Yukeh: Sorry banget baru update T.T Abisnya, tetanggaku baru beli mobil baru #apa hubungannya?# intinya, gegara RL. Oh ya, good news, mungkin di sini akan ada lebih banyak romance SasoSaku, meskipun juga masih one-sided sih hahaha #dikemplang Sakura.
Naruto (c) Masashi Kishimoto
I don't own the Picture
Pairing: SasoSaku, other slight pairings included
Warning: AU, OOC, drama, nyinet, dan warning lain-lain aja deh, ye /mendadakpusing/ Dan catat: super duper mega ultra annoying and antagonistic Sakura
Happy reading~
Kedua alis biru itu tampak melengkung bersama dengan kedua matanya yang sedikit menyipit. Jelas ada raut bingung di sana ketika selama beberapa menit ia menatap, bahkan memelototi, lembaran dari buku tebal yang khas dibaca oleh mahasiswa Kedokteran sepertinya. Namun tak ada satupun dari kalimat di lembaran itu yang mampu ditangkap logikanya.
"Dei," akhirnya ia putuskan untuk berdiskusi dengan teman belajarnya, sekaligus teman satu jurusan dan satu angkatannya, sekaligus teman satu kosnya, "Maksud dari pertanyaan nomor tiga ini apa? Apa hubungannya semua ini dengan jaringan dan sel, coba?"
Tak ada bedanya, Deidara memberi ekspresi tersesat yang sama di rautnya terhadap lembaran di depannya, "…Aku juga tidak mengerti…"
Kisame menghela napas lelah, "Apa mungkin tulisan ini salah cetak, ya, sehingga tidak nyambung begini?"
Dan tangan Deidara mendarat mulus di kepala Kisame dengan cukup keras. Membuat si pirang tersebut otomatis mendapat pelototan sangar dari sang sahabat, "Mana mungkin. Otakmu aja kali yang salah cetak sehingga tidak bisa memproses ilmu ini."
Kisame mendelik, tidak terima dikatain bego oleh sahabatnya, "Hei, coba ngaca, dong. Tidak seperti kau bisa juga, 'kan?"
"Hah… harusnya kalau kayak gini, kita belajarnya dengan Sasori saja," Deidara menyandarkan punggungnya ke pinggiran sofa di belakang tubuhnya, "Pasti soal ini sudah selesai sejak satu jam yang lalu."
"Dan kita ga perlu capek-capek brainstorming seperti ini," Kisame mengangguk mantap dan dengan tidak tahu malu.
Hanya dalam saat-saat seperti inilah, Deidara dan Kisame sangat merindukan Sasori melebihi rindunya mereka pada keluarga mereka yang ada di rumah masing-masing.
"Tapi kemana aja itu anak, ya?" Deidara melirik jam dinding di dekatnya, "Aku tidak melihatnya sekalipun baik di kos atau di kampus seharian ini."
"Tadi pagi dia sms katanya dia tidak bisa hadir ke kampus," Kisame menaikkan kedua bahunya acuh tak acuh, "Wajar lah, Dei. Dia itu sibuk. Jangan samakan dengan dirimu yang mahasiswa kupu-kupu—kuliah pulang kuliah pulang."
Deidara menatap nyinyir ke arah Kisame, menahan diri untuk tidak lagi menggeplak kepala itu. Bicara apa. Toh Kisame juga tidak ikutan dalam organisasi atau kegiatan kampus apapun juga!
Menghela napas, Deidara memutuskan untuk kembali menegakkan tubuhnya dan mengarahkan perhatiannya pada buku tebal di depannya, "Kita kerjakan dahulu sebisa kita saja. Besok kita tinggal nyontek ke Sasori sisanya."
Dalam hati Deidara tak habis pikir, lagipula kemana saja Sasori hingga tidak memberi kabar apapun kepada kedua temannya akan kepergiannya?
-oOo-
Kedua iris ebony itu menatap datar pada pemandangan di depannya. Jalanan raya yang lebar ini tampak masih sesak dengan berbagai macam kendaraan yang melintas. Lampu-lampu jalan bertabrakan sinar dengan lampu-lampu kendaraan—menjadikan suasana malam jalan itu terasa demikian penuh dengan bulatan cahaya kekuningan.
Meski pada awalnya sedikit tidak terbiasa, pada akhirnya Sasori mampu mengontrol kemudi kendaraan ini dengan baik. Bukannya sebelumnya ia tidak pernah mengendarai mobil—sesekali dua kali ia pernah mendapat pinjaman mobil dari teman jika ia memerlukan untuk kegiatan kampus. Namun masalahnya, semua mobil mereka tidak semewah ini…
Sebuah gumaman lirih terdengar dan membuat kedua mata Sasori bergulir ke samping. Pandangannya bersorot datar ketika ia menatap satu sosok yang berada di sampingnya—di kursi tepat di samping kursi kemudi yang didudukinya.
Satu manusia yang tampak terduduk di sana dengan punggung dan kepala yang bersandar di kursi mobil yang empuk. Kepalanya tertolehkan ke samping lemas dan kedua tangannya berada di pangkuan pahanya. Kedua matanya terpejam, mulutnya setengah membuka. Dadanya tampak naik turun dengan teratur, menandakan hela napas yang masih terhembus lirih dari hidungnya.
Sakura Haruno.
Sasori menghela napas sembari kembali mengarahkan perhatiannya ke arah jalan di depannya. Ia sangat bersyukur jika gadis itu terlelap demikian. Maklum saja, sejak sebelum dan sepanjang perjalanan tadi kedua telinganya rasanya dicekcoki oleh celotehan dari sang gadis berambut merah muda. Entah apa yang diceritakan gadis itu, Sasori tidak terlalu ingat dan tidak mau mengingat. Maklum saja, ia seharian mengurusi kegiatan di luar kampus dan harus buru-buru menjemput gadis ini di sebuah mall di pusat kota.
Yang Sasori inginkan saat ini adalah pulang dan istirahat…
Perhatian pemuda itu pada jalanan di depannya sekali lagi terusik oleh gumaman dari arah sampingnya. Ia kembali melirik, dan melihat Sakura sedikit menggeliat pelan dalam tidurnya. Didapatinya gadis itu melipat tangan dan memeluk dadanya sendiri, sembari makin meringkukkan posisi duduknya di kursi.
Perhatian Sasori kembali teralihkan ke arah jalan.
Dan gumaman lirih itu kembali terdengar.
Menghela napas, pemuda itu pada akhirnya memutuskan untuk menepikan mobil hitam metalik tersebut sejenak di pinggir jalan. Diliriknya gadis berambut merah muda yang masih terlelap dalam tidurnya, dengan kedua tangan yang masih memeluk erat dadanya. Sejenak, kedua mata Sasori tampak mengamati daerah di dalam mobil, seolah mencari-cari sesuatu.
Namun ketika tak ia dapatkan, ia memutuskan untuk melepas mantel hitamnya yang tengah ia pakai. Untuk kemudian ia selimutkan pada tubuh bagian atas hingga paha dari Sakura.
Begitu kain hangat itu menempel pada kulitnya, Sakura yang masih tengah ada dalam alam bawah sadarnya secara otomatis makin menelungsupkan diri untuk bersembunyi di dalam kain tebal nan hangat tersebut.
Sasori mengalihkan kembali pandangannya pada jalan di depannya. Tak habis pikir, kemana blazer seragam yang harusnya dipakai gadis itu untuk melindunginya dari dingin seperti ini.
Lagipula, ia melakukan ini bukan karena kasihan atau apa. Ia hanya tidak ingin gadis cerewet itu pulang dalam keadaan sakit dan Sasori gagal menjalankan tugasnya bahkan di hari pertama.
-oOo-
"Aku pulang."
Tidak ada yang merespon kalimat lirih Sasori tersebut. Bukannya Sasori mengharap juga sih, waktu menunjukkan hari yang sudah larut. Jadi wajar saja jika kedua temannya yang merupakan satu-satunya penghuni kos ini selain dirinya, sudah terbaring merajut mimpi di kamar mereka masing-masing.
Tanpa repot-repot melepas sepatunya, Sasori segera menaiki tangga menuju kamarnya setelah menutup dan mengunci pintu depan. Ia benar-benar lelah dan segera ingin istirahat tanpa harus menikmati makan malamnya. Lagipula besok ia harus bangun pagi-pagi lagi untuk mengantar gadis itu ke sekolah…
Mengacak-acak rambutnya gemas, Sasori merasa moodnya langsung mengarah ke arah hitam tiap memikirkan gadis itu. Heran, bukankah ia sendiri yang menginginkan pekerjaan ini? Tetapi bersama dengan Sakura Haruno selama sehari saja rasanya ia sudah ingin memeriksakan kondisi jiwanya ke rumah sakit jiwa!
Belum sempat Sasori membuka pintu kamarnya, ponselnya bergetar tanda ada pesan yang masuk. Ia mengeluarkan benda elektronik tersebut dari saku celananya, dan seketika mendapati deret nomor yang tidak ia kenal, terpampang di layar ponsel tersebut.
Sasori-kun, apakah kau sudah sampai di kosmu?
Sasori memutar bola mata.
Panjang umur…
Sasori tak repot-repot membalas pesan singkat tersebut. Ia sudah cukup dijengkelkan selama sehari ini oleh gadis tersebut selama ia bekerja dengannya. Ia tidak mau gadis itu juga menganggunya bahkan di waktu luangnya seperti sekarang.
"Oh? Sasori? Darimana saja?"
Nyatanya dugaan Sasori akan para sahabatnya yang tengah terbuai alam mimpi, keliru ketika kedua matanya mendapati sosok Deidara yang baru keluar dari kamarnya dengan rambut berantakan khas orang baru terbangun dari tidurnya. Pemuda itu menatap Sasori heran dengan kedua matanya yang mengantuk dan mulutnya yang menganga mengeluarkan uap kantuk.
"Kupikir kau sudah tidur, Dei," ujar Sasori mengalihkan pandang dan membuka pintu kamarnya. Belum sempat ia tutup kembali, ketika Deidara keburu turut masuk ke kamarnya.
Otomatis, mood Sasori yang semula jelek, kini berubah menjadi makin parah.
"Hari sudah larut malam dan aku ingin istirahat, jika kau tidak mengerti…" ucap Sasori lirih sembari terduduk di kursi belajarnya, meletakkan ponselnya di meja, lantas melepas sepatunya.
Deidara menguap lebar, "Kau belum menjawab pertanyaanku…," ujarnya tak jelas karena terdengar bersama dengan uap kantuknya, "Aku tidak melihatmu sama sekali di kampus hari ini…"
Masih memfokuskan perhatian pada usahanya dalam melepas sepatunya, Sasori menjawab sekenanya, "Aku ada urusan."
Deidara mengibaskan tangannya, "Alasan basi, kau tahu? Urusan apa? Aku seharian ini tanya ke teman-teman tapi mereka tidak ada yang melihatmu," Deidara melirik ponsel Sasori, "Dan ponselmu seharian ini mati."
Sasori menghela napas lelah. Sejujurnya, berdebat dengan Deidara di saat ia sangat lelah dan ingin istirahat seperti sekarang ini, adalah hal terakhir yang ia inginkan di dunia ini, "Apa kau mencariku hanya untuk meminta bantuan untuk menjawab soal tugas atau kuis?"
Ekspresi Deidara seolah-olah semua rasa kantuk yang sempat ia rasakan sebelumnya, hilang secara sempurna.
Sasori hanya melirik keki dan mendengus kesal, sebelum beranjak dari kursi dan langsung menuju pintu kamar, "Aku mandi dan saat aku kembali, aku tidak ingin melihat batang hidungmu—entah itu kau menyingkir sendiri atau aku harus membunuhmu."
Deidara hanya nyinyir kesal ke arah pintu kamar yang barusan tertutup dari luar, "Satu-satunya nilai plus dari dirinya adalah ketampanan dan kepintaran. Benar-benar…."
Pelototan Deidara pada pintu kamar Sasori yang tak berdosa, teralihkan ketika ia mendengar bunyi getaran dari arah di dekatnya. Ia menoleh dan mendapati bahwa sumber bunyi tersebut adalah ponsel Sasori yang terletak di atas meja belajar pemuda tersebut. Benda elektronik tersebut tampak berkedip-kedip menampilkan cahaya putih, dengan nomor yang tidak dikenal terpampang pada layar yang menunjukkan adanya panggilan masuk.
Tentu saja, sebagai makhluk dengan hormon kepo yang cukup tinggi, Deidara merasa penasaran akan siapakah yang menelpon sahabatnya malam-malam begini.
"Apakah dari Hinata-chan?" gumam Deidara, mengingat gadis yang menjadi kekasih Sasori yang pernah pemuda itu kenalkan pada Deidara beberapa waktu yang lalu.
Deidara menyeringai licik. Jika ia tidak bisa membalas Sasori secara langsung, mungkin ia bisa membalaskan dendam melalui Hinata-chan…
Tanpa ragu, ia mengangkat tombol 'yes' di ponsel tersebut dan sebelum ia sempat berbicara apapun, suara di seberang segera terdengar memberondong telinganya dengan berbagai kalimat.
"Sasori-kun! Kenapa tidak membalas pesanku? Aku sangat khawatir karena kupikir terjadi apa-apa denganmu di perjalanan pulang! Apakah kau sudah sampai? Apakah kau baik-baik saja? Maaf aku menganggumu tapi aku benar-benar khawatir padamu—Eh? Sasori-kun? Kenapa diam? Kau tidak apa-apa, kan?"
Ekspresi yang ditunjukkan di wajah Deidara berubah-ubah sepanjang ucapan itu terdengar. Dari terkejut, heran, dan kemudian tidak mengerti.
Ini bukan Hinata-chan…?
Lantas, kenapa terdengar punya hubungan dekat sekali dengan Sasori…
Buru-buru Deidara menekan tombol 'no' ketika ia mendengar suara pintu yang terbuka. Ia segera menghadapkan punggungnya ke arah pintu agar Sasori tidak melihat bahwa Deidara tengah menaruh kembali ponselnya ke meja.
Ah… nyaris saja Deidara benar-benar kehilangan nyawanya malam ini.
"Cepat sekali kau mandi, Sasori?" Deidara berbalik dan tersenyum lebar sembari berharap bahwa ekspresinya tidak cukup tolol untuk Sasori mampu menerka ada sesuatu di balik senyum gugupnya.
"Handuk," jawab Sasori singkat sembari menuju ke arah lemarinya, "Dan pastikan kali ini, sebelum aku keluar dari pintu, kau lebih dahulu keluar dari kamarku."
Dengan senang hati Deidara lakukan…
"Oke! Oke!" ia pura-pura tampak kesal dan melempar kedua tangannya ke udara, "Selamat malam oke? Dan semoga hari esok kau terbangun dengan pribadi yang lebih ramah lagi dari ini!" ujarnya sarkastis.
Begitu sampai di luar kamar Sasori, Deidara kembali melirik pintu kamar yang masih terbuka tersebut.
"Kenapa dia semakin misterius saja, sih…," gumamnya pelan pada dirinya sendiri, sebelum memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidur.
-oOo-
Sakura mendekap kedua tangannya di dada dan sedikit mengerutkan badannya. Udara malam terasa sangat dingin—dan baru kali ini ia merasa begini dingin. Maklum saja, ia jarang sekali pergi ke suatu tempat tanpa harus berada di dalam mobil yang melindunginya dari buruknya cuaca luar. Jikapun ia malas pergi, maka ia tinggal menyuruh pelayannya untuk keluar untuk mengerjakan apapun yang seharusnya ia lakukan sendiri.
Namun malam ini tidak. Ia baru saja keluar dari rumah Ino—ia telah datang menepati janjinya untuk menghabiskan akhir pekan bersama dengan sang sahabat. Namun sialnya, baru saja ia menghabiskan dua jam di rumah tersebut, kedua orang tua Ino datang ke kamar putri mereka (di mana saat itu Sakura dan Ino sedang asyik membaca majalah fashion yang mengeluarkan edisi terbaru), dan memberitahukan bahwa keluarga Yamanaka harus pergi saat itu juga karena mendapat kabar mendadak bahwa nenek mereka masuk rumah sakit akibat sakit tuanya yang kambuh.
Begitulah latar belakang sang putri Haruno kini tampak berjalan pelan menelusuri jalanan di kala malam yang sepi ini. Ia akhirnya benar-benar pergi dari rumah Ino, tidak sebelum beberapa kali meluapkan amarah dan kekesalannya pada sahabatnya. Wajar saja Sakura marah, karena ia harus pulang di pukul 11 malam seperti ini. Gelap. Jalanan sepi. Dan angin yang dingin yang tidak bisa ia tepis bahkan dengan mantel merah mudanya. Langkahnya sedari tadi terlihat pelan. Lemas, dan terkesan terseret. Maklum saja, ia tadi hanya makan malam sedikit karena program diet yang ia jalankan sebagai akibat dari angka 1kg yang bertambah dari berat badannya yang ia timbang tiga hari yang lalu. Plus, secara alami memang Sakura bukanlah tipe yang terbiasa berjalan jauh. Jadi menghabiskan waktu berjalan beberapa ratus meter dari rumah Ino saja ia sudah merasa lelah dan lemas.
Sembari masih menggerutu kecil merutuki Ino, gadis itu kembali merogoh ponselnya dan menekan satu nomor yang menjadi tombol speed dial dari suatu nomor telepon. Itu adalah nomor telepon pengawalnya yang terbaru—Sasori—yang otomatis terdapat dalam tombol speed dial 2 dalam keypad ponselnya. Ia mendekatkan smartphone itu ke telinga dan menunggu bunyi deringan itu berhenti dan tergantikan oleh suara yang paling dirindukannya.
Baru sehari saja ia tidak bertemu Sasori, rasanya ia merasa begitu rindu. Sekali lagi, ini semua gara-gara Ino! Sialan sekali ia sudah membuat Sakura berkorban demikian besar dan kini menelantarkannya!
"Ah!" Sakura mendecak kesal ketika sambungan tidak segera terangkat dan segera tergantikan oleh suara operator, "Sasori-kun kenapa tidak mengangkat teleponku, sih…," gumamnya heran bercampur dengan kesal. Pasalnya, sudah sejak dari rumah Ino tadi ia menelpon Sasori, berharap pemuda itu segera datang kemari dan menjemputnya untuk pulang.
Namun sekalipun, telepon itu tidak pernah terangkat.
Gadis itu tidak menyerah. Ia kembali menelpon.
Gagal.
Lagi.
Gagal.
Hingga percobaannya yang kelimabelas kali, tetap saja hasilnya sama.
Sakura memutuskan untuk menelpon salah satu pelayan mansion atau Ayahnya saja. Seharusnya dari awal ia bisa menghubungi mereka, hanya saja ia sungguh berharap bahwa Sasori sajalah yang datang menjemputnya. Tetapi ketika kini tampaknya harapannya makin menipis, maka ia memutuskan untuk menghubungi siapapun yang bisa ia hubungi untuk menjemputnya.
Belum sempat ia selesai menekan tombol, layarnya tiba-tiba menggelap.
Lowbat.
…. Tidakkah semua bisa menjadi lebih sempurna dari ini?
"AAAAAAAA!" teriakan keras bernada kesal itu terdengar bersama dengan hentakan-hentakan kecil kaki itu di tanah. Kedua matanya memejam erat dengan kedua tangan mengepal—ekspresi kesal yang sangat tampak dari dirinya, "Kenapa harus habis baterainya, coba? Kenapa? Kenapaaa?!" dengan gemas ditekan-tekannya sembarang tombol di ponselnya, namun ponsel canggih itu sama sekali tidak merespon sedikitpun.
Dengan sekuat tenaga, karena kesal, Sakura melempar keras HP-nya ke sembarang arah. Dan smartphone canggih itu berakhir di tanah setelah menghantam batangan pohon yang berdiri tegak di tepi jalan.
"Dasar ponsel tidak berguna," rutuknya entah kepada siapa. Helaan napas berat dan keras terhembus dari hidung dan mulutnya. Kedua emeraldnya menyipit, memberikan pelototan kepada ponsel yang tergeletak di depan sana.
Dan saat itulah kesadaran menghantam otak Sakura.
Ponsel mati.
Ia sendiri.
Ia tidak bisa menghubungi siapapun.
Dan lebih buruknya lagi, jarak rumahnya dan Ino masih jauh dari sini—sangat jauh untuk hanya ditempuh dengan jalan kaki.
Dan dingin.
'Kruuukkkk…'
Dan lapar.
Mana ia tidak membawa ponsel kedua dan ketiganya. Dompetnya pun tertinggal di rumah!
"Uh…," tiba-tiba saja nyali Sakura menjadi ciut untuk melanjutkan semuanya. Semua pikiran-pikiran buruk berseliweran di kepalanya. Adegan-adegan menyeramkan dari drama dan film yang ia tonton, seketika teringat dan membuatnya berkeringat dingin ketika menyadari bahwa beberapa adegan itu bisa saja terjadi nyata terhadap dirinya sekarang.
Ia kembali berjalan, namun kali ini dengan langkah lebih pelan dan pendek-pendek. Kepalanya yang berhelai merah muda sesekali menoleh gentar ke sana dan kemari, takut jika tiba-tiba ia menemukan hal menyeramkan tiba-tiba jika ia menolehkan kepalanya. Suara hembusan angin sekarang justru terdengar seperti film-film horor, membuat dirinya merinding seketika. Apalagi jalan ini sepi dan lumayan gelap—bahkan sedari tadi Sakura belum menemukan satupun kendaraan atau orang yang lewat atau tampak matanya.
"Apakah semua orang malam minggu ini pergi berkencan?" gumamnya pada diri sendiri sembari menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Perutnya yang lapar dan fisiknya yang lelah sama sekali tidak membantu. Ia sudah merasa takut, itu saja sudah cukup membuatnya merasa nyaris putus asa.
"Uh…" ketakutannya bukan semakin mengecil, namun semakin membesar ketika setelah beberapa menit ia berjalan, belum juga ia menemukan satu orangpun yang bisa ia mintai pertolongan. Entah sejak kapan daerah ini menjadi sangat sepi begini.
Bagaimana jika ada orang jahat?
Bagaimana jika ada saingan bisnis ayah yang menculiknya…
"Uh…," tanpa Sakura sadari, kedua matanya sudah tergenangi air. Dan tak butuh waktu lama bagi air itu untuk berlomba terjatuh mengaliri kedua pipinya yang dingin karena udara malam.
Ia terisak.
Ia merasa takut. Lelah. Kepalanya pusing.
Ia ingin pulang.
Isaknya semakin keras ketika langkahnya berhenti dan gadis itu memilih berjongkok di tempatnya memberhentikan langkah. Ia sembunyikan wajahnya di tangkupan kedua tangannya yang tertaruh di atas lututnya yang ia tekuk. Bahunya bergetar menandakan isak tangis yang mengguncang.
Ia takut.
"Diam bocah! Diam atau kau kami bunuh!"
"Hmmmpphhh!"
"Hahaha! Sayang sekali, gadis secantik dirimu harus terlahir sebagai putri tunggal Kizashi Haruno. Maka jangan heran jika kami tidak segan-segan melukai wajah cantikmu hingga kau tak bisa menatap cermin lagi."
"Hmppphh!"
"Kau berteriak pada siapa? Tidak ada yang akan menolongmu, bocah!"
"Tidak ada yang mendengarmu."
"Tidak ada."
"Jadi diam atau aku tak segan-segan menamparmu lagi seperti tadi."
Semua bayangan akan kejadian beberapa bulan yang lalu berkelebat di memorinya, lengkap dengan suara-suara yang terngiang di telinganya. Kejadian saat dirinya tiba-tiba disekap oleh orang tak dikenal saat ia menantikan kedatangan Iruka dan Asuma, dua mantan pengawalnya, untuk menjemputnya sepulang sekolah.
Ia benar-benar takut dan ingin melupakan kejadian itu.
Mereka melukai Sakura. Mereka membentak Sakura. Mengancam dan semua perilaku buruk Sakura dapatkan.
"Hiks… Hiks…," Sakura semakin merapatkan tekukan lututnya dan semakin merapatkan wajahnya pada telapak tangannya.
Ia takut.
"Ayah…."
Ia sendiri di sini.
"Hiks… Sasori-kun—hiks…"
Dingin.
"Sa-Sasori-ku—hiks… hiks…."
Lelah.
"Sasori-kun…"
Ia ingin pulang.
"Hei, apa kau tidak apa-apa?"
Sebuah suara baru terdengar di sela suara hembusan angin dan isakan Sakura. Bernada khawatir sekaligus heran, namun Sakura tidak menghiraukan karena ia masih tenggelam dalam bayangan ketakutannya.
Sebuah langkah kaki terdengar menapaki aspal yang dingin. Dari suaranya, terdengar mendekati Sakura yang masih belum merespon apapun.
"Hei, kau kenapa?" suara itu terdengar lagi, namun kali ini lebih jelas mengingat jaraknya dengan sang gadis yang sudah lebih dekat.
Tak mendapat respon apapun dari sang gadis yang masih saja berjongkok, menunduk, dan menangis, orang asing tersebut semakin menatap heran bercampur khawatir. Wajar saja, ia tiba-tiba menemukan seseorang berjongkok diam di tengah jalanan yang lengang di malam yang dingin. Mana menangis pula…
Orang tersebut pada akhirnya menghela napas, lantas membungkuk dan meletakkan halus—agar tidak mengangetkan gadis itu—telapak tangan kanannya di pundak kiri gadis tersebut. Jelas ada keterkejutan dari sang gadis ketika merasakan sentuhan itu, terlihat dari bahunya yang sedikit menegang dan isaknya yang sejenak berhenti.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya orang itu pelan dan hati-hati, berniat untuk tidak menakuti Sakura.
Dan pada akhirnya, setelah termangu beberapa saat, Sakura akhirnya memberanikan diri untuk mendongak. Kedua matanya tampak basah berikut dengan seluruh wajahnya yang bersimbah air mata. Dan kedua emeraldnya seketika memantulkan sosok seorang pemuda yang berdiri di depannya. Sosok pemuda yang dari sekilas lihat saja, seketika mengingatkannya pada Ino Yamanaka.
Iris Sakura tampak bergetar dan mulutnya sedikit ternganga.
Apakah laki-laki ini salah satu musuh Ayahnya? Apakah kini ia akan diculik lagi?
Laki-laki itu tersenyum pelan, seolah berusaha menenangkan gadis yang masih berjongkok di depannya, "Apa kau baik-baik saja, Nona?"
Terburu terjebak pada pemikiran-pemikiran buruk dan negatifnya, Sakura merasa tubuhnya seketika membeku. Ia tidak mampu berkedip, bahkan ia tidak mampu bersuara. Ia ingin berteriak tetapi suaranya seolah tersangkut di tenggorokan.
Dan kini ia merasa begitu takut hingga ia tidak berani bahkan untuk menangis.
Dan Sakura tiba-tiba merasa sangat pusing seolah-olah ia bisa merasakan Bumi yang berputar terlalu cepat.
Si laki-laki hanya menatap heran ketika Sakura tidak kunjung merespon, hanya menatapnya dengan pandangan terbelalak seolah-olah laki-laki itu adalah mimpi buruknya.
"Nona—hei!"
Dan gadis itu keburu memejamkan mata dan ambruk tergeletak di aspal dingin di depannya.
-oOo-
Bernapas berat dan dalam-dalam, Deidara merasa bersyukur telah sampai di kos-kosannya. Pasalnya, ia merasa lelah karena berbeda dengan saat ia berangkat di mana ia hanya sendiri untuk pergi ke rumah salah satu temannya, namun kini ia pulang dengan membawa satu orang asing bersamanya. Mending jika jalan sendiri, orang asing itu kini tidak sadar diri di punggung dari Deidara yang menggendongnya.
Sebelumnya, Deidara sudah mencoba membangunkan. Gadis itu—orang asing itu—hanya tersadar beberapa kali, itupun hanya sebentar sebelum matanya kembali terpejam dan ia tak sadarkan diri. Merasa tidak tahu lagi harus bagaimana setelah Deidara tidak menemukan dompet bermuat identitas si gadis ataupun ponsel yang bisa Deidara gunakan untuk menghubungi siapapun yang ada di daftar contact ponsel gadis itu.
Jadilah Deidara membawa gadis itu pulang bersamanya di kos-kosan ini. Bukannya apa, hanya saja saat melihat gadis itu di jalan tadi, ia segera sadar bahwa gadis inilah yang dahulu ia lihat datang ke kampusnya dan sempat membuat heboh dengan mobilnya… Makanya ia berinisiatif untuk membawa gadis ini ke kosan karena berpikir bahwa gadis ini mengenal Sasori dan Sasori pasti tahu di mana rumah gadis yang tengah pingsan ini sekarang.
Namun tetap saja, cukup melelahkan juga, karena pemuda itu harus menggendong gadis itu dari mereka turun bus hingga ke kosan ini…
"Aku pulang."
Tidak ada yang menyahuti dan Deidara tidak heran. Wajar saja. Sudah lewat dini hari dan oleh sebab itu, ia yakin kedua temannya yang lain pasti juga sudah tidur.
Deidara kembali menutup pintu secara perlahan, untuk kemudian membenarkan posisi gadis yang digendongnya di punggungnya.
"Ah… apa berat cewek selalu menyakitkan seperti ini?" gumamnya kesal karena ia nyaris seperti habis berolahraga di malam buta ketika kini ia pulang dengan tubuh yang basah kuyup.
Deidara mulai melangkah, hendak menidurkan sang gadis di sofa—bukannya tak sopan, tapi di mana lagi? Tidak mungkin, 'kan, gadis itu tidur di kamar Deidara atau kamar dua orang temannya? Ada sih kamar kos yang kosong… tetapi kuncinya 'kan pastinya di bawa Ibu Kos yang nyentrik itu.
Tetapi niat Deidara meletakkan si gadis di sofa ruang tamu, terhenti ketika ia melihat bahwa sofa itu sudah terisi oleh manusia lain. Temannya, yang kini tampak terpejam dengan posisi terduduk di lantai dengan kepala terletak di sofa. Laptop, berkas, buku, lembaran, dan apa lagi, terletak berserakan di permukaan sofa yang akan Deidara gunakan untuk meletakkan 'gadis asing tersesat dan menangis' yang telah ditolongnya.
Deidara seketika menyipit kesal ke arah temannya, "Pasti ketiduran waktu mengerjakan tugas atau laporan organisasi…," gerutunya, "Kenapa dia hidupnya ga pernah nyantai, sih?" entah karena ia benar-benar peduli pada temannya, atau karena sofa yang mana ia ingin meletakkan gadis itu sudah terpakai, atau karena ia cukup lelah fisik, ia menggerutu kesal.
Namun seketika ia menyadari sesuatu.
"Ah… jika Sasori tidur di sini…," jari telunjuknya mengarah pada pemuda yang tengah terlelap pulas, "Berarti kamarnya kosong dong?"
Tanpa pikir panjang dan peduli pada apa yang akan terjadi sebagai akibat dari keputusannya, Deidara segera berbalik dan meniti tangga.
Ia sudah cukup lelah untuk peduli pada Sasori dan kemarahan pemuda itu nantinya.
Lagipula, Sasori pasti tak keberatan karena bagaimanapun juga, pemuda itu pasti mengenal gadis ini 'kan?
-oOo-
Terbangun di pagi buta karena getaran di ponselnya, Sasori segera tersadar bahwa ia telah ketiduran di sofa di tengah pekerjaannya untuk menyelesaikan laporan kegiatan yang baru saja diketuai olehnya. Pemuda itu membuka sedikit mulutnya dan menguap, merasa kantuk masih menggelayuti kedua matanya. Maklum, ia baru saja tertidur sejam yang lalu. Dan itu bukan waktu yang cukup baginya yang merasa lelah karena seharian berkegiatan di kampus.
Plus, tidur dengan posisi terduduk dengan kepala di sofa, tidak akan menghasilkan tidur yang lelap, segar, dan sehat.
Pemuda itu segera membereskan peralatannya dengan nyawa yang seolah masih loading process untuk terkumpul. Ia segera berdiri dengan semua peralatan yang ia sangga di kedua lengannya. Berjalan dengan langkah sedikit tertatih karena kantuk, ia meniti tangga untuk kemudian menuju kamarnya.
Kamarnya terlihat gelap ketika ia membukanya. Mungkin Sasori tadi lupa menyalakan lampu—Sasori tak ingat dan tak peduli. Ia hanya ingin segera kembali berbaring. Nanti ia harus kuliah pagi plus rapat, jadi ia tidak ingin kehilangan fokus hanya gara-gara ia kurang istirahat.
Setelah menutup pintu dan kemudian meletakkan semua peralatannya di mejanya, ia segera menuju ranjangnya. Tak peduli pada apapun lagi, ia segera membaringkan diri di satu sisi ranjangnya.
Dan ia menghela napas lega.
Tak butuh waktu lama, kantuk segera menguasainya dan ia kembali berada di alam mimpinya.
-oOo-
"Ya. Oke-oke. Aku akan memberitahunya segera. Kau sabar saja dan nanti biar kusuruh dia menelponmu balik…. Oh ayolah, aku tidak sebodoh itu untuk lupa apa pesanmu. Dasar… Oke. Dah."
Kisame meletakkan gagang telepon kos kembali ke tempatnya. Ia baru saja selesai sarapan dengan bubur instan dan hendak berangkat ke kampus, sebelum telepon kos berdering dengan nyaring ketika jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi.
Pemuda dengan pigmen biru di seluruh tubuh itu, segera berjalan ke arah kamar sahabatnya. Begitu sampai ditujuan, Kisame langsung membuka pintu dan tidak repot-repot mengetuk pintu karena ia pikir percuma saja.
Mengetuk pintu atau tidak, tetap saja nanti Kisame ujung-ujungnya pasti kena semprot. Sasori saat bangun tidur menyeramkan sekali sih…
Namun pemuda berpigmen biru urung mengucapkan kalimat apapun yang siap terlontar dari mulutnya yang sudah terbuka. Matanya membelalak. Tubuhnya membeku. Nafasnya seolah tercabut paksa bagaikan ikan yang terkena kail dan dipaksa menghirup udara di atas air.
Itulah ekspresi pemuda itu saat menatap ke arah sana—ranjang sahabatnya. Sasori memang ada dan tampak terlelap di sana—seperti biasanya.
Namun pemuda itu tidak terbaring sendiri. Ada gadis yang turut terlelap di ranjang itu—tepat di samping sahabat Kisame.
"OMGOMGOMGOMGOMGOMG," Kisame segera kembali menutup pintu kamar dengan wajah memerah, menjadikan kulitnya yang biru semakin tampak absurd. Ia tak hanya merasa kaget bin malu tingkat dewa, namun sekaligus tak percaya.
"Tadi itu Sasori? Ini kamar Sasori, 'kan? Ini kos kami, 'kan? Dan tadi beneran ada cewek tuh, di samping dia?" gumamnya tak karuan dan bingung sendiri. Wajar saja, ia cukup kaget karena dua alasan. Pertama, Sasori, setahunya adalah pemuda baik-baik. Jadi menurut Kisame, pemuda itu tidak akan berbuat 'demikian'—setidaknya, tidak di kos dimana sahabat-sahabatnya bisa memergokinya. Dan kedua, yang paling penting, seingat Kisame, tidakkah Sasori masih menjalin hubungan dengan kekasihnya, Hinata Hyuuga?
"Arrrghhh!" Kisame menjambak rambutnya sendiri, merasa pusing dan tidak mengerti. Ia memutuskan untuk bertanya pada Deidara saja. Mungkin pemuda itu paham dan mengerti.
"Emang.. wajah-wajah ganteng itu pandai menipu," ujarnya, entah kepada siapa, seraya beranjak dari depan kamar Sasori.
-oOo-
Badan itu menggeliat sedikit untuk meregangkan kekakuan yang ia rasakan akibat posisi tidurnya yang memang jarang bergerak. Sinar mentari menerobos memasuki jendela dan menyinari wajahnya—membuatnya sedikit mengernyit sekaligus teringat bahwa hari sudah pagi. Ia membuka mata perlahan dan otomatis arah pandangannya terarah pada jam digital di meja di sampingnya.
Ia seketika teringat bahwa satu jam lagi, ia akan ada rapat.
Sasori menguap sekali lagi sembari membalikkan tubuhnya.
Namun uapnya terhenti, bersama dengan sisa-sisa kantuk yang seketika buyar, begitu mendapati apa yang ditatapnya begitu ia berbalik posisi berbaringnya.
Sedetik.
Dua detik.
Tiga detik.
Hingga lima detik ia menatap dengan kedua mata yang berangsur-angsur melebar. Ia meyakinkan dirinya bahwa ia kini sudah sadar sepenuhnya dan terbebas dari alam mimpi. Lantas…
Lantas mengapa ada orang lain di ranjangnya?
Seorang gadis yang tertidur satu ranjang dengannya.
Dan terlebih…
Sasori secara insting, menyipitkan mata dan mengucek-kucek pelan kedua matanya. Ia kembali menatap tajam arah pandangannya semula.
Bukankah gadis itu Sakura Haruno?
.
.
Seolah-olah waktu terhenti dan Sasori tidak mampu berpikir, tidak mampu bertindak, dan tidak mampu bersuara.
Hanya menatap.
.
.
Belum sempat ia melakukan apapun sebagai respon 'kejutan dan keanehan' yang ia dapati begitu ia membuka mata, kedua mata yang ia tatap, yang sebelumnya tampak terpejam, kini perlahan membuka.
Pelan, untuk kemudian berangsur-angsur menampakkan warna emerald dari balik kelopak mata itu.
Pandangan Sakura masih tampak sayu, seolah ia belum sepenuhnya tersadar. Ia menatap Sasori yang terpaku melihatnya. Awalnya Sakura tampak bingung, namun itu sesaat sebelum kedua matanya kembali terpejam bersama dengan senyuman lebar dan malas, tersungging di bibirnya.
"Sasori-kun…."
Dan Sasori secara insting dan refleks mendorong sedikit kasar gadis yang tiba-tiba menggeser posisi berbaringnya untuk memeluk tubuh Sasori dengan kedua lengannya yang ramping.
"Aw!"
Sakura baru sadar bahwa ia tidak tengah bermimpi, ketika ia merasakan rasa sakit sehabis kepalanya membentur sedikit keras ke sandaran ranjang Sasori yang terbuat dari kayu.
-oOo-
"Aku tidak mau pergi, titik!"
Kisame dan Deidara hanya terbisu diam sembari duduk di sofa, menatap dua manusia yang ada di depan mereka. Bahkan Kisame dan Deidara harus meneguk ludah berkali-kali ketika mendapati ekspresi Sasori yang berdiri di depan sana. Sumpah, seumur-umur mereka menjadi sahabat Sasori, mereka hanya pernah sekali saja mendapati Sasori tampak demikian marah, yakni waktu dulu Kisame iseng menggoda Hinata-chan saat Sasori mengajak kekasihnya itu bertandang ke kosan ini.
Dan kini, ekspresi itu kembali hadir di wajah si pemuda berambut merah saat pagi-pagi ia terbangun dengan mendapati bahwa ada gadis yang tertidur di sebelahnya. Ekspresi yang Sasori tampakkan saat ia keluar dari kamar dan langsung menerjang Deidara dan Kisame yang waktu itu sedang membicarakan hal yang sama—apa yang Kisame lihat di kamar Sasori beberapa saat yang lalu. Ekspresi yang tidak berubah saat Sasori menatap menanyai mereka dengan suara sangat lirih dan tertekan hingga terdengar menakutkan, akan apa yang sebenarnya terjadi hingga ada satu gadis yang tertidur di kamarnya.
Dan ekspresi itu pula yang ada di wajah yang biasa tampak datar dan bosan itu, ketika tangan kanannya mencengkeram erat kerah kemeja Deidara sedangkan tangan kirinya mencengkeram kuat hingga menimbulkan lebam jelas, lengan dari pemuda berambut kuning yang sama. Semua itu sebagai hasil langsung saat Deidara menjelaskan bagaimana gadis berambut pink itu ada di kamar sahabatnya.
Sasori menghela napas lelah. Kentara sekali ia berusaha mempertahankan sebisa mungkin kesabarannya yang dari awal memang sudah tipis dari pabriknya sana, "Kau harus sekolah, Haruno-san," jelas Sasori sekali lagi dengan nada tertekan, "Aku harus mengantarmu. Sebentar lagi pukul setengah delapan dan bukankah itu waktu saat bel masuk sekolahmu berdering?"
Sasori merasa sudah cukup hebat untuk tidak lepas kontrol pada saat ini—untuk tidak membentak gadis itu, untuk tidak membunuh Deidara, dan untuk tidak melempar sesuatu ke arah Kisame, tak peduli bahwa yang terakhir sama sekali tidak mengetahui dan terlibat dalam apapun juga.
Alih-alih menurut, Sakura justru menggeleng keras-keras—meskipun ia tak bisa menampik bahwa ia merasa takut akan betapa menyeramkannya ekspresi Sasori sekarang. Jauh lebih menakutkan ketimbang saat dahulu ia datang ke kampus pemuda itu dengan mobil mewahnya, "S-Sudah kubilang, 'kan, aku akan pergi ke sekolah jika kau berjanji selepas pulang sekolah, kau mengajakku lagi kesini."
Deidara dan Kisame hanya terdiam menyaksikan perdebatan dua orang di depan mereka. Menatap tidak mengerti bercampur takut dan kesal. Terutama Deidara, pemuda itu bahkan belum bisa menghilangkan rasa sakit yang ia dapatkan di lengannya. Oke, ia akui ia memang salah. Tetapi Sasori juga tak usah berlebihan begitu juga, 'kan…
"Aku harus membawamu pulang, Haruno-san," Sasori menjelaskan kembali, "Kau sudah tidak pulang sejak semalam. Tidakkah Ayahmu mengkhawatirkanmu?"
"Aku sudah ijin menginap di rumah Ino, kok," jujur Sakura, meskipun melewatkan fakta bahwa ternyata keluarga Ino semalam harus pergi. Sakura menatap tak mengerti bersamaan dengan wajahnya yang berangsur-angsur cemberut, "Lagian kenapa aku tidak boleh kesini, sih?"
"Itu karena kau tidak ada urusan di tempat ini—"
"Tapi aku ingin mengenal tempatmu tinggal—" Sakura tersadar apa yang barusan diucapkannya. Kontan saja, wajah dan telinganya merona panas, "M-maksudku, aku ingin mengenal lebih Dei-chan dan Kisa-pyon."
"Benar, Sasori," kali ini Kisame yang menyela. Pemuda itu meringis lebar, "Kami juga ingin lebih kenal dengan Haruno- saaaa—" dan ekspresi bahagia Kisame langsung menciut ketika mendapat deathglare dari Sasori, "—aann… kupikir kau harus pulang."
Kisame selalu membenci kemampuan Sasori untuk membuat orang lain bungkam hanya dengan tatapan matanya. Seperti sekarang ini.
"Tetap saja, kau harus pulang, Haruno-san—"
"Ayolah, Sasori," Deidara tidak bisa menahan untuk tidak bersuara. Separuh jengkel karena ia harus menyaksikan perdebatan ini, dan separuh jengkel karena Sasori tampak keras kepala pada gadis berambut pink itu. Padahal menurut Deidara, gadis itu cukup cantik, imut, dan yang penting, kaya, "Biarkan dia main lagi ke sini apa susahnya, sih—"
"Diam Deidara atau aku merobek mulutmu saat ini juga."
Bahkan Kisame saja secara insting turut merapatkan mulutnya.
"Sasori-kun," ujar Sakura tidak mengerti, "Kenapa harus marah pada Dei-chan?" di detik itu, alis Deidara berkedut dongkol karena sekarang bertambahlah jumlah orang yang memanggilnya dengan embel-embel '-chan', "Dia sudah menolongku kemarin. Aku bisa mati kedinginan dan ketakutan jika tak ada dia."
"Nah!" dukung Deidara sembari menjentikkan jarinya ke arah Sakura. Namun antusiasnya segera padam begitu ia mendapatkan pelototan dari si pemuda berambut merah.
Sasori memutuskan tidak ada gunanya berdebat terus-menerus. Maka ia langsung menarik tangan Sakura, meski usahanya terhenti saat Sakura menolak untuk melangkah, "Aku tidak mau pergi sebelum kau berjanji!"
"Tidak, Haruno-san. Aku bertugas melindungimu dan menjagamu. Maka aku harus memastikan kepada Ayahmu bahwa kau baik-baik saja—dengan cara membawamu pulang ke rumahmu—"
"J-Jika begitu kau harus menuruti perintahku—aku majikanmu, 'kan?"
"Ayahmu yang memperkejakanku."
"Iya sih… T-tapi, kau lihat? Aku tidak membawa seragam. Bagaimana bisa aku hadir di sekolah?"
"Kesiswaan sekolahmu pasti menyediakannya, bukan?"
Ah, Sakura lupa kalau Paman Kakashi pernah bilang bahwa Sasori adalah Mahasiswa Berprestasi andalan kampus. Jadi pastinya, tidak mudah dibodohi…
Sasori menghela napas keras, secara terang-terangan menyatakan betapa frustasi dan kesalnya dia, "Aku sudah cukup terganggu denganmu yang tiba-tiba ada di kamarku pagi ini. Jangan buat aku marah lagi, Haruno-san. Kumohon," itu adalah usaha terbaik Sasori untuk menyampaikan kekesalannya dengan sopan tanpa perlu mengasari gadis itu.
Gadis ini benar-benar….
Sasori segera kembali menarik tangan Sakura. Namun Sakura kembali memberontak dan segera melepaskan pegangan tangan Sasori sembari mengaduh kesakitan, "Aduh-duh-duh," ia memegangi kepalanya dan berekspresi kesakitan, sembari sesekali melirik Sasori. Pemuda itu memberikan ekspresi heran kepadanya, "Aduh… Kepalaku sakit….," rintih Sakura dengan sebaik mungkin menampakkan kesakitan baik dalam ekspresi atau suaranya, "Kupikir aku perlu istirahat sesegera mungkin…"
Sakura menelan ludahnya. Berharap bahwa aktingnya cukup setara dengan para pemenang piala Oscar agar Sasori percaya dan menuruti keinginannya, "… Kupikir aku tidak bisa ke sekolah dan harus disini…"
Namun sepertinya harapan Sakura meleset. Karena alih-alih khawatir, Sasori justru menghela napas sembari tak bisa menahan untuk tidak memutar bola matanya. Secara jelas dan cepat menangkap trik Sakura untuk membujuknya.
"Sepulang sekolah kau boleh kesini… tapi sebentar saja, oke?"
Daripada gadis itu tidak sekolah dan di sini dari pagi sampai sore, pikir pemuda itu.
Sesuai dugaan, ekspresi kesakitan Sakura segera hilang ketika gadis itu segera tersenyum lebar dan melonjak girang. Kisame dan Deidara pun ikut bersorak—entah mengapa, dan segera terdiam ketika Sasori segera melirik tajam ke mereka.
"Terimakasih, Sasori-kun…" pelukan Sakura gagal ia lakukan ketika tangannya keburu ditarik oleh pengawalnya.
Sembari melangkah cepat karena sedikit terseret, gadis itu menoleh dan melambaikan tangan pada Kisame dan Deidara sembari tersenyum lebar, "Dah, Kis-pyon! Dah Dei-chan!"
Kisame dan Deidara balik melambai dan tersenyum lebar ke arah gadis yang sudah pergi bersama dengan sahabat mereka.
"Kenapa Sasori selalu beruntung sekali, ya?" gumam Deidara sembari menatap envy ke punggung pemuda yang sudah beberapa jauh dari kosan, "Sudah dapet kerjaan enak, gaji besar, mana yang dijagain cewek cantik dan imut gitu pula."
"Aku pasti rela-rela aja meski ga dibayar, kalau bisa 24 jam bersama gadis kayak gitu, mah," Kisame mengangguk, "Dan aku kaget sekali saat sadar bahwa gadis itu adalah gadis berambut pink yang dahulu bikin heboh melalui kedatangannya dan mobilnya di kampus kita."
Deidara menghela napas, "ITULAH MENGAPA aku membawa gadis itu kemari saat kemarin menemukannya menangis di jalan—kupikir dia mengenal Sasori atau apa karena dulu datang ke kampus dan memeluk Sasori."
"Apapun, yang jelas Sasori keren banget nasibnya," Kisame menggeleng-gelengkan kepala dengan heran, "Sayang aja dia terlalu belagu dan menyebalkan untuk bisa bersyukur."
-oOo-
Sakura menatap ragu sekaligus terkejut ketika menatap kendaraan di depannya. Sedangkan pengawalnya, Sasori, sudah sejak beberapa detik yang lalu berada di atas kendaraan tersebut dan menatapnya dengan tidak sabaran.
"…Kita akan naik…," Sakura menunjuk kendaraan ramping yang sedang mengeluarkan deruman halus dari mesinnya yang sudah menyala, "…motor?"
Sasori mengangguk, "Kau tidak membawa mobil dan sekolahmu masuk setengah jam lagi," ujar Sasori menatap heran, "Maaf, tapi hanya ini yang kupunya."
Merasa mungkin Sasori tersinggung oleh sikapnya, Sakura segera menggeleng kuat-kuat dan menggerak-gerakkan kedua telapak tangannya. Gadis itu tertawa lirih dan kaku, "T-tidak, kok, Sasori-kun. Aku sama sekali tidak keberatan…"
'Hanya saja seingatku terakhir kali aku naik motor adalah 3 tahun yang lalu…' lanjut Sakura dalam batinnya, namun enggan ia ucapkan. Ia sudah cukup membuat Sasori marah pagi ini, dan ia tidak mau membuat pemuda itu lebih jengkel lagi padanya.
"Kalau begitu cepat naik."
Sakura mengangguk ragu, untuk kemudian berjalan mendekat. Karena ia harus menaiki motor, maka ia perlu berpegangan pada sesuatu. Dan memikirkannya, otomatis si gadis remaja itu segera merasa bahwa seluruh darahnya mengalir di wajah dan membuat parasnya memanas seketika.
Pemikirannya sudah sibuk sendiri dengan jeritan batinnya yang menanyakan apakah ia benar-benar akan mendapatkan kesempatan untuk memeluk Sasori.
'Ah, Sakura mikir apa kamu,' batinnya menghardik diri sendiri, 'Jangan mesum di pagi-pagi!'
"Oh ya, pakai ini dulu," Sasori tiba-tiba memberikan satu benda ke Sakura—helmet Deidara yang tadi baru saja ia pinjam untuk Sakura, "Aku tidak mau diberhentikan oleh polisi nantinya."
Sibuk oleh pikiran galaunya, Sakura hanya menerima tanpa protes atau banyak bicara seperti ia biasanya. Ia segera memasang helmet itu ke kepalanya. Tetapi ketika ia hendak mengunci tali helmet, ia agak kesulitan. Maklum saja, motor dan helmet bukanlah benda-benda yang familiar dalam kehidupannya.
"Uh…," gadis itu hanya meringis kikuk ketika Sasori menatapnya dengan pandangan datar saat Sakura masih bersusah payah mengunci tali helmetnya, "A-Ahahaha…. Sesepertinya helmet ini agak rusak, ya, Sasori-kun?"
"…."
Sakura mencoba lagi. Kesepuluh jemarinya tampak bergerak tak beraturan dan random sebagai bentuk usaha desperetnya untuk mengunci helmet. Selain agar Sasori tidak menunggu lama, juga ia tidak ingin kelihatan seperti orang bodoh di depan pemuda yang sama.
Hingga ketika hampir dua menit lebih ia berusaha tak belum juga tali sialan itu terkunci, gerakannya terhenti ketika ia melihat Sasori sudah bergerak membantunya. Entah karena merasa kasihan atau tidak sabar, pemuda itu pada akhirnya tidak hanya diam.
Namun bukan itu masalahnya yang membuat Sakura merasa tidak karuan baik pikiran maupun hatinya. Adalah jarak Sasori dengan dirinya yang telah terminimalisir. Adalah kedua tangan pemuda itu yang sempat bergesekan dengan kedua tangannya. Adalah jemari itu yang sempat menyentuh ujung dagunya di tengah usaha pemiliknya untuk membantu Sakura.
Sakura berdoa semoga ia tidak mati di detik-detik membahagiakan itu. Wajar saja jika ia takut: jantungnya berdetak sangat cepat seolah-olah organ itu akan meledak di detik itu juga.
"Sudah, ayo naik," ujar Sasori sembari kembali menarik diri dan mulai menggas motornya.
Merasa seperti orang linglung, Sakura hanya mengangguk dan segera menaiki motornya. Tindakannya itu sama sekali tidak memperbaiki keadaannya yang sudah tidak karuan. Karena, detakan jantungnya semakin berakselerasi begitu ia menyentuhkan jemarinya pada kedua pundak Sasori demi berpegangan saat ia menaiki motor pemuda itu.
Dan sepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara. Sasori memang dasarnya pendiam, dan Sakura yang cerewet seolah kehilangan bakatnya tersebut ketika mulutnya terasa terkunci rapat. Deru angin seolah tak bisa didengarnya akibat kedua telinganya yang seolah terjejali oleh suara detakan jantungnya yang menggila. Bahkan ia tidak sadar jika beberapa saat kemudian, ia sudah melingkarkan kedua tangannya ke pinggang pemuda itu. Memeluknya erat. Menempelkan sebelah pipinya pada punggung itu. Merasakan hangatnya tubuh itu, lebarnya punggung yang menjadi sandaran kepalanya.
Biar saja jika nanti Sasori-kun marah.
Sekali saja, sekali saja Sakura ingin merasakan bahagia dan indahnya cinta pertamanya.
-oOo-
Saat merasakan pegangannya di pinggang Sasori terlepas dengan cara sedikit paksa itulah Sakura baru sadar bahwa mereka sudah sampai di sekolahnya. Wajar saja, gadis itu seolah lupa pada dunia dan bahkan hidupnya sendiri sepanjang perjalanan dari kosan Sasori hingga ke sekolah ini.
"Kita sudah sampai, Haruno-san," ujar Sasori dengan suara sedikit teredam karena helmet yang masih menutupinya.
Tersadar, Sakura segera menurunkan diri dari jok motor. Sedikit kecewa juga sih karena mereka sudah sampai. Gadis itu diam-diam merutuki keputusan keluarganya untuk mendirikan SMA Haruno di tempat ini, tidak di tempat yang lebih jauh ratusan kilometer lagi.
Melepas helmet—yang kali ini secara random tangannya bisa beruntung membuka kunci tali tanpa perlu dibantu Sasori, Sakura segera menyerahkan helmet itu pada pemiliknya semula. Tersenyum lebar, gadis itu merasa wajahnya masih juga belum normal suhunya saat menatap Sasori.
Ah, bahkan helmet hitam itu tidak bisa menyembunyikan ketampanan pemuda itu dari kedua mata Sakura. Ah, namun tak apa sih. Dengan Sasori memakai helmet, teman-teman gadis sekolahnya tidak akan tahu Sasori—terutama Ino!
"Terimakasih, Sasori-kun," ujar Sakura, "Jangan lupa nanti kau jemput aku lagi dan kita akan main ke kosmu."
Sasori hanya mengangguk sekilas, sembari kedua matanya yang memandang Sakura dengan tatapan lelah bercampur malas.
"Cepat masuklah."
"Oke-okeee," makin meringis lebar, Sakura melambaikan tangan kuat-kuat, "Sampai jumpa lagi, Sasori-kuuuunnn!" teriak gadis itu sembari berlari memasuki gerbang sekolahnya.
Dan Sasori menghela napas berat.
Di saat seperti inilah, ia merasa heran akan dirinya sendiri yang dahulu memutuskan untuk menerima tawaran kerja sebagai pengawal gadis berambut merah muda itu.
Pandangan Sasori sedikit mengedar kesana-kemari, seolah-olah mencari-cari sesuatu. Banyak siswa dan siswi yang datang ke sekolah Haruno. Tengah berjalan kaki ataupun menaiki kendaraan tertentu. Namun, satu sosok tertentu yang dicarinya tidak bisa ia temukan. Satu sosok yang ingin dilihatnya…
"Hinata," tanpa mampu Sasori cegah, nama itu terlontar dari mulutnya.
Pemuda itu tidak mengerti apa yang harus ia katakan jika nanti Hinata mengetahui bahwa ia menjadi pengawal dari temannya, Haruno Sakura.
-oOo-
Pagi itu dimulai dengan baik. Cuaca tampak begitu segar—tanda awal dari musim semi yang baru menyapa. Cuaca yang cerah dan bernuansa ceria dengan kicauan burung dan senyum semangat mentari pagi, tampaknya seolah menjadi lambang akan keadaan kelas tiga A pagi hari itu. Bel sekolah yang belum berbunyi, memberi waktu bagi penghuni kelas tersebut untuk menikmati enam menit terakhir sebelum pelajaran Fisika dimulai. Dan tampaknya, keadaan pagi itu tak seperti biasanya. Namun, lebih dari biasanya. Kenapa?
Ah, coba kita tengok pada gadis berambut pirang yang duduk di bangku kanan nomor tiga dari depan sebelah jendela kelas itu.
"Keren! Kau merayakan pesta ulang tahunmu di Hotel Yukihara, Ino?"
Nah, sudah tahu, 'kan, apa yang membuat pagi ini terlihat berbeda? Tentu saja karena si gadis pirang. Ia duduk manis dengan beberapa teman sekelas yang mengerubunginya. Di tangan mereka masing-masing terpegang sebuah kertas undangan berwarna aquamarine, yang menjadi sebab kegaduhan kelas di pagi hari itu.
"Tentu saja," jawab Ino dengan sedikit menyibak poninya, "Ini ulang tahunku yang ketujuh belas, jadi harus spesial, dong."
Sedangkan teman-temannya hanya mengangguk maklum campur takjub. Tentu saja, gadis dari keluarga kaya macam Ino Yamanaka, untuk menyewa hotel semewah ini untuk pesta ulang tahun tidak akan jadi masalah, 'kan?
Biarpun uang ratusan ribu yen itu dihabiskan hanya untuk satu malam saja.
"Huh, dasar kau. Nanti pesta ulang tahunku akan diadakan di Hawaii, kau tahu?" sahut seorang gadis berambut merah muda yang duduk di sebelahnya. Sedikit bercanda dan sedikit menyombongkan diri.
Ah, kalau si gadis berambut dengan warna senada bunga Sakura itu sih, jangankan di Hawaii, menyewa satu negara Liechtenstein untuk pesta ulang tahunnya, pasti sanggup.
Lagipula Sakura juga masih kesal dengan Ino yang tak sengaja membuatnya pagi ini harus berangkat sendirian tanpa pengawal pribadinya.
Mendengar omongan si gadis tersebut, teman-teman yang mengerubungi bangku mereka semakin terbelalak takjub, sekalipun omongan si gadis masih sebatas janji— belum tentu pasti terjadi.
"Yang benar, Sakura?"
"Keren!"
"Aku tak sabar ingin ikut. Akomodasinya gratis, 'kan?"
"Tapi ulang tahunmu 'kan masih lama."
Dan banyak komentar yang isinya berupa sanjungan.
Membuat hati si gadis yang dipanggil Sakura semakin melambung dan sisi congkaknya semakin menjadi saja.
"Tentu saja. Tapi mungkin aku tidak akan mengundang semua dari kalian. Hanya beberapa saja. Kalian tahu, para eksekutif dan elit dan semacamnya," entah, apa yang membuat si gadis salah memilih kata dan merangkai kalimat, hingga beberapa temannya menganggap ucapannya tadi cukup menyinggung perasaan dan membuat kecewa.
"Hei hei hei, ini ulang tahunku. Kenapa jadi membicarakan ulang tahun Sakura?" sela Ino dengan raut wajah agak sebal, "Ulang tahunmu 'kan lagian masih tujuh bulan lagi," kini pandangannya mengarah pada gadis di sebelahnya.
"Ya ya, Ino. Terserah. Geez, kau ini, baru di Hotel Yukihara saja sudah berlagak," cibir Sakura.
Ino memutuskan untuk tidak menghiraukan ucapan si sahabat sekalipun ada sedikit perasaan terhina yang sempat terasa, "Jadi, kalian jangan lupa datang, ya! Perhatikan juga dress code dan catatan penting lainnya yang harus kalian lakukan saat datang di pesta nanti. Oke?" Ino tersenyum manis, membuat beberapa pemuda yang melihatnya berdeham kikuk sembari berusaha menyembunyikan rona merah.
Sakura memandang lembaran yang ada di tangannya. Sama dengan yang lain, ia juga mendapat surat undangan yang serupa. Malah ia merupakan orang pertama yang mendapatkannya.
Dress code: princess in fairytale-like gown.
Note: harus bawa pasangan, ya! Ada game seru soalnya ;)
Sakura memutar bola matanya. Dress code macam apa ini? Kenapa tidak yang sederhana saja dan yang lebih modern?
Pikiran Sakura akan tata pesta ulang tahun sang sahabat, terhenti saat itu juga ketika pandangan kedua bola emerald-nya tertuju pada bangku paling depan di deret yang sama dengan bangku tempatnya dan Ino berada.
Sudut bibir Sakura sedikit tertarik ke bawah tanda bahwa mood riangnya barusan bagaikan pasir yang tertiup angin di gurun, hilang entah kemana. Tanpa meminta ijin dahulu pada Ino, tangan kanannya menyambar satu buah undangan dari beberapa undangan yang masih belum terbagikan, yang ada di depan Ino.
Tak menghiraukan tatapan aneh dari temannya, dan bercampur protes dari sahabatnya, Sakura segera beranjak dari bangku dan menuju ke arah bangku paling depan.
Dan tanpa basa-basi atau mengucap salam simpel semacam 'selamat pagi', ia lemparkan dengan kasar undangan itu ke meja di depan bangku paling depan itu—membuat seseorang yang duduk di bangku itu dan tengah merapikan dasi yang ia pakai, menghentikan kegiatannya untuk mendongak menatapnya.
Tatapan heran yang terbalas dengan tatapan tidak suka yang sarat akan kebencian.
Segera, tak ingin merasakan aura kebencian dari si putri Haruno, gadis berambut indigo itu mengalihkan pandangannya menuju pada sebuah kertas undangan berwarna aquamarine yang tergeletak di meja di depannya.
Sedikit ragu, ia menoleh kembali ke arah si Sakura yang kini masih berdiri dengan memandang rendah ke arahnya, "A-apa in—"
"Tidak bisakah kau melihat dulu baru bertanya, Hyuuga?" sungguh dingin dan ketus nada suara itu.
Hinata segera mengalihkan kembali pandangannya dan tangan kanannya mengambil undangan itu, untuk kemudian membuka dan membacanya.
"I-Ino-san ulang tahun...," gumamnya lirih setelah membaca beberapa kalimat pertama, "Minggu depan..."
"Entahlah, aku tidak tahu mengapa dia masih terpikir untuk mengundang kelas bawah sepertimu," gumam Sakura memutar bola matanya, "Tetapi, kupikir, apa salahnya? Sayang 'kan, jika hidangan pesta nanti masih tersisa banyak. Kau tahu, orang-orang kelas tinggi hanya makan sedikit dibandingkan dari kelasmu."
Hinata menggigit bibir bawahnya mendengar ucapan itu. Tanpa sadar, genggaman tangannya di kertas undangan itu sedikit mengerat, "A-aku akan datang."
"Oh, tentu saja. Kapan lagi kau bisa tahu seperti apa Hotel Yukihara itu, hm?" kini Sakura mendekap kedua tangannya di depan dada, "Hanya saja, kuharap kau tahu diri untuk tidak membuat keributan atau kekacauan atau menarik perhatian orang lain dengan penampilan anehmu. Sekedar info saja, tak hanya teman-teman kita yang akan datang, relasi kerja dan keluarga orang tua Ino juga akan datang juga."
Sakura memberi satu pandangan benci dan merendahkan sekali lagi pada Hinata sebelum ia berbalik dan melangkah menuju meja dari mana ia berasal, "Dan kuharap, kau lebih baik diam saja nanti daripada berbicara tergagap itu. Dasar."
-oOo-
"Hyuuga!"
Teriakan keras itu terdengar di lorong sekolah siang itu. Membuat beberapa kepala menoleh pada si gadis berambut pirang panjang yang tengah berlari-lari kecil, menerobos kumpulan murid-murid yang tengah menyusuri koridor untuk menuju gerbang dan pulang. Seorang gadis lain berambut merah muda mengekori si gadis berambut pirang, sama-sama melangkah tergesa-gesa.
"Hyuuga," panggil si pirang sembari menepuk pundak seorang gadis berambut indigo sepunggung, dan membuat si gadis itu berhenti melangkah untuk menoleh ke arah Ino yang tengah tersengal mengatur nafasnya.
"Yamanaka-san?" ujar Hinata heran, pandangannya lalu tertuju pada gadis berambut warna permen karet yang ada di samping si pirang, "Ha-Haruno-san..."
"Kenapa kau cepat sekali? Buru-buru?" ujar Ino setelah mampu menenangkan deruan nafasnya. Ia tersenyum manis sembari kembali berucap, "Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu."
Sebelah alis Hinata terangkat heran. Apapun yang akan dikatakan oleh Ino, tak masalah. Yang membuatnya terkejut adalah tumben sekali dua gadis pentolan sekolah ini sudi mampir menghampirinya, bahkan mengejarnya hingga tersengal begini.
"Ada apa, Ya-Yamanaka-san?" tanya Hinata heran.
"Um...," Ino melirik Sakura sebentar, dan mendapati Sakura memelototinya, secara tersirat menyuruh Ino untuk segera mengatakan apapun yang hendak dikatakan, "Well, kau tahu, ada sedikit perubahan tentang acara pesta ulang tahunku tiga hari lagi."
Hinata semakin menatap heran dan aneh pada Ino yang kini tampak menempatkan pandangan matanya ke sembarang arah selain ke arah dua mata Hinata, "Oh... Be-begitu..."
Ino mengangguk, "Ya, aku sudah memberitahukan ke yang lain setelah bel tanda istirahat makan siang berakhir. Tetapi... tetapi kau terlambat masuk kelas, 'kan? Jadi aku memutuskan untuk memberitahumu langsung saja," ujar Ino sembari mulai melangkah laki dengan sebelah tangan mendorong pundak Hinata, secara tak lisan menyuruh Hinata untuk ikut melangkah bersamanya menuju gerbang.
"I-iya sih... Aku tadi ada uru-s-san di ruang guru," Hinata bergumam lirih.
Dan Sakura memutar bola mata, "Olimpiade apa lagi, Jenius?" Dan Sakura menjadi mendelik galak kala merasakan tajamnya sikut Ino menyenggol pinggangnya.
"Begini...," Ino menelan ludah dengan gugup, "Banyak yang keberatan dengan dress code pestaku. Terlalu ribet kata mereka...," Ino melirik Hinata, berusaha mengamati ekspresinya.
Dan di wajah itu terpampang ekspresi biasa, tak ada yang berarti, "Ku-kupikir juga begitu, Yamanaka-san. Pa-pasti terlalu s-sulit untuk menda-dapatkan gaun seperti itu."
Ino mengangguk, "Untuk itulah aku merubahnya, sesuai permintaan kebanyakan dari mereka," kali ini pandangan Ino mengarah pada Sakura yang berada di sampingnya, "Dress code pestaku berubah menjadi dress pesta kostum."
Dan bibir Ino melengkung ke bawah tanda tidak suka saat melihat sebuah seringai kecil muncul di bibir si gadis berambut merah muda.
"Pe-pesta kostum?" Hinata menoleh dan menatap Ino dengan pandangan seolah ingin memastikan.
Ino tersenyum pada Hinata, "Ya, Hyuuga. Pesta kostum. Kau harus datang dengan memakai sebuah kostum apapun."
"Be-begitu...," ujar Hinata lirih, seolah berusaha menyesapi apa yang barusan Ino katakan pada dirinya.
"Well, Hyuuga," kata Ino bersamaan dengan helaan nafas yang ia tak sadar, sudah cukup lama ia tahan. Ia telah berada di dekat mobil Bugatti Veyron Sakura di mana sang pemilik sendiri sudah masuk ke balik kemudi dengan menyisakan sebuah bantingan yang keras kala menutup pintunya, "Cuma itu yang perlu kusampaikan. Ingat, ya. Kalau begitu kami pergi dulu," Ino tersenyum lembut.
Sebuah senyuman yang entah mengapa, Hinata lihat mengandung sebuah rasa penyesalan.
"Ha-hai," gumam Hinata lirih.
Dan mobil mewah itu meluncur meninggalkan halaman sekolah.
"Demi Tuhan Sakura, kupikir ini semua keterlaluan," keluh Ino sembari melirik sedikit jengkel pada sahabat yang tengah berkonsentrasi mengemudi di sampingnya, "Dan aku tidak akan peduli seandainya jika bukan aku yang mengatakan hal ini secara langsung pada Hyuuga."
Sakura mendengus kesal sembari melirik Ino tajam, "Kau kasihan padanya, Pig?" desisnya mulai marah, "Kau tahu, jika benar, sekarang juga kau bisa turun dari mobilku dan meminta maaf pada si bodoh itu dan sama-sama menjadi pecundang bersamanya."
Dan Ino hanya menghela nafas menyerah dan mengalah.
Andai ada cara untuk menarik semua kata-katanya yang terucap pada Hyuuga tadi...
Ia hanya mampu meminta maaf pada pantulan Hinata dalam bentuk bayangan di kaca spion mobil, yang memperlihatkan bahwa gadis bermata lavender itu tengah mengayuh sepedanya pelan, beberapa jauh di belakang mobil Sakura.
-oOo-
Yukeh: Wakakak... Sakura kejem banget T.T
Comments and criticisms are wholeheartedly appreciated
Thank You
Yukeh ketjeh
