.
.
Out of the Blue
==.==
DISCLAIMER chara NARUTO : Masashi Kishimoto
DISCLAIMER STORY : Spica Zoe
Cover Art : CharaKauffmann
Warning : Affair, OOC, NTR, Sakura Centric,
.
.Cerita mengandung unsur antagonis moral.
.Sebab itu tolong jangan benci chara di dalamnya.
Out of the Blue
.
.
Ia Haruno Sakura. Seorang dokter ahli kandungan dan juga mantan istri dari seorang pengusaha muda Uchiha Itachi. Profil singkat yang tidak begitu menarik perhatian siapapun dalam keadaan apapun. Sakura di saat muda, selalu dianggap sebagai salah satu talenta muda dalam dunia kedokteran sejak ia menjadi seorang mahasiswa. Teruji dari berapa banyak ia menghadiri seminar sebagai narasumber dikalangan mahasiswa maupun umum. Pengalaman sang ibu, membuatnya banyak mengemban ilmu kesehatan lebih dini.
Banyak yang memuji bakat dan talenta yang Sakura miliki. Karena kecerdasannya dan inovasi-inovasi yang ia berikan dalam dunia kesehatan. Tangannya disebut sebagai tangan sang ahli. Namun, tidak ada yang sempurna, begitupun dengan Sakura. Disaat ia akan mencapai akhir dari masa pendidikannya, ia mengalami kebutaan mental ketika ia menyaksikan sendiri, bagaimana Itachi merelakan nyawa untuk menyelamatkannya.
Mandi darah. Sakura menggigil seketika saat ia memeluk Itachi dengan seluruh darah yang membungkus tubuhnya.
Sakura membuka semua memori silamnya. Kenangan pahit yang menjadikannya Sakura seperti yang sekarang. Kenangan yang membuatnya melangkah jauh dan jatuh terlalu dalam. Jurang-jurang gelap menyanyikan lagu untuk memanggil jiwanya dan Sakura pun terperangkap. Jiwanya terkurung dan sekiranya saat ini ia sedang berusaha mencari seseorang untuk membantunya keluar. Mengembalikan jiwanya, menyembuhkan hati nuraninya. Tapi, belum ia temukan.
Bagaimanapun, belum ia temukan.
Tenten adalah orang yang selalu ada untuknya. Disaat Sakura merasa hancur berkeping-keping, Sakura sadar, Tenten selalu datang padanya. Mengkhawatirkannya dan bertanya padanya.
"Apa yang terjadi, Sakura?"
"Kenapa kau menangis?"
"Jangan bersedih Sakura."
Tapi, Sakura yang menutup dirinya untuk diam dan menyimpan segalanya sendirian. Baginya, seberapa mengerti pun Tenten akan masalahnya, tetap saja gadis itu tak mampu melakukan apapun untuk membantunya.
Percuma bukan?
.
Sakura adalah wanita yang cukup tertutup. Sejak kecil ia merasa dirinya tak ada arti. Kenyataan yang menamparnya, terlalu kejam untuk dimaklumi. Umur dua belas tahun, Sakura menerjemah fakta baru yang tak layak ia dengarkan. Saat ia tahu bahwa pernikahan ibu dan ayahnya adalah sebuah omong kosong, Sakura merasa begitu terluka. Ditatapnya wajah Kurenai dengan uraian air mata, merasa dikecewakan oleh sebuah berkat yang orang-orang sebut sebagai kehidupan.
Sakura menangis dalam pelukan Kurenai. Meski ia tahu, Kurenai pun layak ia benci karena telah diam untuknya. Tapi mau bagaimana lagi? Ibunya pun tak ingin memandang wajahnya.
"Aku membencimu, Nee-san." bisiknya dengan piluh yang tak tertahan. Kurenai mengangguk mendekap tubuh kecil Sakura yang basah karena peluh. Menahan tangis, agar ia bisa berdiri tegar untuk Sakura. Jika ia membayangkan bagaimana ia menjadi Sakura saat ini, mungkin ia pun akan serapuh ini. Apalagi saat Sakura tahu, ayah yang begitu ia rindukan telah meninggal dengan cara yang tidak wajar. Bunuh diri.
Seumur hidup, Sakura menikmati setiap rasa benci yang ibunya tawarkan. Tatapan yang dingin, perasaan yang terabaikan menjadi kasih sayang yang ia terima. Sakura selalu menyukuri bahwa ia memiliki Kurenai sebagai kakaknya. Begitu mencintainya. Menyayanginya penuh dengan tulus dan tak bercela. Ia bersyukur. Meski kenyataan yang lain terus menghantuinya.
Kurenai yang ia tahu adalah anak dari kekasih ibunya di masa lampau. Anak yang diinginkan karena sebuah cinta kasih yang berlebihan. Sakura tahu seberapa besar ibunya mencintai Kurenai. Meski Kurenai menjalani hidup tanpa tahu siapa ayah kandungnya. Sedangkan dirinya? Mungkin hanya hasil dari sebuah hubungan konspirasi untuk sebuah kepentingan semata.
.
Sakura remaja, selalu menangis setiap malam. Merindukan ayahnya yang telah pergi darinya. Merindukan ibunya yang tak pernah ada untuknya. Sakura remaja, telah kenyang oleh kepahitan, pengabaian dan rasa perih. Sakura remaja, telah tumbuh menjadi sosok yang mampu menampung seberapa banyak luka yang ia dapat. Hingga saat sesekali ia merasa lemah dan tak mampu bertahan, maka saat itulah ia akan mengungkapkan semuanya. Rasa sakit dan kepedihan yang selalu ia bungkus pun tak lagi dapat ia tahan.
Sakura tahu seberapa hancur harapannya di masa muda saat ia mendapati jika dirinya di masa ini adalah sebuah gambaran paling menyedihkan. Ingin melangkah meninggalkan kegelapan, tapi tak ada terang yang ia temukan. Sakura sudah pernah merasa menyerah berkali-kali. Dan pernah merasa hancur berkali-kali.
"Kau gila Sakura! Ingat statusmu. Kau sudah menikah! Sakura yang kukenal dulu tidak pernah seburuk ini."
Tenten tidak pernah berbicara kasar padanya. Tapi saat Sakura mendapati kalimat itu terlalu kuat menikam jantungnya, Sakura sadar bahwa terlambat baginya untuk kembali menjadi Sakura yang dulu.
"Bagaimana jika kau tertular penyakit dari pria-pria itu?"
Sakura mengangkat kepalanya memandang Tenten yang bahkan hampir menangis menatapnya. Tampilan kekecewaan yang Tenten berikan padanya itu terlalu menyiksa. Sudah terlambat Tenten. Sudah terlambat bagi Sakura.
"Aku seorang dokter, Tenko. Ahli Kandungan. Aku tahu bagaimana-"
"Itu bukan alasan Sakura!"
Belum bagi Sakura menyelesaikan kalimatnya, Tenten sudah memandangnya begitu lekat dan kejam. Napas yang menderuh itu membuktikan seberapa kuat Tenten menahan emosinya.
"Seharusnya karena kau seorang dokter, pakai hati nuranimu!"
Tenten merasa tak tahu lagi harus mengatakan apa. Menasehati Sakura dengan kata-kata bukanlah pilihan yang baik. Meski tidak ingin mengakuinya, Tenten pun tahu arti tatapan Sakura baginya. 'Jangan hakimi aku. Aku lelah menjadi seperti yang orang harapkan.' Untuk itu, meskipun ingin sekali rasanya Tenten memukul Sakura, ia tak sanggup, karena ia pun tahu Sakura sengaja menyiksa dirinya.
.
"Aku sering melihatmu dalam sebuah acara misi kemanusiaan. Aku tak menyangka, Uchiha yang terhormat itu telah memilikimu."
Sakura tak pernah menghindar ketika banyak pria yang begitu jelas menginginkannya. Meski ia tahu hanya sebagai rekan seks atau sejenisnya. Kiba merangkul pinggangnya dan mengapitnya cepat ketika mereka sedang berada dalam koridor sebuah hotel tempat dimana diselenggarakan seminar yang berhubungan dengan keselamatan kerja dalam sebuah perusahaan yang kebetulan saat itu Kiba ikuti. Sakura bukan narasumber, ia hanya mewakili hadir sebagai panitia yang menyelenggarakan.
Hubungan mereka terus berlanjut semakin intim saat dengan beraninya Kiba mengajaknya bercinta. Inuzuka Kiba, seorang pewaris paling beruntung yang bisa membuang semua kekayaan keluarga hanya untuk kesenangannya semata. Tapi, ia adalah tipe pecinta sejati yang hanya rela mencintai satu wanita saja, meskipun ia tahu Sakura telah bersuami.
Sakura telah berkali-kali mendesah dalam dekapannya. Membakar gairah juga pesona yang tak terelakan raga. Kiba, meskipun ia rasa terlalu bajingan karena telah menggodanya, nyatanya Sakura begitu menikmatinya.
"Apa yang kau lakukan jika kau bertemu dengan suamiku?" Sakura pernah ingin mempertanyakannya. Bagaimana jika pemuda ini bertemu dengan Itachi, apakah ia akan berbuat nekat untuk memperjuangkan wanita yang ia cintai bahkan di depan suaminya sendiri.
Kiba mendekap Sakura manja, tubuh mereka tak beralas dan saling menyentuh satu sama lain. Basah dan lengket, tapi Kiba selalu suka sensai ini. Ia merasa menjadi pria paling beruntung di dunia. Memiliki Sakura. Dikecupnya lengan Sakura perlahan, penuh daya dan rasa. Setiap pejaman mata yang ia hasilkan, dinikmati Sakura.
"Siapapun suamimu, kau tetap wanitaku."
Sakura tersenyum saat Kiba langsung menghadiahinya dengan kecupan panjang. Kisah mereka sempurna jika mereka berada di atas ranjang. Karena Sakura tahu, seberapa besarpun Kiba mencintainya, mereka tak akan bisa bersama.
"Dan jangan menganggapku sebagai perusak hubungan orang ya?" bisik Kiba menggigit ringan daun telinga Sakura. Membuat Sakura tertawa, meski Kiba tahu ada tangisan yang berusaha ia simpan dalam kepalsuan itu.
"Hei.." Kiba menatap wajah Sakura senduh dan dalam. Sakura tak menjawab. Panggilan itu, jika bukan namanya, rasanya ia ingin jual mahal untuk mengakuinya.
"... suamimu pasti sangat mencintaimu." Bisik Kiba mengakhiri kepalsuan yang Sakura tampilkan. Karena detik berikutnya ia melihat ada airmata yang jatuh dari kelopak mata kekasihnya. Sakura menangis, dan Kiba tahu inilah Sakura yang sebenarnya.
"Ada enam orang kandidat yang aku rasa bisa kau nilai untukku Sakura-san."
Sakura mengamati keenam foto dengan masing-masing lembaran profil yang Kiba sampirkan. Dalam sebuah cafe nuansa klasik, mereka memilih untuk bertemu dalam situasi yang terlalu jarang mereka nikmati. Biasanya, Kiba tak ingin bertemu dengan Sakura di tempat umum seperti yang mereka lakukan sekarang. Jika tidak di kamar hotel, mereka akan bertemu di luar kota.
"Kenapa kau menyuruhku melakukannya?" tanya Sakura yang kini memandang Kiba dalam diam. Pemuda itu tersenyum, seakan telah menduga akan ada pertanyaan seperti ini dari Sakura.
"Aku ingin, calon istriku itu sesuai apa yang kau harapkan. Ayolah, kita sudah mengenal cukup dalam. Apa kau tidak menyayangkan jika saja aku jatuh dalam pilihan yang salah?" ucapnya sedikit tertawa, tapi Sakura tahu itu nyata.
Biar bagaimanapun, ucapan Kiba benar adanya. Mereka sudah mengenal jauh dan terlalu dalam. Meskipun bukan cinta yang mereka dapatkan, tapi Sakura tetap menyayangi Kiba selayaknya ia mampu menyayangi seseorang. Sakura terdiam sejenak, lalu memandang keenam foto itu dan meraih salah satunya. Tidak perlu mencari tahu isi profilnya, Sakura rasa ia menyukai gadis itu.
"Aku menyukainya, tidak tahu bagaimana denganmu." Ucap Sakura santai dan tenang. Kiba meringis dan menganggukkan kepalanya seakan ia ingin menimbang sesuatu. Matanya menatap foto seorang gadis yang Sakura ajukan. Dan dengan keheningan yang berlalu tidak cukup lama, Kiba pun bersuara.
"Baiklah. Aku akan menikahinya." Ucapnya semangat. "Sesuai janjiku, setelah kau bercerai, maka aku akan menikahi seorang gadis agar tidak ada rumor yang menjatuhkan nama baikmu." Lanjutnya semangat.
Sakura tertegun cukup lama akan pernyataan itu. Janji itu pernah ia dengar dulu saat hubungan mereka masih begitu hangat dan mekar. Kiba berjanji, tidak akan menemui Sakura ditempat umum sebagai kekasih, tidak akan meminta Sakura bersama di tempat umum untuk menjaga nama baiknya. Dan tidak akan berniat memiliki Sakura agar Sakura tidak menjauh darinya.
"Perceraianmu, membuatku takut menunjukkan muka." Kiba tak lagi berekspresi riang seperti tadi. Setelah menyimpan semua lembaran yang ia tunjukkan, kini Kiba memilih untuk bersikap tenang. Ada rasa simpati yang ia tawarkan dari seluruh sikap tubuhnya.
"Meskipun ingin, tapi aku sudah berjanji untuk tidak memilikimu 'kan? Dan nyatanya kau bercerai, hasrat ingin memiliki itu semakin banyak mendesak dalam dadaku. Tapi, mungkin dengan memutuskan untuk menikahi wanita lain, aku bisa melupakanmu."
Sakura tak melewatkan satu huruf pun dari pendengarannya. Keseluruhan pengakuan Kiba membuatnya membungkam suara. Jika saja ada cinta yang sebesar cinta yang ia miliki pada Sasuke untuk Kiba ataupun Sai, ia ingin memutuskan untuk memilih salah satu di antara mereka. Menjadi kekasih gelapnya pun, Sakura rasa mereka jugalah manusia. Mereka tidak jahat, justru ia lah yang kejam.
"Kiba..." Sakura jarang menyerukan nama itu dari bibirnya. Tapi saat ia mencoba, ada satu kerinduan yang melimpah di benaknya. Kiba menunggu kalimat Sakura. "... Jika kau menikah nanti, lakukan dengan rasa cinta. Kau akan hancur jika kau memaksa dirimu menjalin hubungan dengan seseorang tanpa perasaan apapun." Kiba menunduk sakit mendengarkannya. Jika saja Sakura tahu, hanya ia lah yang Kiba inginkan. Kiba menahan rasa sakit itu, memalsukannya dengan sebuah senyuman pahit. "Iya, akan kulakukan." Bisiknya basah.
"Dan tolong, jangan mengulangi kesalahanku saat kau sudah bersama dengan teman hidupmu."
.
Sakura rasa, ada rasa benci yang akan ia dapatkan dari perceraiannya. Ada kehancuran yang ia miliki saat kenyataan menjadi seorang janda menampar dirinya. Setiap orang yang telah menikah pasti akan mengutuk sebuah perceraian, dan Sakura salah satunya. Tapi, mungkin apa yang Kakashi katakan padanya adalah kebenaran. Perceraian ini mungkin bisa ia rayakan. Sebab, karena perceraian ini lah, Kiba dan Sai akhirnya menutup kisah dengannya. Dan ada satu kebahagiaan yang membenih dalam benaknya. Perpisahannya dengan pria-pria lain itu membuat satu persatu bebannya menghilang. Ia ingin berubah. Sudah tidak ada lagi Itachi yang mengikatnya. Setidaknya ia telah menjadi dirinya sendiri untuk saat ini.
.
Sudah seminggu Sakura resmi menjadi seorang mantan istri dari Uchiha Itachi. Keputusan perceraian telah diresmikan meskipun Itachi tak ikut menyaksikannya. Sakura mendapat bagian yang telah disepakati oleh pengadilan. Semua harta milik Itachi dijadikan aset untuk dibagikan, dan Sakura memiliki setengahnya. Termasuk rumah yang mereka tempati.
Rumah yang menjadi tumpukan masa-masa tersulit dalam dirinya. Sakura menolak menerima rumah itu menjadi bagiannya, dan itulah yang sudah Itachi harapkan. Karena ia tahu Sakura akan menolaknya, untuk itu ia meminta Sai membuatkan untuknya sebuah istana sebagai hadiah perceraian untuk mantan istrinya.
.
.
.
.
.
AN : Thanks Forever :)
.
.
.
.
.
Dua tahun Kemudian
.
.
Sakura menatap lekat seorang pria bersurai merah dalam pandangannya. Mereka sudah berada di dalam ruangan itu cukup lama. Ruang praktek Sakura, yang Gaara datangi untuk sebuah keperluan yang mungkin hanya Sakura yang bisa menyelesaikannya.
Dua tahun berlalu cukup cepat dari apa yang Sakura pikirkan. Kisahnya dengan Itachi telah berkahir, meski tak sedikitpun mereka memutuskan hubungan. Sakura memilih untuk meninggalkan Konoha tepat di dua bulan ia bercerai dari Itachi. Rasanya Konoha bukan tempat yang baik untuknya menjalani hidup. Banyak kenangan yang akan menyulitkannya di sana.
Derita dan kebahagiaan beriringan menghantuinya.
Untuk itu, ia memutuskan pergi dari bayang-bayang masa lalunya. Memilih untuk menetap di kota ini sebagai seorang dokter sebagaimana mestinya.
Gaara menunduk menatap Sakura damai, wajah tak berekspresinya masih sama, tapi begitu pun Sakura merasa ada satu kebahagiaan yang tersimpan di sana. Jelas, sebab Gaara tak pernah tahu ia akan mendapat kebahagiaan seasing ini dalam hidupnya.
Sakura menimbang satu-dua hal dalam pikirnya. Melarikan diri dari pandangan mengikat Gaara yang di masa lalu jelas pernah mengisi hatinya. Bukan karena takut terjerat dengan pesona itu lagi, tapi karena Sakura tahu, sudah ada seorang wanita yang tengah memandangi mereka berdua.
Sakura mengangkat tangannya menyentuh pundak Gaara. Menepuknya ringan seakan memberi tahu pada pria itu jika tak perlu menatapnya sedalam itu.
Gaara menarik dirinya untuk bersikap lebih terhormat dalam menghadapi Sakura di depan orang lain. Pria itu berdehem beberapa kali, sambil merapikan kemejanya dan memilih untuk melangkah ke luar meninggalkan Sakura yang mungkin akan lebih baik untuk mengurusi pasien nya terlebih dahulu.
.
Sakura menelusuri beberapa dokumen dalam tangannya. Hasil-hasil pemeriksaan yang telah ia pelajari akan ia sampaikan pada wanita ini. Yang kini memandangnya penuh tanya meski Sakura tidak ingin mengakuinya.
"Aku tahu, jika Sakura-sensei sedang sendiri. Tapi, apa pria tadi kekasih anda, sensei?" tanya wanita itu tanpa peduli jawaban apa yang akan Sakura berikan padanya. Terkesan tidak sopan memang bertanya hal pribadi pada orangnya secara langsung. Tapi, wanita ini adalah salah satu pasien tetap Sakura semenjak ia telah di vonis mengalami lemah rahim untuk kehamilannya yang kedua. Dan ia sering memuji betapa cantik Sakura dalam kesendiriannya. Ia hanya ingin tahu, apa dengan kecantikan yang luar biasa seperti ini, tak mampu menarik perhatian pria lain untuk mencintainya?
Sakura mengangkat kepalanya menatap wanita itu. Tidak ada ekspresi berlebihan yang tampak dari sana. Membuat sang wanita merasa tak nyaman akan kelancangannya. "M-maaf." ucapnya merasa cemas akan pandangan Sakura.
"Teman. Istrinya baru menyampaikan padanya tentang kehamilannya. Dan dia hanya ingin memastikan kebenaran itu padaku, sebagai dokter kandungan yang bertanggung jawab pada kesehatan kandungan istrinya. Juga sebagai temannya."
Jika saja wanita itu tidak dalam keadaan gugup karena kecemasannya akan ketidaksopanannya bertanya hal yang menyinggung seperti tadi pada Sakura, mungkin ia tidak akan mau lelah-lelah mengakui jika senyuman di akhir kalimat yang Sakura berikan padanya begitu cantik dan rupawan. Membuang semua kecemasannya seketika.
Wanita itu membalas senyuman Sakura dengan canggung. Biar bagaimanapun ia merasa bersalah telah senekat itu bertanya.
.
Sakura selesai dengan pekerjaannya. Berjalan beriringan dengan sang wanita pasien sampai pada pintu praktek dan berpisah, Sakura masih melihat Gaara duduk menunggunya.
"Istrimu benar-benar hamil, Kazeya-san." ucapnya sesaat setelah Gaara berdiri di hadapannya. Dengan ekspresi yang benar-benar sulit Sakura artikan. Agak sulit meyakinkan Gaara dengan kenyataan ini. Pasalnya, Sakura pun tahu, pernikahan di antara mereka murni tanpa adanya cinta. Dan, Gaara merasa ia telah melakukan kesalahan dengan menghamili seorang wanita yang tidak mencintainya. Sakura lelah menasehati Gaara jika tidak ada kejahatan jika telah menghamili istri sendiri. Tapi rasanya Gaara terlalu polos untuk mengerti makna itu.
"Aku bahagia Sakura. Tapi..." Gaara bingung harus mengatakan apa. Wanita itu adalah wanita baik. Istrinya adalah seorang wanita yang begitu baik dan berperasaan. Tapi, bagaimana bisa ia menodai wanita sebaik itu pada saat ia sedang mabuk dan berantakan.
"... tapi semua yang terjadi karena ketidakinginan. Aku takut melukai hatinya. Aku takut dia membenciku dan anak-" Sakura rasa ia tak lagi mampu menasehati Gaara lebih banyak dari ini. Tidak hanya Gaara, bahkan Sakura menengar semua kisah menyakitkan itu dari sang istri. Dimana Gaara tak sengaja memaksa berhubungan saat semua hal yang terjadi di antara mereka tidak sebaik apa yang orang-orang pandang dari hubungan layaknya suami istri. Gaara terpaksa menikahi wanita itu sebab perjodohan. Tidak ada maksud lain di antaranya. Begitupun istrinya. Untuk itu hanya sebuah senyumanlah yang bisa Sakura tampilkan. Sambil menyentuh bahu Gaara penuh perhatian. Setidakpengetahuan Gaara, Sakura mendengar pengakuan mengejutkan dari istri temannya itu. "Meski aku tidak pernah berharap melakukan ini. Tapi jika sudah dikaruniai seorang anak, harusnya aku bersyukur karenanya."
Ucapan penuh airmata itu terkenang dalam benak Sakura, ditatapnya wajah Gaara penuh hati-hati, dan mengatakan "Percayalah padaku. Setelah kehadiran seorang anak, kalian mungkin bisa saling mencintai lebih banyak dari yang tak kau duga."
.
Tidak sulit mengatakannya. Ya, tidak terlalu sulit. Karena perkataannya sendiri, Sakura kembali terkenang akan masa lalunya dengan Itachi. Jika saja di antara mereka hadir seorang bayi kecil sebagai hasil hubungan pernikahan mereka yang pernah bahagia, Sakura mungkin bisa menutupi kekosongan hatinya akan ketiadaan cinta dengan suaminya. Atau mungkin bisa mengisinya perlahan. Tapi apa daya, Sakura telah kehilangan kesempatan, atau benar-benar tidak pernah memiliki kesempatan.
Sakura menghentikan mobilnya di garasi rumah. Ia tinggal sendiri dalam rumah sederhana ini. Tinggal sendiri dengan semua hal yang masih saja terus menggerogoti jiwanya. Setiap kali terbayang, jujur saja Sakura rindu kehidupan yang penuh dengan cinta. Dan saat kata-kata cinta membayangi pikirannya, ia teringat pada satu wajah.
Sasuke.
Sudah dua tahun mereka tidak pernah berhubungan. Sakura tak memberitahu pada Sasuke akan keputusannya untuk meninggalkan Konoha. Karena Sakura memang tidak pernah ingin agar kehidupan mereka kembali terjalin. Ia takut menyakiti orang lain, untuk itu ia menolak Sasuke untuk kembali padanya. Menyiksa dirinya lagi, agar tak ada kehidupan yang ia hancurkan dengan sengaja.
Sakura duduk dalam gelapnya malam di beranda rumahnya. Rumah yang berada di pinggiran kota yang selalu menjadi tempat untuknya pulang. Ia sudah tak lagi melakukan kejalangan. Ia sudah tak lagi berniat mengumbar nafsu untuk pria-pria lain di luar sana. Ia telah berubah, Sakura merasa hidupnya telah membaik dan ia tidak boleh menghancurkannya lagi.
Ia ingin menghancurkan semua praduga orang yang selalu memandangnya hormat, saat mereka tak tahu seberapa jalangnya ia di dalam. Tapi itu dulu. Dan Sakura yang sekarang sudah menjadi dirinya sendiri.
Sakura mendongak saat tak sengaja ia melihat ada sinar lampu memasuki pekarangannya. Sebuah mobil yang cukup asing menjadi tamu di malam harinya. Biasanya, kedatangan tamu yang sering ia terima adalah kedatangan Gaara. Dengan mobil merah sama seperti warna kepalanya. Namun kali ini terlihat berbeda.
Sakura berdiri dari tempatnya duduk. Menunggu sosok yang muncul dari silaunya sinar lampu yang masih menjajah pengelihatannya. Dan satu suara dari sipemilik memberikan Sakura tanda.
"Sakura! Akhirnya aku menemukanmu!" Tenten, berlari mendahului kekasihnya, segera mendekap Sakura di posisinya. Membuat Sakura tak pernah menduga.
"Aku merindukanmu sayang." bisik Tenten dengan iringan air mata. Sudah begitu lama mereka tak bertemu, dan rasanya Sakura selalu membuatnya rindu. Tatapan dingin, penolakan dan kebengisan dari Sakura yang selalu ia rindukan. Sakura melepas pelukannya pada Tenten. Ia juga rindu sahabatnya ini. Rindu seberapa peduli ia pada dirinya. Ingin rasanya ia ikut menangis, tapi kehadiran Neji sudah mendahului airmatanya.
"Selamat malam, Haruno-san." ucap Neji sopan. Sakura menunduk dengan hormat, ia tak membalas sebab Tenten kembali mendekapnya lagi.
.
Sakura meletakan dua buah cangkir berisi teh hangat di atas meja, untuk kedua tamunya yang tak terduga. Meski salah satunya masih terlihat antusias merangkak dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk menilai seberapa sederhananya isi rumahnya.
"Tenko. Berhenti memandangi rumahku." Ucap Sakura tersenyum. Tenten menoleh, mendapati Sakura telah duduk berhadapan dengan Neji yang selalu terlihat tenang. Ia kemudian berjalan ke arah mereka, dan duduk bersidekap tepat di samping Sakura dan menatapnya.
"Kau tampak lebih hidup kali ini Sakura." Ucapnya penuh damba. Ya, jarang sekali melihat Sakura tersenyum saat dulu. Dan di saat Tenten merasa hidup Sakura yang akan mereka temui akan menjadi jauh lebih suram, Tenten malah mendapati senyum pertama Sakura yang begitu menawan.
"Sudahlah. Apa yang membawamu ke mari, malam-malam begini?" Sakura tidak ingin semua orang yang memandangnya kembali mengingat bagaimana ia yang dulu. Sebelum mereka akhirnya melanjutkan semua pembicaraan dua tahun yang terlewati. Tentang Konoha, juga tentang Sakura. Maka di akhir cerita, Tenten mengeluarkan sebuah benda yang langsung ia berikan pada Sakura.
Sakura menerimanya dengan hati-hati. Sebuah benda berwarna putih keemasan membuatnya tampak berkilau. Dilengkapi simpul pita yang membuatnya tampak berharga.
"Undangan pernikahanku dan Neji." Ucap Tenten dengan senyuman mekar. "Dan kau harus datang!" ancamnya dengan tampang cemberut.
.
Sakura bahagia dengan udangan yang ia terima. Akhirnya, sahabatnya itu menikah dengan orang yang bertahun-tahun selalu mencintainya. Kesabaran Tenten dalam menghadapi penolakan keluarga Neji membuat Sakura menganggumi sahabatnya itu. Mereka tidak pernah menyerah, dan mereka tidak pernah ingin mengerti apa makna dari kata itu.
Sakura diam sejenak di pagi hari yang ingin ia lewati dengan senyuman. Tapi, kehadiran Tenten tak lepas dari serpihan-serpihan masa lalu yang sengaja ia buang. Harum konoha menguar bersamaan dengan kedatangan sahabatnya itu. Dan saat ia mengingat Konoha, mau tak mau ia pun ingat akan Sasuke.
Lebih dari puluhan kali, Sakura memandang udangan yang Tenten berikan. Dari dasar hatinya, ia juga rindu akan kebahagiaan. Apa kabar dengan Sasuke sekarang? Apa ia sudah menikah lagi? Atau hanya dirinya lah yang kini menjadi peran paling menyedihkan saat ini? Pertanyaan itu membumbui benak Sakura hingga malam menjemputnya lagi. Mengantar kembali kesepian, mengganti kerinduan menjadi hal-hal yang menyakitkan. Jika ia kembali ke Konoha, apa ia masih bisa kembali melupakannya?
"Sasuke, ternyata aku benar-benar masih mencintaimu."
.
.
.
.
.
.
"Terlepas dari siapa ibu kandung Sarada, aku mohon Sakura. Rawatlah dia sama seperti kau merawat anakmu."
Wajah balita kecil itu tersenyum dalam tidurnya, usianya masih beberapa bulan, dan Sakura begitu menyayanginya.
"Aku telah bertanggung jawab atas kehidupannya, bahkan sebelum dia dilahirkan."
Ya, dan Sakura telah membuktikannya.
.
.
Sakura menghapus genangan air yang membasahi pipinya. Masih terlalu pagi untuk harus merasa sedih akan kenangan seseorang yang telah pergi meninggalkan kita. Di depan nisan itu, Sakura meletakan serangkai bunga untuk ia persembahkan. Sebagai perpisahan; karena ia telah resmi menanggalkan marga suaminya.
"Aku bukan lagi ibumu Sarada." Bisiknya.
Sasuke menata rambutnya yang terusik hembusan angin. Sedang Itachi hanya memandang hambar sejuta kehampaan di ujung matanya. Mereka bertiga, mungkin akan berpisah hari ini.
"Aku mencintaimu." Lanjut wanita itu lagi, dengan nada basah yang tertangkap dalam telinga. "Sangat mencintaimu." Sedang tangisan ia sembunyikan. Gaara memilih untuk menikmati setiap hembusan asap dari dalam mulutnya. Menunggu kedua tuannya serta satu wanita itu selesai mengadu.
.
Langit mendung, empat jiwa terkurung dalam kemurungan.
Keadaan seperti ini, bukan kali pertama Sakura rasakan. Keadaan dimana Itachi dan Sasuke berada disekitarnya bersamaan telah ia alami ratusan kali dalam hidupnya. Tapi, dibandingkan dengan kesesakan yang ia rasakan dihari-hari lalu, saat mereka bersama. Kali ini terlihat lebih berbeda. Tidak ada kesesakan, tidak ada lagi ketidakberdayaan, yang ada hanya sebuah kata maaf yang tak bisa ia berikan. Sakura lebih memilih untuk menyembunyikannya. Lebih baik begini. Ya, lebih baik.
Mereka mengunci bibir mereka selama mobil berjalan menembus keramaian. Gaara tak berniat mencuri tahu apa yang sedang Sakura lakukan di tempat duduknya, di samping Itachi yang hanya diam mengabaikannya. Juga Sasuke yang tak begitu peduli dengan keheningan yang membunuh mereka. Tidak ada pertanyaan, tidak ada pernyataan.
Kebisuan menguasai mereka.
.
.
