Second Chapter

Spring

幸せ


Disclaimer: Saya tidak punya hak atas karakter Saint Seiya, mereka sepenuhny milik Kurumada-sensei. Saya hanya punya plot dan OC-OC saya. Berikut ini OC-OC Author lain:

Lea: Shimmer Caca
Chrysa & Sirius:
AmuletWin777
Note: Sorry if they are OOC, or if I got the wrong timeline *bow*

Maaf untuk segala typo atau kesalahan pengetikan yang ada.


Hanakotoba

I am then...

A Higanbana


~Theseia~


Duduk dan bersandar di punggung Orichalkos merupakan kegiatan yang biasa kulakukan sehari-hari, terutama saat aku sedang stress. Pernah sekali sang naga merasa tersinggung dan bertanya apakah ia hanya menjadi alat pelampiasan stress bagiku. Tentu saja itu tidak benar. Orichalkos sudah menjadi temanku sejak aku pertama kali menapakkan kaki di dunia Irregular ini. Dia yang mengajariku apa yang bisa dan tidak bisa kulakukan sebagai seorang IrregularBeing dan apa tugasku sebagai seorang Pelindung.

"Kau tahu, aku hanyalah seekor Lied, aku tak bisa memberimu banyak saran tentang kehidupan."

Itulah yang selalu ia katakan karena setiap kali aku datang padanya yang kubicarakan pasti hal yang sama.

Bagaimana caranya menjadi manusia kembali?

Menurut Reflet, Lied terkuat di dunia ini – yang kebetulan juga pemimpin para Irregular Being dan para Lied – tidak ada satupun Irregular Being yang bisa kembali menjadi manusia. Kalaupun caranya ada, caranya pasti mustahil atau gagal, namun aku belum mau menyerah.

Hari ini seperti biasa aku bersandar pada punggung sang naga. Sisiknya yang keras dan berwarna ungu itu mengkilat disinari cahaya matahari. Orichalkos adalah Lied yang menguasai elemen besi, aku tidak heran sisiknya jauh lebih keras daripada naga yang lainnya. Katanya, pedang terkuat sekalipun tidak akan bisa menembusi sisiknya ini.

"Haah... Hari ini angin sedang bersahabat yah?" Tanyaku.

Aku dapat merasakan Orichalkos mengangguk.

"Sepertinya para Sylph sedang bergembira hari ini."

Sylph. Para Lied angin. Tentu saja, mereka selalu ceria dan bergembira karena mahluk polos seperti mereka tidak tahu kejamnya dunia nyata. Aku mendongak dan melihat sekumpulan manusia kecil terbang tanpa peduli dengan dunia. Mereka tertawa-tawa, ekor rubah mereka bergerak-gerak mengikuti arah angin. Telinga mereka bergerak-gerak, seakan angin tengah membisikkan kabar baik bagi mereka. Aku tersenyum melihat mereka duduk santai di atas semanggi berhelai empat berwarna putih yang besar dan melayang-layang itu.

"Pasti enak yah duduk di situ..."

Aku dapat merasakan Orichalkos tengah menatapku.

"Yah... Bunga itu terlihat empuk." Katanya.

Aku mengangguk. Hari masih siang di Spirit Plane. Di dunia ini waktunya sama sekali tidak jelas. Bisa saja saat di sini siang hari, di dunia sana sudah sore atau bahkan malam hari dan terkadang itu membuatku kesusahan untuk berkomunikasi dengan Sophie. Ya, Sophie adalah ... Bisa dibilang Pahlawan yang harus kulindungi. Oke, kedengarannya lucu sekali pahlawan melindungi sesama pahlawan tapi sebenarnya sistem Pahlawan Pelindung ini dibuat untuk menyanggupi permintaan pahlawan-pahlawan lainnya yang tak kenal lelah untuk bertarung atau bagi mereka yang malu menampakkan wajah mereka ke depan pintu surga karena cara mati mereka yang konyol.

Seperti aku.

Aku berdiri dari posisi dudukku, lalu menepuk-nepuk rokku yang tidak ditutupi pelindung dan mulai melangkah meninggalkan Hutan Pertama.

"Kau mau pergi lagi?"

"Iya." Kataku senang.

Mau ketemu cowok ganteng~


Walaupun aku bilang mau ketemu cowok ganteng tapi tolong ingat baik-baik kalau cowok ini bukan pacarku. Status kami Cuma sebagai teman biasa, lagipula aku bukan tipe cewek yang akan merebut pacar teman baiknya sendiri.

Hari masih siang di dunia manusia, yang menurutku, itu kebetulan sekali mengingat jarang sekali waktu di Spirit Plane dan Dunia Manusia bertabrakan begini. Pemandangan dua belas kuil tampak megah seperti biasanya. Kuil-kuil yang menjunjung tinggi dan bergaya Yunani itu tak pernah berhenti membuatku kagum. Aku melangkah pelan melewati kuil Aries. Sebenarnya aku tidak keberatan untuk bertemu Mu-san, tapi sepertinya ia sedang tidak ada.

"Menemui pria itu lagi?"

Demi Neraka dan para penghuninya. Mau apa lagi pria ini di sini!?

Aku berbalik, mendapati diriku berhadapan dengan sosok tegap dan tinggi. Pria itu tampan, sangat tampan malah jika seandainya ia tidak menyebalkan. Pria itu tinggi, rambutnya lurus dan tidak panjang-panjang amat untuk seorang Samurai yang pernah hidup di era Bakufu – Atau apapun itu – dan sebagian rambutnya diikat dengan pita berwarna putih. Di dahinya, ada sebuah ikat kepala berwarna putih dengan semacam besi berwarna abu-abu gelap. Ia mengenakan kimono panjang yang ditutupi oleh Asagiiro no Haori, Haori kebanggaan Shinsengumi, menandakan statusnya yang dulunya anggota Shinsengumi. Mata dan rambut pria itu berwarna sama, Byzantium yang menurutku membuatnya makin rupawan saja.

"Kamu ngapain di sini?" Tanyaku dengan ketus.

Pria itu memutar bola matanya. "Aku sedang bosan." Jawabnya. Dasar kurang kerjaan. "Lagipula, aku heran saja kenapa kamu – setelah menguasai ilmu sakti Irregular Being – selalu datang ke sini menemui pria yang jelas-jelas sudah punya pacar." Ia terdiam sebelum menatapku. "Lagipula, pacarnya itu kan sahabtmu sendiri. Cantik, baik, pengertian, sempurna pula."

Kurang ajar, dia kan tidak harus menamparkan semua fakta itu di depan wajahku. Aku tahu kok Aiolos-san sudah pacaran dengan Chrysa-chan dan Demi Zeus, aku menemuinya bukan karena aku menyukainya – Oke, memang aku pernah menyukainya tapi itu dulu, sekarang aku hanya menyayanginya sebagai seorang kakak, maksudku, siapa yang tidak mau punya kakak sebaik dia? – lagipula, apa salahnya menemui seorang teman. Sudah begitu pria ini malah dengan seenaknya menamparkan fakta yang tidak bisa dibantah itu di depan wajahku. Oke, ini memalukan tapi aku tidak begitu suka – sangat tidak suka lebih tepatnya – dibandingkan dengan gadis yang jelas-jelas lebih baik dariku, itu membuatku merasa minder.

"Lalu? Memang apa salahnya menemui seorang teman?" Kataku dengan nada sengit. Kalau mau jujur, topic teman itu salah satu topic sensitif untuk pria di hadapanku ini. Aku tidak akan memberitahunya pada kalian karena aku tak sejahat itu. Dan aku selalu berhati-hati dengan ucapanku agar tidak menyakiti hati orang. Walaupun pria ini menyebalkan tapi dia tetap temanku.

Ia mendengus. "Teman atau Teman?"

Oknum satu ini memang hobi membuatku naik pitam. Kuputuskan untuk tak memperdulikannya dan berniat melanjutkan perjalananku hingga tiba-tiba sebuah tangan yang dingin mencengkeram lenganku.

Aku harus memberitahu ini, tapi kami Irregular Being disamakan dengan hantu di Dunia Manusia. Di dunia ini, kami tak bisa melakukan kontak fisik dengan manusia, bahkan dengan sesame Irregular Being, kecuali kami mempelajari caranya. Kami juga tak bisa masuk ke dunia ini tanpa membuat Lingkaran Kontrak, tapi baru-baru ini Orichalkos mengajarkanku cara untuk keluar masuk Spirit Plane tanpa lingkaran itu. Sejauh ini Irregular Being yang kutahu bisa melakukan kontak fisik di mana pun dia berada hanya pria menyebalkan ini, Yagami Yutaka.

"Apa sih?" Tanyaku kesal.

"Cuma mau mengingatkan." Katanya dengan lembut. "Kau sudah berkali-kali menyukai orang yang tidak bisa kau miliki, aku harap kali ini kau sudah belajar dari pengalaman. Lagipula, siapa sudi melihat temannya sedih?"

Baiklah, aku yang terlalu ge-er atau dia terdengar perhatian sekaligus cemburu? Jujur, di antara semua Irregular Being, Yutaka lah yang paling mengerti diriku. Dia orang pertama yang mau berbicara padaku saat itu – soalnya saat itu statusku kurang menguntungkan karena aku tidak "mati" seperti yang lain – dia memberitahuku apa yang bisa dan tidak bisa kulakukan sebagai Irregular Being – walaupun cara memberitahunya lebih buruk dari Orichalkos – dan dia juga yang mengajariku kemampuan sakti untuk keluar masuk dunia – dan juga dibantu Orichalkos karena dia tak pandai menjelaskan – singkatnya, hubungan kami sangat dekat sampai-sampai kami bisa meneriaki satu sama lain, dan… Baiklah, ini rahasia tapi aku menyukainya.

"Tenang saja, ak sudah belajar dari pengalaman kok." Jawabku sambil menyunggingkan senyum. "Lagipula, sekarang aku suka sama orang lain."

Hening.

"Apa?" Tanya pria itu.

Sialan! Kok aku bisa-bisanya keceplosan begitu!? Aku menatap pria itu karena penasaran dengan reaksinya. Sepertinya Yutaka cukup terkejut dengan pengakuanku. Wajahku memerah, aku memutuskan aku harus keluar dari sini sebelum aku mempermalukan diri lebih jauh. Dengan perlahan aku melepaskan diri dari genggaman Yutaka dan berlari menuju kuil Sagittarius.


"Ehh… jadi Chrysa-chan tidak ada yah?"

Aku menggembungkan pipi. Baiklah, walaupun kubilang alasan awalku adalah bertemu cowok ganteng – oke, ralat maksudku kakak ganteng tapi tujuan utamaku adalah untuk bertemu Chrysa-chan. Selain Lea, Chrysa-chan adalah salah satu orang yang biasanya kumintai saran untuk urusan percintaan, karena nilaiku nol besar di departemen itu. Aku biasanya bisa menemukannya di Kuil Sagittarius atau di Jepang, tapi membuka portal ke Jepang memakan waktu terlalu banyak jadi aku ke Sanctuary dengan harapan Chrysa-chan berada di sana, tapi sepertinya harapanku pupus.

"Dia ada di Jepang." Kata Aiolos-san.

"Humm…" Nah, sekarang bagaimana? Aku sebenarnya bisa saja membuka portal ke Jepang dan pergi ke sana tapi karena kejadian di Kuil Aries tadi, tiba-tiba aku merasa tidak bertenaga. Aku takut kalau-kalau karena pengakuanku Yutaka akan menyangka aku cewek murahan atau semacamnya karena gampang sekali hatiku berpaling, padahal pasalnya aku memang tidak pernah suka dengan Aiolos-san. Oke, ralat, aku memang pernah menyangka aku naksir dia, namun kusadari itu hanya sebatas rasa suka seorang adik pada kakaknya… Bisa dibilang seperti hubunganku dengan Leo dulu.

"Jepang yah…" Gumamku. "Aku tidak ada tenaga ke sana…" Keluhku dengan jujur.

Aiolos-san terkekeh. Kalau dipikir-pikir, pria berambut cokelat ini memang punya aura seorang kakak sih. Sepertinya dia memperlakukan siapapun yang lebih muda darinya seperti seorang adik. Dia kadang lupa dengan fakta bahwa aku tak bisa melakukan kontak fisik dan mencoba mengelus kepalaku hanya untuk mendapati tangannya menembusi kepalaku dan merasakan sensasi tak mengenakkan yang biasanya terjadi saat tubuhmu menembus hantu – tau kan? Rasa dingin, pusing dan mual seakan ada angin dingin yang masuk ke dalam perutmu – Dan omong-omong, ia hampir melakukannya lagi tadi sebelum mengingat bahwa ia tak bisa menyentuhku.

Nah sekarang apa? Oh ya…

"Aiolos-san, apa kasus yang itu sudah selesai?" Tanyaku penasaran. Yah… Masalah percintaan bisa menunggu.

"Kasus? Kasus a—ah… Maksudmu kasus hantu itu?"

Aku mengangguk. Beberapa hari yang lalu, Aiolos-san dan Aiolia mendapat misi untuk mengecek kejadian misterius di daerah barat Sanctuary. Katanya, tiap tengah malam ada semacam cahaya muncul dan orang-orang yang pergi untuk mengeceknya hilang dan tak pernah kembali – walaupun Aiolos-san dan Aiolia masih utuh-utuh saja sih lagipula katanya ada beberapa yang berhasil kabur– kabarnya, itu kerjaan hantu dan beberapa orang yang berhasil kabur mengatakan hantu itu berpakaian layaknya seorang prajurit jaman perang dulu dan walaupun hantu, kabarnya dia bisa mematerialisasikan dirinya dan menyentuh mereka. Tentu saja aku sangat penasaran dengan kasus satu ini. Habis, hantu itu kedengaran seperti… Irregular Being. Jangan tanya kenapa asumsiku begitu, aku hanya mengikuti insting.

"Belum. Aku dan Saga kembali ke sana untuk mengeceknya lagi, tapi kami tak menemukan apa-apa seperti biasa."

Aha! Sudah kuduga! Biasanya Irregular Being – yang sudah sakti sekalipun – akan jauh-jauh dari orang-orang yang mereka anggap lebih kuat dari mereka. Walaupun tak bisa bersentuhant api kadang bisa saja saat mereka berseteru dan kalah dalam sebuah pertarungan, mereka entah kembali ke Spirit Plane atau mengalami nasib sial di The World That Never Was.

"Kalau begitu… Apa aku boleh mengajukan diri untuk mengecek tempat itu?" Kataku menawarkan diri. Baiklah, tolong jangan salah paham. Aku menawarkan diri bukan untuk mencari perhatian asal kalian tahu saja. Aku bukan tipe cewek yang akan merebut pacar sahabatku sendiri. Sori-sori aja, aku TIDAK AKAN PERNAH mengkhianati sahabatku. Aku mengajukan diri karena, kalau itu memang Irregular Being, dan kalau dia… berbuat jahat dan jika aku membiarkannya berarti, sebagai Irregular Being senior dan selalu menjadi korban Reflet-sama, maka aku yang nanti akan kena getahnya dari Reflet-sama.

Aiolos-san tampak terkejut. "Kau yakin? Karena kami sendiri tidak tahu itu mahluk apa." Katanya.

"Aku punya sedikit tebakan… Sepertinya itu Irregular Being." Jawabku. "Tidak jarang ada Irregular Being yang ingin membahayakan manusia untuk tujuan mereka sendiri. Lagipula, kalau mereka memang Irregular Being, berarti mereka tanggung jawabku sebagai sesama Irregular Being." Wah… Sejak kapan aku bersikap seperti seorang pemimpin begini.

Aiolos-san tampak tak begitu setuju dengan usulku. Kadang aku tak suka saat dia mulai menganggapku anak kecil seperti ini. Aku bisa menjaga diri dengan baik kok. Lagipula, Aiolos-san sudah pernah melihatku bertarung sebelumnya, kupikir dia akan lebih mempercayai kemampuanku.

"Boleh saja… Tapi mungkin kau harus membawa satu Gold Saint bersamamu." Sarannya.

"Tidak." Aku langsung menjawab. "Sepertinya Irregular Being ini takut pada saint, jadi membawa saint, apalagi Gold Saint bukan pilihanku sekarang." Kataku sesopan mungkin.

"Itu menjelaskan mengapa kami tak bisa menemukannya." Kata Aiolos-san. "Tapi setidaknya kau harus membawa rekan." Tegasnya, dan sepertinya dia tidak mau mendengar kata tidak dari mulutku.

"Ah, soal itu…"


"Ogah!" Ketus Yutaka.

"Jangan sebut-sebut nama bos preman di serial Si Unyil dong!" bentakku, menyinggung nama serial lama di pertelevisian Indonesia. Darimana aku tahu? Itu rahasia.

"Si siapa?" Tanya Yutaka heran.

"Lupakan saja. Omong-omong, kembali ke masalah tadi. Ayolah, bantu aku sekali saja." Kataku.

"Membantumu, itu tidak masalah." Katanya, membuatku tersipu. Soalnya cowok ini selalu membantuku se-mustahil apapun permintaanku.

"Tapi bantuin Si Sagittarius itu, Tidak. Akan. Pernah." Jawabnya, menekankan tiap kata.

Dasar pelit. Dia punya dendam apa sih sama Aiolos-san?

"Tapi ini kan lebih ke bantuin aku." Kataku. "Kalau memang itu Irregular Being dan kita membiarkannya berkeliaran dan berbuat jahat kan nanti kita kena getahnya dari Reflet-sama." Kataku.

Yutaka tampak mempertimbangkan hal ini. Alasanku ini tidak bohong dan memang masuk akal. Soalnya kami para Irregular Being, walaupun tidak begitu akur, tapi kami harus menjaga satu sama lain agar tidak berbuat onar di dunia lain. Dan kalau kami lalai itu berarti hukuman dari Reflet-sama dan hukumannya bukan sesuatu yang mau kau bayangkan.

"…Baiklah." Jawabnya pada akhirnya. "Tapi ini hanya untuk membantumu, bukan si Sagittarius itu." Katanya.

Aku sedikit tersipu mendengarnya. Aku benar-benar berharap dia mengatakan itu karena ia cemburu, itu kan artinya dia juga menyukaiku. Benar kan? Aku mengangguk.

"Kalau begitu, ayo pergi sekarang!" Seruku.

Pria itu memukul kepalaku.

"Duh! Apa sih!?"

"Otakmu itu tidak ada isinya yah? Memangnya kau bisa apa dengan kemampuan yang begitu-begitu saja? Tanpa bisa menyentuhnya kamu tidak bisa berbuat apa-apa tau."

Cowok ini betul-betul suka menamparkan kata-kata pedis tepat di wajahku. Tapi aku jujur lebih suka itu ketimbang dibohongi dengan kata-kata manis. Dan dia ada benarnya juga. Irregular Being kali ini sakti. Bahkan mungkin lebih sakti dari Yutaka dan aku tak bisa melakukan apa-apa kalau menyentuhnya di dunia nyata saja aku tidak bisa, aku bahkan lupa bagaimana rasanya menyentuh tangan orang saat sudah berada di Dunia Manusia.

"Kau benar." Kataku lirih.

"…Karena itu aku akan mengajarimu."

Aku langsung mendongak menatapnya. "Kamu mau membantu mengajariku?"

Dia menyeringai. "Sejak kapan aku tidak mau membantumu?" Aku tersenyum senang. Memang sih dari dulu kami selalu bertengkar, selalu adu mulut, bahkan tidak jarang kami saling memaki, tetapi saat aku meminta bantuan, pria ini tak pernah menolakku satu kalipun.

Yutaka mengajakku ke area yang katanya berhantu di Sanctuary. Tidak sedikit area yang dikatakan berhantu oleh para penduduk Rodorio, tapi sebenarnya daerah itu bukannya berhantu, tapi kadang itu menjadi spot untuk para Penjaga Gerbang dan Irregular Being – yang sudah sakti tentu saja – bolak-balik dua dunia. Saat berjalan, aku memandangi punggung Yutaka. Gawat, semakin aku mengenalnya, semakin besar perasaan ini memenuhi diriku. Aku belum pernah merasakan perasaan yang sebesar ini sebelumnya, bahkan tidak dengan Perseus. Aku mengalihkan pandanganku ke tanah. Aku menjadi gugup hanya dengan melihat punggungnya tetapi kadang aku merasa bahwa ia tidak menyukaiku.

Aku biasa bertukar informasi dengan beberapa Irregular Being di Spirit Plane. Kudengar bahwa Yutaka adalah Putra Omoikane dan Demigod dewa Jepang yang pertama – aku tidak tahu bahwa Dewa-Dewi Jepang juga turun ke bumi dan mempunyai anak Demigod – Omoikane adalah Dewa Kebijaksanaan, mungkin karena itulah Yutaka sangat cerdas dan berkepala dingin. Ia dibesarkan oleh ibunya, namun karena perekonomian Jepang saat itu kritis ibunya tidak punya pilihan selain menitipkannya di Dojo Isami Kondou yang nanti akan dikenal sebagai pemimpin Shinsengumi. Itu, tentu saja, kudengar dari Yutaka sendiri. Pahlawan lain bilang dulu dia jatuh cinta pada seorang gadis dan karena gadis itulah dia meninggal… Mengingat itu, kadang aku merasa cemburu. Habisnya, itu kan berarti dia sangat mencintai gadis itu hingga ia rela mati demi dia. Aku pernah bertanya soal ini, tapi Yutaka bilang dia sudah lupa.

Lagipula, kami sekarang kurang lebih sama dengan hantu, menjalani kehidupan yang stagnan. Tak bisa bertumbuh karena pertumbuhan kami sudah berhenti total. Tak bisa menikah dan mempunyai anak dan aku meragukan akhir yang bahagia karena saat kami gugur di medan perang kami akan memudar dan tidak akan pergi ke Elysium atau Dunia Bawah. Irregular Being seperti kami entah menghabiskan waktu di Forgotten Memoir atau menjalani siksaan dalam The World That Never Was.

"Theseia, kau kenapa?"

Aku mengerjapkan mata dan mendongak, melihat Yutaka sudah berada jauh di depan. Ternyata tadi karena tenggelam dalam lamunan, aku berhenti berjalan. Aku berusaha menutupi rona merah di wajahku dan menyusulnya

Berhubung sekarang kami di Dunia Manusia, latihan pun dimulai tanpa menunda.

"Baiklah, karena kamu baru dalam hal ini, mungkin lebih baik aku menjelaskan dulu caranya agar kamu bisa melakukan kontak fisik."

Aku mengangkat sebelah alisku. Masalahnya Yutaka bukanlah penjelas yang baik.

Yutaka memutar bola matanya. "Jangan melihatku begitu. Nah, untuk permulaannya, bagaimana kalau kamu menyentuh ini?" Aku terperangah saat Yutaka menunjukkan telapak tangannya di hadapan wajahku. Hah!? Yang benar saja! Oke, aku bukannya takut aku tak akan bisa, aku malah takut saat aku bisa menyentuhnya, wajahku akan merona merah dan aku akan tampak konyol banget.

Yutaka tersenyum. "Tenang saja, caranya tidak terlalu susah. Kau hanya perlu mengingat saat kamu masih manusia, atau saat kamu di Spirit Plane. Sensasi saat kulitmu bersentuhan dengan sebuah objek."

Gampang mengucapkannya tapi susah dilakukan. Masalahnya tiap kali ke Dunia Manusia, otakku seakan melupakan semua itu. Tapi aku ingin bisa. Aku ingin bisa menyentuh lagi. Kalau bisa melakukannya… Aku membayangkan aku bisa jalan-jalan sambil gandengan tangan dengan Chrysa-chan dan Sirius tanpa perlu minder dengan orang-orang yang beranggapan bahwa aku ini hantu. Aku bisa bergandengan tangan dengan Sophie juga – dan oh Dewa aku ingin sekali mencubit pipi gadis imu satu itu – dan aku juga bisa… bergandengan tangan dengan Yutaka.

Tapi untuk itu aku harus bisa mengingat bagaimana rasanya berpegangan dengan orang lain… Aku lalu menutup mata, lalu mencoba mengingat-ingat rasa itu. Aku mengulurkan tanganku, mencoba menyentuh tangan besar Yutaka hanya untuk mendapati tanganku menembus tangannya dan mendadak aku merasa mual. Itu hal yang biasa dirasakan saat tubuh kami menembus objek.

"Tidak apa," Ucap Yutaka lembut. "Tidak mungkin langsung bisa, aku juga butuh waktu bertahun-tahun agar bisa. Coba saja pelan-pelan." Katanya sambil tersenyum. Kenapa senyumnya terlihat menawan sekali? "Coba ingat-ingat lagi. Sensasi saat kamu menyentuh manusia dulu, atau mungkin saat Lea memegang tanganmu di Spirit Plane. Coba ingat kembali kehangatan manusia, aliran darah…"

"Kita kan tidak bisa merasakan aliran darah." Potongku.

Yutaka terkekeh. "Sebagai manusia memang tidak bisa. Tapi saat kamu sudah menguasai teknik ini kamu pasti bisa merasakannya. Nah, ayo coba lagi." Katanya.

Aku memandangnya. Zeus, wajahnya yang tersenyum lembut padaku membuat jantungku berdebar-debar. Kadang aku bertanya-tanya, apa yang dia pikirkan tentang aku? Apakah dia menyukaiku lebih dari teman? Atau apa hatinya masih tertaut pada gadis yang dulu menyebabkan kematiannya?

"Ayo coba lagi." Katanya lagi. Sepertinya ia mengira aku sedang gugup karena latihan ini, tapi sebenarnya aku gugup karena dia. Dan, dia ini polos atau memang tidak peka? Padahal aku sering sekali merona di hadapannya tapi dia tak pernah menunjukkan tanda-tanda dia menyadari perasaanku. Aku menghela napas dan kembali mengulurkan tanganku.

Aku memutuskan mencoba cara lain karena aku tak ingat kehidupan manusiaku dan sepertinya otakku menolak untuk mengingatkanku tentang sensasi sentuhan saat di Spirit Plane, aku lalu mencoba mengingat kenangan lain. Aku teringat saat ia mencengkeram tanganku pagi ini. Aku ingat genggamannya yang kuat tapi lembut itu. Tangannya yang dingin. Lalu aku berjengit. Aku membuka mataku dan terperangah melihat tanganku menyentuh tangan Yutaka. Di sini. Di Dunia Manusia. Tangan dingin itu lalu menyelipkan jari-jarinya ke jari-jariku dan menggenggam tanganku dengan lembut.

"Yutaka…" Aku berbisik kagum.

"Wow, hanya dua kali mencoba." Katanya kagum.

Aku mengangguk semangat dan aku mengayun-ayunkan tangannya dengan semangat dan memeluknya, lalu melepasnya dan menatap matanya lagi.

"Iya! Bisa!" Seruku semangat. Wajah Yutaka memerah, membuatku bingung. Tiba-tiba ia memalingkan wajah dan tidak mau menatapku.

"Yutaka?" Panggilku.

Ia terdiam sesaat lalu kembali menatapku, rona merah masih terlihat jelas walaupun tak semerah tadi.

"Yah… Selamat, rekor benar kamu bisa berhasil dalam dua kali coba."

Aku tersenyum bangga. "Iya! Heheh! Tadi aku ingat saat pagi ini kau menggenggam tanganku. Ingat kan? Saat aku pergi ke kuil Sagittarius."

Yutaka mendengus. "Dan aku cemburu seperti biasanya."

Aku terdiam. "Eh?"

Tiba-tiba Yutaka mendekat dan memeluk pinggangku, menarikku mendekatinya. "Kau tidak sadar betapa aku benci Sagittarius karena tiap hari bikin kamu senyum sumringah padahal ujung-ujungnya dia bikin kamu patah hati?" Aku tak bisa berkata-kata. Setelah bisa menyentuhnya, aku bisa merasakan keberadaannya yang begitu kuat. Keberadaan yang mengancam namun menenangkan.

"Kamu… Cemburu?"

Ia mendengus. "Baru sadar?"

"Yah… Aku tidak terlalu ahli dalam departemen percintaan." Kataku. "Tapi kamu tahu kan kalau sekarang aku tidak—"

"Iya, aku tahu. Tapi saat mau bertemu dia atau si Sirius itu kamu terlihat bahagia sekali, sementara saat bertemu denganku kamu berubah 180 derajat, bagaimana aku tak merasa tertampar?" Katanya.

Aku mengeluarkan tawa kecil. Ternyata secara teknis dia cemburu terhadap semua pria yang dekat denganku, aku jujur tak menyangka dia juga cemburu pada Sirius. Aku menatapnya, ingin mengatakan bahwa aku tidak ada perasaan pada Aiolos-san , namun saat aku menatapnya, aku seakan lupa bernapas. Yutaka tengah menatapku lakat-lekat, wajahnya begitu dekat dengan wajahku hingga hidung kami bersentuhan.

"Yutaka…"

Ia tak membiarkanku menyelesaikan ucapanku. Bibirnya menangkup bibirku. Aku merasakan bibirnya yang lembut itu menyentuh bibirku. Karena kaget tanpa sengaja aku membuka mulutku, mencoba menahan desahan yang nyaris keluar, namun ia menggunakan kesempatan itu untuk merasai setiap sudut mulutku. Lutuku melemas dan aku mencengkeram haori miliknya untuk menahan diriku agar tidak jatuh. Tangan besarnya yang memegang daguku kini turun dan menyentuh setiap lekuk tubuhku dan berhenti di pinggangku, menahan agar aku tidak jatuh.

Saat ia melepaskanku, barulah aku ingat bernapas, lalu aku menatapnya.

"Y-Yutaka…"

"Kau… baik-baik saja?" Tanyanya.

Aku baru mau menjawab saat mendadak sebuah pertanyaan muncul di kepalaku. Yutaka bilang kita bisa menyentuh dan berbuat sesuatu jika mengingat bagaimana rasanya…. Apakah…

"Kenapa… Kamu bisa tahu rasanya ciuman?"

Wajah Yutaka mendadak pucat dan aku menyadari kebenaran yang mengerikan telah terkuak tepat di wajahku. Telak dan menyakitkan.

"Kamu… Kamu ingat semua kejadian di masa lalumu kan? Tidak hanya ibumu dan hidupmu sebagai Shinsengumi… tetapi juga… tentang gadis itu bukan…? Kamu bisa menciumku karena … Kamu… pernah berciuman dengan dia…" Kalimat terakhir itu terdengar lebih seperti bisikan. Kusadari air mata telah mengalir di pipiku, namun aku tak butuh jawaban Yutaka. Wajahnya sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya. Yutaka telah membohongiku.

"Mulai sekarang… Aku tidak mau berurusan denganmu lagi." Kataku.

"Theseia…" Yutaka memandangku dengan wajah yang menyiratkan luka. Untuk apa dia menatapku seperti itu? Apa dia tidak tahu bahwa dia lebih menyakitiku ketimbang aku menyakitinya? Namun aku tidak mau mendengar protesnya. Aku langsung berbalik dan berlari, membuka portal dan kembali ke Spirit Plane.

Saat tadi kamu menciumku… Apakah yang mengisi benakmu itu dia dan bukan aku?


"Theseia-chan, kau kenapa?"

Aku membenamkan wajahku pada lututku, bersandar pada Orichalkos yang tengah menggerakkan badannya dengan pelan, sebagai bentuk pertanyaan padaku. Ini sudah terjadi sejak tiga jam yang lalu. Lea duduk di sebelahku, menepuk-nepuk pundakku untuk mendapatkan perhatianku, namun aku terlalu lelah, sampai-sampai tak ada tenaga untuk menatapnya.

"…Apa kau sedang patah hati?" tanya Orichalkos.

Satu lagi tamparan telak di wajahku.

"…Kenapa bisa tahu?"

"Kalau hanya masalah sepele biasa kau sudah menangis kencang-kencang sekarang."

Huh.

"He… Apa perlu kuhajar pria ini untuk Theseia-chan? Tawar Lea."

Aku langsung menatapnya. "Jangan."

"Oh oke." Katanya. "Tapi aku tidak suka melihat Theseia-chan sedih… Memangnya siapa pria ini?"

Aku menggigit bibirku sebelum memberitahunya. "…Yutaka."

Seperti dugaanku, Lea sepertinya tak suka dengan fakta bahwa Yutaka yang menyebabkan kondisi depresiku. Lea dan Yutaka memang… tak pernah akur.

"Apa aku boleh membunuhnya?" Pinta Lea.

"Tolong jangan." Kataku. Lea menghembuskan napas. "Baiklah…"

Tanpa diminta, aku langsung menceritakan kejadian di Dunia Manusia pada mereka berdua. Lea, adalah seorang gadis berambut pirang pucat dan mempunyai mata yang mengingatkanmu akan senja sore hari. Lea adalah pendengar yang baik karena itulah aku selalu menceritakan semua keluh kesahku padanya. Walaupun awalnya aku ogah-ogahan tapi pada akhirnya pasti ada saja sedikit rasa dalam diriku untuk menceritakannya. Yah… Hanya Lea, Orichalkos dan Chrysa-san yang mampu membuatku mengeluarkan segala uneg-unegku.

"Oh… Begitu…" Kata Lea mengangguk-angguk, sementara Orichalkos tak berkomentar.

Suasana hening kembali menyergap kami, sebelum Lea membuka mulutnya.

"Mungkin lebih baik Theseia-chan bicara padanya." Sarannya. Aku menatapnya.

"Itu hanya saran." Lanjutnya. "Mau melakukan atau tidak, itu tergantung Theseia-chan sendiri." Katanya lembut. Orichalkos pun mengangguk. Aku terdiam. Aku tidak ingin menemuinya sekarang. Yang ada aku hanya akan sakit hati karena mengingat bahwa dia telah membohongiku. Aku berdiri dan berjalan pergi sebelum memberitahu mereka.

"Akan aku pikirkan."


Datang ke sini memang bukan ide yang bagus.

Aku menatap pepohonan di sekelilingku. Dari semua tempat, kenapa pula tempat ini harus jadi tempatnya nangkring? Demi Zeus, apa tidak ada tempat yang lebih bagus sedikit? Pohon-pohon di sekitarku berbatang hitam tanpa daun, adapun daunnya hanya satu atau dua helai saja dan berwarna ungu kehitaman. Kutelusuri jalan-jalan berbatu yang mengantarku ke Hutan Akhi.

Hutan akhir adalah tempat para Irregular Being yang sudah sakti untuk nangkring. Tentu saja tidak semua, maksudku, Irregular Being yang sudah sakti dan tergolong kejam. Mereka biasanya tidak suka bila ada orang yang memasuki daerah mereka. Aku tidak suka tempat ini tentu saja, tapi aku harus menemui Yutaka. Aku harus berbicara padanya.

Tenangkan dirimu Theseia, selama kamu tak bersuara arwah-arwah pahlawan itu tak akan mengganggumu.

Langkahku terhenti dan aku memekik kaget saat sebuah tangan besar menepuk pundakku. Aku berbalik dan melihat orang yang kucari sudah berada di belakangku. Yutaka menatapku dengan pandangan marah.

"Sedang apa kau di sini?" Katanya dengan nada rendah.

"Ah aku-"

Yutaka menghentikan kata-kataku dan meletakkan telunjuknya di bibirku. Jantungku berdetak cepat dan aku merasa tak lama lagi jantungku akan meloncat keluar dari dadaku. Aku berusaha menahan rona merah yang menyebar di pipiku dan mengangguk pelan, mengisyaratkan bahwa aku tidak akan bersuara lalu Yutaka menarikku keluar dari tempat itu.


"Kau bodoh ya!?"

Aku mengerjapkan mata. Setelah keluar dari Hutan Akhir Yutaka langsung meneriakiku dengan suara keras. Nah lho? Apa salahku?

"Kenapa kau masuk ke hutan akhir!?"

Ah jadi dia khawatir toh. Tapi tetap saja, menunjukkan kekhawatirannya jangan gitu juga dong.

"Err tunggu dulu-"

"Jangan suruh aku tunggu! Mau bunuh diri nggak gitu juga caranya!"

HAH!? Sialan jadi dia pikir aku mau bunuh diri? Dasar cowok nggak peka dia pikir aku cewek apaan!?

"Lho? Ini kan nyawaku! Mau kuapain terserah dong, lagian kau sendiri jangan langsung berasumsi macam-macam dong! Aku masih mau hidup dan masih mau menghirup oksigen, dasar cowok nggak peka!" Bentakku.

Yutaka terdiam dan mengedipkan matanya. Kupikir ia akan balik meneriakkiku tapi ia hanya menunduk dengan wajah bersalah.

"Maaf..."

Aku menghela napas.

"Yah kau juga masih berhutang penjelasan padaku."

"Ah ya..." Yutaka mengerti maksudku. Ia terdiam sesaat lalu menatapku dan tanpa peringatan ia langsung memelukku, membuatku memekik kaget. Jantungku berdetak makin cepat dan aku yakin wajahku sudah semerah kepiting rebus.

"Theseia…"

"Apa?" Tanyaku dengan suara kecil.

Aku merasakannya mengelus rambutku dan mempererat pelukannya. "Soal kejadian itu… Aku minta maaf karena membohongimu. Aku tak bermaksud melakukan itu, tapi kupikir kalau kau tahu, kau tak akan mau mendekatiku lagi." Jelasnya, "Soal gadis itu, dulu memang aku menyukainya, tapi itu sudah sangat lama. Aku bahkan sudah lupa tentangnya." Aku merasakannya membenamkan wajahnya pada rambut emasku.

"Tapi kalau kau, itu lain lagi."

Aku terdiam.

"Kamu tahu sejak kapan aku memperhatikanmu?"

Aku mengedipkan mata, tidak melepaskan diri dari pelukannya.

"Sejak aku jadi mahluk Irregular?"

Yutaka tertawa kecil.

"Lebih lama dari itu. Aku memperhatikanmu sejak insiden saat kau dibakar dulu."

Tunggu, apa!?

"Waktu itu, sebenarnya semuanya kebetulan saja. Saat itu aku masih hidup. Aku adalah salah seorang anggota Penjaga."

Ah ya, dia pernah menyebutkan itu.

"Aku sedang berjalan-jalan di desamu, saat aku meliaht kejadian itu. Saat itu aku seumuran dengamu. Aku melihat seorang gadis kecil, diikat pada sebuah kayu dan dibakar. Aku terkejut sekaligus geram melihatnya. Aku masih ingat saat gadis itu menangis, memohon-mohon agar dilepaskan, masih berharap bahwa setidaknya satu dari orang-orang itu ada yang mau menolongnya, tapi ternyata tidak. Aku berniat menolongmu, tetapi pak tua itu mendahuluiku."

Seketika aku menegang. Jadi dia melihat Aaheru…? Tapi Yutaka tampaknya tak sadar.

"Aku senang kamu selamat dan sejak itu aku mulai mengawasimu. Aku tak tahu kenapa tapi aku hanya takut kamu tertimpa bahaya lagi."

Aku mengerutkan kening. "Tapi bagaimana mungkin aku tidak bertemu denganmu sama sekali?"

Yutaka terkekeh. "Itu karena aku mengawasimu secara diam-diam. Tapi hanya berselang dua tahun karena ibuku harus pindah kembali ke 'waktu'ku."

Aku terdiam.

"Jadi… Kamu Penjaga Waktu?"

Yutaka mengangguk. "Saat kamu jadi Irregular Being, aku senang karena itu artinya aku bisa menghabiskan banyak waktu denganmu dan mengenalmu lebih jauh, namun aku bingung bagaimana caranya aku harus berbicara denganmu, karena itu terkadang, perkataanku keluar lebih kasar dan dingin dari seharusnya."

Yutaka lalu melepaskan pelukannya dan mengangkat daguku, manik Byzantium miliknya menatap manik lautku dalam-dalam.

"Apa kamu tahu, sejak memperhatikanmu, aku selalu ingin sekali saja menggenggam tanganmu?" Tangannya yang satunya meremas tanganku. Aku balik meremas tangannya. Ucapannya membuat jantungku berdebar-debar. Perlahan, aku menyelipkan jari-jariku pada jari-jarinya. Pria itu melepaskan daguku, menarikku mendekat. Ia mengelus rambutku dan mendekatkan bibirnya di telingaku. "Mungkin dulu aku pernah melupakan perasaanku padamu dan jatuh cinta pada gadis lain, tapi saat bertemu kembali denganmu, perasaan itu sekejap kembali lagi. Sekarang, tiap hari, siang malam, yang bisa kupikirkan hanya dirimu saja, Theseia."

"N-Ng…" Aku menahan rasa geli saat bibirnya menyentuh telingaku dan napasnya menggelitik telingaku. Tanganku mencengkeram haori-nya, karena mendadak, seluruh kekuatanku lenyap, seakan kata-katanya menyerap semua kekuatan dari tubuhku.

"Aku menyukaimu Theseia. Aku mencintaimu, dan aku bersumpah aku akan selalu melindungimu." Bisiknya lagi.

Aku tak bisa berkata-kata. Aku hanya bisa menatap maniknya itu. Menatap tatapan yang lembut itu.

Perlahan ia menjauhkan bibirnya dari telingaku, dan kali ini bibirnya langsung menangkup bibirku. Sedetik, namun terasa begitu lama.

"…Apa… kamu juga menyukaiku…?"

Aku mengangguk, tak bisa berkata-kata saking bahagianya.

"Kalau begitu, jadilah milikku." Aku tidak tahan lagi dan kali ini, akulah yang menangkup bibirnya. Yutaka tampak kaget dengan tindakanku namun aku tak peduli. Perasaan bahagia ini membuatku tak mampu berpikir jernih. Yutaka melepaskan genggaman tanganku dan tangannya menangkup pipiku. Jemarinya bergerak menelusuri pipiku dan aku menyentuh tangannya yang dingin itu.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa betul-betul bahagia.


Hanakotoba

You are to me…

A Wasurenagusa


Gianti: Finally! Muahaha! Ah~ lagi dimabuk adegan romansa nih~
Aiolia: Fic yang lain kapan diselesaikan? -_-
Milo: Penyakit melencengnya muncul deh
Gianti: *cuekin Milo dan Aiolia* Omong-omong, adegan-adegan di sini terinspirasi dari novel Bayangan Kematian by Lexie Xu danErlin Cahyadi :3 sebenarnya kedua pair ini juga sih XD
Milo: …. 'Dasar plagiat -_-'
Yak, mari balas review~~

#Shimmer Caca

Sophie: Kalau Shizen-nee mau, aku bisa pinjamkan.
Gianti: Mil, udahlah, terima kenyataan aja kalau adik kecilmu udah besar
Milo: Nggak! Lagian dia belum cukup umur untuk- *di lakban* mpffh!
Gianti: Begini lebih tenang. Ah maaf Lea munculnya dikit doing TAT dan maaf kalau dia OOC #sujud


HANAKOTOBA (Flower Language):

Wasurenagusa (Forget-me-not): Cinta sejati
Higanbana (Red Spider Lily): Tidak akan pernah bertemu lagi/ Yang terlupakan/ Terlantar