAIMER chara NARUTO : Masashi Kishimoto

DISCLAIMER STORY : Spica Zoe

Cover Art : CharaKauffmann

Warning : Affair, OOC, NTR, Sakura Centric,

.

.Cerita mengandung unsur antagonis moral.

.Sebab itu tolong jangan benci chara di dalamnya.


Out of the Blue

.

Perceraian ini, Sakura harus memberitahukan langsung kepada ibunya. Tidak lucu jika tiba-tiba ibunya mendapati, putri bungsunya telah menjadi janda tanpa ia ketahui bagaimana bisa. Untuk itu, Sakura memutuskan untuk berkunjung.

Hubungan mereka tidak pernah akur layaknya ibu dan anak. Sakura pernah melakukan kesalahan yang menjadi ganjalan paling besar dalam hubungan darah di antara mereka. Karena itu, ia tidak tahu bagaimana caranya untuk memulai berbicara.

"Jangan membantah Sakura! Aku membenci seluruh darah Uchiha di seumur hidupku."

Sakura masih ingat kalimat itu. Kalimat yang keluar dari bibir ibunya saat ia mengakui Sasuke sebagai kekasihnya, diawal-awal kisah mereka. Awalnya, Sakura pikir itu tidak apa. Ia masih melanjutkan jalinan kasihnya dengan Sasuke dengan setulus hatinya, meskipun ibunya tak pernah ingin mengingini apa yang tengah ia lakukan.

"Semua terserah padamu, kau sudah cukup dewasa untuk memilih apa yang kau mau." Kurenai yang berbicara. Mengambil tempat untuk duduk di samping Sakura sambil meneguk segelas air dingin yang ia yakinkan bisa melepas dahaganya. Tengah hari, Kurenai mendapati Sakura melamunkan sesuatu di ruang makan.

Bagi Sakura, Kurenai adalah kakak yang paling ia cintai. Bisa ia jadikan teman, lawan, sekaligus pengganti ibu yang bisa dengan mudah memahaminya. Kenyataan yang paling menyebalkan adalah, perhatian ibunya tak lagi pernah ada saat ayahnya meninggal dunia.

"Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada Kaa-san dan kenapa dia begitu benci dengan keluarga Uchiha." Bisik Sakura menyembunyikan wajahnya dalam dekapan antara tubuhnya dan meja makan. Sedang Kurenai, hanya terlihat sedang memikirkan sesuatu yang baru Sakura bisikan tadi secara berlebihan. Terhenti gerakannya saat meneguk sisa air dalam gelasnya. Lalu, setelah membiarkan waktu berlari lebih banyak, kembali ia melanjutkan gerakannya.

"Suatu saat nanti kau pasti akan tahu." Ucapnya melangkah menjauh.


Sakura tersadar dari lamunannya saat ada sesosok bayangan mulai memenuhi pandangannya. Pria bersurai perak itu melambai dan tersenyum padanya. Sakura, tak merespon. Tapi, ia lebih memilih untuk bangkit dan melangkah mendekatkan jaraknya pada pria itu, Hatake Kakashi, suami kakaknya.

"Selamat siang, Sakura." Kakashi meraih puncak kepala Sakura dan mengusapnya lembut. Senyum tak luput dari wajahnya, sedang Sakura hanya menepis datar perbuatan kakak iparnya itu.

"Jangan pernah lakukan itu saat sedang berada di tempat umum." Ucap Sakura memandang angkuh, membuat Kakashi tertawa sedikit nyaring. Tidak pernah berubah, Sakura-nya tidak pernah berubah cara dalam menghadapinya. Ya, tidak berubah meskipun beberapa hari lalu ia dan Kurenai sempat bertengkar di depan matanya. Kakashi pikir, Sakura akan mendendam juga padanya, dan ternyata tidak.

"Terimakasih karena masih menjadi Sakura-ku yang dulu." Seru Kakashi lembut.

"Aku bukan Sakura mu!" balas Sakura kesal. Bukannya merasa tersinggung, Kakashi kembali tertawa. "Tidak berubah." Bisiknya.

.

"Katakan, apa yang kau lakukan di tempat ini?"

Kini Sakura sudah duduk berhadapan dengan Kakashi di dalam ruangannya. Duduk bersila memandang Kakashi yang tak pernah ingin menjauhkan pandangannya dari Sakura.

"Tentang perceraianmu, kakakmu menunjukku sebagai pengacaramu." Jelas Kakashi penuh keseriusan. Mendengar itu, Sakura menelan ludahnya perih. Rasanya seperti sudah ribuan tahun kerongkongannya tak terjamah oleh sejuknya air.

Ada satu kejanggalan yang ia rasa tak pernah lepas dari hidupnya. Meskipun begitu banyak kesakitan yang ia hadapai, tapi rasanya begitu banyak orang-orang yang terlalu peduli padanya. Ia tidak pernah menyayangkan kenapa ia tidak bisa membalas kasih sayang mereka satu persatu dengan benar, tapi yang ia sayangkan hanyalah, kenapa begitu banyak orang yang terlalu percaya padanya, dan menyayanginya.

"Aku masih belum setuju untuk bercerai dengan Itachi." Sakura sedikit berdusta. Sejujurnya ia masih tidak sanggup. Tidak ada keberanian untuk mengatakan alasan kenapa ia masih tak begitu yakin meninggalkan Itachi meskipun Itachi sudah bersedia melepaskannya.

"Kau tidak berbakat berbohong, Sakura." Kakashi menarik satu simpul di wajahnya. Meski bagi kebanyakan orang senyum seperti itu diartikan dengan senyuman penuh daya tarik yang mampu membuat seluruh wanita jatuh dalam jerat dayanya. Tapi bagi Sakura itu senyuman yang penuh dengan tebasan yang penuh kemisteriusan. Ia tidak hanya setahun dua tahun mengenal Kakashi. Ia mengenal pria itu bahkan sejak ia pertama kali menangis di dunia ini.

Kakashi tidak cukup yakin memberikan banyak waktu bagi Sakura untuk terus berpikir. Masih ada keperluan yang harus ia tangani. Sambil memandang arloji pada tangan kirinya, Kakashi bangkit dari posisi duduknya. Diperbaikinya kancing jas nya yang tertanggal, dan menatap Sakura mantap, yang saat itu memang sedang memandangnya.

"Belum ada kesepakatan antara kita, untuk saling bekerja sama. Tapi Kurenai menunjukku untuk menjadi pengacaramu. Itu karena ia begitu menyayangimu." Kakashi melangkah menjauh. "Pikirkan dengan matang Sakura." Akhirnya dan menghilang dari pandangan Sakura.

.

Sejak dulu, keyakinan sudah pergi jauh meninggalkan Sakura. Jadi, untuk kali ini, ia memang tak begitu yakin dengan apapun yang akan ia putuskan. Ia takut salah melangkah. Takut menjadi buta dan terus-menerus tersesat di dalam dunianya.

Sesekali, ingin rasanya ia membuka mata. Tapi, saat ia mencoba, hanya Sasuke lah yang terus ia temukan di sana. Itulah kenapa ia takut untuk membuka matanya. Takut menyadarkan dirinya karena ia tak mau semua tentang Sasuke masih terus membayanginya. Biarlah ia buta. Tersesatpun tak mengapa. Tapi, itulah yang membuatnya begitu tersiksa.


"Menikahiku hanya karena dia merasa berhutang budi padaku."

Itachi mengangkat segelas whisky yang sudah berada di dalam genggamannya. Senyuman yang tak terlalu di nikmati Kurenai, yang kini hanya duduk memandangnya. Tatapan kesedihan dan lara yang terlalu mengakar iba ia dapati dari setiap gerak tubuh Itachi di hadapannya.

Entah setan apa yang merasuki Kurenai, juga Itachi beberapa waktu lalu. Di sisi lain, Itachi begitu kesepian karena tak tahu dengan siapa lagi ia bisa membagi deritanya. Lalu tanpa perhitungan panjang, ia menelpon Kurenai dan akhirnya mereka berakhir di sini. Di sebuah bar bagian dari ruangan kelas atas dari sebuah hotel ternama. Itachi begitu menyukai tempat ini.

"Kau terlalu banyak minum, Itachi." Bisik Kurenai seakan tidak begitu peduli.

"Hanya karena aku menyelamatkan nyawanya, dan dia melepaskan semua kebahagiaannya untuk merengkuh kepedihan bersamaku." Sambung Itachi lagi, kali ini dengan wajah menunduk yang begitu terpuruk. Ia tidak sedang mabuk, jika Kurenai tebak. Ia masih berekspresi sama dengan Itachi yang ia kenal. Tapi, napasnya memang terasa mulai berat, dan suara yang terdengar basah.

"Aku pun akan melakukan hal yang sama jika aku berada dalam posisinya." Kali ini Kurenai bersuara.

Sudah lama mereka tak sedekat ini.

Sudah begitu lama.

"Apa kau meyesal Kurenai-san?" entah kenapa, mendengar pertanyaan itu membuat satu detakan keras untuk sepersekian detiknya di jantung Kurenai. Memberanikan diri menatap Itachi. Yang ia temukan hanya raut wajah penuh kekecewaan.

"Jika kau tanya padaku, aku akan bilang jika aku begitu menyesal." Bisik Itachi lemah.

Kurenai tak pernah menduga ia akan terjebak dalam pembicaraan ini dengan Itachi. Tak pernah membayangkan jika ia harus mengulang lagi masa lalunya yang kelam dengan pria ini. Kurenai meneguk isi gelasnya dengan cemas, berusaha menyembunyikan diri dari tatapan Itachi namun rasanya tidak bisa.

"Menyesal, karena telah meninggalkanmu dulu."

Dan satu kalimat itu sanggup membuat Kurenai berhenti bernapas untuk beberapa detik. Hal yang ia khawatirkan terjadi. Dan Itachi mengungkap kembali kesakitan hatinya untuk beberapa tahun kelam yang telah ia tutupi dengan kebahagiaan.

"Aku tidak berniat menemanimu jika kau kembali mengungkit masa lalu tentang kita Itachi." Kurenai menggenggam keras gelas dalam dekapannya. Sisa dingin yang masih menempel tak terlalu bisa lagi ia bedakan dalam kulitnya. Itachi tertawa, lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri.

"Seandainya saat itu aku mengakui anak yang kau kandung sebagai anakku," Itachi menarik napasnya sejenak, dan Kurenai hanya tertunduk diam tanpa kata. "Mungkin saat ini aku tak akan merasa setidakberguna ini sebagai laki-laki."

.


.

Sakura berhenti sejenak dalam langkahnya. Untuk saat ini ia sudah berdiri di sebuah pintu besar yang kokoh. Rumah yang ia rindukan, tempat ia di besarkan. Masih teringat sedikit memori-memori indah antara ia dan Kurenai di sana. Perbedaan umur yang cukup jauh di antara mereka, membuat ia dan Kurenai dekat penuh dengan kasih sayang, jarang terjadi pertengkaran. Sebab Kurenai sangat menyayanginya. Sakura menarik napasnya dengan perasaan bergetar. Perutnya terasa sakit karena rasa gugup menyelimuti keberaniannya. Bertemu dengan ibunya terasa tak ada bedanya dengan menghadapi raja kematian, jika Sakura tidak berpikir berlebihan.

Sakura memberitahu keberadaannya, dan tidak lama salah satu pekerja di rumah ibunya membukakan pintu untuknya. Pria tua itu menunduk sopan menatap Sakura yang juga sama tersenyum memandangnya. Jiraya tua, orang kepercayaan kakek neneknya saat mereka masih hidup di dunia.

"Apa ibu ada di rumah, paman?" tanya Sakura bimbang. Pria tua itu tersenyum, menyingkirkan dirinya dari hadapan Sakura dan membiarkannya masuk dengan perasaan senang. Ia tak mengatakan sepata katapun, sebab ia memang tak bisa berbicara. Sakura mengangguk peduli sebelum ia melangkahkan kakinya lebih banyak ke dalam rumah. Aura kenangan masa kecil menguar dalam batinnya. Sanubarinya rindu akan setiap kepingan yang berbenturan dalam ingatannya. Rumah yang ia rindukan, dan kenangan-kenangan kebahagiaan yang pernah ia rasakan. Berbeda dengan hidupnya yang sekarang. Membandingkan itu, entah kenapa rasanya Sakura ingin menangis. Andai saja ia tak membantah ucapan ibunya, ia tak akan mendapatkan kepedihan ini untuk menjadi jalan hidupnya.

Sakura tiba tepat di hadapan ruang ibunya. Ruangan itu cukup besar. Karena di dalamnya sudah terdapat ruangan-ruangan lain yang bisa memudahkan ibunya untuk beraktifitas. Sakura mengangkat tangannya ragu, ingin mengetuk, tapi seakan ia lupa bagaimana caranya untuk mengetuk. Seketika menjadi bodoh hanya karena perasaan bersalah luar biasa mengambil ahli otaknya.

Apa ia layak memandang wajah ibunya? Ia tidak begitu yakin. Sampai pada satu titik keberanian mendorongnya untuk tetap bertahan.

Tiga ketukan ia sumbangkan. Dan sang ibu meresponnya dengan perintah masuk yang tak ia duga terdengar dari dalam sana. Sakura mendorong pintu besar itu, dan mulai melangkah masuk ke dalam kamar sang ibu. Berdoa sepenuh hati agar ia diberikan kekuatan untuk menatap wajah ibunya. Dan saat ia berusaha merapalkan doa, tak sengaja mata mereka berpandangan begitu nyata.

Sakura menelan ludahnya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" pertanyaan yang membuat Sakura membeku. Seakan ia tidak begitu diinginkan kembali melepas rindu. Tsunade, wanita tua yang tidak begitu tampak dari umurnya itu melepas kaca matanya. Ia sedang menulis sesuatu yang tak begitu Sakura tahu. Menatap Sakura secara menyeluruh dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya.

"A-apa kabar, Kaa-san." Sakura mengeratkan genggamannya pada tas yang ia jinjing di kedua tangannya. Ia gugup, tubuhnya gemetar.

Tsunade bangkit dari kursinya. Merelakan beberapa pekerjaannya terhenti demi memandang berharga sang tamu yang tidak ia duga. "Lebih baik dari yang kau kira." Balas wanita itu terlalu dingin. Sikap dingin yang bisa membunuh Sakura sewaktu-waktu.

"Katakan apa yang ingin kau katakan, jangan buang waktuku hanya untuk mendengar apa yang tak terlalu penting yang keluar dari mulutmu."

Terasa lagi, sayatan yang begitu kuat mengikis keteguhan Sakura secara membabi buta. Ia selalu paham bagaimana rasa benci ibunya padanya. Tapi rasanya mengapa semenyakitkan ini.

"A-aku akan bercerai dengan Itachi." Sakura memberanikan diri bersuara. Langsung ke pada intinya, agar ia punya keberanian lebih lama untuk bertahan di sana tanpa mengulur-ngulur waktu untuk lebih lama berhadapan dengan ibunya. Sedang Tsunade, merespon pengakuan Sakura, ia meletakkan kasar pena yang masih ia genggam di atas permukaan meja, hingga membuat Sakura berlonjak kaget.

"Mati pun kau, aku tidak peduli."

Untuk pertama kali, Sakura merasa tidak semua orang menyayanginya. Meskipun semula pemikiran itu menenangkan jiwanya.

Sakura tak bisa menjaga betapa lancangnya air matanya jatuh membasahi lantai mewah rumah ibunya, kalimat itu terlalu melukainya.

"Ma-maafkan aku." suaranya bergetar.

"Keluar lah. Jika kau sudah selesai dengan bualanmu. Aku tak punya banyak waktu untuk dibuang dengan cara seperti ini hanya karena ketidakpentinganmu."

.


.

Kurenai tidak mau menjadi lemah seperti dirinya yang dulu. Untuk itu, ia merasa tak perlu harus terlalu iba dengan semua ucapan Itachi padanya. Masa lalu tentang mereka, kelamnya tak terhingga.

"Jika kau menyesal, menyesal lah seorang diri Itachi. Karena aku tidak." Kurenai memaksa wajahnya tersenyum, agar ingatan itu tak lama-lama membekas dalam memorinya. Itachi mendengus pasrah. Ya, ia tidak punya banyak kesempatan untuk membela dirinya sendiri, di depan orang yang pernah ia sakiti.

"Kalau begitu maafkanlah aku. Atas apa yang kulakukan padamu dulu."


Enam belas tahun. Kurenai tak tahu harus berbuat apa saat ia mendapati ia telah mengandung janin di umur yang sama sekali tak pantas. Ia menyeret Itachi untuk berbicara serius akan apa yang telah mereka lakukan. Tapi Itachi malah tidak mau peduli dengan apapun. Alasannya, Itachi masih belum dewasa untuk merasa bertanggung jawab. Umur mereka setara. Lalu, apakah menurutnya, Kurenai juga pantas bertanggung jawab seorang diri atas kesalahan yang mereka buat bersama? Itachi melarikan diri saat ayah dan ibunya berpihak untuk tidak mau membantu anaknya bersikap dewasa. Meninggalkan Kurenai dengan keterpurukan yang tak berkesudahan. Kurenai memilih untuk bungkam seribu bahasa saat kehamilannya diketahui oleh Tsunade.


"Tak usah kau putar lagi memori buruk itu Itachi. Sekarang masa depan menyambut kita dengan penuh kedewasaan." Kurenai memang telah melupakan segalanya. Segala hal yang menyakitinya. Baginya, tak perlu berlama-lama larut dalam masa lalu yang tak ingin ia ingat.

"Jika saja anak itu bisa kupertahankan. Mungkin saat ini aku sudah memiliki keturunan." Itachi membayangkan segala kemungkinan, membuat Kurenai tertawa lembut untuk menghargainya. Membayangkan hal-hal yang begitu laknat yang pernah mereka lakukan di masa muda.

"Kau tahu? Saat itu aku pernah berpikir. Jika aku melahirkan di umur tujuh belas tahun, maka Sakura akan menjadi seorang tante di umur tujuh tahun." Kurenai membuatnya sebagai candaan. Meskipun tak berniat untuk menghina kenangannya.


Tsunade berang, ia meminta seluruh anggota Uchiha bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi pada putrinya. Tapi tidak ada kedewasaan yang mereka tunjukkan. Hingga mereka memilih untuk menyembunyikan Itachi ke luar negeri, dan membiarkan Kurenai merana seorang diri. Tsunade memeluk putrinya penuh dengan kedamaian. Banyak keperihan yang bersarang dalam hatinya. Apa ini karena ulahnya di masa muda, yang juga melakukan hal yang sama dengan pria yang menjadi ayah sesungguhnya Kurenai?

Mendekap Kurenai dengan keikhlasan, Tsunade menerima keadaan sang anak apapun yang terjadi, dengan sumpah ia tak akan memberi ampun Uchiha atas apa yang mereka perbuat pada anaknya. Tapi, kemalangan menjawab semuanya. Kurenai mengalami kecelakaan saat janinnya berusia tujuh bulan dan mengalami keguguran.


"Kau sudah tahu kenapa aku begitu membenci Uchiha." Tsunade berbalik. Memunggungi Sakura yang tak pernah ingin menunjukkan isak tangisnya. "Tapi kau tidak pernah paham kenapa aku begitu ingin melihat kalian bahagia." Kalimat terakhir yang membuat Sakura merasa menyesal telah melukai hati ibunya.


"Dan maafkan aku, yang juga tidak tahu jika Sakura ternyata adalah adikmu."

Kurenai diam sesaat, lalu memandang Itachi lembut. "Kau tidak salah, karena kami memang memakai marga yang berbeda."


"Maafkan aku yang tidak terlihat bahagia, Kaa-san."

Ya, Sakura sepenuh hati memohon maaf karena ia tak bisa membuktikan pada ibunya jika Uchiha tidak seperti yang ibunya katakan.


"Karena aku dan Sakura memiliki ayah yang berbeda."

"Jadi, apakah sekarang kau bahagia, Kurenai-san?" setidaknya Itachi pernah mencintai wanita yang duduk dihadapannya ini di masa lalu. Hanya saja, ketidakdewasaan dan keluarganya membuat mereka terpisah. "Aku ingin tahu, karena kau pernah menjadi gadis yang sangat kucintai, dulu."

Mendengar itu, Kurenai tertawa cukup lepas kali ini. Ditatapnya wajah Itachi penuh dengan kekaguman. Ya, bukan hanya Itachi, ia pun dulu sama, begitu mencintai Itachi di masa lalu. Sebelum Kakashi datang dan mengangkatnya ke dalam dekapannya.

"Sangat bahagia Itachi. Kakashi membahagiakanku melebihi dirinya sendiri. Aku harap kau tidak iri denganku." Candanya mengangkat gelasnya yang baru saja di isi penuh oleh Itachi di sela-sela pembicaraan mereka, membuat Itachi tersenyum lega.

"Kakashi yang menjadi teman masa kecilmu, aku selalu yakin sejak dulu ia mencintaimu meski kau selalu bersamaku."

Kurenai mengangguk sebagai respon. Diletakkannya gelasnya pelan dan memangku dagunya dengan tangan yang sama yang baru saja menggenggam gelas.

"Dia menerimaku lebih dari aku menerima diriku sendiri saat itu." Kurenai mengenang.

"Ya, aku bisa melihat raut kebahagiaan selalu mendampingi langkahmu saat ini."

"Tentu saja, apa lagi saat aku tahu, ia berusaha sangat keras untuk menghamiliku, saat ini." Kurenai tertawa.

Tidak begitu canggung, hubungan yang sulit di antara mereka di masa lalu tak membuat Kurenai merasa canggung berbagi kebahagiaannya dengan Itachi tentang hal-hal privasi yang berhubungan dengan sang suami. Mereka pernah menjadi sangat dekat dulu, dan Kurenai rasa itu tidak menjadi masalah baginya.


Itachi, menjaga jarak kecepatan dengan semua kendaraan lain di jalanan. Sudah terlalu larut untuk dikatakan malam, dan jalanan sudah sangat sepi meski beberapa kendaraan masih tetap melaju di hadapan. Pembicaraan dengan Kurenai membuat deritanya sedikit sirna entah karena apa. Padahal yang ia temukan hanya candaan Kurenai tentang betapa bahagianya ia-Kurenai, sedang sebaliknya tanpa sengaja menampilkan seberapa menderitanya dirinya-Itachi.

Itachi sudah bertekad melupakan segalanya yang telah terjadi dalam hidupnya di masa lalu. Untuk kali ini saja ia ingin melakukan sesuatu yang benar. Membiarkan Sakura bahagia, sama seperti Kurenai bahagia saat sudah tak bersamanya. Iya, kedua kakak beradik itu adalah orang yang sama-sama pernah ia cintai, namun mungkin tak pernah bisa ia miliki.


Sakura duduk memandang hampa. Tidak memilih untuk segera pulang, meski ia sudah beranjak pergi dari rumah ibunya. Pulang ke rumah hanya akan menambah seberapa banyak beban pikirannya, tentang Sasuke juga tentang Itachi yang masih belum bisa ia hadapi. Memilih untuk menuju Kiba pun tak ia ingini. Sai tak ditempat, dan Gaara? Mungkin bukan pilihan yang tepat saat ini meski ia sangat butuh teman bicara. Untuk itu, Sakura memutuskan untuk duduk menunggu di depan pintu utama gedung apertemen Kurenai, kakaknya. Menolak ajakan beberapa penjaga untuk menunggu di lobby utama, Sakura malah memilih duduk menunggu di luar gedung memerhatikan kehadiran Kurenai dalam kekosongan pikiran.

Mungkin, upah tujuh tahun dalam penderitaan adalah akibat dosa karena melawan ucapan ibunya. Hukuman ini begitu menyiksanya.

.

.


NB : Saya akan selesaikan dalam waktu cepat, biar gak selalu muncul ke permukaan. (Itu pun jika keadaan memungkinkan.)

Terimakasih buat yang memberi dukungan. Terimakasih yang menerima dengan tangan terbuka.

Terimakasih telah menjadi bagian yang berharga selama saya menulis fiksi ini yang sudah hampir satu tahunan.

Saya tidak begitu ahli dalam menulis kata untuk mengungkapkan sesuatu. Saya hanya menulis apa yang mungkin saya pikirkan. Seperti yang saya katakan sebelum-sebelumnya. Saya memang tidak menyebut diri saya sebagai seorang penggemar dari anime ini. Saya bahkan tidak begitu peduli dengan anime ini larinya mau kemana dan berakhir seperti apa.

Yang saya tahu, saya hanya harus peduli pada beberapa chara yang saya suka dalam anime ini. Dan meminjam mereka dalam sebuah imajinasi saya. Karena saya rasa saya bisa mempertanggungjawabkan kecocokan mereka dengan kepribadian dalam cerita yang sebenarnya tidak saya buat karena saya memikirkan mereka (Saya sudah ingatkan ini Original Story yang saya remake menggunakan Chara Naruto).

Jadi, karena saya memang bukan penggemarnya anime ini, saya rasa saya memang berhak meminta maaf pada mereka yang mengabadikan diri sebagai sang penggemar-nya.

Tapi, sesuai tebakan beberapa orang yang sudah review (yang saya simpulkan saja), saya memang berniat buat beberapa cerita lebih banyak lagi dalam fandom ini. Karena saya sudah dapat ijin dari kalian semua di kotak review. Saya akan peringatkan pelan-pelan mulai dari sekarang.

Saya berminat meminjam Chara Female : Haruno Sakura,Yuuhi Kurenai, Senju Tsunade dan Tenten. Jika suatu saat buat fiksi lagi dan mereka adalah kandidat utama sebagai main chara female di setiap fiksi saya di fandom ini. Karena saya tidak berminat dengan chara lain selain mereka. Jadi untuk yang mengakui menyukai mereka, saya sudah peringatkan (minta ijin).

Dan siapapun chara male nya, saya gak begitu peduli.

Dan di akhir, saya benar-benar mengucapkan terimakasih untuk kalian, yang sudah memberi saya kesempatan.

*Jangan serius kali ya :D *