Fourth Chapter
夏
Summer
恋に落ちて
Disclaimer: Saya tidak punya hak atas Saint Seiya dan semua karakternya (walau jujur karakter Saint Seiya yang muncul di chap kali ini cuman nyempil doang atau tidak muncul sama sekali) saya hanya punya Ocs saya. Elden Searlus belongs to Shimmer Caca,
Fana Agata
Aku benci berhutang budi.
Kata-kata yang buruk untuk mengawali cerita, serius, tapi ini kukatakan agar kalian ingat dan sadar untuk cepat-cepat melunasi hutang budi itu jika kalian memang punya dan merasa berhutang budi pada seseorang. Dalam kasusku aku berhutang budi pada mahluk – oke ini cukup kasar—yang paling ingin kujauhi seumur hidupku. Mahkluk yang disebut cowok.
Kalau mau jujur, awal semua ini terkesan sangat keren seperti cerita-cerita dalam buku dongeng saat seorang penyihir di selamatkan pangeran berkuda putih – kalau memang ada cerita begitu – tapi bedanya tidak ada akhir happily ever after di kisah ini karena sang penyihir tidak menaruh rasa apapun pada sang pangeran.
Oke, aku tahu si penyihir terkesan sombong sekali tapi itulah kenyataannya. Aku, Fana Agata sang putri Hephaestus memainkan peran sebagai penyihir yang berhutang budi pada Elden Searlus sang pangeran berkuda putih. Tolong jangan menilaiku buruk dulu, Elden sangat baik padaku dan sebenarnya tidak ada alasan bagiku untuk membencinya, sungguh, malahan sebenarnya kalau aku tidak membenci mahkluk bernama cowok tidak akan ada yang heran jika aku jatuh cinta padanya, maksudku siapa yang tidak akan jatuh cinta pada pria yang – menurut gadis-gadis di markas ini – terkenal tampan?
Kecuali aku tentu saja.
Pokoknya, Elden pernah menyelamatkanku dari maut dulu dan aku berhutang nyawa padanya. Hutang yang sepertinya tidak akan pernah lunas hanya dengan membersihkan kamarnya layaknya pembantu pribadi. Elden tidak pernah menyuruhku membersihkan kamarnya tentu saja, sebenarnya kamarnya tidak pernah kotor sama sekali karena dia tergolong pria yang rapih. Namun, susah rasanya kalau tidak melakukan apa-apa. Rasanya seperti menambahi hutang budi yang sekarang sudah kian bertumpuk. Elden selalu bersikap baik padaku mungkin karena dia meamang gentleman dan aku rasa dia bersikap seperti itu pada semua gadis jadi aku tidak ada spesial-spesialnya.
Untungnya, Elden bukan pria yang bisa mengutak-atik perkakas sepertiku. Aku mungkin seorang perempuan tapi aku bukan anak Aphrodite yang akan merasa jijik jika dihadapkan dengan perapian dan palu juga oli yang hanya akan membuat wajah cantikmu hitam seperti wajah setan. Aku tidak pernah berkeberatan berhadapan dengan semua itu, malahan memperbaiki perkakas adalah salah satu hal yang bisa melegakanku. Kapanpun ada waktu kosong aku pasti akan memperbaiki perkakas rusak apapun di kamar Elden, itupun termasuk pedangnya yang tengah ku utak-atik saat ini.
Ini adalah salah satu caraku membalas budiku padanya, walaupun terhitung sangat kecil dan tidak bakal bisa membayar hutang nyawaku padanya, tapi setidaknya sedikit-sedikit akan jadi banyak bukan? Lagipula aku tidak mau berlama-lama berhutang budi pada seseorang jadi lebih baik aku langsung saja menyelesaikan semuanya sekarang juga.
Aku jujur cukup kesal karena dia membiarkan pedang yang dulunya tajam ini jadi tumpul begini dengan kerusakan-kerusakan yang cukup parah. Aku tahu dia sering keluar menjalankan misi dan sebagainya tapi setidaknya dia harusnya lebih memperhatikan senjatanya. Senjata tumpul begini tidak akan banyak membantunya di medan perang nanti. Tunggu, sejak kapan aku berhatian begini padanya? Terutama karena dia pria. Aku memang tidak suka pada pria dan percayalah aku bukan pendukung LGBT atau sejenisnya, aku begini karena pernah dulu sekali...
Aku langsung menjerit kaget saat sepasang tangan kekar memelukku dari belakang. Tentu saja aku langsung tahu sepasang lengan itu adalah lengan cowok. Gila! Dari mana kedua tangan keparat ini muncul dan tahu-tahu memelukku?! Spontan, aku mengambil barang terdekat yang bisa kugunakan untuk menjauhkan tangan yang bagaikan virus itu. Tanganku meraih sekotak paku payung dan melemparkannya ke arah pria tidak tahu malu tersebut.
"Uwaaa!"
Elden menangkap paku-paku payung tersebut dengan raut wajah kaget. Matilah aku. Apa aku baru saja mencoba membunuh orang yang sudah menyelamatkan nyawaku?! Demi Hephaestus dan wajah bulunya! Kalau dipikir-pikir lagi, harusnya aku tahu Elden-lah yang akan memelukku, yang bisa memasuki kamar ini paling cuma Elden – jelas karena ini kamarnya – atau aku – yang dengan kurang ajarnya masuk saja hanya untuk memperbaiki perkakas – tapi kan bukan berarti aku harus menyukai perbuatannya yang mengagetkanku itu.
"Elden!" Pekikku walau sebenarnya aku tak bermaksud membentaknya, tapi aku kan kaget. "Jangan mengagetkanku saat aku sedang kerja!"
Yah... Aku memang tidak suka dikagetkan saat kerja karena, pertama, aku tidak suka konsentrasiku teganggu dan kedua, aku tidak mau melukai korban malang yang akan kulempari apapun yang sedang kupegang. Untung aku sedang tidak memegang palu atau gergaji kalau aku melemparkan benda-benda itu apda Elden maka habislah dia.
Bukannya marah atas kekurang ajaraanku, dia malah terkekeh. "Aduh kau ini, padahal niatnya aku ingin bersikap manis padamu." Ia mengangkat tangannya dan mengusap pipinya yang tergores karena ulahku. Oh Dewa, ternyata aku melukainya. Aku merasa bodoh, bertambah sudah hutangku padanya. Tanpa pikir panjang aku mendekatinya dan menyentuh pipinya. Cahaya hijau keluar dari telapak tanganku dan luka goresannya sembuh dalam sekejap. Tentu saja kekuatan tidak menguntungkan ini langsung membuat dadaku sesak dan tanpa sadar keringat dingin telah menetes dari pelipisku.
"Fana... Tolong jangan buang-buang energimu untuk sesuatu yang kecil seperti ini..." Ia merentangkan tangannya dan mengusap keringatku. Aku tersipu dan mengutuk diriku yang seperti ini. Kenapa aku mudah sekali tersipu dan terpedaya dengan omongan manis beracun para pria? Bukankah hal ini pula yang membuatku tertipu saat itu? Dan aku tidak mau tertipu lagi tapi aku tak bisa bohong bahwa aku senang ia mengkhawatirkanku.
"A-Aku... tidak suka melihat orang terluka." Jawabku jujur. Itu benar, tidak dikurang-kurangkan dan tidak dilebih-lebihkan. Aku berusaha menenangkan diriku yang sudah hampir kehabisan napas karena kontak sedekat ini dengan laki-laki. Kenapa dia tidak juga sadar bahwa jarak sedekat ini sangat menyesakkanku?
Elden menyeringai dan aku makin takut saja dibuatnya. Demi Dewa, apa maunya sekarang? Elden sepertinya tidak sadar akan rasa takutku jadi dia mulai bicara, "Aku akan terluka jika kau menolak ajakan kencanku kali ini. Jadi, ayo kita kencan."
Demi gullotine dan Iron Maiden yang menakutkan! Untuk apa dia mendekatkan wajahnya seperti itu?! Lebih parah lagi, apa dia tidak sadar tanganku gemetaran karena jarak yang terlalu dekat ini? Aku merasakan wajahku memanas... Sial, lagi-agi aku tersipu. Sebenarnya ia sudah pernah mengajakku kencan seperti ini tapi aku selalu menolak lantaran aku takut padanya, pada semua pria lebih tepatnya dan aku tidak mau ia menilaiku buruk. Jangan tanya kenapa karena aku sendiri juga tidak tau. Aku bisa saja menolaknya lagi. Aku yakin dia tidak akan merasa terluka sama sekali jika kutolak ajakannya. Aku yakin dia sering mengajak kencan gadis lain dan mereka tidak pernah menolak dan alasannya mendekatiku hanyalah karena aku tidak seperti gadis-gadis itu, intinya dia mendekatiku karena aku merupakan sebuah tantangan baginya. Oke, sekarang aku terdengar sombong. Tapi di sisi lain, aku juga tidak mau menambah hutangku yang sudah begitu menumpuk ini. Kalau kutolak ajakannya kesannya aku seperti gadis kurang ajar bukan? Dan itu sama sekali tidak membatu usahaku untuk melunasi hutangku... Lagipula...
"Kau mau?" Tanya Elden lagi, dan Oh Zeus!
DEG
Aduh, jantungku terasa mau copot karena ia semakin mendekatkan wajahnya. Gila, apa dia ingin menciumku? Ah tapi tidak mungkin. Aku sedang dikuasai rasa takut karena itulah jantungku berdebar-debar dan pikiranku ngelantur kemana-mana. Rasanya kali ini dia tidak mau menerima kata tidak. Akhirnya, dengan wajah semerah kepiting rebus, aku mengiyakan. Lagipula, ini juga jadi kesempatan bagiku untuk menanyakan sesuatu yang sudah ingin kutanyakan dari dulu.
"B-Baiklah..." Terkutuklah aku dan kegagapanku. Elden terlihat senang karena aku mengiyakan ajakannya.
"Baiklah, apa ada tempat yang ingin kau kunjungi?" Tanyanya.
Aku menatapnya heran. Dia membiarkanku memilih tempat kencan? Itu manis sekali... Mungkin dia memang tidak seperi pria lain... Tidak, tidak. Sekali lagi, orang selalu bisa menipu dengan kata-kata manis tapi punya maksud seperti racun ular berbisa dan aku tidak mau ditipu atau dibohongi lagi. Sudah cukup satu kali aku dibohongi pria kalau aku dibohongi lagi bukankah itu artinya aku memang bodoh dan pantas dibohongi? Lagipula, sikap Elden dan orang itu sama. Sama-sama baik, sama-sama perhatian dan bersikap manis dan mungkin saja... Sama-sama berbisa. Aku memutuskan untuk mengenyahkan dulu pikiranku tentang Elden dan lebih baik mulai memilih tempat. Tempat yang menguntungkanku tentu saja, tempat di mana aku bisa menanyainya tanpa di ganggu siapapun dan percakapan kami tidak di dengar siapapun.
Tentu saja hanya ada satu tempat yang terlintas di benakku.
"...Ada..." Kataku pada akhirnya. "Tapi aku ragu kamu akan menyukai tempat itu." Setidaknya aku harus memberinya kesempatan berpendapat atau berubah pikiran.
Elden tersenyum dan alih-alih menjauh dari posisinya – yang omong-omong masih sangat dekat denganku – ia malah mengulurkan tangannya dan menyelipkan sebagian rambutku ke belakang telingaku. Oh Zeus... Aku... Entah kenapa... Aku masih takut tapi di saat yang sama aku... Senang dengan perlakuannya.
"Tentu saja aku akan menyukainya."
Sekarang saja dia bisa bilang begitu. Tapi lebih baik aku tutup mulut saja. Sial, lagi-lagi wajahku memerah.
"Ba-baiklah... Ayo..." sekali lagi, terkutuklah aku dan kegagapanku. Kenapa aku selalu memasang tampang exterior yang lemah seperti ini padahal dalamnya aku seorang gadis yang bertekad untuk menjauhkan diri dari mahkluk-mahkluk bernama pria?
Mendadak, Elden tersenyum. Aku agak terheran-heran dan mengikuti arah pandangannya. Demi Zeus dan istri-istrinya! Ternyata secara tidak sadar aku menggamit tangannya dalam genggamanku. Aku buru-buru melepasnya. Sial, bisa-bisanya aku menggenggam tangan pria.
"Ma-maaf..." Kataku, gugup.
"Ah, sayang sekali." Elden menatap tangannya yang baru saja kulepas dan ia terlihat... Kecewa? Yang benar saja! Apa ini artinya dia benar-benar suka padaku? Tidak, tidak mungkin. Mungkin saja ini semacam siasat agar ia bisa dekat denganku atau semacamnya bukan karena dia menyukaiku... kan? Aku merasakan wajahku kembali memanas dan cepat-cepat berjalan keluar kamar dengannya mengikutiku dari belakang.
Oh Dewa...
Jangan katakan aku mulai jatuh cinta pada Elden Searlus.
Karena itu adalah hal yang ingi kuhindari seumur hidup.
.
.
.
Setelah drama percintaan yang menghebohkan tadi – menghebohkan diriku sendiri lebih tepatnya – aku mengajak Elden ke sebuah gedung tua tak jauh dari Sekolah Demigod. Tentu saja tidak dekat-dekat amat, aku tidak mau mengekspos keberadaan sekolahku padanya karena itu sama saja dengan mengekspos rahasia bersama. Gedung itu mirip gedung Planetarium dengan atap berbentuk bulat. Temboknya terlihat kotor dan banyak coretan-coretan anak-anak tak berpendidikan terpampang di sana. Luarnya boleh saja terlihat kotor, tapi dalamnya? Percayalah ini salah satu tempat paling menkjubkan yang pernah aku lihat.
"Apakah tempat ini aman?"
Lagi-lagi sial. Kenapa ia melingkarkan tangannya ke bahuku? Dan kenapa aku bisa merasakannya bersikap protektif seolah-olah dia ingin melindungiku dari apapun yang mungkin saja keluar dari gedung itu? Sekali lagi aku mengenyahkan setitik pikiran yang beranggapan bahwa Elden orang baik. Ia memang baik... Jujur, aku yakin dia akan melepaskanku begitu saja namun tetap mengawasiku tanpa aku menawarkan untuk tinggal di tempatnya dan membalas budiku tapi aku tetap tidak mempercayainya.
Bagaimana bisa kau mempercayai seseorang yang sikapnya sangat mirip dengan orang yang mengkhianatimu dulu?
"Aman kok. Masuk saja." Kataku. Kami lalu melangkah masuk ke dalam dan seperti dugaanku, sesuatu yang menakjubkan sudah menunggu kami. Bagian interior tempat itu sama sekali beda dengan tampak luarnya. Langit-langit gedung yang berbentuk bundar itu berwarna abu-abu cerah dan butiran-butiran salju turun dari sana. Tentu saja ini hanya proyeksi, namun rasa dingin yang disebabkan salju proyeksi itu, juga tumpukan salju yang kami injak terasa sangat nyata. Pemandangan di sekitar kamipun terlihat sangat magis. Hutan penuh pohon cemara yang daunnya sudah ditumpuki salju dengan beberapa boneka salju benar-benar memberi kesan natal.
Yup, tempat ini sempurna.
Aku melirik Elden. Ia tampak terpana melihat tempat rahasiaku ini. Elden adalah orang pertama yang kuajak ke sini. Tentu saja kalau bukan karena ingin membalas budi dan karena ingin menanyainya pertanyaan penting, aku tidak akan pernah membawanya ke sini.
"Bagaimana... Bisa ada tempat ini di sini?" Tanyanya, takjub.
"Aku menemukan tempat ini beberapa bulan yang lalu." Jawabku. "Ada semacam alat proyeksi ajaib yang ditinggalkan di sini dan ternyata masih berfungsi."
Jawabanku tidak sepenuhnya bohong. Aku hanya menyembunyikan fakta bahwa akulah yang menciptakan proyektor ajaib tersebut hanya karena alasan aku ingin menikmati salju setiap hari. Alasan yang konyol, aku tahu, tapi aku sangat mencintai salju.
"Tempat ini luar biasa." Elden duduk bersila di atas gumpalan-gumpalan salju proyeksi itu dan aku ikut duduk. Satu hal yang kurahasiakan dari Elden adalah, tempat ini kedap suara. Apapun yang kita bicarakan di sini tak akan di dengar oleh siapapun di luar, singkatnya, tempat ini adalah tempat yang bagus untuk pertemuan rahasia. Sekarang, bagaimana aku akan menanyakan hal ini padanya? Aku tidak mau bersikap kurang ajar karena Elden bisa membunuhku kalau dia mau. Dia menyelamatkan nyawaku dan aku berhutang nyawa padanya dan jujur saja aku tidak keberatan kalau dia memutuskan untuk membunuhku sekarang kalau aku bersikap kurang ajar, tapi aku ingin jawaban sebelum mati. Tentu saja kalau dia bersedia memberikan jawaban padaku.
Ok, here goes nothing.
"Elden, boleh aku tanya sesuatu?"
"Tentu, apa?" Senyum itu lagi. Apa senyum kalem dan hangat itu sudah terplester abadi pada wajahnya? Kenapa dia membuatku semakin kesusahan untuk tidak mempercayainya? Apa semua pria memang seperti ini? Memutuskan untuk membuang jauh-jauh pikiranku aku mulai, dengan perlahan, menanyakan pertanyaanku.
"Kenapa saat itu kamu tidak membunuhku saja? Bukankah kehidupanmu akan lebih bebas tanpa aku yang sehari-hari hanya menyusahkanmu?" Aku sama sekali tidak menyusun kata-kata sopan dan baku untuk bertanya. Aku mengutarakan pertanyaan yang sudah lama ingin aku tanyakan itu. Elden sedikit terperangah dengan pertanyaanku namun ekspresinya berubah dan ia kembali menyunggingkan sebuah senyuman.
"Aku memberimu kesempatan, Fana. Sebuah kesempatan untuk menebus apa yang telah kau lakukan terhadap mereka. Dan kau tahu bagaimana caranya? Tetaplah bertahan hidup meski aku tidak di sampingmu lagi. Itu saja." Ia mengulurkan tangannya dan mengelus kepalaku.
... Kenapa hatiku terasa sakit saat ia mengatakan kalimat tidak di sampingmu lagi? Seolah aku takut ia akan pergi selamanya dari sisiku. Tapi untuk apa aku takut? Aku bahkan tidak mempercayainya, untuk apa aku merasa kehilangan? Aku memutuskan untuk tidak menggubris perasaan yang mengganggu ini dan melontarkan kalimat balasanku.
"Aku hanya memastikan." Kataku, tanpa sadar suaraku berubah lirih. "Karena aku tidak sudi ditipu untuk yang kesekian kalinya... Jadi kalau kamu memang ada pikiran atau niatan seperti itu lebih baik kamu buang pikiran itu jauh-jauh dan cari saja gadis yang jauh lebih bodoh dariku."
Sebenarnya aku tak bermaksud mengucapkan kalimat yang terakhir itu. Tapi entah kenapa aku ingin melontarkan semua perasaanku keluar. Situasi ini sama persis. Sama persis dengan yang waktu itu. Dan bodohnya, kenapa aku sekarang membiarkan diriku terluka lagi dengan hal yang sama?
"Kamu terlalu polos, Fana. Percayalah tidak akan pernah kutemukan gadis yang akan lebih bodoh darimu."
Membayangkan Elden mengatakan kata-kata yang sama dengan yang dikatakan orang itu membuat dadaku nyeri. Demi Poseidon dan koleksi kudanya aku bukannya ingin percaya sepenuhnya pada Elden. Walaupun tak mempercayainya sepenuhnya aku tahu Elden orang baik. Buktinya ia bersikap begitu baik padaku selama ini tapi... Setiap kebaikan yang kudapat akan selalu dibekali juga dengan racun ular berbisa. Itu selalu terjadi. Aku hanya... Ingin memastikan bahwa Elden bukan orang yang sama...
Elden tampak terluka mendengar kata-kataku, tapi ia cepat-cepat menyembunyikan ekspresi itu.
"Fana, aku tidak sedang menipumu. Aku bukan penipu," Jawabnya "...Dan kau bilang kau bodoh? Kau mungkin harus tahu aku bahkan lebih bodoh darimu... Menyukai seseorang yang bahkan tidak menyukaiku."
Astaga! Kenapa pertanyaannya seperti menyiratkan bahwa ia suka padaku? Tapi itu tidak mungkin bukan? Tidak mungkin pria seperti Elden menyukaiku yang sama sekali bukan siapa-siapa dan tidak sepadan untuknya. Namun aku tak bisa menghentikan diriku untuk bertanya.
"...Perasaanku saja atau kamu baru saja mengakui bahwa kamu menyukaiku."
Aku terlalu kegeeran. Reaksi Elden menunjukkan itu. Ia kelihatan tersinggung. Tentu saja. Pasti penghinaan besar karena aku dengan pongahnya mengatakan hal di luar akal begitu.
"Kamu pasti tersinggung." Tandasku. "Maafkan sikap pongahku kaau begitu. Aku tahu kamu tak mungkin suka padaku."
Elden kembali menatapku. "Sekarang apa kamu berharap aku menyukaimu? Aku tidak masalah jika kamu meminta begitu."
Apa-apaan kalimatnya itu? Bukankah barusan ia melempariku dengan ekspresi tersinggung?
"Aku tidak berharap. Kamu terlalu bagus buatku Elden. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik." Tidak tersirat sedikitpun kebaikan atau kesedihan dalam suaraku. Hanya ada suara dingin dan monoton. Ya, karena aku kesal. Sebenarnya apa sih mau pria ini? Apa dia hendak mempermainkanku? Kalau begini aku benar-benar berharap dia membunuhku saja di sini dan habis perkara.
"Kenapa sejak tadi kamu berbicara seolah-olah... –oh apakah kamu berpikir bahwa ini sebuah kesalahan? Sebuah dosa jika seseorang menyukaimu?"
Dan sekarang ia berpura-pura polos. Apa dia tidak sadar aku sedang menahan diri untuk berteriak dan mengatakan sebaiknya ia tak usah menolongku waktu itu? Bahwa lebih baik aku mati saja hari itu? Agar tidak merasa berhutang nyawa dan tidak merasa mengkhianati teman-temanku di Sekolah Demigod?
"Tidak, aku hanya tidak mau diperalat dua kali... Karena selama ini tidak pernah ada orang yang benar-benar suka padaku." Kataku sedingin mungkin. Elden terdiam. Aku berharap itu karena dia shock akan sikap dinginku yang tentu jauh beda dengan sikap gagapku yang biasanya. Aku sudah terlalu emosi untuk mempertahankan kegagapan dan sikap manisku.
"Lupakan saja. Itu hanya asumsi bodoh dan aku saja yang terlalu sombong. Kurasa ini artinya kamu sama saja dengan yang lain." Tandasku.
"Aku tidak percaya gadis manis yang kuselamatkan dulu ternyata seperti ini." Ucapnya sambil tertawa dan ia menatap mataku. Mata ungu anggurnya menatap mata heterochromia-ku. Oh jadi begitu? Ia kecewa karena aku tidak semanis dugaannya? Seharusnya aku sudah menduganya. Dia memang sama saja.
"Kau kecewa karena aku tidak semanis dugaanmu?" Kataku, dingin.
Elden menggeleng. "Orang-orang mengatakan kita berubah ketika melihat sisi yang sebenarnya. Sebenarnya tidak, mereka hanya kecewa karena ternyata kita tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Tapi aku bukan orang seperti itu Fana." Ia menggeser posisi duduknya, mendekat padaku dan mengucek-ngucek kertas di tangannya, seakan ia sibuk merapikan kertas di tangannya itu. "Karena aku berpikir ketika seseorang menunjukkan hal yang sebenarnya padaku, mereka tengah menaruh kepercayaan mereka terhadapku. Jadi aku tidak akan pernah menghancurkan kepercayaan itu."
Ia menatapku lekat-lekat dan memberikan senyuman yang seakan meyakinkanku.
Oh Zeus...
Aku mengutuk diriku yang dengan mudahnya mempercayai kata-kata manis tersebut yang mungkin saja akan berubah menjadi racun. Seperti segelas anggur yang ditawarkan padaku dan aku mengambilnya walau tak tahu apa memang gelas itu berisi anggur atau malah berisi racun.
Tapi, mungkin aku tak sadar tapi aku mungkin sudah mempercayai Elden sejak ia menyelamatkan nyawaku dan aku hanya menyangkal semua rasa percayaku berulang-ulang karena dikecewakan lagi.
Lalu semua kelakuanku, semua rasa penasaranku yang ingin memastikan apakah Elden memang patut dipercaya dan keputusanku untuk tinggal di markas khusus bersamanya sebenarnya sudah jelas tapi lagi-lagi aku menyangkalnya.
Terkutuklah aku. Aku jatuh cinta pada Elden Searlus.
A Small Epiogue
"Akhir-akhir ini kau susah dihubungi yah?"
Aku menatap gadis bersurai ungu panjang yang seenaknya masuk lewat jendela kamarku. Aria Ilse masih saja tampak cantik dan anggun walaupun masuk lewat jendela seperti pencuri. Terang saja, dia kan putri Aphrodite.
"Iya... Ada perlu apa?"
"Oh bukan keperluan mendesak. Omong-omong, sudah selesai drama percintaannya?"
Aku membuang muka. Jelas saja dia tahu tentang perasaanku pada Elden yang baginya adalah sebuah kesalahan besar. Aku dan Aria punya pengalaman yang sama dan Aria paling mengerti sifat parno ku... Apa dia kecewa karena aku kembali masuk ke perangkap manis yang sama?
"Aku tidak kecewa padamu." Kata Aria lembut. "Aku hanya khawatir. Pria bernama Elden itu mirip sekali dengan 'Dia' bukan? Aku hanya tidak mau kamu terluka."
Oh.
"Lagipula, kalau dia meamng memperalatmu kamu tinggal memperalatnya balik 'kan?" Usul Aria.
Memperalatnya balik...? Entah kenapa tindakan itu terasa begitu jahat di benakku. Tapi aku juga tak bisa membantah kata-kata Aria karena tidak kepikiran balasan yang tepat.
"Kenapa kau mau-mau saja mengikuti keinginan mereka? Bukankah pada akhirnya mereka akan mencurangimu?"
"Iya. Tapi aku 'kan bukan orang yang curang."
Mendadak aku tersenyum. Entah kenapa saat mengingat percakapan terakhirku dengan Sophie, kata-kata terakhir gadis esentrik itu membuatku dapat memikirkan kata-kata yang mungkin sudah membuat keputusanku permanen.
"Iya. Tapi aku bukan orang yang suka memperalat, Aria."
Aku sudah memutuskan untuk tetap pada perasaanku.
Kalau memang suatu hari nanti Elden akan mengkhianatiku... Aku harus menerima kenyataan aku memang patut dibodohi.
The End
Pojok Author:
Maaf karena gak ada chara SS... Author kesusahan buat masukin mereka. Tapi Author dah bilang kan bakal ada OcxOC, jadi yang tidak suka silahkan pencet tombol Back dan baca fic lain #Plak #jahat Yak jadi... Kolaborasi ama OC Author lain XD Author sendiri emang suka pair ini, entah kenapa teringat ama salah satu pair yang Author sukai dari sebuah novel XD wkwk terima kasih bagi yang udah mau membaca~
Pojok Review:
#black roses 00: Iya XD suka banget ama novelnya! Udah baca semua sampa tamat~
Thanks for reading
