Ini udah hampir jam 12, tapi saya update fic ini dan belom tidur. Berhubung udah ngantuk, kalimat pembukanya segini aja. Enjoy #mata tinggal seperempat watt

Naruto (c) Masashi Kishimoto

I don't own the Picture

Pairing: SasoSaku, other slight pairings included

Warning: AU, OOC, drama, nyinet, dan warning lain-lain aja deh, ye /mendadakpusing/ Dan catat: super duper mega ultra annoying and antagonistic Sakura

Happy reading~

Gadis berambut merah itu tampak fokus pada pekerjaannya mengiris wortel di nampan. Hari Sabtu, ia memang selalu menghabiskan pagi harinya untuk membantu Ibu menyiapkan sarapan dan membersihkan rumah. Jika sedang mood dan banyak uang, sesekali setelahnya ia akan turut ajakan teman-temannya untuk pergi ke taman wisata atau mall di kota.

Karin—gadis itu—melirik ke arah jam dinding terdekat dan menyadari bahwa hari sudah mencapai pukul tujuh tiga puluh lima menit. Sarapan harus segera selesai karena sebentar lagi, Kakaknya akan datang. Ya, kemarin sore Sasori Akasuna, kakaknya, mengabari mereka bahwa hari ini ia akan pulang.

"Coba lihat sayurnya, Karin-chan, apa sudah matang atau belum," Kushina Uzumaki, sang Ibu, berkata dari arah wastafel. Beliau tampak sibuk mencuci beberapa buah yang baru dibelinya subuh tadi.

Segera melaksanakan perintah Ibu, Karin membuka penutup panci dan mengaduk-aduknya beberapa kali. Ia mengambil sedikit dari kuahnya untuk ia cicipi, tentunya setelah ia meniup-niupnya untuk mengurangi panasnya.

Dan Karin mencoba merasakan kreasi masakan yang dibuatnya sendiri itu.

"Tidak perlu dicicipi saja aku sudah tahu rasanya seperti apa."

Otomatis, dahi Karin berkedut ketika mendengar suara tersebut. Ia melirik ke sumber suara dan mendapati bahwa adiknya, Uzumaki Naruto, tampak berdiri di sampingnya dengan tampilan dan pose khas orang yang bangun tidur: acak-acakan, dan menguap lebar sembari meregangkan kedua tangannya ke atas.

Karin hanya menyinyirkan bibirnya, "Jika kau berniat memulai pertengkaran denganku, Naruto, tunggu sayur ini benar-benar panas sehingga aku bisa melemparkannya ke mukamu."

Kushina hanya menghela napas dan memejamkan mata. Ini masih pagi, tetapi kedua anaknya sudah memulai cek-cok seperti ini.

Naruto tertawa mengejek, "Oh ya? Kupikir sayurmu itu keburu meledak sebelum kau bisa melemparnya kepadaku."

Selanjutnya, Naruto mengumpat keras sembari berteriak ketika ia merasakan kulitnya terasa terbakar. Baru saja Karin secara sengaja menempelkan pengaduk sayur yang habis dipakainya mengaduk sayur yang panas, ke lengan Naruto yang terbuka.

"Rasakan! Rasakan!" Karin mencoba menempelkan kembali pengaduk itu ke bagian tubuh Naruto yang lain, dan adiknya tersebut mencoba menghalau dengan gerakan kedua tangannya yang berusaha menyingkirkan pengaduk Karin.

"Kau sudah gila? Panas tahu!"

"Bagus karena mulutmu itu lebih cocok digunakan untuk berteriak sakit daripada membuat telingaku yang panas!"

"Naruto! Karin! Hentikan!"

"Ayolah, bahkan ucapan salamku tidak terdengar oleh kalian karena keributan di pagi hari ini."

Teriakan Naruto dan Karin beserta leraian lelah dan pengap dari Kushina, seketika terhenti ketika ada suara baru yang bergabung di antara suara mereka bertiga. Suara yang terdengar lirih dan jelas menunjukkan perasaan lelah.

Kedua kepala merah dan satu kepala pirang itu menoleh secara serentak ke sumber suara. Dan seketika, ketiga pasang mata mereka memantulkan bayangan dua sosok yang tengah berdiri di pintu dapur sana. Yang satu berkepala merah, yang lain berkepala gelap. Yang satu tinggi, sedangkan satunya lebih rendah. Sepasang iris hazel dengan tatapan sendu dan lelah, serta sepasang iris lavender yang lembut dan tampak menahan tawa.

Akasuna Sasori dan Hyuuga Hinata.

"Sasori-kun! Hinata-chan!"

"Hinata-chan!"

"Kakak Ipaaarrrr!"

Ah, Sabtu pagi yang semakin indah dan ramai bagi keluarga Akasuna.

-oOo-

Kedua pandangan Hinata mengarah pada semak-semak mawar putih yang ada di depannya. Ia kini tengah berada di pekarangan belakang kediaman Akasuna yang mungil dan tak seberapa luas. Beberapa tanaman sederhana dan pohon ada di sana. Cukup membuat suasana teduh dan sering menjadi tempat favorit Hinata untuk melepas lelah. Merasakan sejuknya angin yang semilir, atau sekedar memandang lamat-lamat hamparan langit luas di atas sana. Selain itu, karena di pekarangan ini ada semak mawar putih ini—jenis tumbuhan favoritnya yang dahulu sengaja ia tanam di pekarangan rumah kekasihnya.

Jemari lentik dan putih itu terulur, lantas perlahan menyentuh lembut dan pelan permukaan salah satu mawar putih yang tengah tumbuh dengan mekar dan indah. Pandangannya terarah pada mahkotanya yang putih. Tampak segar, tampak merekah, dengan sisa-sisa tetes embun pagi buta yang masih tampak di permukaannya.

Hinata menghela napas dan sedikit melembutkan pandangannya.

Entah mengapa ia sama sekali belum bisa merasa tenang. Tujuannya ke pekarangan ini untuk menenangkan diri dan menyegarkan pikiran, nyatanya tak berhasil ia lakukan. Ia masih merasa kalut. Bingung. Tak tahu.

Dan takut.

"…. Aku telah bekerja, Hinata… Aku menjadi pengawal pribadi dari Sakura Haruno."

Tentu saja Hinata tak perlu berpikir lama untuk menebak siapa yang dimaksud Sasori dengan Sakura Haruno. Memangnya ada berapa Sakura Haruno di Jepang yang kemungkinan membutuhkan seorang pengawal pribadi? Berapa Sakura Haruno yang bersekolah di Haruno High, tempat yang sama dimana waktu itu Hinata bertemu dengan Sasori di sekolahnya?

Hinata memejamkan matanya dan menghirup napas dalam-dalam.

Ia sudah mengetahui alasan mengapa Sasori mengambil keputusan itu. Hinata mengerti dan paham, lebih-lebih ketika pemuda itu mengatakan bahwa ini merupakan tugas dan kewajibannya sebagai anak tertua. Hinata sudah menawari Sasori bantuan, atau apapun yang bisa Hinata lakukan untuknya. Namun tipikal Sasori, ia menolak dan meyakinkan kekasihnya bahwa ia bisa melakukan semua ini dan semua akan baik-baik saja.

Akankah semua baik-baik saja?

Mau tak mau, Hinata merasa cemas. Ada perasaan tak enak di dalam sini, yang tak bisa ia ungkapkan kepada kekasihnya. Mulutnya hanya terdiam. Bibirnya hanya bisa mengulum senyum. Meskipun semua itu bagaikan topeng yang ia gunakan agar yang terkasih tidak mengetahui apa yang bergejolak di dalam batin dan pikirannya.

Hinata tak tahu apa yang harus ia lakukan dengan semua ini. Ia sudah cukup dikejutkan dengan fakta bahwa Sasori telah bekerja. Lebih terkejut lagi ketika ia tahu kepada siapa kekasihnya bekerja. Haruno Sakura, temannya satu sekolah, temannya sekelas. Gadis yang begitu membenci Hinata. Gadis yang bahkan tak bisa melirik Hinata tanpa harus berkata sinis atau memandang benci. Gadis yang tak pernah mampu Hinata dekati, alih-alih berbicara dan memulai hubungan baik.

Apa yang terjadi jika Sakura-chan tahu bahwa Sasori-kun adalah kekasih Hinata? Dan apa yang akan dilakukan Sasori jika pemuda itu tahu siapa Sakura sebenarnya dan bagaimana hubungan majikannya itu selama ini dengan kekasihnya sendiri?

"Aku baru saja kemarin sore menyiramnya. Bunganya masih tak sebesar sekarang ini, seingatku."

Hinata menoleh, dan seketika mendapati bahwa kini ia tidak lagi sendirian. Ada Naruto yang berdiri di sampingnya. Sepertinya pemuda itu selesai mandi setelah mereka tadi menghabiskan sarapan bersama-sama—tampak dari helai pemuda yang tampak masih basah.

Hinata tersenyum, "Hai, arigatou, Naruto-kun," Hinata kembali menatap ke semak-semak bunganya, "Sekarang mereka tampak mekar dan berbunga banyak."

Naruto mengarahkan pandangan ke arah semak-semak di depannya dan Hinata, "Hm, bunga ini seolah-olah menjadi tanaman favorit kami yang akan selalu kami jaga, sejak kau menanamnya," Naruto meringis lebar, lantas menggaruk tengkuknya, "Aku belajar menyiram bunga juga sejak kau tanam bunga ini di sini…."

Tertawa kecil, Hinata menggelengkan kepalanya, "Aku senang jika bisa memberikan kebahagiaan pada kalian, Naruto-kun, walau hanya dengan tanaman seperti ini."

Suasana hening sejenak ketika Naruto tidak merespon. Pemuda itu menatap ke arah depan, entah apa. Sedangkan pandangan Hinata masih tertumpuk pada semak di depannya. Namun siapapun tahu bahwa pikiran mereka tengah mengarah pada hal yang lain.

"Apa semuanya baik-baik saja, Hinata?"

Naruto lah yang memecah kesunyian, membuat kepala Hinata menoleh ke arahnya. Jelas lavender itu memberi tatapan tak mengerti, "… Tentu saja, Naruto-kun."

Sedangkan Naruto belum mengarahkan pandangannya ke arah Hinata dan masih mengarahkan iris birunya ke arah depan sana. Mulutnya sudah membuka, seolah siap melontarkan kalimat yang terangkai. Namun kembali tertutup, seolah ia hendak merangkai ulang kalimat yang pantas untuk diucapkan.

"… Kau tahu… kau bisa bercerita padaku mengenai apapun itu."

"…."

Naruto meringis lebar, sembari menggaruk sebelah pipinya, "Yah… sekalipun aku bodoh dan lambat berpikir untuk mampu memberimu solusi, tapi setidaknya aku memiliki telinga untuk mendengar semuanya, 'kan?"

Hinata tersenyum, sekalipun sorot heran itu masih tak luntur dari pandangannya, "Terimakasih, Naruto-kun. Tetapi sungguh, semuanya baik-baik saja…"

Hinata kembali mengalihkan pandangannya dan mengarahkannya pada semak mawar putih di depannya.

Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah raut gundah dan cemasnya begitu jelas terlihat oleh orang lain? Apakah Naruto dapat menerka dengan mudah bahwa pikiran Hinata seolah penuh oleh permasalahan-permasalahan yang tidak bisa diungkapkannya?

"Aku hanya ingin kau tahu…" Naruto kembali berujar lirih, "Bahwa bukan hanya Sasori yang memiliki telinga. Dan bukan hanya dia yang memiliki tangan untuk mampu menepuk pundakmu," Naruto tersenyum kecil, kedua irisnya menyendu, "…Bukan hanya dia yang memiliki mulut untuk sekedar bilang bahwa semua baik-baik saja dan kau tidak sendirian."

Mata Hinata semakin menyendu ketika mendengarnya.

Naruto benar. Bukan hanya Sasori. Selama ini Hinata selalu berpikir bahwa ia tidak ingin mengungkapkan masalahnya jika itu berarti harus membuat orang yang dicintai mencemaskannya. Ingin ia tanggung sendiri semuanya. Jikapun ia harus bercerita, ia hanya ingin menceritakan kepada siapapun yang membuatnya merasa nyaman. Dan orang itu adalah Sasori.

Selalu Sasori yang menjadi tempatnya mengeluhkan segala kesahnya.

Selalu Sasori, tanpa perlu Hinata berpikir untuk menoleh dan berpaling kalau-kalau ada orang lain yang bisa berperan sama baiknya dengan kekasihnya.

Mendengarnya.

Mengerti akan dirinya.

Sebelah tangan Naruto terulur, lantas memetika satu dari banyaknya mawar putih yang bermekaran. Tanpa menunggu lama, ia menyentuh pundak Hinata dan membuat gadis itu otomatis mengangkat kepala dan menoleh ke arahnya.

Naruto tersenyum.

Bukan senyuman lebar atau ringisan jenaka seperti yang biasa ia tunjukkan.

Hanya senyum yang mencapai kedua iris birunya.

"Mawar ini kau tanam dan mampu memberikan kami kebahagiaan. Jadi, jangan pasang wajah sendu seperti itu ketika berada di dekat tanaman yang kau tanam sendiri ini, oke?"

Tangan Naruto yang memegang setangkai mawar bergerak maju dan mengarah ke kepala Hinata yang masih menatap Naruto dengan pandangan antara terkejut dan tidak mengerti. Dari arah gerakan tangannya, jelas sekali kemana pemuda itu ingin mengarah. Berharap mampu menyematkan mawar yang ia petik ke sebelah telinga dari gadis di depannya—

"Hinata, ponselmu sedari tadi bergetar. Ayahmu menelpon."

—dan mawar putih itu refleks segera terlempar ke arah semak-semak mawar di samping Naruto dan Hinata, ketika suara itu terdengar oleh mereka berdua.

Menoleh, mereka mendapati Sasori yang baru saja sampai di pintu menuju pekarangan belakang ini. Pemuda itu menatap Hinata sembari mengangkat ponsel gadis itu yang menampakkan layarnya yang bertandakan bahwa ada panggilan masuk untuknya.

"Oh, Sasori-kun," Hinata segera berbalik dan melangkah menuju ke arah Sasori, "Sudah berapa kali Ayah menelpon? A-aduh, kenapa aku lupa membawa ponselku sendiri…"

Hinata segera mengangkat telepon itu dan menempelkan benda itu ke telinganya. Ia masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Sasori setelahnya.

Dan Naruto memandang kepergian mereka berdua.

Iris itu tersembunyi di balik kelopaknya ketika pemuda itu memejamkan mata dan menghela napas dalam-dalam.

Dadanya berdebar keras.

Sangat keras.

Ia takut.

Kembali membuka mata, pemuda itu melirik ke arah semak-semak. Di sana, ia dapat melihat setangkai mawar yang tadi dipetiknya, tergeletak dan tersangkut pasrah di antara rimbunnya daun dan ranting semak mawar.

Hanya tersangkut dan akan terlupakan.

"Pada akhirnya, aku harus membuangnya."

-oOo-

"Pakaikan warna yang lebih cerah di ujung kuku. Jangan sampai keluar garis dan salah mengkombinasikan warna, mengerti?" emerald itu memberi tatapan peringatan pada satu pegawai salon yang terduduk di sampingnya, sibuk menghiasi kesepuluh jemari tangan Sakura dengan perawatan manicure. Sudah hampir tigajam ia menghabiskan waktunya di salah satu salon elit langganannya di mall pusat kota ini. Merawat dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lagipula, besok ia harus menghadiri pesta ulang tahun Ino. Tak peduli itu pesta atau acara siapa, Sakura memiliki semboyan bahwa ia harus bisa tampil all-out dan paling eye-catching.

Gadis itu menolehkan kepalanya ke satu arah. Pandangan matanya yang semula tajam dan angkuh, seratus persen berubah total saat mendapati seseorang yang berdiri sigap beberapa jauh darinya di sana.

Pengawalnya. Akasuna no Sasori.

"Sasori-kun!" panggil Sakura riang, membuat Sasori tampak sedikit terkesiap dan menoleh ke arahnya. Gadis itu meringis lebar, lantas mengangkat tangan dan menampakkan kelima jemari tangan kirinya yang sudah dipoles indah, "Bagaimana menurutmu? Cantikkah?" ia gerak-gerakkan kecil kelima jemarinya itu sembari mengulum senyum lebar.

Para pegawai salon yang sempat melihatnya hanya tersenyum. Wajar saja, siapapun pasti setuju bahwa Haruno Sakura adalah gadis yang cantik dan manis, tak peduli jika sifat atau perilakunya tidak seindah penampilannya.

Namun alih-alih tersenyum seperti para pegawai salon, Sasori tetap menatap datar. Satu-satunya respon yang didapatkan Sakura hanyalah anggukan kepala yang singkat, dan jelas, sangat tidak tertarik.

Tentu saja Sasori tidak bisa mengerti apa yang menarik dari semua ini—salon, perawatan, menghabiskan waktu berjam-jam dan uang beribu yen hanya untuk semua ini. Dan terlebih, ia bukanlah pribadi yang menyukai kata "menunggu", sehingga ia sudah mengalami kesulitan mengontrol kejengkelannya sejak 15 menit pertama ia habiskan di dalam salon hanya dengan berdiri dan menunggui majikannya melakukan apapun urusan gadis itu.

"Benarkah?" Sakura tampak bahagia dan menatap Sasori dengan binar di matanya—jelas tidak peka dengan ekspresi lelah dari pengawalnya, "Syukurlah! Jika Sasori-kun bilang ini cantik bagiku, pasti ini memang cantik bagiku. Hehehe."

Sasori menghela napas.

Ia hanya ingin pulang, demi Tuhan.

Ini adalah pertama kalinya ia memasuki sebuah salon seelit ini. Dan yang penting, ini adalah pertama kalinya ia menghabiskan waktu lebih dari sejam di salon hanya untuk berdiri layaknya patung tanpa arti begini. Apakah semua wanita demikian suka melakukan hal yang tidak berguna?

Sasori menggeleng pelan.

Hinata tidak. Hinata tidak pernah membuatnya menunggu selama ini. Selama mereka bersama, Hinata tidak pernah melakukan sesuatu yang kurang berarti seperti ini. Jikapun harus berias, pasti gadis itu hanya menghabiskan waktu jauh lebih sebentar.

Sasori diam-diam tersenyum mengingatnya. Hinata melakukan semua itu karena gadis itu tahu sifatnya yang tidak suka menunggu. Hinata menghargai dan menjaganya.

Gadis itu selalu mengerti dan menghargainya. Meskipun usia Sasori lebih tua, tetapi Sasori sering merasa bahwa Hinata mampu menjadi sosok yang lebih dewasa dan bijak daripadanya. Mengerti. Menghargai. Selalu mendukung dan bersamanya, apapun yang terjadi.

Seperti saat Sasori menyatakan bahwa ia sudah bekerja menjadi pengawal salah satu temannya. Hinata tidak protes ataupun melarang, tak peduli bahwa pekerjaan Sasori mengharuskannya menghabiskan banyak waktu dengan gadis lain—gadis yang cantik dan jauh lebih mapan. Hinata juga tidak banyak bertanya mengapa dan bagaimana, tidak banyak menuntut. Tidak, Hinata tidak seperti itu.

Gadis itu hanya tersenyum. Hanya memandangnya lembut. Ekspresi yang menyatakan bahwa ia percaya pada Sasori.

"Kau harus lebih menjaga kesehatanmu, Sasori-kun. Dan semoga ini memang jalan yang terbaik untukmu."

Hanya itu yang gadis itu ucapkan, membuat Sasori merasa bersalah sekaligus bahagia di saat yang sama. Karena bahkan di saat seperti itupun, Hinata masih mengkhawatirkannya.

Pemikiran pemuda berhelai merah marun itu pecah saat pandangannya tanpa sengaja mengarah ke satu arah di luar salon. Beberapa jauh di depan salon yang sekarang disinggahinya dengan Sakura.

Pandangan Sasori terpaku.

Seorang pria. Tampak rapi dengan setelan jas, kemeja putih, dan dasi merah. Bersandar di tepian lantai lima, tempat di mana salon ini berada. Meskipun tubuhnya menghadap ke arah lain, namun wajah pria itu menghadap ke arah barat, arah dimana salon ini berada. Dan dari pandangan mata pria itu, Sasori seketika menyadari bahwa pria itu mengamati salon ini—apa yang ada dan terjadi di salon ini.

Hanya kebetulankah? Hanya pengunjung yang merasa tertarik dengan salon ini?

"Entah kenapa hari ini kau banyak melamun, Sasori-kun."

Suara Sakura segera mengalihkan pandangan Sasori. Ia menoleh, dan didapatinya Sakura sudah berdiri di dekatnya, tampak selesai dengan segala urusannya.

"Ah, maaf, Haruno-san," ujar Sasori, "Apakah Anda sudah selesai?"

Sakura mengangguk, lantas menatap Sasori dan sedikit memanyunkan bibirnya, "Bisakah kau, sekali saja, berbicara informal denganku, Sasori-kun? 'Saya', 'Haruno-san', 'Anda', kau tidak perlu mengatakan semua itu saat bicara denganku, tahu?"

"Itu sudah menjadi kewajiban saya untuk menghormati Anda, Haruno-san."

"Ugh!" Sakura menyambar mantelnya di gantungan dekat pintu, lantas memakainya, "Kau sudah hampir seminggu bekerja denganku, padahal."

Sasori segera membukakan pintu salon saat Sakura mulai melangkah hendak keluar salon. Tidak gadis itu gubris ucapan terimakasih dan selamat jumpa dari beberapa pegawai salon yang ada di dekat pintu tersebut.

"Hari sudah malam, lebih baik Anda segera pulang—" ujar Sasori, namun ucapannya tak pernah selesai ketika ia lebih dahulu sedikit terkesiap saat menyadari sentuhan di lengannya. Ia menoleh dan pandangannya segera mendapati Sakura berjalan di sampingnya sembari memeluk lengan kirinya dengan kedua tangan rampingya.

"Ah, kau ini selalu merendah Sasori-kun!" Sakura tertawa lirih dan mendongak, menatap riang ke arah Sasori yang jelas menampakkan ekspresi yang mengatakan bahwa ia tidak mendapati hal lucu dari ucapan ataupun tidakan Sakura, "Dan selalu mengalihkan pembicaraan. Aku bicara soal sikapmu padaku dan kau tiba-tiba mengatakan bahwa aku harus pulang."

Sasori menghela napas. Ini adalah saat-saat dimana ia menyesali takdir Tuhan yang menciptakannya dengan tingkat kesabaran setipis benang.

Sedikit paksa namun berusaha menjaga kesopanannya, ia melepaskan pelukan Sakura di lengannya dan memperlambat langkahnya, berniat berjalan sedikit di belakang Sakura untuk mampu tampak 'selayaknya pengawal sebagai mana mestinya'.

Saat pandangannya mengarah ke depan, ia dapati bahwa pria yang tadi dilihatnya masih ada di sana—ditempat Sasori melihatnya tadi. Namun kini pria itu seperti sibuk menatap arah lain.

"…Ayahku dekat denganmu. Kakashi ojii-san juga dekat denganmu. Nah, kenapa kau tidak bisa bersikap akrab padaku seperti kau pada mereka?" Sakura menoleh ke Sasori yang berjalan satu langkah di belakangnya. Namun gadis itu segera menghela napas, dan menggumam saat mendapati bahwa pandangan Sasori seolah tertumbuh ke suatu arah dan dari ekspresinya, jelas bahwa semua celotehan Sakura tadi sama sekali tidak terproses di otak pemuda itu, "Kau melamun lagi."

Apapun yang Sakura katakan… Apapun yang Sakura lakukan…

Tidak sekalipun mampu menarik perhatian pemuda tersebut.

Selalu.

Mencoba menepis perasaan berat yang lagi-lagi menyelubungi benaknya, gadis itu menoleh ke arah yang ditatap Sasori. Dan sepertinya, pemuda itu tengah memandang ke seorang pria yang berdiri bersandar di pembatas tepi lantai lima mall ini.

"Apa kau mengenalnya, Sasori-kun?" tanya Sakura. Begitu tidak segera mendapat respon, gadis itu menarik pelan tangan Sasori sehingga membuat pemuda itu menatap ke arahnya, "Kau menatap lelaki itu. Apa kau mengenalnya?"

"Ah, tidak," Sasori menggeleng, lantas menghela napas, "Sebaiknya kita percepat langkah kita, Haruno-san. Sudah larut dan Ayah Anda pasti menunggu di rumah. Lagipula, bukankah besok Anda ada acara?"

"Ah, kau benar!" Sakura seolah teringat sesuatu, "Besok kau ikut denganku ke acara itu, ya, Sasori-kun?"

Sasori memberi pandangan yang seolah-olah menerangkan bahwa ia mampu melihat tingkat kemiringan otak di dalam tempurung kepala Sakura.

"Bukankah kemarin saya sudah meminta ijin libur tugas untuk besok?" tanya Sasori tenang, "Saya besok juga harus datang ke acara yang tidak bisa saya tinggal."

Sakura melipat kedua tangannya, lantas sedikit menekuk alisnya, "Acara apa, sih?"

"Pesta ulang tahun."

"Siapa?"

"…."

Sakura menghela napas berat dan kentara sekali bahwa ia tengah kesal, "Pesta ulang tahun siapa? Sebegitu penting hingga kau menolak perintahku, Sasori-kun? Sebegitu berharga bagimu hingga kau membiarkanku pergi sendiri?"

"Dua pengawal mansion siap menggantikan saya besok."

"Tapi—" Sakura menghentikan langkah dan berbalik menghadap Sasori. Pemuda itu otomatis juga menghentikan langkahnya dan menatap Sakura.

Gadis itu tampak kesal.

Kecewa.

"T-tapi aku mau Sasori-kun yang menemaniku, tidak yang lain!"

Sasori terdiam. Namun bukan berarti ia tidak merasakan apapun juga. Justru ia tengah berusaha sebisa mungkin mengontrol emosinya. Berusaha sebisa mungkin mengingatkan dirinya sendiri bahwa gadis di depannya ini adalah majikan yang harus dilingunginya, harus dijaga dan dihormatinya.

Tak peduli betapa manja da menjengkelkannya, seperti sekarang ini.

"Tapi Anda kemarin sudah mengijinkan saya."

"Itu karena kemarin aku lupa bahwa besok aku ada acara."

"Tetap saja saya tidak bisa, Haruno-san," ujar Sasori tenang dan lirih, "Saya sudah berjanji untuk datang. Dan tidak seperti kebanyakan orang di dunia ini, saya ingin menepati setiap janji yang saya buat."

Sakura menggigit ujung bibirnya dan menatap Sasori dengan pandangan penuh kekecewaan. Besok adalah hari ulang tahun Ino. Besok adalah salah satu momen di mana ia ingin tampil sempurna, menjadi pusat kekaguman sekaligus pandangan iri. Tak hanya penampilan, namun ia juga ingin Sasori datang bersamanya. Menjadi partner -nya.

Melihat betapa cantiknya Sakura besok.

"Dan tidak seperti kebanyakan orang di dunia ini, saya ingin menepati setiap janji yang saya buat."

Sakura merasa hatinya tercubit. Ia tahu bahwa kalimat Sasori itu adalah sarkasme. Hanya saja, biasanya ia akan merasa biasa saja dan tidak terpengaruh dengan sarkasme orang lain terhadap dirinya—bahkan mungkin ia tidak akan memberi pemikiran jika orang lain terang-terangan menghinanya.

Namun jika dari mulut Sasori semua kalimat itu terucap, rasanya pasti sakit. Selalu sakit. Entah kekuatan apa yang dimiliki pemuda itu hingga membuat Sakura selalu merasa payah.

Menarik napas dalam-dalam, Sakura mencoba tersenyum, sekalipun jelas terpaksa, "B-baiklah. Kau boleh pergi," ia tertawa lirih dan pelan, namun justru terdengar menyedihkan bahkan di telinganya sendiri, "Hahaha. Aku majikan yang baik, 'kan? Aku tadi hanya b-becanda, kok. Tentu saja aku ingat akan janjiku dan aku akan memegangnya! Sasori-kun besok bersenang-senang, ya!"

Untuk pertama kalinya seumur hidupnya yang terasa sangat sempurna, kali ini Sakura merasa dirinya benar-benar menyedihkan.

"Hanya saja…," Sakura tersenyum kikuk, "Bolehkah aku meminta satu permintaan?"

-oOo-

Salah satu hall di Hotel Yukihara malam itu tampak tidak seperti biasanya. Kali ini, hall di bagian timur itu tampak meriah. Lampu-lampu yang bersinar te rang menjadikan tempat itu makin tampak cerah dan bercahaya. Pita, tanaman hias, balon, adalah salah satu benda yang tampak menjadi dekorasi ruangan tersebut. Alunan musik terdengar menghentakkan, namun di saat yang sama juga menenangkan. Banyak manusia yang berdatangan memasuki pintu hall yang besar dan terbuka lebar dengan dua penjaga yang berdiri tegap di luarnya. Manusia-manusia itu tampak seperti golongan remaja usia belasan tahun. Tampak anggun dan manis, dengan pakaian dan dandanan yang seragam: mengingatkan kita pada penampilan para pangeran dan putri dalam dongeng di buku ataupun film-film dahulu.

Jika kau memasuki hall tersebut, maka kau akan seperti menemui dunia dongeng yang hadir dalam kehidupan nyata. Tak hanya dari penampilan para manusia yang datang, namun juga dari dekorasi yang seolah meneriakkan kata serupa: dongeng.

"Keren sekali, Ino-chan! Ini pesta ulang tahun terbaik yang pernah kuhadiri!"

"Benar-benar mewah, ne, Ino-chan?"

"Padahal ini baru ulang tahun ke-16 mu. Bagaimana nanti jika kau merayakan ulang tahun ke-17 mu?"

"Haha, pasti kau nanti menyewa bulan!"

Ino hanya tertawa dan sesekali menanggapi komentar teman-temannya yang sudah datang ke acara ulang tahunnya ini. Ia merasa senang sekaligus bangga jika teman-temannya menikmati pesta ulang tahunnya ini. Seperti yang lain, Ino kini memakai dress-code yang serupa: gaun ala putri-putri dongeng. Hanya saja, gaunnya berwarna biru muda dengan renda dan pita putih. Sebuah pita berbentuk bunga tersemat di sisi kanan telinganya. Sebuah sepatu senada dengan warna rambutnya menghiasi dengan manis kedua kaki kecilnya.

Sementara teman-temannya masih mengoceh mengomentari semua ini, Ino melempar pandangannya ke beberapa titik di hall. Namun warna merah muda yang sedari tadi ia cari, belum mampu ia temui di sana.

"Tumben sekali dia datang telat di pesta seperti ini," gumam Ino. Ia memutuskan untuk menghubungi Sakura saja, daripada harus menunggu dan terheran seperti ini. Oleh sebab itu, gadis itu segera menekan tombol di smartphone-nya dan meletakkan benda itu di telinganya.

Belum sempat nada dering ketiga ia dengar, salah seorang teman yang ada di dekatnya menceletuk pelan.

"Bukankah itu Haruno Sakura?"

Ino segera menoleh ke arah pintu masuk hall.

Benar saja. Sakura ada di sana, memasuki hall. Langkahnya tampak anggun, namun dagu yang sedikit terangkat itu justru membuat keanggunan itu harus teriringi dengan kesan angkuh. Memakai gaun berwarna merah, tampak kontras sekaligus serasi dengan helai merah mudanya yang malam ini tampak tersanggul di sebelah kiri dan menyisakan beberapa anak rambut yang menjuntai di kedua sisi kepalanya. Simpul pita berwarna merah di kepalanya, dan sepatu berwarna seputih tas dan sarung tangan yang dipakainya.

Tampak cantik, tampak anggun. Siapapun pasti setuju bahwa Sakura seolah lebih pantas menjadi pusat perhatian pesta ini daripada Yamanaka Ino sendiri.

Tak heran jika hampir seluruh pandangan manusia yang ada di sana, tertuju ke arahnya. Mengaguminya. Mengomentari kecantikan. Sekaligus beberapa memberi tatapan iri karena kesempurnaan yang dimilikinya—dimiliki oleh hidup seorang Haruno Sakura.

Namun tatapan terpaku Ino justru bukan tertuju pada Sakura. Mulutnya yang berpoles lipgloss sedikit terbuka, justru bukan karena penampilan sahabatnya yang lagi-lagi, mampu menjadi 'princess in spotlight' bahkan di acara ulang tahun Ino sendiri. Bukan itu yang membuat kedua mata aquamarine Ino sedikit terbelalak dan memandang tak percaya.

Namun adalah orang yang berdiri dan berjalan di sebelah Sakura. Pemuda itu bukan si pemuda berambut merah, alias si bodyguard keren dan ganteng bermarga Akasuna yang menjadi orang pertama yang ada di pikiran Ino, selain Uchiha Sasuke, yang pasti akan mendampingi Sakura ke pesta ini. Namun pemuda di samping Sakura justru berambut pirang panjang dan beraura feminin. Jika tidak melihat bahwa lelaki itu memakai pakaian pria, mungkin siapapun menyangka bahwa Sakura menggandeng wanita untuk dijadikan partner pesta ini.

Otomatis, otak Ino ber-flash back ria ke kejadian beberapa saat yang lalu.

Kafe. Kursi. Gaya rambut copycat. Makian. Bentakan. Teh panas. Es krim….

Seketika Ino menyipitkan pandangan tak percaya sekaligus terkejut, "D-dia…"

Bagaimana bisa lelaki tidak tahu aturan dan sangat tidak gentleman itu hadir di pestanya?!

-oOo-

"Ino, lepaskan tanganku sekarang juga!" hardik Sakura sembari berusaha melepaskan tarikan tangan Ino dan di saat yang sama, mengimbangi langkah cepat Ino yang menariknya menjauh dari obrolannya bersama dengan teman-teman yang lain.

Begitu sampai di sisi hall yang sedikit sepi, Ino melepaskan tangan Sakura dan langsung memberikan sahabatnya pandangan menuntut dan menyelidik, "Apa-apaan itu? Kenapa kau datang bersama dia dan bukan dengan Sasori-kun atau Sasuke-kun?"

Sakura menatap tidak mengerti, "Pertama, aku tidak suka kau memanggil Sasori-kun dengan suffix 'kun', mengerti? Kedua, dengan siapa aku datang itu bukan urusanmu."

"Tapi dia—" Ino tampak frustasi, "Bagaimana bisa kau mengenal dia?"

"'Dia'?"

"Cowok berambut kuning yang menjadi partner-mu sekarang!"

Sakura melirik ke arah di mana Deidara tengah menikmati salah satu hidangan yang ada, di sisi lain ruangan, "Oh, Dei-chan."

Ino bergidik saat mendengar bagaimana Sakura memanggil lelaki yang tampak berumur lebih tua dari mereka tersebut.

Sakura kembali menatap Ino dan tersenyum kecil, "Namanya Deidara. Dia adalah teman dari Sasori-kun."

Ino tampak tertegun.

Ternyata dunia ini sempit sekali, ya? Dan apa, 'teman'? Rasanya Ino tak bisa menemukan logika bagaimana lelaki sesopan, setenang, dan sekeren Akasuna Sasori berteman dengan lelaki cerewet, berisik, tidak sopan, dan tidak gentleman seperti… siapa? Deidara?

"Seharusnya aku sekarang datang dengan Sasori-kun," jelas Sakura, lantas mengendikkan bahu, "Tetapi dia katanya ada acara lain dan jadilah, aku memintanya untuk membantuku meminta Dei-chan menemaniku datang ke pesta ini," gadis itu lantas tersenyum dan menaikkan sebelah alisnya, "Ada untungnya dia datang bersamaku, karena aku bisa bertanya banyaaaakkk hal tentang Sasori-kun pada Dei-chan!"

Menghela napas, Ino memejamkan mata, "Lucu sekali."

Sakura mengernyit heran, "Memang kenapa? Kau mengenal Dei-chan juga?"

Kembali membuka mata, Ino menatap Sakura dengan gemas, "Ya Tuhan, Sakura! Dia adalah lelaki yang kuceritakan waktu itu! Kau ingat? Saat aku bercerita aku rebutan kursi di satu kafe dan berakhir dengan kepalaku yang tertumpahi es krim sundae!"

Sakura tampak mengingat-ingat, namun beberapa saat kemudian ia sedikit membelalakkan mata. Mulutnya membentuk senyum lebar, "Jadi itu Dei-chan?!"

"Siapapun namanya!" ketus Ino yang tampak dongkol, "Aku tidak akan melupakan perbuatannya dan sekarang apa? Kau membawanya menginjakkan kaki di pesta ulang tahunku!"

Sakura tergelak, Ino makin merengut.

"Hahaha, Ino! Beneran itu Dei-chan? Kau yakin?"

"Siapa yang bakal lupa cowok beraura feminin seperti itu?"

"Waaahhh… takdir Tuhan memang benar-benar keren," Sakura menggumam takjub, direspon oleh desisan dan lirikan terganggu oleh Ino, "Tetapi, sepertinya dia tidak mengenalmu, Ino? Dia tidak mengatakan apapun padaku saat melihatmu tadi."

"Aku berani bertaruh bahwa itu disebabkan karena otak pentium minusnya yang membuatnya bahkan lupa akan hal sekrusial ini!"

"Hahaha. Jadi, kau menyebut pertemuan kalian waktu itu adalah hal krusial?" Sakura memberi tatapan dan senyuman jenaka sekaligus menggoda pada Ino yang masih sibuk melempar death glare-nya pada Deidara yang juga masih sibuk menikmati hidangan di sebelah sana.

Sakura masih tertawa geli untuk beberapa saat. Namun tawanya segera berangsur mereda saat telinganya mendengar bisik-bisik bagai dengung sejuta tawon. Pun dengan Ino yang sepertinya terhenti dari aktivitasnya mengutuk Deidara melalui pandangan matanya. Kepala merah muda Sakura menoleh ke sekitar, dan mendapati bahwa hampir semua orang yang ada di sana, bergumam, berbisik, dan bahkan ada yang menahan tawa dan senyum ejekan dan geli.

Satu hal yang pasti, pandangan mereka semua mengarah ke arah pintu masuk hall.

Sakura mengikuti koordinat pandangan teman-temannya, dan barulah ia tahu mengapa semua temannya bersikap demikian.

Hyuuga Hinata. Berdiri di pintu masuk hall, tampak diam seolah tubuhnya terpaku tak bergerak. Kepalanya tertunduk, membuat sebagian wajahnya tersembunyi oleh juntaian helai panjangnya yang gelap. Tubuhnya terlindungi oleh pakaian putih panjang, mengingatkan siapapun akan kain yang biasa dipakai oleh karakter hantu wanita pada umumnya.

"Apa-apaan dia itu?"

"Gila, dia salah kostum atau memang sengaja cari perhatian?!"

"Hinata-chan… Apa tidak ada yang memberitahunya dress-code pesta ini? Kasihan."

"Aduh, kenapa dia tetap nekat masuk? Jika aku dia, aku pasti sudah lari pulang ke rumah dan melupakan pesta ini."

Berbagai komentar terdengar. Hinaan. Tawa. Ejekan. Sekaligus rasa prihatin dan peduli. Namun untuk kedua kalinya, Ino tidak memperhatikan dan mempedulikan semua itu. Tidak ia merasa geli, pun tidak ia merasa kasihan pada keadaan Hinata yang tampak aneh di tengah kumpulan teman-teman yang lain. Tidak peduli pula pada Hinata yang tertunduk, tampak malu, gugup, dan mungkin ingin menangis—tampak dari jemarinya yang memain-mainkan bagian depan dari kain yang dipakainya.

Tidak.

Satu-satunya hal yang menjadi pusat perhatian dan pikiran Ino justru adalah orang di samping Hinata. Seorang yang memakai pakaian ala Samurai kuno, berwarna merah darah. Sebuah benda yang tampak seperti pedang, terselip di belakang punggungnya. Sendal kayu yang ia pakai, bersama dengan kaus kaki putih yang melindungi kedua kakinya.

Salah kostum—sama seperti Hinata.

Jika lelaki itu tidak memiliki rambut berwarna merah darah dan sedikit tampak berantakan, pasti Ino akan turut tertawa, atau prihatin pada keadaan mereka. Jika lelaki itu tidak memiliki dua iris hazel yang memandang datar namun tegas dan percaya diri, pasti Ino tidak akan merasa seperti kehilangan seluruh perbendaharaan kata yang diketahuinya seperti sekarang.

Jika lelaki di samping Hinata, lelaki yang memegang erat telapak tangan kanan Hinata, bukanlah Akasuna Sasori, pasti Ino tidak akan merasa begini terkejut dan tak percaya.

"Hyuuga… Sasori-kun…" Ino bahkan tidak mampu melanjutkan kata-katanya.

Ia menoleh ke arah sampingnya, ke arah sahabatnya. Dan kedua iris aquamarine-nya mendapati bahwa ekspresi Sakura seolah tidak beda jauh dengan ekspresi yang tadi ditampakkan oleh paras Ino sendiri.

Terkejut. Tak percaya.

Mungkin lebih, daripada apa yang dirasakan Ino.

"Sakura?" gumam Ino, "Bukankah tadi kau bilang… Bagaimana bisa Sasori-kun datang kemari bersama Hyuuga? Mereka saling mengenal?"

Namun pertanyaan Ino tidak terespon oleh Sakura, bahkan mungkin tidak pernah terdengar. Gadis itu hanya berdiri membeku. Menatap terpaku. Dengan ekspresi seolah-olah mimpi buruknya hadir dalam kehidupan nyata.

"Sasori-kun…"

Pandangan emeraldnya tertumbuk dan tak pernah terlepas dari dua tangan yang saling menggenggam erat di depan sana.

-oOo-

Berhubung banyak yang khawatir (?), saya akan mengklarifikasi beberapa hal.

1) Pairing utama fic ini Pasti SasoSaku. Jadi, jangan khawatir, bakal lebih banyak interaksi dan romance antara mereka kok. Kurang kemajuan? Emang, sih, Sakura masih centil dan rese banget, tapi Sasori udah ga kasar lagi ama dia kayak dulu kan? #itu karena dia jadi pengawal woi!

2) Sifat Sakura terlalu jahat? Kenapa kacang? #plok Ini kan cerita saya, saya sah-sah aja sih mau bikin dia lebih jahat dari ini hoho #duor #mercon meledak

3) Sakura pihak ketiga dan bukan chara utama? Emang pihak ketiga itu pasti bukan chara utama, ya? :O Saya kan ceritain fic ini dari sudut pandang SasoSaku. Kalau saya ceritain tentang SasuHina, ya pastilah yang jadi chara utama itu Hinata, bukan Sakura. Kalau saya cerita tentang Deidara dan Kisame, merekalah yang jadi pemeran utama :3 #makan ketupat #heh

Oke itu aja sih. Saya cuma lagi pengen presentasi (?), dah lama ga kul nih huiks.

Daaaannn... saya udah ngantuk. See you next chap dan saksikan bagaimana reaksi Saku saat tahu Saso dan Hinata pacaran! #ala ngiklan sinet

Feedback?

Thank you

-yukeh-