Sorry telat update. RL akhir-akhir ini begitu rumit dan sering membuat saya berteriak "AARRGHH!" dan untungnya, saya masih sempet ingat bahwa saya ada tanggungan fic dan menyicil untuk mengerjakannya :'D
Naruto (c) Masashi Kishimoto
I don't own the Picture
Pairing: SasoSaku, other slight pairings included
Warning: AU, OOC, drama, nyinet, dan warning lain-lain aja deh, ye /mendadakpusing/ Dan catat: super duper mega ultra annoying and antagonistic Sakura
Happy reading~
Pagi ini adalah pagi yang patut dicatat oleh sejarah kehidupan manusia, terutama oleh seluruh sivitas akademika Universitas Tokyo, khususnya mereka yang tergolong dalam warga Fakultas Kedokteran.
Mengapa? Ah, semua nyaris sama. Musim masih menginjak musim semi. Matahari masih bersinar cerah dan hangat. Dedaunan pun masih tampak segar menghijau. Dan para mahasiswa dan dosen tampak mulai berdatangan, silih berganti menghiasi jalanan kampus saat mereka hendak menuju kelas.
Tapi ada satu hal yang berbeda. Satu hal yang sangat berbeda, hingga semua orang tak pernah membayangkan bahwa pagi seperti ini akan pernah muncul dalam sejarah.
Hal yang membuat para dosen, karyawan, maupun mahasiswa tercengang adalah saat pandangan mereka menatap sosok Dosen Kakashi pukul enam pagi kurang sepuluh menit!
Artinya, alih-alih terlambat satu jam seperti hari kemarin, sekarang Dosen itu malah datang lebih awal satu jam lima sepuluh menit! Olala~
Dan dosen muda yang sedang menjadi perhatian itu kini tengah melangkahkan kakinya di area perpustakaan. Oh, tak bisa terjelaskan ekspresi para pegawai perpustakaan saat mendapati bahwa pengunjung kedua mereka di pagi itu adalah Dosen yang terkenal dengan masker hitamnya itu.
Pengunjung kedua? Yap! Si pengunjung pertama itulah yang kini menjadi alasan mengapa sang Dosen repot-repot datang ke kampus sepagi ini dan celingak-celinguk macam mahasiswa baru yang tak tahu arah kampus.
Kepala peraknya menoleh kesana-kemari, sejenak menengok ke setiap ruangan yang ada. Sesekali pula ia akan tersenyum dan menjawab sopan sapaan dari para karyawan perpustakaan, di mana sebagian di antara mereka –terutama para karyawan gadis- akan langsung merona mendapat respon dari sang Dosen idola.
Beberapa saat kemudian, senyum lega dan penuh kemenangan tampak jelas di raut wajahnya sekalipun mulut itu masih tersembunyi di balik masker dan menjadi rahasia Tuhan dan dirinya. Ia segera melangkah mendekati ruangan yang ia tatap dan membuat senyum itu hadir di wajahnya.
Sudah ia duga, pasti si pengunjung pertama perpustakaan ini adalah orang yang kini menjadi alasannya untuk rela bangun pukul empat pagi, satu jam lebih awal dari biasanya.
Hah, harusnya dicatat di World Record, nih.
"Yare, yare," gumamnya lirih sembari membuka pintu kaca dari ruangan yang bernama Koleksi Umum itu, "Sebagai dosen, aku bangga punya mahasiswa sepertimu."
Tak ada respon, tapi bukan berarti pemuda yang tengah menekuni sebuah buku tebal di depannya itu tidak mendengar sama sekali ucapannya, bukan?
Untuk itulah, Kakash mengoptimiskan pikiran dan berjalan mendekati bangku yang berada tepat di seberang meja di depan mahasiswa itu.
Bunyi gesekan antara kayu dan lantai terdengar sekilas saat Kakashi menarik kursi itu, lalu mendudukinya, "Tak heran jika semester lalu kau menjadi mahasiswa berprestasi?"
Kakashi tersenyum, mencoba memasang wajah dan berucap ramah.
Namun hanya jangkrik pagi hari (?) yang meresponnya.
Tetapi, jangan panggil dia Kakashi jika dia sudah menyerah hanya gara-gara dicuekin ama mahasiswanya.
"Ah, aku baru ingat. Kemarin aku melihatmu di pusat perbelanjaan di kota. Hahaha... kau bersama siapa waktu itu, hayooo?" ujar Kakashi sembari tertawa kecil, tetapi di dalam hati meratapi betapa OOCnya dirinya kini menjadi. Sungguh, bualan macam itu? Kemarin bahkan dirinya sendiri tidak keluar rumah sesampai di apartemennya!
Tapi dia hanya berharap bahwa mahasiswanya itu akan terpancing oleh ucapannya dan setidaknya, merespon ucapannya itu dengan penyangkalan bahwa ia kemarin tidak berada di pusat perbelanjaan.
"Ayolah," akhirnya si mahasiswa, seperti harapan Kakashi, mengalihkan pandangannya dari buku di depannya, lalu menatap Kakashi dengan pandangan malas, menambah kesan sayu di mata coklatnya semakin terlihat jelas, "Apa maumu?"
Errr... bukan seratus persen sama dengan respon yang dibayangkan Kakashi, sih. Tapi tak apalah, sudah untung ia akhirnya mendapat perhatian, meskipun perhatiannya itu bentuk ekspresi dari perasaan kesal.
"Aku?" Kakashi sedikit membelalakkan matanya dan menunjuk hidungnya sendiri, pura-pura terkejut, "Tak ada. Hei, aku ini Dosen Walimu, tauk. Haruskah aku perlu ijin untuk berbincang dengan mahasiswaku sendiri?"
Pemuda di depannya itu mendengus sembari menyeringai, "Sebagai Dosen Wali dan Wakil Dekan Tiga, kupikir kau masih punya banyak urusan daripada sekedar ngobrol dengan mahasiswamu? Heh. Lagipula apa-apaan ini?" pemuda itu melihat jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya, "Kuharap kau tidak salah membaca jam di rumahmu."
Kakashi tertawa kecil sembari menggeleng, "Tidak. Aku sengaja datang sepagi ini untuk menemuimu, kok."
"Hah," pemuda itu menghela nafas keras sembari menyandarkan tubuhnya di kursi yang didudukinya, "Akhirnya kau mengaku bahwa ada maksud lain dari semua ini."
"Hahaha... Begitulah," Kakashi menggaruk belakang kepalanya dengan kikuk, "Aku memiliki sebuah penawaran bagus untukmu."
"Aku tidak berniat menjadi asistenmu. Menyerahlah," potongnya cepat.
"Ck! Selalu berkesimpulan cepat, ya, kau ini?" komentar Kakashi, "Meski sesungguhnya aku masih menginginkan penawaran itu sih... Tetapi ini sama sekali tak ada hubungannya dengan hal itu."
Pemuda itu tidak memberi respon verbal. Hanya bahasa tubuhnya yang tak berubahlah yang menandakan bahwa ia menyuruh Dosennya itu agar sesegera mungkin mengatakan apa keperluannya dan kemudian pergi meninggalkannya sendiri dengan kesibukannya semula. Tak habis pikir, Dosen macam apa dia? Suka terlambat, dan sekarang tiba-tiba keluyuran pagi-pagi di perpustakaan hanya untuk berbincang dengannya?
Melihat bahwa lawan bicaranya hanya terdiam sembari menatap dengan pandangan tanpa ketertarikan akan apapun yang hendak dikatakannya, Kakashi pun memutuskan untuk melanjutkan ucapannya.
Dan agar tidak membuat mahasiswanya itu terganggu lebih jauh lagi dari ini, maka ia memutuskan untuk to the point saja.
Kakashi menatap kedua bola coklat ebony itu dalam-dalam sebelum berbicara dengan nada serius, "Kau mau bekerja sebagai seorang pengawal pribadi, Sasori?"
-oOo-
Pemuda itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana hitamnya. Ia sandarkan punggungnya pada badan pintu kemudi mobil Mercedez Benz LSR berwarna jingga miliknya. Membuat dirinya makin menjadi pusat perhatian dari para manusia yang berseliweran di sekitarnya.
Ayolah, tentu saja.
Pemandangan seorang Uchiha Sasuke yang –seperti anugrah Tuhan- tiba-tiba muncul di sekolah mereka saja sudah membuat keributan kecil dari para gadis yang berteriak gemas dan kagum terhadapnya. Apalagi jika ditambah dengan pose menawannya yang bersandar keren di mobil yang tak kalah beken dari dirinya itu.
Ah, jika sudah begitu, cowok normalpun bisa menjadi gay karenanya.
Oops. Becanda. Para cowok hanya melirik iri campur kagum pada dirinya yang mampu memiliki mobil sekeren itu, ditambah mampu dan selalu mampu, untuk merebut perhatian setiap gadis yang pandangannya nemplok padanya.
Sasuke melirik jam tangan berwarna putih di pergelangan tangannya. Kedua jarum utamanya menunjukkan bahwa ia sudah berada di sini selama tiga puluh tujuh menit.
Tiga puluh tujuh menit. Tentu saja waktu yang lama baginya. Apalagi jika hanya dihabiskan hanya dengan berdiri layaknya sebongkah arca jaman prasejarah tanpa melakukan apapun di depan gerbang sekolah elit ini.
Ia melakukan semua ini untuk menunggu seseorang. Dan kesalnya, seseorang yang ia tunggu belum muncul juga.
Warna pink itu belum tampak juga.
Namun, barulah saat Sasuke telah mengeluarkan HP nya dari saku jasnya, ia melihat semburat pink di antara kumpulan kepala manusia di depan sana.
Akhirnya, semua penantian ini akan berakhir.
"Sasuke-kun!"
Sasuke hanya mengangguk kecil sembari tersenyum. Ah, jangan bayangkan senyum lebar lima jari yang mampu menampilkan deretan gigi rapinya bak bintang iklan pasta gigi. Hanya senyum samar. Sangaaaaatttt samar dan tipis. Oh, dan jangan lupakan betapa sebentar.
Tidak niat tersenyum, ya?
Namun hanya dengan itu, cukup membuat para gadis yang –entah bagaimana- sempat melihat senyuman itu, mengeluarkan semburat merah di kedua pipi mereka.
"Maaf, aku masih ada urusan dengan Kepala Sekolah," ujar Sakura yang tiba-tiba memasang wajah cemberut begitu ia sampai di depan pemuda berambut hitam kebiru-an itu, "Aku kena marah lagi. Masak rokku ini dikatain terlalu pendek lagi? Demi Tuhan! Tidak sadarkah dia bahwa aku sudah rela memanjangkannya satu sentimeter dari awalnya?!"
Sasuke hanya sweatdropped mendengarnya.
Ia menurunkan pandangannya ke arah rok berwarna merah kotak-kotak dengan garis-garis hitam di tepi pola kotak-kotak itu.
Hah, melihatnya, Sasuke justru merasa aneh jika Kepala Sekolah mendiamkannya dan tidak memberi sanksi apapun, siapapun sebenarnya gadis di depannya ini.
"Huh, sialan. Awas saja, nanti kuadukan ke Ayah. Biar dipecat saja sekalian dia!" umpat Sakura kesal sembari melipat tangannya di depan dada, tanpa sadar tenggelam dalam amarahnya sendiri dan terus mengomel tanpa menyadari lagi kehadiran Sasuke di depannya.
Merasa eksistensinya mulai terlupakan, Sasuke berdehem, sukses mengembalikan perhatian si gadis pada dirinya kembali, "Ayo pulang? Kau sengaja tidak membawa mobilmu kali ini agar aku bisa menjemputmu, 'kan?"
Sakura yang sedang melepas blazer hitam yang merangkapi kemeja putih dan dasi merahnya, menoleh ke arah Sasuke dan tersenyum lebar, "Ah, tapi lebih dahulu ikut aku ke salon, yaaa? Kau tahu, aku membutuhkan spa karena akhir-akhir ini Ayah sering memarahiku," ujarnya sembari memasang pandangan memelas terbaik dan terimut miliknya.
Siapapun yang melihatnya, terutama kaum Adam, harusnya dan wajarnya, akan merona merah kedua pipi mereka.
Namun sang Uchiha hanya tersenyum singkat dan samar.
Dengan kedua pipi yang masih nampak pucat.
"Masuklah," ujarnya datar sembari berbalik dan membukakan pintu samping kemudi. Dengan gaya seorang pria terhormat dan sopan, ia menahan pintu mobil itu agar tetap terbuka dan menunggu si gadis berambut merah muda untuk masuk ke dalam.
Begitu pintu itu kembali ia tutup kembali, wajah yang datar dengan kulit pucat itu terlihat semakin dingin.
Semakin datar.
Dan seolah semakin jauh dari kata berperasaan.
Gadis itu berpikir bahwa ia rela dan senang melakukan semua ini?
Kedua mata berwarna onyx itu semakin menatap tajam pada apa yang berada di balik kaca gelap pintu mobil di depannya.
Dia pikir ia tidak ada urusan lain di kantornya hingga memperlakukannya bagai supir antar-jemput pribadinya begini?
Mulut itu terbungkam rapat tanpa ada sepatah senyumpun, walau hanya samar.
Dan apa? Menunggui dia spa di salon?
Dan tubuh tegap itu berbalik, memutari depan mobilnya untuk membuka pintu kemudi mobilnya.
Dasar gadis naive!
"Kita jalan sekarang, oke?" ujarnya sembari tersenyum tipis ke arah pewaris tunggal Haruno Corp.
Hm, hanya satu fakta tersebut tentang gadis itulah alasan mengapa saat ini ia sudi membiarkan kursi mobilnya diduduki oleh gadis berambut aneh itu.
-oOo-
Kakashi menatap kedua bola coklat ebony itu dalam-dalam sebelum berbicara dengan nada serius, "Kau mau bekerja sebagai seorang pengawal pribadi, Sasori?"
Sasori menatap kedua mata Dosen Walinya tersebut dengan pandangan yang pantas diberikan oleh seorang dokter jiwa yang tengah menganalisis kesehatan mental pasiennya.
Pengawal?
Awalnya, Sasori yakin bahwa hal ini adalah salah satu guyonan garing dari Kakashi yang dari awal tingkat sense of humor-nya menyedihkan. Well, meski sense of humor Sasori tidak setinggi dan sehebat Eddy Murphi, tetapi ayolah, apa yang membuat dosen muda itu berpikir untuk mengatakan hal itu pada Sasori?
Sasori kan mahasiswa kedokteran, bukan mahasiswa akademik kemiliteran.
Namun, keyakinan bahwa Kakashi hanya becanda langsung ia hapus dari pemikirannya karena tidak mungkin dosennya yang suka telat itu rela bangun pagi-pagi dan datang ke kampus hanya untuk membuatnya tertawa.
Untuk itu, Sasori memiringkan sedikit kepalanya sembari bertanya, "Apa yang membuatmu tiba-tiba datang padaku dan mengatakan hal ini?"
Sejenak, Kakashi tampak terbelalak. Lalu pria itu menempulkan telunjuk kanannya ke arah dahinya, memasang pose berpikir sembari melirik ke atas, "Ah, aku tidak tahu. Mungkin ini karena beberapa waktu yang lalu kudengar ada salah satu mahasiswaku yang berencana ingin magang ke klinik kampus karena keadaan ekonomi keluarganya akhir-akhir ini memburuk dan–"
"Tak perlu untuk sarkatis begitu, Sensei," Sasori mendengus kesal mendengar ucapan dosennya, "Lagipula, aku ingin magang ke klinik, atau setidaknya ke sebuah tempat yang berhubungan dengan kesehatan, bukannya menjadi seseorang yang jago silat dan tembak-menembak."
"Sasori, Sasori," Kakashi tertawa kecil melihat ekspresi kesal dan terganggu dari muridnya itu, "Cobalah lihat semua dari tujuan kamu mau magang. Pasti karena uang, 'kan? Dan di sini, aku punya penawaran bagus yang bisa memberimu imbalan yang jauh lebih besar dari yang ditawarkan seandainya kau magang di klinik. Percayalah, tugasnya (kuharap) tidak berat, kok," kata Kakashi sembari memblokir ingatan otaknya tentang fakta apa yang terjadi pada Asuma, Iruka, dan dua puluh empat pengawal putri sahabatnya.
Hah, terkadang menjadi tak terlalu jujur itu memang diperlukan.
Sejenak, Sasori tampak terdiam sembari mengawasi permukaan meja buku tebal yang masih terbuka di depannya. Namun, siapapun tahu bahwa pemikiran cowok itu tidak sedang tertuju pada buku wajib mahasiswa kedokteran tersebut.
Memang, mungkin benar apa yang diucapkan Kakashi. Ia memang tengah membutuhkan uang. Kuliah di sebuah universitas elit, ditambah di jurusan yang eksklusif seperti ini, telah ia ketahui dari awal bahwa akan mengandung banyak konsekuensi, terutama biaya dan waktu.
Dan kini, ia harus menghadapi konsekuensi yang pertama tersebut semenjak usaha Ibunya mengalami penurunan, ditambah adik bungsunya yang mulai menginjak kelas satu SMA dan persiapan kuliah untuk adik keduanya.
Dan ia, sebagai anak lelaki tertua, tidakkah sewajarnya jika menjadi tulang punggung keluarga? Setidaknya, dia tidak lagi merepotkan dalam hal biaya kuliah dan bisa membiayai semuanya sendiri, 'kan?
Dan di sinilah ia. Duduk di depan dosennya yang tengah memberi penawaran menggiurkan. Tentu saja ia tahu jika imbalan atas pekerjaannya nanti akan jauh lebih menguntungkan daripada sekedar magang di klinik kampusnya. Karena ayolah, jika bukan konglomerat yang hartanya berlebih, untuk apa orang itu menyewa seorang pengawal?
Tetapi...
"Aku tidak bisa menggunakan senjata," ujar Sasori akhirnya dengan ragu, bahkan ia tidak mengangkat pandangannya untuk menatap kedua mata dosennya yang kini terlihat berbinar bahagia, "Setidaknya, aku tak mau."
"Oh, tenang. Tenang saja, Sasori," ujar si dosen dengan mengibas-kibaskan tangan kirinya, "Bukankah kau adalah anggota klub karate, huh? Sudah berapa piala emas dan perak yang kau persembahkan pada universitas ini? Itu sudah menjadi modal yang berarti, kok."
Sasori menggelengkan kepalanya, lalu menatap dosennya dengan ekspresi datarnya yang biasa, "Kemampuan fisikku tidak sehebat itu. Aku biasa menggunakannya hanya untuk pertandingan, bukan berkelahi untuk melindungi keselamatan seseorang."
"Yare-yare, bukankah itu tujuan didirikannya olahraga karate? Untuk perlindungan, 'kan?"
"Lebih tepatnya self-defense. Aku tak biasa menggunakannya saat ada orang lain yang harus kujaga."
"Oh, kau juga bisa membidik papan dart dengan baik, 'kan?"
"Haruskah, jika orang yang harus kulindungi nanti diserang kelompok Yakuza, aku harus melawan mereka dengan sebuah panah dart?"
"Tak perlu sarkatis, seperti yang kau bilang. Kau tahu bukan itu maksudku."
"Dan kau tahu bahwa aku sudah mengatakan bahwa aku tak bisa menggunakan senjata."
"Kau bisa. Hanya kau tak mau."
"Itu ilegal. Aku tak mau membunuh orang."
"Jika memang terpaksa, tak masalah. Hukumanmu akan lebih ringan," Kakashi tersenyum, namun senyumannya memudar saat mendapat pelototan dari mahasiswa semester empat tersebut, "Maksudku, soal urusan perlindungan hukum, kau tak perlu cemas. Orang yang akan mempekerjakanmu ini punya kendali politik yang besar di negeri ini."
"Begitu?" Sasori menaikkan sebelah alisnya, "Jika memang dia sehebat itu, lalu mengapa dia harus repot-repot mempekerjakan pengawal amatiran yang merupakan seorang mahasiswa kedokteran sepertiku?"
Skak mat. Kakashi terdiam.
Tak mungkin, 'kan, dia bilang bahwa, 'Karena tak ada lagi yang mau berurusan dengan orang yang akan kau lindungi nanti'.
"O-oh, itu karena ayah dari orang yang akan kau lindungi itu adalah teman baikku. Lagipula... tidak bisakah kau anggap bahwa aku melakukan semua ini untuk menolongmu dari kesulitanmu, Sasori?" ujar Kakashi sedikit desperet meladeni debat dengan mahasiswanya ini.
"Itu tidak masuk akal," jawab Sasori dengan antuasias yang memudar dari pandangannya, "Hanya karena kau sahabatnya, dia mau mempekerjakanku?"
Kakashi menghela nafas menyadari bahwa posisinya makin terpojok, "Begini saja. Seperti yang kubilang tadi, kau tengah mengalami kesulitan. Aku menolongmu. Ada penawaran bagus. Jadi, cobalah untuk mencobanya, oke?" jelas Kakashi sabar. Ia langsung mengangkat tangan kanannya begitu melihat mahasiswanya itu membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu, "Temui saja sahabatku dulu. Kau bisa mendapat jawaban dari apapun kecurigaanmu terhadap penawaran ini. Setelah itu, kau bisa memutuskan untuk menerima atau menolak. Aku tidak akan memaksa."
Kakashi terdiam, mengamati ekspresi dari pemuda berambut merah yang ada di depannya. Dari raut wajahnya, Kakashi tahu bahwa mahasiswa kebanggannya itu tengah menganalisis semua fakta yang ada dan apapun yang telah didengarnya.
Benar-benar bocah yang teliti dan cermat.
Kakashi mengambil HP Sasori yang tergeletak di samping buku tebal yang ada di depannya. Tanpa menunggu izin Sasori, ia segera menekan beberapa tombol yang ada di keypad sana.
"Telpon saja kalau perlu. Nanti akan kuhubungi lagi," katanya sembari mengembalikan HP berwarna silver itu pada pemiliknya.
Sasori menunduk, melihat HP yang tergeletak kembali di meja di depannya. Di layarnya, telah terdapat beberapa nomor yang belum tersimpan di memori HP-nya.
"Aku pergi dulu. Sebentar lagi masuk, aku tidak mau mendapat kecaman dan kutukan lagi dari mahasiswaku," ujar Kakashi lemah mengingat kejadian kemarin di mana ia nyaris mendapat sumpah serapah dari mahasiswanya saat ia datang sepuluh menit sebelum bel tanda kuliah berakhir, "Hah... Harga diriku sepertinya telah hilang."
Sasori mengacuhkan apa yang baru saja dikatakan dosennya. Ia bahkan tak memberi respon saat dosennya itu menepuk pundaknya, tanda bahwa ia pamit untuk meninggalkan perpustakaan ini duluan.
Pandangannya masih tertuju pada layar HP-nya. Sedangkan otaknya masih terfokus pada isi dari pembicaraan yang baru saja berlangsung antara dirinya dan dosen walinya.
Sasori menghela nafas keras sembari melirik jam dinding yang tergantung di tembok di samping kirinya.
Hah. Pengawal?
Kedua matanya memandang penuh kegetiran pada jam dinding itu, seolah jam dinding itu tengah mengatakan sesuatu yang mengulas kembali ingatan pahit yang sempat terkubur di dasar memori otaknya.
Apanya?
Jika ia tidak bisa melindungi Ayahnya, apa yang membuatnya bisa menjaga nyawa orang lain yang tak ia kenal?
-oOo-
Begitu memasuki halaman depan kosan, gendang telinga Sasori rasanya nyaris pecah oleh suara-suara lagu rock yang volumenya bahkan bikin lumba-lumba tobat!
Pasti manusia abnormal kekurangan pasokan oksigen itu. Siapa lagi. Sasori memutar bola matanya dengan agak kesal mendapat pemikiran seperti itu.
Ia lantas berjalan memasuki kosan. Seperti dugaannya, begitu ia membuka pintu depan yang mengarah pada ruang tamu, kedua mata coklatnya menatap datar –seolah sudah terbiasa- pada sesosok makhluk yang tengah berjingkrak-jingkrak dan mengangguk-angguk a la rocker, mengikuti irama musik keras itu, sembari memegang sebuah sapu ijuk di kedua tangannya yang ia perlakukan bagai gitar.
Abnormal, pikir Sasori.
"Don't wanna hear your sad song, I don't wanna feel your pain...," terdengar suara keras tak merdu yang dimaksudkan untuk bernyanyi bersama suara sang vokalis Paramore, namun malah terdengar seperti teriakan khas Ibu-ibu yang tengah melahirkan.
"We used to stic– Eh?" suara nyanyian dari makhluk itu terhenti, ketika telinganya tak mendapati lagi alunan lagu keras itu. Heran, ia menolehkan kepalanya ke radio compo yang berada di atas meja di belakangnya, dan melihat si pemuda berambut merah berdiri dekat situ dengan kabel compo yang baru terlepas dari pegangannya.
Si biru memutar bola mata.
Here we go, Tuan-Maniak-Belajar-yang-Suka-Kedamaian sudah datang untuk melanggar prinsip liberalisme yang sudah mendunia.
"Kenapa kau lakukan itu, heh? Aku sedang bersenang-senang tahu," protes si biru dengan kesal sembari menyenderkan sapu ijuk yang tadi dipakainya, dengan kasar ke tembok di sampingnya.
"Harus berapa kali kubilang, hobi musik rock-mu itulah mengapa kosan ini sampai sekarang hanya terisi oleh tiga mahasiswa saja, Kisame," ucap Sasori sarkatis, membuat si makhluk yang bernama Kisame merengut kesal.
"Tak bisakah aku mengekspresikan hobiku? Di mana semboyan kebebasan dan liberal yang diagung-agungkan dunia itu, heh?"
"Kau pikir hanya kau yang punya kebebasan?" sela Sasori, "Kau bahkan tidak memberi kebebasan bagi kami untuk tidur nyenyak saat terbangun tengah malam mendengar volume musikmu itu."
Kisame mendengus sebal. Percuma sajalah berdebat dengan mahasiswa kebanggaan kampus, tak akan ada habisnya. Dan seberapapun ngotot, ujung-ujungnya Kisame pasti kalah.
Dari dulu mah.
"Oh iya, aku tadi dapat pesan dari Deidara. Katanya kau suruh kirimin file tugasnya kemarin ke e-mail temannya yang diberitahunya padamu kemarin," ujar Kisame mengalihkan topik.
"Aa," Sasori mengangguk saat sadar akan sesuatu. Lantas dia berbalik dan mulai melangkah pergi, sembari berkata, "Kalau begitu, aku pinjam laptop dan modem-mu, ya? Sekalian nyari bahan laporan untuk tugas dua hari lagi."
"Hei!" protes Kisame, tapi apapun yang hendak ia ucapkan, langsung ia telan kembali bersama dengan ludahnya saat Sasori berhenti berjalan dan sedikit menolehkan kepalanya ke belakang, memberi pandangan dingin yang membuat kulit biru Kisame menjadi semakin biru (?).
"Apa? Satu-satunya kau diterima masuk menjadi anggota kelompok kita adalah karena aku dan Dei tidak punya laptop dan modem. Kau pikir apa yang bisa kau lakukan?"
JLEB.
Terjadi pelecehan dan penginjak-injakkan harga diri di sini.
Bahkan, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang tak membuat orang lain rasanya ingin mengubur diri dalam-dalam, pemuda berambut merah itu kembali melanjutkan langkahnya sembari berucap lirih, "Jika sedikit saja aku mendengar musikmu, akan kucoret namamu dari daftar kelompok kita."
Mendengar hal itu, Kisame langsung mengambil kaset dari komponya dan memasukkannya kembali ke dalam laci meja.
Berdebat dengan Sasori adalah satu hal. Tetapi mendapat nilai D untuk kedua kalinya di mata kuliah Fisioterapi adalah hal yang sama sekali lain lagi. Udah susahnya minta ampun, dosennya rasanya kayak pembunuh terselubung yang menggunakan setumpuk PR dan jurnal mingguan sebagai cara baru dalam menghabisi nyawa manusia.
Jadi, Sasori mau menerimanya menjadi satu tim dengannya saja sudah syukur.
Gak usah cari masalah lagi, deh. Lagipula, dari raut wajahnya, sepertinya tuh cowok tengah badmood.
-oOo-
BLAK!
Terdengar suara bantingan yang cukup keras, membuat Sakura yang telah lebih dahulu melangkah, menoleh ke belakang untuk melihat pemuda yang masih berada di dekat mobilnya.
"Kenapa, Sasuke-kun? Nanti rusak, lho, pintunya," ujar Sakura mengingatkan.
Sedangkan si pemuda berambut hitam legam itu hanya tersenyum tipis sembari menjawab, "Aku tak sengaja. Kau tahu," ia mengulurkan kedua tangannya yang tengah menggenggam masing-masing tiga tas belanjaan, "Dalam keadaan begini, aku tak bisa berbuat banyak," ia tersenyum kembali.
Padahal dalam jiwa dan raganya, ingin sekali ia tampak OOC dengan membanting enam tas itu sembari menginjak-injaknya dan berteriak, "KAU PIKIR AKU BABUMU, HAH?!"
Tapi tentu saja ia tak akan melakukan perbuatan senista itu, seberapapun jengkelnya ia sekarang dengan gadis yang ada di depannya.
Oke, pertama, ia harus rela membengkalai pekerjaan kantornya hari ini karena gadis itu merengek memintanya menjemputnya. Kedua, setelah ia mengorbankan semua itu, ia harus menunggu selama tiga puluh menit di sekolahnya. Ketiga, ia harus menungguinya, LAGI, saat gadis itu spa, creambath, manicure, whatsoever yang Sasuke tak ingin tahu lagi apa namanya.
Dan sekarang? Ia bagaikan kuli panggul yang harus membawa barang belanjaannya sebanyak ini!
UCHIHA! U.C.H.I.H.A! Bagaimana jika ada rekan bisnisnya tahu?
"Oh, baiklah, kukira ada apa. Ayo masuk, Sasuke-kun," ujar gadis berambut pink aneh itu dengan senyum watadosnya, lalu kembali berjalan, mendahului Sasuke dan menjadikannya benar-benar tampak seperti kuli panggul.
Sasuke memutar bola mata sembari menghembuskan nafas berat.
Sabar, ucapnya dalam hati, Sabar. Ini demi Uchiha Corp. Begitu kau mendapatkan segalanya, kau bisa mendepak gadis itu sesuka hatimu, lanjutnya nista.
Ia pun akhirnya, dengan sedikit menekuk muka tanda betapa badmood dirinya, melangkah perlahan mengikuti sang Putri menuju ke istananya. Dilihatnya di depan sana, ada sebuah mobil berwarna silver yang tengah terparkir, dan Sasuke yakin sekali, itu bukanlah mobil milik ayah Sakura, apalagi Sakura.
Jadi, pasti ada orang lain yang tengah bertamu.
"Aku pulang," teriak Sakura ceria saat kedua kakinya menapakki lantai ruang tamunya.
"Selamat datang, Nak," ujar Kizashi sembari meletakkan cangkir berisi teh yang baru saja diminumnya.
"Yo, Sakura."
Sakura membelalakkan matanya saat ia menatap pemilik dari suara barusan. Sedangkan si pemuda bermata onyx di belakangnya hanya menatap datar, sekalipun pertanyaan mengenai siapa identitas lelaki berambut perak itu berkecamuk di hatinya.
"Ojii-san!" teriak Sakura sembari tersenyum lebar dan berlari kecil-kecil ke arah lelaki yang tersenyum ke arahnya tersebut.
Sedangkan Sasuke hanya menggumam, "'Ojii-san'?" dengan lirih, tanda bahwa ia heran akan kata itu. Setahunya, Kizashi tidak memiliki saudara laki-laki di keluarganya.
"Kenapa Ojii-san sudah jarang main ke sini? Sibuk?" gerutu Sakura sembari memeluk erat lelaki yang tengah kerepotan mengambil nafas akibat eratnya pelukan itu.
"Ne, lepaskan dulu, Sakura-chan," ujar Kakashi gelagapan sembari dengan halus berusaha menyingkirkan lengan Sakura yang melingkari tubuhnya. Setelah ia berhasil, ia berkata sembari menaruh telapak tangannya di atas kepala pink itu, "Aku baru ke sini kan empat bulan yang lalu, Putri."
Sakura tersenyum senang mendengar panggilan yang diucapkan Kakashi itu, "Tapi bagiku itu lama~," rajuk Sakura, "Aku tidak bisa kan, diajari ama Ojii-san lagi tentang IPA? Kau tahu, nilaiku agak menurun akhir-akhir ini."
"Makanya, jangan menghabiskan waktu di salon dan mall saja," kata Kizashi menyela, membuat Sakura mendelik protes ke Ayahnya, "Lagipula, Kakashi bukan guru privatmu."
"Ayah apaan, sih?" gerutu Sakura sembari menjatuhkan dirinya dengan kasar di sofa di samping Kakashi, sembari melipat kedua tangannya di depan dada, "Lagipula, jika nilai-nilai raport-ku bagus, Ayah juga suka, 'kan? Juga...," ia melirik sembari tersenyum ke arah Kakashi, "Nanti saat aku masuk kuliah, Ojii-san bisa 'membantuku' untuk diterima di Ilmu Keperawatan di universitasnya, 'kan?"
Kakashi hanya tersenyum kikuk, saat Kizashi berkata, "Itu Nepotisme, Sakura-chan. Lagipula, bukankah Ayah sudah bilang, perawat itu tak cocok denganmu. Kasihan pasienmu nanti, 'kan?"
Sakura hanya mencibir kesal pada Ayahnya, "Memangnya kenapa? Aku harus menjadi perawat karena aku ingin nanti suamiku adalah seorang dokter!"
"EHEM!"
Suara pihak keempat yang daritadi teracuhkan itu membuat ketiga kepala itu menoleh ke arah sumber suara. Dan di sana, pandangan mereka seketika mendapati seorang Uchiha yang tengah menampakkan raut wajah yang seolah-olah berkata 'Jangan membuatku lebih badmood lagi dengan mengacuhkanku', sedangkan yang lain memberi pandangan terkejut yang seola-olah berkata 'Sejak kapan kau di situ?'
"Oh, Sasuke. Maaf, tidak menyadari kehadiranmu karena kami asyik sendiri bicara," ujar Kizashi sembari tersenyum dan menepuk sofa tunggal yang ada di sebelahnya, "Duduklah."
Sedangkan Sakura tersenyum sembari mengangguk, menyetujui ucapan Ayahnya, "Duduklah, Sasuke-kun."
Sasuke, menahan segala rasa dongkol yang mencongkol (?) di hatinya, melangkahkan kakinya dan kemudian duduk di sofa yang baru saja di tunjuk Kizashi. Barang-barang Sakura ia letakkan dengan hati-hati di lantai di samping kakinya, "Apa kabar, Paman?" Sasuke berbasa-basi sembari sedikit membungkukkan badan.
Kizashi tersenyum sembari mengangguk kecil, "Kau pasti sedang sibuk, Sasuke? Kudengar Perusahaan Uchiha tengah menjalankan proyek baru di kota Shibuya?"
"Tak sesibuk itu sehingga aku tak bisa meluangkan waktu untuk mengunjungi Sakura," ujar Sasuke penuh dusta. Bicara baik-baik dan mengambil hati Kizashi adalah cara ekspres dalam mendapatkan kepercayaannya, 'kan? Itulah apa yang dilakukan oleh para tokoh antagonis di drama-drama yang tengah marak.
Sasuke mengalihkan pandangannya dan menatap Kakashi yang juga tengah memerhatikannya, "Sasuke Uchiha. Salam kenal, Ojii-san," ujar Sasuke sopan sembari sedikit membungkuk.
"Kakashi Hatake. Yare, yare, Sasuke-kun, kau tak perlu membungkuk begitu. Aku hanya dosen amatiran biasa," ujar Kakashi merendah.
Sasuke tersenyum, "Kau pasti bukan sebiasa itu jika bisa akrab dengan keluarga Haruno, Ojii-san," ujar Sasuke yang membuat Kakashi dan Kizashi tergelak oleh pujiannya tersebut.
"Hn? Tak terasa waktu sudah mulai larut," gumam Kakashi sembari melirik jam di tangannya, "Kupikir aku harus pulang sekarang. Mahasiswaku bisa lebih brutal lagi padaku jika besok aku terlambat datang," ujarnya sedikit curhat colongan.
"Apa?" rengek Sakura protes, "Kita baru saja bertemu. Kok Ojii-san sudah mau pulang? Lebih lama lagi, ya? Ya? Ya~? Aku masih kangen..." rajuk Sakura manja, membuat Sasuke terheran-heran, sedekat apa hubungan dosen itu dengan gadis berambut pink tersebut.
"Maaf, Sakura-chan. Tapi aku harus pulang jika besok tak ingin kehilangan nyawa," Kakashi tersenyum sembari menepuk lembut puncak kepala Sakura, "Tapi besok aku akan datang kembali. Janji."
Hanya dengan janji itu, meski Sakura sedikit meragukan kemampuan Kakashi untuk menepati janji, Sakura sudah cukup senang dan membiarkan dosen itu pergi keluar dari rumahnya, setelah berpamitan dan bercakap-cakap sebentar dengan Kizashi dan Sasuke.
Selang tak lama dari kepergian Kakashi pun, Sasuke akhirnya harus berdiri dan pamit untuk pergi setelah ia menjawab panggilan telepon dari HP-nya. Katanya ada berkas yang harus ia tanda tangani sekarang juga dari sekretarisnya.
Sakura pun sudah mengganti pakaiannya dengan piyama untuk bersia tidur. Ia tengah melakukan beberapa perawaratan wajah di depan cerminnya, saat pintu kamarnya terbuka, dan menampilkan bayangan Kizashi di depan cermin berbingkai merah muda itu.
"Ayah? Ada apa?" tanya Sakura sembari memuta tubuhnya untuk menghadap Ayahnya yang kini telah duduk di tepi ranjang, di sampingnya.
"Hanya ingin ngobrol sebentar," jawab Kizashi santai.
"Hm!" Sakura menatap Ayahnya dengan penuh selidik, "Gak kayak biasanya."
"Tentu saja, karena ada hal penting yang ingin Ayah sampaikan padamu," ujar Kizashi yang membuat perhatian Sakura kini tertumpah ruah pada apa yang hendak dikatakan Ayahnya.
Melihat Sakura terdiam dan menyadari bahwa gadis itu tidak berniat merespon kalimatnya secara verbal, Kizashi pun melanjutkan, "Besok, kita akan pergi De La Pasta–" ujar Kizashi menyebut salah satu usaha restorannya yang terletak di tengah kota.
"Untuk a–?"
"Untuk menemui pengawal barumu," lanjut Kizashi tanpa memberi kesempatan bagi putrinya untuk melanjutkan ucapannya.
-oOo-
"I knew it! Dia pasti telat!" gerutu Sakura kesal sembari melirik ke arah jam dinding yang tergantung di tembok di sampingnya sana.
Sudah dua puluh tiga menit ia habiskan duduk berdiam diri di restoran milik keluarganya ini, bersama Ayahnya. Oh, tentu saja, mereka kesini bukan untuk menghabiskan waktu makan siang di restoran terkenal yang kelak hak kepemilikannya akan jatuh ke tangan si gadis berambut pink itu. Tidak, daripada makan siang di sini, Sakura lebih suka menghabiskan uangnya di restoran fast food milik keluarga Yamanaka, teman satu sekolahnya.
Tapi, mereka kini tengah menunggu kedatangan dari seseorang, atau dua orang? Entahlah. Yang jelas, Ayahnya bilang bahwa mereka sudah membuat janji bertemu dengan Kakashi di tempat ini. Dan menurut perjanjian, harusnya si dosen berambut perak itu sudah menampakkan batang hidungnya dua puluh tiga menit yang lalu!
"Harusnya kita tadi tidak terburu-buru," gumam Sakura kesal, karena karena pertemuan ini, ia harus merelakan waktu bermain bowling-nya bersama Ino dan yang lain.
"Hm, Kakashi bilang, orang yang akan diperkenalkannya padamu itu tidak suka menunggu," ujar Kizashi sembari menyeruput latte dari gelas di depannya.
"Nah, nyatanya, siapa yang kini tengah menunggu?" balas Sakura sembari meletakkan telapak tangannya di dagunya, tak hirau pada lirikan kagum dan terpesona dari pemuda yang bertebaran di sekitarnya.
Hah, andai saja Kakashi bukan sahabat Ayah, sudah nyewa Yakuza kali, dia untuk memberi pelajaran bagi dosen itu!
-oOo-
"Aku bisa melaporkanmu pada polisi atas hal yang bisa disebut penculikan ini," ucap pemuda berambut merah itu dengan raut wajah yang benar-benar kesal. Raut wajah terkesal yang pernah ditampakkannya di depan lelaki yang kini dengan tampang watados, tengah menyetir sambil bersiul-siul riang di sampingnya.
"Dan aku tidak ingat pernah menghubungimu dan bilang 'ya' atas penawaranmu," tambah pemuda itu dengan penuh penekanan, menahan amarah yang kali ini, benar-benar ia rasakan akibat ulah dosennya yang menjengkelkan itu.
"Ne, Sasori-kun, jalani sajalah dulu. Kau tak akan menyesal," ujar Kakashi santai dan ceria, sekalipun dalam hati ia ketar-ketir memperingatkan dirinya sendiri untuk tidak sedikitpun melihat ke samping dan menatap kedua mata yang, ia yakin, tengah memberinya pandangan yang seolah-olah akan membunuh.
"Sensei menyebalkan," ujar Sasori setelah menghela nafas berat dan membuang pandangannya pada pemandangan di luar kaca di sampingnya, "Ini namanya pelanggaran privasi dan hak."
"Maaf, Sasori. Tapi aku hanya ingin membantumu. Itu saja," jelas Kakashi yang mulai merasa bersalah bertindak sejauh ini pada mahasiswanya.
"Aku tidak akan menerima tawaran ini," ujar si mahasiswa dengan tegas, "Aku tidak bisa."
"Tapi Sasori-kun, kau akan menyesal. Orang yang akan mempekerjakanmu ini cukup berpengaruh, lho, di negeri ini," bujuk Kakashi yang mulai khawatir jika janji Sasori barusan akan benar-benar ia tepati.
"Gak peduli. Aku mahasiswa. Aku tak bisa menjadi pengawal siaga dua puluh empat ja–"
"Itu bisa dinego, tenang saja."
"Tetap, aku tidak mau."
"Ayolah, apa kau tega membiarkanku mendapat malu karena tak bisa menepati janji pada sahabatku untuk membantunya?"
"Seperti kau peduli padaku saja, Sensei."
"Jangan mulai sarkastik lagi, Tuan Sensitif."
"Nah, kau makin menyebalkan."
"Setidaknya, pikirkanlah mengenai apa yang bisa kaulakukan dengan gajimu nanti? Sekolah adik-adikmu? Biaya keluargamu? Dan tentu saja, biaya kuliahmu?"
Tak terdengar respon yang berarti. Bahkan sebuah gerakan berupa tolehan kepala, tak dilakukan oleh si Akasuna. Ia tetap mengalihkan wajah pada jendela, menatap ke arah pemandangan di luar kaca, sekalipun Kakashi tahu bahwa pikiran pemuda itu tak tengah terfokus pada apa yang tengah dilihatnya.
"Kau licik, Sensei," respon Sasori pelan.
Dan Kakashi tak menjawab, menjadikan sisa perjalanan mereka total dilingkupi keheningan.
-oOo-
Tak seperti apa yang tengah dilakukan oleh dosennya, Sasori tak repot-repot untuk sejenak memperhatikan penampilannya. Meskipun Kakashi sudah memperingatkannya bahwa mereka akan bertemu dengan orang-orang terhormat dan berpengaruh besar bagi Jepang, namun toh pemuda itu enggan untuk barang sedikit merapikan rambutnya yang biasa terlihat berantakan dan jatuh menutupi dahinya.
"Kau harusnya tadi memakai jas, atau setidaknya hem lengan panjanglah. Biar terlihat sopan dan tak kayak preman begitu," komentar Kakashi mengamati penampilan muridnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Jumper putih yang resletingnya tak sepenuhnya tertutup dan memperlihatkan kaos berwarna putih yang ia pakai sebagai lapisan dalam, celana jeans abu-abu semata kaki yang menutupi sebagian dari sepatu kets berwarna senada yang talinya sedikit terikat berantakan.
"Kita tidak akan masuk jika kau tidak membenarkan tali sepatumu," ujar Kakash menunjuk ke arah sepatu sebelah kiri milik Sasori.
Sasori hanya tersenyum meremehkan sembari menjawab, "Seolah-olah aku butuh pertemuan ini saja."
Kakashi menghela nafas lelah, "Kau mau aku yang merapikannya?"
Sasori hanya mengangkat sebelah alisnya pertanda heran. Namun ia seketika membelalakkan matanya dan langsung berjongkok saat dosen walinya tersebut telah membungkukkan badan, hendak berjongkok di depannya.
"Biar aku sendiri," ucap Sasori pelan sembari tangannya mulai memilin tali sepatunya membentuk sebuah simpul yang lebih rapi.
Hah, ini tidak ada hubungannya dengan tata krama murid-dosen.
Hanya saja, jika Kakashi yang membenarkan tali sepatunya, dan jika orang-orang melihatnya, apa yang akan mereka pikirkan tentang orientasi seksual Kakashi dan Sasori, sudah mampu Sasori tebak.
Dan Kakashi menyeringai penuh kemenangan.
Pada akhirnya, mereka mulai melanjutkan langkah menuju restoran besar yang menghindangkan masakan khas Italia tersebut. Hari libur seperti sekarang, membuat restoran ini tampak padat oleh pengunjung. Lihat saja parkiran mobil dan motor yang ada di halaman sana. Kakashi saja sampai sedikit kerepotan mencari space kosong.
Bel yang tergantung di atas pintu, berdenting dan terdengar saat Kakashi membuka pintu ganda berlapis kaca itu, menjadi pertanda bagi pegawai restoran bahwa ada pelanggan yang baru datang.
Begitulah, seorang pelayan dengan seragam khas restoran ini, menghampiri Kakashi dan Sasori yang baru saja masuk dan berdiri di dekat pintu, "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" sapanya ramah.
Kakashi tersenyum sembari berkata sopan, "Saya sudah membuat janji di sini dengan Haruno Kizashi. Saya Kakashi Hatake. Apakah dia sudah datang?"
Pelayan itu kemudian tersenyum, "Oh, Tuan Hatake? Ya. Tentu saja. Beliau bersama putrinya sudah datang sejak... errr... empat puluh menit yang lalu."
Ucapan pelayan itu membuat Kakashi menggaruk belakang kepalanya dengan kikuk, sedangkan Sasori menatap heran pelayan itu.
Putrinya?
"Mari silahkan," pelayan itu berjalan mendahului mereka. Kakashi dan Sasori kemudian mengikutinya, meski awalnya Kakashi harus menarik paksa tangan Sasori yang kelihatan enggan untuk beranjak dari tempatnya semula.
Dari sini, Sasori mampu melihat dan menyimpulkan bahwa pelayan itu telah berjalan dan mengarahkan mereka pada satu meja yang terletak di tengah-tengah lantai pertama restoran, yang tengah diduduki oleh seorang pria paruh baya berkacamata yang tengah berbicara pada seorang gadis –berambut pink? PINK?!- yang ada di depannya.
Dalam hati, Sasori menerka, apa mereka yang memberi penawaran kerja itu?
"Tuan dan Nona Haruno," pelayan itu membungkuk hormat di depan kedua Bosnya, "Tamu Anda sudah datang."
Mendengar hal itu, Kizashi dan Sakura berhenti berbincang untuk menoleh ke asal suara. Pandangan keduanya langsung tertuju pada sosok berambut merah, menghiraukan kehadiran Kakashi yang berdiri lebih dekat dengan mereka.
"Oh, Hal–"
Ucapan dan gerakan Kizashi untuk berdiri dari duduknya, terhenti seketika. Senyum Kakashi yang semula terkembang, luntur pula digantikan dengan matanya yang sedikit terbelalak terkejut. Pelayan yang ada di sampingnya bahkan menutup mulutnya yang menganga lebar dan matanya memberi ekspresi yang sama.
Tak hanya mereka.
Seluruh pengunjung restoran seketika membeku.
Suara-suara keramaian yang semula terdengar, kini menjadi hilang. Mengisi restoran ini dengan kesunyian yang terasa.
Keheningan yang menyergap–
"Kau tampan sekali. Aku jatuh cinta padamu."
– saat di tengah ruangan itu, Haruno Sakura mencium lembut bibir dari Akasuna Sasori yang berdiri di depannya.
-oOo-
I can't promise you faster updates or anything. I can just promise you my love and heart :') FOR GOD'S SAAAAAAKKKEEEEE /ganyante/ :3
Comments and criticisms are wholeheartedly appreciated
Thank You
Yukeh ketjeh
