Naruto (c) Masashi Kishimoto
I don't own the Picture
Pairing: SasoSaku, other slight pairings included
Warning: AU, OoC, drama, nyinet, dan warning lain-lain aja deh, ye /mendadakpusing/ Dan catat: super duper mega ultra annoying and antagonistic Sakura
Happy reading~
Pemuda itu mengetuk pintu berwarna coklat susu di depannya itu dengan sedikit ragu, takut jika-jika kamar itu tiba-tiba menghempas membuka dan menampakkan wajah dari seseorang yang sangat menakutinya kala dia marah.
Ia meneguk paksa ludahnya, menelan seluruh keraguan dan kegugupannya, dan tangannya kembali terangkat, mengetuk pintu itu pelan.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kal–
BRAK!
"Cepat katakan apa maumu."
Tuh, 'kan! Apa yang dikhawatirkan pemuda berambut kuning panjang itu menjadi kenyataan. Pintu di depannya terhempas kasar membuka, dan dari baliknya menampakkan sosok pemuda berambut merah yang menatapnya dengan pandangan dingin dan terganggu.
Sekali lagi, pemuda dengan kuncir di rambut pirangnya itu menelan ludah dengan sulit.
"Ada telepon untukmu," ujarnya singkat sembari mengangkat tangan kanannya, menampakkan telepon wireless milik kosan yang tengah digenggamnya, "Aku sudah mengatakan kau sedang tak ingin diganggu. Tapi percayalah, suara deringan telepon ini sama mengganggunya dengan suara musik rock Kisame."
"Non-aktifkan saja, Dei," jawab si rambut merah dengan singkat, padat, dan sadis.
"Hei! Bagaimana jika ada telepon untukku atau Kisame?" tanya si pemuda bermata aquamarine itu, "Ayolah Sasori, jawab sebentar saja. Aku tidak bisa konsentrasi belajar untuk kuis besok karena tempat telepon sialan ini tepat di sebelah kamarku!" protesnya sembari semakin menyodorkan telepon itu pada Sasori.
Sasori menghela nafas keras, lalu menyambar telepon itu dengan agak kasar dari genggaman tangan pemuda yang barusan dipanggil 'Dei' oleh Sasori.
"Katakan saja kau benar-benar tak ingin menerima telepon sekarang. Mungkin dia akan mengerti jika kau sendiri yang mengatakannya," ucap Dei sedikit agak sebal, lalu berlalu dari hadapan Sasori yang sudah menempelkan telepon itu di telinganya.
"Halo," jawabnya datar, tanpa sungkan untuk menyembunyikan nadanya yang terdengar amat terganggu.
"Wah, wah, sepertinya temanmu tadi lupa bahwa aku bisa mendengar obrolan kalian barusan. Ckck... sepertinya aku benar-benar menganggumu, ya, Sasori-kun?"
Sasori memutar bola mata dengan kesal, "Sensei, jika tujuanmu menelpon kali ini adalah mengenai konglomerat itu dan putrinya, maka lupakan saja!"
"Ne, Sasori-kun, tak perlu emosi seperti itu," ujar Kakashi dengan nada menenangkan, "Lagipula, hal itu sudah tiga hari yang lalu. Lupakanlah, oke?"
Sasori memandang tembok di depannya dengan pandangan keras dan kaku, seolah-olah tembok itulah tempat darimana suara barusan berasal.
Apa dosen bodoh itu bilang?
Lupakan?
Setelah ia dipermalukan di depan puluhan pasang mata pengunjung restoran?
"Apapun katamu, aku tidak ingin membicarakan hal ini lagi," kata Sasori lirih, menahan amarah yang mulai terasa, "Kau dengar. Aku. Tidak. Mau. Bicara. Tentang. Hal. Ini. LAGI!"
Klik.
Sambungan terputus oleh jemari Sasori yang menekan tombol 'No' di telepon itu.
Tangannya yang menggenggam telepon itu mengeras, menampakkan otot-otot halus yang ada di bawah kulit putihnya. Rahangnya mengatup rapat, seolah siap membentak dan meluapkan amarahnya pada apapun yang bisa menjadi tempat pelampiasannya.
Gadis berambut pink menyebalkan itu...
Berapapun uang yang sanggup dijanjikannya untuk gaji Sasori, tak akan mampu menghapus rasa malu dan terhina yang Sasori rasakan waktu itu.
Tak akan.
-oOo-
Jemari dengan kuku berpoles kuteks pink dan glitter itu tampak menekan-nekan tombol remot dari televisi yang menyala di depannya. Beberapa channel telah terlewat begitu saja, beberapa acara berlalu terganti dengan acara di channel lain saat jempol itu menekan-nekan suatu tombol di remot itu. Bahkan sekalipun kedua bola hijau emerald itu menatap ke arah layar televisi itu, namun pikirannya seolah terfokus pada hal lain.
Berbagai macam ekspresi tersirat di wajah putih itu. Alisnya yang berwarna senada dengan cerahnya helai rambutnya, berkali-kali mengerut. Bibirnya yang tipis terkadang melengkung sedih, namun sedetik kemudian akan tersenyum manis.
Ah, apa gerangan yang tengah terjadi pada Nona Muda itu?
Mungkin lebih baik jika kita melihat ke kejadian beberapa hari yang lalu.
Tepatnya saat dimana kedua matanya bertatapan dengan kedua warna coklat ebony itu. Saat ia melihat langkahnya. Saat ia melihat helai merah cerah itu.
Dan saat...
Mendapat bayangan seperti itu, kedua mukanya ia tekan di balik bantal sofa berwarna merah muda yang tengah ia peluk. Panas pipinya yang terasa membuat ia seakan malu memperlihatkan wajahnya pada dunia, sekalipun kini ia tengah berada di kamarnya tanpa ada seorangpun yang mampu melihat betapa meronanya pipi putih itu.
Oh Tuhan, bagaimana ia tidak tersipu jika membayangkan ciuman pertamanya telah ia serahkan pada seorang pemuda yang begitu tampan dan mempesona?
Peduli setan dengan kenyataan bahwa ia belum mengenalnya.
Terlarut dalam angan dan khayalannya sendiri, gadis itu tidak menyadari bahwa pintu kamarnya membuka perlahan.
Ia masih tersenyum-senyum tak jelas bahkan saat terdengar suara langkah pelan menuju ke arahnya.
Bahkan ia masih mencak-mencak kegirangan tak karuan saat pundaknya tertepuk pelan dari samping bersamaan dengan terdengarnya suara, "Sepertinya ada sesuatu yang membuatmu bahagia, Sakura-chan?"
Kegiatan mencak-mencak-girang-gak-jelas itu terhenti saat Sakura mendongak dan mendapati sang Ayah tengah berdiri di dekatnya, dengan tangan kanan Beliau yang masih berada di pundak Sakura.
Sakura tersenyum lebar, "Hu-um. Aku sangaaaattt bahagia, Ayah!" kata Sakura sembari memeluk erat-erat bantal sofa berbentuk hati warna pink, di dadanya, "Aku teringat Sasori-kun," ujarnya tanpa sungkan-sungkan membeberkan isi hatinya pada orang tua satu-satunya.
Kedekatan Sakura dengan Kizashi, ditambah dengan perlakuan manis dan pemanjaan dari Kizashi, membuat Sakura sering memposisikan dirinya dan Kizashi seolah sepasang sahabat dekat dan akrab. Bukan berarti Sakura sudah tidak memiliki sopan santun pada sang Ayah, hanya saja mereka akan selalu terbuka pada semua hal, termasuk hal pribadi dan khas dari remaja seperti ini.
Kizashi tersenyum maklum, lalu mendudukkan diri di sofa di samping Sakura, "Wahwahwah... Bahkan kau sudah memanggilnya dengan embel-embel 'kun', ya?" goda Kizashi, "Sepertinya kamu benar-benar tertarik padanya?"
Pipi Sakura merona malu mendengar perkataan sang Ayah tersebut, "Aku bukannya tertarik. Aku jatuh cinta padanya, Ayah~."
Andai saat itu Kizashi sedang meminum sesuatu, pastilah ia akan tersedak seketika.
Karena ucapan dari putrinya barusan, sama sekali tak pernah ia duga sebelumnya. Ia bisa maklum jika putrinya tersebut tertarik pada si pemuda didikan Kakashi, tetapi siapa sangka jika ketertarikan itu sudah menginjak level cinta?
"Kau yakin?" Kizashi tersenyum heran, "Kalian baru bertemu satu kali, lho. Dan itupun sebentar saja sebelum dia pulang setelah kau... errr...," Kizashi memalingkan muka sembari berdehem, "Menciumnya."
Bukannya merasa risih karena pembicaraan mereka sudah sampai tahap sesensitif itu, Sakura malah menatap atap sembari meletakkan telunjuk kanannya di dagu, pose berpikirnya yang khas, "Iya, sih. Tapi aku yakin, kok. Setiap mengingatnya, ada yang berdebar-debar di dalam sini," gadis itu menempelkan telapak kirinya di dadanya, "Aku suka malu sendiri tiap mengingatnya. Bukan seperti malu saat aku kecebur got dan dilihatin orang banyak waktu SMP dulu, tetapi ini malu yang lain... Entahlah," Sakura kemudian mengalihkan pandangannya dari atap ke Ayahnya, "Dan aku tahu, aku tak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Tidak pula dengan Sasuke-kun."
Kizashi menghela nafas saat nama pewaris Uchiha tersebut terucap. Ternyata selama ini ia salah mengira. Ia sebelumnya yakin sepenuhnya bahwa putrinya tengah dilanda cinta remaja dengan sang Uchiha. Karena, ayolah, gadis mana yang tidak? Sasuke memiliki semua yang dibutuhkan laki-laki untuk menarik perhatian wanita. Dan Kizashi, sebelum ini, yakin bahwa putrinya bukan pengecualian dari wanita-wanita itu.
"Darimana kau tahu itu cinta?" tanyanya lebih jauh lagi, "Mungkin saja hanya rasa kagum sesaat, karena, Ayah akui, Akasuna-san memang punya penampilan fisik yang bagus."
"Tidak hanya bagus, tetapi nyaris sempurna!" ralat Sakura agak dramatis, "Sepertinya juga, dia pemuda yang sopan. Buktinya, dia langsung masang wajah tidak enak begitu sesudah kucium," ujar Sakura dengan tatapan berubah sendu saat mengingat betapa takutnya ia kala mendapati pelototan mata dari bola coklat Akasuna waktu itu, "Padahal aku 'kan hanya ingin menunjukkan perasaanku padanya."
Kizashi menghela nafas. Ia memilih diam saja karena ia yakin, putrinya pasti tengah salah menebak arti dari perasaannya. Ia belum dewasa. Masih seorang gadis yang senantiasa dimanja dan disayang layaknya seorang putri tahta istana. Ia belum tahu apa itu cinta sesungguhnya. Jikapun yang ia rasakan memanglah cinta, pasti itu hanya cinta sesaat atau cinta monyet.
Pasti setelah ini putrinya akan mengalihkan mata pada pemuda yang lain.
"Tetapi dia sepertinya telah tidak suka padamu, Sakura-chan," goda Kizashi, yang sukses membuat raut Sakura seketika tertekuk tidak senang mengingat fakta tersebut.
"Kenapa dia marah sekali, sih?" gumam Sakura, lebih kepada dirinya sendiri ketimbang kepada sang Ayah, "Aku 'kan hanya menciumnya, sebentar juga, kok."
Mendengarnya, Kizashi jadi yakin bahwa dirinya selama ini ternyata kurang dalam mengajarkan tata krama kepada si gadis berambut merah muda.
"Tentu saja, dia pasti malu, Sakura-chan. Waktu itu restauran kita sedang ramai sekali, 'kan?" ujar Kizashi kalem.
Sakura memejamkan mata dan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, "Tetapi, setidaknya, dia tidak menjadikan itu sebagai alasan untuk mundur jadi pengawalku, 'kan?" gadis itu membuka kembali kelopak matanya dan menampakkan warna emerald yang tengah berduka, "Padahal, pasti asyik sekali jika aku bisa bersamanya lebih lama."
Kizashi hanya terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi, ia ingin bercerita jujur saja bahwa beberapa hari yang lalu, Kakashi memberitahunya bahwa si pemuda Akasuna sudah final tidak mau lagi berurusan dengan tawaran pekerjaan ini. Kakashi sudah membujuknya dan merayunya dengan segala macam bujukan dan rayuan, tetapi hati Akasuna yang dari awal sudah sekeras batu, kini makin membeku setelah kejadian di restauran yang dianggapnya sangat merendahkan harga dirinya itu. Dan sampai sekarang, tak ada kabar baik lagi dari Kakashi yang menandakan bahwa si Akasuna bersedia melupakan semua dan kembali berniat untuk menjadi salah satu pegawainya.
Tetapi di sisi lain, ia juga tidak tega mengatakan semua itu pada putri tunggalnya. Ia bisa melihat, betapa berbinar-binar warna emerald itu bercahaya tiap kali menceritakan tentang si pemuda berambut merah. Berapa kali dalam sehari, gadis berambut merah muda itu selalu menanyakan kepada dirinya 'Apakah ada kabar dari Paman Kakashi tentang Sasori-kun?'. Dan betapa sering ia mendapati putrinya tersebut rela menghabiskan waktu berjam-jam di telepon hanya untuk mengobrol dengan Kakashi mengenai pemuda yang baru ditemuinya beberapa hari yang lalu.
Ah, mengingat semua itu, Kizashi menjadi ragu kembali bahwa apa yang tengah dirasakan putrinya sekarang hanyalah sekedar cinta sesaat.
"Kupikir, aku harus meminta maaf padanya," ujar Sakura pelan sembari meletakkan dagunya di atas lutut kakinya yang tengah ia peluk dan dekap di dadanya.
Dan ucapan itu semakin membuat Kizashi terkejut.
Meminta maaf? Seorang Haruno Sakura? Demi apa, bahkan saat salah satu pengawalnya dulu harus masuk rumah sakit karena ulahnya, tak ada kata penyesalan yang keluar dari mulut putrinya. Dan kini, Sakura hendak meminta maaf? Kepada orang asing yang ditemuinya beberapa jam saja?
"Tidak perlu seperti itu," mau tak mau Kizashi jadi kasihan juga melihat putrinya yang sepertinya amat tertekan dan desperet demikian, "Ayah bisa mencarikanmu pengawal yang bar–"
"Aku hanya mau Sasori-kun! Titik!" potong Sakura setengah berteriak setengah merajuk. Sifat manjanya akan keluar seketika kala ia benar-benar menginginkan sesuatu, "Kalau bukan dia, yaudah, aku ga mau siapapun lagi. Biar aja aku diculik Yakuza sekalian!"
"Tetapi dia juga belum tentu mampu melindungimu, 'kan, Sakura-chan? Untuk apa kita menyewanya menjadi pengawalmu kalau dia tidak mampu melindungimu?"
"Cukup berada di dekatnya saja, aku pasti akan merasa aman," jawab Sakura yakin, "Oh Ayah, entahlah. Aku tidak tahu mengapa aku ingin sekali dirinya. Aku tidak tahu. Hanya saja, aku sudah sangat menyukainya sejak pandangan pertama," ujar Sakura dengan suara melirih.
Kizashi menghela nafas berat. Dari awal, ia adalah seorang Ayah yang lemah jika berhadapan dengan putrinya. Melihat putri tunggalnya bersedih seperti itu, pasti akan membuat hatinya ikut sakit dan luluh. Dan pada akhirnya, ia akan melakukan apa saja untuk membuat bibir tipis itu kembali merekah menampakkan senyum manisnya.
Sepertinya ia harus bicara serius dengan Kakashi malam ini.
"Apapun yang terjadi, aku ingin dia bekerja disini, Ayah," Sakura menoleh ke arah Ayahnya dan memberikan pandangan yang berisi tekad yang kuat, "Aku akan melakukan apapun, sekalipun jika aku harus berlutut di depannya dan meminta maaf!"
-oOo-
Sasuke mematut dirinya di depan sebuah cermin besar yang terletak di kamarnya. Kedua mata onyx-nya yang tajam, memandang lekat dua mata onyx yang merupakan pantulan bayangan dari dirinya. Ditelitinya penampilannya, dari ujung rambutnya yang selalu ia tata dengan gaya sensasional itu, sampai ujung sepatunya yang mengkilat tanda selalu terawat. Kemeja putih yang rapi dengan sebuah dasi merah yang melingkari kerah bajunya. Celana dengan warna segelap sepatunya, dan sebuah jam tangan eksklusif yang melingkari pergelangan tangan kanannya.
Dan sebuah seringai muncul di wajahnya. Sebuah seringai licik yang di mata setiap wanita, entah bagaimana bisa, menjadi sebuah seringai seksi dan menggoda.
Uchiha memang dilahirkan dengan fisik dan kekayaaan yang melambangkan diskriminasi di dunia. Tentu saja. Apa yang Uchiha tidak punya? Ketampanan, kepintaran, kekayaan, dan kekuasaan. Semua ada. Tak heran jika apapun yang diinginkan Uchiha, bisa langsung dipastikan, akan didapatkannya cepat atau lambat.
Termasuk hati dari seorang gadis naif Haruno itu, 'kan, Sasuke?
"Mau menjemput Sakura lagi, Sasuke?"
Kepala dengan helai-helai legam itu menoleh, dan kedua mata onyx-nya seketika mendapati dua bola onyx lain yang tengah mengamati penampilannya dengan seksama dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Dari penampilanmu yang rapi begini, kupikir dugaanku tak salah," lanjut orang itu.
Sasuke memutar bola mata muak, beralih dari depan kaca, menuju ke meja kecil di samping tempat tidurnya demi menyambar HP-nya yang tergeletak di sana, "Urusi saja urusanmu sendiri, Itachi."
Itachi merengut tidak suka mendengar kasarnya respon dari sang adik, "Aku hanya bertanya. Lagipula, bagaimanapun, hubunganmu dengan Sakura sudah menjadi urusan keluarga kita, kau tahu."
Sasuke, tanpa sekali lagi pun melihat ke arah sang Kakak, menyambar mantel coklat mudanya yang tergantung di balik pintu kamarnya, "Terserah kau saja."
"Hati-hati, Sasuke. Jangan sampai kau berbuat sesuatu yang menggagalkan rencana kita," ujar Itachi kalem sembari melipat kedua tangannya di dada, "Kau tahu, sekalipun ini rahasia perusahaan, tetapi kita semua tahu bahwa perusahaan kita dalam waktu dekat pasti akan dilanda krisis. Kita membutuhkan sokongan dan bantuan. Dan kau tahu," Itachi menyingkir dari tengah jalan masuk kamar, untuk membiarkan sang adik lewat, untuk kemudian mengekorinya di belakangnya, "Hanya Haruno yang bisa membantu kita. Tak ada yang lain."
"Ucapanmu persis seperti ucapan Ayah, kau tahu?" gumam Sasuke sembari memakai mantelnya sambil jalan menuju pintu keluar rumah, "Aku bukan anak kecil lagi yang harus kalian ingatkan tiga kali sehari."
"Aku mengingatkanmu bukan karena takut kau lupa," ujar Itachi kalem sembari masih mengikuti adiknya menuju ke pintu, "Aku mengingatkanmu agar kau waspada dengan permainanmu sendiri."
"Tidak ada yang tahu tentang rencana kita. Jadi kau tenang saj–"
"Aku hanya takut kepura-puraanmu malah menjadi kenyataan," potong si pewaris tertua, "Kau tahu maksudku. Jangan pernah jatuh cinta pada Haruno. Atau semua akan kacau."
Gerakan tangan Sasuke untuk memutar kenop pintu depan rumah, terhenti sesaat saat mendengar ucapan peringatan dari sang Kakak.
Jatuh cinta?
Pada gadis berambut merah muda itu?
Sasuke mendengus keras, "Yang benar saja kau."
Itachi hanya menghela nafas lega dan puas mendengar jawaban dari sang adik. Sebagai pewaris utama perusahaan keluarga, ia cukup waswas mengenai permainan yang tengah mereka lakukan ini. Karena, bagaimanapun, ia tahu ada istilah cinta bisa saja tumbuh dari kebiasaan dan kebersamaan. Dan ia tentu tidak mau jika kebersamaan dan kebiasaan dari adiknya dan pewaris perusahaan Haruno, pada akhirnya akan melenceng dari perkiraan semula.
Ya, ia tahu bahwa apa yang tengah mereka lakukan ini jahat dan berat.
Tetapi, dalam dunia bisnis, justru malah makin jahat dan makin berat jika berdiam diri saja dan membiarkan perusahaan mereka kolaps begitu saja. Lagipula, bagaimana dengan nasib ribuan karyawan dan pekerja?
Untuk itulah, bagi Itachi, cara-cara licik seperti ini, terkadang diperlukan jika ingin eksistensi kita tetap ada dan bertahan.
Munafik sekali jika dalam bisnis senantiasa berpegang pada kejujuran.
-oOo-
"Dah, Pig! Jangan ngebut di jalan, ingat, kau belum menikah! Haha."
BLAM.
Pintu mobil itu tertutup setelah sang pemilik masuk ke dalamnya setelah sebelumnya tertawa melihat acungan jari tengah yang sekilas diberikan sahabatnya yang berambut pirang, sebelum gadis itu masuk ke mobilnya sendiri pula.
Sakura menghela nafas lega saat merasakan hembusan sejuk dan nyaman dari AC di dalam mobilnya. Meski udara telah memasuki akhir dari musim panas, tetapi Sakura tetap bisa merasakan kegerahan yang ada di luar sana. Sinar matahari memang sudah tidak terpancar seganas semula, tetapi tetap saja ia enggan menghabiskan waktu lama-lama di udara terbuka nan gerah, yang membuatnya harus berkeringat. Dan Sakura adalah orang yang membenci keringat, baik itu keringatnya sendiri, apalagi keringat orang lain.
Ia mulai melajukan mobilnya, setelah menyalakan DVD player yang ada di dalamnya. Kepala mungilnya, mulai bergerak-gerak kecil mengikuti irama lagu yang terdengar. Sesekali bibirnya menggumam tak jelas mengikuti vokal dan alunan dari musik tersebut.
Namun aktivitasnya itu terhenti saat ia melihat sesuatu di depan sana. Seseorang tengah berdiri dan bersandar di pintu kemudi dari sebuah mobil berwarna hitam metalik, di samping gerbang sekolah Sakura sana. Ia mendekap tangan di dada dan berkali-kali melirik jam tangan yang ada di pergelangannya, tanda bahwa ia sudah tidak sabar.
"Sasuke-kun?" gumam Sakura heran, "Ngapain dia di situ? Aku tak pernah ingat pernah memintanya untuk bertemu denganku hari ini."
Mengacuhkan tebakan-tebakan yang ada di kepalanya, Sakura memutuskan untuk bertanya saja langsung. Tetapi, apapun yang ingin disampaikan dan dilakukan oleh si pemuda Uchiha, Sakura sudah bertekad bahwa ia tidak bisa pergi dan bersama dengannya hari ini karena ada sesuatu yang lain yang harus ia lakukan.
"Sasuke-kun?" tanya Sakura setelah ia menurunkan kaca kemudi mobilnya, "Ngapain di sini?"
"Oh, Sakura," Sasuke tampak terkejut dan seketika menegakkan tubuhnya dan menghadap ke arah si gadis yang masih berada di balik kemudi mobilnya, "Aku ingin mengajakmu makan siang. Tetapi... sepertinya kita perginya harus dalam mobil yang terpisah," Sasuke memerhatikan Bugatti Veyron di depannya tersebut.
"Ah, Sasuke-kun. Aku tidak bisa. Aku ada acara lain," jawab Sakura seketika tanpa memikirkan kemungkinan bahwa Sasuke sudah menunggunya bermenit-menit di depan gerbang sini, "Lagipula, kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya tentan rencanamu ini? Aku 'kan tidak tahu jadinya."
Mendengar ucapan gadis berambut merah muda di depannya ini, mau tak mau Sasuke merasa sekujur tubuhnya lemas seketika. Bukannya ia kecewa dan pengen banget makan siang dengan Sakura, tetapi ayolah, sudah berapa menit yang ia habiskan di sini?! Dan sekarang, gadis itu bilang ada acara lain? Menyalahkannya karena tidak memberitahunya sebelumnya pula?!
Jika Sasuke bukanlah seorang Uchiha yang memuja harga diri di atas segalanya, pasti ia sudah misuh-misuh dan mengacungkan jari tengah dan menendang Bugatti Veyron itu dengan kaki kirinya.
"Oh, kalau begitu, nanti malam saja kita makan malam. Bagaimana?" bukan seorang Uchiha namanya kalau tidak bisa bernegosiasi untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Um...," Sakura menggigit bibir bawahnya sembari berpikir, "Sepertinya bisa," ia tersenyum ke arah Sasuke, "Nanti telepon aku lagi, ya. Sekarang aku harus pergi dulu. Oke? Dadah, Sasuke-kun!"
Dan tanpa memerdulikan wajah Sasuke yang cengok-tapi-tetep-stay-cool, Sakura kembali melajukan mobilnya tanpa sekalipun lagi melirik spion guna melihat Sasuke yang tertinggal di belakang sana.
Tanpa perasaan menyesal atau bersalah apapun, gadis itu kembali beraktivitas seperti sebelumnya. Bergumam mengiringi vokal dari lagu yang tengah mengalun dari mobilnya sembari menggerak-gerakkan kepalanya kecil mengikuti irama.
Namun, semua itu terhenti ketika pandangan matanya yang semula ceria, berubah menjadi kelam dan penuh kebencian. Bibirnya melengkung kebawah tanda tidak suka. Dan kepalan tangannya di kemudi, semakin mengeras bersamaan dengan matanya yang menyipit tajam.
"Cewek itu...," desisnya pelan sembari menatap ke depan. Ia memelankan laju mobilnya guna mengamati lebih lama apa yang tengah berada di depan sana.
Seorang gadis dengan rambut panjang sepunggung, tengah mengayuh sebuah sepeda mini berkeranjang di depan mobil Sakura. Tanpa melihat wajahnya pun, Sakura tahu bahwa orang yang ada di depan sana itu adalah orang yang paling ia tidak sukai yang ada di sekolahnya.
Sakura memutar bola matanya muak dan menghembuskan nafas keras, sebelum ia menambah kecepatan mobilnya saat hendak melewati kubangan air lumpur yang ada di jalan. Dan seperti rencananya, si gadis pengayuh sepeda tersebut memekik kaget saat tubuh dan sepedanya terkena hempasan dan cipratan air lumpur kotor saat mobil Sakura lewat di sampingnya.
Sakura menyeringai puas sembari menatap ke depan kembali, tanpa sekalipun melirik pada spion untuk melihat gadis tersebut yang kini berada di belakang sana.
"Dasar Hyuuga bodoh."
-oOo-
Sepanjang jalan yang dilewati oleh Sakura, semua mata tertuju pada mobilnya. Pasangan-pasangan mata itu akan menatap heran campur terkejut saat mendapati sebuah Bugatti Veyron tengah meluncur halus di jalanan kampus yang lumayan ramai di siang hari akhir musim panas ini. Seumur-umur, tak pernah ada mobil sekeren dan semewah itu yang melintas. Mobil seorang Rektor pun tidak mungkin sebagus itu kecuali jika ia melakukan praktek korupsi.
Namun, mendapati semua pandangan itu, Sakura hanya memutar bola mata dengan bosan. Ia terlalu terbiasa dengan semua ini. Di sekolahnya saja, bahkan sampai sekarang, masih ada saja murid yang ternganga layaknya orang kampung yang baru tahu apa itu mobil, saat melihat Bugatti miliknya memasuki halaman sekolah. Dan sekarang, bahkan di tengah-tengah kampus nomor satu di Jepang, ia mendapat perhatian yang sama.
"Belok kiri...," ia menggumam sembari memutar kemudi ke arah kiri, "Lalu lurus, trus belok kanan," ia mencoba mengingat-ingat petunjuk dari Kakashi saat ia bertanya di mana letak Fakultas Kedokteran Universitas Tokyo.
Ya, sekarang kita tahu, untuk apa putri kita ini menolak undangan makan siang dari Sasuke dan memilih untuk kelayapan sendiri di sebuah kampus yang terkenal ini. Sakura memang orang yang keras kepala jika sudah berkeinginan. Jika kemarin ia mengatakan akan berniat menemui Sasori secara langsung dan meminta maaf, maka kini ia tengah menepati tekadnya itu dengan sebuah tindakan nyata.
Dan ia tak pernah menyangka, setelah bertanya pada Kakashi, bahwa Sasori-kun adalah seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran.
Mau tak mau, Sakura tersenyum sendiri mendapat fakta tersebut.
Ia dari awal bercita-cita menjadi seorang perawat... Bukannya akan menjadi suatu hal yang sangat manis jika pada akhirnya Dokter Sasori dan Perawat Sakura bekerja bersama dan merupakan sepasang suami ist–
"Ack!" Sakura menekan rem dengan mendadak saat ia nyaris saja menabrak sebuah mobil lain yang melintas di depannya. Dengan gemas dan kasar, ia turunkan kaca kemudinya, kemudian melongokkan kepalanya keluar sambil berteriak lantang kepada siapapun pemilik mobil itu, tak peduli jika banyak orang yang berada di sekitarnya, "Sialan kau! Sepuluh mobilmu itu tak akan bisa jika harus mengganti biaya perbaikan dari bahkan sebuah goresan kecil di mobilku ini, tauk!"
Dan tanpa memedulikan pandangan aneh dan kaget dan terkejut dari orang-orang sekitar, dengan masih geram, Sakura melanjutkan kembali perjalannya, menuju halaman parkir Fakultas Kedokteran yang menurut perkataan Kakashi, berada di balik tikungan di depan sana.
-oOo-
"Aku akan telepon lagi setelah aku sampai di kos, oke? Ya. Dadah."
Sambungan terputus oleh Sasori.
Pemuda itu kembali memasukkan HP-nya kembali ke saku kemejanya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya membawa sebuah helmet biru. Sesekali ia mengangguk kecil ketika ada seseorang yang menyapanya, dan sesekali ia membungkukkan badan ketika berpapasan dengan seorang dosen atau karyawan dan pegawai universitas yang lebih tua darinya.
Pikirannya yang tengah menimbang-nimbang dan merencanakan apa kegiatannya setelah ia sampai di kos, seketika buyar ketika ia hendak menuju halaman parkir Fakultasnya, ia mendapati orang-orang di sekitarnya memandang takjub ke sebuah arah. Seperti ada sesuatu yang fantastis dan memukau yang ada di depan mereka.
Sejenak, Sasori merasa penasaran apa yang tengah ditatap mereka. Namun ia putuskan untuk tak ambil pusing mengingat ia harus segera sampai di kos dan mengerjakan laporan suatu kegiatan yang akan segera terselenggara di kampusnya, di mana dalam kepanitiaan itu, ia bertugas sebagai Sekretaris I.
"Siapa dia?"
"Entahlah. Tapi gak pernah lihat tuh."
"Apa dia relasinya Rektor?"
"Kalau begitu, ngapain dia ke sini? Kenapa tidak langsung ke Kantor Rektorat saja?"
Berbagai gumaman dan desas-desus terdengar oleh Sasori, membuat rasa penasaran yang coba ia singkirkan, kini kembali datang menyergap. Namun ia tetap acuhkan saja dan dengan sopan, ia mencoba menyibak kerumunan di depannya untuk bisa menuju halaman parkir dan menghampiri motornya.
Namun, ketika ia telah berhasil menyibak kerumunan dan kini berada di depan kerumunan tersebut, langkahnya terhenti kala matanya tak sengaja menatap ke depan.
Dan kini, ia menjadi tahu, apa yang tengah diributkan oleh teman-temannya di sekitar.
Sebuah mobil mewah yang baru-baru ini Sasori ketahui merk-nya adalah Bugatti Veyron, terparkir dengan elegannya di halaman parkir fakultasnya, menyejajari mobil-mobil mewah lain yang kini menjadi tampak lebih murahan saat bersanding dengan mobil berwarna hitam metalik tersebut.
Dan entah apa yang membuat Sasori urung melangkahkan kaki lebih jauh lagi, dan ikut-ikutan terpaku seperti yang lain, hingga pintu kemudi mobil itu terbuka dan sebuah kaki jenjang yang dilapisi kaos kaki longgar khas siswi SMA Jepang, tampak menapak tanah beberapa detik kemudian.
Siswi SMA? Dengan mobil semewah itu? Yang benar saja! Begitulah kira-kira inti dari desas-desus yang semakin keras terdengar di telinga Sasori. Semua semakin penasaran, siapa yang berada di balik kemudi mobil tersebut. Siapa cewek kelewat beruntung hingga dalam usia demikian muda, ia bisa memiliki mobil yang bahkan baru bisa mereka dapatkan setelah mereka bekerja dengan gaji besar nanti.
Dan rasa penasaran itu terjawab sudah ketika satu sosok utuh keluar dari balik pintu mobil, untuk kemudian menutup kembali pintu itu sehingga menimbulkan bunyi BLAM pelan dan halus.
Dan pandangan Sasori pertama kali jatuh pada helai merah muda yang tampak lebih mampu menarik perhatian siapapun ketimbang anggota tubuh lain dari gadis tersebut.
Merah muda...
Mata Sasori sedikit melebar saat kesadaran itu menyentuh otaknya.
Ya! Siapa lagi! Siapa lagi orang aneh yang berambut nyentrik dan gak natural seperti putri pewaris Haruno?! Sasori yakin bahwa ia tidak salah terka. Dugaannya semakin kuat saat pandangannya jatuh pada seragam SMA yang gadis itu pakai. Dari sekali lihat saja, siapapun tahu bahwa hanya SMA milik keluarga Haruno saja yang memiliki seragam khas seperti itu.
Demi apapun, ngapain gadis itu di sini?!
Sasori berniat untuk segera menyingkir, tak ambil pusing akan apapun yang akan dilakukan gadis itu di sini. Lagipula, ia masih belum bisa melupakan sikapnya yang kurang ajar waktu itu. Sampai sekarang, Sasori masih merasa jengkel dan kesal dengan tindak-tanduknya yang jauh dari kata sopan saat pertama kali bertemu dengannya di restauran waktu itu.
Dan sekarang, untuk apa Sasori memerdulikan apa yang gadis itu lakukan di sini?!
Namun terlambat. Belum juga Sasori melangkahkan kakinya, kepala gadis itu telah menoleh ke arahnya. Sekalipun ia tak bisa memastikan di mana pandangan matanya mengarah karena kedua bola emerald itu tertutup di balik kacamata hitam besar yang terpakai, namun Sasori yakin bahwa gadis itu telah melihatnya karena di detik berikutnya, gadis itu sudah berlari-lari kecil menuju ke arahnya.
Oh, tidak.
Firasat Sasori sungguh tidak enak!
Dan Sasori pun tak sempat menghindar kala tubuhnya sedikit terdorong ke belakang saat tubuh yang lebih kecil darinya itu menubruknya dengan keras.
"Sasori-kun! Kau tak punya ide betapa aku sangat ingin bertemu denganmu!" ia mampu merasakan dua tangan mungil itu melingkari tubuhnya dengan erat. Ia bisa merasakan betapa kuatnya kepala gadis itu menempel di dadanya yang terbalut sweeter berwarna abu-abu.
Dan oh, sial, ia bisa mendengar jelas desas-desus yang semakin nyaring di telinganya.
"Hah? Apa? Dia kenal Sasori?"
"Pacarnya?!"
"Demi Tuhan, Sasori keren banget bisa dapetin cewek setajir itu!"
"Gak heran sih, dia kan cakep dan pintar. Siapa yang gak suka?"
Mendengar semua itu, rahang Sasori mengatup dengan keras.
Ingin ia bunuh sekarang juga gadis di depannya ini.
Dengan menahan segala amarah dan hasrat untuk membentak, dengan sopan dan pelan, Sasori melepaskan rangkulan tangan gadis itu di sekeliling tubuhnya, untuk kemudian ia tersenyum kaku dan tidak ikhlas, sembari berkata pelan, "Tolong. Lepaskan. Aku."
Seolah tak mendapat alarm tanda bahaya yang terpancar dari sorot tajam kedua mata dan senyum mengerikan Sasori, Sakura mengangkat sebelah alisnya pertanda heran sembari berucap santai, "Kenapa? Kau mau kemana? Aku ingin bicara padamu."
Ini tidak akan mudah, pikir Sasori jengah dan muak.
Bagaimanapun kesalnya ia dengan gadis ini, ia tidak bisa begitu saja meninggalkannya apalagi mendorongnya dengan kasar. Tidak. Sasori bukan tipe laki-laki yang akan sanggup mengasari makhluk yang bernama perempuan. Ia tidak akan bermain fisik, sekesal dan semarah apapun ia dengan wanita itu.
Sasori menghembuskan nafas kesal dan lelah, lalu tanpa meminta persetujuan, digenggamnya pergelangan kanan gadis itu dan diseretnya ia menjauh dari kerumunan dan desas-desus yang semakin nyaring saja ia dengar.
Hah. Sasori berani bertaruh. Bahkan gosip ini akan menyebar di seantero universitas bahkan sebelum ayam berkokok besok pagi. Ini pun mereka belum tahu identitas Sakura yang sebagai pewaris tunggal perusahaan Haruno.
Dan semoga mereka tak akan pernah tahu.
"Oke, aku tidak tahu apa maumu. Tapi kumohon, jangan ganggu aku lagi karena aku tidak berniat lagi bekerja sebagai pegawaimu, mengerti?" ucap Sasori to the point begitu mereka sampai di sisi gedung yang lumayan sepi dari kerumunan.
"Kenapa?" tanya Sakura sembari memandang heran Sasori di balik bingkai kacamatanya, "Kau marah karena waktu itu? Aku minta maaf!"
"Aku akan memaafkanmu asal kau tidak mengangguku lebih jauh lagi dari ini, kau paham?" sergah Sasori jengkel, separuh karena ulah gadis ini yang membuat nama Sasori besok pasti akan muncul di headline majalah fakultas, dan separuh lagi karena ia terpaksa harus menunda pengerjaan pembuatan laporan kegiatan fakultasnya.
"Aku menganggumu kenapa?" protes Sakura tidak terima, ditelannya bulat-bulat rasa gugup dan sedikit gentar melihat ekspresi terganggu dan galak yang terpancar dari raut muka Sasori, "Aku tidak menciummu lagi, 'kan?"
"Apa kau pikir dengan datang kemari dengan mobil mewahmu lalu berlari memelukku seperti tadi hingga membuat semua perhatian orang-orang tertuju pada kita, sama sekali tidak mengangguku?"
"A-aku...," Sakura menelan ludah dengan gugup saat baru menyadari bahwa ia membuat kesal lagi pemuda di depannya, "Kenapa kau selalu peduli pada pendapat orang lain? Kamu tidak makan dari mereka, 'kan?"
"Oooohhhh!" Sasori menunduk sembari memegang pelipis kiriya, lalu tertawa lirih dan tertekan, "Ngomong apa sih, aku. Tentu, kau yang seorang Nona Besar dan apapun bisa kau dapat, apa pengaruhnya pandangan dan pendapat orang lain bagimu? Kau bisa berbuat seenaknya dan sesuka hatimu. Tentu. Tentu."
"Sasori-kun!" sergah Sakura merasa semakin khawatir jika apa yang baru saja ia ucapkan secara ia tidak sadar, telah menyinggung perasaan Sasori, "Ak–"
"Bahkan kau tidak sungkan memanggilku dengan nama kecilku."
"Tidak bisakah kau memaafkanku?!" nada si gadis naik beberapa oktaf, rasa gugup bercampur jengah membuatnya tanpa sadar menaikkan volume suaranya, "Aku sudah datang ke sini, sendiri, hanya untuk menemuimu! Aku menolak ajakan makan siang Sasuke-kun karena aku ingin meminta maaf padamu! Aku rela melanggar perintah Ayah untuk tidak pergi sendirian, karena kau tidak tahu betapa banyak saingan bisnis Ayah di luar sana yang menginginkanku untuk dijadikan batu loncatan menghancurkan usaha Ayah! Semua itu karena aku ingin menemuimu!"
Baik Sakura maupun Sasori, kemudian sama-sama terdiam dan menatap satu sama lain dengan pandangan terkejut. Yang satu merasa kaget dengan dirinya sendiri yang telah berucap panjang lebar dengan suara keras demikian, sedangkan yang lain merasa heran dan terkejut saat melihat satu tetes air terjatuh dari emerald sebelah kanan.
Gadis itu menangis.
Sakura yang menyadari bahwa ia telah menjatuhkan satu tetes air mata, menundukkan kepala dengan segera. Kedua telapak tangannya ia tangkupkan dan menyembunyikan wajahnya yang memerah karena tangis, di baliknya. Bahunya bergerak naik turun, mengiringi suara isak kecilnya yang teredam di balik tangkupan kedua tangannya.
"Ta-tapi kau m-malah membentak-ku," suaranya terdengar lirih dan serak, "Kau malah me-memelototiku. Kau malah marah padaku...," lanjut Sakura.
Ia merasa sangat sedih dan malu.
Ia tak pernah menyangka bahwa akibat dari perbuatannya di restauran itu, akan berakibat kebencian demikian besar dan dalam dari Sasori terhadap dirinya. Ia tak pernah menyangka jika perbuatannya akan membuat Sasori demikian marah, bahkan saat kejadian itu sudah berlalu lima hari yang lalu. Sungguh, ia tak pernah menyangka jika Sasori akan membentaknya, memelototinya, dan merasa terganggu akan kehadirannya, sekalipun jika Sakura sudah meminta maaf!
Ia coba menahan isak tangisnya, mencoba bersikap tegar. Namun tidak bisa. Ia tidak mampu. Melihat betapa warna coklat ebony itu berkilat marah padanya, sudah membuat ia gentar. Mendengar kalimatnya yang menandakan bahwa pemuda itu sudah tak berminat dan tak berniat untuk berurusan dengannya, entah kenapa, membuat dada ini serasa sesak dan air mata ingin keluar saat itu juga.
Namun, berbagai pikiran yang tengah berkecamuk di hatinya, seketika terhenti saat kedua lengannya merasakan sebuah sentuhan, lalu terdapat suatu kekuatan yang memaksa kedua lengannya untuk turun dan meninggalkan wajahnya yang basah oleh air mata.
Sasori menggenggam kedua telapak tangannya.
"Ayahmu pasti sangat memanjakanmu sekali hingga kau sebegini keras kepala," ujar pemuda itu setelah menghela nafas lelah.
Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tak pernah bisa mengerti dan paham akan apa yang harus ia lakukan saat ada seorang wanita menangis di hadapannya. Terlebih, ia sama sekali tak punya ide akan apa yang harus ia perbuat saat alasan wanita itu menangis adalah karena dirinya.
Namun satu hal yang Sasori tahu dan yakini, bahwa ia tak seharusnya pergi begitu saja meninggalkannya.
"Sasori-kun...," ujar Sakura pelan sembari menatap kedua mata Sasori dengan kedua matanya yang masih basah oleh air mata.
Pikirannya melalangbuana kemana-mana, terutama ke kedua tangan mereka yang kini masih saling bersentuhan.
Apa ini berarti Sasori sudah memaafkannya?
Sasori menghela nafas lagi, kali ini sedikit lebih keras, sebelum berkata sembari melepaskan tautan tangannya dari kedua pergelangan Sakura, "Aku memaafkanmu, jika itu bisa membuat kita sama-sama keluar dari kerumitan ini."
Mendengar hal tersebut, Sakura seketika tersenyum lebar, sembari menghapus jejak-jejak dan sisa-sisa air mata di kedua pipinya, dengan kedua telapak tangannya, "Terimakasih, Sasori-kun. A-aku janji, aku tidak akan membuatmu marah lagi!" ucap Sakura ceria sembari tersenyum lebar dengan kedua matanya menatap senang ke Sasori.
Sasori mengangguk kecil sebelum ia mulai berbalik, "Kalau begitu, aku pulan–"
"Tu-tunggu!" tanpa sadar, Sakura telah menggenggam pergelangan kiri tangan Sasori, "Kau jadi melamar menjadi pegawaiku, 'kan? Kau tidak jadi mundur, 'kan?" pegangan tangan Sakura semakin mengerat, seolah takut jika ia melepaskannya, maka saat itu juga si pemuda Akasuna itu tak akan pernah kembali padanya.
"Tidak," jawab Sasori tegas, "Dari awal aku tidak berminat. Kakashi-sensei saja yang memaksaku."
"Ta-tapi... Paman Kakashi bilang kau membutuhkan uang, dan–"
"Aku bisa mencarinya di tempat lain," potong Sasori sembari secara halus melepaskan pegangan Sakura di lengannya, "Aku tidak memiliki kemampuan dan bakat untuk menjadi seorang pengawal."
"Tapi Paman bilang bahwa kau adalah anggota sabuk hitam karate?"
Sasori mengatupkan rahang kuat-kuat sembari memejamkan mata dan mengacak rambutnya, tanda tengah menahan rasa frustasi yang amat dalam, "Bisakah kita kembali ke perjanjian damai kita dan tidak mencari masalah baru lagi?" ujarnya tertekan, "Aku sama sekali tidak suka dengan orang yang pemaksa, asal kau tahu."
Dan Sakura terdiam. Semua kalimat rayuan dan bujukan yang ingin ia lontarkan, kembali tertelan saat kalimat terakhir dari Sasori tadi ia dengar. Apalagi melihat sikap dan ekspresi Sasori yang mulai kembali kesal tersebut, membuat Sakura memilih diam saja daripada kena semprot lagi.
Sasori kembali membuka matanya, dan tanpa sekali lagipun melihat Sakura, ia kembali berbalik dan melangkah pergi.
Tanpa kalimat lagi.
Tanpa ucapan perpisahan atau selamat tinggal.
Sakura menatap sendu ke arah punggung tegap itu yang semakin menjauh.
"Aku yakin, suatu saat kita akan bertemu lagi, Sasori-kun."
-oOo-
Entah ini disebut narsis apa enggak, tapi saya secara pribadi suka dengan sifat Sasori di sini /nosebleedseember/
Comments and criticisms are wholeheartedly appreciated
Thank You
Yukeh ketjeh
