Sorry telat update :')


Tumben-tumbennya, untuk pertama kalinya pagi itu, seluruh penghuni mansion Haruno mendapati bahwa Haruno Sakura bangun dari tidurnya dengan: 1. Tanpa bantuan pelayan yang biasanya membutuhkan beberapa lama waktu untuk membangunkannya, 2. Pagi-pagi sekali, catat: pagi-pagi buta—nyaris berbarengan dengan para pelayan yang mulai bersiap-siap dengan pekerjaan mereka.

Ini sebuah perkembangan sekaligus keajaiban karena untuk pertama kalinya selama sebagian besar pelayan bekerja di mansion itu, mereka mendapati majikan kecil mereka sudah berseliweran di rumah saat bahkan ayam masih baru saja berkokok.

Ketika ditanya oleh salah satu pelayan, akan alasan mengapa Sakura sudah bangun pagi-pagi begitu—padahal jam masuk sekolah masih 2 jam lagi, Sakura langsung saja menjawab, "Kau ini… kemana saja, sih? Kau tidak tahu kalau sebentar lagi akan ada anggota baru bagi kalian—ada pengawal baru untukku!" jawabnya dengan nyinyir dan pandangan mata yang menyipit kesal, membuat pelayan muda di depannya menundukkan kepalanya segan, "Sudah sana! Daripada begini kau lebih baik beres-beres, deh! Awas kalau Sasori-kun menemukan cacat atau ketidakberesan dalam rumah ini, kupecat kau!"

Begitu mendapat daulat sekaligus peringatan ancaman tersebut, pelayan itu dengan tergagap meminta maaf, membungkuk, lantas berlalu dari si majikan yang masih berdiri dengan berkacak pinggang.

Sakura memutar bola mata dengan kesal, lantas menghela napas berat, "Apa tidak ada satu saja pelayan di rumah ini yang berguna?"

Lantas gadis itu berbalik, dan mulai melangkah. Tidak lupa dengan berteriak keras, "Rionaaaaaa! Cepat datang ke kamarku dan bantu aku bersiap-siap! CEPAT!"

Ya. Tidak boleh ada kecacatan dan kekurangan, bahkan sedikitpun, saat Akasuna Sasori datang kemari nanti!

-oOo-

Naruto (c) Masashi Kishimoto

I don't own the Picture

Pairing: SasoSaku, other slight pairings included

Warning: AU, OOC, drama, nyinet, dan warning lain-lain aja deh, ye /mendadakpusing/ Dan catat: super duper mega ultra annoying and antagonistic Sakura

Happy reading~

-oOo-

Berhenti beberapa meter dari tujuan yang sudah tampak di depan matanya, deru motor itu memelan. Meski demikian, si pengendara tidak turun dari motor berwarna biru gelap tersebut. Alih-alih, ia terdiam dengan kedua alis merah yang sedikit mengerut ketika memandang tujuannya di depan sana.

Mansion Haruno, tempat dimana "calon" majikannya beserta seluruh pelayannya, tinggal.

Sasori—pemuda itu—menghela napas pelan. Jelas sekali jika ia masih nampak ragu untuk benar-benar datang ke sana dan memulai pekerjaannya, atau justru memutar balik motornya dan langsung ke kos dan melupakan Haruno dan tawarannya.

Namun pikirannya itu buru-buru ia singkirkan ketika ia mengingat Naruto beserta Ibunya.

"Aku akan membunuhmu jika kau tidak lulus, Naruto," desisnya lirih yang lagi-lagi, tertujukan pada adiknya yang tentunya, tidak sedang berada bersamanya.

Setelah sekali lagi menghela napas lirih, ia kembali menutup kaca dari helmet biru yang tengah dipakainya dan mulai kembali menggas pelan motornya.

Kedua matanya yang senada dengan warna karamel, menatap mantap dan yakin ke bangunan megah yang menjulang beberapa meter darinya di sana.

"Aku tidak akan bekerja lama," ujarnya pelan pada dirinya sendiri—seolah menyemangatinya bahwa hal ini tidak akan berlangsung selamanya, "Dapat uang cukup untuk melunasi biaya anak bodoh itu hingga lulus, itu sudah cukup."

Dan motor itu kembali melaju, menuju ke arah bangunan yang tampak lebih indah dari istana dongeng tersebut.

-oOo-

Terduduk di depan cermin riasnya, Haruno Sakura tampak mengamati refleksinya dengan baik-baik. Kedua matanya tampak terfokus dalam meniti setiap inci dari wajahnya—dari penampilan yang bisa ia tangkap dalam cermin tersebut. Wajah. Rambut. Seragam sekolah. Semuanya. Ia harus bisa tampil sempurna.

Dua orang pelayan perempuan dan muda, tampak juga berada di kamarnya. Sementara Nona Kecil mereka tampak sibuk dengan merawat dan mempercantik wajahnya dan rambutnya, mereka tengah sibuk untuk mempersiapkan semua keperluan sang majikan. Persiapkan sepatu beserta kaus kakinya. Tata dan persiapkan buku pelajaran dalam tasnya. Dan tak lupa, merapihkan ranjang sang majikan.

"Ah! Jangan pakai itu!" protes Sakura ketika dari cermin, ia bisa melihat salah satu pelayannya mempersiapkannya sepatu berwarna merah muda, "Kasih aku sepatu yang ada haknya! Aku mau hari ini aku tampak lebih tinggi!"

Meski sedikit takut-takut, pelayan itu berbicara sembari tetap menunduk—takut untuk memandang majikannya yang kini sudah sibuk kembali dalam menggunakan salah satu produk kecantikan, ke wajahnya, "T-Tapi, Nona. Sekolah Anda k-kan tidak mengijinkan siswi untuk memakai sepatu berha—!"

Pelayan tersebut urung menyelesaikan kalimatnya ketika ia sedikit berjingkat kaget, juga pelayan satunya, ketika mendengar gebrakan keras. Rupanya sang Nona telah memukul keras meja riasnya dengan sebelah telapak tangannya, "Lakukan saja perintahku apa susahnya, sih!" teriak Sakura keras sembari menengok ke belakang dan memberi pelototan kepada pelayannya yang bergetar takut, "Sejak kapan kau berani menjawab perintahku, hah?!"

"M-Maaf, Nona—!"

"Hih!" desis Sakura gemas, lantas kembali menghadap cermin. Kini ia tampak menyisir pelan rambut berwarna cerahnya, "Dasar pelayan. Kalau berbuat salah, bisanya hanya minta maaf saja," gerutunya pelan, namun masih bisa terdengar jelas oleh kedua pelayan di belakang mereka.

"Jangan berikan sepatu itu, Senritsu."

Sebuah suara terdengar, membuat kedua pelayan menoleh dan Sakura melirik dari cerminnya. Tampak di cermin tersebut, adalah Kizashi Haruno yang tengah menatap Sakura dengan pandangan sedikit tidak suka. Sementara kedua pelayan langsung membungkuk hormat, Sakura hanya memutar bola mata dan kembali menyisir rambut halusnya.

"Tetap siapkan, Riona!" tegas Sakura kepada pelayan yang sama.

"Tidak," bantah Kizashi tegas, sembari melangkah pelan ke arah putrinya.

Sakura menggeram, lantas menghardik sedikit keras, "Siapkan atau kau akan tahu balasannya!"

Menghela napas, Kizashi merasa langsung lelah ketika mendapati tingkah putrinya di pagi-pagi hari begini, "Kau tahu bahwa sekolah kita melarang penggunaan hak pada sepatu siswi, bukan?"

"Tapi hak sepatuku tidak tinggi, Ayah!" protes Sakura, "Ayah jangan berlebihan! Aku hanya memakai sepatu dengan sedikit hak, bukan stiletto atau apa."

"Tetapi tetap saja itu melanggar peraturan, Sakura-chan," Kizashi mendudukkan diri di ranjang di samping Sakura, "Padahal jelas, 'kan, siswi di sekolah kita hanya boleh memakai sepatu flat?"

"Tapi aku ingin tampak lebih tinggi dan dewasa di depan Sasori-kun!" akhirnya sang Putri Haruno membebebarkan alasannya, "Dia akan mengantarkanku ke sekolah mulai pagi ini, 'kan? Aku harus tampil cantik di depannya, Ayah. Pahamilah sedikit!"

Kizashi tersenyum kecil, lantas meletakkan sebelah telapak tangannya di puncak kepala putrinya, "Apakah tanda kedewasaan seseorang hanya diukur dari sepatu? Menurut Ayah, Akasuna-san bukan orang yang menilai seseorang secara fisik, lho."

Alih-alih menurut, Sakura justru memutar bola mata, "Nah, 'kan. Ayah mulai berceramah lagi."

Kizashi melengkungkan ke bawah bibirnya, "Dengarkan Ayah jika Ayah berbicara."

"Oke-oke," Sakura menghela napas dan mengangkat kedua tangannya, "Aku akan memakai sepatu flat, oke?" lantas gadis itu menggerutu pelan sembari kembali menyisir rambutnya, "Rasanya aku ingin sekali pindah ke sekolah lain."

Menatap putri semata wayangnya, Kizashi diam-diam merasa nyaris putus asa. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan terhadap putrinya tersebut. Ia merasa gagal sebagai seorang Ayah, sekaligus satu-satunya orang tua. Ingin ia sedikit bertindak tegas kepada Sakura, namun di saat itu pula, ia merasa tidak tega, takut, dan tidak ingin jika melukai bahkan sedikit saja perasaan satu-satunya keturunan yang ia punyai tersebut.

Pria tersebut tersenyum sembari menatap ke arah putrinya. Sebelah tangan Beliau terulur, lantas membelai lembut helai-helai merah muda di kepala sang gadis remaja.

Ya. Tak peduli betapa buruknya tingkah dan sikap putrinya, namun Sakura tetap anaknya. Putrinya. Darah dagingnya. Tanda cintanya dengan mendiang istrinya. Jika mengingat semua itu, rasanya Kizashi Haruno akan memaafkan segala kesalahan putrinya dan akan memberikan yang terbaik yang ia bisa, kepada putrinya pula.

"Ne, Sakura-chan. Ini pertama kalinya Ayah melihatmu bangun dan sudah siap sepagi ini, lho," ujar lembut Kizashi yang membuka topik obrolan baru guna berusaha untuk mengurangi ekspresi marah dan kesal yang masih tampak di wajah putrinya, "Apakah kau begitu antusias menyambut Akasuna-san?"

-oOo-

Uchiha Fugaku tampak terduduk di kursi yang berada di ujung meja makan besar di ruang makan kediamannya. Meja itu masih tampak separuh terisi, salah satunya secangkir teh yang terletakkan di bagian meja di depan Fugaku. Para pelayan mansion tersebut tampak hilir mudik dalam menyelesaikan rutinitas tugas mereka di pagi hari, termasuk untuk mempersiapkan sarapan bagi para majikan mereka beberapa menit lagi.

Sang kepala keluarga Uchiha tersebut tampak terfokus pada lembaran koran yang dibacanya. Urusan bisnis dan perpolitikan selalu menarik perhatiannya—maklum, sebagai pemilik dari Perusahaan properti terkemuka sepertinya, perlu untuk mengetahui kondisi-kondisi yang bisa saja mempengaruhi kesehatan bisnisnya. Postur Beliau tampak tegas, tampak berkuasa. Membuat para pelayan yang melintas di dekatnya, harus sedikit membungkuk untuk menghormatinya.

Namun, konsentrasi Fugaku terinterupsi oleh kehadiran seseorang di dekatnya. Pria dengan usia yang nyaris menginjak akhir 40-an tersebut, mengalihkan pandangannya dari lembar koran yang ditatapnya, lantas mendongak. Dan ia mendapati salah satu putranya tengah berdiri di samping meja makan.

Putra bungsu sekaligus Direktur muda dalam perusahaannya, Uchiha Sasuke.

"Ada rapat sepagi ini?" tanya Fugaku sembari mengamati penampilan putranya yang telah tampak rapih tersebut.

Sembari membenarkan sedikit dasinya, sang pemuda berambut gelap tersebut menjawab setelah mengucapkan sapaan selamat pagi pada Ayahnya, "Nanti pukul sepuluh. Tapi ada urusan yang harus kutangani."

Sembari masih berdiri, Sasuke menyambar satu cangkir teh hangat yang tersaji di meja, dan meneguknya beberapa kali. Membuat Fugaku yang melihatnya, menatap heran ke arah putranya yang tampak terburu-buru hingga tidak mengindahkan table manner yang selalu ditekankan di ruang makan keluarga Uchiha.

"Sepertinya masalah penting?" tanya Fugaku.

Sang anak menghela napas, lantas memakai jam tangan di pergelangan kanan tangannya, "Aku ke rumah Haruno."

Barulah Fugaku sedikit menegakkan punggungnya dari sandaran kursinya. Dengan perlahan, ia lipat koran yang ada di tangannya dan kemudian menaruhnya di meja. Setelahnya, ia berikan seluruh perhatiannya pada putranya. Jika mengenai Haruno dan Sasuke tampak demikian tergopoh—padahal selama ini pemuda itu selalu tampak tenang dan tidak terburu—pasti adalah masalah yang juga penting baginya—bagi Uchiha.

"Jika ada permasalahan, kau harus menceritakannya pada Ayah," baik kalimat atau nada itu bukan meminta, akan tetapi menyuruh dan tak menolak bantahan.

Akan tetapi, Sasuke Uchiha tampaknya, untuk kali ini saja harus melanggar perintah Ayahnya, "Maaf, Ayah. Aku harus segera kesana," Sasuke menoleh dan menatap Ayahnya, "Nanti minta saja Itachi-nii untuk bercerita pada Ayah—dia sudah tahu semuanya."

"Baiklah," Fugaku mengangguk, "Tetapi pastikan bahwa apapun masalah ini, kau bisa mengatasinya dengan baik."

"Tentu."

"Ingat bahwa tak hanya keluargamu, namun nasib para karyawan dan keluarga mereka ada pula pada tindakanmu, Sasuke."

"….."

"Kau tahu bahwa kita melakukan ini bukan karena kita jahat—kita melindungi tak hanya keluarga mereka, tetapi juga karyawan kita. Kau harus ingat itu," ujar Fugaku pelan sembari meneguk sedikit teh dari dalam cangkirnya.

Sasuke menghela napas, lantas mengambil tas kerjanya yang semula ia taruh di satu kursi. Sebelum berbalik, ia membungkuk hormat pada Ayahnya, "Aku pergi dahulu. Sampaikan pada Ibu dan Itachi bahwa aku tidak ikut sarapan—aku akan beli di luar."

Fugaku menatap punggung putranya yang semakin terlihat menjauh darinya—hingga punggung itu, beserta seluruh badan, hilang di balik tikungan yang menuju ke arah pintu keluar.

Rencana ini merupakan rencana yang krusial, yang penting, dan tidak boleh gagal. Sebagai kepala keluarga, ia memiliki tanggungjawab terhadap keluarganya. Sebagai pemilik perusahaan, ia memiliki tanggungjawab moral dan material terhadap para karyawannya.

Jadi, ia memang harus melakukan ini.

Ia harus mampu menancapkan kuku pengaruhnya kepada perusahaan Haruno.

Dan semoga, semoga saja putra bungsunya, tidak gagal dalam menjalankan hal ini. Bukan tanpa alasan kekhawatiran ini terjadi. Usia Sasuke dan Sakura tidaklah terpaut cukup jauh. Hanya beberapa tahun. Dan lagi, gadis itu termasuk gadis yang cantik dan menarik. Jadi, bukannya nol persen kemungkinan bahwa putranya bisa saja justru terjebak dalam permainannya sendiri dan mengacaukan semuanya.

Memikirkan semua itu, Fugaku memejamkan mata dan menghela napas pelan.

"Andai Itachi belum menikah…"

Itachi selama ini tak pernah mengecewakannya. Selalu menuruti perintahnya. Selalu memberikan hasil terbaik dan memuaskan dari setiap kewajiban yang diembannya.

Andaikan tugas sepenting dan sekrusial ini masih bisa Fugaku daulatkan kepada putra sulungnya tersebut…

-oOo-

Dengan perlahan, kendaraan bermotor itu berhenti, untuk kemudian mesin yang menderu pelan tersebut padam.

Rasanya masih begitu berat bagi Sasori untuk turun dari motornya sekarang ini dan untuk tidak keluar dari pekarangan mansion ini. Ya, ia telah memasuki wilayah mansion Haruno—bahkan sudah dengan sukses memarkirkan motornya. Sejak tadi, ia berusaha untuk menangkan dirinya sendiri. Tidak ada yang perlu ia takuti. Namun, rasa ragunya kembali muncul ketika melintasi gerbang yang menjulang kokoh untuk kemudian melajukan motornya melewati pekarangan yang indah, hijau, dengan beberapa pohon dan semak berbunga, dan beberapa pelayan yang bertugas untuk menjaga keamanan, bertebaran di beberapa titik depan mansion tersebut.

Merasa tidak ada gunanya jika ia seperti begitu terus, akhirnya ia menurunkan dirinya. Ia melepas helmnya, membiarkan helai merahnya tampak lebih berantakan daripada biasanya. Setelah menaruh helm-nya di spion motor, pemuda itu menghela napas pelan.

Jelas sekali jika ia tengah membangun ulang kepercayaan dirinya sendiri.

Mengeluarkan ponsel dari jaketnya, ia segera mengetikkan pesan singkat kepada Kisame dan memberitahunya bahwa ia mungkin datang sedikit telat ke kerja kelompok Fisioterapi hari ini.

Kembali memasukkan ponsel, Sasori segera melangkah dan menghampiri teras depan rumah tersebut. Namun baru saja ia membuat beberapa langkah, ia (dan beberapa pelayan di sekitar) terkejut oleh suara teriakan yang nyaring di pagi hari tersebut.

"SASORI-KUUUNNN!"

Dan Sakura Haruno yang tampak berdiri di tepi teras rumahnya, sembari melambai-lambaikan kedua tangannya dengan antusias ke arah Sasori.

Memandang gadis itu, Sasori seketika sedikit melengkungkan ke bawah bibirnya. Ia masih belum bisa melupakan tingkah gadis itu yang begitu merepotkan dan menyebalkan baginya. Tidak hanya ia sudah mempermalukan Sasori di restauran saat itu, tetapi ia juga membuat nama Sasori mejeng di majalah fakultas selama beberapa hari—terimakasih pada kedatangan spektakuler gadis itu di kampusnya saat itu.

Jadi, tak peduli jika gadis itulah orang yang harus ia "lindungi" jika nantinya ia benar-benar telah bekerja, namun Sasori belum bisa memaafkannya.

Andai ini semua bukan karena Naruto…

"SASORI-KUUUNNN!" teriakan itu kembali terdengar—membuat Sasori menggeram kecil karena tak hanya gadis itu membuat keributan, tetapi kini ia mendapat perhatian dari beberapa pelayan yang merasa heran akan orang yang membuat Nona Besar mereka berteriak-teriak seperti itu, "Kenapa diam di sana? Ayo ke sini!"

Menghela napas dan mencoba menyabarkan diri, Sasori kembali melangkah setelah sebelumnya mengangguk kecil ke arah Sakura. Dalam hati, ia masih belum mengerti akan gadis di depannya itu. Kenapa tampak riang begitu kepada Sasori?

Pertemuan terakhir mereka saat itu 'kan tidak berakhir dengan bagus.

"Kau sudah datang!" sapa Sakura riang ketika Sasori melangkah ke arahnya.

"Hai," jawab Sasori lirih—seolah ia memang dari awal tidak punya niat untuk menjawabnya.

"Kau berangkat jam berapa? Pukul segini sudah sampai…" ujar Sakura tanpa mampu menyembunyikan perasaan riangnya menatap pemuda tersebut, "Berangkat darimana? Dari rumah? Apakah hari ini kau ada kuliah? Kau tidak kesulitan, 'kan, menemukan rumahku?"

Kepala Sasori seketika berkedut nyeri ketika mendengar rentetan pertanyaan tersebut. Ia tidak tahu apakah ia benar-benar bisa bekerja di sini, ketika sekarang saja rasanya kesabarannya menipis dan ia sudah siap membentak gadis itu untuk diam jika sekarang mereka tidak sedang berada di mansion gadis tersebut.

"Aku perlu berbicara dengan Ayahmu dahulu," ujar Sasori, lantas dengan sedikit ragu, memberi satu bungkuk hormat kepada Sakura.

Sedangkan si gadis yang diberikan bungkukan hormat itu hanya tertawa lirih, lantas tanpa sadar memegang kedua bahu Sasori dan memaksa pemuda itu untuk berdiri, "Tidak perlu tata krama begitu, Sasori-kun. Kita biasa saja, oke?" ujar gadis itu, yang membuat beberapa pelayan yang tak sengaja melintas di depan mereka, terheran.

Sejak kapan seorang Sakura Haruno mengijinkan pelayan atau pekerja, meski itu hanya "calon", untuk tidak memberi penghormatan padanya?

Meski jelas tidak ikhlas, Sasori memaksakan satu senyum kecil, sembari perlahan melepaskan kedua tangan Sakura yang masih bertengger di kedua pundak Sasori.

Sedangkan Sakura memandang pemuda di depannya dengan kedua emerald-nya yang tampak berbinar. Ia kembali melihatnya. Ia kembali menatap pemuda itu—Akasuna Sasori. Pemuda dengan rambut merah yang terlihat berantakan. Kedua mata dengan iris madu—memberi tatapan dingin, tetapi Sakura tak akan pernah lelah untuk mereguk tatapannya. Rahang yang terbentuk tegas. Hidung yang mancung. Kedua lapis bibir yang tipis…

Kini pemuda itu hadir di hadapannya. Pemuda yang kerap hadir di mimpinya, sekaligus lamunan dan khayalannya. Kini ada di depannya.

Membuatnya merasa tersipu. Membuatnya merasa malu. Membuat jantungnya berdetak keras. Cepat…

"Aku mencintaimu…" dan itulah yang keluar dari mulutnya, tanpa ia sadari, sembari ia menghela napas pelan.

Sedangkan objek cinta itu hanya menatap heran dengan dua matanya yang sedikit menyipit, seolah tengah meragukan kewarasan mental dari orang yang akan menjadi majikannya tersebut.

Tanpa memberikan sedikitpun pemikiran pada ucapan gadis itu, pemuda itu kembali mendatarkan pandangannya, lantas berujar, "Daripada membuat omong kosong seperti itu, tidakkah lebih baik kau sekarang antar aku untuk menemui Ayahmu?" mendengar tatanan kalimat dan nada yang ia keluarkan dari mulutnya sendiri itu, Sasori menjadi ragu jika ia memiliki kesabaran yang cukup untuk menghabiskan waktu bahkan hanya seminggu, dengan gadis berambut pink di depannya ini.

Di detik itulah, angan Sakura buyar dan ia kembali pada realitas.

Realitas bahwa, meski kini pemuda itu akan bekerja padanya, namun hal itu tidak akan merubah fakta bahwa Sasori membencinya. Sasori tidak menyukainya. Dan Sasori belum memaafkannya atas semua kesalahannya.

Sasori hanya melamar kerja. Hubungan mereka nanti hanya sebatas hubungan profesionalitas. Itu tidak akan merubah hubungan personal mereka—tidak akan merubah pandangan pribadi Sasori terhadapnya.

Memikirkan semua itu, senyum gadis itu sedikit meluntur ketika ia merasakan perasaan sakit di dalam sini. Namun, sebisa mungkin, ia menahannya, "O-oh, ya. Aku nyaris lupa. Ayah sudah menunggumu di dalam—masuklah."

Sasori-kun belum dan mungkin tidak pernah memaafkannya.

-oOo-

"Pada intinya, saya berharap bahwa kamu bisa nyaman bekerja di sini, Akasuna-san. Jika ada yang kamu perlukan, jangan ragu untuk memberitahu saya."

Itulah yang diucapkan Kizashi saat ia bersama dengan Sakura, dan satu lagi pekerja barunya yang mulai resmi bekerja hari ini, melangkah pelan melintasi teras depan rumahnya yang luas. Lelaki paruh baya tersebut tersenyum ketika menatap pemuda yang berjalan di sampingnya. Dan semakin tersenyum, ketika hatinya merasa hangat saat melihat ekspresi putri tunggalnya.

Ah, siapapun tahu bahwa gadis berambut dengan warna cerah itu, kini tengah merasa sangat bahagia.

"Benar, Sasori-kun. Jangan ragu untuk bilang jika ada yang ingin kau sampaikan," Sakura tersenyum lebar menatap riang pada pemuda yang memberinya tatapan pasif, "Bilang padaku juga bisa, kok."

"Ne, Sakura-chan," Kizashi menoleh dan memperi tatapan sungguh-sungguh kepada putrinya, "Kamu dengar semua pembicaraan dan kesepakatan Ayah bersama Akasuna-san tadi, bukan?"

Sakura mengangguk mantap, "Tentu saja, Ayah."

"Artinya, meski sekarang Akasuna-san bekerja pada kita, tapi dia memiliki beberapa hak yang kau tidak boleh memaksa atau merebutnya."

Wajar saja jika Kizashi berkata demikian. Karena seluruh pelayan dan mantan pelayan, tahu betul sifat pewaris Haruno yang suka sekali memaksakan kehendaknya agar orang lain menuruti apapun maunya.

Namun, kini gadis itu mengangguk dan mengacungkan sebelah jempolnya, "Aku akan mentaatinya."

Mendengarnya, Kizashi tersenyum lega. Namun di sisi lain, Sasori justru memberikan pandangan skeptis akan ucapan majikannya—gadis yang kini resmi menjadi majikannya. Karena simpel saja, dengan perilaku seperti itu, Sasori berani bertaruh bahwa tak membutuhkan waktu lama bagi gadis itu untuk melanggar janji yang ia buat sendiri.

"Baiklah, Akasuna-san," Kizashi kembali menoleh ke arah Sasori, "Matahari semakin tinggi. Bisakah kau membawa putriku ke sekolah? Aku tidak ingin gadis bandel ini memperoleh hukuman lagi karena terlambat."

"Ayah!" protes Sakura manja, "Aku tidak terlambat, kok. Waktu itu aku hanya tengah ke ruang guru karena mendapat teguran tentang rokku yang katanya terlalu pendek!"

"Rokmu yang waktu itu memang terlalu pendek, Sakura-chan," ujar Kizashi sembari menghela napas lelah, "Sudahlah, berangkat sekolah sana. Belajar yang rajin DAN jangan membuat ulah."

Sedangkan sang pewaris Haruno hanya menggerutu tidak jelas dan bersedekap dada. Di saat itulah, Sasori menggunakan waktu itu untuk pamit. Dengan sopan, ia membungkuk di depan Kizashi Haruno, "Baiklah, Tuan Haruno," ucapnya tegas, "Saya akan pergi dahulu dengan Haruno-san."

Kizashi tersenyum dan mengangguk, sementara Sakura seketika kembali sumringah dan melupakan debat kecilnya dengan Ayahnya barusan.

Setelah ini, ia akan satu mobil dengan Sasori-kun

Kizashi segera menyerahkan satu kunci mobil kepada Sasori dan menunjukkan pada pemuda itu mengenai mobil mana yang dimaksud. Dan ketika melihatnya, saat melihat mobil mewah berwarna hitam metalik yang terparkir di depan garasinya tersebut, Sasori sempat merasa ragu dan meminta agar Kizashi memberinya mobil lain saja.

Namun, Sakura lah yang menolak dan menyatakan bahwa, "Tenang saja, Sasori-kun. Mobil itu fasilitasnya lengkap, kok. Mudah dikendarai juga, meski ada beberapa hal yang tidak ditemukan pada mobil lain," dan diakhiri dengan senyum lebar.

Dan Sasori menahan sebisa mungkin dengusan yang nyaris keluar dari hidungnya. Ia kini semakin yakin bahwa Haruno Sakura adalah tipikal orang yang benar-benar memuja kemewahan, materi, dan penampilan fisik.

Pada akhirnya, ia terima juga kunci mobil itu. Kizashi bilang bahwa Sasori bisa menitipkan motornya di sini atau menyuruh beberapa pesuruhnya untuk membawa motor itu ke alamat kos atau kampus Sasori. Namun Sasori memilih pilihan yang pertama.

"Ayo, Sasori-kun!" cetus Sakura riang sembari secara refleks, ia mengulurkan sebelah tangannya dan hendak melingkarkannya ke lengan Sasori.

Namun gagal ketika Sasori sudah keburu jalan mendahuluinya untuk menuju mobil, dan membukakan pintu penumpang.

Melihatnya, Sakura hanya menghela napas pelan. Namun kembali, ia segera tepis perasaan buruk apapun yang singgah di hatinya, untuk kemudian kembali memasang wajah riangnya.

Ya! Yang penting adalah, hari ini ia bisa bersama dengan Sasori-kun! Berangkat sekolah, pulang sekolah, ke mall, dan kemanapun asalkan bisa dengan pemuda itu lebih lama lagi!

Mendapat pemikiran tersebut, otomatis jantung Sakura kembali berdegup kencang. Ia merasa antusias. Dalam pikirannya sekarang terdapat berbagai macam rencana akan kemana ia ingin pergi dan apa yang ingin ia lakukan bersama dengan pemuda empat tahun lebih tua darinya tersebut.

Sakura melangkah dengan semangat karena ingin segera sampai di mobilnya. Setelah mengucapkan "Sampai jumpa, Ayah!", gadis itu segera beranjak dari sana untuk menuruni tangga terasnya, kemudian menghampiri mobil yang telah Sasori bukakan pintu penumpangnya.

Namun, mungkin terlalu semangat, hingga ia tidak memperhatikan langkahnya. Saat menuruni tangga teras, ia salah menapakkan kakinya dan membuat tubuhnya oleng seketika.

Ia berteriak keras. Kizashi meneriakkan nama putrinya dengan khawatir. Pun dengan beberapa karyawan yang mengkhawatirkan majikan kecil mereka.

Dan Sakura telah memejamkan mata—siap menerima benturan keras lantai atau tanah, yang akan menerpa tubuhnya.

Namun, itu tidak pernah ia rasakan. Karena, alih-alih merasa sakit karena kerasnya tanah atau lantai yang membentur tubuhnya, ia justru merasa nyaman. Hangat.

Setelah membuka mata, barulah ia sadar akan apa yang terjadi—apa yang telah dan sedang terjadi.

Sasori-kun memeluknya—ralat, menyelamatkannya dengan cara memeluknya.

Dan, tanpa menunggu komando pun, wajah gadis itu seketika merona merah dan padam. Belum lagi dengan organ pemompa darahnya yang kini bekerja dengan kecepatan yang kuat dan cepat—seolah-olah organ itu akan meledak.

Pelukan Sasori… Pemuda itu memeluknya. Mendekapnya. Melingkarkan kedua lengannya yang kuat, ke sekeliling tubuhnya.

Diam-diam, Sakura tersenyum dan memejamkan mata.

Ah~ Andaikan momen ini bisa berlangsung selama—

"Bisakah kau berhenti tersenyum dan berdiri tegak sendiri, atau aku akan melepaskanmu dan membiarkanmu benar-benar jatuh?"

—nya. Setidaknya, sebelum bisikan dengan nada terganggu itu, menyapa telinganya dengan lirih.

Buru-buru Sakura menuruti perintah pemuda itu—ia sudah berjanji bahwa ia akan bersikap baik dan merubah pemikiran buruk Sasori terhadap dirinya. Jadi, ia ingin agar ia sebisa mungkin, tidak berbuat atau mengucapkan sesuatu yang membuat pemuda itu kesal.

Setelah kembali berdiri tegak, gadis itu menghela napas dalam-dalam dan berusaha untuk menenangkan debaran jantungnya, sekaligus menenangkan hatinya yang merasa kecewa karena harus meninggalkan kukungan hangat itu.

"Sakura-chan!" terdengar suara bernada khawatir dari Kizashi, "Apa kau tidak apa-apa? Makanya, kalau berjalan hati-hati—jangan ceroboh begitu!" tegur Kizashi cemas.

"A-Aku tidak apa-apa, Ayah. Sungguh," jawab Sakura tanpa mampu menahan suaranya yang tergagap karena gugup.

Dan demi Tuhan, ia masih bisa merasakan kedua pipinya yang memanas!

Oleh karenanya, gadis itu segera berbalik dan masuk ke dalam mobilnya setelah sebelumnya sekali lagi, pamit kepada Ayahnya. Kizashi juga menyampaikan pesan agar berhati-hati, baik kepada Sasori ataupun Sakura.

Sasori pun hanya mengangguk sopan, kemudian membungkuk pamit pada Kizashi Haruno.

Beberapa saat kemudian, mobil mewah itu bergerak dan kemudian menjauh dan semakin menjauhi mansion Haruno.

Memandangnya, Kizashi hanya menghela napas sembari memijat sebelah pelipisnya, "Kuharap Akasuna-san bisa bertahan setidaknya dua bulan."

-oOo-

Mengendarai mobilnya dengan sedikit cepat, Sasuke Uchiha merasa dikejar waktu. Ia harus segera tiba di mansion Haruno karena Sakura kemarin bilang bahwa pengawal barunya, akan datang dan mulai bekerja pada hari ini. Dan Sasuke merasa perlu untuk datang dan melihat, serta mengamati dan mencari informasi, mengenai pemuda yang mulai beberapa saat yang lalu, didaulatnya sebagai rival sekaligus tantangan bagi keberhasilan rencana keluarganya.

Ia merutuk kesal akan kemacetan yang tadi baru saja dialaminya di salah satu jalan yang cukup padat di pagi hari seperti ini. Dan kini, ia harus mengemudikan mobilnya dengan lebih cepat jika ingin sampai di mansion Haruno sebelum gadis berambut pink itu berangkat sekolah dengan pengawal barunya.

Mau tak mau Sasuke merasa geram sendiri akan siapapun orang yang menjadi pengawal baru Sakura tersebut. Pertama, karena ia mengancam rencana Uchiha yang tengah dijalankannya. Dan kedua dan yang paling tidak bisa ditolerir, adalah rencana sempurna Uchiha harus terancam oleh orang… dari kelas rendah seperti itu!

Sasuke membenci kekalahan, apalagi jika ia kalah dari orang yang dianggapnya inferior darinya!

Pikiran kalutnya terhenti ketika kedua mata onyx-nya yang menatap fokus ke depan, melihat sebuah mobil yang datang dari arah yang berlawanan dengannya.

Mobil Porsche. Hitam mengkilat. Dengan nomor plat tertentu yang membuat Sasuke seketika bisa menebak siapa pemiliknya.

Gadis itu sudah…

Sasuke seketika memelankan laju kendaraannya dan meminggirkannya. Dengan segera, ia membuka kaca kemudinya dan memicingkan matanya untuk menghindari sedikit silau matahari pagi hari yang menerpa kedua matanya.

Dan sepertinya, dugaannya akan terbukti benar ketika Porsche itu turut memelan, dan kini berhenti tepat di samping mobil Mercedes Benz LSR milik Sasuke. Perlahan, kaca pintu penumpang Porsche bergerak turun, dan tampaklah wajah dari seseorang yang menjadi target penting dari rencana Uchiha.

Sakura Haruno.

"Sasuke-kun?" Sakura tampak terkejut dengan keberadaan Sasuke, pun Sasuke yang sedikit terkejut menatap Sakura. Ternyata gadis itu telah bersama dengan pengawal barunya sekarang—tentu saja, untuk apa gadis itu duduk di jok penumpang jika tidak ada orang lain yang melajukan mobilnya? Hanya saja saat ini, Sasuke belum mengetahui siapa dan seperti apa orang yang menjadi pengawal Sakura karena masih tertutupnya kaca kemudi Porsche tersebut.

Tanpa sadar, rahang Sasuke mengatup keras dan kedua tangannya mencengkeram erat kemudi mobilnya. Tidak membutuhkan waktu lama bagi pemuda itu untuk membuka pintu mobilnya dan keluar, untuk menuju mobil mewah lain yang berada di dekatnya.

"Aku baru saja hendak ke rumahmu, Sakura," kata Sasuke dengan ekspresi datar. Diliriknya lagi kaca kemudi Porsche tersebut, namun ia sama sekali tidak bisa melihat siapa yang berada di baliknya, "Ternyata kau sudah… berangkat."

Acuh tak acuh, gadis dengan rambut sewarna permen karet itu, hanya mengibaskan sebelah tangannya—tanpa sadar membuat sebelah ujung mata Sasuke berkedut keki, "Aku sudah berangkat sendiri bersama dengan pengawalku, kau lihat?" gadis itu menunjuk ke kursi kemudi, lantas kembali tersenyum lebar ke arah Sasuke, "Sasori-kun sudah mulai bekerja hari ini, lho."

Sasuke tak pernah ingat Sakura pernah memberikan pandangan secerah dan senyum selebar itu, ketika bersama atau membicarakan dirinya.

"Oh, ya?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya, lantas melirik kursi kemudi dari jendela kaca Sakura yang terbuka. Namun tetap saja pengawal itu tidak kelihatan, "Well, itu bagus."

Sakura mengangguk, "Tentu saja. Nah, tidak ada yang ingin Sasuke-kun bicarakan lagi, 'kan? Kalau begitu aku pergi dahulu, ya. Daaahh!"

Dan Sasuke tidak diberikan kesempatan barang bersuara satu katapun, ketika jendela Porsche itu kembali tertutup dan menyembunyikan wajah gadis tersebut di baliknya. Pemuda itupun masih terdiam, ketika Porsche itu kembali melaju, meninggalkannya bersama dengan debu-debu jalan yang menerpa tak hanya wajahnya, namun juga pakaiannya yang berkelas.

Pemuda itu memejamkan mata dan menggeram, merasa kesabarannya sangat menipis ketika menerima perlakuan penghinaan terhadap dirinya seperti ini.

Setelah tadi ia melewatkan sarapan, terburu-buru berangkat kemari, dan sekarang apa? Ia berdiri seorang diri di jalan layaknya orang bodoh, setelah mendengar hanya beberapa kata dari gadis itu?!

Ingin tadi Sasuke mengambil batu agak besar dan melemparnya sekuat tenaga ke arah Porsche itu—jika ia bukan Uchiha yang memuja harga diri di atas segalanya.

Oke… sadar atau tidak, pengawal baru rendahan itu sudah, meski tak secara langsung, menantang dan menghina harga diri Uchiha.

Dengan cepat, Sasuke mengeluarkan ponsel dari saku kemejanya. Setelah meneliti daftar nama di contact lists, akhirnya dia menekan satu tombol dan menempelkan ponsel layar sentuh tersebut, ke sebelah telinganya.

"Hallo. Aku udah tugas untukmu. Dengarkan baik-baik."

-oOo-

"… Kami sudah mengenal sejak kecil—dia sahabat dekatku, lho. Sering kami pergi bersama dan akhir-akhir ini kami semakin dekat karena aku tidak punya pengawal—tentu sebelum Sasori-kun datang dan melamar menjadi pengawal baruku. Hehe. Eh, tapi jangan salah sangka, ya. Meskipun aku dan Sasuke-kun dekat sekali, tapi kami hanya sahabat—mungkin 'saudara'. Tapi tidak lebih dari itu. Jadi Sasori-kun jangan… ehem—salah kira…"

Sepanjang rentetan kalimat itu terucapkan oleh gadis berambut pink di jok belakang tersebut, namun semua kata itu seolah masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan dari Akasuna Sasori. Bukannya apa, hanya saja selain Sasori ingin fokus menyetir, juga karena ia memang memiliki kepribadian yang malas berurusan dengan orang banyak bicara yang nyerocos perkara hal yang sama sekali tidak dipedulikannya. Peduli setan Sasori dengan siapa itu… siapa? Sasuke? Apapun namanya. Lagipula juga Sasori belum mampu membiasakan diri untuk berbincang biasa dengan gadis yang masih memberikan ingatan buruk kepadanya tersebut.

Karena sampai sekarangpun, ia rasanya belum bisa mempercayai semua ini: bahwa dia tengah mengendarai sebuah mobil mewah, dengan satu gadis yang sebenarnya Sasori tidak peduli padanya.

Sementara Sasori tampak diam dan bahkan kedua matanya menatap bosan, namun tidak dengan Sakura Haruno. Hatinya masih dilanda rasa bahagia dan suka cita. Jiwanya masih melambung. Pikirannya masih melalangbuana. Mendapatkan fakta bahwa Sasori berada di depannya, mengantarnya ke sekolah, dan yang penting, akan sering berada di dekatnya, membuat gadis itu merasakan perasaan yang paling indah seumur hidupnya.

Sasori-kun tampan sekali….

Begitulah kira-kira gumaman batinnya penuh suka cita, tiap menatap wajah Sasori dari jok belakang ini.

Tunggu!

"Sasori-kun, tiap kau datang ke sekolahku, kau jangan turun dari mobil, ya," ucap Sakura mengalihkan topik dari rentetan ceritanya mengenai persahabatannya dengan Uchiha Sasuke.

"Ya," jawab Sasori tanpa pikir panjang dan tanpa menanyakan alasannya.

"Aku tidak mau jika teman-temanku, APALAGI Ino, melihatmu!" Sakura melipat kedua tangannya di dada, lantas memberi ekspresi kesal ketika membayangkan sahabat dekatnya yang lain itu, "Kau tidak tahu deh, betapa dia ganjen banget kalau liat cowok kerenan dikit."

Mendengarnya, Sasori hanya mendengus dan menahan kalimat sarkastis yang ingin ia ucapkan untuk menyindir gadis itu.

"Pokoknya kau jangan dekat-dekat dengan teman perempuanku, ya!" Sakura memperingatkan, yang dibalas dengan gumaman singkat oleh Sasori.

Belum-belum gadis itu sudah bertingkah layaknya orang tua Sasori yang melarang bergaul dengan ini dan itu. Tidak masalah juga, sih. Sasori juga tidak peduli dengan teman-teman perempuan Sakura.

Yang jelas, yang dipedulikannya hanya satu.

Hyuuga Hinata—salah satu siswi SMA Haruno—kekasihnya.

Menghela napas lelah, Sasori tidak tahu apa yang akan dilakukan atau dikatakannya jika Hinata tahu bahwa ia tengah bekerja seperti ini…

"Oh, ya, nanti Sasori-kun bisa menjemputku sepulang sekolah, 'kan?" tanya Sakura lagi ketika semua omongannya soal Ino dan teman-teman perempuannya yang lain, hanya mendapat respon pasif dari Sasori.

"Tidak. Aku ada kuliah."

"Yah…," Sakura menghela napas kecewa, "Memangnya kuliahmu jam berapa, Sasori-kun?"

"Siang."

"Selesai?"

"Malam."

"Oke, kalau begitu nanti kau jemput aku di mall pada malam hari saja, ya. Aku menunggumu di sana nanti!" putus Sakura riang, tanpa menyadari kedua telapak Sasori yang sedikit mencengkeram lebih erat kemudi mobil itu.

"Kau tidak perlu menungguku—jika sudah tidak ada urusan, kau bisa langsung pulang saja siang nanti," tawar Sasori mencoba sabar.

Namun gagal, karena kepala berwarna cerah itu menggeleng kuat-kuat, "Aku tidak akan pulang jika kau tidak menjemputku!"

"Kau masih punya sopir pribadi, 'kan?"

"Tapi pengawalku hanya kamu, Sasori-kun!"

Di detik ini, Sasori mencoba kesabaran penuh kepada Tuhan.

"… Baiklah."

"Yay!"

Sasori mencoba mengingatkan diri sendiri bahwa Porsche ini bukan miliknya, sehingga ia harus menahan hasratnya untuk menabrakkan mobil ini ke pembatas trotoar atau apa.

-oOo-

Sasori hanya memberi anggukan singkat ketika Sakura pamit dan mengucapkan sampai jumpa kepadanya. Dilihatnya gadis itu yang melangkah riang—bahkan sedikit melompat-lompat, memasuki gerbang dan melintasi halaman sekolahnya. Beberapa teman pria dan wanita, menyapanya dan beberapa melangkah bersamanya.

Sasori hanya belum bisa mempercayai jika gadis itulah pewaris Haruno—pewaris semua aset dan bisnis Haruno. Gadis menyebalkan, tidak sopan, cerewet, sewenang-wenang…

Sebuah getaran halus terasa di jaket Sasori. Pemuda itu mengalihkan pandang untuk kemudian menatap ponselnya yang baru saja ia keluarkan dari saku jaketnya. Sebuah nama yang sangat familiar baginya, terpajang di sana.

"Sensei, tidakkah kau lebih baik segera mengajar daripada menelponku begini?" itulah sapaan Sasori kepada Dosen Walinya—Kakashi Hatake—yang menelponnya.

Terdengar helaan napas dari sana, "Sepertinya harga diriku benar-benar habis di mata para mahasiswaku…" namun, suara bernada kecewa itu hanya terdengar sekilas, sebelum nada riang—menyebalkan—yang khas dari Dosen muda tersebut, kembali terdengar, "Aku hanya ingin mengetahui akan apakah tugas hari pertama Mahasiswaku sebagai Pengawal Haruno, berjalan lancar?"

Sudah Sasori duga.

"Biasa saja," ujarnya tanpa rasa antusias, namun segera disambungnya, "Tetapi, terimakasih. Berkat Sensei, aku bisa mendapatkan pekerjaan ini dan mengatasi permasalahan keluargaku."

Memang, sekalipun Dosennya itu terkadang childish, pemaksa, dan menjengkelkan, tapi toh Dosen itu juga yang memberi jalan keluar bagi permasalahan keluarga Sasori, terutama terkait dengan Naruto. Dan Sasori bukanlah orang yang terlalu menjunjung ego hanya untuk sekedar berterimakasih.

Terdengar suara tawa lirih dari seberang, "Haha. Tidak apa-apa, Sasori-kun. Kau tahu, hubungan ini saling menguntungkan bagi kita. Kau mendapat pekerjaan, dan aku mendapat harga diri di mata Kizashi karena mampu menolongnya juga. Haha."

"Hai."

"Lantas bagaimana dengan kuliahmu? Kizashi memberimu waktu untuk menjalankan pendidikan dan kegiatanmu, 'kan?" tanya Kakashi terdengar khawatir.

"Kami sudah membuat beberapa kesepakatan," ujar Sasori, "Salah satunya adalah bahwa pekerjaanku tidak akan menganggu kewajibanku untuk menuntut ilmu. Dan aku wajib memberitahu jika ada keperluan atau apa yang membuatku tidak bisa menjalankan tugasku."

"Baguslah. Lihat? Kizashi Haruno baik sekali, 'kan?" lagi-lagi Kakashi tertawa, "Tapi kau kuminta juga harus mampu membuat prioritas, Sasori. Jika memang tidak ada keperluan yang begitu penting dan mendesak, kau harus memenuhi kewajibanmu sebagai pengawal."

"Aku tahu, Sensei," Sasori menghela napas, "Kau terdengar seperti majikan keduaku, kau tahu?"

"Haha. Aku hanya merasa punya tanggungjawab bahwa rekomendasiku adalah orang yang berkualitas."

'Jika begitu dari awal jangan tawari aku,' ingin Sasori berucap demikian. Karena simpel saja, pemuda itu sama sekali tidak tahu apa yang membuatnya bisa direkrut sebagai seorang pengawal dari keluarga Haruno.

Satu-satunya bakat yang ia punyai dalam hal ini adalah karate—ia termasuk anggota sabuk hitam. Tetapi ia tidak yakin jika ia bisa menggunakannya untuk melawan Yakuza, perampok, atau orang jahat lainnya.

Hhh.

"Kalau memang tidak ada apa-apa, sampai di sini dulu, ya, Sasori. Ingat, jangan ragu untuk bercerita apapun padaku, oke?"

Sasori hanya mengiyakan pelan, lantas memasukkan ponselnya setelah Kakashi memutuskan obrolan mereka.

Kepala berhelai merah itu menoleh, dan kembali menatap pada gedung megah di samping mobilnya—SMA Haruno. Indah. Elit. Berkelas.

Iris sewarna madu itu melempar pandangan ke beberapa titik di bangunan itu—seolah mencari-cari sesuatu. Namun sepertinya tak ia dapatkan, karena beberapa saat kemudian, ia mengalihkan pandang dan mulai fokus lagi pada jalan raya di depannya.

"Mungkin Hinata belum berangkat atau apa."

Ia sungguh berharap bahwa Hinata tidak memiliki hubungan apapun, apalagi berteman, dengan gadis keturunan pemilik sekolah swasta ini. Karena, tidak membutuhkan otak jenius untuk menebak gadis macam Sakura akan melakukan tindakan sewenang-wenang, mengesalkan, dan menyakiti orang lain, siapapun itu, entah sengaja atau tidak.

Dan Sasori berharap bahwa gadisnya tidaklah termasuk dari "orang lain" tersebut—semoga mereka berbeda kelas atau apa.

-oOo-

Thank you and review~ :* Ayo yang selama ini jadi silent-reader-holic? :'D