Warn: Alur semakin gaje. Diharap tekan tombol back.
.
.
.
.
.
.
Jongwoon menopang dagunya dengan tangan. Wajahnya terlihat mengantuk dan lemas. Tatapannya tertuju pada teman-temannya yang sedang memainkan alat-alat musiknya (baca: milik Baekhyun).
Kini ia sedang kedatangan teman-teman SMA-nya. Mereka mengadakan reuni bulanan dan kali ini jadwalnya di rumah Jongwoon (baca: rumah Baekhyun).
BLETAK!
"Adaw!" Jongwoon mengaduh sambil memegangi kepalanya yang baru digetok oleh tinju Baekhyun.
"Kalau kau tidak enak badan, lebih baik kau tidur saja." Baekhyun menegur. Jongwoon hanya merengut.
"Kau juga tidak bisa apa-apa, kan, kalau lagi flu begini." Lanjut Baekhyun. Jongwoon berdecak.
"Sampai kau semakin drop aku tidak bisa mengurusmu, loh."
"Berisik." Jongwoon akhirnya buka mulut.
"Yak! Terkutuk kau, dokter sialan! Aku sedang berbaik hati, loh!" Baekhyun naik pitam.
"Kau sama sekali tidak membantu!" Jongwoon ikut naik pitam.
"Wah, Jongwoon, sepupumu sama temperamennya denganmu, ya~" Salah satu teman Jongwoon mencubit gemas pipi Baekhyun.
"Aw, appooo~" Baekhyun menyingkirkan tangan yang mencubit pipinya itu.
"Hahaha, dia imut sekali seperti adikmu Sehun itu!" teman Jongwoon yang lain berkomentar.
"Udah ah, aku capek diginiin! Aku mau pipis aja!" Baekhyun bertingkah persis seperti bocah berusia 3 tahun dan langsung pergi. Teman-teman Jongwoon tertawa.
.
Jongwoon menaiki tangga menuju lantai dua setelah melepas tamu-tamunya. Ia merasa flunya semakin parah, karena ia mulai merasa pusing. Namun ia harus menemui Baekhyun dulu untuk meminta maaf.
Jongwoon juga punya rasa bersalah ternyata.
Lupakan.
Jongwoon mengumpulkan seluruh nyalinya untuk menyentuh gagang pintu kamar Baekhyun. Hingga akhirnya pintu kamar Baekhyun pun terbuka.
"Baekkie-ah?" Jongwoon celingukan.
Jongwoon mendengar suara air dari kamar mandi Baekhyun. Apa mungkin Baekhyun masih pipis kali, ya? Pikirnya. Ia pun memutuskan untuk menunggu Baekhyun di kasur.
Namun Baekhyun tak kunjung keluar hingga Jongwoon malah menjadi kesal. Jongwoon tak habis pikir. Baekhyun dulu sering begini ketika marah padanya. Dan Baekhyun hanya diam saja di kamar mandi, katanya.
"Argh, Baekhyun! Aku minta maaf!" Jongwoon langsung bangkit dan bergerak menuju kamar mandi. Ia membuka pintu dan menemukan sosok yang terbujur lemas di pojok kamar mandi dengan darah segar yang mengalir dari hidung hingga menodai baju yang dipakai.
"BAEKHYUN!"
.
"Appa pulang~" seru seorang om-om tampan yang membuka pintu rumah Chanyeol.
"Appaa~" Bukannya Chanyeol atau Yoora yang menyambut kedatangan sang dokter, malah Yuri yang menyambutnya.
"Yuri-ah, kau ini. Berbagilah dengan Yoora dan Chanyeol." Siwon mencubit pipi Yuri.
"Aish, kau jahat!" Yuri menggembungkan pipinya. Siwon terkekeh.
"Appa!" Yoora berseru. Chanyeol menunjukkan wajah cerianya.
"Anak-anak appa!" Siwon membuka 'lowongan' pelukan yang langsung disambut oleh kedua permata tercintanya.
"Appa kenapa kerja lagi? Appa kan sedang cuti!" tanya Yoora dengan wajah kecewa.
"Maafkan appa, Yoora-ah." Siwon mengecup kening putri sulungnya. "Tadi pasien lama appa jantungnya kambuh setelah sekian lama. Kau dan Chanyeol masih ingat pasien appa dulu yang appa panggil Bee?" tanya Siwon.
Chanyeol mengangguk. "Ya. Memangnya Bee belum sembuh?" tanyanya. Bee adalah panggilan dari Siwon untuk pasien anak perempuan yang sangat disayanginya.
Siwon tersenyum agak sedih. "Belum. Untuk melakukan operasinya jantungnya saja butuh keinginan dari Bee sendiri. Sepupunya saja bilang kalau semangat hidupnya sedikit meredup." Jelas Siwon.
Chanyeol dan Yoora pasang wajah kecewa. "Astaga, memangnya kenapa Bee sampai down seperti itu?" Yoora melontarkan pertanyaan.
"Faktor orang tuanya. Bahkan appa tidak mengerti kenapa orang tua Bee tidak terlalu mengkhawatirkan anaknya."
Chanyeol mengepalkan tangan. "Appa, aku ingin menyemangati Bee supaya tetap hidup." Chanyeol berkata mantap.
Siwon tersenyum bangga pada putra bungsunya. Ia mengelus kepala Chanyeol. "Suatu saat nanti kau akan appa pertemukan dengan Bee, nak. Bee itu sudah appa anggap seperti adikmu, Chanyeol-ah. Jadi kuharap kau benar-benar akan menyemangatinya."
.
Chanyeol mengernyitkan keningnya, berusaha untuk berpikir jernih.
"Kalau kau terus memikirkannya, kau tidak akan bisa mengerjakan soal matematika itu meskipun kau anak matematika banget," Jongdae meracau sambil meregangkan badannya.
"Aku tidak memikirkan budak itu!" Chanyeol berseru kesal.
"Loh, memangnya kau tahu siapa yang kumaksud?" Jongdae menyeringai usil.
"Argh, siapa coba yang kamu maksud?" Chanyeol malah semakin kesal.
"Baekhyun. Kan sudah dibilang, Baekhyun sakit. Jadi kau tunggu dia sembuh saja."
"Sudah kubilang aku tidak memikirkannya!" Chanyeol mengacungkan tinjunya.
"Eh, eh, bercandaa, bercandaa~" Jongdae memohon ampun.
.
Pagi ini, Baekhyun datang ke sekolah dengan riang.
Bagaimana tidak? Tadi pagi, tiba-tiba saja Chanyeol sudah ada di depan rumahnya dengan membawa motor kesayangannya. Baekhyun memekik girang, hingga Jongwoon yang belum berangkat langsung terbirit-birit menghampiri sepupunya.
Alhasil setelah diceramahi panjang kali lebar kali tinggi, Baekhyun harus memakai sweater serta syalnya sebagai syarat naik motor.
Chanyeol melihat kebahagiaan tersirat dalam tingkah laku Baekhyun pagi ini. Ia tersenyum. Nampaknya Baekhyun benar-benar memiliki semangat hari ini.
Jongwoon hyung, coba saja kau lihat Baekhyun sekarang. Pasti kau tidak akan meragukanku jika suatu saat nanti aku melamarnya. Chanyeol berpikir kepedean sambil senyum-senyum sendiri.
Park Chanyeol, kau ini terlalu percaya diri, ya?
BRUK! Baekhyun terjerembab dan membuat Chanyeol terkejut. Ia langsung menghampiri Baekhyun yang kini merintih kesakitan.
"Baek, gwaenchana?" tanya Chanyeol khawatir. Ia semakin terkejut melihat wajah Baekhyun yang sedikit pucat.
"G-gwaenchana." Jawab Baekhyun yang langsung tersenyum. "Mood-ku sedang bagus hari ini, jadi aku tidak mungkin marah hanya karena tersandung kakiku sendiri hehe~" Baekhyun cengengesan.
Chanyeol mengembuskan napas lega. Ia pun membantu Baekhyun berdiri. Lalu, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju kelas.
Namun, ada sebuah kecelakaan ketika mereka memasuki kelas.
BRUK! Kini Chanyeol yang terjerembab ke lantai. Pelakunya tak lain dan tak bukan adalah Choi Jinri dan kawan-kawannya yang berniat menjegal Baekhyun. Komplotan menor itu terkejut bukan main melihat siapa yang terjatuh.
"HAHAHAHA!" Baekhyun tertawa terpingkal-pingkal melihat Chanyeol yang terjatuh.
Chanyeol menggeram. Ia bangkit, lalu menengok kesana kemari dengan tatapan galak untuk mencari tahu pelakunya.
"Sudahlah, Chanyeol—HAHAHAH!" Baekhyun menepuk punggung Chanyeol. Chanyeol pun luluh, meskipun sebenarnya kesal juga.
"Selamat datang Tuan Putri Baekhyun~" sambut Daehyun yang tiba-tiba muncul di depan meja Baekhyun dan Kyungsoo. Baekhyun ilfeel seketika. Apalagi Chanyeol yang rasanya ingin mengenalkan sol sepatunya pada wajah Daehyun.
"Kau ngapain, Daehyun?" tanya Baekhyun.
"Menunggumu datang." Daehyun tersenyum riang.
Chanyeol mendecih. Rasanya ia ingin membuang Daehyun jauh-jauh.
Baekhyun tertawa. "Ooh."
Daehyun menarik kursi entah darimana, lalu duduk di hadapan Baekhyun. "Ngomong-ngomong kau tumben sekali memakai sweater dan syal. Apa kau sakit?" tanya Daehyun ramah.
Baekhyun mengerucutkan bibirnya. "Tidak. Aku disuruh oppa-ku. Dia kan dokter. Mungkin saja dia tahu yang terbaik untukku." Baekhyun berkata dengan nada yang dibuat jengkel.
"Oooh. Ngomong-ngomong kau anggota klub apa?"
Baekhyun memiringkan kepalanya bingung. "Klub?"
"Ya, klub. Maksudnya kegiatan pengembangan diri." Daehyun menjelaskan secara ringkas.
Baekhyun mengangguk tanda paham. "Aku belum memilih klub apapun." Jawab Baekhyun polos.
Kini Daehyun yang dibuat sweatdrop.
Chanyeol yang sudah gerah sejak tadi lalu ikut berbincang. "Kau jangan masuk klub olahraga atau vokal, ya." Chanyeol memberi saran.
"Oi, kenapa aku tidak boleh masuk klub vokal?" protes Baekhyun.
"Ya, dia kan punya haknya sendiri!" dukung Daehyun.
"Kau akan menjadi sesat bila bergabung dengan klub vokal, percayalah." Chanyeol mencoba meyakinkan Baekhyun.
"Lantas kenapa ia tidak boleh mengikuti klub olahraga? Baekhyunnie kan punya hak untuk mengembangkan dirinya sendiri!" tanya Daehyun.
Baekhyun agak sedikit tersinggung. "Aku tidak mungkin mengikuti klub olahraga. Lagipula pasti oppa-ku akan mengamuk bila tahu aku menjadi anggota klub basket atau sejenisnya!" tuturnya kesal.
Chanyeol merasa tertampar hingga ke inti bumi ketika pikirannya menyimpulkan 'Baekhyun-tidak-bisa-ikut-klub-basket'.
"Aku akan mengikuti klub vokal atau musik. Sepertinya hanya dua itu saja yang cocok denganku." Jawab Baekhyun singkat.
"Kubilang jangan vokal!" seru Chanyeol kesal.
"Suka-suka aku, lah~" Baekhyun memeletkan lidah. Chanyeol mendecih.
.
Ketika pulang sekolah, mereka pun tertambat di ruang latihan vokal. Daehyun mengajari beberapa teknik bernyanyi, dan Baekhyun mengikuti semua yang dikatakan Daehyun dengan baik. Chanyeol yang hanya menonton merasa menjadi nyamuk. Padahal ialah yang 'ditugaskan' untuk melindungi Baekhyun.
"Nah, Baek, aku suka gaya menyanyimu yang liar. Kau cukup baik sebagai pemula. Good!" Daehyun memberi dua jempol pada Baekhyun sambil menyeringai lebar. Baekhyun tertawa senang.
"Ada pertanyaan, Nona Byun?" tanya Daehyun.
"Hmm." Baekhyun berpikir. "Ah, apa hanya kita berdua saja yang latihan hari ini?" tanya Baekhyun.
Daehyun menyeringai. "Sebenarnya hari ini klub libur latihan karena Joonmyeon hyung sibuk. Selain itu, Kyungsoo dan Jongdae juga anggota klub ini, kok!" jelas Daehyun rinci.
"Aah, begitu, ya." Baekhyun manggut-manggut. Membuat Chanyeol semakin gerah.
Tiba-tiba saja raut wajah Baekhyun menegang. Ia menggigit bibir bawahnya.
"Kau kenapa, Baek?" tanya Daehyun agak heran.
Baekhyun tersenyum paksa sambil bangkit. "A-aku mau ke toilet sebentar." Baekhyun membalikkan badannya, berjalan sedikit tertatih, lalu terjatuh. Daehyun dengan sigap menangkap Baekhyun.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Daehyun. Baekhyun membesarkan mata.
"Ya." Jawabnya.
"Ehem." Chanyeol berdeham. Ia semakin gerah saja. "Aku tidak enak badan. Aku duluan, ya, Baek!" Chanyeol langsung berjalan cepat keluar ruangan.
"TUNGGU!" Baekhyun langsung mengambil tasnya dan berlari mengejar Chanyeol. Meninggalkan Daehyun yang hanya melongo.
.
"Hoi, Yoda, tunggu!" seru Baekhyun yang mengejar Chanyeol. Ia lalu melompat ke pundak Chanyeol begitu sudah dekat dan ...
BRUK! Baekhyun terjatuh bersama Chanyeol yang berperan sebagai alas.
"Aw," Chanyeol mendesah pelan. Tiba-tiba saja sebuah tangan mungil yang lentik menyentuh keningnya.
"Tidak panas, tuh!" kata suara manusia penindihnya dengan polos. Chanyeol blushing.
"Tapi aku ingin pulang cepat!" seru Chanyeol dengan nada kesal.
"Pasti karena aku kelamaan, hehe~" Baekhyun menampakkan cengirannya di hadapan Chanyeol.
Chanyeol terkejut.
Wajah itu ..., pucat sekali ...
"Baek, neo gwaenchana?" tanya Chanyeol dengan nada rendah.
Baekhyun memanyunkan bibirnya. "Kenapa semua orang selalu bertanya seperti itu, sih? Apalagi si Jongwoon oppa, tuh!" gerutunya kesal.
Chanyeol menghela napas. "Baiklah, maaf. Ayo kita pulang." Chanyeol bangkit, lalu menggamit lengan Baekhyun. Mereka pun berjalan ke luar sekolah.
GROMPYANG! Tong sampah di sebelah gerbang tertabrak siswa yang baru dihajar sampai mental. Chanyeol dan Baekhyun terkejut.
"Sehun!" Baekhyun berseru panik dan membantu sepupunya berdiri. Sehun mendecih. Dari wajahnya, ia terlihat kesal.
"DARK AL! KELUARLAH!" seru Chanyeol dengan suaranya yang menggelegar. Beberapa kawanan berandal pun keluar dari tempat persembunyiannya.
"Leadernya keluar juga." Kata seorang yang berambut punk.
"Apa maksudmu menghajar anak itu?" tanya Chanyeol dengan nada rendah.
"Dia anak buahmu, booodoh!" seorang bertindik menjulurkan lidahnya.
"Hajar." Kata seorang yang memiliki senyum licik. Segerombolan itu langsung menyerbu Chanyeol.
Chanyeol menangkis sebagian besar serangan berandal itu dengan tendangan serta pukulan asal jadinya. Namun pukulan dari belakang Chanyeol tak mungkin dihindari.
DUAK!
Tidak. Chanyeol selamat.
Baekhyunlah pelaku pemukulan tersebut. Orang yang hendak memukul Chanyeol itu dipukul telak di dagu oleh Baekhyun.
"Berhenti mengganggu." Desis Baekhyun.
Tawuran terus berlanjut. Sambil tawuran menggunakan insting, Chanyeol memperhatikan Baekhyun. Wajah yang tadinya pucat itu terlihat sedikit lebih segar, bahkan sumringah seperti tadi pagi. Seringaian lebar menghiasi wajahnya yang tirus.
Namun, tiba-tiba saja darah segar mengalir dari hidung Baekhyun. Wajahnya menegang dan memucat seketika. Baekhyun pun ambruk di tempat.
"BAEKHYUN!" Sehun berseru panik, lalu melompat ke tempat Baekhyun dan menopang tubuh kurus Baekhyun. Wajahnya ikut panik.
Chanyeol merasa kesal karena sudah diserobot dua orang dalam sehari. Namun rasa khawatir dan bingung akan Baekhyun jauh lebih menguasai pikirannya.
"Park Chanyeol." Sehun berucap datar.
Chanyeol yang juga panik langsung kalap. "Oi! Mana sopan san—"
"Situasinya gawat." Sehun berucap pelan. Chanyeol tidak jadi membantah. Apalagi melihat wajah Sehun yang mengeras.
"Oh Jongwoon." Geram Sehun.
.
Atas perintah Sehun, Chanyeol membawa Baekhyun hingga kamarnya. Chanyeol menidurkan Baekhyun di ranjang, lalu menyelimutinya.
"OH JONGWOON!" Sehun berteriak. Padahal ini adalah rumah Baekhyun.
"Hah? Sudah kupanggil dokter Park, Sehun-ah! Kenapa lagi?" terdengar suara Jongwoon.
"Apa kau yakin Baekhyun sudah benar-benar sembuh?"
"Haah? Apa-ap—OI! Dengarkan aku!"
"Ini menyangkut jantung orang, hyung."
Chanyeol terkejut bukan main. Jantung?
"Kau bahkan be—"
"Hyung! Jelaskan pa—"
"OH SEHUN!" terdengar lengkingan suara serak khas Jongwoon.
"..."
"Panggil Chanyeol-ah. Aku harus berbicara dengan kalian berdua."
.
Jongwoon memainkan jarinya. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Nyaris mirip dengan adiknya, Sehun. Sehun menggigit bibir bawahnya dengan wajah pucat.
Jongwoon menghela napas, lalu angkat bicara. "Maaf aku menyembunyikan banyak hal dari kalian. Apalagi kau yang tidak tahu apa-apa, Chanyeol. Tapi kurasa sudah waktunya aku menceritakan apa yang selama ini kusembunyikan tentang Baekhyun pada kalian."
.
Byun Baekhyun. Seorang bocah berusia 6 tahun dengan tubuh yang begitu mungil serta paras yang cantik. Sebelumnya, ia nyaris tidak pernah keluar dari rumah sakit karena kelainan pada jantungnya sejak lahir.
Kini ia bebas. Di usianya yang sekarang, seorang Byun Baekhyun baru dapat merasakan sebuah kehidupan yang sesungguhnya.
"Sehuuunn~" pekiknya begitu melihat anak laki-laki yang berjalan menuju rumahnya bersama seorang remaja yang cukup tinggi.
Anak itu menoleh. Ia menyeringai, lalu menarik-narik tangan kakaknya. "Hyung! Aku mau main sama Baekhyun noona, dong!" pintanya manja.
Remaja itu menyeringai lebar. "Jangan. Kalau kau bermain dengannya, kau akan dicelupkan ke dalam lubang kloset!" serunya.
"YAK! JONGWOON OPPA JAHAT!" Baekhyun murka. Ia melompat dan memukul si remaja itu.
Jongwoon tertawa geli meskipun ia dipukuli."Kau tidak cantik kalau kau galak seperti ini, Baekkie-ah."
Baekhyun mengerucutkan bibirnya. "Habisnya oppa tega sih sama aku. Masa aku nggak boleh main sama Sehun, sih?" gerutunya.
Jongwoon mengacak rambut Baekhyun. "Aku takut kalian sakit. Makanya kalian lebih baik membaca buku saja~" ucapnya santai.
"Yak! Enak saja! Kata appa aku sudah sembuh!" Baekhyun berseru.
"Baiklah. Kalau kalian kenapa-napa, dokter Jongwoon yang akan menyembuhkan kalian!" Jongwoon membusungkan dada.
"MIMPI!" Baekhyun memeletkan lidah.
"Ebuset ini an—"
"Sehunna! Baekhyunna!" seru seorang anak perempuan yang sangat cantik. Dia baru keluar dari rumahnya yang persis di sebelah kiri rumah Baekhyun.
"Luhan eonnie!" Baekhyun memekik girang. Ia langsung berlari dan menghambur ke anak itu.
"Baekhyun!" Luhan membalas pelukan Baekhyun.
"JEHAHAHAH!"Jongwoon tiba-tiba saja tertawa. Membuat adegan 'mengharukan' antara Baekhyun dan Luhan terputus.
"Waeyo? Kau merusak momen kami!"Baekhyun mengomel.
"Kalian …, kalian …, BHAHAHAHAH!" Jongwoon kembali tergelak.
.
"Sekarang Baekhyun versus Sehun!" Luhan mengambil alih komando.
Baekhyun dan Sehun kini berhadap-hadapan. Baekhyun pasang ekspresi menantang, sedangkan Sehuntetap pada pokerfacenya.
"Sijak!" Luhan memberi aba-aba. Baekhyun dan Sehun lalu mulai adu jotos.
.
"Lulu, nanti kau ingin jadi apa?" tanya Baekhyun polos.
"Aku ingin jadi suami Sehun!" Luhan berseru dengan lebih polosnya.
"Wah, pasti Luhan jadi suami yang baik! Tapi kenapa Sehun? Sehun kan bodoh." Oceh Baekhyun.
"Sehun memang bodoh, tapi kan aku pintar, hehe~" Luhan terkekeh. "Baekhyun mau jadi suaminya Jongwoon oppa?" celetuk Luhan tiba-tiba.
"NO!" tolak Baekhyun mentah-mentah. "Jongwoon oppa lebih baik menikah dengan tembok!"
Jongwoon yang kebetulan lewat langsung terhenti. "Apa maksudmu aku menikah dengan tembok?" tanya Jongwoon.
"Ya, kau pantas menikah dengan tembok karena wajahmu mirip pohon!" tandas Baekhyun dengan polos dan tegas.
Jongwoon menyabarkan dirinya. "Memangnya kau mau menikah dengan siapa, Luhan?" tanya Jongwoon tanpa memedulikan Baekhyun.
"Aku ingin menjadi suami Sehun! Pasti aku dan Sehun akan punya anak yang tampan dan cantik." Jawab Luhan dengan wajah cerah.
Jongwoon menganga. Ia merasa ada yang janggal. "Suami?"
Luhan mengangguk cepat. "Iya, suami!" serunya yakin. Jongwoon berpikir keras.
"Suami ..., suami ..., suami ...,"
Jongwoon terus berpikir keras.
"Suami ..., suami ..., suami ...,"
"Istri." Gumamnya begitu menyadari kejanggalannya. Jongwoon pun sweatdrop.
.
"Appa~" Baekhyun bergelantungan pada paha Donghae. Donghae melihat ke arah putrinya.
"Kenapa sayang?" tanya Donghae sambil membelai rambut halus Baekhyun.
"Aku mau jalan-jalan." Baekhyun beraegyo sedemikian rupa.
Donghae terkekeh. "Appa sibuk, sayang. Bagaimana kalau besok besok saja? Atau besoknya lagi, ketika appa tidak sibuk bekerja. Kau mau?" tawar Donghae.
"Aah, appa selalu saja bekerja!" Baekhyun berseru kesal. Ia lalu beralih pada Eunhyuk.
"Eomma, aku mau jalan-jalan~" Baekhyun merengek pada Eunhyuk.
Eunhyuk tersenyum, lalu mengecup putrinya lembut. "Eomma juga harus bekerja hari ini, sayang. Lebih baik kau ajak Sehun dan Luhan bermain saja. Paii~" Eunhyuk meninggalkan Baekhyun.
Baekhyun hanya dapat diam. Ia merasa sesuatu dicabut dari hidupnya.
.
"Hunnie-ah, aku masih di sini. Kau harus sabar." Baekhyun memeluk tubuh ringkih sepupunya yang terisak. Kini mereka menghadiri acara pemakaman ibu Sehun.
"Hyung ..., huweee~" Sehun kembali menangis.
"Si Jongwoon itu pasti akan kembali, kok. Dia kan berjanji akan menjadi dokter yang menangani kita." Baekhyun berusaha membesarkan hati sepupunya itu.
"Tapi ..., hyung ingin menangani eomma ..., tapi ..., tapi ..., eomma sudah tidak ada noona ...," Sehun berkata terbata.
"Jangan begitu. Eomma-mu pasti ingin Jongwoon mengobati kita suatu saat nanti. Yah, setidaknya kau tidak terus menerus ditinggal orang tuamu bekerja." Baekhyun membayangkan nasibnya selama ini.
"Eomma ..., hyung ...," Sehun terus meratapi kepergian ibu dan kakaknya.
"Sudahlah, Hunnie. Kita akan saling menjaga." Baekhyun memeluk sepupunya sepenuh hati.
Keheningan tercipta sementara. Hingga Baekhyun melepas pelukannya.
"Ayo kita cari Luhan! Kita main saja, jangan di sini. Di sini suasananya panas, seperti di kompor." Ajak Baekhyun.
Mereka lalu menemukan Luhan di tengah kerumunan.
"LUHAN!" panggil Baekhyun ceria. Namun tiba-tiba saja Luhan menghilang. Baekhyun mengerutkan keningnya. Ia lalu menarik lengan Sehun dan mengejar gadis yang mereka pikir Luhan.
Hingga akhirnya mereka berhasil menahan Luhan tepat ketika mereka sampai di depan rumah Luhan.
"Luluuu! Ayo kita maiiinn~~" Baekhyun menarik-narik lengan Luhan.
"..." Luhan menggigit bibir.
Baekhyun dan Sehun melihat hal yang berbeda dari Luhan.
"Kau kenapa, Luhan?" tanya Baekhyun.
"Mianhaeyo, Baekkie, Sehunnie." Luhan tiba-tiba meminta maaf.
Baekhyun dan Sehun hanya pasang wajah heran.
"Kau tidak salah apa-apa. Kita main saja, yuk!" ajak Baekhyun ceria.
"Aku ..., hari ini ..., ke Beijing," Luhan berkata terbata.
"Kau akan berlibur? Jinjja? Kau harus membawakanku banyak barang!" Baekhyun berseru sumringah. Sehun pun memasang wajah sumringah, melupakan kesedihannya tadi.
"Eh," Baekhyun menyadari sesuatu. "Tapi kenapa kau terlihat sedih?" tanyanya.
Luhan tiba-tiba saja menangis.
"Jeongmal mianhae Sehunnie, Baekhyunnie. Aku akan pindah ke Beijing hari ini." Luhan berkata di sela tangisannya.
Kini Baekhyun dan Sehun terdiam.
.
"EDSA memang keren." Sehun berkomentar. Ia lalu menendang siswa SMA yang menghampirinya.
"Beruntung aku disayang Onew oppa." Baekhyun menyeringai sambil menghajar gerombolan siswa.
"Berantem lebih baik daripada lelah ditinggal orang."
"HAHAH! Tinggalkan saja terus sampai ikan ngejar kucing!"
BRUK! Tiba-tiba saja Baekhyun ambruk dengan darah mengalir di hidungnya.
.
"Ia harus di operasi kurang dari 5 tahun lagi. Jika tidak, ia akan meninggal atau penyakitnya akan menjadi permanen. Sayang sekali rumah sakit ini tidak memiliki teknologi terbaik untuk menangani Bee. Akan kubuat rujukan untuk rumah sakit di Amerika." Dokter Park memberi penjelasan.
"Jangan dulu, sunbae. Persiapan mentalnya belum kupastikan." Jongwoon menangguhkan saran dokter senior tersebut.
Dokter Park tersenyum. "Nah, kau tahu apa saja yang harus kau lakukan, kan? Cepat kau tanyakan pada Bee."
"Kalau dia menolak?"
"Akan kuusahakan pengobatan biasa untuk membuatnya bertahan sedikit."
"..."
"Jongwoon?"
"Ya, sunbae?"
"Menurutku ia takkan bertahan lama dengan cara pengobatan non-operasi. Aku yakin ia harus di operasi nanti. Untuk memperbesar peluang berhasilnya, orang-orang di sekitarnya harus memberinya semangat untuk hidup. Ia harus memiliki harapan yang besar. Kondisinya pun harus tetap tenang. Dengan begitu, semua akan berjalan lancar."
.
"No! Aku tidak akan mau operasi!" tolak Baekhyun mentah-mentah.
"Tapi kau tidak akan sembuh, Baek." Jongwoon terus membujuk Baekhyun.
"Sekali tidak, tetap tidak. Kau bahkan belum sekolah profesi."
.
Sesuai dugaan dokter Park, Baekhyun tak tahan dengan semua tekanan yang didapatnya sehingga ia hanya bertahan dengan seluruh cara itu selama satu tahun kurang. Ia lalu dibawa ke Amerika untuk persiapan operasi.
.
"Hi, my name is Byun Baekhyun. I'm from South Korea." Baekhyun memperkenalkan dirinya di depan kelas.
.
"Such great ...," Siswa tinggi tampan mengagumi skill bertarung Baekhyun. Ya, pagi ini Baekhyun menghajar preman-preman sekolah yang menggodanya.
Baekhyun tersenyum. "I'm not bad."
"Give me ya name!"
"Give me first!"
"Jason Callister."
"Baekhyun. Byun Baekhyun."
Jason menepuk pundak Baekhyun. "Recruiting a good fighter. Mind to follow me?" tawar Jason.
Baekhyun langsung mengangguk. "Literally kinda big pleasure to."
.
Kini Baekhyun adalah anggota kelompok Gravester. Kesehariannya tidak lepas dari acara berantem. Karena ini Amerika, tawuran pun tidak pernah lepas dari senjata.
Hingga pada suatu saat ...
Baekhyun berjalan riang menuju basecamp Gravester, sebuah rumah di pinggiran Tennessee. Ia hendak mengajak Jason bermain pagi ini.
PSSSH! DUK! Terdengar suara pelontar kentang. Baekhyun tertegun. Ia langsung memutari basecamp dan menemukan Jason yang tengah bertarung satu lawan banyak.
"Jason!" teriak Baekhyun. Baekhyun langsung menghajar beberapa lawan yang mengepung Jason.
"Baekhyun!" Jason berseru sambil memompa pelontar kentang. Sesekali ia menggunakan benda sejenis pistol itu untuk menghajar lawan yang mendekatinya.
"Jason what have just happened?" Baekhyun berseru sambil terus menghajar lawan yang mulai melawannya.
"Kinda silly thing, but nothing," Jason menjawab sambil menendang.
"F**king nothing," Baekhyun berkata sarkas.
"F**king yes, they attacked our camp. Literally, this f**king potato launcher save my life. Thankful," ungkap Jason.
BRUK!
.
"Oppa, kenapa harus aku yang begini? Kenapa?" Baekhyun menangis. Ia terus mengeluh pada Jongwoon yang kini sedang mengenyam pendidikan spesialis syaraf.
Jongwoon menatap ke luar, memandangi kota Tennessee yang tengah berselimut salju. Ia menghela napas panjang. Rasanya pahit sekali menghadapi kenyataan yang ada.
"Baekhyun," Jongwoon berujar dalam. Baekhyun masih menangis dengan wajah berantakan.
"Aku tahu ini bukan kenyataan yang ingin kau hadapi." Jongwoon bertutur perlahan. Keadaan memaksanya untuk menjadi pemuda yang bijak dalam berkata maupun berbuat.
"Kita terjerembab di lubang cobaan yang tidak kita inginkan, dan bahkan tidak kita ketahui gambaran rintangannya sedikitpun. Kau harus bersyukur karena sanggup bertahan sampai sejauh ini. Tuhan masih menyayangimu, Baek. Percayalah."
.
"Hatsyu~" Jongwoon bersin, lalu menggosokkan telunjuknya di bawah hidung.
"Astaga, aku pasti masuk angin," ia berkata pelan. Ia pun kembali berjalan menuju kamar Baekhyun. Namun, ia mendapati kasur Baekhyun yang kosong.
"Biasa." Gumamnya.
Ia lalu berjalan menuju atap karena menurutnya Baekhyun ada di sana. Belakangan ini sepupunya itu memang senang ke atap untuk melihat dunia luar.
Katanya, sih. Jongwoon tidak percaya.
Namun kali ini, Jongwoon menemui kaki Baekhyun yang sudah naik pagar.
Jongwoon sungguh lebih dari kecewa melihatnya.
Ya, kecewa. Meski ia sudah menduga ini akan terjadi.
"Byun Baekhyun!" Jongwoon berseru keras. Baekhyun langsung menurunkan kakinya dan menghadap Jongwoon.
"K-kenapa oppa?" Baekhyun gelagapan.
"Kalau mau lihat ke bawah, kakinya gak usah ikut lihat." Jongwoon berkata tajam.
Baekhyun menelan ludah. Ia mengerti Jongwoon telah menyadari keganjilan dari kebiasaannya.
.
"Her condition is in the worst one. She must have a surgery in her best mood quickly. For this last chance, I will let her get her last wish. Anything but for her best mood."
.
"Kau yakin hanya salad?" tanya Jongwoon datar. Agaknya ia sudah sangat kesal pada Baekhyun.
"Ya." Baekhyun balik membalas datar.
"Tidak ada yang lain? Ingin bertemu siapa gitu?"
Baekhyun menatap Jongwoon tajam.
"Kau bahkan tidak pernah mengerti siapa aku, Oh Jongwoon." Baekhyun berujar sinis.
"Siapa yang bahkan lebih dekat denganmu daripada eomma-mu? Appa-mu? Kau pikir, sudah berapa lama aku menemanimu, ha?" Jongwoon naik pitam. Namun emosinya surut ketika melihat mata Baekhyun yang sudah berkaca-kaca.
"Maaf aku lancang. Jika ini untuk memperbaiki mood-ku sebelum aku dioperasi, lebih baik tidak usah. Appa dan eomma tidak pernah berharap akan kesembuhanku." Baekhyun berkata dengan suara bergetar.
"Tidak, Baek. Mereka pasti berharap—"
"Cukup. Lebih baik aku mempercepat kematianku supaya mereka tidak terbebani lagi."
"Bukan, Baek. Hentikan persepsi—"
"Lalu apa yang akan kau lakukan untuk membuatku bahagia di saat seperti ini, hah?! Membuat mereka sadar akan anak kandungnya sendiri?" Baekhyun meninggikan suaranya. Kini ia menangis terisak.
Jongwoon tertunduk. Permintaan Baekhyun ini begitu berat baginya.
"Baekhyun ...," lirih Jongwoon. "Jika kau memang punya permintaan terakhir, katakan saja. Aku berjanji akan mengabulkannya. Meskipun aku bodoh, tapi aku tidak akan melanggar janjiku."
Baekhyun terdiam. Ia lalu membuka mulut, "Biarkan aku menenangkan diriku di Korea. Aku ingin sekolah di sana sampai aku siap menghadapi takdir apapun."
Jongwoon menengadah.
"Aku tidak peduli apa aku akan mati sebelum atau setelah dioperasi."
"..."
"Aku ingin hidup normal dulu, meskipun appa atau eomma tidak ada untukku seutuhnya."
.
"..., dan aku sudah menentangnya habis-habisan. Tapi yah, Byun Baekhyun itu kepalanya lebih keras dari Sehun." Jongwoon mengakhiri cerita.
Sehun dan Chanyeol sama-sama tak sanggup berkata-kata. Mereka sibuk mencerna ceritanya dengan baik.
"Ah, ya, aku lupa." Jongwoon teringat sesuatu. Sehun dan Chanyeol sontak menoleh ke arahnya lagi.
"Baekhyun berkata kalau ia sudah punya semangat baru, dan ..., selamat, nama semangat barunya adalah Park Chanyeol." Jongwoon tersenyum.
Chanyeol ternganga. Sehun menatap Chanyeol tidak percaya.
"A-aku?" Chanyeol menunjuk dirinya.
"Iya, kau."
"Permisi, dongsaeng? Ini dokter Park." Terdengar suara yang familiar di telinga Chanyeol. Pemilik suara pun memunculkan dirinya, dan sama-sama memasang wajah terkejut dengan Chanyeol.
"Appa?!" Chanyeol terkejut bukan main.
"Appa?" Jongwoon balik bertanya heran.
"Chanyeol? Kau sedang apa?" tanya Siwon agak santai.
"DOKTER CEPAT BEE BUTUH PERTOLONGANMU!" Sehun yang berteriak panik.
"OH IYA!" Siwon berseru kaget. Siwon pun tergopoh-gopoh menuju kamar Baekhyun.
.
Ruang tengah kembali senyap. Namun bedanya, anggota penduduknya bertambah satu, yaitu dokter Park Siwon.
"Chanyeol," Siwon buka mulut. "Jelaskan semua ini."
Sehun sweatdrop.
"Harusnya appa yang menjelaskan tentang Baekhyun!" protes Chanyeol.
Siwon memiringkan kepala. "Baekhyun? Maksudmu, gadis yang pernah kau bawa ke rumah?" tanya Siwon.
Chanyeol bersemu. "Bukan berarti apa-apa!" seru Chanyeol malu.
Siwon terkekeh. "Dasar bocah kasmaran! Baiklah, baiklah, appa tidak butuh penjelasanmu. Sekarang, kau temui Bee dan appa akan memaksa si bodoh ini untuk cerita." Siwon menonjok bahu Jongwoon.
Jongwoon menoleh dan memprotes, "Kenapa aku?"
Chanyeol pun menuruti appa-nya.
.
Chanyeol duduk di samping Baekhyun. Ia menatap tubuh kurus yang kini tengah duduk dengan tatapan kosong.
Keheningan terus menyelimuti ruangan.
"Ehm," Chanyeol bersuara. "Kau ..., mau bicara?" tanya Chanyeol.
"Kau duluan," jawab Baekhyun datar.
"Erm, euh, ya, mian." Chanyeol bertutur dengan nada rendah. "Aku tidak tahu kalau ternyata hidupmu seberat ini, Baek."
"Kau tidak berhak tahu. Kau hanya perlu melakukan apa yang biasa kau lakukan tanpaku." Baekhyun berkata sarkastis.
"Tentu aku berhak, Baek." Chanyeol berusaha meredam emosinya. "Kau adalah pasien appa-ku. Aku berhak untuk tahu siapa kau."
"Tidak. Tidak sama sekali." Kata Baekhyun cepat.
Chanyeol menghela napas. "Baiklah, sekarang apa maumu?" tanya Chanyeol.
"Keluar." Baekhyun berucap tajam.
"Haaah?" Chanyeol melongo. "Keluar?"
"Ya. Cepat keluar dan tinggalkan aku!" usir Baekhyun gusar.
"Kenapa harus keluar?" protes Chanyeol.
"Ini perintah." Desis Baekhyun dengan suara bergetar. Pelupuk matanya mulai basah.
GREB! Chanyeol menyergap Baekhyun, lalu melingkari tubuh Baekhyun dengan lengannya.
"Posisimu adalah cewek NT-ku, Bee. Sebagai atasan, aku tidak menerima segala perintahmu." Chanyeol bertutur lembut.
Pertahanan Baekhyun jebol. Ia mencengkram pakaian Chanyeol erat dan menangis.
"Kenapa harus aku yang begini, Chanyeol? Kenapaaaa?" Baekhyun menjerit.
Chanyeol mengelus punggung Baekhyun, bingung harus berkata apa.
TBC!
A/n.
Sudah kubilang, alur semakin gaje, rumit, dan nggak banget! Diharapkan kepada readers sekalian agar tidak muntah ketika membacanya!
Maaf atas kesuperlamaan updatenya, dikarenakan author sibuk sama OSIS T_T
Ini juga buru-buru, gasempet ngedit keburu rapat OSIS menghantui lagi. Yassalam, yassalam, help mi aut plis huweee~~
Yeah, selama ini saya bakal terus mantau kolom ripiw, diharapkan untuk ripiw. Buat silentreader tinggalin jejak dong berupa prasasti fave, biar saya bisa mutusin apa harus lanjut apa kagak :") *okeauthorsosoanbaper
Akhir kata, thanks for reading!
Mind to review?
