A/N: Mumpung saya lagi semangat dan ada mood ngetik, saya update Almost ini heuheu. Takutnya kalau kelamaan update udah pada lupa jalan ceritanya ya orz

Happy reading!


Sinar matahari yang berwarna putih kekuningan menyentuh tiap permukaan benda—menjadikan dedaunan hijau dan atap-atap rumah serta gedung tampak sedikit berkilau. Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi, namun langit tampak begitu biru cerah dan matahari bersinar terik dan hangat. Pertanda bahwa musim semi telah berakhir dan datanglah awal musim panas. Musim paling ceria yang ditunggu sebagian besar penduduk Negeri Bunga Sakura.

Dengan langkah sedikit gontai pemuda itu berjalan. Tas ransel tersandang di satu bahunya, jaket yang ia kenakan juga tersampir di atas ranselnya—tidak ia kenakan. Untuk apa, udara cukup hangat dan ia tidak butuh keringat berlebih ada di tubuhnya. Sepasang iris hazel-nya tampak lebih sayu dari biasanya, sedikit merah mengingat bahwa ia telah menggunakan hampir seluruh malam sebelumnya untuk mengerjakan tugas kepanitiaan dan presentasi salah satu mata kuliah. Membuatnya tak hanya kurang tidur, namun juga terpaksa menginap di rumah salah satu temannya. Dan kini ia tengah berjalan menuju kosnya, karena semalam ia tidak membawa motornya.

Yang diinginkan Sasori sekarang hanyalah mandi, mencomot satu-dua roti, lantas istirahat sebelum nanti ia harus bekerja dan pergi ke rumah Haruno—

"Sakura?" gumaman itu otomatis terlepas dari mulut Sasori ketika ia menatap ke suatu arah di depan sana. Rasa kantuk yang sedari tadi ia rasakan berkurang ketika keterkejutan itu membuatnya otomatis berhenti melangkah. Sejenak ia mengerjap, berharap bahwa entah bagaimana ia hanya berkhayal.

Iya, karena tidak mungkin kan, ia kini melihat Haruno Sakura, entah bagaimana, berdiri di depan gerbang kosnya di depan sana, lengkap dengan rambut merah mudanya yang khas dan seragam khas SMA Haruno?

Namun sepertinya tidak, karena tak lama kemudian, suara nyaring ceria yang khas itu membelah kesunyian dan ketenangan khas pagi yang terasa, "Sasori-kuuunnn!" sembari sedikit melompat-lompat dan melambaikan tangan.

Sasori hanya menyipitkan pandangan.

Bagaimana bisa dan mengapa gadis itu ada di depannya sekarang?

Naruto (c) Masashi Kishimoto

I don't own the picture

Chara: Sasori, Sakura (Main), Hinata, Sasuke, Naruto, Ino, Deidara (Other). Harap ingat bahwa selain SasoSaku, urutan penulisan chara mengindikasi porsi peran mereka di fic ini, bukan indikasi pairing atau hubungan tertentu di antara mereka. So don't get your hope up~ ^^b

Pairing: SasoSaku (FlaCher), other slight pairings included (let yourself guess what! :p)

Warning: AU, OoC, drama, nyinet, dan super duper mega ultra annoying and antagonistic Sakura Haruno.

No profit gained. Duh.

Happy reading~

-oOo-

Jangan salahkan Sasori jika pemuda tiba-tiba ingin menelan obat anti depresi di pagi hari musim panas ini. Tetapi juga, entah mengapa ia sama sekali tidak terkejut jika entah bagaimana, Sakura bisa hadir tiba-tiba, seorang diri, di kos Sasori. Gadis itu seperti penyihir cilik saja, bisa ada di manapun dia mau. Ya, Sakura datang ke sana sendiri, tanpa ada satu pelayanpun yang menemani.

Tidakkah gadis itu harus merasa hati-hati jika mengingat bahaya apa yang baru-baru ini ia alami?

Sebenarnya Sasori ingin segera menanyai gadis itu runtut dan jelas saat itu juga di depan gerbang kosnya, namun ketika ia sudah sampai di depan Sakura dan sebelum mulutnya sempat membuka, suatu bunyi gemuruh kecil terdengar…. Dari perut Sakura.

Wajah gadis itu memerah dan sebuah senyum kikuk ada di bibirnya. Pandangan emeraldnya bergulir ke bawah, seketika merasa sepatu hitamnya adalah hal yang paling menarik di dunia.

"Um… A-Aku sudah menunggu di sini lima belas menit dan sepertinya tidak ada orang di kos. Belum sarapan… J-Jadi—"

Pemuda itu menghela napas, lantas membuka gerbang dengan kunci cadangan yang ia punya, mempersilahkan Sakura, "Anda masuk saja, dahulu."

Sakura mengangguk dan melangkah.

Kos sepi—sepertinya Deidara dan Kisame tidak ada. Entah kemana Kisame pergi, yang Sasori tahu Deidara kemarin bilang bahwa dia pergi ke Kyoto, kampung halamannya. Meski liburan musim panas belum datang, sepertinya sahabat pirangnya itu rela meninggalkan beberapa kuliah demi mendapat hari libur tambahan.

"Rasanya sepi jika tidak ada Dei-chan dan Kisa-pyon, ya," gumam Sakura, berjalan di belakang Sasori yang tengah melintasi ruang tamu.

Sasori tidak menjawab, hanya menaruh ransel dan jaketnya di kursi kayu dekat pintu dapur, lantas memasuki ruangan itu. Dapur tampak bersih, sepertinya Deidara dan Kisame akhir-akhir ini memang sering membeli makanan dari luar daripada menumpuk sampah dan bakteri di dapur dengan kegiatan yang mereka namai 'memasak'.

"Sasori-kun tidak pulang ke rumah juga seperti Dei-chan?" tanya Sakura, terduduk di salah satu kursi kayu di meja makan yang terletak di ruangan yang sama dengan dapur minimalis itu.

Sasori menggeleng, menggulung hingga siku kaus lengan panjang coklat yang ia pakai, lantas menarik teflon dari gantungannya di tembok sana dan menyalakan kompor, "Belum bisa," jawabnya datar, lantas ia menoleh ke arah Sakura, "Tak banyak bahan masakan yang saya punya. Apa Anda tak keberatan dengan omelet dan sup?"

Perut Sakura yang berbunyi—terdengar keras di suasana kos yang sepi—menjadi jawaban bagi pertanyaan Sasori. Wajah putih sang gadis tampak begitu merona dan tanpa sadar tangannya menekan perutnya, seakan dengan demikian ia menyuruh bagian tubuh itu untuk diam.

"Ta-tak apa, Sasori-kun. Terimakasih," ia tertawa kecil, memperhatikan Sasori yang hanya menatapnya datar dan kembali mengarahkan perhatiannya pada kompor. Sakura melirik ke arah jam dinding di dekat dapur, masih satu jam tiga puluh menit lagi bel sekolahnya berdering, "Sasori-kun kapan pulang ke rumah?"

"Tidak tahu," jawabnya sembari mengeluarkan beberapa bahan makanan dari kulkas.

Sakura memerhatikannya. Tak bisa ia tahan rasa kagumnya—menatap bahwa Sasori terlihat semakin tampan dan keren jika memasak demikian. Membuat Sakura tanpa sadar kembali membayangkan bagaimana jika pemuda itu menjadi suami—

Gadis itu menggeleng pelan, mengenyahkan angan-angan indah kesekian kalinya untuk Sasori tersebut, "Kalau nanti Sasori-kun pulang, ajak aku, ya?" celetuk Sakura sembari tersenyum lebar, "Aku kan juga ingin bertemu keluarga Sasori-kun."

"Daripada membicarakan ini," ucap Sasori tenang, sembari sibuk dengan kegiatannya. Aroma khas omelet menguar di udara, membuat Sakura tanpa sadar meneguk ludah untuk membasahi kerongkongan yang mendadak kering, "Mohon jelaskan pada saya mengapa Anda bisa di sini, sendiri."

"Ah, bukan masalah yang serius," Sakura menyandarkan punggung di sandaran kursi kayu, lantas meluruskan kedua kakinya di bawah meja. Dengan santai ia melanjutkan, "Aku baru saja pindah ke apartemen dekat sini. Dan aku sendiri karena aku tidak membawa satupun pelayan—" Sakura seketika menatap heran ke arah Sasori yang menjatuhkan keras pengaduk penggorengan hingga membunyikan bunyi 'klontang' yang keras.

Sasori tidak sengaja—hanya refleks, ketika telinganya mendengar kalimat yang rasanya belum pernah terpikir olehnya.

"…Anda pindah apartemen," terdengar seperti pertanyaan, namun sorot heran bercampur tak percaya ke arah Sakura lah yang menandakan bahwa pemuda itu tengah bertanya.

Awalnya Sakura menatap, tidak mengerti mengapa Sasori begitu terkejut dengan berita ini—bukankah tiga hari lalu ia sudah menjelaskan bahwa ia akan pindah apartemen jika pemuda itu tidak bersedia tinggal di mansion bersamanya?

Namun gadis itu akhirnya mengangguk pelan, "M-Maaf aku tidak memberitahumu—ta-tapi baru semalam kok aku pindah—"

Sasori segera berbalik, mengentas omelet dari penggorengan, lantas menaruhnya di piring besar yang ia ambil dari rak. Mematikan kompor, ia segera berbalik dan meletakkan piring omelet itu di depan Sakura. Kembali berbalik mengambil mangkuk kecil, untuk kemudian mengisinya dengan nasi—beberapa banyak, lantas menunjukkannya pada Sakura, "Cukup?"

Sedangkan Sakura hanya memandang tak mengerti, mengapa Sasori seolah-olah tidak ingin membicarakan lagi topik yang semula mereka obrolkan. Namun gadis itu tidak menyuarakan pemikirannya, hanya mengangguk, "A-Aku sedang diet, jadi kurangi sedikit saja."

Namun Sakura salah, karena ketika Sasori kembali ke meja, terduduk di depannya setelah meletakkan mangkuk berisi nasi dan sumpit itu, pemuda itu menatapnya lurus-lurus seakan menuntut, "Supnya terpaksa ditunda. Sekarang jelaskan pada saya, apa maksud ucapan Anda?"

Bukan makanan yang mewah dan lengkap, namun Sakura terlanjur lapar, hingga langsung saja ia menyantap nasi dan omelet itu tanpa perlu menunggu sup yang dijanjikan Sasori.

Hei, enak juga. Diam-diam ia tersenyum.

Mengapa Sasori sempurna di semua hal yang ia lakukan?

"Apa yang tidak kau mengerti, Sasori-kun?" tanya Sakura, setelah menelan suapan pertamanya, "Aku pindah. Aku tidak lagi tinggal di mansion."

"Mengapa?"

'Aku ingin selalu dekat denganmu'—namun bukan itu yang terucap dari mulutnya, karena ia tahu persis apa yang akan menjadi respon Sasori jika benar jawaban itu yang ia berikan, "A-Aku ingin belajar hidup mandiri," ia menunduk, berpura-pura menatap omelet yang tengah ia makan—takut jika ia menatap hazel itu, maka Sasori bisa segera mengetahui kebohongannya.

"Jangan becanda."

Ah, sepertinya tanpa Sakura menatapnya pun, Sasori sudah tahu yang sebenarnya.

Kepala berhelai merah muda itu menggeleng, "Aku tidak becanda. Aku memang ingin hidup mandiri," ia melahap suapan keempatnya—merasa malu sekaligus kesal, "Lagipula mengapa Sasori-kun tidak percaya? Tidakkah wajar remaja seusiaku ingin tinggal mandiri dari orang tua?"

'Karena kamu bukan tipe gadis yang bisa bertahan hidup jauh dari orang tuamu'. Namun Sasori tidak mengungkapkan pendapatnya—percuma saja. Ia tahu yang sebenarnya, ia bahkan bisa menebak di detik Sakura mengatakan bahwa ia menyewa apartemen di dekat kos Sasori.

Sasori tidak pernah buta mengenai perasaan gadis itu padanya—sejujurnya. Ia tahu. Tidak sekali dua kali Sakura menyatakan secara gamblang perasaannya, meski harus Sasori respon dengan acuh tak acuh, bahkan mungkin kejengkelan. Sasori senantiasa ingin bersikap profesional—menjaga jaraknya dengan Sakura senormal mungkin, sewajar mungkin. Berusaha bersikap sedewasa mungkin.

Hanya saja….

"Apa Kizashi Haruno-sama mengetahui hal ini?"

Sasori pasti akan terkejut jika milyuner itu mengijinkan Sakura berada jauh dari perlindungan dan pengawasannya—apalagi seorang diri begini.

Dan benar saja, hazel itu sedikit melebar tatkala melihat kepala itu mengangguk dan senyuman kecil ada di bibir Sakura, "Ayah mengijinkanku."

Sorot tak percaya itu Sasori berikan melalui pandangan matanya, "Dengan cara memaksanya?" tebaknya.

Sakura tersedak dalam kunyahannya. Sasori segera mengisi satu gelas dengan air, dan memberikannya pada gadis itu, yang mana Sakura segera meneguknya hingga tandas.

"Ih, kenapa Sasori-kun berbicara begitu?" Sakura menyipitkan pandangan dan menggembungkan kedua pipinya yang sedikit merona, "Apa bedanya, yang penting 'kan aku tidak kabur dan aku pamit pada Ayah."

Sasori menghela napas dan memijit sebelah pelipisnya. Mendadak ia merasa begitu pusing. Tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan bahwa gadis yang ia dibayar untuk lindungi, kini tinggal di apartemen dekat dengan dirinya. Sendiri. Tanpa satupun pelayan mansion yang mendampingi.

Memangnya apa yang bisa Sakura lakukan secara mandiri hingga ia berani tinggal tanpa bantuan siapapun begitu? Sasori bahkan ragu gadis ini bisa sekedar menanak nasi di rice cooker apa tidak.

Mengapa adaaa…. saja hal yang dilakukan gadis itu?

"Um! Ini!"

Sasori mendongak dan membuka kembali matanya yang semula terpejam pening. Ia menatap Sakura yang menyodorkan ponsel ke arahnya.

"Telepon Ayahku. Kemarin dia bilang hari ini ingin bicara padamu."

"Ada apa?" tanya Sasori, tanpa bermaksud menampakkan rasa penat dan lelah dalam suaranya.

Sakura mengendikkan bahu, lantas kembali melahap omelet dengan tangan kanannya yang bebas, "Mana kutahu. Telepon saja."

Menghela napas, Sasori menegakkan tubuhnya yang terduduk, lantas mengambil ponsel Sakura dan menekan tombol dial di kontak Kizashi yang sudah diperlihatkan Sakura di ponselnya. Menempelkan ponsel itu di telinga, hazel itu melirik ke arah gadis yang menjadi majikannya.

Sudah berapa lama dia tak makan memang, kelihatan lahap sekali.

"Sakura-chan? Apa kabarmu? Apa kau baik-baik saja, Nak? Apa yang bisa Ayah lakukan untukmu?" serbuan pertanyaan itu seketika terdengar begitu panggilan itu terjawab oleh Kizashi. Kental sekali rasa cemas itu di suara laki-laki paruh baya tersebut.

Berdeham, Sasori bersuara tenang, "Saya Akasuna Sasori, Tuan."

"Akasuna-san?" sejenak Kizashi tampak terkejut, untuk kemudian terdengar helaan napas, "Oh syukurlah. Sakura akhirnya bertemu denganmu."

Kembali Sasori melirik Sakura yang masih memakan suapan terakhir sarapan sederhananya. Gadis itu balas menatapnya dengan emerald yang menatap polos dan mulut sibuk mengunyah.

Tidakkah dia tahu atau memikirkan betapa cemas Ayahnya karenanya?

"Sakura-sama menyuruh saya menelpon Anda, dan bilang bahwa ada sesuatu yang ingin Anda bicarakan dengan saya?" tanya Sasori lagi. Ia melirik ke arah jam dinding. Empat puluh lima menit lagi sebelum bel masuk SMA Haruno berdering—dan ia bahkan belum membersihkan diri.

"Ah iya, kemarin aku memesannya untuk segera menyuruhmu menelponku," ucap Kizashi. Lantas berdeham, suaranya terdengar ragu saat ia berucap, "J-Jadi, Sakura pindah ke apartemen dekat tempat tinggalmu, katanya."

"Saya diberitahu," Sasori mengangguk pelan.

"Dia menolak membawa satupun pelayan."

"Saya juga mengetahui itu."

"Dan kau tahu, anakku tidak akan bisa bertahan sehari tanpa bantuan siapapun," ucap Kizashi, nadanya mulai terdengar lelah dan putus asa, "Dan aku bisa mati jika setiap hari mengkhawatirkan keadaannya jika ia tinggal seorang diri."

Sasori terdiam. Ia mendapati Sakura telah selesai dengan sarapannya, dan kini terduduk di depannya, sembari mendendangkan kecil lagu-entah-apa-itu dari mulutnya.

Santai sekali—seakan-akan ia tidak baru saja memberi Ayahnya penyakit serangan jantung akibat perbuatannya.

"Aku mohon maaf sebelum mengatakan ini," lanjut Kizashi, "Tapi aku benar-benar mohon padamu, Akasuna-san. Tinggallah di apartemen putriku."

Sasori segera mengeratkan pegangannya pada ponsel Sakura, ketika hampir saja ia menjatuhkan ponsel itu karena mendengar keterkejutan lain yang baru saja disampaikan padanya. Ia hanya mematung, tampak memandang terpaku ke arah jendela dapur, seakan-akan di luar sana ada hal yang begitu menarik perhatiannya.

"Aku tahu ini mendadak," Kizashi kembali bersuara ketika Sasori belum menjawab. Laki-laki paruh baya itu terdengar kembali menghela napas, "Aku tahu juga ini mungkin bukan tugas yang kau sukai—tapi hanya kau yang kupercaya, Akasuna-san, untuk menjaga putriku. Aku tidak mungkin bisa bertahan hidup seminggu jika Sakura terus tinggal sendirian jauh dariku."

Sasori memejamkan mata. Benar-benar, kini denyutan di dalam kepalanya sangat terasa. Mimpi apa dia semalam hingga pagi ini sudah mendapatkan hal merepotkan demikian.

"Kuharap kau mengerti, Akasuna-san."

Bagaimana dengan Kizashi yang mengerti Sasori? Bahwa ia tidak ingin tinggal satu atap dengan seorang gadis yang bukan bagian dari keluarganya. Tanpa tinggal bersama saja Sakura sudah sangat merepotkan baginya, apalagi jika ia harus berada di dekat gadis itu 24/7 lamanya? Namun juga, bukankah itu tugasnya sebagai pengawal Sakura? Bukankah seharusnya demikian halnya?

Tapi bagaimana jika teman-temannya tahu? Bagaimana jika Ibu, Karin, dan Naruto tahu?

Bagaimana jika Hinata tahu?

Tapi bagaimanapun juga, memang seharusnya adalah tugasnya bersama Sakura dalam sebanyak mungkin waktu yang ia bisa.

Menghela napas, Sasori memejamkan mata, "…Saya akan berpikir," akhirnya hanya itu yang ia ucapkan, "Maafkan saya, Haruno-sama. Tapi saya harap Anda mengerti—"

"Aku mengerti, Akasuna-san," jawab Kizashi, tanpa sama sekali terdengar tersinggung, "Aku minta maaf, karena Sakura begitu merepotkanmu."

"Itu sudah menjadi tanggungjawab saya," jawab Sasori cepat, "Saya hanya perlu… berpikir. Dan mungkin, bersiap juga."

Untuk mengatakan pada Deidara, Kisame, mungkin keluarganya, dan mungkin juga Hinata.

"Aku paham. Baiklah, Akasuna-san, aku menitipkan Sakura padamu."

"Saya mengerti."

Sambungan terputus. Sejenak Sasori masih tampak termangu, seakan ia masih mendengarkan Kizashi berbicara di telinganya. Otaknya masih memproses semua, seketika memikirkan apa yang harus ia lakukan.

"Sasori-kun."

Lengannya tersentuh oleh tangan Sakura, namun Sasori tidak mengalihkan pandangannya. Sakura menatap cemas, memikirkan apa yang baru saja dibicarakan pemuda itu dengan sang Ayah.

Mengapa Sasori-kun tampak demikian bimbang?

"Ayah Anda," ucap Sasori, tanpa menoleh atau menyingkirkan tangan Sakura dari lengannya, "Menyuruh saya untuk tinggal bersama Anda."

Emerald itu membelalak, namun tak butuh waktu lama bagi binar ada di kedua matanya. Pun bibir tipis berpoles lipgloss warna lembut itu tampak tersenyum merekah.

Tidakkah itu kabar paling bagus yang ia dengar?

"Tapi saya tidak bisa," sambung Sasori cepat, tak menghiraukan raut bahagia yang semula ada di wajah gadis itu, hilang sempurna tergantikan oleh kekecewaan berbaur dengan rasa heran.

Menoleh ke Sakura, Sasori bersuara dengan tatapan datar dan nada tenangnya, "Saya tidak bisa—oleh sebab itu, sepertinya saya akan mengundurkan diri menjadi pengawal Anda."

Pegangan Sakura terlepas dari lengan Sasori, seakan lengan pemuda itu menyimpan api yang terasa begitu menyengat telapak tangannya. Matanya menatap tak percaya, raut heran semakin tampak ada di ekspresinya.

Rasa bahagia yang sempat ia rasakan harus berakhir dengan kejamnya oleh ucapan yang diberikan Sasori untuknya.

"Kenapa—"

Sasori segera berdiri dari duduknya dan melangkah keluar dari dapur, tanpa menghiraukan panggilan Sakura, "Saya akan mengantarkan Anda ke sekolah. Hanya sebatas itu—setelahnya saya bukan lagi pengawal Anda."

Mungkin ini yang terbaik, pikir Sasori.

Terlalu berisiko jika ia teruskan. Beban moral yang pasti akan menghantuinya dengan rasa bersalah, jika ia masih berbuat nekat. Tak ingin ia memberi harapan terlalu tinggi pada Sakura, tak ingin ia menyakiti Hinata.

Dan tak ingin ia mengambil risiko bahwa pendirian dan perasaannya suatu saat, mungkin saja bisa berubah.

Ia memejamkan mata, mencoba mengenyahkan wajah Naruto yang pasti akan menjadi pihak yang paling terkena dampak buruk dari keputusannya. Sekolah adiknya tersebut, dan juga kerasnya sang Ibu bekerja demi mencukupi kebutuhan ketiga anaknya.

-oOo-

Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah, tidak ada obrolan yang terjadi. Sakura yang merupakan pribadi yang banyak bicara, kini hanya terdiam. Suasana dalam mobilnya begitu sepi, demikian kaku. Kepala berhelai merah muda itu hanya menunduk sepanjang perjalanan, dengan jemarinya yang saling tertaut. Sedangkan si kepala merah menyala hanya menatap lurus ke arah kaca mobil, berfokus mengemudikan kendaraan mewah milik gadis yang terduduk di sampingnya.

Ketika sampai di tepi jalan di depan gerbang SMA Haruno, barulah suasana kaku itu pecah oleh suara singkat dan datar dari Sasori, "Kita sudah sampai," pemuda itu berbalik, hendak membuka pintu mobil dan keluar dari sana, lantas pergi ke halte bus dan kembali ke kosnya. Lagipula sesuai ucapannya, ini adalah tugas terakhirnya sebelum ia tak akan harus memiliki urusan apapun dengan keluarga Haruno.

Baru saja ia memegang handle pintu, tangannya tertarik kuat dari arah sampingnya. Pemuda itu menoleh, dan menatap Sakura yang tengah menatapnya, memegang kain kaus lengan panjangnya, mencegah Sasori untuk berbuat lebih jauh dari sekedar memegang handle pintu mobilnya.

"K-Katakan bahwa Sasori-kun tadi hanya becanda," ujar gadis itu, suaranya terdengar bergetar dan lirih. Sepasang emerald-nya menatap lurus ke dua manik hazel Sasori, "Kau tadi hanya becanda dan tidak serius, 'kan? Kau sekarang akan tetap mengawalku di sekolah, hari ini, dan seterusnya, 'kan?"

Dengan perlahan, Sasori melepaskan pegangan Sakura dari lengannya, namun gadis itu kembali memegangnya dengan lebih kencang, "Kupikir aku bukan pengawal yang cocok untukmu," Sasori mencoba menjelaskan.

"Tapi aku nyaman denganmu," sambung Sakura cepat, matanya menyipit dan ia menelan ludah, menahan suaranya untuk tidak bergetar lebih dari yang sudah ia dengarkan, "Aku ingin kamu yang menjadi pengawalmu—menjagaku."

"Semua tidak mudah bagiku," kembali Sasori melepaskan tangan Sakura, namun lagi, Sakura menggenggam kain kausnya. Bisa pemuda itu rasakan bahwa pegangan itu tampak bergetar samar di lengannya.

"Mengapa Sasori-kun mengundurkan diri? Apa karena aku pindah ke apartemen dekat dengan kosmu?" tanya Sakura, tanpa sadar dan tanpa sengaja, setetes bulir bening menetes dan membasahi pipinya, "Kalau memang iya, a-aku akan pulang. Aku akan kembali ke mansion. Aku tak akan merepotkanmu."

Menghela napas, Sasori mengalihkan pandang ke sembarang arah, manapun selain wajah dari gadis di depannya, "Sakura—"

"Jangan panggil aku Sakura, panggil aku Haruno-sama!"

"Sakura, coba dengarkan—"

Sakura mulai terisak kecil, wajahnya yang putih tampak memerah dan kedua pipinya basah, teraliri oleh air mata yang menetes-netes dari ujung dagunya. Pundaknya yang kecil tampak bergetar.

Namun dua emeraldnya lah yang paling jelas dalamnya rasa takut dan luka yang gadis itu rasakan.

"K-Katakan apa yang harus kulakukan," bisiknya di sela isaknya, "Ka-katakan apa salahku, sehingga aku akan memperbaikinya."

"Kumohon…"

"Aku akan kembali ke mansion. Aku tak akan banyak menuntut," Sakura menggigit ujung bibirnya—merasakan asinnya air mata yang tanpa sengaja merembes ke mulutnya. Pandangannya ke Sasori tampak begitu buram oleh air mata, "B-Bahkan jika kau mau, a-aku tak akan membenci Hinata Hyuuga lagi. A-Aku tidak akan—" isak tangis memotong kalimatnya. Hingga pada akhirnya, kepala merah muda itu menunduk, membiarkan tetes air mata menjatuhi kedua telapak tangannya yang ia tekuk di atas dua pahanya.

Sial, mengapa rasanya sakit sekali. Mengapa ia takut sekali. Mengapa di saat-saat seperti ini, ia tidak bisa menggunakan kuasa dan uangnya untuk membeli kebahagiaannya.

Kebahagiaan yang baginya, hanya dapat diberikan oleh Sasori saja.

"K-katakan apa yang harus kulakukan," lirihnya, "A-Asal jangan pergi dariku. Kumohon."

Sepasang hazel hanya menatapnya. Dua bibir tipis yang tetap terkatup datar, tak membuka untuk bersuara membalas rentetan kalimat bernada frustasi dari lawannya. Hanya menatap, memerhatikan tubuh yang lebih kecil darinya itu terguncang oleh tangis. Tangan putih yang basah karena tetes air mata. Juntaian merah muda yang menutupi ekspresi sedih dan luka yang tergambar di wajahnya.

Sakura Haruno yang biasanya tampak ceria, dengan hidupnya yang sempurna seakan tak akan pernah ia meneteskan air mata.

Beginikah Sakura saat di pesta dahulu? Atau lebih parah dari ini, karena dulu Deidara bilang bahwa gadis itu juga mabuk hanya karena beberapa teguk minuman beralkohol ringan saja?

Apa yang sudah ia lakukan hingga Sakura begitu bergantung padanya demikian rupa?

Menghela napas, akhirnya Sasori tak lagi diam. Sebelah tangannya terulur, untuk kemudian meraih tubuh itu dan membawanya ke dekapan canggungnya. Dengan ragu ia tepuk-tepuk pelan dan beberapa kali punggung berbalut seragam musim panas SMA Haruno itu. Dan ia biarkan pundaknya basah oleh air mata yang menetes di sana.

"Aku minta maaf," ujarnya pelan, "Aku senang jika kau memperbaiki dirimu—tapi jangan lakukan semua itu untukku. Lakukan itu untuk dirimu sendiri—kau harus menjadi lebih baik untuk kebaikanmu sendiri."

Sakura menggeleng di bahunya, dan tetap terisak, namun tidak berucap apapun.

Beberapa saat Sasori hanya memeluknya dan terdiam, sebelum pemuda itu melepas pelukannya dan segera berbalik, sebelum berucap lirih dan cepat, "Maafkan aku. Nanti aku akan meminta maaf secara khusus untuk Ayahmu. Senang bekerja denganmu."

"Sasori-kun—"

BLAM.

Pintu kemudi kembali tertutup, memotong ucapan Sakura yang belum sempat ia selesaikan. Gadis itu terpaku, menatap ke arah Sasori duduk semula, seakan pemuda itu masih ada di sana. Isaknya sejenak terhenti, meski kristal cair itu tetap merembes menuruni pipinya.

Beberapa detik baginya untuk menyadari semuanya, bahwa Sasori tak ada di sana. Bahwa Sasori benar-benar meninggalkannya, benar-benar tak akan kembali pdanya.

Bahwa sekarang ia benar-benar kembali sendiri.

Dengan kesal Sakura memukul dash board mobilnya dengan keras.

Dan ia kembali terisak lirih.

Sial, rasanya perasaannya sakit sekali—semakin sakit.

Dan pasti Sasori bahkan tak akan punya ide betapa dalam sakit yang Sakura rasakan karenanya.

-oOo-

"Menurut kalian, apa yang akan terjadi jika pasien yang telah menjalani operasi amandel mengalami kecelakaan dalam rentang waktu dua hari?"

Shion memberikan mikropon ke arah anggota kelompoknya, si pemuda berhelai merah yang tampak terduduk tenang dengan pandangan seakan-akan lantai di depannya adalah hal yang lebih menarik pikirannya daripada presentasi kelompok yang tengah ia lakukan.

"Sasori," bisik Shion, sembari menyikut pelan lengan berbalut kemeja merah lengan pendek itu, "Coba jawab, kau dari tadi diam saja."

Sasori terkesiap, dengan ragu ia mengambil mikropon yang disodorkan oleh rekannya, "Dia tanya apa?"

"Ish, makanya perhatikan dan jangan melamun," bisik Shion lagi, "Tumben sekali sih kau begini. Dia bertanya jika pasien operasi amandel mendapat kecelakaan maka apa yang selanjutnya terjadi."

"Ah itu…" gumam Sasori, sedikit menunduk dan mengacak singkat helai merahnya.

"Kau pasti tahu, coba saja jawab."

Sasori terdiam, tampak berpikir. Sedangkan para mahasiswa yang lain menunggu, beberapa tampak mengobrol dan becanda, beberapa bahkan tampak terlelap di bangkunya. Yah wajar, sang Dosen yang tengah mengajar adalah Kakashi-sensei, mahasiswa tidur sepanjang jam kuliah juga dosen muda itu tidak akan berkomentar banyak.

'Untung ruginya kalian yang menanggung. Lagipula kalian sudah dewasa, sudah seharusnya bisa memilih pilihan yang bijak,' begitu sering kali Kakashi-sensei berkata.

Sasori menghela napas, lantas menyerahkan kembali mikroponnya kepada Shion, "Aku tidak tahu, Shion. Coba kau saja yang jawab."

"Hah? Tidak tahu? Kau?" Shion menatap heran bercampur terkejut.

"Maaf, aku tidak bisa berpikir. Maaf," Sasori menunduk dan mencengkeram helai di sebelah sisi kepalanya.

Tak habis ia mengutuk dirinya sendiri yang kali ini sangat sulit untuk berkonsentrasi. Bahkan sepanjang mata kuliah ini sama sekali tak ada satu hal pun yang ia dengar, tahu, dan pahami. Mereka semua seakan membicarakan hal yang asing baginya dan ia tidak memiliki minat untuk mendengarkan.

Terlalu banyak hal yang berkecamuk di dalam pikiran dan hatinya, menghalanginya untuk tetap tampil sempurna di kelas seperti biasanya.

Sasori bersyukur ketika beberapa menit kemudian mata kuliah tersebut berakhir. Ia segera menuju ke bangkunya dan mengambil tas ranselnya. Masih ada satu mata kuliah lagi—Respirasi—yang tiga puluh menit lagi harus ia ikuti, tetapi untuk pertama kalinya ia merasa begitu tertarik dengan kata 'bolos'. Ingin ia gunakan beberapa waktunya untuk berada di ruang klub, lantas berlatih karate dengan rekan klubnya di sana.

Mungkin itu bisa membuat pikirannya teralihkan sejenak.

"Yo, Sasori-kun."

Langkah pemuda itu berhenti ketika merasakan tepukan di pundaknya. Ia menoleh, dan menatap Kakashi-sensei berdiri di sampingnya, lengkap dengan masker khas dan senyum di matanya yang terpejam.

"Mau menemaniku ke kafetaria untuk makan siang?"

Sedikit mengangakan kecil mulutnya, Sasori menyipitkan matanya. Ia tahu, Kakashi adalah dosen yang aneh dan terkadang mengesalkan para mahasiswa dengan sifat pelupanya, namun apa yang baru saja dosen itu katakan tak hanya terdengar aneh, namun juga begitu tak biasa.

Pandangan Kakashi berubah menjadi datar dan sayu—pandangannya yang khas kesehariannya, "Jangan menatapku seakan-akan aku menawarimu narkoba atau apa."

Sasori mendengus, ia tidak punya waktu meladeni dosen pembimbing akademiknya tersebut, "Saya ada urusan di klub—"

"Yosh! Kita berangkat!" Dosen tersebut segera mendorong pundak Sasori untuk melangkah keluar kelas yang berangsur-angsur sepi.

"Sebentar, Sensei—"

"Tak lama! Hanya lima belas menit, aku janji! Hoho."

Sasori menghela napas. Hal terakhir yang ia inginkan adalah Kakashi memperparah rasa pusingnya karena sikap aneh dan merepotkannya.

-oOo-

"Kau mau pesan apa? Aku yang bayar."

"Tidak perlu."

"Kopi? Jus? Pancake?"

"Sensei, aku sudah kenyang—"

"Atau es krim? Bagaimana jika burger—remaja sepertimu suka sekali dengan junk food, kan?"

Sasori menghela napas dan memejamkan mata, "Segelas teh saja, terimakasih," Kakashi tidak akan membungkam mulut jika Sasori tidak menuruti permintaannya.

"Ah, oke," Dosen itu tersenyum, lantas memesan pesanan pada pelayan di counter. Kemudian ia kembali duduk, "Lima menit lagi, kuharap itu bukan waktu yang lama bagimu untuk menunggu. Hoho."

Sekali lagi menghela napas, Sasori mengalihkan pandang ke arah jendela kaca kafe di sampingnya, sembari menyangga kepalanya dengan sebelah tangan, "Jangan katakan Sensei mengajakku kemarin hanya karena mentraktirku makan siang."

"Lho? Memang itu, kok," Kakashi tertawa kecil ketika menatap pelototan dari mahasiswa tahun kedua di depannya tersebut, "Kupikir kau belum sempat sarapan. Di kelas tadi kau bagaikan zombie—ada namun juga tidak. Coba ceritakan ada apa?"

"Bukan urusanmu," balas Sasori cepat, kembali mengarahkan pandang ke jendela kaca. Di luar sana tampak mahasiswa berlalu lalang, sebagian lagi berteduh di bangku di bawah sebuah pohon yang besar dan rindang. Maklum cuaca di luar cukup terik, menandakan bahwa musim semi yang hangat telah berlalu menjadi musim panas.

"Yare-yare, selalu bersikap dingin," Kakashi menghela napas. Ia mengucapkan terimakasih kepada pelayan yang mengantarkan pesanan ke meja mereka, "Makan dulu saja pesananmu."

Sasori menaikkan sebelah alis dan menatap ke arah meja. Satu gelas teh, satu pancake, dan satu hotdog ukuran sedang, "Mana pesanan Sensei?"

"Ah? Aku tidak lapar. Hahaha," Kakashi tertawa kecil dan menggaruk bagian belakang kepalanya.

Sepasang hazel Sasori memberikan death glare terbaik yang bisa dilakukan oleh dirinya. Mengapa Dosennya hari itu sangat jauh lebih menjengkelkan dari biasanya.

Kakashi menunjuk masker yang ia pakai, "Kau tahu, aku tidak bisa makan di tempat umum."

"Jangan-jangan benar dugaan para mahasiswa bahwa kau punya gigi tonggos."

Kakashi memandang datar, "Hei, bagaimanapun aku ini Dosenmu," ujarnya pelan, lantas menghela napas, "Apapun, bukan perkataan menghina begitu yang ingin kudengar darimu."

"Aku tidak punya hal apapun untuk kuceritakan padamu," Sasori mengaduk tehnya, lantas menyeruputnya sesaat.

"Apapun?"

Sang mahasiswa menggeleng singkat dan menatap ke arah permukaan teh di gelasnya, "Termasuk mengenai pekerjaanmu dengan keluarga Haruno?"

Gerakan Sasori mengaduk-aduk kecil tehnya terhenti untuk sesaat, lantas bergerak lagi, untuk kemudian ia kembali menyeruputnya singkat.

"Well, karena baru-baru ini aku mendengar kabar dari Kizashi bahwa Sakura masuk rumah sakit setelah hampir dicelakai oleh orang tak dikenal."

Pelan, kepala merah itu mengangguk, lantas mengangkat pandang dan menatap dua iris abu-abu di depannya sana, "Itu semua karena salahku—aku tidak menemaninya di pesta malam itu."

"Ah, begitu," Kakashi mengangguk, "Kizashi tak bicara begitu. Kupikir dia tidak menyalahkanmu."

"Tuan Kizashi memang baik. Dia tidak marah walaupun jelas aku yang salah."

"Memangnya kenapa sampai kau tidak bersama dengan Sakura?"

Sasori mengalihkan pandang, merasa bahwa pembicaraan ini sama sekali tidak nyaman. Entah mengapa ia sama sekali tidak ingin membicarakan dan mengingat mengenai gadis berhelai sewarna permen karet tersebut.

"Hanya kesalahpahaman," toh ia tidak tahu, mengapa ia pada akhirnya menjawab pertanyaan Kakashi, "Dan aku terlalu keras kepala."

Kakashi menaikkan sebelah alisnya, tidak begitu mengerti. Namun Dosen itu memutuskan untuk mengangguk singkat, "Tidak tahu juga sih, tapi aku setuju dengan kalimat terakhirmu," ia menambahkan, tanpa mempedulikan lirikan tajam yang diberikan oleh mahasiswa kebanggaannya tersebut, "Karena itukah hari ini kau tampak seperti mayat hidup di kelasku? Karena Sakura belum memaafkanmu?"

"Aku… Sensei—" Sasori menghela napas, lantas kembali menatap ke arah jendela, Entah mengapa ia tiba-tiba ingin berbicara jujur saja pada Kakashi. Lagipula Kakashi lah yang mengenalkannya pada keluarga Haruno, dan perantara baginya untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Sepertinya, sedikit banyak Kakashi perlu tahu bahwa Sasori sudah tidak akan terikat kerja lagi dengan keluarga milyuner tersebut, "Aku sudah tidak—"

"Kau tidak perlu cemas. Sakura pasti akan memaafkanmu," ucap Kakashi sembari tersenyum kecil. Ia melipat kedua tangannya untuk bertumpu pada permukaan meja putih di depannya, "Dia memang manja, tetapi kulihat daripada dengan pengawal lainnya, dia sangat nyaman bersamamu."

Sasori memandang heran, "Kau tidak paham."

Kepala berhelai perak itu mengangguk, "Banyak yang tak paham dengan gadis itu, memang. Tetapi aku mengenalnya bukan sejak kemarin sore. Seringsekali gadis itu berucap atau berbuat sesuatu yang membuat orang lain salah paham, tetapi percayalah, ia tidak pernah bermaksud demikian."

Sasori terdiam dan hanya menatap Kakashi, menunggu laki-laki itu untuk meneruskan ucapannya, karena sepertinya masih banyak yang ingin Kakashi katakan.

Kakashi menghela napas dan menggaruk sebelah sisi kepalanya, "Yah… dia anak tunggal dan Kizashi sangat memanjakannya. Membuat Sakura menjadi gadis yang manja, menjengkelkan, dan semena-mena pada orang lain," Kakashi menatap kedua hazel Sasori, lantas menggeleng lirih, "Meski banyak yang bilang hidup Sakura tuh sempurna—nyaris sempurna, namun sama sekali tidak."

"Apa maksudmu?"

"Pernah dengar ada hal yang tidak akan bisa kita beli dengan uang dan kekuasaan?" Kakashi melanjutkan ketika Sasori hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaannya, "Sakura tidak bisa membeli teman-teman yang membencinya di sekolah dengan uang. Ia juga tidak bisa membeli lawan bisnis Ayahnya untuk tidak menyakitinya, dengan uang. Dan juga," Dosen itu kembali menghela napas kecil, "Ia tidak akan bisa membeli takdir Tuhan untuk tidak mengambil nyawa Ibunya ketika ia masih kecil, dengan uang pula."

Sasori menurunkan pandangan, menatap ke arah pancakenya yang perlahan mendingin. Namun ia sama sekali tidak memiliki niat untuk menyentuh, apalagi memakannya.

"Dia sering bercerita padaku bahwa ia kesal karena banyak teman-teman di sekolah yang membicarakannya di balik punggungnya. Dan soal Yakuza… kupikir aku tidak perlu menjelaskan lagi padamu betapa gadis itu terancam bahaya saat ia pergi kemanapun juga."

Bayangan Sakura di malam itu, pingsan di gendongan laki-laki asing dan hampir saja dimasukkan ke mobil, kembali terlintas di pikiran Sasori.

"Tidak enak juga, 'kan, bagi remaja seumurannya yang harusnya bisa pergi kemanapun dengan bebas, harus diikuti dengan pengawal kemana-mana. Harus menanggung risiko bahwa ia bisa saja pergi dari rumah tanpa bisa pulang lagi, jika bertemu dengan orang-orang jahat itu."

Sasori membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu, meskipun pada akhirnya tak ada satupun hal yang bisa ia ucapkan dari mulutnya.

"Siapa yang mau hidup seperti itu, merasa terkekang, sekalipun harta bergelimang?" Kakashi melanjutkan, "Namun bagaimana lagi. Untuk itulah, terkadang Sakura bersikap memberontak, melawan dan menghindari pengawalnya untuk bisa menjadi lebih bebas, seperti remaja biasa layaknya teman-temannya. Tapi," Kakashi menatap Sasori dengan pandangan heran bercampur geli, "Entah mengapa kupikir, denganmu, dia tidak lagi bersikap aneh-aneh. Dia nyaman jika kau yang menjadi pengawalnya dan melindunginya."

Hazel Sasori mengalihkan pandang dari dua iris abu-abu itu, "Aku…."

"Sakura tak pernah melihat wajah Ibunya selain dari foto. Ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu—Kizashi sangat menyayanginya, tapi kupikir itu tidak cukup, 'kan? Hidup di rumah sebesar itu dengan pelayan yang mengawasinya sepanjang waktu, sang Ayah yang sibuk dengan bisnis dan urusan kantornya… Ketika pergi keluar rumahpun kebebasan juga tidak didapatkan Sakura. Kebebasan, layaknya remaja seusianya, tidak bisa didapatkan Sakura tak peduli kemana ia pergi melangkah."

Kakashi tertawa kecil ketika Sasori hanya terdiam tanpa merespon ucapannya, "Ah, kenapa aku banyak bicara kesana-kemari begini, ya? Yah… aku berbicara begini agar kau tidak salah paham lagi dengan Sakura—seperti semua pengawalnya yang terdahulu sebelummu."

"…"

"Jadi, jangan terlalu dipikirkan jika dia bersikap lebih merepotkan dan menjengkelkan dari remaja yang lain. Karena hidup yang dijalaninya juga berbeda dari yang lain—Sakura berbeda, Sasori. Hidupnya nyaris sempurna—namun bukan benar-benar sempurna."

"…."

Suara bangku yang terdorong terdengar ketika Kakashi beranjak berdiri dari duduknya. Tangannya menepuk singkat pundak mahasiswanya yang masih mengarahkan pandang pada kaca jendela di depannya itu.

"Aku ada kuliah yang harus kuajar. Tapi ingat kata-kataku, Sasori," Kakashi tersenyum kecil di matanya, "Jangan biarkan pekerjaan ini terlalu membebanimu. Oke?"

Sepeninggal Kakashi, kafetaria masih tampak ramai. Cuaca di luar yang panas membuat banyak mahasiswa, atau dosen berdatangan, tentunya dengan dompet yang lebih tebal yang membuat mereka bisa menikmati makan siang lebih mewah daripada sekedar di kantin. Obrolan, suara tawa, atau bahkan suara sendok beradu dengan piring kecil, terdengar di sana-sini.

Jarum jam dinding kafetaria tetap memutar—mata kuliah Respirasi sudah hampir satu jam lamanya berjalan. Secangkir teh itu telah mendingin, pun dengan hotdog dan pancake yang masih utuh tak terjamah, membiarkan udara perlahan-lahan mengurangi kehangatan yang dikandungnya.

Dan sepasang iris hazel yang memandang ke arah jendela kaca selama empat puluh menit lamanya.

Dengan perasaan berat yang perlahan-lahan tertimbun di dasar hatinya.

Perasaan berat yang bernama penyesalan.

-oOo-

Hinata melirik ke arah Sakura yang masih terduduk di bangkunya. Bel pulang sekolah telah berhenti berdering sejak beberapa menit yang lalu, namun si gadis berhelai permen kapas tersebut hanya terduduk diam dan memandang ke arah jendela kelas yang terbuka—membiarkan angin sore musim panas menggerakkan perlahan helai-helai berwarna cerahnya.

Dan mata si gadis itu tampak merah dan membengkak.

Ingin Hinata bertanya, namun ia tidak ingin pula memulai pertengkaran. Lagipula sudah ada Yamanaka Ino di sana, yang terduduk di sebelah Sakura dan sejak pagi berusaha untuk menaikkan mood gadis bermarga Haruno.

Memutuskan melangkah, Hinata beranjak keluar kelas. Sekali lagi melirik ke arah Sakura, dan gadis itu masih tampak memandang hampa—seakan-akan jiwanya sudah tak ada lagi di sana.

'Apakah Sasori tahu sesuatu?' pikir Hinata sembari menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi. Karena seharian ini ia tidak mendapati kekasihnya itu di sekolah—seharusnya pemuda itu ada di sini, mengawal Sakura. Bukankah itu tugasnya?

Mengingat Sasori, hanya membuat Hinata menghela napas dan pandangannya menjadi sayu. Apa kabarnya pemuda itu? Sedang apa? Hinata tidak tahu, karena seingatnya terakhir kali ia bertukar pesan dengan pemuda itu adalah dua minggu yang lalu.

Seperti ada rasa canggung yang mulai terasa sejak kejadian di pesta malam itu. Seperti perang dingin yang tak terdeklarasikan yang membuat mereka sama-sama beku dan menjauh.

"Mungkin dia hanya sibuk," tanpa sadar gadis itu menggumam, menarik sepeda keranjangnya dari deretan parkir sepeda, lantas menaikinya, "Mungkin nanti aku akan menelponnya."

Baru beberapa kayuhan ia lakukan, ketika ia terpaksa mengerem mendadak ketika seseorang bergerak dan berhenti tepat di depannya, saat ia baru saja keluar dari gerbang sekolah.

Hinata menaikkan alisnya, memandang seseorang yang tak asing baginya, dan juga bagi seluruh siswi SMA Haruno, yang kini tengah berdiri di depannya.

Sasuke Uchiha—pemuda yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Haruno Sakura.

"Aku kesini bukan untuk menemui Sakura," seakan bisa membaca pandangan heran Hinata, Sasuke berujar datar, "Tapi kau."

Makin tersesat lah ekspresi Hinata setelah ia mendengarnya. Apa yang kira-kira diperlukan seorang Uchiha dari gadis sepertinya? Dan darimana Sasuke tahu dirinya? Apakah dari cerita Sakura?

"Uchiha-san, a-ada apa?" balik Hinata bertanya, menatap antara ragu, heran, dan cemas, karena bagaimanapun, selain fakta bahwa Sasuke adalah pemuda yang populer dan keturunan dari bangsawan Uchiha, tak ada lagi yang Hinata tahu mengenai dirinya.

"Bukan hal yang nyaman, 'kan, jika berbicara di tepi jalan sembari berdiri begini?" Sasuke menunjuk ke arah restoran kecil yang ada di ujung jalan, "Ke restoran sana. Aku menunggumu—ada yang hal yang harus kubicarakan denganmu."

"A-Apa—" Hinata membelalak ketika tanpa menunggu ia selesai berkata, Sasuke berbalik dan memasuki mobilnya kembali, "U-Uchiha-san, tunggu! Aku—"

"Cepatlah susul aku kesana. Aku serius, Hyuuga," ucap Sasuke melalui jendela mobil yang terbuka, untuk kemudian menatap ke depan dan menjalankan kendaraan tersebut.

Hinata hanya ternganga tak percaya dan terkejut, mengikuti kendaraan berwarna oranye itu menyusuri jalan.

'Bahkan ia tahu namaku?' batinnya, 'Tapi apa maksudnya? Apa yang ingin ia bicarakan denganku?'

Meski ragu, namun Hinata merasa bahwa ia memang harus datang ke restoran tersebut. Jika tidak penting, pasti Uchiha Sasuke juga tidak akan repot-repot menunggunya dan berbicara dengannya, 'kan?

-oOo-

"Lihat, Sakura!" telunjuk berpoles kuteks merah muda Ino menempel di permukaan jendela kaca, mengarah ke koordinat arah gerbang sekolah, "Bukankah itu Sasuke-kun dan Hyuuga Hinata?"

Sakura melirikkan pandangan, dan emeraldnya yang semula tampak sayu, kini menyipit menatap apa yang ada di gerbang sekolah sana.

"Apa Sasuke-kun menunggu untuk menjemputmu? Kau bilang Sasori-kun tidak bisa menungguimu hari ini, 'kan?" Ino menggumam heran.

Sakura menggeleng, "Aku tidak bilang apa-apa pada Sasuke-kun," suaranya terdengar berat dan sedikit serak. Ada sisa-sisa isak yang terdengar disana.

"Huh? Lantas mengapa dia datang kemari?" tanya Ino, melirik ke arah Sakura. Diam-diam ia merasa prihatin sekaligus heran pada sahabat dekatnya tersebut. Sejak pagi moodnya begitu mendung, beberapa kali Ino lihat gadis itu meneteskan air mata tanpa suara. Entah apa yang terjadi hingga Sakura yang biasa ceria tampak begitu murung demikian. Perkara dengan Sasori? Tapi bukankah mereka sudah baikan, katanya dulu?

Namun tak peduli berapa sering Ino bertanya sepanjang hari itu, Sakura tetap bungkam dan menjawab bahwa semua baik-baik saja.

Ah, orang sinting pun tahu bahwa Sakura tidak baik-baik saja.

"Aku tak tahu," Sakura memandang ke arah Hinata dan Sasuke di gerbang sana. Diam-diam ia kembali merasa jengkel melihat Hinata dekat dengan sahabat masa kecilnya tersebut.

Kenapa Hinata?! Kenapa Hinata harus mengenal setiap orang yang memiliki arti di hidup Sakura?!

"Apa Hyuuga mengenal Sasuke-kun?" tanya Ino menggumam, lantas melirik ke arah Sakura. Seketika ia merasa khawatir saat menatap raut geram di wajah gadis itu. Wajahnya memerah karena kesal, dan matanya menyipit memandang ke arah semula.

Sepertinya Ino bisa menebak apa yang akan terjadi—apa yang akan dilakukan Sakura. Dan itu tidak akan jauh-jauh dari menyakiti dan menindas Hinata Hyuuga—lagi.

Namun akhirnya gadis itu hanya memejamkan mata dan menghela napas, lantas menyandang tasnya dan berdiri dari bangkunya, "Aku tidak peduli lagi. Aku ingin pulang."

"Eh?" Ino terkejut, buru-buru ikut menyandang tas dan melangkah mengikuti Sakura yang meninggalkan kelas yang sudah kosong, kecuali karena mereka berdua, "Kenapa? Tidak ingin mencari tahu apa yang mereka bicarakan?"

"Aku tidak peduli," jawab Sakura singkat dan melangkah cepat-cepat, "Aku tidak peduli pada Hyuuga lagi."

Karena dia sudah berjanji.

Mungkin… Mungkin dengan Sakura mulai tidak memedulikan Hinata, maka rasa bencinya pada gadis itu bisa berkurang, lantas ia tidak akan menindas gadis itu lagi.

Dan mungkin setelah itu… Sasori akan memaafkannya dan kembali padanya dan tidak akan meninggalkannya lagi.

-oOo-

Sasori menatap ke arah pintu di depannya. Persis, inilah alamat apartemen yang diberitahukan Ino kepadanya melalu e-mail barusan. Lagipula tak ragu lagi, inilah satu-satunya apartemen mewah yang paling dekat dengan tempat tinggal Sasori dan teman-temannya.

Ia mengangkat tangan untuk menekan bel, lantas terhenti di udara karena keraguan yang mendera perasaannya. Namun ucapan Kakashi berdenging terus di telinganya. Setiap kata teringat jelas, seakan baru saja Kakashi mengucapkannya.

Menelan ludah, ia menekan bel pintu. Bunyi deringan bisa ia dengar dari luar sini. Namun tak ada respon setelah beberapa saat ia menunggu. Karenanya ia menekan bel pintu sekali lagi.

'Apa dia belum pulang sekolah?'

Sebelah tangan Sasori menyentuh handle pintu, dan terkejut ketika menatap pintu itu terbuka—tidak terkunci. Ia menghela napas, menyadari bahwa gadis itu begitu ceroboh membiarkan pintu apartemen tidak terjaga demikian.

Pantas saja Kizashi sangat mengkhawatirkan gadis itu jika tinggal sendiri di apartemen ini—jauh dari Kizashi dan para pelayan yang setiap saat bisa mengurus semua dan melindunginya.

"Haruno-san?" ia berkata, melongokkan kepala ke dalam. Ada sepatu hitam dan kaus kaki yang baru saja terlepas, tertaruh asal di karpet ruang utama. Satu tas selempang berwarna merah muda yang tergeletak sembarangan di sofa, menandakan bahwa si pemilik apartemen telah pulang sekolah dan tengah berada di dalam.

Memutuskan untuk masuk, Sasori menutup pintu, "Haruno-san?" ulangnya. Namun sekali lagi, hanya sepi yang menyahuti. Apartemen itu sebenarnya cukup mewah untuk standar Sasori. Sejauh matanya yang bisa lihat, ada ruang utama, ruang TV dan balkon yang menghadap langsung ke pemandangan kota.

Namun tetap saja, apartemen ini terlalu besar dan sunyi jika hanya ditempati seorang diri.

"Hidup di rumah sebesar itu dengan pelayan yang mengawasinya sepanjang waktu, sang Ayah yang sibuk dengan bisnis dan urusan kantornya… Ketika pergi keluar rumahpun kebebasan juga tidak didapatkan Sakura. Kebebasan, layaknya remaja seusianya, tidak bisa didapatkan Sakura tak peduli kemana ia pergi melangkah."

Sasori menarik napas dalam-dalam, ketika merasakan cubitan itu terasa kembali di hatinya. Hanya cubitan kecil, namun terasa sangat menyakitkan.

"Haruno-san?"

Tidakkah selama ini ia terlalu bersikap egois? Dia tidak menyukai sikap kekanakan dan egois Sakura, namun tidakkah dia juga berperilaku demikian? Menyalahkan dan merasa terganggu dengan gadis itu, namun tidak pernah berpikir untuk berusaha memahaminya.

Tidak pernah berpikir untuk mencoba mengerti, mengapa Sakura terasa begitu berbeda dari gadis dan remaja yang lainnya.

"Karena hidup yang dijalaninya juga berbeda dari yang lain—Sakura berbeda, Sasori."

Mengapa kalimat itu tak pernah ia bayangkan dan duga sebelumnya? Tentu saja Sakura berbeda. Sasori tidak pernah merasakan sepinya hidup di bangunan besar dan mewah, hanya dengan para pelayan tanpa mampu merasakan kehangatan dari arti keluarga yang sebenarnya. Sasori tidak pernah harus merasa terkekang karena harus diikuti pengawal kemanapun ia pergi melangkah. Sasori tidak pernah merasa bahwa nyawanya bisa terancam melayang oleh perilaku orang-orang yang memusuhi keluarganya.

Dan meski sang Ayah telah tiada, namun setidaknya Sasori masih sempat merasakan kasih sayangnya.

Sakura berbeda dengannya—mengapa ia tidak terbayang untuk memahami dan mengerti perbedaan itu?

Samar ia mendengar sebuah suara—isakan yang teredam. Ia segera melangkah ke sumber suara, dan ia yakin asal dari balik pintu berwarna coklat tua di depan sana.

Benar saja, suara isakan itu terdengar makin jelas ketika Sasori berdiri di depan pintu tersebut.

Bagaimana saat Sakura menangis demikian ketika Ayahnya tengah bekerja di kantor dan hanya ada para pelayannya? Dengan siapa ia membagi cerita dan keluh kesah? Sedangkan Sasori masih memiliki Ibu, Karin, dan Naruto yang bisa setiap saat ada dan mendengar ceritanya.

Sedikit mendorong pintu yang separuh tertutup itu, Sasori seketika bisa melihat sumber suara isakan. Adalah Sakura yang terduduk di tepi ranjangnya. Kepalanya menunduk, menyembunyikan wajahnya di antara helai merah mudanya yang menjuntai. Ia bahkan masih memakai seragam sekolahnya lengkap. Kedua tangannya memeluk sebuah benda yang tampak seperti pigura.

"Haruno-san."

Wajah itu terangkat, penuh dengan aliran air mata yang turun dari kedua matanya yang merah dan bengkak. Emeraldnya membelalak, menatap tak percaya ke arah Sasori yang berdiri di pintu kamarnya.

"S-Sasori-kun…," bisiknya seakan berbicara pada diri sendiri, "Sasori-kun."

Pigura itu terletakkan di permukaan ranjang sebelah Sakura, untuk kemudian gadis itu bangkit dan segera berjalan cepat ke arah pemuda itu, "Sasori-kun. Sasori-kun. Sasori-kun."

Sasori tak menolak, juga tak menghindar ketika tubuh kecil itu menubruknya dan melingkarkan tangan rampingnya ke sekeliling tubuhnya. Membiarkan pula ketika kepala itu bersandar di dadanya, membasahi bagian kausnya dengan air mata.

"Sasori-kun. Sasori-kun," mulut itu terus menyebut namanya bagaikan mantera, seakan tak percaya bahwa pemuda itu benar-benar tengah ia peluk, benar-benar kembali padanya setelah tadi pagi ia mengucapkan salam berpisah, "Sasori-kun—hiks—Sasori-kun."

Sasori melirik ke arah pigura yang tergeletak di tepi ranjang Sakura. Dan ia bisa melihat bahwa ia pernah menatap poto yang sama di salah satu bagian di mansion Haruno.

Poto dari seorang wanita berhelai pirang—mendiang istri dari Kizashi Haruno, Ibu dari Sakura Haruno.

Menghela napas, Sasori mengalihkan pandang, lantas menunduk dan melingkarkan kedua tangannya ke sekeliling tubuh yang masih bergetar kecil oleh tangis tersebut. Membawanya semakin ke dalam pelukan yang terbatasi oleh kukungan dua tangannya.

Harusnya ia sadar dari dulu. Harusnya ia mengerti dan memandang segala hal dari semua sudut pandang—bukan dari sudut pandang hidupnya sendiri.

"Maaf, Sakura, maaf," bisiknya lirih, sembari memejamkan kedua matanya, "Maafkan aku."

Karena menjadi pemuda brengsek yang hanya bisa bersikap egois dan sarkastis.

Karena bersikap seakan-akan dirinya adalah orang paling menderita sedunia.

Karena baru menyadari bahwa Sakura, mungkin saja, jauh lebih menderita di hidup sempurna yang harus dijalani sebagai takdirnya.

"Maafkan aku."

Sakura hanya mengangguk tanpa merespon.

Dan beberapa saat hanya mereka habiskan dalam kesunyian. Waktu bergulir sedangkan mereka membeku dalam pelukan. Air mata yang menyusut dan lega yang mengisi hati secara perlahan. Serta penyesalan yang tanpa ia sadari, suatu saat akan berubah menjadi rasa nyaman.

-bersambung-

A/N: Woeeehhh tuh! Semoga kalian ga benci-benci amat ke Sakura, ya. Dia kek gitu juga ada alasannya. Dan hidupnya tuh ga seenak yang kalian bayangkan. Makanya Saso-oppa jadi nyesel dan luluh kan eaaaa… Di sini full SasoSaku, ya ufu ^_^ Pengen masukin scene Sasuke dan Hinata di restoran, ah tapi aja udah kepanjangan OTL

Icha Kikuchi: Selain SasoSaku, pairing lain masih sekedar hints heuheu. Ah mending Sasuke ama Naruto aja /salah/ Makasih ya :')

Zoccshan: Hoeeee darimana elu bisa mikir yang ditelpon Hinata tuh si Saskey?! Mereka kenal aja kagak /tampol/ Wahaha gue juga enjoy ngetik scene Deidara dan Ino, Mbok /jambak kuncir keduanya/ Makasih Mbok muach!

Vivinetaria: Hei, salam kenal. Waduh makasih ya udah review 5 chapter XD Ini SasoSaku udah banyak perkembangan kan heuheu. Thanks!

Ariyanata: Aku juga suka Hinata dan sebenarnya ga suka dia dibully tapi gimana lagi /dor/ Terimakasih ya udah ikut nyumbang feedback! XD

Mitsuka Sakurai: Belooommm… Sasori di chapter maren masih sekedar simpati aja, belom djatoeh cinta. Kalau di chapter ini gimana hayoooo /plak/ Thanks! XD

Devillish Grin: Oeeeyy! Aku baru bisa update sekarang lalalal~ Mana tuh Posesif 2 mu kok lumutan gitu! /tampar/ Thanks ya muach!

Clara Merisa: Ending masih lamaaaa hahaha /pusing/ Chapter ini full SasoSaku-kan XD Dan si bebek Saskey ama Hinata nyempil lol. Makasih ya XD

Sherry Hoshie Kanada: Benci Hinata kenapa sih u_u Hinata tuh dibully di sini kok malah benci huhu /tampar diri sendiri/ /heh/ Makasih ya :*

Iyis istri kakuzu ga login: Nih yis, di sini, Bang Kakashi jelasin kalau Sakura tuh ga seburuk perkiraan elo! /bazooka mukamu/ Rata-rata emang orang nyebelin tuh pasti ada alasan kenapa dia nyebelin, tapi kita aja yang ga mau ngerti. Iya, kan, Mas Saso? /belai pipi Sasori/ Makasih yis!

Roullete Cyrax Noa: Haha makasih, ini juga udah update :)

Ren Hime: Makasih, maap baru update sekarang u_u

Ai: Ta-tapi ini fic kan SasoSaku, bukan SasoHina. Gimanach dongs Qaqaaa… /gigit jari ketakutan/ /plak/ Makasih ya /cipok buasah/

Terimakasih sudah membaca. Sekarang, berkenan menyumbang feedback? :3

-yukeh ketjeh-