Disclaimer : Naruto bukan milikku.

.

Peringatan : J.J sedang menghantuimu; menebarkan hawa marah, gelisah, merana, muak, dan sengsara setiap kali cerita J.J terunggah.

.

Peringatan lain : pairing (Sasuke x Hinata), AU, alur lambat, dan segala jenis kesalahan penulisan yang masih saja terlewatkan oleh mata penulis.

.

.

BAB 4

.

.

"Kau sangat cantik, Hinata."

Teman sekaligus penata rias handal Hinata itu menatap calon pengantin dengan wajah sumringah. Wanita itu tak menyangka bahwa kawan pemalunya ini malah mendahuluinya dalam urusan rumah tangga. Saking gemasnya, ia harus memoles kembali bedak pada pipi Hinata yang terus merona karena tak tahan untuk tidak mencubitnya.

"Aku benar-benar iri padamu!" teriaknya sambil memeluk erat Hinata dari belakang.

Pantulan wajah Hinata dan tubuhnya yang mengenakan gaun pernikahan modern berwarna putih membuat kilau indigo rambut wanita itu sangat kontras; menyilaukan mata. Mahakarya Ten-Ten memang luarbiasa. Tidak heran bisnis tata-rias dan desain baju pernikahannya begitu diminati banyak orang Jepang bahkan artis-artis juga menjadi langganan setia baju-baju yang dibuat wanita berdarah Tionghoa itu.

Hinata terkikik kecil meski jauh di dalam hatinya, perkataan Naruto terus terngiang. Ini semua hanya pura-pura. Tak ada yang berubah. Dirinya hamil dan orang tak bersalah harus menanggung kesalahannya. Ya, selama dua minggu ini, ia terus saja dihantui rasa bersalah yang tak biasa. Secara tidak langsung, ia adalah tersangka yang membuat hidup satu-satunya orang yang dicintai hancur. Memikirkan kembali memori pertemuannya dengan si pria bermata biru cerah itu mengenai aksi membalas terhadap dirinya, Hinata hanya mampu terpaku. Bagaimanapun, semua ini adalah kekeliruannya. Bodoh karena menjadi wanita lemah dan hamil. Bodoh karena ia tak mampu memberontak saat ... itu. Hinata menggeleng keras. Membuang kejadian nahas itu jauh-jauh dari otaknya.

"Kau tidak apa-apa, 'kan?" Raut Ten-Ten terpantul di cermin berukuran raksasa itu. Ada kecemasan tergambar jelas pada rupanya. Bukankah seharusnya kebahagiaan yang terpancar di wajah sahabatnya itu?

Hinata memaksakan senyuman. "A-aku ha-hanya gugup."

Mendengar jawaban Hinata, Ten-Ten langsung memeluknya. "Ah! Wajahmu yang begitu membuat lelaki siap menerkammu di malam pertama!"

Celotehan Ten-Ten yang sarat akan kemesuman membuat wajah Hinata memerah beberapa tingkat. Kepalanya menunduk; tak berani lagi memandang wajahnya sendiri yang sudah merona tidak terkendali. Produksi hormon adrenalin semata wayang putri Hiashi itu memang berlebihan.

Percakapan mereka terpaksa berhenti ketika ketukan pintu terdengar. Pintu membuka sedikit menampilkan sosok yang memasang wajah seringai jahil

"Hai, Hinata!" Ino nyengir lebar. Kepalanya yang muncul tanpa badan ditambah lambaian tangan menambah kesan seperti orang idiot. Hanya saja, Ino tidak seperti itu. Otak cerdasnya mampu membuat perempuan itu mampu menjadi salah satu staf firma hukum milik Sabaku—firma hukum kondang di Jepang yang rekam jejaknya tidak pernah terkalahkan dalam berbagai persidangan.

Rambut gadis itu berkibar saat berlari menghampiri mempelai wanita. Ia langsung menubrukkan diri pada tubuh Hinata yang mungil kemudian mendekapnya kuat-kuat. Hinata megap-megap ketika dekapan itu tak juga mengendur.

"Hei, bodoh! Kau membunuhnya!" Ten-Ten langsung mendorong raga Ino agar perempuan gila itu melepaskan wanita paling penting dalam pesta pernikahan nanti.

"Kau itu desainer atau atlet gulat sih? Tenagamu itu seperti kingkong, kau tahu!" Ino mengumpat karena tubuhnya sedikit terlempar satu meter karena dorongan si desainer itu.

"Kau itu nyaris menjadi pembunuh berdarah dingin andai tidak kupisahkan dirimu dengan Hinata. Mau kau jadi narapidana karena tindakan memeluk yang membawa bencana? Sungguh! Itu peristiwa pembunuhan yang tidak elit!" Ten-Ten berujar kesal.

"Sudah-sudah." Suara Hinata kini menengahi. "A-aku tak masalah—"

Ten-Ten langsung melemparkan pandangan marah pada Hinata dan membuat gadis indigo itu membisu; takut. "Riasan wajahmu akan rusak karena wanita gila itu, Hinata! Aku juga tidak mau Naruto langsung menduda sebelum mengucapkan janji setia."

Hinata menelan salivanya dengan perasaan masam. Andai kedua sahabatnya itu tahu kejadian yang sesungguhnya; Hinata diperkosa, hamil, dan orang yang menikahinya adalah tumbal. Mungkin Ten-Ten dan Ino akan langsung meninggalkannya. Wanita itu begitu takut. Ia tidak ingin apa yang masih tersisa dan menjadi sumber bahagianya—kedua sahabatnya itu—juga ikut membencinya seperti Naruto.

"Dan kau!" Ten-Ten langsung mengacungkan telunjuknya ke wajah Ino yang yang tidak peduli pada peringatan Ten-Ten malahan masih saja terpesona melihat Hinata. "Ayo kita keluar. Hinata butuh waktu untuk mempersiapkan hatinya. Iya, 'kan?"

Sedikit ragu, Hinata mengangguk kecil pada pernyataan Ten-Ten.

"Uh, dasar, wanita galak!" gerutu Ino sambil memelototi gadis berambut cepol dua itu. "Oke-oke, kali ini aku tidak akan membalas ucapanmu. Demi hari indah gadis kita satu ini," Ino tersenyum dan tidak tahan untuk memeluk Hinata sekali lagi namun hanya sebentar. Gadis Yamanaka itu waspada jika Ten-Ten tidak segan-segan untuk melemparnya ke luar jendela padahal mereka sedang berada di lantai tiga gedung pernikahan.

Ketika mereka sudah pergi dan pintu sudah tertutup, tiba-tiba saja, ada yang membuka pintu itu lagi. "Kau tidak apa-apa kami tinggal sendirian, 'kan?" Ten-Ten melongok dari balik pintu.

"Ti-tidak apa-apa," ujar Hinata menenangkan.

Pintu itu tertutup lagi.

Hinata mengembuskan napas pelan. Ia memang tengah dilanda kalang kabut hingga nyaris membuatnya ingin menangis andai saja pintu yang sudah tertutup itu terbuka lagi.

"Kau yakin?" kali ini Ino yang bersuara.

Belum sempat Hinata membalas, ada sebuah tangan yang menarik tangan Ino. "Kau ini! Ayo cepat ke bawah. Sai mencarimu!" Ten-Ten selalu saja kesal melihat tingkah Ino. Dibanding dirinya, wanita Yamanaka itu jauh lebih iseng terutama kalau itu urusan menjahili Hinata.

Dan pintu kembali menutup. Ada tawa kecil lolos dari bibir Hinata. Setidaknya, di hari bahagia ini, kedua sahabat karibnya itu membuatnya tersenyum. Ia bersyukur memiliki mereka berdua.

Untuk kedua kalinya, napas keluar secara cepat melalui lubang hidung Hinata. Rasa sesak yang mendera sedikit berkurang. Ia berdiri dan bersiap untuk ke bawah; tempat di mana Naruto dan dirinya akan menjadi suami-istri.

Pintu kembali terbuka.

Hinata menggeleng pelan. Teman-temannya ini memang kelewat jahil. "A-aku baik-baik saja, Ino. Aku akan turun—" suara Hinata langsung tercekat. Seperti ada sebongkah batu besar yang tiba-tiba memenuhi tenggorokannya.

Pelan-pelan, setelah kesadarannya kembali, gadis itu bersuara lagi. "Ka-kau—" Hinata mengerjap dan langsung waspada. Kakinya secara tidak sadar mengambil langkah mundur sejauh mungkin dari sosok yang baru saja memasuki ruang masuk khusus pengantin wanita. Nyaris saja tubuhnya jatuh menghantam karpet lantai karena gaun pengantinnya yang panjang tidak sengaja terinjak andai Sasuke tidak segera menarik tangan Hinata dan menyambut tubuh kecil itu dalam dekapannya.

Kedua iris mata yang berlainan warna itu bersirobok. Ada makna tersirat yang ada dalam kedua pasang bola mata itu; ungu pucat menggambarkan kerikuhan yang membuat tidak nyaman si pemilik sedangkan warna jelaga mengisyaratkan kerinduan mendalam dan rasa bersalah yang menggelayut.

"Le-lepas!" Hinata memberontak kedua tangan kecilnya yang terbungkus sarung tangan putih panjang meremat sangat keras lengan kekar Sasuke yang tentu saja tidak berarti apa-apa bagi lelaki itu. "Kumohon, le-lepaskan aku!" Ketakutan Hinata memuncak. Ia mengangkat kaki kirinya yang mengenakan sepatu berhak tinggi dan runcing itu dan mengarahkannya tepat di kaki orang asing yang telah merenggut segalanya.

Hampir saja injakan mengerikan itu mengenai kaki sempurna milik sang Uchiha jika saja Sasuke tidak segera menyadari bahaya yang menghampiri. Lelaki itu tersenyum kecil untuk pertama kalinya setelah lebih dari sebulan ia tak berjumpa dengan wanita pujaannya itu. Wanitanya memang terkadang keras kepala dan senang bertingkah aneh-aneh; seperti tadi. Perlindungan diri macam apa itu?

Hinata meronta; tidak ingin disentuh oleh lelaki itu—lagi.

Sasuke tidak serta merta melepaskan rengkuhan pada Hinata. Ia terlalu merindu pada aroma, lekuk tubuh, serta suara sang empunya rambut indigo itu. Rasa kangen yang membuncah tak mampu lagi ditahan. Indra penciumannya menghirup rakus setiap wewangian yang disajikan oleh satu-satunya poros hidupnya; leher serta rambut. Harum dan memikat layaknya morfin; membuat pria itu kecanduan setengah mati.

Hinata menggeliang hebat. Trauma terhadap perlakuan lelaki yang tengah mendekapnya erat. "Lepaskan aku!" Suara keras itu jelas berasal dari Hinata. Tidak pernah sekalipun pita suaranya mampu menghasilkan suara sekencang itu. Artinya, perempuan itu benar-benar murka. Lantas, apa pria itu peduli? Tidak. Tentu saja Sasuke tidak mudah untuk dibuat gentar.

"Marahlah sepuasmu," ujar lelaki itu pelan; membuai gendang pendengaran milik Hinata dan meromakan seluruh tubuh perempuan itu.

Suara itu seperti desahan dan hal itu cukup membuat Hinata langsung membeku. Ingatan paling kejam itu perlahan mengganggu pikirannya. Hatinya sakit, jabang bayi yang ada dalam rahimnya seolah merasakan kehadiran—Hinata tidak sudi mengakui hal ini—ayahnya. Mata gadis itu memanas, kelenjar airmatanya mulai menyekresikan cairan yang sejak awal gadis itu coba tahan. Ia tidak ingin terlihat lemah, apalagi di hadapan pria ini.

"A-aku ti-tidak mengenalmu! Pergi!" Dan akhirnya isak tangis itu pun pecah. Hinata tidak tahan. Raga gadis itu lemas. Kedua tangan kecil itu langsung menutup telinganya masing-masing. "Pergi! Pergi!" lirihnya berkali-kali.

"Pertama, namaku Sasuke Uchiha. Kuharap kau mengingatku kembali. Dan kedua, aku tidak akan melepasmu," kata Sasuke kemudian sigap menangkap tubuh Hinata yang pelan-pelan merosot. "Aku tidak akan melepasmu lagi."

Dengan sisa energi yang masih ada, Hinata mendorong Sasuke. Lelaki itu tersentak karena pertahanannya yang berkurang akibat fokusnya pada wanita yang sedang menangis itu. Lelaki itu bisa melihat tatanan wajah si calon pengantin itu sudah berantakan.

"A-aku akan menikah. Menjauh dariku!" Satu tangan Hinata menjulur ke arah Sasuke agar pria itu tidak mendekat sedangkan yang lain mengusap kasar airmatanya.

"Aku tahu. Tetap saja kau adalah milikku." Sasuke mendekat. Ditariknya dagu Hinata agar mata pucat itu membalas mata hitamnya. "Lebih dari sebulan aku berusaha keras untuk tidak menjadi gila karena memikirkanmu. Hampir tujuhbelas jam aku ke sini untuk mendatangimu. Dan sekarang kau menikah dengannya?!" teriak Sasuke putus asa. "Apa kau lupa dengan kejadian itu? Apa aku harus mengingatkanmu lagi, hah?!"

Lelaki di depannya ini tidak tahu alasan mengapa pernikahan ini terjadi. Kehamilan ini telah mencoreng keagungan nama Hyuuga dan menyakiti hati Hiashi. Hinata tidak ingin menjadi anak yang durhaka.

"Na-naruto menungguku. Biarkan aku pergi," elak Hinata mencoba menghindari pembicaraan yang mengharuskannya membuka kembali ingatan pemerkosaan itu.

Sasuke memandang manik mata Hinata yang masih berair. Wajah itu terlihat begitu takut, cemas, seolah mengatakan bahwa Sasuke adalah monster yang akan menerkam wanita itu. Apakah salah jika Sasuke ingin agar Hinata memerhatikannya? Lelaki itu hanya ingin hati perempuan itu untuk Uchiha bungsu seorang—sebut saja Sasuke serakah. Uchiha tidak mengenal kata berbagi mengenai perasaan.

Dan rencana yang sudah ia susun selama penerbangan limabelas jam dari Dulles ke Narita mengenai Hinata akan segera terjadi. Rencana itu memang menyakitkan bagi dirinya yang egois. Namun demi kebaikan semua pihak, ia akan sedikit berkorban. Tidak untuk waktu lama, Hinata harus kembali untuknya. Demi hartanya yang berharga.

Sasuke menunduk untuk semakin mendekatkan wajahnya pada Hinata. "Kali ini kau kubiarkan pergi. Namun perlu kauingat, aku akan kembali untuk merebutmu. Aku tidak akan melepasmu dengan mudah, Sayang."

Kemudian, peristiwa itu terjadi begitu saja. Basah; akibat airmata dan juga saliva. Kedua bibir itu menyatu. Tidak ada ciuman paksaan seperti kejadian mengerikan itu. Tidak ada perlakuan kasar. Hanya ketulusan dari Sasuke untuk melepas Hinata sementara waktu. Ia akan membereskan permasalahan yang tengah berkecamuk dalam pikirannya.

Dan Hinata sendiri, ia hanya bisa bergeming; tidak memberontak tapi juga tidak membalas. Dirinya terlalu kaget dengan perubahan sikap pemerkosanya.

...

Lelaki itu duduk sambil bersandar pada sofa beludru mewah di sebuah ruangan yang cukup besar. Satu kaki menyilang dan kedua tangannya terlipat di depan dada. Wajahnya tak sekalipun berpaling dari sosok lain yang juga duduk di sisi bersebrangan. Arogansi dan kekuasaan masih melekat pada tatapannya yang penuh intimidasi dan keinginan kuat layaknya serigala yang mengendap-endap dan siap menyerang mangsanya.

"Kau akan menikahinya," ujar lelaki itu pelan namun penuh penekanan. Perkataan itu bukan sebuah interogasi. Ini adalah pernyataan mutlak yang mampu membuat sang lawan bicara bungkam.

Ya, Naruto diam seribu bahasa. Ia hanya fokus memandangi Sasuke Uchiha dengan pandangan bertanya namun juga penuh kebencian. Ingatkan lelaki bersurai kuning itu jika Uchiha di hadapannya ini adalah salah satu faktor Sakura angkat kaki dari Jepang.

Melihat tidak ada reaksi dari teman—jika hubungan itu masih pantas disebut—masa kecilnya, kekesalan muncul secara perlahan dari hati lelaki Uchiha itu.

Mata Sasuke memicing. Ada dengusan kecil keluar dari hidung mancungnya. "Kau paham jika Uchiha tidak sudi diabaikan."

"Apa peduliku," balas Naruto dingin.

Ada kerutan terbentuk di antara kedua alis Sasuke mendengar nada bicara Naruto. Tidak biasa lelaki berkulit gelap yang dikenal cerewet itu berkata seperti ini seolah ada jarak sangat jauh yang lelaki Uzumaki itu coba bentuk. Lalu, satu pemikiran melintas begitu cepat dalam otak si Uchiha. Tentu saja. Hal yang mampu membuat lelaki berubah karakternya selain karena lingkungan pastilah orang yang disukai.

Camkan ini; lelaki dan perempuan adalah sama. Kelemahan mereka ada pada hati. Hanya ada dua cara untuk menutupi kelemahan itu; pertama, ia akan menyerah; tak ingin melawan arus karena semakin kuat arus itu dan semakin kuat melawannya, hanya akan ada rasa sakit yang dirasa. Kedua, ia akan menutupinya dengan sikap arogansi dan bersikap bahwa semua baik-baik saja. Cara pertama dan kedua memiliki persamaan; kesakitan yang entah kapan berakhir.

Sama seperti yang Sasuke alami sekarang. Ia sadar akan kelemahan itu; bahkan Hatake sialan itu juga menyadarinya. Namun, ia harus melindungi apa yang mampu membuatnya hidup, 'kan? Tindakan yang akan dilakukan ini pasti akan ditertawakan Itachi. Sungguh, pemikiran tak waras yang telah menghantuinya sejak meninggalkan Jepang sampai kembali ini tidak lebih seputar gadis—ralat—wanita yang sudah diperawaninya itu. Hinata.

"Aku menawarkanmu hal menarik."

Ucapan Sasuke itu berhasil menarik atensi Naruto. Ada kesangsian muncul dalam benak Naruto saat mencoba mencerna kalimat itu. Tawaran? Seorang Sasuke?

Tanpa menghiraukan kebingungan yang tercetak jelas di wajah sang Namikaze, Sasuke melanjutkan, "Kau memang akan menikahi Hinata," ada jeda yang terbentuk seakan Sasuke sengaja memberikan atmosfer penuh ketegangan. Lelaki itu memang lihai mengobrak-abrik pikiran dan perasaan orang, "tapi jangan pernah sekalipun kau menyentuhnya. Kau harus menjaganya dan jangan coba-coba untuk menyakitinya. Aku akan mengawasimu setiap saat. Sebagai gantinya, aku akan memfasilitasi hidupmu dengan layak—"

"Aku tidak butuh hartamu, brengsek!" Naruto terpancing. Emosi menggelegak dalam hatinya. Apakah otak orang kaya hanya mampu diisi oleh sogokan uang? Sialan!

Sasuke memberikan seringainya yang jelas-jelas telah meningkatkan amarah Naruto menjadi berlipat-lipat. "Aku tahu itu. Tentu tawaran lain akan membuatmu berpikir kembali. Bagaimana jika Sakura kupindahkan ke cabang perusahaan Uchiha yang ada di Jepang—bukan, yang paling dekat dengan tempat kautinggal?"

Mata Naruto melebar. Apa maksud si brengsek Uchiha ini? Setengah sadar, Naruto akhirnya berbisik, "Kau ja-jangan macam-macam padanya."

Sasuke tertawa remeh. "Kuanggap kau setuju."

...

"Tuan Uchiha ...," Kakashi memandang bosnya khawatir. Di sudut kursi ruang pernikahan itu, Sasuke memandang Hinata dengan tatapan datar. Kakashi semakin cemas melihat kedua tangan tuannya mengepal.

"Tidak apa-apa, Kakashi," gumam Sasuke pelan. "Ini harus terjadi."

"Tapi—"

"Aku sudah kehilangan ibu. Aku tidak ingin kehilangan lagi." Mata oniks itu tidak sekalipun berpaling.

"Jika begitu, mengapa Anda tidak membawa Nona Hinata kembali ke Amerika saja, sir?"

Seulas senyum getir terbentuk di sudut bibir milik Uchiha. "Aku hanya butuh sedikit kesabaran hingga pelaku pembunuhan orangtuaku tertangkap. Orang ini salah berhadapan denganku. Akan kubuat ia merasakan kehilangan. Dan untuk itu aku harus melindungi apa yang berharga dan menjauhkannya dari jangkauan pembunuh itu."

"Dengan membiarkan Nona Hyuuga menikah?"

Sasuke melihat Naruto menyematkan cincin pernikahan itu pada jari manis Hinata. Banyak orang bertepuk tangan kecuali dua orang yang jauh-jauh datang dari Amerika; Sasuke dan Kakashi.

"Melindungi seseorang serapat mungkin memang membutuhkan pengorbanan besar. Tidak akan lama, Kakashi. Nona itu akan kembali padaku."

"Tuan, Anda tidak bermaksud untuk—"

"Ya, aku bermaksud untuk itu," jawab Sasuke yang paham mengenai arah pembicaraan sekretaris pribadinya itu.

Mulut Kakashi langsung terbungkam. Ia tidak ingin menilai apakah Tuannya tengah mengalami kegilaan atau hanya berpura-pura gila. Lelaki itu hanya tidak tahu saja jika Uchiha telah memutuskan, maka segala titah harus terjadi bahkan hal yang paling tidak masuk akal sekalipun.

"Apa kau sudah mendapatkan informasi mengenai pembunuh orangtuaku?"

Prosesi pernikahan sudah selesai. Hinata tengah merayakan pernikahannya dengan memotong kue pernikahan. Dua teman Hinata tengah berebut untuk mendapatkan foto kemesraan Naruto dengan Hinata.

Tolol. Naruto tidak dapat menipu kepekaan Sasuke Uchiha. Pria raven itu dapat melihat bahwa pengantin pria di sana sama sekali tidak berniat pada perkawinan yang sedang berlangsung. Sasuke sudah menghitung lebih dari tujuh kali mata biru langit itu bertemu pandang gadis yang menjadi staf hukumnya di Amerika; Sakura Haruno.

"Dari daftar yang dikirimkan Shikamaru, ada lima orang yang diduga kuat menjadi dalang pembunuhan Tuan dan Nyonya Uchiha."

"Hn. Lanjutkan."

Kakashi membuka smartphone yang ada di balik jas hitamnya. "Menurut kejadian itu, Tuan dan Nyonya memang dibunuh dengan tembakan ... itu," ujar Kakashi yang sejenak ragu mengucapkan fakta bahwa tembakan itu mengenai tepat di kepala Fugaku.

"Tidak apa-apa. Teruskan."

"Pelaku penembak jitu itu cukup ahli dalam beraksi. Tidak ada serbuk mesiu dari salah satu penghuni hotel seberang tempat Tuan dan Nyonya menginap setelah dilakukan pemeriksaan. Senjata yang digunakan pun juga tidak ditemukan."

"Orang dalam," ujar Sasuke menerka.

Kakashi mengangguk. "Benar. Ada orang dalam yang membantu pembunuhan ini. Hotel Ritchy sedang dalam masa penyelidikan."

"Polisi federal terlalu lambat. Shikamaru pasti bisa melakukan lebih cepat."

"Benar, Tuan. Laporan Shikamaru selangkah lebih jauh dibanding data yang didapat oleh kepolisian. Dan ..." Selangan singkat terbentuk. Bagian ini adalah bagian tersulit untuk pria berambut perak itu berkata.

"Aku tidak menyuruhmu berhenti." Ketegasan Sasuke membuat Kakashi sedikit gugup. Meski lelaki yang kadang-kadang iseng mengenakan masker itu sudah merawat Sasuke sejak kecil, terkadang sikap si bungsu Uchiha itu bisa di luar dugaan. Seperti sekarang ini. Awal yang lunak kemudian berubah menjadi mengerikan.

"Seseorang telah menyelinap masuk ke kamar Tuan Fugaku dan beberapa data mengenai perizinan pendirian perumahan dan beberapa rumah sakit di Jepang telah diubah sebelum kejadian nahas itu terjadi," lanjut Kakashi pelan namun sarat kegelisahan. Perkara ini tidak akan mudah.

"Artinya, aku memintamu beberapa waktu yang lalu untuk mengecek tentang rencana itu memang sudah ada orang yang menyabotase?" Sasuke berpaling dari pemandangan sang pujaan hati untuk melihat mata Kakashi. Obsidian lelaki Uchiha itu seperti bilah pisau yang menyayat tak kasatmata.

Hatake hanya mampu mengangguk pelan. "Dan ... Anda perlu tahu list yang diserahkan oleh Shikamaru. Orang-orang yang diduga menyabotase rencana itu hingga kematian Tuan dan Nyonya."

Ponsel pintar yang semula berada di tangan Kakashi berpindah. Saat itu juga mata Sasuke berekspansi. Salah satu daftar itu membuatnya terkejut. Nama Neji Hyuuga berada pada baris nomor 4.

Bersambung.

Catatan penulis:

Sepertinya karakter Ten-Ten dan Kakashi benar-benar jauh dari apa yang digambarkan sir Kishimoto. Memang saya sengaja karena saya ingin mengubah kebiasaan. Silakan lempar sandal ke saya. Tidak akan kena.

Interaksi antara Sasuke dan Hinata sedikit dan lagi-lagi ... kenapa saya selalu memasukkan unsur misteri padahal ini roman?! Argh! Saya tidak akan membuat kasus ini berat karena memang sejak awal cerita ini dibuat ringan (tapi saya tidak menjanjikan itu karena otak saya sering melenceng ke arah yang aneh-aneh).

Terimakasih pada reviewers yang berkenan memberikan komentar terlebih pada mereka yang memberikan tulisan panjang. Saya senang membacanya karena artinya pembaca sekalian meluangkan waktu lebih untuk menuliskan hal-hal; unek-unek, kejengkelan, frustrasi, dan kesenangan. Itu sanjungan untuk J.J.

See you when you see me,

J.J