.

.

Out of the Blue

==.==

DISCLAIMER chara NARUTO : Masashi Kishimoto

DISCLAIMER STORY : Spica Zoe

Cover Art : CharaKauffmann

Warning : Affair, OOC, NTR, Sakura Centric,

.

.Cerita mengandung unsur antagonis moral.

.Sebab itu tolong jangan benci chara di dalamnya.


Out of the Blue

.

Bukan terjebak, tapi Sakura sadar bahwa ia sendiri yang menyetujui permintaan Sasuke untuk berbicara padanya malam ini. Dan sebagai pertimbangan, Sasuke memilih untuk berada di sana.

Awalnya Sakura tidak begitu mengerti, kenapa Sasuke membawanya ke sini, dengan seluruh pandangan yang tiada habisnya berpencar untuk mengamati. Sakura sedikit tertegun kali ini. Sasuke, menarik dirinya untuk memberi jarak antaranya dan sang wanita. Bukan karena takut Sakura tak menyukai keberadaannya, tapi karena Sasuke ingin memulai berbicara.

.

Suara desingan mesin yang menderu di antara angin. Mesin-mesin dari semua jenis mobil yang melintasi mereka. Meski lampu penyeberangan sudah berganti warna beberapa kali, dan pandangan mereka yang tak dimengerti, Sasuke dan Sakura hanya diam.

Sasuke membelakangi Sakura beberapa langkah, pejalan kaki tidak lagi begitu banyak mendesak, namun cukup mengganggu Sakura yang terpapas tak sengaja. Sedang Sasuke tidak peduli.

"Kau ingat tempat ini Sakura?" bisik Sasuke memulai bicara. Tidak terlalu bernada, tapi Sakura masih bisa mendengarkannya. Mendapati pertanyaan sang pria, Sakura menabur lagi pandangannya ke beberapa penjuru sudut matanya. Tempat ini hanya sebuah persimpangan penyeberangan, apa yang harus ia ingat dari tempat ini. Sakura tidak begitu mengerti.

Mendapati Sakura tak kunjung menjawab, Sasuke mengangkat kepalanya. Dipandangnya sudut lain di sisi kanannya, di seberang jalan sana. Sakura menemukan titik yang sama di mana Sasuke berhenti melihat.

"Tujuh tahun lalu. Aku melihatmu dari sana." Ya, ternyata ini. Sakura mulai mengerti, jika sebenarnya Sasuke ingin membangkitkan kembali kenangan buruknya. Sasuke menunjuk sesuatu di titik itu, daan Sakura hanya diam.

"Melihatmu dari sana, sambil menggenggam sebuah cincin yang membuatku terlihat bodoh. Juga bunga? Itu bukan sifatku." Sasuke menunduk, mengeratkan kesepuluh jarinya bersamaan. Ia ingin mendengus, ingin marah karena kenangan itu terlihat begitu nyata. Seperti baru kemarin terulang. "Melihatmu, dengan sebuah senyuman ringan saat Itachi ingin menemuimu di sini," Sasuke mengakhiri kalimatnya bersamaan dengan memutar tubuhnya untuk memandang Sakura hanya masih menunduk. "... di tempatmu berpijak saat ini."

"Hentikan Sasuke." Sakura sudah mulai bisa merasakan ingatan itu kembali menghantuinya. Menyentuh seluruh kulitnya hingga ia bergetar meresponnya. Menjijikan. Ingatan itu membuatnya merasa menjijikan. Tapi Sasuke tak tinggal diam.

"Kau menyapaku bersamaan dengan sapaan yang Itachi terima dari kejauhan," Sasuke kembali mengingatkan. Tanpa ampun, meskipun ia sudah melihat Sakura mengangkat kedua tangannya untuk menutupi telinganya. Tubuhnya bergetar. Tapi itu belum cukup bagi Sasuke.

"Kenapa kau melakukannya Sakura? Kenapa?" Sasuke melangkah mendekati Sakura. Mengintimidasinya dengan pertanyaan dan tatapan menuntut yang tak bisa Sakura saksikan. Sedang orang-orang yang berlalu-lalang hanya meninggalkan pandangan mereka detik demi detik.

"Kenapa kau melangkah dengan pandangan yang kau tujukan padanya." Sasuke menggenggam kedua lengan Sakura, berharap wanita itu mengangkat wajah dan menatap matanya. "Kenapa kau-"

"Maafkan aku. Maafkan aku. Kau puas?!" Sakura menepis kedua tangan itu kasar. Airmata kembali membasahi wajah cantiknya. Sasuke, tidak ingin, tapi keadaan memaksanya kembali memandang seberapa hancurnya Sakura saat ini. Hancur dan berantakan.

"Maafkan aku karena aku sangat mencintaimu!" lanjutnya dengan teriakan yang begitu kencang. Sesaat, waktu seakan berhenti di sekitar mereka. bisu membebani pendengaran. Sasuke tersentak, bagai terlempar ke atas jurang, sedang Sakura segera memekik karena secara refleks tangannya menutup mulutnya. Dan sedetik kemudian, kembali waktu berdetak secara normal. Pandangan orang-orang akan jeritan Sakura kini berlalu satu persatu.

"Sangat mencintaiku?" Sasuke ingin tahu. Sangat ingin tahu. Sakura menggeleng kepalanya cepat, meski mulutnya masih ia tutup rapat. Ingin rasanya berlari, tapi Sasuke langsung menahan langkahnya dengan satu dekapan yang tak lagi bisa wanita itu tolak.

"Katakan lagi Sakura, aku mohon."

Dan begitulah awal dari semuanya. Sakura tak lagi bisa membohongi siapapun saat ini, tentang kejadian tujuh tahun lalu, tentang kejelasan segala hal yang belum Sasuke pahami. Menarik tubuh untuk berpisah jarak, Sasuke mengamati wajah Sakura yang tertunduk tak berdaya.

"Karena kau tidak bisa membuat Itachi-"

"Bukan karena itu, Sasuke." dan akhirnya Sakura bercerita.

Malam itu, biarlah menjadi saksi di antara mereka. Juga di antara masa lalunya.

"Dia mencintaiku, kau pun tahu itu. Keberadaanmu yang sebenarnya begitu rentan dalam hidupku dia perdaya dengan mendekatkan dirinya padaku. Dia mengulang kata cintanya berkali-kali padaku, Sasuke. Aku tahu ketulusannya. Tapi saat aku tahu ada masa lalu yang buruk antara dia dan kakakku, aku memutuskan untuk menjauh. Baik darinya ataupun darimu. Pertengkaran kita pun membuat semua pemikiran memenuhi kepalaku." Sakura menjedah sesaat, ketika Sasuke mengulurkan tangan untuk menghapus air matanya. Pria itu tersenyum, "Teruskanlah." Dan Sakura mengangguk.

Benar, harusnya ia menceritakan semuanya di awal.

"Saat aku memutuskan untuk meninggalkan kota ini, aku juga memutuskan untuk meninggalkanmu. Tapi kau menguji rasa cintaku berkali-kali. Kau memohon, memohon dan memohon. Hanya itu yang kau lakukan. Tapi, Itachi juga melakukan hal yang sama. Aku berpikir, rasanya tiada guna jika aku tak bisa memutuskan siapa di antara kalian. Membayangkan semua tentang kita dalam semalam, membuatku yakin jika aku memang mencintaimu." Sakura masih sanggup melanjutkan kalimatnya. "Tapi kau tidak pernah bisa berubah. Keangkuhanmu, kekeraskepalaanmu berbeda dari yang Itachi perlihatkan padaku. Namun, meskipun begitu, aku memang sangat mencintaimu." Ya, begitu mencintainya. Sasuke menahan getar-getar yang tak ia mengerti dalam dadanya. Kenapa selama tujuan tahun ini mereka tak pernah bercerita sedamai ini.

"Setiap kau memohon agar aku pulang, aku selalu menangis, Sasuke. Menangis sebab kau orang yang paling bisa menyakitiku. Aku mencintaimu, tapi aku takut kau menyakitiku. Sampai saat di mana kau berjanji akan menikahiku. Ajakanmu berbeda dari yang Itachi lakukan. Itachi memang pria yang dewasa, dia nyaris sempurna, dan baginya mungkin tak susah melakukannya. Sedangkan kau," Sakura tak menyadarinya, tapi tatapan matanya yang terhubung pada Sasuke kini membuatnya ingin kembali tenggelam dalam lautan cinta yang kembali terisi dalam dadanya. Cinta yang telah lama ia simpan, ia keringkan. "... membayangkan kau melakukannya, membuatku sadar bahwa kau telah berubah. Sasuke yang telah dewasa, aku ingin menemuinya."

Ya, alangkah harunya Sakura saat itu. Sasuke berjanji akan menjadikannya seorang Uchiha. Yang Sakura artikan sebagai; Sasuke baru yang telah beranjak dewasa. Ia ingin bertemu dengan Sasuke-nya, merindukannya. Hingga tanpa pemikiran lain lagi, Sakura mengangguk setuju akan kepulangannya.

"Hingga malam itu berubah menjadi bencana." Bencana yang hampir meniup habis nyawanya, namun Itachi menyelamatkannya. "Aku tak memberitahukannya tentang kepulanganku dan perjumpaan kita. Agar aku bisa lebih dulu bertemu denganmu, memperjelas hubungan kita juga rasa kita berbicara pada Itachi tentang hubungan kita yang sebenarnya, yang tidak terlalu dia mengerti. Tapi malam itu, akupun tak tahu kenapa dia berada di sini. Melihatku, dan aku takut kalian bertemu. Bertemu sebelum aku mengungkapkan sebesar apa cintaku padamu. Untuk itu, sebelum kau mendekat dan sebelum tanpa sengaja dia melihatmu, aku ingin lebih dulu menemuinya, juga menarik perhatiannya agar kalian tak berjumpa. Tapi aku melakukan kesalahan, hanya karena aku pikir aku masih sempat menyebrang, aku mengambil resiko yang besar. Dan Itachi menyelamatkan nyawaku."

Sasuke kembali memeluk Sakura yang juga kembali terisak. Tidak, ini bukan salah Sakura maupun Itachi. Ini salahnya, Sakura telah berkorban terlalu banyak hanya untuk dirinya dan Itachi. Ini bukan salah Sakura, ini bukan salahnya. Sasuke merasakan isakan itu menyesakan dadanya. Menggenggam tubuh Sakura adalah hal yang begitu ia rindukan. Ia rindu tangisan ini, ia rindukan Sakura mengandalkannya seperti ini. Sasuke, jika bisa, ia ingin meminta maaf yang sebanyak-banyaknya. Ya, jika bukan karenanya yang saat itu tak mengakui Sakura sebagai gadis yang paling ia cintai. Mungkin semuanya tidak akan terjadi.

"Dan kau benar Sasuke," Sakura membalas pelukan yang Sasuke berikan padanya. Ia juga sama, rindu tubuh itu. Rindu dekapan itu, rindu saat-saat dimana ia begitu mengandalkan Sasuke dalam hidupnya, bahkan hanya untuk tempatnya menangis. "Aku menyerahkan kehidupanku hanya karena ingin membalas semua yang Itachi berikan padaku. Nyawaku, kehidupanku, jika bukan karena dia menyelamatkanku, mungkin aku sudah mati."

"Maafkan aku, Sakura."

"Aku bodoh Sasuke."

"Maafkan aku,"

"Begitu bodoh karena sangat mencintaimu."

.

.


.

.

Sasuke, meletakan dengan lembut kepala Sakura di pembaringan. Bekas-bekas airmata itu adalah bukti betapa pahitnya perjalanan hidup wanitanya. Tapi, semuanya sudah berlalu. Mereka sudah menyudahi pertikaian ini. Sasuke sudah tak lagi ingin memaksa Sakura untuk menceritakan segalanya. Semua ketidakmengertian telah ia pahami. Membelai lembut wajah Sakura yang tertidur, membuat satu titik di hati Sasuke menghangat perlahan. Dan kehangatannya itu membuat segaris senyum tipis di wajahnya terbentuk.

Dia sangat mencintai wanita ini.

"Apa kau sudah menghamilinya?"

Kurenai mendorong lengan Sasuke perlahan dengan sikunya, sambil memandangi pria itu terus membanjiri adiknya dengan pandangannya. Sedang Kakashi hanya tersenyum, berdiri di samping istrinya. Sakura tertidur, dan Sasuke mengantarnya pulang tanpa ingin membangunkannya. Melihat kehadiran Sasuke yang menggendong Sakura di depan pintu apertemennya, maka Kurenai langsung menyuruh Sasuke mengantar Sakura ke kamarnya. Dan untuk itulah, kenapa mereka berada di sana.

"Tidak sempat." Balas Sasuke tak begitu peduli. Membuat Kurenai tersenyum. Entah karena apa, senyuman itu begitu menggelitik perutnya hingga menimbulkan tawa yang tidak terlalu keras. Terkadang, si Sasuke yang serius, bisa membuat lelucon seperti itu.

"Padahal, aku mengijinkanmu berbicara padanya malam ini karena itu." ucap wanita itu sambil mendekap manja Kakashi di sampignya.

"Kalian sudah bicara?" dan tibalah giliran Kakashi bersuara. Dengan Sasuke yang kini sudah saling menatap sepasang suami istri itu.

"Ya, semuanya." Balas Sasuke singkat.

"Dan dia mau menerimamu kembali?" tanya pria itu lagi.

Sasuke menarik napasnya berat, sebenarnya ia belum membicarakan masalah ini pada Sakura. Tentang hubungan mereka, akankah bisa kembali seperti dulu. Tapi, sejujurnya ada sesuatu yang membuat Sasuke merasa tak pantas untuk itu. Ya. Ia takut, Sakura kembali terluka.

"Tapi, apa dia mau menerimaku? Aku pernah menjadi suami wanita lain." Bisiknya pelan. Ia takut, Sakura tak akan menerimanya. Membuat Kurenai tertawa lagi, Kakashi mengalihkan pandangnya pada wajah cantik istrinya dan kembali menatap Sasuke.

"Sakura juga pernah menjadi istri pria lain." Bisik Kurenai, menepuk lengan Sasuke. Dan kali ini, Kakashi yang dibuatnya tertawa.

"Hanya masalah waktu saja Sasuke-kun. Dan kau beruntung, aku lebih menyukaimu dari pada Itachi, kakakmu." Sekilas wajah Itachi terbayang dalam ingatannya. "Tidurlah, ini sudah terlalu larut. Seorang duda tampan dilarang berkeliaran malam-malam, maka dari itu ..." Kurenai mengatur mundur langkahnya. Meraih tangan Kakashi dan menyelipkan kelima jarinya di antaranya. Ada senyuman nakal yang ia titipkan pada Sasuke sebelum ia menarik pintu kamar Sakura di sana, "Tidurlah di sampingnya." Dan satu senyuman manis, Sasuke berikan sebagai balasan.

"Hei, sayang. Besok Sakura bisa ngamuk padaku jika ia tahu kalau Sasuke tidur bersamanya." Kakashi tidak begitu niat membela diri, hanya candaan untuk membiarkan Sasuke merasa nyaman. "Tidak akan, Sakura akan berterimakasih padamu, tapi karena dia tak pandai menyampaikannya. Maka dia akan memarahimu sebagai gantinya." Bisikan Kurenai masih terdengar meski pintu telah memisahkan ruang mereka.

Sasuke tak habisnya merasa bahagia. Letupan-letupan dalam dadanya bergema menabur rupa. Rupa bahagia yang ia rasa paling nyata dalam hidupnya. Kini di hadapannya, dengan tidur yang masih begitu singkat, Sakura memberinya sebuah harapan baru. Kehadiran wanita itu saja sudah begitu berarti baginya.

.

.

Sasuke membuka jas dan kemejanya, juga celana yang ia kenakan. Biar bagaimanapun ia tidak ingin berkeliaran dengan pakaian kusut karena dipakaitidur besok pagi. Sampai ia memutuskan untuk merangkak di ranjang yang sama dengan Sakura. Celana dalam-an pendek, tanpa alas tubuh atas. Sasuke menarik selimut, berbaring menatap seorang wanita yang masih sangat dicintainya, tepat di sampingnya.

"Selamat tidur, Sakura." Bisiknya berakhir dengan kecupan ringan di dahi Sakura.

Semoga saja, besok Sakura tidak membunuhnya.

.

.

.

.

.

.

.


AN : Diusahakan cepat. Maaf.

.

.

.

.

.

Sasuke membuka matanya. Hembusan angin bertiup di atas tubuhnya. Awalnya ia lupa dengan di mana atau bagaimana ia bisa berada di sini. Mendapati dirinya yang tertidur di tempat asing, Sasuke beranjak pelan dari tidurnya. Ia ingat, semalam Sakura ada. Tapi yang ia dapati sekarang malah ketidakhadiran siapapun di sampingnya. Sakura telah menghilang.

Sasuke memakai pakaiannya. Beranjak keluar dan dengan sedikit keraguan, ia mendapati Sakura yang menatapnya tajam.

Sakura telah selesai membersihkan dirinya, jelas terlihat dari betapa kacau ia mengikat rambutnya. Tapi entah mengapa itu terlihat seksi. Sasuke sedikit gugup karena pesona itu, tapi Sakura memberikannya keberanian. "Sarapan untukmu sudah menunggu di bawah." Ucap wanita itu sebelum melangkah kembali ke kamarnya. Wangi sabun kulit yang keluar dari tubuh Sakura, membuat Sasuke tertegun beberapa saat. Ada rasa baru yang ia temukan dalam hidupnya detik itu juga. seperti menemukan perasaan yang lama hilang, seperti "Seorang suami seutuhnya." Bisiknya mengulas senyuman.

.

"Selamat pagi Sasuke!" Kakashi menyapa rekan satu tim nya itu, dengan semangat lelakinya. "Beruntung sekali hari ini, Sakura-chan tidak memarahiku." Tawanya penuh kebahagiaan.

Beruntung, karena Sakura mungkin telah berhasil memahami dirinya sendiri. Menerima semua hal yang sebenarnya adalah rencana terbaik untuknya. Ia sangat dicintai, dan itu membuatnya begitu diterima.

Sasuke menghabiskan semua awal pagi ini dengan perasaan yang begitu hangat. Hubungannya dengan Sakura telah membaik. Atau sangat membaik. Tidak ingin berharap banyak, tapi Sasuke sudah merasa baik dengan ini. Ditatapnya sedikit, paras Sakura yang ia rindukan, kembali hangat itu menguasai batinnya.

"Sungguh, aku sangat mencintaimu." batinnya.

.

.

.

.

.

.

.