Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan. Minal 'aidzin :Dv
Naruto (c) Masashi Kishimoto
I don't own the Picture
Pairing: SasoSaku, other slight pairings included
Warning: AU, OOC, drama, nyinet, dan warning lain-lain aja deh, ye /mendadakpusing/ Dan catat: super duper mega ultra annoying and antagonistic Sakura
Happy reading~
"Kau darimana saja? Kau selalu membuatku menunggu dan tidak pernah datang tepat pada waktunya," untuk pertama kalinya, Sasuke merasa dirinya tengah mengalami ke-OoC-an yang besar ketika mengucapkan kalimat sepanjang itu dalam waktu beberapa detik saja.
Karena biasanya, dia 'kan tipe orang yang hemat bicara layaknya tarif telepon dari operator seluler. Kata 'Hn' darinya bisa memiliki arti dari banyak hal, dari yang singkat seperti 'ya' atau 'tidak' sampai yang paling rumit semacam 'Jangan mengangguku. Kau tidak lihat apa bahwa aku sedang sibuk? Dasar orang rendahan yang tidak tahu tata krama'.
"Duh Sasuke, sudah menjadi tugas seorang lelaki yang gentleman untuk menunggu seorang wanita, tanpa banyak bicara. Kau ini cerewet sekali," ujar Sakura dengan nada sebal. Tanpa memberi sedikit lirikan pada Sasuke yang sudah menunggunya selama empat puluh lima menit di depan gerbang sekolah, gadis itu langsung saja membuka pintu depan mobil dan memasukinya.
BLAM.
Dan rasanya Sasuke pengen banget menarik keluar gadis ningrat itu dan mendepaknya sekarang juga. Peduli amat dengan gentleman dan semacamnya.
"Bit*h."
Dan beberapa saat kemudian, setelah Sasuke telah berada di balik kemudi, mobil Mercedez Benz LSR jingga itu bergabung dengan jejeran kendaraan lain di jalan raya.
-oOo-
Dengan sopan dan bersikap layaknya seorang gentleman, Sasuke menarik sebuah kursi untuk Sakura duduki sebelum ia beralih untuk duduk di kursi di depan Sakura.
Restauran berkelas internasional yang siang itu tengah mereka kunjungi, tampak sepi oleh pengunjung. Berpuluh meja yang ada di ruangan bergaya arsitektur Eropa itu, tampak tertata rapi dan kosong dari kehadiran manusia. Dengan kata lain, Sasuke dan Sakura lah satu-satunya pengunjung yang tampak pada saat ini—dan hal itu akan berlangsung selama beberapa menit ke depan.
"Kenapa sepi?" gumam Sakura heran sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, "Bukannya restauran ini selalu ramai?"
Sasuke menyeringai kecil sebelum berkata—dengan sedikit menyiratkan kesombongan dalam nada ucapannya, "Aku telah menyewa tempat ini. Sekarang—"
Sakura menoleh padanya dan menatap dua bola onyx di depannya dengan sorot terkejut campur heran dari kedua mata emerald-nya.
"... hanya untuk kita," Sasuke menyelesaikan kalimatnya dengan memberi Sakura tatapan mata yang tajam dan dalam dari kedua mata onyx khas dari klan Uchiha-nya.
O, Sakura. Beruntungnya dirimu. Di luar sana, para gadis pasti rela saling membunuh hanya demi mendapatkan tatapan mata seperti itu dari sang pebisnis muda Uchiha.
"... Untuk apa?" Sakura akhirnya merespon setelah terdiam cukup lama. Ia merasa sangat heran. Sekarang bukan ulang tahunnya, 'kan? Dia juga tidak mendapat nilai terlalu bagus dari ulangan apapun sehingga Kizashi memberitahu Sasuke dan menyuruhnya untuk menyiapkan kejutan untuk Sakura, 'kan? Lalu kenapa?
Apa Sasuke telah memenangkan suatu proyek dan berniat mentraktirnya? Itu kemungkinan yang paling mungkin, sih. Tetapi... tetap saja. Apa tidak terlalu berlebihan jika ia mentraktir Sakura dengan menyewa satu restauran kelas internasional ini?
Dan Sakura harus menahan rasa penasarannya ketika seorang waitress berseragam biru tua, menghampiri mereka dengan dua buah buku menu di tangannya. Seorang waiter dengan seragam warna senada, berada di sebelahnya, dan dengan sopan, meletakkan dua buah gelas masing-masing di depan Sakura dan Sasuke, untuk kemudian mengisinya sedikit dengan wine berwarna merah.
Dan Sakura tak sungkan untuk menampakkan raut jijik ketika melihat cairan memabukkan itu.
"Selamat datang, Tuan dan Nona," ucap si waitress dengan ramah, "Silahkan dipilih menunya."
Dua buah buku menu terletak masing-masing di depan Sakura dan Sasuke. Sementara Sasuke tengah mengamati daftar menu yang ada, Sakura masih terdiam tanpa menyentuh buku menunya, si waitress berdiri sopan menanti daftar pesanan tamu kehormatan restauran ini, dan si waiter membungkuk sopan sebelum ia pada akhirnya beranjak pergi dari sana.
Sasuke mengalihkan pandangannya dari buku menu, untuk menatap Sakura yang masih terdiam di depannya. Ia menaikkan sebelah alisnya, "Well, Sakura. Tidakkah kau ingin memesan sesuatu?"
Sakura menggeleng pelan sembari kedua matanya masih mempertahankan pandangan heran dan menuntut penjelasan dari pemuda di depannya, "Aku tidak lapar."
"Kita datang kemari untuk makan. Itulah tujuan didirikannya sebuah restauran," bujuk Sasuke.
"Aku tidak lapar, Sasuke! Aku hanya ingin tahu kau ini kenapa bertindak seperti ini?" ujar Sakura yang ternyata tidak kuat lagi menahan rasa penasarannya.
Sasuke menghela nafas berat, sebelum ia meletakkan buku menunya di meja, untuk kemudian telunjuk kanannya menunjuk beberapa gambar hidangan yang ada di suatu halaman, "Ini, ini, ini, dan ini. Lalu minumnya," ia membuka halaman lain dari buku menu itu, "ini dan ini. Masing-masing semuanya dua. Oke?"
"Hei—"
"Sudah, pergi sana," ucapan protes Sakura terhenti saat Sasuke mengibaskan tangannya kepada waitress tadi, sesudah kedua buku menu tadi ia kembalikan lagi padanya.
"Mohon tunggu sepuluh menit lagi, Tuan, Nona," si waitress tersenyum hangat, sebelum ia sedikit membungkuk sopan untuk kemudian beranjak pergi dari mereka.
"Aku bilang aku tidak lapar!" Sakura meneruskan protesnya.
Sasuke menghela nafas berat. Rasa dongkol dan empet pada cewek di depannya ini, mulai terasa melihat kekeraskepalaan dari gadis berambut merah muda tersebut, "Tetapi aku sudah memesannya. Oke? Kau tidak berharap aku mampu menghabiskan makanan sebanyak itu sendirian, 'kan?"
Sakura melipat kedua tangannya di dada sembari membuang muka ke arah jendela besar di sampingnya, "Sasuke-kun ini membuat mood-ku semakin jelek saja," gumamnya lirih, mirip sebuah keluhan daripada amarah.
"Bad mood?" respon Sasuke pelan sembari menatap heran pada gadis di depannya.
Saat Sakura hanya terdiam tanpa memberi respon yang berarti atas pertanyaan retoris Sasuke tadi, Sasuke sedikit memajukan badannya ke arah meja, lalu dengan nada yang lirih dan ia usahakan sekhawatir mungkin, ia berucap, "Ada masalah? Kau tahu, kau bisa bercerita padaku."
Obrolan mereka terpaksa tertunda dulu karena kedatangan seorang waitress dengan troli makanan besar yang berisi menu-menu yang telah Sasuke pesan tadi. Dengan sopan dan cekatan sebagaimana layaknya waitress profesional, ia meletakkan satu persatu hidangan itu di depan Sasuke dan Sakura. Setelah semuanya selesai, ia membungkuk sopan dan beranjak dari sana sembari mendorong troli yang kini telah kosong dari makanan apapun di atasnya.
Sasuke meneguk sedikit wine merahnya, lalu menaruh serbet makan di pahanya, untuk kemudian berbicara, "Apapun yang menyebabkanmu bad mood, tak seharusnya menahanmu untuk makan."
Sakura masih bergeming. Pandangannya masih mengarah pada kaca besar di sampingnya yang memperlihatkan semak-semak berbunga yang menjadi hiasan khusus halaman restauran. Bahkan setelah Sasuke memegang sebuah garpu dan pisau di kedua tangannya untuk memulai makan, si gadis belum juga bahkan menyentuh serbet makannya.
Ini membuat Sasuke muak dan bingung.
Muak karena ia harus berurusan semerepotkan ini dan bingung karena kelakuan si putri yang tiba-tiba mengacuhkannya begini. Apa hanya karena Sasuke memesankan makanan untuknya sekalipun gadis itu tidak lapar, membuat gadis tersebut semarah ini?
Dengan menahan rasa gemas dan hasrat untuk membanting garpu dan pisau yang telah ia pegang, Sasuke meletakkan dua benda itu perlahan di meja sembari menghela nafas panjang, "Katakan padaku apa masalahmu," Sasuke merutuki dirinya sendiri yang tidak mampu menahan emosi. Terlihat jelas dari nada suaranya yang lebih terdengar memerintah daripada meminta.
Sakura menolehkan kepalanya, untuk kemudian memandang kedua onyx Sasuke dengan diam, sebelum ia berucap pelan, "Bagaimana jika kau dahulu yang mengatakan apa maksudmu dengan semua ini, Sasuke-kun?"
Mendengar nada suara Sakura yang terdengar serius—dan jarang sekali terdapat keseriusan dalam nada ucapan si gadis tersebut, membuat Sasuke terdiam sesaat.
Tidak, sepertinya ini menjadi waktu yang tidak tepat untuk melakukan apa yang Sasuke rencanakan untuk lakukan. Lihat saja, si Pewaris Haruno tampak demikian kesal, baik itu karena Sasuke atau apapun yang menjadikan mood-nya buruk sejak awal—seperti katanya tadi. Dan alih-alih senang dan bahagia, jangan-jangan tindakan Sasuke nanti berdampak pada tangis dan bentakan marah dari Sakura.
Tetapi... Mencoba tak akan membunuhmu, bukan?
Sasuke menghela nafas. Sepertinya ia harus mengatakan tujuannya sekarang juga jika ia tidak ingin acara makan siang yang harusnya romantis ini, akan berujung pada pertengkaran. Lagipula, jika berhadapan dengan Haruno Sakura, apakah ada pilihan lain selain menuruti keinginan gadis manja itu?
Sasuke berdeham kecil sebelum ia menatap kedua mata Sakura dalam-dalam, "Sakura. Apa arti diriku bagimu?"
Well, not a so nice shot, was it? Sasuke facepalm secara mental. Sungguh, apa yang barusan dikatakannya tersebut sangat OoC dari dirinya. Tetapi toh, dari awal Sasuke udah OoC, 'kan? Ia bukanlah tipe orang yang mau menyewa restauran sebesar dan semahal ini hanya untuk seorang gadis. Bukannya ia pelit atau apa, hanya saja ia sedikit memiliki alergi pada hal yang berbau cinta dan asmara.
Sakura sedikit memiringkan kepalanya, menatap Sasuke dengan heran, sebelum ia berujar pelan dengan nada seolah-olah ia menjawab sesuatu yang paling jelas dan nyata di dunia, "Sasuke-kun sahabatku yang paling berharga selain Ino. Tentu. Mengapa?"
Hancurlah harga diri Sasuke saat itu juga.
Patah hati? Tidak. Dari awal, Sasuke sudah yakin bahwa ia tidak akan pernah bisa jatuh hati pada si gadis Haruno. Jadi, ucapan Sakura tadi tidak akan membuatnya mengalami putus cinta. Hanya saja ada rasa kecewa. Ia bahkan sudah kalah bahkan sebelum menyampaikan apa tujuannya.
Sasuke tersenyum kaku dan sangat terlihat dipaksakan. Saking kakunya, itu tidak bisa deh, dikatakan sebagai senyuman. Lebih mirip seringai yang diberikan oleh orang yang tengah menahan sakit, "Sahabat... yah... sahabat," gumam Sasuke lirih.
Sakura hanya menatap heran pada Sasuke. Alih-alih meneruskan ucapannya, pemuda itu malah kini mulai menikmati hidangan yang telah beberapa menit mulai dingin teracuhkan oleh mereka. Sasuke-kun aneh sekali...
"Memangnya kenapa, Sasuke-kun?" bukan Sakura namanya jika ia bisa sedikit bersabar dan tidak penasaran.
Sasuke dengan pelan mengunyah makanan di mulutnya, sebelum menelan dan meminum wine yang ada di depannya. Tangan kanannya yang berada di bawah meja, menggenggam saku celananya dari luar. Terasa ada benda keras yang tersentuh telapak tangannya.
Benda kotak merah muda beludru. Dengan isi sebentuk cincin permata yang sudah susah payah ia beli kemarin, hanya untuk acara sekarang.
Namun sepertinya, Sasuke harus menyimpan cincin itu lebih lama lagi karena statusnya sekarang masih bersifat sahabat.
Hah, cewek di depannya ini sungguh aneh. Tidakkah ia ber-blushing ria seperti yang akan dilakukan gadis lain ketika Sasuke membawa mereka ke restauran internasional secara spesial seperti ini? Kenapa ia tidak menyimpan sedikit rasapun pada Uchiha bungsu yang sebelum ini dijamin seratus persen akan mampu membuat hati wanita terkena virus merah jambu?
Well, Sakura ternyata telah memecahkan rekor.
"Hanya bertanya," jawab Sasuke kalem, "Karena banyak sekali hal yang kau sembunyikan dariku... sebagai sahabat," bukan Uchiha namanya kalau tidak bisa membuat kalimat penghindaran atau ngeles hanya dalam waktu dua menit saja.
Yah, pada akhirnya Sasuke memutuskan untuk mundur saja untuk sementara waktu. Sekarang bukanlah waktu yang tepat sepertinya.
Sakura terdiam beberapa saat setelah menyandarkan punggungnya pada kursi yang ia duduki. Ia menghela nafas, lalu berkata dengan pandangan yang tertuju pada makanan di depannya, seolah lawan bicaranya bukan lagi pemuda Uchiha, melainkan hidangan yang tersaji nikmat di depannya itu, "Bukan hal yang penting, 'kok."
Sakura memutuskan untuk tidak mengatakan apapun. Yah, tak seharusnya ia memikirkan si Hyuuga bodoh itu, 'kan? Apa pentingnya?
Tapi tetap saja, Sakura begitu membenci gadis itu lebih dari apapun juga.
Sasuke hanya menatap heran, jelas tidak puas akan jawaban di pewaris Haruno yang ada di depannya. Jelas ada yang disembunyikan oleh gadis itu. Bukannya Sasuke perhatian atau peduli atau apa, hanya saja, jika ini semua ada hubungannya dengan kedua perusahaan mereka, bagaimana?
Tetapi, demi menjaga imej cool seorang Uchiha yang enggan mencampuri urusan orang lain, Sasuke memutuskan untuk menerima jawaban pasif Sakura tadi. Ia kembali sibuk memotong steak yang ada di depannya. Dan sepertinya, kini ia sudah menyerah untuk membujuk Sakura ikut makan bersamanya.
"Kudengar, belum ada yang menggantikan Asuma dan Iruka?" entah mengapa Sasuke membuka topik mengenai hal itu. Entahlah. Sasuke hanya tidak ingin ia menghabiskan beberapa menit ke depan dalam kesunyian, seolah-olah hanya ia sendiri saja yang ada di restauran ini.
Dan karena Sasuke menunduk dan sibuk dengan hidangannya, ia tak bisa menangkap perubahan ekspresi Sakura.
Terkejut. Lalu menjadi sendu.
"Ya," jawab Sakura sembari mengeluarkan HP-nya dari dalam tas yang berwarna senada dengan rambutnya.
"Aku bisa mencarikan orang untukmu," jawab Sasuke setelah menelan makanan yang ia kunyah, "Sudah dua bulan lebih kau tanpa pengawal. Bagaimana jika saingan bisnis Ayahmu tahu semua ini dan memanfaatkan situasi ini untuk mencelakaimu?"
"Tidak usah," jawab Sakura sembari sibuk berkutat dengan keypad HP-nya, "Toh aku sudah menemukannya."
"Oh ya?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "Aku tak pernah melihat siapapun yang mengantar jemputmu ke sekolah, menggantikan Iruka dan Asuma."
"Itu karena dia memang belum bekerja sebagai pegawaiku."
Rasa heran melingkupi pikiran Sasuke, "Dia sudah melamar?"
Sakura menggeleng lirih, "Dia tidak mau melamar, tetapi aku yakin, suatu saat nanti dia akan datang padaku."
Pembicaraan ini terdengar mulai menarik perhatian Sasuke. Raut ekspresi Sakura yang sendu, ditambah dengan nada keyakinan dan semangat dan penuh harap yang terkandung dalam ucapan si gadis, membuat Sasuke mengambil satu kesimpulan logis: Sakura sangat menginginkan orang ini.
Pertanyaannya, mengapa dan siapa?
"Kau tahu, kau tak perlu mengandalkan hanya satu orang saja," ujar Sasuke, "Aku bisa mencarikan pegawai baru jika dia memang tidak mau melamar kerja padamu," Sasuke mendengus, "Dasar, orang rendahan. Sudah syukur sekali jika dia diterima kerja olehmu, 'kan?"
"Tidak," sahut Sakura dingin dan tegas, hingga membuat Sasuke menaikkan sebelah alisnya pertanda heran dan terkejut, "Sasuke-kun, jaga bicaramu. Kau tidak tahu Sasori-kun seperti apa. Kau tidak mengenalnya."
Petunjuk kedua: orang ini bernama Sasori, dan dari cara Sakura memanggilnya dengan embel-embel '-kun' pasti orang ini tidak dalam umur yang sama dengan Iruka dan Asuma.
"Sepertinya kau begitu tertarik dengannya hingga membelanya...," gumam Sasuke lirih sembari mengendikkan bahu dan kembali berkutat dengan makanannya. Kesalahan fatal, karena ia tidak melihat rona merah samar di pipi Sakura yang berusaha gadis itu tutupi dengan semakin menundukkan wajahnya.
"D-dia... A-aku...," gumam Sakura lirih, sangat lirih, seolah ia hendak berbicara pada dirinya sendiri. Namun, selirih apapun itu, keadaan restauran yang sepi tanpa pengunjung, membuat gumaman lirihnya tadi seolah bagai teriakan keras yang tak ayal, mampu tertangkap oleh telinga sang Uchiha.
Dan kali ini, Sasuke benar-benar mendapati betapa kikuknya Putri Haruno itu tampak di matanya.
Menunduk, seolah sibuk dengan HP-nya, dengan rona merah di kedua pipi, dan Ya Tuhan... apa Sasuke tidak salah dengar? Sakura tergagap?
Dan Sasuke bukanlah pemuda yang naif yang tak tahu apa tanda jika seorang gadis berperilaku seperti Sakura sekarang. O, tidak. Tentu saja Sasuke paham. Untuk apa seorang Uchiha lahir ke dunia ini dengan segala kesempurnaannya jika tidak untuk mendapatkan reaksi seperti itu dari para gadis ketika melihat atau dekat dengannya?
Oleh karena itu, dengan mudah bagai menghitung satu ditambah satu sama dengan dua, Sasuke menebak bahwa gadis di depannya ini tengah malu. Atau gugup.
Malu dan gugup karena suatu perasaan yang akan terungkap.
Hanya saja, yang sulit Sasuke percayai dan membuatnya meragukan kebenaran hipotesisnya adalah, perasaan itu untuk seorang bernama… siapa? Sasuki? Saruhi? Siapapun itu, Sasuke yakin, bukanlah orang dari kelas sosial yang setara dengan mereka.
Tak perlu bagi Sasuke untuk menanyakan kebenaran dugaannya pada Sakura. Tidak perlu, karena ia sudah yakin dan tahu apa jawabannya.
Dan kini, Sasuke merasa posisinya terancam. Rencananya dan keluarganya terhadap keluarga Haruno kini tengah dalam situasi yang pada akhirnya, menemukan sebuah tantangan.
Dengan pelan, Sasuke mengangkat gelas yang berisi wine yang tinggal beberapa teguk saja. Dari balik kaca gelas itu, ia mengamati gadis di depannya dalam diam.
Oke, kita lihat saja apa yang bisa Sasuke lakukan demi menempatkan rencana keluarga Uchiha pada posisi yang aman.
Sisa wine di gelas itu terteguk hanya dalam satu kali tegukan saja.
Seekor tikus menganggu kekuasaan singa di hutan rimba, heh?
Dan sebuah seringai muncul di bibir si pemuda berkulit pucat.
Kelihatannya semua akan menjadi menarik.
-oOo-
Sofa berwarna krem yang tampak empuk dan nyaman itu memantul kecil saat ada sebuah beban yang terhempas keras di permukaannya. Sedangkan meja dengan kaca hitam di depannya, sedikit bergeser dari posisi semula saat ada sepasang kaki berselonjoran di atas permukaannya.
Tanpa peduli untuk melepas sepatunya, atau sekedar melonggarkan dasi seragamnya,pemuda itu menghela nafas lega sembari merentangkan kedua tangan di sandaran sofa. Kepalanya ia sandarkan dengan nyamannya di sandaran sofa. Kedua matanya terpejam, menikmati hembusan sejuk dari kipas angin di sampingnya yang baru saja ia nyalakan.
Ah~ tak ada yang lebih baik dan lebih enak dari bolos sekolah dan kembali bersantai-santai di rumah. Lebih enak lagi kalau rumah dalam keadaan sepi begini. Tanpa adanya dua makhluk cerewet yang bisa ia pastikan, akan sangat marah dan mengomelinya habis-habisan jika mendapatinya duduk-duduk santai di jam sekolah begini.
Tetapi salah siapa, ia pulang ke rumah juga bukan karena keinginannya. Ini justru keinginan Kepala Sekolah sialan itu, 'kan?
Pikirannya terhenti saat ia mendengar deru halus dari sebuah mesin, di depan rumahnya. Kedua matanya yang semula terpejam, kini membuka kembali dan menampakkan terangnya warna sebiru langit di balik kelopak matanya.
Dari pintu depan rumahnya yang tadi ia buka tanpa ia tutup kembali itu, tampaklah sebuah motor berwarna merah yang kini tengah terparkir di depan rumahnya.
Sekalipun si pengemudi belum melepas helmet yang menutupi kepalanya, pemuda berambut kuning jingkrak itu sudah tahu siapa yang kini tengah mematikan mesin motor dan berusaha untuk menurunkan penyangga motornya.
"Sasori! Oi!" si pemuda hanya mengangkat tangan kanannya sekilas, sebagai salam penyambut saat sang Kakak berjalan melewati pintu dan memasuki ruang tamu, tempat di mana ia berada, "Tumben kau sudah pulang? Tidak ada kegiatan dan tugas kuliah, eh?"
Sasori, dari pertama kali melihat bahwa sang adik tengah duduk-duduk di sofa di jam sepuluh pagi begini, sudah memasang wajah tidak sukanya. Hal itu tidak repot-repot ia sembunyikan karena ia menekankan perasaan tidak sukanya itu dengan menjitak keras kepala sang adik begitu ia lewat di sampingnya, untuk menaruh helmet birunya di meja di samping sofa yang diduduki sang adik.
"Ouch!" pemuda itu langsung menggeram sakit sembari mengelus-elus kepalanya yang terasa mulai agak benjol, "Kau kenapa, heh? Bertengkar dengan pacarmu? Pulang-pulang maen kekerasan saja!"
Dan satu jitakan lagi.
"Hei! Sasori!"
"Itu hukuman karena kau bolos lagi, Naruto," ujar si Kakak santai dan kalem sembari melepas sweeter yang dipakainya, lalu menyampirkannya ke sandaran sofa di seberang Naruto.
"Ckckck... Bukannya menanyakan kabar keluarga, kau langsung saja menjitak kepala adikmu ini karena alasan yang kau buat sendiri," gerutu Naruto yang kembali kesal mengingat kenapa ia harus berada di rumah lagi sepagi ini.
Sasori menggeplak kaki Naruto yang masih selonjoran di meja, dengan lipatan koran yang ada di bawah meja, sebelum ia berkata, "Kalau bukan bolos, berarti kau diskors. Kenapa? Tawuran lagi? Ngerjain guru lagi?"
"Hei hei, sebegitu burukkah pendapatmu tentang adikmu sendiri?" protes Naruto pelan sembari kembali menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Sembari menatap kosong ke arah atap, Naruto kembali berucap dengan lirih, "Kau yang berada di rumah bahkan nyaris sebulan sekali, tahu apa tentang keadaan kami?"
Gerakan tangan Sasori untuk melepas sepatu yang masih ia pakai, terhenti saat ia mendengar ucapan adiknya tersebut. Tak hanya kalimatnya saja yang terasa ganjil, namun nada yang dipakai Naruto dalam bicara barusan begitu mengindikasikan bahwa ada sesuatu yang tengah terjadi di keluarga mereka.
Dan Sasori tak tahu apakah sesuatu itu.
"Memangnya apa yang terjadi?" tanya Sasori to the point sembari melepas kedua sepatunya.
Naruto mendengus penuh dengan sarkasme, sebelum berucap, "Nah. Benar, 'kan? Kau sama sekali tak punya ide. Makanya, jangan sok main jitak dan tuduh saja."
Sasori memutuskan untuk menghiraukan protesan adiknya tersebut, dan lebih memilih untuk kembali mengulangi pertanyaannya, "Apa yang terjadi, Naruto?"
"Apa, ya?" kalimat Naruto terhenti dan terdengar mengambang, seolah ada kalimat yang hendak ia ucapkan, namun pada akhirnya tertelan kembali ke tenggorokannya, "...Banyak."
Sasori menghela nafas sembari melepas kedua kaus kakinya, lalu dengan rapi menyelipkan dua kaus kaki itu masing-masing ke lubang sepatu sebelah kiri dan kanan, "Tagihan kontrakan lagi?" tebak Sasori pelan dan lelah.
Ayolah, ia baru saja sampai. Rasa lelah masih menyelubungi fisiknya. Dan kini, ia harus menambah lelah itu di jiwa dan pikirannya. Bukannya ia mau bersikap cuek terhadap masalah keluarganya. Tidak. Sasori bukan anak dan Kakak seperti itu.
Hanya saja... Kenapa masalah datang bertubi-tubi?
"Salah satunya itu," ujar Naruto sembari menganggukkan kepalanya, "Tetapi... Kau tahu, sekarang aku berada di rumah karena aku tidak sanggup membayar biaya bulanan sekolahku selama empat bulan. Dan Kepala Sekolah sialan itu rupanya sudah tidak percaya lagi dengan janji-janjiku untuk melunasinya."
Sasori hanya terdiam mendengar pengakuan Naruto. Tatapannya mengarah pada meja di depannya, tapi siapapun yang melihatnya, pasti akan tahu bahwa bukan meja tersebut yang kini menjadi objek pikirannya.
"Dan bagaimana bisa aku mengatakan semua ini pada Ibu, Sasori?" gumam Naruto, "Ibu sudah bekerja keras demi kita. Kuliahmu. Sekolah Adik. Tagihan rumah. Ah. Entahlah. Mungkin aku akan berhenti sekolah dan bekerja saja."
Sasori memejamkan kedua matanya dengan erat saat mendengar kalimat bernada putus asa dari mulut sang adik.
Ia merasa sungguh tidak berguna. Ia merasa hanya sebagai beban, tak hanya bagi Ibunya, bahkan bagi adik-adiknya pula. Ia, sebagai anak tertua, apalagi laki-laki, hanya bisa berdiam diri dan menutup telinga di tengah kesibukan kuliah dan kegiatan kampusnya, tanpa tahu apa yang tengah terjadi di keluarganya. Waktu bertemu yang hanya singkat, dua hari saja dalam nyaris sebulan sekali, ternyata merentangkan sebuah jurang pemisah antara dirinya dan keluarganya sendiri. Membuatnya tersudut di sisi gelap pengetahuannya akan keadaan keluarganya sendiri.
Dan ia tak pernah merasa semenyesal dan setakberguna ini sebelumnya.
"Bagaimanapun...," Sasori kembali berkata dengan suara tertekan dan berat, "Bagaimanapun, Naruto, kau harus kembali ke sekolah, besok," kelopak itu kembali membuka dan kembali menampakkan warna coklat ebony yang kini tengah memancarkan suatu tekad kuat dari pandangannya.
"Percuma," dengus Naruto, "Janji apapun, kau tak akan bis—"
"Aku yang akan bicara," potong Sasori, "Aku yang akan menjamin bahwa dalam dua bulan, semua tagihan sekolahmu akan lunas."
Mendengar hal itu, sedikit harapan muncul di benak Naruto. Ia melirik Kakaknya dari ujung matanya, "Bagaimana kita mendapatkan uang sebanyak itu?"
Sejenak, Sasori terdiam. Melihat dan mendapati Kakaknya yang tak kunjung memberi respon yang berarti, Naruto sudah hendak melupakan ucapan Kakaknya dan menganggapnya hanya sebagai kalimat penenang dan penghibur saja, sebelum telinganya kembali mendengar kalimat lain yang terucap dari mulut Kakaknya.
"... Bukan kita, tapi aku yang akan mendapatkannya," Sasori menoleh dan memberi pandangan meyakinkan pada sang adik, "Tenang saja, Naruto. Aku akan mencari cara."
-oOo-
Langit-langit kamar berwarna putih pucat itu seolah tampak begitu menarik dipandang hingga bola berwarna coklat ebony itu betah berlama-lama menatapnya. Tetapi, siapapun pasti tahu, bahwa pikiran si pemuda itu tidak tengah tertuju pada objek yang sama dengan pandangan matanya.
Berbagai pikiran berkecamuk di benaknya. Masalah-masalah yang datang secara beruntun, yang sialnya saling terkait satu sama lain. Maka, jika yang satu belum terselesaikan, maka yang lain juga akan tetap berada dalam pikirannya sampai datangnya sebuah penyelesaian.
Terutama tentang keadaan Naruto.
Ia sudah berjanji untuk mencari jalan keluar bagi masalah sang adik. Masalah sang adik yang sebenarnya juga menjadi masalah keluarganya. Dalam waktu dua bulan, ia berjanji untuk menyelesaikan semuanya. Bukannya Sasori menyesal atau apa. Hanya saja...
Bagaimana caranya?
Tentu, tentu ada jalan. Sasori tahu. Setiap masalah, pasti disertai jalan keluar. Hanya saja, jalan keluar yang terbayang di benaknya hanya satu. Tunggal. Tanpa ada pengganti atau pilihan lain.
Satu-satunya jalan keluar yang sebenarnya enggan dan berat baginya untuk ia pilih.
Sasori menghela nafas sembari mengacak-acak rambutnya dengan frustasi, membuat helai merah itu semakin terlihat berantakan saja dari tatanan normalnya.
Apa yang harus ia lakukan? Benar-benar melakukan itu? Menjilat ludahnya sendiri pada si gadis berambut merah muda? Pada Kakashi? Pada sang milyuner Kizashi Haruno? Setelah semua yang ia lakukan, apa kini ia harus kembali dan meminta untuk kesempatan kedua?
Tak adakah jalan lain? Demi Tuhan...
Pikiran pemuda itu terhenti sejenak saat telinganya mendengar bunyi getaran dari arah sampingnya. Menoleh, ia mendapati benda elektronik berwarna silver miliknya, tengah bergerak-gerak kecil karena getaran yang dihasilkannya. Layarnya yang berkedap-kedip oleh cahaya putih, menampakkan rangkaian kata yang membentuk sebuah nama.
Sebuah nama yang saat kedua mata Sasori melihatnya, entah bagaimana, selalu bisa mengusir tiap kepenatan dan kerisauan yang ia rasa.
Seperti sekarang.
"Halo?" ia menyapa si penelpon setelah menekan tombol 'ya' di HP-nya. Pandangannya yang semula penuh dengan rasa frustasi dan kebingungan, kini berubah menjadi lunak dan melembut seketika.
Ia terdiam, mendengarkan ucapan si penelpon, sebelum berbicara kembali dengan nada lembut yang sama, "Ya, aku sekarang berada di rumah. Bagaimana dengan dirimu? ... Tidak, aku baik-baik saja. Hanya ada sedikit masalah ... Bukan hal yang penting, kau tenang saja ... Aku serius, hanya masalah kuliah. Kau juga pasti belum mengerti, 'kan? ... Baiklah, aku juga senang mendengar suaramu lagi. Jika aku sempat, aku akan merancang waktu bagi kita untuk bertemu, oke? ... Haha, baiklah. Jaga kesehatanmu ... Oke, dah."
Klik.
Sambungan terputus.
Sasori menghela nafas. Beban yang semula ia rasa, kini seolah sedikit terangkat dari kedua pundaknya. Suara lembut itu... nada khawatir dan cemas, namun menenangkan itu... seolah Sasori bisa membayangkan pandangan matanya yang teduh, yang selalu bisa membuat pemuda itu betah menatapnya lama-lama.
Mata yang selama beberapa waktu itu jarang ia lagi. Terima kasih pada kesibukannya sebagai mahasiswa.
Sasori menolehkan kepalanya ke samping. Pandangan matanya tertumbuk pada sebingkai foto kecil yang terletak di meja di dekat tempat tidurnya.
Sebuah foto yang merekam satu orang pemuda dan satu orang gadis. Tangan kanan sang pemuda merangkul pundak sang gadis untuk semakin mendekatkan sang gadis kepada dirinya. Sebuah senyum kecil terlukis di bibirnya, menjadi pelengkap nuansa manis yang ditimbulkan oleh pandangan bahagia dan rona merah muda di kedua pipi sang gadis.
Dan seperti sejak tiga tahun yang lalu semenjak foto itu terbuat, Sasori selalu merasa damai ketika memandangnya. Bagai sebuah jimat ajaib, foto itu selalu berhasil meyakinkan Sasori bahwa semua akan baik-baik saja. Semua masalah akan berlalu.
Bahwa ia, gadis itu, akan selalu ada di sisinya, mendukungnya, menemaninya, apapun pilihan dan keputusan hidupnya.
-oOo-
"Maafkan aku, sungguh," helaan nafas lelah terdengar dari mulut Kakashi, "Tetapi itu sudah kulakukan sejak tiga bulan yang lalu, 'kan? Dan kau lihat, aku sudah menyerah untuk membujuknya," lelaki itu melirik sekilas jam yang melingkar di tangannya. Helaan nafas kembali ia lakukan, kali ini lebih berat, saat menyadari bahwa ia telah telat untuk hadir di kampus dua puluh tiga menit dari jadwal masuk kuliah.
"Aa. Aku bahkan tidak menyangka jika kau dan putrimu itu masih mengharapkannya. Demi apa, itu sudah berbulan yang lalu," ujar Kakashi.
Lampu merah di depan sana padam dan digantikan oleh nyala terang lampu hijau. Kendaraan yang padat di jalanan Tokyo pagi ini, seketika membunyikan bel tanda tak sabar ingin kembali melaju. Begitu pula dengan mobil putih keabu-abuan milik Kakashi yang segera meluncur kembali setelah beberapa menit terhenti.
"Bagaimana jika kau yang meminta padanya sendiri?" Kakashi melanjutkan pembicaraannya, sedangkan tangannya memutar kemudi sehingga mobil itu berbelok ke arah kanan, memasuki area Universitas Tokyo, "Mungkin jika orang berpengaruh dan populer seperti dirimu yang meminta, mungkin dia akan mau mengerti dan menurunkan egonya yang bahkan jauh lebih tinggi dari harga saham perusahaanmu?"
Kakashi membelokkan kemudinya ke arah kiri, memasuki area yang penuh dengan jejeran pohon maple di sisi kiri dan kanan jalan. Tempat parkir fakultas tempatnya mengajar hanya tinggal beberapa meter di depan sana, "Mengapa putrimu masih mengharapkannya, sih, Kizashi? Demi apa, jika memang tujuannya adalah mencari pengawal, apa susahnya mencari yang baru? Banyak di luar sana yang lebih berkompeten dan siap untuk kau rekrut. Kau yakinkan putrimu dengan hal itu."
Mobil Kakashi telah memasuki area parkir Fakultas Kedokteran. Pandangannya tersebar kesana-kemari, berusaha untuk mencari spot kosong yang cukup baginya untuk memarkir mobilnya. Dan ia harus menghela nafas ketika menyadari bahwa halaman parkir untuk dosen ini sudah cukup sesak.
Andai ia bisa berangkat lebih pagi lagi...
"'Apa yang harus kau lakukan'? Lalu apa yang harus kulakukan?" keluh Kakashi. Separuh kepada Kizashi, dan separuh lagi pada nasibnya yang apes yang harus mengitari halaman parkir demi mencari spot kosong, "Demi Tuhan, aku sudah berusaha. Tapi percayalah, pendiriannya jauh lebih kokoh dari Tembok Berlin."
Ucapan syukur terucap dalam hati Kakashi kala pandangannya mendapati satu spot yang cukup untuk menampung mobilnya. Yah... meski harus dekat dengan tempat sampah dan tak terlindung pepohonan dari sinar matahari, tak apalah.
Kakashi menghela nafas saat ia berhasil memarkir mobilnya di tempat tersebut, "Baiklahbaiklahbaiklahbaiklah!" ucap Kakashi yang saking penatnya, membuatnya tampil OoC demikian, "Terakhir kali, oke? Aku akan usahakan terakhir kali. Tetapi apapun hasilnya nanti, kuharap kita tidak membahas masalah ini lagi."
Tangan Kakashi memegang kunci mobil, memutarnya, dan menjadikan mesin mobil menjadi padam, "Ya, oke."
Dan sambungan terputus.
Kakashi melepas earphone yang semula terpasang di telinganya, lalu menggeletakkannya begitu saja di dashboard mobilnya.
Ia menghela nafas sekali lagi. Mengapa ia harus terseret dalam masalah keluarga sahabatnya? Sejak kapan ia ikut dipusingkan dengan semua ini? Terutama dengan masalah simpel yang sejujurnya bisa teratasi dengan mudah jika saja Putri Haruno itu tidak begitu manja dan Kizashi tidak begitu mudah luluh oleh rayuan putrinya.
Hah... orang kaya. Apapun masalahnya, pasti akan menjadi masalah yang lain juga. Tipikal.
Kakashi membuka pintu kemudi mobilnya. Lebih baik ia pikirkan semua ini nanti saja, dan mencari cara bagaimana si rambut merah itu bisa mengasihani hidup dosennya dengan bersedia bekerja di kediaman Haruno. Atau... apakah sebaiknya Kakashi mencari kalimat alasan yang tepat saja bagi Kizashi tanpa harus berbicara pada Sasori? Bukannya tega atau apa, hanya saja, tanpa melakukannya pun, Kakashi sudah mampu menebak apa yang akan menjadi respon mahasiswanya tersebut: "Apa Sensei kehabisan topik lain untuk dibicarakan tiap kita bertemu?"
Atau yang lebih parah, paling-paling pemuda itu akan mengacuhkan Kakashi, seolah Kakashi tak pernah ada di dekatnya sejak semula.
Well, sepertinya respek yang diperoleh Kakashi sebagai dosen, mulai menurun.
Lagipula, sekarang Kakashi sudah terlambat lebih dari tiga puluh menit. Daripada memikirkan masalah Kizashi dan putrinya, lebih baik ia memikirkan keselamatan dirinya sendiri yang terancam dari layangan penghapus papan tulis yang akan dilemparkan muridnya begitu ia membuka pintu.
Tetapi, setelah ia berhasil berdiri menapakkan kaki di luar mobilnya, ia bahkan belum sempat menutup kembali pintu kemudinya saat ia sedikit dikejutkan oleh seseorang yang berdiri di depan mobilnya.
"Sensei, sekalipun kau tidak tahu, tetapi kau sudah membuatku menunggu lima puluh enam menit."
Dan Akasuna no Sasori berdiri di depan sana.
-oOo-
Yey! Akhirnya Naruto nongol deh :D Banyak karakter yang belum nongol lhoooo
Boleh ngomong dikit ga? :D Ga banyak kok. Saya hanya ingin menyampaikan satu hal bahwa: Saya adalah Author independen yang punya dua prinsip: 1) Menjunjung hak saya untuk menentukan cerita saya saya sendiri, 2) Menjunjung tinggi posisi netral (atau tak acuh?) untuk sebuah perdebatan yang saya pikir memiliki esensi yang kurang :p
So, tidak masalah dong, kalau di fic ini saya masukin pairing apa saja? Terakhir kali saya tahu, ini adalah fic saya kok :) No pairing wars, please? Not that I care much about that though :Dv
Ciptakan yang damai yuk~ Memiliki sikap dan sifat sedikit lebih dewasa tidak menyakitkan, kok :D Hehehe
Peace! :Dv
Minal aidzin~ Mulai dari 0 ya :D
Comments and criticisms are wholeheartedly appreciated
Thank You
Yukeh ketjeh
