Disclaimer : Naruto bukan milikku. Andai saja aku memilikinya ...

Peringatan : J.J sedang menghantuimu; menebarkan hawa marah, gelisah, merana, muak, dan sengsara setiap kali cerita J.J terunggah.

Peringatan lain : pairing (Sasuke x Hinata), AU, alur lambat, dan segala jenis kesalahan penulisan yang masih saja terlewatkan oleh mata penulis.

BAB 2

"Apa saya tidak salah dengar?" tanya Naruto setelah dengan susah payah mengumpulkan kepingan keberanian yang tercecer entah kemana.

Hiashi tidak memberikan respon. Sorot matanya masih menyelidik. Sejujurnya lelaki setengah baya itu masih ragu untuk menjodohkan putri semata wayangnya pada pria yang bahkan tidak diketahui latar belakangnya. Hiashi bermodal gambling. Lagipula, putrinya sangat mencintai pria yang kini terlihat canggung berhadapan dengan Hiashi.

Semoga aku tidak salah memilih lelaki ini, Hinata.

"Apa aku sedang terlihat main-main denganmu?" Hiashi memberikan penekanan dalam setiap nada bicaranya.

Naruto bergerak gelisah sambil sesekali menelan sejumlah saliva untuk meredam kegugupannya. Entah sejak kapan Hiashi menatapnya dengan sungguh-sungguh. Selama lelaki muda itu mengenal orang tua Hinata, sekalipun ia tidak pernah melihat Hiashi bercengkrama dengan orang asing jika bukan soal bisnis. Bahkan, Naruto menyangsikan Hiashi sering bercengkrama dengan putrinya. Mengingat bagaimana gadis bermata pucat itu tumbuh menjadi sosok sangat pendiam.

"Saya merasa terhormat karena anda begitu peduli pada Hinata," ujar Naruto tenang. Setiap perkataan yang baru saja keluar dari mulutnya ini sama sekali berkebalikan dengan isinya yang jungkir balik. "Namun saya belum berpikir soal pernikahan. Saya harus menyelesaikan studi dan bekerja."

"Dengan menikahi Hinata bukankah akan memudahkanmu mendapatkan segalanya, Uzumaki-san?" Hiashi mendapat kesan bahwa Naruto akan menolak keinginannya.

Naruto terbelalak. Ia tidak menyangka akan mendapat respon seperti ini. Hiashi secara tidak langsung telah merendahkannya. Ia memang berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Tapi bukan berarti orang lain dapat dengan bebas menginjak harga diri seorang Naruto.

"Orang tua saya mengajarkan untuk mampu hidup mandiri, Hyuuga-san. Dan maaf, saya tidak bisa menikahi putri anda," putus Naruto mengubah nama akhir –sama menjadi -san. Baginya, segala rasa hormat yang semula ditujukan pada pimpinan klan itu segera menghilang karena ucapan merendahkan dari bibir Hiashi terhadapnya. Lagipula, ia memang tidak bisa menikahi Hinata. Ia tahu bahwa perempuan itu sangat baik. Hinata penuh perhatian, cantik menawan, dan berasal dari keluarga berada. Gadis yang menjadi incaran banyak orang. Namun Naruto tidak akan pernah mengingkari hatinya. Hatinya telah memilih orang lain sejak lama.

Hiashi memandang Naruto. Sebuah tamparan cukup keras mendarat pada harga diri seorang Hyuuga. Ditolak oleh orang yang bahkan bukan siapa-siapa merupakan kesalahan yang tidak mampu Hiashi toleransi.

"Apakah karena gadis tadi pagi?" Hiashi mulai mengkonfrontasi dengan caranya yang elegan.

Kedua alis Naruto saling bertaut membentuk tanda tanya tak mengerti.

Hiashi tidak sekalipun melepaskan pandangannya dari lelaki berjabrik kuning itu. Ia telah mempersiapkan rencana lain jika Naruto menolak keinginannya. "Aku tahu kau sangat menyukai gadis yang kauantar ke ruang sidang tadi."

Ucapan Hiashi menyadarkan otak Naruto yang termasuk dalam kategori lemah. Naruto tahu akan ke mana arah pembicaraan ini mengingat bagaimana pengaruh seorang Hyuuga dapat membuat hidup seseorang akan berubah drastis. Lelaki Uzumaki itu memilih untuk tidak merespon Hiashi.

"Aku akan memberikan kemudahan bagi gadis itu. Bahkan, ia akan mendapatkan hal yang selama ini ia inginkan," Hiashi kembali berkata. Ia telah memegang senjata paling berharga milik lelaki di hadapannya ini. Lelaki tua itu bisa melihat mata biru milik lawan bicaranya membesar kemudian berubah seperti biasa. Hiashi tahu bahwa ia telah mengenai sisi paling lemah seorang Uzumaki Naruto. Karena tidak ada respon sama sekali, ia kembali melanjutkan, "melihat seseorang yang kita cintai bahagia apalagi bisa dekat dengan orang yang dikasihi adalah hal paling indah yang mampu dilakukan. Apakah kau setuju denganku, Uzumaki-san?"

Naruto mengangguk sekali. "Anda benar."

"Dan kau pasti setuju jika perempuan tadi bahagia bisa dekat pada lelaki yang ia cintai?" Hiashi kembali dengan strateginya.

Naruto tahu. Sakura sejak semula memilih Sasuke. Dalam hati seorang Haruno hanya ada si bungsu Uchiha brengsek itu. Bahkan saat hari penting Sakura, Uchiha itu menghilang entah ke mana. Lelaki itu sudah tahu bahwa perasaannya pada Sakura hanya akan bertepuk sebelah tangan. Ia tidak akan pernah ada dalam hati Sakura. Mencintai perempuan itu adalah rasa bahagia semu yang tidak akan menuju puncaknya menjadi kenyataan. Seperti mendaki gunung yang tak pernah memiliki ujung. Rasa lelah seharusnya mendera lelaki itu. Kata menyerah seharusnya sudah ia gaungkan sejak dulu. Namun hatinya terus melawan. Ia tidak ingin menyerah. Sakura berulang kali membuat hati lelaki itu pilu karena selalu membicarakan Sasuke. Namun, Naruto juga tidak bisa menyalahkan gadis itu. Cinta memilih caranya sendiri untuk membuat seseorang sangat bahagia dan sangat terluka.

"Dan tentu kau akan sangat bersedih jika perempuan itu gagal dan jauh dari apa yang ia cinta," Hiashi masih melakukan serangan secara perlahan. Ia tidak ingin terburu-buru meluapkan segala emosi yang dipendam atas penolakan tadi. Tidak. Hiashi ingin menikmati setiap kegelisahan dan kecemasan dalam raut wajah lelaki muda itu. "Aku bisa membuat segalanya mudah, Uzumaki-san."

"Apa yang anda inginkan dari semua ini?" Naruto akhirnya membuka suara. Sebuah geraman yang menyiratkan emosi tertahan.

"Bukankah aku sudah mengutarakannya sejak awal?"

"Mengapa anda ingin saya menikahi Hinata? Bukankah anda tahu saya adalah orang yang tidak setara dengan anda? Anda bisa memperoleh calon suami yang jauh lebih berharga dan sederjat dengan anda," tanya Naruto menginterogasi.

Percuma saja menyelidik Hiashi lebih lanjut. Pria tua itu mengangkat lagi cangkir kopi hitam pekatnya dan menghirup aroma yang menguar dari kopi tersebut dan dengan perlahan meminumnya untuk sekadar memberikan jeda waktu ketegangan. Lelaki tua itu menikmatinya. Sungguh-sungguh menikmati setiap kecemasan yang terbentuk dalam diri Naruto.

"Hinata hamil," tutur Hiashi jujur.

Naruto kembali dikagetkan dengan kabar tidak terduga ini. Gadis pendiam yang bahkan takut untuk berdekatan dengan lelaki manapun ... hamil? Mustahil!

"Aku tahu kau terkejut soal ini. Begitu juga denganku." Wajah lelaki tua itu berubah sendu. Ia tidak ingin menutup-nutupi apa yang menjadi bebannya. Ia ingin membaginya. Hanya pada Naruto. Lelaki yang dicintai putrinya sepenuh hati. "Dan lelaki yang menghamilinya hilang. Hinata sendiri tidak tahu siapa lelaki itu."

Tunggu! Bagaimana bisa ...? Naruto bertanya-tanya dalam hati.

"Dia diperkosa," ucap Hiashi jujur. Gurat sendu itu semakin tampak jelas pada wajah keras seorang pemimpin klan Hyuuga.

Naruto merasa iba, bukan pada lelaki yang ada di hadapannya tapi pada temannya. Teman SMAnya yang lugu. Nasib sial itu jelas membuat Hinata terpuruk. Namun tindakan Hiashi yang meminta Naruto untuk menikahi putri semata wayang itu membuat pemuda itu merasa semakin direndahkan. Ia merasa seperti harus mempertanggungjawabkan bayi yang dikandung Hinata padahal ia jelas bukan pelakunya!

"Anda menjadikan saya tumbal?" Naruto berkata sengit. "Apa salah saya pada anda?"

"Hinata mencintaimu. Sangat mencintaimu," ujar Hiashi. Arogansi lelaki tua itu perlahan menghilang. Demi putri semata wayangnya, sang Hyuuga mau merendahkan diri. "Dan aku berpikir bahwa setidaknya putriku akan bahagia bersama orang yang ia cintai dan bisa melupakan kejadian buruk itu. Bukankah kau setuju dengan pernyataanku tadi? Kau akan melakukan apapun untuk orang yang kaucinta agar ia bahagia? Aku mencintai putriku. Meski aku selalu disibukkan dengan segala hal, aku tidak akan pernah meninggalkannya. Ia sekarang terpuruk. Sebagai seorang ayah, aku ingin memberinya harapan. Sedikit cahaya yang bisa seorang ayah lakukan pada putri kecilnya."

Naruto termenung. Ia berusaha memahami setiap perkataan Hiashi. Ia keliru. Naruto keliru. Hiashi bukanlah sosok arogan yang bahkan tidak peduli pada perasaan Hinata. Lelaki tua itu hanya tidak ingin menampakkan rasa sayangnya pada orang lain secara kentara. Caranya yang sembunyi-sembunyi ini membentuk sebuah persepsi baru Naruto bahwa Hiashi adalah orang yang rendah hati dalam hal tertentu—dan cara menyayangi Hinata adalah salah satunya. Mungkin saja karena Hiashi seorang lelaki dengan kesibukan tanpa ada seorang istri yang mendampingi membuat Hinata menjadi sosok tertutup.

Pikiran positif itu cepat-cepat Naruto ubah. Topik ini masih berkutat pada ajang perjodohan yang memberatkan pemuda itu. "Tapi anda menghancurkan saya. Apakah anda tidak berpikir soal hati saya? Apakah anda kira putri anda akan bahagia menikahi saya? Saya mencintai orang lain dan jika Hinata tahu, tidak, dia tahu. Putri anda tahu saya mencintai Sakura! Ini akan lebih menyakiti Hinata, Hyuuga-san," ujar Naruto frustrasi. Ia tidak menyangka bahwa cinta dapat menjadi rumit.

"Bukankah perempuan itu mencintai orang lain?" ucapan Hiashi telak menghancurkan dinding keberanian yang pelan-pelan Naruto bangun. "Bukankah kau bisa belajar untuk mau menerima putriku?"

"Lalu bagaimana dengan bayinya?"

Hiashi mendengus. Ia tahu pemuda di hadapannya ini akan memberikan seribu alasan untuk menolak ide pernikahan itu. Namun, sebagai seorang Hyuuga, ia tidak ingin ada penolakan. Terlebih, ini menyangkut nama baik klan dan industrinya. Terlebih pula pada Hinata, putri semata wayangnya. Hiashi tidak akan sanggup berpikir Hinata akan hidup dalam caci maki orang karena mengandung tanpa seorang pendamping hidup. Mungkin dengan kekayaan milik Hyuuga, Hiashi bisa saja membungkam siapa saja yang hendak melecehkan putrinya. Tapi sampai berapa lama ia akan terus berada di samping putrinya? Dalam kepala Hiashi, Hinata butuh seorang pendamping.

Apa yang diucapkan Naruto memang benar. Hiashi masih meragukan lelaki itu. Tanpa dasar cinta dan hanya ada cinta sepihak, membuat benak Hiashi sangsi untuk melanjutkan pertemuan ini. Ada ketakutan yang membentuk secara perlahan dalam bayangan lelaki paruh baya itu. Wajah putrinya yang bahagia menikahi sosok yang dicintai berubah seketika menjadi sarat penderitaan karena Naruto tak pernah mencintai Hinata—dan lebih parahnya lagi Hinata malah menjadi semakin terluka akibat pernikahan ini.

Bukankah dulu, saat Hikari masih hidup, Hiashi juga dijodohkan? Entah atas dasar apa, Hiashi memberanikan diri bahwa apa yang pernah terjadi pada dirinya, mencintai Hikari secara sepihak, mampu membuat ibu Hinata pada akhirnya mau membuka hati. Hikari mencintai Hiashi. Mungkin karena pengalaman itu Hiashi bertekad untuk tetap melanjutkan pembicaraan itu. Mungkin saja hati Naruto akan berubah dan mau membalas perasaan Hinata.

"Selama kau mau mengakuinya menjadi bayimu, apakah itu bermasalah, Uzumaki-san?"

Naruto menegang. Ini tidak akan berjalan dengan mudah. Sekeras apa pun lelaki itu mencoba untuk mengelak, Hiashi terus saja mampu memberikan argumen yang membuat lelaki bermata biru itu tidak berkutik. "Jika saya menolak mengakuinya?"

Ada helaan napas cepat datang dari Hiashi. "Aku tahu kau berusaha untuk tidak ingin menyakiti putriku. Tapi tidakkah kau berniat membantunya? Membantu gadis itu lepas dari hal-hal buruk yang akan terjadi?"

Naruto bersikeras. "Lalu kenapa harus saya, demi Kami-sama?!" Pemuda itu tidak mampu lagi menahan emosinya. "Apakah anda tidak lebih baik berusaha mencari siapa yang memerkosa Hinata? Cari dia dan suruh dia bertanggung-jawab! Bukannya memaksa orang lain yang tidak bersalah untuk menikahi putri anda!"

"Apa kau membenci putriku?" Hiashi memasang wajah datarnya kembali. Sudah cukup emosinya bergolak menghadapi tekanan dari putrinya. Ia tidak ingin lebih memperlihatkan emosinya pada orang lain.

"Tentu tidak!" balas Naruto cepat. "Namun tindakan anda yang seperti ini malah membuat saya mungkin saja menjadi membenci putri anda!"

"Baiklah, aku memberikanmu waktu untuk berpikir, Naruto. Berita ini mungkin sangat mengejutkanmu. Namun aku sangat berharap bisa mendengar kabar baik darimu. Masih ada waktu untuk memikirkannya." Hiashi beranjak dan sebelum ia meninggalkan ruang pribadi restoran itu, ia berpaling; masih menemukan Naruto duduk bersimpuh dengan tatapan menahan kesal. "Kau tahu bagaimana cara kerja seorang ayah yang sangat mencintai putrinya." Dan setelah itu, pintu geser itu menutup; meninggalkan Naruto yang masih tidak percaya pada apa yang terjadi beberapa menit lalu.

...

Washington D.C., Amerika Serikat.

2 pekan setelah ujian skripsi Sakura

Mata Sasuke masih bergulir dari satu kertas ke kertas lain yang ada di meja kerjanya. Hari ini adalah minggu kedua ia menjabat menjadi pimpinan perusahaan warisan ayahnya. Meski masih melanjutkan kuliah, ia telah mampu memahami aspek apa saja yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Warisan yang mendarah daging seorang Uchiha secara alami diteruskan dari generasi ke generasi.

Bagimana tidak? Setiap dekade, Uchiha selalu menjadi pemimpin dalam suatu hal. Dan kali ini, seorang Sasuke Uchiha, di usianya yang menginjak 23 tahun, telah menduduki posisi tertinggi dari beberapa perusahaan multi-nasional. Milyuner negara adi-daya. Beberapa terakhir ini, wajahnya disorot banyak media karena menjadi salah satu pengusaha muda sukses. Wajahnya pun terpampang di beberapa majalah bisnis sebagai the most wanted businessman of the year. Dalam waktu seminggu, lelaki itu berhasil meredam gejolak tampuk kekuasaan Uchiha dan menyetabilkan kondisi perusahaan yang goncang akibat kejadian pembunuhan mantan petinggi perusahaan; Fugaku. Dalam waktu satu minggu pula, Sasuke berhasil menaikkan saham Uchiha yang sempat merosot. Bukankah terbukti jika darah Uchiha yang lihai dalam berbisnis mengalir dengan sendirinya tanpa perlu bersekolah tinggi-tinggi? Ini adalah bakat langka yang dimiliki seseorang.

Masih berkutat pada pekerjaannya, tanpa terasa jam digital yang terletak di atas meja kaca gelap tebal berpinggiran baja itu sudah menunjukkan pukul delapan malam waktu setempat. Sudah dua minggu ini ia selalu pulang malam. Pekerjaan dan kuliah online yang dijalani membuat mata Sasuke yang sudah terlihat mengerikan semakin menakutkan. Tidak mudah untuk mengembalikan keadaan sebuah perusahaan besar. Apalagi dengan kejadian beberapa waktu lalu. Sembari memijat pangkal hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk, ia memejamkan mata sejenaknya yang lelah. Baru saja ia merehatkan diri, ponsel pintar milik bungsu Uchiha itu berbunyi. Dengan enggan lelaki itu meraih ponsel yang tersemat di saku jas hitamnya yang sudah kusut.

"Ada apa?"

Balasan suara terdengar pelan dari mesin panggilan modern itu. Sasuke mendesah pelan.

"Hn, sebentar lagi," ujarnya lagi.

Dan sambungan telepon itu diputus secara sepihak oleh Sasuke. Ketika hendak meletakkan ponsel pintarnya, ponsel itu menyala redup dan menampilkan sosok perempuan berparas ayu sebagai wallpaper milik lelaki itu. Mata hitamnya kembali terpejam. Sekilas memori saat ia berada di Jepang kembali datang.

Setidaknya, ia sudah menandai perempuan itu menjadi miliknya.

Ketika kembali melihat potret itu, rindu yang menyesakkan kembali muncul. Pikirannya melayang. Berkas-berkas yang sempat mengalihkan perhatiannya selama dua minggu sirna. Dengan mudah suasana hati pria itu menguasai akal sehatnya. Lelaki itu merindu setengah mati pada potret perempuan dengan rambut indigo panjang yang indah itu. Bahkan, meski jarak mereka telah dipisahkan oleh samudra luas, Sasuke masih mengingat secara detil aroma tubuh perempuan yang masih setia menjadi pajangan ponsel pintar milik Sasuke. Dengan mudah Sasuke mengingat bagaiman tubuh gadis itu begitu memikat segala daya yang Sasuke miliki. Lelaki itu juga sangat hafal setiap mimik wajah yang perempuan itu perlihatkan pada siapa saja. Mudah sekali merona dan mudah sekali tergagap. Sasuke kembali geram karena kenyataan pahit menghantam kepalanya akan sebuah fakta pada diri gadis itu yang telah berhasil merebut segala kesombongan dan ketidakpedulian seorang Sasuke Uchiha. Gadis itu dengan sangat kejam membuat hati Sasuke bertekuk lutut atas nama hal yang selama ini tidak Sasuke pedulikan. Lelaki itu mencintai perempuan bernama Hinata. Dan jangan lupakan fakta lain. Fakta bahwa perempuan itu dengan teganya meletakkan hati bukan pada lelaki yang secara de fakto telah menjadi sorotan banyak wanita. Perempuan bermata lavender itu justru memilih pemuda dengan latar belakang tidak jelas bernama Naruto. Ada geraman lolos dari mulut tipis Sasuke. Sial! Luapan rasa marah Sasuke mudah sekali keluar jika mengingat bagaimana rona wajah Hinata begitu mudah terbentuk bukan untuk dirinya tapi untuk lelaki lain.

Setidaknya, Sasuke sudah menandai perempuan itu. Bukan Naruto sialan itu.

Mobil mewah berwarna biru gelap keluaran terbaru dan edisi terbatas Audi Le Mans Concept sudah menanti Sasuke di parkiran khusus. Perjalanan menuju mansion Uchiha tidak begitu jauh. Hanya memakan waktu tigapuluh menit perjalanan dari kantornya yang ada di daerah Street Northwest jika tidak ada kemacetan lalu lintas.

Tatapan Sasuke pada jalanan tidak fokus. Bahkan, lelaki itu sempat berhenti sejenak di sebuah jembatan yang berada di atas Potomac river. Lampu-lampu gemerlap menghiasi kawasan barat-utara Washington D.C; wilayah elit pusat ibukota. Lelaki itu tidak mengerti sejak kapan ia menjadi melankolis. Sisi ini tentu membuat ia jengah. Sasuke tahu alasan mengapa dirinya menjadi begitu rapuh. Kerinduan yang entah kapan bisa terwujud. Mudah saja untuknya kembali ke Jepang. Namun konsekuensi yang harus ditanggungnya teramat besar. Meninggalkan perusahaan demi seorang wanita sama halnya mengorbankan hal besar demi keegoisan sentimentil cinta.

Sudut matanya menangkap sedikit keramaian di area George Washington Memorial Park dari atas jembatan. Ia lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat sebelum memasuki akhir pekan. Sudah hampir satu bulan ia tidak lagi menjumpai gadis yang telah diperawaninya. Sudah nyaris sebulan ia berusaha mengalihkan pikirannya dari urusan tidak penting yaitu cinta. Baginya, kepentingan hati hanya akan melemahkan intuisinya dalam bekerja.

Tidak ingin berlama-lama meratapi keadaan, Sasuke kembali melanjutkan perjalanannya menuju kediaman Uchiha di daerah Mclean. Sepanjang jalan, orang-orang semakin memadati tempat wisata yang terkenal di Washington itu. Gedung sekaligus taman untuk memeringati pahlawan nasional negara adidaya sekaligus presiden pertama mereka. Memasuki daerah Langley Fork Park, Sasuke berhenti lagi. Perutnya yang lapar sudah tidak mampu berkompromi. Belum lama ini wilayah Langley memang didirikan taman bermain dan arena olahraga. Jangan bertanya lagi, Uchiha menjadi salah satu penanam saham terbesar atas pembangunan zona itu. Sasuke sedikit mengumpat karena saat ini jalanan menuju rumahnya semakin padat dan sangat sulit menemukan area parkir restoran. Ia ingin segera melahap makanan untuk sekadar mengganjal perutnya yang mulai memberontak.

Kembali ponsel milik Sasuke berdering. Layar itu menunjukkan nama Itachi.

"Ada apa?" Tidak tahukah kakaknya ini bahwa Sasuke kelelahan dan kelaparan? Ya, ia beruntung memiliki kakak yang perhatian tapi bukan sekarang, bukan saat ini. Perhatian yang diberikan Itachi hanya akan menambah sakit hatinya karena merasa Sasuke dikorbankan untuk menjalankan bisnis keluarga dan Itachi lebih bebas untuk memilih jalan hidupnya. Tidak adil. Sungguh!

"Lima menit lagi aku akan sampai," jawab Sasuke, "ya, aku akan makan malam di rumah," imbuhnya segera dan langsung menutup teleponnya begitu sebuah sekolah untuk anak SMA di Langley mulai tampak. Setelah lampu merah pertama, mobil Audi Sasuke berbelok kanan dan jalanan yang semula dipenuhi lampu jalan kini berubah lebih gelap. Pinggir jalan memasuki kawasan McLean bukanlah wilayah padat seperti Maryland atau pun sepanjang jalanan distrik Northwest. Mansion Uchiha jauh lebih sunyi. Masih banyak hutan belantara yang mengelilingi mansion tersebut. Lalu seberapa luas sebenarnya bangunan yang lebih layak disebut istana itu? Jangan bertanya. Mansion itu seharusnya sudah cukup digunakan untuk menampung sejumlah pengungsi dari Vietnam.

Pintu gerbang sudah terlihat dari radius seratus meter. Jalan utama langsung menuju rumah super mewah. Agak ironis mengingat besarnya rumah dengan total penghuni berjumlah dua orang. Gerbang itu terbuka otomatis. Ketika mobil itu masuk, ada sapaan formal dari dua penjaga yang selalu berjaga di balik gerbang utama kediaman itu. Tentu saja masih ada penjaga lain yang sudah berada di masing-masing pos penjagaannya. Mereka tidak hanya bertugas untuk menjaga sang pemilik dari tindak kriminal mengingat kejadian pembunuhan beberapa waktu lalu. Tugas tambahan mereka adalah menjauhkan media massa untuk meliput lebih jauh seputar kehidupan Uchiha tersisa. Ini jauh lebih merepotkan karena setiap hari ada saja cara orang-orang media massa untuk mendapatkan berita dari sang misterius Sasuke dan Itachi.

Dari balkon lantai dua, Itachi mengamati mobil Sasuke yang akan masuk ke garasi dengan tatapan memelas. Ada sesuatu yang menambah beban Sasuke sehingga menjadi lebih berat. Bukti mutlak adalah adiknya itu menjadi lebih dingin dan lebih memilih untuk memendamnya sendiri. Selama ini, Itachi selalu menjadi tempat Sasuke mencurahkan isi hatinya. Mulai dari kekecewaan si bungsu terhadap keputusan almarhum ayahnya yang mengharuskannya melanjutkan studi bisnis padahal Sasuke sama sekali tidak berniat ingin meneruskan ke fakultas itu. Kali ini, titik balik kehidupan Uchiha bungsu itu berubah. Tidak ada tegur sapa kakak beradik, tidak ada berbagi cerita, bahkan Itachi masih berharap ada setitik ucapan sindir atau caci maki keluar dari mulut Sasuke.

Dan acara makan malam pun dimulai. Makan malam itu berlangsung hening. Tidak ada percakapan berarti, hanya sesekali seputar pekerjaan.

"Sasuke," Itachi mulai mengamati gerak-gerik adiknya yang terlihat tidak menikmati makan malamnya. Sebagai seorang Uchiha, intuisi mereka patut diacungi jempol. Dan Itachi mulai mendapat intuisi mengapa adiknya berubah menjadi seorang maniak pekerjaan. "Apa kau keberatan untuk meneruskan bisnis ayah?"

Sasuke menggeleng pelan. Itachi tahu bahwa adiknya itu tidak akan bisa berbohong. Sulung Uchiha itu tahu apa yang menjadi keinginan terdalam Sasuke.

Itachi kembali menelan satu sendok salad buah kemudian melanjutkan, "Apa kau ingin sekali kembali ke Jepang? Apa ada seseorang yang mengganggu pikiranmu?"

Dan pergerakan tangan Sasuke berhenti seketika. Dari situ Itachi tahu bahwa intuisinya kali ini lagi-lagi tepat sasaran.

...

Tokyo, Jepang.

2 pekan setelah ujian skripsi Sakura (waktu setempat)

Sudah pukul tiga sore. Di restoran Ichiraku, Naruto masih setia menunggu Sakura yang sedang melamar pekerjaan sembari menunggu acara wisudanya satu bulan lagi. Kali ini, gadis itu mendaftar menjadi salah satu staff firma hukum terkenal di Tokyo. Naruto sudah menyiapkan kado spesial bagi pujaan hatinya itu. Sudah ada sekotak besar es krim stroberi untuk Sakura. Es krim seperti halnya coklat dan pisang, menurut artikel yang dibaca Naruto, mampu membuat seseorang bahagia. Naruto ingin membuat Sakura semakin berbahagia.

Ketika mangkuk ramen ketiga sudah tandas, Naruto mendapati Sakura berjalan pelan masuk dari pintu masuk. Wajahnya terlihat menerawang. Firasat buruk mulai memenuhi benak lelaki berambut pirang itu.

Sakura mengedarkan pandang untuk menemukan sosok yang selama dua minggu ini sering menemaninya mencari pekerjaan. Dan gadis itu menemukan orang itu tengah melambai kepadanya. Dengan lesu gadis itu berjalan. Ia sebenarnya ingin cepat-cepat pulang tapi Naruto pasti akan menunggunya sampai ia datang. Lelaki itu bisa jadi sangat keras kepala dan berlebihan.

Langkah Sakura berhenti dan menarik kursi kayu di depan Naruto dengan enggan.

"Jadi?" Naruto tidak meneruskannya. Sakura tahu maksud dari pertanyaannya barusan. Pertanyaan Naruto hanya dibalas gelengan pelan. Senyum Naruto seketika pudar.

"Ini sudah yang keempat kalinya dalam dua minggu," gumam Sakura. "Kenapa begini?!" Ia mengerang frustrasi. Kepalanya tertunduk di atas meja. Kedua lengannya melingkar untuk menutupi sebagian wajahnya. Perempuan itu tidak habis pikir mengapa sulit sekali mendapat pekerjaan. "Aku rindu Sasuke," imbuhnya berupa gumaman.

Naruto mendengar itu semua. Kotak es krim yang masih tersembunyi di bawah meja digenggam erat. Ada rasa kesal muncul di hati lelaki itu. Mengapa saat ini justru nama Sasuke yang gadis itu sebut? Bukankah yang selalu berada di samping perempuan itu adalah Naruto? Mengapa harus nama Sasuke? Lelaki itu sudah menghilang! Tidak lagi menunjukkan batang hidungnya di kampus. Tidak ada kabar. Tidak ada pesan. Lelaki menyebalkan itu seperti hilang ditelan bumi. Dan bukankah itu adalah kesempatan bagi Naruto untuk mendekati Sakura? Perlahan-lahan menggantikan posisi Sasuke di hati perempuan itu? Ya, Naruto harus bersabar. Ia tidak ingin terburu-buru dan malah akan membuat hubungan yang sudah ia jalin hancur begitu saja karena pemaksaan.

Cepat-cepat Naruto membawa kotak es krim yang masih dingin ke hadapan Sakura yang masih saja menyembunyikan wajahnya. Naruto sengaja menyentuhkan bagian dingin es krim itu ke area lengan Sakura yang terbuka. Gadis itu mendongak dan mendapati sekotak es krim yang menggoda. Gadis itu lantas merebutnya dari tangan Naruto dan segera membuka kemudian melahapnya tanpa ampun. Kekesalan karena tidak segera mendapat pekerjaan dan hilangnya Sasuke membuat Sakura menandaskan isi kotak itu secara kilat.

"Jangan mudah menyerah, ya, Sakura!" Naruto mengacungkan tinggi tangan kanannya yang mengepal. Persis seperti yang dilakukan Lee sahabat kampusnya jika orang-orang sedang putus asa.

Sakura hanya membalasnya dengan anggukan sambil terus menyuapi mulutnya dengan es krim stroberi. Ketika suapan kelima hendak masuk dalam rongga mulutnya, gadis itu berhenti. "Aku tidak habis pikir," ujar Sakura lalu meletakkan kembali sendok es krimnya. "Kenapa aku selalu ditolak padahal surat rekomendasi Kakashi-sensei jelas-jelas menerangkan aku adalah lulusan yang baik?"

Naruto ikut berpikir. "Mungkin saja karena sainganmu yang juga hebat-hebat seperti dirimu, Sakura? Naruto mengutarakan opininya.

"Jika begitu, kudengar firma hukum milik Sabaku and partners memang firma hukum paling terkenal di Jepang. Dan kudengan juga tidak banyak yang mendaftar di sana karena tingkat kesulitan yang tinggi. Aku yakin akan diterima di sana tapi pada kenyataannya malah si Ino-pig itu yang diterima," rutuk Sakura. Wajahnya kembali menekuk kesal. "Aku kesal memang, hanya saja agak aneh. Informasi penerimaan staf seperti terlalu cepat. Keempat perusahaan yang aku tuju, semuanya langsung memberikan konfirmasi bahwa aku tidak diterima. Seharusnya ada pertimbangan ini dan itu. Seseorang harus menunggu setidaknya satu minggu, kan? Tapi ini ... mereka seperti tidak akan menerima Sakura Haruno."

Naruto kembali berpikir ulang. Kejadian ini memang agak aneh. Lelaki itu juga merasa bahwa apa yang dialami Sakura seperti sesuatu yang terencana. Dalam minggu ini saja, Naruto sudah dipanggil administrasi kampus terkait keuangan semester ini yang terlambat. Agak aneh sebenarnya jika Naruto harus dipanggil. Biasanya hanya dari sebuah surat saja kampus akan memberinya peringatan akan keterlambatan pembayaran uang kuliah. Belum lagi konsekuensi tidak masuk akal yang diberikan pihak kampus untuknya jika dalam semester ini lelaki itu tidak segera menyelesaikan skripsi. Ia memang masuk dalam kategori mahasiswa lelet. Sekarang saja ia sudah masuk semester sepuluh. Ada yang aneh tengah terjadi pada dirinya ... dan Sakura. Tiba-tiba saja sebuah kecurigaan melintas di pikirannya. Naruto harus segera mengonfirmasi kebenaran ini. Jika tidak, Sakura tidak akan bisa diterima di manapun!

...

Kediaman Hyuuga, distrik Ichibancho, Tokyo, Jepang.

Pukul 6 petang waktu setempat

"Apa yang anda lakukan pada Sakura?"

Naruto sekarang sudah duduk di ruang tamu super besar dengan perasaan campur aduk antara kesal, marah, dan kecewa. Di depannya, duduk dengan santai di sofa empuk berwarna putih seorang yang dua minggu lalu menyampaikan keinginan gila. Ya, Hiashi Hyuuga. Lelaki paruh baya itu duduk sambil menikmati teh hijau hangatnya yang masih mengepulkan uap.

"Bukankah aku sudah pernah mengatakan bahwa seorang ayah akan melakukan apa pun agar anaknya bahagia?" Hiashi menjawab dengan tenang.

Benar dugaan Naruto. Semua kejadian aneh ini pasti memiliki alasan. Dan alasan paling masuk akal adalah campur tangan Hiashi pada sejumlah perusahaan tempat Sakura mendaftar. Tentu saja, dengan kuasa yang dimiliki perusahaan Hyuuga, lelaki tua di depannya ini akan mengancam keberlangsungan firma hukum mana pun di Jepang. Gigi Naruto mengetat hebat; berusaha menahan sekuat tenaga agar kedua tangannya tidak berhambur secara brutal ke wajah iblis milik Hiashi.

"Tindakan seperti itu tidak pantas dan sangat tidak terhormat untuk seorang yang berpengaruh seperti anda, Hyuuga-san."

Hiashi langsung menatap tajam Naruto. "Jangan ajari aku tentang mana yang tidak pantas dan yang tidak terhormat. Apa pun akan menjadi pantas untuk cinta dan perang, kudengar ada pepatah seperti itu," ujarnya hati-hati.

"Kumohon, jangan lakukan ini pada Sakura. Cukup kau hancurkan diriku. Jangan orang lain," pinta Naruto. Ia harus tahu bukan dengan cara kekerasan jika ia ingin melawan seorang Hyuuga.

"Tidak mudah menghancurkanmu, anak muda. Akan lebih mudah menghancurkan seseorang melalui orang terdekatnya."

Naruto mulai naik pitam. "Anda keterlaluan!"

"Sebetulnya mudah saja untuk mengakhiri semua ini. Kau tinggal menyetujui apa yang kuminta dua minggu lalu maka ...," ada seringai terbentuk di bibir Hiashi dan segera menghilang begitu saja, "teman perempuanmu itu akan langsung mendapatkan pekerjaannya. Bahkan ia akan langsung mendapatkan pekerjaan paling baik yang bisa kuberikan dan aku akan merekomendasikannya langsung. Sedangkan kau hanya tinggal menandatangani persetujuan untuk menikahi putriku. Mudah, 'kan?"

Gemeletuk gigi Naruto semakin kentara. "Lalu jika aku masih menolak?"

Hiashi mendesah cepat. "Maka jangan harap baik kau maupun perempuan itu akan mendapatkan pekerjaan—bahkan yang paling tidak layak sekali pun."

...

Hinata menolak untuk mengisi perutnya dengan makan malam. Beberapa kali Ko, pelayan setianya, menyuruh nona muda itu untuk menyentuh makan malamnya karena sejak pagi Hinata hanya mengambil sedikit makanan. Tentu saja Ko tahu kondisi perempuan itu yang sedang berbadan dua. Morning sickness yang sering diderita wanita yang tengah hamil muda memang selalu membuat tidak nyaman untuk makan.

Pikiran Hinata yang selalu terbayang kejadian buruk yang mengakibatkannya hamil tidak mudah lepas begitu saja. Setiap malam gadis itu akan terbangun karena mimpi buruk. Belum lagi teriakannya yang keras akan membangunkan ayahnya. Dan sekarang, ternyata si bejat itu telah menanamkan benih dalam rahim Hinata, membuat gadis itu semakin stress. Malam itu sudah tiga kali Hinata bolak-balik ke kamar mandi hanya untuk kembali menggosok tubuhnya. Baginya, sentuhan lelaki brengsek itu adalah hal paling menjijikkan yang pernah terjadi dalam hidupnya. Dan lagi-lagi, Hinata hanya mampu menangis sambil terus menggosok tubuhnya hingga kulitnya memerah dan terasa perih. Ko yang menyadari tindak-tanduk nona mudanya itu segera menyuruh pelayan perempuan lain untuk menghentikan Hinata agar tidak semakin melukai diri. Bagaimanapun, Hiashi telah memberi Ko mandat untuk tetap mengawasi gerak-gerik Hinata.

Setelah Hinata berhasil dibujuk untuk berhenti mandi, tubuh mungil yang sudah berganti piyama tidur itu kini beranjak menuju perpustakaan pribadi Hyuuga untuk menghabiskan waktu. Perpustakaan itu cukup luas. Nyaris sebesar ruang tamu. Koleksi buku yang dimiliki pun beraneka ragam mulai dari sosial, politik, bahkan sains. Mata pucatnya beredar dan menemukan bacaan ringan; sebuah novel detektif untuk menghabiskan waktu malam itu karena rasa kantuk yang belum kunjung datang. Namun tatapannya langsung berhenti, berubah menjadi sebuah horor yang tercetak jelas di raut wajahnya yang semakin memucat. Tangannya bergetar, peluh langsung saja keluar dari pori-pori tubuhnya. Bibirnya terkatup rapat untuk menahan teriakan yang mungkin akan didengar oleh Ko. Mata gadis itu menangkap gambar cover halaman depan sebuah majalah bisnis internasional milik ayahnya. Gambar itu memampang wajah yang selama ini Hinata coba ingin lupakan. Wajah yang telah merenggut segalanya; kebahagiaan, harapan, masa depannya dan kini menyisakan luka tidak hanya bagi gadis itu tapi bagi ayahnya. Dan kini ia tahu siapa nama lelaki yang telah memerkosanya. Ia, lelaki dengan mata hitam segelap malam, Sasuke Uchiha.

Bersambung

Catatan penulis :

Tulisan ini sama sekali tidak ada beta. Masih berkutat secara mandiri untuk menyeleksi EYD yang masih 'nakal' dan plot yang masih muter-muter. Alur ini juga sangat lambat. Terimakasih untuk menghormati pairing yang penulis pilih.