Hari ini pun tidak laku.

Akhirnya Kirana mengakhiri bisnisnya ini dengan perasaan lesu. Sudah seharian duduk manis di bawah matahari hingga peluh menmbasahi tubuh Kirana, namun tidak ada sama sekali bunga yang berkurang kecuali tulip. Kiranapun melangkahkan kakinya menuju rumah kecilnya. Di tengah perjalanan pulang tenggorokan Kirana terasa kering. Benar juga, matahari hari ini sangat panas.

Kirana merogoh sakunya. Mengeluarkan dua lembar uang lima ribu. Harta yang ia punya saat ini hanya segini, syukurlah, ini jelas cukup untuk membeli air putih. Kirana celingak-celinguk mencari warung terdekat. Kedua irisnya itu melihat warung kecil berdiri kokoh dipinggir jalan. Dengan berlari kecil gadis ini menuju warung kecil itu.

Namun, hal tak terduga terjadi pada perempuan malang itu. tali sandal miliknya terlepas dan membuat Kirana kehilangan keseimbangan. Dengan sukses ia terjatuh menghamburkan bunga dangangannya . Malu? Jelas saja Kirana malu, bahkan ingin mati rasanya. Terjatuh di tengah kerumunan orang ini, sungguh hal yang sangat memalukan. Mana tidak ada yang menolong, yang mereka lakukan malah menertawakan Kirana dengan terang-terangan.

Kirana segera berdiri. Memunguti bunga-bunga dangangannya yang tidak laku dan menyusunnya kembali di dalam kresek. Niatnya membeli air minum menghilang karena faktor malu yang tidak dapat ia sembunyikan. Kirana pergi dengan cepat sambil membawa sandal miliknya yang sudah rusak. Sungguh menyedihkan. Sandalnya satu-satunya yang ia miliki sudah rusak. Kirana sempat berpikir untuk membeli lagi sandal jepit murah yang dapat dibeli walaupun hanya punya sepuluh ribu.

Sialnya, hartanya itu juga ikut menghilang. ceroboh sekali. Pasti jatuh saat ia tersungkur tadi, mungkin terpaksa ia harus terus bertelanjang kaki sampai dapat membeli sandal lagi. Kirana menghela nafas berat, hari ini memang cukup melelahkan bagi gadis Indonesia ini. ia terus berjalan terseok-seok sampai pada akhirnya seseorang memanggilnya. Suara yang Kirana kenal. Gadis ini langsung menoleh ke arah sumber suara, ternyata benar. Tim.

"Tim, kau sudah selesai kerja?" tanya Kirana dengan ramah. Sebisa mungkin terlihat normal.

"Yah, ini baru mau pulang..." kebetulan Tim melihat kaki Kirana yang tidak beralaskan apa-apa. Entah sejak kapan telapak kaki Kirana menjadi penuh luka. "kau..."

"Hmm?"

"Kenapa bertelanjang kaki begitu? Sandalmu rusak?" tanya Tim yang kebetulan juga melihat tangan Kirana sedang membawa sepasang sandalnya. Kirana menundukkan kepalanya. Dan menyembunyikan sandalnya ke belakang punggungnya.

"Yah, begitulah... lalu aku jatuh..." jawabnya lirih.

Tim tidak berkomentar apa-apa, ia menatap Kirana cukup lama tanpa ekspresi. Lelaki dengan hairstyle tulipnya ini menggengam kedua tangan Kirana.

"Lukanya cukup banyak," ujar lawan bicara Kirana ini, setelah itu ia merogoh saku celananya. Dan mengeluarkan hansaplast satu set. "Nih, pakai," ucap lelaki belanda ini entah ia memerintah atau apalah. Kirana menurut, ia mengambil hansaplast itu dan mulai memasangkannya satu persatu di luka lecet miliknya. Tim menunggu gadis Indonesia ini sampai selesai.

Suasananya canggung sekali sampai Kirana selesai memasangkan hansaplastnya

"Selesai, Teriamakasih banyak, Tim!" Kirana membungkuk dalam-dalam di depan pemuda berambut tulip ini. Gadis ini mengangkat kembali kresek berisikan bunga yang sedari tadi ia taruh sebentar untuk memasang perekat luka. Tim menatap dagangan milik Kirana yang sama sekali tidak berkurang itu. Kemarin juga begitu. Belum lagi gadis ini berjalan dengan kaki telanjang "Aku akan pulang, sampai besok".

"Tunggu, apa kau punya sandal lagi?" tanya Tim menghentikan Kirana yang barusan hendak memutar balikkan tubuhnya sendiri. Kirana diam untuk beberapa detik. Lalu mengangguk pelan.

"Oh, begitukah? Baguslah, bye," akhirnya pemuda itu pergi meninggalkan Kirana.

Gadis ini sudah terlanjur berbohong. Uang saja tidak ada, bagaimana mau punya sandal lagi? Sudahlah, itu masalah nanti. Untuk sekarang Kirana harus segera pulang dan memperbaiki sandalnya seperti sedia kala.

:v

Sesampainya di rumah, Kirana langsung menaruh barang dagangannya lalu pergi ke halaman belakang rumahnya. Mencari sesuatu yang bisa dipakai untuk memperbaiki sandal murahnya yang telah rusak. Selang beberapa lama, akhirnya Kirana menemukan sebuah tali raffia yang cukup untuk dipakai memperbaiki alas kaki miliknya. Ia tersenyum kecil lalu membawa tali itu masuk ke dalam rumahnya. Mulailah ia mengakali kegunaan tali raffia itu. Otak cerdiknya memperlancar kerjanya.

Dan setelah beberapa menit kemudian. Jadilah tali raffia itu pengganti tali yang rusak. Dengan sedikit modifikasi (silahkan bayangkan sendiri). Kirana mendengus puas dengan hasil kerja kerasnya. Tanpa mengeluarkan uang sedikitpun ia dapat mempunyai sandal lagi. Namun satu masalah yang belum kelar. Saat ini tenggorokkannya perih karena kering. Sedari tadi ia tidak meminum apa-apa. Untunglah masih ada sisa air timbaan tadi pagi.

Dengan segera Kirana mendidihkan airnya dan membasahi tenggoroknya yang kering itu. Karena sudah terlalu malam, Kirana langsung mengistirahatkan tubuhnya untuk kembali beraktivitas lagi besok berjualan bunga.

Dengan cepat pagi menyambut lagi. Suara kicauan burung seperti alunan music bagi Kirana. Membuat paginya ini sangat sempurna. Setelah meregakan badan, ia melakukan kegiatan kesehariannya di pagi hari. Menimba, memasak air, mandi, dan sarapan dengan sisa air didihannya. Setelah itu berkemas untuk berjualan bunga lagi. Pagi hari selalu ia awali dengan semangat. Pagi inipun juga begitu. Tidak ada yang berubah dari Kirana setiap harinya. Sebelum berangkat kerja, ia menatap sandal yang bertalikan raffia itu. Tali raffia tidak cukup kuat, mungkin sandal ini bakal rusak lagi nanti. Sudahlah, tidak apa-apa. Asal Kirana tidak menjatuhkan dirinya lagi dan bunga-bunga kesayangannya itu. Setelah itu Kirana benar-benar pergi ke tempat biasa ia menjual bunga.

-SKIP-

Tinggal beberapa meter hingga ia benar-benar sampai di tempat kerjanya. Kebetulan sekali ia melewati restorant tempat kerja Tim, si pelanggan Kirana yang berambut tulip. Kirana menatap papan iklan restoran tersebut cukup lama. Setelah merasa cukup menatap, ia lanjutkan lagi perjalanan menuju lokasi kerjanya. Dengan sangat kebetulan, Tim melihat gadis penjual bunga itu dari jarak yang tidak jauh. Matanya langsung ia arahkan ke sandal yang Kirana pakai. Tim heran, sandalnya tidak berbeda dari yang kemarin.

Lelaki ini berdiam diri beberapa detik lalu menghela nafas, cuek. Setelah itu koki ini masuk ke dalam tempat kerjanya, yaitu dapur.

Sekarang, di sinilah Kirana. Di tempat kerjanya yang biasa. Setelah selesai menyusun bunga seperti biasanya ia menunggu lagi. Menonton orang-orang lewat yang sedang sibuk dengan aktivitasnya sediri. Syukurlah hari ini tidak sepanas kemarin. Kirana tidak perlu khawatir tentang kulitnya yang akan semakin hitam atau sebagainya. Selang beberapa jam. Hasilnya tidak perlu ditanya. Bunga-bunga milik Kirana masih utuh dan tidak sama sekali berkurang secuilpun. Mungkin percuma saja berjualan bunga di zaman modern ini?

Tapi Kirana masih mempunyai satu pelanggan yang sudah dua kali membeli tulipnya. Lelaki yang hebat dan bekerja sebagai koki. Ia tidak mungkin semudah itu menutup usaha bunganya ini. Lagipula usaha ini milik almarhum sang nenek. Hatinya sangat berat untuk berhenti berjualan bunga. Meskipun tidak ada pembeli. Sabar saja, mungkin lain waktu pembeli berbaris untuk membeli bunga Kirana.

"Hei, kau masih di sini?" suatu suara melintas di telinga Kirana. Gadis ini langsung menegakkan kepalanya dan melihat ke arah sumber suara. Entah kenapa mata Kirana langsung melebar dan mulutnya terbuka lebar.

"Tim! Kau datang?" ujarnya girang. Tim mengangguk mengiyakan.

"Ah, silakan duduk! Sini," dengan cekatan Kirana mempersiapkan kursi yang sudah sedikit rusak pada Lars. Lelaki itu berterimakasih dan duduk dengan manis di sebelah Kirana "Kau tak kerja?" tanya Kirana memulai pembicaraan.

"Istirahat," jawab Tim singkat, dan pembicaraanpun selesai. Kirana jadi merasa tidak enak dengan Tim. Ia sampai harus menghabiskan waktu istirahatnya untuk menemani Kirana di sini.

"Sebaiknya kau pergilah, tidak usah sengaja menemaniku, waktu istirahatmu jadi terbuangkan?" ujar Kirana sambil sedikit mendorong tim, tapi pemuda bersurai tulip ini tidak bergeming dari tempatnya duduk. Kirana tidak bisa mendorongnya dengan keras, itu tidak sopan. "Tim, kau tak usah memaksakan untuk berada di sini."

"Aku memang ingin berada di sini," ucap Tim tegas. Kirana kalah, ia berhenti mendorong Tim dan akhirnya menjadi canggung lagi.

"Selain itu, aku ingin membeli bunga," ujar lelaki ini seraya memberikan uang dengan jumlah yang pas. Kirana melotot beberapa detik lalu mulai membungkuskan bunga tulip seperti biasanya. Dan memberikannya ke Tim. Pemuda ini menerimanya dengan sopan, setelah itu tersenyum tipis. Ini sudah yang kedua kalinya Kirana melihat senyuman itu, meskipun tipis tapi terlihat.

"Kau ingat bunga favoritku," ucapnya seraya menepuk pelan kepala Kirana. Gadis kulit sawo matang ini Tersenyum lebar kepada Tim. Tim mendengus lalu membelokkan matanya ke permukaan. Melihat alas kaki yang dikenakan Kirana. Ternyata benar itu sandal rusak kemarin yang diperbaiki dengan tali raffia.

Tim mendehem, dan akhirnya pamit. Kirana melambai dari kejauhan, Tim melihat itu dan membuat dirinya tersenyum sendiri. Berkat Tim, Kirana kembali bersemangat berjualan bunga.

Pada akhirnya matahari kembali tenggelam. Penghasilan hari ini lima ribu. Mungkin ini cukup untuk membeli sandal murah. Kirana mengangguk. Ia memutuskan untuk membelinya besok pagi. Setelah merencanakan jabwalnya besok ia kembali ke rumah setelah selesai membereskan bunga.

:v

Besoknya.

Tim tidak melihat gadis Indonesia di tempat yang biasanya. Di sana juga tidak ada bunga terpampang. Semuanya kosong. Padahal Tim sengaja datang pagi ini mengunjungi Kirana tapi sepertinya ia belum membuka usahanya. Sudahlah, mungkin nanti. Tim akhirnya memutuskan kembali sambil tetap membawa sebuah kantung kresek yang berbentuk persegi panjang karena suatu di dalamnya. Sementara itu di sisi lain, Kirana sedang menelusuri kota ini sambil membawa uang lima ribu.

Bajunya yang kusam dan lusuh. Sandalnya yang bertali raffia membuatnya menjadi pusat perhatian setiap orang. Kirana sendiri merasa resah ditatap begitu oleh semua orang. Apa karena dirinya yang kumal ini? Semua orang menatap remeh ke arahnya. Belum lagi perutnya yang sedari tadi berbunyi hebat sekali. Dapat Kirana rasakan getaran saat perutnya keroncongan minta makan. Secara kebetulan ia melihat warung yang lumayan besar. Kirana menghampiri warung itu, dan ia melihat roti dengan harga murah yaitu lima ribu.

Uang yang akan ia belikan sandal nanti. Kirana berpikir dua kali, bingung hendak membeli apa. Sekarang ini perutnya terus menerus berdemo minta makan. Dan di waktu yang sama, sandalnya ini sudah diambang kerusakan. Ingin membeli sandal tapi rasa lapar Kirana lebih mendominasi. Gadis miskin asal Indonesia inipun lebih memilih memakai uangnya untuk membeli roti. Mau apa lagi? Kirana tahu dirinya miskin, jadi dia tidak bisa egois pada dirinya sendiri. Kebutuhan pangan lebih penting dari pada sandang.

Kirana sedikit kecewa memang tapi apa boleh buat. Akhirnya ia pun berjalan pergi setelah membeli roti. Di tengah langkahnya ia mengingat sang pelanggannya, Tim. Mungkin saja ia datang untuk membeli bunga lagi? Kirana menggenggam kuat rotinya dan berjalan secepat mungkin menuju rumah.

Matahari sudah berada di atas kepala. Hari sudah semakin panas. Tim dari tempat kerjanya datang ke tempat biasa penjual bunga itu membuka lapak. Jauh di dalam dirinya sedikit berharap gadis itu ada, namun ternyata hasilnya nihil. Masih tidak ada apa-apa di sana. Bunga maupun seorang gadis berkulit sawo matang. Pemuda yang masih membawa-bawa kantung belanjaan ini menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. Setelah menghela nafas kecewa, ia berbalik badan dan menemukan sosok gadis yang ia kenal sedang membawa sebuket bunga tulip berbagai warna.

Kedua mata orang yang sedang berpas-pasan ini saling melebar. Kirana yang kebetulan muncul itu mendekat pada Tim. Gadis ini langsung menyodorkan bunga pada lelaki gagah di depannya ini.

"Maaf, kau kemari untuk membeli bunga, kan?" ucapnya tidak menatap mata Tim. Lelaki belanda ini terdiam untuk beberapa detik, dan akhirnya menerima buket bunga itu

"Kau tidak perlu membayar, karena aku sedang libur," ujar Kirana.

"Hari ini aku tidak berniat membeli bunga..." ucap Tim datar.

"O-Oh, begitu ya? Eh, sepertinya aku sudah salah sangka, ya?" Kirana menundukkan kepalanya kembali, dan menggaruk pipinya.

"Aku ingin memberikan ini," sekarang giliran Tim yang menyodorkan sesuatu pada Kirana. Sebuah bungkusan yang berbentuk persegi panjang.

Kirana menerimanya dengan rasa penasaran. Ia mengeluarkannya langsung kotak di dalam kresek tersebut. Kirana melotot tidak percaya melihat kotak sepatu yang ia pegang sekarang ini. Matanya yang lebar ia arahkan pada lelaki di depannya. Tim menganggukkan kepala, menyuruhnya membuka kotak itu. Dengan segera Kirana membukanya.

Sungguh tidak dapat dipercaya ketika ia melihat apa yang terdapat di dalam kotak itu. Sandal yang baru saja ia inginkan beli. Tapi ini beda, sandal yang tepat berada di depannya ini bukanlah sandal murah seperti yang biasa ia pakai. Ini sandal bermerk. Meskipun sama-sama karet tapi yang satu ini terlihat nyaman dan mahal "Tim, ini..." ia mendongakkan kepalanya menatap Tim.

"Ini untukmu, lebih nyaman dari raffia itu," ucapnya sembari menunjuk sandal butut yang saat ini sedang di pakai Kirana. Gadis ini tersenyum bahagia, mungkin ini hari keberuntungannya. Ia mendapat sandal baru yang lebih mahal dari uang lima ribunya.

"Tim, terimakasih!" Kirana membungkukkan badannya lagi sebentar. "Eh... boleh kupakai?" pertanyaan bodoh dari Kirana muncul, Tim mengangguk pelan mengiyakannya. Sekali lagi gadis Indonesia ini tersenyum lebar. Dengan segera ia menukar sandal lamanya dengan yang baru. Ukurannya pas sekali. Nyaman dipakai dan pijakannya empuk.

"Bagaimana?"

"Hmm! Nyaman sekali, terimakasih banyak, Tim, terimakasih!" Kirana membungkukkan badannya beberapa kali setelah itu berhenti. Hatinya senang sekali hari ini. Memang awalnya sulit, tapi berkat pemuda yang saat ini masih berdiri di depannya ia dapat mendapat kebutuhan sandangnya dalam satu hari ini.

"Kalau begitu, aku pergi... terimakasih bungannya," ucap Tim sembari melambaikan buket bunga itu pelan.

Kirana melambai dengan semangat. Masih dengan senyumannya yang lebar. Setelah sosok lelaki itu benar-benar menghilang, Kirana membawa pulang sandal rusaknya dengan kardus yang tadi. Memutuskan untuk tetap rajin berjualan bunga mulai besok dan seterusnya.