CHAPTER 3

Dua minggu berlalu dengan normal. Tim datang, membeli bunga dan makanan, mengobrol sebentar, pergi. Begitulah lingkar kegiatan yang Kirana hafal setiap jam kerjanya. Satu-satunya pelanggan tetap, hanya lelaki Belanda itu. Dan karena itu juga, mereka berdua sudah saling mengenal lebih dekat hanya dalam waktu dua minggu ini. Meski terkadang mereka masih agak canggung.

Dan di siang itu, tepatnya jam satu lewat lima belas, Tim kembali datang dengan sebuah kotakan—yang sudah pasti adalah makanan. Lelaki itu kemudian menaruhnya di atas meja dan menatap bingung Kirana yang tiba-tiba saja berdehem.

"Aku kan sudah bilang, kau tak perlu repot-repot membawakanku makanan! Aku tak ingin menjadi beban..."

Tim menghela nafas dan membalas, "Dan aku sudah bilang bahwa aku tak merasa keberatan dan aku akan terus membawakanmu makanan. Kau pasti belum makan, benar?"

Kirana hanya memasang cengiran khasnya. "Aku belum lapar kok! Jadi tak perlu—"

Kryuuuk~

Tim menatap datar. "Aku tak menerima penolakan." Ujarnya seraya mendorong kotakan itu lebih dekat pada Kirana.

Perempuan berdarah Indonesia itu tersipu malu ketika mendengar suara yang diciptakan perutnya sendiri. Bisa-bisanya perutnya berbunyi di saat seperti ini. Ia berbalik dan membuat sebuah buket tulip, yang pastinya akan Tim pesan. Seusainya, ia berikan buket berwarna putih itu kepada lelaki jangkung yang tengah menyodorkan selembar uang lima puluh ribu.

Kirana langsung memeriksa kantongnya—yang hanya berisikan tiga lembar uang lima ribuan—lalu kembali menatap Tim.

"Em... aku tidak ada kembalian... apa kau tidak ada uang kecil?"

Gelengan pelan menjadi jawaban atas pertanyaan Kirana, "Kalau begitu ambil saja kembaliannya." Gadis bermata coklat itu akan menjawab, tetapi sudah didahului oleh perkataan 'sekali lagi, aku tak terima penolakan' dari Tim. Namun tetap saja, Kirana tetap merasa tak enak menerima uang itu.

"A-Aku akan memberikan kembaliannya saat aku sudah punya cukup uang!" kata perempuan itu, mencoba lagi. Dan hasilnya tetap sama.

"Tidak perlu. Uang itu untukmu. Jangan ditolak atau dikembalikan." Tegas Tim untuk yang terakhir kalinya.

Akhirnya, Kirana menyerah juga. Mengetahui bahwa meneruskan hal ini tak akan ada ujungnya. Ia pun mengucapkan terima kasih, yang tentunya dibalas dengan anggukan kecil dari lelaki berkulit putih tersebut.

Senang dan terharu—itulah yang dirasakan oleh Kirana Kusnapaharani saat ini. Baru kali ini ia mendapat lembar uang berwarna biru itu. Terutama, ia mendapatkannya dari pemuda baik hati yang selalu membawakannya makanan dan membeli bunganya. Tak ia sangka, masih ada orang yang baik hati di kota yang ia tinggali saat ini.

Dengan mata yang agak berkaca-kaca, ia menampakkan sebuah senyum baru yang lebar.

"Sekali lagi, makasih!"

Sebuah senyuman tipis lah yang menjadi balasannya.

:v

Tim, lelaki dengan rambut jabriknya yang khas itu telah pergi, kembali untuk bekerja. Langit yang awalnya biru telah tertutupi kumpulan awan kelabu. Kirana yang menyadarinya, sesegera mungkin memasukkan sisa buket yang tak—ehem, belum laku terjual ke dalam kantung kresek putih besar yang selalu ia bawa.

Sepertinya, ia harus pulang lebih cepat daripada hari biasanya.

Ia cemberut. Sebenarnya, ia suka hujan. Bahkan menantikan untuk main hujan setelah sampai rumah. Tetapi, kalau buketnya sampai kena, bisa hancur dagangannya. Maka dari itu, cepat-cepat ia ambil satu kresek putih yang telah terisi barang jualannya, dan bersiap akan lari ke rumah sebelum hujan turun. Sekalian ingin olahraga mungkin?

Perempuan penjual bunga itu pun menggenggam erat kresek di tangannya dan mulai berhitung.

Satu.

Dua.

Tig—

"Kirana, tunggu sebentar!"

Suara yang paling gadis itu hapal tiba-tiba memanggil. Gadis itu berputar ke belakang hanya untuk melihat orang yang memanggilnya, Tim Van Morgen.

Belum sempat Kirana bertanya ada apa, pemuda berkulit putih tersebut segera berbicara. "Kau tidak berencana untuk hujan-hujanan, kan?" dan pertanyaan itu hanya membuat gadis yang lebih pendek di depannya senyum-senyum sendiri sembari menganggukkan kepala.

Lalu sebuah payung berwarna merah sudah berada di tangan Kirana.

"Apa—" matanya melebar beberapa saat, ia pun mengulurkan payung itu pada si pemiliknya lagi. "Aku tidak butuh, kok. Aku ingin main hujan."

Jawaban tersebut justru mengundang kekhawatiran Tim. Meski ia tak menampakkannya dengan ekspresi. Bagaimana kalau Kirana sakit, huh? "Kir—"

"Terima kasih atas tawarannya, tapi tak perlu. Sampai jumpa!" pamit perempuan berkulit coklat muda tersebut sambil menampakkan senyum lebar. Tak perlu menunggu jawaban dari Tim, ia langsung berlari menjauh dari lelaki itu. Di tengah hujan dingin yang tengah mengguyur dengan deras.

Tentu saja Tim masih khawatir. Apa ia harus mengikutinya pulang? Ah tidak. Ia bukan stalker atau apapun itu. Yang hanya ia bisa lakukan sekarang hanya kembali ke restoran tempatnya bekerja. Mengingat waktu istirahatnya juga akan berakhir dalam beberapa menit kedepan. Dengan helaan nafas yang berat, ia mengembangkan payungnya. Ia berharap Kirana tak terkena demam.

'Ah, tunggu. Kenapa aku mengkhawatirkan wanita itu? Ini bukan urusanmu, Tim. Lagipula Kirana hanya orang asing bagiku.' Dengan pemikiran sedemikian rupa, pria jangkung tersebut pun berjalan meninggalkan stand kosong milik Kirana.

Sesampainya di dapur restoran, salah satu temannya, Feliciano langsung menyapa. "Tim, darimana saja, vee?"

Temannya yang lain—Francis—ikut bergabung dalam percakapan. "Oh, baru kembali dari tempat pacarmu, ya? Honhonhon~"

Lelaki yang mengenakan syal biru-putih itu dapat merasakan wajahnya memanas seketika. Namun ia berusaha menyembunyikan perasaannya dengan mempertahankan wajah datarnya. Kedua alisnya menekuk kesal atas perkataan pria asal Perancis di depannya. "Maaf saja, ya. Dia bukan pacarku."

Feliciano, dengan penuh kepolosan langsung berkata, "Wajahmu berkata lain, lho~"

Francis tertawa keras melihat ekspresi 'langka' yang ditunjukkan oleh temannya si pecinta tulip. Sampai-sampai para koki yang lain ikut menengok ke arah lelaki berambut panjang diikat tersebut. Namun setelah beberapa saat, mereka kembali tak peduli. Melanjutkan pekerjaan mereka.

Setelah tawa Francis mereda, ia tersenyum kecil. "Jadi, siapa wanita yang beruntung ini? Aku yakin dia sangat cantik dan elegan. Pasti barusan kau menjemputnya dari salon, kan?" tanyanya diiringin dengan kedipan tak jelas. Tim yang melihat hal ini hanya memalingkan wajahnya yang masih memiliki semburat merah.

"Bukan,"

Si Italia tersenyum lebar di samping Tim. "Kalau begitu, beritahu kami apa yang kau tahu tentangnya~"

"Hei, Feli! Cepat bantu aku membuat pasta disini!"

"Francis, jangan mengobrol terus! Cepat bekerja!"

"Tim, kau sudah kembali? Ada yang memesan Hutspot!"

Lelaki jabrik yang mendengar itu semua berkata, "Pertama, lanjutkan dulu pekerjaan kita. Setelah bekerja aku akan menceritakannya pada kalian dan yang lain." dan dibalas oleh anggukan kedua pria yang juga bekerja sebagai juru masak dengannya.

~TBC~