Mengusap rambut pirang basahnya Naruto duduk di atas ranjang dengan buku orange di tangan kirinya, dia memakai kaus putih polos dengan celana pijama sebagai bawahan. Naruto menumpuk bantal lalu menyandarkan punggunya di sana. Dia sedang malas membaca tapi sangat penasaran dengan buku di tangannya. Naruto memutuskan untuk membalik-balik lembar demi lembar buku itu, mencari sesuatu yang menarik. Naruto menghentikan membalik lembar buku saat melihat sesuatu yang menyelip di tengah halaman buku. Dia mengambil sesuatu yang terselip di sana, kedua pipi Naruto merona dengan hidung mengeluarkan darah melihat foto fulgar yang tersimpan di sana, mungkin efeknya tidak akan separah ini kalau itu bukan foto telanjang Sakura dengan seorang pemuda berrambut kuning cerah. "Ini gila." Naruto terus menatap foto itu lekad. Wajah polos Sakura yang penuh peluh terlihat sayu dan pasrah dengan rambut merah muda yang berantakan di atas bantal.

Berkali-kali Naruto mengambil napas menahan gairah. Tubuh polos Sakura begitu menggiurkan di matanya. Leher jenjang Sakura dengan beberapa ruam kemerahan menggoda bibirnya, ingin sekali rasanya dia ikut memberi tanda, dan... dada tegang yang seolah minta di hisap. Arghhhh... dia tidak tahu harus berespresi seperti apa saat bertemu Sakura besok. Naruto menatap pemuda kuning yang mengurung Sakura dengan lengannya yang berotot tajam (sejujurnya Naruto tidak sudi mengakui ini, tapi lengan pemuda itu memang berotot.). Pemuda telanjang dengan tiga gores di pipi kirinya, mungkin pipi kanannya juga, menatap Sakura sayu. Entah apa arti tatapan itu, Naruto tidak bisa mengartikannya. Tatapannya seolah dia tidak ingin pergi, ada kesedihan dan ketidak relaan dalam tatapan pemuda itu. Naruto memperhatikan wajah Sakura, wajahnya seperti remaja belasan tahun. Mungkin, ini foto lama. Mereka terlihat seperti masih remaja belasan tahun.

.

.

.

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.

.

.

.

.

.

Seharian ini Naruto berusaha menghindari Sakura. Bersikap biasa saat berpapasan dengan wanita itu, dan pura-pura tidak peduli. Dia duduk di kursi kerja yang terasa panas membakar bokongnya. Memijat kening, Naruto memejamkan mata. Dia ingin cepat menyelesaikan pekerjaan ini dan ingin segera pulang. Tapi, bayang-bayang foto Sakura membuat dia tidak fokus pada pekerjaannya, foto itu selalu bisa membuat pipinya merona tanpa sebab, dan membuat adik kecilnya berdiri. Naruto membuka mata, melirik tumpukan documen di mejanya. Mengambil napas kemudian mengeluarkannya perlahan Naruto mengambil documen-documen itu, membacanya satu persatu sebelum dia tanda tangani document-document itu.

.

.

Naruto meletakkan buku orange Sakura asal di atas tempat tidur. Dia belum selesai membaca semuanya, bahkan adegan intim pemuda berambut kuning dan Sakura pun belum ia baca, dia takut kecewa. Pemuda berambut pirang itu begitu mirip dengannya, tapi siapa pemuda itu? Apa pemuda pirang itu memiliki hubungan darah dengannya? Sepertinya dia harus menanyakan ini pada kedua orang tuanya bila mereka sudah kembali, mereka sedang ada paris, apa dia benar-benar anak tunggal atau bukan. Naruto mendekati jendela besar kamarnya lalu menarik gorden jendela. Ditatapnya halaman rumahnya yang luas yang di hiasa lampu-lampu yang di tanam diantara bunga aster. Naruto memejamkan mata sejenak lalu membukanya perlahan. Dia kembali ke tempat tidur lalu menjatuhkan tubuhnya di sana. Diambilnya buku tadi lalu membacanya lagi.

Dulu, aku terlalu dibutakan napsu. Aku mengajak Sakura bolos dipelajaran kedua dan membawanya ke rumah. Kami baru jadi sepasang kekasih tapi aku ingin menandainya, waktuku tidak banyak. Dia tidak tahu tentang hal itu, aku menyembunyikan semua darinya. Penyakitku, sisa hidupku, satu yang aku beritahu padanya, aku sangat mencintainya.

Dua pasang anak manusia dengan rambut berbeda warna menaiki satu sepeda yang sama. Mereka tertawa, tersenyum, dan saling melempar candaan satu sama lain.

Selagi pemuda pirang menggoes sepeda dan melempar godaan pada gadis berambut merah muda di boncengannya, gadis merah muda itu memperhatikan lapangan hijau yang ditumbuhi rumput liar di kiri jalan. Menatap rumput-rumput ilalang itu dengan senyum manis. "Aku tidak tahu rumput ilalang bisa secantik ini."

Pemuda berambut pirang itu tertawa. "Kau baru tahu, huh!" Ejeknya kemudian kembali tertawa saat mendapat cubitan dari gadis yang diboncengnya di belakang, gadis merah muda ini memang ganas. "Ilalang. Rumput liar yang selalu dipandang remeh karena dianggap mengganggu tanaman lain, rumput liar keras kepala yang susah mati. Bila hanya satu dia bukan apa-apa, akan terlihat seperti rumput kurus yang tidak memiliki sedikitpun keindahan. Tapi, saat mereka tumbuh bersama, berbunga bersama di suatu padang luas, dia akan terlihat indah. Dari kejauhan seperti lautan kapas. Setuju denganku nona?"

Sakura, nama gadis itu, tak kunjung menjawab. Senyum manis terukir disudut bibir gadis itu. "Baiklah, aku akan setuju denganmu kalau kau membelikanku eskrim, bagaimana?"

Pemuda pirang itu mendengus. "Dasar nona pecinta eskrim, tapi baiklah."

Senyum Sakura kembali mengembang.

"Tapi... kau satu sendok kecil eskrim lalu sisanya untukku semua, bagaimana?"

"Kau curang Naruto." Gumam gadis berseragam SMA itu gemas. Pemuda berambut pirang berseragam sama dengan gadis itu tertawa.

Tidak mudah mendapatkan hatinya, sangat sulit. Dia gadis periang, murah senyum dan ramah, tak heran banyak laki-laki jatuh hati padanya. Dulu, dia membenciku karena dimatanya aku hanya pemuda berengsek yang suka mencari masalah. Kutanam bunga di halaman sekolah dan membuatkannya replika pelangi dan saat melihatnya aku berteriak "Aku mencintaimu Haruno Sakura!" Tidak peduli siswa-siswi menatapku, aku terpaku melihat senyumnya, ini pertama kali dia tersenyum untukku. Kukira dia menerimaku tapi ternyata tidak. Mulai hari itu aku berpikir, mungkin sudah saatnya aku menyerah. tapi kau tahu apa yag dia lakukan? Dia mendatangiku yang membolos di pelajaran terakhir, tidur di atas salah satu pohon yang ada di halaman belakang sekolah. dia menyatakan cinta padaku. Baka No Haruno Sakura.

Oh, bodohnya aku. Maaf, aku terlalu senang mengingat hari itu sampai melupakan apa yang seharusnyaku tulis.

Sampai di rumah aku dan Sakura bertemu Karin yang sedang memakai helem bersiap pergi ke supermarket tempatnya bekerja, sebagai kasir.

"Dia Karin, kakakku." Pemuda berambut pirang itu menyandarkan sepedanya di dinding lalu menunjuk seorang gadis berambut merah yang siap dengan motor dan helemnya. Gadis berambut merah itu menyalakan mesin motornya lalu menatap ramah gadis berambut merah muda yang berdiri canggung di samping adiknya. "Kau pasti Sakura, Naruto sudah sering bercerita tentangmu. Masuklah... anggap saja rumah sendiri." Gadis berambut merah muda itu tersenyum canggung. "Aku menyesal tidak bisa lama-lama, bibi dan paman juga sedang tidak di rumah. Aku pergi jaa..." Karin tersenyum ramah saat melewati Sakura.

Naruto melambaikan tangan pada Karin. "Hati-hati di jalan merah!" Teriak pemuda pirang itu yang dibalas anggukan kepala oleh Karin.

Sakura yang tingginya sedagu Naruto mendongak, memicing tidak suka pada pemuda pirang itu yang dibalas tatapan sok polos. Gadis berambut merah muda itu menyikut rusuk Naruto. "Dasar tidak sopan." Sungut Sakura tidak memperdulikan Naruto yang meringis karena sikutannya.

"Sakit Sakura- chan." Naruto memeluk manja bahu Sakura membuat gadis itu geli melihat tingkah konyolnya. Melempar senyum pada Sakura, Naruto lalu menggenggam tangannya. "Ayo!" Naruto menarik Sakura untuk mengikutinya masuk ke dalam. Rumah itu tidak besar, ukurannya cukup kecil untuk dihuni empat kepala. Karin, Naruto, paman dan bibi. Tidak ada ruang tamu, yang ada hanya ruang tivi sempit. Naruto membuka pintu sebuah ruangan kecil. Ada satu tempat tidur kecil, karpet di lantai, dan barang-barang seperti pakaian dan buku berserakan dimana-mana. "Ini kamarmu?" Sakura memperhatikan kamar kecil Naruto yang berantakan lalu duduk di atas ranjang saat Naruto mempersilahkannya duduk.

Naruto bersandar di dinding yang di tempeli poster menghadap Sakura dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Pemuda pirang itu mengangguk. "Juga kamar Karin?" Naruto sangat jarang ada di rumah, dia selalu menghabiskan malam bersama teman-temannya juga menginap di sana. Jadi, Karin tidur sendiri. Mereka tidak tidur satu kamar, kalaupun Naruto tak menginap dia tidur di ruang TV.

Dahi Sakura mengernyit. "Kalian tidur bersama, di ranjang kecil ini?" Tanya Sakura tidak percaya. Tempat tidurnya sangat kecil, pasti sesak tidur berdua.

"Jangan berpikir macam-macam." Naruto mendekati Sakura lalu menyentil jidadnya.

Sakura meringis mengusap jidatnya. "Aku tidak berpikir macam-macam," Gumamnya dengan bibir mengerucut. Dia menambahkan saat melihat wajah tidak percaya Naruto dengan kata-katanya. "Aku hanya berpikir, apa tidak sesak tidur berdua. Setidaknya kau rapihkan sedikit buku dan pakaianmu agar tidak terlalu sempit dan berantakan, bantulah Karin sedikit. Dasar malas."

"Kenapa kau yang mengomel, Karin saja diam. Kenapa kau berisik sekali." Ucap Naruto pura-pura tidak terima.

Sakura menatap Naruto remeh dengan senyuman jail. "Karin bukannya tidak mau mengomelimu, tapi dia tidak punya waktu untuk menceramahimu." Di ambilnya bantal di atas tempat tidur lalu di lempar kepada Naruto.

Naruto menangkap bantal itu dengan satu tangan lalu kembali melempar bantal yang dilempar Sakura ke arahnya. Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu memekik saat bantal itu mengenai tangan yang ia gunakan untuk menutup wajah. Naruto tertawa terbahak. Sakura menatap Naruto dengan bibir mengerut pura-pura kesal lalu kembali melemparkan bantal yang tadi Naruto lempar padanya, tapi sayangnya Naruto lebih dulu membuka pintu lalu keluar kamar. Bantal itu mengenai pintu sebelum jatuh ke lantai. Dari luar sana Naruto tertawa. "Aku akan bereskan kamarnya, tapi cium aku dulu." Teriak Naruto dari luar. Pipi Sakura merona. "Baka!" Lalu balas berteriak.

Lama Naruto di luar kamar, entah apa yang dilakukan pemuda pirang itu di luar, membuat Sakura yang hanya duduk diam di atas ranjang menghela napas bosan. Sakura melihat-lihat kamar kecil Naruto untuk menghilangkan rasa bosan. Gadis itu melihat pigura kecil foto yang tergeletak di atas nakas yang sedikit tertutup buku. Potret seorang bocah laki-laki berambut pirang memegang alat pancing di tangan kiri, sementara tangan kanannya memegang ikan besar. Bocah itu tersenyum memamerkan giginya yang kurang rapi, di belakangnya seorang laki-laki tinggi besar berambut putih panjang yang diikat satu tertawa dengan satu tangan di bahu bocah berambut pirang itu. Sakura menutup mulut menahan tawa melihat potret Naruto sewaktu kanak-kanak. Dia terlihat kumal, tapi imut.

Kriet.

Naruto masuk dengan satu cup besar eskrim di tangannya. "Apa yang kau tertawakan?" Tanyanya sembari mendekati Sakura.

"Bukan apa-apa, hanya lucu melihat bocah kumal pirang dengan gigi tidak rapih itu tersenyum." Jawab Sakura tanpa mengalihkan tatapan matanya dari potret di tangannya.

"Kumal, gigi tidak rapih, tapi tetap kerenkan?" Naruto berdiri tepat di belakang Sakura. Dengan iseng pemuda pirang itu menyentuhkan es krim ke lengan telanjang Sakura.

Sakura meringis merasakan dingin di lengannya. Gadis itu berbalik menatap tidak suka Naruto. "Dingin tahu!" Kesal gadis itu melipat tangan di bawah dada. "Aku tidak bilang bocah itu keren." Kerucut bibir Sakura hilang saat melihat apa yang Naruto bawa untuknya. "Apa itu untukku?" Dia bertanya antusias dengan kedua mata berbinar layaknya anak kecil.

Dasar maniak es krim. Dengus Naruto dalam hati. Naruto menyembunyikan es krim di balik punggung saat Sakura akan mengambilnya. Bibir gadis itu kembali mengerucut. "Aku tidak bilang ini untukmu." Naruto memeletkan lidahnya mengejek, membuat Sakura semakin kesal.

Saat Naruto berbalik membelakanginya Sakura menangkap tangan Naruto yang membawa es krim, berusah merebut es krim itu dari Naruto. "Hei!" Naruto memprotes yang diabaikan oleh Sakura. Naruto mengangkat tinggi es krim di tangannya, memeletkan lidah seolah mengejek Sakura yang melompat-lompat berusaha meraih es krim. Pemuda pirang itu tertawa meremehkan.

Sakura berhenti melompat. Dengan bibir cemberut gadis itu menatap sekelilingnya. Sebuah bohlam lampu menyala di kepalanya saat melihat jarak Naruto dan tempat tidur. Tanpa menunggu lama gadis itu naik ke atas tempat tidur lalu mengambil paksa es krim di tangan Naruto. Naruto tidak sempat mengelak, gadis itu lincah seperti tupai.

Naruto mengusap wajahnya, perlahan dia tersenyum. "Dasar anak kecil."

Sakura tampak tak peduli, gadis itu duduk di atas tempat tidur sembari membuka penutup es krim. "Kau kan sudah janji mau memberiku es krim." Gumamnya sembari memasukan satu sendok es krim ke dalam mulutnya. Naruto mendengus geli dengan tingkah gadis merah muda itu. Pemuda pirang itu mendekati Sakura, diacaknya gemas rambut merah muda itu mambuat Sakura mendongak menatapnya dengan senyuman manis. Naruto mendekatkan wajahnya dengan wajah Sakura. "Bagaimana rasanya?"

"Manis." Gumam Sakura tanpa mengalihkan mata dari mata Naruto yang menatapnya. Naruto tersenyum. Gadisnya ini kadang ganas, manis, polos dan.. Ehem. Menggaira- lupakan. Perlahan bibirnya mendekati bibir Sakura, mengecup bibir gadis itu perlahan dan lembut lalu menjauhkan wajahnya. "Ya, kau benar. Rasanya manis." Naruto terkekeh geli melihat wajah merah Sakura yang malu-malu.

Hei, jangan berpikir macam-macam. Aku memang sangat bernapsu padanya, tapi cintaku jauh lebih besar dari napsu itu. Aku akan sabar menunggu sampai dia benar-benar mau melakukannya denganku. Yah, walau aku sadar. Aku tak cukup punya banyak waktu.

Tok. Tok. Tok.

Naruto menoleh malas ke arah pintu. "Siapa?"

"Saya tuan muda, makan malam sudah siap." Jawab sopan seorang laki-laki dari luar kamar Naruto.

Naruto menyembunyikan bukunya di bawah bantal. Memakai sandal rumahnya pemuda itu berjalan mendekati pintu lalu membukanya perlahan. Seorang laki-laki paruh baya berdiri sopan di samping pintu Naruto. Naruto berjalan lebih dulu. "Ada kabar dari ibu?" Tanyanya membuka sedikit pembicaraan ringan. Dia tidak suka suasana canggung seperti ini.

"Nyonya berpesan, akan pulang hari minggu setelah fashion show di paris selesai."

Naruto sudah tahu tentang itu, dia hanya ingin membuka pembicaraan dengan kepala pelayannya agar tidak terlalu kaku dan terlalu bersikap formal padanya. "Kau tidak bosan memakai pakaian sama setiap hari, huh?"

"Tuntutan pekerjaan tuan."

kedua tangan Naruto masuk ke dalam saku celana. Pemuda pirang itu melirik laki-laki paruh baya yang mengurusnya sejak kecil. "Sekali-kali pakailah pakaian yang kau mau, aku tidak menulis peraturan pelayan harus memakai pakaian yang sama setiap hari, kan? Lagi pula, Jii-san bukan pelayan. Tapi orang tua kedua bagiku" Ucap Naruto dengan senyum tulus.

Pria paruh baya itu tersenyum haru. Ah, tuan mudanya memang sangat baik. Naruto tertawa lalu memeluk bahu pria paruh baya itu seolah pria itu teman seusianya.

.

.

.

Kizashi dan Mebuki meminta Ino Yamanaka menemani Sakura yang semakin jadi gadis pendiam dan tertutup. Yah, sejak Sakura pulang diantar pria yang sangat mirip Naruto, gadis itu jadi semakin diam dan penutup. Mengurung diri di kamar bila sudah pulang kerja, dan selalu melewatkan jam makan malam. Kizashi dan Mebuki khawatir, jadi beliau meminta Ino menginap di rumahnya untuk menemani Sakura. Gadis berambut pirang itu tidak menolak, karena dia pun sama khawatirnya dengan ayah dan ibu Sakura. Takut kalau Sakura mencoba melakukan percobaan bunuh diri lagi.

Ino duduk di depan cermin yang ada di kamar Sakura, gadis berambut pirang itu sedang menyisir rambut pirang panjangnya. Sesekali dia melirik Sakura yang berdiri di balkon menatap langit malam tanpa binar bintang. Gadis berambut merah muda itu seperti patung, berdiri diam di sana sejak satu jam yang lalu. Ino tidak tahu apa yang diperhatikan Sakura, karena tatapan Sakura begitu kosong dan hampa. "Saku masuk, udara di luar sangat dingin." Nasihat Ino sembari meletakkan sisirnya di atas meja rias. Sakura tak bergeming. Ino menghela napas pendek lalu mendekati temannya. Gadis itu berdiri di samping Sakura.

"Ino, apa kau tahu?"

Ino menoleh. "Apa?"

Sakura menatap Ino, lalu tersenyum sendu. "Apa orang mati bisa hidup kembali?" Sakura kembali menatap langit dengan tatapan kosong.

Ino terpaku, mulutnya terbuka lalu menutup. Terkejut dengan pertanyaan Sakura, dan bingung mau menjawab apa.

.

.

.

.

.

.

Thanks too...

Ryura Uzumaki, Hikari NamiHaru NaruSaku, Asthi Octha Via, Dragon Hiperaktif, Guest, Rosachi-hime, Luluk Minam Cullen, Najiha Hizaki Anzu, , kiutemy, uchihakhamya, Klo, Kazu, Jun30, Guest, Rey, Saikari Nafiel, Courrielyx, Akasuna D. Raga, Kiki RyuEunTeuk, Riela nacan, Mistic Shadow, Uzumaki 21, uzuuchi007, Kei Deiken, Red devils, Namikaze KahFi ErZA, Red devils.

Makasih semua yang sudah mau meninggalkan jejak. Jujur, aku sempet lupa plotnya. Tapi begitu baca ulang review kalian semua, jadi inget dan semangat buat dan lanjut ceritanyaaa... walaupun NS gak Canon, mereka udah lebih dulu canon dalam hati kamu dan aku. #dilempar ember bekas.

Kimaru-Z mau ngegombal yah? #dipelototin rame-rame.

.