.

.

Out of the Blue

==.==

DISCLAIMER chara NARUTO : Masashi Kishimoto

DISCLAIMER STORY : Spica Zoe

Cover Art : CharaKauffmann

Warning : Affair, OOC, NTR, Sakura Centric,

.

.Cerita mengandung unsur antagonis moral.

.Sebab itu tolong jangan benci chara di dalamnya.


.

Bagi Sakura, segala hal yang telah terjadi dalam kehidupannya adalah sebuah pelajaran. Dengan sebuah kelulusan yang dihadiahkan oleh rasa penyesalan. Tapi meskipun begitu, kehidupan akan terus berjalan. Sakura pernah bertanya pada dirinya, dalam kebimbangan dan keinginan memperbaiki diri, apa yang sebenarnya ia inginkan. Beginikah hasil yang ia butuhkan? Tentu saja tidak. Tidak ada jiwa yang ingin dimunafikan dengan kenyataan pahit dan pencapaian penuh makian.

Jangan tanya Sakura, apa alasannya melakukan semua hal buruk dalam hidupnya. Tidur dengan beberapa pria bukanlah hal yang ia impikan dalam kehidupannya. Malu. Benci. Marah. Hanya itu yang ia rasakan, meski secara manusiawi ia pun menikmatinya. Menikmati derita yang memaksanya tertawa.

Sai dan Kiba, apa kabarnya mereka saat ini? Apakah sudah bahagia, sudah melupakannya atau malah sepertinya, menderita.

Lalu.

Sasuke, apa kabarnya saat ini. Adakah rindu itu ada? Sama seperti yang kini Sakura akui tengah terendap dalam jiwanya. Membebani langkahnya, pandangannya dan membuat sesak napasnya.

Benar. Sakura telah mendapati dirinya tengah hidup dalam kesesakan karena rindu yang ia derita. Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menahan semuanya.

Pergipun Sakura, bukan karena ia ingin melupakan seberapa penting sosok Sasuke dalam hidupnya. Hanya saja, ia ingin semakin mencintai sosok itu dalam rindu yang menyiksa. Tidak apa, anggap saja sebagai penebusan dosa karena telah jatuh dalam genangan cinta.

Awalnya, Sakura di masa muda tidak pernah menyangka hidupnya akan terjalani dengan cara seperti ini. Meskipun tidak ada senyuman sang ibu mengiringi tiap langkahnya, nyatanya Sakura selalu terberkati dengan senyuman-senyuman orang yang menyayanginya.

Kurenai selalu memberitahukan pada Sakura di masa remaja jika cinta adalah sebuah cobaan untuk memilih antara derita dan bahagia. "Cinta adalah kebahagiaan, jika cinta membuatmu menderita, berarti kau salah memilih pasangan."

Sakura selalu tertawa jika mendengar Kurenai, mendekapnya dan mengucapkan hal-hal sejenis cinta untuk ia mengerti. Tapi meski begitu Sakura sadar, meski terlalu muda untuk memahami di masa yang ia miliki, pesan Kurenai mungkin akan berguna di saat dimana Sakura mulai mengerti.

Mencintai dan dicintai Sasuke adalah kebahagian lain dalam hidup Sakura. Menyertakan gegap suka cita saat ia menceritakan seberapa ia butuh Sasuke dalam hidupnya pada Kurenai adalah keseharian yang Kurenai nikmati dari sisi ceria Sakura yang tertutup.

.

"Tidak ada habisnya kau membuatku menderita, nee-san!" Bibirnya tergigit piluh. Detak jantungnya berpacuh, dan banyak duka yang tak lagi bisa ia pendam saat itu. Sakura menatap wajah Kurenai dengan tatapan paling kejam yang pernah Kurenai saksikan. "Kenapa hal sebesar inipun harus kau sembunyikan dariku?!" teriak Sakura dengan langkah kasar mendekati Kurenai yang memilih melangkah mundur dan menerima seberapa kuat Sakura mendorongnya menabrak ke dinding.

Kurenai menahan pekikannya. Rasa sakit pada punggungnya ia tutupi dengan tatapan yang penuh rasa penyesalan memandang Sakura yang menangis tak karuan. Saat itu, saat dimana Sakura baru saja mengetahui seberapa besar peran Itachi dalam menghancurkan kehidupan bahagia yang Kurenai miliki. Kehidupan yang membuat Sakura merasa iri dan ingin memilikinya. Kehidupan kakak yang paling ia sayang dan percaya. Kehancuran hati Sakura menumpuk dan melebur, menyamakan rasa perih untuk meyebar keseluruh sel-sel tubuhnya. Sakit. Terlalu sakit rasanya membayangkan Kurenai tega menutup semua rahasia ini darinya. Rahasia sepenting ini. Lalu kenapa ia mendukung Sasuke yang patutnya ia benci untuk menjadi kekasihnya? Dan lebih sakit lagi saat Sakura membayangkan seberapa hancur kehidupan kakaknya.

Kurenai menahan seberapa ingin ia meringis karena hantaman tubuhnya pada dinding. Tidak, ia tidak pantas meringis sakit saat ia menyaksikan seberapa luka yang sakura rasa kini. Menyesal. Sangat menyesal. Kenapa Sakura harus tahu dengan cara seperti ini.

"Mengatakannya padamu hanya akan membuatmu terluka Sakura. Terluka karena akhirnya kau tahu seberapa banyak aku mengutuk kehidupanku-kehidupan yang begitu kau inginkan. Dan terluka karena Sasuke yang kau cintai adalah adiknya." Kurenai menunduk takut. Sakura kecilnya menatapnya begitu tajam dan seakan ingin membunuhnya saat itu juga.

"Tapi sekarang Itachilah yang akan kunikahi!"

Sakura meluapkan semua keputusasaannya saat itu juga. Ia menangis dalam jeritannya. Ia telah hancur dalam satu kenyataan yang merampas semua haknya untuk bahagia. Kenapa dunia begitu berani mempermainkan takdirnya. Kenapa dunia begitu kejam padanya. Siapa yang akan ia salahkan dalam derita ini? Kurenai, Sasuke, Itachi, atau dirinya sendiri.

Sakura terjatuh dalam luka yang tak lagi bisa ia tampung. Terlalu banyak beban yang ia terima dalam satu pukulan. Ia menunduk tepat di hadapan Kurenai, bersimpuh dengan tangisan dan jeritan yang tak bisa ia sembunyikan. Ingin meminta ampun pada sang pencipta karena cobaan ini begitu berat untuk ia tanggung sendirian.

"Bunuh aku nee-san. Bunuh aku." Bisik Sakura perih bercampur isakan tangis dan uraian airmata. Ia sembunyikan wajahnya dipermukaan lantai. Membuatnya merasa begitu ingin dihina dan direndahkan. Tapi, bagaimana Kurenai mampu melihat adik yang begitu ia cinta menjadi begitu malang seperti ini. Setiap isakannya mampu menggores luka dalam batin Kurenai. Membuatnya ingin menyalahkan dirinya sendiri. Seandainya Sakura tahu lebih dulu, mungkin Sakura tidak akan mengambil keputusan untuk menjanjikan pernikahan pada Itachi. Ataupun mencintai salah satu Uchiha, meskipun itu Sasuke.

Jadi ini alasan Tsunade begitu membenci Uchiha dalam setiap getaran nada hidupnya? Uchiha yang telah merusak kehidupan putri kesayangannya. Dan Uchiha yang kini merusak hidupnya-Sakura. Tapi bukankah?

.

Sakura tersadar dari ingatan kelam penuh siksaan dari satu pecahan kisah masa lalunya. Tak ia sadari, telah ada yang mengalir di pipinya saat itu juga. Kenangan yang begitu menyakitkan. Kenapa di saat ia memilih untuk kembali, malah membuatnya terkenang.

Sakura mengamati suasana kereta yang ia tumpangi untuk kembali ke Konoha. Sepi, senyap. Seperti hatinya. Ya. Kebetulan Sakura ingat kenangan pahit itu, membuatnya juga tanpa sengaja ingat apa yang ibunya katakan padanya dua tahun lalu saat ia memilih datang memberitahukan pada Tsunade bahwa ia akan bercerai. "Kau sudah tahu kenapa aku begitu membenci Uchiha. Tapi kau tidak pernah paham kenapa aku begitu ingin melihat kalian bahagia."

Apakah kebahagian Sakura pun bisa menjadi salah satu yang Tsunade nantikan? Rasanya Sakura tidak pernah merasa berada di posisi seperti itu dalam kehidupan ibunya. Tidak pernah.

.

Langkah kaki yang menawan memberikan bunyi ketukan pada setiap langkahnya yang keras dan menakutkan. Beberapa mata memandang sosok wanita bersurai hitam yang berfisik rupawan menembus udara yang menampilkan keheranan. Wajahnya terlihat begitu marah dengan segala rasa yang ia sembunyikan. Tujuannya hanya satu, pintu ruangan yang kini semakin dekat dengan di mana langkahnya semakin mendekat.

"Maaf nona. Anda tidak boleh-"

"Lepaskan tanganmu atau aku akan membunuhmu!" kecam Kurenai sebelum salah satu wanita di sana menahan langkahnya. Membuanya terus berjalan dengan segara amarah yang merasukinya. Dan dalam hitungan detik, Kurenai membuka pintu ruangan itu dengan keputusasaan yang begitu menguap.

Itachi mengangkat kepalanya dengan keterkejutan yang ia tampilkan. Mengabaikan beberapa detik waktu berharganya hanya untuk menatap Kurenai dalam ruang rawatnya. Saat itu, Itachi sedang kedatangan beberapa rekan kerjanya. Mendapati dirinya yang cacat sementara, memaksanya menyulap ruang rawatnya sendiri menjadi sebuah ruang kerja di pagi hari.

"Kurenai-san?" begitu saja, nama itu tercetus dari bibirnya.

Tidak ada yang mengarahkan situasi akan berubah menjadi seperti apa. Seakan bisa melihat maksud Kurenai yang tersembunyi, dua orang dalam ruangan Itachi pun memilih untuk mengundurkan diri sementara mereka bicara yang sepertinya lebih pribadi dari sekedar masalah pekerjaan.

"Apa yang-"

Tidak menghiraukan pertanyaan Itachi, wanita itu langsung menunduk di hadapan Itachi dengan uraian air mata dan isakan yang tak lagi bisa ia tahan. Membuat Itachi terdiam dan bertanya-tanya dalam keheningan.

"Aku tidak peduli seberapa hancur hidupku di tanganmu di masalalu Uchiha-sama Aku tidak peduli. Tapi aku mohon padamu. Demi nyawaku sendiri." Kurenai memberi jedah pada ucapannya. Membuatnya mengumpulkan semua kekuatan untuk kembali membuka luka lamanya. "Aku mohon. Itachi-san. Jangan biarkan adikku menangis dalam kehidupanmu. Aku mohon. Aku mencintainya lebih besar dari apapun yang ada dalam hidupku. Jangan lukai hatinya seperti yang kau lakukan padaku. Aku mohon. Aku mohon."


.

Sakura tersenyum mengecup pipi kakaknya yang tengah menatapnya penuh rindu. Mereka saling mendekap untuk dua tahun yang terbuang. Kenangan masa lalu itu membuat mereka rindu pada seberapa banyak perasaan yang telah di makan waktu.

"Aku merindukanmu, nee-san." Bisik Sakura masih mendekap. Rasanya masih sama dengan dekapan-dekapan yang ia dapat dulu ketika ia masih begitu kecil, beranjak remaja bahkan ketika dewasa seperti. Kurenai tidak pernah berubah.

"Aku pikir kau melupakanku, adik kecilku." Kurenai menghadihainya senyuman.

Sakura melepas dekapannya, ia ikut tertawa saat ia mendapati Kurenai masih sama seprti dulu memperlakukannya.

Ia rindu Konoha. Ia rindu suasana Konoha yang begitu kental dalam ingatan masalalunya. Kurenai memilih untuk menjemput Sakura di stasiun ketika Sakura mengabari jika ia akan pulang sehari lebih awal dari hari pernikahan Tenten. Biar bagaimanapun ia ingin melakukan yang terbaik untuk Tenten. Sahabat yang tidak pernah lelah berada di sisinya.

"Bagaimana pekerjaanmu, tidak ada kendala 'kan?" Kurenai mengisi kekosongan mereka saat berada di dalam mobil. Entah kenapa, ia merasa Sakura menjadi jauh lebih cantik dari sosoknya di dua tahun yang lalu. wajah yang lebih bersahabat dari apa yang Kurenai bayangkan. Bukankah kesendirian bisa membuatmu lebih cepat di makan waktu? Tapi, Kurenai rasa hal seperti itu tak begitu berarti pada Sakura.

"Baik-baik saja. Bulan lalu, lebih banyak melakukan operasi dari pada bulan ini." respon Sakura sambil tersenyum hangat. "Dan kau sendiri?" pandang Sakura bergantian pada Kurenai yang memandangnya sekilas sebelum kembali mengambil ahli kemudi. "Apa Kushi-kun akan punya adik dalam waktu dekat?"

Kureni tertawa mendapati pertanyaan adiknya. Membayangkan seberapa keras Kakashi ingin memberi hadiah adik baru pada Kushi putranya, membuat Kurenai tertawa renyah.

"Untuk kehamilan kedua, sepertinya aku butuh peran doktermu Sakura." Serunya memandang penuh godaan. Senyuman mengiringi perjalanan mereka sampai tujuan.

Sakura teringat seberapa bahagianya ia saat Kurenai memeluknya dan mengatakan diri telah mengandung untuk ketiga kalinya dalam hidupnya. Meskipun dua kehamilan terdahulu dalam hidupnya tidak berjalan baik. Namun di kehamilannya yang ketiga, Kurenai tidak ingin melakukan kesalahan yang sama. Apalagi saat ia tahu, Kakashi begitu menginginkannya. Meskipun saat Kurenai mendekapnya, Sakura hanya pura-pura terkejut sebab ia memang sudah lebih dulu mengetahuinya. Sebuah seringaian kecil Kakashi hadiahkan padanya saat itu juga.

.

Kini, sampailah Sakura di saat yang tak ia sangka. Di dalam apertemen milik Kurenai, ia melihat dua kehadiran lain yang tidak ia duga. Itachi duduk menatapnya manis dengan senyuman. Kepribadiannya tidak pernah berubah. Masih tetap menjadi Itachi yang dewasa dan penuh dengan keindahan dari setiap pandangannya. Ia sedang duduk, dengan hal yang nyaris tak mampu Sakura percaya. Ada seorang bocah berambut hitam sewarna dengan miliknya, sedang bermain dipangkuannya. Itachi menanggalkan jas nya, melipat kedua lengan kemeja putihnya sampai siku dan membiarkan Kushi bermain di pangkuannya.

"Selamat siang Sakura. Kau terlihat semakin cantik." Ucap Itachi tersenyum.

"Kushi-kun, ayo kemari. Bukankah kau ingin melihat Sakura baa-san?" Kurenai meraih Kushi dari pangkuan Itachi, memberi senyuman pada Itachi yang kemudian bangkit, mengelus puncak kepala Kushi dalam dekapan Kurenai. Memberi satu kesan yang tak bisa Sakura deskripsikan. Apa jika Itachi memiliki anak, ia akan terlihat sebahagia ini?

Kurenai mengajak Kushi dalam langkahnya mendekati Sakura, diikuti dengan Itachi yang kini berjalan menyusul mereka dengan kedua tangan ia simpan dalam saku celananya. Menatapi Kushi dengan tatapan bangga entah karena apa. Rasanya terlalu ingin melihat Itachi seperti ini sejak dulu. Hingga Sakura kembali sadar dalam kenyataan saat ia merasakan ada satu tarikan kecil di pada ujung rok panjang yang ia kenakan.

"Sakula-chan. Sakula-chan ternyata cantik sekali. Wahhh." ucap Kushi mendongakkan kepanya menatap Sakura yang masih berdiri di hadapannya. Sakura langsung menunduk, menyamakan tingginya pada sang bocah kecil yang tampan itu. Wajahnya mewarisi wajah rupawan sang ayah, sedang rambutnya nyaris milik Kurenai.

Sakura tersenyum mengusap puncak kepala Kushi, lalu meletakan kedua tangannya di kedua pipi sang balita dengan geraman.

"Kushi-kun sudah besar ternyata. Lebih tampan dari yang kuduga." Tawanya riang.

Sakura mengangkat Kushi kecil dalam dekapannya, mengajaknya bermain dalam celotehnya. Meski baru ini pertama kali bagi Sakura melihat Kushi secara langsung, tapi bukan berarti Sakura tidak pernah berinteraksi dengan Kushi selama dua tahun ia pergi. Kurenai selalu menyempatkan diri menelpon Sakura, melakukan panggilan video berjam-jam untuk membuat Sakura tidak begitu kesepian. Mengenal Kushi lebih banyak melalui cara itu, dan Kushi pun sama.

"Itachi, Sasuke-kun. Bantu aku menyiapkan makan siang ya."

Meski tak memandang, Sakura bisa merasakan Sasuke bangkit dari posisi duduknya. Merespon perintah Kurenai hanya dengan satu getaran suara khasnya. Sakura menyempatkan diri memandang Sasuke yang sejak tadi sama sekali tak mengucapkan sepatah kata pun untuk menyambut kedatanganya. Padahal sudah dua tahun mereka tak bersama. Sudah dua tahun mereka tak pernah saling menyapa. Apa rindu yang Sakura rasakan tak sama dengan yang Sasuke miliki? Atau memang tidak lagi ada.

Beberapa menit berlalu. Ruang keluarga tidak berbatasan apapun dengan dapur yang menjadi tempat bagi Itachi dan Sasuke berada. Kedua duda tampan itu terlihat begitu sibuk mengerjakan beberapa tugas yang Kurenai bagi pada mereka. Sasuke terlihat sedang mengiris sesuatu, dengan gerakan cepat, dengan pandangan wajah yang serius, ekspresi yang tak pernah berubah dari Sasuke yang ia kenal. Benar-benar Sasuke yang dulu.

Tidak jauh berbeda dari yang Itachi lakukan. Sasuke pun melepas jasnya, melipat lengan kemeja merah mudanya sebatas siku tangan. Yang membuatnya sedikit berbeda dari Itachi adalah, ia melepas dua kancing atas kemejanya dan membiarkan dadanya sedikit terlihat seksi entah untuk alasan apa. Membuat Sakura nyaris tidak pernah ingin memalingkan wajahnya dari penampilan Sasuke yang begitu ia rindukan. Rindu? Apa benar Sakura merasakan rindu?

Sakura membiarkan Kushi tertidur dalam pangkuannya. Duduk di sofa dengan posisi yang berhadapan langsung dengan dapur milik Kurenai. Jika orang-orang kebanyakan menikmati hiburan televisi saat berada di ruang keluarga, maka berbeda dengan Sakura yang kini sedang disuguhkan keahlian dua koki tampan yang tengah memberikannya hiburan secara langsung.

"Oh ya Sakura." Sakura tersentak dalam hitungan detik. Segera melepaskan pandangannya yang sejak tadi terikat pada wajah Sasuke dan kini beralih pada wajah Itachi yang memandangnya dengan senyuman. "Malam nanti sahabatmu itu akan mengadakan pesta kecil untuk beberapa kerabat sebagai hadiah membantunya melakukan persiapan. Dan kita akan datang ke sana lebih awal." jelas Itachi. Sambil membuka penutup panci yang langsung mengeluarkan uap dengan aroma yang terasa menggiurkan. Sakura mengangguk menanggapi Itachi. Sejak tadi ia tidak tahu harus menghadapi mantan suaminya itu dengan cara yang bagaimana. Di sisi lain karena Sasuke ada di sana, dan sisi lain lagi, kenapa dalam keadaan yang masih tak ia mengerti seperti ini. Kedekatan Itachi dan Kurenai membuatnya merasa cukup nyaman, tapi kenapa Sasuke pun ada? Rasanya ia cemburu.

"Kurenai-san, apa ini harus kuiris semua?" Sasuke mengangkat sebuah bawang dalam genggamannya dan menampilkan pada Kurenai yang tengah sibuk memeriksa persediaan di dalam lemari es. "Ya, kuserahkan padamu Sasuke-kun." Respon wanita beranak satu itu cepat.

Sakura. Kenapa ia begitu ingin berada di sana. Menjadi bagian dalam kesibukan mereka. Berada di sisi Sasuke, memandangi Sasuke yang sedang serius dan menggodainya. Membuyarkan lamunannya. Hingga sasuke tanpa sadar melukai jarinya. Berdarah. Dan dengan gesit dan menyesal sakura meraih jari itu, meletakannya di antara kedua bibirnya. Menghisap agar darah segarnya keluar dengan cepat dan menghentikan pendarahannya.

Ya. Sakura membayangkan itu. Membuatnya tersenyum sendiri saat ia menyadari ia masih berada dalam posisinya. Tak bisa kemanapun karena Kushi berada dipangkuannya. Tapi tidak apa. Melihat Sasuke seperti ini saja sudah membuatnya bahagia. Apakah jika mereka menikah, Sasuke akan melakukan hal seperti ini padanya? Anggap saja Kushi adalah anak dari pernikahan mereka. Lalu Sakura sedang menidurkannya. Sedang Sasuke, merasa Sakura sedang tidak bisa diganggu, memilih untuk mengambil alih dapur. Memasakkan sebuah makanan untuk keluarga kecilnya-yang sangat ia cintai. Sasuke akan berada di dapur sendirian. Dengan penampilan seperti itu, sambil mengiris sesuatu, Sasuke akan menyempatkan diri untuk melirik Sakura pada posisinya. Membagi senyuman, terkadang menanggapi tatapan genit Sakura yang sengaja menggodainya. Pasti akan sangat bahagia. Kemudian, Sasuke berjalan ke arah mereka. Meraih tubuh kecil kushi yang tertidur dan mendekapnya. "Lebih baik dia ditidurkan di kamar saja. Dan kau membantuku memasak." Bisik Sasuke, menatap Sakura intens, dan mengecup bibirnya ringan sebelum berhasil meraih Kushi dan melangkah membawanya. Pasti sangat bahagia. Sangat bahagia.

"...ra. Sakura... Sakura?"

"A-ah? Kau bilang apa?" Sakura tersadar dari imajinasinya. Ia menatap Kurenai yang berposisi sama persis seperti yang Sasuke lakukan dalam mimpinya. Menunduk meraih Kushi dan ingin mendekapnya. Dengan wajah yang terlalu dekat mengamati Sakura di posisinya.

"Kau melamunkan apa?" telisik Kurenai penuh tanya. Sakura menunduk malu. Rasanya baru ini ia mekakukan perbuatan bodoh seperti ini. Membayangkan Sasuke menjadi suaminya? Rasanya ia menjadi berbeda dari biasanya.

"K-kau bilang apa?" Sakura berusaha mengalihkan topik. Ia enggan menatap Kurenai berlama-lama. Tapi rasanya Kurenai tak begitu mencurigainya. "Aku akan menidurkan Kushi di kamarnya. Jika kau tidak keberatan, kau bisa berbaur dengan mereka."

Sakura menatap langkah Kurenai yang telah menjauh. Setelahnya, ia palingkan wajah ke arah Itachi dan Sasuke yang kini tampak serius. Tidak, sasuke memang sedari tadi telah bertampang serius.

Jika tidak keberatan itu artinya terserah pada Sakura 'kan? Bagaimana mungkin Sakura berada di antara mereka. Yang satu adalah mantan suaminya. Dan yang satunya lagi adalah mantan kekasihnya. Sakura telah memutuskan untuk tidak berada di sana. Mungkin akan lebih baik jika ia tidak ada di sana. Tapi, baru saja sakura memutuskan pilihannya. Itachi sudah meneriakan namanya dalam getaran panik.

"Sakura! Apa kentangnya sudah bisa dicampur ke dalam masakan? Dan wortel. Mana lebih dulu?" tanyanya.

"Wortel lebih dulu, Itachi. Harus ada jarak beberapa menit sebelum kau memasukan kentangnya." Tanpa sadar. Sakura melangkah. "Dan setelahnya?" Itachi mundur dalam beberapa langkah saat mendapati Sakura telah berada disisinya. Mengambil alih sebagai pengamat untuk memastikan masakan yang tengah mereka buat.

"Jika kentang adalah bahan terakhir yang dicampurkan, kau sudah bisa menilai rasa masakannya." Bisik Sakura yang dengan tanpa sadar telah membuka tutup panci yang sedang mereka tunggui. Sakura tersadar. Ia telah berada di sana. Kenapa ia bisa berjalan tanpa memikirkan apapun sebelumnya. Ia menutup kembali tutup panci itu dengan cepat. Dan memutuskan untuk kembali pada tempatnya. Itachi menatapnya bingung. Tapi Sasuke terlihat tidak peduli. Namun sebelum Sakura akhirnya kembali, Sasuke membuka suaranya. "Lalu, apakah aku harus mengiris semua bawang putih yang tersedia ini?" tanyanya sambil membiarkan Sakura menilai pekerjaannya.

"Untuk apamu mengiris semua bawang itu, Sasuke?" Sakura tidak menyangka. Jadi sejak tadi, sejak ia memandangi Sasuke di atas sofa. Menganggumi ekspresi seriusnya. Namun nyatanya Sasuke hanya mengerjakan pekerjaan bodoh ini?

"Untuk menarik perhatianmu." Balasan yang terlalu kecil. Tapi mampu didengar Sakura dan Itachi bersamaan. Membuat Sakura menatap wajah Sasuke yang kini telah berbeda ekspresi. Tenang dan lembut. Namun masih tetap datar. Membuat Itachi menghadiahi satu senyum kecil tanpa mereka tahu.

"Tidak perlu melukai semua bawang untuk menarik perhatianku." Kesal Sakura menarik semua hal dari hadapan Sasuke dan menyelamatkannya. "Tapi kenapa kau melukai dirimu sendiri hanya untuk menarik perhatianku." Dan ucapan itu nyaris membuat Sakura mematung.


.

Kurenai mengecup pipi Kakashi di hadapan semua mata. Itachi tersenyum. Sakura juga. Sedang Sasuke hanya menyumbangkan napasnya saja.

"Terimakasih Uchiha-san. Telah menjaga Kurenai beberapa hari ini." ucap pria bersurai perak itu menatap Itachi dengan perasaan bahagia. Kakashi baru saja pulang dari tugas luar kotanya. Ia dan Sasuke telah berjalan masing-masing dalam jenis pekerjaan mereka. Kakashi mengupayakan pulang lebih cepat sebelum hari pernikahan Tenten. Karena Kurenai memberitahu bahwa sakura akan pulang di hari itu.

Menitipkan Kurenai ditangan yang tepat adalah pilihan terbaik. Itachi menerima tugas sebagai pengasuh Kurenai dan anaknya selama beberapa hari. Menemani mereka tidur meski ia hanya kedapatan tidur di sofa. "Tapi, mantan pacarmu ini tidak macam-macam kan ojou-sama?" goda Kakashi sebelum mengecup bibir Kurenai lama.

"Lebih baik kalian lanjutkan di kamar." Serapah Sasuke menggerutu malas.

.

Tawa mereka tetap menyala hingga sore hari. Menyala memenuhi ruang rindu Sakura yang kering selama dua tahun belakangan. Tawa Itcahi yang jauh terlihat lebih bahagia saat ini. Kenapa bisa begitu bahagia saat mereka telah berpisah. Apa ini memang cara yang terbaik? Lalu tentang Sasuke, apa ia telah memilihki hidup lebih baik saat ini? Apa rindu yang Sakura bawa pulang akan berbalas?

Sasuke tetap diam. Tidak mengeluarkan ekspresi apapun untuk menunjukkan seberapa rindunya ia dengan kepulangan Sakura. Hingga Sakura dapat simpulkan, mungkin hanya ia yang terlalu berharap.

Kushi bangun dari tidurnya. Sedang Kurenai tidak tahu sedang berada di situasi apa di dalam kamar bersama Kakashi. Sakura meraih Kushi dalam dekapannya. Dalam kamar yang luas itu, mendekap Kushi yang masih terlihat sedikit mengantuk, membuat Sakura ingat akan Sarada.

"Merindukan Sarada?" Sakura menoleh keasal suara, sudah ada Sasuke yang melangkah mendekatinya. Sakura terdiam piluh. Ah, masa lalu. Kenapa sesakit ini.

"Jangan merindukan anakku Sakura. Buatlah satu untuk kau kenang."

Melihat Sasuke bicara hal seperti itu dalam pandangan mata sedatar itu pada Kushi membuat Sakura hanya tersenyum lirih. Sasuke memang seperti itu kan? Kadang ucapannya memang tak pernah bisa ditoleransi. Sasuke mendekatkan wajahnya pada Kushi yang berada dalam dekapan Sakura. Mempermainkan pipi bengkaknya. Dan mengucek-ngucek rambutnya. Awalnya lembut, tapi lama kelamaan membuat Kushi rewel dan kesal.

"Jangan membuatnya menangis Sasuke." perintah Sakura menarik satu langkah agar Sasuke tak bisa meraih Kushi dan menggodainya.

Sasuke tertawa. Dan Sakura akui ini pertama kalinya ia melihat Sasuke seindah ini setelah sekian lama, bertahun-tahun. Suara tawanya yang mengisi rindu yang panjang. Kenangan yang selalu saja terputar membuat Sakura ingin memilikinya.

"Apa aku sekejam itu?" balas Sasuke, masih mengikat pandangannya pada Kushi yang kini ia raih kembali. Mendekatkan dirinya dalam jarak langkah yang Sakura ciptakan. Meraih wajah Kushi. Menekan-nekan pipinya. Membuat Kushi semakin kesal dan kini menangis.

"Sasuke!" kesal Sakura tidak suka. Tawa sasuke menghilang. Ditariknya tangannya dari wajah Kushi yang langsung Sakura lindungi dalam dada. Menyimpannya dalam kedua saku nya dan berdiri tegak masih dibelakang sakura.

"Aku iri Sakura." Ucapnya lemah. Mengambil langkah perlahan melewati Sakura pada posisinya, menuju pintu kamar yang terbuka. "Aku juga ingin kau memelukku saatku menangis." Karna bukan dia saja yang merindukanmu, aku juga. Bisik Sasuke, sesaat ia berpapasan dengan Sakura, dan melanjutkan langkahnya untuk menghilang dari ruangan. Membuat Sakura menunduk menahan rindu yang ia rasa sampai di kepalanya. Ditemani isakan Kushi yang telah mereda, dan pelukan hangatnya. Serta satu senyum yang tiba-tiba muncul mengisi wajah cantiknya.

.

.

.


AN : Sasuke gombal :'(

dan terimakasih buat yang mencet tombol button Fav membuat jumlah bertambah namun dikurangi lagi dan terjadi berkali-kali :'(

.

.

.

.

.


Sakura menghentikan langkahnya saat ia melihat beberapa rekan kerja Itachi berada di luar kamar rawatnya. "Apa yang terjadi?" tanya Sakura mendapati seseorang memasang wajah cemas di sepanjang koridor. "Ada seorang wanita yang menerobos masuk ke dalam kamar tuan." Balas pemuda itu menunduk. Untuk itu, Sakura memilih untuk berlalu dari sana. Berdiri di sisi terbaik untuk bersembunyi jika ia ingin tahu siapa orang yang berani memasuki kamar Itachi yang telah jelas begitu dijaga ketat. Dan saat Sakura menunggu, ia melihat Kurenai berjalan melintas di hadapannya.

Sakura terkejut, wajah Kurenai basah dengan air mata. Wanita itu menunduk sambil mengusapnya. Sakura terkejut. Kenapa Kurenai menemui Itachi dengan cara seperti ini di saat Itachi akan menjadi suami Sakura esok hari. Dengan sebuah papan daftar dalam dekapannya. Sakura hanya menahan perasaannya.

"Ia memintaku untuk menjagamu. Membuatmu bahagia." Itachi menyeringai benci menceritakannya saat Sakura menjenguknya beberapa menit kemudian. Sakura terdiam sejenak. Namun tidak berapa lama meneruskan kegiatannya. "Tidak usah dia minta. Aku akan menyerahkan hidupku padamu Sakura." Seru Itachi tegas.

"Ya, tapi aku tidak tahu harus bagaimana Itachi." Batin Sakura.

.

.

.

.


AN (+) : Mau owari!