Third Chapter
夏
Summer
舞
Disclaimer: Saya tidak punya hak atas karakter Saint Seiya, mereka sepenuhny milik Kurumada-sensei. Saya hanya punya plot dan OC-OC saya. Lagu yang muncul di fic ini adalah Into the Light - KOKIA yang juga bukan milik saya
Xena
"Kutebak kakakmu pergi entah kemana dan akan pulang dengan luka-luka yang harus kuobati?"
Aku meletakkan keranjang yang ku bawa ke atas meja kayu kecil di tengah ruangan, berusaha mencari-cari salep di tengah ruangan yang remang-remang ini. Sosok yang duduk dekat jendela itu tertawa pelan dan aku dapat melihatnya mengangguk pelan. Sebuah selimut kusam membalut tubuhnya yang kecil itu, menutupi luka-luka bakar yang telah di balut oleh perban yang telah usang.
"Kau tahu, kalau dia terus-terusan begitu aku akan kehabisan perban." Ocehku, seraya mengeluarkan botol berisi salep berwarna hijau. Salep khusus untuk luka bakar. Kudekati pasienku dan melihatnya tertawa geli mendengar ocehanku. Aku tersenyum, senang karena Sui selalu menanggapi humorku yang tidak lucu ini dengan reaksi positif.
"Bukankah aku juga salah satu penyebab masalah itu?" Tanya Sui.
Dengan pelan ku raih tangannya dan membuka perbannya lalu mengoleskan salep itu ke luka bakarnya.
"Kau, Sui, adalah pengecualian." Kataku. Ku tatap bocah kecil berambut hitam itu. Dia adalah bocah paling manis dan baik hati yang pernah kutemui. Benar-benar tak habis pikir bahwa ia adalah adik dari teman masa kecilku yang barbar itu. "Kakakmu, di pihak lain, adalah cerita lain." Lanjutku, menarik sebuah tawa keluar dari mulutnya.
"Ayolah Xena-san, kakakku tak seburuk itu." Katanya.
Aku memutar bola mataku. "Sejauh pengamatanku, dia hanya bersikap baik padamu." Balasku seraya berjalan menuju dapur. Sui tidak menghentikanku tentu saja karena memang biasanya akulah yang memasak untuknya dan Kagaho, kadang-kadang aku berpikir aku harus menarik pajak untuk semua kebaikanku.
"Juga padamu." Kata Sui, walaupun aku tak bisa melihat ekspresinya aku tahu ia tengah tersenyum. Tentu saja, ia selalu tersenyum.
Aku memutar bola mataku. "Oh, tentu saja ia sangat baik padaku." Kataku dengan nada sarkastik. Hari di mana Kagaho akan memperlakukanku seperti ia memperlakukan Sui adalah hari di mana babi bisa terbang. Tapi aku tak bisa menyalahkannya, karena aku yakin bahkan mahluk terkejam di bumi pun akan memperlakukan Sui dengan sangat lembut, serius, kau tidak akan bisa membenci bocah itu sekeras apapun kau mencoba.
"Cara kakak menunjukkan kebaikannya pada Xena-san beda dengan caranya menunjukkan kebaikanya padaku." Jawab Sui lagi.
Oh aku tahu arah pembicaraan ini.
"Sui, gimana kalau kau membuka biro jodoh saja?" Kataku setengah bercanda setelah mencobai sup yang sedang aku masak.
Aku mendengar Sui tertawa dan ia tak berbicara lagi setelah itu. Ini adalah salah satu rutinitasku di desa ini. Mendatangi rumah Kagaho, merawat Sui dan memasak buat mereka. Sejak kecil aku sudah mengenal Kagaho. Ia adalah teman masa kecilku. Jujur, aku sendiri tidak menyangka akan bisa berteman dengan orang sepertinya. Kasar, pendiam, dingin, benar-benar bukan tipe orang yang senang diajak berteman. Namun, entah bagaimana gadis sepertiku bisa menjadi temannya. Gadis biasa yang ingin menjadi dokter. Ku dengar suara pintu terbuka, aku tidak perlu menoleh untuk tahu bahwa itu Kagaho.
"Yak, yang dibicarakan sudah muncul, berapa banyak perban yang kubutuhkan hari ini?" Kataku sambil meniup api untuk mematikannya. Kagaho tidak menjawab dan itu tidak mengejutkanku. Pasti dia hanya memutar bola mata dan tidak memperdulikanku.
Aku mendesah pelan, meletakkan makanan yang ku masak ke atas meja makan tempat aku menaruh keranjangku tadi dan menatap Kagaho yang baru saja kembali. Benar saja, ia langsung menghampiri Sui dan menanyakannya bermacam-macam hal dan... Oh Zeus, luka-luka di tubuhnya makin banyak saja. Aku merengut kesal dan menarik kerah bajunya.
"Oi!" Protesnya. Aku tidak memperdulikannya dan dengan tidak elitnya, aku mendorongnya ke kursi untuk duduk.
"Kau tahu, kau akan membuatku kehabisan perban kalau begini terus." Kataku sambil cepat-cepat mengeluarkan perban dan mengumpat saat melihat perbanku hanya tinggal satu gulungan saja.
"Aku tidak pernah memintamu menghabiskan perbanmu." Katanya dengan nada tidak pedulian.
Dasar sialan.
"Ya, ya, terserah kau," Aku pergi ke kamar mandi untuk mengambil air dan handuk lalu datang kembali dan meletakkan ember kayu berisi air itu dengan kasar agar ia tahu betapa tidak sukanya aku dengan sikapnya itu dan dengan tidak berperasaan aku menempelkan handuk basah ke luka memar di pipinya dengan keras. Reaksinya tidak seperti yang kuharapkan tentu saja, aku berharap dia berteriak kesakitan atau semacamnya tapi ia hanya meringis pelan. Kesal karena tidak mendapatkan reaksi yang kuinginkan akhirnya aku menyerah dan kali ini membersihkan lukanya dengan pelan. Aku tahu cara memberikan pertolongan pertama walaupun tak pernah belajar pada para tabib yang sudah ahli, hanya bermodalkan melihat para tabib bekerja dari kejauhan tapi setidaknya itu sudah cukup.
"...Kau tidak bisa bersikap lebih lembut sedikit? Tidak akan ada pria yang mau menikah denganmu kalau kau seperti ini terus." Kata Kagaho. Heh, ternyata yang tadi itu memang sakit yah.
"Berisik. Kau tidak berhak mengataiku seperti itu, kau sendiri kerjanya berkelahi terus setiap hari dan berlumuran darah, aku tidak terkejut kalau tidak ada perempuan yang bakal menatapmu." Kataku ketus.
"Huh, aku tidak butuh perempuan." Ia mendengus.
"Katakan itu sekali lagi setelah kau cukup pandai untuk memasak sendiri."
Perdebatan kecil kami terhenti saat Sui tertawa. "Kalian akrab sekali." Katanya.
"Akrab apanya?" Balasku dan Kagaho dengan nada datar.
Sui kembali tertawa lalu mendekatiku dan Kagaho lalu menarik kursi dan duduk di sebelahku. "Aku mau mengobati kakak." Katanya.
Kagaho hendak menolak tapi aku tidak membiarkannya.
"Boleh. Ini," kuberikan handuk basah itu padanya, ia menerimanya dengan senang hati. "Kau basuh luka-lukanya dan aku akan mengobatinya dan membalut lukanya." Kataku. Sui mengangguk semangat dan mulai bekerja. Kagaho memelototiku dan aku menjulurkan lidah.
"Dia hanya mengobatimu Kagaho. Itu tak akan membunuhnya."
Kagaho memutar bola matanya dan mendecak kesal. Sui nampak santai-santai saja membasuh luka kakaknya, tampaknya ia senang karena bisa berguna bagi kakaknya. Aku merogoh keranjang yang kubawa dan mengambil sebotol alkohol dari keranjang. Kagaho menyipitkan mata.
"Dari mana kau mendapatkan itu?"
Aku terdiam, tidak memberikan jawaban. Alkohol adalah salah satu barang paling mahal di desaku, biasanya yang bisa membelinya adalah para tabib dan orang-orang kaya – entah untuk bahan obat atau untuk di minum – dan aku mengerti kenapa Kagaho bertanya, aku bukan orang yang bisa di bilang kaya.
"Bukan urusanmu." Kataku lalu mengambil kapas dan menuangkan alkohol itu lalu menempelkannya pada luka Kagaho.
"Kau tidak mencurinya kan?" Tanyanya curiga.
Aku menatapnya. "Bullseye." Kataku dengan nada tidak peduli. Kagaho menatapku lekat-lekat.
"Kalau ketahuan kau bisa di bunuh, kau tahu?"
...Tunggu, apakah dia baru saja khawatir padaku?
"Oh, aku tahu. Tapi selama tidak ketahuan aku akan baik-baik saja."
Bukan jawaban yang cukup meyakinkan. Orang-orang di tempat ini sangat tidak menyukai pencuri. Pencuri bisa saja di hukum mati, atau lebih buruk lagi di tangkap dan dijadikan budak untuk selamanya. Dijadikan budak dalam arti, lidahmu bakal di potong agar kau tak bisa membangkang tuanmu dan di siksa seumur hidup.
"Kau mengatakannya dengan sangat gampang." Kata Kagaho kesal. Kami terdiam untuk beberapa saat dan aku mulai membalut luka-lukanya.
"Aku tidak mau kau terluka, kau tahu kan?"
Wajahku terasa panas dan aku tahu rona merah telah mewarnai pipiku hingga telingaku. Aku senang ia mengkhawatirkanku tapi terkadang aku merasa terganggu dengan perasaan aneh yang selalu muncul tiap kali ia menunjukkan rasa perduli padaku. Mungkin sekarang sudah bisa dikonfirmasi bahwa aku menyukainya, namun Kagaho tidak perlu tahu itu. Aku ragu dia merasakan hal yang sama sepertiku lagipula aku tidak mau perasaanku ini merusak hubungan yang sudah kupunyai bersama Kagaho. Kami berteman dan itulah yang terbaik.
"Aku akan baik-baik saja Kagaho."
Setelah itu, kami tak berbicara lagi dan aku tahu itu berarti Kagaho masih meragukan kata-kataku. Aku juga tidak berinisiatif untuk memulai duluan aku yakin dia tidak akan berbicara banyak lagipula setelah makan aku akan langsung angkat kaki dari rumah ini. Sui bergerak-gerak tidak nyaman di tempatnya duduk setelah membersihkan luka Kagaho dan aku tahu bocah itu tidak menyukai atmosfer dingin yang berkeliaran di antara kami. Aku tersenyum padanya, meyakinkan bahwa tidak ada apa-apa di antara kami tapi aku tahu itu tidak cukup untuk meyakinkannya. Setetlah mengobati luka Kagaho, kuletakkan sup panas yang sudah kubuat di atas meja untuk mereka makan. Sui menawarkan agar aku ikut makan bersama mereka namun aku menolak karena aku tidak mau merepotkan, lagipula aku hanya membuat porsi untuk dua orang. Setelah berpamitan aku menutup pintu rumah dan bergegas pulang ke rumahku.
Rumahku bukanlah rumah yang bisa dianggap besar. Hanya rumah kayu kecil dengan dua buah kamar, satu dapur dan satu kamar mandi dan halaman belakang tempat aku mencuci cucianku (yang omong-omong masih menumpuk). Kamar orang tuaku tak terpakai lagi sejak bibiku meninggalkanku saat ia melihat aku sudah cukup besar untuk diterlantarkan. Aku tidak mengetahui orang tuaku, sejak kecil aku diurus oleh bibiku yang sama sekali tidak punya niat untuk mengurus keponakannya yang tidak berguna. Ia memukulku kalau aku tidak bekerja sesuai perintahnya atau kalau aku terlalu lama dalam melakukan pekerjaan. Ia juga tidak pernah memberiku makan atau bahkan tidak pernah perduli entah aku sudah makan atau belum. Jika tak pernah mengenal Kagaho dan Sui, aku yakin aku sudah berada di atas tebing dan terjun untuk bunuh diri.
Bau obat-obatan yang menyengat menusuk hidungku saat aku melangkah ke kamar orang tuaku yang kini menjadi tempat penyimpanan obat. Kudengar orang tuaku dulu bekerja sebagai tabib mungkin karena itulah ada begitu banyak obat-obatan di kamar mereka dan semuanya obat-obatan yang dibuat dari tanaman-tanaman hutan yang berada di belakang desa ini. Aku belajar meramu obat dari beberapa buku yang mereka tinggalkan, tapi walaupun aku menjual beberapa obat-obatan itu tetap saja penghasilannya tidak cukup untuk mengenyangkan perutku. Untungnya aku tidak punya hewan peliharaan. Hal terakhir yang kubutuhkan adalah satu perut lagi untuk diisi. Aku meletakkan keranjang obat-obatan yang kubawa tadi ke meha yang penuh dengan botol-botol dengan cairan magis penyembuh orang dan mengeluarkan beberapa botol obat yang tidak laku dari dalam tasku dan meletakkannya di rak samping meja. Kuhempaskan tubuhku ke tempat tidur besar milik orang tuaku dan memandang langit-langit. Kalau dipikir-pikir, perasaan yang kumiliki terhadap Kagaho ini membuatku menghindarinya. Biasanya aku tidak akan keberatan untuk makan bersama mereka. Aku orang yang cukup tidak tahu malu dan sejujurnya? Aku bahkan tidak kenal kata merepotkan dan biasanya kuhabiskan waktuku bersama mereka seharian penuh. Tapi sejak sadar bahwa aku menyimpan perasaan pada Kagaho, aku mulai jarang menghabiskan banyak waktu bersama mereka. Aku datang hanya sekedar memasakkan makanan buat mereka, mengobati Kagaho dan Sui lalu pulang. Setelah itu kembali lagi saat malam hanya untuk masak. Aku yakin mereka berdua menyadari tingkah anehku hanya saja merek atidak mau bertanya atau mengurusi urusan pribadiku. Dan aku berterima kasih untuk itu.
Aku bangkit dan berjalan ke arah jendela lalu membukanya. Rumahku bersebelahan dengan jalan masuk menuju pasar, jadi suasananya agak ramai. Orang-orang berlalu-lalang membawa keranjang berisi bahan makanan. Suara tawa dan hiruk pikuk dapat terdengar jelas dan aku sedikit menyesali keputusanku untuk membuka jendela.
Karena suara hiruk pikuk di luar sana membuatku menyadari betapa kesepiannya aku.
Kagaho
"Setelah kupikir-pikir, ini adalah ide bodoh." Aku berjalan menuju rumah Xena dalam kegelapan malam layaknya pencuri. Demi Tuhan aku bukan pencuri dan aku bukan pemuda kurang kerjaan yang mendatangi rumah teman semasa kecilnya hanya untuk mencaru alasan untuk memulai adegan romantis. Aku bukan penggemar literatur-literatur klise bodoh yang melebih-lebihkan romansa dengan adegan yang tidak istimewa sama sekali. Aku sudah mengenal Xena sejak kami masih mengenakan popok. Dia gadis yang menyenangkan dan tidak begitu banyak bicara (dan aku bersyukur atas itu) kedua orang tuanya meninggal karena wabah penyakit dan sejak itulah kami mulai akrab. Dia selalu datang ke rumahku dan memasak untukku dan aku bersyukur atas itu sebab aku sama sekali tidak bisa memasak. Hal terakhir yang kuperlukan adalah meledaknya bahan makanan yang hanya bisa kubeli dengan uang seadanya. Selain itu dia juga selalu menyempatkan diri untuk merawat adik kecilku Sui, satu hal yang membuatku bersyukur ia adalah temanku. Biasanya ia selalu tinggal di rumahku dan mengacau di sana seharian penuh hingga malam hari namun akhir-akhir ini dia datang hanya untuk merawat lukaku (jangan tanya darimana aku mendapatkannya), merawat Sui, masak, kemudian langsung pulang. Aku berpikir untuk membiarkannya untuk beberapa hari dan menunggunya menceritakan masalahnya sendiri. Aku bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain karena sendiri lebih baik dan nyaman. Namun sampai sekarang dia tidak pernah menceritakan masalahnya padaku, padahal biasanya akulah orang pertama yang akan ia datangi sebagai tempat curhat.
Percaya atau tidak, situasi ini membuatku tidak nyaman.
Tapi ini benar-benar ide yang bodoh. Untuk apa aku mendatangi rumah gadis itu pada malam hari seperti ini? Bulan dan bintang tengah mengudara dan jalanan sudah sepi, menandakan pasar sudah tutup sejak tadi. Aku punya alasan tersendiri untuk ini memang, tapi ini konyol. Aku berdiri di depan rumah Xena dan tanpa tahu malu dan peduli aku mengetuk pintu rumahnya. Awalnya tak terdengar apa-apa dari dalam sana dan aku hendak mengetuk lagi hingga aku mendengar suara hentakan kaki yang terdengar seperti hentakan orang yang sedang marah. Aku menyeringai dan menunggu gadis itu membuka pintu dan meneriakiku.
"Ya?" Xena membuka pintu. Rambut hitamnya berantakan, pertanda dia sudah tidur cukup lama (hingga aku membangunkannya) dan matanya masih setengah terbuka tapi matanya menunjukkan kilau iritasi, pertanda ia tidak senang padaku yang membangunkannya tanpa tahu malu dan kilau itu berubah menjadi amarah saat mengetahui akulah yang mengganggu tidur malamnya.
"Kagaho! Demi Zeus dan petirnya kenapa kau datang malam-malam begini!?" Bentaknya. Aku tak mengindahkannya yang membentakku seakan aku baru saja melakukan tindakan kriminal tak termaafkan, aku memunggunginya.
"Cepat ganti bajumu dan ikut aku. Akan kutunggu kau di sana." Kataku, menunjuk pada bangku kosong di seberang rumahnya.
"Ikut—Kita mau kemana ini sudah—Hei!" Aku tak mengindahkan protesnya, secara tersirat menyatakan bahwa aku tidak menerima kata "tidak" sebagai jawaban. Kulirik gadis itu. Ia mendesah pertanda kesal dan masuk kembali ke dalam rumah. Ia keluar dengan mengenakan baju putih dengan korset ketat (demi Tuhan kenapa para wanita hobi sekali memakai barang satu itu?) berwarna cokelat dengan bawahan berwarna merah marun dibalik jaket hijau yang kebesaran dengan sepatu cokelat yang sudah tua dan using. Ia tampak… manis. Aku buru-buru mengenyahkan pemikiran itu, apa yang kupikirkan!? Sekali lagi aku bukan korban literatur-literatur bodoh yang sering beredar di tangan para gadis menjijikkan. Wajahnya masih tampak kusam karena kubangunkan dan raut wajahnya menandakan ia betul-betul tidak senang dengan perbuatanku.
"Kau tahu, orang normal biasanya tidak membangunkan orang lain, terlebih seorang gadis, pada tengah malam seperti ini." Katanya sambil memeluk badannya walaupun sudah pakai jaket yang besar dan tebal. Aku memutar bola mataku dan menggandeng tangannya. Aku bisa merasakannya tersentak dengan perlakuanku.
"Apa? Kau bersikap seolah-olah aku tidak pernah menggandeng tanganmu."
Wajah gadis itu memerah dan aku terkekeh. Tidak biasanya gadis itu tersipu seperti ini. Aku selalu berpikir ia setengah cowok karena wataknya yang luar biasa itu. Cewek dengan watak cowok tapi punya tangan penyembuh yang hebat. Aku mengajaknya ke hutan, ke bukit yang selalu aku datangi bersamanya sejak kecil, tapi sejak Sui mengidap penyakit misterius yang membuatnya tidak bisa terkena matahari kami sudah tidak pernah ke tempat ini lagi. Bukit itu cukup tinggi sehingga kami bisa melihat pemandangan seluruh desa dari situ.
"Sudah lama rasanya tidak kesini." Xena langsung duduk begitu ia tiba di bukit itu. Aku duduk di sebelahnya sambil mencabuti rumput yang ada di bawah kakiku. Kami hanya duduk diam disitu, tak satupun berbicara, lagipula aku tidak berniat untuk menanyainya Xena 'kan bukan penjahat yang harus kuinterogasi jadi aku hanya menunggu. Menunggunya untuk berbicara.
"Menurutmu ada semacam pesta di sana?"
Aku mendongak dan melihatnya menatapi rumah mewah yang berada di pusat kota dengan pemandangan lampu yang menyala kerlap-kerlip bagaikan bintang itu. Aku mendengus. Jauh-jauh kubawa dia kesini dan itu yang ia perhatikan?
"Entahlah. Lagipula apa peduliku?"
Gadis itu merengut tidak senang. "Aku hanya berusaha membuka pembicaraan. Lagian, kenapa juga kau mengajakku ke bukit tengah malam begini?"
"Kau sadar kau akhir-akhir ini kelakuanmu aneh bukan?"
Gadis itu mengalihkan wajah dan aku yakin ia ingin mengalihkan topic pembicaraan ini.
"Aku tidak mau membahasnya."
Ho, jadi dia mengaku toh. Aku mengangkat bahu, memberitahunya bahwa itu tak masalah. Xena kembali mengarahkan pandangannya kea rah rumah besar tadi dengan penuh angan.
"Kau tahu, kadang aku berpikir ingin pergi kesana. Sekedar mengikuti acara dansanya saja."
Seketika, tawaku pecah. Tidak pernah seumur hidup aku berpikir Xena akan memikirkan sesuatu yang begitu… Begitu perempuan. Selama ini wataknya yang luar biasa itu membuatku berpikir dia sama sekali tidak pernah berpikir untuk melakukan sesuatu yang… "keperempuanan" tapi disinilah dia. Menatap sebuah rumah besar dan berharap bisa mengikuti sebuah pesta dansa seperti di cerita dongeng.
"Ternyata kau memang perempuan."
Xena mendelik marah padaku. "Apa maksudmu alien bermulut tajam!?"
"Maksudku, cewek setengah cowok, adalah bahwa aku selama ini tidak pernah berpikir bahwa kau sering berangan-angan tentang sesuatu yang… keperempuanan seperti barusan. Lagipula aku ragu kau bisa berdansa. Aku kasihan dengan partner dansamu, kau pasti akan terus-terusan menginjak kakinya."
"Enak saja!" Tukasnya kesal. Ia berdiri dengan gusar lalu menarik tanganku dan aku menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Akan kutunjukkan bahwa aku bisa berdansa."
Aku menatapnya. "Tidak terima kasih, aku masih menyayangi kakiku."
Tapi aku tahu kata-kataku barusan hanyalah hembusan angin di telinganya. Ia menarikku (darimana perempuan kurus ini mendapatkan tenaga yang begitu besar?) dan mau tidak mau aku mengikuti permainannya. Aku sontak kaget saat ia mendekatiku dan meletakkan tangannya di bahuku. Refleks, aku mendorong gadis itu dan menyergah, "K-Kau terlalu dekat oi!"
Xena menggembungkan pipinya. "Aku hanya mengatur posisi berdansa saja kok! Di sini hanya ada kau dan aku, jadi mau tidak mau kau harus menjadi partner dansaku!"
Mendadak aku menyesali ejekanku padanya. Tapi di sisi lain, anehnya, aku merasa sedikit senang dan terhibur. Aku menenangkan diriku. "Maksudmu… Aku ini kelinci percobaanmu?"
"Iya. Kau yang menantangku jadi kau harus tanggung jawab." Aku memutar bola mataku dan menarik gadis itu (agak terlalu keras sepertinya) kembali mendekatiku.
"OI, PERHATIKAN TENAGAMU SENDI TANGANKU NANTI PUTUS BODOOOOHHH!" Teriaknya.
"Berisik! Kau tidak mau membangunkan binatang liar di sini bukan?" Sergahku.
Gadis itu kembali menggembungkan pipi dan dengan canggun ia melingkarkan lengannya di leherku dan aku memeluk pinggangnya. Baiklah posisi ini dan situasi ini sangat jauh dari apa yang kubayangkan. Aku tidak pernah sedekat ini dengan Xena dan ini membuatku amat sangat canggung. "Oi, tidak ada music jadi sebaiknya suaramu cukup bagus untuk bernyanyi."
Xena tersipu. "Suaraku jelek."
"Ya, ya, katakan itu pada Sui dan ia akan menceramahimu." Bagi adikku, suara Xena setara dengan suara penyanyi terbaik di seluruh dunia.
"Oh diamlah." Dan ia membuka mulutnya, suaranya memenuhi gendang telingaku.
Kau mengatakan akan terus di sisiku sambil memegang tanganku erat
Dan mengatakan bahwa hari-hari sepi yang kujalani akan berakhir
Sekarang aku tahu apa itu kebahagiaan karena aku telah bertemu denganmu
Kini aku hanya ingin hidup dengan orang yang berarti bagiku
Kuingin percaya inilah jalan yang kupilih tak perduli seberapa beratnya
Dan hanya ingin melewatinya bersama orang yang kucintai….
Suaranya memang menenangkan dan mungkin satu-satunya suara nyanyian yang bisa menyentuh hatiku (baik, lupakan aku pernah mengatakan itu). Jarak antara kami semakin dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi rambutnya yang seperti melati. Rambut hitam itu menggelitik leherku saat ia bergerak berirama dengan tempo nyanyiannya. Harus kuakui dia adalah penari yang cukup baik untuk seorang gadis tomboy. Aku berniat menuntunnya karena ia bergerak dengan canggung Dan… saat itulah aku menyadari bahwa kulit Xena cukup mulus dan terawat walaupun kerjaannya setiap hari adalah pergi ke hutan dan memunguti tanaman obat di bawah terik matahari. Kulitnya cukup putih untuk orang yang sering beraktivitas di luar dan pinggangnya… Jauh lebih kecil dari dugaanku, maksudku porsi makan Xena selama ini tidaklah sedikit. Aku merasakan tangan besarku memeluknya dengan canggung.
Oh crap. Aku menenggak ludah. Ini mengingatkanku akan adegan-adegan klise norak dari buku-buku dongeng murahan dan karya tulis literatur-literatur opera yang menjijikkan. Aku selalu mencibir setiap kali (entah bagaimana) membaca satupun dari barang itu. Penulisnya selalu melebih-lebihkan adegan yang sama sekali tidak istimewa untuk menarik perhatian para pembaca. Namun kini aku menyadari … Dilihat manapun posisi kami… Aku tetap merangkul Xena yang masih asyik menyanyikan lagu sambil bergerak perlahan, seirama dengan tempo nyanyiannya. Dari posisi sedekat ini aku bisa melihat jelas rambut hitam Xena yang benar-benar hitam seperti warna arang. Bulu matanya yang lentik. Juga matanya yang berwarna emas bagaikan emas berkualitas tinggi. Juga hidungnya yang mungil dan mancung. Juga wangi tanaman obat dan harum roti (perpaduan yang aneh aku tahu) yang menguar dari tubuh gadis yang kerap berlarian di sekeliling hutan untuk memetik tanaman obat. Dan… dan…
"Kagaho? Halooo~?"
Tenanglah Kagaho, yang kau pikirkan hanyalah taktik murahan para penulis tidak laku untuk menarik perhatian pembaca! Mana mungkin hal seperti itu bisa menimbulkan efek yang sama di dunia nyata—
Ketika sudah kudapatkan ketenanganku kembali, barulah aku sadar sesuatu yang lembut tengah menyentuh bibirku.
….
YANG BENAR SAJA! ADEGAN KLISE MURAHAN (YANG ADA DI KARYA-KARYA LITERATUR SIALAN ITU) TERJADI PADAKU!
Sontak aku mendorong Xena menjauh dan suasan tenang di sekitar kami kini malah menjadi agak riuh. Aku memandangnya dengan tatapan menyalahkan.
"K-kau! Apa yang kau lakukan hah!?"
Xena tampak tidak senang dengan tatapan dan nada suaraku. Ia berkacak pinggang dan balas meneriakiku dengan suara yang tidak kalah melengking.
"Aku hanya heran karena tiba-tiba kau mematung! Jadi aku mendongak untuk memastikan bahwa nyawamu masih di tempat!"
Ya, dan itu menyebabkan tirusmu menyentuh bibirku! Bibirku gatal ingin mengeluarkan kalimat itu tapi aku menahannya. Aku cepat-cepat mengalihkan topik. "Pokoknya! Kau sudah selesai menjadikanku kelinci percobaan bukan!? Ayo pulang!"
Aku tak menunggu Xena menjawab dan berjalan mendahuluinya. Aku bisa mendengarnya menggerutu di belakang.
"Memang siapa sih yang pertama kali mengajakku ke sini?"
Aku mendengus. Tampaknya aku tidak akan pernah bisa menghilangkan bayangan tadi dari benakku. Rambut sehitam arang. Mata emas seperti emas murni. Dan… aku menutup wajahku, dengan keras mencoba menjauhkan bayangan saat bibirku menyentuh kening gadis itu. Demi Tuhan aku sama sekali tidak berpikir akan mengalami… mengalami kejadian seperti itu!
Tapi aku memutuskan itu adalah salah satu hal terbaik yang terjadi malam ini.
A Small Epilogue
Xena
Sejak dibangunkan Kagaho, orang yang mengetuk pintuku tengah malam bukan hal yang aneh, karena itu aku buru-buru bangun dan bergegas membukakan pintu.
Saat itu, aku tidak menyadari bahwa itu kesalahan terbesarku.
Juga fakta bahwa orang dibalik pintu ini adalah orang yang akan memutar balikkan hidupku yang tenang ini.
Juga mungkin orang yang akan menyebabkan Kagaho membenciku.
Tapi, itu adalah cerita setelah aku membuka pintu ini.
Kesalahan pertamaku.
The end
Pojok Author: Okay, nggak ada review (pundung) jadi kita langsung aja ke bagian rant-nya yah. Sejujurnya author tidak tahu seperti apa Kagaho sebelum menjadi specter, jadi ini hanya semacam terkaan dengan menggunakan beberapa karakter lain dengan sikap lone wolf sebagai inspirasi. Lalu, karena secara teknis Kagaho hanya dekat dengan Sui (later Alone as well) author juga nggak tahu musti buat adegan cinta yang gimana, hence seperti yang kalian lihat ini. Adegan dansanya terinspirasi dari satu fanfic Harvest Moon berjudul a guitar and two lies karya author tara aozoran XD sekian dulu rant dari saya, semoga pembaca suka XD dan maaf atas typo dan segala macam kesalahan yang ada ~
