.
.
Out of the Blue
==.==
DISCLAIMER chara NARUTO : Masashi Kishimoto
DISCLAIMER STORY : Spica Zoe
Cover Art : CharaKauffmann
Warning : Affair, OOC, NTR, Sakura Centric,
.
.Cerita mengandung unsur antagonis moral.
.Sebab itu tolong jangan benci chara di dalamnya.
Sakura menerima dua kecupan Tenten sekaligus di kedua pipinya bergantian. Melihat rona kebahagiaan di wajah Tenten membuat Sakura merasa riang. Menyesal juga karena tidak pernah menghargai seberapa banyak Tenten peduli padanya. Tapi untuk saat ini, Sakura akan menikmati segalanya yang waktu persembahkan untuknya sebaik mungkin. Senyuman hangat Tenten, kebahagiaan Kurenai dan Kakashi, dan juga keindahan senyum Itachi yang saat ini jauh lebih memesona, mungkin karena mereka telah berpisah.
.
Itachi meraih tangan Sakura lembut, sesaat Tenten menghilang dari kerumunan. Pesta ini adalah miliknya-Tenten dan besok akan menjadi hari paling bahagia yang akan ia lewati. Mungkin ia akan memiliki kesibukan lebih banyak dari yang Sakura pikirkan.
Mungkin.
Untuk itu, Sakura mengangguk setuju saat Itachi meraih tangannya dan mengajaknya melangkah. Mengelilingi beberapa wilayah Ressort yang bercampur dengan ruang terbuka. Di tepi pantai, di ketinggian puluhan meter di atas laut. Menyambut cakrawala, dan diselimuti langit. Itachi memberi Sakura satu-dua penjelasan tentang betapa hebat tempat ini.
Merupakan tempat impian bagi para pengantin untuk memadu kasih diatas sucinya pernikahan. Bersumpah sehidup semati atas nama Tuhan. Membuat Sakura berdecak kagum dengan begitu banyak inovasi kreatif yang ia suka dari sudut-sudut indah yang menguar bahagia.
"Konsep yang sempurna." bisik Sakura dalam setiap langkahnya. Riuh suara musik dari tempat lain yang mereka gunakan sebagai pesta kecil malam ini, masih terdengar samar di pendengaran Sakura. Meski yang ia pijaki saat ini menelan begitu banyak keheningan damai yang tak terbantahkan. Langit malam yang gelap seakan mampu membuat Sakura menarik satu senyuman lebar untuk menghargai betapa dalam ia terbuai dengan segala hal yang ada di sini. Suasana panggung yang di ubah menjadi altar, tempat dimana janji suci akan diikat esok pagi.
"Apa kau suka?" Itachi masih tekun menemani Sakura dengan langkah-langkah pendek mereka. Seperti bunyi nada yang seirama, dengan tambahan suara ombak yang beriak-riak di bawah mereka. Menyempurnakan asa yang perlahan merayap timbul di benak Sakura. Ya. Ia suka dengan nuansa ini. Apakah ia bisa berharap, jika-jika ia menikah ia akan menikah di tempat seperti ini? Tidak mungkin. Terlalu dini untuk bermimpi sebuah pernikahaan di saat impian dan harapannya tidak pernah berpapasan.
Sakura menarik helaian rambutnya yang tertiup angin-angin nakal. Menyembunyikannya di balik daun telinganya, dan membiarkan jari-jarinya masih menetap nyaman di sana. Mengabaikan seberapa ingin Itachi menatapnya lebih banyak malam ini. Ya. Sakura yang di hadapannya kenapa begitu cantik malam ini.
"Tenten sangat beruntung dicintai oleh Hyuga Neji. Impiannya untuk menikah tidak hanya sekedar terpenuhi. Bahkan aku tak bisa bayangkan orang seperti Neji menyiapkan pesta pernikahan semanis ini." senyum Sakura terbayang seberapa dingin Neji menghadapi dunia. Seberapa dingin pria itu dalam memaknai cinta. Tidak jauh beda dengan Sasuke. Ah, kenapa Sasuke menjadi bayangan terakhir dalam benak Sakura saat sebuah pernikahan menjadi salah satu hal yang ia pikirkan.
Itachi tersenyum lembut. Menarik pandangannya dari Sakura yang anggun. Menghadap samudra, menyapa langit, menantang angin. Mereka terhempas oleh angin-angin malam. Menggelitik jiwa untuk tersenyum satu sama lain. Seakan ada hal yang paling lucu yang baru saja menampar mereka mati-matian. Mengapa tawa Sakura tak kunjung berhenti saat Itachi sudah lelah menghiasi wajah kakunya dengan senyuman.
"Aku tak menyangka kita telah berpisah saat ini Sakura." Ya. Benar. Sakura menghapus setitik basah di ujung matanya. Tawa itu membuatnya lelah. Dengan senyum lembut yang akhirnya ia hadiahkan pada Itachi saat memandangnya. Rambutnya terurai kembali oleh sisiran angin-angin genit yang ingin membelainya manja.
"Ya. Dan aku harus berterimakasih padamu Uchiha-san." bisik Sakura lembut dengan godaan sambil memainkan julukan yang ia berikan. Uchiha.
.
Mereka telah berdada di sini lebih awal dari yang Tenten harapkan. Rencana hati, Tenten ingin menemani tamu-tamunya; Sakura dan lainnya saat datang. Namun, pekerjaannya masih belum selesai. Masih ada beberapa dekorasi yang harus ia bubuhi di tempat ini. Tempat yang begitu ia suka. Jadi, ia memberi perintah pada Sakura untuk menikmati sendiri pesta yang telah mulai, dan berakhir pada lelucon Itachi yang membuatnya tertawa lelah.
.
Kurenai mengatur langkah mundur saat Tsunade telah meraih Kushi dalam dekapannya. Bocah kecil itu tengah tertidur di antara sibuk-sibuk langkah dan tari yang menerobos alunan musik dalam ruangan yang mereka pijaki. Dengan hati-hati, Tsunade menepuk-nepuk punggung Kushi dan mengayun-ayunnya perlahan dalam langkah lembutnya.
"Jangan lupa kalau kau punya anak untuk kau jaga Kurenai. Pesta ini bukan untuk pasangan seperti kalian." ucap Tsunade di sela-sela keramahannya menidurkan Kushi.
Kakashi mendekap Kurenai dengan sebelah tangannya. Sedang Kurenai tersenyum mendengar ucapan ibunya. Tidak usah diberitahu, ia pun mengerti akan situasinya saat ini. hanya saja, terkadang mereka memang butuh hiburan jika sedang berdua.
"Tidak akan lama kaa-san. hanya menemani Kakashi minum dua tiga gelas, lalu kami akan kembali menjemput Kushi darimu." Ucap Kurenai bersikap manja pada ibunya. Membuat Kakashi pun ingin meminta beberapa pengasihan dari ibu mertua.
"Tapi jika Kurenai lebih dulu mabuk dan kami memilih untuk memesan kamar, aku rasa itu diluar hitungan kaa-san." ucap Kakashi yang langsung dihadiahi satu pukulan tepat di perutnya oleh Kurenai. Dan membuatnya mengadu sakit.
"Kau tidak pernah berubah ya." Seru Kurenai mengancam.
"Tidak apa." Tsunade tersenyum memandang orang tua muda itu dalam posisinya. Kushi sudah tertidur pulas rupanya. Sambil memandangi Kushi, tak lepas tangannya dari betapa lembut surai-surai hitam itu menghiasai kepala cucunya. Rasanya, tidak pernah ia merasakan kejadian seindah ini dalam hidupnya.
"Mungkin aku masih ingin dua tiga cucu lagi untuk membantuku berjalan di saat ku tak berdaya nanti."
Ya. Tidak ada salahnya bagi Tsunade berharap lahirnya Kushi-Kushi yang lain dalam hidupnya. Telah lama ia menantikan ini. Sejak Kurenai hamil pertama kali, kedua kali dan semuanya gagal ia pertahankan. Kehamilan Kushi adalah hal yang paling dinanti olehnya saat dulu. Hingga wajar rasanya jika ia begitu menyayanginya.
.
"Sakura! Kau dari mana saja?"
Kurenai menapaki langkahnya lebih cepat saat ia mendapati Sakura dan Itachi sudah kembali di keramaian pesta. Riuh-riuh sorak dari semua bibir membuat suasana menjadi semakin gempita. Tadi Sakura sempat menoleh kesegala arah. Mencuri-curi kesempatan akan dimana bayangan itu kini berada. Mengapa terkesan sepi saat ia tak bisa melihat Sasuke dalam keramaian seperti ini.
"Aku dan Itachi sedang menghibur diri untuk melihat-lihat seberapa menakjubkan segala persiapan yang tengah Tenten rangkum untuk pernikahannya besok." Ucap Sakura antusias. Ya. Ia tidak bisa berdusta jika ia begitu memuji segalanya.
"Apa kau begitu menyukainya?" tanya Kurenai yang juga terlihat antusias. Sakura mengangguk mantap. Membuat Itachi dan Kakashi menambahi dua senyum untuk kerumunan mereka malam ini. "Kushi mana?" seakan tengah menyadari sesuatu, akhirnya Sakura bertanya.
"Aku menitipkannya pada kaa-san. Oh ya. Bukankah kau sudah lama tak bertemu dengannya? Aku rasa ini waktu yang tepat Sakura. Pergilah."
Sakura menarik kembali senyumnya untuk bersembunyi. Mendengar hal-hal yang bersangkutan dengan ibunya, membuatnya menjadi lemah dan tak berdaya. Belum siap ia menghadap ibunya sejak dua tahun lalu ia merasa tak dibutuhkan. Dan juga, kenapa ibunya bisa berada di pesta perayaan persiapan pernikahan Tenten? Bahkan saat Sakura menikah dulu pun ia tak berniat untuk menampakan wajahnya. Apa Tenten menjadi jauh lebih berharga dari dirinya sendiri? Apa ia sudah tak lagi dianggap anak saat ini? Begitu menyakitkan kah?
"Sakura?" Kurenai menyentuh pundak Sakura lembut. Menyadarkannya kembali pada apa yang dihadapinya kini. Tak bodoh Kurenai untuk tak tahu seberapa banyak air muka Sakura berubah saat ini ketika mereka membahas ibunya.
"Kau tidak ingin bertemu dengannya?"
Sakura menggeleng pelan dengan penuh ketakutan. Ia ingin jujur, dan ia melakukannya.
"Meskipun ia ingin bertemu denganmu?"
.
Sakura menghentikan langkahnya di depan sebuah ruang kecil. Ruangan itu masih berada di lantai dan ruangan yang sama yang mereka gunakan untuk pesta. Meski musik-musik masih terdengar, namun tidak lagi begitu memekakan telinga seperti tadi. Sakura ragu untuk mengetuk, apalagi untuk masuk ke dalam. Rasanya ia tidak ingin memandang wajah ibunya saat ini. Tapi, alangkah kejamnya ia saat ia kembali selama pelariannya dua tahun ini tanpa menemui ibunya sendiri. Untuk itu Sakura mencoba. Dengan beberapa desakan dari Kurenai, dan juga keinginannya sendiri untuk berdamai, mungkin Sakura akan berhasil meminta maaf.
"Kau Sakura?"
Sakura menelan ludahnya lebih sulit kali ini. Suara ibunya berhasil masuk ke dalam batinnya. Tak memandang, namun begitu tahu akan keberadaannya. Tsunade masih mengusap-usap lembut surai Kushi yang kini telah berada nyenyak dalam pangkuannya. Tersenyum sesekali saat ia sadar sudah berapa lama ia rindu saat-saat seperti ini.
Sakura masih terdiam saat Tsunade kembali bersuara. "Kurenai tak bilang jika kau kembali pulang. Bagaimana kabarmu? Apa pekerjaanmu baik-baik saja di sana?" setidaknya Sakura merasa teduh saat menerima kenyataan jika Tsunade mau merepotkan diri bertanya tentang dirinya.
"A-aku baik-baik saja, Kaa-san." sahut Sakura takut. Takut jika-jika ia salah berucap. Tsunade mengangkat wajahnya dari wajah teduh sang cucu. Menatap Sakura lembut dengan tatapan mata yang menawarkan kehangatan. Sakura lupa kapan terakhir kali ia melihat tatapan seteduh itu dari sang ibu. Atau ia memang benar-benar lupa jika pernah mendapatkannya.
Meski Tsunade tahu Sakura masih tak punya cukup keberanian untuk menatapnya, tapi ia masih terus berusaha menatap anaknya.
"Apa kau punya ibu lain untuk kau rindukan di dunia ini selain aku Sakura?" tidak dengan nada yang berat. Sakura mendengar itu cukup jelas dalam pendengarannya. Ia tatap ibunya ragu dan mendapati betapa banyak hasrat Tsunade bangkit untuk menariknya jatuh dalam pelukannya. Jika Kushi tidak ada, mungkin akan berakhir seperti apa yang Sakura duga. Atau tidak sama sekali.
"Atau kau ke sini hanya menjemput Kushi? Apa Kurenai yang menyuruhmu? Kushi sedang tidur. Datanglah lagi dan-"
"Aku merindukanmu kaa-san."
Tsunade tersenyum. namun Sakura bergetar.
"Jika kau merindukanku, peluk lah aku. Apa harus aku yang datang memelukmu-"
Tsunade terdiam seketika saat ada hempasan keras yang menghantam tubuhnya. Sakura mendaratkan satu pelukan yang begitu erat untuknya. Meremas seluruh otot tubuhnya dan membuatnya sesak. Untung Kushi masih tetap tidur tanpa terganggu, dan Tsunade mengangkat tangannya untuk membalas pelukan hangat anaknya.
"Aku merindukanmu kaa-san." isak Sakura tak terhenti.
"Maafkan aku Tsunade-sama." Itachi jatuh berlutu di hadapan Tsunade. Dengan harga diri yang runtuh tak berbekas. Ia meniadakan jarak antara kening dan lantai tanpa belas kasihan.
"Aku yang bersalah. Aku yang pantas menerima hukumannya." Serunya tanpa gentar.
.
Sakura beringsut jatuh mendekap lutut Tsunade. Menyandarkan wajahnya nyaman dalam pangkuan Tsunade yang masih kosong; selain yang dijajah oleh Kushi. Ia terisak berkali-kali saat Tsunade mengusap-usap lembut surai merah mudanya, sama penuh kasihnya seperti yang ia lihat beberapa saat tadi saat Kushi mendapatkannya.
Sakura takut menyesal. Sebesar ini. Sedewasa ini. Baru ini ia merasakan betapa hangat menjadi seorang anak. Jika memang seindah ini perasaan memiliki seorang ibu, alangkah berdosanya Sakura saat tak sekalipun ia berikan kesempatan pada Sarada untuk merasakannya.
Juga bagi Tsunade, terlambat menyesal pun percuma. Ia sadar jika sudah terlalu tua untuk tetap menumpuk rasa tersembunyi itu lebih dalam dari yang Sakura tahu. Kenapa ia mengabaikan Sakura. Kenapa ia begitu enggan menatap wajah Sakura membuatnya teringat akan masa lalu. Bahkan ia sadar, sebelum Uchiha merasuki kehidupan putri-putrinya, Sakura sudah ia abaikan karena perasaan takut yang mendalam menjerah batinnya.
"Bukan maksudku untuk membencimu Sakura." Bisik Tsunade lembut, meski Sakura enggan melepas senyaman apa berada dalam pangkuan ibunya. Sambil masih mengusap-usap lembut surai putri bungsunya, Tsunade melanjutkannya. "Untuk pertama kali, aku akui aku tidak pernah menaruh rasa pada ayahmu. Tapi setelah apa yang terjadi di antara kami. Dengan kebodohanku untuk terus menyembunyikan seberapa aku butuh dirinya, hingga ia pergi tanpa tahu isi hatiku. Saat itulah aku sadar aku membencimu karenanya." Sakura masih tak mau mengangkat wajahnya. Air matanya jatuh menetes mendengar pengakuan sang ibu yang jujur saja, baru ini Sakura dengar langsung setelah begitu lama luka yang disebabkan karenanya. "Karena dia sangat menyayangimu. Dan begitu mencintaimu. Membuatku cemburu dan takut untuk menatap wajahmu."
Kurenai menghapus wajahnya lembut. Dari balik cahaya pintu yang sedikit terbuka. Ia melihat pemandangan itu begitu kuat mengoyak batinnya. Ditemani Kakashi yang selalu setia mendekapnya lembut. Tidak mendengar. Tapi tampilan dari keindahan yang mereka lihat cukup untuk membuktikan jika Sakura dan Tsunade telah berbaikan.
Kali ini, Sakura mengangkat kepalanya. Ditatapnya ibunya dengan rasa tak percaya. Sungguh. Haruskah karena alasan sesederhana itu ibunya mengabaikannya selama ini? Tidak kah itu sungguh kejam? Tapi. Membayangkan kemungkinan, bukankah sama saja dengan Sakura? Sarada kecil pun sama dengan dirinya. Dengan ini, Sakura jadi paham arti sakit yang Sarada terima. Tidak beda jauh dari dirinya. Tak ada bedanya.
"Kaa-san. maafkan aku." Bisik Sakura kembali mendekap lutut Tsunade. Bersimbah air mata dan lautan duka yang menggenanginya bersamaan. Tsunade mengangguk peduli. Meraih dagu Sakura dan menatapnya penuh ketulusan. Ia peduli. Sebenarnya jauh lebih sulit baginya menyayangi Sakura dari pada Kurenai. Karena Sakura hadir di saat ia lupa bagaimana rasanya jatuh cinta.
"Sekarang sudah saatnya kau bahagia Sakura. Hidupmu adalah milikmu. Kebahagiaan ada di tanganmu. Aku akan merestui semua yang kau putuskan dalam hidupmu. Karena aku tak lagi mau menyesal jika saja aku kembali melihat anakku dalam kesengsaraan mendalam karena ulahku." Ucap Tsunade lembut.
"A-aku.."
"Kau masih mencintai Sasuke 'kan?" Sakura terdiam. "Dan kebetulan, aku ingin Kushi memiliki teman." Bisiknya halus.
.
.
.
Malam semakin larut. Tenten melangkah dengan pandangan was-was di setiap langkahnya. Mengamati beberapa pekerja yang masih membenahi segala hal yang akan ia rayakan esok pagi. Biarlah para tamu berpesta. Karena kesempurnaan penantian besok adalah tanggungjawabnya. Sambil ditemani Neji, Tenten menjadi jauh lebih semangat mengawasi beberapa ruang yang masih harus diawasi.
Sakura menghapus air mata yang membasahi pipinya. Dengan langkah tenang, ia melewati beberapa pasang kekasih yang lebih memilih untuk menebar senyum dan romantika rindu mereka di sudut-sudut pesta. Menepi. Membagi rasa. Kadang tak terlewatkan beberapa tawa yang terdengar dari setiap langkahnya. Juga kecupan-kecupan berhasrat.
Sakura telah berhasil menurunkan sebagian besar beban yang membelenggu dirinya. Satu persatu bebannya hilang dan tertiup angin dalam sekejap. Ia masih bisa rasakan seberapa nyaman berada dalam belaian sang ibu.
Jadi begitu rasanya. Jadi begitu lah indahnya mendapat kasih sayang dari seorang ibu yang telah lama ia miliki namun baru ini ia nikmati.
Sakura mengedarkan pandangnya pada beberapa orang di sekitarnya. Beberapa ada yang ia kenal, juga beberapa ada yang tak ia kenal. Jelas saja. Ini pesta Tenten. Mungkin sebagian adalah kenalan Neji atau semacamnya, Sakura tak begitu peduli. Tak ia lihat Itachi di sekitarnya lagi. Juga sama dengan Kurenai dan Kakashi. Dikeramaian ini, Sakura merasa menjadi satu-satunya orang yang begitu terasing kini. Dengan keputusan yang telah ia pilih, mungkin ada baiknya ia mencari Tenten. Membantu gadis itu menyiapkan beberapa pekerjaan yang tadi masih belum selesai Sakura perhatikan. Mungkin masih banyak yang harus Tenten persiapkan, mengingat sejak tadi ia tidak ada di dalam pesta. Ya. Lebih baik begitu, dari pada Sakura tidak ada kerjaan.
Namun, belum lagi Sakura melangkah jauh. Samar-samar Sakura melihat satu sosok yang begitu ia rindukan di dalam gelap. Dengan seorang wanita bersurai hitam yang membuatnya merasakan...
... perih.
Apa Sakura harus percaya dengan apa yang baru ia saksikan? Sasuke tertawa. Ada tawa yang begitu indah yang Sakura lihat dari wajah Sasuke yang sudah begitu lama ia nantikan. Sasuke tertawa. Dengan satu tangannya yang mendekap sang wanita dan tangannya yang lain mengenggam gelas yang masih berisi di sana.
Sasuke tertawa. Kenapa ia jadi benci dengan tawa itu?
Sakura mematung di tempatnya. Apa-apaan rasa sakit yang mendiami dadanya kini? Bukankah baru saja ia merasa damai sebab Tsunade baru mengakuinya sebagai anak? Lalu, kenapa rasa sakit yang lebih menyakitkan kembali menderah batinnya. Sakura bisa mengamati semua tindakan Sasuke dengan wanita bersurai hitam itu. Ia wanita yang cantik dan anggun. Sakura bisa melihatnya hanya dengan menilai seberapa berkelas ia tertawa.
Terkadang Sasuke berbisik intim di telinga sang wanita lalu mereka tertawa. Atau terkadang sang wanita menyentuh lembut alis mata Sasuke dan pria itu mengecup jarinya.
Takut rasa sakit itu semakin dalam merasuki jiwanya. Sakura memutuskan untuk berpaling. Di raihnya beberapa gelas minuman yang tak jauh dari meja dimana tempatnya berdiri. Meneguknya cepat hingga dua tiga gelas sebelum akhirnya ia dikejutkan dengan kenyataan lain.
"Sakura-san." seru suara itu menampar Sakura kekenyataan.
Sakura bisa merasakan detik yang ia lewati terhenti seketika. Dihadapannya kini tengah berdiri seorang wanita berambut cerah yang tersenyum padanya. Membawanya pada kenyataan tentang masa-masa lalu yang merenggut semua kebahagiaannya.
"Aku hampir tidak mengenalimu." Serunya membuat Sakura kembali pada dirinya. Karin tengah berdiri di depannya.
Apa ini halusinasi karena beberapa gelas yang ia nikmati?
"Sasuke-kun yang mengundangku. Kau makin cantik Sakura-san." ucapnya antusias. Memandangi Sakura dengan teliti.
Tiba-tiba saja bayangan Sarada menghantui pikiran Sakura. Bagaimana saat-saat ketika Sarada dilahirkan dan menangis dalam pelukannya. Seperti baru terjadi kemarin. Membuat Sakura gugup, dan rasa berdosa menghantuinya. Karin tahu apa yang sedang Sakura pikirkan. Untuk itu, ia menarik tangan Sakura dan memaksa Sakura melihat wajahnya yang tersenyum.
"Ini adalah hari baik. Jangan ingat Sarada lagi. Aku sudah tahu semuanya." Bisiknya dewasa.
"Kenapa kau mengatakan itu, Karin?" tanya Sakura merasa dibodohi. Bagaimana mungkin seorang ibu begitu tegar saat mendapati kabar jika anaknya telah tiada di tangan wanita lain, yang tak lain adalah wanita yang menyebabkan pernikahannya hancur dalam sekejap.
"Karena pada awalnya semua adalah salahku. Sudahlah. Jika kau membahas Sarada lagi, mungkin aku akan menuntutmu ke penjara." Karin tidak sedang bercanda. Bagaimanapun ia adalah wanita yang telah melahirkan Sarada ke dunia. Tapi, meskipun begitu ia juga berusaha untuk tahu diri jika segala awal penderitaan ini adalah ulahnya.
Ditinggalkannya Sakura saat maksud baiknya untuk mengajak Sakura menemui Sasuke ditolak begitu saja. Mungkin bagi Karin tidak lagi menjadi masalah saat melihat Sasuke dengan wanita lain. Tapi, bagi Sakura ini adalah masalah baru yang baru ini menjadi begitu sakit dialaminya. Melihat Sasuke bersama dengan wanita lain. Bahkan tertawa begitu indah membuat rasa cemburu dalam dadanya meluap. Ia tak tahan lagi ketika sesaat melihat Sasuke telah jatuh dalam pelukan wanita itu. Memeluknya. Mendekapnya tanpa rasa malu. Ingin rasanya menarik Sasuke dari sana. Tapi, apa ia punya hak? Apa Sakura punya hak atas Sasuke setelah dua tahun mereka tak pernah bertemu?
Sakura meneguk gelas terakhir di sekitarnya. Ini entah sudah gelas yang keberapa Sakura tak lagi tahu. Dilangkahkannya kakinya menapaki segala penjuru. Mencari seseorang. Mencari bantuan. Atau mencari pelarian agar tidak ada kesalahan yang ia sebabkan karena rasa cemburu itu membakar habis kesabarannya.
Itachi.
Ia butuh Itachi, atau seseorang yang bisa mengatakan padanya jika tidak perlu ada yang harus ia khawatirkan. Sasuke tetap menjadi Sasukenya 'kan? Selama dua tahun ini. Apa semua hal telah berubah? Lalu kenapa hanya ia yang masih jalan di tempat. Dan saat menyadari itu, Sakura benar-benar tak tahu harus menangis atau meraung.
"Sakura! Apa yang terjadi!" Tenten terkejut saat tahu-tahu ia mendengar ada satu suara yang begitu keras berasal dari sekitarnya. Meja yang ia gunakan sebagai tempat peralatan jatuh tertabrak oleh Sakura. Padahal ruangan ini harus ia selesaikan untuk esok hari. Tenten langsung melangkah mendekati Sakura. Dan membantunya berdiri. Sakura tidak tahu harus merasa sakit atau tidak karena luka gores yang kini merusak kulit lututnya.
"Kau tidak mabuk kan?" tanya Tenten menginterogasi. Ruangan ini terletak terpisah dari tempat pesta. Jadi meskipun suara-suara musik masih ada, tapi tidak begitu membuat kebisingan sama sekali. Tenten menatap wajah Sakura dekat. Wajah janda muda itu berbeda dari apa yang ia lihat tadi. Ada kemarahan juga rasa kecewa yang menguasai. Membuat Tenten bersabar untuk melepas kegiatannya untuk sebentar menemani Sakura dan membawanya duduk di tempat yang bisa mereka duduki.
"Apa yang terjadi padamu Sakura?" Tenten mulai bersuara.
Sedang Sakura. Ia tak tahu harus mulai bicara dari mana. Ia merasa malu jika harus mengakui bahwa ia cemburu karena Sasuke begitu dekat dengan seorang wanita. Kenapa begitu marah melihatnya.
"Hei. Apa aku masih belum bisa tahu apa yang ada dalam hatimu?" bujuk Tenten yang entah kenapa begitu mampu memahami Sakura. Apa Sakura selalu seperti ini saat ia dihadapkan pada suatu masalah? Menganggap kepedulian Tenten tidak ada artinya. Apakah ia harus mengulangi lagi kesalahannya seperti dulu? Merasa Tenten tak bisa membantu, maka ia lari ketempat lain dan membuatnya hancur berkeping-keping. Sakura tak ingin menyia-nyiakan kepedulian Tenten lagi. Ia ingin bercerita. Ingin memulai. Dan ingin Tenten terus peduli padanya.
"Apa aku cemburu melihat Sasuke bersama wanita lain?" Sakura mengangkat kedua tangannya. Menutup wajahnya bersamaan saat hembusan napas berat ia keluarkan. Ia takut ini menjadi sesuatu yang sangat menyakitinya. Kenapa Sasuke bisa menjadi bayangan yang paling ingin dimusnahkannya. Ia tidak ingin mengakui betapa hatinya perih tak tertahan.
Tenten tersenyum. Tapi, Sakura tak sempat melihat sampai akhirnya ia mengangkat wajahnya dan kembali menatap Tenten. Meraih kedua lengannya dan mencengkeramnya. Menatap Tenten dalam-dalam dan mulai bersuara. "Aku melihatnya dengan seorang wanita Tenko. Wanita yang sangat cantik dan begitu anggun. Aku tidak tahu kenapa sakit sekali rasanya melihatnya tertawa selepas itu dengan wanita lain." Dengan tangan yang kini menggenggam dadanya, Sakura terlihat merana. "Aku cemburu Tenko. Aku cemburu." Dan airmata yang kini mengalir pedih.
Tenten meraih tubuh Sakura. Membiarkan wanita itu mendekap tubuhnya. Mengisakan tangisnya. Sedang dalam pandangnya, Tenten melihat Neji tersenyum penuh kasih padanya. Di saat-saat begini Neji selalu bisa mengerti situasinya. Entah apa yang Tenten serukan hingga membuat Neji pergi dari sana. Meninggalkan mereka.
Kedua wanita dengan urusan wanita pula.
"Aku pikir jika aku kembali ia akan tetap menjadi Sasuke-ku Tenko. Tapi kenapa ia melupakanku? Bukankah dulu ia yang bilang begitu mencintaiku. Begitu menginginkanku. Ingin aku memaafkannya. Kenapa saat ini ia dengan wanita lain?" isakan kecil itu masih terus terdengar. Dengan Tenten yang masih setia dengan senyum dan tepukan-tepukan pemberi ketegaran di punggung Sakura.
"Tenko. Aku mencintainya." Ucapnya dengan kepedihan yang mendalam.
"Tapi Sasuke sudah menikah, Sakura."
Dan tak bisa Sakura bayangkan, jika saja sebuah kata bisa membunuh. Mungkin ia sudah terbunuh oleh kata-kata yang Tenten suarakan saat itu juga.
"Ya. Dia sudah menikah."
Sakura merasa tak lagi ada artinya kali ini. Penantiannya selama dua tahun lenyap tak berbekas. Lalu kenapa jika Sasuke telah menikah? Apa hubungannya dengannya? Sakura kesal memikirkannya. Untuk itu, entah kenapa. Dengan gerakan keputusasaan. Sakura mendekati Kurenai yang sedang terlibat beberapa percakapan dengan Itachi juga Kakashi dan Sasuke di dalamnya. Dan tak luput sang wanita yang tadi ia saksikan menjadi satu-satunya wanita yang mampu membuat Sasuke tertawa bahagia.
Tanpa peduli akan siapapun yang ada di sana. Sakura meminta Kurenai agar bersedia meminjamkannya mobil untuk jalan ia pulang. Ia tidak ingin berada di sini. Rasa sakit di dadanya merayap menguasai otaknya. Otaknya berhenti berpikir. Dan segalanya menjadi begitu tak berarti lagi. Itachi menapati aura Sakura begitu redup, berbeda seperti pertama mereka menikmati malam tadi. Membuat wanita lain di sana menatap Sakura penuh tanya.
"Ada apa dengannya? Sepertinya ia sedang sakit." Ucap wanita itu bertanya.
Sakura menepis pelan sentuhan tangan Kurenai yang tengah menyentuh dahinya. Tidak panas. Sakura masih baik-baik saja. Tapi mengapa gerakannya menjadi sekelam itu?
"Ada kamar kosong yang masih tersedia. Sasuke-kun, lebih baik kau antarkan saja nona ini ke sana." Ucap wanita itu.
Wanita yang Sakura akui begitu cantik dari sudut apapun memandangnya. Sasuke mengangguk paham. Dilangkahkannya kakinya menuju Sakura. Menatapnya datar. Kembali menjadi Sasuke yang berkepribadian dingin dan itu membuat Sakura mati rasa seketika. Kenapa Sasuke selalu bisa membuatnya menderita. Dengan tangan terulur, Sasuke terabaikan oleh penolakan Sakura yang secara terang-terangan, membuang pandang darinya.
"Aku lebih baik pulang." Bisik Sakura menahan titik didih dalam jiwanya.
Memandang itu, membuat Kurenai menengahinya. "Sakura, jika kau mau pulang, biarlah Sasuke mengantarmu sampai tujuan."
"Tidak usah. Aku bisa sendiri nee-san." meski ragu, Sakura menyakini dirinya bahwa ia masih sanggup untuk mengontrol diri dalam keadaan seburuk ini. Kurenai tak lagi mau berkata lebih banyak. Diberikannya kunci mobilnya pada Sakura sesaat Sasuke meyakininya dalam satu pandangan tersirat. Itachi mendesah. Sedang Kikyo, wanita yang sejak tadi hanya menatapi Sakura kini meneguk isi dalam gelasnya kembali.
Mengamati. Mempelajari.
"Terserah padamu. tapi ijinkan aku mengantarmu sampai ke dalam mobil." Usul Sasuke yang kini lebih dulu melangkah, meninggalkan Sakura yang mengikutinya dalam kesesakan mendalam.
Tidak ada kata di antara mereka. Kesepian menghampiri dan mempermainkan perasaan Sakura bergantian. Diangkatnya wajahnya menatap punggung Sasuke yang bergerak karena langkahnya. Rindu.
Melihat semua hal yang berhubungan dengan Sasuke membuat rindu Sakura meluap semakin banyak. Kenapa terasa begitu menyakitkan. Kenapa bisa begitu menyebalkan merindukan seseorang yang tak tahu dirinya sedang di rindu. Apa hanya Sakura yang merasakannya? Bagaimana dengan Sasuke. kenapa Sasuke hanya diam?
.
Telah jauh mereka tinggalkan ruang pesta, meninggalkan kesakitan yang terus terseret dalam langkah. Sakura tahu ia telah egois karena rindu itu sungguh menyiksa. Diantara langkah dan kesepian ia buka suara. "Apa kau bahagia Sasuke?" dengan kepedihan mendalam, ia urungkan langkahnya mengikuti langkah Sasuke yang kini jelas telah diam pada posisinya. Sasuke berbalik. Menatap wajah Sakura yang menunduk.
Pertanyaan apa itu? Apa bisa Sasuke menjawabnya?
"Jika kau bahagia, jangan katakan padaku." balas Sasuke datar. Memiluhkan seluruh jejak batin Sakura.
Siapa yang bahagia? Sakura? Tidak mungkin bisa bahagia meski segalanya terlihat baik-baik saja.
"Aku bertanya padamu." tanya Sakura mengepal kelima jemarinya. Sedang tangan yang lain ia sematkan di dadanya. Ada rasa nyerih di dalam sana. Dan jika Sakura bisa menembusnya, ia ingin meremuk rasa sakit itu agar sirna seketika. Tapi percuma. jika masih ada Sasuke, rasanya percuma.
Hanya mereka berdua yang ada di sana. Di koridor yang menampilkan berapa banyak pintu-pintu kamar di sepanjang lorong. Suara musik mengecil. Bahkan tak lagi terdengar karena Sakura tidak peduli apapun lagi selain Sasuke di hadapannya. Sesak di dadanya. Berat napasnya. Semua karena Sasuke penyebabnya.
"Jawab Sasuke! Apa kau bahagia?!" kesalnya tak terkira. Malu rasanya bertanya hal sehina itu di saat yang menjijikan seperti ini. Hanya karena ia melihat Sasuke bersama wanita tadi, kenapa rasanya tidak rela.
Hanya karena Tenten bicara jika Sasuke telah menikah. Rasanya ia tidak ingin membiarkan Sasuke berada dalam pelukan wanita lain. Ingin rasanya bersikap egois. Sejak dulu Sasuke adalah miliknya.
Sejak dahulu Sasuke hanya mencintainya.
Lantas kenapa sekarang berubah?
"Bahagia." Sasuke menarik pandangannya menatap Sakura dan menerawang kehampaan. "Wanita yang kucintai pergi. Wanita yang tak menerimaku telah menghilang. Wanita yang telah mengabaikanku tak lagi kutemukan. Dan itu membuatku bahagia." Bisiknya memasang senyum.
Adakah rasa sakit yang lebih menyakitkan dari sayatan pedang? Jika ada, Sakura rasa ia tengah merasakannya.
"Aku bahagia Sakura. Akhirnya dengan kepergianmu, rasa cintaku, benciku, dan segalanya yang tertahan selama bertahun-tahun ikut kau bawah pergi. Dan pada akhirnya tak ada lagi rindu yang bisa menyakiti. Aku bahagia." Sasuke tak mau menatap wajah Sakura lebih lama. Setelah mengatakan segala jenis perasaannya yang tertahan. Ia membalikan tubuhnya, membelakangi Sakura dan mulai melangkah kembali. "Sudah malam. Lanjutkan langkahmu." Bisiknya menyudahi.
Sakura menegang dalam posisinya. Jiwanya meraung derita. Betapa sakit rasanya. Rindunya tak berbalas. Cintanya telah dilenyapkan. Dua tahun ini, menahan cinta yang merindu ternyata lebih menyakitkan. Untuk apa Sakura melangkah ke sebuah perubahan jika yang ia nanti tak pernah ada untuk menunggunya. Bibirnya bergetar ingin berucap agar Sasuke jangan pergi. Tapi ia tidak bisa. Tidak ada lagi air mata yang bisa ia sumbangkan. Segalanya telah hilang tak berbekas.
"Sakura?" Sasuke merasa tak ada langkah yang mengiktuinya. Berbalik kembali dan masih mendapati Sakura tanpa langkah. Terlihat malang dan iba.
"Aku mencintaimu Sasuke." ucap Sakura pelan. "Dua tahun ini kugunakan waktu untuk merindukanmu." Mengangkat kepalanya. "Bahkan dalam pelukan Itachi aku selalu merindukanmu." Memandang Sasuke. "Aku tahu ini begitu hina mengatakannya di saat seperti ini. Disaat kau sudah bahagia." Mencoba untuk tersenyum. "Tapi, lebih baik kukatakan dari pada tidak sama sekali." mencoba untuk menerima kenyataan. "Aku masih mencintaimu. Dan aku mohon maafkan aku." Mencoba ihklas meratapi kemalangannya.
"Aku tahu." Balas Sasuke penuh rintih yang tak ia tampakan. Dalam satu tatapan senduh Sasuke kembali melanjutkan. "Tapi aku sudah menikah."
Pedih.
"Maafkan aku."
.
.
.
AN : Sasuke sudah menikah :'( Sasuke jahat!
.
.
.
.
.
cinta
"Sebenarnya, Akupun masih mencintaimu."
.
Gelap. Yang Sakura pandang hanya gelap. Suhu dingin menusuk setiap jejak kulitnya. Membuatnya menegang karena tanpa ia tahu sudah ada kecupan-kecupan hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya.
Dingin berganti hangat. Meninggalkan basah. Memberi sensasi. Membuatnya mendesah.
Sakura menegang lebih panjang. Lehernya ditelusuri oleh panjangnya kecupan yang membekas.
"Aku masih mencintamu."
Dan dengan bibir terkunci oleh bibir lain, Sakura terhempas ke atas peraduan.
Ia rindu sensasi ini. Sudah dua tahun ia tidak merasakan ini. Gairahnya bangkit karena setiap rangsangan dari sentuhan duda beranak satu itu memberinya dahaga yang harus ia basuh hingga basah.
"Sa-sasuke.. ahhh." Cerca Sakura.
Rindu yang ia tumpuk, Sasuke letupkan sekejap saja dengan sentuhan dan kecupannya.
Ini Sasuke. Beginikah rasanya bercumbu dengan mantan kekasihnya ini?
Berbeda.
Duda beranak satu ini memiliki rasa yang berbeda dari pria-pria yang pernah tidur dengannya. Apa karena rasa cinta itu memang teruntuknya? Atau memang karena Sasuke memang pria yang mampu menjadikannya haus akan segala hasrat.
"Buka mulutmu Sakura." Sasuke menatap Sakura yang terenga-engah karena cumbuan Sasuke di permukaan dadanya, lehernya, dan wajahnya. Wajah yang tampan itu memenuhi seluruh pandangan Sakura. Dengan tangan yang melingkar mendekap leher Sasuke yang tak sengaja memerintah agarSasuke hanya harus selalu berada di dekatnya.
Sakura menurut pada Sasuke, dibukanya mulutnya. Dan Sasuke memandangnya.
"Ini pertama kali aku merasakan tubuhmu Sakura." Bisik Sasuke. Menjulurkan lidahnya menyambut lidah Sakura yang bersembunyi malu-malu di sana. Hingga pada akhirnya lidah mereka membelit dan saling menari dengan kegirangan nafsu tiada tara.
Diakhiri oleh kecupan panjang, Sasuke menyentuh payudara Sakura yang masih menutup malu-malu dibalik gaun merah mudah tipisnya.
"Ini pertama kali bagiku untuk tak mampu mengendalikan hasratku."
Sakura terpekik saat tahu-tahu Sasuke sudah merobek gaun indah itu. Menampilkan brah yang Sakura kenakan. Menyingkap cepat penutup itu ke atas dan mebiarkan dua payudara Sakura menyembul keluar. Menampakan diri dan menunjukan keindahannya.
"Bahkan yang kudapati hanya sisa-sisa rasa yang telah pria-pria itu tinggalkan di tubuhmu." Bisiknya memandang tajam pada wajah Sakura yang merasa bersalah mendengarnya.
Selama menjadi sepasang kekasih. Betapa bodohnya Sakura karena tak pernah bercumbu dengan Sasuke secara nyata. Dan sekarang, kenapa begitu banyak penyesalan yang membuat Sakura ingin menangis karena mendapati kalimat itu keluar dari mulut Sasuke untuknya. Membuatnya seakan begitu murah dan terkesan seperti sampah.
Sakura mendorong tubuh Sasuke pelan dari atas tubuhnya, yang menindihnya. Airmatanya tak lagi mampu ia tutupi. Mengalir begitu saja dari sudut matanya. Berakhir di telinganya. Dipalingkannya wajahnya untuk tak terlihat oleh Sasuke, namun percuma.
"Aku kotor untukmu kan Sasuke?" bisiknya menahan isak. Andai saja ia tidak pernah membiarkan pria lain menyentuhnya. Mungkin Sasuke tidak akan mengatakan hal yang secara tidak sengaja menyakiti perasaannya sebagai seorang wanita.
"Ya. Kau kotor." Bisik Sasuke, meraih tangan Sakura yang menyentuh dadanya. Dorongan pada tubuhnya, ia abaikan hanya dengan tatapan yang terkunci pada wajah Sakura yang enggan memandangnya.
Kotor.
Sakit sekali mendengarnya. Piluh dan perih.
"Untuk itu, ijinkan aku melumurimu tubuhmu dengan semua hal tentangku. Kecupanku, belaianku. Membiarkan tubuhmu tercium sama dengan bauku. Memandikanmu dengan cairanku, dan menandaimu dengan ludahku." Bisik Sasuke tetap terlihat tenang.
Sakura tidak tahu harus berkata apa. Mendengar ucapan Sasuke dan membayangkannya membuat Sakura memrah dan merasa malu mendengarnya. Apa Sasuke tidak punya kata lain yang lebih wajar untuk diucapkan saat bercinta? Kenapa disaat-saat begini pun ia tidak bisa merayu.
"Aku ingin mengamilimu berkali-kali Sakura." Dikecupnya lagi Sakura dengan kecupan brutal. Memainkan lidah sang wanita. Mengajaknya menari dan mengikat. Sasuke menarik dagu Sakura sedikit lebih turun, memaksa wanita itu membuka mulutnya agar Sasuke bisa dengan leluasa menyapu isi mulut Sakura. Membuatnya sesak napas. Sakura berusaha mendorong tubuh Sasuke untuk menyudahi ciuman menyiksa itu, tapi Sasuke seakan tidak mau peduli.
Ini menyenangkan. Tapi begitu menyiksa. Sampai Sakura tak tahu harus berbuat apa. Remasannya pada surai Sasuke pun tak memberi Sasuke pengertian bahwa ia butuh udara, hingga akhirnya Sakura menggigit lidahnya.
AAKHH!
Raung Sasuke menarik mulutnya. Ditatapnya Sakura yang sudah terengah-engah butuh udara.
Sasuke manakutkan. Tapi Sakura mencintainya.
"A-aku butuh oksigen!"
"Tapi aku membutuhkanmu." Seru Sasuke lagi.
Tanpa sadar mereka saling membalas dan merangsang satu sama lain. Dengan rindu, cinta, nafsu dan hasrat yang diarahkan oleh gairah. Sakura lapar selama dua tahun. Sedang Sasuke? Ia hanya ingin menyucikan Sakura dengan sentuhannya.
Sampai Sakura mengingat segalanya. Bukankah Sasuke sudah menikah? Kenapa ia mau merelakan semua desahan ini untuk pria yang telah berisitri itu? Apa ia mau kembali mengulang kesalahannya di tahun-tahun yang lalu? Tapi, terlepas dari itu, Ia memang butuh Sasuke. Mereka tidak pernah bercumbu selama hidup mereka. Kenapa rasanya begitu sesak. Kehangatan Sasuke membuat Sakura ingin menguasainya seorang diri. Tapi bukankah Sasuke sudah menikah? Ini tidak boleh.
Sangat tidak boleh.
Sakura merasakan tubuh telanjang Sasuke sudah menarik tubuh telanjangnya dalam satu dekapan hangat. Lalu ada sentuhan di ujung kewanitaannya yang sudah ingin mendesak. Sasuke telah menikah. Ia tidak boleh melakukan ini. Merelakan Sasuke bahagia dengan wanita lain? Lalu bagaimana dengan hidupnya setelahnya? Akan terus melanjutkan penderitaan?
Sasuke berusaha mendorong miliknya masuk pada kewanitaan Sakura yang terasa begitu terkunci. Sakura memandang Sasuke dengan senyum yang damai. Ia begitu cinta pria ini. Pria yang terlihat sempurna namun begitu cacat akan segalanya. Berwajah datar. Penuh perangai yang suka memaksa. Bahkan disaat seperti ini, ia tetap memaksa miliknya masuk kekewanitaan Sakura saat Sakura jelas-jelas tak ingin membantunya berjuang.
"Aku sudah dua tahun tidak melakukannya Sasuke." Bisik Sakura yang bangkit memandang Sasuke yang balas memandangnya. "Dan aku tak ingin menyakitimu?" Sasuke berucap peduli. Sakura meraih milik Sasuke, menggenggamnya dalam genggamannya, sambil membuka lebar selangkangannya, ia menatap Sasuke tersenyum. "Tidak apa." bisiknya, membuat Sasuke mulai percaya diri untuk memaksa menikmati tubuhnya.
'Ahhh...hmmmhh.." Sakura menjerit, lalu ditutupnya mulutnya menahan jeritan itu. Milik Sasuke, pelan-pelan telah menerobos masuk miliknya. Terasa seperti mengoyak sesuatu di sana. Dua tahun tak dimasuki, membuat milik Sakura begitu merekat dan-
"Ja-jangan terlalu menyiksa Sas-sasuke. Ce-cepat masukkan!" kesal Sakura yang tak tahu harus berkata apa. Rasa sakit itu sampai ke otaknya.
"Aaaaaahhh!"
Sakura menjatuhkan tubuhnya. Rasanya seperti seorang perawan yang baru melepaskan kehormatannya. Sakit. Sungguh sakit.
Goyangan-goyanagn lembut, Sasuke berikan untuk membiasakan miliknya dan milik Sakura saling beradaptasi. Di dalam kamar ini. Salah satu kamar hotel ressort milik Kikyo, Sasuke menikmati seindah ini ternyata berhubungan seks dengan Sakura.
Mereka mendesah bersama, menikmati hasrat yang sama pada titik-titik kenikmatan yang sama. Membuat Sakura merasa nikmat berkali-kali lipat. Ia rindu Sasuke, dan rasa rindu itu berujung pada sebuah peraduan yang membuatnya mendesah berkali-kali malam ini.
Sasuke sudah mencapai batas teratasnya dalam bercinta. Sakura yang tahu akan kebiasaan para lelaki yang akan mencapai klimaks, kini berhAmbur merangkul leher Sasuke dan menatapnya penuh makna. Sasuke sudah menikah, Sasuke telah bahagia dengan wanita lain. Lalu bagaimana dengannya? Apa setelah malam ini ia akan kembali menikmati penderitaannya seorang diri? ia tidak mau menikmati pria lain lagi saat Sasuke dengan jelas telah 'menyucikannya' kembali.
Ia ingin menjadikan Sasuke yang terakhir. Meskipun itu akan membuatnya merasa sendirian setelah ini. Untuk itu, Sakura terkenang akan ucapan ibunya beberapa saat lalu. Kushi butuh teman?
Sakura tersenyum. Dikecupnya Sasuke dengan hasrat yang memuncak. Dorongan milik Sasuke membuatnya begitu nikmat. Sasuke bahagia? Ia pun harus bahagia. Diputuskannya sesuatu yang mungkin akan membuatnya hancur di masa depan. Biarlah, Sakura telah pasrah.
"A-aku akan keluar Sakura." Ucap Sasuke tertahan. Sakura menaikkan kedua kakinya. Menekan pinggul Sasuke untuk tidak menjauh dari miliknya. Membuat Sasuke memandangnya cemas. Kemauan Sakura kah ini?
"ahh.. ahhh... Ha-hamili A-aku, Sas-sa..sukee.." rintih Sakura menikmati sisa-sisa kenikmatannya. Sasuke memandang Sakura tak percaya. Diusahakannya untuk menarik diri dari dekapan Sakura, namun Sakura menolak untuk menyerah.
"A-aku tidak mungkin." Bisik Sasuke. Titik kenikmatannya hampir mendekat, dan Sasuke tak mampu berpikir banyak.
"A-aku mohon..." Sakura semakin mengeratkan rangkulannya pada leHer Sasuke, mengunci bibirnya dengan dekapan. Biarkan aku merawat anakmu dikesendirianku dihari tua. "Ahhhh..." Sakura merasakan ada cairan yang memenuhi rahimnya. Untuk pertama kali ia merasa tubuhnya begitu hangat setelah bertahun-tahun Itachi mencoba untuk melakukan hal yang sama saat dulu.
"Kau bodoh?!" teriak Sasuke yang langsung menarik tubuhnya lemah. Mencoba keras menyadarkan dirinya yang masih lemah terbuai nikmatnya bercinta. Sakura terhempas lemah dipembaringan. Menutup mata dan tidak mau tahu apa yang Sasuke pikirkan karena keputusannya. Ia menutup matanya, tersenyum membayangkan cairan itu mengisi tubuhnya.
"Tidak. Jika kau bisa bahagia. Biarlah aku membesarkan anakmu di masa tuaku."
"Sakura." Rintih Sasuke memandang Sakura yang lemah.
Dibalik semuanya, ada senyuman yang ia hadiahkan untuk Sakura tanpa wanita itu tahu.
"Aku mencintaimu." Lanjutnya lembut.
Malam semakin jauh meninggalkan masanya. Pagi-pagi menjemput dalam kegelapan, dan Sakura memeluk Sasuke sampai ia merasa terlelap.
Ia tidak ingin menyesal. Kali ini saja ia ingin kembali jatuh ke dalam dosa. Kali ini saja ia ingin kembali bersikap egois menikmati cumbuan Sasuke. terus dan terus.
Ia ingin egois, sekali ini saja karena mungkin esok hari mereka akan berpisah.
Maafkan aku, Sasuke.
.
.
AN : Yang ini sebenarnya enggak mau saya masukin dalam chapter ini. Dan sebenarnya udah saya putusin untuk gak masukin di chapter manapun (kecuali chapter bonus) Tapi karena saya juga enggak cukup konsep buat nulis adegan beginian (saya masih polos). Maka saya masukin kesini aja seadanya. Maaf. Kalau gagal. Gak apa lah ya, yang penting ceritanya selesai.
