CHAPTER 4
Kirana meluruskan kakinya begitu ia sampai di rumah. Hari ini pun rasanya lelah juga karena harus berjalan kaki dari tempat jualan hingga rumah. Belum lagi matahari terus memancarkan silaunya yang menyengat kulit. Karena Kirana kurang mampu, dia tidak memiliki benda eletronik semacam kipas angin untuk menyejukkan diri. Alhasil, daun pisang pun jadi. Ia mengkipas-kipaskan daun pisang itu untuk mempersejuk diri. Anginnya lumayan terasa karena pada dasarnya daun pisang itu lebar.
Setelah cukup lama menyejukkan diri, ia menaruh daun pisangnya dan merangkak menghampiri kresek jualannya. Kirana menyusun dan merapihkan kembali dagangannya yang sedikit berantakan itu. Di tengah kegiatannya, ia tersenyum kecil. Biasanya, setiap ia selesai berdagang, bunga jenis apapun selalu utuh, tapi sekarang bunga tulip selalu habis berkat seorang pembeli setia asal belanda.
Besok pun Kirana akan tetap menyediakan bunga tulip untuk Tim yang selalu setia menanti adanya tangkai bunga baru. Kirana lalu melayangkan pandangannya ke sandal pemberian Tim. Sandal itu, perut kenyang, dan Bunga yang tulip yang laku. Itu semua berkat Tim yang dengan sukarela ia lakukan untuk Kirana di orang miskin. Jarang ada orang sebaik itu di kota yang menyebalkan ini. "Yap... Setelah ini aku harus rebus air dan mempersiapkan Bungan tulip untuk dijual." Gumam Kirana setelah sadar dari lamunannya.
Kirana pun beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan perlahan menuju pintu belakang, tapi sebelum sempat Kirana membuka pintu belakang ada seseorang mengetuk pintu depannya. Kirana tersentak mendengarnya. Di rumah yang lebih bisa dibilang gubuk lusuh ini, masa, sih ada yang mengunjunginya? Kirana tak pernah menerima tamu selama ini, jadi siapa yang mengetuk pintunya? Dengan ragu-ragu gadis Indonesia ini menghampiri pintu depan yang tampak lapuk. Ia meraih gagang pintu yang sudah reot dan membukanya sedikit lantas mengintip. Matanya melebar ketika mendapati sosok lelaki yang amat sangat ia tahu meski dilihat dari celah kecil pun. Itu Tim? Kenapa dia bisa sampai kemari? Dan lagi dari mana Tim tahu alamat rumah Kirana?
"Ti... Tim? Kenapa bisa kau di sini?" Kirana menyambut Tim dengan pertanyaan lantaran terlalu terkejut.
"Ah... Ternyata benar ini rumahmu?" Tim malah balik bertanya.
"Iya, ini memang rumahku. Tapi bagaimana kau bisa sampai di sini?"
"Sebelum itu... Bolehkan aku masuk terlebih dulu. Di luar panas sekali..."
"Tapi di dalam lebih panas."
"Kau tak punya kipas?"
Kirana menggeleng "Kalau daun pisang ada... Buat kipas-kipas."
"Oh, ya? Daun pisang memang serba bisa, ya?" kata Tim entah mengagumi kelebihan daun pisang atau apa.
"Yap, begitulah," respon Kirana singkat dan agak canggung. "Jadi untuk apa kau kemari?" tanya Kirana kembali pada topik awal.
"Ah... Ini untuk makan malam. Kupikir kau pasti akan lapar jika tidak makan malam, jadi kubawakan ini." Tim memberikan sebungkus nasi serta lauk pauknya dalam satu kantong platik bening. Meski sungkan, tapi Kirana tetap menerimannya dan berujar terimakasih dengan lirih.
"Jadi... Kau hanya mau memberiku ini?" tanya Kirana lagi.
"Hmm-mm..." Tim mengangguk sekali.
"Tapi dari mana kau tahu rumahku?" Kirana pun menanyakan lagi pertanyaan itu.
Tim tidak langsung menjawabnya, ia diam terlebih dahulu hingga membuat Kirana juga bingung "Umm... Baiklah, aku pergi dulu. Selamat menikmati makanannya." Tanpa menjawab apa-apa Tim pergi begitu saja meninggalkan rumah Kirana.
Paginya, hujan turun membasahi seluruh permukaan kota. Kirana dibuat panik karena atap rumahnya yang bocor. Membasahi hampir seluruh dalam rumahnya. Wadah apapun ia gunakan untuk menampung air yang mentes dari atap.
Kirana menghela nafas "Kalau begini, aku tak akan bisa berjualan." Gumam Kirana lesu. Ia pun duduk santai sambil menyandarkan punggungnya di dinding. Ia bengong untuk beberapa menit dan lama kelamaan badannya mulai menggigil.
Kirana mulai kedinginan karena hanya memakai baju tipis yang lusuh di tengah hujan seperti ini. Belum lagi rumah kumuhnya ini dipenuhi banyak lubang sehingga angin dari luar masuk ke dalam. Di saat seperti inilah Kirana kadang bingung. Jika ia merasa kepanasan, ia masih dapat memanfaatkan daun pisang untuk kipas, tapi ketika udara dingin seperti ini ia tak tahu harus apa. Selimut saja ia tak punya. Yang bisa ia lakukan untuk menghangatkan diri hanyalah air hangat yang baru saja ia rebus. Setidaknya dengan itu, bagian dalam tubuhnya terasa hangat.
"Kirana! Kau di dalam?" tiba-tiba terdengar suara panggilan seorang lelaki dari luar rumah.
Kirana kembali tersentak. Dari suaranya itu sudah jelas Tim? Untuk apa dia kemari lagi? Dan juga, dari mata dia tahu alamat rumah Kirana sebenarnya? Apa Tim menguntit Kirana sebelumnya? Pikiran Kirana sungguh penuh dengan pertanyaan semacam itu. Namun, meskipun terheran-heran, ia tetap membukakan pintu untuk Tim yang kini sedang membawa dua buah payung di tangan kanannya dan kantong plastic warna hitam yang jelas ada isinya. Kirana melongok.
"Ini untukmu... Sarapan dan payung..." seperti yang diduga, Tim pasti memberikan itu padanya. Lama-lama Kirana tak enak jika terus diberi seperti ini oleh orang yang bahkan tidak terlalu dikenal.
"Tidak usah... Kau sudah terlalu banyak memberiku," tolak Kirana dengan halus.
"Tapi aku tak menerima penolakan." Balas Tim.
"Iya, aku tahu, tapi ini sudah terlalu banyak." Kirana kembali sungkan.
"Sudahlah terima saja dan juga..." Tim melepaskan jaket yang ia pakainya "pakai ini... Sepertinya kau kedinginan." Lelaki ini pun menyodorkan jaket yang masih tampak bagus itu pada Kirana.
Gadis kulit sawo matang itu tergiur dengan jaket yang tampaknya tebal dan hangat. Itu berguna untuk saat-saat hujan seperti ini. Tapi seperti yang ia bilang, Tim sudah terlalu banya memberinya. Cukup sandal saja yang ia terima karena kala itu Kirana memang sedang butuh. "Nih, ambil.." kata Tim sambil memakaikan jaketnya pada Kirana.
"Ah... Tapi—"
"Ambil saja... Aku jamin ini yang terakhir," sela Tim "Dan ini juga... Payung ini bekas, jadi kau bisa mengambilnya. Makanan ini adalah resep baruku, aku ingin kau mencobanya pertama. Aku ingin tahu pendapatmu." Seakan memaksa secara tak langsung, Tim membuat tangan Kirana memegangi payung dan kantong plastic berisi makanan. "Dan... Apa tulipnya ada? Aku ingin membelinya," sambung Tim lagi. Kirana hanya mengangguk kecil "Tolong bungkuskan seperti biasa." Permintaan Tim lantas segera dilaksanakan oleh Kirana. Ia membungkus beberapa tangkai tulip dan menghiasnya dengan indah dan profesional.
"Ini." Kirana memberikan buket bunganya pada Tim yang dari tadi berdiri di ambang pintu.
"Lima ribu, kan? Ini..."
"Ah, tidak usah... Kau sudah banyak memberiku, jadi bunga itu gratis." Tolak Kirana lagi.
Tapi ingat? Tim tidak menerima penolakan, jadi lelaki berkepala tulip ini menarik tangan Kirana dan memberikan satu lembar uang lima ribu. "Aku akan datang lagi." Setelah mengucapkan itu, Tim langsung pergi di bawah payung yang menghalanginya dari guyuran hujan. Sampai sosok Tim menghilang pun, Kirana masih betah menatap jalur perginya lelaki itu. Ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Tim. Selalu memberikannya berbagai macam hal, apa karena Tim orang baik?
.
.
.
TBC
