Sorry banget telat update T.T Special thanks buat Zoccshan yang udah baik banget bikinin fic ini fanvid trailer. You guys gotta check it out here: www . dailymotion.(kom) / video/ x17dpx1_sasosaku-sasusaku-fanvideo-bad-boy-almost- trailer-shortfilms

Hilangkan spasi, tanda kurung, ganti 'kom' dengan 'c o m ' yaaa.. Harus liat karena rugi banget kalau enggak :D #promosiii# Karena Zo dan fanvidnyalah, saya semakin mendapat mood booster untuk update fic ini :D /peyuk/ Tentu saja, para readers yang lain juga sangat berperan dalam menyemangati saya. Terimakasih~

-oOo-

Naruto (c) Masashi Kishimoto

I don't own the picture

Pairing: SasoSaku, other slight pairings included

Warning: AU, OoC, drama, nyinet, dan super duper mega ultra annoying and antagonistic Sakura Haruno.

Happy reading~

Tanpa perlu untuk mengetuk pintu berwarna coklat mahony di depannya itu, Itachi membukanya dan langsung melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam. Sebuah map berwarna hijau tua, tergenggam di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang daun pintu untuk kembali menutupnya. Kedua kakinya yang terlindungi sepasang pantofel hitam mengkilat, terhenti sejenak saat melihat bahwa di depannya, ia tersuguhi oleh pemandangan dari punggung kursi putar dan bagian belakang kepala dari sang Direktur muda Uchiha Corporation yang kini tengah menghadap ke arah jendela kaca besar di hadapannya.

"Masih pukul sepuluh dan kau sudah melamun," ujar Itachi pelan sembari meletakkan map tersebut di meja yang penuh dengan tumpukan berkas, sebuah laptop berwarna hitam metalik, sebuah papan kecil yang bertuliskan nama dari bungsu Uchiha rangkap dengan jabatannya, dan sebuah telepon berwarna hitam di samping kanan dari meja, "Begitu penting?" lanjut Itachi sembari mendudukkan dirinya di kursi yang berseberangan dengan kursi sang Direktur muda.

Sang adik, Sasuke, masih terdiam dan tak bergeming. Seolah dari awal, kehadiran Itachi tidak terasa sama sekali olehnya dan suara dari kakaknya tidak pernah mencapai indera pendengarannya.

"Apapun itu, kuharap kau tidak menyia-nyiakan waktumu hanya untuk memandang jendela seperti orang bodoh seperti itu."

"Diamlah. Berisik."

Dan Itachi memang terdiam, namun bukan berarti ia akan berhenti memberi pandangan heran dan penasaran pada sang adik di depannya. Dan ia menunggu. Menunggu saat di mana sang adik akan menyerah akan pertahanan pendiriannya, dan kemudian akan bersedia menceritakan apa yang tengah menganggu pikirannya. Meski bukan cerita panjang lebar dan kronologis, namun Itachi tetap bersyukur jika sang adik langsung tertuju pada inti masalah saja.

Dan dugaan Itachi benar saat beberapa saat kemudian, sang Uchiha muda menghela nafas, untuk kemudian memutar kursinya hingga kembali menghadap ke arah Itachi, sembari berkata, "Ada masalah dengan rencana kita."

Itu intinya.

Itachi menghirup nafas sejenak sembari mendekap kedua tangannya di depan dada sembari berkata, "Haruno?"

Dan putaran bola matalah yang Itachi dapat, "Bukan. Rencana menikahkanmu dengan tukang sayur yang mangkal di lampu merah," sarkastis sekali.

"Aku serius," dan Itachi sama sekali tak mendapati kelucuan di ucapan sang adik tadi.

"Tentu saja, Itachi! Kau pikir apa lagi, hah?!" volume suara Sasuke naik satu tingkat. Keadaan frustasi akan urusan proyek perusahaan yang tengah ditanganinya, ditambah dengan masalah tentang Haruno, dan sekarang apalagi? Kakaknya yang ingin bermain polos dan naif?

"Well, sepertinya kau depresi sekali," ujar Itachi kalem, tak terpengaruh sedikitpun dengan amarah sang adik. Sudah terlalu biasa untuknya.

Sasuke mendengus, lalu melempar tubuhnya ke belakang, hingga badan tegap yang terbalut dengan jas abu-abu itu kembali bersandar pada empuknya kursi seorang direktur, "Nah, kau sudah tahu. Cobalah bersikap serius sedikit."

"Bukan aku yang mulai menyangkutpautkan tukang sayur di lampu merah dalam pembicaraan kita," ujar Itachi kalem, membuat ujung sebelah mata Sasuke sedikit berkedut dongkol, "Tetapi, kupikir hubunganmu dengan si Pink lancar-lancar saja?"

"Jangan samakan dia dengan gadis-gadis lain," ujar Sasuke kalem, "Pesona Uchiha sama sekali tak mampu menembus pertahanan hatinya."

Sekarang giliran ujung sebelah mata Itachi yang berkedut. Daripada karena dongkol, lebih karena ilfil. Well, apakah itu indikasi kenarsisan di kalimat sang adik barusan?

"Kau membuat dia marah dan kini membencimu?" tebak Itachi dengan tebakan yang masuk akal. Adiknya yang terkadang masih kurang ahli dalam mengontrol emosi, seringkali lepas kendali ketika menghadapi wanita dan selalu berakhir dengan tangisan dari sang wanita dan sikap cuek dari sang Uchiha, "Jika benar, aku bersumpah akan mengadukan semua ini pada Ayah dan membuatmu didepak dari posisi direktur dan menjadi cleaning service di perusahaanmu sendiri."

"Selalu melompat ke kesimpulan, heh?" ujar Sasuke sarkastis dicampur dongkol karena bayangan dirinya dengan seragam cleaning service sembari mengepel lantai perusahaannya sendiri, tiba-tiba mampir di benaknya, "Bagaimana mungkin si Shion bisa jatuh cinta padamu."

"Jangan mengalihkan topik, Sasuke," ujar Itachi kalem, "Kau tahu ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan istriku."

Kedua kalinya, Sasuke memutar bola mata. Ia putuskan untuk langsung memberitahukan pada Kakaknya apa yang menjadi pikirannya selama beberapa hari ini, "Sepertinya selama ini aku salah mengira," mulainya dengan suara lirih sembari memandang ke arah luar jendela kaca besar di sebelah kanannya, "Dia menganggap hubungan kami hanya sebatas sahabat."

Sedikit terkejut sebenarnya Itachi mendengarnya, sekalipun raut dan ekspresi wajahnya tetap kalem dan tenang seperti biasa. Ayolah, siapa yang akan menyangka jika seorang Sasuke Uchiha, untuk pertama kalinya, tidak mampu menggunakan pesona Uchiha-nya dalam menarik hati seorang gadis? Bahkan Itachi pikir, adiknya tersebut sudah menjalin hubungan asmara dengan Pewaris Haruno tersebut. Namun semua pemikiran dan rasa heran Itachi, untuk sementara ia putuskan untuk terpendam dulu, dan Itachi memilih untuk terdiam, sebuah isyarat bahwa ia menunggu Sasuke melanjutkan ucapannya.

"Dan lebih parahnya lagi," kini pandangan Sasuke beralih pada onyx lain yang ada di depannya, "Dia jatuh cinta pada pemuda lain," tanpa sadar, tangan Sasuke mengepal kuat sembari rahangnya bergemerutuk saat ia kembali berbicara, "Seorang pemuda rendahan dari kelas bawah akan menjadi ancaman bagi rencana keluarga kita, Itachi."

"Oh...," gumam Itachi lirih pertanda bahwa ia diterkam keterkejutan yang lebih hebat dari tadi. Pertama, adiknya ditolak oleh seorang gadis. Ini saja sudah menjadi rekor dunia. Kedua, demi apa? Sasuke Uchiha ditolak hanya karena pemuda lain dari kelas bawah? Dan mengapa bisa? Mengapa bisa begitu? Terlebih, selama ini, sejauh yang Itachi tahu, Haruno Sakura adalah seorang putri manja dan childish yang akan memandang dunia ini dari sisi material dan status sosial.

Lalu mengapa bisa...

"Apa kau yakin?" Itachi berupaya untuk mencari kebenaran semua ini, "Kau melihatnya sendiri?"

Sasuke menghembuskan nafas dengan keras sembari kembali menyandarkan punggungnya di kursi putarnya, "Belum," jawabnya, namun segera ia sambung kembali ketika ia melihat mulut Kakaknya telah terbuka dan siap merespon kalimatnya, "Tetapi saat membicarakan orang itu, kedua pipinya merona dan dia tertunduk malu," Sasuke mendengus geram campur dongkol, "Bahkan padaku saja dia tidak pernah seperti itu."

Itachi menaikkan sebelah alisnya saat mendengar ucapan dan ekspresi dongkol dari adiknya, sebelum ia berucap lirih dan penuh penekanan, "Sasuke, kau tidak tengah cemburu, 'kan?"

Sasuke melirik sangar nan tajam pada saudara kandungnya tersebut, sebelum sebuah dengusan kembali keluar dari mulutnya, "Tidak. Untuk apa? Aku hanya merasa marah dan terancam dengan kehadiran laki-laki ini, siapapun dia. Tidakkah kau juga merasakannya, bodoh?"

Sekarang giliran Itachi yang menghela nafas sembari menyandarkan punggungnya di kursi, "Well, sepertinya akan menjadi rumit."

"Itu maksudku," keluh Sasuke.

"Tetapi...," kini pandangan heran Itachi kembali mengarah pada si bungsu, "Bagaimana mungkin kau bisa gagal membuatnya jatuh cinta padamu? Usahamu selama setahun ini... hah! Hanya untuk status sahabat konyol itu?"

Sasuke memandang tajam ke arah Itachi, "Kau menyalahkanku?" ujarnya geram, merasa lebih dongkol karena kini Kakaknya malah seolah-olah menuduhnya gagal dalam usahanya, "Aku sudah berusaha."

"Tapi kau kurang dalam mendekatinya."

"Bagaimana jika kau saja yang mengemban misi konyol ini? Menungguinya bermenit-menit tiap pulang sekolah, mengantarnya berputar-putar ke mall dan butik, menungguinya berjam-jam di salon, dan mengeluarkan ratusan ribu yen untuk menyewa restauran beberapa jam saja dan berakhir dengan gagalnya rencana yang sudah kau susun rapi untuk menyatakan cinta padanya?" itu adalah kalimat terpanjang yang pernah diucapkan seorang Uchiha Sasuke dalam waktu yang tercepat pula. Keadaan emosi dan penat, rupanya mampu membuat si bungsu Uchiha itu demikian tampak OoC.

Itachi mendengus, "Aku sudah menikah. Jadi tidak mungkin aku yang mengemban beban itu."

"Maka dari itu diamlah," tukas Sasuke sengit. Kali ini, akhirnya ia mampu menemukan pelampiasan dari rasa penat dan frustasi yang melandanya, "Kau menyalahkanku seolah-olah perasaan seseorang itu bisa dipaksakan saja."

"Tapi selama ini semua gadis yang melihatmu selalu tertarik padamu, 'kan?"

"Entahlah. Ada yang salah mungkin dari otak anak manja itu," dengus Sasuke, "Sudahlah. Kau tahu bahwa tidak akan ada gunanya memperdebatkan mengapa ini bisa terjadi. Yang penting adalah apa yang harus kita lakukan?"

Begitu Sasuke selesai berucap demikian, keadaan menjadi hening. Itachi akhirnya bersedia mengalah dan menuruti saran adiknya untuk berhenti berdebat dan sama-sama mencari sebuah solusi. Rencana mereka sudah tersusun lama dan sudah berjalan cukup lama bagi mereka untuk dengan mudahnya mengangkat tangan tanda menyerah hanya karena si Pewaris Haruno sudah menambatkan hatinya para seorang pria lain. Dan rencana ini juga terlalu besar dan penting bagi keluarga mereka untuk mampu membuat mereka berdiam diri saja tanpa melakukan apapun juga.

Namun keheningan itu pada akhirnya terpecah begitu si sulung membuka mulutnya dan bersuara, "Aku akan mengirimkan orang-orangku untuk mencari tahu siapa dia," tukasnya pelan dan tenang, sepelan dan setenang saat dia menghadapi rapat direksi atau menghadapi lawan bisnisnya, "Untuk sementara itu dulu. Setelah kita tahu siapa dia, kita akan memikirkan rencana yang lain."

Sasuke tampak menimbangkan saran dari Kakaknya tersebut, lalu kemudian berkata, "Tetapi Sakura bilang bahwa dia adalah pemuda yang awalnya akan melamar kerja menjadi pengawalnya, pengganti Iruka dan Asuma," ujar Sasuke, "Tidakkah lebih baik kita menunggu hingga laki-laki itu muncul sendiri sebagai pengawal Sakura daripada menyelidikinya seperti ini?"

"Manapun yang lebih cepat, itu yang lebih baik," ujar Itachi, "Aku akan mengirim orangku, namun jika laki-laki itu sudah menjadi pengawal Sakura, maka kita hentikan penyelidikan ini karena pastinya, laki-laki itu akan muncul dengan sendirinya di hadapan kita."

Sasuke menghela nafas, "Jika itu maumu."

Itachi mengangguk pelan, "Sekarang, katakan padaku, apa yang kau ketahui tentang dia yang bisa kita gunakan sebagai petunjuk pencarian?"

Sasuke melempar pandangannya pada jendela kaca besar di sisi kanannya, "Selain info bahwa dia adalah pemuda yang pada awalnya hendak melamar kerja di keluarga Haruno, tetapi entah mengapa urung. Info yang lain adalah..."

Sasuke terdiam. Ia tengah berpikir keras, memaksa otaknya untuk mengulas satu informasi penting yang pernah ia dapat, namun kini terpendam di suatu sudut di memorinya. Informasi mengenai siapa nama dari laki-laki yang waktu itu diucapkan Sakura saat mereka berada di restauran.

Siapa...? Siapa...? Sasuki? Saruhi? Sasohi?

"... Namanya adalah Sasori."

-oOo-

Sasori sudah menyiapkan baik mental, telinga, maupun ucapannya untuk waktu ini.

Beberapa hari yang lalu, ia sudah menelan bulat-bulat rasa malu dan harga dirinya ketika untuk pertama kalinya semenjak berbulan lalu, dirinya mendatangi, bahkan bersedia menunggu hingga nyaris satu jam di parkiran dosen, hanya untuk menemui dosen pembimbingnya, Hatake Kakashi. Terlebih, ia merasa seperti seorang penjilat saat menyampaikan maksud kedatangannya waktu itu kepada dosennya. Maksud yang sama sekali bertolak belakang dengan apa yang selama ini menjadi pendiriannya. Maksud yang selama ini justru ia tolak mentah-mentah bahkan ketika dosennya tersebut berusaha untuk membujuk dan menawarinya.

Ia ingin menerima tawaran bekerja di keluarga Haruno.

Demi apa, menghadapi Kakashi saja ia sudah demikian malu dan merasa tidak tahu diri. Apalagi jika ia nanti harus menghadapi Kizashi dan Putrinya?

Putrinya... ya, terutama dia. Sasori bahkan masih ingat saat ia memberi gadis itu pandangan dingin, tajam, dan terganggu. Ia masih sadar akan semua kalimat kasar dan bernada tidak suka yang ia keluarkan. Ia masih ingat akan semua sikap dan bahasa tubuhnya yang menandakan betapa ia tidak suka dan tidak mau lagi berurusan dengan gadis itu.

Tetapi kini?

Tak ada pilihan selain menjadi seorang pecundang.

Andai Sasori mempunyai jalan keluar lain atas masalahnya.

"Tak perlu tegang begitu, Sasori," terdengar suara Kakashi yang duduk di balik kemudi di sampingnya. Dari nada suara dosen muda itu yang terdengar ceria, sudah menandakan bahwa kini ia tengah berada dalam perasaan dan nuansa suka cita dan bahagia, "Ini keputusan yang terbaik. Mereka pasti akan menyambutmu dengan baik pula."

Namun tak sedikitpun kalimat penenangan dari dosen itu yang mengena di hati Sasori, bahkan mungkin sama sekali tidak mencapai indera pendengarannya. Karena si pemilik indera itu pun tengah sibuk dengan pemikirannya sendiri dan tak hirau pada apapun yang diucapkan oleh dosen berambut perak tersebut.

Sasori menghela napas putus asa.

Semakin lama mereka berada dalam mobil yang meluncur ini, semakin berat rasanya perasaan Sasori, dan semakin kuat pula pertanyaan yang ia lontarkan pada dirinya sendiri di hatinya tentang kebenaran dan ketepatan dari keputusan yang tengah diambilnya ini. Ingin ia berhenti. Ingin ia berteriak pada Kakashi untuk menurunkannya di jalan ini dan kembali lagi ke tempat di mana mereka semula berasal. Ingin ia lari. Ingin ia tetap pada pemikirannya sebelum semua ini.

Tetapi... wajah Naruto...

Hah, hanya wajah dari adik pertamanya itulah yang membuat pemuda itu menggelengkan kepala kuat-kuat untuk mengusir pemikiran yang sempat mampir di otaknya tadi.

Bagaimanapun, ia harus melakukannya. Ia harus bertindak. Lebih baik ia menelan harga diri dan rasa malunya ketimbang melihat sang adik memutuskan pendidikannya di tahun terakhir ia sekolah!

Apapun akan ia hadapi. Kizashi, gadis berambut pink itu, siapapun. Jika perlu, Sasori nanti akan meminta maaf pada mereka.

Sasori tersenyum miris kala mendapati pemikiran itu.

Mengapa uang begitu berkuasa sekali di dunia ini?

Mobil Kakashi berbelok dari jalan raya,dan mulai memasuki sebuah halaman luas dan lebar. Sejenak, pikiran kalut dan bimbang Sasori pecah ketika memandang apa yang tersaji di depan matanya, di luar dari kaca jendela mobil di sampingnya. Pepohonan besar nan rindang tumbuh di sepanjang jalan satu mobil yang tengah mereka lalui ini. Pohon-pohon palem tumbuh mengitari sebuah kolam besar dengan sebuah patung kuda dan prajurit berdiri tegak di tengah kolam itu. Belum lagi jejeran pohon mapple, pohon flamboyan, Sakura dan entah apa lagi yang tersebar di sana-sini. Hamparan rumput hijau yang tertata rapi, bagaikan permadani alam yang menyelimuti pekarangan ini. Semak-semak berbunga tampak tertata dan terawat rapi, dan tersebar di berbagai titik di sana-sini. Belum lagi hewan-hewan yang muncul dan bersembunyi di balik semak atau batang pohon. Kelinci, anjing, kucing, kupu-kupu, dan ah entahlah apa lagi.

Bahkan ketika Kakashi mengatakan bahwa "Kita memasuki halaman kediaman Haruno" Sasori sedikit skeptis mengenai kebenaran ucapan Kakashi. Halaman? Seluas ini? Yang benar saja!

Tetapi sepertinya memang benar karena di ujung sana, tampak berdiri kokoh sebuah bangunan megah yang Sasori tebak, merupakan tempat di mana Kizashi dan Putrinya tinggal.

Bahkan Sasori tak berani menyebut bangunan itu sebagai rumah karena megahnya hampir menyaingi istana pemerintah Jepang.

Melihat semua ini, untuk pertama kalinya, seorang Akasuna Sasori mengalami krisis kepercayaan diri.

Bahkan saat mobil Kakashi sudah berhenti dan dosen itu telah keluar dari kendaraan tersebut, Sasori merasa masih beku di tempat. Syarafnya seolah kaku, tak mampu bergerak dan mengikuti anjuran dosennya untuk segera keluar dari mobilnya.

Sasori jadi merasa bahwa mobil ini adalah satu-satunya perlindungan yang ia punya dari semua kemegahan yang ada di depannya sana.

Setelah menelan ludah dengan gugup, pemuda itu membuka pintu dan menjejakkan kedua kakinya ke tanah. Ia bahkan masih harus menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan untuk menenangkan rasa gugup dan rendah diri yang kini menyelimutinya.

Ia tahu bahwa Kizashi adalah seorang milyuner dan pebisnis terkemuka Jepang. Tetapi ia tak pernah menyangka bahwa berkunjung ke rumahnya, sama dengan memasuki sebuah negeri dongeng yang termanifestasi dalam kehidupan nyata.

Setelah menutup pintu mobil tempat ia keluar, Sasori segera mendapati apa yang beberapa saat lalu terlewatkan dari pandangan matanya. Mungkin karena saking gugup dan tenggelam dalam kepanikan dan keminderannya sendiri, ia tidak menyadari jejeran manusia berpakaian formal seperti agen-agen rahasia yang pernah ia lihat dalam film asing yang ditontonnya. Jas hitam, dasi, celana hitam, pantofel... Hah, bahkan mereka saja lebih berpenampilan lebih berkelas daripada Sasori sendiri.

"Ayo."

Nyaris saja Sasori berteriak sembari melompat kaget kala mendengar suara dosennya yang begitu tiba-tiba. Sasori menggeram dan mengatupkan rahangnya rapat-rapat, merasa dongkol dan kesal dengan dirinya sendiri yang kurang kontrol terhadap emosinya.

Ayolah, diam! Santai saja! Jangan OoC! Mungkin begitulah teriakan mentalnya.

Ia, sekali lagi, menarik nafas dalam-dalam, lalu menghelanya pelan-pelan ketika kedua kakinya mulai melangkah, mengikuti arah kemana langkah Kakashi akan membawanya.

Dan ia tidak tahu harus bagaimana ketika semua orang berpenampilan formal itu menunduk sopan, memberi hormat, entah pada Kakashi atau dirinya atau mereka berdua. Gila, Sasori tak habis pikir, berapa banyak uang yang harus dikeluarkan Haruno Kizashi dalam membayar pegawai-pegawainya ini dalam sebulan? Namun, pasti tidak seberapa jika melihat dari betapa megah dan mewahnya kediamannya ini.

Melihat hal ini, sungguh tak heran sekali jika lelaki itu desperet banget buat mencari pengawal untuk menjaga keselamatan Putrinya dari saingan bisnisnya.

Bahkan teras depan istana ini saja rasanya terlalu lebar dan panjang bagi Sasori untuk melewatinya dan mencapai pintu ganda besar yang ada di depannya sana. Pilar-pilar tinggi nan artistik dan langit-langit tinggi dan penuh ukiran di teras ini, seolah berusaha menelan Sasori bulat-bulat dalam dekapannya. Bahkan lantai marmer yang ia pijak, begitu berkilat hingga Sasori mampu melihat pantulan ekspresi kagum nan terpesonanya akan semua yang tersaji di depannya ini.

Dua orang wanita ber-blazer hitam dengan rok senada, dengan obi berwarna masing-masing putih dan merah, tampak berdiri anggun di depan pintu ganda besar di depan sana. Senyuman dari bibir berpoles lip gloss itu tampak begitu ramah saat mereka mendapati Kakashi, sahabat dari sang majikan, ada di depan mereka.

"Tuan Kakashi," ucap mereka bersamaan sembari sedikit membungkuk sopan, yang dibalas dengan bungkukan serupa oleh Kakashi. Lalu mereka memberi senyuman dan bungkukan serupa kepada seorang pemuda yang berdiri di dekat pria berambut perak itu.

Dengan kikuk, Sasori membalas bungkukan sopan mereka.

"Tuan Kizashi sudah menunggu di dalam," ujar salah satu dari mereka sembari membukakan pintu itu dan dengan sopan menyilahkan Kakashi dan Sasori untuk memasukinya.

"Arigato," ujar Kakashi ramah sembari mengikuti pelayan yang satunya masuk ke dalam, sebagai pembimbing mereka untuk bertemu dengan sang majikan.

Memasuki rumah yang pantas disebut istana itu, rasa gugup dan malu yang sempat tergantikan oleh ketakjuban, kagum, dan terpesona, kini mulai datang lagi menyergap perasaan pemuda berambut merah itu.

Apa yang akan ia katakan pada Haruno? Apa yang akan menjadi kalimat pertamanya? Bagaimana seharusnya ia meminta maaf?

Berbagai pemikiran dan rasa frustasi kini kembali ada. Membuat Sasori sejenak menghiraukan ruang tamu besar dengan arsitektur megah dan barang-barang serta perabotan mewah, yang tengah dilaluinya.

'O, Naruto. Ini semua demi kau. Awas saja jika kau tidak lulus dengan nilai minimal B!' sumpahnya dalam hati, memutuskan untuk menjadikan adiknya sebagai pelampiasan semua rasa frustasi dan gugup yang menyiksa ini.

Tenggelam dalam pikirannya sendiri, ia tidak menyadari bahwa Kakashi yang berjalan satu langkah di depannya, telah berhenti, sehingga tanpa sengaja ia menubruk punggung dari dosennya tersebut.

"Go-gomen, Sensei," gumamnya pelan.

Apakah sudah sampai? Pikirnya. Pandangannya ke arah depan terhalang oleh tegap dan lebarnya punggung dari dosennya tersebut. Namun ia yakin bahwa kini Kizashi dan Putrinya sudah duduk dengan tenang di depan sana.

"Hei, Kakashi," terdengar suara khas lelaki paruh baya.

Sasori menelan ludah dengan gugup, siap untuk menerima hardikan dan cercaan dari si milyuner sahabat dosennya.

"Kizashi," Kakashi beranjak dari depan Sasori, berjalan ke depan, menghampiri sahabat lamanya yang sudah berdiri dari duduknya dan merentangkan kedua tangan. Seolah bagai dua sahabat yang sudah tidak saling jumpa selama bertahun-tahun, kedua orang itu berpelukan hangat dan ramah sembari tertawa satu sama lain.

"Terima kasih sudah datang, Pak Dosen," ujar Kizashi sembari melirik pemuda yang tampak berdiri dan menunduk gugup di depan sana, "Kau menepati janjimu. Aku sangat bersyukur memiliki sahabat seperti dirimu," pandangan Kizashi beralih ke arah Kakashi dan ia tersenyum ramah. Sorot matanya seolah mengucapkan betapa berterimakasih dan bersyukurnya ia atas pertolongan sang sahabat.

"Ah, ya," Kakashi tertawa renyah, "Terimakasih saja tidak cukup, kupikir?"

"Haha. Katakan apa maumu, aku janji akan berusaha untuk menurutinya," ujar Kizashi tulus. Pandangannya ia kembalikan lagi ke arah Sasori yang masih tak bergeming. Lelaki tua itu tersenyum hangat sembari berujar menenangkan, "Akasuna-san? Mengapa kau tidak mendekat kemari?"

Mendengar itu, Sasori merasa bagai baru saja mendengar petir menggelegar. Secara otomatis, karena refleks dan terkejut, ia mengangkat kepalanya yang baru saja tertunduk, untuk kemudian menatap ke depan, ke arah seorang lelaki yang untuk kedua kalinya ia lihat setelah pertemuan di restauran beberapa bulan yang lalu.

Haruno Kizashi.

Entah berapa kali dalam beberapa jam ini Sasori menelan ludah dengan gugup. Ia membungkuk sopan sembari berujar lirih, "Hai, Haruno-san."

Sasori mulai melangkahkan kaki secara perlahan, sedikit ragu, dan timbul keinginan untuk balik berputar lalu berlari secepat-cepatnya keluar dari lingkungan istana ini dan kembali ke kampusnya. Namun, ia segera tersentak ke depan begitu ia merasakan tarikan kuat di tangan kanannya.

"Tak perlu tegang, Sasori. Sudah kubilang, 'kan?" Kakashi tersenyum sembari melepaskan genggaman tangannya di pergelangan kanan Sasori, "Kizashi tak akan menggigitmu."

PLAK!

Dan Sasori menatap sweatdrop kala mendapati telapak kiri Kizashi mendarat kuat di kepala perak dosennya.

Ah... sahabat. Bukankah seperti itu pula terkadang perlakuan antara Sasori, Kisame, dan Deidara?

"Ittai...," keluh Kakashi lirih sembari mengelus bagian yang habis kena geplak Kizashi.

Alih-alih meminta maaf, atau setidaknya mendengarkan keluhan Kakashi, Kizashi memfokuskan pandangannya pada pemuda berambut merah di depannya.

Ia tersenyum ramah sembari berkata, "Silahkan duduk, Akasuna-san."

"Ah, ya," Sasori mengangguk hormat. Sikap ramah dan senyuman hangat sang penguasa bisa sedikit menghilangkan kegugupan yang sempat menyergap. Tapi bukan berarti rasa tidak percaya diri dan minder yang terasa, telah menghilang sempurna.

Kakashi pun ikut terduduk di sofa yang sama dengan Sasori, "Well, meskipun sebelumnya kita pernah bertemu, tetapi aku belum sempat mengenalkan kalian secara langsung," ujar Kakashi ringan, "Kizashi, ini Akasuna Sasori. Mahasiswa Kedokteran semester 4 yang berada di bawah bimbinganku secara langsung. Dan Sasori, ini adalah sahabatku, Haruno Kizashi. Dan sepertinya aku tak perlu menjelaskan info lain lagi darinya karena kau bisa mencarinya sendiri di internet atau media massa. Hahaha."

Kizashi memelototi Kakashi hingga si dosen itu menghentikan tawanya, "Senang bertemu denganmu, Akasuna-san," ujarnya ramah.

"A-ah," Sasori menggeleng, "Seharusnya itu yang saya ucapkan, Haruno-san," Sasori, untuk kesekian kalinya, menelan ludahnya dengan gugup. Menarik nafas dalam-dalam, lalu menghelanya pelan-pelan. Ia meyakinkan hatinya bahwa ini adalah waktunya untuk memulai semua. Kedua mata coklat ebony-nya yang semula menatap gugup ke arah meja, kini beralih memandang dua bola emerald di depannya dengan pandangan serius namun penuh rasa segan dan hormat, "Haruno-san. Secara tulus dan pribadi, saya meminta maaf atas sikap saya waktu itu. Sungguh merupakan ketidaksopanan dan kelancangan saya untuk tiba-tiba pergi begitu saja tanpa sekalipun berucap pada A—"

"Aku bahkan sudah melupakannya, Akasuna-san," kalimat permintaan maaf Sasori terpotong oleh ucapan lembut dan ramah dari Kizashi, "Bahkan seharusnya, aku bisa memaklumi tindakanmu itu. Hhhh... jika aku jadi kau, mungkin aku bisa melakukan hal yang jauh lebih tidak sopan lagi karena marah. Itu semua, kuakui, merupakan kesalahan Putriku," ujar Kizashi sembari tersenyum tulus, lalu sedikit membungkukkan badannya, "Aku sebagai Ayahnya, dengan tulus meminta maaf padamu."

Sasori ternganga.

Sungguh, ia tak pernah sekalipun memikirkan bahwa semua ini mungkin terjadi sebagai dampak dari keberaniannya untuk datang menemui Haruno-san setelah pergi tanpa pamit terakhir kali mereka bertemu waktu itu. Bentakan, pelototan, sorot merendahkan, hinaan, bahkan pengusiran, adalah hal-hal menakutkan yang sempat singgah di otaknya.

Tetapi apa?

Semua itu tak ada. Yang ada hanya senyuman ramah, perkataan sopan, permintaan maaf yang tulus, sikap yang menenangkan sekaligus menyenangkan.

Seolah Sasori tidak pernah berbuat kejam dan dingin padanya.

Tidakkah Putrinya mengadukan perlakuannya yang dingin saat mereka bertemu di kampus waktu itu?

"Haruno-san...," gumam Sasori lirih, terlalu terkejut untuk merespon, "Haruno-san, saya akui bahwa saya memang tidak menghargai perlakuan Putri Anda. Bagi saya, itu sangat memalukan dan merendahkan saya. Tetapi...," Sasori memutuskan untuk berujar apa adanya, "Tetapi, perlakuan saya pada Putri Anda mungkin bisa dikatakan lebih kejam lagi. Bagi Kakashi-sensei, bagi Anda juga... Sungguh tidak seharusnya jika saya bersikap tidak dewasa seperti itu."

Kakashi-sensei yang sering diacuhkannya, Haruno-san yang meminta penuh harap padanya, dan... gadis berambut pink itu yang datang ke kampusnya, datang menemuinya, meminta maaf, memohon, menangis...

"Itu tidak seberapa dengan perlakuan Putri Anda terhadap saya," ujar Sasori akhirnya.

Seperti sebelumnya, Kizashi menanggapinya dengan tersenyum. Tak ada perubahan ekspresi dari wajahnya yang sudah menunjukkan usia tua. Tak ada rasa marah, kecewa, atau sakit hati yang terpancar di sorot matanya. Justru kelembutan, keramahan, dan penuh dengan ketulusan, "Tetapi itu semua juga tidak seberapa dibandingkan dengan kesediaanmu untuk datang ke sini, Akasuna-san."

Kakashi, yang dari awal hanya menjadi pihak ketiga, memutuskan untuk terdiam dan menjadi penonton dan pendengar baik akan pembicaraan yang berlangsung di depannya.

"Dan itu sangat berarti bagiku, dan terutama, Putriku," Kizashi tersenyum tulus.

Sasori hanya terdiam. Ia begitu takjub dan terkesan tak hanya dengan rangkaian kalimat yang dilontarkan oleh pria paruh baya di depannya itu. Namun, rasa hormat dan segannya itu semakin kuat dan tinggi kala menyadari betapa ramah dan rendah hati laki-laki ini, sekalipun dengan di balik tubuh yang beranjak tua itu, terdapat suatu kekuasaan besar yang mampu mempengaruhi satu negara ini.

Sasori tersenyum, membalas ketulusan lelaki di depannya itu, sebelum ia berujar lirih, "Jika demikian, kapan saya bisa memulai bekerja?"

Dan kisah ini, baru dimulai pada titik ini.

-oOo-

Hinata memandang mobil hitam metalik yang melaju halus nan pelan di depannya, beberapa meter dari sana.

Pikirannya masih terpaku pada dua orang yang kini tengah berada di dalam mobil tersebut. Yamanaka-san, dan Haruno-san.

Terutama pada Haruno-san, bahkan sampai sekarang Hinata tak tahu mengapa gadis itu begitu membencinya. Saking bencinya hingga ia tak bisa berbicara pada Hinata tanpa membubuhkan nada dingin dalam ucapannya, tanpa harus disertai dengan tatapan sinis dan merendahkan dari kedua matanya, dan tanpa diikuti dengan untaian kalimat sindiran dan penuh kebencian yang hanya tertuju padanya.

Andai Haruno-san mau memberinya kesempatan berbicara... Bahwa Hinata sama sekali tak bermaksud melukai perasaannya, apapun kesalahan Hinata itu. Bahwa yang Hinata inginkan hanyalah pertemanan, atau setidaknya Haruno-san berhenti menyimpan rasa benci padanya.

Namun tidak bisa. Bagai ada tembok penghalang di antara mereka yang mencegah terjadi komunikasi dan saling pengertian satu sama lain. Tembok penghalang yang tetap menyimpan rasa benci Haruno-san, dan tetap menelan keberanian Hinata untuk mau mendekat dan menyampaikan isi hatinya.

Entah karena melamun atau apa, Hinata tidak benar-benar memperhatikan keadaan di depannya. Pandangannya terfokus pada mobil Sakura yang semakin jauh dan semakin menjauh dari tempatnya mengayuh sepeda keranjangnya. Begitu tidak fokusnya hingga ia tidak menyadari seseorang yang tengah berdiri di tepi jalan, hingga Hinata nyaris tidak memiliki waktu untuk mengerem sepedanya saat hendak menabrak orang tersebut.

"EH!" teriak Hinata panik saat sepedanya mulai oleng karena ia secara mendadak membanting stir ke arah kiri jalan untuk menghindari orang tersebut.

GREP!

Dengan sigap, kedua tangan orang itu memegangi kemudi sepeda Hinata, menjadikan sepeda yang nyaris terjatuh itu dapat terselamatkan.

"A-aduh...," ujar Hinata gugup campur panik. Ia membungkuk sopan pada orang dengan kepala yang tertutupi oleh tudung jumper berwarna putih di depannya itu, "Ma-maaf, aku melamun da—"

"Begitu rindunya dirimu padaku hingga kau melamun seperti itu di saat mengayuh sepeda?"

Kedua mata Hinata terbelalak saat telinganya mendengar suara itu. Kepalanya yang semula menunduk, kembali ia tegakkan dan menatap orang di depannya.

Tangan kanan orang itu memegang ujung tudung jumper-nya, sebelum dengan satu sibakan kecil, ia memisahkan tudung itu dengan kepalanya.

Helai berwarna merah melingkupi sebentuk paras, "Sekalipun aku merasa tersanjung, tetapi itu berbahaya."

Menyadari siapa yang ada di depannya, Hinata tersenyum lebar, "Sasori-kun."

-oOo-

Sore hari pada musim semi tampak begitu tipikal dengan sinar matahari senja yang melenakan mata untuk memandangnya. Hamparan langit luas bagai sebuah kanvas yang terpoles dengan guratan warna jingga dan merah, disertai mentari yang tampak mengantuk di ufuk Barat. Sesekali hembusan angin terasa, membawa beberapa daun bersamanya yang mampu mengingatkan siapapun pada musim gugur yang beberapa bulan lagi datang menjelang. Kepakan sayap burung-burung kecil sama sekali tak menyentuh pendengaran, tertelan oleh suara bisikan angin dan roda dari kendaraan yang berlalu lalang.

Hembusan angin yang menerpa, membuat pegangan Hinata pada besi boncengan sepedanya semakin menguat. Daripada memandang pemandangan di sekitarnya, gadis itu sepertinya lebih tertarik untuk menatap tanah di dekat roda sepedanya berputar. Entah karena sinar matahari senja atau apa, tetapi bisa dilihat bahwa terdapat sedikit rona merah yang mewarnai kedua pipinya.

"Jika kau tidak berpegangan, kau mungkin akan jatuh."

Dan benar saja, Hinata hampir terlempar dari boncengan sepedanya ketika sepeda itu melintasi gundukan polisi tidur. Refleks, sebelah tangan Hinata melingkari pinggang si pembonceng dengan kuat untuk menyeimbangkan kembali tubuhnya.

Dan terdengar kekehan kecil dari depan sana.

"A-apa?" tanya Hinata heran sembari mendongak dan menatap kepala bagian belakang lelaki yang ada di depannya.

"Tidak," jawab suara dalam khas seorang pria, "Hanya merasa, sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali kau memelukku."

Dan kedua pipi si gadis kembali bersemu. Wajahnya semakin menunduk yang diiringi dengan kian terasanya debaran jantungnya.

Namun lingkaran tangan kecil itu tidak kunjung lepas dari pinggang si pemuda berambut merah.

"Ka-kau datang ke sini hanya untuk menjemputku, Sasori-kun?" tanya Hinata, berusaha untuk mencari topik obrolan. Mencoba menyibukkan pikiran selain memikirkan bagaimana caranya untuk sedikit meredakan debaran jantungnya.

Ayolah, hubungan ini sudah berjalan tiga tahun, 'kan? Kenapa ia masih saja bersikap layaknya gadis yang baru menjalani kencan pertamanya?

"Hn, separuh ya, separuh tidak," jawab Sasori sembari tetap terfokus pada jalan di depan mereka, "Aku baru saja berkunjung ke rumah... seseorang dengan Dosenku. Dan kebetulan, dekat dari sini," Sasori memutuskan untuk menyimpan semua ini sendiri saja. Ia tidak mau membuat khawatir gadis yang kini tengah berada bersamanya di atas sebuah sepeda keranjang. Lagipula, ini juga bukan urusan yang begitu penting untuk dijelaskan rinci, 'kan?

"Be-begitu...," gumam Hinata lirih.

Dan suasana kembali sepi.

Sisa perjalanan terhabiskan hanya dalam kesunyian dan hening. Masing-masing lebih memilih untuk menutup mulut saja. Biar mereka sibuk merasakan perasaan yang kini seolah tengah menggodok hati dan jiwa mereka. Karena... simpel saja, keberadaan satu sama lain sudah cukup untuk membungkam semua kalimat dan ucapan yang ingin terucap.

Sepeda keranjang berwarna putih itu terhenti tepat di depan sebuah gerbang kediaman berarsitektur Jepang kuno. Dengan mudah, Hinata menapakkan kedua kakinya, turun dari boncengan sepeda. Begitu juga dengan Sasori yang telah beranjak dari posisi pengemudi semula, untuk kemudian menyerahkan kendali kemudi sepeda kepada kedua tangan Hinata.

"Terima kasih karena menemaniku, Sasori-kun," Hinata sedikit menganggukkan kepalanya.

Sasori tersenyum kecil sebelum tangan kanannya terangkat dan mengacak-acak kecil rambut kelam Hinata, membuat si gadis makin menundukkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya di balik juntaian poni tebalnya.

O, betapa Sasori sangat mengagumi ekspresi malu dari gadisnya ini.

"Dengan senang hati, Hime," ujar Sasori tulus, membuat debaran di dada Hinata semakin kuat kala telinganya mendengar sebutan khas yang diberikan dari sang kekasih.

"A-ayo, kita masuk ke dalam dulu," ujar Hinata sembari hendak membalikkan tubuhnya menuju gerbang, dengan sepeda yang dituntunnya.

"Maaf, Hinata," ujar Sasori yang membuat langkah Hinata terhenti, dan gadis itu menolehkan kepalanya demi menatap dua bola coklat ebony yang ada di hadapannya, "Aku ada tugas yang harus segera aku selesaikan," lanjutnya penuh dengan rasa penyesalan yang tersirat dari nada suara atau sorot pandang kedua matanya.

"O-oh," Hinata tersenyum manis dan penuh pengertian, "Begitu... Baiklah, Sasori-kun. Tak apa. Masih a-ada lain waktu, 'kan?"

Sasori ikut tersenyum, tetapi dengan sedikit perasaan miris tergambar di sana. Ia tahu bagaimana perasaan gadisnya, sama seperti Hinata tahu bagaimana perasaan dari sang pria. Kehidupan mereka yang terpisah oleh kesibukan yang berbeda, mahasiswa dan pelajar, cukup mampu membuat rentangan jarak yang lebih lebar dari semula, akhir-akhir ini. Rasa rindu yang menyelinap dan menyergap jiwa, harus menunggu begitu lama untuk mampu terlampiaskan walau hanya dengan satu kali saja pertemuan. Telepon atau sms, rasanya tidak sebanding dengan besarnya rasa sesak ingin berjumpa. Jalinan selama tiga tahun, entah mengapa, rasanya kian memudar seiring dengan sedikitnya waktu untuk bersua.

Namun, tak apa.

Masing-masing juga mengetahui dan memaklumi itu semua. Toh, tidak seperti mereka punya kuasa apapun untuk mengubah semua. Ini kehidupan mereka yang harus mereka jalani. Jadi, bukan salah siapapun juga.

Asal rasa ini masih sebesar pertama kali mereka bertemu, tidak masalah 'kan jika rasa rindu ini harus menunggu sedikit lebih lama lagi?

Sasori menghela nafas, sebelum tanpa memberi peringatan pada Hinata, ia memajukan dirinya ke depan.

Memeluk tubuh yang lebih kecil dari dirinya tersebut dengan erat di tangkupan kedua lengannya. Meletakkan sebelah pipinya pada sisi kepala yang penuh dengan helai gelap indigo. Mendekap kepala kecil itu dalam hamparan dadanya yang terbalut kain jumper putihnya. Dan membiarkan tubuhnya terlingkari oleh satu lengan putih yang lebih kecil dari lengannya.

Sama-sama mereka membiarkan perasaan ini terungkap hanya dengan satu bahasa tubuh saja. Hanya dengan saling memeluk dan mendekap, biar semua rasa rindu ini terlampiaskan saat ini juga. Biar. Sebelum rasa rindu ini akan kembali datang begitu mereka saling berpisah, begitu kedua mata mereka kembali harus saling berpaling dari satu sama lain.

Sasori menyematkan jemari kanannya di antara helai panjang di punggung gadisnya. Dirasakannya betapa lembut helai itu membelai tiap pori dari tiap jemari dan telapak tangannya.

"Tunggulah satu tahun lagi, Hime," bisiknya lirih di telinga kiri gadisnya, "Satu tahun lagi, aku akan datang padamu. Aku akan berada di sisimu selalu."

Dan pelukan keduanya makin mengerat setelah bibir Sasori menempel lembut di pangkal kening Hinata, "Satu tahun saja, Hime. Satu tahun saja."

Tetapi Sasori, dalam satu tahun saja, bisa terjadi begitu banyak hal yang mungkin akan merubah semuanya.

Ingin Hinata berucap demikian, namun ia putuskan untuk diam saja dan mempercayai janji dari sang kekasih.

Satu tahun...

Skenario kehidupan apa yang bisa terjadi dalam waktu yang sepertinya cukup singkat itu?

-oOo-

Yeah, beneran tebakan beberapa reviewer. Pacar Sasori adalah Hinata dan worse, Hinata adalah orang yang dibenci Sakura. Udah cukup Hinata jadi rival prestasi akademik Sakura, kini Hinata juga jadi rival cinta Sakura eaaaa /plak

Dan sorry, Uchiha Brothers di sini terkesan antagonis dan ngesinetron banget -,- Well, I promise to keep their cool.

Oh ya, saya akan sangat menghargai jika Anda mereview. Ayooo… yang selama ini Cuma baca doang? Yang Cuma fave/alert doang? Kasih pendapat dungs… Oh ya, jangan lupa liat fanvidnya sekalian kasih komentar :D

Oke mbak bro mas bro? :v

Makasih banyaaakkkk :D