Disclaimer : Naruto bukan milikku.

Peringatan : J.J sedang menghantuimu; menebarkan hawa marah, gelisah, merana, muak, dan sengsara setiap kali cerita J.J terunggah.

Peringatan lain : pairing (Sasuke x Hinata), AU, alur lambat, dan segala jenis kesalahan penulisan yang masih saja terlewatkan oleh mata penulis.

BAB 3

Naruto memperhatikan gerak-gerik perempuan yang sekarang tengah duduk bersimpuh di depannya. Mereka hanya berdua di sebuah restoran mewah—tepatnya berada di ruang VIP. Pikiran dan hati lelaki itu tengah berkecamuk tidak terkendali. Kejadian beberapa hari lalu di kediaman Hyuuga bukanlah sesuatu yang mampu dikatakan berjalan baik. Lelaki tua bangka bernama Hiashi terus saja memojokkannya untuk segera mempersunting putrinya yang sedang hamil muda. Lelaki berjabrik kuning itu mau tidak mau menerima penawaran Hiashi dengan berbagai pertimbangan dan tawaran menggiurkan. Naruto sebenarnya sama sekali tidak tertarik pada penawaran Hiashi—tentu saja menjadi salah satu petinggi Hyuuga Corp. Hanya saja konsekuensi yang harus ia jalani adalah jauh dari orang yang dicintai. Sakura. Hatinya melintir perih membayangkan dirinya tak akan lagi bisa bertemu dengan gadis itu. Gadis yang selama lima tahun lebih mengisi hati dan pikirannya. Bahkan, lelaki itu merelakan dirinya untuk disakiti baik secara fisik—ya, Sakura memang senang menghajarnya—dan hati.

Sasuke memang brengsek! Naruto benar-benar tidak paham bagaimana jalan pikiran lelaki Uchiha itu. Tentu saja. Darah Uchiha sang misterius sejati. Itu sudah cukup menjadi feromon para gadis untuk menyukainya. Mengingat bagaimana busuknya sikap Sasuke membuat Naruto sebal. Namun jauh dalam hati, Uzumaki muda itu merasa lega bahwa orang yang begitu digilai Sakura kini hilang tak berbekas.

Perempuan yang ada di hadapannya mulai bergerak gelisah. Mata lavender itu berkali-kali mencoba untuk mencuri-lihat manik biru milik lawan bicaranya meski mereka secara teknis belum berbicara sama sekali setelah pelayan mengantarkan semua pesanan sepuluh menit yang lalu. Tidak ada tanda-tanda siapa yang hendak memulai.

"Na-naruto-kun," Hinata mulai membuka suara dengan cara bicaranya yang khas; selalu tergagap saat berada di dekat Naruto.

Lelaki itu mengamati setiap bagian tubuh Hinata. Ia memang menyadari bahwa perempuan yang kini memasang wajah takut-takut itu tengah hamil. Hanya saja, lelaki itu tidak menyangka bahwa menjadi seorang wanita hamil ternyata membuat sosok Hinata menjadi kurus. Wajah polos bundar itu kini semakin tirus. Pipinya tak lagi gembil seperti pipi yang selalu Naruto puji. Seketika Naruto menggeleng keras. Tidak! Bukan saatnya lelaki itu mengingat kejadian baik di masa lalu. Bagaimanapun, Hinata ikut ambil bagian dalam rencana busuk Hiashi. Rencana pernikahan yang menghancurkan harapan Naruto untuk meminang Sakura.

"Kau tahu bahwa ayahmu datang padaku untuk menjodohkanmu?" Naruto bertanya. Suaranya begitu tajam hingga sanggup membuat Hinata bergidik ngeri. Tak pernah seorang Naruto yang ceria mengeluarkan kata-kata bahkan terdengar sanggup mengiris kulit Hinata. Perih. Menyakitkan.

Perempuan itu hanya membalas ucapan Naruto dengan anggukan lemah.

"Dan kau menyetujuinya dengan mudah." Sebuah pernyataan itu membuat kepala Hinata yang sedari tadi menunduk gelisah langsung menatap Naruto kemudian menggeleng keras.

"A-aku su-sudah berusaha me-menolaknya," sergah Hinata. Airmatanya mulai menggenang namun perempuan itu berusaha keras untuk mencegah genangan itu mengalir turun. "A-aku ta-tahu Na-naruto-kun me-menyukai Sa-sakura-chan."

"Apa kau benar-benar berusaha menolaknya?" ujar Naruto sarkastis. Pandangannya tetap tidak berpindah dari obyek yang masih ketakutan. Dominasi Naruto jelas mengalahkan Hinata. Begitu terbalik ketika lelaki itu harus berhadapan ayah perempuan bersurai indigo itu.

Hinata bergerak dengan gelisah; kepalanya tertunduk takut. Tangannya saling menumpu di bawah meja. Ia ingin menangis tapi entah karena alasan apa. Sejak semula wanita itu tahu bahwa pemuda di hadapannya memang tidak pernah menaruh hati terhadap dirinya. Bagi Hinata, hal itu tidak masalah. Bagi perempuan itu, selama Naruto bersikap baik padanya, itu sudah cukup. Munafikkah dirinya? Tidak. Perempuan itu tahu cara bersyukur pada apa yang terjadi sebelum kejadian laknat itu mengubah segala aspek kehidupannya. Kutukan demi kutukan dilayangkan pada pemuda tak bertanggung-jawab yang telah merenggut kesempatannya untuk mencecap kebahagiaan semu bersama Naruto. Ya, bagi Hinata, berada dalam jangkauan pria bermata biru langit itu sudah cukup.

"Ka-kau ti-tidak harus melakukannya," ujar Hinata kaku. Ada benda berat yang begitu saja menimpa tenggorokannya hingga ia semakin sulit untuk berbicara. "A-aku a-akan berbicara lagi pa-pada a-ayah."

Ada dengusan keluar dari hidungnya. Rasa ingin mencekik seseorang perlahan merasuk pada raga lelaki itu.

Keheningan mengisi ruangan.

"Aku akan melakukannya," ungkap Naruto. "Aku akan melakukannya dengan senang hati." Ada senyum misterius muncul dari sudut mulutnya.

Hinata yang menyimak hal itu langsung tertegun. Apakah pendengarannya bermasalah? Ia ingin memastikan sekali lagi apa yang baru saja Naruto ucapkan. "Kau ti-tidak perlu memaksakan diri, Naru—"

"Tidak!" tegas Naruto menyela perempuan itu. "Aku bersungguh-sungguh akan melakukannya."

Hinata hanya menatap lelaki itu. Cukup lama hingga Naruto sengaja berdeham untuk kembali menyadarkan perempuan itu agar sadar dari keterkejutannya.

"Aku tidak memiliki apapun untuk melamarmu. Kau tahu aku dari keluarga biasa tidak seperti keluargamu. Jadi—"

Hinata menggeleng keras. "Ka-kau tidak perlu memberiku apa-apa. Me-mendengarmu menyetujui dengan me-menikah itu su-sudah membuatku bahagia."

Bahagia ...

Membayangkan apa yang baru saja Hinata ucapkan tidak serta merta membuat sang pemilik rambut pirang itu ikut merasakan hal yang sama. Akibat ketidakadilan kumpulan orang yang memiliki harta yang melimpah, orang-orang seperti dirinya yang menjadi korban. Kekonyolan ini sangat berlebihan hingga Naruto terpaksa merelakan perasaannya. Demi Sakura.

"Kau merasa bahagia?" Nada pertanyaan retoris itu muncul begitu saja dari mulut Naruto.

Hinata yang mendengarnya langsung tersentak.

Naruto melirik gelas yang berisi kopinya yang isinya sudah berkurang setengah. Pikirannya menerawang. Ia ingin menghancurkan Hiashi secara perlahan melalui putrinya.

"Kau sangat tahu bahwa aku mencintai Sakura. Namun sekarang, aku bersedia menikahimu. Apakah ini tidak membuatmu merasa curiga?" tanya Naruto.

Hinata menggigit bibirnya. Ia tidak bodoh untuk tidak menyadari bahwa akan sulit membujuk seorang Naruto menikahi wanita lain apalagi dirinya kini tengah mengandung. Tidak ada laki-laki waras yang mau menikahi dirinya yang hamil dengan lelaki lain kalau tidak karena reputasi sekaligus harta ayahnya atau dendam—karena kuasa sang ayah pula. Namun pemikiran jahat itu dibuangnya jauh-jauh. Tidak mungkin Naruto yang iakenal bersikap sama, 'kan?

"Kau terlalu naif, Hinata," ucap Naruto seolah-olah berusaha menerka apa yang ada dalam pikiran si indigo. "Bukan tanpa alasan aku ingin menikahimu."

Keterkejutan Hinata semakin menjadi. Dengan suara serak, gadis itu berkata, "Apa maksudmu, Naruto?"

"Aku memang akan menikah denganmu dan berstatus menjadi suamimu," lanjut lelaki itu. "Namun kau tidak akan pernah memilikiku. Sampai kapanpun." Naruto masih menatap gelas mewah yang tersaji di depannya tanpa berniat sedikitpun untuk menghabiskan. Atmosfer dalam ruangan itu menyesakkannya.

"A-aku tahu," balas Hinata pelan.

Naruto mendengus keras. "Aku tahu jika kau tahu. Bukankah jelas aku mencintai Sakura? Dan aku sangat paham bagaimana kau mencintaiku," ujarnya penuh penekanan seolah-olah ini satu-satunya jalan ia mendominasi Hinata karena Hiashi sudah membuat lelaki kuning itu tak berkutik. "Mungkin dengan kekayaan kau bisa membeli harga diriku. Asal kau tahu, ini semua demi Sakura. Ayahmu mengancam setiap perusahaan yang dilamar oleh Sakura. Dan aku yang harus menghentikan ayahmu dengan menikahimu." Ada tawa kecil yang lolos dari mulut Naruto. Tawa yang terdengar miris.

"Aku sebenarnya benci mengatakan ini, tapi setidaknya aku akan jujur padamu sejak awal. Saat ayahmu menjadikanku alat untuk menutupi kejadian hamilmu, maka aku akan menjadikanmu alat untuk mendapatkan Sakura kembali padaku. Apa kau setuju dengan ini, Hinata?"

Ucapan Naruto yang frontal membuat degup jantung Hinata berakselerasi cepat. Ada perasaan sakit saat kejujuran itu terlontar dari bibir Namikaze itu. Ironi, memang. Hinata begitu mengagumi Naruto yang apa adanya. Namun mendengar pengakuan itu, perempuan itu malah berharap agar Naruto berkata dusta.

"Tentu saja," ucap Naruto kembali tanpa menunggu si empunya surai indigo membuka suara. "Aku tidak butuh persetujuanmu. Intinya, pernikahan kita hanya formalitas. Dan jangan pernah berharap akan ada rumah tangga yang selama ini kaubayangkan."

Mereka harus merasakan apa yang kurasakan. Bukankah begitu cara kerjanya? Naruto memandang Hinata sekali lagi. Namun bukan dengan pandangan ceria seperti Naruto yang dikenal Hinata. Pandangan itu kini sirna dan diganti rencana yang mungkin akan menjungkir-balikkan kehidupan perempuan itu.

.

.

.

Pesta pernikahan Hinata akan dilangsungkan dua minggu lagi. Berita itu segera merebak ke media massa meski pihak Hyuuga sudah berupaya menutup-nutupi. Keluarga terpanfang itu selalu menjadi sorotan publik karena kesan tradisional yang menjunjung tinggi rahasia turun-temurun keluarga.

Saat ini, Naruto sudah berada di dalam mobil—yang sebelumnya tidak pernah ia miliki—untuk menemui Sakura. Mobil hitam legam itu jelas pemberian keluarga Hyuuga.

Kejadian beberapa waktu lalu seketika menurunkan gengsi Naruto. Ia tidak peduli dengan pandangan orang-orang yang menganggap bahwa ia adalah lelaki yang memanfaatkan kekayaan Hiashi. Biar saja mereka berpikir demikian. Lagipula, ia memang berniat untuk menghancurkan hidup lelaki tua bangka itu karena sudah meremukkan satu-satunya cahaya hidupnya. Sakura.

Ia tiba di kafe sederhana di dekat kampusnya. Sakura terlihat tengah melambaikan tangan padanya. Wajah gadis itu ceria. Naruto sudah memiliki dugaan. Keceriaan itu pasti berhubungan erat dengan pekerjaan baru.

"Apa kautahu?!" kata Sakura nyaris berteriak. Kesenangan itu sedikit menjalar dalam hati Naruto. Ia tidak menyangka bahwa ia begitu merindukan gadis merah jambu ini.

Naruto yang dengan santai meminum machiatonya langsung berujar, "Apa?"

"Aku diterima di firma hukum milik Uchiha yang ada di Amerika!" teriak perempuan itu girang.

Kopi machiato yang ada di genggaman Naruto langsung terlepas dan menumpahkan isinya yang tinggal separuh. Pelayan perempuan tengah baya yang berada tidak jauh dari tempat dua orang itu bercengkrama langsung mendatangi Naruto dengan membawa kain pel. Naruto sesekali menggumamkan kata maaf pada pelayan itu.

Kabar ini bukan kabar yang ingin Naruto dengar. Bagaimana mungkin?! Bodoh! Naruto lupa bahwa Hyuuga dan Uchiha adalah dua hal yang memiliki persamaan. Mereka sama-sama berkuasa dan menghancurkan kebahagiaannya.

"Kau kenapa, Naruto?" tanya Sakura mendapati ekspresi terkejut Naruto yang tidak biasa. Naruto selalu menampakkan wajah bodohnya. Tapi tidak kali ini. Ada yang aneh dengan lelaki itu.

"Aku juga ingin memberimu kabar," kata Naruto mencoba mengalihkan pembicaraan. Embusan napas mengalir dari sistem respirasinya yang akhir-akhir ini terasa lebih sesak. "Aku akan menikah."

"Menikah?!" seru perempuan itu. Kali ini, cappucino milik Sakura yang terjatuh.

Naruto yang melihat kejadian itu hanya tertawa pelan. "Kau jadi tahu kan kenapa machiatoku jatuh. Alasan itu sama seperti cappucinomu yang jatuh."

"Tapi beritamu lebih gila dibanding pekerjaan baruku!" raun gadis itu tidak terima karena terlalu kaget mendengar berita pernikahan temannya itu. "Siapa gadis beruntung itu, bodoh? Semoga saja ia tidak menyesal karena memilih lelaki sepertimu."

"Hei! Aku lelaki baik-baik!" teriak Naruto tidak terima.

"Dia pasti orang kaya! Mobilmu," Telunjuk Sakura mengarah pada mobil mercedes hitam keluaran baru, "sejak kapan kau punya barang mewah seperti itu? Calon istrimu pasti punya uang melimpah."

Naruto tersenyum kecut. "Ya, dia sangat kaya raya! Aku bahkan tidak akan sanggup menghabiskannya sampai keturunanku yang keduapuluh."

"Benarkah? Kasihan sekali gadis itu," ujar Sakura memasang wajah pura-pura sedih.

Gadis? Bahkan Naruto tidak peduli apakah Hinata gadis atau bukan lagi. Ia tidak peduli pada pernikahan ini.

"Aku akan menikah dengan Hinata," kata Naruto akhirnya.

.

.

.

Satu hari sebelum pernikahan berlangsung.

Washington D.C

Gedung pencakar langit 50 lantai itu mengilap diterpa sinar matahari yang begitu terik. Jam makan siang baru saja usai. Para pekerja kantoran mulai kembali disibukkan dengan rutinitas. Begitu juga dengan pemilik gedung itu.

"Kakashi, bisa kau ke kantorku?" suara interkom milik sekretaris pribadi sekaligus penasehat perusahaan raksasa Uchiha House menyala dan memperdengarkan suara berat milik Sasuke. "Kurasa biaya dan perizinan pembangunan perumahan di daerah Jepang perlu dikaji-ulang."

"Sepuluh menit lagi aku ke sana," balas Kakashi.

"Dan juga panggil Sakura untuk mengurus peizinan brengsek itu."

"Maaf, Uchiha-sama, Sakura meminta cuti selama tiga hari untuk mengunjungi pernikahan sahabatnya di Jepang."

Ada suara geraman muncul di interkom itu. "Kenapa kau izinkan?!" Sasuke berujar dingin.

Kakashi yang mendengar suara marah Sasuke langsung mengoreksi, "Seharusnya Anda juga hadir. Bukankah Naruto sahabat Anda?"

"Apa maksudmu?" suara bariton Uchiha menajam.

"Naruto Namikaze akan menikah dengan Hinata Hyuuga besok pagi."

Suara interkom itu sunyi. Cukup lama sehingga membuat Kakashi khawatir. Namun tidak lama suara dari mesin itu kembali berbunyi.

"Kakashi, batalkan pertemuanku dengan mister Gates. Dan juga siapkan penerbangan pribadiku sekarang. Kita akan ke Jepang."

Tidak butuh waktu lama bagi Sasuke menuju bandara internasional Dulles. Hanya 45 menit perjalanan dengan catatan Sasuke yang menyetir kali ini. Kakashi yang duduk di kursi penumpang hanya tersenyum ringan. Ia paham betul mengapa Sasuke berubah drastis dan menjadi gila dengan membatalkan pertemuan dengan orang penting setingkat Gates. Pasti gadis itu. Gadis yang 'dicampakkan' oleh bosnya dan kini, sang bos malah menjadi sakit jiwa karena kabar pernikahan perempuan itu.

Kakashi tahu bahwa lelaki yang tengah menyetir ugal-ugalan di sebelahnya ini sedang berjuang. Bukan untuk menunda pernikahan antara Naruto dan Hinata secara terang-terangan. Kakashi yakin, harga diri Uchiha tidak ingin tercoreng karena tindakan gegabah. Oh, Sasuke tidak semurahan itu. Ada cara elegan untuk mendapatkan perempuannya. Pria itu hanya terkesima pada bosnya.

Kelemahan seorang Uchiha ternyata sama seperti manusia-manusia lain. Cinta dan obsesi.

Bersambung

.

.

.

Catatan penulis:

EYD secara resmi diganti EBI. Mari belajar lagi, para penulis!

Untuk bab berikutnya, bagi pembaca yang menanti relasi Sasuke-Hinata, selamat! Harapan akan segera diwujudkan!

Maaf karena terlalu lama menelantarkan cerita ini. Andai saja dunia nyata bisa diajak berkompromi ...