Udah berapa bulan saya tidak meng-update fic ini? Ah ya, 4 bulan. Oleh karenanya, to make it up, chapter ini akan ekstra panjang sekalian sebagai ganti absen update untuk beberapa bulan ke depan(?) #gagitu o.o
Naruto (c) Masashi Kishimoto
I don't own the picture
Chara: Sasori, Sakura (Main), Hinata, Sasuke, Naruto, Ino, Deidara (Other). Harap ingat bahwa selain SasoSaku, urutan penulisan chara mengindikasi porsi peran mereka di fic ini, bukan indikasi pairing atau hubungan tertentu di antara mereka. So don't get your hope up~ ^^b
Pairing: SasoSaku (FlaCher), other slight pairings included (let yourself guess what! :p)
Warning: AU, OoC, drama, nyinet, dan super duper mega ultra annoying and antagonistic Sakura Haruno.
No profit gained. Duh.
Happy reading~
Entah sudah berapa lama waktu bergulir—Sasori tidak mengerti. Ia terduduk, terdiam di bangku panjang di depan sebuah kamar perawatan di salah satu rumah sakit di Tokyo. Memandangi lantai putih keramik di bawah kakinya begitu lamat, seolah-olah lantai itu merupakan pemandangan paling menarik dan unik di dunia. Badannya sedikit membungkuk, menumpukan kedua sikunya pada pahanya, dengan kesepuluh jemarinya yang saling bertautan. Sesekali beberapa pengunjung wanita atau suster yang lewat melirik padanya, menaruh perhatian dan ketertarikan sekaligus sorot heran padanya. Namun pemuda berhelai merah itu tak sekalipun bahkan membalas lirikan mereka.
Barulah ketika suara yang menyerukan namanya terdengar olehnya, kepalanya mendongak. Dan saat menatap siapa yang tengah berjalan tergopoh-gopoh ke arahnya dengan raut khawatir itu, Sasori merasa seolah sekujur tubuhnya tiba-tiba disiram oleh air es tak kasat mata.
Kizashi Haruno, yang melangkah bersama dengan dua orang lainnya. Salah satunya Sasori kenali sebagai salah satu pengawal Kizashi Haruno, sedangkan yang satu tidak begitu ia ingat.
Seketika Sasori bangkit dari duduknya. Tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat, dan ia bisa merasakan satu tetes keringat meluncur dari pelipisnya. Ia menelan ludah dengan sulit, saat ia rasakan tenggorokannya tiba-tiba mengering di detik ia menjatuhkan pandangan pada salah satu orang nomor satu di Jepang tersebut.
"Oh ya, apa aku sudah bilang sebelumnya? DIA MABUK!"
"Sakura tidak mau pulang dan hanya ingin pulang jika kau menjemputnya."
"KAU adalah ORANG YANG DIGAJI HARUNO MILYUNER KIZASHI UNTUK MENJADI PENGAWAL ANAKNYA."
Kedua telapak tangan itu mengepal erat, bersama dengan rahangnya yang terkatup rapat.
Ia menjadi tidak heran jika setelah ini, ia mendapatkan lebih dari sekedar pemecatan. Bahkan mungkin tuntutan hukuman di pengadilan, atau hal yang lebih buruk lainnya.
Karena jauh dalam hati, sepanjang Sasori merenungi semuanya di bangku panjang ini, pemuda itu sadar, bahwa dirinya sendiri menjadi sebab utama Sakura yang mabuk dan hal buruk yang hampir dialami oleh gadis remaja itu.
Alih-alih Kizashi, justru satu pemuda yang berjalan di samping laki-laki itulah yang pertama kali bersuara ketika mereka sampai di depan Sasori.
"Bagaimana Sakura bisa seperti ini sedangkan kau bekerja belum ada dua minggu?" Sasuke mencetuskan kalimat itu dengan tenang dan lirih, namun siapapun bisa melihat sorot kemarahan yang jelas tampak dari cara dua onyx itu mengarahkan pandang pada Sasori.
Sedangkan Sasori tidak menurunkan pandangan ke lantai. Entah mengapa ia tiba-tiba merasa tak pantas untuk menatap Kizashi yang memberi sorot heran dan khawatir ke arahnya.
Ia sungguh merasa buruk.
"Haruno-sama—" apa yang harus ia katakan? "Maafkan saya," ia membungkuk dalam 90 derajat, dan ia tidak memberanikan diri untuk menegakkan tubuhnya.
Jujur saja, Sasori tidak mengerti apa yang harus dan pantas ia ucapkan selain itu. Rasa bersalah itu terasa begitu kuat hingga ia seolah kehilangan seluruh perbendaharaan kata selain kata'maaf'.
"Tegakkan tubuhmu, Sasori-san," ucap Kizashi, menyentuh sebelah pundak Sasori dan membuat pemuda itu sejenak tampak mengernyit, "Katakan, apa yang terjadi?"
Sasuke hanya mendengus dan memandang rendah.
Di saat itu, Sasori merasa lidahnya seketika kelu dan terasa sulit untuk digerakkan. Apa yang terjadi? Dia datang ke pesta ulang tahun, bertemu Haruno Sakura di sana, lantas mengucapkan kata-kata menyakitkan pada gadis itu, meninggalkan gadis itu hingga gadis itu mabuk, menjadi pengawal brengsek ber-ego tinggi yang sempat tidak mengacuhkan permintaan majikannya untuk menjemputnya, dan di atas semua itu, hampir membuat Haruno Sakura berada di tangan orang asing yang mungkin hendak berbuat buruk padanya?
Penjelasan yang bagus sekali untuk dikatakan pada seorang Haruno Kizashi mengenai putri tunggalnya.
"Maafkan saya," ucap Sasori tenang, namun penuh kesungguhan. Belum mampu ia kembali menegakkan tubuhnya yang masih ber-ojigi dalam-dalam, "Ini semua karena—"
"Sumimasen. Pasien sudah sadar."
Sontak mereka menoleh ke sumber suara. Seorang suster yang beberapa menit lalu datang dan mengecek keadaan Sakura. Kini wanita itu berdiri di pintu kamar Sakura yang terbuka olehnya.
"Oh, Sakura," Kizashi seketika melangkah dan memasuki ruangan, diikuti dengan sigap oleh pengawalnya yang juga turut melangkah, namun berhenti dan berdiri siaga tepat di dekat pintu kamar rawat Sakura.
Kedua kaki Sasori otomatis turut bergerak, hendak mengikuti langkah Kizashi, sebelum ia terpaksa terjajar mundur tatkala merasakan sebelah bahunya terdorong keras.
"Lucu sekali jika kau berpikir kami membiarkanmu menemui Sakura setelah semua ini," ucap Sasuke datar dan masih memandang tajam, "Enyahlah, rendah."
Sasori hanya terdiam dan memandang datar ke pemuda yang kini telah berbalik dan melangkah memasuki ruangan Sakura.
Menghela napas, Sasori menyisirkan kelima jarinya pada rambut depannya, ke belakang.
Mungkin sebaiknya memang begini. Jikapun diijinkan masukpun, ia tidak tahu apakah Haruno Sakura sendiri mau menatap mukanya atau tidak.
-oOo-
"Sakura!"
Kizashi mengucapkan nama putrinya bersama dengan ia yang langsung menghambur dan memeluk Sakura yang masih terbaring di ranjang. Ia tahu dari Sasori sebelumnya bahwa Sakura hanya pingsan karena terkena bius, namun tetap saja, Kizashi akan merasa sangat khawatir walau seandainya Sakura hanya mendapatkan bintik merah karena digigit semut.
"Sakura," Sasuke turut mendekat, berdiri di samping ranjang gadis tersebut.
"Apa kau tidak apa-apa, Nak?" Kizashi bertanya lirih sembari merapatkan pelukannya, "Mana yang sakit? Katakan pada Ayah."
Alih-alih menjawab, Sakura bahkan tidak melirikkan pandangan matanya pada Ayahnya atau Sasuke. Dua emerald-nya menatap lurus ke atap putih ruangannya. Pandangannya datar, seolah-olah sekalipun ia membuka mata, namun ia masih berada di alam bawah sadarnya. Ia tampak begitu pasif, sama sekali tidak membalas pelukan Ayahnya. Hanya sesekali berkedip, yang menandakan bahwa ia sudah sepenuhnya tersadar dari pingsannya.
"Putri Anda baik-baik saja," suster yang masih ada di ruangan itu berucap dan tersenyum, "Saya akan memanggil Dokter untuk memastikan keadaan putri Anda."
Kizashi melepaskan pelukannya, lantas menoleh dan tersenyum kecil pada suster tersebut, "Terimakasih, Suster."
Setelah petugas medis itu keluar dari ruangan, perhatian Kizashi kembali tumpah pada Sakura yang masih terdiam dan menatap langit-langit ruangan, "Sakura?" bisiknya sembari mengelus helai merah muda putrinya, "Bagaimana perasaanmu, Nak?"
"Apa kau baik-baik saja, Sakura?" tanya Sasuke, menggenggam sebelah tangan Sakura yang masih terkulai lemas, "Aku sangat mengkhawatirkanmu."
Ketika Sakura masih tampak terdiam dan seolah-olah pikiran dan jiwa gadis itu tidak tengah ada di sana, Kizashi dan Sasuke saling melempar pandangan heran. Kizashi makin nampak cemas karena Sakura seolah-olah tidak menyadari keberadaan mereka dari awal.
"Sakura?"
"…-kun…"
Kizashi semakin menunduk dan membelai rambut putrinya, "Apa, Sayang? Kau butuh apa? Air? Ayah akan—"
"Sasori-kun," setetes air mata terjatuh dari sebelah mata Sakura bersama dengan ia yang menoleh dan menatap Ayahnya, "Dimana Sasori-kun sekarang? Aku ingin bertemu."
"Sasori…" Kizashi menatap ragu dan khawatir pada putrinya. Menguatlah ekspresi cemas itu di raut paruh baya tersebut, tatkala mendapati putrinya entah mengapa tiba-tiba menangis demikian.
"Untuk apa kau tanyakan dia, Sakura?" Sasuke berujar, menguatkan pegangannya pada jemari Sakura, "Dia yang membuatmu seperti ini—"
"Apa dia ada di sini, Ayah?"
Kizashi tersenyum kecil, lantas mengangguk sembari menghapus jejak setetes air mata dari pelipis dan ujung mata putrinya, "Kau ingin bertemu dengannya, Sayang? Sasori-san ada di depan dan Ayah akan panggilkan—Sakura!"
Baik Kizashi ataupun Sasuke menatap terkejut tatkala dengan tiba-tiba, Sakura bangkit dan meloncat turun dari ranjang. Gadis itu segera melangkah cepat menuju ke pintu, sempat sekali menabrak meja samping ranjang. Langkahnya tampak terhuyung, efek dari pening dan lemas yang masih ia rasakan.
Namun ia tidak peduli.
Yang ada di mimpinya saat ia pingsan adalah Sasori. Yang teringat pertama kali olehnya saat ia sadar adalah Sasori. Dan yang paling ingin ia temui saat ini adalah Sasori. Hanya Sasori.
Ia melangkah keluar dari pintu, menoleh ke kanan, dan ia mendapatinya, terduduk dengan kepala tertunduk di bangku panjang depan ruangan.
Sakura bisa merasakan kedua matanya yang memanas, berair, dengan sejuta perasaan yang tiba-tiba membuncah di hatinya.
"Sasori-kun!"
Pemuda itu menoleh, menatap terkejut ke arahnya dan otomatis berdiri. Namun belum sempat ia mengucapkan apapun atau berbuat apapun lagi, ketika Sakura sudah melangkah dengan masih terhuyung menuju ke arahnya, untuk kemudian ia tubrukkan tubuhnya yang kecil ke tubuh yang lebih besar darinya.
Ia dekap erat. Ia lingkarkan erat kedua tangannya yang lebih kurus, ke sekeliling tubuh itu. Ia sandarkan kepalanya ke dada itu, ia benamkan wajahnya di sana pula.
Sasori adalah miliknya, hanya miliknya. Mungkin begitulah seandainya jika bahasa tubuhnya itu bisa bersuara.
Ia mulai terisak, namun ia sebisa mungkin menahannya dengan menggigit sebelah ujung bibirnya.
"…Jangan pergi dariku lagi," Sakura berbisik lirih, sembari air mata kembali membasahi wajahnya, "Aku tidak becanda. Aku bisa mati jika kau pergi lagi."
Sasori tidak menjawab. Jangankan bersuara, membalas pelukan itupun saja tidak. Ia terasa pasif, bahkan awalnya jelas terasa tegang dan sempat ingin menghindar.
Namun pada akhirnya pemuda itu tidak menolak, tidak memaksakan pelukan Sakura untuk lepas dan menjauh. Hanya tertunduk, menatap lantai di belakang tubuh Sakura. Dengan pandangan yang terlihat lebih sayu dari yang biasa.
"Berjanjilah untuk tidak pergi lagi…"
Pada akhirnya, satu tangan putih itu terangkat. Tampak ragu dan beberapa saat mengambang di udara. Sebelum pada akhirnya menyentuh dan melingkari pinggang gadis yang tengah memeluknya—gadis yang tengah menangis dan memohon padanya.
Dan pada akhirnya, tangannya yang lain turut melakukan hal yang sama dan semakin membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
Ia memejamkan mata ketika memeluk Sakura di antara kedua lengannya.
Kembali bayangan pertengkaran di pesta itu dan apa yang bisa terjadi pada Sakura jika Sasori tidak segera menyusulnya tepat waktu, terlintas di benak dan pikirannya.
Lagi, rasa bersalah dan takut itu semakin terasa.
Sayang, ia terpejam dan sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Hingga ia tidak bisa mendapati sepasang onyx yang menatap tajam, terdiam, namun menjanjikan ancaman yang bisa segera ia laksanakan.
-oOo-
Bunyi detak jarum jam adalah suara konstan dalam kamar berukuran sedang tersebut. Ruangan tampak gelap dan menyisakan hanya cahaya pucat dari bulan yang menerobos melalui jendela kaca yang tirainya tersibak. Meski jam dan langit yang gelap menerangkan hari yang sudah teramat larut, namun satu-satunya manusia yang menghuni tempat tersebut masih belum menutup kelopak dari matanya yang menampakkan sepasang iris lavender.
Tak peduli sudah berapa lama Hinata mencoba, namun tidur tidak menghampiri juga. Begitu banyak hal yang ada di pikirannya, dan berbagai perasaan berkecamuk di hatinya. Ia belum bisa mengenyahkan pemikiran mengenai Sakura dan pesta Ino dari benaknya. Hinata tahu bahwa sesungguhnya kejadian itu bukanlah salahnya—siapa yang tahu bahwa Sakura tidak datang dengan Uchiha-san, seperti biasanya—namun tiap kali Hinata mengingat bagaimana ekspresi Sakura saat menatapnya saat itu, membuatnya mau tak mau merasa bahwa dirinya begitu bersalah dan harus meminta maaf bagaimanapun juga.
Hinata tahu dan dapat melihat dengan jelas: Sakura begitu terluka.
Bukan pandangan marah atau benci yang biasanya akan gadis merah muda itu berikan padanya.
Namun terluka dan tersakiti.
Hinata menyendukan matanya.
Sesungguhnya jika ada hal yang paling ia inginkan mengenai Sakura, adalah agar gadis itu berhenti, atau setidaknya, tidak semakin membencinya. Jika adalah hal yang paling Hinata inginkan untuk terjadi kepada mereka berdua, adalah agar ia dan Sakura bisa berteman.
Tidak pernah ingin dan tidak pernah bermaksud ia untuk menyakiti dan membuat Sakura membencinya.
Hinata menghela napas dan segera mengambil ponselnya yang sebelumnya tergeletak di permukaan ranjang, tepat di sampingnya. Beberapa saat jemarinya sibuk menyentuh dan menyapu beberapa bagian di layar ponsel pintarnya, untuk kemudian ia arahkan benda itu ke telinganya.
Ia merasa perlu membagi semua ini dengan orang lain—meski tidak seluruhnya, namun cukup sebagian saja agar ia bisa merasa sedikit tenang.
Bunyi deringan terdengar lima kali di telinganya, sebelum suara sapaan yang terdengar sedikit serak oleh kantuk, menyapa telinga Hinata.
"Kau pernah bilang bahwa a-aku bisa setiap saat menghubungimu?" ucap Hinata lirih, lantas mengalihkan pandang ke arah jendela kaca di sampingnya yang menampakkan pemandangan khas malam di luar, "Maaf aku membangunkan dan menganggumu, Naruto-kun."
-oOo-
Kizashi Haruno tahu bahwa putrinya sangatlah manja. Apapun akan dimintanya, baik hal sepele ataupun hal yang begitu rumit, penting, dan sulit. Dan tentu saja, sebagai single parent yang sangat amat teramat menyayangi putri tunggalnya, Kizashi akan menuruti apapun yang Sakura mau dan memberikan apapun yang putri kecil itu minta. Bukankah itulah sumber utama yang membentuk karakteristik Sakura Haruno yang manja, childish, dan jujur, kurang sopan pada sekitar?
Namun untuk kali ini, Kizashi menatap heran bercampur ragu pada putrinya yang terduduk di ranjang rumah sakit, tepat di depannya.
Putrinya yang baru saja meminta—merajuk, merengek, dan agak memerintah—sesuatu kepadanya.
Merasa dipandang bagaikan orang gila, Sakura cemberut dan menatap heran ke arahnya, "Mengapa Ayah menatapku begitu?"
"Karena Ayah mendengarmu berucap kau meminta Akasuna-san untuk tinggal di mansion kita?" ucap Kizashi lebih mirip pertanyaan daripada pernyataan.
Sakura mengangguk tiga kali dan menatap kedua pasang iris Ayahnya dengan serius, "Aku ingin Sasori-kun pindah ke rumah kita."
Menghela napas, Kizashi memejamkan mata. Tiba-tiba kini ia merasa pusing, "Itu tidak bisa, Sakura-chan."
"Kenapa?"
Pertama, karena Sasori masih kuliah. Kedua, umur Sakura dan Sasori hanya terpaut lima tahun dan Kizashi bisa darah tinggi jika setiap hari mengkhawatirkan apa yang bisa terjadi antara putri dan pengawalnya—apalagi salah satunya begitu tertarik pada yang lain—jika mereka tinggal di bawah satu atap. Dan ketiga dan yang paling penting, Kizashi tahu dan sadar bahwa Akasuna Sasori pasti akan menolaknya tanpa perlu untuk berpikir bahkan satu kali.
"Karena Akasuna-san masih kuliah dan jarak kampusnya jauh dari mansion kita, Sakura-chan." Untuk menjaga perasaan dan debat panjang dengan Sakura, Kizashi memutuskan untuk membeberkan hanya alasan pertamanya saja.
"Dia bisa membawa mobil kita."
"Akasuna-san pasti menolaknya."
"Untuk itulah aku meminta Ayah! Dia menghormati Ayah dan pasti dia menyutujuinya!"
"Apa kau tidak kasihan pada Akasuna -san? Jarak kampusnya dengan mansion kita jauh dan pasti melelahkan. Bagaimana jika ada sesuatu yang tertinggal dan ia harus mengambilnya ke mansion kita?"
"Kenapa Ayah ribet sekali, sih!?" akhirnya Sakura sedikit berteriak. Ia menatap jengkel ke arah Ayahnya, "Jika Ayah tidak mengijinkan, ya sudah, aku saja yang pindah dan tinggal di apartemen dekat Sasori-kun."
Harusnya Kizashi bisa belajar dari pengalaman, bahwa jika berdebat mengenai keinginan gadis itu, pasti akhirnya Kizashi harus mengalah dan menurutinya.
Selalu.
Pria paruh baya itu melirik ke arah jendela kamar rawat yang didiami Sakura. Dipandangnya Sasori yang tengah terduduk di bangku panjang dengan Sasuke yang terduduk beberapa jarak dari pemuda berhelai merah itu.
"Boleh Ayah tahu apa alasannya?" tanya Kizashi, kembali menatap ke arah putri tunggalnya.
Seketika, bisa Kizashi lihat adanya ekspresi sedih bercampur marah yang tampak jelas di kedua iris emerald bening milik putrinya.
"Aku….," lirih Sakura, mengepalkan kedua tangannya untuk meremas selimut yang menutupi kaki dan sebatas pinggangnya, "Hanya ingin pengawalku ada terus di samping dan menjagaku."
Meski Kizashi bisa menemukan logika dari alasan Sakura, namun lelaki itu sama sekali tidak berpikir bahwa maksud dan arti ucapan Sakura bukanlah seperti apa yang dipikirkannya.
Iris emerald Sakura bergulir dan menatap Sasori yang berada di luar kamar rawatnya.
Ia mengatupkan kedua rahangnya.
'Karena Sasori-kun milikku. Dia harus berada denganku jauh lebih sering dibandingkan dengan gadis Hyuuga itu.'
-oOo-
Suara ketukan sepatu di lantai keramik terdengar mendekatinya, dan membuat Sasori menolehkan kepalanya dan menghentikan semua pemikiran yang sedang ada di otaknya saat itu. Begitu menoleh, adalah pantulan dari Uchiha Sasuke yang tampak rapih, sempurna, dan berkuasa, di sepasang iris ebony miliknya.
Wajah yang semula terkesan datar dan dingin, retak oleh satu senyum miring yang ada di bibir pemuda berhelai raven itu.
"Haruno-sama dan putrinya sedang bicara berdua. Boleh aku duduk di sini?"
Sasori hanya memandang Sasuke dan menganggguk.
Setelah kini Sasori perhatikan Sasuke dengan baik, satu ingatan muncul di pikirannya. Tentu saja ia tidak mengetahui hampir apapun mengenai pemuda itu. Hanya satu kali sebelum ini mereka pernah bertemu. Hanya sebentar, dan Sasori pun hanya menatapnya dari spion mobil Haruno yang waktu itu dikendarainya untuk mengantar Sakura ke sekolah. Namun apapun, dari cara bagaimana waktu itu majikannya mengobrol dengan pemuda ini dan bagaimana pemuda itu tadi mengkhawatirkan Sakura, Sasori tahu bahwa hubungan keduanya pasti dekat.
"Kau Akasuna Sasori?" Sasuke mengulurkan tangan, "Uchiha Sasuke."
Sedikit terbelalak kedua mata Sasori saat mendengarnya. Tentu saja, siapa yang tidak pernah mendengar nama klan Uchiha di Jepang ini? Setelah mengenal dan berurusan dengan keluarga milyuner Haruno, kini di hadapannya adalah salah satu anggota dari Dinasti Uchiha?
Sasori mengulurkan tangannya. Dan hanya sedetik, sebelum Sasuke dengan cepat melepaskan jabatan mereka.
"Maaf atas ucapanku tadi," ucap Sasuke, mengalihkan pandang dan mengarahkannya pada tangannya yang kini tengah ia sapukan pada sapu tangan yang baru saja ia keluarkan dari saku kemejanya, "Aku hanya mengkhawatirkan Sakura."
Sasori menatap lantai di dekat kedua kakinya. Pandangannya menyendu. Perasaan bersalah itu kembali hinggap di hati dan pemikirannya.
"Tapi kekhawatiranku tidak seberapa jika dibandingkan dengan rasa cemas Haruno-sama," Sasuke melirik ke arah Sasori yang masih terdiam.
Untuk beberapa saat kemudian, pemuda berhelai merah itu bersuara lirih, "Aku minta maaf."
Sasuke melengkungkan bibirnya ke bawah dan menyipitkan pandangan. Sejak hari di mana ia mengetahui bahwa pemuda ini adalah pemuda yang pada waktu itu dibicarakan Sakura—bahwa dengan tersipu malu, gadis itu mengakui bahwa ia tengah sangat jatuh cinta—Sasuke memutuskan bahwa Sasori adalah ancaman terbesar untuknya—dan keluarga Uchiha. Belum lagi dengan ditambah dengan status sosial pemuda itu—pemuda kelas bawah yang anehnya mampu membutakan hati putri tunggal Haruno yang selama ini Sasuke tahu memandang semuanya dari harta dan tahta. Dan sekarang, setelah bertemu langsung, Sasuke masih belum mengerti apa yang dimiliki pemuda itu dan tidak ia miliki yang membuat Sakura harus bersikap ingin lengket seperti perangko pada pemuda itu.
Bukan. Ini bukan rasa cemburu. Hanya terancam.
Hanya itu.
"Dari yang kulihat, Sakura sangat…," Sasuke memilih kata yang tepat dan sedikit melenceng dari kebenaran, "Mengagumimu."
Sampai mati tidak akan ia mau mengakui bahwa Sakura mencintai pemuda itu.
Haruno Sakura mencintai Akasuna Sampah Sasori, dan Uchiha Sasuke harus mengatakan itu?
Tanpa sadar pandangan Sasori teralih pada kaca jendela kamar rawat di depannya. Bisa ia lihat Sakura terduduk di ranjang dengan Kizashi Haruno yang berada tepat di sampingnya, seperti membicarakan sesuatu.
"Tapi itu bukan berarti Haruno-sama, atau aku, akan membiarkan kejadian seperti ini terulang lagi," kata Sasuke datar dan lirih. Pandangannya semakin menajam, dan sepasang onyx itu tampak berkilat di bawah sinar lampu beberapa jauh di atap di depan mereka.
Sasori melirik Sasuke, dan bisa ia lihat jelas ekspresi itu jauh dari kata bersahabat.
"Meskipun Sakura mengagumimu dan Haruno-sama memaafkanmu, aku tidak mempercayaimu, Akasuna."
Pandangan Sasori hanya bersorot datar membalas tatapan onyx itu padanya.
"Jangan berani kau berniat dan berbuat lucu. Aku mengawasimu."
Pandangan heran Sasori berubah menjadi tatapan kesal. Sama sekali tidak mengerti mengapa pemuda itu tiba-tiba berucap demikian padanya. Namun firasatnya seketika mengatakan bahwa Sasori tidak boleh meremehkannya—tentu saja, dia seorang Uchiha, apapun pasti bisa dilakukannya.
Sasuke berdiri memasukkan kedua tangannya ke saku. Ia menoleh dan menatap Sasori, sebuah seringai muncul di wajah tampannya.
"Kemarin malam untuk pertama kalinya Sakura minum alkohol, ya? Kau hebat."
Dan pemuda berhelai raven itu melangkah, menghampiri dan membuka pintu ruang rawat di mana Sakura dan Kizashi berada.
Meninggalkan Sasori hanya terdiam dan memandang punggungnya dengan tajam, hingga punggung Sasuke menghilang di balik pintu ruangan yang kembali tertutup olehnya.
-oOo-
Saat waktu menunjukkan pukul sembilan, saat matahari telah bersinar cerah dan hangat, dan saat suara musik rock Kisame menghentakkan seluruh sudut kosan tersebutlah, Deidara membuka mata dengan posisi tidurnya yang masih terduduk di kursi meja kamarnya dengan laptop dengan mode sleep yang berada di samping kepalanya.
Pemuda itu masih merasa begitu berat untuk membuka mata, namun bagaikan pepatah hidup segan mati tak mau, ia pun ingin segera terbangun, berjalan ke lantai dasar, lantas memutilasi Kisame yang sudah membuatnya bad mood hanya dengan musik rock yang mendzalimi telinganya di pagi hari demikian. Pemuda itu akhirnya terbangun, menatap heran ke arah laptop dan baru mengingat mengapa ia tidur di kursi demikian, bukan di ranjangnya. Kerja kebut tiga jam lewat dini hari untuk menyelesaikan laporan kepanitiaan yang menggunung.
Mematikan laptop, pemuda itu melirik ke arah jam digital miliknya dan menyadari bahwa ia masih memiliki waktu satu jam untuk berangkat ke kampus. Melangkah keluar dari kamarnya, niatnya untuk menistai harga diri Kisame hingga pemuda itu merasa putus asa akan hidup, tersingkir dari otaknya tatkala matanya seketika tertumbuk pada pintu kamar yang berada beberapa jauh dari kamarnya.
Begitu terburu-buru untuk segera menyelesaikan laporan, kemarin malam Deidara langsung saja menuju kamarnya dan mengerjakan tugasnya tanpa peduli atau memikirkan hal lain pun pula. Termasuk Sasori, orang yang secara tidak langsung membuatnya harus berada di Hotel Yukihara lebih lama dari seharusnya dan membuatnya kalang kabut dengan tugasnya begitu sampai di kosan.
Memori mengenai malam sebelumnya seketika terlintas di benak Deidara.
Pintu kamar itu terbuka dan sekarang sudah pukul sembilan pagi. Deidara mendengus. Pasti pemuda angkuh dan keras kepala itu benar-benar tidak mengacuhkan semua emailnya. Tentu saja, jika Sasori benar-benar pergi, pasti pintu kamarnya akan ia tutup—pemuda kaku begitu mana mungkin mengijinkan bahkan bakteri merayap masuk ke kamarnya. Jadi kesimpulannya, Sasori tetap menjadi Sasori dan tidak menjalankan tugasnya sebagai pengawal Haruno.
Bukannya apa. Hanya saja, Deidara harus merelakan waktunya bersama Sakura lebih lama dan membujuk berkali-kali gadis itu untuk pulang hingga rasanya tenggorokannya mengering, kalang kabut mengerjakan tugas, dan apa? Pengawal sialan itu yang seharusnya bertanggungjawab, justru tetap ngorok dan menjalani hidupnya dengan damai seolah-olah ia bukanlah orang paling menyebalkan di dunia.
Deidara melangkah, hendak menuju ke kamar sahabatnya dan akan memberinya 'siraman rohani' di pagi hari. Sudah terlanjur dongkol, sih. Namun baru saja ia membuat satu langkah, sebuah suara yang ia kenali sebagai suara sahabatnya yang lain, terdengar dari arah sampingnya.
"Dei, tahu Sasori kemana?"
Deidara menoleh dan menatap Kisame dengan heran, "Ha?"
"Beberapa kali telepon kos sejak pagi berdering dari beberapa orang yang ingin menelpon Sasori," Kisame menjelaskan, "Lagian kau sih, ngorok kayak orang mati. Telepon kos dekat kamar tidak dengar juga."
Deidara menahan untuk tidak melempar telepon yang dimaksud, ke arah Kisame, "Memang Sasori kemana?"
"Itu bukannya pertanyaan yang harusnya kau jawab?" tanya Kisame, "Aku tanya duluan, tahu?"
Deidara menatap tak mengerti, lantas menoleh ke kamar Sasori, "Bukannya dia ada di kosan?"
Kisame menggeleng, "Sejak aku terbangun pagi ini, kamarnya sudah terbuka begitu. Pas aku nyari dia, aku lihat ponselnya juga ada di kamar. Tapi dia tidak ada," Kisame mengendikkan bahu, "Pantesan semua orang yang ingin menghubunginya menelpon ke telepon kos ini."
Deidara menatap Kisame dengan pandangan blank yang membuat Kisame berpikir apakah ia bisa terlihat sebodoh Deidara jika ia membuat ekspresi yang sama di wajah birunya.
Namun ketika semua ucapan Kisame terproses di otaknya dan pemuda berhelai pirang itu bisa menarik kesimpulan, tanpa sadar ia menghela napas lega.
Meski jujur, sedikit khawatir juga karena tidak biasanya, Sasori pergi tanpa sempat membawa ponsel atau bahkan, sekedar menutup pintu kamarnya.
"Ada apa kau mendesah begitu heh, Banci?" Kisame keki, "Jadi kau tahu Sasori dimana atau tidak?"
Pandangan lega Deidara berubah menjadi wajah super duper ekstra dongkol.
"Jika Ibu Kos kesini nanti, aku bilang bahwa kau sengaja menghabiskan uang jatah kosmu untuk membeli beberapa DVD musik rock-mu, Ikan Jahannam!"
Hening sesaat.
"….Crap. Dei. Plis. Sori."
-oOo-
Karena Haruno Sakura tidak mengalami luka yang cukup serius, bahkan Dokter yang merawatnya mengatakan bahwa kondisi Sakura sehat dan normal, maka tepat di pukul tujuh pagi hari gadis itu sudah meninggalkan rumah sakit bersama dengan Ayah, Sasuke, Sasori, dan satu pengawal pribadi Haruno Kizashi. Hanya untuk hari itu saja, Kizashi mentolerir, bahkan menyarankan Sakura untuk tidak masuk sekolah dan istirahat di rumah. Sikap overprotective dan kelewat sayang Kizashi pada putrinya membuatnya perlu memastikan bahwa Sakura baik-baik saja sekalipun Dokter sudah mengatakan hal demikian sebelumnya.
Namun Haruno Kizashi justru merentangkan sebelah tangannya tepat di pintu belakang mobil, saat putrinya hendak memasukinya, "Maaf, Sayang. Tapi Ayah harus langsung pergi ke kantor. Ada meeting yang benar-benar tidak bisa Ayah tunda," tanpa menunggu respon Sakura, Kizashi menoleh dan menatap pada Sasuke yang berjalan tepat di sebelah putrinya, "Sasuke, biarkan Sakura naik ke mobilmu dan antarkan dia, oke?"
"Sasori-kun juga, ya, Ayah?" tanya Sakura.
Namun suara Sasori yang sejak tadi berdiri di belakangnya, membuat Sakura menoleh, "Maaf, Haruno-sama. Saya membawa motor dan juga saya perlu pulang—"
"Kau pokoknya harus pulang denganku, Sasori-kun," Sakura mulai terdengar memaksa dan merajuk, "Kau yang mengendarai mobil Sasuke dan kita ke rumahku."
Sasuke otomatis melotot, "Sakura—"
Masih menatap Sasori, Sakura berucap, "Lagian kau mau pulang kemana lagi? Mulai hari ini, kau akan tinggal di mansion bersama denganku!" ia menoleh ke Sasuke, dan dengan santai ia tersenyum dan berucap ceria, "Nah, Sasuke-kun, kau yang bawa motor Sasori-kun, oke? Kau bisa, 'kan? Kita tidak bisa meninggalkan motornya di sini. Onegai."
Sasori dan Sasuke sama-sama melotot. Untuk alasan yang berbeda. Sasori yang terkejut akan keputusan sepihak dan informasi mendadak mengenai status tempat tinggalnya. Dan Sasuke yang, pertama, merasa dinistai martabatnya karena dilarang mengendarai mobil mewahnya sendiri yang susah payah ia beli, dan justru harus berpanas-panas mengendarai motor bebek di jalan yang berdebu dan penuh polusi. Kedua, karena kini si muda Uchiha mendengar bahwa… apa? Akasuna akan tinggal di mansion Haruno? Sampah itu akan ditampung di mansion Haruno?
"Sakura!"
"Haruno-sama!"
Sasori dan Sasuke berucap secara bersamaan.
Sasori menatap ke arah Kizashi, meminta penjelasan melalui pandangan terkejut dan heran dari sepasang karamelnya.
Dan Kizashi hanya menghela napas, memejamkan mata, dan memijit batang hidungnya, "Ah aku hampir lupa. Kita perlu bicara sebentar, Akasuna-san."
Sedangkan Sasuke terdiam, tanpa sadar tangannya mengepal. Sepertinya pengawal baru itu lebih berbahaya dari yang ia duga, dan ia harus bertindak dan memikirkan sesuatu dengan lebih cepat dari yang ia kira pula.
-oOo-
Pandangan sepasang lavender itu tampak fokus menatap ke layar di depannya yang menampilkan simbol-simbol tertentu yang bergerak dan silih berganti. Seiring dengan itu, kedua kaki rampingnya tampak sibuk bergerak-gerak, menginjak-injak beberapa simbol di lantai ia berpijak. Tampak semangat, tampak fokus, meskipun ia sudah memainkan permainan DDR itu sejak beberapa menit lamanya.
Pada akhirnya, setelah lagu berakhir, ia hanya menghela napas ketika menyadari bahwa ia telah melakukan banyak kesalahan terlepas dari sudah berapa kali ia mencoba permainan itu dalam sehari ini.
"Cukup melelahkan, bukan?"
Hinata menoleh, dan tatapannya bertemu dengan sepasang iris biru cerah yang menatapnya. Ia tersenyum lebar dan mengangguk, "Tapi seru, Naruto-kun. Kau pasti sering memainkannya hingga nilaimu tinggi begitu."
Tawa kecil lolos dari mulut Naruto bersama dengan mereka yang mulai berjalan menjauhi permainan tersebut, "Aku ini bodoh dan sering dapat masalah di sekolah. Saat-saat itulah aku akan melampiaskan semua kecewa dan marahku dengan bermain DDR dan kubayangkan bahwa yang kuinjak sekuat tenaga itu adalah kertas ulanganku yang bernilai buruk. Hehehe," ia menoleh ke arah Hinata dan memberi pandangan memohon, "Ah, tapi jangan bilang ke Ibu atau Karin ya, jika aku sering ke sini. Hanya Hinata-chan yang tahu soalnya."
Menyapu peluh di wajahnya dengan tisu yang ia bawa, Hinata menatap Naruto dengan senyum lembut dan pandangan tidak setuju, "Jika aku tidak mau?"
Naruto melipat kedua tangan, "Aku tidak akan mengajakmu lagi."
Senyum geli ada di bibir Hinata bersama dengan pandangannya yang sengaja ia buat sedikit angkuh, "Aku bisa mengajak orang lain."
"Siapa? Sasori? Aku jamin dia lebih tertarik kau ajak ke perpustakaan daripada bermain seperti tadi!"
Niat Naruto hanya bercanda, namun ketika melihat raut sendu ada di wajah kekasih Kakaknya itu, mau tak mau pemuda itu menghapus senyum mengejeknya.
Ia berdeham lirih, "Oke, jadi kau mau kita makan siang di mana?"
Naruto senang ketika tanpa diduga Hinata memintanya untuk pergi menemuinya. Namun tentu saja pemuda itu tahu bahwa gadis itu biasanya jarang sekali mengajaknya seperti ini. Kecuali jika Hinata memang ingin melupakan sesuatu. Ingin menghindari sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Toh Naruto mengenal Hinata tidak sejak kemarin sore saja—tiga tahun.
Dan melihat wajah sendu gadis itu saat ini, Naruto bisa menebak bahwa sesuatu itu pasti menyangkut tidak jauh-jauh dari Kakak tertuanya,
-oOo-
Tubuh Sakura limbung tatkala tanpa sengaja kakinya terselip ketika menaiki tangga besar mansion untuk menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Namun sebelum ia terjatuh atau lebih buruk lagi, menggelinding ke lantai dasar, tubuhnya sudah tersangga oleh dua lengan dan pundak Sasori yang sejak awal berjalan di belakangnya.
"Hati-hati, Haruno-sama. Apa kau baik-baik saja?"
Jika pelayannya yang lain, Sakura pasti akan langsung membentak dan marah-marah karena menganggap mereka berisik atau lancang menyentuhnya. Namun jika Akasuna Sasori, perilaku yang sama justru membuat rona merah ada di pipi putihnya dan debaran jantungnya mendadak menggila di balik tulang rusuknya.
"T-tidak apa-apa," ia mengangkat sebelah tangannya lantas sedikit mengernyitkan kedua matanya, "Hanya masih lemas dan merasa pusing."
Peduli sangat Dokter di rumah sakit sebelumnya mengatakan bahwa ia sudah benar-benar sehat. Habisnya, entah sejak kapan Sakura merasa begitu menikmati sikap khawatir dan perhatian Sasori yang sangat jarang didapatkan olehnya.
"Saya bantu Anda berjalan, jika begitu."
Dan kapan lagi juga bisa berjalan dengan dituntun dan berada sedekat itu dengan Sasori?
Dua pundak mereka yang bersentuhan. Dua lengan pemuda itu memegangi kedua lengannya. Sikapnya yang begitu protektif sepanjang mereka berjalan menuju kamarnya…
Sakura hanya berjalan diam dan sibuk dengan pemikiran dan perasaannya sendiri, tak peduli Tayuya, salah satu pelayan mansion berjalan sembari mengamati keduanya dari belakang.
Bisa Tayuya lihat dan sadari dengan jelas bahwa Nona mudanya benar-benar tertarik dan begitu senang berada di dekat pengawal pribadinya.
Begitu sampai kamar, Sakura seketika berbaring setengah duduk di atas ranjangnya, dibantu dengan Tayuya yang dengan sigap mengenakan selimut di sekitar kaki dan pinggang Haruno muda.
"Apa Anda sudah merasa baikan, Haruno-sama?" tanya Sasori sembari masih berdiri di samping ranjang Sakura.
Mau tak mau, Sakura sangat menikmati mendapatkan pertanyaan berindikasi kekhawatiran itu tertujukan dari pemuda itu terhadap dirinya, "Sudah kubilang berulang kali, bisakah kau memanggilku Sakura saja?" ia tersenyum, lantas menjawab pertanyaan Sasori sebelumnya, "Hm, aku sudah agak mendingan," ia mengangguk.
Sasori menghela napas, "Baiklah jika begitu saya harus permisi—" satu tangan ramping sontak melingkar di pergelangan tangan kanannya.
Sakura menatap protes ke arahnya, "Kau mau pergi?"
Kepala berhelai merah itu mengangguk, "Ada urusan yang harus saya kerjakan di kos—"
"Tapi nanti Sasori-kun akan kembali kesini, 'kan? Sasori-kun beneran akan tinggal juga di rumah ini, 'kan?" dua emerald itu menatap penuh harap dan nada rajuk dan cemas itu kentara sekali dalam suaranya.
Sementara Tayuya sedikit membelalakkan mata mendengar informasi yang baru saja ia dengar, Sasori hanya memejamkan mata sejenak sebelum berbicara dengan suara sedikit tertekan, "Kita dan Ayah Anda sudah membicarakan mengenai ini sebelum kita pulang kemari, bukan? Maaf, tapi saya tidak bisa."
"Tapi Sasori-kun, kau harus menjagaku. Bukankah itu tugasmu?"
"Saya tahu tetapi itu bukan berarti saya bisa dan mau untuk tinggal di sini, sementara saya juga masih kuliah."
"Bagaimana…" Sakura menelan ludah. Pandangannya menyendu saat otaknya mengulas kejadian buruk yang semalam menimpanya—juga beberapa kejadian serupa yang pernah ia alami sebelumnya, "Bagaimana jika mereka datang lagi? Bagaimana jika mereka datang dan kali ini kau tidak ada?"
Bayangan akan masa lalu membuatnya tak menyadari tubuhnya sedikit menggigil. Teror yang pernah ia dapat kini serasa bangkit dan menyeruak setelah susah payah ia pendam. Rasa takut, rasa gentar, dan semua hal yang tidak pernah ia rasakan jika ia masih berada di lindungan mansion mewahnya.
Dan kemarin malam, hampir saja hal serupa kembali ia rasakan.
Tanpa ia sadari, sebelah tangannya bergerak dan menyentuh sisi pinggangnya yang terbalut oleh kain blus yang ia pakai.
"Itu… tidak akan terjadi lagi."
Suara Sasori menyadarkan Sakura. Gadis itu mendongak, dan menatap pengawalnya menatapnya lurus ke kedua emeraldnya.
"Saya berjanji, saya akan melindungi Anda sebaik mungkin yang saya bisa."
Tentu saja Sakura tahu bahwa kalimat Sasori tak lebih dari kalimat sumpah yang diucapkan pengawal kepada majikannya. Itu wajar dan tidak aneh.
Namun tetap saja, Sakura merasa bahagia mendengarnya.
"Saya juga…," pandangan dua hazel itu menurun, "Meminta maaf."
Sejenak, Sakura hanya terdiam dan menatap, lantas menoleh pada Tayuya, "Bisa kau siapkan bubur untukku? Aku lapar."
Tayuya segera mengangguk lantas beranjak keluar, setelah melempar pandang sekali lagi pada pemuda berhelai merah yang berdiri di dekat majikannya.
Setelah Tayuya pergi, Sasori merasa bahwa ia bisa dengan lebih nyaman bersuara dan meneruskan kalimat yang hendak ia ucapkan.
"Tidak seharusnya saya bersikap seperti apa yang saya lakukan kemarin malam. Maaf, karena Anda hampir mendapatkan bahaya dan celaka karena kecerobohan saya," tak berani hazel itu untuk menaikkan pandang dan bertabrak dengan emerald yang menatapnya. Untuk pertama kalinya Sasori merasa sadar diri di depan gadis itu. Merasa rendah dan merasa begitu buruk. Gadis yang selama ini hanya ia anggap terlalu menggangu dan merepotkan. Namun ketika mengingat kembali kejadian kemarin malam, mau tak mau ia merasa bersalah. Merasa begitu buruk.
Sakura yang mabuk dan hampir terluka dan diculik oleh orang-orang asing itu.
Tidakkah salah satu tugas utama yang dibebankan Kizashi padanya adalah untuk mencegah hal-hal demikian terjadi pada putri tunggalnya?
Sakura memang salah, dengan membentak dan membuat keributan lebih dahulu. Tetapi tidakkah ia seharusnya sudah paham dengan sifat gadis itu? Tidakkah ia seharusnya bisa bersikap professional dan berhenti menjadi kepala batu?
"Saya benar-benar meminta maaf," pada akhirnya Sasori berucap lirih namun tegas, lantas membungkuk 90 derajat di depan gadis berhelai merah muda.
Namun setelah apa yang ia lakukan dan ia ucapkan, kedua telinganya justru mendengar suara tawa lirih, "Sasori-kun, tegakkan kembali badanmu."
Saat Sasori melakukannya dan kembali menatap kedua mata itu, ia tidak tahu mengapa justru ia lihat sebuah senyum yang terpasang di bibir itu.
Cukup mengherankan, mengingat malam sebelumnya Sasori masih ingat betul bagaimana gadis itu memberinya sorot marah dan kecewa.
"Aku tidak apa-apa," Sakura menggeleng lirih, lantas kembali tersenyum kecil dan mengalihkan pandang. Ia tatap jendela kaca di samping ranjangnya dengan tatapan mengulas, "Aku memang marah, sedih, dan begitu takut…. Benar-benar sedih dan takut."
Baik terhadap pernyataan dari Sasori mengenai hubungannya dengan Hyuuga, maupun bahaya yang hampir menimpa Sakura untuk kesekian kalinya sepanjang hidupnya.
"Tapi—" kepala itu menoleh, lantas bibir itu mengulum senyum kecil yang sampai hingga ke kedua emerald jernihnya, "Kau juga tak tahu betapa aku merasa lega saat aku tahu kau kembali padaku. Bahwa kau peduli padaku. Bahwa kau ada di sana saat aku terbangun dari pingsanku."
Sejenak, Sasori tampak tertegun, untuk kemudian ia mengalihkan pandang, "Itu memang tugas saya."
"Nah kalau begitu kau sudah menjalankan tugasmu dengan baik. Untuk apa meminta maaf?"
"Karena saya lalai menjaga Anda dan mengecewakan Haruno Kizashi-sama."
"Siapa bilang? Tidakkah tadi Ayah berterimakasih padamu karena telah menyelamatkanku?"
"Tetap saja—"
"Ish, siapa sangka jika Sasori-kun begini maso," Sakura justru tertawa saat Sasori melempar lirikan tajam ke arahnya, "Sudah kubilang berhenti minta maaf, 'kan?" gadis itu tiba-tiba sedikit membelalak, seakan-akan ada hal yang baru saja ia ingat atau ia pikirkan, "Kalau Sasori -kun memaksa dan tetap merasa bersalah, kau bisa melakukan satu hal untuk menebusnya kok."
Saat Sasori hanya terdiam namun memandang Sakura demikian rupa seakan menunggu kelanjutan ucapan gadis itu, Sakura kembali berujar sembari melipat kedua tangan di dada dan sedikit mengangkat dagunya, "Tinggallah di mansion ini bersamaku!"
Wajah Sasori kembali ke raut datar yang sering ia pakai di kesehariannya.
"Kita sudah membahas hal ini dan saya tidak bisa."
"Heeee?" Sakura tanpa sadar menepuk keras guling yang ada di dekatnya, "Kenapa?"
"Kita sudah membicarakannya sebelum pulang, bahkan sepanjang perjalanan," Sasori menghela napas, "Maaf, tapi sepertinya sekarang saya harus segera pergi."
"Kemana? Boleh aku ikut pergi?"
"Haruno-sama…." Sasori sampai merasa kehilangan kata-kata dan menatap dengan pandangan sedikit jengah.
Sakura terdiam, merasa ia tidak boleh memaksa lagi ketika Sasori sudah memberi ekspresi demikian. Ia sudah cukup mengalami kejadian seperti ini sebelumnya untuk tahu kapan Sasori akan merasa begitu dongkol dan jengkel padanya.
Dan saat kini hubungan mereka membaik, membuat Sasori sebal adalah hal terakhir yang Sakura inginkan di dunia ini.
"Tapi… nanti Sasori-kun akan kemari lagi, 'kan?" tanya Sakura, memaksakan dirinya untuk mengalah.
"Hm," Sasori mengangguk.
"Apa…." Pandangan Sakura mengarah pada selimut di sekitar pinggangnya. Tanpa sadar kedua tangannya mengepal, dan ia paksakan mengucapkan kalimat yang serasa bagai duri baik di lidah, hati, maupun pikirannya, "Apa sekarang kau akan menemui Hyuuga Hinata?"
Hanya terdiam sejenak sembari memandang wajah gadis merah muda di depannya. Namun beberapa saat kemudian Sasori berucap singkat, "Tidak," bisa ia lihat jelas Sakura yang menghembuskan napas, "Urusan kampus yang harus segera saya selesaikan."
Ekspresi ceria yang normal ada di wajah kecil itu, kembali nampak bersama dengan kepala yang mengangguk semangat, "Um! Baiklah kalau begitu!" Sakura teringat sesuatu, "Eh tapi, bukankah motormu masih dibawa Sasuke-kun perjalanan kemari—"
Seperti pertanda, pintu kamar Sakura menjeblak terbuka dengan kasar seakan-akan habis ditendang dengan kuat dari luar. Sasori dan Sakura sontak menoleh, dan di kedua iris mereka adalah pantulan bayangan dari seorang Uchiha Sasuke yang berdiri di pintu kamar yang terbuka lebar.
Uchiha Sasuke yang berkeringat, lelah, dan kini menatap dengan aura hitam dan ekspresi sarat kedongkolan di wajah pucatnya.
"Maaf aku baru sampai, kalian tahu, motor tidak bisa melaju secepat itu," gumamnya datar, meski dalam hati timbul keinginan kuat-kuat untuk tampil OoC dan misuh-misuh.
"Tak apa, Sasuke-kun," Sakura tersenyum, "Kebetulan juga Sasori-kun sudah akan pulang dan untung motornya sudah kau antarkan kemari."
Jika dalam keadaan normal Sasuke akan khilaf dan melempar death glare-nya pada Sakura, yang biasanya selalu ia usahakan beri tatapan lembut dan memperlakukannya seperti putri. Namun kini ketika gadis itu kini memperlakukannya seakan ia tak lebih dari kurir antar motor, Sasuke justru tertegun dan menaikkan sebelah alisnya.
Pulang?
"Kupikir dia akan mulai tinggal di sini."
Sakura menggeleng, "Aku, Ayah, dan Sasori-kun sebelumnya sudah berbicara dan yah… Sasori-kun tidak bisa menerimanya."
Sasuke merasa senang bercampur keki. Senang karena sampah itu tidak jadi ditampung di mansion ini, dan keki karena Sakura kelihatan kecewa akan hal ini.
"Oh, oke," Sasuke mengendikkan bahu, lantas menoleh ke Sasori dan melempar kunci motor dengan acuh tak acuh, yang mana Sasori dengan mudah dan sigap menangkapnya, "Pasti menyebalkan bagimu setiap hari harus kepanasan dan terkena polusi karena kendaraan itu?"
Sasori terdiam dan Sasuke hanya menatap sinis dan menyeringai samar. Untuk kemudian pemuda berhelai merah itu memutuskan untuk menghadap Sakura dan Sasuke secara bergantian dan melakukan ojigi kepada mereka, "Saya harus kembali dahulu."
"Hati-hati Sasori-kun!"
Raut sinis dan dingin itu belum luntur dari wajah Sasuke bahkan ketika punggung Sasori menghilang setelah menuruni tangga di depan kamar Sakura sana.
"Keputusan yang tepat bukan?" ia menoleh ke Sakura dan tersenyum samar dan amat sebentar.
"Huh?"
"Maksudku, dia tidak jadi tinggal di sini."
Sakura justru tersenyum lebar dan menatap geli ke arah sahabatnya, "Sasuke-kun pikir aku akan menerima begitu saja? Jika aku bilang aku ingin tinggal dengan Sasori -kun, maka aku akan tinggal dengan Sasori-kun!"
Sasuke menaikkan sebelah alisnya, pertanda heran dan tidak mengerti ucapan gadis di depannya.
"Ne, Sasuke-kun, jangan bilang pada Ayah dulu tapi—katakan padaku, apa kau punya rekomendasi apartemen yang dekat dengan Universitas Tokyo?"
-oOo-
"Terimakasih, Naruto-kun," Hinata tersenyum lembut ketika langkah kakinya dan Naruto membawa mereka sampai di depan gerbang kediaman Hyuuga. Hari beranjak sore, menjadikan langit terhiasi oleh awan tipis kelabu bagai benang yang bersemburat di atas sana. Matahari menyiratkan warna jingga kemerahan, dan angin musim semi yang berhembus hangat.
Cengiran lebar yang khas terbentuk di bibir pemuda berhelai pirang jabrik itu, "Aku tidak tahu masalah apa yang kau punya tapi aku suka jika Hinata-chan sekarang bisa tersenyum lagi."
Hinata mengalihkan pandang, bersama dengan pandangannya yang sedikit berubah sayu, "Aku tidak apa-apa."
Bahkan Naruto tidak perlu susah-susah untuk mengetahui bahwa gadis itu tengah berbohong dan menyembunyikan sesuatu. Sejak dulu, Hinata selalu bagaikan buku terbuka untuknya.
"Benar-benar," Naruto tertawa lirih dan tampak geli, "Sudah berapa kali kubilang, kau perlu belajar agar bisa berbohong lebih baik dari ini, Hinata-chan?" Naruto menunduk, sementara Hinata masih terdiam. Pemuda itu memasukkan kedua tangannya ke kedua saku jaket oranye yang ia pakai, lantas mengendikkan bahu, "Mungkin kau memang tidak, atau belum mau mengatakan apapun. Tapi seperti yang kubilang, kau bisa menceritakan semuanya padaku."
Melirik dari ujung kedua iris birunya, Naruto mendapati pandangan Hinata menurun. Ekspresi sendu itu makin tampak, dan kini ditambah dengan ujung bibir yang tergigit kecil membuat pemuda itu yakin bahwa dugaan dan ucapannya telah tepat sasaran.
"Kau sedang bertengkar dengan Sasori, ya?"
Jawaban dari Hinata ada seketika. Meski bukan dalam bentuk ucapan, namun sedikit terbelalaknya dua iris lavender dan dua bahu yang samar menegang itu menjadi tanda jelas bagi Naruto akan semuanya.
Pemuda itu tersenyum miring, lantas ia mendongak menatap langit sembari melipat tangan di dadanya, "Haaaahhh… Kakakku itu memang sialan, bukan? Tenang saja Hinata-chan, nanti saat dia pulang aku akan—"
Menggeleng cepat, Hinata segera menyahut, "T-tidak, Naruto -kun, kami baik-baik saja. A-aku hanya sedikit ada pikiran lain dan Sasori-kun pasti masih sibuk kerja," Hinata berusaha menjelaskan dengan cepat dan menatap ke Naruto, "Kau pasti bisa membayangkan menjadi pengawal keluarga Haruno adalah tugas—" sontak Hinata berhenti berucap tatkala sebelah telapak tangan Naruto terangkat dan menghadap beberapa jauh di depan wajahnya—sebuah isyarat meminta Hinata terdiam sejenak.
Dua iris biru laut tersebut tampak begitu heran dan tersesat saat bersibobrok pandang dengan dua lavender di depannya.
"T-tunggu! Kau bilang apa? Pengawal? Dan… Keluarga Haruno?"
Dua mata Hinata menyipit dan tanpa sadar ia kembali menggigit ujung bibir bawahnya. Dari ekspresi Naruto, bisa ia simpulkan segera bahwa pemuda itu tidak tahu menahu mengenai apa yang baru saja Hinata ucapkan.
Tidakkah Sasori memberitahu Naruto?
Ragu, Hinata mengangguk tersendat.
"Pengawal? Haruno?" tanya Naruto ulang, dengan tatapan lebih heran dan nada yang lebih keras, seakan-akan ia memastikan bahwa Hinata mendengar suara dan mengerti maksud pertanyaannya, "Haruno…"
Berapa banyak keluarga Haruno yang ia tahu dan pernah dengar? Terutama keluarga yang cukup kaya hingga membutuhkan jada pengawal demikian?
Dan Sasori… pengawal?
Sejak kapan…
"….Hinata, maksudmu pasti bukan Haruno…"
"Keluarga Haruno Kizashi, pemilik sekolah swasta tempat aku belajar, Naruto," Hinata menatap tidak mengerti, "Kenapa? Sasori-kun sudah memberitahumu, bukan?"
Naruto tidak menjawab pertanyaan Hinata. Telinganya seakan masih mendengar ulang-ulang ucapan dan penjelasan Hinata, yang juga tengah diputar ulang di otaknya. Ia begitu tertegun hingga untuk sesaat ia hanya mampu menatap gadis itu dengan pandangan tersesat tanpa mampu mengeluarkan satu suarapun dari mulutnya yang sedikit ternganga.
Naruto tahu bahwa Sasori bekerja—Kakak tertuanya bekerja hanya untuk dirinya, menyokong sang Ibu yang bekerja keras sebagai pramusaji di restoran dengan gaji yang tidak seberapa. Naruto tahu.
Namun Sasori tidak pernah menjelaskan bagaimana cara ia mendapatkan uang untuk membantu Ibu mereka.
Dan siapa sangka….
Menjadi pengawal salah satu keluarga konglomerat populer di Jepang?
Bagaimana bisa dan mengapa.
"…Aku tidak tahu," pada akhirnya hanya itu yang bisa Naruto gumamkan, ketika ia hanya membiarkan pertanyaan Hinata menggantung di udara selama beberapa saat.
-oOo-
Dua iris berwarna jelaga itu menatap lurus ke arah cermin di depannya. Tampak jelas pantulan bayangan dirinya sendiri di permukaan bening itu—berdiri separuh membungkuk dengan kedua tangan bersangga permukaan meja cermin. Helai hitam yang biasa tertata rapi dan jabrik, kini tampak menurun lemas karena tetes-tetes air yang membasahinya. Tubuh atletis dan dada bidangnya tampak jelas, karena hanya ada satu handuk biru gelap yang membalut pinggang hingga lututnya. Meski kedua onyx indah itu menatap lurus ke arah bayangannya sendiri di depannya, namun fokus pemikirannya sama sekali bukanlah apa yang tengah ia tatap.
Pikirannya sibuk mengulas apa yang siang ini tanpa sengaja ia ketahui. Saat ia baru sampai di mansion Haruno dengan perasaan dongkol mendewa dan segera melangkah menuju kamar Sakura untuk melemparkan kunci motor itu ke muka pengawal baru gadis itu. Pintu dalam keadaan tertutup dan Sasuke sudah berniat menendangnya sekuat kakinya bisa lakukan. Meskipun pelaksanaannya itu harus ia tunda dahulu ketika ia tanpa sengaja mendengar suara dari dalam, saat ia telah berdiri kurang dari satu langkah dari pintu yang tertutup itu.
Suara Sakura yang berucap dengan sarat keraguan, "Apa sekarang kau akan menemui Hyuuga Hinata?"
Sakura adalah pribadi yang sangat mudah Sasuke tebak dan tahu. Pribadi yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya baik dari pandangan, ekspresi, ataupun suara yang digunakan oleh gadis itu. Oleh sebab itu, tak sulit pula bagi Sasuke untuk mengetahui kekecewaan dan keraguan yang kentara jelas dari suara yang baru saja didengarnya itu.
Dan ketika Sasori menjawabnya dengan kalimat penyangkalan, Sasuke juga bisa segera tahu betapa berbedanya suara Sakura kemudian saat dengan ceria ia merespon kalimat pengawalnya.
Sasuke mengalihkan pandang dari cermin di depannya, lantas meraih ponsel yang tergeletak begitu saja di permukaan ranjang di sebelahnya. Dengan cepat dan masih memasang raut datar kesehariannya, jemarinya menekan-nekan layar ponsel pintar itu, terutama di bagian pesan singkat.
To: Tayuya
Cari tahu dari Sakura siapa Hyuuga Hinata. Segera laporkan padaku, secepat yang kau bisa.
Well, bukan salah Sasuke, 'kan? Setiap hari pengawal sial itu semakin memberikan ancaman untuknya dan Uchiha. Dan ia sangat menyebalkan.
Jadi jangan salahkan Sasuke juga jika siapapun yang memiliki hubungan dengan Akasuna Sasori, juga akan terkena imbasnya.
-to be continued-
Nana Bodt: Ini masih lama banget keknya tamatnya o(-( Hinata tuh suka ngalah dan suka nyalahin diri sendiri. Menurutku itu justru sifat lemah(?) dia :o Ah aku ga bisa bikin Hinata marah-marah Yis… #nemplok di dada Levi #salahfokus
Miko88: Iya ini udah update. Makasih ya~ :*
Clara Merisa: Wah suka SasoSaku juga ya? Iyey! Bikin ficnya dong #dor Makasih ya ^^
Yuki-chan: Hahaha makasih ya, yuki #berasa ngomong ama diri sendiri
Devilish Grin: Lol, hush jangan curhat di kotak review XD Iya pasti Saku berubah dong. Liat di sini dia mulai berkurang(?) kan sifat pemaksanya. Arigato :*
Licchi: Tentu saja. Semua akan indah pada waktunya XD #ngomong apaan Makasih ya ^^b
Tobirama. Senju. 9847: Iya ini udah lanjut. Thanks ya XD
Kin: Iya haha sori ya lama banget o(-( Thanks! :*
Icha Uchiha: Weeehh ga boleh. Sasuke udah ama saya #dor Haha makasih ya ^^
Philaniachen: Yap, sori kelamaan bung! OTL Makasih! :3
Zoccshan: Aku kan emang suka ngasih surprise(?). Huh? Ada deh. Kamu cukup kepoin hati aku, Jo, jangan ficku juga ya :* Thank you~
Crispy and yummy: Hahah kok gitu? Kan Hinata nya kesiaaannn #padahal dia yang nulis# Oke, makasih ya :*
Sherry Hoshie Kanada: Syukur deh kalau kamu puas #ambigu# XD Makasih ya ^^
Deshitiachan: Ta-tapi dari awal fic ini pairingnya kan SasoSaku, qaqa ;_; Makasih ya ^^b
Rosachi-hime:Kalau aku, kamu suka ga? :3 #dor Makasih ya XD
Black Yuki: Ada aja lah, entar juga bakal keliatan semuanya kok XD Makasih ya~ XD
Eysha CherryBlossom: AKU JUGA NDAK SABAAAARRR XD Banyak banget scene-scene fluff mereka yang udah ada di pikiranku, tapi keknya belom bisa ditulis sekarang ya OTL Oke makasih ^^
Stillewolfie: Duh. Sasori tuh ya, jangankan berkelahi dan naik motor gitu, dia cukup duduk jongkok di ujung jalan sambil ngupil aja lho udah ketjeh banget #gampared Makasih ya ^^
Terimakasih sudah membaca. Sekarang, berkenan menyumbang feedback? :3
-yukeh ketjeh-
