Aku tidak pernah berniat melakukan terapi atau operasi, biayayanya sangat mahal bagi keluargaku dan aku, tapi ketika paman Jiraya dan bibi Tsunade menemukan kertas pemberitahuan dari dokter yang kusimpan, aku tidak bisa menolak keinginan mereka. Bibi Tsunade sangat marah karena aku menyembunyikan penyakitku darinya, dia menampar kuat pipiku. Paman Jiraya bertanya apa yang salah dengan dirinya padaku sampai aku menyimpannya sendiri, dia bertanya 'Apakah aku paman yang sangat kejam di matamu?' Dan Karin, kakakku yang sangat cerewet mendiamiku.
Bukan. Bukan seperti itu. Mereka tidak tahu. Mereka tidak mengerti. Aku hanya... tidak mau menyusahkan lebih dari ini. Paman Jiraya, bibi Tsunade dan Karin, mereka sangat baik, walau terkadang hubungan kami tidak begitu baik, aku menyayangi mereka, di mataku mereka semua sama. Mereka cerewet dan suka mengatur-ngatur hidupku, paman Jiraya sering berteriak marah setiap kali aku pulang pagi dengan wajah babak belur atau mabuk, tapi aku tahu ia melakukannya karena ia menyayangiku, mereka semua menyayangiku seperti aku menyayangi mereka.
Aku berciuman dengan gadis lain di depan mata Sakura dan memutuskan hubungan kami di depan semua orang setelah aku berciuman dengan gadis lain. Aku mempermalukannya di kantin. Dia marah, dia menangis, dan dia menampar pipiku di depan semua orang. Aku sakit ketika melihatnya menangis. Tapi aku tidak punya pilihan lain, "Aku bosan denganmu. Cukup sampai disini," bosan? Aku tidak pernah bosan padanya. Aku bersumpah aku tidak pernah bosan dengannya. Aku pergi meninggalkannya yang menangis di lantai kantin. Aku tidak tega, aku ingin berbalik memeluknya.
Kami bertemu kembali di Minimarket tempat Karin bekerja, ia masih memakai seragam, berdiri di depan pintu kaca dorong Minimarket menatapku tajam. Saat itu aku sedang menjemput Karin. Aku malu saat berdiri berhadapannya dengannya, aku malu dengan penampilanku, mantel tebal membungkus seluruh tubuh dan aku terlihat jauh lebih kurus serta menyedihkan dengan kepala perontos, penampilan baruku.
Ia menamparku dan bodohnya kemudian dia tersenyum sembari menangis. Aku tidak mengerti dengan dirinya, sikapnya, semua yang ada pada dirinya, dia begitu penuh kejutan. Aku menatapnya intens, memperhatikan apa yang ia lakukan selanjutnya. Ia mengeluarkan topi bahan wol dari tasnya, dengan sedikit berjinjit kemudian memakaikan topi itu di kepalaku. Tidak rapih memang, tapi aku diam membeku dengan apa yang dilakukannya.
"Ini bukan buatan tanganku, aku membelinya, tapi kuharap kau suka," dan dia mencium bibirku.
Aku tahu dia mengetahuinya. Aku tahu. Tapi siapa yang memberitahunya? Aku memeluknya, tidak peduli hampir semua orang menatap kami, aku memeluknya erat. Dia menangis. Cengeng. Tapi aku senang, itu artinya ia sangat mencintaiku. Cinta memang bisa membuat kita lemah dan kuat tanpa bisa diduga. "Kau mengetahuinya?" Ia mengangguk dan mengisak dalam dekapanku. "Siapa yang memberitahu?"
Entah mendapatkan uang dari mana paman Jiraya membawaku ke Rumah Sakit. Aku dirawat selama dua hari di sana, karena aku tidak mau berlama-lama dan membebani paman, bibi, dan Karin lebih dari ini, aku memaksa untuk pulang. Aku akan kembali ke Rumah Sakit di hari aku akan dioprasi.
Selama dua hari banyak hal menyenangkan dan menyedihkan terjadi di sana. Teman-teman berandalku menyulap kamar tempat aku dirawat menjadi lantai dansa, mereka menggunakan lampu lalu lintas berkelap kelip hijau, kuning dan merah, sebagai lampu dansa. Setelah sebelumnya memodifikasi ritme kelipan lampu itu lebih cepat tentunya. Mereka berjanji akan mengembalikan lampu curiannya ke jalan setelah aku dan Sakura selesai berdansa. Mereka konyol.
Kami menangis bersama saat berdansa. Aku takut ini terakhir aku menyentuh dan berdansa dengannya. Aku benar-benar takut ketika mengingat aku akan mati dan akan kehilangan dirinya. Aku benar-benar takut saat itu. Dan untuk kedua kalinya, aku menyentuh Sakura. Kami melakukannya di ranjang pasienku. Mengingat setiap sentuhan, gesekan, desahan dan semua hal tentang dirinya. Pertama kali kami melakukannya di kamarku yang juga kamar Karin.
Tuhan, beri aku izin untuk hidup lebih lama, aku berjanji akan menjadi lebih baik dari ini. Aku berjanji tidak akan menyia-nyiakan hidupku lagi. Aku berjanji akan menjadi pelajar yang baik, menjadi anak baik bagi paman Jiraya dan bibi Tsunade, menjadi adik yang baik untuk Karin, dan menjadi kekasih yang baik untuk Sakura-ku.
Aku mohon. Untuk kali ini, aku mohon proses operasiku berjalan lancar. Aku ingin tetap hidup. Aku takut mati. Aku takut kehilangannya. Dia cinta pertama bagiku, dia segalanya.
Aku ingin terus menatap wajah dan melihat senyumnya...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto. Sejelek dan senistanya fic ini tolong jangan benci Pair/Chara di dalamnya.
P.S : Z kebelet (?) Pengen publish fic NaruSaku baru, makanya Updatenya cepet, biar bisa cepet complete.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Naruto tidak tahu kenapa ia jadi lembek. Membaca lembar terakhir buku itu membuatnya merasa.., entahlah. Dia juga tidak begitu mengerti dengan perasaannya saat ini. Iba kah? Apa ia kasihan pada penulisnya? Naruto tidak tahu. Kenapa kehidupan mereka terlihat begitu rumit seperti film drama? Mereka saling menyukai, seharusnya itu sudah cukup, seharusnya mereka bahagia. Bukankah kekasih Sakura juga mau melakukan operasi? Lalu dimana pria itu sekarang? Apa operasinya gagal dan pria itu, mati? Apa itu penyebab Sakura berubah? Naruto sangat penasaran dengan sosok Sakura yang dulu, pasti Sakura sangat cantik saat tersenyum. "Aku ingin melihat dia tersenyum," Naruto tersenyum seperti orang bodoh dan menyimpan buku yang baru selesai ia baca di bawah bantal.
Lama terdiam menatap langit-langit kamar sebuah pemikiran bodoh melintasi otaknya. Apa mungkin Naruto kekasih Sakura adalah dirinya? Bisa sajakan setelah operasi ia lupa ingatan kemudian kabur dari rumah sakit dan bertemu ayah serta ibunya? Mungkinkah?
Naruto mendengus, "bodoh!" Kemudian menutup seluruh kepalanya dengan bantal. Ini kehidupan nyata bukan film drama. "Aku pusing!" Teriakannya teredam oleh bantal. Sial aku benar-benar penasaran.
Naruto melompat dari tempat tidur dan berjalan cepat ke ruang baca yang ada di dalam kamarnya. Setelah menutup pintu Naruto mendekati rak tempat menyimpan album foto. Album-album foto itu tersusun sedemikian rupa, rapih, terawat tanpa debu.
Putra tunggal Namikaze Minato itu menghela napas saat melihat foto masa kecilnya. Foto itu menjelaskan kalau ia anak kandung, bukan anak pungut, bukan pula anak lupa ingatan yang kabur dari rumah sakit seperti yang ada dalam pikirannya beberapa saat lalu.
Penggung Naruto bersandar ke rak buku, perlahan tubuh pria itu merosot. Ia duduk sembari mengacak-acak rambutnya. Pusing. Kepalanya pusing dengan semua hal bodoh ini. Kenapa harus jatuh cinta pada Haruno Sakura? Kenapa tidak pada wanita lain saja yang bisa dengan mudah ia miliki. Kenapa begitu sulit melupakan Haruno? Kenapa?
Naruto mengusap pipi kanan bekas tamparan Sakura. Sakura menampar kuat pipi Naruto saat Naruto menciumnya.
...
Naruto menahan tangan Sakura ketika wanita itu mau masuk lift, "Kau tidak bisa pergi begitu saja," dan menarik tubuh wanita itu merapat dengan tubuhnya. Dengan sedikit kasar Naruto memojokkan Sakura di sudut paling kiri lift. "Keluar." Perintahnya pada maid yang ada di dalam lift. Dengan cepat maid itu mendorong mejanya keluar dan meninggalkan Naruto dan Sakura di dalam. Pintu lift tertutup.
"Aku mohon, menjauhlah..." mohon Sakura. Kepala wanita itu menunduk, tidak berani menatap Naruto dengan jarak sedekat ini. "Biarkan aku pergi..."
"Tidak setelah apa yang kau lakukan padaku. Kau membuat aku kehujanan, kau mendorongku dari kursi sampai tersungkur, dan kau meninggalkan aku di pemakaman malam-malam,"
Sakura mendongak, menatap tidak mengerti Naruto dengan kedua mata berkaca-kaca, pipinya sudah basah oleh air mata. Rasanya ingin sekali memeluk tubuhnya dan menangis sepuas yang mau di dada bidangnya.
"Tidak setelah kau membuat aku.., jatuh cinta. Aku tidak akan membiarkan kau pergi, aku tidak akan menjauh seperti yang kau inginkan,"
"Kau tidak mengerti... kau tidak tahu apa-apa. Kau tidak akan pernah mengerti! Biarkan aku pergi, aku moh-" Mulut Sakura terkunci oleh mulut Naruto. Naruto menciumnya lembut dan berperasaan, sebuah ciuman penyalur perasaan agar ia mengerti perasaan Naruto saat ini. Kedua mata Sakura yang semula tertutup menikmati ciuman Naruto terbuka sayu, detik berikutnya wanita itu mendorong Naruto menjauh dan langsung menampar pipi nya. "Kau idiot!" Makinya marah dan memukul dada pria itu. "Kau bodoh! Kau gila!"
"Siapa yang idiot, kau atau aku?! Kau yang idiot, Sakura! Kau yang bodoh! Kau yang gila... berhenti menungguku seperti orang idiot." Teriakan Naruto melirih diujung kalimat. Naruto memeluk Sakura, mendekap kepalanya di dada dan mencium pucuk kepalanya. "Berhenti bersikap bodoh dan gila, Sakura ... aku tidak mau melihatmu seperti itu."
Sakura merindukan pelukkan ini, belain di rambut dan kecupan di pucuk kepalanya. Apa yang pria itu katakan tadi? Berhenti menunggu? Siapa dia?
Ting.
Sakura mendorong Naruto menjauh dan langsung berlari keluar. "Tunjukkan dimana pintu keluarnya, biarkan aku pergi," mohonnnya pada seorang maid yang ditemuinya.
Maid itu menatap Naruto yang tampak linglung di belakang Sakura. Naruto memegangi kepalanya. Apa yang ia bicarakan tadi dengan Sakura? Apa yang ia katakan pada wanita itu, ia tidak ingat. Mulutnya berbicara sendiri tanpa ia mau, bahkan ia tidak tahu apa yang ia katakan pada Sakura. Naruto merasa bukan seperti dirinya. Menghela napas Naruto memberi isyarat tangan pada maid agar Sakura diantar pulang.
...
"Seharusnya kau tidak melakukan itu padanya,"
Naruto tersentak mendengar suara asing yang menyerupai rintihan kesakitan. Ia semakin gelagapan saat tiba-tiba terdengar suara derit kabel konslet dan lampu tiba-tiba mati. Naruto segera berdiri waspada saat lampu sudah hidup kembali, ia menatap sekelilingnya. Bukan tidak mungkin ada perampok membobol rumahnya sekalipun penjagaan rumah ini ketat, kan? Lampu dalam ruangan itu berkedip beberapa kali disertai suara konslet kabel.
Naruto tersentak saat tiba-tiba ada seseorang berdiri di bawah lampu dalam ruangan yang berkedip-kedip. Cepat-cepat pria itu menjaga jarak dengan orang yang tak terlihat wajahnya karena cahaya dalam ruangan yang tidak menentu. Ia memasang kuda-kuda.
Suara konslet listrik tidak terdengar lagi dan lampu kembali normal. Naruto memperhatikan seorang pria yang sedikit lebih pendek di hadapannya. Dia memakai jaket kumal dengan banyak noda merah kehitaman, kaus murah dengan noda yang sama dan mengenakan celana jeans kumal dengan robek dibagian lutut, celananya juga tidak jauh berbeda, memiliki noda sama dengan kaus dan jaketnya. Pria muda itu terlihat seperti habis di kejar puluhan anjing liar, dia terlihat sangat kacau. Kepala pria muda itu mendongak menatap Naruto memperlihat wajahnya yang hampir dipenuhi darah mengering, begitu kental dan hitam. Naruto tersentak saat bertemu pandang dengannya. Mata yang sama.
Pria muda itu berjalan mendekat. Naruto mengambil langkah mundur. Baunya sangat tidak sedap. Bau busuk. "Seharusnya kau tidak melakukan itu padanya," pria muda itu menatap tepat di mata Naruto, suaranya berdesis mengerikan memberikan kesan mengancam pada Naruto. Ia terus maju mendekati Naruto yang berjalan mundur.
"Siapa kau!" Wajah Naruto memujat menahan muntah melihat luka di leher samping kiri pria muda itu yang dihuni puluhan hewan melata putih menjijikan, menggeliat dan berdesakan di antara tulang leher berlomba mencicipi daging busuk pria muda itu. Topi bahan wol pria muda itu bergerak-gerak dan tiba-tiba setumpuk hewan melata jatuh dari sana. Begitu banyak, bergerak berdesakan dan saling menggeliat menjijikan.
Naruto tidak bisa menahannya lagi. Ia memuntahkan semua isi dalam perutnya. Ini menjijikan. Dengan tergesa dia berjalan mundur sampai punggungnya menabrak rak buku. Rak buku itu roboh menimpa rak yang lain menyebabkan kekacauan yang luar biasa. "Hueek! Hueekk!" Naruto terduduk lemas dan terus mengeluarkan isi perutnya. Ia terus seperti itu sampai isi dalam perutnya habis dan cairan kuning pahit yang keluar dari mulutnya. Ia benci hewan Melata(belatung). Mereka begitu menjijikan membuatnya mual.
"Tuan muda!" Iruka berlari menghampiri Naruto. Pria pirang itu tampak mengenaskan dengan wajah pucat dan tubuh bergetar, napasnya tersenggal seperti habis lari maraton. Iruka menatap sekelilingnya mencari tahu penyebab Naruto seperti ini. Tidak ada apapun. Iruka lancang masuk dalam kamar Naruto karena ingin menyampaikan pesan dari Kushina dan Minato, pria itu langsung berlari ke ruang baca saat mendengar suara gaduh dan suara orang muntah. Iruka menatap cemas Naruto yang tampak pucat dan bergetar, "Tuan muda, anda baik-baik saja?" Pria tampan berambut gelap itu membantu Naruto berdiri dan menuntun pria itu mendekati tempat tidur.
"Cari Pendeta, Pastur, atau apapun yang bisa mengusir hantu." Iruka menatap Naruto tidak mengerti, hantu? Dijaman seperti ini ada hantu? Kemudian mengambilkan segelas air putih di nakas samping tempat tidur dan memberikannya pada Naruto. "Ada hantu di kamarku," gumam Naruto setelah menghabiskan air yang diberikan Iruka.
"Anda pucat. Apa saya harus memanggil dokter?" Iruka meletakkan gelas pada tempatnya.
Naruto menggeleng, dia sedikit mengacak rambut depannya. "Aku tidak butuh dokter. Aku membutuhkan pendeta."
"Besok saya akan cari pendeta. Tuan muda mau makan malam? Nyonya dan Tuan berpesan anda tidak boleh telat makan dan terlalu memaksakan diri dalam bekerja, beliau juga mengatakan akan pulang minggu ini."
"Hm. Bawakan aku makanan." Gumamnya dengan nada lemas. Naruto memijat pangkal hidung sembari berbaring di ranjang. Bayangan setumpuk hewan kecil putih menjijikan saling menggeliat dan berdesakan membayangi pikirannya membuatnya kembali merasa mual.
Iruka kembali dengan maid membawa nampan besar berisikan makanan mengekori di belakangnya. Naruto duduk bersandar di ranjang, di sampingnya tampak Iruka berdiri tegak. Dengan sopan maid meletakan meja rendah khusus makan di atas tempat tidur di depan Naruto, kemudian meletakkan nampan tadi di atas meja yang telah disiapkan.
Begitu penutup nampan dibuka Naruto langsung melempar nampan itu. "Jauhkan hewan menjijikan itu dariku!" Teriaknya murka. Pria pirang itu langsung berdiri di atas tempat tidur dengan wajah pucat. Dalam nampan itu banyak hewan melata, daging cacing busuk dan hewan-hewan menjijikan lainnya. Naruto mengacak rambutnya kasar. Ada apa dengan penglihatannya.
Maid cantik berambut coklat itu maupun Iruka terkejut melihat reaksi Naruto. Ini pertama kalinya Naruto melempar makanan dan berteriak semarah itu. "Apa yang kau taruh dalam makanannya. Makanan apa yang kau bawa?" Ia bertanya dengan nada mendesis.
Maid cantik itu tampak gelagapan. Wajahnya memucat karena takut. "Tidak ada. Aku hanya membawa Sushi, otoro, Pizza Steak Daging Sapi Kobe-"
"Bereskan semuanya. Aku tidak ingin memakan apapun sebelum hewan melata menjijikan itu enyah dari pikiranku,"
Maid mau pun Iruka mengernyit. Hewan melata? Tidak ada hewan melata di rumah ini, jangankan hewan melata lalat dan nyamuk saja tidak ada.
...
Naruto dirawat intensif di rumah karena keadaannya yang semakin tidak baik. Selama empat hari pria itu menolak memakan apapun. Ia selalu mengatakan ada hewan melata menjijikkan di makanannya membuat ia terpaksa diinpus. Dia juga selalu mengatakan ada hantu di kamar pribadinya. Iruka selaku asisten pribadi Naruto sibuk memperintahkan semua yang ada di rumah itu mencari pendeta, pastur atau apapun yang bisa melihat dan mengusir hantu. Tapi dari sekian banyak orang-orang itu tidak ada satu pun yang mengatakan ada hantu dalam rumah itu, mau pun kamar Naruto.
"Bagaimana keadaannya? Apa kita perlu membawanya ke psikiater?" Kushina mengambil duduk di samping tubuh Naruto yang berbaring lemas. Digenggamnya lembut tangan Naruto yang masih terlelap. Ia langsung memesan tiket pesawat setelah pekerjaannya di sana selesai dan langsung pulang bersama Minato saat mendapat kabar putranya sakit. Dia sangat mengkhawatirkan putranya, ini pertama kali Naruto sakit sampai seperti ini. Kushina mengeratkan genggaman tangannya pada tangan dingin Naruto. Wanita cantik berambut merah muda itu tampak begitu sedih.
Minato menepuk lembut bahu tegang Kushina, "kita tunggu sampai ia sadar," dan tersenyum meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sebuah mobil MAYBACH LANDAULET berwarna putih mewah dan elegan, jenis mobil sedan termahal di kelasnya, berhenti di loby bawah kantor Namikaze Corp. Pria tampan mengenakan kemeja maroon di padu long cardi coklat susu keluar dari pintu belakang setelah seorang pria bersetelan jas hitam membukakan pintu untuknya. Semua yang ada di sana menatap pria itu terkejut, karena dari kabar yang beredar pria itu sedang sakit dan dirawat intensif di rumahnya, kemudian menyapa ramah dan menunduk hormat saat pria itu melewati mereka.
Pria tampan berambut pirang itu berjalan cepat dan buru-buru melewati loby menuju sebuah ruangan biasa dengan kubikel-kubikel di dalamnya. Ia mendekati kubikel tempat biasa wanita merah muda yang dirindukan bekerja, dahinya mengernyit melihat kubikel itu diisi oleh orang lain. "Panggil Kabuto. Suruh dia datang ke ruanganku sekarang." Perintahnya. Dua pria bersetelan jas hitam yang tadi mengikutinya menunduk sebelum pergi memanggil Kabuto, kepala didivisi ini. Pria tampan itu berjalan cepat keluar ruangan meninggalkan tatap-tatapan bertanya dari semua mata yang ada di ruangan itu.
...
"Dimana Haruno? Kenapa tempatnya bekerja diisi orang lain," Naruto duduk di kursi kembagaannya, mata birunya yang biasa ramah menajam menatap Kabuto yang berdiri di depan meja kerja.
Kabuto sedikit menunduk tidak berani menatap langsung Natuto. Sejujurnya ia takut kehilangan pekerjaannya, hampir sepuluh tahun ia bekerja di perusahaan Namikaze baru pertama ini dipanggil dan dimarahi. Naruto yang biasa terlihat ramah dan bersahabat menjadi sangat menyeramkan ketika sedang marah. Kabuto baru mengetahuinya sekarang. "Maaf Namikaze- sama, Haruno- san mengundurkan diri,"
Naruto terkejut. Mengundurkan diri? "Apa?" Mendadak pikirannya kosong. Hanya kata 'Apa?' Yang bisa ia ucapkan saat ini, lidahnya kelu, otaknya berhenti berfungsi.
.
.
.
.
.
Tbc...
.
.
.
.
Awim Saluja: mmm.. Apakah Naruto bisa rasenggan?
Rasengan gak bisa, tapi kalo nendang bisa. #plak!
Me is Guest, anon45, intanm, lutfi, Guest, Guest, Ridwan46, Hanare hatake, SC, uzumakynurroni, Hikari Cherry Blossom24, 21, zeedezly clalucindtha, Miura Kumiko, Red devils, Raiderkids, Guest, kiutemy, dindachan06, muhamad arman, Guest.
Thanks for review... :)
