Saya lapar, makanya saya update fic ini *huh?

Naruto (c) Masashi Kishimoto

I don't own the picture

Pairing: SasoSaku (FlaCher), other slight pairings included

Warning: AU, OoC, drama, nyinet, dan super duper mega ultra annoying and antagonistic Sakura Haruno.

Happy reading~


Pandangan matanya menatap datar ke sekelilingnya. Ia bisa melihat bahwa semua manusia yang ada di ruangan besar itu tengah mengarahkan pandangannya ke arahnya. Menatapnya, juga menatap gadis yang berdiri di sampingnya—Hyuuga Hinata. Menatap geli, berbisik melecehkan, berkata sinis. Memberi pandangan seolah-olah mereka adalah badut yang diundang untuk memeriahkan acara ulang tahun ini. Tidak aneh juga jika mereka menjadi 'pusat perhatian' demikian, karena berbeda dengan yang lain yang memakai pakaian ala putri dan pangerang negeri dongeng, ia dan Hinata memasuki ruangan ini justru dengan pakaian kostum.

Otomatis mereka menjadi bahan tawaan dan ledekan.

Sasori melirik ke arah kirinya. Hinata tampak berdiri dan tertunduk dalam. Jemarinya memainkan bagian depan dari kain putih polos yang dipakainya. Sejak tadi, gadis itu sudah ingin pulang begitu mengetahui pakaian apa yang digunakan orang-orang yang memasuki aula mewah ini. Namun Sasori bersihkeras bahwa ini semua bukan salah Hinata—bahwa ini adalah salah teman Hinata yang memberikan informasi yang salah atau mungkin sengaja menipu Hinata. Sasori menyuruh kekasihnya itu percaya diri, bahwa ia tak perlu khawatir karena Sasori bersamanya. Namun sekarang, melihat Hinata tampak demikian malu dan tertekan, Sasori sedikit menyesal mengapa tadi tidak menuruti keinginan Hinata dan membawa gadis itu pulang.

Gadis itu tampak tersiksa dan sangat malu. Sasori bisa menebak bahwa Hinata akan menjadi objek gosip dan lawakan teman-teman sekolahnya hingga beberapa hari ke depan.

Sasori menghela napas, lantas menguatkan pegangan tangannya di jemari Hinata, "Jangan acuhkan mereka. Kau tahu, ini bukan salahmu," bisik Sasori pada Hinata.

Hinata tidak menjawab dan ketika Sasori menarik tangannya untuk melangkah, gadis itu enggan melangkah.

Pandangan Sasori bersorot prihatin pada gadisnya. Mungkin ia bisa tidak mempedulikan semua ini karena toh ia tidak mengenal siapapun di ruangan ini dan setelah pesta ini, mungkin semua orang akan melupakannya. Namun bagaimana dengan Hinata yangmana hampir sebagian besar tamu yang datang adalah teman satu sekolahnya?

"Kita temui temanmu yang berulang tahun sebelum kita pergi," ujar Sasori lirih, "Setidaknya bersikaplah sopan dan ucapkan selamat padanya."

"Ya Tuhan Sasori, Hinata-chan!"

Sasori menoleh ke sumber suara. Pun dengan Hinata yang sedikit mengangkat wajahnya. Begitu menoleh, otomatis kedua pasang mata mereka sedikit membelalak saat menatap siapa yang tengah melangkah menghampiri mereka.

"Deidara?" gumam Sasori terkejut.

Pemuda berambut semerah baju samurai yang dikenakannya itu menatap heran ke arah sahabatnya yang melangkah ke arahnya dengan pandangan terkejut dan heran yang terpasang di wajahnya pula. Namun berbeda dengan Hinata dan Sasori, Deidara memakai pakaian yang seragam dengan tamu yang lainnya.

Sedetik kemudian, iris coklat madu Sasori tampak sedikit melebar saat kesadaran itu hadir di otaknya.

"Kalian…," ucap Deidara lirih saat ia memberhentikan langkah di depan Sasori dan Hinata. Pemuda itu tampak menelusurkan pandangannya ke Sasori dan Hinata dari puncak kepala hingga ujung kaki, "…. Apa yang kalian lakukan di sini dengan dandanan seperti ini?"

"Kau di sini," ujar Sasori lirih seolah berbicara pada dirinya sendiri, "Haruno-san juga ada di sini."

Kalimat Sasori tersebut lebih terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan, sehingga Deidara hanya bisa menatap heran dan tidak mengerti pada sahabatnya, "Tentu saja. Sakura-chan sendiri yang bilang kan, bahwa dia mengajakku menghadiri pesta ulang tahun temannya. Bagaimana dengan kau sendiri? Bukankah kau bilang kau pergi dengan Hinata-chan ke acara teman Hinata-chan juga?"

Sasori tidak menjawab, hanya terdiam ketika semua kenyataan ini diketahui olehnya. Sedangkan Hinata tampak memberi pandangan yang semakin terkejut bercampur tidak mengerti akan hubungan antara semua ini dengan Sasori, Deidara, dan Sakura yang merupakan teman sekaligus majikan kekasihnya.

Tanpa Sasori sadari, pandangannya otomatis kembali mengarah ke kerumunan di sekitarnya. Namun kini ia tampak seperti mencari-cari sesuatu. Lebih tepatnya adalah seseorang di antara kumpulan remaja yang masih menertawai dan membicarakan dirinya dan Hinata.

Namun kali ini Sasori tidak mempedulikan semua itu.

"Geez Sasori, kenapa kau membawa Hinata-chan dengan keadaan begini ke sini?" Deidara menghardik lirih sahabatnya, lantas memberi pandangan prihatin pada Hinata, "Kasihan, pasti Hinata-chan akan ditertawai teman-temannya, 'kan? Ne, Hinata-chan, apa kau tidak tahu dress code acara ini?"

Baik Sasori ataupun Hinata tidak mendengar omelan ataupun pertanyaan Deidara. Hal itu karena mereka sama-sama tengah melakukan hal yang sama: mengedarkan pandangan mencari-cari keberadaan seseorang. Seorang gadis. Berambut merah muda dan beriris secerah bebatuan emerald.

Seorang gadis bergaun merah elegan, yang kini tampak melangkah cepat-cepat ke arah mereka setelah menerobos salah satu kerumunan remaja yang ada di sisi kanan ruangan.

Seorang gadis bersurai cerah yang melangkah cepat, dengan ekspresi tertentu di wajah ayu dan putihnya.

Marah.

Ekspresi marah yang baru pertama kali ini Sasori lihat, tampak dari wajah Sakura untuk dirinya.

-oOo-

Tidak seperti tebakan Sasori ternyata. Alih-alih menghardiknya karena berpikir Sasori membohonginya, begitu sampai di dekat Sasori, Hinata, dan Deidara, Sakura seketika menujukan desisan dan pandangan sengitnya ke arah Hinata.

"Apa yang kau lakukan disini, hah?!" desis Sakura lirih pada Hinata yang terdiam dan mencoba melemparkan pandangannya ke arah manapun selain kedua mata Sakura yang bersorot marah, "Kau pikir… orang sepertimu benar-benar diterima di pesta ini, huh? Ino mengundangmu ke sini hanya untuk menjadi bahan tawaan kami dan karena sekarang tugasmu sudah selesai, segeralah pergi!"

Hinata menyendukan pandangannya dan menatap ke arah lantai. Deidara sedikit menganga dan menatap tak percaya sekaligus terkejut ke arah Sakura. Ekspresi Deidara juga ditunjukkan oleh Sasori, namun hanya sejenak, sebelum pemuda itu kembali menutup mulutnya dan memberi pandangan tak suka.

"Haruno-san, saya mohon Anda tidak berbicara demikian—"

"Diam!" kali ini intonasi suara Sakura meningkat. Mengalihkan pandangan ke arah Sasori, kedua mata gadis itu tampak menyipit dan memandang Sasori dengan campuran ekspresi tak percaya, heran, dan kecewa, "Apa maksudmu datang ke sini dengan dia, Sasori-kun? Aku tidak mengerti—kau mengenalnya? Kenapa kau berbohong padaku, tidak mau menemaniku, dan sekarang justru berada di sini bersama dengan gadis rendah ini?!"

"S-Sakura-chan—" Deidara mencoba menyela. Bagaimanapun, ia merasa kikuk karena entah bagaimana terjebak bersama dengan tiga orang yang Deidara seketika merasa ada yang tidak beres di antara mereka. Bukannya apa, hanya saja, kini mereka semakin menjadi pusat perhatian, meski kali ini untuk alasan yang berbeda.

"Saya mengatakan yang sebenarnya. Bahwa saya telah berjanji pada seseorang untuk pergi ke suatu acara," ujar Sasori memotong ucapan Deidara. Nadanya terdengar tenang dan mencoba sabar. Bagaimanapun, rasa bersalah yang sempat ia rasakan tadi seketika lenyap saat ia menyadari bahwa ia semakin menjadi pusat perhatian manusia sekelilingnya. Dan mengetahui watak Sakura, ia mendapat firasat bahwa semua ini tidak akan berakhir baik setidaknya tanpa orang-orang membicarakan peristiwa ini hingga beberapa minggu ke depan, "Hanya saja kita tidak tahu bahwa kita menghadiri acara yang sama."

"S-Sakura-san…," mencicit suara Hinata terdengar dengan penuh ragu dan gentar, "M-maaf, tetapi jangan salahkan Sasori-kun—ini se-semua salahku yang tidak memberitahunya—"

"Tentu saja ini semua salahmu!" maki Sakura sengit. Dari pandangan matanya, bahkan Sasori dan Deidara seketika tahu bahwa gadis berambut warna permen karet itu sangat tidak menyukai—bahkan membenci Hinata, "Kau membuat pengawalku meninggalkan tugasnya untuk mengawalku dengan pergi ke pesta ini dan semua itu hanya agar dia pergi bersamamu? Kau pikir kau siapa berhak berbuat seperti itu padaku, hah?!"

Deidara tiba-tiba merasa penat dan semakin tidak mengerti akan semuanya.

"Itu adalah pertanyaan yang pantas ditujukan untukmu, Haruno-san," ucap Sasori kalem. Ia berusaha mati-matian menahan diri untuk tidak lepas kontrol di saat itu juga, di depan puluhan pasang mata yang asing baginya. Ia tidak habis pikir, mengapa gadis bermarga Haruno itu sering sekali membuatnya berada pada situasi memalukan seperti ini. "Anda pikir Anda siapa berhak berbicara rendah seperti itu pada Hinata? Jangan sangkutpautkan dia dengan tugas saya sebagai pengawalmu. Bukankah kau sudah menyetujuiku untuk bebas tugas malam ini dan melakukan urusan pribadiku?"

"Urusan pribadi…," Sakura menatap tidak mengerti, "Apa hubungannya Hyuuga dengan urusan pribadi—"

"Lagipula Anda adalah temannya, bukan?" potong Sasori cepat, "Kenapa tidak membantunya? Kenapa membiarkannya datang dengan penampilan seperti ini? Kenapa semakin mempermalukannya seperti ini di saat ia sudah menjadi bahan tawaan Anda dan yang lain?"

"Sasori-kun, kumohon berhenti," ucap Hinata lirih dan menatap Sasori dengan pandangan memohon. Namun pandangan pemuda itu masih tertuju pada sepasang emerald yang kini terdiam menatapnya dengan ekspresi seolah-olah ia telah kehilangan seluruh perbendaharaan katanya.

Sasori mengatupkan keras rahangnya. Dengan suara lirih, ia kembali bersuara dengan sedikit tertekan, "Sekalipun saya adalah pengawal Anda, Anda tidak berhak berucap seperti itu kepada kekasih saya."

Sasori segera menggamit tangan Hinata dan segera menarik gadis itu untuk berbalik dan melangkah keluar dari ruangan pesta, "Kita pergi."

"S-Sasori-kun."

"Sasori! Hinata-chan!"

Baik suara protes Hinata ataupun teriakan Deidara tidak mampu Sasori dengar karena pemuda itu tetap melangkah cepat-cepat keluar dari ruangan tersebut. Tidak peduli pula pada bisikan bagai dengung sejuta tawon dari para manusia yang menonton 'drama' barusan.

Tidak peduli pada Sakura yang masih berdiri diam. Terpaku. Seolah-olah nyawanya baru saja tercabut paksa dari raganya. Tidak peduli pada majikannya tersebut yang memandang ke arah pintu keluar dengan pandangan yang heran bercampur terkejut. Namun penuh sorot luka yang jelas.

Luka yang dalam.

-oOo-

'Sasori-kun adalah kekasih Hyuuga. Bagaimana bisa?'

Hanya itulah pertanyaan yang berulang kali berputar-putar di otak Sakura. Memenuhi pikirannya hingga ia lupa dan tidak peduli pada pikiran yang lain, pada hal lain, bahkan pesta yang kembali berlangsung setelah apa yang terjadi baru tadi. Tidak peduli pula pada pertanyaan 'Apa kau baik-baik saja?' dan ucapan lain dari Ino, Deidara, ataupun teman-temannya yang lain.

Sakura menarik napas dalam-dalam dan kembali menenggak anggur yang ada di gelas kecil yang dipegangnya. Rasanya panas, hingga ia mengernyitkan mata dan terbatuk. Ia tidak biasa minum alkohol—mungkin ini adalah pertama kalinya ia mencicipi minuman memabukkan tersebut. Namun ia tidak peduli jika seandainya nanti ia benar-benar mabuk dan pulang dimarahi sang Ayah.

Ia hanya ingin mengosongkan pikirannya dan melupakan semuanya. Sasori. Hyuuga. Dan rasa sakit di hatinya. Namun tak peduli hingga lima gelas sudah ia tenggak, namun pikiran dan perasaan itu tidak kunjung hilang. Malah ia merasa dirinya terasa dan terlihat begitu menyedihkan. Sangat menyedihkan dan payah.

Bagaimana tidak? Hyuuga, gadis yang selama ini begitu ia benci, adalah kekasih dari pemuda yang begitu ia cintai.

Cinta pertamanya, ironisnya, adalah kekasih dari orang yang selama ini sangat dibencinya.

Kenapa takdir Tuhan lucu sekaligus kejam sekali? Tidak hanya cintanya bertepuk sebelah tangan karena selama ini Sasori selalu tidak mengacuhkannya, namun kini ia mendapati bahwa cinta pemuda itu hanya untuk Hyuuga. Senyum yang begitu ingin Sakura dapatkan itu hanya untuk gadis munafik itu. Genggaman yang tampak sangat erat itu terselip bukan di tangan Sakura. Sikap protektif itu… Sasori bahkan tidak sungkan menghardiknya tadi bahkan jika Sakura adalah majikannya sendiri, hanya untuk membela Hyuuga!

Kali ini adalah gelas keenam yang ia tenggak. Begitu tangannya terulur hendak meraih gelas ke tujuh, satu telapak tangan tampak menggenggam lengannya dan memberhentikan pergerakannya.

Sakura menoleh, dan mendecih sengit, "Lepaskan aku."

"Kau sudah tampak mabuk, Sakura-chan," Deidara berujar tegas namun sorot matanya menyiratkan kekhawatiran. Ia mengeratkan pegangannya saat ia rasakan tangan Sakura berusaha melepaskan genggamannya.

"Lepaskan aku, Dei-chan!"

"Aku yang membawamu pergi ke sini. Kau mau aku digantung Ayahmu jika nanti aku membawamu pulang ke rumah dalam keadaan pingsan?"

"Aku tidak peduli," Sakura kembali berusaha melepaskan diri, namun karena tenaganya sudah melemah akibat pengaruh alkohol, usahanya dengan mudah digagalkan oleh Deidara, "Kau lepaskan aku sekarang atau aku suruh Ayah menyuruh Kakashi ojii-san untuk memberimu nilai D di kuliahmu?!"

Deidara mengernyit. Ternyata ucapan Sasori ada benarnya. Sekalipun Deidara setuju bahwa gadis ini imut dan asyik, namun ia bisa menjadi pribadi yang amat menjengkelkan.

Deidara menghela napas. Ia mengedarkan pandangan, berusaha mencari sahabat Sakura aka si gadis berulang tahun. Namun gadis itu tampak sibuk di depan sana, melakukan salah satu dari rangkaian acara bersama dengan teman-teman yang lain. Tadi Deidara sempat melihat gadis itu berkali-kali menghampiri dan menenangkan Sakura, namun kini sepertinya gadis itu harus melakukan apa yang harus dilakukannya karena bagaimanapun, hari adalah pesta ulang tahunnya dan ada puluhan tamu yang juga harus ia perhatikan.

Kembali Deidara mengarahkan pandangan ke Sakura.

"Kenapa kau begini hanya karena Sasori tidak menemanimu ke acara ini? Sasori bilang dia sudah mendapat ijinmu, 'kan?"

"Kau tidak mengerti," Sakura memandang Deidara marah bercampur terluka. Wajahnya memerah karena alkohol. Napasnya tampak sedikit lebih cepat akibat rasa kecewa dan marah yang ia rasakan, entah kepada siapa, "Lagipula kenapa kau tidak memberitahuku, huh? Kenapa tidak memberitahuku bahwa kau dan Sasori-kun mengenal Hyuuga? Kenapa Dei-chan?!" Sakura berteriak, namun untungnya suasana pesta sedang ramai oleh hentakan musik sehingga suara Sakura teredam.

"Kenapa aku harus memberitahumu?" Deidara menggumam heran dan tidak paham, "Mana kutahu jika kau adalah teman Hinata-chan sekalipun kutahu kalian bersekolah di sekolah yang sama."

"…Pasti tidak begini sakit," suara Sakura sedikit tak terdengar karena hentakan musik juga karena ia sudah mulai kehilangan kesadarannya, "Jika kau memberitahuku, pasti rasanya tidak akan begini sakit."

Dan Deidara membelalakkan matanya ketika mendapati dua tetes air mata mengalir di kedua pipi gadis yang terduduk di sofa di sampingnya tersebut.

Sakura menggigit bibirnya dengan keras, menahan sebisa mungkin agar tidak ada air mata yang tertumpah lebih banyak lagi. Ia tidak ingin menangis, terutama di hadapan semua orang seperti ini. Ia tidak ingin terlihat lemah dan semakin tampak menyedihkan.

Namun rasanya sungguh sakit dan berat hingga ia tidak tahu harus bagaimana dan ingin apa lagi selain menangis dan terisak.

Maka ia menunduk dan menangkupkan kedua telapak tangannya di wajahnya. Bahunya bergetar. Isak tangis terdengar dan berangsur-angsur mengeras. Air mata membasahi kedua telapak tangannya, dan sebagian berhasil menyelinap dari telapak tangannya dan membasahi dagunya.

Sakura merasa benar-benar merasa menyedihkan. Marah. Kecewa. Terluka. Sakit.

Begitu sakit dan ironisnya, orang yang memberinya sakit separah dan sedalam ini untuk pertama kali dalam hidupnya, adalah orang yang justru menjadi cinta pertamanya.

Sedangkan Deidara hanya terdiam dan menatap antara prihatin dan tidak tahu harus bagaimana. Pengalamannya dengan perempuan memang tidak begitu banyak, sehingga ia tidak begitu tahu harus berbuat atau berucap apa sekarang. Jangankan hal itu, untuk mengerti apa yang terjadi dan mengapa Sakura menangis saja ia tidak paham.

Pemuda itu menghela napas saat isak Sakura semakin terdengar dan bahu gadis itu bergetar kuat dan jelas. Tangannya terulur, meski awalnya tampak ragu, namun pada akhirnya ia menyentuhkannya pada pundak Sakura yang terbuka.

"Maaf aku tidak memberitahumu," Deidara tidak mengerti juga mengapa ia harus meminta maaf, namun ia pikir bahwa mungkin ucapan itu adalah kata yang tepat, "Ne, Sakura-chan, jangan menangisi cowok brengsek seperti Sasori, oke? Jika kau marah, pecat saja dia biar tahu rasa haha," tentu saja maksud Deidara hanyalah bercanda. Namun tawanya otomatis berhenti saat tidak ada respon berarti dari Sakura pada guyonan maupun kalimat permintaan maafnya.

Pemuda itu kembali menghela napas.

"Kenapa aku harus terlibat dalam hal ini sih, Tuhan?" gumam pemuda itu merasa heran dan putus asa pada dirinya sendiri.

-oOo-

Perjalanan dalam bus malam itu tampak tenang dan sepi. Hanya ada beberapa penumpang, itupun tidak banyak interaksi. Beberapa tidur, beberapa sibuk dengan ponsel atau cukup memandang ke arah jendela bus dan menatap pemandangan malam kota yang mereka lalui. Begitu pula dengan dua penumpang yang terduduk berdampingan di dua kursi yang terletak di baris pertengahan sana.

Baik Hinata ataupun Sasori tampak terdiam, seolah berada pada dunia dan pemikiran mereka masing-masing. Hanya ekspresi saja yang membedakan: pandangan lavender yang tampak sendu kontras dengan sorot datar dari sepasang coklat madu. Sesekali Hinata menggigit bibirnya seolah tampak gelisah oleh pemikirannya, sedangkan tidak ada perubahan sama sekali dalam garis datar yang tercipta oleh bibir kekasihnya. Kepala sang gadis menunduk, sedangkan paras tampan itu mengarah ke arah jendela di sampingnya.

Hinata tidak mengerti apa yang dipikirkan Sasori—ia bahkan tidak tahu apa yang harus dipikirkan oleh dirinya sendiri. Ia sudah merasa sangat amat malu dengan salah kostumnya di pesta ulang tahun salah satu temannya yang populer di sekolah dan ia sudah amat khawatir akan apa yang akan orang pikir dan bicarakan tentangnya di hari esok dan seterusnya karena semua ini. Namun sekarang seolah bertambah buruk, entah bagaimana dan ia belum mengerti, Haruno Sakura kembali menghardiknya, memarahinya, menatapnya tajam, tepat di depan teman-teman yang lain.

Hinata menghela napas pelan.

Jika boleh jujur, ia tidak pernah ingin seperti ini. Ia tidak ingin Haruno-san membencinya. Ia ingin meminta maaf akan apapun kesalahannya yang membuat gadis berambut merah muda itu teramat mengantipatinya. Namun alih-alih meminta maaf, Haruno-san tidak bisa berbicara dengannya tanpa menghina dan memandang tajam. Tanpa menyakitinya. Tidak pernah.

Dan malam ini semua seolah semakin memburuk karena kali ini, Sasori terlibat pula. Hinata masih belum terlalu mengerti, namun dari pandangan Haruno -san tadi, Hinata seketika tahu bahwa temannya itu merasa marah dan kecewa. Ada sorot luka di sana, yang membuat Hinata berpikir bahwa dirinya adalah penyebab Sasori harus melalaikan tugasnya dan membuat Haruno -san kecewa padanya.

Hinata sama sekali tidak pernah bermaksud demikian—ia tidak pernah bermaksud menyakiti perasaan temannya tersebut.

"…M-maaf, Sasori-kun," pandangan Hinata semakin menyendu, menatap ke arah kedua telapak tangannya yang terletak di pangkuannya, "Kau bertengkar dengan Haruno-san karenaku."

Hinata menunggu respon Sasori, namun karena tidak kunjung ia dengar, maka ia kembali melanjutkan dengan suara yang masih lirih, "A-aku pikir, Haruno-san akan pergi dengan Uchiha-san ka-karena selama ini dia yang selalu menemani Haruno-san. M-Maaf… jika tahu begini," Hinata menyipitkan kedua matanya dan tanpa sadar, kedua tangannya sedikit mengepal dan mencengkeram kain yang dipakainya, "A-aku tidak akan memintamu untuk menemaniku datang ke pesta ulang tahun Yamanaka-san."

Hinata merasa amat bersalah. Sudah cukup ia merasa payah karena tidak bisa berbuat sesuatu untuk permasalahan keluarga Sasori, namun kini ia memberi masalah pula ketika kekasihnya tersebut baru saja menemukan jalan pemecahan bagi persoalan keluarganya.

Tidak kunjung mendapatkan respon, Hinata mendongak dan menolehkan kepalanya. Alih-alih merespon semua kalimat Hinata, pemuda itu bahkan terlihat seolah-olah ia tidak mendengar semua ucapan kekasihnya. Sorot matanya yang tertuju pada pemandangan di luar jendela bus, tampak sedatar garis yang tercipta oleh bibirnya.

Pemuda itu tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri hingga mungkin lupa bahwa Hinata berada di sampingnya dan berbicara dengannya.

"Sa-Sasori-kun," panggil Hinata kalem sembari menyentuh telapak tangan Sasori yang tertaruh asal di lutut pemuda tersebut.

Sukses, Sasori tampak mengerjap sekali, sebelum menolehkan kepalanya pada Hinata.

Hinata memberi senyum kecil, "A-Apakah kau juga sedang memikirkan Haruno-san?"

Sasori terdiam sejenak, sebelum menjawab datar, "Aku hanya lelah."

"Aku tadi berbicara padamu," ujar Hinata mengulangi apa yang baru saja tadi dikatakannya, "Aku sangat menyesal jika Ha-Haruno-san marah pa-padamu," Hinata menggelengkan kepalanya pelan dan memberi Sasori pandangan khawatir, "Kau belum lama bekerja padanya—a-aku tidak ingin hanya gara-gara aku—"

"Kau tidak salah apapun," jawab Sasori cepat dan yakin, "Dan aku juga tidak suka dengan cara dia memperlakukanmu, Hinata. Apa pernah terjadi sesuatu di antara kalian hingga ia bersikap dan berucap demikian padamu?"

Hinata tidak segera merespon dan hanya menatap Sasori. Namun kemudian ia mengalihkan pandangan dan menatap lurus ke arah depan, sebelum menggeleng lirih, "Tadi hanya salah paham. Dia hanya terlalu kecewa karena kau tidak menjalankan tugasmu."

"Bahkan aku tahu, dari caranya menatap dan berbicara padamu, dia sangat membencimu."

"Kau tidak tahu apa-apa, Sasori-kun. Aku yang salah karena membuatmu harus meninggalkan orang yang seharusnya kau jaga."

"Lihat, sikapmu yang suka menyalahkan diri sendiri demi melindungi orang lain inilah yang membuat mereka mudah menyakitimu."

Suasana kembali hening saat Hinata tidak bersuara. Hinata kembali menunduk, dan Sasori kembali mengalihkan pandangan ke objek semula: pemandangan di luar jendela kaca bus. Kembali, hanya suara deru mesin bus dan samar-samar suara malam kota yang terdengar.

Semua tidak berubah, hingga mereka berdua turun dari bus. Bahkan keheningan masih mengikuti langkah pelan mereka yang berjalan beriringan menuju kediaman Hinata. Dan pada akhirnya, hanya ucapan "Terimakasih" dan "Sampai jumpa" yang terucap dari mulut Hinata dan Sasori sebelum gadis itu berbalik dan memasuki gerbang rumahnya.

Sasori menghela napas ketika gerbang itu kembali tertutup di depannya. Ia mendongak dan menatap langit malam yang gelap tanpa bulan ataupun bintang.

Ia bahkan tidak mengerti apa yang harus ia rasakan sekarang.

Marah. Lelah. Kesal.

Dan juga mungkin, ada sedikit perasaan menyesal.

-oOo-

"Ayolah, Sakura-chan, cepat berdiri dan kita segera pulang," hampir terdengar merengek suara Deidara ketika untuk yang ketujuh kalinya, ia berusaha keras membujuk partner-nya untuk berhenti memejamkan mata, lantas menegakkan badannya yang tersandar lemas di sofa, dan segera berdiri dan menyeret bokong untuk keluar dari aula hotel yang kini sudah mulai tampak jauh lebih sepi dari semula. Hampir sebagian besar tamu undangan telah pulang karena acara pesta telah berakhir satu jam sebelumnya. Hanya beberapa yang masih bertahan, yang kini masih tampak mengobrol dan bercanda dengan Yamanaka Ino. Sedangkan Deidara dari awal sudah ingin pulang saja. Karena toh percuma saja, ia tidak bisa menikmati pesta ini dan semua hidangan nikmatnya tanpa harus diliputi perasaan khawatir terhadap partner-nya yang tampak teler di sofa hanya oleh beberapa gelas anggur yang diteguknya.

Sakura mengernyitkan dahinya, lantas mengangkat sebelah tangannya untuk kemudian memukul keras permukaan sofa di sampingnya dengan kesal, "..Sudah kubilang D-Deiiiiiiiii-chaaaannn….," ucapnya dengan lirih dan sedikit tak jelas karena pengaruh alkohol, "Aku. Tidak. Mau. Pulang. Jika. Sasori-kun. Tidak. Menjemputku."

Deidara merasa antara prihatin, namun juga ingin menjambak surai merah muda itu karena frustasi, "Tapi aku bisa mengantarmu, Sakura-chan!" kembali, Deidara mengucapkan argumennya, "Dan ada urusan yang penting sekali yang harus segera kulakukan begitu pulang."

Sakura mengibaskan-kibaskan tangannya, "Kalau begitu pergi saja sana. Hush hush."

"Jika begitu aku akan meminta salah satu temanmu untuk mengantarmu, oke?"

"Aku akan menelpon Kakashi ojii-san dan membuat catatan akademis kuliahmu menyedihkan."

Deidara empet, "Maka dari itu, ayo kuantar pulang!"

Sakura tidak merespon dan masih terpejam. Deidara menghela napas dan menggaruk tengkuknya, "Alamat besok aku digantung anak-anak panitia karena belum menyelesaikan laporan," keluhnya lirih pada diri sendiri, "Lagipula, Sasori sialan. Kenapa tidak membalas email-ku dan berhenti menjadi orang kepala batu dan segera menjemput majikannya ini di sini?!" akhirnya ia melototi tajam smartphone yang dipegangnya.

"Kenapa kau belum pulang juga sih, daritadi?!"

Deidara menoleh ketika suara sedikit keras dan dengan nada membentak itu terdengar olehnya. Seketika kedua iris biru cerahnya mendapati Yamanaka Ino, si gadis berulang tahun, yang kini berdiri di dekatnya dengan berkacak pinggang dan ekspresi seolah-olah Deidara adalah gembel yang nekat masuk ke pesta mewah ini tanpa sepengetahuan Yamanaka.

"Kau tidak lihat bahwa partner-ku bahkan tidak bisa mengangkat kepalanya begini?" ia menunjuk Sakura yang masih bersandar lemas di sofa, "Lebih tepatnya, tidak mau mengangkat kepalanya. Temanmu ini tidak mau pulang, tahu?"

Ekspresi Ino tampak semakin kesal, sebelum ia mengalihkan pandang ke arah Sakura, "Dia tampak sangat mabuk," ia menggumam lirih, lantas kembali menoleh dan memberikan death glare-nya ke arah Deidara, "Ini semua salahmu! Kau sama sekali tidak becus menjadi partner-nya! Kau harusnya menjaganya."

Deidara ternganga, "Kenapa tiba-tiba menyalahkanku? Bagaimana dengan peranmu sendiri sebagai sahabatnya? Kau bahkan sibuk sendiri dan jarang sekali memperhatikannya di sini!"

"Kau bodoh atau apa sehingga tidak tahu banyak tamu yang harus kutemui dan pesta yang harus kujalankan?" maki Ino, "Bersikaplah gentleman, wahai cowok feminin, dengan mengakui kelalaianmu dan berhenti menyalahkan orang lain."

Deidara makin empet karena gadis itu secara langsung dan di depan matanya sendiri, memaki originalitas gender-nya, "Setidaknya aku tetap duduk di sini dan menemaninya! Lagipula apaan, kau dan teman-temanmu bahkan masih di bawah umur dan kau menyiapkan anggur di pesta ulang tahunmu?!"

"Dasar orang kelas bawah yang tidak mengenal arti pesta orang kelas atas seperti kami."

"Apa kau bilang?!"

Ino menatap Deidara dengan dongkol. Tampaknya benar ucapan Sakura, pemuda bodoh itu sepertinya lupa akan dirinya dan peristiwa buruk yang dahulu terjadi dan melibatkan mereka berdua. Enggan berdebat dan menguras tenaganya yang sudah menipis karena pesta, Ino melangkah mendekati Sakura.

Ekspresi dongkolnya seketika berubah ketika ia menatap penuh kekhawatiran dan prihatin ke arah sahabatnya, "Sakura? Kau mendengarku?"

"…Mmmm."

"Apa kau tidak pulang?"

Sakura menggeleng, "Aku di sini, Ino."

"Ayahmu akan mengkhawatirkanmu," ujar Ino mencoba menawar dengan pelan, "Hari sudah lebih dari dini hari. Kau harus pulang."

"Kalau begitu panggil Sasori-kun dan suruh dia mengantarku," jawab Sakura terdengar malas-malasan karena mabuk.

Ino menghela napas. Baru pertama kali ini ia mendapati sahabatnya tampak mabuk demikian. Ia benar-benar mengkhawatirkan apa yang akan dikatakan oleh Haruno Kizashi jika mengetahui putrinya tidak hanya pulang di dini hari, namun juga dengan bau alkohol menguar dari seluruh tubuhnya.

"Tapi Sakura," Ino menelan ludah, lantas melanjutkan dengan hati-hati, "Sa-Sasori-kun… kau bertengkar dengannya. Kupikir kau perlu memberinya waktu—"

"Kenapa harus aku yang memberinya waktu? Dia pengawalku, dia harus ada kapanpun dan dimanapun aku mau!" suara Sakura terdengar mengeras, "Kenapa dia bisa berbuat seenaknya padaku? Aku menggajinya! Dia harus ada bersamaku setiap saat jadi kenapa aku harus memberinya waktu untuk menjauh dariku?!"

Baik Ino ataupun Deidara hanya terdiam saat mendengar dan melihat Sakura tampak menjadi: berteriak kesal dengan nada marah yang kental dalam suaranya. Kedua matanya yang semula terpejam rileks, kini tertutup rapat. Kedua tangannya mengepal, sedangkan sebelah kakinya menghentak keras lantai sekali.

Ia tampak kesal dan marah.

Dan sebagai sahabat dekatnya, Yamanaka Ino tentu saja tahu apa alasan Sakura berucap demikian.

"Sakura—"

"Biarkan aku sendiri disini," ujar Sakura kembali dengan suara pelan, "Dan aku bersumpah, aku akan melakukan hal buruk pada kalian jika kalian berani menelpon mansion atau orang lain selain Sasori-kun, untuk menjemputku!"

Tanpa sadar, Ino dan Deidara saling melempar pandang. Kedua wajah mereka sama-sama menyiratkan rasa penat, putus asa, dan lelah.

"Sebentar lagi, durasi sewa aula ini akan berakhir dan aula ini harus dikosongkan," ucap Ino pada Deidara, "Dan aku harus segera berangkat ke Yokohama untuk merayakan ulang tahun bersama dengan keluarga dari Ayah di sana."

Menghela napas, Deidara menyahut, "Aku bahkan bisa membayangkan besok di kampus aku akan dikuliti hidup-hidup jika tidak menyerahkan laporan kepanitiaan."

Ino mendecak kesal, "Kau benar-benar tidak gentleman!"

"Apa kau bilang?! Kenapa memulai lagi?!"

Ino tidak merespon, namun mengambil tas Sakura dan segera mengambil ponsel sahabatnya. Dilihatnya beberapa saat layar ponsel, sembari telunjuknya menyentuh layarnya untuk mencari-cari sesuatu.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Deidara heran.

"Melakukan hal yang lebih berguna daripada kau," Ino mendengus, "Aku menelpon Sasori-kun, tentu saja."

Deidara mengibaskan tangan, "Percuma! Asal kau tahu, kepalanya itu jauh lebih keras dari batu sekalipun," maki Deidara, melampiaskan kekesalan yang ia rasakan untuk sahabatnya, "Aku sudah mengiriminya enam email tapi tidak sekalipun ia balas."

-oOo-

"Sasori, datanglah kemari. Sakura-chan bilang dia tidak mau pulang jika kau tidak datang menjemputnya."

"Hei, Sasori? Bagaimana? Apa yang harus kulakukan? Dahiku bisa ditembak algojo Haruno begitu aku memasuki pintu mansionnya dan membawa Sakura-chan pulang dalam keadaan mabuk seperti ini. Oh ya, apa aku sudah bilang sebelumnya? DIA MABUK! Dan jangan tanya MENGAPA dia mabuk kalau mulutmu tak mau kusumpal dengan sandal nanti. Jadi cepatlah datang!"

"Kau tidak memiliki pulsa untuk membalas atau ponselmu dicuri orang sehingga kau tidak tahu aku mengirimu email dan menyiratkan tanda-tanda emergensi seperti ini?"

"DEMI TUHAN SASORI BALASLAH! AKU HARUS MENGERJAKAN LAPORAN KEPANITAAN MALAM INI JIKA ESOK HARI KAU MASIH MAU MEMILIKI TEMAN BERNAMA DEIDARA DI DUNIA INI! KAU ADALAH PENGAWAL GADIS INI JADI SETIDAKNYA LAKUKAN TUGASMU DENGAN BAIK SEKARANG!"

"Sasori? T.T"

"Aku bisa meninggalkan gadis ini di sini sekarang jika aku mau, kau tahu? Toh aku hanya temannya dan KAU adalah ORANG YANG DIGAJI HARUNO MILYUNER KIZASHI UNTUK MENJADI PENGAWAL ANAKNYA. Aku bersyukur jika nanti kepalamulah yang ditembak, dengan begitu mungkin kepala itu tidak akan keras lagi dan kau bisa berpikir hal lain di dunia ini selain dua hal: teori kedokteran dan egomu! Lagipula, bukan aku yang menyebabkan Sakura-chan nyaris pingsan dan mabuk begini."

Sasori memandang layar smartphone-nya yang tengah menampilkan email keenam yang diterimanya dari sahabatnya, Deidara. Tatapannya tampak terpaku pada layar ponselnya dengan pandangan datar yang menjadi ciri khasnya. Sejenak, jempol kanannya terangkat seolah hendak menekan suatu tombol di ponselnya, sebelum ia menghela napas dan meletakkan ponselnya ke meja di kamarnya.

Ia terduduk di ranjangnya dan menatap ponselnya, seolah-olah ponsel itu adalah pemandangan paling menarik di dunia ini dan pantas baginya untuk menatapnya lama-lama.

Tak lama ia berdiam diri, pemikirannya pecah saat menatap bahwa objek tatapannya kini tampak bergetar di meja di depannya. Layarnya berkedip-kedip dan memancarkan cahaya putih terang. Segera, ia mengambilnya dan seketika sedikit terpaku saat menatap nama yang terpampang di layar ponselnya.

Haruno Sakura.

"Moshi-moshi," ucapnya setelah menekan tombol dan menempelkan ponselnya ke telinganya.

"Jangan beri aku moshi-moshi, Sasori-kun!"

Sebelah alis Sasori terangkat dan ia tampak terdiam sejenak. Setelahnya, ia kembali bersuara dengan nada ragu, "Kau bukan Haruno-san," terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan.

"Tentu saja, kau pikir orang mabuk bisa bersuara dan berbicara sejelas ini?" suara perempuan itu terdengar sinis dan sedikit kesal, "Aku Yamanaka Ino. Dengar Sasori-kun, aku bertaruh kau sudah membaca email dari sahabatmu dan dia benar. Sakura tidak mau pulang dan hanya ingin pulang jika kau menjemputnya."

"Yamanaka-san—"

"Aku sedang lelah dan terburu-buru untuk pulang untuk berdebat dan memohon panjang lebar padamu, Sasori-kun. Yang jelas, bagaimanapun aku khawatir pada Sakura, tetapi aku benar-benar harus pulang dan sahabatmu nampaknya juga tidak bersedia menjadi pria bijak yang mau menemani dan menjaga seorang gadis yang mabuk," Ino berceloteh panjang lebar, "Dan kau, sebagai pengawalnya, pasti sedikit banyak tahu sifat Sakura yang keras kepala. Jadi, ya, kau harus datang."

"…"

"Dan aku benar-benar akan meninggalkannya di sini sendiri, Sasori-kun. Aku tidak akan menelpon mansion Haruno dan jangan salahkan aku—Sakura mengancamku agar aku melakukan hal tersebut. Kau paham?"

Sambungan terputus.

Pemuda berhelai merah darah itu tampak termenung, menatap tembok kamar yang semula menjadi objek tatapannya selama berbincang 'hampir sepihak' dengan Ino Yamanaka. Tangannya yang masih menggenggam ponselnya, perlahan-lahan tampak mempererat genggamannya.

Tak butuh waktu lama baginya untuk segera tersentak. Seolah ranjang yang ia duduki tiba-tiba mengeluarkan sengatan listrik, ia segera bangkit berdiri, dan melangkah cepat-cepat menuju ke arah pintu keluar kosannya. Bahkan ia tak sempat untuk sekedar menutup pintu kamarnya yang terhempas terbuka saat ia melangkah keluar dari kamarnya.

-oOo-

Berkali-kali Sakura mengumpat kesal pada orang-orang yang baru saja tadi 'menendangnya' untuk keluar dari aula hotel tempat di mana pesta Ino beberapa jam yang lalu terselenggara. Dengan alasan bahwa mereka harus segera membersihkan dan merapikan aula hotel, mereka menginginkan Sakura pergi dari sana. Bukannya apa, hanya saja Sakura merasa terlalu lemas, pusing, dan malas untuk sekedar bangkit dari sofa dan berjalan menuju ke tempat lain.

"Aku bisa saja membeli hotel murahan ini sekarang juga kalau aku mau," Sakura menggerundel dengan keki sembari menatap sebal ke arah kaca lebar yang ada di hadapannya. Ia kini tengah berada di toilet karena perutnya tiba-tiba bergejolak dan sudah beberapa menit ia habiskan di toilet hotel hanya untuk memuntahkan isi perutnya. Ia mengernyit. Apakah sebegini parah dampak orang minum alkohol? Pusing, muntah, lemas. Dan parahnya lagi, ia hanya sendirian setelah Deidara memutuskan untuk pulang menyelesaikan urusannya di kosan sedangkan Ino menyusul meninggalkan Sakura dua puluh menit kemudian setelah menerima panggilan telepon berkali-kali dari orang tuanya.

Tapi Sakura tak mempermasalahkan itu. Ia sama sekali tidak peduli jika Ino dan Deidara meninggalkannya seorang diri di hotel sebesar ini dalam keadaan mabuk. Karena sekarang ini, yang Sakura butuhkan hanya satu orang: Sasori.

"Anda pikir Anda siapa berhak berbicara rendah seperti itu pada Hinata? Jangan sangkutpautkan dia dengan tugas saya sebagai pengawalmu.

Kedua mata itu menyipit, menjadikan refleksi dirinya di kaca toilet di depannya juga menampakkan hal serupa.

"Kenapa tidak membantunya? Kenapa membiarkannya datang dengan penampilan seperti ini? Kenapa semakin mempermalukannya seperti ini di saat ia sudah menjadi bahan tawaan Anda dan yang lain?"

Bibirnya terkatup serapat pertemuan kedua rahangnya. Tangan putihnya yang memegang tepian wastafel, menguat.

"Sekalipun saya adalah pengawal Anda, Anda tidak berhak berucap seperti itu kepada kekasih saya."

Dengan cepat telapak tangan kirinya menangkup kucuran air dari keran wastafel untuk kemudian dengan sekuat tenaga, ia lemparkan air dari tangannya tersebut ke arah refleksinya di kaca di depannya. Refleksi tersebut menjadi tampak buram karena tetesan dan aliran air di permukaan kaca. Namun bahkan dirinya sendiri bisa melihat bagaimana kesal dan marahnya tatapan kedua emerald itu yang menatap balik padanya.

Memang, ia benar-benar kesal. Marah. Rasanya ia sesak sendiri merasakan debaran kuat jantungnya. Benar-benar terasa berat dan ia sangat marah.

"Lucu sekali," tanpa sadar Sakura menggumam, sebuah senyum miris dan getir terbentuk di bibirnya, "Lucu sekali, Tuhan. Dari semua orang yang jadi kekasih Sasori-kun, kenapa harus Hyuuga?"

Cewek yang dibencinya. Satu-satunya murid di sekolahnya yang paling sering membuatnya kesal, entah itu sengaja atau tidak.

Kenapa harus Hyuuga?! Hanya itu pertanyaan yang terus membeo di pikiran Sakura.

"GADIS BODOH! ANEH! MISKIN! MENYEBALKAN SEPERTI ITU!" pada akhirnya ia berteriak di toilet yang sepi kala itu, sembari melempar kuat dompet pestanya ke cermin toilet tepat di depannya. Dompet itu hanya terjatuh di wastafel, tanpa bahkan membuat kaca itu retak. Namun Sakura tidak mempedulikannya.

Ia bernapas dalam-dalam dan mengatupkan rahangnya.

Tidak pernah ia merasa dibodohi dan marah seperti ini. Tidak pernah sekalipun.

Ia berpaling, lantas menarik napas dalam-dalam dan menjambak sisi kepalanya sendiri. Rasanya pusingnya semakin menjadi. Sesaknya tidak terkurangi. Dengan sempoyongan ia berjalan menuju ke pintu toilet, dengan beberapa kali menabrak tembok karena kesadarannya juga belum ia dapatkan sepenuhnya.

Begitu membuka pintu toilet, matanya yang sayu karena pengaruh alkohol, sedikit menyipit ketika mendapati seseorang yang berdiri tepat di depannya. Seorang laki-laki berjas rapih berwarna hitam. Tinggi. berperawakan besar dan atletis. Dan memandang Sakura dengan tatapan tegas dan ekspresi datar.

Hampir saja Sakura mengumpat ketidaksopanan laki-laki itu karena berdiri di depan toilet perempuan, ketika mulut dan hidungnya keburu terbungkam oleh satu kain. Sontak Sakura segera berontak, namun pria itu semakin keras menekankan kain mirip sapu tangan itu ke mulut dan hidung Sakura, sembari memeluk tubuh Sakura erat untuk menghentikan perlawanan gadis remaja tersebut.

Sedangkan Sakura sontak merasa panik. Kesadarannya yang menghilang akibat alkohol, seolah menyerbunya dalam satu sentakan kuat ketika pemikiran buruk akan apa arti semua ini, ia dapatkan. Segera saja ia semakin menggeliat, meronta, mencakar, memukul. Teriakannya teredam oleh bungkaman sapu tangan tersebut.

Pada akhirnya usahanya sia-sia ketika Sakura berangsur-angsur merasa sangat lemas. Energinya seolah tersedot habis.

Dan ia mampu merasakan kelopak matanya turun dan menjadikan pandangannya menggelap.

Hanya satu yang ia dengar sebelum ia benar-benar menuju alam bawah sadarnya.

"Tunggu tepat depan gerbang hotel. Kita akan langsung menuju ke Boss. Aku tidak mau dipenggal karena melewatkan kesempatan terakhir ini."

-oOo-

Pertama kalinya seumur hidupnya Sasori mengemudikan motornya dengan spedometer melebihi kecepatan rata-rata legal jalan raya. Namun ia bahkan tidak menyadari hal itu. Motornya melaju cepat, membelah udara malam yang dingin. Melintasi jalanan yang sepi dan menyisakan deruan halus dari mesin motor yang dikendarainya. Tikungan jalan ia lintasi bahkan tanpa mengurangi kecepatan. Beruntug sejauh ini tidak ada polisi yang melihatnya, karena Sasori lupa dan meninggalkan dompet yang menyimpan identitas pribadi dan surat yang lain, di kamarnya.

Kedua tangannya menggenggam stang motor dengan kuat, hingga rasanya jika ia terus demikian, stang itu bisa patah. Kedua matanya yang berada di balik kaca helmet yang hitam, tampak memandang jalanan dengan tatapan tajam. Kedua rahangnya mengatup, membuat dua bibirnya membentuk garis datar yang tipis.

Matanya memandang lurus ke arah depan. Di depan sana, sudah tampak puncak dari Hotel Yukihara yang beberapa jam yang lalu didatanginya bersama Hinata. Tampak megah bagai raksasa yang hendak mencakar langit malam. Tampak terang oleh pijaran puluhan lampu yang meneranginya.

Sejujurnya ia tidak tahu mengapa ia tiba-tiba merasa seperti kesetanan seperti ini. Ia langsung keluar dari kos, bahkan lupa membawa jaket atau dompetnya. Pintu depan kospun tak sempat ia kunci ketika keburu melajukan motor yang sudah dinaikinya. Dan ia melajukannya dengan cepat, merasakan tamparan angin di sekujur tubuhnya.

Perasaan bersalahkah ini pada majikannya?

Karena jujur saja, ia belum bisa mengenyahkan semua email panjang yang dikirimkan Deidara.

Sakura Haruno tidak mau pulang. Dia sendiri di hotel sebesar itu, di malam selarut ini. Dan dia mabuk!

Sasori kembali fokus pada jalanan di depannya dan makin menggas motornya, menjadikan kendaraan itu melaju semakin cepat. Laju kendaraan yang cepat demikian menjadikan ia mampu mencapai hotel itu kurang dari lima belas menit lamanya.

Namun pegangannya di stang mengendur dan ia sedikit memelankan laju kendaraannya ketika pandangan coklat ebony-nya terpaku pada satu arah.

Di depan halaman hotel, berjalan seorang lelaki tinggi dan berperawakan besar, memakai setelan jas sehitam kacamata yang digunakannya. Tetapi bukan lelaki itu yang membuat Sasori seketika tertegun. Adalah manusia yang ada digendongan kedua lengan lelaki itu. Bermantel seputih boots orang itu. Kepalanya memakai topi hitam, wajahnya tersembunyi di bawah bayang-bayangan capil topi hitamnya. Sepertinya tampak tertidur di gendongan si pria besar yang berjalan tenang dan tidak terburu. Seperti seorang anak yang digendong pulang Ayahnya karena telah kabur dari rumah dan ditemukan di hotel dalam keadaan mabuk atau apa.

Jika Sasori tidak segera menangkap warna merah muda cerah yang sedikit menyembul di bawah topi hitam tersebut, pasti pemuda itu benar-benar mengira bahwa gadis yang digendongan lelaki itu adalah orang asing bagi Sasori.

Seketika alarm tanda bahaya rasanya berdering di telinga Sasori.

Sasori segera kembali menggas motornya dengan lebih kuat. Motor itu sontak melaju cepat, dan hampir seolah meloncat ketika Sasori tiba-tiba menambah kecepatannya.

'Sakura!'

Lelaki itu tampak menghampiri mobil di parkiran hotel. Mobil berkaca gelap yang pintu belakangnya telah terbuka dan menampakkan satu orang lagi di dalamnya.

Sasori menajamkan pandangan matanya. Motornya melaju cepat dan tak butuh waktu lama untuk sampai di dekat pria itu. Segera saja ia menyalip lelaki tersebut dan segera memberhentikan motornya tepat satu langkah di depan pria asing tersebut—antara pria itu dan mobil hitam tersebut.

Pria itu tampak terkejut dan heran. Namun Sasori segera melepas helmetnya dan menaruh di stang motor, melompat turun dari motor, melangkah maju, dan menghantamkan tinju kanannya ke rahang lelaki tersebut.

Bunyi hantaman itu terdengar keras dan menyakitkan.

Begitu Sasori dapat melihat seksama wajah pria itu, seketika ia tertegun.

Tidakkah laki-laki itu yang ia lihat di mall saat mengantar Sakura ke salon hari lalu? Laki-laki yang tampak mencurigakan dan sesekali mengamati Sakura dari jauh?

"Brengsek!" pria itu mengumpat keras sembari terhuyung jatuh. Pegangannya di Sakura terlepas, dan membuat gadis itu terjatuh menghantam aspal parkiran yang keras.

Sasori menatap ke arah Sakura. Tampak terpejam—seperti pingsan berat. Secara refleks ia ingin berlutut di samping majikannya dan ingin menyadarkannya, sebelum kelengahannya itu berbuah pada rasa sakit akibat tendangan yang ia terima di pinggangnya.

Ia terhuyung, dan secara cepat segera menyeimbangkan tubuhnya. Mencoba menahan ringisan sakit, ia menatap tajam ke pria berjas tadi. Orang yang berada di dalam mobil pun turun, berdiri di samping pria berjas. Tanpa menjadi pintarpun, Sasori tahu bahwa dua orang tersebut pasti adalah suruhan lawan bisnis Ayah Sakura—jelas. Apalagi alasan orang lain menculik gadis konglomerat itu kalau bukan untuk memeras dan mengancam Ayahnya?

Sasori segera memasang kuda-kuda untuk bertarung. Dalam hati ia merasa sedikit panik dan takut. Ia memang pandai dalam karate, tetapi ini adalah pertama kali ia mempraktekkan olahraga tersebut di luar pertandingan. Lawannya pun bukan hanya satu. Itupun Sasori yakin mereka memiliki senjata di balik jas mereka!

"Pulanglah dan jangan campuri urusan kami, bocah," ujar si pria berjas dengan tenang.

Dan Sasori menjawabnya dengan melakukan sliding dan menendang mata kaki si pria berjas itu dengan kuat. Pria tersebut kembali mengumpat dan terjatuh mencium aspal. Temannya segera menarik kerah kaus Sasori dan melayangkan tinju ke wajahnya. Namun Sasori lebih gesit dengan menahan pukulan itu untuk kemudian menghantam pria tersebut dengan tangannya yang bebas.

"Kau mau mati, bocah tengik?!"

Tepat di saat hantaman si pria berjas hendak mengenai perutnya, Sasori berguling menjauh dan menjadikan pria itu meringis sakit tatkala hantamannya mencium aspal yang keras. Sasori lantas segera berdiri, lantas menendang perut lelaki itu ke atas, untuk kemudian diakhiri dengan menendang punggung pria itu ke bawah. Pria itu kembali terjatuh di aspal.

Pria berjas itu mengumpat dan segera berteriak kesal pada partner-nya yang masih terduduk mengeluhkan pelipisnya yang tadi habis dipukul Sasori.

"Kita tidak punya banyak waktu! Cepat habisi dia, brengsek!"

Sepertinya partnernya adalah orang yang patuh, karena lelaki itu segera bangkit dari duduknya sembari mengeluarkan benda di balik jasnya.

Pistol, yang segera tertempelkan ke pelipis kiri Sasori.

Di detik itu juga, rasanya seluruh darah Sasori membeku saat mulut pistol yang dingin itu menyentuh pelipisnya yang basah karena keringat.

Pemuda itu terhenyak, dengan napas tersengal-sengal dari mulutnya.

Si pemegang pistol tertawa merendahkan, "Inilah yang kau dapat, bocah! Sok jadi pahlawan mau menyelamatkan pacarmu?!"

"Brengsek! Jangan banyak bicara! Cepat habisi dia!"

"Sekalipun kalian membunuhku," ucap Sasori, mencoba tampil setenang mungkin, "Polisi sudah dalam perjalanan kemari. Kalian tidak akan bisa kabur."

Tentu saja itu hanya gertakan. Membawa ponselnya saja tidak!

Sasori mengedarkan pandangan ke parkiran. Hari yang lewat dini hari, menjadikan parkiran ini tampak sepi dan lengang. Hampir tidak ada manusia yang tampak selain mereka. Sasori berpikir, apakah parkiran ini juga ter-cover oleh kamera CCTV hotel.

"Bersiap-siaplah untuk mati, brengsek!" umpat si pemegang pistol. Jemarinya sudah siap menarik pelatuk dan memuntahkan peluru ke dalam otak bocah ingusan di depannya itu. Sebelum temannya memekik tertahan dan buru-buru bangkit.

"Sial! Cepat kita pergi!"

Si pria berjas menyeret lengan si lelaki pemegang pistol. Sasori menatap ke sumber suara berderap yang makin mendekat. Ia tidak pernah merasa selega dan sesenang ini ketika melihat dua orang petugas keamanan hotel, yang tampak berlari tergesa-gesa ke arah mereka.

"Tunggu! Jangan kabur!" teriak petugas hotel itu ketika mobil sedan hitam itu meluncur, hampir menyerempet tubuh Sasori yang masih membeku. Pandangannya mengikuti mobil sedan yang tampak melaju cepat hendak keluar dari parkiran dan halaman. Ebonynya menyipit, mencoba segera membaca nomor plat kendaraan. Dan ia merutuk kesal dalam hati ketika mobil sedan itu keburu berbelok dan hilang di balik mobil lain yang terparkir di parkiran.

"Apa kau tidak apa-apa, Nak?" salah satu petugas keamanan menghampirinya, sedangkan rekannya tampak mengejar mobil tersebut, meski tentu saja lelaki itu harus menyerah sampai di halaman hotel.

Alih-alih menjawab, atau sekedar menoleh, Sasori menatap Sakura yang masih pingsan. Ia segera mendekat, dan seketika berlutut di dekat gadis tersebut. Ia sangga kepala Sakura dengan sebelah lengannya.

"Sakura?" lirih Sasori berucap. Ia masih tersengal-sengal. Rambutnya tampak lebih berantakan dari biasanya. Rasa nyeri juga ada di lengan dan pinggangnya. Namun sepertinya ia tidak mengindahkan semua itu ketika pandangannya tertumpah penuh pada gadis berhelai merah muda di lengannya.

"Apakah gadis itu tidak apa-apa?" tanya si petugas hotel cemas sembari berjongkok di samping Sasori.

Sasori membuka kelopak mata Sakura yang terpejam, dan melihatnya, ia seketika tahu bahwa penculik tersebut telah menggunakan obat bius berdosis tinggi.

Sepertinya gadis ini tidak akan sadar untuk beberapa jam ke depan.

"Apa mereka tidak apa-apa?" satu lagi petugas keamanan telah kembali, dan menatap cemas ke arah dua remaja di dekatnya tersebut.

Namun yang bersuara bukan justru temannya. Adalah Sasori, yang menatap ke arah mereka berdua dengan tatapan tajam dan bersuara dengan tegas, "Tolong bawa dia ke rumah sakit sekarang!" Sasori bahkan merasa aneh mendengar suaranya sendiri yang terdengar bergetar, "Tolong."

Ia merasa panik. Juga takut. Dua perasaan tersebut yang melanda kuat dirinya dan dapat ia rasakan jelas melalui detakan jantungnya yang semakin cepat.

Padahal sebagai mahasiswa medis, ia tahu Sakura hanya pingsan dan ia akan baik-baik saja setelah siuman nanti. Tidak ada masalah. Tidak ada yang perlu ditakutkan secara berlebihan seperti ini.

Tetapi tetap saja, Sasori merasa seolah-olah kebakaran jenggot.

"Aku bisa meninggalkan gadis ini di sini sekarang jika aku mau, kau tahu? Toh aku hanya temannya dan KAU adalah ORANG YANG DIGAJI HARUNO MILYUNER KIZASHI UNTUK MENJADI PENGAWAL ANAKNYA. Aku bersyukur jika nanti kepalamulah yang ditembak, dengan begitu mungkin kepala itu tidak akan keras lagi dan kau bisa berpikir hal lain di dunia ini selain dua hal: teori kedokteran dan egomu! Lagipula, bukan aku yang menyebabkan Sakura-chan nyaris pingsan dan mabuk begini."

". Sakura tidak mau pulang dan hanya ingin pulang jika kau menjemputnya."

Tiba-tiba email Deidara kembali terlintas di pikirannya dan ucapan Ino kembali terngiang di telinganya.

Tanpa sadar, ia membawa gadis tersebut ke pelukannya. Dan ia eratkan, sembari ia mengatupkan kedua rahangnya dengan kuat.

Sasori tidak tahu, apakah rasa takut dan cemas yang tengah ia rasakan karena khawatir pada Sakura atau karena perasaan bersalah yang dalam yang tengah melanda dirinya.

-oOo-


Sebenarnya saya udah banyaaakk banget plot-plot dan rencana untuk fic ini, tetapi eksekusinya itu loh, sulit dan terkadang males banget lol *tendang WB* Jadi, maaf jika fic ini kelamaan updet-nya :3

Review? Takk (Thanks) :D

Yukeh