.
.
Out of the Blue
==.==
DISCLAIMER chara NARUTO : Masashi Kishimoto
DISCLAIMER STORY : Spica Zoe
Cover Art : CharaKauffmann
Warning : Affair, OOC, NTR, Sakura Centric,
.
.Cerita mengandung unsur antagonis moral.
.Sebab itu tolong jangan benci chara di dalamnya.
Out of the Blue
.
.
"Kau harus tahu dimana kau berpijak Sakura!"
Sakura meringis sakit atas ucapan yang baru ia dengarkan dari ibunya. Meminta izin untuk menikahi Itachi bukanlah perkara yang mudah. Ia pikir, jika bukan Sasuke; yang masih belum terlalu mapan baginya, mungkin akan menjadi pilihan yang lebih baik, namun ternyata tidak. Itachi pun tak bisa mendapat restu yang ia inginkan dari sang ibu.
"Aku harus bertanggungjawab Kaa-san."
Sakura menggenggam erat tangannya. Menunduk teduh tak ingin memandang. Egonya tak akan berpengaruh apapun saat ia harus menghadapi sang ibu.
"Kecuali Uchiha, Sakura! Kecuali mereka."
Sakura tak pernah tahu kenapa Uchiha telah menjadi keluarga yang paling Tsunade benci dalam hidupnya. Meskipun ia memaksa alasan yang lebih masuk akal untuk ia pahami dari sang ibu, Sakura tak pernah tahu.
.
.
Sakura memandang wajah Kurenai penuh dengan kebimbangan. Beberapa hari lalu ia memperlakukan sang kakak penuh dengan ketidaksopanan. Dan kini, yang ia hadapi sekarang hanyalah sebuah senyum penuh dengan penerimaan. Ia merasa bersalah, tapi terlalu takut untuk mengakuinya.
Kurenai meletakan sekaleng minuman dan duduk memandang sang adik penuh dengan rasa sayang. Senyuman yang tak mungkin ia palsukan.
"Aku senang, kau memilihku sebagai tempatmu untuk mengadu, Sakura."
Mendengar itu Sakura menjadi bimbang. Menunduk menjadi pilihannya untuk melenyapkan perasaan bersalah yang memang menyelimuti benaknya. Mendapati sikap Sakura yang seperti itu, membuat Kurenai bangkit dengan senyumannya. Memilih untuk duduk di samping Sakura dan mendekapnya.
"Tidak usah pikirkan apapun tentang kejadian yang lalu antara kita. Kau adalah adikku, dan aku kakakmu. Hal seperti itu adalah hal yang wajar untuk kita 'kan?" bisiknya dengan dekapan yang langsung dibalas Sakura.
"Maafkan aku nee-san." serunya basah.
.
.
.
.
"Sidang selanjutnya, kemungkinan aku tidak akan bisa hadir, Sasuke."
Itachi membenahi beberapa pakaiannya, sedang Sasuke hanya mengamatinya penuh teliti. Beberapa menit lalu Itachi pulang dan memutuskan untuk pergi dalam beberapa hari karena masalah pekerjaan. Sidang kedua perceraian mereka, Itachi harap ini adalah sidang terakhir. Karena baginya, bercerai dengan Sakura akan lebih baik jika lebih cepat terjadi.
Sasuke mengelah napas panjang, entah untuk apa ia melakukan hal itu. Merasa lelah karena telah bosan menjadi penonton? Atau ia memang benar-benar tak tahu harus berbuat apa.
Ia tidak ambil andil dalam mencampuri kasus perceraian kakaknya. Meski ia dan Kakashi berada dalam tim yang sama. Tapi Kakashi bilang akan jauh lebih baik bagi Sasuke untuk tak ikut campur apapun. Meskipun begitu, Sasuke tidak mau tinggal diam dalam mengamati jalannya persidangan.
"Apa kau benar-benar rela untuk berpisah darinya, nii-san?"
"Ya. Tidak ada kebahagiaan yang bisa kuberikan."
Sasuke mendesah lagi. Ini sudah terlalu lama untuknya memandang Itachi sore ini. Tetap saja tidak akan ada yang berubah dari sang kakak meskipun ia memohon agar tidak ada perceraian di antara mereka.
"Aku tidak akan pernah bisa kembali padanya, meskipun kau bercerai dengannya." Sasuke menatap kehampaan yang menyelimuti pandangannya. Membuat Itachi menghentikan kegiatannya sejenak, sedang Gaara yang memang sedang berdiri di antara mereka dengan posisi diam hanya mendengar pembicaraan yang terjadi di antara dua Uchiha itu. Seakan tidak begitu peduli akan ada atau tidak adanya Gaara di sana, Itachi kembali memandang Sasuke setelah matanya menyapu keberadaan Gaara di belakangnya.
"Dia tidak akan mau kembali padaku." lanjut Sasuke melemah. Benar. Sakura tidak akan mungkin memutuskan dengan mudah pilihan untuk kembali padanya.
"Maka, buatlah agar dia mau kembali padamu." tegas Itachi membuat Gaara dan Sasuke memandang ke arahnya dengan cepat.
Itachi tak lagi merespon lebih banyak kata yang Sasuke pendam dalam hatinya. Kepergian ini, bukan hanya kepergian sehari dua hari. Itachi memutuskan untuk meninggalkan kota yang ia tapaki saat ini agar bisa menjauh dari dunia yang telah ia kacaukan dengan kehadirannya.
Tapi, baik Sasuke atau siapapun tidak akan ada yang tahu keputusannya. Gaara menjaga kemudinya dengan baik, meski sesekali ia memilih untuk memandangi wajah Itachi yang terbuai dalam ketidakhidupan di kursi belakang kemudinya. Terlalu miris, bagi seorang seperti Itachi yang berakhir dengan kehidupan seperti ini.
"Tidak usah merasa kasihan padaku Kazeya-san." Gaara sontak terkejut karena merasa tertangkap basah. Meski tak ia tunjukan kepanikannya dari sikap tubuhnya, tapi ia cukup menyesal telah melakukannya.
"Aku selalu bertanya-tanya. Kenapa Sakura lebih memilih untuk datang kepadamu. Menceritakan apapun yang terjadi dalam hidupnya padamu, tapi tidak denganku." Itachi tersenyum kecut, itulah yang Gaara lihat dari kaca kemudinya. Baginya, tak terlalu terkejut saat mendapati Itachi berucap demikian. Karena, tanpa Sakura tahu, Itachi pun pernah menyampaikan satu perintah padanya "Jika memang Sakura lebih memilih datang kepadamu, peluklah dia dan berikan dia kekuatan."
"Beliau wanita yang bertanggungjawab tuan." Gaara tak memandang saat berkata. Demikian Itachi yang sudah melarikan pandangannya untuk menikmati jalanan.
"Terlalu bertanggungjawab, sampai ia menyiksa dirinya." Suara Itachi menyusul kemudian.
.
.
.
Ini adalah hari yang tak bisa Sakura nikmati. Seluruh jadwal periksa yang ia miliki telah dibatalkannya hanya untuk menghadapi persidangan ini. Kakashi sudah tampak berdiri menunggunya di area parkir. Dengan gaya yang cukup memesona, sampai beberapa kali para pasien wanita menaruh perhatian cukup lama untuk memandangnya, terlihat bagi Sakura.
"Kau terlalu lama Ojou-sama." Senyum Kakashi ketika melihat bayang Sakura sudah mendekatinya. Maksud kedatangannya menjemput Sakura hanyalah satu. Menuju sidang perceraian.
Selama sidang berlangsung, Sakura telah lebih dulu memilih untuk meninggalkan rumah yang ia tempati bersama Itachi, begitupun Itachi yang sebenarnya tak lagi pernah menapak di rumah yang kini telah Sasuke tinggali. Kakashi menjelaskan, rumah itu akan menjadi sengketa yang akan disinggung dipersidangan. Untuk itu, Itachi pun membuat beberapa syarat yang akhirnya disetujui oleh semua pihak termasuk Sakura.
Sakura lebih memilih untuk menutup bibirnya rapat-rapat selama ia berada di dalam mobil. Meski sesekali Kakashi mengajaknya bicara, atau membuat sedikit lelucon untuk menghiburnya. Tapi, bagi Sakura, tak ada hal apapun yang mungkin bisa menarik perhatiannya lagi.
Hingga pada satu kalimat yang Kakashi serukan, mampu membuat Sakura berpaling.
"Apa yang kau inginkan sebagai hadiah perceraianmu?"
Sakura mendengus tak tertahan. Kalimat Kakashi membuatnya sedikit kesal namun tak begitu ia tampakkan. Hadiah pernikahan? Apa Kakashi pun berpikir ini adalah sebuah perayaan yang pantas dihadiahi?
Sakura melarikan dirinya kembali. Lebih baik untuk tak begitu mendengar perkataan Kakashi jika ia ingin hatinya merasa teduh. Tetapi, baru saja ia berpikir untuk melakukannya. Sudah ada satu tanya yang menggelitik hatinya untuk kini menatap Kakashi penuh tanya.
"Bagaimana denganmu?" tanyanya ringan. Kakashi memandang sekilas sebelum akhirnya fokusnya kembali pada kemudi dan jalanan ramai di depannya. Dinaikannya kedua bahunya serta alis yang bertaut penuh tanya. Hingga akhirnya Sakura mengulang pertanyaannya.
"Tentang keberadaan Itachi di masa lalu Kurenai." Tanya Sakura. Sejurus pertanyaan yang menyentuh pendengarannya, Kakashi malah tertawa renyah menanggapinya.
"Apa menurutmu aku masih dendam padanya?" Kakashi tak memandang. Diputarnya kemudi untuk berbelok pada tikungan tajam di hadapannya. Membuat Sakura menahan hasrat ingin tahunya sejenak.
"Justru aku harus berterimakasih padanya."
Dan Sakura harus akui, senyuman Kakashi yang ia lihat kali ini adalah senyum yang paling tulus untuk sekian lama yang ia rindukan.
Sakura menapakan kakinya di sepanjang wilayah persidangan. Sudah ia duga, kenyataan yang seperti ini pasti akan ia hadapi. Rentetan suara penuh usik ingin tahu. Desakan rasa penasaran dan kilat lampu kamera yang menyilaukan.
"Apa tidak ada pilihan lain selain perceraian, dokter Sakura?"
Sakura hanya terdiam.
"Jika boleh tahu, apa penyebab perceraian anda?"
Sakura tetap melangkah.
"Apakah kebenaran orang ketiga itu nyata?"
Sakura tak memandang.
"Atau, rumor tidak ada momongan selama tujuh tahun membuat rumah tangga kalian hampa?"
Dan dari semua pertanyaan yang ia anggap tak berguna, baru pertanyaan barusan yang mampu membuat langkahnya terhenti, matanya memandang dan bibirnya bersuara.
"Ini-"
"Maaf. Kami harus bergegas. Sidang akan segera dimulai."
Berterimakasihlah padanya, Kakashi memang selalu bisa menjadi penyelamat disaat-saat yang ia harapkan. Dengan sigap, Sakura hanya mendapati betapa bertanggungjawabnya Kakashi mendekapnya, menghalau semua hal yang mungkin akan menyakitinya. Melindunginya, mengusahakan tempat terbaik untuknya. Dengan langkah kecil yang berantakan karena desakan para pencari berita, Sakura meremas ujung pakaian Kakashi dan ikut melangkah bersamanya.
Sedang Sasuke, hanya diam pada posisinya. Mengamati Sakura, beserta Kakashi dan timnya sedang berusaha lari dari lautan orang-orang media. Bersembunyi di kejauhan.
.
Sidang berlangsung alot, hanya pembacaan penetapan yang telah tertulis dan diputuskan. Tidak begitu lama, hingga Sakura merasa cukup bersyukur kali ini. Merasa bersyukur sebab, Kurenai telah berdiri memandangnya dengan senyum penuh penantian bersama seseorang yang paling ia kenal.
"Lama menunggu, dan pria tampan ini melenyapkan perasaan bosanku seketika." Ucap Kurenai sambil menyentuh bahu Sai yang hanya menampilkan senyum di wajahnya.
"Apa yang kau lakukan di sini Sai?"
Sakura memberikan semua yang ia genggam kepada Kakashi yang melangkah bersama dengannya tadi. Sambil pandangannya ia putar bergantian memandang Sai dan berpindah ke Kurenai.
Kakashi menyambut sesuatu yang Sakura berikan, dan berangsur dengan langkahnya meraih Kurenai yang dibalas sang istri untuk berdampingan dengannya.
"Salah satu mantan kekasihmu, Sakura?" Kakashi menyeringai menatap Sakura juga Sai bergantian. Tapi yang ditatap dan ditanya, hanya membalas datar "Bukan urusanmu."
Sedang Sai hanya menampilkan senyumnya saja.
"Aku hanya ingin membicarakan sesuatu." Sai tidak terlihat ingin jika pembicaraannya di dengar oleh yang lainnya. Jadi, ditariknya lengan Sakura untuk memberi tanda jika ia ingin Sakura yang memutuskannya. Melihat itu, Kakashi paham. Setidaknya, ia harus memberikan ruang bagi Sakura, meskipun Sai bukanlah pria yang ia kenal dekat, tapi beberapa pertemuan yang tidak sengaja telah menimbulkan satu rasa kepercayaan bagi Kakashi yang sebenarnya tidak pernah berkenalan resmi dengan Sai, sedang Kurenai, dia cukup kenal pria itu.
"Sepertinya-"
"Sepertinya ada beberapa hal yang harus kami selesaikan." Kurenai mendahului lebih cepat suaminya berbicara. Menarik lengan sang suami, Kurenai tersenyum memandang Sai dengan seringaian yang cukup lama. "Malam ini, jangan pulang terlalu larut Sakura." Serunya, sebelum mereka benar-benar tak lagi bisa saling menatap.
.
.
Sai tidak banyak bicara meski ia tahu ada Sakura di sisinya. Diam, dan hanya memandang sekitaran jalan yang penuh dengan kepadatan kendaraan. Tidak seperti Sai yang biasanya. Yang selalu menyuarakan kata cinta, kerinduan dan keinginannya tentang Sakura dengan senyum-senyum kecil yang tak pernah luput dari wajahnya. Tapi, meskipun Sakura menyadari tingkat keseriusan itu kini tengah menguasai Sai, ia pun tidak begitu ingin mempertanyakannya.
Sai menepikan mobilnya tepat di depan lobby apartemennya. Untuk bagian parkir, biar urusan penjaga yang mengambil ahli. Dengan pasti, ia membukakan pintu untuk Sakura, meraih tangannya meski beberapa detik Sakura agak ragu menyambutnya. Namun dengan satu senyuman Sai yang biasanya, Sakura pun menggapainya.
"Tidak perlu tegang seperti itu, meski telah lama tak bercinta, aku tidak akan pernah memerkosamu." Bisiknya dengan rangkulan erat di pinggang Sakura. Melangkah lembut menuju tempatnya.
"Dia menyuruhku membuatkan sebuah rumah, di pinggiran kota ini."
Sebelumnya, Sai sudah menyerahkan beberapa rancangan yang telah ia kerjakan dan membiarkan Sakura melihatnya. Rancangan yang Sakura duga belum siap, namun terlihat cukup jelas apa yang telah tergambar. Sebuah bangunan yang cukup besar, kasual dan sangat detail. Sakura meneliti satu persatu setiap lembaran yang Sai berikan. Dan sebelum Sai memberitahu 'dia' itu siapa, sebenarnya Sakura sudah menduga ia mengetahuinya.
"Itachi?" tanyanya tak begitu memaksa. Sai mengangguk pasti.
"Benar-benar sebuah hadiah perceraian yang mengesankan." Seperti itulah kalimat yang berhasil lolos dari mulut Sai. Dengan seringaian yang berbeda dari biasanya. Aura yang sama yang Sakura rasakan saat ia dan Sai berada di dalam mobil tadi. Sedikit berbeda.
"Ini bukan hadiah perceraian." Sakura mengumpulkan kembali lembaran-lembaran itu dan tak lagi ingin menyentuhnya. Ada perasaan marah yang ia rasa, apalagi tatapan Sai yang ingin menghakiminya.
"Jika bukan hadiah perceraian, apa mungkin hadiah pernikahan?"
"Sai. Jika hanya ini yang ingin kau bicarakan. Aku lebih baik pulang." Sakura kesal. Mengatur langkah untuk kembali pulang adalah cara yang terbaik ia rasa. Dari pada harus terus berada dalam satu lingkaran ketidakpahaman yang sebenarnya tidak mau ia perjelas. Pernikahan? Pernikahan siapa maksudnya? Ia benci memikirkannya. Karena setiap kali ia memikirkan perceraian, ia akan membayangkan Sasuke yang akan berakhir menikahinya. Ini adalah kekesalan yang tak mampu ia elakkan. Seakan kehidupannya telah diatur sedemikian rupa, dan cintanya tak akan bisa lari kemana-mana. Sakura, menarik diri, tak ingin pamit, ia melangkah menuju pintu apertemen Sai, sebelum pria itu akhirnya memaksa ia memekik tanpa sengaja.
Ada rasa sakit yang tidak begitu sakit di sekitar lengannya. Genggaman Sai mendarat di sana.
"Kenapa kau bercerai?" satu pertanyaan yang selalu ingin Sai pertanyakan. Selama ia mengenal Sakura, setitik ide untuk bercerai tidak pernah ia lihat dalam keinginan batin kekasihnya itu. Meskipun semua kehancuran pernikahan tidak bisa ia sembunyikan dari pandangannya.
Sakura tidak menanggapi pertanyaan itu dengan cepat. Tapi, ia paham Sai tidak ingin pengabaian. Raut kekecewaan terlintas di sana. Dengan penuh kesadaran, sejak dulu Sakura selalu berbicara jika ia tidak akan pernah bercerai dengan suaminya meskipun dunia runtuh di depan matanya. Tapi saat ini, rasa bersalah itu membumbui perasaannya. Di raihnya genggaman tangan Sai yang mengunci lengannya. Meminta Sai melepaskannya dengan hanya tatapan mata, dan Sai adalah pemuda baik yang penurut.
"Dia yang menggugatku, Sai-"
"Aku tahu!" Sakura tersentak. "Tapi kenapa kau menyetujuinya?"
"Apa yang harus kuperbuat?!" Sakura tak mampu menahan suaranya. Didorongnya tubuh Sai menjauh, meskipun tak ada hasilnya. Mata mereka masih saling menatap penuh hasrat. Hasrat yang berbeda yang masing-masing terbumbui rasa kecewa. Sai, meskipun itu bukan urusannya, tapi baginya sebuah prinsip itu seperti mata pedang. Jika kita menarik kesimpulan bahwa mata pedang tak dapat memotong, maka sewaktu-waktu ia bisa saja menikam. Begitu juga seperti prinsip yang Sakura tetapkan dalam kehidupannya. Yang Sai ingat, Sakura tidak pernah mau berhubungan dengannya jika ia memaksa, atau mengisi rahimnya dengan cairan miliknya, dan Sai terima itu. Juga, tentang janji, "Aku tidak akan pernah berpisah darinya meskipun dunia runtuh di depan mataku, untuk itu aku tidak akan pernah bisa bersamamu." Dan itupun Sai terima. Ia rela menjadi seseorang yang ditiadakan dari pengakuan. Dan ia rela menjadi orang paling hina yang merusak kepercayaan Itachi padanya. Meski Itachi telah merelakan segalanya untuk memberikan Sai keberuntungan dalam menikmati hidup.
.
"Dia memungutku, menyekolahkanku dan membuatku tak lagi punya pilihan selain menikmatinya." Kalimat dari Sai untuk Sakura.
"Padahal kau sudah berjanji untuk tidak akan pernah meninggalkannya, Sakura." Entah mengapa, Sai merasa ingin memaki dirinya sendiri untuk apa yang telah terjadi pada Itachi.
"Baginya kau bukan hanya sekedar 'anak pungut' Sai. Dia juga menyayangimu, meski tak sebesar rasa cintanya pada adiknya sendiri. Yang pasti dia memecayaimu." Balasan Sakura atas keinginan Sai untuk mencintainya.
"Padahal aku sudah menjamin diriku akan dosa yang telah kuperbuat karena telah mencintai istrinya." Kalimat yang akhirnya bercampur airmata.
.
Mungkin, jika hanya melihat dan mendengar. Melihat tangisan Sai dan penyesalannya kini, serta mendengar semua kalimat yang tak begitu dimengerti namun cukup berarti, Sakura bisa pastikan tidak akan ada yang paham posisi Sai saat ini. Juga seberapa hancur hati dan perasaannya sekarang. Mungkin pun, hanya Sakura yang bisa memahami. Untuk itu, Sakura meraih tubuh Sai dan memeluknya. Membiarkan tangisan pemuda itu pecah di atas bahunya. Membiarkan penyesalannya meluap jika bisa. Karena Sakura paham, perceraiannya dengan Itachi merupakan penyesalan bagi Sai juga.
"Sudah kuperingatkan Sai, aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mencintaiku, dan kau tidak mau tahu." Bisik Sakura lemah, mengingat betapa teguhnya dulu Sai begitu ingin mencintainya.
"Bukan maksudku membuatmu terluka dan merasa bersalah karena perceraian ini. Tapi, maafkan aku yang tak bisa membuktikan perkataanku untuk tetap bersama dengannya."
Sai, adalah pemuda yang polos. Umurnya masih belasan saat itu, saat dimana Itachi menemukan bakatnya sebagai perancang dan Itachi mengangkatnya dari panti asuhan. Itachi membiayai semua yang Sai butuhkan, pendidikan, tempat tinggal dan semua hal yang ingin Itachi penuhi akannya. Hingga membuat Sai begitu menghormati Itachi sebagai penyelamatnya. Bagi Itachi, Sai adalah sebuah bakat yang ia butuhkan. Dan bagi Sai, Itachi adalah seorang dewa yang ia puja. Untuk itu, Sai bersumpah mencintai Sakura adalah dosa paling besar dalam hidupnya. ia mengingini Sakura, tapi tak ingin Itachi berpisah darinya. Hingga satu kalimat yang Sakura ucapkan menjadi sebuah terang baginya.
Tak apa jika ia bersama Sakura, tak apa jika ia meniduri Sakura, karena seberapa besarpun rasa ingin memiliki Sai pada istri Itachi, tidak akan pernah membuat Sakura berpisah dengan suaminya. Sehingga, seberapa banyakpun dosa perselingkuhan yang ia lakukan akan menjadi tak berarti dan merasa bersalah dalam hatinya karena toh Sakura dan Itachi akan tetap bersama.
Tapi, kini yang dihadapai Sai tidaklah lagi seperti apa yang ia percayai. Sakura akan berpisah dengan suaminya. Dan Sai menjadi bagian yang paling terluka karenanya. Merasa bersalah, dan seakan dipaksa menjelma sebagai pengkhianat dalam sekejap. Apapun itu, Sai merasa begitu hancur karena telah menyaksikan kehancuran Itachi.
"Aku merasa paling berdosa jika kau berpisah darinya, Sakura." Sai menatap bening berwarna milik Sakura. Begitu dekat hingga bisa ia saksikan gemilau tenang itu sedikit bergetar.
"Tapi, perpisahan ini bukan karena salahmu." Bisik Sakura mengingatkan. Namun, Sai bukan pria yang begitu mudah dipengaruhi oleh asumsi orang lain, meskipun itu Sakura. Asumsinya adalah kebenaran, dan itu yang Sai tekankan dalam hidupnya. Meskipun tak berakal sekalipun.
"Andai saja kau tidak pernah berjanji untuk tetap bersamanya meski dunia runtuh sekalipun, aku akan memaksa cinta ini mati sebelum kusampaikan padamu!" kesal Sai tiada tertahan.
"Aku tidak pernah menjanjikan apapun padamu!" kini giliran Sakura yang meninggikan suara. Baginya, peringai Sai jauh lebih berbeda dengan peringai pria lain yang ia temui. Sai sedikit unik, dan mungkin hanya ia yang sedikit mengerti.
"Aku hanya mencoba meyakinkan diriku, untuk tetap bersama dengannya apapun yang terjadi. Dan perpisahan ini pun bukan karena kehendakku. Dan juga bukan karena hubunganku dengan pria lain." Kecam Sakura mulai enggan menahan sikapnya.
Mendengar itu, Sai sedikit melunak di posisinya. Masih tetap saling menggenggam dan menatap, ia melihat satu mimik lembut yang sempat Sakura hadirkan untuknya.
"Hubungan kita bahkan telah berakhir sebelum Itachi menggugat ceraiku Sai. Kau tidak bersalah." Lembut ia berseru, dengan tangan yang membelai surai kelam sang mantan kekasih.
Apapun yang ada dalam pikiran Sai, Sakura meyakini jika semuanya telah pemuda itu mengerti. Untuk itu, Sakura kembali menyatakan satu keyakinan yang harus Sai tekankan dalam hidupnya, bahwa "Jangan temui aku jika kau datang sebagai seorang kekasih. Temui aku jika kau masih ingin menjadi orang yang bisa dipercaya oleh siapapun, Sai." Sebelum mereka berpisah.
Sai mengangguk paham. Setidaknya, baginya, Sakura bisa menyampaikan sesuatu yang tidak ia mengerti dengan mudah. Dikecupnya singkat pipi Sakura sebelum mereka berpisah di antara gelap malam. Sakura melambai dengan senyum yang tak bisa dikatakan indah, sedang Sai mungkin sudah kembali ke sedia kala. Yang Sakura harapkan, mungkin perpisahan seperti ini tidak akan membebaninya lagi.
Tapi, saat ia berlalu dari pria lain, kenapa harus ada pria lainnya yang sedang menunggu?
Sakura terhentak kaget saat tanpa ia duga, satu bayangan telah berdiri di sana. Di hadapannya memunculkan diri setelah Sai memilih beranjak pergi. Sasuke, memandangnya tak berekspresi.
"Selamat malam, Haruno Sakura." Ucapnya tak bernada.
Malam sebelumnya, Sakura memutuskan untuk menetap di apertemen Kurenai untuk sementara waktu. Menunggu sidang penetapan perceraiannya selesai minggu depan. Dan setelah keputusan diperdengarkan, maka ia akan kembali sah menjadi Haruno Sakura, yang akan diperebutkan.
"Kurenai-san, telah memberiku izin untuk bicara padamu malam ini."
.
.
.
.
.
.
.
AN : Sudah akan berakhir kayaknya, kayaknya sih. Iya, kayaknya.
Terimakasih buat yang sudah merespon baik.
Saya usahain ini berakhir dengan hurt yang indah. Sesuai sepoler yang gak sengaja saya ungkapkan.
.
.
"Jika Itachi tidak membuat Kurenai jatuh dalam keterpurukan, mungkin aku tidak akan punya kesempatan untuk memiliki gadis yang kucintai."
Sakura tertegun, menerjemah bahasa yang Kakashi sampaikan padanya. Dalam getar-getar kebenaran perasaan yang sanggup Sakura rasakan dari Kakashi, meski pria itu tak memandangnya.
"Aku ingin berterimakasih padanya, dia membuat Kurenai menangis, dan mau menerimaku untuk menghapus airmatanya. Jika Itachi tak menyakitinya, apa kau pikir Kurenai akan memandangku? Jika Itachi tak meninggalkannya dan melepaskannya, apa kau pikir aku punya hak untuk menyebut Kurenai sebagai milikku saat ini? Dan mungkin, itulah yang ingin dia lakukan padamu." Sakura paham apa makna yang Kakashi sisipkan dalam setiap kata dari bibirnya.
"Terkadang, beginilah jalan hidup, Sakura. Biarkan waktu menyakitimu, dan menangislah seperlumu. Mungkin akan ada rencana lain yang lebih bisa membahagiakanmu jika kau sabar menunggu. Dan Itachi, ingin melepaskanmu bukan karena ingin menyakitimu lebih. Jika dengan cara kejam ia meninggalkan Kurenai tanpa keputusan di masa lalu, maka dia tidak ingin melepasmu dengan hal yang sama saat ini. Mungkin, setelah dia mepelaskanmu, kau akan bertemu 'Kakashi' lain yang akan mecurahimu dengan kebahagiaan. Untuk itu, anggap saja ini sebuah perayaan." Dan dengan satu senyuman tulus lainnya, Kakashi menepikan mobilnya. Menatap Sakura penuh damai, dan mengusap puncak kepala wanita merah mudah itu penuh kehangatan. "Kau beruntung. Kurenai menghadiahimu seorang keponakan." Bisiknya lembut.
"Jangan beritahu pada Kurenai jika kau sudah tahu tentang kehamilannya. Sebenarnya ia ingin memberitahukanmu langsung. Jika tidak, ia akan memarahiku." Sakura hanya menyembunyikan satu senyuman yang ingin ia hadiakan untuk menghargai sikap kekanakan Kakashi yang hanya menggaruk belakang kepalanya secara berlebihan.
.
.
.
