Author tidak menarik keuntungan material apapun dalam pembuatan fic ini, hanya untuk menyalurkan ide serta kegiatan fangirling semata/? :v

Genre: Romance, drama/?, friendship/?

Rate: T for the languages

Casts: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim Jongdae, Kim Jonghoon (Oh Jongwoon), Kim Joonmyeon, Oh Sehun, Do Kyungsoo, Oh Sehun, Kim Jongin, dan masih banyak lagi deh-_-

Pair: ChanBaek (main), KaiSoo, HunHan

Warning: Gender-switch, DLDR, jangan percaya summary, garing, multi-chaptered, judul nggak nyambung, typo(s), alur kelewat cepat, bahasa tidak beraturan, alur tidak jelas, penuh teka-teki serta kode-kode gajelas, pokoknya dapat mengakibatkan komplikasi penyakit/?

Silakan tekan tombol back jika malas melanjutkan :3

.

.

.

.

Oke, selamat membaca^^

.

Flashback

"Chanyeol-ah?" Yuri, eomma Chanyeol menyapa anaknya yang baru turun dari lantai dua.

"Eomma? Kapan eomma datang?" tanya Chanyeol terkejut. Pasalnya ia jarang bertemu dengan eommanya yang seorang dokter syaraf ini.

"Tadi pagi. Eomma hanya mencari contoh berkas untuk anak baru di rumah sakit. Kau tahu? Rumah sakit appa-mu kedatangan dokter syaraf termuda, loh~" Yuri berkata riang.

"Jinjja? Lalu appa dan eomma tidak akan terlalu sibuk lagi, kan?" tanya Chanyeol sumringah. Sebagai pemilik rumah sakit sekaligus dokter spesialis jantung, appa Chanyeol (Siwon) adalah orang yang sangat sibuk. Apalagi Yuri yang merupakan satu-satunya dokter syaraf di rumah sakit tersebut.

"Tentu. Appa dan eomma akan mengambil cuti untuk satu bulan kedepan. Lagipula Yoora sudah lulus sekolah profesi, kan? Pasti mudah untuk kita berlibur." Yuri menjawab dengan wajah cerah.

"Baguslah!" Chanyeol langsung mengambil kembali jaketnya yang tergeletak di sofa.

"Chanyeollie? Kau mau kemana?" tanya Yuri sambil mengambil kunci mobil.

"Mengantar temanku pulang." Jawab Chanyeol.

"Mwo? Kau tidak membawanya masuk?" tanya Yuri heran.

"Tidak eomma," jawab Chanyeol.

"Aish, kalau begini, kau pasti membawa yeoja. Benar kan?" Yuri menebak sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Eommaaa! Jangan sangka yang tidak-tidaak!" Chanyeol berseru panik.

Yuri terkekeh. "Gwaenchanayo, Channie. Seharusnya kau kenalkan saja pada eomma. Eomma penasaran yeoja seperti apa yang bisa membuatmu rela mengantarnya pulang." Tutur Yuri lembut.

"Bu-bukannya aku suka pada temanku itu eommaaaa!" Chanyeol semakin panik.

"Chanyeol jangan seperti itu!" Yuri tertawa.

"Habis eomma menyangka yang tidak-tidak, sih!" Chanyeol mengerucutkan bibirnya. Yuri membelai kepala putra bungsunya itu.

"Chanyeollie, kau katakan padanya untuk kemari ketika aku tidak sibuk, ya. Oh iya ..., sebentar." Yuri meninggalkan Chanyeol ke lantai dua. Lalu turun dengan beberapa kantung plastik di tangannya.

"Berikan ini padanya, ya. Nah, sekarang eomma harus ke rumah sakit lagi. Paipaii~" Yuri mengambil tas serta berkas di meja, lalu pergi.

Flashback off

.

Chanyeol menembakkan bola ke arah ring dari three point area dan nyaris tidak masuk. Ia lalu mengambil bola lain dan mengulangi tembakannya. Yak, gagal!

Chanyeol mengulangi ritualnya tadi dan kembali gagal. Ia menghela napas, lalu mengambil bola lagi.

"Oi, wakil kapten! Kau pasti gagal karena memikirkan anak baru!" Seru sebuah suara cempreng/? dari belakang Chanyeol.

"Tidak. Kata siapa?" jawab dan tanya Chanyeol tanpa melihat ke belakang.

"Tidak perlu ditanyakan, Chanyeol. Itu sudah terlihat jelas di kelas~" sahut suara itu lagi.

"Tidak! Aku tidak memikirkan budak itu, Jongdae!" jawab Chanyeol tegas.

"Alaaah~ jangan bohong! Sekelas juga sudah tahu kalau kau pasti naksir dia, eoh?" Jongdae, pemilik suara itu, turun dari tribun sambil menyeringai lebar.

Chanyeol menghela napas, ia menyabarkan dirinya sendiri.

"Kau pasti memikirkan bagaimana jadinya jika dia berpasangan dengan si konyol Daehyun itu. Hahaha, kurasa dia akan merasa karyawisata lebih kocak kalau berpasangan dengan Daehyun—ADOH!"

Headshot. Chanyeol menembak bola ke arah Jongdae.

"Kau jangan meracau yang tidak-tidak! Latihan sana!" usir Chanyeol galak.

"Oi, oi, aku hanya membicarakan apa yang kuketa—WUOOOO! Hati-hati dong kalau mau shoot!" protes Jongdae yang nyaris terkena tembakan kedua.

"Diam kau! Jangan banyak bicara!" omel Chanyeol.

"Yaelah slow!" Chen terbahak.

Chanyeol mendengus. Ia kembali menjalankan ritual tps-nya.

.

Chanyeol's POV

Argh, aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku belakangan ini.

Anak baru konyol itu selalu saja menghantui pikiranku. Rasanya ada sesuatu yang membuatku harus berada di sampingnya setiap saat untuk melindunginya. Lebih dari Kyungsoo yang merupakan teman masa kecilku.

Mungkin ia rapuh?

Entahlah, aku tidak mengerti. Aku hanya mengikuti insting.

Dan yang lebih membuatku semakin tidak mengerti adalah ..., kenapa ..., aku ..., harus ..., merasa ..., risih ..., ketika ..., Daehyun ..., mendekati ..., Baekhyun.

Astaga, itu kan hak Daehyun. Aku tidak berhak apapun—eh tapi bukannya aku berharap. Tapi cara Daehyun itu loh, menjijikkan. Dia sesumbar dengan mengatakan dirinya adalah cowok paling keren di kelas. Rasanya ampas manusia pun masih lebih keren darinya. Apalagi aku, Park Chanyeol. Tentu saja akulah yang paling keren.

Eum, bukannya aku berharap diakui keren oleh Baekhyun.

Sungguh, aku tidak suka wajah bahagia Baekhyun ketika didekati Daehyun. Aku merasa terhina. Seharusnya aku sebagai atasannya jauh lebih sanggup membuatnya berwajah seperti itu. Tapi ..., dia ... Geez, dasar buaya!

Sudahlah. Lagipula dia akan menjadi pasanganku dan aku akan memiliki kesempatan lebih untuk melindungi budak yang tidak jelas itu.

End of Chanyeol's POV

.

"Apa sih? Aku kan tidak mungkin berpasangan dengan Daehyun karena aku akan berpasangan dengan Kyungsoo!"

"Kyungsoo sudah kubooking untuk berpasangan dengan seseorang. Lagipula salah orang itu yang sudah mengganggu Kyungsoo. Kusuruh saja dia menjaganya."

"Geez, pikiranmu memang tidak jelas, tiang sial!"

"Aku tidak mau tahu. Kau harus berpasangan denganku nanti, dan aku tidak menerima penolakan."

"Why? Why me?"

"Karena kau ist—maksudku Daehyun itu konyol! Kau tidak akan aman jika bersamanya!"

"Terserahlah, aku capek!"

.

Baekhyun berbaring di kamarnya sambil mengingat kejadian tadi pagi. Ya, kejadian ketika Chanyeol memaksanya untuk berpasangan selama karyawisata.

Sebenarnya dari lubuk hati Baekhyun yang terdalam, Baekhyun pun ingin berpasangan dengan Chanyeol. Tapi dia lebih ingin berpasangan dengan Kyungsoo. Jika Chanyeol berkata bahwa Kyungsoo sudah dibooking, apa boleh buat.

Namun Baekhyun teringat ketika Chanyeol berkata bahwa ia tidak akan aman jika bersama Daehyun. Ia tidak mengerti dan semakin malas berdebat. Apalagi kejadian ketika Chanyeol khawatir pada Kyungsoo tempo hari, itu sungguh membuat perasaannya tidak enak.

Baekhyun takut Chanyeol dan Kyungsoo saling menyukai, dan kehadirannya mengganggu hubungan mereka berdua.

Cklek! Pintu kamar terbuka, dan muncullah sesosok pemuda tampan dengan sparkle imajiner (yang ceritanya menandakan dia adalah cowok sempurna bkakak).

"Baekhyunnie? Kau tidak kenapa-napa, kan?" tanya pemuda itu.

Baekhyun bersiap siaga. "Kau merusak lamunanku, Yesung sialan!" omel Baekhyun galak.

"O-oi, oi, aku kan sudah bilang namaku Jongwoon, bukan Yesung!" Pemuda yang menyebut dirinya Jongwoon itu terkekeh garing. Membuat Baekhyun cemberut.

"Omong-omong, kau sudah bertemu Sehun?" tanya Jongwoon.

Baekhyun memutar bola mata. "Dia menemuiku hanya untuk menanyakan Luhan-eonnie. Yah, setidaknya bertemu. Daripada kau yang belum bertemu juga meskipun hari ini janji pertemuanmu dengan si pasien Oh itu. Padahal kan kau kakaknya, dasar sok kegantengan!" Baekhyun nyerocos dengan tajamnya.

Jongwoon berwajah datar, berpikir keras, lalu memukul tembok. "ASTAGA HARI INI!" pekiknya heboh. Ia langsung kabur dari kamar Baekhyun.

Baekhyun langsung membanting diri di kasurnya lagi. "Astaga, dasar sepupu kocak. Untung saja dia menuruti permintaanku untuk tinggal di rumah ini."

.

"Selamat sore, Tuan Bang." Chanyeol membungkuk hormat begitu ia memasuki sebuah ruangan.

"Oh, selamat sore. Anda pasti Park Chanyeol, pimpinan kelompok berandal itu." Pria paruh baya yang sedari tadi duduk di sofa langsung berdiri dan membungkukkan badannya.

"Ahah~ Jangan sebut berandal, Tuan. Kami ini pekerja freelance. Nah, sekarang apa permintaan tuan?" tanya Chanyeol.

"Sebentar, nak. Duduklah dulu. Sepertinya kau adalah putra bungsu Park Siwon, eoh? Tak kusangka dokter Park memiliki putra bungsu sepertimu."

Chanyeol terkekeh paksa. Ia sebenarnya kesal karena kata 'berandal' dan 'sepertimu'. Namun apa boleh buat, ahjussi ini adalah 'klien'-nya. Ia harus profesional.

"Anda mengenal appaku? Kuharap anda tidak membicarakan hal ini pada beliau." Ujar Chanyeol.

"Oh tentu saja tidak, daripada kita batalkan. Oke, jadi aku ingin kalian menjaga proyek pembangunan gedung baru untuk perusahaanku dari kelompok mafia yang hendak merobohkannya. Sanggup?" tanya Bang ahjussi.

Chanyeol menimang-nimang permintaan tersebut. "Oke, sepakat. Untuk bayarannya, apa anda akan membayarnya ketika pekerjaannya selesai, atau perhari?" tanya Chanyeol.

"Pekerjaan ini akan selesai dua hari lagi, ditambah tiga hari untuk finishing. Jadi akan kubayar kalian perhari." Jawab Bang ahjussi.

"Baiklah, pembayarannya akan dilakukan perhari dan melalui transfer ke rekening saya, oke? Nah, sekarang berapa yang anda sanggup?" tanya Chanyeol.

Bang ahjussi mengacungkan satu jari. Chanyeol tersenyum kecil.

"Wah, padahal saya membanderol dengan delapan. Ada enam belas orang yang akan saya kerahkan setiap harinya." Chanyeol menyayangkan tawaran sang ahjussi.

"Baiklah, bagaimana jika 24?"

"Wah, padahal kami bekerja dari jam awal proyek dikerjakan hingga akhir."

"32?"

"Taruhan kami nyawa tuan. Bagaimana jika 64?"

"Baiklah, baiklah, bagaimana jika 40?"

"Tambah dikit lagi tuan. Kami bisa saja memerlukan beberapa perangkat untuk mengusir para mafia itu."

"Bagaimana jika 48? Itu tawaran terakhirku."

"Sepakat." Chanyeol tersenyum puas.

.

Sejak negosiasi yang tidak diketahui Baekhyun tersebut, Chanyeol selalu pulang cepat dan meninggalkan kegiatan klub basketnya. Bahkan kini Chanyeol dan Baekhyun nyaris tidak pernah saling tegur karena Chanyeol selalu tergesa-gesa setiap pulang sekolah.

"Halaah~ Kau ini menanyakan hal sepele. Si tiang koplak itu memang sering begitu. Iya kan, Kyung?" tanya Jongdae pada Kyungsoo yang dijawab dengan anggukan.

"Argh, tapi sudah empat hari dia begini. Biasanya kan dia menyuruhku pulang bersamanya. Apa sih yang membuatnya buru-buru?" Baekhyun bertanya-tanya.

BLAAAR! Petir menyambar, lalu tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya.

"Astaga, aku pulang naik sepeda!" Jongdae menepuk dahinya.

BRAK! Tiba-tiba saja Chanyeol datang dan menendang meja, lalu mengambil kasar tasnya dan langsung lari keluar.

"Chanyeol!" seru Baekhyun yang refleks menggendong tasnya dan mengejar Chanyeol keluar. Bahkan membuat Joonmyeon yang hendak mengajak Kyungsoo pulang terkaget.

"Baekhyun?" tanyanya heran. Ia langsung masuk ke kelas 2-1.

"Joonmyeon hyung!" seru Jongdae begitu melihat si ketua OSIS.

"Jongdae? Kyungsoo? Kalian tinggal berdua saja?" tanya Joonmyeon.

"Iya hyung! Aku pulang naik sepeda, jadi tidak bisa pulang huweee~" Jongdae berkeluh kesah.

"Ikutlah denganku dan Kyungsoo." Ajak Joonmyeon ramah.

"Mwo?! Jinjja?!" Jongdae membulatkan matanya.

"Ne. Lagipula sepedamu pasti aman." Kata Joonmyeon dengan senyum malaikatnya.

"YEE! GOMAPTA HYUNG!" Jongdae berjingkrak bahagia.

.

"Chanyeol!" teriak Baekhyun. Ia masih mengejar Chanyeol yang sudah menerobos hujan. Tanpa ragu Baekhyun ikut menerobos hujan.

"Chanyeol!"

"DIAM KAU!" teriak Chanyeol. Baekhyun mengabaikannya dan terus mengejar Chanyeol.

"Chanyeol!" teriak Baekhyun lagi, mengeraskan suaranya. Chanyeol menghentikan langkahnya.

"JANGAN MENGIKUTIKU!" teriak Chanyeol.

"CHANYEOL! KAU MAU KEMANA?!" Baekhyun balas berteriak. Hujan yang deras membuat suaranya tidak terlalu jelas.

"BUKAN URUSANMU! PULANG SANA!"

"TAPI KAU SELALU MENGHILANG DAN MEMBUATKU KESEPIAN!"

Chanyeol tersentak. Ia membalikkan badannya. Dilihatnya Baekhyun yang sudah pucat pasi dan menggigil.

"Kau membuatku khawatir, galah sialan!" Baekhyun berseru parau. Sejujurnya ia sudah benar-benar tidak kuat lagi. Ia sangat kedinginan dan air matanya mulai mengalir deras.

"Baekhyun ...," Chanyeol menggumam.

"KAU MEMBUAT BAWAHANMU KHAWATIR BODOH! APA KAU TIDAK JUGA MENGERTI, HAH?! MAKAN SANA SEBUTAN ATASANMU!" teriak Baekhyun yang langsung menangis histeris pada akhirnya.

Chanyeol tertegun. Ini kali pertama ia melihat Baekhyun benar-benar menangis. Dan Baekhyun menangis karenanya. Chanyeol merasa bersalah.

"Baek," Chanyeol mendekati Baekhyun dan langsung memeluk tubuh rapuh itu.

Baekhyun tidak berbicara sepatah katapun melainkan terus menangis. Menjerit. Meluapkan seluruh amarah yang sudah ditahannya selama ini.

Bukan, bukan hanya kemarahannya pada Chanyeol. Melainkan kemarahannya pada appa dan eomma-nya. Juga pada orang-orang yang selalu berusaha menjegal kakinya setiap hari.

"Baekhyun-ah," ini kali pertama Chanyeol menyebut Baekhyun begitu. "Kau semarah ini padaku? Ini memang salahku, maaf." Chanyeol meminta maaf dengan tulus.

Baekhyun yang sudah puas kini mengatur napasnya. Rasanya ia ingin berkata, namun tak bisa. Tubuhnya kaku.

"Baiklah, Baekhyunnie. Aku tidak akan datang ke acaraku hari ini. Aku akan menemanimu pulang. Ayo, kebetulan aku naik motor." Ajak Chanyeol yang melepas pelukannya. Melihat Baekhyun yang hanya diam, Chanyeol tersenyum pahit.

"Ah, kau pasti sudah tidak kuat lagi." desah Chanyeol. Tiba-tiba saja terbersit ide di benaknya.

"Baekhyun, gerakkan tubuhmu." Perintah Chanyeol dengan suara rendah. Baekhyun memandangnya penuh tanda tanya.

"Sudahlah, gerakkan saja seperti ini!" Chanyeol melompat-lompat dan menggerakkan tangannya.

Baekhyun memandangnya ragu. Namun batinnya ingin mencoba.

"Gerakkan tubuhmu, Baekhyun! Kau tidak akan terlalu merasa kedinginan!" teriak Chanyeol.

Baekhyun merasa ia harus mencobanya. Ia lalu mencoba melompat sedikit demi sedikit hingga akhirnya melompat selayaknya Chanyeol.

"GERAKKAN TUBUHMU BAEKHYUN!" teriak Chanyeol. Baekhyun terus melompat dan menggerakkan tangannya.

"BERTERIAKLAH!"

"AAAAA!" Baekhyun berteriak sekuat tenaga.

"AAAAA!"

"AAAAA!"

.

"Nih!" Chanyeol menyerahkan t-shirt, celana yang kecil, serta sebuah handuk. Baekhyun menerimanya ragu-ragu.

"Sudahlah, pakai saja. Itu baju yang tidak pernah kupakai. Bu-bukannya aku peduli, ya." Chanyeol memalingkan wajahnya. Baekhyun menyeringai lebar, seperti ingin tertawa.

"Kau ini, siapa juga yang mau menyangka bahwa kau peduli? Ngomong-ngomong aku harus ganti baju di mana?" tanya Baekhyun.

"Itu kamar mandi. Sekalian kau mandi saja." Chanyeol menunjuk ke arah sebuah pintu. Baekhyun lalu masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.

Apa yang Chanyeol lakukan? Ia membuka lemarinya dan mengambil sebuah sweater abu-abu serta sepaket baju (u know lah). Ia lalu berganti baju dan langsung menyusup ke kamar kakaknya. Tak lama, ia kembali dan menunggu Baekhyun yang agaknya memang mandi.

Cklek! Baekhyun keluar dari kamar mandi dengan baju yang diberikan Chanyeol, serta handuk yang membalut rambutnya.

"Kau sudah selesai? Nih!" Chanyeol menyerahkan hairdrier wireless.

"Gomapta." Baekhyun tersenyum manis, lalu mulai mengeringkan rambutnya.

.

"Thank you so much, damn Yoda, hahah." Ucap Baekhyun. Chanyeol mengerutkan keningnya.

"Jangan panggil aku Yoda, Bacon!" gerutunya.

"Oi, jangan panggil aku Bacon!" protes Baekhyun.

"Argh!" Chanyeol mencubit pipi Baekhyun gemas.

"Aw, appo!" ringis Baekhyun. "Dasar tiang!"

"Aaaheuumm~" Jongwoon tiba-tiba saja muncul dari pekarangan rumah Baekhyun.

"Oppaa~~" Baekhyun langsung menghambur ke oppa-nya itu.

Meninggalkan Chanyeol yang hanya melongo.

"Aduh Baekkie, jangan keras-keras dong." Jongwoon berkata dengan sparkle imajiner di sekeliling tubuhnya. Namun ia merasa ada yang beda dengan pakaian yang sepupunya pakai ini.

"Baekhyun, kau pakai baju siapa?" tanya Jongwoon.

"A-ah, Baekhyun memakai baju dariku, karena seragamnya basah." Chanyeol menyela.

Jongwoon manggut-manggut. "Kau langsung nyalakan pemanas ruangan sana, Baek!" usir Jongwoon.

Buk! Baekhyun menonjok bahu Jongwoon dengan kasarnya. "Dasar keledai pengusir!" omel Baekhyun yang langsung ngacir.

Menyisakan Jongwoon yang ber-'aww' ria dan Chanyeol yang bengong.

Suasana pun hening sebentar.

"Ehem, aku sepupu Baekhyun, Oh Jongwoon imnida." Jongwoon mengulurkan tangan.

"Park Chanyeol imnida." Chanyeol membalas uluran tangan tersebut.

"Heum, ya, aku hanya ingin memberi sedikit peringatan padamu." Jongwoon berkata sok misterius.

"Mwo?"

"Yeah, jadi si Bacon itu fisiknya kelewat payah dan lemah. Dingin sedikit ingusan. Dikasih latihan fisik sedikit ambruk duluan. Jadi kuperingatkan padamu untuk selalu menjaganya jika dia terlepas dariku. Arasseo?"

Chanyeol mengangguk tanda mengerti.

"Dan ..., yah ..., dia punya ..., eum ...," Gumam Jongwoon dengan wajah gelisah.

"Mwo?" tanya Chanyeol bingung.

"Ahahah~ lupakan yang tadi. Kau harus tetap menjaga semangatnya. Tolong buat si Bacon tenang, apalagi kelihatannya kalian saling tertarik, makanya bisa menempel hahahah~" Jongwoon tertawa lebar.

Chanyeol wajahnya bersemu merah. "Ti-tidak! Tidak kok! I-itu salah paham!" bantah Chanyeol gelagapan.

Jongwoon langsung memasang wajah flat. "Bercanda. Nah, sekarang kembalilah sebelum waktu makan malam!" perintah Jongwoon datar.

Chanyeol sweatdrop abis. "N-ne. Gomapta Jongwoon-ssi."

.

Chanyeol menyangga kepalanya dengan tangan di meja. Tak usah heran, ia tumbang begitu kembali dari rumah Baekhyun, dan kepalanya sedikit pusing. Namun ia merasa hari ini akan bertemu Baekhyun, makanya ia memaksakan diri masuk sekolah.

Astaga, ia pasti hanya meracau.

Seperti pada fakta sebelumnya serta penegasan dari Jongwoon, disenggol udara dingin sedikit saja langsung drop. Namun entah apa yang terjadi pada Chanyeol sehingga ia begitu berharap untuk bertemu dengan budaknya itu.

"Kyung-ie!" panggil Chanyeol pada akhirnya. Kyungsoo yang sedang mengerjakan soal fisika langsung menoleh.

"Wae?" tanya Kyungsoo agak kesal, namun tetap dengan wajah polos.

Oh, Do Kyungsoo yang mungil. Pertahankan wajah polosmu itu, nak. Oke abaikan.

"Apa kau tidak tahu kemana Baekhyun sekarang?" tanya Chanyeol.

"Astaga, kau bahkan sudah menanyakan ini lebih dari sepuluh kali pagi ini! Apa kau tidak mengerti bahwa buku latihan olimpiade fisika baruku ini bahkan belum kuisi separuhnya?" Kyungsoo akhirnya berkata dengan kesal. Rupanya ia lebih memilih buku fisikanya dibanding Chanyeol. Haha.

"Euh, mian. Kyung-ie, bisa kau tanyakan pada seonsaengnim kenapa Baekhyun tidak masuk?" tanya Chanyeol.

Kyungsoo menghela napas. "Kau yang menempeli Baekhyun saja tidak tahu, apalagi seonsaengnim!" jawabnya 'bijak'.

Jleb. Menempeli? Mereka menempel karena alasan darurat pada awalnya, lalu Chanyeol yang mulai membiasakan diri untuk menempeli Baekhyun, hingga Baekhyun yang terbiasa menempel tak sanggup melepas Chanyeol barang sehari. Itulah teorema menempeli ChanBaek.

Oke, lupakan.

"Argh, bagaimana mungkin aku lupa kalau dia ..., Argh!" Chanyeol berbicara sendiri, mendaratkan dahinya ke meja. Membuatnya jadi pusat perhatian.

.

Baekhyun menatap langit-langit kamarnya. Ayolah, ia bosan sekali dengan peraturan yang diberikan sepupunya selama ia sakit. Apalagi Jongwoon belum mulai bekerja di rumah sakit sehingga ia menjadi dokter penganggur dan ada setiap saat di sisi Baekhyun (ea).

Cklek! Jongwoon membuka pintu kamar, lalu masuk.

"Kau ingin sesuatu?" tanya Jongwoon dengan wajah serta intonasi yang datar.

"Aku ingin sehat." Jawab Baekhyun ketus.

Jongwoon tertawa lebar, lalu tiba-tiba berubah menjadi manis. "Baguslah. Kau punya semangat hidup." Katanya dengan senyum yang begitu manis.

"Semangat hidup ndasmu!" Baekhyun melempar guling dan headshot. "Tidak boleh main ponsel, tidak boleh makan yang aneh-aneh, tidak boleh turun dari kasur selain ke kamar mandi, tidak boleh teriak-teriak, tidak boleh protes, dan dokter Yesung selalu benar dan Byun Baekhyun selalu salah! Jika dokter Yesung salah maka Byun Baekhyun yang disalahkan dan kembali ke peraturan sebelumnya! Dasar dokter gila! Kau pikir aku ini bulldog liar, ha?" omel Baekhyun galak.

"Aish, galak banget! Tujuanku kan baik!" Jongwoon membela diri, meskipun dalam batinnya ia menertawakan Baekhyun habis-habisan yang mau saja menuruti peraturan bohongannya.

Agaknya dia lupa kalau mood sepupunya itu selalu buruk jika sedang sakit.

"Masa bodo! Mau baik kek, mau buruk kek, aku meragukan master psikologi dan syarafmu itu, keledai gila!" maki Baekhyun galak.

Jongwoon memasang wajah datar yang benar-benar datar, membuat Baekhyun terdiam. Ia paham maksud wajah sepupunya itu dan menenggak ludah.

Sepupunya itu dalam mode serius.

"Oppa ..., kau ..., serius ...?" tanya Baekhyun hati-hati.

Namun tidak lama kemudian Jongwoon tertawa terpingkal-pingkal. Ia tertawa begitu puas, hingga membuat Baekhyun kebingungan. Baekhyun benar-benar tidak mengerti ada apa dengan sepupu gilanya ini.

"Kau ..., kau ...," Jongwoon berkata di sela tawanya. "Kau percaya saja dengan peraturan konyolku itu HAHAHAH!" Jongwoon kembali tertawa.

"YOU SUCH FUCKING COCKY ASSHOLE!" Baekhyun murka dan langsung melempari Jongwoon dengan segala yang ada.

"O-oi jangan marah!" Jongwoon menangkis segala lemparan Baekhyun meskipun masih tertawa geli.

"YANG ADA KAU YANG BERHENTI MENGERJAIKU, DUNGU!" bentak Baekhyun galak.

Jongwoon langsung kembali dengan wajah datarnya dalam sekejap. "Aku serius, Baek." Jawabnya datar.

"AKU TIDAK PERCAYA! MATI SANA!" Baekhyun kembali melempari Jongwoon dengan bantal.

"Adow!"

Ya, begitulah jika kau mengerjai sepupumu yang ganas itu, Dokter Jongwoon.

.

"Jadi, bagaimana kalian?" tanya Jongwoon di meja makan. Saat ini, mereka sedang makan malam berdua.

"Hah?" Baekhyun batal menyuap cream soup-nya.

"Iya, kalian." Jongwoon memandang Baekhyun penuh arti, lalu menyuap cream soup-nya.

"Siapa?" tanya Baekhyun yang mulai kesal.

"Kau dan Chanyeol~" Jongwoon menggoda Baekhyun.

"Mwoo?" Baekhyun mengerutkan keningnya kesal. Kenapa dengan dirinya dan Chanyeol?

"Kalian pasti saling suka, kan?" goda Jongwoon.

"NEVER!" bentak Baekhyun langsung dengan wajah yang sedikit bersemu.

Jongwoon terkekeh. "Santai dong, Baekkie-ah~"

Baekhyun membuang muka. "Janji ya, jangan cerita ke siapa-siapa." Gumam Baekhyun pelan, namun terdengar sangat jelas di telinga Jongwoon.

"Tentu, aku tidak akan cerita. Tapi kau harus terbuka padaku, hahah~" Jongwoon tertawa garing.

Baekhyun menatap Jongwoon tajam. "Promise?"

"Promise."

Baekhyun menundukkan kepalanya. "Aku ..., Chanyeol ..., suka." Kata Baekhyun akhirnya.

"Sudah kuduga~" Jongwoon tersenyum geli. "Angkat kepalamu." Perintah Jongwoon.

Baekhyun mengangkat kepalanya, menatap namja tampan di depannya ini.

"Apa yang kau rasakan ketika bersama namja itu?" tanya Jongwoon.

"Aku ..., perasaanku nyaman ... aku ..., merasa ..., lebih tenang ..., aku ..., aku merasakan kebahagiaan tersendiri ..., aku ..., aku ..., merasa ingin bersamanya terus ..." Baekhyun menjawabnya dengan sedikit bingung, karena ia tidak tahu bagaimana mendeskripsikan perasaannya.

"Apa yang pernah ia lakukan padamu?" tanya Jongwoon lagi

"Argh, tolong jangan mengungkit itu!" Baekhyun berseru sebal.

"Kenapa kau terlihat kesal?"

"Karena ia menyebutku bawahannya. Tapi ..., ia baik. Ia selalu mengantarku pulang ..., Chanyeol ..., selalu membuatku merasa terlindungi ..., Chanyeol mengajariku banyak hal ..." jawab Baekhyun.

"Apa yang pernah kau lakukan padanya?"

"Aku ..., mengatainya ..., memakinya ..., aku pernah menangis padanya ketika aku kesal pada appa dan eomma."

"Apa menurutmu Chanyeol bisa membantumu untuk sembuh?"

"Itu ...," mulut Baekhyun berasa terkunci. "Aku ..., mungkin ..., bisa sembuh ..., eh?"

Jongwoon tersenyum puas. Ia merasa bebannya nyaris selesai. Anak ini sudah menemukan semangat dan ketenangannya. Pikirnya. Lalu, ia tiba-tiba saja terpikirkan sesuatu.

"Baekhyunnie, pertanyaan terakhir. Tatap aku dengan serius." Perintah Jongwoon dengan wajah serius.

Baekhyun menurut.

"Apa aku benar ..., jika menurutmu aku jauh lebih tampan daripada Chanyeol?" tanya Jongwoon dengan wajah datarnya.

"BODO AMAT!" Baekhyun kembali pada makanannya, lalu pergi meninggalkan Jongwoon sendiri.

"Lah ...," Jongwoon berkata dengan wajah bodoh.

.

Baekhyun duduk di depan sebuah piano putih. Grand piano tersebut merupakan piano kesayangannya yang dibelikan appanya sewaktu kecil.

Baekhyun mengatur tinggi kursinya, lalu mulai menekan tuts.

The Blue Danube, a waltz by Johann Strauss

"Cie, yang kaburnya main piano~" Jongwoon tiba-tiba masuk ke ruang musik.

Baekhyun menyesal bahwa ia lupa menutup pintu ruang musik. Namun ia tetap melanjutkan permainan. Oh, atau tepatnya ia melanjutkannya dengan melodi acak yang ada di kepalanya.

"OOOH~ PARK CHANYEOL BODOH SEPERTI OH JONGWOON~" Baekhyun bernyanyi asal ala koboi bergitar.

"Yak! Berkacalah, Baek!" Jongwoon berseru sebal.

.

Karyawisata~ Yehet~!

Kini, di Incheon, Baekhyun yang diantar oleh Jongwoon mengobrol sebentar dengan Sehun.

"Oi, Sehunnie!" panggil Jongwoon pada Sehun yang sedang menyeret kopernya. Sehun menoleh. Ia menyipitkan matanya lalu terbelalak melihat Jongwoon dan Baekhyun.

"Jongwoon hyung!" seru Sehun. Ia lalu mendekat.

"Astaga, tak kusangka kau bisa ikut. Bagaimana caramu lepas dari cengkraman appa, hm?" tanya Jongwoon pada Sehun.

"Aku bahkan tidak pernah berbicara langsung dengan appa lagi." Sehun menjawab sebal. "Daripada membahas hal konyol itu, bagaimana kau bisa bersama iblis betina berkulit manusia ini?" tanya Sehun yang menunjuk Baekhyun.

Baekhyun mengacungkan kepalan tangannya, namun ditahan oleh Jongwoon.

"Kau juga setan kecil berkulit manusia, Hunnie-ah. Good luck for you two, Hunnie-ah, Baekkie-ah!" Jongwoon berkata manis dan jujur.

"Kami pergi, bye oppa~" Baekhyun melambaikan tangannya sambil menarik koper bersama Sehun.

"Kau kenapa harus pergi bersamaku?" tanya Sehun kesal.

"Aku bahkan bingung kenapa harus pergi bersama pejantan sepertimu." Balas Baekhyun tak kalah kesal. "Kau ini jantan, untuk level simpanse." Ejek Baekhyun.

Sehun mencibir. "Kau bahkan lebih payah dariku, Baekhyun!"

"EHEM~" Chanyeol yang tiba-tiba muncul memisahkan Baekhyun dan Sehun.

"Hyung!"

"Chanyeollie!"

"Maafkan aku, Sehunnie. Kau sudah berpasangan dengan Tao-ah, kan?" tanya Chanyeol.

"Tapi kita bahkan belum berangkat! Dan kenapa kau harus memasangkan aku dengan gadis gila itu?" protes Sehun.

"Sedang apa kau, bocah?" seorang gadis tinggi bermata panda menjewer Sehun. Ia datang bersama namja tan yang waktu itu.

"A-ah! Appo~"

"Tao-ah, Jongin-ah, bawa dia!" perintah Chanyeol.

"Oi, hyung! Kau yakin menyuruhku berpasangan dengan Do Kyungsoo?" tanya namja tan bernama Jongin tersebut.

Jadi inilah orang suruhan Chanyeol.

"Aku serius, karena aku yakin kau bisa menjaganya, Kkamjong! Sudah cepat pergi!" usir Chanyeol. Jongin dan Tao langsung menyeret Sehun.

"Siapa yang tadi kau sebut gadis gila, hm?"

"APPOYOOO~~!"

Chanyeol menghela napas. "Nah, sekarang kita bisa tenang, Baek." Kata Chanyeol dengan nada rendah, menatap Baekhyun dengan senyum tipis. Baekhyun balik menatap Chanyeol dengan senyum kekanakkan.

Jongwoon yang merekam kejadian ini terkekeh. "Astaga, Byun Baekhyun. Kau ini benar-benar beruntung, ya~"

.

"Kyungsoo! Kita di jepang!" Baekhyun berseru heboh, memeluk Kyungsoo erat. Membuat Kyungsoo seperti ikan yang kehabisan napas.

"B-baek, lepaskan ...," Kyungsoo berkata lirih. Baekhyun menurutinya. Kyungsoo pun menarik napas lega.

"O-oi, kalian!" panggil Daehyun yang berlari dari dalam hotel.

"Daehyun? Wae?" tanya Baekhyun. Kyungsoo hanya diam dengan wajah polosnya.

"Kalian berdua ..., Chanyeol, dan hoobae hitam itu ..., tidak kebagian kamar." Kata Daehyun yang masih mengatur napas.

"WHAT?!" Baekhyun menjerit shock. Kyungsoo membulatkan matanya dan menganga, sehingga wajahnya jadi seperti oAo

"Ketua OSIS sedang berusaha membantu Chanyeol dan hoobae itu." Kata Daehyun lagi. Namun ketika dilihatnya, Baekhyun dan Kyungsoo sudah menghilang.

"LOH?!"

.

"Chanyeollie!" panggil Baekhyun yang berlari bersama Kyungsoo menuju Chanyeol, Jongin, Joonmyeon, dan satu namja kelewat tinggi berwajah barat.

Chanyeol menoleh. "Cewek NT! Kyungsoo!" serunya.

"Soo/Kyungsoo-ya!" seru Jongin dan Joonmyeon. Jongin lalu menatap Joonmyeon tajam.

"HAAH!" Baekhyun langsung jongkok begitu sampai. Napasnya tidak beraturan. Tentu ini mengundang kekhawatiran Chanyeol.

"Hoi, gwaenchana?" tanya Chanyeol dengan wajah yang sedikit khawatir.

"Gwaenchana, huft." Baekhyun langsung berdiri tegap.

"Then, what should we do to be able to stay in this hotel?" tanya namja bule tersebut pada pegawai bagian resepsionis.

"You can reserve a room for four or more people." Kata wanita cantik tersebut dengan aksen Jepang yang kental.

"But ..., are there no more room for two people? We have two boys and two girls who didn't got room, and we can't let them in the same room." Namja tersebut bertanya lagi.

"I'm sorry, there are only rooms in that type left." Wanita tersebut berkata dengan menyesal.

"Joonmyeonnie, kau yakin untuk tetap di hotel ini?" bisik namja tersebut pada Joonmyeon.

Joonmyeon terdiam. "Errr, is there any double presidential suite?" tanya Joonmyeon.

"Just a second." Wanita tersebut mengecek komputernya. "Only one left which hasn't reserved."

"Then we'd like to reserve it." Tandas namja tinggi itu puas.

"Just a second." Wanita itu memproses sesuatu, lalu menyerahkan 'amplop' berisi dua kartu pada namja tinggi tersebut. "Room 702, with one of our best view here."

Namja tinggi yang gayanya sangat keren itu langsung menyodorkan 'amplop' tersebut pada Chanyeol.

"Ini kartu untuk kamar kalian berempat. Jangan sangka kamar kalian buruk, Joonmyeon sudah memesan double presidential suite." Kata namja tersebut datar.

"Tapi kami perempuan!" protes Baekhyun.

Namja itu menghembuskan napasnya kesal. Joonmyeon terkekeh garing.

"Biarkan aku menjelaskan pada mereka, Kris." Ujar Joonmyeon. "Ada dua kamar dalam kamar kalian. Kalian tentu akan menikmati fasilitas yang sama seperti kami." Jelas Joonmyeon yang berbaik hati.

"Oooh~" Baekhyun mengangguk tanda mengerti.

.

Chanyeol membuka kamar 702 untuk pertama kali. Ia dan tiga orang lainnya langsung terkejut melihat kamar yang dibayar Joonmyeon tersebut.

Sebuah, bukan. Serangkaian sofa dengan meja di depannya berada di tengah ruangan yang diduga 'ruang tengah' tersebut. Lalu di sebelahnya ada meja makan dengan kesan luxury. Di sebelah kanan pintu utama ini ada wet bar. Di sebelah kiri pintu utama ini ada pintu yang diduga kamar mandi tamu. Di dinding sebelah kanan ada sebuah pintu yang diduga kamar. Sedangkan di dinding sebelah kiri ada sepasang pintu megah yang diduga kamar utama.

"ASTAGA INI MAH FOTOKOPI ORLEANS!" pekik Baekhyun yang menggila.

"Hotel ini katanya salah satu yang terbaik di Jepang." Tutur Chanyeol.

"Astaga ketua OSIS itu memang setajir apa, sih?!" Baekhyun berseru heboh.

"Terkaya di sekolah." Jawab Chanyeol singkat.

"Daebak!" mata Baekhyun berbinar-binar. Chanyeol memutar bola matanya kesal.

"Kyung! Kau dan cewek aneh itu di kamar ini, ya." Chanyeol menunjuk ke arah sebuah pintu sebelah kanan, yang diduga kamar.

"Oi, sinting! Bukakan pintu untuk perempuan!" protes Baekhyun.

Chanyeol tersenyum sekilas. Ia lalu membukakan pintu. Kamar mewah pun terpampang dibaliknya.

"DAEBAK!" Baekhyun melepas kopernya dan langsung merebahkan diri di kasur.

Chanyeol dan Kyungsoo menoleh, saling berhadapan. Chanyeol lalu tersenyum.

"Kyungsoo-ya, kau bawa kopermu. Aku akan membawakan koper Baekhyun." Chanyeol langsung mengambil alih koper Baekhyun dan menariknya ke kamar BaekSoo. Kyungsoo tersenyum, lalu mengikuti Chanyeol.

Chanyeol lalu menaruh koper Baekhyun di dekat meja TV. Ia memandangi Baekhyun yang sudah telentang tanpa melepas alas kakinya.

"Cewek NT! Ganti baju sana! Kalau kau dan Kyungsoo butuh apa-apa, ketuk saja kamarku dan Jongin. Daah~" kata Chanyeol yang langsung kabur ke kamarnya.

Baekhyun tersenyum. "Pasti." Gumamnya. Ia lalu menuruti perkataan Chanyeol.

.

"Kyungie! Bagaimana kalau kita mengobrol?" usul Baekhyun yang sudah siap dengan piyamanya.

"Ayo." Jawab Kyungsoo dengan wajah polos, seperti biasa.

"Hmm ...," Baekhyun berpikir sejenak. "Ah! Aku ingin bertanya!" Baekhyun berkata semangat.

"Tanya apa?"

"Apa hubunganmu dengan Chanyeol?" tanya Baekhyun semangat.

Kyungsoo sweatdrop melihat kelakuan Baekhyun. Meskipun wajah serta perkataannya begitu polos, namun pemikirannya lain. Ia adalah gadis yang peka atas gadis seusianya, tentu.

"Aku dan Chanyeol? Teman masa kecil." Jawab Kyungsoo.

Baekhyun tertegun, lalu ia merasa malu sendiri karena sudah menyangka yang tidak-tidak. Ia nyengir.

"Oooh, hahahah. Kukira kalian itu kekasih atau semacamnya." Baekhyun tertawa garing.

"Aku, Chanyeol, dan Joonmyeon oppa berteman sejak kecil. Mungkin mereka terlalu berlebihan dalam melindungiku karena aku perempuan." Lanjut Kyungsoo, untuk sekadar menambah referensi Baekhyun.

"Ah, ternyata begitu. Pantas saja ia seperti melindungimu." Baekhyun menggumam sendiri.

"Kau pasti suka Chanyeol." Kyungsoo berkata dengan polosnya. Ia kaget sendiri, karena ini di luar kendali perasaannya.

Baekhyun terkesiap. Wajahnya langsung merah.

"ANIYO!" jerit Baekhyun refleks, membuat Kyungsoo membulatkan matanya.

Ia lalu menyadarinya sendiri. "Mian," Baekhyun membuang wajahnya yang sudah merah padam. "Ja-jangan bilang siapa-siapa, ya." Baekhyun berkata gugup.

Kyungsoo tersenyum geli. "Gwaenchana."

.

Pagi ini Chanyeol merasa ada yang tidak beres dengan anak buahnya. Ia tidak melihat sedikitpun semangat di mata puppy Baekhyun. Bahkan untuk pertama kalinya ia melihat wajah Baekhyun yang datar.

Argh, Chanyeol bingung kenapa ia harus memikirkannya. Ia pun memutuskan untuk bertanya.

"Oi, cewek NT. Kau kenapa?" tanya Chanyeol dengan nada sok cuek.

Baekhyun menoleh. "Nothing." Jawab Baekhyun datar.

Chanyeol berusaha menahan dirinya untuk tidak meninju si budak. Wajahnya berubah menjadi jelek, yah seperti menahan pup gitu loh. Jongin dan Kyungsoo yang sedari tadi memperhatikan mereka sweatdrop di tempat.

.

"Lihat, itu ikan!" Chanyeol menunjuk ke arah ikan hiu martil.

Ah, ya. Agenda mereka hari ini adalah berkunjung ke akuarium raksasa.

"Hiu martil." Baekhyun berkata datar.

Chanyeol berasa ingin menendang wajah Baekhyun. Namun apa boleh buat, sepertinya budaknya itu tidak sedang dalam moodnya.

"Apa lihat-lihat? Kau khawatir padaku?" tanya Baekhyun dengan nada sinis.

Jleb. Panah imajiner menusuk jantung Chanyeol. Membuatnya nyaris tewas di tempat.

Ah, lupakan.

"Ti-tidak. Aku sedang melihat-lihat ikan." Chanyeol membuang muka, namun masih melirik Baekhyun. Ia sedikit menemukan kejanggalan pada wajah Baekhyun.

Baekhyun menghela napas. Ia melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan Chanyeol. Chanyeol tidak langsung menyadarinya. Ia pun baru tersadar ketika Baekhyun sudah agak jauh.

"O-oi!" seru Chanyeol yang langsung mengejar Baekhyun.

.

Kini mereka sedang menonton atraksi lumba-lumba. Mereka mendapatkan tempat duduk paling depan. Di sekitar mereka kebanyakan keluarga yang sedang berlibur, atau murid sekolah seperti mereka.

"Baekhyun, lihat! Lumba-lumbanya lucu!" Chanyeol menunjuk ke arah lumba-lumba yang sedang melompat.

"Hm." Baekhyun hanya menggumam.

Chanyeol berdecak sebal. "Ayolah, kau harus menikmatinya!"

Baekhyun diam saja.

Chanyeol merasa ada yang tidak beres. "Kau baik-baik saja, kan? Tidak ada sesuatu yang membuatmu harus—" perkataan Chanyeol terputus.

PLAK! Baekhyun menampar Chanyeol.

"Oi, kenapa kau menamparku?" protes Chanyeol.

Baekhyun menyeringai jahat. "Maaf, tanganku sengaja." Ia lalu kembali menonton lumba-lumba.

Chanyeol hanya bisa pasrah dengan kelakuan anak buahnya yang satu ini.

.

Oke, mari kita kembali ke sisi Baekhyun.

"Cewek NT, sekarang kau mau ke mana?" tanya Chanyeol. Baekhyun mendengus sebal. Ia hanya ingin menghubungi Jongwoon, bukan kemana-mana.

Tiba-tiba saja ada kembang api yang meluncur ke langit, padahal ini belum tengah hari. Baekhyun langsung berlari ke tempat melihatnya yang langsung ramai begitu kembang api pertama diluncurkan.

"Oi!" Chanyeol mengejar Baekhyun.

"OH MY GOD! FIREWORK!" Baekhyun berseru ceria, lengkap dengan wajah sumringah.

Chanyeol rasanya ingin menyeret Baekhyun. Bagaimana tidak, pengunjung yang memenuhi tempat ini sebagian merupakan bocah dan ibu-ibu yang membawa bocah. Sedangkan orang yang paling ramai adalah Baekhyun yang notabene bukan bocah maupun ibu-ibu yang membawa bocah.

"Cewek NT!" panggil Chanyeol.

"Just a sec! Oh geez, this is fucking awesome!"

"Budak!"

"NOO~ Don't let me pass this moment!"

"BYUN BAEKHYUN!" panggil Chanyeol dengan suaranya yang menggelegar. Baekhyun langsung menoleh dengan wajah polos. Ia langsung memucat begitu melihat Chanyeol yang sudah berwajah datar.

Ia marah. Begitulah persepsi Baekhyun.

"Chanyeollie, waeyo?" Baekhyun gelagapan.

"Sini kamu!" panggil Chanyeol galak. Baekhyun pun menurut. Chanyeol lalu menarik tangan Baekhyun dan membawanya pergi.

.

Tur berikutnya adalah mengunjungi rumah hantu yang terkenal. Namun karena kapasitas yang terbatas, Chanyeol dan Baekhyun yang datang terlambat harus menunggu di kursi tunggu.

Baekhyun gelisah. Ia merasa ada yang aneh dari tubuhnya sejak pagi. Terlihat dari mood-nya yang begitu buruk. Sebenarnya, ia ingin mengatakannya pada Chanyeol, namun rasa takut menguasai pikirannya karena namja itu baru saja ia buat marah.

"Wae?" tanya Chanyeol yang nampaknya menyadari kegelisahan Baekhyun.

"Gwaenchana." Jawab Baekhyun lemah. Chanyeol mengerutkan kening melihat wajah Baekhyun yang pucat. Namun ia kembali pada perhatian awalnya. Ia mengira itu karena Baekhyun takut pada rumah hantu.

"Chanyeol," panggil Baekhyun pelan. Chanyeol menoleh.

"Apa AC disini terlalu dingin, ya?" tanya Baekhyun. Chanyeol mengerutkan kening.

"Tidak. Biasa saja." Jawab Chanyeol datar.

"Kenapa dingin, ya?" Baekhyun menggumam pelan, ia menggenggam tangan Chanyeol erat. Membuat pemilik tangan terkejut.

"Oi, cewek NT, kau kenapa?" Chanyeol bertanya khawatir.

"Aku ..., tidak tahu."

"Kau takut hantu?"

"Tidak,"

"Terus kau kenapa?"

"Aku cuma kedinginan." Jawab Baekhyun pelan.

"Yak! Astaga, bilang dari tadi, dong!" Chanyeol melepas jaket yang memang biasa dipakainya, lalu memakaikannya pada Baekhyun. Ia lalu menggenggam tangan Baekhyun erat.

"Kau mau kembali ke hotel?" tanya Chanyeol.

Baekhyun terpaku pada wajah Chanyeol yang ramah. Tanpa ia sadari, air matanya sudah mengalir. Chanyeol yang melihat ini tersenyum. Ia merasa bersalah karena sudah membentak Baekhyun.

"Jangan menangis. Aku tidak mungkin marah padamu hanya karena itu, Baek." Chanyeol berkata dengan lembut. Setidaknya itulah perkataan Yuri padanya waktu kecil yang diingatnya.

"Gomapta." Baekhyun memalingkan wajahnya.

Chanyeol tersenyum masam. Ia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya untuk memperbaiki mood Baekhyun. "Ayo kembali ke kamar!" ajak Chanyeol. Namun Baekhyun hanya diam.

Chanyeol menyeringai lebar. "Aku tidak menerima penolakan~" Chanyeol lalu menggendong yeoja tersebut dan sedikit terkejut.

Astaga, dia ringan sekali! Chanyeol berseru dalam hatinya. Sungguh, ia bahkan dengan mudah berjalan, seperti hanya membawa ransel.

Chanyeol pun memutuskan untuk menghampiri Daehyun yang sedang mengantri. Sebenarnya ia malas, namun Daehyun adalah ketua kelas sehingga izin dipegang olehnya.

"Oi, bocah! Aku izin ke hotel duluan, Baekhyun sakit." Seru Chanyeol.

Daehyun mendengus kesal. Ia merasa diserobot dan dihina. "Tidak, biar aku yang mengantarnya nanti." Jawab Daehyun ketus.

Chanyeol yang dari awal sudah dilanda kepanikan langsung naik pitam. "Tidak bisa begitu, keledai! Situasinya darurat!" bentak Chanyeol.

"Tidak, aku akan membawanya." Daehyun tetap menolak.

"Kau tak akan langsung membawanya, bodoh!" Chanyeol memeletkan lidah, lalu langsung pergi.

.

"Baekhyun, kau tidur saja di sini. Akan kuusir si Kkamjong itu." Kata Chanyeol sambil menurunkan Baekhyun di kasur.

Baekhyun memperhatikan sekeliling. Kamar ini benar-benar mirip The Orleans di Las Vegas menurutnya.

"Kau tunggu sebentar, ya. Aku harus menelepon seseorang." Chanyeol meninggalkan Baekhyun.

.

Chanyeol menekan nomor telepon Sehun, lalu meneleponnya. Ia menunggu sebentar, hingga akhirnya telepon terangkat.

"Ah! Yeoboseyo, Sehunnie?" Chanyeol membuka pembicaraan.

"Oh, hyung? Wae?"

"Baekhyun sakit. Kau tahu apa yang harus kulakukan?"

"Hah? Setan itu sakit? Tanya kakakku, sana! Kau sudah pernah bertemu dengan si Jongwoon hyung, kan?"

"Ah, ia bahkan menitipkan Baekhyun padaku. Jadi Oh Jongwoon itu kakakmu?"

"Cih. Ia lebih sayang pada si Bacon rupanya. Aku akan mengirimkan nomornya padamu." PIP! Pembicaraan diputus.

Chanyeol membuka ponselnya lagi. Tak lama kemudian, datang pesan yang tak lain adalah dari Sehun yang mengirimkan nomor ponsel kakaknya.

"Bingo!" gumam Chanyeol yang langsung menghubungi nomor tersebut.

Dan yak! Akhirnya diangkat.

"Moshimoshi, anata wa ..., dare desuka?" tanya suara khas Jongwoon di seberang sana. Chanyeol sweatdrop di tempat.

"Mian? Jongwoon-ssi?" Chanyeol menyadarkan makhluk alay yang kenyataannya seorang dokter syaraf itu.

"Hah? Mian? Kau Chanyeol, ya?" tanya Jongwoon.

"Ah, ya."

"Chanyeol-ah! Sudah kuduga. Kenapa kau menghubungiku?"

"Ah, Jongwoon-ssi, itu—" perkataan Chanyeol terputus.

"Panggil aku hyung. Ya, kenapa?"

"Jongwoon hyung, Baekhyun sakit. Apa yang harus kulakukan?"

"Hah? Sakit? Please deh, ini baru sehari dan dia sakit. Astaga, kau harus bersabar dalam menghadapinya, Chanyeol-ah. Moodnya selalu buruk kalau sakit, apalagi kalau kau menjahilinya." Papar Jongwoon.

Chanyeol mengerti. Pantas saja Baekhyun begitu aneh sikapnya hari ini.

"Kau harus membuatnya tenang. Buat dia senang. Kembalikan semangatnya. Dia ... ah, ya. Aku lupa. Memangnya apa yang membuatmu yakin kalau dia sakit?" tanya Jongwoon.

"Erm, tangannya dingin? Ia bersikap aneh?"

"Yak! Pasti Baek mengeluh kedinginan. Kau benar Yeol, dia pasti demam sekarang. Buatkan ia teh manis hangat, dan selimuti saja setan betina itu. Pokoknya ini belum waktunya kau tahu, Chanyeol-ah." Jongwoon memberi saran.

"Baiklah. Gomawo hyung."

"Oke, sudah ya—" PIP! Jongwoon memutus pembicaraan.

.

"Baek, kau mau teh?" tanya Chanyeol yang membawa segelas teh manis hangat.

"Buatkan yang manis~" perintah Baekhyun di balik selimut.

"Aku sudah membuatnya." Ujar Chanyeol pelan, berusaha tidak kesal. Baekhyun menyingkapkan dirinya. Ia menyeringai lebar.

"Kau ini pengertian juga, ya~" Baekhyun langsung mengambil gelas yang dibawa Chanyeol dan meminumnya.

Chanyeol menyentuh kening Baekhyun. Panas. batinnya.

"Kenapa kau sering sakit, Baek?" tanya Chanyeol to the point.

Baekhyun mendelik. Ia tidak suka ditanya seperti itu. "Fisikku memang payah. Jadi, jangan banyak komentar." Jawab Baekhyun ketus.

"Yak! Aku hanya bertanya." Chanyeol membela diri. Namun ia masih punya stok pertanyaan.

"Ah, jadi apa yang kau maksud belum boleh tahu selama ini?" tanya Chanyeol penasaran.

Baekhyun menatapnya tajam. "Apa yang ingin kau tahu?" Tanya Baekhyun galak.

"Semuanya, Baek. Aku ingin mengerti kamu." jawab Chanyeol jujur. Sebenarnya ia ingin mengatakan hal lain, tapi apa boleh buat.

PRANG! Kaca kesabaran Baekhyun pecah. Ia menaruh gelasnya di atas laci. Lalu menatap Chanyeol dengan wajah datar.

"Chanyeol, kau ingin tahu semuanya?" tanya Baekhyun datar.

"Ya—ADAW!" Chanyeol terkena headshot bantal dari Baekhyun.

"MAKAN NOH BANTAL DASAR TIANG ARWAH PENASARAN!" maki Baekhyun sambil melempari Chanyeol dengan guling dan sebagainya.

Chanyeol pun mengungsi ke ruang tengah. Ia melompat, berguling, dan mengejutkan Jongin dan Kyungsoo yang sedang main ponsel.

"Hyung?" tegur Jongin pada Chanyeol yang terkapar di bawah. Kyungsoo menahan tawanya yang nyaris meledak.

"Argh, benar-benar setan." Keluh Chanyeol.

"Kenapa dengan anak buahmu itu, hyung?" tanya Jongin.

"Hap!" Chanyeol berdiri dan menepuk-nepuk celananya. "Dia melempariku dengan bantal." Jawab Chanyeol sambil membuka ponselnya. Ia lalu bergaya menelepon.

"Yeoboseyo, Chanyeol-ah?" tanya suara khas Jongwoon dari seberang sana. Rupanya ia hendak menelepon Jongwoon.

"Hyung! Kau tahu? Baekhyunnie melempariku dengan bantal!" Chanyeol mengadu.

"Hah? JHAHAHAHAH!" tawa khas Jongwoon meledak.

"Jangan tertawaaa!" pekik Chanyeol.

"HAHAH—UPH! Uhuk uhuk~ mian. Kau dilempari? Itu biasa, Chanyeol-ah. Memangnya apa yang kau katakan sebelumnya?"

"Aku ..., menanyakan apa yang sebenarnya belum boleh kuketahui selama ini. Memangnya salah?" tanya Chanyeol. Namun tidak ada jawaban.

"Hyung?" tegur Chanyeol.

"Ah ..., mian. Kalau dia bilang begitu, berarti kau belum boleh tahu. Suatu saat nanti kau akan mengetahui semua yang dia sembunyikan." Jelas Jongwoon datar.

"Haaah?" Tuut! Tuut! Tuut! Pembicaraan diputus Jongwoon.

"Astaga, apa-apaan?!" Chanyeol berseru sebal.

.

Malam terakhir karyawisata. Agenda mereka kali ini adalah menonton kembang api di pantai. Tentu saja setiap peserta karyawisata harus bersama pasangannya. Eum, sepertinya kata pasangan sedikit ambigu, hahah.

Malam ini, Baekhyun nampak bitchy dengan tank top hitam dan hotpants abu-abu. Ia begitu bangga dengan tubuhnya yang kurus, sehingga ia dengan pedenya memakai pakaian minim.

"Cewek NT, kau tidak akan kedinginan?" tanya Chanyeol yang risih. Ia tidak suka penampilan bitchy Baekhyun.

"Memangnya dingin? Pantai itu panas, bro." Baekhyun menepuk bahu Chanyeol.

Chanyeol menghela napas pasrah. Ia tampil gentle dengan celana hitam dan t-shirt abu-abu. Tak lupa dengan jaket kesayangannya yang kini diikatkan di pinggangnya.

"Hyung!" panggil Jongin. Ia datang bersama Kyungsoo tentu.

Chanyeol menoleh. "Kyungie-ya!" seru Chanyeol dengan wajah sumringah. Membuat Baekhyun mendengus kesal.

"Oi, aku yang memanggilmu!" protes Jongin.

Chanyeol terkekeh.

"Hoi, Bacon!" panggil Sehun. Ia muncul bersama Luhan, bukannya Tao.

Baekhyun menoleh ke arah Sehun. Wajahnya langsung sumringah begitu melihat Sehun datang bersama Luhan.

"SEHUNNIE! LUHANNIE!" pekik Baekhyun heboh. Ia langsung menghambur ke arah keduanya.

"Jadi kita bertiga utuh lagi? Aish, pasti lucu ya mengingat kenangan masa kecil~" Baekhyun mengoceh heboh.

"Tidak. Aku sudah bersama Luhan noona. Kau sana cari pacar dasar jomblo!" ejek Sehun.

Luhan tertawa. "Sehunna, kau kejam sekali pada si Bacon." Katanya.

"Memang harus kejam. Dia kan setan bengis berkulit manusia. Hiy~" Sehun menakut-nakuti Luhan. Namun yang bersangkutan malah semakin tertawa.

"Kau jahat, bocah!" Baekhyun berseru sebal.

"Kau juga konyol, Bacon!"

"Enak saja!"

"EHEM~" Chanyeol yang mulai gerah berdeham keras. Baekhyun menoleh.

"Biarkan Sehun bersama Luhan noona, ne? Ngomong-ngomong, mana Tao?" tanya Chanyeol pada Sehun.

"Dia sedang bersama Kris." Jawab Luhan manis.

"Oh, ya. Tao kan pacarnya." Gumam Chanyeol pelan.

"Astagaa, kau menyuruh Tao berpasangan dengan Sehunna? Pantas saja Tao mengeluh terus padaku." Luhan tertawa lepas.

"Aku bisa habis dikubur sunbae es itu kalau mengganggu si cewek gila!" omel Sehun.

Baekhyun tertawa. Chanyeol hanya tersenyum kikuk.

Seketika Baekhyun teringat sesuatu. "Lulu, dimana Joonmyeon oppa?" tanya Baekhyun.

"Dia ..., menjomblo." Jawab Luhan dengan cengiran jahat.

Di tempat lain ...

Joonmyeon sedang menggalau sendirian. Gebetannya tidak ikut karyawisata karena bukan pengurus OSIS. Jadi, apa boleh buat.

"Haah~" Ia menghela napas.

"Hyung!" Sebuah suara cempreng mengagetkan Joonmyeon. Ia celingak-celinguk mencari sumber suara. Tatapannya terhenti pada makhluk pendek berdagu kotak bernama Kim Jongdae.

"Kenapa, Jongdae?" tanya Joonmyeon.

"Kau menjomblo saja? Tidak mengajak Yixing noona?" Jongdae langsung menyambar Joonmyeon dengan pertanyaan yang nyelekit.

Jleb.

"Ahahah~ Yixing bukan pengurus OSIS, sih. Dia juga bukan gebetanku, kok~" jawab Joonmyeon yang berbohong sambil terkekeh.

"Kau bohong, hyung. Semua orang tahu kisah ketua OSIS anggota klub vokal yang mengejar gadis klub musik yang jago dance. Siapa lagi gadis yang dimaksud kalau bukan Yixing noona?" oceh Jongdae.

Joonmyeon tersenyum. "Kau ini bisa saja. Lalu mana Xiumin? Kau tidak mengajaknya?" tanya Joonmyeon.

Jongdae meringis. "Aaah~ Hyung kan tahu sendiri kalau dia tidak ikut. Padahal Xiumin noona kan pengurus OSIS."

Joonmyeon menyeringai. Rupanya ia baru saja balas dendam. "Dia yang tidak mau. Padahal pengurus OSIS dari kelas 3 sudah diberi anggaran oleh sekolah untuk menjaga ketertiban karyawisata."

Dan mereka pun melanjutkan obrolan mereka.

.

*sfx fireworks*

"Cewek NT, kau sudah puas dengan kembang api yang lebih baik?" tanya Chanyeol dengan senyuman.

Baekhyun menyeringai lebar. "Jauh lebih puas." Jawabnya riang. Ia kembali fokus pada kembang api yang meluncur.

Chanyeol berdeham. Ia terlihat ingin mengatakan sesuatu.

"Baekhyun," ucapnya.

"Yeap?" Baekhyun menoleh.

"Eum," Chanyeol membuang muka.

"Kenapa?" tanya Baekhyun.

Chanyeol menggigit bibir bawahnya. "Euh, aku bingung harus mulai dari mana." Chanyeol berkata jujur.

Baekhyun tertawa kecil. "Ada apa, Chanyeol? Kau ingin menanyakan itu lagi?" tanya Baekhyun dengan nada agak sinis.

"Bukan!" sanggah Chanyeol.

"Lantas?" tanya Baekhyun langsung. Ia agaknya mulai tidak sabar.

"Aku suka kamu." Tandas Chanyeol dengan wajah serius.

Baekhyun terdiam. Ia berusaha mencerna perkataan Chanyeol.

"Aku suka kamu." Chanyeol mengulangi perkataannya.

Baekhyun masih diam.

"Kau cukup tangguh melawan Jinri dan kawanannya."

Masih belum ada jawaban.

"Saat kita berpasangan di pelajaran matematika, kuakui kau adalah orang yang aktif."

Baekhyun nampak ingin berkata-kata.

"Kau membuatku merasa harus melindungi sesuatu, Baek."

"..."

"Dan aku suka itu."

"Cukup." Baekhyun menghentikan pernyataan Chanyeol dengan suara bergetar. Chanyeol menatapnya bingung. Namun ia baru menyadari mata Baekhyun yang berkaca-kaca.

"Kenapa, Baek?" tanya Chanyeol sambil mengusap air mata Baekhyun yang nyaris jatuh.

"Aku ..., takut." Baekhyun menundukkan kepalanya.

TBC!

A/n:

ASTAGAH! Akhirnya chap 2 berhasil kelar juga setelah diketik ekstra-ngebut. Aduh, sebenarnya ending chap ini idenya dadakan banget. Malah ada ide yang nggak kepake di chapnya, tapi bakal aku jadiin omake deh, hahahah~ *ketawa jahat*

Jeongmal mianhae karena chap ini kubuat sangat-sangat-sangat dadakan. Jadi nggak sempat di check ulang, apalagi diedit.

Aku yakin pake banget, kalo karakter Jongwoon alias Yesung bakal menjadi karakter yang ..., gila banget menurut readers sekalian. Hahah, pede banget xD

ChanBaek moment-nya udah banyak belom? Belom ya? Hahah, aku kan nggak jago bikin romance-_-

Apa lagi ya?

Ya sudahlah. Akhir kata, kamsahamnida untuk para reader yang mau membaca dan mengikuti fanfic gaje ini.

.

OMAKE

"HAHAHAH! Ganteng-ganteng jomblo dia!" Baekhyun tertawa lepas akibat pernyataan Luhan yang mengatakan bahwa Joonmyeon sedang menjomblo.

"Berkacalah, Bacon!" ejek Sehun.

"WOI! Aku ini single bahagia, you know?!" protes Baekhyun.

"Eum, Sehunna, perhatikan baik-baik." Kata Luhan pada Sehun.

"Ya, kenapa noona?" tanya Sehun dengan nada polos. Membuat Baekhyun ingin muntah.

"Tank top Baekhyun dan celana Chanyeol memiliki warna yang sama. Begitu pula hotpants Baekhyun dan kaus Chanyeol. Apa menurutmu mereka benar-benar jomblo?" tanya Luhan dengan senyum manisnya.

BLUSH! Baekhyun dan Chanyeol blushing di tempat.

Sehun terkekeh. "Noona benar. Mereka pasti berpacaran." Sehun menjawab.

"ENAK SAJA!" Baekhyun meletus dengan wajah yang merah padam. Membuat Sehun tak kuasa menahan tawa. Begitu pula Luhan yang kini tertawa puas.

"Chanyeol, pinjam jaket!" perintah Baekhyun galak.

"Loh, kenapa harus jaketku?" Chanyeol memprotes.

"Protes ditolak. Pinjam jaketmu!" Baekhyun berseru galak.

"Siapa yang menyuruhmu pakai baju seperti itu?"

"POKOKNYA PINJAAAM!"

.

Mind to review?