Menyapa ayah dan ibu Sakura, Ino menaiki undakan tangga menuju kamar Sakura di lantai dua. Gadis cantik berambut pirang itu menghela napas lalu menggeleng lemah saat melihat sahabat merah mudanya berdiri melamun di balkon. "Hai, Saku." Sapa Ino sembari meletakkan tas kerja dan melepas ikat rambutnya. Seperti malam sebelumnya malam ini Ino menginap di rumah Sakura, dia sangat mengkhawatirkan sahabat merah mudanya. Takut hal yang tak diinginkan terulang kembali seperti beberapa tahun yang lalu. Sakura tidak merespon, gadis itu diam menatap langit malam yang kini menangis. Rintikan air hujan sepertinya jauh lebih menarik di mata Sakura. Ino melirik sahabatnya yang seperti patung. Bagaimana bisa dia bekerja selama ini? Lihat saja sekarang, dia diam seperti patung. Perusahaan seperti apa yang memperkerjakan Sakura selama ini? Ino menghela napas kemudian mengambil handuk dalam lemari pakaian Sakura.
Sakura yang sejak tadi diam perlahan melangkah mundur sampai punggungnya bersentuhan dengan pintu kaca tembus pandang yang menghubungkan balkon dan kamarnya. Tubuh kurusnya merosot jatuh, tatapannya tak terbaca. Menjambak rambutnya Sakura kemudian menenggelamkan kepala dilipatan lututnya. Wanita itu mengisak pelan. "Maafkan aku. Maafkan aku Narutooo, maaf..."
Ino yang terkejut melihat keadaan sahabatnya langsung menghambur mendekati Sakura, mengusap pipi wanita itu seraya menatapnya khawatir. "Sakura ... kau kenapa?" Nada suaranya lirih dan khawatir. Niatnya semula yang ingin berendam hilang seketika saat melihat sahabatnya yang tiba-tiba menjambak rambutnya sendiri sambil menangis. Sebagai sahabat sejak kecil tentu Ino sedih melihat sahabatnya seperti ini. Ino memeluk erat tubuh Sakura yang bergetar. Membisikkan kata 'Aku di sini. Kau bisa bercerita apapun padaku. Ada apa?' Mencoba menenangkan sahabatnya.
.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.
.
.
.
.
.
.
Diam-diam Sakura memperhatikan Naruto yang sedang mendiskusikan sesuatu dengan beberapa karywan. Menatap pria kuning itu dengan tatapan tak terbaca. Tanpa sadar Sakura meremas berkas ditangannya. Perlahan, matanya perih dan berat. Bayang seorang laki-laki remaja berambut kuning tertawa dan tersenyum membuat napasnya menjadi sesak.
Lengan kurus terulur pada seorang gadis berambut merah muda bergaun biru berbahan ringan. Seorang remaja pirang memakai topi berbahan wol yang menutupi hampir seluruh kepalanya dan berbalut setelan tailored tersenyum. "Aku ... tidak memiliki rambut. Apa kau tetap mencintaiku?"
"Ya." Gumam gadis berambut merah muda itu lirih menerima uluran tangan pemuda itu.
"Aku botak." Pemuda itu tersenyum sendu. Perlahan dan hati-hati pemuda itu membentangkan lengan kanan Sakura, nama gadis itu, sementara tangan kiri Sakura diletakkan di bahunya.
Gadis cantik itu menangis, air mata menetes dari emeraldnya yang cantik. Kepalanya menggeleng lemah. "Kau jauh lebih tampan dengan topi wol itu."
Naruto mengusap pipi basah Sakura menggunakan ibu jari tangannya yang bebas lalu memeluk punggung Sakura. Melangkah perlahan, ke depan kemudian ke kanan, mundur kemudian ke kiri (gerakan dansa klasik, ) seiring dengan irama musik waltz yang terdengar dari ruang inap Naruto yang disulap jadi lantai dansa. Naruto bersenandungkan dari hidung. Secara spontan Sakura mengikuti langkahnya. Kepala Sakura bersandar di dada kurus Naruto, seolah menikmatinya. "Aku kurus." Naruto berbisik lirih, mengecup lembut bahu Sakura.
Mata Sakura terpejam erat, air mata menitik di ujung matanya. "Aku tidak peduli."
Mereka melangkah demi selangkah, tidak melakukan gerakan berkeliling, juga tidak melakukan gerakan berputar. Hanya saling berpelukan. "Aku lemah." Bisik Naruto lirih, lagi.
Sakura melingkarkan kedua tangannya di leher Naruto, menatap mata biru pemuda itu lembut dan berkaca-kaca. Mereka tidak berhenti bergerak, ke depan kemudian ke kanan, mundur kemudian ke kiri. "Aku tidak peduli." Gadis itu kemudian mengusap pipi Naruto menggunakan ibu jarinya.
Naruto tersenyum. Mereka berhenti berdansa, berdiri diam saling menatap lembut. Telapak tangan besar Naruto menggenggam tangan Sakura di pipinya. Pemuda berambut pirang itu memaksakan senyum. "Aku akan mati." Tiba-tiba cairan bening menitik di pipinya. Cepat-cepat Naruto mengedip mencegah air matanya yang siap jatuh agar tidak menetes. Tapi sayang, semuanya sia-sia. Air mata itu tetap mengalir.
Wanita itu berdiri diam memperhatikan Naruto lewat kaca ruangan yang memang hanya di dindingi kaca bening dengan espresi tak terbaca. Dia mengusap sudut matanya yang berair lalu membuang tatapannya saat Naruto balas menatapnya, berjalan cepat meninggalkan ruangannya.
Naruto tersenyum melihat Sakura berjalan cepat, dia sadar sejak tadi wanita itu terus memperhatikannya.
"Namikaze- sama?" Tegur halus salah satu karyawannya.
"Ya." Dan Namikaze muda itu pun kembali melanjutkan diskusi dengan bawahannya. Sesekali bibir tipis itu melengkungkan senyum membuat karywan wanita merona, dan karyawan pria menatapnya heran.
Naruto terkekeh tanpa sebab. Wajah Sakura saat memperhatikannya mengganggu pikirannya. Espresi wanita itu benar-benar minta dicium.
.
.
.
.
.
Naruto duduk di sofa dalam ruangannya dengan kedua kaki di atas meja kaca, pria itu melamun. Memijat kening kemudian menghela napas Naruto membuka matanya, menatap kosong meja depan sofa. Pria itu berdiri dari duduknya mendekati jendela ruangan kemudian kembali mendekati meja kerja. Dia mengambil jas yang tersampir di punggung kursi lalu berjalan cepat mendekati pintu. Membuka pintu ganda ruangannya lalu berjalan cepat menuju suatu tempat. Dia ingin bertemu seseorang.
Naruto memelankan langkah kakinya saat sudah sampai di ruangan karyawan biasa. Ruangan itu sepi, semua penghuni tempat ini sedang makan siang di kantin, atau mungkin sedang berbelanja. Naruto tidak peduli. Langkah pria tampan itu terhenti saat melihat orang yang ingin ditemuinya tertidur dengan kapala tergeletak di atas meja. Mendengkur halus seperti seekor kucing tiga hari tiga malam tidak tidur. Tersenyum kecil Naruto mendekati wanita berambut merah muda itu, mengusap lembut helaian merah mudanya dan mencium keningnya lembut.
Naruto menggendong tubuh Sakura. Tubuh kurus wanita itu tidak membuatnya kesulitan berjalan menuju ruanganya, tubuh Sakura sangat ringan dalam gendongannya. Naruto membaringkan Sakura dengan gerakan pelan dan hati-hati di sofa. Mengangkat kepala merah muda Sakura perlahan Naruto meletakan bantal di bawah kepalanya. Tanpa melepas tatapan mata dari wajah Sakura dia melepas jas kemudian menyelimutkan jasnya pada Sakura.
Selesai menyamankan posisi tidur Sakura di sofa dalam ruangannya Naruto berjalan mendekati meja kerja. Mendudukan kembali bokongnya di kursi kebanggaannya dan kembali menekuni pekerjaannya yang sempat tertunda.
...
Naruto menandatangi dokumen penting yang dibawa serketarinya. Menyerahkan dokumen itu pada serketaris lalu kembali berkutat pada berkas-berkas penting lain dan laptop. Sofa tempat Sakura tidur ada di sudut ruangan terhalang rak, jadi sang serketaris tidak melihat keberadaan wanita merah muda itu. Melihat atasannya kembali disibukkan pekerjaan lain serketaris itu menundukan kepala, berniat undur diri. Naruto meliriknya sekilas lalu kembali menekuni pekerjaannya.
Di luar jendela ruangan Naruto, yang dibatasi kaca bening, langit sudah mulai meredup, sudah sore. Hari ini waktu berjalan cepat, secepat Naruto mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk. Lebih cepat dari hari biasanya.
Naruto mengemas semua berkas penting di atas meja kerjanya lalu menekan tombol telepon memanggil serketarisnya. Pria itu memberikan semua berkas yang sudah selesai dikerjakannya pada serketaris sexy berambut pirang yang berdiri manis di depan meja kerja. "Besok berikan ini pada Haruno, hari ini dia sudah pulang lebih awal. Katakan padanya antarkan semua berkas ini sabtu sore ke rumahku," Dahi wanita cantik bernama Shion itu sedikit mengernyit, bingung. Untuk apa memberikan ini di hari jumat kalau harus diantar kembali hari sabtu? Dan ... kenapa Haruno? Dia kan serketarisnya, bukan Haruno. Belum sempat Shion mengeluarkan suara Naruto lebih dulu bersuara. "Kau boleh pergi sekarang. Dan tolong beritahu pada yang lain," Naruto melirik jam tangannya sebentar. Jam tiga sore. "Hari ini pulang cepat. Kau juga." Tidak mengizinkan Shion mengatakan sepatah katapun Naruto menunjuk pintu ganda ruangannya.
Shion menunduk sesaat sebelum pergi meninggalkan ruangan boss besarnya.
Pintu tertutup rapat. Melirik sekilas pintu ruangannya, memastikan Shion sudah pergi, Naruto berjalan mendekati sofa. Ia merapatkan tubuhnya ke arah tubuh Sakura yang tertidur damai. Rambut halusnya menutupi sebagian wajahnya, membuat tangan Naruto reflek menangkupkan rambutnya kebelakang selipan telinga. "Bangun Haruno. Aku tidak membayarmu untuk tidur seharian di kantorku." Bisik Naruto tepat di cuping telinga wanita merah muda itu.
Sakura tampak melenguh pelan, terlihat masih sangat mengantuk. Mata hijau emeraldnya mengejap-ejap sesaat kemudian membulat, kaget, saat menyadari siapa yang ada tepat di depan wajahnya.
Naruto mendengus geli.
Bibir tipis Sakura melengkungkan senyum tapi tak bertahan lama, lengkungan senyum itu hilang saat menyadari siapa pria itu. Tangan kanannya yang terangkat, ingin mengelus rahang kokoh pria di hadapannya, juga terhenti. Dalam sekali dorongan Sakura berhasil membuat Naruto jatuh tersungkur dari sofa.
Naruto di bawah sana meringis kecil memegangi lututnya. Pria itu hanya diam saat melihat Sakura yang berlari menuju pintu ganda ruangannya, membuka dan menutup pintu kasar. Naruto berdiri, berjalan mendekati jendela menatap Sakura di luar sana. "Sial! Selalu seperti ini."
...
Sakura duduk di kursi penumpang kiri dekat jendela. Dia mengusap kedua pipinya dengan gerak cepat dan kasar. Kenapa Namikaze selalu dekat-dekat dengannya, apa dia tidak tahu wajahnya membuat hati Sakura nyeri. Sakura memejamkan mata meyakinkan diri sendiri untuk menjauh dari lelaki itu. Lelaki itu terlalu berbahaya. Dia bisa membuat Sakura mengingkari janji pada seseorang. Dan Sakura tidak mau hal itu terjadi. Tidak peduli mereka memiliki rupa yang sama, mereka tetap berbeda. Mereka tidak sama. Tidak!
Sakura turun dari bis di halte kedua yang masih jauh dari rumahnya. Wanita itu berjalan menyusuri terotoan dan berhenti saat melihat penjual bunga di pinggir jalan.
Sakura mendekati penjual bunga naik sepeda itu lalu membeli satu ikat bunga Aster segar berwarna biru dan merah. Ia mengucapkan terimakasih kemudian pergi meninggal pria paruh baya penjual bunga itu.
Kurang lebih dua puluh menit ia berjalan kaki menyusuri trotoan jalan. Wanita merah muda itu menghentikan langkahnya saat sudah sampai di depan gerbang besi berkarat besar bercat hitam, gerbang pemakaman umum. Ia menatap lurus ke depan dengan tatapan sayu seiring langkah kakinya memasuki pemakaman umum itu.
Tak lama setelah Sakura masuk kawasan pemakaman pintu mobil kuning yang berhenti tidak jauh dari pemakaman terbuka. Seorang pria berambut kuning mengenakan jas hitam keluar dari dalam mobil Bugati kuning itu. Pria tampan berkulit tan itu melepas dasi dan dua kancing kemejanya, melempar dasinya ke dalam mobil lalu mengunci mobilnya ia berjalan mengikuti Sakura dengan jarak yang cukup jauh.
Naruto mengikuti Sakura diam-diam sampai wanita merah muda itu berhenti di depan sebuah nisan. Ia bersembunyi di balik pohon kering besar yang ada di dekatnya, memperhatikan Sakura yang duduk bersimpah di depan nisan itu. Dari tempatnya berdiri Naruto bisa melihat kedua bahu Sakura yang bergetar. Wanita dingin itu ternyata sangat cengeng. Tapi siapa orang luar biasa yang bisa membuat Sakura cengeng itu? Begitu berharga dan berartikah orang itu untuk Sakura.
Bermenit-menit berlalu Sakura belum juga terlihat ingin beranjak dari sana. Kaki Naruto mulai pegal, kesemutan dan keram. Mendengus Naruto melirik jam tangannya. "Sial! Pantas, sudah satu jam aku berdiri." Gumamnya kesal. Naruto kembali mengalihkan tatapannya pada Sakura. "Ck. Apa yang dilakukannya di sana sih." Naruto mengeluh, bosan. Merasa lelah berdiri Naruto duduk di bawah pohon itu, mata birunya masih setia melihat Sakura.
Angin berhembus kencang. Naruto sedikit menggigil serta memukul wajah dan bagian tubuhnya yang terasa gatal. Dengan malas Namikaze muda itu membuka mata dan ia terkejut saat melihat sekelilingnya, semuanya gelap.
Naruto bediri dari tempat duduknya. Dia mendumel kesal, bisa-bisanya dia ketiduran di tempat seperti ini. Kepalanya menoleh kanan kiri mencari Sakura dalam gelap. Naruto meraba saku jas lalu mengeluarkan HP untuk menerangi penglihatannya. Sial! Tidak ada! Sepertinya Sakura sudah pulang. Melihat sekililingnya yang gelap dan hanya ada batu nisan, mendengar suara burung malam, dan hembusan dingin angin membuat bulu halusnya meremang. "Tempat ini benar- benar menyeramkan." Ia bergumam seraya berjalan cepat meninggal tempat itu, sedikit berlari.
Saat sudah sampai di depan gerbang berkarat besar pemakaman, Naruto menghentikan langkahnya. Bahu kanannya mendingin seperti ada yang memegangnya dari belakang. Tidak mau tahu itu hanya perasaannya saja atau tidak Naruto berjalan cepat mendekati mobil. Ia merasa ada yang mengikuti.
...
Sakura berdiri kaku di depan sebuah bangunan besar, sangat besar, dengan gerbang dua pintu besi bercat keemasan yang sangat tinggi dan lebar. Ia menarik napas dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Satu tangannya meremas gugup berkas di tangannya. Ia menghela napas. "Mungkin aku bisa mengantarkan ini padanya besok saat di kantor." Ia bergumam. Wanita yang mengenakan rok span pendek hitam dengan atasan blus putih serta tas Gigar Box kream itu membalik tubuhnya memunggungi gerbang besar itu.
Sementara itu, Naruto di kamarnya bergegas memakai kaus hitam polos dan celana jeans saat melihat Sakura di layar datar TV yang ada di dalam kamarnya.
Pria tan itu mengambil wolky tolki di nakas samping tempat tidur kemudian bergegas ke luar dari dalam kamar .
Naruto menuruni anak tangga dengan tergesa, satu tangannya memegangi pegangan tangga sementara tangannya yang lain memegang wolky tolki. Mengucapkan beberapa sandi Naruto berucap. "Buka gerbangnya. Jangan biarkan wanita di depan sana melarikan diri." Nada suaranya tegas dan serius.
Naruto meletakkan wolky tolki itu asal di atas meja yang dilewatinya. Sambil merapikan pakaiannya ia berjalan cepat menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar.
...
Nakako Anko, nona fergie kennedy, Kang Delis, Guest, Blossom-Hime, fif, ohSehunnieKA, suji, Dragon Hiperaktif, Hikari Shannaroo, Namikaze KahFi ErZA, Kaito Dark sama, Ae Hatake, Uzumaki 21, Guest, Riyuzaki namikaze, Lan88, Natural Born Flamer, Uchizuma Angel, zeedezly clalucindtha, NS, Kei Deiken, Riela nacan, kiutemy.
Thanks For Review... :)
